Anda di halaman 1dari 64

Keselamatan Pasien

Kasus 1
SM,F,31 thn: operasi amandel di RS -Jkt
Post op 1 hr: suara sengau,makan-minum tdk
nyaman,menguap ada yg tertarik & nafas
menjadi pendek
Second opinion SpTHT 2: Ada bagian yg tdk
sama panjang,bgn kiri <bgn kanan
SM menggugat SpTHT 1 & RSggatn prdata
Kasus 2
Wanita,38 thn, dioperasi pengangkatan
myoma.
Hr ke-3 diketahui ada persoalan pd usus.
Dilakukan operasi ulang utk koreksi sampe 4
kali.Terakhir dilakukan kolostomi-pembuangan
kotoran dialihkan ke dinding perut.
Datang ke RS dengan mioma pulang dengan
kolostomi
Kasus 3
Wanita 38 th masuk rs dengan athralgia dan
demam, 13 jam perawatan pasien meninggal
Keluarga menuntut karena selama perawatan
tidak ada dokter internist yang visite dan
jawaban dari perawat atau dokter jaga tidak
memuaskan mereka
Keluarga menuntut otopsi, Hasil otopsi positif
malaria
Pasien sudah 22 th di Amerika, dan baru
datang ke Jakarta 2 mgg sebelum meninggal
Kasus lain
Operasi seksio patah tulang femur bayi, Operasi seksio
kepala bayi terpotong
Rencana operasi myoma, setelah dioperasi ternyata
hidronefrosis, kemudian dilakukan penutupan rongga
abdomen, dan pasien di informasikan bahwa penyakit
masih ada di dalam tubuhnya. Pasien menuntut
Wanita, KPD 28 mgg, 3 hari dirawat, dilahirkan dan
dilakukan kuretase, pasien meninggal, keluarga menuntut
karena tidak dapat informasi jelas dari SpOG, dan banyak
kejanggalan lainnya
Paska baksos katarak, pasien buta. Paska baksos
sirkumsisi, penis terpotong
RISIKO MEDIS
Inheren pada setiap tindakan medis
Sebagian dianggap acceptable:

1. Tingkat probabilitas dan keparahannya minimal


(umumnya bersifat foreseeable but unavoidable,
calculated, controllable)
2. Risiko bermakna tetapi harus diambil karena the
only way (unavoidable)
3. Risiko yg unforeseeable = untoward results

1 DAN 2 PERLU INFORMED CONSENT, SEHINGGA BILA TERJADI,


DOKTER TIDAK BERTANGGUNGJAWAB SECARA HUKUM
KONSTRUKSI MEDIS DAN HUKUM

UNDERLYING
DISEASE
ADVERSE
NO EVENTS
ERROR ACCEPTABLE
RISKS

UNFORESEEABLE
RISKS

PREVENTABLE
PREVENTABLE
ACTIVE ERRORS ADVERSE
ADVERSE EVENTS
EVENTS
LATENT
ERRORS (Error of planning &
error of execution) NEGLIGENT
ADVERSE EVENTS
DUTY + BREACH OF DUTY (KELALAIAN MEDIS)
+ DAMAGE
+ CAUSAL
Medical Malpractice
Medical malpractice involves the
physicians failure to conform to the
standard of care for treatment of the
patients condition, or lack of skill, or
negligence in providing care to the
patient, which is the direct cause of
an injury to the patient.
World Medical Association, 1992
KEGAGALAN MEDIK
dapat sebagai akibat dari :

