Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN

PRAKTIKUM PERTENUNAN I
ALAT TENUN BUKAN MESIN (ATBM) ROLL

Diajukan untuk memenuhi Tugas Laporan Praktikum


Matakuliah Praktikum Pertenunan I

Dosen :
Giarto, AT.M.Si.
Dinan Sapta O,. S.ST.
Amat bin Atma

OLEH :

FAHMI MUSLIM
1801005 / 2T1
TEKNIK TEKSTIL

POLITEKNIK SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL


BANDUNG
2020
DAFTAR ISI

Daftar Isi .................................................................................................................. .ii


Daftar Gambar ......................................................................................................... iv
Daftar Tabel ............................................................................................................. iv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... .5
1.2 Maksud dan Tujuan ............................................................................................ .6
1.2.1. Maksud dan Tujuan Identifikasi dan Penyetelan ATBM Roll ....................... .6
1.2.2. Maksud dan Tujuan Menenun Tanpa Isi Benang pada ATBM Roll .............. .6
1.2.3. Maksud dan Tujuan Menenun Anyaman Polos dan Keper pada ATBM Roll.6
1.2.4. Maksud dan Tujuan Menenun Anyaman Turunan Dasar pada ATBM Roll .. .6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) ................................................................... 7
2.1.1 Pengertian Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) .............................................. 7
2.1.2 Gerakan Poko Pada ATBM ............................................................................ 9
2.1.3 Rencana Tenun Pada ATBM .......................................................................... 13
2.1.3.1. Anyaman Polos........................................................................................... 13
2.1.3.2. Anyaman Kepper ........................................................................................ 14
2.1.3.3. Anyaman Ajour .......................................................................................... 15
2.1.3.4. Anyaman Diamond..................................................................................... 15

BAB III METODOLOGI


3.1 Metodologi ...................................................................................................... 16
3.2 Alat dan Bahan .................................................................................................. 16
3.2.1. Alat dan Bahan Praktikum Identifikasi ATBM ............................................. 16
3.2.2. Alat dan Bahan Praktikum Menenun ATBM Tanpa Isi Benang ................... 16
3.2.3. Alat dan Bahan Praktikum Menenun Anyaman Polos dan Kepper .............. 16
3.2.4. Alat dan Bahan Praktikum Menenun Anyaman Turunan Dasar ................... 17

3.3 Prosedur Praktikum ATBM Roll ....................................................................... 17


3.3.1. Prosedur Praktikum Identifikasi ATBM Roll ............................................... 17
3.3.2. Prosedur Praktikum Menenun ATBM Roll Tanpa Isi Benang ..................... 18
3.3.3. Prosedur Praktikum Menenun ATBM Roll Anyaman Polos dan Kepper ..... 19
3.3.4. Prosedur Praktikum Menenun ATBM Roll Anyaman Turunan Dasar ......... 19

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Identifikasi Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) ................................................ 20
4.1.1 Skema Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) .................................................... 20

iii
4.1.2. Bagian – Bagian dan Fungsi Dari Identifikasi ATBM ................................21
4.1.3. Mekanisme Gerakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) ...........................22
4.2 Rencana Tenun Anyaman Polos dan Kepper Pada ATBM Roll .....................23
4.2.1 Rencana Tenun Anyaman Polos...................................................................23
4.2.2 Rencana Tenun Anyaman Kepper ................................................................24
4.3. Rencana Tenun Turunan Anyaman Dasar Pada ATBM Roll ........................24
4.3.1. Rencana Tenun Anyaman Turunan Dasar Diamond ...................................24
4.3.2. Rencana Tenun Anyaman Turunan Dasar Ajour ........................................25

4.4. Pembahasan ....................................................................................................25


4.4.1. Pembahasan Identifiksi dan Penyetelan ATBM Roll ..................................25
4.4.2. Pembahasan Menenun Kain Anyaman Polos Pada ATBM Roll ................26
4.4.3. Pembahasan Menenun Kain Anyaman Kepper Pada ATBM Roll ..............26

BAB V KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan Praktikum Tenun Identifikasi dan Penyetelan ATBM Roll ........27
5.2. Kesimmpulan Praktikum Tenun ATBM Anyaman Polos dan Kepper ..........27
5.2. Lampiran Dokumentasi ..................................................................................28

DAFTAR PUSTAKA

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Picking Motion 8


Gambar 2.2 Ilustrasi Injakan 9
Gambar 2.3 Skema Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) ........................................ ...10
Gambar 5.3.1 Proses Pemberian Materi Oleh Dosen ............................................ ...28
Gambar 5.3.2 Mahasiswa Mencoba Mempraktekan Gerakan Pokok ATBM ....... ...28
Gambar 5.3.3 Proses Pemberian Materi Oleh Dosen ............................................ ...28
Gambar 5.3.4 Proses Pemberian Materi Oleh Dosen ............................................ ...28
Gambar 5.3.5 Proses Penyetelan pada ATBM oleh Mahasiswa ........................... ...28
Gambar 5.3.6 Proses Penyetelan pada ATBM oleh Mahasiswa ........................... ...28
Gambar 5.3.7 Proses Mempraktekan Menenun pada ATBM oleh Mahasiswa..... ...29
Gambar 5.3.8 Proses Pemberian Materi Oleh Dosen ............................................ ...29

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Spesifikasi ATBM Standar........................................................................ 8


