Anda di halaman 1dari 56

LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN AGROEKOSISTEM

Komoditas Padi Ds. Bayem Kec. Kasembon

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Nurul Umayatul Ria Febrianasari Qoyimah Rizatul Maela Tri Intan Dhani Galih Rahmawanto Maya Suci Satyani Zainul Abidin Lilya Echa F Kisman Topani

105040213111032 105040213111033 105040213111034 105040213111035 105040213111036 105040213111038 105040213111039 105040213111041 105040213111043

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkankan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat, taufik dan hidayah-Nya, maka penyusun dapat menyelesaikan Laporan Akhir Praktikum Manajemen Agroekosistem di Desa Bayem Kecamatan Kasembon ini. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi tugas praktikum Manajemen Agroekosistem tahun ajaran 2011/2012. Laporan ini dapat terwujud berkat kerja sama dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini perkenankan penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Allah SWT atas semua nikmat dan karunia yang diberikan 2. Kedua orang tua penyusun yang selalu mendoakan dan memberi dukungan dalam pembuatan laporan ini 3. Dosen pengampu mata kuliah Manajemen Agroekosistem Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya 4. Uswatun Hasanah selaku asisten praktikum Manajemen Agroekosistem Aspek HPT Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya 5. Retno Wulandari selaku asisten praktikum Manajemen Agroekosistem Aspek BP Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya 6. Istika Nita selaku asisten praktikum Manajemen Agroekosistem Aspek Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya 7. Semua pihak yang telah memberikan motivasi dan dorongan yang tidak ternilai hingga terselesaikannya laporan ini. Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan karya tulis ini masih ada kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca demi kesempurnaan dalam pembuatan karya tulis di masa mendatang. Malang, 28 Mei 2012

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman Sampul Luar ..................................................................................... i Kata Pengantar ................................................................................................. ii Daftar Isi .......................................................................................................... iii Daftar Gambar ................................................................................................. v Daftar Tabel ..................................................................................................... vi BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1 1.2 Tujuan .......................................................................................... 2 1.3 Manfaat ........................................................................................ 2 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Agroekosistem Lahan Basah ....................................................... 3 2.2 Agroekosistem Lahan Kering ...................................................... 4 2.3 Kualitas Tanah dan Kesehatan Tanah.......................................... 5 2.4 Hama dan Penyakit Penting Tanaman pada Agroekosistem ....... 7 2.5 Pengaruh Populasi Musuh Alami Terhadap Agroekosistem ....... 15 2.6 Dampak Manajemen Agroekosistem Terhadap Kualitas dan Kesehatan Tanah ........................................................................................................... 17 2.7 Kriteria Indikator dalam pengelolaan yang Sehat dan Berkelanjutan BAB 3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat ....................................................................... 29 3.2 Alat dan Bahan ............................................................................ 29 3.3 Cara Kerja .................................................................................... 31 BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 23

4.1 Kondisi Umum Lahan.................................................................. 36 4.2 Analisis Keadaan Agroekosistem ................................................ 49 4.3 Rekomendasi................................................................................ 50 BAB 5. PENUTUP 5.1 Kesimpulan .................................................................................. 51 5.2 Saran terhadap Keberlanjutan Agroekosistem............................. 51 5.3 Saran Praktikum........................................................................... 51 DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 52

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Agroekosistem Lahan Basah .......................................................... 3 Gambar 2. Agroekosistem Lahan Kering ........................................................ 5 Gambar 3. Tanah .............................................................................................. 6 Gambar 4. Penyakit Bercak Coklat pada Padi ................................................. 7 Gambar 5. Penyakit Blast pada Padi ................................................................ 8 Gambar 6. Penyakit Garis Coklat pada Padi .................................................... 9 Gambar 7. Penyakit Tungro pada Padi ............................................................ 11 Gambar 8. Wereng coklat ................................................................................ 12 Gambar 9. Walang Sangit ................................................................................ 12 Gambar 10. Kepik Hijau .................................................................................. 13 Gambar 11. Tikus............................................................................................. 14 Gambar 12. Burung .......................................................................................... 14 Gambar 13. Kedalaman efektif Tanah ............................................................. 20 Gambar 14. Organisme dalam Tanah .............................................................. 22 Gambar 15. Ciri Kekurangan Unsur Hara ....................................................... 26 Gambar 16. Belalang Hijau.............................................................................. 39 Gambar 17. Semut ........................................................................................... 39 Gambar 18. Tomcat ......................................................................................... 39 Gambar 19. Wereng ......................................................................................... 40 Gambar 20. Bagan Petak Pengamatan ............................................................. 40

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hasil Pengamatan Keragaman Arthropoda........................................ 38 Tabel 2. Hasil Pengukuran Ketebalan Seresah ................................................ 43 Tabel 3.Perhitungan Bobot Jenis Tanah .......................................................... 43 Tabel 4. Perhitungan Bobot Isi ........................................................................ 45

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Kemajuan ilmu pengetahuan, dan teknologi serta pertambahan penduduk menuntut perlunya penyediaan sumber daya untuk memenuhi konsumsi pangan dan areal pemukiman. Untuk merealisasikannya perlu tindakan yang bijaksana agar tidak menimbulkan dampak perubahan terhadap lingkungan. Masalah lingkungan yang terjadi seperti erosi tanah, longsor, banjir dan kekeringan merupakan tanda-tanda terancamnya keseimbangan ekosistem. Agroekosistem terbentuk sebagai hasil interaksi antara sistem sosial dengan sistem alam, dalam bentuk aktivitas manusia yang berlangsung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Agroekosistem kebanyakan dipakai oleh negara atau masyarakat yang berperadaban agraris. Kata agro atau pertanian menunjukan adanya aktifitas atau campur tangan masyarakat pertanian terhadap alam atau ekosistem. Istilah pertanian dapat diberi makna sebagai kegiatan masyarakat yang mengambil manfaat dari alam atau tanah untuk mendapatkan bahan pangan, energi dan bahan lain yang dapat digunakan untuk kelangsungan hidupnya (Pranaji, 2006). Dalam mengambil manfaat ini masyarakat dapat mengambil secara langsung dari alam, ataupun terlebih dahulu mengolah atau memodifikasinya. Jadi suatu agroekosistem sudah mengandung campur tangan masyarakat yang merubah keseimbangan alam atau ekosistem untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Pentingnya pengamatan dan analisis untuk sistem dan perlakuan pertanaman di suatu hamparan lahan untuk menilai seberapa besar keseimbangan agroekosistem di lahan tersebut. Dengan mengetahui seberapa besarnya keseimbangan agroekosistem maka akan bisa menjadi dasar dalam perlakuan selanjutnya, baik dalam pemeliharaan, perawatan dan sebagainya.

1.2 Tujuan o Mengetahui tingkat keseimbangan agroekosistem pada lahan di Kasembon o Mengetahui agroekosistem dari aspek HPT, BP dan Tanah

o Mengetahui dasar informasi untuk memberikan rekomendasi dalam pencapaian keseimbangan agroekosistem 1.3 Manfaat o Untuk mengetahui tingkat keseimbangan agroekosistem pada lahan di Kasembon o Untuk mengetahui data dan analisis agroekosistem dari aspek HPT, BP dan Tanah o Untuk mengetahui dasar informasi untuk memberikan rekomendasi dalam pencapaian keseimbangan agroekosistem

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Agroekosistem Lahan Basah Lahan basah atau wetland adalah wilayah-wilayah di mana tanahnya jenuh dengan air, baik bersifat permanen (menetap) atau musiman. Wilayah-wilayah itu sebagian atau seluruhnya kadang-kadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal. Digolongkan ke dalam lahan basah ini, di antaranya, adalah rawa-rawa (termasuk rawa bakau), payau, dan gambut. Akan tetapi dalam pertanian dibatasi agroekologinya sehingga lahan basah dapat di definisikan sebagai lahan sawah. Tanah sawah adalah tanah yang digunakan untuk bertanam padi sawah, baik terus menerus sepanjang tahun maupun bergiliran dengan tanaman palawija. Segala macam jenis tanah dapat disawahkan asalkan air cukup tersedia. Selain itu padi sawah juga ditemukan pada berbagai macam iklim yang jauh lebih beragam dibandingkan dengan jenis tanaman lain. Karena itu tidak mengherankan bila sifat tanah sawah sangat beragam sesuai dengan sifat tanah asalnya.