Perjalanan penyakit alami


Mishap (tidak ada kelalaian)
Risiko yg akseptabel dan telah di-informasikan dan
disetujui
Tingkat probabilitas dan keparahan rendah
The only way
Risiko yg unforeseeable
Culpa : kelalaian medik
Foreseeable and avoidable/preventable risks
Dolus : kesengajaan
Mengkomunikasikan Risiko
Sebelum Memperoleh Consent
Risiko Tuntutan Hukum
Bila tidak memberikan informasi yang relevan
dan cukup lengkap dapat dianggap sebagai
kelalaian
Bila tidak memperoleh consent dengan cara yang
benar dapat dianggap melakukan perbuatan
melawan hukum
Pengalaman di MKEK DKI 1977-
2004
80% kasus memiliki kelemahan dalam
komunikasi antara dokter dengan pasien, baik
sebelum tindakan maupun pasca tindakan
Apa kata mereka?
Seandainya mereka memberi tahu angka
mortalitasnya tentu kami tidak akan menyetujui
operasi tersebut, dan si upik akan masih bisa
berlari-lari seperti anak normal umur 6 th
Seandainya dokter menyuruh kontrol.tidak
akan terjadi keterlambatan penangana
Pasal 45 UU Pradok
Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi
yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi
terhadap pasien harus mendapat persetujuan
Persetujuan yang dimaksud diberikan setelah
pasien mendapat penjelasan secara lengkap
Informed Consent Elements
Treshold elements
Competence
voluntariness
Information elements
Disclosure (of Material information)
Recommendation (of plan)
Understanding (of 3 and 4)
Consent elements
Decision (infavour of a plan)
Authorization (of the consent plan)
Kompetensi menurut hukum
Dewasa :
UU Kes, KUH Per, pertindik: 21 th
Atau sudah pernah menikah
Sadar
Kesehatan mental yang cukup
Tidak retardasi mental
Tidak berpenyakit jiwa sedemikian rupa sehingga
mampu membuat keputusan
Informasi
UU Pradok:
Diagnosis dan tata cara tindakan medis
Tujuan tindalan medis yang dilakukan
Alternatif tindakan lain dan risikonya
Risiko dan komplikasi yang mungkin
Prognosis tindakan yang dilakukan
diskusikan
Masalah medis pasien dan tindakannya
Jelaskan risiko termasuk
Risiko yang berat, yang sering, frekwensi risiko,
tindakan yang mungkin diperlukan
Efek samping yang biasa terjadi
Manfaat tindakan, tanpa menjamin keberhasilan
Akibat bila tidak dilakukan tindakan
Jelaskan bahwa pasien boleh mencabut
persetujuannya dan dapat meminta pendapat
kedua
Tantangan dalam
mengkomunikasikan risiko

Menjelaskan risiko
Menyampaikan probabilitasnya
Pemilihan risiko mana yang akan dibahas
Mengkaitkan keinginan pasien dalam pembuatan
keputusan
Menjelaskan probabilitasnya
Tidak semua orang dapat memahami statistik,
jadi jelaskan arti kemungkinan kecil dengan
bahasa yang bisa dimengerti pasien
.keberhasilan tindakan mencapai 95%......
penglaman kami kemungkinan kegagalan
hanya 2%........
Kata dokter kemungkinannya sangat
rendah, tetapi terjadi 100% pada saya.
Risiko yang mana?
Pertimbangan:
Profesional standard: apa yang menurut dokter
perlu dijelaskan
Reasonable person standard: apa yang pada
umumnya orang membutuhkan untuk dijelaskan
Subjective standard: apa yang dibutuhkan pasien
tersebut untuk diketahui
Penelitian menunjukan
Keluhan pasien Keluhan dokter
Bahasa terlalu teknis Pasien tidak mau diberi tahu
Pasien tidak mampu
Perilaku dokter enggan memahami
Pasien sedang stress Risiko terlalu umum atau
terlalu jarang
emosional Situasi gawat darurat (waktu
Pasien dalam keadaan sangat pandek)
Saya tidak mampu
tidak sadar atau menjelaskan
mengantuk Membicarakan risiko tidak
akan menolong pasien
Tidak ada waktu untuk malah bikin takut mereka
tanya jawab
Penolakan tertulis
Bahwa sudah dijelaskan perlunya dan manfaat
tindakan serta tindakan alternatifnya
Bahwa sudah dijelaskan risiko yang mungkin
terjadi bila tidak dilakukan tindakan
Bahwa ia tetap menolak tindakan yang dianjurkan
ataupun alternatifnya
Bahwa ia akan bertanggung jawab sendiri akan
akibatnya
Bahwa is melepaskan RS/dokter dari tuntutan
hukum
Proxy consent
Diberikan oleh orang lain
Syaratnya:
Pasien tidak mampu memberikan secara personal
Consent tersebut harus mendekati apa yang
sekiranya akan diberikan oleh pasien (baik buat
pasien bukan berarti baik buat orang banyak
Urutannya
Spouse, anak dewasa, ortu, saudara kandung dll
Kapan informed consent yang
diberikan dinyatakan tidak
sah?
Informed consent dinyatakan tidak sah apabila
Diperoleh dengan cara paksaan (duress, dwang)
Diperoleh dari orang yang belum dewasa
Diperoleh dari orang yang tidak berwenang
Diperoleh dari orang yang keadaannya tidak
sepenuhnya sadar (non- lucid state)
Diperoleh dengan memberikan gambaran yang
salah
Apakah jika sudah ada informed consent
tertulis, dokter sama sekali bebas dari
tuntutan, dalam arti tidak dapat dituntut lagi?

