Anda di halaman 1dari 35

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cerpen merupakan salah satu karya sastra popular yang ada di masyarakat.

Cerpen atau cerita pendek adalah jenis karya sastra fiksi naratif yang memiliki satu pokok permasalahan dan bisa dibaca sekali duduk. Sebagai karya sastra, cerpen tidak terlepas dari bahasa yang digunakan. Untuk dapat memahami cerita pendek secara menyeluruh, seseorang harus memahami bahasa yang digunakan oleh pengarang. Bahasa tersebut kadangkala memiliki makna implisit atau bersifat figuratif. Secara umum, kita dapat mengkaji hal tersebut melalui kegiatan mengkaji, menyelidiki, dan menelaah objek sastra. Terkait dengan bahasa, kita dapat melakukan penelaahan menggunakan stilistika. Secara sederhana stilistika dapat dimaknai sebagai ilmu yang mengkaji stile atau gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang. Penelaahan ini melihat fungi dan peran bahasa dalam suatu karya sastra. Kita tahu, bahwa setiap pengarang memiliki karakteristik, yang mana karakteristik tersebut menjadi cirri khas yang membedakan dia dengan pengarang yang lain. Dewasa ini, nama-nama pengarang Indonesia bermunculan. nama mereka semakin besar dengan diapresiasinya karya yang mereka lahirkan. Salah satu tokoh sastra wanita Indonesia yang cukup sukses adalah Dewi Lestari. Sebagai seorang penulis lagu, dia termasuk orang yang multitalenta. Karya-karyanya dalam bentuk novel pun laris manis dan banyak dikritisi oleh kritikus sastra. Hal inilah yang mendasari kami mengkaji stile dalam cerpen Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta. Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta merupakan salah satu cerpen dalam kumpulan cerpen Dewi Lestari yang berjudul Madre. Kumpulan cerpen ini terbit pada Juni 2011 dan diterbitkan oleh penerbit Bentang Pustaka. Dalam pengantar editor yang dinamakan Pesona Dee, Sitok Srengenge mengatakan Maka, ketika saya menjadi editor Madre, saya langsung menyanggupinya, meski adwal kesibukan saya sendiri butuh waktu lebih. Saya memasukkan Madre ke dalam prioritas. Dan, sebagaimana telah saya duga, saya benar-benar terpesona. Dalam calon buku baru itu saya tak hanya menemukan kepiawaian Dee bercerita dan mengolah bahasa, lebih dari itu, saya merunduk hormat

karena kepekaannya menyimak dan menyikapi masalah krusial dalam hubungan antarmanusia. Kepiawaian Dee dalam meramu bahasa sekaligus tema-tema humanisme yang dia angkat, merupakan alasan terbesar kami mengkaji cerpen ini. Dewi Lestari tidak hanya sekedar menceritakan namun juga menyisipkan simbol-simbol yang unik. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana bahasa yang digunakan Dewi Lestari dalam cerpen Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta? 2. Apa makna dan fungsi dari penggunaan gaya bahasa tersebut? C. Tujuan Pengkajian stile ini dilakukan untuk mengetahui gaya bahasa yang digunakan Dewi Lestari dalam cerpen Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta sekaligus mengetahui makna dan fungsi dari penggunaan gaya bahasa tersebut.

