Anda di halaman 1dari 58

Accelerat ing t he world's research.

LAPORAN PENDAHULUAN DAN


ASKEP ABORTUS
Laila Nisak

Nisak laila

Cite this paper Downloaded from Academia.edu 

Get the citation in MLA, APA, or Chicago styles

Related papers Download a PDF Pack of t he best relat ed papers 

MAKALAH KOMPLIKASI PERSALINAN ASKEP DIST OSIA DAN KEDARURATAN OBST ET RIK Guna …
Riris Wibowo

T ERNEW Makalah SGD Kelompok 4 Mat ernit as (Persalinan Premat ur dan Post Dat e)
Ilham Dody

T UGAS kELOMPOK mAT ERNITAS


rist i zen
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
MATERNITAS PADA Ny. D DENGAN DIAGNOSA
ABORTUS

DEPARTEMEN MATERNITAS

Oleh :

LAILATUL KHOIRUNNISAK

10218044

PROGAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA
KEDIRI
2021
LAPORAN PENDAHULUAN
A. DEFINISI
Abortus (keguguran) merupakan pengeluaran hasil konsepei sebelum
janin dapat hidup diluar kandungan yang menurut para ahli sebelum usia 16
minggu dan 28 minggu dan memiliki BB 400-1000 gram, tetapi jika terdapat
fetus hidup dibawah 400 gram itu diamggap keajaiban karena semakin tinggi
BB anak waktu lahir makin besar kemungkinan untuk dapat hidup terus
(Sofian dalam Nurarif dan Kusuma, 2015)(Susilowati, 2019)
Abortus merupakan berakhirnya atau pengeluaran hasil konsepsi oleh
akibat-akibat tertentu pada atau sebelum kehamilan berusia 20 minggu atau
berat badan janin kurang dari 500 gram atau buah kehamilan belum mampu
untuk hidup diluar kandungan.(Darmawati, 2011)(Purwaningrum & Fibriana,
2017)

B. ANATOMI FISIOLOGI

1. Vagina
Vagina menghubungkan genitalia eksterna dengan genitalia
interna. Introitus vaginae tertutup pada himen (selaput dara), suatu
lipatan selaput setempat. Pada seorang virgo selaput daranya masih utuh,
dan lubang selaput dara (hiatus himenalis) umumnya hanya dapat dilalui
oleh jari kelingking.
Pada koitus pertama himen robek di beberapa tempat dan sisanya
dinamakan karunkulae mirtiformes. Bentuk lain yang ditemukan pada
himen ialah hymen kribriformis (menunjukkan beberapa lubang), himen
septus, dan sebagainya; kadang-kadang himen tertutup sama sekali
(himen imperforatus). Besarnya lubang himen tidak menentukan apakah
wanita tersebut masih virgo atau tidak.
Hal ini baik diketahui sehubungan dengan kedokteran kehakiman.
Di Indonesia keutuhan selaput dara pada seorang gadis/virgo masih
dihargai sekali; maka selayaknya para dokter memperhatikan hal ini.
Pada seorang gadis yang memerlukan pemeriksaan ginekologik
sebaiknya dilakukan pemeriksaan rektal. Vagina berukuran di depan 6,5
cm dan dibelakang 9,5 cm, sumbunya berjalan kira-kira sejajar dengan
arah pinggir bawah simfisis ke Promontorium. Arah ini penting diketahui
jika memasukkan jari ke dalam vagina pada pemeriksaan ginekologik.
Pada pertumbuhan janin dalam uterus 2/3 bagian atas vagina
berasal dari duktus Miilleri (asal dari entoderm), sedangkan 1/3 bagian
bawahnya dari lipatan-lipatan ektorderm. Hal ini penting diketahui dalam
menghadapi kelainan-kelainan bawaan. Epitel vagina terdiri atas epitel
skuamosa dalam beberapa lapisan. Lapisan tidak mengandung kelenjar,
akan tetapi dapat mengadakan transudasi. Pada anak kecil epitel itu amat
tipis, sehingga mudah terkena infeksi, khususnya oleh gonokokkus.
Mukosa vagina berlipat-lipat horisontal; lipatan itu dinamakan ruga
di tengah-tengah bagian depan dan belakang ada bagian yang lebih
mengeras, disebut kolumna rugarum. Ruga-ruga jelas dapat dilihat pada
VS bagian distal vagina pada seorang virgo atau nullipara, sedang pada
seorang multipara lipatan-lipatan untuk sebagian besar hilang. Di bawah
epitel vagina terdapat jaringan ikat yang mengandung banyak pembuluh
darah. Di bawah jaringan ikat terdapat otot-otot dengan susunan yang
serupa dengan susunan otot usus.
Sebelah luar otot-otot terdapat fasia (jaringan ikat) yang akan
berkurang elastisitasnya pada wanita yang lanjut usianya. Di sebelah
depan dinding vagina bagian bawah terdapat urethra sepanjang 2,5-4 cm.
Bagian atas vagina berbatasan dengan kandung kencing sampai ke
forniks vaginae anterior. Dinding belakang vagina lebih panjang dan
membentuk forniks posterior yang jauh lebih luas daripada forniks
anterior. Di samping kedua forniks itu dikenal pula forniks lateralis
sinistra dan dekstra. Umumnya dinding depan dan belakang vagina dekat
mendekati. Pada wanita yang telah melahirkan anak, pada kedua dinding
vagina sering ditemukan tempat yang kondor dan agak merosot (sistokele
dan rektokele). Pada seorang virgo keadaan ini jarang ditemukan.
2. Uterus
Uterus pada seorang dewasa berbentuk seperti buah advokat atau
buah peer yang sedikit gepeng. Ukuran panjang uterus adalah 7-7,5 cm,
lebar di tempat yang paling lebar 5,25 cm, dan tebal 2,5 cm. Uterus
terdiri atas korpus uteri (% bagian atas) dan serviks uteri (VS bagian
bawah). Di dalam korpus uteri terdapat rongga (kavum uteri), yang
membuka ke luar melalui saluran (kanalis servikalis) yang terletak di
serviks. Bagian bawah serviks yang terletak di vagina dinamakan porsio
uteri (pars vaginalis servisis uteri), sedangkan yang berada di atas vagina
disebut pars supravaginalis servisis uteri. Antara korpus dan serviks
masih ada bagian yang disebut isthmus uteri.
Bagian atas uterus disebut fundus uteri, di situ tuba Fallopii kanan
dan kiri masuk ke uterus.Dinding uterus terdiri terutama atas
miometrium, yang merupakan otot polos berlapis tiga; yang sebelah luar
longitudinal, yang sebelah dalam sirkuler, yang antara kedua lapisan ini
beranyaman. Miometrium dalam keseluruhannya dapat berkontraksi dan
berrelaksasi.
Kavum uteri dilapisi oleh selaput lendir yang kaya dengan kelenjar,
disebut endometrium.Endometrium terdiri atas epitel kubik, kelenjar-
kelenjar, dan stroma dengan banyak pembuluh-pembuluh darah yang
berkeluk-keluk. Di korpus uteri endometrium licin, akan tetapi di serviks
berkelok-kelok; kelenjar- kelenjar itu bermuara di kanalis servikalis
(arbor vitae). Pertumbuhan dan fungsi endometrium dipengaruhi sekali
oleh hormon steroid ovarium.
Uterus pada wanita dewasa umumnya terletak di sumbu tulang
panggul dalam anteversiofleksio (serviks ke depan atas) dan membentuk
sudut dengan vagina, sedang korpus uteri berarah ke depan dan
membentuk sudut 120°-130° dengan serviks uteri. Di Indonesia uterus
sering ditemukan dalam retrofleksio (korpus uteri berarah ke belakang)
yang pada umumnya tidak memerlukan pengobatan.
Perbandingan antara panjang korpus uteri dan serviks berbeda-beda
dalam pertumbuhan. Pada bayi perbandingan itu adalah 1 : 2, sedangkan
pada wanita dewasa 2:1.
Di luar, uterus dilapisi oleh serosa (peritoneum viserale).Jadi, dari
luar ke dalam ditemukan pada dinding korpus uteri serosa atau
perimetrium miometrium, dan endometrium.Uterus mendapat darah dari
arteria uterina, ranting dari arteria iliakainterna, dan dari arteria ovarika.
3. Tuba
Tuba Fallopii ialah saluran telur berasal — seperti juga uterus —
dari duktus Miilleri. Rata-rata panjangnya tuba 11-14 cm. Bagian yang
berada di dinding uterus dinamakan pars intertisialis, lateral dari itu (3-6
cm) terdapat pars isthmika yang masih sempit (diameter 2-3 mm), dan
lebih ke arah lateral lagi pars ampullaris yang lebih lebar (diameter 4-10
mm) dan mempunyai ujung terbuka menyerupai anemon yang disebut
infundibulum. Bagian luar tuba diliputi oleh peritoneum viserale, yang
merupakan bagian dari ligamentum latum.
Otot di dinding tuba terdiri atas (dari luar ke dalam) otot
longitudinal dan otot sirkuler.Lebih ke dalam lagi terdapat mukosa yang
berlipat-lipat ke arah longitudinal dan terutama dapat ditemukan di
bagian ampulla. Mukosa
Tuba terdiri atas epitel kubik sampai silindrik, yang mempunyai
bagian-bagian dengan serabut-serabut dan yang bersekresi. Yang
bersekresi mengeluarkan getah, sedangkan yang berserabut dengan
getarannya menimbulkan suatu arus ke arah kavum uteri.
4. Ovarium
Indung telur pada seorang dewasa sebesar ibu jari tangan, terletak
di kiri dan di kanan, dekat pada dinding pelvis di fossa ovarika.Ovarium
berhubungan dengan uterus dengan ligamentum ovarii
proprium.Pembuluh darah ke ovarium melalui ligamentum Suspensorium
ovarii (ligamentum infundibulopel- vikum).
Ovarium terletak pada lapisan belakang ligamentum latum.
Sebagian besar ovarium berada intraperitoneal dan tidak dilapisi oleh
peritoneum.Bagian ovarium kecil berada di dalam ligamentum latum
(hilus ovarii). Di situ masuk pembuluh-pembuluh darah dan saraf ke
ovarium. Lipatan yang menghubung- kan lapisan belakang ligamentum
latum dengan ovarium dinamakan mesovarium.
Bagian ovarium yang berada di dalam kavum peritonei dilapisi
oleh epitel kubik-silindrik, disebut epithelium germinativum.Di bawah
epitel ini terdapat tunika albuginea dan di bawahnya lagi baru ditemukan
lapisan tempat folikel-folikel primordial.Pada wanita diperkirakan
terdapat banyak folikel.Tiap bulan satu folikel, kadang-kadang dua
folikel, berkembang menjadi folikel de Graaf.
Folikel-folikel ini merupakan bagian ovarium yang terpenting, dan
dapat ditemukan di korteks ovarii dalam letak yang beraneka ragam, dan
pula dalam tingkat-tingkat perkembangan dari satu sel telur yang
dikelilingi oleh satu korpus luteum lapisan sel-sel saja sampai folikel de
Graaf yang matang.Folikel yang matang ini terisi dengan likuor follikuli
yang mengadung estrogen, dan siap untuk berovulasi.
Pada waktu dilahirkan bayi mempunyai sekurang-kurangnya
750.000 oogonium. Jumlah ini berkurang akibat pertumbuhan dan
degenerasi folikel- folikel. Pada umur 6-15 tahun ditemukan 439.000,
pada 16-25 tahun 159.000, antara umur 26-35 tahun menurun sampai
59.000, dan antara 34-45 hanya 34.000. Pada masa menopause semua
folikel sudah menghilang.
5. Vulva
Vulva ialah tempat bermuaranya sistem urogenital. Di sebelah luar
vulva dilingkari oleh labia majora (bibir besar) yang ke belakang menjadi
satu dan membentuk kommissura posterior dan perineum. Di bawah
kulitnya terdapat jaringan lemak serupa dengan yang ada di mons
veneris. Medial dari bibir besar ditemukan bibir kecil (labia minora) yang
ke arah perineum menjadi satu dan membentuk frenulum labiorum
pudendi. Di depan frenulum ini terletak fossa navikulare. Kanan dan kiri
dekat pada fossa navikulare ini dapat dilihat dua buah lubang kecil
tempat saluran kedua glandulae Bartholini bermuara. Ke depan labia
minora menjadi satu dan membentuk prepusium klitoridis dan frenulum
klitoridis. Di bawah prepusium klitoridis terletak klitoris. Kira-kira 1,5
cm di bawah klitoris terdapat orifisium urethrae eksternum (lubang
kemih). Di kanan kiri lubang kemih ini terdapat dua lubang kecil dari
saluran yang buntu.(Mulyaningasih, 2013)