Tidak, persetujuan yang ditandatangani pasien atau


keluarganya tidak membebaskan dokter dari
tuntutan jika ia melakukan kesalahan atau kelalaian.
Ingat kasus Ny Ani
Standar apa yang digunakan oleh pengampu
atau proxy dalam mengambil keputusan
tindakan medik?

Surogate/proxy/ pengampu sebaiknya mengambil keputusan pasien,


yang akan dibuat oleh pasien itu sendiri seandainya pasien tersebut
dapat melakukannya
Surogate/proxy/pengampu sebaiknya tidak melakukan sesuatu kepada
pasien bila pasien tidak ingin hal tersebut dilakukan terhadap dirinya.
proses ini sering membebaskan pengampu dari persepsi bahwa dia
yang mengambil keputusan tentang mati atau hidup
Bila tidak mungkin mendapatkan subsitutude Judgment karena tidak
ada pengampu atau tidak ada pengetahuan/ pengalaman proxy Just
do whatever you think its right lakukan apa yang dapat dilakukan bila
ini menjadi yang terbaik ternyata ini tidak sederhana dan tidak mudah
dilakukan
Bila sulit mengambil keputusan best interest maka dapat dipikirkan
what would most people choose in this situation atau apa yang
terbanyak orang inginkan pada situasi seperti ini. Sebaiknya
melibatkan opini kedua atau opini ke tiga, mungkin juga melakukan
konsultasi dengan orang yang mengerti betul tentang ethics,
sementara dilakukan penilaian langsung terhadap pasien dan kualitas
hidupnya
Bagaimana keluarga mengetahui
keinginan pasien?

Keluarga tahu keinginan pasien dari Advance


Directive, atau kata-kata terakhir kepada orang yang
dicintainya tentang apa yang dia inginkan atau tidak
dia inginkan
Apakah tanda tangan pasien dapat
didelegasikan kepada tim atau tenaga
lainnya?

Boleh saja, tetapi hanya boleh dilakukan apabila


sebelumnya sudah ada pemberian penjelasan
terlebih dahulu oleh dokter kepada pasiennya.
Permintaan tanda tangan tersebut hanya sekedar
melengkapi proses yang sudah dijalankan
Apakah pemberian persetujuan melalui telepon
dari seorang wali diperbolehkan apabila pasien
itu sendiri dalam keadaan tidak dapat
memberikan konsennya?

