Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

ASBAB AN-NUZUL

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Study Al Qur’an

Dosen Pengampu :

Dr. Siti Nurjanah, M.Ag dan Ervan Nurtawab, Ph.D

Disusun Oleh :

Ahmad Badawi (19003888)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB


PASCASARJANA IAIN METRO LAMPUNG
TAHUN AKADEMK 2019/2020
SOAL-SOAL TERKAIT DENGAN ASBABUN NUZUL

1. Apa pengertian asbabun nuzul ?

Jawab :

Ungkapan “Asbabun Nuzul” merupakan bentuk idhofah dari kata “asbab” dan
“nuzul”. Secara bahasa “asbab” merupakan bentuk plural dari “sabab” yang secara
etimologis berarti sebab, alasan, illat (dasar logis), perantaraan, wasilah, pendorong
(motivasi), tali kehidupan, persahabatan, hubungan kekeluargaan, kerabat, asal,
sumber dan jalan. Yang dimaksud “nuzul” di isini ialah penurunan Alquran dari
Allah swt. kepada Nabi saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril as.1 Maka, bisa
diambil kesimpulan bahwa asbabun Nuzul menurut etimologi ialah sebab-sebab
penurunan Alquran.

Secara istilah asbab an-nuzul dapat didefinisikan kepada “suatu ilmu yang
mengkaji sebab-sebab atau hal-hal yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat Al-
Qur’an”.2

Banyak pengertian terminologi yang dirumuskan oleh para ulama, diantaranya :

1. Ash-Shabuni
“Asbab an-Nuzul” adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya
satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa dan kejadian
tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang
berkaitan dengan urusan agama.”3
2. “Manna` Khalil al-Qattan”
Yang mengungkapkan bahwa asbabun-nuzul yaitu sesuatu, baik berupa
peristiwa maupun pertanyaan, yang terjadi pada waktu atau masa tertentu, dan
menjadi penyebab turunnya Al-Qur’an.4

1
Muhammad Amin Suma, Ulumul Quran, (cet. I; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2013), hal.
204.
2
Kadar M.Yusuf, Studi Al-Qur’an (Jakarta:Amzah,2014),hlm.85-86
3
Rosihon Anwar, Ulum Al- Qur’an (Bandung:CV Pustaka Setia,2013),hlm.60
4
Muchlis M.Hanafi, Asbabun-Nuzul(Jakarta:Lajnah Pentashihan Mushaf Al-
Qur’an,2015),hlm.6
3. Shubhi al-Shalih
“Sesuatu yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat yang memberi
jawaban terhadap sebab itu, atau menerangkan hukumnya pada masa terjadinya
sebab itu.5

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Asbab an-Nuzul


adalah kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat Al-Qur’an.
Ayat tersebut dalam rangka menjawab, menjelaskan, dan menyelesaikan masalah-
masalah yang timbul dari kejadian-kejadian tersebut. Asbabun An-Nuzul
merupakan bahan-bahan sejarah yang dapat dipakai untuk memberikan keterangan-
keterangan terhadap lembaran-lembaran dan memberinya kejelasan dalam
memahami perintah-perintah-Nya. Sudah tentu bahan-bahan sejarah ini melingkupi
peristiwa-peristiwa pada masa Al-Qur’an masih turun namun tentu masih relevan
dengan zaman sekarang ini.