Gambar.1 Agroekosistem Lahan Basah Tanah sawah dapat berasal dari tanah kering yang dialiri kemudian disawahkan atau dari tanah rawa-rawa yang dikeringkan dengan membuat saluransaluran drainase. Sawah yang airnya berasal dari air irigasi disebut sawah irigasi, sedang yang menerima langsung dari air hujan disebut sawah tadah hujan. Di daerah pasang surut ditemukan sawah pasang surut, sedangkan yang dikembangkan di daerah rawa-rawa lebak disebut sawah lebak. Penggenangan selama pertumbuhan padi dan pengolahan tanah pada tanah kering yang disawahkan, dapat menyebabkan berbagai perubahan sifat tanah, baik

sifat morfologi, fisika, kimia, mikrobiologi maupun sifat-sifat lain sehingga sifat-sifat tanah dapat sangat berbeda dengan sifat-sifat tanah asalnya. Sebelum tanah digunakan sebagai tanah sawah, secara alamiah tanah telah mengalami proses pembentukan tanah sesuai dengan faktor-faktor pembentuk tanahnya, sehingga terbentuklah jenisjenis tanah tertentu yang masing-masing mempunyai sifat morfologi tersendiri. Pada waktu tanah mulai disawahkan dengan cara penggenangan air baik waktu pengolahan tanah maupun selama pertumbuhan padi, melalui perataan, pembuatan teras, pembuatan pematang, pelumpuran dan lain-lain maka proses pembentukan tanah alami yang sedang berjalan tersebut terhenti. Semenjak itu terjadilah proses pembentukan tanah baru, dimana air genangan di permukaan tanah dan metode pengelolaan tanah yang diterapkan, memegang peranan penting. Karena itu tanah sawah sering dikatakan sebagai tanah buatan manusia. (Hardjowigno,_ dan Endang, 2007)

2.2 Agroekosistem Lahan Kering Penciri agroekosistem tidak hanya mencakup unsur-unsur alami seperti iklim, topografi, altitude, fauna, flora, jenis tanah dan sebagainya akan tetapi juga mencakup unsur-unsur buatan lainnya. Agroekosistem lahan kering dimaknai

sebagai wilayah atau kawasan pertanian yang usaha taninya berbasis komoditas lahan kering selain padi sawah. Kadekoh (2010) mendefinisikan lahan kering sebagai lahan dimana pemenuhan kebutuhan air tanaman tergantung sepenuhnya pada air hujan dan tidak pernah tergenang sepanjang tahun. Pada umumnya istilah yang digunakan untuk pertanian lahan kering adalah pertanian tanah darat, tegalan, tadah hujan dan huma. Potensi pemanfaatan lahan kering biasanya untuk komoditas pangan seperti jagung, padi gogo, kedelai, sorghum, dan palawija lainnya. Untuk pengembangan komoditas perkebunan, dapat dikatakan bahwa hamper semua komoditas perkebunan yang produksinya berorientasi ekspor dihasilkan dari usaha tani lahan kering.

Gambar. 2 Agroekosistem Lahan Kering Prospek agroekosistem lahan kering untuk pengembangan peternakan cukup baik (Bamualim,2004). Lahan kering mempunyai potensi besar untuk pertanian, baik tanaman pangan, hortikultura, maupun tanaman perkebunan. Pengembangan berbagai komoditas pertanian di lahan kering merupakan salah satu pilihan strategis untuk meningkatkan produksi dan mendukung ketahanan pangan nasional (Mulyani dkk, 2006). Namun demikian, tipe lahan ini umumnya memiliki produktivitas rendah, kecuali pada lahan yang dimanfaatkan untuk tanaman tahunan atau perkebunan. Pada usaha tani lahan kering dengan tanaman semusim, produktivitas relatif rendah serta menghadapi masalah sosial ekonomi seperti tekanan penduduk yang terus meningkat dan masalah biofisik (Sukmana, dalam Syam, 2003).

2.3 Kualitas Tanah dan Kesehatan Tanah Doran & Parkin (1994) memberikan batasan kualitas tanah adalah kapasitas suatu tanah untuk berfungsi dalam batas-batas ekosistem untuk melestarikan produktivitas biologi, memelihara kualitas lingkungan, serta meningkatkan kesehatan tanaman dan hewan. Johnson et al. (1997) mengusulkan bahwa kualitas tanah adalah ukuran kondisi tanah dibandingkan dengan kebutuhan satu atau beberapa spesies atau dengan beberapa kebutuhan hidup manusia. Kualitas tanah diukur berdasarkan pengamatan kondisi dinamis indikatorindikator kualitas tanah. Pengukuran indikator kualitas tanah menghasilkan indeks kualitas tanah. Indeks kualitas tanah merupakan indeks yang dihitung berdasarkan nilai dan bobot tiap indikator kualitas tanah. Indikator-indikator kualitas tanah dipilih dari sifat-sifat yang menunjukkan kapasitas fungsi tanah.

Gambar 3. Tanah Indikator kualitas tanah adalah sifat, karakteristik atau proses fisika, kimia dan biologi tanah yang dapat menggambarkan kondisi tanah (SQI, 2001). Menurut Doran & Parkin (1994), indikator-indikator kualitas tanah harus :

(1) menunjukkan proses-proses yang terjadi dalam ekosistem, (2) memadukan sifat fisika tanah, kimia tanah dan proses biologi tanah, (3) dapat diterima oleh banyak pengguna dan dapat diterapkan di berbagai kondisi lahan, (4) peka terhadap berbagai keragaman pengelolaan tanah dan perubahan iklim, dan (5) apabila mungkin, sifat tersebut merupakan komponen yang biasa diamati pada data dasar tanah. Karlen et al. (1996) mengusulkan bahwa pemilihan indikator kualitas tanah harus mencerminkan kapasitas tanah untuk menjalankan fungsinya yaitu: 1. Melestarikan aktivitas, diversitas dan produktivitas biologis 2. Mengatur dan mengarahkan aliran air dan zat terlarutnya 3. Menyaring, menyangga, merombak, mendetoksifikasi bahan-bahan anorganik dan organik, meliputi limbah industri dan rumah tangga serta curahan dari atmosfer. 4. Menyimpan dan mendaurkan hara dan unsur lain dalam biosfer. 5. Mendukung struktur sosial ekonomi dan melindungi peninggalan arkeologis terkait dengan permukiman manusia.

2.4 Hama dan Penyakit Penting Tanaman pada Agroekosistem yang diamati Gejala dan Tanda Penyakit Penting Tanaman

1. Penyakit Bercak Coklat Pada Daun Padi Penyakit ini disebabkan oleh jamur Helmintosporium Oryzae , gejala penyakit ini adalah adanya bercak daun berbentuk oval yang tersebar permukaan daun dengan titik abu-abu Gambar 4. Penyakit Bercak pada Daun Padi coklat merata atau putih. Coklat pada di

Titik abu- abu atau putih di tengah bercak meruapakan gejala khas penyakit bercak daun coklat di lapang. Bercak yang masih muda berwarna coklat gelap atau keunguan berbentuk bulat. Pada varietas yang peka panjang bercak dapat mencapai 1 cm. Pada serangan berat jamur dapat menginfeksi gabah dengan gejala bercak warna hitam atau coklat gelap pada gabah. Jamur H. oryzae menginfeksi daun baik melaui stomata maupun menembus langsung dinding sel epidermis setelah membentuk apresoria, Konidia lebih banyak dihasilkan bercak yang sudah berkembang(besar) kemudian konidia di hembuskan oleh angin dan menginfeksi secara sekunder. Jamur dapat bertahan sampai 3 tahun pada jaringan tanaman dan lamanya bertahan sangat dipengaruhi lingkungan. Selain gejala di atas gejala lainnya yaitu menyerang pelepah, malai, buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah. Biji berbercak-bercak coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa busuk kering, biji kecambah busuk dan kecambah mati. 2. Blast Penyebab: jamur Pyricularia oryzae. Gejala: menyerang daun, buku pada malai dan ujung tangkai malai. Serangan menyebabakn daun, gelang buku,

tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk. Proses pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa. Pengendalian: (1) membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varitas unggul Sentani, Cimandirim IR 48, IR 36, pemberian pupuk N di saaat pertengahan fase vegetatif dan fase pembentukan bulir; (2) menyemprotkan insektisida Fujiwan 400 EC, Fongorene 50 WP, Kasumin 20 AS atau Rabcide 50 WP.

Gambar 5. Penyakit Blast pada Padi

3. Penyakit garis coklat daun (Narrow brown leaf spot,) Penyebab: jamur Cercospora Gejala: menyerang daun dan pelepah. gari-garis atau bercak-bercak sempit berwarna coklat sepanjang 2-10 mm. pembungaan Pengendalian: penyakit ini dan pengisian biji padi oryzae. Tampak memanjang Proses terhambat. tahan

(1) menanam seperti

Citarum, merkuri; (2) 20/20 WP

mencelupkan benih ke dalam larutan menyemprotkan fungisida Benlate T atau Delsene MX 200.