Dalam keadaan sangat terpaksa boleh saja, tetapi


yang pasti sedapat mungkin persetujuan itu
diberikan oleh pasien itu sendiri atau oleh walinya
secara langsung.
Apakah ada syaratnya pemberian
informed consent melalui telepon?
Ada, jika sangat diperlukan dan dalam keadaan
memdesak untuk memperoleh persetujuan
melalui telepon, maka pembicaraan itu harus
disaksikan (didengarkan) juga oleh seseorang
tenaga medic lain. Kemudian pembicaraan ini
harus direkam atau dicatat di dalam berkas
rekam medic. Selain itu, saksi juga harus turut
menandatanganinya.
Bila pasien ditangani oleh beberapa
dokter berbagai spesialisasi, dokter
mana yang harus memberikan
informasi?

Yang harus memberikan informasi adalah dokter


yang akan melakukan tindakan medisnya (treating
physician), misalnya dokter ahli bedah yang akan
membedah, radiollog yang akan membeeikan kuur
radioterapi, atau dokter ahli jantung yang akan
melakukan kateterisasi jantung.
Apakah informed consent dapat
diwakilkan kepada dokter lain?
Dapat saja akan tetapi pada tindakan medis
tertentu harus diwakilkan oleh dokter yang
mempunyai kompetensi yang sama oleh dokter
yang akan melakukan tindakkan medis.
Suatu informed consent yang sudah
ditandatangani dapat berlaku sah
sampai berapa lama?