C. KLASIFIKASI
Menurut Mitayani, 2013
Berdasarkan kejaadiannya dapat dibagi atas dua kelompok:
1. Aborsi spontan
Terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor meknis ataupun medisnalis,
semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.
Klasifikasi abortus spontan:
a. Abortus iminens
Pada abortus ini terlihat perdarahan per vaginam. Pada 50% kasus,
perdarahan tersebut hanya sedikit berhenti setelah berlangsung
beberapa hari, dan kehamilan berlangsung secara normal. Meskipun
demikian, wanita yang mengalaminya mungkin tetap merasa
khawatir akan akibat perdarahan pada bayi. Biasanya
kekhawatirannya akan dapat diatasi dengan menjelaskan kalau janin
mengalami gangguan, maka kehamilannya tidak akan berlanjut:
upaya perawatn untuk meminta dokter membantu menenteramkan
kekhawatiran pasien merupakan tindakan yang bijaksana. Terapi
yang dianjurkan pada abortus iminens adalah tirah baring dan
penggunaan sedatif selama paling sedikit 48 jamdengan observasi
cermat terhadap warna dan jenis drah/jaringan yang keluar dari
dalam vagina. Preparat enema dan laksatif idak boleh diberikan.
Pemeriksaan USG terhadap isi uterus dikerjakan pada stadium ini
dan kemudian bisa diulangi lagi 2 minggu kemudian. Pasangan
suami-istri dianjurkan untuk tidak senggama selama periode ini.
b. Abortus insipiens
Abortus ini ditandai oleh kehilangan darah sedang hingga
berat,kontraksi uterus yang menyebabkan nyeri kram pada abdomen
bagian bawah dan dilatasi serviks.
Jika abortus tidak terjadi dalam waktu 24 jam, uterus harus
dikosongkan dengan menggunakan forseps ovum, alat kuret dan
kanula pengisap; semua bahan yang dikirim untuk pemeriksaan
histologi. Antibiotik sering diberikan pada stadium ini.
c. Abortus kompletus
Abortus ini terjadi kalau semua produk oembuahan seperti janin,
selaput ketuban dan plasenta sudah keluar. Perdarahan dan rasa
nyeri kemudian akan berhenti, serviks menutup dan uterus
mengalami involusi.
d. Abortus inkompletus
Abortus ini berkaitan dengan retensi sebagian produk pembuahan
(hampir selalu plasenta) yang tidak begitu mudah terlepas pada
kehamilan dini seperti halnya pada kehamilan aterm. Dalam
keadaan ini, perdarahan tidak segera berkurang sementara serviks
tetap terbuka.
Terapi asuhan keperawatan dan observasi pada abortus ini
dilakukan sama seperti pada abortus insipiens. Namun demikian,
evakuasi uterus harus segers dilakukan setelah diagnosis ditegakkan
untuk mencegah perdarahan lebih lanjut. Perhatian khusus diberikan
pada higiene vulva. Pada sebagian kasus, supresi laktasi mungkin
diperlukan. Preparat gamaglobulin anti-D diberikan pada wanita
dengan Rh-negatif.
e. Missed abortion
Abortus ini terjadi kalau sesudah mengalami abortus iminens,
perdarahan per vaginam berhenti namun produk pembuahan
meninggal dan tetap berada dalam rahim. Tanda-tanda kehamilan
berkurang, yaitu: payudara menjadi lebih kecil dan lebih lunak,
pertumbuhan uterus terhenti, dan wanita tersebut tidak lagi ‘merasa’
hamil. Sesudah beberapa minggu, sekret kecoklatan dapat terlihat
keluar dari dalam vagina dan tanda-tanda eksternal kehamilan
menghilang. Hipofibrinogenemia dapat terjadi. Bekuan darah dari
perdarahan plasennta kadang-kadang memenuhi uterus untuk
membentuk mola karneosa. Evakuasi spontan akhirnya terjadi pada
sekitar usia kehamilan 18 minggu dan sebagian dokter beranggapan
bahwa tindakan yang lebih aman adalah menunggu evakuasi
spontan. Namun demikian, wanita meminta dokter untuk
mengeluarkannya secepat mungkin setelah menyadari bahwa
bayinya sudah meninggal. Keadaan ini memberikan situasi yang
sangat sulit.
f. Abortus akibat inkompetensi serviks
Biasanya terjadi di sekitar usia kehamilan 20 minggu. Serviks
berdilatasi tanpa rasa nyeri dan kantong janin menonjol. Pada
kehamilan berikutnya, abortus dapat dicegah dengan membuat
jahitan seperti tali pada mulut kantong (purse-string suture) yang
dilakukan dengan pembiusan di sekeliling serviks pada titik temu
antara rugae vagina dan serviks yang licin (jahitan Shirodkar).
Jahitan tersebut dibiarkan sampai kehamilan berusia 38 minggu dan
pada saat ini, jahitan dipotong sehingga persalinan spontan
diharapkan akan mulai terjadi. Angka keberhasilan jahitan
Shirodkar mencapai 80% pada kasus-kasus inkompetensi serviks
murni.
g. Abortus habitualis
Abortus ini digunakan kalau seorang wanita mengalami tiga kali
atau lebih abortus spontan yang terjadi berturut-turut. Penyebab
abortus habitualis lebih dari satu (multipel). Dan sering terdapat
lebih dari satu faktor yang terlibat.
h. Abortus septik
Infeksi dapat mempersulit setiap jenis abortus karena resistensi
normal saluran genitalia pada hakikatnya tidak terdapat saat ini.
Abortus kriminalis (abortus ilegal yang dilakukan secara gelap)
masih menjadi penyebab infeksi yang paling serius karena tidak
dilakukan secara aseptik. Faktor lain yang terlibat adalah
keberadaan produk pembuahan, yaitu jaringan plasenta yang mati di
dalam rahim. Infeksi dapat menyerang endometrium dan menyebar
ke bagian lain secara langsung atau tidak langsung untuk
menyebabkan peritonitis, salpingitis, dan septikemia.
2. Abortus provokatus (induced abortion) terjadi karena sengaja dilakukam
dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat.
Abortus ini terbagi menjadi dua kelompok:
a. Abortus Medisinalis (Abortus therapeutica)
Merupakan abortus yang diinduksi secara buatan, baik untuk alasan
terapeutik (bila kehamilan dilanjutkan dapat membahayakan jiwa ibu)
maupun alasan lain.
b. Abortus Kriminalis
Abortusyang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal
atau tidak berdasarkan indikasi medis.(Susilowati, 2019)

D. MANIFESTASI KLINIS
Seorang wanita diduga mengalami abortus apabila dalam masa
reproduksi mengeluh tentang perdarahan pervaginam setelah mengalami haid
yang terlambat, juga sering terdapat rasa mulas dan keluhan nyeri pada perut
bagian bawah (Mitayani,2013:23).
Setelah dilakukan pemeriksaan ginekologi di dapatkan tanda-tanda
sebagai berikut
1. Inspeksi vulva: perdarahan pervaginam, ada/tidak jaringan hasil
konsepsi, tercium/tidak bau busuk dari vulva.
2. Inspekulo : perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau
sudah teertutup, ada/tidak jaringan yang keluar dari ostium, ada/tidak
jaringan yang berbau busuk dari ostium.
3. Colok vagina : posio masih terbuka/sudah tertutup, teraba/tidak
jaringan pada uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia
kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyangkan, tidak nyeri pada
perabaan adneksia, kavum douglasi tidak menonjol dan tidak nyeri.

E. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


Faktor penyebab terjadinya abortus adalah (Zuliyanti, 2019):
1. Faktor Fetal Abortus pada usia kehamilan awal pada umumnya
disebabkan oleh abnormalitas zigot, atau plasenta. Abnormalitas
kromosom ditemukan sekitar 60-75% kasus abortus spontan. Dan angka
abortus yang disebabkan kelainan kromosom akan semakin berkurang
seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Abnormalitas kromosom
diturunkan dari gen kedua orang tuanya.

2. Faktor Maternal
a. Kelainan anatomi uterus Adanya kelainan anatomi uterus seperti
Leiomyoma yang besar dan multipel atau adanya sinekia uterus
(Ashermann Syndrome) dapat meningkatkan risiko
abortus.Malformasi kongenital yang disebabkan oleh abnormalitas
fusi Ductus Müllerii dan lesi yang didapat memiliki pengaruh yang
sifatnya masih kontroversial. Pembedahan pada beberapa kasus
dapat menunjukkan hasil yang positif. Inkompetensia servik
bertanggung jawab untuk abortus yang terjadi pada trimester II.
Tindakan cervical cerclage pada beberapa kasus memperlihatkan
hasil yang positif.
b. Infeksi
Beberapa jenis infeksi dan hubungannya dengan abortus telah
diteliti secara luas, misal: Lysteria monocytogenes, Mycoplasma
hominis, Ureaplasma urealyticum, Toxoplasma gondii, dan Virus
(Herpes simplex, Cytomegalovirus, Rubella) memiliki hubungan
yang bervariasi dengan semua jenis abortus spontan. Data
penelitian yang menghubungkan infeksi dengan abortus
menunjukkan hasil yang beragam,sehingga American College of
Obstetricians and Gynecologyst menyatakan bahwa infeksi bukan
penyebab utama abortus trimester awal.
c. Penyakit Metabolik
Abortus sering dihubungkan dengan adanya penyakit metabolik
pada ibu seperti tuberkulosis, Diabetes Mellitus, Hipotiroidisme,
dan anemia.Anemia dapat mengurangi suplai oksigen pada
metabolisme ibu dan janin karena dengan kurangnya kadar
hemoglobin maka berkurang pula kadar oksigen dalam darah. Hal
ini dapat memberikan efek tidak langsung pada ibu dan janin antara
lain kematian janin, meningkatnya kerentanan ibu pada infeksi dan
meningkatkan risiko terjadinya prematuritas pada bayi).
d. Faktor Imunologi
Sindroma Antibodi Fosfolipid adalah gangguan imunologi
autoimunitas yang ditandai dengan adanya antibodi dalam sirkulasi
yang melawan fosfolipid membran dan setidaknya memperlihatkan
satu sindroma klinik spesifik (abortus berulang, trombosis yang
penyebabnya tak jelas dan kematian janin).Penegakkan diagnosa
setidaknya memerlukan satu pemeriksaan serologis untuk
konfirmasi diagnosis (antikoagulansia lupus, antibodi
kardiolipin).Pengobatan pilihan adalah aspirin dan heparin (atau
prednison dalam beberapa kasus tertentu).
e. Trauma Fisik
Trauma yang tidak menyebabkan terhentinya kehamilan sering kali
dilupakan.Yang diingat hanya kejadian tertentu yang dapat
menyebabkan Abortus. Namun, sebagian besar abortus spontan
terjadi beberapa waktu setelah kematian mudigah atau janin
(Smith, 2015).
3. Faktor Paternal
Faktor paternal Tidak banyak yang diketahui tentang faktor paternal (ayah)
dalam terjadinya abortus spontan.yang jelas, translokasi kromosom pada
sperma dapat menyebabkan abortus.

F. MASALAH-MASALAH YANG TERJADI


1. Perdarahan (Hemorrage)
2. Perforasi sering terjadi di waktu dilatasi dan kuretase yang dilakukan
oleh tenaga yang tidak ahli seperti dukun anak, dll
3. Infeksi dan tetanus
4. Payah ginjal akut
5. Syok karena perdarahan banyak dan infeksi berat (sepsis)
(Susilowati, 2019)

G. PATOFISIOLOGI
Pada awal abortus terjadi dalam desidua basalis, diikuti nekrosis jaringan
yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam
uterus. Sehingga menyebabkan uterus berkonsentrasi untuk mengeluarkan
benda asing tersebut. Apabila pada kehamilan kurang dari 8 minggu, nilai
khorialis belum menembus desidua serta mendalam sehingga hasil konsempsi
dapat dikeluarkan seluruhnya. Apabila kehamilan 8 sampai 4 minggu villi
khorialis sudah menembus terlalu dalam sehingga plasenta tidak dapat
dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak pendarahdan daripada
plasenta. Perdarahan tidak banyak jika plasenta tidak lengkap. Peristiwa ini
menyerupai persalinan dalam bentuk miniature.
Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk,
adakalanya kantung amnion kosong atau tampak didalamnya benda kecil
tanpa bentuk yang jelas (missed aborted). Apabila mudigah yang mati tidak
dikelurakan dalam waktu singkat, maka ia dapat diliputi oleh lapisan bekuan
darah. Ini uterus dinamakan mola krenta. Bentuk ini menjadi mola karnosa
apabila pigmen darah telah diserap dalam sisinya terjadi organisasi, sehingga
semuanya tampak seperti daging. Bentuk lain adalah mola tuberose dalam hal
ini amnion tampak berbenjol-benjol karena terjadi hematoma antara amnion
dan khorion.
Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi
proses modifikasi janin mengering dan karena cairan amnion menjadi kurang
oleh sebab diserap. Ia menjadi agak gepeng (fetus kompresus). Dalam tingkat
lebih lanjut ia menjadi tipis seperti kertas pigmenperkamen.
Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak lekas dikeluarkan ialah
terjadinya maserasi, kulterklapas, tengkorak menjadi lembek, perut membesar
karena terasa cairan dan seluruh janin berwarna kemerah-merahan.(Susilowati,
2019)

H. WOC
I. PENATALAKSANAAN
1. Istirahat baring
Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan karena cara
ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya
rangsang mekanis.
2. Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C.
3. Periksa denyut nadi dan suhu badan dua kali sehari bila klien tidak panas
dan empat jam bila pasien panas.
4. Bersihkan vulva minimal dua kali sehari dengan cairan antiseptikuntuk
mencegah infeksi terutama saat masih mengeluarkan cairan coklat.
(Mulyaningasih, 2013)

J. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Tes kehamilan dengan hasil positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3
minggu stelah kehamilan.
2. Pemeriksaan doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih
hidup
3. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion (Susilowati,
2019)
BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Identitas
1) Identitas pasien berupa nama, alamat, umur, status, agama,
pendidikan, pekerjaan, tanggal lahir, nomor RM, diagnosa
medis, jenis kelamin.
2) Identitas pengguang jawab berupa nama, alamat, tanggallahir,
status, agama, pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan pasien,
jenis kelamin.
b. Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama
Keluhan utama yang dirasakan pasien.
2) Riwayat penyakit sekarang
Pengkajian kondisi kesehatan pasien saat ini.
3) Riwayat kesehatan dahulu
Pengkajian riwayat penyakit di masa lalu yang berhubungan
kodisi kesehatan saat ini.
4) Riwayat kesehatan keluarga
Pengkajian riwayat penyakit keluarga, misalnya tentang ada
atau tidaknya riwayat alergi, stroke, penyakit jantung, diabetes
melitus.
c. Pengkajian fungsional Gordon
Perubahan pola kebutuhan dasar manusia sebelum sakit dan
sesudah sakit
1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
2) Pola nutrisi
3) Pola eliminasi
4) Pola istirahat dan tidur
5) Pola personal hygiene
6) Pola aktivitas
7) Pola kognitif dan persepsi
8) Pola konsep diri
9) Pola hubungan dan peran
10) Pola seksual dan reproduksi
11) Pola penanganan masalah stress
12) Pola keyakinan dan nilai-nilai
d. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum dan kesadaran umum
2) Tanda tanda vital berupa tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu
3) Pemeriksaan head to toe
e. Pemeriksaan penunjang
1) Tes kehamilan dengan hasil positif bila janin masih hidup,
bahkan 2-3 minggu stelah kehamilan.
2) Pemeriksaan doppler atau USG untuk menentukan apakah
janin masih hidup
3) Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion

2. Diagnosa Keperawatan
(SDKI DPP PPNI. 2017 Edisi 1)
a. Nyeri akut b.d agen pendera fisiologis d.d frekuensi nadi
meningkat
b. Ansietas b.d kebutuhan tidak terpenuhi d.d tampak gelisah
c. Risiko syok d.d kekurangan volume cairan
d. Risiko ketidakseimabangan cairan d.d perdarahan
e. Resiko infeksi b.d tidak adekuatnya pertahanan sekunder
3. Analisa Data

No Data Etiolgi Masalah Keperawatan


1. DS : Perdarahan dalam desidia Nyeri akut b.d agen
basalis
→ Pasien menagatakan pendera fisiologis d.d

sakit dibagian perut Nekrosis jaringan sekitar frekuensi nadi

DO : meningkat
Hasil konsepsi
→ TD : 100/70 mmHg lepas(abbortus)