Gambar 6. Penyakit Garis Coklat Daun Padi 4. Busuk pelepah daun Penyebab: jamur Rhizoctonia sp. Gejala: menyerang daun dan pelepah daun, gejala terlihat pada tanaman yang telah membentuk anakan dan menyebabkan jumlah dan mutu gabah menurun. Penyakit ini tidak terlalu merugikan secara ekonomi. Pengendalian: (1) menanam padi tahan penyakit ini; (2) menyemprotkan fungisida pada saat pembentukan anakan seperti Monceren 25 WP dan Validacin 3 AS. 5. Penyakit fusarium Penyebab: jamur Fusarium moniliforme. Gejala: menyerang malai dan biji muda, malai dan biji menjadi kecoklatan hingga coklat ulat, daun terkulai, akar membusuk, tanaman padi. Kerusakan yang diderita tidak terlalu parah. Pengendalian: merenggangkan jarak tanam, mencelupkan benih pada larutan merkuri. 6. Penyakit noda/api palsu Penyebab: jamur Ustilaginoidea virens. Gejala: malai dan buah padi dipenuhi spora, dalam satu malai hanya beberap butir saja yang terserang. Penyakit tidak menimbulkan kerugian besar. Pengendalian: memusnahkan malai yang sakit, menyemprotkan fungisida pada malai sakit. 7. Penyakit kresek/hawar daun Penyebab: bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae) Gejala: menyerang daun dan titik tumbuh. Terdapat garis-garis di antara tulang daun, garis melepuh dan berisi cairan kehitam-hitaman, daun mengering dan mati. Serangan menyebabkan gagal panen. Pengendalian: (1) menanam varitas tahan penyakit seperti IR 36, IR 46, Cisadane, Cipunegara, menghindari luka mekanis, sanitasi lingkungan; (2) pengendalian kimia dengan bakterisida Stablex WP 8. Penyakit bakteri daun bergaris/Leaf streak

Penyebab: bakteri X. translucens. Gejala: menyerang daun dan titik tumbuh. Terdapat garis basah berwarna merah kekuningan pada helai daun sehingga daun seperti terbakar. Pengendalian: menanam varitas unggul, menghindari luka mekanis, pergiliran varitas dan bakterisida Stablex 10 WP. 9. Penyakit kerdil Penyebab: virus ditularkan oleh serangga Nilaparvata lugens. Gejala: menyerang semua bagian tanaman, daun menjadi pendek, sempit, berwarna hijau kekuning- kuningan, batang pendek, buku-buku pendek, anakan banyak tetapi kecil. Penyakit ini sangat merugikan. Pengendalian: sulit dilakukan, usaha pencegahan dilakukan dengan memusnahkan tanaman yang terserang ada memberantas vektor 10. Penyakit tungro Penyebab: virus yang ditularkan oleh wereng Nephotettix impicticeps. Gejala: menyerang semua bagian tanaman, pertumbuhan tanaman kurang sempurna, daun kuning hingga kecoklatan, jumlah tunas berkurang, pembungaan tertunda, malai kecil dan tidak berisi. Pengendalian: menanam padi tahan wereng seperti Kelara, IR 52, IR 36, IR 48, IR 54, IR 46, IR 42.

Gambar 7. Penyakit Tungro pada Padi Hama Penting Tanaman

1. Wereng penyerang batang padi: wereng padi coklat (Nilaparvata lugens), wereng padi berpunggung putih (Sogatella furcifera).

Merusak dengan cara mengisap cairan batang padi. Saat ini hama wereng paling ditakuti oleh petani di Indonesia. Wereng ini dapat menularkan virus. Gejala: tanaman padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok tnaman seperti terbakar, tanaman yang tidak mengering menjadi kerdil. Pengendalian: (1) bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, 48, IR 64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan, melepas musuh alami seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah; (2) penyemportan insektisida Applaud 10 WP, Applaud 400 FW atau Applaud 100 EC.

Gambar 8. Wereng Coklat 2. Wereng penyerang daun padi: wereng padi hijau (Nephotettix apicalis dan N. impicticep). Merusak dengan cara mengisap cairan daun. Gejala: di tempat bekas hisapan akan tumbuh cendawan jelaga, daun tanaman kering dan mati. Tanaman ada yang menjadi kerdil, bagian pucuk berwarna kuning hingga kuning kecoklatan. Malai yang dihasilkan kecil. 3. Walang sangit (Leptocoriza acuta) Menyerang buah padi yang masak susu. Gejala: dan menyebabkan buah hampa atau berkualitas rendah enak; dan seperti pada buah

berkerut, berwarna coklat dan tidak daun terdapat bercak bekas isapan

padi berbintik-bintik hitam. Gambar 9. Walang Sangit Pengendalian: (1) bertanam serempak, peningkatan kebersihan,

mengumpulkan dan memunahkan telur, melepas musuh alami seperti jangkrik; (2) menyemprotkan insektisida Bassa 50 EC, Dharmabas 500 EC, Dharmacin 50 WP, Kiltop 50 EC. 4. Kepik hijau (Nezara viridula) Menyerang batang dan buah padi. Gejala: pada batang tanaman terdapat bekas tusukan, buah padi yang diserang memiliki noda bekas isapan dan pertumbuhan tanaman terganggu. Pengendalian: mengumpulkan dan

memusnahkan telur- telurnya, penyemprotan insektisida Curacron 250 ULV, Dimilin 25 WP, Larvin 75 WP.

Gambar 10. Kepik Hijau 5. Penggerek batang padi terdiri atas: penggerek batang padi putih (Tryporhyza innotata), kuning (T. incertulas), bergaris (Chilo supressalis) dan merah jambu (Sesamia inferens). Dapat menimbulkan kerugian besar. Menyerang batang dan pelepah daun. Gejala: pucuk tanaman layu, kering berwarna kemerahan dan mudah dicabut, daun mengering dan seluruh batang kering. Kerusakan pada tanaman muda disebut hama sundep dan pada tanaman bunting (pengisian biji) disebut beluk. Pengendalian: (1) menggunakan varitas tahan, meningkatkan kebersihan

lingkungan, menggenangi sawah selama 15 hari setelah panen agar kepompong mati, membakar jerami; (2) menggunakan insektisida Curaterr 3G, Dharmafur 3G, Furadan 3G, Karphos 25 EC, Opetrofur 3G, Tomafur 3G.

6. Hama tikus (Rattus argentiventer) Tanaman padi akan mengalami kerusakan parah apabila terserang oleh hama tikus dan menyebabkan penurunan produksi padi yang cukup besar. Menyerang batang muda (1-2 bulan) dan buah. Gejala: adanya tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman. Pengendalian: pergiliran tanaman, sanitasi, gropyokan, melepas musuh alami seperti ular dan burung hantu, penggunaan pestisida dengan tepat, intensif dan teratur, memberikan umpan beracun seperti seng fosfat yang dicampur dengan jagung atau beras.

Gambar 11. Tikus 7. Burung (manyar Palceus manyar, gelatik Padda aryzyvora, pipit Lonchura lencogastroides, peking L. puntulata, bondol hitam L. ferraginosa dan bondol putih L. ferramaya). Menyerang padi menjelang panen, patah, biji berserakan. Pengendalian: tangkai buah mengusir

dengan bunyi-bunyian atau orang-orangan.

Gambar 12. Burung

2.5 Pengaruh Populasi Musuh Alami Terhadap Agroekosistem Musuh alami merupakan komponen penyusun keanekaragaman hayati di lahan pertanian. Keanekaragaman hayati di lahan pertanian (agrobiodeversity) meliputi diversitas (keaneka ragaman) jenis tanaman yang di budidayakan, diversitas (keanekaragaman) spesies liar yang berpengaruh dan di pengeruhi oleh kegiatan pertanian, dan diversitas ekosistem yang dibentuk oleh populasi spesies yang berhubungan dengan tipee penggunaan lahan yang berbeda (dari habitat lahan pertanianintensif sampai lahan pertanian alami). Diversitas spesies liar berperan penting dalam banyak hal. Beberapa menggunakan lahan pertanian sebagai habitat ( dari sebagian sampai yang tergantung pada lahan pertanian secara total) atau mengguanan habitat lain tetapi di pengaruhi oleh aktivitas pertanian. Adapun yang berperan sebagai gulma dan spesies hama yang merupakan pendatang maupun yang asli ekosistem sawah tersebut, yang mempengaruhi prosuksi pertanian dan agroekosistem (Channa.et,al. 2004). Dari uraian diatas jelas bahwa terdapat organisme yang berperan positif terhadap tanaman yang dibudidayakan (produksi pertanian), dan ada juga yang berperan negatif terhadap tanaman yang dibudidayakan. Musuh alami (predator, parasitoid dan patogen) dapat berperan positif dalam pertanian yaitu sebagai berikut: 1. Dapat mengendalikan organisme penggangu yang berupa hama dan gulma. Dimana setiap jenis hama dikendalikan oleh kompleks musuh alami yang meliputi predator, parasitoid dan patogen hama. Dibandingkan dengan memakai pestisida yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan hidup (Untung, 2006) 2. Apabila musuh alami mampu berperan sebagai pemangsa secara optimal sejak awal, maka populasi hama dapat berada pada tingkat equilibrium

positif atau flukstuasi populasi hama dan musuh lamia menjadi seimbang shingga tidak akan terjadi ledakan hama (Oneil,et.al. dalam

Maredia,et.al.2003) 3. Pengelolaan ekosistem pertanian dengan perpaduan optimal teknik-teknik pengendalian hama dan meminimalkan penggunaan pestisida sintetis yang berspektrum luas. (Untung,1993). 4. Pembatas dan pengatur populasi hama yang efektif karena sifat pengaturannya bergantung pada kepadatan (density dependent), sehingga mampu mempertahankan populasi hama pada keseimbangan umum (general equilibrium position) dan tidak menimbulkan kerusakan pada tanaman. Keberadaan musuh alami dapat meningkatkan keanekaragaman hayati, sehingga tercipta keseimbangan ekosistem (ecosystem balance) (http://ishakmanti.blogspot.com .Prof.Dr.H. Ishak Manti, 2012). 5. Musuh alami sebagai salah satu komponen ekosistem berperan penting dalam proses interaksi intradan inter-spesies. Karena tingkat

pemangsaannya berubah-ubah menurut kepadatan populasi hama, maka musuh alami digolongkan ke dalam faktor ekosistem yang tergantung kepadatan (density dependent factors). Ketika populasi hama meningkat, mortalitas yang disebabkan oleh musuh alami semakin meningkat, demikian pula sebaliknya (Stehr 1975). Dalam

