Anda di halaman 1dari 25

F A K U LTA S K E D O K T E R A N

U N I V E R S I TA S K R I S T E N I N D O N E S I A

KEPANITERAAN ILMU SARAF 1


3 April 2017 s/d 6 Mei 2017
Definisi

Perdarahan subaraknoid adalah perdarahan tiba-tiba ke dalam rongga diantara otak


dan selaput otak (rongga subaraknoid). Diantara lapisan dalam (pia mater) dan lapisan
tengah (arachnoid mater) jaringan yang melindungan otak (meninges).
Lapisan Meningen:
1. Duramater
2. Arachnoidmater
3. Piamater
Epidemiologi
• Pendarahan subarachnoid menduduki 7-15% dari seluruh
gangguan peredaran darah otak (GPDO)
• 62% pendarahan subarachnoid terjadi pada usia 40-60 tahun.
• Pecahnya pembuluh darah bisa terjadi pada usia berapa saja,
tetapi paling sering menyerang usia 25-50 tahun.
• Perdarahan subaraknoid jarang terjadi setelah suatu cedera
kepala.
Etiologi
• 85% akibat dari pecahnya aneurisma
• 10% kasus dikaitkan dengan non aneurisma
perimesencephalic hemoragik, dimana darah dibatasi
pada daerah otak tengah.
• 5% berkaitan dengan kerusakan rongga arteri,
gangguan lain yang mempengaruhi pembuluh darah,
gangguan pembuluh darah pada sumsum tulang
belakang dan perdarahan berbagai jenis tumor.
• Aneurisma sakular
• MAV
• Aneurisma mikotik
• Angioma
• Neoplasma
• Trombosis kortikal
• Penyebab kongenital mungkin bertanggung jawab untuk
PSA
• Faktor lingkungan yang dihubungkan dengan defek dinding
pembuluh darah (usia, hipertensi, merokok dan
arterosklerosis)
Patofisiologi
• Darah keluar dari dinding pembuluh darah  tersebar melalui
aliran cairan otak  Masuk ke ruangan sekitar otak
• Aneurisma = luka yang yang disebabkan karena tekanan
hemodinamik pada dinding arteri percabangan dan
perlekukan.
• Pecahnya aneurisma : Hipertensi, Aterosklerosis cerebral,
bentuk saluran sirkulus willisi, riwayat sakit kepala, riwayat
stroke keluarga
Manifestasi Klinis
• Onset: Tiba-tiba
• Sakit kepala : Hebat, berdenyut, disertai mual
muntah
• Kaku kuduk : dapat + karena iritasi meningeal
• Penurunan kesadaran
• Defisit neurologis : paresis, afasia, defisit
sensorik
• Kejang
Klasifikasi Berdasarkan Hunt dan Hess
Derajat I Asimptomatik atau sakit kepala minimal atau kaku kuduk minimal
Derajat II Sakit kepala sedang-berat, kaku kuduk, tidak ada defisit neurologis
(kecuali defisit nervus kranialis)
Derajat III Mengantuk, bingung, defisit neurologis
Derajat IV Stupor, hemiparesis sedang berat, reksi awal deserebrasi
Derajat V Koma dalam, deserebrasi
Klasifikasi Berdasarkan WFNS
Glasgow Coma Scale Defisit Motorik Derajat
15 Tidak ada 1
13-14 Tidak ada 2
13-14 Ada 3
7-12 Ada atau Tidak ada 4
3-6 Ada atau Tidak ada 5
Pemeriksaan Penunjang
• Laboratorium
• CT Brain non kontras
• Angiografi serebral
• MRI
• Lumbal Pungsi
CT Brain Non Kontras Rekonstruksi CT Angografi
Gambaran hiperdens dalam Cisterna
Suprasellar (anak panah besar) dan dalam Fissura
Sylvian (anak panah kecil)

Gambaran hiperdens dalam Fissura Sylvian


(anak panah)
Diagnosa Banding
• Stroke non Hemoragik
• Perdarahan Intraserebral
• Meningitis
• Ensefalitis
Penatalaksanaan
• Pada pasien yang diduga dengan PSA grade I atau II,
perawatan departemen emergensi dibatasi pada
diagnosa dan terapi suportif.
• Pada pasien dengan PSA grade III, IV, atau V (misal,
pemeriksaan neurologis berubah), perawatan
departemen emergensi lebih luas.
– Intubasi endotrakeal pada pasien melindungi dari aspirasi yang
disebabkan oleh refleks proteksi saluran nafas yang tertekan.
– Cegah sedasi berlebihan, yang menyebabkan pemeriksaan
neurologis serial menjadi lebih sulit dan telah dilaporkan
meningkatkan TIK secara langsung.
• Suspek Herniasi:
– Gunakan agen osmotik, seperti mannitol, yang
mengurangi TIK sebesar 50% dalam 30 menit, puncaknya
setelah 90 menir, dan berakhir dalam 4 jam.
– Diuretik loop, seperti furosemid, juga menurunkan TIK
tanpa meningkatkan serum osmolalitas.
• Cairan dan hidrasi
– Pertahankan euvolemia (CVP, 5-8 mmHg); jika ada
vasosapsme serebral, pertahankan hipervolemia (CVP 8-
12 mmHg, atau PCWP 12-16 mmHg)
– Serum glukosa: pertahankan pada level 80-120 mg/dL;
gunakan bolus atau infus insulin jika dibutuhkan.
• Suhu tubuh pusat: jaga agar tetap 37,2°C
• Memberikan antiemetik untuk mual atau muntah.
• Berikan sedasi dengan hati-hati untuk mencegah
penyelubungan pemeriksaan neurologis, yang dapat
membahayakan hasil temuan. Bagaimanapun, cegah
peningkatan TIK sehubungan dengan agitasi luas dari nyeri
dan ketidaknyamanan
• Terapi Kejang
– Penggunaan anti konvulsan sebagai profilaksis tidak dengan
segera mencegah kejang setelah PSA, tapi gunakanlah anti
konvulsan pada pasien yang memang kejang atau jika praktek
lokal menginginkan penggunaan rutin.
• Kalsium antagonis untuk mengurangi tingkat keparahan
vasospasme otak
Medikamentosa
• Analgetik
• Antiemetik
• Anti konvulsan
• Agen osmotik
• Diuretik
• Penghambat Kanal Kalsium
• Agen hemostatik
• Anti hipertensi
Komplikasi
• Hidrosefalus
• Perdarahan berulang  Lisis gumpalan aneurisma
• Defisit neurologis
• Vasospasme kontraksi otot polos arteri
Prognosis
Prognosis
Derajat I Asimptomatik atau sakit kepala minimal atau kaku kuduk minimal 70%
Derajat II Sakit kepala sedang-berat, kaku kuduk, tidak ada defisit neurologis 60%
(kecuali defisit nervus kranialis)
Derajat III Mengantuk, bingung, defisit neurologis 50%
Derajat IV Stupor, hemiparesis sedang berat, reksi awal deserebrasi 20%
Derajat V Koma dalam, deserebrasi 10%