→ Suhu : 36,50C
Vili koliaris merembas
→ Nadi : 90 x/menit lebih dalam(8-9mg)

→ RR : 20 x/menit
Lepas sebagian
→ Skala nyeri : 5 ↓
Plasenta tertinggal dalam
rahim

Tindakan kuret

Uterus berkontraksi

Nyeri abdomen

Frekuensi nadi
meningkat

Nyeri Akut
2. DS : Perdarahan dalam desidia Ansietas b.d
basalis
→ Pasien mengeluh kebutuhan tidak

pusing Nekrosis jaringan sekitar terpenuhi d.d tampak

DO : gelisah
Hasil konsepsi
→ TD : 100/70 mmHg lepas(abbortus)

→ Suhu : 36,50C
Vili koliaris merembas
→ Nadi : 90 x/menit lebih dalam(8-9mg)

→ RR : 20 x/menit
Lepas sebagian
→ Pasien tampak pucat ↓
Plasenta tertinggal dalam
→ Pasien tampak
rahim
gelisah ↓
Tindakan kuret

Uterus berkontraksi

Nyeri abdomen

Frekuensi nadi
meningkat

Gelisah

Ansietas
3. DS : Perdarahan dalam desidia Risiko syok d.d
basalis
→ Pasien mengatakan kekurangan volume

merasa pusing Nekrosis jaringan sekitar cairan

DO :
Hasil konsepsi
→ Pasien tampak lesu lepas(abbortus)

→ TD : 100/70 mmHg
Vili koliaris merembas
→ Suhu : 36,50C lebih dalam(8-9mg)

→ Nadi : 90 x/menit
Lepas sebagian
→ RR : 20 x/menit ↓
Perdarahan pervagina
→ Pasien tampak pucat

Lemas

↓ intake cairan

Risiko Syok
4. DS : Perdarahan dalam desidia Risiko
basalis
→ Pasien mengatakan ketidakseimabangan

merasa pusing Nekrosis jaringan sekitar cairan d.d perdarahan

DO :
Hasil konsepsi
→ Pasien tampak lesu lepas(abbortus)

→ TD : 100/70 mmHg
Vili koliaris merembas
→ Suhu : 36,50C lebih dalam(8-9mg)

→ Nadi : 90 x/menit
Lepas sebagian
→ RR : 20 x/menit ↓
Perdarahan pervagina
→ Pasien tampak pucat

Lemas

↓ intake cairan

Risiko
Ketidakseimbangan
Cairan
5. DS : Perdarahan dalam desidia Resiko infeksi b.d
basalis
→ Pasien mengatakan tidak adekuatnya

dirinya lemas Nekrosis jaringan sekitar pertahanan sekunder

DO :
Hasil konsepsi
→ Pasien tampak lesu lepas(abbortus)

→ TD : 90/80 mmHg
Vili koliaris merembas
→ Suhu : 36,50C lebih dalam(8-9mg)

→ Nadi : 90 x/menit
Lepas sebagian
→ RR : 20 x/menit ↓
Plasenta tertinggal dalam
→ HB 9,5 g/dl (>11
rahim
g/dl) ↓
Tindakan kuret

Hb ↓

Risiko Infeksi
4. Intervensi

Diagnosis
No Tujuan SLKI SIKI Rasional
Keperawatan

1. Nyeri akut b.d Setelah Kriteria Hasil : Manajemen Nyeri → Berguna dalam
agen pendera dilakukan Tingkat Nyeri Tindakan/Observasi pengawasan
intervensi 1. Keluhan nyari (4 → Identifikasi lokasi, karakteristik durasi, frekuensi, keefektifan obat,
fisiologis d.d
selama 4 x 24 cukup menurun) kualitas, intensitas nyeri perubahan pada
frekuensi nadi jam maka 2. Gelisah (3 sedang) → Identifikasi skala nyeri karakteristik
meningkat nyeri akan 3. Pola napas (4 cukup → Identifikasi respons nyeri non verbal nyeri
menurun membaik ) → Identifikasi faktor yang memperberat dan → Dapat
4. Tekanan darah (3 memperingan nyeri menurunkan
sedang) → Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang stimulus internal
nyeri
→ Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
→ Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
→ Monitor keberhasilan terapi komplementer yang
sudah diberikan
→ Monitor efek samping penggunaan analgetik
Terapeutik
→ Berikan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi
rasa nyeri (akupresur, terapi musik, biofeedback,
terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi terbimbing,
kompres hangat dingin, terapi bermain
→ Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri
(mis. suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)
→ Fasilitasi istirahat dan tidur
→ timbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan
strategi meredakan nyeri
Edukasi
→ Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
→ Jelaskan strategi meredakan nyeri
→ Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
→ Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
→ Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi
rasa nyeri
Kolaborasi
→ Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

PEMBERIAN ANALGESIK
Tindakan/Observasi
→ Identifikasi karakteristik nyeri (mis. Pencetus,
pereda, kualitas, lokasi, intensitas, frekuensi, durasi)
→ Identifikasi riwayat alergi obat
→ Identifikasi kesesuaian jenis analgesik (mis.
Narkotika, non-narkotika, atau NSAID) dengan
tingkat keparahan nyeri
→ Monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
→ Monitor efektifitas analgesik
Terapeutik
→ Diskusikan jenis analgesik yang disukai untuk
mencapai analgesia optimal, jika perlu
→ Pertimbangkan penggunaan infus kontinu, atau bolus
opioid untuk mempertahankan kadar dalam serum
→ Tetapkan target efektifitas analgesic untuk
mengoptimalkan respon pasien
→ Dokumentasikan respon terhadap efek analgesic dan
efek yang tidak diinginkan
Edukasi
→ Jelaskan efek terapi dan efek samping obat
Kolaborasi
→ Kolaborasi pemberian dosis dan jenis analgesik,
sesuai indikasi
2. Ansietas b.d Setelah Kriteria hasil : Reduksi Ansietas → Untuk
kebutuhan dilakukan Tindakan/Observasi menurunkan
tindakan 1. Perilaku gelisah (1 → Identifikasi saat tingkat ansietas berubah kecemasan pasien
tidak terpenuhi
keperawatan menurun) → Identifikasi kemampuan mengambil keputusan → Untuk
d.d tampak 4x 24 jam 2. Perilaku tegang(1 → Monitor tanda-tanda ansietas mnegetahui
kecemasan menurun) Teraupetik tanda-tanda
gelisah
klien akan 3. Keluhan pusing (1 → Ciptakan suasana teraupetik untuk menumbuhkan ansietas
menurun) kepercayaan
menurun → Untuk memahami
4. Konsentrasi (3 → Temani pasien untuk kurangi kecemasan
sedang) → Pahami situasi yang membuat ansietas kondisi pasien
5. Pola tidur (3 sedang) → Dengarkan dengan penuh peehatian
→ Gunakan pendekatan yangtenang dan meyakinkan
→ Tempatkan barang pribadi yang memberikan
kenyamanan
→ Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu
kecemasan
→ Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa
yang akan datang
Edukasi
→ Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin
dialami
→ Informasikan secara faktual mengenai diagnosa,
pengobatan dan prognosis
→ Anjurkan keluarga tetap bersama pasien
→ Anjurkan melakukan kegiatan yang tidak kompetitif
→ Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
→ Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi
ketegangan
→ Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang
tepat
→ Latih teknik relaksasi
Kolaborasi
→ Kolaborasi pemberian obat antiansietas
Terapi Relaksasi
Tindakan/Observasi
→ Identifikasi penurunan tingkiat energi,
ketidakmampuan berkonsentrasi, atau gejala lain
yang mengganggu kemampuan kognitif
→ Identifikasi teknik relaksasi yang pernah efektif
digunakan
→ Identifikasi kesediaan, kemapuan dan teknik
sebelumnya
→ Periksan ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan
darah, dan suhu sebelum dan sesudah latihan
→ Monitor respon terhadap terapi relaksasi
Teraupetik
→ Ciptakan lingkungan tenang dan tanpa gangguan
dengan pencahayaan dan suhu ruang nyaman
→ Berikan informasi tertulis tentang persiapan dan
prosedur teknik relaksasi
→ Gunakan pakaian longgar
→ Gunakan nada suara lembut dengan irama lambat
dan berirama
→ Gunakan relaksasi sebagai strategi penunjang dengan
analgesik atau tindakan lain
Edukasi
→ Jelaskan tujuan, manfaat, batasan, dan jenis relaksasi
yang tersedia
→ Jelaskan secara rinci intervensi relaksasi yang pilih
→ Anjurkan mengambil posisi nyaman
→ Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi
→ Anjurkan sering mengulang atau melatih teknik yang
dipilih
→ Demonstrasi dan latih teknik relaksasi

3. Risiko syok Setelah Kriteria hasil : PEMANTAUAN CAIRAN → Untuk mngetahui


d.d kekurangan dilakukan 1. Kekuatan nadi (4
Tindakan/Observasi keadaan pasien
intervensi → Monitor frekuensi dan kekuatan nadi saat ini
volume cairan cukup meningkat)
selama 4 x 24 → Monitor frekuensi napas → Untuk
jam maka 2. Saturasi oksigen (4 → Monitor tekanan darah mengatahui
tingkat syok cukup meningkat) → Monitor berat badan adakah tanda
akan 3. Pucat (5 menurun) → Monitor waktu pengisian kapiler hipovolemia
meningkat 4. Tekanan nadi (5 → Monitor elastisitas atau turgor kulit → Mempermudah
membaik) → Monitor kadar albumin dan protein total pemantauan
5. Frekuensi napas (5 → Monitor hasil pemeriksaan serum kondisi pasien
membaik) → Monitor intake dan output cairan
→ Identifikasi tanda-tanda hipovolemia
→ Identifikasi tanda-tanda hipervolemia
→ Identifikasi faktor ketidakseimbangan cairan
Teraupetik
→ Atur waktu pemantauan sesuai dengan kondisi
pasien
→ Dokumentasikan hasil pemantauan
Edukasi
→ Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
→ Informasikan hasil pemantauan apabila diperlukan