Tabel 3.5 Bagian – Bagian dan Fungi dari identifikasi mesin ATBM ...................... 21

iv
iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Suatu kain tenun dibentuk dengan cara menyilangkan dua kelompok benang
dengan sudut 900. Alat tenun yang pertama diketahui 4000 tahun sebelum masehi.
Benang pakan yang searah dengan lebar kain disilangkan dengan kelompok benang
lusi yang membentuk panjang kain. Pada alat tenun ini benang lusi dalam posisi
vertikal dan selalu tegang karena ada pemberat atau beban, sedangkan benang
pakan disisipkan dengan suatu alat yang disebut “shuttle” atau “teropong” untuk
membentuk “mulut lusi” benang lusi dipisahkan menjadi dua kelompok sehingga
teropong bisa dilewatkan melalui mulut tersebut. Pemisahan ini dilakukan dengan
menggunakan tongkat atau tangki pemisah. Di Asia Timur alat tenun kuno
dirancang dengan posisi benang lusi horisontal, namun kapan alat itu mulai
digunakan masih belum diketahui kurang lebih abad ke 3 Masehi, suatu mekanisme
“shedding” atau “pembukaan mulut lusi” telah diperkenalkan di Cina dan
disebarluaskan ke benua Eropa. Benang lusi secara individu dimasukkan ke lubang
mata gun yang tersusun pada suatu bingkai atau rangka gun. Kemudian rangka gun
ini diikat dengan tali yang dililitkan pada rol. Naik turun “rangka gun” atau
“kamran” dikendalikan oleh injakan yang ada dibawah rangka gun dan
dioperasikan oleh operator tenun dengan kakinya. semacam sisir berayun atau
“sisir tenun” digunakan untuk merapatkan benang pakan ke ujung kain (anyaman
awal) Pembentukan mulut lusi dan pengetekan benang pakan ke arah lebar kain
sangat menentukan kualitas kain tenun. Penyisipan benang pakan, yang merupakan
bagian penting proses pembuatan kain tenun. Membutuhkan tenaga dan
keterampilan yang tinggi, masih dilakukan secara manual. Lebar kain yang dapat
dihasilkan sangat terbatas tergantung pada rentang tangan penenun sehingga untuk
menghasilkan kain yang lebih lebar diperlukan untuk menyisihkan benang pakan
(teropong) dari satu sisi ke sisi yang lain.

5
1.2. MAKSUD DAN TUJUAN

1.2.1. Maksud dan Tujuan Identifikasi dan Penyetelan ATBM Roll.


1) Mahasiswa dapat mengetahui bagian-bagian pokok dan fungsinya pada
ATBM.
2) Mahasiswa dapat menjelaskan mekanisme kerja pada Alat Tenun
Bukan Mesin (ATBM).
3) Mahasiswa dapat mengetahui gerakan pokok pada proses pertenunan di
Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

1.2.2. Maksud dan Tujuan Menenun Tanpa Isi Benang pada ATBM Roll
1) Mahasiswa dapat menenun dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)
tanpa benang lusi (kosong).
2) Mahasiswa dapat menenun dengan melakukan pengetekan dan injakan
pada Alat Tenun tanpa menggunakan benang lusi (kosong).

1.2.3. Maksud dan Tujuan Menenun Anyaman Polos dan Keper pada ATBM
Roll.
1) Mahasiswa dapat membuat rencana tenun pada anyaman polos dan
kepper.
2) Mahasiswa dapat menyetel Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) untuk
anyaman polos dan kepper.
3) Mahasiswa dapat menenun anyaman polos dan kepper.

1.2.4. Maksud dan Tujuan Menenun Anyaman Turunan Dasar pada ATBM
Roll.
1) Mahasiswa dapat membuat rencana tenun pada anyaman polos turunan
dasar.
2) Mahasiswa dapat menyetel mesin ATBM untuk anyaman polos turunan
dasar.
3) Mahasiswa dapat menenun anyaman polos turunan dasar.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. ALAT TENUN BUKAN MESIN


2.1.1. PENGERTIAN ATBM

Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) adalah semua bentuk peralatan yang
dapat membuat kain tenun, dan digerakkan secara manual oleh tenaga manusia.
ATBM ini sebenarnya merupakan perkembangan dari alat tenun gedogan, yaitu
pada ATBM dibuat rangka mesin yang mempermudah penggunaannya daripada
alat tenun gedogan. ATBM digerakkan oleh tangan dan kaki, awalnya ATBM
dibuat untuk memenuhi kebutuhan tekstil kain, karena keterbatasan kapasitas
produksi kain dengan alat tenun gedogan. Seperti pada alat atau mesin tenun lainnya
maka ATBM mempunyai prinsip kerja yang sama yaitu disebut dengan gerakan
pokok pertenunan. ATBM disebut juga alat tenun model TIB berasal dari kata
“Testile Inrichting Bandung”, karena Lembaga inilah yang mula-mula menciptakan
alat tenun di Indonesia sejak 1912, yang sekarang Lembaga ini berubah menjadi
Lembaga Pendidikan vokasi tekstil yang bernama Politeknik Sekolah Tinggi
Teknologi Tekstil Bandung. ATBM pertama kali masuk dan dipergunakan di
Kabupaten Wajo pada tahun 1950, namun saat ini ATBM semakin berkembang di
seluruh Indonesia dan menghasilkan berbagai jenis kain yang terbuat dari ATBM
ukuran kecil ataupun besar.

Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) adalah merupakan kelompok tenun


tradisional, di mana konstruksi alat ini adalah dari kayu dan dikerjakan secara
manual. gedokan dan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). (1) Alat yang masih
sangat tradisional adalah gedokan yang difungsikan secara tradisional.
Penggunaan alat gedokan ini dalam membuat kain akan menghasilkan kain
dengan lebar 55 cm, sehingga untuk membuat kain sarung dengan panjang 110
cm dengan panjang dua meter dibutuhkan lebih banyak bahan dan waktu
penyelesaian satu buah kain sarung adalah 3 – 4 bulan. (2) ATBM (Alat Tenun
Bukan Mesin) dengan menggunakan alat ini, dalam satu hari bisa dihasilkan 3 -5

7
meter kain dengan lebar 70, 90, dan 110 cm.