Belum ada batas ketentuannya di Indonesia,


tetapi tentu tidak dapat berlaku terus menerus.
Dapat diambil patokan misalnya 30 hari, contoh
ini diambil dari kasus Yale-New Heaven Hospital.
Sesudah lewat 1 bulan, jika pasien datang lagi,
sebaiknya diperiksa lagi keadaannya dan
dimintakan informed consent baru.
Selain kompetensi maka kapasitas seseorang
dalam mengambil keputusan juga harus dinilai,
apa yang di maksud dengan kapasitas dalam
hal ini?
Capacity adalah derajad dimana seseorang dapat mengerti
informasi yang berhubungan dengan pengambilan keputusan
persetujuan tindakan medis dan menyadari konsekuensi2
yang akan terjadi bila keputusan itu diambil atau tidak diambil
Capacity dapat berubah sepanjang waktu misalnya karena
delirium, obat-obatan, karena penyakit dan pengobatan.
Kecakapan seseorang (capacity) adalah spesifik untuk
keputusan tertentu, seseorang mungkin cakap (capacity)
untuk membuat beberapa keputusan tetapi tidak cakap untuk
keputusan tindakan medis yang lainnya
Pasien mungkin tidak cakap untuk memberikan
persetujuan tindakan medisnya pada satu intervensi medis
tertentu tetapi mungkin cakap dalam memberikan consent
pada keadaan lainnya. Sebagai contoh pasien yang
menderita schizophrenia mungkin cakap memberikan
persetujuan tindakan medik untuk terapi diabetesnya tetapi
tidak untuk terapi schizofrennya (ECT).
Ketidak cakapan (incapacity) pasien dalam memberikan
persetujuan tindakan medis seharusnya tidak diasumsikan
bahwa pasien juga tidak cakap melakukan persetujuan
tindakan medik untuk semua intervensi medis. Setiap
intervensi medis akan memerlukan penilaian kecakapan
(capacity) tertentu dari pasien untuk memberikan consent
untuk intervensi medis tertentu
Bagaimana cara mengukur
kapasitas seseorang?
Kecakapan (capable) untuk mengerti atau memahami
masalah medis
Kecakapan (capable) untuk memahami tujuan terapi
Kecakapan (capable) untuk memahami alternatif terapi bila
ada
Kecakapan (capable) untuk memahami pilihan bila menolak
dilakukan tindakkan terapi
Kecakapan (capable) untuk menyadari risiko medis yang
dapat diramalkan dan beralasan dari tujuan terapi bila dia
menandatanganinya
Kecakapan (capable) untuk menyadari risiko medis yang
dapat diramalkan dan beralasan dari tujuan terapi bila dia
menolak menandatanganinya
Kecakapan (capable) untuk membuat keputusan yang
secara substansi tidak berdasarkan delusi dan depresi
Apa bedanya competency dan
capacity?
Competency atau kebalikannya incompetency adalah
keputusan hukum,
Decision-making capacity atau kapasitas seseorang,
adalah istilah klinis tentang sesuatu yang
spesifik.Capacity refers to an ability
having capacity
Capacity comes in degrees
Competence refers to a property or characteristic a
person possesses being competent
Competence (relative to a particular decision) is all or
nothing.
Penentuan suatu kompetensi bukan suatu fenomena
yang menyatakan bahwa ia kompeten secara
keseluruhan atau tidak sama sekali. mengevaluasi
competency sebenarnya adalah untuk mengevaluasi
capacity
Capacity adalah derajad dimana seseorang dapat
mengerti informasi yang berhubungan dengan
pengambilan keputusan persetujuan tindakan medis dan
menyadari konsekuensi2 yang akan terjadi bila keputusan
itu diambil atau tidak diambil.
Capacity dapat berubah sepanjang waktu misalnya
karena delirium, obat-obatan, karena penyakit dan
pengobatan.
Kecakapan seseorang (capacity) adalah spesifik untuk
keputusan tertentu, seseorang mungkin cakap (capacity)
untuk membuat beberapa keputusan tetapi tidak cakap
untuk keputusan tindakan medis yang lainnya
Pasien mungkin tidak cakap untuk memberikan
persetujuan tindakan medisnya pada satu intervensi
medis tertentu tetapi mungkin cakap dalam memberikan
consent pada keadaan lainnya. Sebagai contoh pasien
yang menderita schizophrenia mungkin cakap
memberikan persetujuan tindakan medik untuk terapi
diabetesnya tetapi tidak untuk terapi schizofrennya (ECT).
Bila kita kuatir tentang Kapasitas pasien untuk menolak
beberapa pengobatan, kita sebaiknya kuatir juga tentang
Kapasitasnya pada waktu menerima pengobatan
tersebut.
Misalnya seorang dokter dapat menentukan bahwa
seorang pasien tidak mempunyai Kapasitas untuk
membuat keputusan tindakkan medis pada fraktur
tungkai bawah karena pasien tersebut memutuskan
bahwa dia lebih menginginkan obat tidur atau obat
pencahar untuk terapi fraktur tungkai bawah.
Ketidakcakapan (incapacity) pasien dalam memberikan
persetujuan tindakan medis seharusnya tidak
diasumsikan bahwa pasien juga tidak cakap melakukan
persetujuan tindakan medik untuk semua intervensi
medis. Setiap intervensi medis akan memerlukan
penilaian kecakapan (capacity) tertentu dari pasien untuk
memberikan consent untuk intervensi medis tertentu.
Apa yang menyebabkan penderita mental
disorder tidak cakap dalam memberikan
informed consent?
Beberapa gangguan mental disorder menghambat penderita untuk
memahami dasar dan tujuan dari intervensi medis,
Dementia dan learning disability yang cukup berat menghambat
penderita untuk melakukan komunikasi tentang persetujuan tindakan
medis mereka.
Episode manic atau episode mayor depressive, yang ditandai dengan
sikap acuh tak acuh, ambivalence, atau keragu-raguan, atau bentuk
apapun yang dapat menghambat pasien untuk memilih dengan tepat.
Schizophrenia hebephrenic hendaya pikir yang kacau menyebabkan
pasien mengalami kesulitan untuk memahami dasar dan tujuan
sebenarnya dari suatu intervensi medis, atau dalam memilih, atau
mengkomunikasikan persetujuan mereka
Lack of Insight: Mereka mungkin mengerti tujuan dari terapi medis tetapi
tetap menolak dilakukan tindakan medis karena keputusan mereka
bahwa mereka tidak sakit dan tidak memerlukan terapi medis untuk
mengatasi kesulitan yang dialaminya
Apa alasan moral tentang pentingnya
persetujuan tindakan medis?
Penderita yang cakap, menurut definisi dapat
memberikan persetujuan tindakan medis
Pentingnya persetujuan tindakan medis didukung oleh
prinsip-prinsip otonomi yaitu untuk menghormati
penderita terutama untuk penderita dalam pengambilan
keputusan tindakan medis yang telah diinformasikan
kepadanya
Prinsip-prinsip beneficence/non-maleficence yang
secara umum merupakan sesuatu yang diinformasikan
kepada pasien adalah suatu keputusan terbaik mengenai
terapi apa yang terbaik untuk pasien itu sendiri
Pada penderita yang tidak cakap (incapable) prinsip
beneficence adalah:
Penilaian atau pengukuran capasitas seseorang
menolong memecahkan masalah yang terjadi secara
moral
Pada kasus-kasus pasien yang tidak cakap (Incapable),
maka kita tidak lagi mengandalkan prinsip otonomi
dalam menolong penderita
Prinsip dari beneficence /non malefisence mewajibkan
klinisi atau dokter bahwa penderita yang tidak cakap
harus dilindungi dari pengambilan keputusan yang
membahayakan. Bila pasien tidak cakap, dokter harus
mendapatkan consent yang ditanda tangani oleh wali
atau pengampu yang mengambil keputusan
SAFETY
Bebas dari bahaya, tidak ada risiko
Penghematan sumber daya : man,
money, material, time
Cara mengendalikan biaya
Inheren dalam perspektif misi
RISIKO
Kemungkinan terjadinya
peristiwa
Jenis-jenis :
informed risk
unforeseen & unexpected
pointless risk
RISIKO (2)
Alasan risk taking :
Ketidak-disiplinan
Ketidak-tahuan
Benefit
Tak ada cara/alat yang benar
Tekanan waktu atau atasan
Ditoleransi oleh peer
RISIKO (3)
Risiko selalu ada
Tindakan medis dianggap safe bila risiko
acceptable
Modifikasi :
reduced
controlled
never totally eliminated
LIABILITY
No problem
Acceptable & controllable
Foreseeable - uncontrollable
Unforeseeable