2. Apakah semua ayat Al Qur’an ada asbabun nuzulnya ?


Jawab :
Persoalan apakah semua ayat Al-Quran memiliki Asbab al-Nuzul telah
menjadi kontroversi dikalangan para ulama. Sebagian para ulama berpendapat
bahwa tidak semua ayat Al-Quran memiliki Asbab al-Nuzul. Sehingga,
diturunkan tanpa ada yang melatarbelakanginya (ibtida’), dan ada pula ayat Al-
Quran itu diturunkan dengan dilatarbelakangi oleh sesuatu, baik peristiwa maupun
pertanyaan yang diajukan kepada Nabi (ghair ibtida’).6
Apabila dilihat dari sisi ababun nuzul ini, ayat-ayat Al-Qur’an
diklasifikasikan kepada dua kelompok : pertama, ayat-ayat yang mempunyai
sebab atau latar belakang turun, dan kedua, ayat-ayat yang diturunkan tidak
didahului oleh suatu peristiwa atau pertanyaan, ayat-ayat semacam ini lebih
banyak jumlahnya dibandingkan yang pertama.
Pada umumnya ayat yang mempunyai sebab nuzul adalah ayat-ayat hukum
dan ayat-ayat yang dimulai dengan yas’alunaka. Tetapi hal ini tidak berarti ayat-
ayat yang tidak berbicara tentang hukum tidak mempunyai sebab nuzul sama
5
M.Qurais shihab, Sejarah dan Ulum al-Qur’an(Jakarta:Pustaka Firdaus,1999),hal78
6
Manna’ Al-Qhathan, Mahabits fi ‘Ulum Al-Quran, Mansyurat Al-‘Ashr Al-Hadis, ttp., 1973,
hlm.45
sekali, ada juga diantara ayat-ayat yang tidak berbicara tentang hukum
mempunyai sebab nuzul, namun tidak terlalu banyak.
Ada ayat yang memiliki asbabun nuzul dan ada pula yang tidak. Ayat yang
tidak memiliki asbabun nuzul tidak berarti bahwa ayat-ayat itu turun secara tiba-
tiba tanpa ada kaitannya dengan fenomena masyarakat. Ayat tersebut turun secara
berangsur-angsur sesuai dengan tuntutan kondisi, peristiwa dan keadaan, atau
sebagai respons atas kejadian dan momentum atau pertanyaan.7
Setiap ayat yang turun kepada Nabi, pada hakikatnya, merupakan resposns
ilahiah terhadap kondisi miniatur masyarakat dunia pada masa itu yang tergambar
dalam sistem masyarakat Arab. Ayat-ayat tentang akidah, misalnya, turun untuk
merespons sikap masyarakat yang mengabaikan akal sehat dengan menyembah
berhala. Maka jika dilihat dari sisi ini, ternyata tidak ada ayat Al-Qur’an tanpa
asbabun nuzul. Fenomena keseharian masyarakat sebagai individu, anggota
keluarga, anggota masyarakat, dan kepemimpinan merupakan latar belakang
membuat turunnya ayat Al-Qur’an untuk menjawab fenomena tersebut. Respons
ayat-ayat itu terhadap fenomena yang berlaku ada yang negatif lalu menolaknya,
dan ada pula positif yang kemudian dilegalkan, dan atau diadakan revisi terhadap
sistem yang ada.8
Ada yang mengatakan bahwa kesejaran Arabia pra-Quran pada masa
turunnya Al-Quran merupakan latar belakang makro Al-Quran; sementara
riwayat-riwayat Asbab al-Nuzul merupakan latar belakang mikronya. Pendapat
ini berarti menganggap bahwa semua ayat Al-Quran memiliki sebab-sebab yang
melatarbelakanginya.9

3. Apa hikmah mengetahui asbabun nuzul ?


Jawab :

Pentingnya mempelajari dan mengetahui Asbabun Nuzul adalah untuk


memahami ayat Al-Qur’an, baik dalam mengistimbath hukum atau dalam

7
Wahbah az-Zuhaili, Tafsir AL-MUNIR(Depok:Gema Insani,2005),hlm.2-3
8
Kadar M.Yusuf, Studi Al-Qur’an (Jakarta:Amzah,2014),hlm.86-87
9
Taufiq, Adnan Amal dan Syamsul Rizal Panggabean, Tafsir Kontekstual Al-Quran, Mizan,
Bandung, 1989,. Hlm. 50.
beristidlal, atau sekedar memahami maksud ayat. Tidak mungkin memahami
kandungan makna suatu ayat tanpa mengetahui sebab turunnya ayat tersebut.10

Mengetahui asbabun nuzul sangat besar pengaruhnya dalam memahami


makna ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, para ulama sangat berhati-hati
dalam memahami asbabun nuzul, sehingga banyak ulama yang menulis tentang
itu. Diantara kitab termasyhur yang membahas tentang asbabun nuzul adalah;
Asbabun Nuzul, karya Imam Al-Wahidi, Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul karya
Imam Suyuthi. Beberapa faedah mengetahui asbabun nuzul antara lain:11

1. Dapat mengetahui hikmah disyari’atkannya hokum. Imam Al-Wahidi


mengatakan, ”Tidak mungkin orang bisa mengetahui tafsir suatu ayat tanpa
mengetahui kisah dan penjelasan mengenai turunnya lebih dahulu”.
2. Kekhususan hukum disebabkan oleh sebab tertentu. Ibnu Taimiyyah
mengatakan, ”Mengetahui asbabun nuzul sangat membantu untuk memahami
ayat. Sesungguhnya dengan mengetahui sebab akan mendapatkan ilmu
musabbab”.
3. Mengetahui nama orang, dimana ayat diturunkan berkaitan dengannya, dan
pemahaman ayat menjadi lebih jelas.
4. Menghindarkan anggapan menyempitkan dalam memandang hukum yang
nampak lahirnya menyempitkan.
5. Sarana memahami ayat secara tepat.12
6. Memudahkan untuk menghafal dan memahami ayat serta untuk memantapkan
wahyu di hati orang yang mendengarnya.13