Ciri yang paling menonjol pada peralatan ini adalah:


1. Efesiensi produksi yang rendah
2. Kemampuan produksi (dalam jumlah) rendah
3. Kualitas hasil produksi secara “teknologis” rendah
4. Prinsip lebih menekankan pada ketinggian nilai seni tradisionalnya
Kondisiserta keterbatasan di atas terjadi karena adanya beberapa bagian
pada peralatan tersebut belum dapat menunjang proses pertenunan
sehingga kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan oleh ATBM belum
maksimal.

Peralatan tenun ATBM yang diambil sebagai standar sebagai alternatif awal
sebelum dimodifikasi mempunyai spesifikasi sebagai berikut:

No. Keterangan ATBM


1. Konstruksi
▪ Bahan Kayu Jati
2. Kapasitas Produksi
▪ Tenun Polos 6m x 110 m / 8 jam.
▪ Tenun Lurik 6m x 110 m / 8 jam.
▪ Tenun Ikat 4m x 110 m / 8 jam.
▪ Tenun Songket 2m x 110 m / 8 jam.
3. Gerakan Manual
4. Pembukaan Mulut Lusi Atas dan Bawah

Tabel 2.1 Spesifikasi ATBM Standar

ATBM ini sebenarnya merupakan perkembangan dari alat tenun gedogan, yaitu
pada ATBM dibuat rangka mesin yang mempermudah penggunaannya daripada
alat tenun gedogan. ATBM digerakkan oleh tenaga tangan dan kaki. Pada awalnya
ATBM dibuat untuk memenuhi kebutuhan tekstil kain, karena keterbatasan
kapasitas produksi kain dengan alat tenun gedogan.

8
2.1.2. GERAKAN POKOK PADA ATBM

Seperti pada alat atau mesin tenun lainnya maka ATBM mempunyai prinsip
kerja yang sama yaitu yang disebut dengan gerakan pokok pertenunan. Adapun
gerakan pokok dari proses pertenunan sebagai berikut :

1. Gerakan pembukaan mulut lusi, yaitu gerakan yang terjadi karena adanya
gerakan naik kelompok benang-benang lusi tertentu dan gerakan turun
kelompok benang-benang lusi tertentu. Akibat dari pembukaan mulut lusi
terbentuklah sebuah celah yang disebut mulut lusi. Pada ATBM pembukaan
mulut lusi terjadi karena adanya peralatan : injakan, tali ikatan, kamran,
matagun, tali penghubung, dan rol kerek.

2. Gerakan peluncuran pakan, yaitu gerakan memasukan benang pakan pada


mulut lusi yang telah terbentuk. Pada ATBM peralatan yang berfungsi untuk
meluncurkan benang pakan : batang pemukul, tali penarik picker, picker
(pemukul), laci teropong, teropong, dan palet. Gerakan ini terjadi karena
teropong yang membawa benang pakan dipukul oleh picker bolak-balik dari
kanan ke kiri melalui mulut lusi.

3. Gerakan pengetekan, yaitu gerakan merapatkan benang pakan yang telah


diluncurkan dengan kain. Gerakan ini terjadi karena adanya gerakan maju
mundur dari lade yang mempunyai sisir tenun yang digerakkan oleh tangan.

Disamping gerakan pokok tersebut diatas terdapat juga gerakan tambahan (gerakan
sekunder) yaitu :

1. Gerakan penguluran lusi, yaitu gerakan penguluran benang lusi oleh boom
tenun agar benang-benang lusi mempunyai tegangan yang konstan. Peralatan
yang digunakan : boom lusi, balok pembesut, piringan pengerem, tali
pengerem, batang pengerem, dan bandul pengerem.

2. Gerakan penggulungan kain, yaitu gerakan penggulungan kain yang teleh


dihasilkan. Gerakan ini dimaksudkan untuk untuk menjaga ketegangan benang
lusi yang diproses tetep konstan. Peralatan yang digunakan : boom kain, balok
dada, gigi rachet, dan pemutar gigi rachet.

9
Beberapa kelemahan pada ATBM standar adalah:

1. Pada bagian lade, dikarenakan sistem pergerakan ini dilakukan secara manual
(dengan tangan) maka gerakan lade ini tidak konstan hal ini mengakibatkan
tingkat kerapatan benang pada hasil tenunan tidak sama sehingga kualitas dari
hasil tenunan tersebut kurang baik.
2. Konstruksi dudukan lade pada peralatan ini hanya bertumpu pada rangka
bagian atas sehingga lama kelamaan akan mengakibatkan dudukan yang tidak
seimbang. Hal ini akan menyebabkan pukulan lade/pergerakan lade tidak
merata untuk merapatkan benang pakan.
3. Pada pergerakan pembukaan mulut lusi, permasalahannya adalah sistem
pembukaan mulut lusi tidak rata yang mengakibatkan benang lusi yang
diangkat akan cepat putus sehingga menimbulkan beberapa sambungan pada
benang lusi tersebut yang akhirnya pada permukaan hasil tenunan menjadi
tidak rata.

Berikut merupakan penjelasan gerakan pokok :


➢ Shedding Motion
Gerakan yang terjadi diakibatkan adanya gerakan naik kelompok
benang-benang lusi tertentu. Pembukaan mulut mengakibatkan lusi maka
terbentuklah sebuah celah yang disebut mulut lusi, mulut lusi tersebut yang
akhirnya bisa dilalui oleh benang pakan. Pada ATBM pembukaan mulut lusi
terjadi karena adanya perelatan injakan, tali ikatan, kamran, matagun, tali
penghubung, dan rol kerek.