Pencegahan Syok
Tindakan/ Observasi
→ Monitor status kardiopulmonal
→ Monitor status oksigenasi
→ Monitor status cairan
→ Monitor tingkat kesadaran dan respon pupil
→ Periksa riwayat alergi
Teraupetik
→ Berikan oksigenasi untuk mempertahankan saturasi
oksigen >94%
→ Persiapan intubasi dan ventilasi mekanis
→ Pasang jalur IV
→ Pasang kateter urine untuk menilai produksi urine
Edukasi
→ Jelaskan penyebab/faktor risiko syok
→ Jelaskan tanda dan gelaja awal syok
→ Anjurkan melapor jika menemukan tanda dan gejala
awal syok
→ Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral
→ Anjurkan menghindari alergen
Kolaborasi
→ Kolaborasi pemberian IV
→ Kolaborasi pemberian transfusi darah
→ Kolaborasi pemberian antiinflamasi
6. Risiko ketidak- Setelah Kriteria Hasil : Manajemen Cairan → Untuk
Tindakan/Observasi
seimabangan dilakukan mengetahui status
intervensi 1. Asupan cairan (5 → Monitor status hidrasi hidrasi
cairan d.d meningkat) → Monitor status hemodinamik
selama 4 x 24 → Untuk
2. Kelembapan → Monitor berat badan
perdarahan jam maka mengetahui
membran mukosa (5 Terapeutik
keseimbanga → Catat inteke-output dan hitungan balans cairan 24 kebutuhan cairan
n cairan akan meningkat) → Untuk
jam
meningkat 3. Dehidrasi (5 → Berikan asupan cairan sesuaik kebutuhan mengetahui
menurun) → Berikan cairan intravena hilangnya cairan
4. Tekanan darah (4 Kolaborasi karena aktivitas
cukup membaik) → Kolaborasi pemberian diuretik jika perlu
atau muntal, diare
5. Turgor kulit (5 → Untuk menjaga
membaik) Pemantauan cairan
agar turgor kulit
Observasi
tetap elastis
→ Memonitor kehilangan cairan
→ Mengidentifikasi factor resiko ketidakseimbangan
cairan (penyakit kelenjar)
Terapeutik
→ Mengatur interval waktu pemantauan sesuai dengan
kondisi pasien
→ Mendokumentasikan hasil pemantauan
Edukasi
→ Menejaskan prosedur dan tujuan pematauan
→ Me informasikan hasil pemantauan
6. Resiko infeksi Setelah Kriteria Hasil : PENCEGAHAN INFEKSI → Untuk
b.d tidak dilakukan Observasi mengetahui
intervensi 1. Demam (5 menurun) → Identifikasi riwayat kesehatan dan riwayat alergi adanya riwayat
adekuatnya 2. Kemerahan (4 cukup
selama 4 x 24 → Identifikasi kontraindikasi pemberian imunisasi alergi
pertahanan jam maka menurun ) → Identifikasi status imunisasi setiap kunjungan ke → Untuk
tingkat 3. Nyeri (5 menurun) pelayanan kesehatan pencegahan
sekunder
infeksi akan 4. Bengkak (5 menurun) Terapeutik infeksi
menurun 5. Kultur darah (4 cukup → Berikan suntikan pada pada bayi dibagian paha
membaik) anterolateral
→ Dokumentasikan informasi vaksinasi
→ Jadwalkan imunisasi pada interval waktu yang tepat
Edukasi
→ Jelaskan tujuan, manfaat, resiko yang terjadi, jadwal
dan efek samping
→ Informasikan imunisasi yang diwajibkan pemerintah
→ Informasikan imunisasi yang melindungiterhadap
penyakit namun saat ini tidak diwajibkan pemerintah
→ Informasikan vaksinasi untuk kejadian khusus
→ Informasikan penundaan pemberian imunisasi tidak
berarti mengulang jadwal imunisasi kembali
→ Informasikan penyedia layanan pekan imunisasi
nasional yang menyediakan vaksin gratis
DAFTAR PUSTAKA

Bahrudin, M. (2018). Patofisiologi Nyeri (Pain). Saintika Medika, 13(1), 7.


https://doi.org/10.22219/sm.v13i1.5449

Darmawati. (2011). Mengenali abortus dan faktor yang berhubungan dengan


kejadian abortus. Idea Nursing Journal, II(1).

Mulyaningasih, D. (2013). Asuhan Keperawatan Pada Abortus.

Oliver, J. (2018). Tanda dan Gejala Nyeri. Journal of Chemical Information and
Modeling, 53(9), 1689–1699.

Purwaningrum, E. D., & Fibriana, A. I. (2017). HIGEIA JOURNAL OF PUBLIC


HEALTH. 1(3), 84–94.

Susilowati, R. U. (2019). LAPORAN PENDAHULUAN ABORTUS.

Zuliyanti, R. (2019). TINJAUAN PUSTAKA. 5–18.


MATERNITAS KASUS IV

Ny. D (usia 25 tahun) datang ke IGD RSUD di antar suami pada tanggal 28 Juni 2020
dengan keluhan perdarahan awak kehamilan.Dari pemeriksaan yang di lakukan oleh
perawat di dapatkan :
Pasien mengeluh badan lemas, kepala pusing, muka pucat, konjungtiva anemis,
perdarahan pervagina berwarna merah terang dengan konsistensi cair, pembalut yang di
pakai pasien penuh, nyeri pada abdomen bawah,nyeri seperti di iris – iris, nyeri yang di
rasakan saat bergerak, saat di tanya dari angka 1-10 pasien mengatakan nyerinya di angka
5, berlangsung selama 4 jam.
HPHT 03 April 2020
TD : 90/80 mmHg
N : 68x/menit
RR : 20x.menit
suhu : 36,50C
HB 9,5 g/dl
HT 30%
Format Asuhan Keperawatan Maternitas

PRODI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
INSTITUT ILMU KESEHATAN
BHAKTI WIYATA KEDIRI

FORMAT PENGKAJIAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KEHAMILAN

NAMA MAHASIWA : LAILATUL KHOIRUNNISAK


NIM : 10218044

Tanggal masuk : 28 Juli 2020 Jam masuk : 14.00 WIB


Ruang/kelas : Mawar/1 No. RM : 2618
Pengkajian tanggal : 28 Juli 2020 Jam : 14.30 WIB
HPMT : 03 April 2020
Diagnosa Medis:
a. Identitas Pasien
1. Pasien
2. Nama : Ny. D
Umur : 25 Tahun
Alamat : Jl Melati No 26
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Suku Bangsa : Jawa
3. Suami
Nama : Tn. A
Umur : 30 Tahun
Alamat : Jl Melati No 26
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Suku Bangsa : Jawa

b. Riwayat haid
1. Apakah Haid Teratur
Iya
2. Siklus berapa
28 Hari
3. Apakah ada masalah dengan haid
Tidak Ada
4. HPHT / HPMT
03 April 2020
c. Riwayat perkawinan
1. Menikah / Belum
Menikah
2. Menikah berapa lama
3 Tahun

LEOPOLD
Tujuan : Menentukan bagian terbawah janin
Bagian bawah sudah masuk PAP / belum
a. Riwayat Kehamilan lalu
Hamil Ke Masalah dalam Kehamilan
Tidak Ada Tidak Ada
b. Riwayat persalinan lalu
Partus Proses Lama Tempat Penolong Masalah
Ke persalinannya persalinan persalinan persalinan persalian
Tidak Tidak Ada Tidak Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada
Ada Ada
c. Riwayat nifas lalu
Masalah nifas yang Masalah bayi yang pernah Keadaan anak
dialami dialami
Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada

d. Riwayat Keluarga Berencana


1. Jenis kontrasepsi yang pernah digunakan
Tidak Ada
2. Masalah dengan cara tersebut
Tidak Ada
3. Jenis kontrasepsi yang direncanakan setelah persalian
Tidak Ada
4. Jumlah anak yang direncanakan
2 Anak

e. Riwayat Psikososial
1. Alasan ibu datang ke klinik
Pasien mengeluh badan lemas, kepala pusing, muka pucat, konjungtiva anemis,
perdarahan pervagina berwarna merah terang dengan konsistensi cair, pembalut
yang di pakai pasien penuh, nyeri pada abdomen bawah,nyeri seperti di iris – iris,
nyeri yang di rasakan saat bergerak
2. Perubahan yang timbul saat kehamilan
Tidak Ada
3. Harapan tentang kehamilannya
Semoga anak yang ada dalam kandungan sehat
4. Orang yang tinggal bersama
Suami
5. Orang yang terpenting
Suami
6. Dampak yang terjadi pada keluarga dengan kunjungan ke klinik
Tidak Ada
7. Apa suami mau menemani ke klinik
Iya
8. Rencana tempat melahirkan
Tidak Ada
9. Rencana menyusui
Tidak Ada
10. Apakah memelihara kucing
Tidak Ada