Al Wahidi menjelaskan: “tidaklah mungkin mengetahui tafsir ayat tanpa


mengetahui dan penjelasan sebab turunnya.” Ibn Daqiqil ‘Id berpendapat,
“Keterangan sebab nuzul adalah cara yang kuat (tepat) untuk mengetahui makna
Al-Qur’an. Ibn Taimiyah mengatakan: “Mengetahui sebab nuzul akan membantu

10
Didin saefudin Buchori, Pedoman Memahami Kandungan Al-Qur’an, Granada Pustaka,
Bogor:2005, hlm. 34-35.
11
Supiana, M. Karman. 2002, Ulumul Qur’an, Bandung : Pustaka Islamika. H. 133
12
Dr. Rosihon Anwar, Ulumul Qur’an, Bandung: Pustaka Setia, 2006, hlm. 72.
13
Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Dasar-dasar Penafsiran al-Qur’an, Semarang: Dina
Utama, 1989, hlm. 14-16.
dalam memahami ayat, karena mengetahui sebab menimbulkan pengetahuan
mengenai musabab (akibat).”
Contohnya dalam QS. Al-Baqoroh ayat 158 yang artinya “Sesungguhnya
Safa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barang siapa
beribadah haji ke Baitullah atau berumrah,maka tidak ada dosa baginya untuk
mengerjakan sa’i di antara keduanya. Dan barang siapa mengerjakan suatu
kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri
kebaikan dan Maha Mengetahui.”
Lafal ayat ini secara tekstual tidak menunjukkan bahwa sa’i itu wajib, sebab
ketiadaan dosa untuk mengerjakannya itu menunjukkan “kebolehan” dan
bukannya “kewajiban.” Sebagian ulama’ juga berpendapat demikian, karena
berpegang pada arti tekstual ayat itu.14

4. Ada berapa macamkah asbabun nuzul ?


Jawab :

Dilihat dari Sudut Pandang Redaksi-Redaksi yang Dipergunakan dalam Riwayat


Asbabun Nuzul
1. Sharih (jelas/pasti)
Sharih artinya riwayat yang sudah jelas menunjukkan Asbabun  Nuzul, dan
tidak mungkin pula menunjukkan yang lainnya.15
2. Muhtamilah (tidak pasti/kemungkinan)
Mengenai sumber yang dijelaskan dengan kemungkinan / tidak pasti
mengenai sebab nuzul ayat oleh para perawi atau dalam riwayat.16
Tidak setiap ayat memiliki riwayat asbabun nuzul dalam satu versi. Untuk
mengatasi variasi riwayat asbabun nuzul dalam satu ayat dari sisi redaksi dan dari
sisi kualitas, para ulama mengemukakan cara-cara berikut:

Dari sisi redaksi :

14
Manna’ Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Uilmu Al-Qur’an, Pustaka Litera AntarNusa,
Bogor:2001, hlm.113.
15
Rosihon Anwar, Ulum Al-Qur’an, cet.II ( Bandung: Pustaka Setia, 2010) hlm. 60
16
Rosihon Anwar, Ulum Al-Qur’an, cet.II ( Bandung: Pustaka Setia, 2010) hlm. 68
 Tidak mempermasalahkan; cara ini digunakan apabila riwayat-riwayat
asbabun nuzul ini menggunakan redaksi muhtamilah.
 Mengambil versi riwayat asbabun nuzul yang menggunakan redaksi sarih;
cara ini digunakan bila salah satu versi riwayat asbabun nuzul itu tidak
menggunakan redaksi sarih.
 Mengambil versi riwayat yang shahih; cara ini digunakan apabila seluruh
riwayat itu menggunakan redaksi sarih, tetapi kualitas salah satunya tidak
shahih.17

Dari sisi kualitas:

 Mengambil versi riwayat yang shahih; cara ini diambil jika terdapat dua versi
riwayat tentang Asbabun Nuzul satu ayat, terdapat versi yang shahih dan
tidak shahih.
 Melakukan studi selektif (tarjih); cara ini diambil jika kedua versi Asbabun
Nuzul berkualitas sama-sama shahih.
 Melakukan studi kompromi (jama’); jika kedua riwayat berkualitas sama-
sama tidak shahih.18
a. Variasi Ayat untuk Satu Sebab (Ta’addud Nazil wa As-Sabab Al-Wahid)