➢ Picking Motion
Gerakan peluncuran pakan (picking motion) yaitu gerakan memasukan
benang pakan pada mulut lusi yang terbentuk. Pada ATBM peralatan yang
berfungsi untuk meluncurkan benang pakan batang pemukul, tali penarik
picker, picker (pemukul), laci teropong, teropong, dan palet. Gerakan bisa
terjadi karena teropong yang membawa benang pakan dipukul oleh picker

10
bolak-balik dari kanan ke kiri melalui mulut lusi dengan diberi dorongan ke
lade .

Gambar 2.1 Picking Motion

➢ Beating Up Motion
Gerakan pengetekan (beating up motion) yaitu gerakan merapatkan
benang pakan yang telah diluncurkan dengan kain. Gerakan ini terjadi karena
adanya gerakan maju mundur dari lade yang mempunyai sisir tenun yang
digerakkan oleh tangan.

Berikut ini merupakan geraka sekunder :

➢ Gerakan Penguluran Benang (let-off motion)


Gerakan penguluran lusi (let-off motion) yaitu gerakan penguluran
benang lusi oleh boom tenun agar benang-benang lusi mempunyai tegangan
yang konstan.

➢ Gerakan Penggulungan Kain (take-up motion)


Gerakan penggulungan kain (take-up motion) yaitu gerakan
penggulungan kain yang teleh dihasilkan. Gerakan ini dimaksudkan untuk
untuk menjaga ketegangan benang lusi yang diproses tetep konstan.

Berikut merupakan penjelasan gerakan otomatisasi :


➢ Gerakan penjaga lusi putus (warp stop motion)
➢ Gerakan penjaga pakan putus (weft stop motion)

Berikut ini syarat mulut lusi yang baik adalah :


1. Bersih yaitu jarak dasar luncur teropong dengan mulut lusi bawah 1-2 mm.
teropong bagian belakang menempel rapat pada sisir tenun.

11
2. Mudah dilalui benang pakan, artinya besar mulut yang terbentuk haruslah
lebih dari tinggi teropong yang digunakan. Perlu diperhatikan, jika mulut lusi
terlalu besar, hal ini akan menyebabkan tegangan lusi akan besar sehingga
mulur lusi akan besar pula. Tinggi mulut lusi harus diatur dan disesuaikan
dengan tinggi teropongnya.
3. Tidak menyebabkan banyaknya benang lusi yang putus. Hal ini dapat diatur
dengan mengatur tinggi mulut lusinya.

Secara umum ada tiga jenis mulut lusi, yaitu :

1. Mulut lusi naik, terjadi karena sebagian lusi naik dan sebagian lusi diam.
A : lusi diam
C
B : ujung kain
C : lusi naik
A  B  : mulut lusi naik

2. Mulut lusi turun, terjadi karena sebagian lusi turun dan sebagian lusi diam.
A : lusi diam
B A
 B : ujung kain
C : lusi naik
 : mulut lusi turun
C

3. Mulut lusi naik turun, terjadi karena sebagian lusi naik dan sebagian lusi
turun.
A A : lusi diam
B  B : ujung kain
C C : lusi naik
 : mulut lusi turun

12
2.1.3. RENCANA TENUN PADA ATBM

Sebelum melakukan praktikum pertenunan, terdapat rencana tenun agar


pembuatannya tidak salah dan tidak terjadi masalah dalam proses pertenunan.
Berikut dibawah ini merupaka perencaan pertenunan:

Gambar 2.2 Ilustrasi Injakan


Rencana tenun adalah tabel yang berisikan petunjuk tentang hubungan antara
anyaman tekstil, cucukan gun ikatan gun dan cara pengangkatan gun. Tabel
rencana tenun terdiri dari :
➢ Cucukan gun
➢ Gambar anyaman
➢ Cucukan sisir (bagan yang tidak digambarkan)
➢ Injakan

2.1.3.1. Anyaman Polos


Nama lain yang biasanya digunakan adalah anyaman blacu, plat, tabby,
taffeta, plain. - Anyaman polos adalah anyaman yang paling sederhana, paling tua
dan paling banyak dipakai.

Ciri-ciri dan karakteristik anyaman polos


a) Mempunyai raport yang paling kacil dari semua jenis anyaman.
b) Bekerjanya benang-benang lusi dan pakan paling sederhana, yaitu 1-naik,
1-turun.

13
c) Ulangan raport; kearah horizontal (lebar kain) atau kearah pakan, diulangi
sesudah 2 helai pakan. Kearah vertikal atau kearah lusi, diulangi sesudah 2
helai lusi.
d) Jumlah silangan paling banyak diantara jenis anyaman yang lain.
e) Jika faktor-faktor lainnya sama, maka anyaman polos mengakibatkan kain
menjadi; paling kuat daripada dengan anyaman lain dan letak benang lebih
teguh atau tak mudah berubah tempat.
f) Anyaman polos paling sering dikombinasikan dengan faktor-faktor
kontruksi kain yang lain daripada jenis anyaman yang lainnya.
g) Pada umumnya penutupan kainnya (fabric cover) berkisar pada 25%-75%
h) Anyaman polos untuk kain padat biasanyan menggunakan benang pakan
yang lebih besar daripada benang lusinya.

2.1.3.2. Anyaman Kepper


Anyaman keper adalah anyaman dasar yang kedua. Ciri-ciri dan
karakteristik anyaman keper

a) Pada permukaan kain terlihat garis miring atau rips miring tidak putus-
putus.
b) Jika arah garis miring berjalan dari kanan bawah kekiri atas, disebut keper
kiri. Sedangkan jika sebaliknya maka disebut keper kanan.
c) Garis miring yang dibentuk oleh benang lusi disebut keper efek lusi atau
keper lusi. Sedangkan sebaliknya disebut efek pakan.
d) Jika raport terkecil dari anyaman keper = 3 helai lusi dan 3 helai pakan,
disebut keper 3 gun.
e) Dalam kondisi sama, kekuatan kain dengan anyaman polos lebih besar dari
pada kekuatan kain dengan anyaman keper.
f) Pada umumnya tetal benang dibuat lebih tinggi daripada dalam anyaman
polos.
g) Besarnya sudut garis miring dipengaruhi oleh perbandingan tetal lusi dan
pakan.
h) Garis miring dengan sudut >45o, disebut keper curam (steep twill).

