Anda di halaman 1dari 24

REFERAT

JULI 2019

BUTA WARNA

Oleh:
Erwin Maurits Riwu, S.Ked

Pembimbing:
dr. Eunike Cahyaningsih, Sp.M, MARS
dr. Komang Dian Lestari, Sp.M, M.Biomed
DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
SMF/BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA
RSUD PROF. DR. W. Z. JOHANNES
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2019
BAB 1
PENDAHULUAN
 Buta warna: Penglihatan warna-warna yang tidak sempurna.
 Buta warna disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut (cone
cell) pada retina mata untuk menangkap suatu spektrum warna
tertentu  Objek yang terlihat bukan warna yang
sesungguhnya.
 Kejadian buta warna > laki-laki,  hampir 5% laki-laki di negara
barat menderita buta warna yang diturunkan.
 Prevalensi buta warna di Indonesia berdasarkan keluhan
penderita adalah 0,7%. (Riskesdas, 2007)
 Penyebab utama buta warna adalah faktor genetik yang sex-
linked recessive, artinya kelainan ini dibawa oleh kromosom X
resesif. Hal inilah yang menyebabkan buta warna lebih
banyak terjadi pada laki-laki daripada wanita.
BAB 1
PENDAHULUAN
 Buta warna sering menjadi masalah saat seseorang harus
memilih jurusan dalam jenjang pendidikan, khususnya
untuk pekerjaan tertentu yang membutuhkan persepsi
warna dalam tanggung jawabnya seperti kedokteran,
teknik, desain grafis, dan lain-lain.
 Oleh karena itu melalui referat ini, akan dibahas secara
lengkap mengenai buta warna dan pemeriksaannya yang
sering dilakukan di Poli Mata RSUD W. Z. Johannes,
Kupang.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
 Buta warna: Penglihatan warna-warna yang tidak
sempurna.
 Buta warna disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut
(cone cell) pada retina mata untuk menangkap suatu
spektrum warna tertentu  Objek yang terlihat bukan
warna yang sesungguhnya.
 Buta warna dapat terjadi kongenital atau
didapatkan akibat penyakit tertentu.
Anatomi Bola Mata Sel Batang dan Sel Kerucut
 Berdasarkan responsivitasnya,
sel kerucut dibagi menjadi 3
macam, S cone (blue), M cone
(green) dan L cone (red)
sedangkan sel batang hanya
terdiri dari satu tipe sel.
 Penamaan ini berdasarkan pada
sensitivitas sel terhadap
panjang gelombang cahaya short
wavelength, middle wavelength,
dan long wavelength.
 Sel S cone (blue) tersebar
merata pada seluruh retina,
Gambaran representatif namun tidak terdapat di daerah
distribusi sel-sel kerucut S, M, L fovea. Perbandingan jumlah L :
di Retina M : S adalah 12 : 6 : 1.
 Kejadian buta warna > laki-laki,  hampir 5% laki-laki di
negara barat menderita buta warna yang diturunkan.
 Prevalensi buta warna di Indonesia berdasarkan keluhan
penderita adalah 0,7%. (Riskesdas, 2007)
 Sekitar 95% gangguan buta warna terjadi pada reseptor warna
merah dan hijau pada mata laki-laki.
 Buta warna total merupakan keadaan yang jarang terjadi.
 Menurut Howard Hughes Medical Institute, pada tahun 2006
di Amerika Serikat terdapat 7% laki-laki atau sekitar 10,5 juta
laki-laki, dan 0,4% wanita tidak dapat membedakan warna
merah dari hijau, atau mereka melihat merah dan hijau secara
berbeda dibandingkan populasi umum.
1. Trikromat,
 Memiliki tiga sel kerucut yang lengkap
 Terjadi kerusakan mekanisme sensitivitas terhadap salah satu dari tiga sel
reseptor warna
 Dapat melihat berbagai warna akan tetapi dengan interpretasi yang
berbeda daripada normal.
• Trikromat anomali, kelainan terdapat pada short-wavelenght pigment (blue).
Pigmen biru ini bergeser ke area hijau dari spektrum merah. Pada anomali ini
perbandingan merah hijau yang dipilih pada anomaloskop berbeda dibanding
dengan orang normal.