(http://muhammadarifindrprof.blogspot.com, Muhammad Arifin. 2012) 6. Lebih ekonomis, karena dapat meminimalisir penggunaan pestisida selama proses budidaya, diman bahwa penggunaan musuh alami bersifat alami, efektif, murah dna tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan hidup (Untung, 2006). Dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam meningkatkan kualitas dan kwuantitas produksi hasil panennya. 7. Dapat meningkatkan keanekaragaman hayati dalam agroekosistem,

dinyatakan bahwa keanekaragaman dalam agroekosistem dapat berupa variasi dari tanaman, gulma, anthropoda, dan mikroorganisme yang terlibat beserta faktor-faktor lokasi geografi, iklim, edafik, manusia dan

sosioekonomi. Menurut Southwood & Way (1970), tingkat keanekaragaman hayati dalam agroekosistem bergantung pada 4 ciri utama, yaitu: Keanekaragaman tanaman di dalam dan sekitar agroekosistem Keragaman agroekosistem Kekuatan atau keutuhan manajemen Perluasan agroekosistem (dalam pengukuhan guru besar, Maryani Cyccu Tobing. 2000) tanaman yang sifatnya permanen di dalam

2.6 Dampak Manajemen Agroekosistem Terhadap Kualitas dan Kesehatan Tanah Pengelolaan pertanian secara intensif dengan mengandalkan masukan/input bahan-bahan kimia baik untuk pupuk maupun pestisidanya, contohnya yaitu sistem Revolusi Hijau yang pernah diterapkan di Indonesia. Walaupun Revolusi hijau tersebut membawa Indonesia ke swasembada pangan pada era Orde baru, namun dilihat dari keberlanjutan produktivitas lahannya sangat tidak baik, dengan adanya input-input kimiawi yang berlebihan mengakibatkan kesuburan tanah mulai menurun dan banyak permasalahan lainnya. Diantaranya yaitu:

1. Dari Segi Kimia Tanah a) Bahan Organik Tanah Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Sumber primer bahan organik tanah dapat berasal dari Seresah yang merupakan bagian mati tanaman berupa daun, cabang, ranting, bunga dan buah yang gugur dan tinggal di permukaan tanah baik yang masih utuh ataupun telah sebagian mengalami pelapukan. Dalam pengelolaan bahan organik tanah, sumbernya juga bisa berasal

dari pemberian pupuk organik berupa pupuk kandang, pupuk hijau dan kompos, serta pupuk hayati (inokulan). Pada sistem pertanian yang diolah secara intensif dengan menerapkan sistem monokulttur biasanya jumlah bahan organiknya sedikit karena tidak ada atau minimnya seresah di permukaan lahan, selain itu input bahan organik yang berasal dari pupuk organic baik pupuk kandang atau pupuk hijau minim karena lebih menekankan penggunaan input kimia. Dari hal tersebut dapat diindikasikan pertanian tanpa penerapan tambahan bahan organik pada lahan pertanain intensif merupakan pengelolaan agroekosistem yang tidak sehat. b) pH Tanah (Kemasaman Tanah) dan Adanya Unsur Beracun pH tanah pada sistem pertanian intensif biasanya agak masam karena seringnya penggunaan pupuk anorganik seperti Urea yang diaplikasikan secara terusmenerus untuk menunjang ketersediaan unsure hara dalam tanah. Tanah bersifat asam dapat pula disebabkan karena berkurangnya kation Kalsium, Magnesium, Kalium dan Natrium. Unsur-unsur tersebut terbawa oleh aliran air kelapisan tanah yang lebih bawah atau hilang diserap oleh tanaman. pH tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi tanaman. Pada tanah asam banyak ditemukan unsur alumunium yang selain bersifat racun juga mengikat phosphor, sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Pada tanah asam unsur-unsur mikro menjadi mudah larut sehingga ditemukan unsur mikro seperti Fe, Zn, Mn dan Cu dalam jumlah yang terlalu besar, akibatnya juga menjadi racun bagi tanaman. Untuk pengelolaan pH tanah yang berbeda-beda dalam suatu agroekosistem maka apabila suatu lahan digunakan untuk pertanian maka pemilihan jenis tanamannya disesuaikan dengan pH tanah apakah tanaman yang diusahakan sesuai dan mampu bertahan dengan pH tertentu. c) Ketersediaan Unsur Hara

Unsur hara yang digunakan tanaman untuk proses pertumbuhan dan perkembangannya diperoleh dari beberapa sumber antara lain : Bahan organik, mineral alami, unsur hara yang terjerap atau terikat, dan pemberian pupuk kimia. Pada lahan dengan pengolahan secara intensif sumber unsur haranya berasal dari input-input kimiawi berupa pupuk anorganik, petani kurang menerapkan tambahan bahan organic seperti aplikasi pupuk kandang dan seresah dari tanaman yang diusahkan., sehingga petani sangat berketergantungan dengan pupuk kimia, padahal penggunaan pupuk kimia berlebihan dapat menyebabkan kesuburan tanah menurun. Terkadang nampak gejala defisiensi unsur hara pada tanaman yang diusahakan dan petani mengatasinya dengan aplikasi pupuk kimia yang banyak mengandung unsure hara yang kurang tadi, misalnya tanaman kekurangan unsure N maka petani mengaplikasikan pupuk urea sebagai penunjang ketersediaan unsure N yang kurang tadi, begitupula dengan unsure-unsur lainnya. 2. Dari Segi Fisika Tanah a) Kondisi kepadatan tanah Widiarto (2008) menyatakan bahwa, Bahan organik dapat menurunkan BI dan tanah yang memiliki nilai BI kurang dari satu merupakan tanah yang memiliki bahan organik tanah sedang sampai tinggi. Selain itu, Nilai BI untuk tekstur berpasir antara 1,5 1,8 g / m3, Nilai BI untuk tekstur berlempung antara 1,3 1,6 g / m3 dan Nilai BI untuk tekstur berliat antara 1,1 1,4 g / m3 merupakan nilai BI yang dijumpai pada tanah yang masih alami atau tanah yang tidak mengalami pemadatan. Bobot isi tanah di lahan dengan pengolahan intensif biasanya memiliki nilai BI tinggi karena tanah telah mengalami pemadatan akibat penggunaan alat-alat berat untuk pengolahan tanahnya. Sedangkan untuk nilai BJ tanah, menurut literature (Anonymous, 2010) menyatakan bahwa, Pada tanah secara umum nilainya BJ antara 2,6 2,7 g.cm-3, bila semakin banyak kandungan BO, nilai BJ semakin kecil. Pada lahan dengan pengolahan intensif memiliki BJ bisa lebih dari 2,6 apabila pemadatan tanah yang terjadi amat tinggi. Apabila nilai BJ terlalu tinggi juga

berpengaruh terhadap penentuan laju sedimentasi serta pergerakan partikel oleh air dan angin. b) Kedalaman efektif tanah

Gambar 13. Kedalaman Efektif Tanah Kedalaman efektif adalah kedalaman tanah yang masih dapat ditembus oleh akar tanaman. Pengamatan kedalaman efektif dilakukan dengan mengamati penyebaran akar tanaman. Banyakya perakaran, baik akar halus maupun akar kasar, serta dalamnya akar-akar tersebut dapat menembus tanah, dan bila tidak dijumpai akar tanaman maka kedalaman efektif ditentukan berdasarkan kedalaman solum tanah (Hardjowigeno, 2007). Pada lahan dengan sistem pengolahan intensif terkadang memiliki sebaran perakaran yang cukup tinggi karena tanaman yang diusahakan dalam kurun waktu yang lama hanya satu komoditi saja. c) Erosi Tanah Erosi adalah terangkutnya atau terkikisnya tanah atau bagian tanah ke tempat lain. Meningkatnya erosi dapat diakibatkan oleh hilangnya vegetasi penutup tanah dan kegiatan pertanian yang tidak mengindahkan kaidah konservasi tanah. Erosi tersebut umumnya mengakibatkan hilangnya tanah lapisan atas yang subur dan baik

untuk pertumbuhan tanaman. Oleh sebab itu erosi mengakibatkan terjadinya kemunduran sifat-sifat fisik dan kimia tanah. Di lahan pertanian dengan pengolahan intensif, khususnya praktek penebangan hutan untuk pembukaan lahan baru memiliki tingkat kerusakan lingkungan yang amat tinggi. Pembukaan hutan tersebut merupakan tindakan eksploitasi lahan yang berlebihan, perluasan tanaman, penggundulan hutan, telah berdampak pada keberlangsungan hidup biota yang berada di bumi ini. Bila kondisi tersebut diatas terus berlangsung dengan cara tidak terkendali, maka dikhawatirkan akan bertambahnya jumlah lahan kritis dan kerusakan dalam suatu wilayah daerah aliran sungai (DAS). Kerusakan ini dapat berupa degradasi lapisan tanah (erosi), kesuburan tanah, longsor dan sedimentasi yang tinggi dalam sungai, bencana banjir, disribusi dan jumlah atau kualitas aliran air sungai akan menurun. Dengan vegetasi yang hanya satu macam pada satu areal lahan menyebabkan tidak adanya tutupan lahan lain sehingga tidak dapat melindungi tanah dari daya pukul air hujan secara langsung ke tanah, hal tersebut mengakibatkan laju erosi cenderung tinggi. 3. Dari Segi Biologi Tanah a) Keanekaragaman biota dan fauna tanah, ditunjukkan dengan adanya kascing Biota tanah memegang peranan penting dalam siklus hara di dalam tanah, sehingga dalam jangka panjang sangat mempengaruhi keberlanjutan produktivitas lahan. Salah satu biota tanah yang paling berperan yaitu cacing tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cacing tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat kimia, fisik, dan biologis tanah. Kascing (pupuk organik bekas cacing atau campuran bahan organik sisa makanan cacing dan kotoran cacing) mempunyai kadar hara N, P dan kadar hara bahan organik semula, meningkatkan porositas tanah (pori K 2,5 kali serta total