14
2.1.3.3. Anyaman Ajour
Kain yang menggunakan anyaman ini mempunyai lubang lubang yang
terjadi karena pengelompokan benang benang lusi dan pakan.Pengelompokan
benang benang tersebut adalah dikarenakan masin masing kelompok dari benang
lusi dan pakan membentuk efek yang berbalikan secara bergantian.Apabila dalam
satu repeat anyaman terdapat sekelompok benang lusi dan pakan yang bekerjanya
saling berlawanan maka akan terbentuk lubang pada kain,Luasnya lubang yang
terbentuk pada kain tergantung pada :

• Panjang pendeknya efek sekelompok lusi dan pakan


• Tetal lusi dan tetal pakan

2.1.3.4. Anyaman Diamond


Disebut anyaman wajik karena bentuknya seperti potongan wajik. Jenis
anyaman ini dapat dibuat dengan 2 macam jalan, yaitu:

a) Dengan membuat cucukan runcing ditempat gambar cucukan gun, dan


membuat rencana pena dalam bentuk runcing pula.
b) Dengan menggabungkan keper runcing lusi dan keper runcing (chevron)
pakan.

Menggambar anyaman wajik ataupun membuat pegging plan, untuk mudahnya


digambar dulu efek lusi pendek seperti terlihat pada gambar 156, kemudian pada
kotak-kotak kosong (efek pakan) ditambahkan efek lusi sesuai dengan pola
anyaman dasar yang diinginkan.

15
BAB III
METODOLOGI

3.1. METODOLOGI

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pertenunan Politeknik STTT


Bandung yang berlokasi di Jalan Jakarta No. 31 Bandung dengan menggunakan
Mesin Tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Metodologi yang dipakai dalam
mengambil data-data yaitu Metodologi Praktikum. Metodologi Praktikum adalah
suatu bentuk metodologi kerja praktek yang bertempat dalam lingkungan yang
disesuaikan dengan tujuan agar mahasiswa dapat terlibat dalam pengalaman belajar
yang terencana dan berinteraksi dengan peralatan untuk mengobservasi serta
memahami fenomena.
Data yang diambil yaitu data Skema Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Rol,
Spesifikasi Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Rol, Rencana Tenun Alat Tenun
Bukan Mesin (ATBM) Rol

3.2. ALAT DAN BAHAN

3.2.1. Alat dan Bahan Praktikum Identifikasi ATBM

1. ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin).

3.2.2. Alat dan Bahan Praktikum Menenun ATBM Tanpa Isi Benang

1. ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin),


2. Teropong

3.2.3. Alat dan Bahan Praktikum Menenun Anyaman Polos dan Keper

1. ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin),


2. Teropong
3. Palet benang pakan
4. Benang lusi

16
3.2.4. Alat dan Bahan Praktikum Menenun Anyaman Turunan Dasar

1. ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin),


2. Teropong
3. Palet benang pakan
4. Benang lusi

3.3. PROSEDUR PRAKTIKUM ATBM ROLL


3.3.1. Prosedur Praktikum Identifikasi ATBM Roll

1. Mengidentifikasi Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Roll.


2. Menggambar Skema Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Roll.
3. Mengamati mekanisme kerja Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)
Roll yang dijelaskan oleh Dosen atau Asisten Dosen Praktikum.

3.3.2. Prosedur Praktikum Menenun ATBM Roll Tanpa Isi Benang

1. Mesin dipersiapkan untuk menenun.


2. Mulut lusi disetel dengan cara sebagai berikut :
• Kamran dengan gun-gunnya dipersiapkan.
• Kamran diikat dengan tali agar antara kamran satu dengan lainnya
letaknya sama (sejajar).
• Bagian atas kamran diikat dengan tali pengikat dan dililitkan pada
batang kerekan.
• Bagian bawah kamran diikat dengan tali pengikat satu persatu
dengan cara yang benar, kemudian diikatkan dengan injakan.
• Atur posisi kamran sehingga benang lusi dengan sisir tenun naik 1/3
dari tinggi sisir tenun.
• Setelah kamran diikat dengan injakan, salah satu injakan diinjak
sehingga membentuk mulut lusi.

17
3.3.3. Prosedur Praktikum Menenun ATBM Roll Anyaman Polos dan
Kepper.