• Deutronomali, disebabkan oleh kelainan bentuk pada middle-wavelenght pigment
(green) dengan cacat pada hijau sehingga diperlukan lebih banyak hijau, karena
terjadi gangguan lebih banyak daripada warna hijau.
• Protanomali, terjadi kelainan terhadap long-wavelenght pigment (red), sehingga
menyebabkan rendahnya sensitivitas warna merah. Penderita akan mengalami
penglihatan yang buram terhadap warna spektrum merah. Hal ini mengakibatkan
mereka dapat salah membedakan warna merah dan hitam.
2. Dikromat,
 Salah satu dari tiga sel kerucut tidak ada atau tidak berfungsi.
 Seseorang yang menderita dikromat akan mengalami gangguan
penglihatan terhadap warna-warna tertentu.
 Protanopia (tidak kenal merah), adalah salah satu tipe dikromat yang
disebabkan oleh tidak adanya fotoreseptor merah. Pada penderita
protanopia, penglihatan terhadap warna merah tidak ada.
 Deutranopia (tidak kenal hijau), adalah gangguan penglihatan
terhadap warna yang disebabkan tidak adanya fotoreseptor hijau. Hal ini
menimbulkan kesulitan dalam membedakan hue pada warna merah dan
hijau (red-green hue discrimination).
 Tritanopia (tidak kenal biru), adalah keadaan dimana seseorang tidak
memiliki short-wavelength cone (blue). Seseorang yang menderita tritanopia
akan kesulitan dalam membedakan warna biru dan kuning dari spektrum
cahaya tampak. Tritanopia disebut juga buta warna biru-kuning dan
merupakan tipe dikromat yang sangat jarang dijumpai.
3. Monokromat atau akromatopsia dimana hanya terdapat
satu pigmen kerucut, yang sering mengeluh fotofobia dan
tajam penglihatan yang berkurang. Bentuk-bentuk buta
warnanya dikenal juga:
 Monokromatisme rod (batang), atau disebut juga dengan suatu
akromatopsia dimana terdapat kelainan pada kedua mata bersama
dengan keadaan lain seperti tajam penglihatan kurang dari 6/60,
nistagmus, fotofobia, skotoma sentral, dan mungkin terjadi akibat
kelainan sentral hingga terdapat gangguan penglihatan warna total,
hemeralopia (buta silang) tidak terdapat buta senja/ malam, dengan
kelainan refraksi yang tinggi.
 Monokromatisme cone (kerucut), dimana terdapat hanya sedikit
cacat, hal yang jarang, tajam penglihatan normal tidak terdapat
nistagmus.
 Buta warna dapat terjadi secara kongenital atau
didapat akibat penyakit tertentu.
 Buta warna yang diturunkan tidak bersifat progresif dan
tidak dapat diobati.
 Pada kelainan makula (retinitis sentral dan degenerasi
makula sentral), sering terdapat kelainan pada penglihatan
warna biru dan kuning.
 Pada kelainan saraf optik akan terlihat gangguan
penglihatan warna merah dan hijau.
 Ganguan penglihatan merah-hijau terdapat pada kelainan
saraf optik, keracunan tembakau dan racun, neuritis
retrobulbar, atrofi optik, dan lesi kompresi traktus
optikus.
 Gangguan penglihatan biru-kuning terdapat pada
glaukoma, ablasio retina, degenerasi pigmen retina,
degenerasi makula senilis dini, myopia, korioretinitis,
oklusi pembuluh darah retina, retinopati diabetik dan
hipertensi, papil edema, dan keracunan metil alkohol serta
pada penambahan usia.
 Uji Ishihara  Defek penglihatan warna merah-hijau
 Uji Farnsworth Munsell 100 hue  Defek
penglihatan biru-kuning
 Uji Anomaloskop
 Uji Holmgren
 Uji Ishihara dilakukan dengan
memakai satu seri titik bola kecil
dengan warna dan ukuran yang
berbeda (gambar
pseudoisokromatik), sehingga
dalam keseluruhan terlihat
warna pucat dan menyukarkan
pasien dengan kelainan
penglihatan warna ketika
melihatnya.
 Penderita buta warna atau
dengan kelainan penglihatan
warna dapat melihat sebagian
atau sama sekali tidak dapat
melihat gambaran yang
diperlihatkan.
 Pada pemeriksaan pasien
diminta melihat dan mengenali
tanda gambar yang diperlihatkan