BAB II LANDASAN TEORI Sugiarti (555: 2010) menjelaskan stilistika sebagai bahasa khas sastra akan memiliki keunikan tersendiri apabila dibandingkan bahasa komunikasi sehari-hari. Stilistika adalah bahasa yang telah dicipta dan bahkan direkayasa untuk mewakili ide sastrawan. Sugiarti juga menyatakan bahwa stilistika adalah ilmu yang mempelajari gaya bahasa dalam suatu karya sastra . Studi ini memang berbau linguistik karena hubungan antara sastra dan linguistik memang sulit dipisahkan Stilistika akan membangun aspek keindahan karya sastra. Semakin pandai memanfaatkan stilistika , karya sastra yang dihasilkan akan semakin menarik. Kemahiran sastrawan menggunakan stilistika, juga akan menentukan bobot karya sastra itu sendiri. Lebih lanjut stilistika merupakan penggunaan gaya bahasa secara khusus dalam karya sastra. Gaya bahasa tersebut mungkin disengaja dan mungkin pula timbul serta merta ketika pengarang mengungkapkan idenya. Gaya bahasa merupakan efek seni dalam sastra yang dipengaruhi oleh nurani. Melalui gaya bahasa itu seorang sastrawan akan menuangkan ekspresinya. Secara akademis, linguistik memahami bahasa, sastra memahaminya lewat bahasa. Baik pemahaman melalui linguistis maupun literer dapat dimediasi oleh stilistika. Stilistika merupakan objek baik bagi ilmu bahasa maupun ilmu sastra . Perbedaanya stilistika linguistic terbatas pada penelitian gejala bahasa secara deskriptif, yang dalam perkembangan kemudian disebut sebagai majas, sedangkan stilistika literer melangkah lebih jauh pada aspek-aspek yang melatarbelakangi sekaligus tujuan yang hendak dicapai , sebagai penelitian evaluatif. Analisis stilistika literer dilakukan sesudah dilakukan analisis stilistika linguistik, tetapi belum tentu sebaliknya (Sugiarti, 557: 2010) Khusnin (47:2012) mengatakan, untuk menganalisis bentuk stilistika dilakukan dengan cara pertama, analisis sistemis sistem sastra/bahasa yang dilanjutkan dengan analisis. Kedua mengamati perbendaan antara gaya bahasa dengan bahasa yang digunakan secara umum. Kedua analisis tersebut bertujuan untuk memahami pandangan pengarang dalam menuangkan ide dan memahami teks secara menyeluruh dari aspek kebahasaan. Pendekatan stilistika digunakan untuk menganalisis tanda dan bentuk kebahasaan yang dipergunakan pengarang sebagai pernyataan lahiriah. Selain itu, pendekatan stilistika digunakan

untuk menganalisis penggunaan sistem tanda yang mengandung ide, gagasan dan nilai estetis tertentu, sekaligus untuk memahami makna yang dikandungnya (Khusnin, 47-48: 2012). Hal senada juga diungkapkan oleh Wulandari (95: 2009) yang menyatakan stilistika sangat berperan dalam penciptaan suatu karya tulisan atau karya sastra, diantaranya gaya bahasa, yang meliputi gaya bunyi, gaya kata, gaya kalimat dan wacana, dan lain sebagainya. Stilistika sebagai ilmu tentang gaya bahasa memegang peran yang sangat penting dalam studi kebahasaan, baik linguistik maupun kesusastraan. Perkembangan yang lebih jelas terjadi pada penelitian stilistika di bidang lingusitik, sedangkan penelitian stilistika terhadap karya sastra masih sangat langka. Salah satu faktor yang mempengaruhi kurangnya penelitian stilistika karya sastra mungkin disebabkan oleh kurang memadainya jumlah referensi yang diperlukan sebagai rujukannya. Dalam studi kesusastraan, stilistika dipergunakan sebagai alat untuk memberi makna pada karya tersebut karena gaya bahasa yang terdapat dalam karya sastra mengungkapkan makna karya sastra tersebut. Hal di atas sejalan dengan apa yang diungkapkan Rinaldi (214: 2012). Rinaldi mengemukakan, penelitian stilistika dikenal juga dengan stile yang memiliki arti sebagai cara pengungkapan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian pengarang. Stile pada hakekatnya merupakan teknik, yakni teknik pemilihan ungkapan kebahasaan yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang akan disampaikan atau diungkapkan. Stile ditandai oleh ciri-ciri formal kebahasaan seperti pilihan kata atau diksi, struktur kalimat atau struktur sintaksis, bentuk penggunaan bahasa figuratif atau gaya bahasa, penggunaan kohesi dan lain-lain. Makna stile adalah suatu hal yang pada umumnya tidak lagi mengandung sifat kontroversial, menyarankan pada pengertian cara penggunaan bahasa dalam konteks tertentu, oleh pengarang tertentu, untuk tujuan tertentu, dan sebagainya. Dalam hal ini stile yang dimaksud dapat bermacam-macam sifatnya, tergantung konteks di mana dipergunakan, selera pengarang, dan juga tergantung apa tujuan penuturan itu sendiri. Stilistika mengkaji berbagai fenomena kebahasaan dengan menjelaskan berbagai keunikan pemakaian bahasa