1. Mesin dipersiapkan untuk menenun.


2. Rencana tenun anyaman polos dan keper dibuat terlebih dahulu agar
tidak ada kesalahan dalam melaksanakan praktikum
3. Mulut lusi disetel dengan cara sebagai berikut :
• Kamran dengan gun-gunnya.
• Kamran diikat dengan tali agar antara kamran satu dengan lainnya
letaknya sama (sejajar).
• Bagian atas kamran diikat dengan tali pengikat dan dililitkan pada
batang kerekan.
• Bagian bawah kamran diikat dengan tali pengikat satu persatu
dengan cara yang benar, kemudian diikatkan dengan injakan.
• Atur posisi kamran sehingga benang lusi dengan sisir tenun naik 1/3
dari tinggi sisir tenun.
• Setelah kamran diikat dengan injakan, salah satu injakan diinjak
sehingga membentuk mulut lusi.
• Atur agar kedudukan injakan sama tinggi sehingga pada saat injakan
diinjak secara bergantian akan menghasilkan tinggi mulut lusi yang
sama dengan cara mengatur tali pengikat injakan dan injakan
4. Palet dipasang ke dalam teropong, ujung benang dimasukkan kedalam
lubang pada kepala teropong. Hal ini berfungsi agar benang pakan yang
diluncurkan mempunyai tegangan.
5. Teropong dimasukan ke dalam laci sebelah kanan atau kiri dan ujung
benangnya ditahan agar tidak tebawa saat teropong diluncurkan.
6. Apabila teropong berada disebelah kiri, menjalankan mesinnya dengan
menginjak injakan sebelah kanan kemudian lade diayunkan ke belakang
lalu ditarik ke belakang.dan sebaliknya
7. Lakukan hal yang sama sampai terbentuk anyaman polos
8. Penggulungan kain dilakukan secara manual yaitu dengan melepaskan
rem kemudian memutar roda gigi rachet dengan pemutarnya sampai
benang-benang kembali tegang.

18
3.3.4. Prosedur Praktikum Menenun ATBM Roll Anyaman Turunan Dasar

1. Mesin dipersiapkan untuk menenun.


2. Rencana tenun anyaman turunan dibuat terlebih dahulu agar tidak ada
kesalahan dalam melaksanakan praktikum
3. Mulut lusi disetel dengan cara sebagai berikut :
• Kamran dengan gun-gunnya.
• Kamran diikat dengan tali agar antara kamran satu dengan lainnya
letaknya sama (sejajar).
• Bagian atas kamran diikat dengan tali pengikat dan dililitkan pada
batang kerekan.
• Bagian bawah kamran diikat dengan tali pengikat satu persatu
dengan cara yang benar, kemudian diikatkan dengan injakan.
• Atur posisi kamran sehingga benang lusi dengan sisir tenun naik 1/3
dari tinggi sisir tenun.
• Setelah kamran diikat dengan injakan, salah satu injakan diinjak
sehingga membentuk mulut lusi.
• Atur agar kedudukan injakan sama tinggi sehingga pada saat injakan
diinjak secara bergantian akan menghasilkan tinggi mulut lusi yang
sama dengan cara mengatur tali pengikat injakan dan injakan
4. Palet dipasang ke dalam teropong, ujung benang dimasukkan kedalam
lubang pada kepala teropong. Hal ini berfungsi agar benang pakan
yang diluncurkan mempunyai tegangan.
5. Teropong dimasukan ke dalam laci sebelah kanan atau kiri dan ujung
benangnya ditahan agar tidak tebawa saat teropong diluncurkan.
6. Apabila teropong berada disebelah kiri, menjalankan mesinnya
dengan menginjak injakan sebelah kanan kemudian lade diayunkan ke
belakang lalu ditarik ke belakang.dan sebaliknya
7. Lakukan hal yang sama sampai terbentuk anyaman turunan dasar
8. Penggulungan kain dilakukan secara manual yaitu dengan melepaskan
rem kemudian memutar roda gigi rachet dengan pemutarnya sampai
benang-benang kembali tegang.

19
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. IDENTIFIKASI ALAT TENUN BUKAN MESIN (ATBM)

4.1.1. Skema Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)

1 1 1 1 1 1
0 1 2 3 4 1

2
1
3
5
4 1
6
5 1
7
6 1
8
7
1
8
9

2
0
9

Gambar 4.1. Skema Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)


Keterangan:
1. Lade 11. Batang pemukul
2. Laci 12. Mata Gun
3. Sisir 13. Rol/ keek
4. Teropong 14. Gun/kamran
5. Balok dada 15. Balok pembesut
6. Gigi rachet 16. Palet
7. Pemutar gigi rachet 17. Beam Lusi
8. Boom kain 18. Piringan rem
9. Injakan 19. Batang pengerem
10. Rangka 20. Bandul

20
4.1.2. Bagian – Bagian dan Fungi dari identifikasi ATBM

Nama Bagian Fungsi


Lade Sebagai alat pengetek, tempat penyimpanan dan
meluncurnya teropong, juga merapatkan benang
pakan yang akhirnya terbentuk anyaman.
Laci Sebagai tempat teropong dan pemukul
Sisir Untuk mengatur lebar kain yang akan dibuat, untuk
merapatkan benang pakan yang telah diluncurkan dan
untuk mengatur tetal lusi.
Teropong Meluncurkan benang pakan dari kanan ke kiri atau
sebaliknyadan tempat palet dan tempat bagi palet
berisikanbenang pakan.
Balok dada Sebagai alat perantara kain sebelum digulung pada
kain dan juga mengatur kain supaya sejajar dengan
balok pemberat.
Gigi Rachet Alat untuk penggulungan kain secara manual.
Pemutar gigi rachet Untuk memutarkan roda gigi rachet.
Boom kain Menggulung kain yang telah terbentuk agar tidak
terjadi penumpukan kain dan juga untuk menjaga
ketegangan benang lusi agar konstan.
Injakan Untuk menurunkan dan menaikkan kamran pada saat
injakan diinjak, antara injakan dan kamran digunakan
tali pengikat.
Rangka Menahan getaran yang ada, sebagai penyangga
peralatan lainnya.
Batang pemukul Untuk menarik picker agar teropong terpukul dan
meluncur.
Mata gun Untuk memasukkan benang lusi agar dapat naik turun
sesuai gerakan kamran

21
Rol/kerek Menghubungkan dua kamran yang bekerjanya saling
berlawanan, sehingga pada saat salah satu kamran
naik maka kamran yang lainnya akan turun.
Gun/Kamran Untuk menaikkan atau menurunkan kelompok
benang-benang lusi yang dicucuk dalam matagun agar
terbentuk mulut lusi.
Balok pembesut Untuk pengantar benang-benang lusi pada saat
penguluran.
Palet Untuk tempat menggulung benang pakan yang
terdapat pada teropong.
Beam lusi Sebagai tempat digulungnya benang-benang lusi yang
akan ditenun pada proses pertenunan.
Piringan rem Fungsinya untuk landasan pengereman putaran boom
lusi.
Batang pengerem Fungsinya untuk mengerem atau melepaskan rem
pada saat penggulungan kain (secara manual).
Bandul Fungsinya untuk memberi beban pada batang
pengerem sehingga terjadi pengereman pada
piringan pengerem.