dan pori drainase cepat meningkat 1,15 kali). Gambar 14. Organisme dalam Tanah Cacing jenis penggali tanah yang hidup aktif dalam tanah, walaupun makanannya berupa bahan organik di permukaan tanah dan ada pula dari akar-akar yang mati di dalam tanah. Kelompok cacing ini berperanan penting dalam mencampur seresah yang ada di atas tanah dengan tanah lapisan bawah, dan meninggalkan liang dalam tanah. Kelompok cacing ini membuang kotorannya dalam tanah, atau di atas permukaan tanah. Kotoran cacing ini lebih kaya akan karbon (C) dan hara lainnya dari pada tanah di sekitarnya. (Hairiah, 2004). Pada lahan dengan pengolahan intensif, jarang terdapat seresah pada lahan tersebut sehingga keberadaan biota tanah seperti cacing tanah sedikit, padahal aktifitas cacing tanah dapat memperbaiki sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah, seperti meningkatkan kandungan unsur hara, mendekomposisikan bahan organik tanah, merangsang granulasi tanah dan sebagainya. Untuk menggunakan lahan pada daerah hulu secara rasional maka diperlukan sistem penggunaan lahan yang menerapkan kaidah-kaidah konservasi, produktif dan pemanfatan teknologi yang ramah lingkungan. Dengan demikian akan mewujudkan sistem pertanian yang tangguh dan secara menyeluruh menciptakan pengelolaan sumberdaya alam dalam suatu agroekosistem berkelanjutan. Deskripsi tersebut menggambarkan kerusakan tanah akibat pemakaian bahan kimia yang intensif. Untuk itu perlu suatu manajemen untuk mengelola agroekosistem untuk memperbaiki kualitas tanah. Sehingga bisa mencapai agroekosistem yang berkelanjutan. Agroekosistem merupakan ekosistem yang dimodifikasi dan dimanfaatkan secara langsung atau tidak langsung oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan akan pangan dan atau sandang. Karakteristik esensial dari suatu agroekosistem terdiri dari empat sifat utama yaitu produktivitas (productivity), kestabilan (stability),

keberlanjutan (sustainability) dan kemerataan (equitability). Dengan menggunakan manajemen agroekosistem

2.7 Kriteria Indicator dalam Pengelolaan Agroekosistem yang Sehat dan Berkelanjutan Pengelolaan pertanian berwawasan lingkungan dilakukan melalui pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal, lestari dan menguntungkan, sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kepentingan generasi sekarang dan generasi mendatang. Kriteria/indikator agroekosistem tersebut dikatakan sehat : 1. Dari Segi Kimia Tanah a) Bahan Organik Tanah Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Sumber primer bahan organik tanah dapat berasal dari Seresah yang merupakan bagian mati tanaman berupa daun, cabang, ranting, bunga dan buah yang gugur dan tinggal di permukaan tanah baik yang masih utuh ataupun telah sebagian mengalami pelapukan. Dalam pengelolaan bahan organik tanah, sumbernya juga bisa berasal dari pemberian pupuk organik berupa pupuk kandang, pupuk hijau dan kompos, serta pupuk hayati (inokulan). Bahan organic tersebut berperan langsung terhadap perbaikan sifat-sifat tanah baik dari segi kimia, fisika maupun biologinya, diantaranya : o Memengaruhi warna tanah menjadi coklat-hitam o Memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah o Meningkatkan daya tanah menahan air sehingga drainase tidak berlebihan, kelembapan dan tempratur tanah menjadi stabil.

o Sumber energi dan hara bagi jasad biologis tanah terutama heterotrofik. b) pH Tanah (Kemasaman Tanah) dan Adanya Unsur Beracun Tanah bersifat asam dapat disebabkan karena berkurangnya kation Kalsium, Magnesium, Kalium dan Natrium. Unsur-unsur tersebut terbawa oleh aliran air kelapisan tanah yang lebih bawah atau hilang diserap oleh tanaman. pH tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi tanaman. Pada tanah asam banyak ditemukan unsur alumunium yang selain bersifat racun juga mengikat phosphor, sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Pada tanah asam unsur-unsur mikro menjadi mudah larut sehingga ditemukan unsur mikro seperti Fe, Zn, Mn dan Cu dalam jumlah yang terlalu besar, akibatnya juga menjadi racun bagi tanaman. Tetapi dengan pH yang agak masam belum tentu kebutuhan tanaman terhadap pH tanah tidak cocok karena itu tergantung dari komoditas tanaman budidaya yang dibudidayakan. Untuk pengelolaan pH tanah yang berbeda-beda dalam suatu agroekosistem maka apabila suatu lahan digunakan untuk pertanian maka pemilihan jenis tanamannya disesuaikan dengan pH tanah apakah tanaman yang diusahakan sesuai dan mampu bertahan dengan pH tertentu c) Ketersediaan Unsur Hara Unsur hara yang digunakan tanaman untuk proses pertumbuhan dan perkembangannya diperoleh dari beberapa sumber antara lain : Bahan organik, mineral alami, unsur hara yang terikat, dan pemberian pupuk terjerap atau kimia. Pada unsur hara

lahan pertanian diketahui sumber berasal dari bahan organik, karena tersebut banyak ditemukan seresah merupakan sumber bahan organic aplikasi pupuk kandang hara juga yang

pada lokasi yang selain itu

menambah berfungsi

ketersediaan

unsur

ganda, diserap oleh tanaman dan memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Gambar 15. Ciri Kekurangan Unsur Hara 2. Dari Segi Fisika Tanah a) Kondisi kepadatan tanah Widiarto (2008) menyatakan bahwa, Bahan organik dapat menurunkan BI dan tanah yang memiliki nilai BI kurang dari satu merupakan tanah yang memiliki bahan organik tanah sedang sampai tinggi. Selain itu, Nilai BI untuk tekstur berpasir antara 1,5 1,8 g / m3, Nilai BI untuk tekstur berlempung antara 1,3 1,6 g / m3 dan Nilai BI untuk tekstur berliat antara 1,1 1,4 g / m3 merupakan nilai BI yang dijumpai pada tanah yang masih alami atau tanah yang tidak mengalami pemadatan. b) Kedalaman efektif tanah Kedalaman efektif adalah kedalaman tanah yang masih dapat ditembus oleh akar tanaman. Pengamatan kedalaman efektif dilakukan dengan mengamati penyebaran akar tanaman. Banyakya perakaran, baik akar halus maupun akar kasar, serta dalamnya akar-akar tersebut dapat menembus tanah, dan bila tidak dijumpai akar tanaman maka kedalaman efektif ditentukan berdasarkan kedalaman solum tanah (Hardjowigeno, 2007). c) Erosi Tanah Erosi adalah terangkutnya atau terkikisnya tanah atau bagian tanah ke tempat lain. Meningkatnya erosi dapat diakibatkan oleh hilangnya vegetasi penutup tanah dan kegiatan pertanian yang tidak mengindahkan kaidah konservasi tanah. Erosi tersebut umumnya mengakibatkan hilangnya tanah lapisan atas yang subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman. Oleh sebab itu erosi mengakibatkan terjadinya kemunduran sifat-sifat fisik dan kimia tanah. 3. Dari Segi Biologi Tanah

a) Keanekaragaman biota dan fauna tanah Ditunjukkan dengan adanya kascing. Biota tanah memegang peranan penting dalam siklus hara di dalam tanah, sehingga dalam jangka panjang sangat mempengaruhi keberlanjutan produktivitas lahan. Salah satu biota tanah yang paling berperan yaitu cacing tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cacing tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat kimia, fisik, dan biologis tanah. Kascing (pupuk organik bekas cacing atau campuran bahan organik sisa makanan cacing dan kotoran cacing) mempunyai kadar hara N, P dan K 2,5 kali kadar hara bahan organik semula, serta meningkatkan porositas tanah (pori total dan pori drainase cepat meningkat 1,15 kali). Cacing jenis penggali tanah yang hidup aktif dalam tanah, walaupun makanannya berupa bahan organik di permukaan tanah dan ada pula dari akar-akar yang mati di dalam tanah. Kelompok cacing ini berperanan penting dalam mencampur seresah yang ada di atas tanah dengan tanah lapisan bawah, dan meninggalkan liang dalam tanah. Kelompok cacing ini membuang kotorannya dalam tanah, atau di atas permukaan tanah. Kotoran cacing ini lebih kaya akan karbon (C) dan hara lainnya dari pada tanah di sekitarnya. (Hairiah, 2004).

3. METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat Praktikum lapang mata kuliah Manajemen Agroekosistem dilaksanakan di Desa Bayem, Kecamatan Kasembon Kabupaten Malang pada hari Minggu tanggal 29 April 2012.

Pelaksanaan Praktikum Manajemen Agroekosistem mengacu pada tiga aspek yaitu aspek Hama dan Penyakit Tanaman, aspek Budidaya Pertanian, dan aspek Tanah. Pada aspek Hama dan Penyakit Tanaman, praktikum dilakukan dengan mengambil sampel serangga dan penyakit utama tanaman padi non PHT yang kemudian diidentifikasikan untuk mengetahui hama, penyakit dan musuh alami tanaman budidaya tersebut. Sementara pada aspek Budidaya Pertanian, dilakukan pengamatan dan wawancara kepada petani padi untuk mengetahui keberlanjutan pertanian di daerah setempat dari kondisi sosial, ekonomi dan budaya petani, cara budidaya padi yang dilakukan petani, produktivitas komoditas padi yang dihasilkan, dan masalah-masalah utama yang dihadapi petani. Sedangkan pada aspek Tanah dilakukan pengamatan dan identifikasi terhadap tanah dari aspek fisik, kimia dan biologi tanah.

3.2 Alat dan Bahan o Aspek HPT Sweep net Pan trap Fial film Plastik Kapas Tisu Waterpass : Untuk menangkap hama di udara : Untuk menangkap hama di tanah : Sebagai wadah hama setelah di tangkap : Sebagai wadah hama setelah di tangkap : Alat untuk membius hama dengan alkohol : Alat untuk mebius hama dengan alcohol : Untuk menghisap hama yang berukuran kecil

Alkohol 70% : Bahan untuk membius hama Detergen Kamera o Aspek BP Kuisioner : sebagai acuan pertanyaan kepada narasumber (petani) : Untuk membius hama dan bersifat mematikan : Alat untuk dokumentasi

Tipe recorder : untuk perekam suara Alat tulis Kamera : untuk mencatat data informasi : dokumentasi

o Aspek Tanah Ring Kamera Penggaris Gunting Pisau Plastik Palu Pinset : Untuk mengambil sampel tanah : Untuk dokumentasi : Untuk mengukur ketinggian seresah : Untuk mengguting rumput : Untuk memotong rumput : Untuk menampung sampel tanah : Unuk memukul ring : Untuk mengambil cacing dan mikroorganisme lain

3.3 Cara Kerja a. Lapang o Aspek HPT Mempersiapkan alat dan bahan

Untuk pan trap

Untuk sweep net

Menancapkan 2 batang kayu untuk tumpangan pan trap

Melakukan penangkapan dengan sweep net dengan 1 kali ayunan Memaasang pan trap pada 2 kayu tersebut Kemudian diambil serangga yang terperangkap pada sweep net Pan trap di isi dengan air dengan campuran detergen Dan dilakukan pembiusan atau pengawetan dengan menggunakan alcohol 70 % Dan di tinggalkan selama 24 jam

Dan dilakukan pengamatan pada setiap serangga yang di dapat

Setelah 24 jam dilakukann pengamatan pada serangga yang terjebak

Dilakukan pengklasifikasian tiap serangga

Dilakukan pengklasifikasian tiap serangga

Hasil Hasil

o Aspek BP Persiapkan alat dan bahan

Lakukan wawancara pada petani dengan mengacu pada kuisioner

Rekam dan catat hasil wawancara

Dokumentasikan lahan petani

Hasil o Aspek Tanah Persiapan alat dan bahan

Fisika

Biologi

Kimia

Mengambil sampel tanah

Membuat plot pengamatan

Mengambil sampel tanah di empat titik dalam

Analisis di Lab Menghitung cacing dan ketebalan seresah

satu satuan lahan

Disimpan dalam mengambil seresah dan kascing plastik dan diberi label

Disimpan dalam plastik dan diberi label

Analisis di Lab

Pengamatan Lab

b. Laboratorium o Aspek Tanah Pengujian Fisika Tanah BI dan BJ Ambil sampel tanah

Taruh dalam mangkok

Timbang Berat basah sampel Oven bahan dalam pemanas 110oC selama 24 jam

Berat Kering didapat, hitung Kadar air

Hitung Berat Isi

Ambil 20 gram sampel dari oven taruh dalam labu

Hitung berat : Labu

Labu + Sampel

Tambah dengan air 100 ml

Hitung berat Labu + Sampel + Air Hitung Berat Jenis Hitung % Porositas

Pengujian Kimia Tanah PH Timbang 10gr komposit kasar Masukkan kedalam fial film

Tambahkan Aquades 10 ml Dikocok selama 1 jam

C-organik Timbang komposit halus 0,5gr Masukkan kedalam tabung erlenmeyer Tambahkan 10 ml K2Cr2O7 Tambahkan H2SO4 Diamkan 30 menit (di ruang asam) Tambahkan aquades 200ml Tambahkan H3PO4 85% 10ml Indikator difenilamina 30 tetes

Pengujian Biologi Tanah Seresah Timbang seresah Bungkus dengan kertas Masuukan kedalam oven Oven selama 3 hari Timbang kembali sersah kering dan catat

Understorey Timbang understorey Bungkus dengan kertas

Masukkan kedalam oven Oven selama 3 hari Timbang berat kering understorey Catat hasil Kascing Timbang kascing Masukkan pada kertas Oven selama 24 jam Timmbang berat kering kascing Catat hasil

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Umum Lahan o Pemeliharaan Tanaman Pemeliharan tanaman padi varietas inpari pada lahan pertanian yang telah diamati, terdapat beberapa aspek. Aspek penyediaan air untuk tanaman padi dilakukan dengan cara pengaliran air ke lahan pertanian. Metode irigasi yang digunakan adalah sistem irigasi permukaan dengan cara border. Sistem irigasi permukaan border dilakukan dengan membuat saluran irigasi di pematang sawah yang menjadi temapat aliran air. Lebar saluran tersebut kurang lebih satu jengkal tangan orang dewasa. Irigasi dilakuakan selain untuk memenuhi kebutuhan air tanaman, irigasi juga dilakuakan ketika akan menjelang penyiangan gulma. Pemeliharaan tanaman padi dari sisi perlindungan dari hama, yaitu dengan melakukan perpaduan penggunaan pestisida anorganik dan pengaplikasian musuh alami. Pestisida anorganik yang digunakan oleh petani tersebut adalah pestisida untuk mengendalikan tingkat populasi hama wereng cokelat (Nilaparvata lugens). Pestisida tersebut adalah perpaduan atau pencampuran dari beberapa merk pestisida dengan dosis tertentu. Selain itu, pengendalian serangga hama wereng cokelat juga dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami serangga hama tersebut. Pengendalian tersebut dilakukan dengan kata lain seperti budidaya seranga musuh alami dari serangga hama wereng cokelat pada saat sebelum tanam padi. Serangga musuh alami tersebut diletakkan di tengah sawah dengan jumlah beberapa. Rumah musuh alami tersebut berupa botol air minum mineral yang disangga dengan menggunakana tiang bambu dengan ukuran ketinggian kurang lebih 1-1,5 m. Pada aspek tanah, pemeliharaan tanaman padi juga dilakukan dengan mengaplikasikan perpaduan pupuk. Pupuk yang digunakan terdiri dari pupuk anorganik dan pupuk organik (berupa kotoran sapi). Pemupukan dilakukan pada saat sebelum tanam, setelah pengolahan. Pemupukan juga dilakukan pada saat masa vegetatif tanaman padi berlangsung. o Sistem Tanam

Sistem tanam pada lahan pertanian di Desa Bayem menggunakan sistem tanam monokultur dengan jajar legowo. Jajar legowo yang dimaksud adalah sejumlah tanaman padi pada lahan yang memiliki pola. Pola tersebut yaitu pola yang mana memiliki jarak tanam 20 x 10 cm dan untuk jarak antar

kelompok baris yaitu 40 cm. Setiap lubang tanam, ditanam dengan jumlah 1 sampai 2 tanaman. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangbiakan tanaman padi dibandingkan dengan 5 sampai lebih tanaman per lubang tanam. Pola ini memiliki kesempatan bahwa cahaya mampu masuk ke dalam ruang antar tanaman. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman padi. Selain itu, dengan adanya cahaya yang masuk dalam ruang antar tanaman, hama serangga wereng cokelat akan berkurang. Pada setia tahunnya, tidak dilakukan rotasi tanaman. Dengan kata lain setiap tahun tanaman yang di usahakan adalah tanaman padi. Hal ini dilakukan karena lahan pertanian di daerah tersebut memiliki kecukupan air irigasi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan air tanaman padi pada saat musim kemarau.

o Hasil Pengamatan Keanekaragaman Arthropoda

Jumlah Sweptnet Hama Musuh Alami Persentase (%) Hama Musuh Alami 1 1 50 50

Jenis perangkap Pantrap 9 2 81,81 18,18

Tabel 1. Hasil Pengamatan Keanekaragaman Arthropoda

Pada studi lapang yang telah dilakukan diKasembon telah didapatkan hama dan musuh alami: Pada Pantrap : -Hama = 1 ( Belalang Hijau) =1 (Semut)