f. Kebutuhan Dasar Khusus


1. Ketidaknyamanan
Ibu mengatakan sebelum hamil merasa nyaman, ada perubahan kenyamanan saat
di pagi hari karena sering mual
2. Istirahat tidur
Ibu mengatakan sebelum hamil tidur kurang lebih 7 jam, tidak ada perubahan
pola istirahat saat hamil, tidur sekitar 7 jam.
3. Hygiene prenatal
Ibu tidak mengalami perubahan pola mandi yaitu 2 kali sehari pagi dan sore. Ibu
menggosok giginya setiap selesai makan dan saat akan tidur. Ibu membersihkan
bagian kemaluannya setelah BAK dan BAB dengan cara membersihkan dari arah
depan terlebih dahulu, kemudian bagian belakang. Ibu mengganti bajunya setiap
habis mandi dan menjelang tidur, dan mengganti pakaian dalamnya setelah mandi
atau jika basah.
4. Pergerakan
Ibu mengatakan tidak ada kendala saat bergerak
5. Penglihatan
Ibu mengatakan tidak ada kendala dalam penglihatan
6. Pendengaran
Ibu mengatakan tidak ada kendala saat mendengar
7. Cairan
Ibu mengatakan sebelum hamil minum 5-6 gelas perhari. Sejak hamil yang
sekarang ibu minum 7-8 gelas air putih perhari, dan minum 1 gelas susu setiap
pagi.
8. Nutrisi
Ibu mengatakan sebelum hamil makan 2 kali sehari dengan porsi sedang. Selama
hamil ibu makan 2 kali sehari dengan menu nasi dan lauk pauk. Ibu tidak suka
makan sayur, tidak mempunyai alergi terhadap makanan.
9. Eliminasi
1) Buang air kecil (BAK)
Sebelum hamil buang air kecil 4-5 kali sehari. Selama hamil frekuensi BAK
menjadi bertambah 6-7 kali perhari, terlebih pada malam hari. Tidak ada
keluhan.
2) Buang air besar (BAB)
Ibu mengatakan tidak ada perubahan dalam buang air besar (BAB) 1 kali
sehari, konsistensi lunak dan tidak ada keluhan.
10. Oksigenasi
Ibu mengatakan tidak ada kendala saat bernafas
11. Seksual
Sejak ibu mengetahui hamil sampai usia kehamilan sekarang ibu belum
melakukan hubungan seksual karena ibu merasa khawatir dengan kehamilannya.

g. Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : lemas
Kelainan bentuk badan : Tidak ada
Kesadaran : Compos mentis
Keadaan Vital sign : 100/80 mmHg
Nadi : 68 x/menit
Respirasi : 20 x/menit
Suhu : 36,50C
2. Pemeriksaan kebidanan
Muka
Sklera putih, konjungtiva pucat
Leher
Rahang tidak pucat, tidak ada caries gigi
Dada
Tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid dan limfe, tidak ada peningkatan
tekanan vena jugularis
Perut
1) Inspeksi : Striae livide : tidak ada, Linea nigra: Tidak ada
2) Palpasi : Tidak ada, adanya nyeri tekan
3) Auskultasi : Tidak Ada
Ekstermitas
1) Atas
Kedua tangan tidak oedema, kuku tampak pucat, terpasang infus RL 20
tetes/menit pada tangan kanan.
2) Bawah
Kedua kaki tidak oedema, tidak ada varices, kuku merah muda,refleks patella
positif
Genetalia
Genitalia eksterna : Terdapat pengeluaran darah pervaginam, berwarna merah
segar, tidak ada gumpalan, tidak ada jaringan yang keluar.
Ispekulo : Terlihat pengeluaran darah dari kavum uteri, tidak berbau, ostium uteri
tertutup.
Pemeriksaan dalam : Tidak ada pembukaan
h. Pemeriksaan Penunjang
Urine :+ Proteine urine : Tidak Ada
Glukosa : Tidak Ada
Darah :HB : 9,5 g/dl (> 11g/dl)
HT : 30% (37-43%)
Gol darah : A+
Fases : Baik
USG : Tidak Ada
Papsmear : Tidak Ada
i. Terapi : RL 20 tetes/menit
j. Analisa Data
NO Data Fokus Problem Etiologi
1. DS : Nyeri Perdarahan dalam desidia
→ Pasien mengatakan nyeri pada Akut basalis

perut bawah, nyeri seperti di iris
Nekrosis jaringan sekitar
– iris dan nyeri di rasakan saat ↓
bergerak berlangsung selama 4 Hasil konsepsi
jam lepas(abbortus)

DO :
Vili koliaris merembas
→ TD : 90/80 mmHg lebih dalam(8-9mg)
→ Suhu : 36,50C ↓
→ Nadi : 68 x/menit Lepas sebagian
→ RR : 20 x/menit ↓
→ P : Nyeri timbul saat Plasenta tertinggal dalam
digerakkan rahim
→ Q : Nyeri seperti di iris-iris ↓
→ R : Nyeri dibagian perut Tindakan kuret
bawah ↓
→ S : Skala nyeri 5 Uterus berkontraksi
→ T : 4 Jam ↓
Nyeri abdomen

Frekuensi nadi meningkat

Nyeri Akut
2. DS : Ansietas Perdarahan dalam desidia
→ Pasien mengeluh pusing basalis
→ Pasien mengaatakan bingung ↓
dengan apa yang terjadi Nekrosis jaringan sekitar
DO : ↓
→ TD : 90/80 mmHg Hasil konsepsi
→ Suhu : 36,50C lepas(abbortus)
→ Nadi : 68 x/menit ↓
→ RR : 20 x/menit Vili koliaris merembas
→ Pasien tampak pucat lebih dalam(8-9mg)
→ Pasien tampak gelisah ↓
→ Konungtiva anemis Lepas sebagian

Plasenta tertinggal dalam
rahim

Tindakan kuret

Uterus berkontraksi

Nyeri abdomen

Frekuensi nadi meningkat

Gelisah

Ansietas

FORMAT DIAGNOSA KEPERAWATAN

NO Daftar diagnosa Diagnosa teratasi Tanggal Teratasi


Keperawatan
1. Nyeri akut b.d agen
pendera fisiologis d.d

frekuensi nadi
meningkat
2. Ansietas b.d kebutuhan
tidak terpenuhi d.d 
tampak gelisah
FORMAT PERENCANAAN

Tanda Tangan
Diagnosa Rencana Tujuan
NO Rencana Tindakan dan Nama
Keperawatan dan Kriteria Hasil
Terang
1. Nyeri akut b.d Setelah dilakukan Manajemen Nyeri
agen pendera intervensi selama Tindakan/Observasi
fisiologis d.d 4 x 24 jam maka → Identifikasi lokasi, karakteristik
frekuensi nadi nyeri akan durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
meningkat menurun dengan nyeri
Laila
kriteria hasil : → Identifikasi skala nyeri
Khoirunnisak
→ Identifikasi respons nyeri non verbal
1. Keluhan → Identifikasi faktor yang
nyari (4 memperberat dan memperingan
cukup nyeri
menurun) → Identifikasi pengetahuan dan
2. Gelisah (3 keyakinan tentang nyeri
sedang) → Identifikasi pengaruh budaya
3. Pola napas (4 terhadap respon nyeri
cukup → Identifikasi pengaruh nyeri pada
membaik ) kualitas hidup
4. Tekanan → Monitor keberhasilan terapi
darah (3 komplementer yang sudah diberikan
sedang) → Monitor efek samping penggunaan
analgetik
Terapeutik
→ Berikan teknik nonfarmakologi
untuk mengurangi rasa nyeri
(akupresur, terapi musik,
biofeedback, terapi pijat,
aromaterapi, teknik imajinasi
terbimbing, kompres hangat dingin,
terapi bermain
→ Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis. suhu
ruangan, pencahayaan, kebisingan)
→ Fasilitasi istirahat dan tidur
→ timbangkan jenis dan sumber nyeri
dalam pemilihan strategi meredakan
nyeri
Edukasi
→ Jelaskan penyebab, periode, dan
pemicu nyeri
→ Jelaskan strategi meredakan nyeri
→ Anjurkan memonitor nyeri secara
mandiri
→ Anjurkan menggunakan analgetik
secara tepat
→ Ajarkan teknik nonfarmakologis
untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
→ Kolaborasi pemberian analgetik, jika
perlu
2. Ansietas b.d Setelah dilakukan Reduksi Ansietas
kebutuhan tindakan Tindakan/Observasi
tidak keperawatan 4x → Identifikasi saat tingkat ansietas
terpenuhi d.d 24 jam berubah
tampak kecemasan klien → Identifikasi kemampuan mengambil
keputusan Lailatul
gelisah akan menurun
dengan kriteria → Monitor tanda-tanda ansietas Khoirunnisak
Teraupetik
hasil :
→ Ciptakan suasana teraupetik untuk
menumbuhkan kepercayaan
1. Perilaku → Temani pasien untuk kurangi
gelisah (1 kecemasan
menurun) → Pahami situasi yang membuat
ansietas
2. Perilaku
→ Dengarkan dengan penuh peehatian
tegang(1
→ Gunakan pendekatan yangtenang
menurun)
dan meyakinkan
3. Keluhan → Tempatkan barang pribadi yang
pusing (1 memberikan kenyamanan
menurun) → Motivasi mengidentifikasi situasi
4. Konsentrasi yang memicu kecemasan
(3 sedang) → Diskusikan perencanaan realistis
5. Pola tidur (3 tentang peristiwa yang akan datang
sedang) Edukasi
→ Jelaskan prosedur, termasuk sensasi
yang mungkin dialami
→ Informasikan secara faktual
mengenai diagnosa, pengobatan dan
prognosis
→ Anjurkan keluarga tetap bersama
pasien
→ Anjurkan melakukan kegiatan yang
tidak kompetitif
→ Anjurkan mengungkapkan perasaan
dan persepsi
→ Latih kegiatan pengalihan untuk
mengurangi ketegangan
→ Latih penggunaan mekanisme
pertahanan diri yang tepat
→ Latih teknik relaksasi
Kolaborasi
→ Kolaborasi pemberian obat
antiansietas