Tabel 4.1 Bagian – Bagian dan Fungsi dari Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)

4.1.3. Mekanisme Gerakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)


1. Mekanisme Shedding Motion

Gerakan yang terjadi diakibatkan adanya gerakan naik kelompok


benang-benang lusi tertentu. Pembukaan mulut mengakibatkan lusi maka
terbentuklah sebuah celah yang disebut mulut lusi, mulut lusi tersebut yang
akhirnya bisa dilalui oleh benang pakan. Pada ATBM pembukaan mulut lusi
terjadi karena adanya perelatan injakan, tali ikatan, kamran, matagun, tali
penghubung, dan rol kerek.

22
2. Mekanisme Picking Motion
Gerakan peluncuran pakan (picking motion) yaitu gerakan
memasukan benang pakan pada mulut lusi yang terbentuk. Pada ATBM
peralatan yang berfungsi untuk meluncurkan benang pakan batang pemukul,
tali penarik picker, picker (pemukul), laci teropong, teropong, dan palet.
Gerakan bisa terjadi karena teropong yang membawa benang pakan dipukul
oleh picker bolak-balik dari kanan ke kiri melalui mulut lusi dengan diberi
dorongan ke lade .

4.2. RENCANA TENUN ANYAMAN POLOS DAN KEPER PADA ATBM


ROLL
4.2.1. Rencana Tenun Anyaman Polos (Cucukan 1-3-2-4)

1 2

Injakan 1 : Kamran 2
Injakan 2 : Kamran 1

23
4.2.2. Rencana Tenun Anyaman Keper (Cucukan 1-3-2-4 )

1 2 3 4

Injakan 1: Kamran 1 dan 4


Injakan 2 : Kamran 1 dan 3 3
4
Injakan 3 : Kamran 2 dan 3
Injakan 4 : Kamran 2 dan 4
2
Rumus Anyaman : 1 /1

4.3. RENCANA TENUN TURUNAN ANYAMAN DASAR PADA ATBM


4.3.1. Rencana Tenun Anyaman Turunan Dasar : Diamond (Cucukan 1-3-2-
4-2-3-1 )

1 2 3 4

Injakan 1 : Kamran 1 dan 4 4


Injakan 2 : Kamran 2 dan 4

24
Injakan 3 : Kamran 2 dan 3
Injakan 4 : Kamran 1 dan 3

4.3.2. Rencana Tenun Anyaman Turunan Dasar : Ajour (Cucukan 1-3-1-4-2 )

1 2 3 4

Injakan 1 : Kamran 1 dan 4


Injakan 2 : Kamran 1 dan 3
Injakan 3 : Kamran 2 dan 4
Injakan 4 : Kamran 2 dan 3

4.4. PEMBAHASAN
4.4.1. Pembahasan Identifikasi dan Penyetelan ATBM Roll

Dalam melakukan identifikasi dan penyetelan mesin ATBM, praktikan


mengalami kesulitan saat mengikat kamran pada roll. Hal ini terjadi karena
praktikan harus memperhatikan betul- betul agar kamran sejajar dengan orang yang
menenun dan praktikan pun harus betul- betul mengikat kamran pada roll.
Selanjutnya dalam penyetelan Kamran ke injakan praktikan pun harus hati- hati
melihat paku yang berada di roll, paku harus selalu menghadap keatas, dimana
harus ada salah satu orang yang menahan roll.

25
Setelah semuanya terpasang secara benar, praktikan memulai identifikasi
bagaimana mekanisme mesin ATBM roll, yang pertama dilihat adalah shedding
motion gerakan ini dipengaruhi oleh injakan yang diinjak oleh praktikan, dimana
injakan yang diinjak akan menurunkan kamran yang diikat pada kamran, sehingga
akan tercipta lah mulut lusi yang bisa dilalui oleh teropong. Hal yang kedua dilihat
oleh praktikan adalah picking motion, gerakan ini adalah gerakan teropong yang
dipukul oleh picker secara berulang-ulang, dimana teropong bergerak dari sisi
kanan ke sisi kiri atau sebaliknya. Hal ini tercipta dikarenakan pada bagian atas
mesin ATBM terdapat gaya yang mendorong ke depan, sehinnga picker pun akan
tertarik dan memukul teropong sehingga melesat melwati pembukaan mulut lusi.

4.4.2. Pembahasan Menenun Kain Anyaman Polos pada ATBM Roll

Pada praktikum menenun anyaman polos pada mesin ATBM roll, praktikan
hanya mengalami sedikit kesulitan saja. Dikarenakan sebelumya praktikan telah
melakukan penyetelan mesin ATBM,sehingga mempermudah penyetelan untuk
menenun anyaman polos pada mesin ATBM roll. Dalam menenun anyaman polos,
terdapat beberapa mesin yang dipakai. Ada yang menggunakan 4 kamran dan ada
yang menggunakan 4 kamran, namun 2 kamran diikat menjadi satu. Pola cucukan
pada mesin ATBMnya pun berbeda-beda, ada yang menggunakan cucukan lurus
dan ada yang menggunakan cucukan lompat. Dalam praktikum anyaman polos
biasanya hanya menggunakan 2 injakan, hal ini dilakukan untuk mengefisiensikan
praktikan atau orang yang menenun karena hanya membuat untuk anyaman polos
saja.