berdasarkan keunikan pemakaian bahasa berdasarkan maksud pengarang dan kesan pembaca. Selain pendapat di atas, Pradopo (94: 1999) mengatakan stilistika tidak hanya merupakan studi gaya bahasa dalam kesusastraan, melainkan juga studi gaya bahasa dalam bahasa pada umumya meskipun ada perhatian khusus pada bahasa kesusastraan yang paling sadar dan paling kompleks. Hal ini merujuk pendapat Turner yang mengatakan bahwa stilistika adalah bagian

linguistik yang memusatkan perhatian pada variasi dalam penggunaan bahasa. Dikemukakannya bahwa stilistika berarti studi gaya, yang menyarankan bentuk suatu ilmu pengetahuan atau paling sedikit berupa studi yang metodis.

BAB III PEMBAHASAN A. Unsur Leksikal 1. Diksi Berdasarkan Pertimbangan dari Segi Bentuk dan Makna Secara umum, cerpen Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta adalah cerpen yang mengangkat tema sederhana namun memiliki nilai yang cukup tinggi. Permasalahan Tuhan dan cinta menjadi isu strategis dari cerita pendek ini. Dewi Lestari menyajikannya dalam bentuk cerita dialogis antara narasumber dan wartawan. Tuhan dan cinta menurut Dewi Lestari adalah sesuatu yang sudah usang, terlalu klise dibicarakan orang, namun tidak pernah terjawab, apa makna dari Tuhan? Apa makna dari cinta? Untuk itulah Dee membawa hal yang cukup dekat dengan kita ini, menjadi sesuatu yang lebih sederhana. Maka, dia kemudian membandingkan Tuhan dan cinta melalui acar, yang notabene sering kita pandang sebagai hal yang remeh temeh. Di sinilah kekuatan Dee dalam mengolah pembanding. Sesuatu yang besar dan kompleks, dia sajikan secara ringan bahkan terkesan konyol dan main-main. Bahasa yang digunakan dalam cerpen ini, sudah biasa kita dengar dalam percakapan sehari-hari, meskipun di sana sini dia juga banyak menggunakan perbandingan-perbandingan serta hal-hal berbau saintis. Kalau kita cermati, maka bahasa yang Dee gunakan sebenarnya menunjukkan keterwakilan dunia selebritis. Hal ini tidak mengherankan, melihat latar belakang Dee yang memang seorang publik figur. Perbincangan antara dia dan wartawan adalah sesuatu yang biasa. Cerita ini cukup unik, adapun keunikan ini didukung dengan celoteh Dee melalui pilihan-pilihan katanya. Berikut ini pemakalah sajikan beberapa kutipan yang diambil dari cerpen Semangkuk Acara untuk Tuhan dan Cinta. a. Penggunaan bahasa kolokial Bahasa kolokial adalah bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa ini sudah tidak asing lagi bagi kita, karena menggunakan makna yang lugas. ~ paragraf 1 Apa itu Tuhan? Apa itu cinta? ~ paragraf 7 Tanpa terburu-buru, kuselesaikan kunyahan, lalu minum air seteguk.

~ Paragraf 8 Mendengarnya, wartawan itu kian mencondongkan badannya ke depan, matanya berbinar antusias. ~ Paragraf 10 Akhirnya ia mengangguk setuju. ~ Paragraf 17 Artikel itu kemudian terbit. Tanpa baris-baris kalimat. Hanya gambar besar semangkok acar bawang.

Berdasarkan data di atas kita akan mengetahui, Dewi Lestari memilih kata-kata kolokial supaya pembaca merasa lebih dekat dengan apa yang diceritakan oleh pengarang. Selain itu, kata kolokial juga memudahkan pembaca dalam memahami jalan cerita. b. Penggunaan bentuk dialog Dialog dalam cerpen ini, memiliki tipikal yang khas, sebagaimana yang sering dilontarkan wartawan kepada narasumber. Wartawan menggunakan bahasa semi formal untuk mengulik informasi. ~ paragraf 2 Menurut Anda apa itu cinta? ~ paragraf 3 Cinta? ~ paragraf 4 Satu lagi. Apa makna Tuhan bagi Anda? ~ paragraf 9 "Tapi saya tidak ingin menjawab ini sendirian. Saya ingin mencarinya bersamasama.Anda setuju?" ~ paragraf 11 "Ayo, kita kupas.Pakai kuku." ~ paragraf 13 "Ayo. Terus, sampai habis."