Terapi Relaksasi
Tindakan/Observasi
→ Identifikasi penurunan tingkiat
energi, ketidakmampuan
berkonsentrasi, atau gejala lain yang
mengganggu kemampuan kognitif
→ Identifikasi teknik relaksasi yang
pernah efektif digunakan
→ Identifikasi kesediaan, kemapuan
dan teknik sebelumnya
→ Periksan ketegangan otot, frekuensi
nadi, tekanan darah, dan suhu
sebelum dan sesudah latihan
→ Monitor respon terhadap terapi
relaksasi
Teraupetik
→ Ciptakan lingkungan tenang dan
tanpa gangguan dengan pencahayaan
dan suhu ruang nyaman
→ Berikan informasi tertulis tentang
persiapan dan prosedur teknik
relaksasi
→ Gunakan pakaian longgar
→ Gunakan nada suara lembut dengan
irama lambat dan berirama
→ Gunakan relaksasi sebagai strategi
penunjang dengan analgesik atau
tindakan lain
Edukasi
→ Jelaskan tujuan, manfaat, batasan,
dan jenis relaksasi yang tersedia
→ Jelaskan secara rinci intervensi
relaksasi yang pilih
→ Anjurkan mengambil posisi nyaman
→ Anjurkan rileks dan merasakan
sensasi relaksasi
→ Anjurkan sering mengulang atau
melatih teknik yang dipilih
→ Demonstrasi dan latih teknik
relaksasi

FORMAT PELAKSANAAN

NO TGL JAM IMPLEMENTASI JAM EVALUASI (SOAP) PARAF

1 29/07/ 09.00 → Melakukan kunjungan 16.10 S:


2020 pertama → Ny.D mengatakan nyeri
09.05 → Melakukan saat bergerak
pemeriksaan ttv → Ny.D mengatakan bingung
Nyeri
Lailatul
dengan apayang terjadi Khoirunnisak
→ Mengidentifikasi
09.10 O:
lokasi, karakteristik
→ TD : 90/80 mmHg
durasi, frekuensi,
→ Suhu : 36,50C
kualitas, intensitas
→ Nadi : 68 x/menit
nyeri
→ RR : 20 x/menit
→ Mengidentifikasi
09.15 → P : Nyeri timbul saat
skala nyeri
digerakkan
→ Mengidentifikasi
09.20 → Q : Nyeri seperti di iris-iris
respons nyeri non
→ R : Nyeri dibagian perut
verbal
bawah
→ Mengidentifikasi
09.25 → S : Skala nyeri 5
faktor yang
→ T : 4 Jam
memperberat dan
→ Pasien tampak gelisah
memperingan nyeri
→ Mengidentifikasi
09.30 A:
pengetahuan dan
- Masalah belum teratasi.
keyakinan tentang
P:
nyeri
Mengulagi dan melanjutkan
→ Mengidentifikasi
09.35 intervensi
pengaruh budaya
→ Melakukan pemeriksaan ttv
terhadap respon nyeri → Monitor keberhasilan terapi
→ Mengidentifikasi komplementer yang sudah
09.40
pengaruh nyeri pada diberikan
kualitas hidup → Monitor efek samping
penggunaan analgetik
Ansietas → Periksan ketegangan otot,
09.45 → Mengidentifikasi saat frekuensi nadi, tekanan
tingkat ansietas darah, dan suhu sebelum
berubah dan sesudah latihan
09.50 → Mengidentifikasi → Monitor respon terhadap
kemampuan terapi relaksasi
mengambil keputusan → Monitor tanda-tanda
→ Mengidentifikasi ansietas
09.55
penurunan tingkiat → Berikan teknik
energi, nonfarmakologi untuk
ketidakmampuan mengurangi rasa nyeri
berkonsentrasi, atau (akupresur, terapi musik,
gejala lain yang biofeedback, terapi pijat,
mengganggu aromaterapi, teknik
kemampuan kognitif
imajinasi terbimbing,
10.00 → Mengidentifikasi
kompres hangat dingin,
teknik relaksasi yang
pernah efektif terapi bermain
digunakan → Lakukan kontrol
→ Mengidentifikasi lingkungan yang
10.05
kesediaan, kemapuan memperberat rasa nyeri
dan teknik (mis. suhu ruangan,
sebelumnya pencahayaan, kebisingan)
→ Berikan fasilitasi istirahat
dan tidur
→ Ciptakan suasana teraupetik
untuk menumbuhkan
kepercayaan
2 30/07/ 13.00 → Melakukan kunjungan 20.00 S:
2020 kedua → Ny.D mengatakan nyeri
13.05 → Melakukan sudah berkurang sedikit
pemeriksaan ttv saat bergerak
Nyeri Lailatul
13.10 O:
→ Monitor keberhasilan Khoirunnisak
→ TD : 100/80 mmHg
terapi komplementer
→ Suhu : 37,50C
yang sudah diberikan
→ Nadi : 70 x/menit
→ Monitor efek samping
13.15 → RR : 20 x/menit
penggunaan analgetik
→ P : Nyeri timbul saat
→ Monitor tanda-tanda
13.20 digerakkan
vital sebelum dan
→ Q : Nyeri seperti di iris-iris
sesudah pemberian
→ R : Nyeri dibagian perut
analgesik
bawah
→ Monitor efektifitas
13.25 analgesik → S : Skala nyeri 4
→ T : 3 Jam
13.30 → Periksan ketegangan → Pasien tampak gelisah
otot, frekuensi nadi,
tekanan darah, dan A:
suhu sebelum dan - Masalah belum teratasi.
13.35 sesudah latihan P:
→ Berikan teknik Mengulagi dan melanjutkan
nonfarmakologi untuk intervensi
mengurangi rasa → Melakukan pemeriksaan ttv
nyeri (akupresur, → Penyampaian materi
terapi musik, tentang nyeri
biofeedback, terapi → Anjurkan memonitor nyeri
pijat, aromaterapi, secara mandiri
teknik imajinasi → Anjurkan menggunakan
terbimbing, kompres analgetik secara tepat
hangat dingin, terapi → Ajarkan teknik
13.40 bermain nonfarmakologis untuk
→ Lakukan Kontrol mengurangi rasa nyeri
lingkungan yang → Anjurkan keluarga tetap
memperberat rasa bersama pasien
nyeri (mis. suhu → Anjurkan melakukan
ruangan, kegiatan yang tidak
pencahayaan, kompetitif
kebisingan) → Anjurkan mengungkapkan
13.45
→ Berikan fasilitasi perasaan dan persepsi
istirahat dan tidur
13.50 Ansietas
→ Monitor respon
terhadap terapi
relaksasi
13.55
→ Monitor tanda-tanda
ansietas
14.00 → Ciptakan suasana
teraupetik untuk
menumbuhkan
kepercayaan
3 31/07/ 08.30 → Melakukan kunjungan 15.40 S:
2020 ketiga → Ny.D mengatakan nyeri
08.35 → Melakukan berkurang sedikit seperti
pemeriksaan ttv kemarin Lailatul
Nyeri O: Khoirunnisak
08.40 → Penyampaian materi → TD : 110/80 mmHg
tentang nyeri → Suhu : 37,50C
09.15 → Anjurkan memonitor → Nadi : 70 x/menit
nyeri secara mandiri → RR : 18 x/menit
09.20 → Anjurkan → P : Nyeri timbul saat
menggunakan digerakkan
analgetik secara tepat → Q : Nyeri seperti di iris-iris
09.25 → Ajarkan teknik → R : Nyeri dibagian perut
nonfarmakologis bawah
untuk mengurangi → S : Skala nyeri 4
rasa nyeri → T : 1 Jam
Ansietas → Pasien tampak gelisah
09.30 → Anjurkan keluarga
tetap bersama pasien A:
09.35 → Anjurkan melakukan - Masalah belum teratasi.
kegiatan yang tidak P:
kompetitif Mengulagi dan mengevaluasi
09.40 → Anjurkan pengetahuan keluarga
mengungkapkan
perasaan dan persepsi
4 1/08/ 10.00 → Melakukan kunjungan 16.40 S:
2020 keempat → Ny.D mengatakan sudah
10.05 → Melakukan tidak nyeri
pemeriksaan ttv O: Lailatul
10.10 → Latih kegiatan → TD : 120/80 mmHg Khoirunnisak
pengalihan untuk → Suhu : 37,50C
mengurangi → Nadi : 90 x/menit
ketegangan → RR : 20 x/menit
10.15 → Latih penggunaan
mekanisme
A:
pertahanan diri yang
- Masalah teratasi.
tepat
10.20 P:
→ Latih teknik relaksasi
10.25 → Anjurkan mengambil Intervensi dihentikan
posisi nyaman
→ Anjurkan rileks dan
10.30 merasakan sensasi
relaksasi
10.35 → Anjurkan sering
mengulang atau
melatih teknik yang
dipilih
10.40 → Demonstrasi dan latih
teknik relaksasi
SATUAN ACARA PENYULUHAN
KEPERAWATAN MATERNITAS DENGAN NYERI

Dosen Pembimbing :

Paramitha Ratna Gayatri, S.Kep., Ns., M.Kep

Disusun Oleh:

Lailatul Khoirunnisak (10218044)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

INSTITUT ILMU KESEHATANBHAKTI WIYATA KEDIRI

TAHUN AKADEMIK 2020/2021


Pokok Bahasan : Nyeri

Sub PokokBahasan : 1. Pengertian Nyeri


2. Faktor penyebab Nyeri
3. Cara mengatasi Nyeri
Sasaran :

1. Sasaran Program : Keluarga Ny.D


2. Sasaran Penyuluhan : Ny.D

Waktu : 10.00-11.05 WIB

Tempat : Rumah Ny.D

Hari dan Tanggal : Minggu, 6 Desember 2020

Pelaksana : 1. Lailatul Khoirunnisak

I. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Setelah mengikuti penyuluhan tentang Nyeri , diharapkan Keluarga Ny.D


dapat menjelaskan kembali tentang pengertian nyeri, faktor yang menyebabkan
Nyeri, dan cara mengatasi nyeri.

II. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS


Setelah mengikuti penyuluhan tentang Nyeri selama 15 menit, Ny.D dapat:
1. Pengertian Nyeri
2. Faktor penyebab Nyeri
3. Cara mengatasi Nyeri

III. MATERI
1. Pengertian Nyeri
2. Faktor penyebab Nyeri
3. Cara mengatasi Nyeri

IV. PENGORGANISASIAN
a. PenanggungJawab : Paramitha Ratna Gayatri, S.Kep.,
Ns., M.Kep
b. Moderator : Lailatul Khoirunnisak
c. Penyaji : Lailatul Khoirunnisak
e. Fasilitator& dokumentasi : Lailatul Khoirunnisak

V. KEGIATAN PENYULUHAN
NO TAHAP PENYULUH AUDIEN WAKTU
1 Pendahuluan → Memberisalam - Menjawab salam 2 menit
→ Memperkenalkan diri - Mendengarkan
2 Kegiatan Inti → Menjelaskan Pengertian -Mendengarkan 10 Menit
Nyeri
→ Menjelaskan Faktor -Mendengarkan
penyebab Nyeri
→ Menjelaskan cara -Mendengarkan
mengatasi
3 Evaluasi → Memberi kesempatan - Bertanya
kepada peserta untuk
bertanya tentang materi 5 Menit
yang di sampaikan
→ Memberi pertanyaan - Menjawab pertanyaan
kepada Keluarga tentang
materi yang di sampaikan
→ Memberi kesimpulan - Mendengarkan 3 menit
→ Memberi salam penutup - Menjawab salam

VI. MEDIA

1. Leaflet
a. Poster
VII. METODE PENYULUHAN

Ceramah, Tanya jawab

VIII. EVALUASI

a. Evaluasi Struktur

b. Evaluasi Proses

c. Evaluasi Hasil
MATERI PENYULUHANTERAPI KOMPLEMENTER

A. Pengertian Nyeri
Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak
menyenangkan akibat kerusakan jaringan, baik aktual maupun potensial atau
yang digambarkan dalam bentuk kerusakan tersebut.(Bahrudin, 2018)
Nyeri dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang sukar dipahami dan
fenomena yang kompleks meskipun universal, tetapi masih merupakan
misteri. Nyeri adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh manusia yang
menunjukkan adanya pengalaman masalah. Nyeri merupakan keyakinan
individu dan bagaimana respon individu tersebut terhadap sakit yang
dialaminya (Taylor, 2011)(Oliver, 2018)

B. Faktor Penyebab Nyeri


Faktor yang mempengaruhi nyeri menurut Taylor (2011) diantaranya:
1. Budaya
Latar belakang etnik dan warisan budaya telah lama dikenal sebagai
faktor faktor yang mempengaruhi reaksi nyeri dan ekspresi nyeri
tersebut. Perilaku yang berhubungan dengan nyeri adalah sebuah bagian
dari proses sosialisasi. (Kozier, 2010).
2. Jenis kelamin
Jenis kelamin merupakan perbedaan yang telah dikodratkan Tuhan.
Perbedaan antara laki laki dengan perempuan tidak hanya dalam faktor
biologis, tetapi aspek sosial kultural juga membentuk berbagai karakter
sifat gender. Karakter jenis kelamin dan hubungannya dengan sifat
keterpaparan dan tingkat kerentanan memegang peranan tersendiri. Jenis
kelamin dengan respon nyeri laki- laki dan perempuan berbeda. Hal ini
terjadi karena laki-laki lebih siap untuk menerima efek, komplikasi dari
nyeri sedangkan perempuan suka mengeluhkan sakitnya dan menangis
(Adha, 2014)
3. Usia
Usia dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah waktu hidup atau ada
sejak dilahirkan. Menurut Retnopurwandri (2008) semakin bertambah
usia semakin bertambah pula pemahaman terhadap suatu masalah yang
diakibatkan oleh tindakan dan memiliki usaha untuk mengatasinya. Umur
lansia lebih siap melakukan dengan menerima dampak, efek dan
komplikasi nyeri (Adha, 2014).
4. Makna Nyeri
Beberapa klien dapat lebih mudah menerima nyeri dibandingkan klien
lain, bergantung pada keadaan dan interpretasi klien mengenai makna
nyeri tersebut. Seorang klien yang menghubungkan rasa nyeri dengan
hasil akhir yang positif dapat menahan nyeri dengan sangat baik.
Sebaliknya, klien yang nyeri kroniknya tidak mereda dapat merasa lebih
menderita. Mereka dapat berespon dengan putus asa, ansietas, dan
depresi karena mereka tidak dapat mengubungkan makna positif atau
tujuan nyeri (Kozier, 2010).
5. Kepercayaan spiritual
Kepercayaan spiritual dapat menjadi kekuatan yang memengaruhi
pengalaman individu dari nyeri. Pasien mungkin terbantu dengan cara
berbincang dengan penasihat spiritual mereka (Taylor, 2011)
6. Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat
mempengaruhi persepsi nyeri. Perhatian yang meningkat dihubungkan dengan
nyeri yang meningkat, sedangkan upaya pengalihan (distraksi) dihubungkan
dengan respon nyeri yang menurun
7. Ansietas
Stimulus nyeri mengaktifkan bagian sistem limbik yang diyakini
mengendalikan emosi seseorang, khususnya ansietas (Taylor, 2011).
8. Pengalaman sebelumnya
Mahasiswa yang penah mengalami haid kemungkinan akan lebih siap
menghadapi nyeri dibandingkan remaja yang belum pernah. Namun
demikian, pengalaman nyeri sebelumnya tidak berarti bahwa individu
akan mengalami nyeri yang lebih mudah pada masa yang akan datang.
Apabila individu sejak lama sering mengalami serangkaian nyeri tanpa
pernah sembuh maka rasa takut akan muncul dan sebaliknya (Judha,
2012).

C. Cara Mengatasi Nyeri


Pelaksanaan keperawatan Menurut Hidayat (2013) pelaksanaan
keperawatan antara lain :
a. Mengurangi factor yang dapat menahan nyeri, misalnya ketidak
percayaan, kesalah pahaman, ketakutan, kelelahan, dan kebosanan.
1) Ketidakpercayaan. Pengakuan perawat akan rasa nyeri yang diderita
pasien dapat mengurangi nyeri. Hal ini dapat dilakukan melalui
pernyataan verbal, mendengarkan dengan penuh perhatian mengenai
keluhan nyeri pasien dan mengatakan kepada pasien bahwa perawat
mengkaji rasa nyeri pasien agar dapat lebih memahami tentang
nyerinya.
2) Kesalahpahaman. Mengurangi kesalah pahaman pasien tentang
nyerinya akan mengurangi nyeri. Hal ini dilakukan dengan
memberitahu pasien bahwa nyeri yang dialami sangat individual dan
hanya pasien yang tau secara pasti tentang nyerinya.
3) Ketakutan. Memberikan informasi yang tepat dapat mengurangi
ketakutan pasien dengan menganjurkan pasien untuk mengekspresikan
bagaimana mereka mengangani nyeri.
4) Kelelahan. Kelelahan dapat memperberat nyeri. Untuk mengatasinya
kembangkan pola aktivitas yang dapat memberikan istirahat yang
cukup.
5) Kebosanan. Kebosanan dapat meningkatkan rasa nyeri. Untuk
mengurangi nyeri dapat digunakan pngalih perhatian yang bersifat
terapiutik. Beberapa teknik pengalih perhatian adalah bernapas pelan
dan berirama, memijat secara perlahan, menyanyi berirama, aktif
mendengarkan music, membayangkan hal-hal yang menyenangkan dan
sebagainya.
b. Memodifikasi stimulus nyeri dengan menggunakan teknik-teknik
seperti:
1) Teknik latihan pengalihan/distraksi a) Menonton televisi b)
Berbincang-bincang dengan orang lain c) Mendengarkan musik
2) Teknik relaksasi Menganjurkan pasien untuk menarik napas dalam
dan mengisi paruparu dalam udara, menghembuskannya secara
perlahan, melemaskan otot-otot tangan, kaki, perut, dan punggung, serta
mengulangi hal yang sama sambil terus berkonsentrasi hingga didapat
rasa nyaman, tenang, dan rileks.
3) Stimulasi kulit a) Menggosok dengan halus pada daerah nyeri b)
Menggosok punggung c) Menggunakan air hangat dan dingin d)
Memijat dengan air mengalir. e) Pemberian obat analgesik, yang
dilakukan guna menganggu atau memblok transmisi stimulus agar
terjadi perubahan persepsi dengan cara mengurangi kortikal terhadap
nyeri. f) Pemberian stimulator listrik, yaitu dengan memblok atau
mengubah stimulus nyeri dengan stimulus yang kurang dirasakan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Bahrudin, M. (2018). Patofisiologi Nyeri (Pain). Saintika Medika, 13(1), 7.


https://doi.org/10.22219/sm.v13i1.5449
2. Darmawati. (2011). Mengenali abortus dan faktor yang berhubungan dengan
kejadian abortus. Idea Nursing Journal, II(1).
3. Mulyaningasih, D. (2013). Asuhan Keperawatan Pada Abortus.
4. Oliver, J. (2018). Tanda dan Gejala Nyeri. Journal of Chemical Information
and Modeling, 53(9), 1689–1699.
5. Purwaningrum, E. D., & Fibriana, A. I. (2017). HIGEIA JOURNAL OF
PUBLIC HEALTH. 1(3), 84–94.
6. Susilowati, R. U. (2019). LAPORAN PENDAHULUAN ABORTUS.
7. Zuliyanti, R. (2019). TINJAUAN PUSTAKA. 5–18.
DAFTAR PESERTA PENYULUHAN

No. Nama TTD


1. 1.
2. 2.
3. 3.
4. 4.
5. 5.
6. 6.
7. 7.
8. 8.
9. 9.
10. 10.

Anda mungkin juga menyukai