4.4.3. Pembahasan Menenun Kain Anyaman Keper pada Mesin ATBM Roll

Pada praktikum menenun anyaman keper, disini memiliki hal yang berbeda
dari anyaman polos, dikarenakan praktikan harus membuat dan mengamati rencana
tenun. Dalam pembuatan anyaman keper, praktikan mengalami sedikit kesulitan
saat menginjak injakan dikarenakan praktikan belum terbiasa dengan menginjak 4
injakan. Dalam rencana tenun anyaman keper pun digunakan pola cucukan 1-3-2-4
atau pola cucukan lompat. Mengapa tidak menggunakan pola cucukan lurus??
Apabila praktikan ingin membuat anyaman keper dengan pola cucukan lurus hal ini

26
bisa saja dilakukan dalam kertas dan rencana tenun, namun hal ini akan berbeda
dalam skema roll dan penyetelan roll. Apabila praktikan menerapkan pola cucukan
lurus, bisa mengakibatkan kamran yang saling tarik menarik yang pada akhirnya
bisa menyebabkan mesin ATBM menjadi ambrol.

Masalah lainnya yang dialami praktikan adalah terjadinya putus benang yang cukup
banyak lalu sering terjadinya kendor pada benang lusi. Benang yang putus pada
mesin bisa diakibatkan saat praktikum berlangsung, praktikan atau orang yang
menenun terlalu keras mendorong dan menarik kembali lade, sehingga benang-
benang pun akhirnya menjadi putus. Atau faktor lain yang bisa terjadi adalah
benang yang memang kekuatannya rendah, sehingga benang menjadi mudah putus.
Untuk menghindari kusut benang diantar benang lusi lainnya, akhirnya diberi solusi
dengan mencari dimana benang yang putus dan memasukan kembali ke kamran lalu
ke sisir tenun atau dengan memisahkan benang lusi yang putus dengan cara
diisolatip. Untuk benang lusi yang kendor bisa diatasi dengan mengulur lusi dengan
menarik tuas yang di sebelah kanan dari orang meneun, lalu menggulung kain
dengan menarik tuas yang berada di sebelah kiri orang yang menenun. Dalam
menenun anyaman keper menggunakan pola cucukan lompatan 1-3-2-4 dan
menggunakan 4 injakan.

27
BAB V
KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan Praktikum Tenun Identifikasi dan Penyetelan ATBM


Roll
Jadi praktikum tenun identifikasi dan penyetelan ATBM roll dilaksanakan
agar mahasiswa atau praktikan dapat memahami gerakan-gerakan yang ada dalam
mesin tenun,mekanisme,dan cara menenun yang baik dan benar. Sebelum,
praktikan memulai untuk menenun anyaman selanjutnya di mesin ATBM roll.

5.2. Kesimpulan Praktikum Tenun ATBM Anyaman Polos dan Keper


Jadi dalam praktikum mesin ATBM isi anyaman polos didapatkan benang
yang dicucuk pada kamran 1-2-3-4 dan 1-3-2-4, untuk pola cucukan lurus kamran
1 dan 3 diikat pada injakan 2 dan kamran 2 dan 4 diikat pada injakan 1. Pada pola
cucukan loncatan kamran 1 diikatkan pada injakan 2 dan 4 , kamran 2 diikatkan
pada injakan 1 dan 3, kamran 3 diikatkan pada injakan 1 dan 4, dan kamran 4
diikatkan pada injakan 2 dan 3. Untuk praktikum mesin ATBM isi anyaman keper
2
didapatkan pola anyaman 2 /1.

28
5.3. Lampiran Dokumentasi

Gambar 5.3.1 Proses Pemberian Materi


Oleh Dosen Gambar 5.3.2. Mahasiswa Mencoba
Mempraktekan Gerakan Pokok Pada
ATBM

Gambar 5.3.3 Proses Pemberian Materi Gambar 5.3.4 Proses Pemberian Materi
Oleh Dosen Oleh Dosen

Gambar 5.3.5 Proses Penyetelan pada Gambar 5.3.6 Proses Penyetelan pada
ATBM oleh Mahasiswa ATBM oleh Mahasiswa

29
Gambar 5.3.4 Proses Pemberian Materi
Oleh Dosen

Gambar 5.3.7 Proses Mempraktekan


Menenun pada ATBM oleh Mahasiswa

30
DAFTAR PUSTAKA

[1] Jumaeri, S.Teks., dkk. (1977). Pengetahuan Barang Tekstil. Institut


Teknologi Tekstil: Bandung

[2] Ivan.(2019).Praktikum Pertenunan I Rencana Tenun Alat Tenun Bukan


Mesin ATBM.Scribd ID. [Tersedia][Online].
https://id.scribd.com/document/423669294/Praktikum-Tenun-ATBM-docx
diakses pada Rabu, 19 Februari 2020.
[3] Liek Soeparli, S.Teks, et al. 1974. Teknologi Pertenunan. Institut Teknologi
Tekstil. Bandung

[4] Kunthara. (2014). “Supplementary-weft weaving technique (Backstrap


loom)”.[Tersedia]. [Online].
http://kuntharatex.blogspot.co.id/2014/03/supplementary-weft-weaving-
technique.html diakses pada Rabu, 19 Februari 2020.
[5] Ridwansyah.Muhammad.2013.Laporan Kuliah STT Tekstil Mengenal Alat Tenun
Bukan Mesin.Scribd ID. [Tersedia][Online]. id.scribd.com › doc › 315576531 ›
Alat-Mesin-Tenun-Bukan-Mesin diakses pada Rabu, 29 Januari 2020.

31