Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS General Anesthesia Pada Operasi Laparotomi Pada Peritonitis Et Causa Perfosi Gaster

DESSY SUPITRA AMIYATI,S.Ked

IDENTITAS PASIEN Nama Pasien : Tn. T Umur : 48 tahun Berat/ tinggi badan : 63 kg/ 165 cm Pekerjaan : Buruh Agama : Islam Alamat : Buana Vista I Blok H No.121 No. RM : 031810 Tgl masuk RS : 18-10-2012 Tgl operasi : 20-10-2012

KEADAAN UMUM Kesadaran Tekanan darah Nadi Suhu Respirasi

: Compos Mentis : 110/80 cmHg : 100 x/menit : 36,5 o C : 33 x/menit

ANAMNESA Keluhan umum

: Nyeri seluruh lapang perut

Riwayat Penyakit Sekarang


Os datang ke RSUD Embung Fatimah dengan keluhan nyeri seluruh lapang perut. Di alami os secara mendadak setelah buang air besar sejak 2 jam yang lalu. BAB nya seperti biasa. Sebelumnya os merasakan nyeri di ulu hati. Os mngeluh perut nya nyeri dan melilit, perut os merasa panas. Os mempunyai riwayat mengkonsumsi jamu pegal linu dan sering telat makan.Selain itu os perokok berat dan mengkonsumsi kurang lebih 2 bungkus rokok per hari. Os mengeluh mual dan muntah. Os tidak demam. Riwayat buang air kecil lancar.

PEMERIKSAAN FISIK
Kepala Mata : Konjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya (+/+), pupil isokor kelopak mata bengkak (-/-), sekret (-/-)

Hidung

Telinga
Mulut Leher

: Bentuk normal, deviasi septum (-), sekret (-) : Bentuk daun telinga normal, pendengaran normal, sekret (-/-) : Bibir kering (+), pucat (-), pecahpecah (-) : Deformitas (-), tanda inflamasi (-), pembesaran kelenjar getah bening (-), kesan leher pendek (+)

Thorax Inspeksi

Palpasi Perkusi Auskultasi

: : dinding dada simetris (+), sikatrik (-), retraksi retraksi (-) : Nyeri tekan (-), fremitus normal kanan dan kiri, Krepitasi (-) : Sonor di seluruh lapang paru : Vesikuler +/+, ronki (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi

: : distensi abdomen (+), darm contour (-), darm steifung (-) : Bising usus (+) menurun, metalic sound (+), borborygmi (-) : Nyeri tekan (+) : Hipertympani di seluruh lapang perut

Ektremitas

Status lokalis

: Akral hangat, edema (-/-), CRT< 2 detik : deformitas (-/-)

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Hematologi Hb : 9,3 g/dL Leukosit : 12.400/UL Hematokrit : 30 % % Trombosit : 322 ribu/UL BT : 3,3 menit CT : 8,6 menit HBsAg : negatif HIV : Non Reaktif

Rontgen Abdomen 3 posisi :

Kesan tampak pneumoperitoneumec perforasi organ berongga

KESIMPULAN
Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik serta laboratorium, maka: Diagnosa pre-operatif : Peritonitis ec Perforasi Gaster : ASA III

Status operatif

TINDAKAN ANESTESI
Keadaan pre-operatif : Pasien sudah terpasang NGT sejak tgl 18 oktober 2012. Keadaan pasien tampak kesakitan, kooperatif, tensi 100/70 cmHg, nadi x/menit Jenis anestesi : Anestesi umum, general endotracheal anestesi dengan ET oral no. 7,5, respirasi kontrol. Premedikasi yang diberikan : Sebelum dilakukan induksi anestesi, diberikan premedikasi berupa ondansetron 4 mg, tramadol 100 mg, midazolam.

Anestesi yang diberikan


Induksi anestesi (jam 14.00) Untuk induksi digunakan propofol 100 mg dan fentanyl 100 mikrogram. Setelah itu pasien diberikan O2 murni, disusul dengan pemberian muscle relaxan roculax terjadi relaksasi kemudian dilakukan intubasi melalui oral dengan ET no.7.5. Setelah dicek pengembangan paru dan suara nafas paru kanan dan kiri sama. ET di fiksasi dan dihubungkan dengan sistem apparatus anestesi. Pernafasan pasien dibantu sampai terjadi pernafasan spontan.

Maintenance
Untuk mempertahankan status anestesi digunakan kombinasi O2 0,65 L/menit dan N2O0,65 L/menit. Sevoflurane 3 %. Selain itu diberikan asam tranexamat 1000 mg. Selama tindakan anestesi berlangsung, tekanan darah dan nadi senantiasa di kontrol setiap 3 menit. Tekanan darah berkisar antara 130-110 dan 11070 cmHg. Nadi berkisar 125- 90 x/menit. Infus RL dan HES 6 %.

Keadaan post operasi :


Operasi selesai dalam waktu 120 menit., tetapi pemberian agent anestesi masih dipertahankan dengan tujuan agar tindakan eksturbasi dalam dilakukan pada keadaan tidak sadar penuh sehingga tidak menimbulkan batuk dan mencegah kejang otot yang dapat menimbulkan gangguan pernafasan, hipoksia dan sianosis. Pasien mengalami SpO2 berkisar 74-83 %. Wheezing (+/+), ronki basah halus (+/+)

Ruang Rumatan : Pasien dipindahkan ke ICU untuk mendapatkan pengawasan yang lebih intensif.

PERSIAPAN PRA ANESTESI


Mempersiapkan mental dan fisik secara optimal dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium dan pemeriksaan lain. Merencanakan dan memilih teknik serta obatobat anestesi yang sesuai dengan fisik dan kehendak pasien. Menentukan status fisik dengan klasifikasi ASA (American Society Anesthesiology) Pada pasien ini ditentukan ASA III

Premedikasi tramadol yang diberikan:

midazolam

ondansetron

Roculax merupakan preparat muscle relaxant atau obat pelumpuh otot, dari jenis rokuronium. Muscle relaxant non depolarisasi. Preparat ini wajib digunakan untuk melemahkan otot-otot pada jalan nafas sehingga memudahkan saat pemasangan alat bantu dalam mempertahankan jalan nafas (dalam kasus ini, nasal endotracheal tube) atau pada operasi perut sehingga organ abdominal tidak keluar dan terjadi relaksasi. Obat ini digunakan tanpa pengenceran, dapat diberikan secara intravena, dengan dosis 0,6 1,0 mg/kgBB.

Propofol tidak merusak fungsi hati dan ginjal. Aliran darah ke otak, metabolisme otak dan tekanan intrakanial akan menurun. Tak jelas adanya interaksi dengan obat pelemas otot. Keuntungan Propofol karena bekerja lebih cepat dari tiopental dan konfusi pasca operasi yang minimal. Terjadi mual, muntah dan sakit kepala mirip dengan thiopental. Cepatnya induksi dan pemulihan dari anestesi berguna dalam pasien rawat jalan yang memerlukan prosedur yang cepat dan singkat. Sediaan : dalam ampul, 200mg/20cc Dosis : 1,5-2,5 mg/kg BB Pemberian : IV

Terapi cairan Loading Maintenance : 2 cc/kgBB = 2 x 63 = 126 cc Stres operasi : operasi besar = 8 cc/kgBB = 8 x 63 = 503 cc Pengganti puasa : lama puasa x maintenance = 8 x 126 cc = 1008 cc EBV : 65 x 63 = 4095 cc ABL : 20 / 100 x 4095 = 819 cc