-Musuh alami

Sehingga diperoleh prosentase hama sebesar 50% dan musuh alami 50% dari perhitungan: Hama Musuh alami Sweepnet 3 ( Wereng ) -Musuh alami = 1 (Tomcat) 1 ( capung) Hama Musuh alami : : %= %= 100%= 81,81% 100%= 18,18% : : : -Hama %= 100%= 50% %= 100%= 50% = 6 ( Belalang Hijau)

Klasifikasi hama dan musuh alami:

Belalang Hijau Kingdom Phylum Class Ordo Family Genus Species :Animalia :Arthropoda :Insecta : Orthoptera :Acrididae :Oxya :Oxya chinensis Gambar 16. Belalang Hijau Semut Kerajaan Filum Kelas Ordo Famili Tomcat Kingdom : Animalia Phylum Class Ordo Family : Animalia : Arthropoda : Insekta : Hymenoptera : Formicidae Gambar 17. Semut

: Arthropoda : Insecta : Coleoptera : Staphylinidae Gambar 18. Tomcat Wereng Kerajaan Filum Insecta Hemiptera Delphacidae : Animalia : Arthropoda

Kelas Ordo Famili Genus

: : : :

Nilaparvata Spesies : N. lugens Gambar 19. Wereng Pada lahan yang kelompok kami amati adalah lahan non PHT. Pengendalian hama dilakukan dengan penyemprotan pestisida kimia. Pada lahan ini terdapat hama yang diperoleh dari pantrap satu ekor dan musuh alami satu ekor, sedangkan pada sweepnet diperoleh hama sebanyak sembilan ekor dan dua musuh alami. Pada pantrap diperoleh keseimbangan karena perbandingan hama dan musuh alami yang sama, sedangkan pada sweepnet terjadi ketidak seimbangan karena diperoleh hama lebih banyak dari pada musuh alami. Hal ini akan menyebabkan ledakkan hama pada lahan tersebut, apalagi dengan penggunaan pestisida yang digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan hama. o Hasil Perhitungan Intensitas Penyakit
3 4

Penyakit tanaman

: Karat daun

Banyak rumpun dalam satu petak: Lebar Panjang : 38 rumpun :182 rumpun
2 1

2 Gambar 20. Bagan Petak Pengamatan 1

Banyaknya rumpun dalam 1 petak = 182 38 =6916 Perhitungan penyakit dilakukan pada 10% dan jumlah rumpun 1 petak 10% = 10/100 6916 =691,6 rumpun

Dan 10% tersebut dibagi dibagi menjadi 4 sample pengamatan 691,6/4 = 172,9 rumpun Perhitungan tiap sampel Sampel 1 =

I= = =7,5%

100%

Sampel 2 = I= = = 15% Sampel 3 = I= = =11% Sampel 4= I= = =11, 3% Total presentasi dari 4 sampel dalam 1 petak pengamatan yaitu 44,8% dari 172,9% o Hasil Pengukuran Kondisi Tanah Aspek Biologi Dari pengamatan yang dilakukan ditemukan beberapa jenis makrofauna yang ada di dalam tanah, seperti cacing, rayap, kelabang. Selain itu ditemukan juga telur cacing (kokon), serta cascingnya. Vegetasi yang ada di 100% 100% 100%

daerah kasembon adalah jati, sengon, sonokeling, kopi, padi dengan sistem agroforestry.

BIOLOGI TANAH Kascing : 0,63 gram Fauna tanah : Cacing : 22 ekor Cocon : 5 Rayap : 4 ekor Kelabang : 1 ekor

Understory : Frame 1

Frame 2

Seresah : Frame 1 :

Frame 2 :

Ketebalan Seresah

Titik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Rata rata

Frame 1 3 2.5 3 1.5 1 2 1 1.5 1.5 2 19 1.9

Frame 2 1 0.5 2 1 0.5 1.5 0.5 0.5 1 1 9.5 0.95

Tabel 2. Hasil Pengukuran Ketebalan Seresah Aspek Fisika FISIKA TANAH BJ Perhitungan Bobot Jenis Tanah Kelas I3 & J Labu 54,34 gr Labu + To 74,34 gr Labu + To + 100 ml 165,64 gr Bobot Jenis 2,298 gr/cm3

Tabel 3. Perhitungan Bobot Jenis Tanah Keterangan : To adalah tanah yang telah di Oven. Pada praktikum ini digunakan 20 gr To.

Rumus Bobot Jenis :


Bobot Jenis =

Bobot Jenis = = a. % Porositas


% Porositas = 1 X

= = 2,298 gr / cm3

X 100 %

1. % Porositas = 1 X 77,89 % 2. % Porositas = 1 X 84,68 % 3. % Porositas = 1 X 90,73 % 4. % Porositas = 1 X 89,12 % b. Seresah Bobot Basah 1. 3,2 gr 2. 3,7 gr 3. 4,6 gr 4. 4,2 gr Bobot Setelah di Oven 1. 2,4 gr 2. 2,0 gr 3. 3,0 gr 4. 1,8 gr : :

X 100 % = 1 X

X 100 % =

X 100 % = 1 X

X 100 % =

X 100 % = 1 X

X 100 % =

X 100 % = 1 X

X 100 % =

Perhitungan Bobot Isi Diameter Panjang ( cm ) 5,5 5,5 5,5 5,5 ( cm ) 4,8 4,8 4,8 4,8 Berat Total 203,8 221,12 204,81 232,51 Tb +K 175,98 194,02 177,71 205,41 Massa Total To + K 106,12 124,16 88,89 119,90 K 33 33 33 33 BI ( g / cm3 ) 1,79 1,946 2,085 2,048

No. 1. 2. 3. 4.

Tabel 4. Perhitungan Bobot Isi Keterangan : Tb To K Rumus BI :


KA =

: Berat Basah Tanah sebelum di Oven : Berat Kering Tanah setelah di Oven : Berat Kaleng tempat peletakkan tanah Rumus Kadar Air

BI 1 =

Kadar Air 1. KA = = 2. KA = = 3. KA =

: =

= 0,955 gram / gram

= 0,766 gram / gram

= 4. KA = =

= 32,93 gram / gram

= 0,984 gram / gram

Vt ( Volume Tanah ) : Vt = x diameter ^ 2 x tinggi tabung = x 3,14 x (5,5)^2 x 4,8 = 113,982 cm Berat Isi : 1. BI = = 2. BI = = 3. BI = = 4. BI = = = = = =
( )

=
( Labu Vt

= 1,79 gr / cm3
o Air 100 ml KA) 1 KA

=
( Labu Vt

= 1,946 gr / cm3
o Air 100 ml KA) 1 KA

=
( Labu Vt

= 2,085 gr / cm3
o Air 100 ml KA) 1 KA

= 2,048 gr / cm3

Aspek Kimia KIMIA TANAH C-Organik

ph = 6,46 Potensial redoks = 296 1 Dari segi kimia tanah a. Bahan organik tanah Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Pada lahan pertanian di Kasembon, terdapat seresah daun yang merupakan sumber bahan organik. Menurut Widiarti (2008) tanah yang sehat memiliki kandungan bahan organik sekitar 5 %, sedangkan tanah yang tidak sehat kandungan bahan organiknya rendah. Sedangkan Kandungan bahan organik di Kasembon adalah 0,469%. Jadi dapat diketahui bahwa tanah daerah Kasembon tidak sehat. b. PH tanah pH tanah di daerah Kasembon 6,46 hal ini disebabkan karena banyaknya seresah yang mana seresah tersebut akan menjadi BO dan BO dapat menurunkan PH karena bersifat asam. Tanah bersifat masam disebabkan karena berkurangnya Kation Kalsium,Magnesium, Kalium dan Natrium. Tetapi dengan pH yang masam, belum tentu kebutuhan tanaman terhadap tanah tidak cocok, hal itu tergantung pada jenis tanamannya.

2. dari segi Fisika Tanah Widiarto (2008) menyatakan bahwa, Bahan Organik dapat menurunkan BI, dan tanah yang memiliki nilai BI <1 merupakan tanah yang memiliki Bahan Organik sedang sampai tinggi. Nilai BI untuk tekstur berpasir antara 1,5-1,8 g/m3, sedangkan tanah bertekstur lempung antara 1,3-1,6 g/m3, dan tekstur berliat antara 1,1-1,4 g/m3. Bobot isi tanah di lahan padi di daerah Kasembon >1 yaitu 1,345

g/m2. Hal ini dikarenakan bahan organik yang terkandung dalam tanah di Kasembon, masih sangat rendah. Sedangkan untuk BJ tanah, menurut literatur, menytakan bahwa keadaan tanah secara umum nila Bj antara 2,6-2,7 g/m3. Bila semakin banyak kandungan BO, maka nilai BJ semakin kecil. Pada desa Kasembon, nilai BJ adalah 2,21 g/m3. Berarti didaerah tersebut masih belum normal.