Jenis ini terjadi jika suatu kejadian menjadi sebab bagi turunnya, dua ayat
atau lebih. Contoh satu kejadian yang menjadi sebab bagi dua ayat yang
diturunkan, sedangkan antara yang satu dengan yang lainnya berselang lama
adalah riwayat Asbabun Nuzul yang diriwayatkan oleh Ibn Jarir Ath-Thabari,
Ath-Thabrani, dan Ibn Mardawiyah dari Ibn Abbas tentang turunnya surat Al
Mujadalah ayat 18-19.19

1. Ditinjau dari segi latar belakangnya ada dua, yaitu:


 pertama, ada suatu kejadian, lalu turunlah ayat yang menjelaskan
kejadian tersebut.

17
Rosihon Anwar, Ulum Al-Qur’an, cet.II ( Bandung: Pustaka Setia, 2010) hlm. 70.
18
Rosihon Anwar, Ulum Al-Qur’an, cet.II ( Bandung: Pustaka Setia, 2010) hlm. 72-74
19
Rosihon Anwar, Ulum Al-Qur’an, cet.II ( Bandung: Pustaka Setia, 2010) hlm.. 76.
 Kedua, ada yang bertanya kepada Nabi saw. tentang suatu hal, lalu
turunlah ayat yang menjelaskan/menjawab pertanyaan yang disampaikan
kepada Nabi saw.20

5. Berikan contoh – contoh dari ungkapan asbabun nuzul A Qur’an !


Jawab :

1.      Redaksi yang  sharih/jelas, apabila perawi mengatakan21 :

....‫سبب نزول هذه األيةهذا‬

“sebab turun ayat ini adalah...

Bila perawi mengatakan dengan memasukkan huruf “fa Ta’qibiyah” (maka


datanglah sesudah itu) maka yang masuk materi nuzul ayat sesudah dia
menerangkan kejadian atau dia menyebut suatu pernyataan yang dikemukakan
kepada Rasul, seperti ia mengatakan :

‫اَوْ سل النبي عليه السالم عن كدا فنزلت اية كد‬...‫ث َكدَا‬


َ ‫َح َد‬

“Telah terjadi begini. Atau telah dinyatakan kepada Nabi saw, tentang hal ini
maka turunlah ayat ini.” Maka yang demikian itu merupakan nash yang nyata
dalam menerangkan sebab.

2.      Adapun redaksi yang muhtamilah (tidak pasti)22

Ungkapan-ungkapan yang dipakai oleh para perawi mengenai sumber yang


dijelaskan dengan kemungkinan / tidak pasti mengenai sebab nuzul ayat oleh para
perawi atau dalam riwayat. Al-Zarkasyi dalam Al-Burhan berkata : “Telah
terkenal dari kebiasaan sahabat dan tabi’in bahwa apabila mereka mengatakan:

..‫نزلت هده األية في كدا‬

20
Anshori, Ulumul Quran: Kaidah-kaidah Memahami Firman Tuhan, (cet. 1; Jakarta: Rajawali
Press, 2013), hal. 106.
21
Rosihon Anwar, Ulum Al-Qur’an, cet.II ( Bandung: Pustaka Setia, 2010) hlm. 67
22
Rosihon Anwar, Ulum Al-Qur’an, cet.II ( Bandung: Pustaka Setia, 2010) hlm. 68
“Ayat ini berkenaan dengan...”

Maka maksud beliau-beliau itu ialah menerangkan bahwa ayat itu mengandung
hukum itu , bukan menyatakan sebab nuzulnya. 23 Segolongan ahli hadits
menggolongkan perkataan semacam itu kedalam hadits marfu’, seperti pada
perkataan Ibnu Umar :

‫نسا ؤكم حرث لكم‬

“Isteri-isterimu adalah sawah ladang bagimu”

Untuk menentukan peristiwa yang menjadi asbabun nuzul suatu ayat, ungkapan-
ungkapan diatas pelu menjadi pertimbangan dan perhatian seorang mufassir. Artinya,
seorang mufassir dalam mencari asbabun nuzul suatu ayat hendaklah merujuk kepada
peristiwa yang mengandung ungkapan yang terdapat pada poin satu dan dua. 24

23
Rosihon Anwar, Ulum Al-Qur’an, cet.II ( Bandung: Pustaka Setia, 2010) hlm. 23
24
Kadar M.Yusuf, Studi Al-Qur’an (Jakarta:Amzah,2014),hlm.90-91