dalam waktu 10 detik.
 Ishihara merupakan alat yang
sering digunakan untuk screening
buta warna yang sering dipakai
di banyak Negara.
 Uji Farnsworth-Munsell 100 hue
dilakukan untuk melihat kemampuan
seseorang menyusun kecerahan
warna.
 Uji Farnsworth terdiri dari 4 set chips
dimana terdapat 85 topi yang dapat
dipindah-pindah dan harus disusun
sesuai dengan progression of hue.
 Warna dari topi mempunyai
kecerahan bertambah yang
mempunyai nomor dibelakangnya.
 Orang dengan defisiensi penglihatan
beberapa warna akan membuat
kesalahan dalam menyusun chips pada
lokasi di sekitar hue circle.
 Uji Farnsworth ini digunakan untuk
menevaluasi tingkat keparahan
diskriminasi warna dan membedakan
tipe kelainan buta warna karena
kongenital, perubahan karena penyakit
neurologis atau efek samping dari
pemberian obat.
 Uji Anomaloskop
terdiri dari test plate
yang bagian bawahnya
berwarna kuning yang
dapat disesuaikan
kontrasnya.
 Pasien berusaha
mencocokkan bagian
atas sampai berwarna
kuning dengan
mencampur warna
merah dan hijau.
 Orang dengan buta
warna hijau akan
menggunakan banyak
warna hijau dan begitu
juga pada orang dengan
buta warna merah.
 Pada tahun 1837,
August Seebeck
menggunakan lebih dari
300 kertas berwarna
dan meminta pasien
mencocokkan atau
menemukan warna
yang sesuai dengan
contoh warna yang
diberikan
 Pada tahun 1877,
Holmgren
mengambil ide ini
dan menggunakan
benang wol
berwarna sebagai
pengganti kertas.
 Tidak ada pengobatan atau tindakan yang dapat dilakukan
untuk mengobati masalah gangguan persepsi warna.
 Gangguan penglihatan warna yang diturunkan tidak dapat
diobati atau dikoreksi. Beberapa gangguan penglihatan
warna yang didapat dapat diobati, bergantung pada
penyebabnya.
 Beberapa cara untuk membantu gangguan penglihatan
warna, antara lain:
 Memakai lensa kontak berwarna (specially tinted). Hal ini dapat
membantu membedakan warna, tetapi lensa ini tidak
menjadikan penglihatan menjadi normal.
 Memakai kacamata yang memblok sinar yang menyilaukan
(glare). Orang dengan masalah penglihatan dapat membedakan
warna lebih baik dalam kondisi yang tidak terlalu terang.
 Tidak ada cara untuk mencegah buta warna genetik
maupun buta warna didapat yang berhubungan dengan
penyakit.
 Membatasi penggunaan alkohol dan obat, seperti
antibiotik, barbiturat, obat antituberkulosis, pengobatan
tekanan darah tinggi, dan beberapa pengobatan yang
digunakan untuk penyakit saraf dan psikologis, ke level
yang dibutuhkan untuk keuntungan terapeutik dapat
membatasi buta warna didapat.
 Pencegahan peningkatan kasus buta warna dapat
dilakukan misalnya dengan melakukan konseling pranikah.
Kejadian buta warna juga meningkat pada pool genetic
dengan perkawinan di antara satu komunitas terisolir.5
 Buta warna dapat diartikan sebagai suatu kelainan penglihatan yang
disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut (cone cell) pada retina
mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu sehingga
objek yang terlihat bukan warna yang sesungguhnya.
 Buta warna dapat terjadi secara kongenital atau didapat akibat penyakit
tertentu.
 Buta warna sering menjadi masalah saat seseorang harus memilih
jurusan dalam jenjang pendidikan, khususnya untuk pekerjaan
tertentu yang membutuhkan persepsi warna dalam tanggung
jawabnya seperti kedokteran, teknik, desain grafis, dan lain-lain.
 Pemeriksaan buta warna dilakukan dengan uji Ishihara, Uji
Farnsworth Munsell 100 hue, uji Anomaloskop dan Uji Holmgren.
 Gangguan penglihatan warna yang diturunkan tidak dapat diobati
atau dikoreksi. Beberapa gangguan penglihatan warna yang didapat
dapat diobati, bergantung pada penyebabnya.