3. Dari segi Biologi a. Keanekaragaman biota dan fauna tanah yang ditunjukkan dengan adanya cascing Biota tanah memiliki peranan penting dalam siklus hara didalam tanah. Sehingga dalam jangka panjang dapat sangat mempengaruhi keberlanjutan produktifitas lahan. Salah satu biota tanah yang paling berperan yaitu cacing tanah. Cascing (pupuk organik bekas cacing) mempunyai kadar hara N,P, dan K 2,5 kali kadar hara bahan organik semula, serta meningkatkan porositas tanah (pori total dan pori drainase cepat meningkat 1,15 kali). Pada lahan pertanian daerah kasembon, ditemukan hanya sedikit cascing yaitu 0,63 gr. Menurut Hairiah 2004, kotoran cacing kaya akan karbon (C) dan hara lainnya. Sehingga dapat diketahui bahwa daerah di kasembon kandungan karbon (C ) rendah.

. o Hasil Tanah dan Pemasaran Hasil produksi padi yang diperoleh dari luas lahan 80 m2 adalah sekitar 7 kw 80 kg dengan harga jual gabah basah dipasaran Rp 2000-2200/kg. Keuntungan yang diperoleh dengan satu kali panen padi adalah sekitar 1,6-2 juta.

4.2 Analisis Keadaan Agroekosistem Komponen penyusun agroekosistem pada lahan tersebut cukup baik meskipun ada beberapa petani yang menggunakan pestisida anorganik dalam

mengendalikan hama ataupun juga penyakit yang menyerang tanaman padi. Selain

itu, masih adanya penggunaan pupuk anorganik seperti NPK dan lain sebagainya cukup mempengaruhi jumlah komponen penyusun agroekosistem. Dilihat aspek hpt di dapatkan bahwa keadaan agroekosistem pada lahan pertanian masih belum stabil atau belum seimbang, di karenakan jumlah persentase serangga hama yang didapatkan dari sweepnet lebih besar dari musuh alami. Sedangkan pada pan trap yang ditempatkan pada lahan di dapatkan hama serangga dan musuh alami masih seimbang. Kecilnya jumlah musuh alami yang di tangkap di sweepnet menunjukkan bahwa banyak hama yang hidup di lahan pertanian tersebut, keberadaan musuh alami sangat membantu dalam pemberantasan hama di lapang, karena musuh alami terdiri dari predator pemakan hama, dan beberapa parasit yang menginfeksi hama. Agroekosistem dikatakan seimbang jika musuh alami, hama, dan serangga lain jumlahnya sama didalamnya, Jika hal tersebut bisa dicapai maka akan tercipta keseimbangan ekosistem di lahan tersebut. Dilihat dari aspek tanah secara keseluruhan hasil analisis, tanah dilahan padi yang kami amati tergolong kurang subur dikarenakan bahan organic yang <1 %, dari segi BI dan BJ hasil analisisnya memiliki nilai yang tinggi karena bahan organiknya rendah. Seperti kitaketahui nilai bahan organic dan BI-BJ berbanding terbalik. 4.3 Rekomendasi Pertanian organik adalah salah satu aspek yang perlu diterapakan pada lahan pertanian padi tersebut. Hal itu mencakup lima hal, yaitu kuantitas, kualitas, stabilitas, kontunuitas dan profititas. Meskipun pertanian di Desa tersbut sudah mulai mengarah pada pertanian organik, namun perlu adanya penggunaan bahan organik secara keseluruhan dalam praktek lapang pertaniaannya. Hal itu seperti investasi dalam jangka panjang. Pengendalian OPT bertujuan untuk mempertahankan produksi pertanian agar produksi tetap optimal, pengendalian hama adalah usaha usaha manusia untuk menekan populasi hama sampai dibawah ambang batas yang merugikan secara ekonomi. Dengan menggunakan sistem pengendalian hama terpadu maka dapat mengatasi permasalahan ketidakseimbangan agoekosistem di lahan , pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), adalah memilih suatu cara atau menggabungkan beberapa cara pengendalian, sehingga tidak merugikan secara ekonomis, biologi dan

ekologi. Dengan tingkat kesadaran yang tinggi tentang lingkungan yang sehat dan pertanian yang berkelanjutan diperlukan cara pengendalian yang tepat dan ramah lingkungan seperti pemanfaatan musuh alami untuk mengendalikan hama yang ada di lahan. Selain itu perlu adanya penanganan pH yang terlalu masam perlu adanya pengapuran bila tanaman yang ditanam memerlukan pH yang netral, karena tidak semua tanaman dapat beradaptasi dengan pH yang masam.

PENUTUP
5.1 Kesimpulan Agroekosistem pertanian di Desa Bayem kecamatan Kasembon jika dilihat dari aspek bp masih dalam kategori yang rendah karena pada aspek budidayanya masih adanya penggunaan pupuk anorganik dalam pengolahan tanahnya. Jika dilihat dari aspek hpt di dapatkan hasil bahwa keadaan agroekosistem pada lahan pertanian di desa tersebut masih belum stabil atau belum seimbang, di karenakan jumlah persentase serangga hama yang didapatkan di lahan lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah musuh alaminya. Dilihat dari aspek tanah secara keseluruhan hasil analisis, tanah dilahan padi yang kami amati tergolong kurang subur dikarenakan bahan organik yang <1 %. Meskipun pertanian di Desa tersebut sudah mulai mengarah pada pertanian organik, namun perlu adanya penggunaan bahan organik secara keseluruhan dalam praktek lapang pertaniaannya dan perlu adanya minimalisir penggunaan pestisida anorganik.

5.2 Saran Terhadap Keberlanjutan Agroekosistem

Penggunaan pestisida dan pupuk anorganik sebaiknya diminimalisir sedini mungkin sehingga agroekosistem pertanian di Kasembon akan menjadi lebih baik dan seimbang.

5.3 Saran Praktikum Untuk praktikum selanjutnya alangkah baiknya jika dalam penyampaian tujuan praktikum lebih diperjelas. Tolong juga dalam pembagian kelompok PHT dan non-PHT lebih dikoordinir dengan baik sehingga tidak saling tertukar data yang diperoleh.

DAFTAR PUSTAKA Bamualim, A. 2004. Strategi Pengembangan Peternakan pada Daerah Kering. Makalah Seminar Nasional Pengembangan Peternakan Berwawasan Lingkungan. IPB. Bogor Channa,N.B., Bambaradeniya and Felix P.Amarasinghe. 2004. Biodiversity Associated With The Rice Field Agro Ecosystem In Asian Countries : A Brief Review. Ghana, Pakistan, South Afrika, Srilanka, Thailand : IWMI. Cyccu,M. 2000. Keanekaragaman hayati dan pengelolaan serangga hama dalam agroekosistem. Pengukuhan Guru besar. Universitas Sumatera Utara. Departemen Kehutanan. http://www.dephut.org.id/ diakses tanggal 25 Februari 2008 Faizbarzhia. 2010.Evolusi Karbon Tanah. http://www.faizbarzhia.blogspot.com Mei 2012. Hairiah, Kurniatun, dkk. 2004. Ketebalan Seresah sebagai Indikator Daerah Aliran Sungai (DAS) Sehat. FP-UB. Malang. Hardjowigwno, Sarwono dkk.__. Morfologi dan Klasifikasi Tanah Sawah. Diakses 25

Kadekoh, I. 2010. Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Kering Berkelanjutan Dengan Sistem Polikultur. Maredia, K.M., Dakouo, D., and Mota Sanchez, D. 2003. Integrated Pest Management In The Glibal Area. USA : CABI Publishing. Muhammaf arifin. 2012. http://muhammadarifindrprof.blogspot.com/2011/01/59-potensi-danpemanfaatan-musuh-alami. diakses tanggal 28 Mei 2012. Mulyani,A. 2006. Potensi Lahan Kering Masam untuk Pengembangan Pertanian. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Vol 28 (2): 16-17. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Mutmainah, dina. 2009. Pencemaran Dan Kerusakan Lingkungan Pada Agroekosistem Pertanian Lahan Kering. http: . Palembang Nugraheni Endang, Pangaribuan Nurmala. 2007. Pengelolaan lahan pertanian gambut secara berkelanjutan. Universitas Terbuka, Tangerang Selatan, Universitas Pajajaran, Bandung

Prof. Dr. H. Ishak Manti. 2012. http://ishakmanti.blogspot.com/2012/04/orasi-pengukuhanprofesor-riset-bidang_14.html. Diakses tanggal 28 Mei 2012. Southwood, T.R.E. & M.J. Way. 1970. Ecological background to pest management. Dalam Concepts of Pest Management, pp.7-13. R.L. Rabb & F.E. Guthrie, eds. North Carolina State University, Raleigh Stehr, F.W. 1982. Parasitoids and predators in pest management. In: R.L. Metcalf and W.H. Luckmann (Eds.). Introduction to Insect Management. John Wiley and Sons, New York. pp. 135-173. Syam, A. 2003. Sistem Pengelolaan Lahan Kering di Daerah Aliran Sungai Bagian Hulu. Jurnal Litbang Pertanian, 22 (4) : 162-171. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Untung, K., 1993. Konsep Pengendalian Hama terpadu. Andi ofset. Yogyakarta. 150 h Untung,K. 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu (Edisi Kedua). Yogayakarta : Gadjah Mada University Press

http://sulteng.litbang.deptan.go.id/ind/images/stories/bptp/prosiding-%2007/1-4.pdf(29/1/10)