Problem (potential liability)


foreseeable and avoidable
CEGAH LIABILITY
Buatlah standar
Patuhilah standar
Kenalilah bahaya
Atasi bahaya :
engineering solution
control solution
personnel solution
protective equipment
PROGRAM
RISK MANAGEMENT
Pemeriksaan fisik / bangunan rumah sakit secara
kontinyu
Review personil
Review kebijakan dan prosedur
Penyelidikan penyebab
Bentuk sistem : terima keluhan
Review program asuransi r.s. termasuk asuransi
profesi
R.M. vs Q.A.

RISK MANAGEMENT QUALITY ASSURANCE


Lindungi aset Refleksi filosofi RS
ekonomik Kinerja profesional untuk
lindungi manusia lindungi pasien
&sumber daya lain Mutu perawatan pasien
Cegah cedera Standar dan kriteria
Cegah kerugian terukur
Cegah insiden Cegah kerugian yad
HOSPITAL LIABILITY
sebagai badan hukum
agency theory
reliance theory
ostensible / apparent theory
corporate theory
non delegable duty

vicarious liability (pasal 1367 kuh perdata)


WEWENANG RUMAH SAKIT

Memantau staf medis dan mengawasi kualitas


pelayanan
Menyeleksi dan memantau staf
Menyediakan pelayanan yang memadai (reasonable
care)
Membuat prosedur-prosedur yang adekuat demi
keselamatan pasien dan tamu
HAK KONSUMEN (UUPK)

Kenyamanan, keamanan, keselamatan


Memilih barang / jasa
Informasi benar, jelas, jujur
Didengar pendapatnya / keluhan
Advokasi dan perlindungan
Pembinaan
Dilayani benar, jujur dan non-diskrimin.
Kompensasi bila barang/jasa tak sesuai
KEWAJIBAN KONSUMEN (UUPK)
Mengikuti petunjuk
Beritikad baik
Membayar sesuai
Mengikuti upaya penyelesaian hukum
PRODUCT LIABILITY
Tak perlu kontrak / kelalaian
Akibat defek produk
Bukan untuk jasa
kesalahan produk :
design
pabrik / assembler
maintenance pra-jual
tanpa peringatan
PRODUCT LIABILITY (2)
Kompensasi / ganti rugi
Penanggung-jawab :
produsen
importir
pengubah produk
pengedar (bila produsen/importir tak ada)
pencantum nama pada label
PRODUCT LIABILITY (3)
Bebas dari tanggung-jawab :
Barang / jasa seharusnya tidak untuk diedarkan
cacat terjadi kemudian hari
Cacat terjadi akibat dipatuhinya ketentuan
Kelalaian konsumen
Lewatnya jangka waktu penuntutan (4 tahun) atau lewat jangka
waktu yg diperjanjikan
SENGKETA
WANPRESTASI :
tak terpenuhinya janji (Ingat 1338 KUH Per)
P.M.H.
Ps 1365, 1366, 1367 KUH Per
Ps 1370, 1371, 1372 KUH Per
PIDANA
Ps 359, 360 KUHP
dll
SENGKETA (2)
Pembuktian :
prinsip : strict liability
beban pembuktian terbalik
tak lazim, kecuali pada kasus res ipsa loquitur
Penyelesaian sengketa
peradilan perdata / pidana
b.p.s.k., a.d.r.
BENTUK PELANGGARAN
DISIPLIN KEDOKTERAN

1. Tidak kompeten/ cakap


2. Tidak merujuk
3. Pendelegasian kpd nakes yg tdk kompeten
4. dr/ drg pengganti tdk beritahu ke pasien, tdk punya sip
5. Tdk laik praktik (kesehatan fisik & mental)
6. Kelalaian dlm penatalaksanaan pasien
7. Pemeriksaan dan pengobatan berlebihan
BENTUK PELANGGARAN DISIPLIN KEDOKTERAN

8. Tdk berikan informasi yg jujur


9. Tdk ada informed consent
10. Tdk buat/ simpan rekam medik
11. Penghentian kehamilan tanpa indikasi medis
12. Euthanasia
13. Eenerapan pelayanan yg blm diterima kedokteran
14. Penelitian klinis tanpa persetujuan etis
15. Tdk memberi pertolongan darurat
16. Menolak/ menghentikan pengobatan tanpa alasan yg sah
17. Membuka rahasia medis tanpa izin
18. Buat keterangan medis tdk benar
19. Ikut serta tindakan penyiksaan
BENTUK PELANGGARAN DISIPLIN KEDOKTERAN
20. Peresepan obat psikotropik/narkotik tanpa indikasi
21. Pelecehan seksual, intimidasi, kekerasan
22. Penggunaan gelar akademik/ sebutan profesi, palsu
23. Menerima komisi thd rujukan/ peresepan
24. Pengiklanan diri yg menyesatkan
25. Ketergantungan napza
26. STR, SIP, sertifikat kompetensi tdk sah
27. Imbal jasa tdk sesuai tindakan
28. Tdk berikan data/ informasi atas permintaan mkdki
KESIMPULAN
Masalah utama : komunikasi, yang berakar dari
mutu hubungan dokter pasien
Siapkan QA atau penjaminan mutu untuk RS dan
SDM
Perlu sosialisasi nilai-nilai etik biomedik maupun
etika profesi
Crash program bagi dokter
Sejak dini bagi mahasiswa fk