Dari data di atas kita dapat memahami, bahwa fungsi dari dialog yang diciptakan oleh Dee adalah untuk memberikan efek realistis. Kita dapat membayangkan apa jadinya dunia ketika tidak ada unsure dialogis dalam hidup, pasti cerita akan terkesan sepi dan tak hidup. Dialog-dialog di atas juga berfungsi untuk memberikan ruang bagi tokoh, dalam menyampaikan pandangan-pandangan atau sikapnya terhadap suatau permasalahan. Hal ini menjadikan kalimat tersebut memiliki nilai seni. Selain bentuk-bentuk dialog di atas, juga terdapat petunjuk tindakan, untuk mengiringi perkataan pra tokohnya. Hal ini terlihat pada petikan berikut: .. dan orang itu bertanya: "Menurut Anda, apa itu cinta?" (paragraph 2) Aku hanya menggeram dan mengulang: "Cinta?" (paragraph 3) Dan dia sungguhan nekat bertanya: "Satu lagi. Apa makna Tuhan bagi Anda?" (paragraf 4) Tanpa terburu-buru, kuselesaikan kunyahan, lalu minum air seteguk."Begini," aku mulai menjelaskan, "pertama-tama, dengan mengetahui apa itu cinta, kita akan mengetahui Tuhan. Dan ketika kita mengetahui Tuhan, kita juga jadi tahu apa itu cinta. Jadi, kita bisa mengungkap keduanya sekaligus." (paragraf 7) "Tapi saya tidak ingin menjawab ini sendirian. Saya ingin mencarinya bersamasama.Anda setuju?" tanyaku. (paragraf 8) Aku lantas menyambar mangkok berisi acar, mencomot dua bawang merah utuh, dan memberikan satu butir kepada wartawan itu "Ayo, kita kupas. Pakai kuku." Dan tanpa menunggu, dengan semangat dan giat aku mulai mengupas. (paragraf 10) Kalau kita mencermati secara detail percakapan di atas, kita akan menemukan, bahwa petunjuk tindakan berfungsi untuk memberikan kejelasan siapa yang berbicara, misalnya ulang, kata., tanya... Untuk beberapa per cakapan yang berurutan, tanpa adanya petunjuk, kadang pembaca dibingungkan, degan siapa yang berkata. Selain itu petunjuk tindakan juga berfungsi untuk memberikan latar situasi, misalnya ketika berbicara mereka sedang dalam keadaan marah, sambil melakukan aktivitas lain, dll. c. Pemanfaatan bahasa daerah

Bahasa daerah yang muncul dalam cerpen ini sangatlah sedikit. Hampir secara keseluruhan cerpen ini menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa daerah yang digunakan dalam cerpen ini adalah kata mencelat (paragraf 2). Kata mencelat berasal dari bahsa Jawa yang bila diartikan kedalam bahasa Indonesia menjadi terlempar. Penggunaan unsur bahasa daerah dalam sebuh cerita pendek, berfungi untuk memberikan pemahaman kepada pembaca tentang latar belakang geografis tokoh cerita. Misalnya dalam kutipan di atas, kita dapat berpikir bahwa tokoh aku, adalah orang Jawa. d. Pemanfaatan kata-kata asing Kata-kata asing dalam hal ini bukanlah sekedar kata serapan dari bahasa lain, merupakan juga kata-kata yang jarang didengar oleh orang awam. Adapun pemanfaatan kata-kata asing itu, antara lain: ~Paragraf 4 Si wartawan pun berpikir bahwa pertanyaan brilian berikutnya akan memancing jawaban lebih panjang dan lebih mencengangkan, yang akan menghibur para pembaca majalahnya, sebab hasil wawancara ini akan terbit di edisi khusus yang membahas 10+1 cara bercinta paling panas dan peta terbaru menuju spot-spot orgasmik yang selama ini tersembunyi. Spot-spot orgasmik dalam paragraf di atas adalah titik-titik di mana keadaan puncak kenikmatan seksual bisa terjadi. Selain jarang terdengar, pembicaraan yang menyangkut seksual dalam ranah awam masih tabu. Penggunaan frasa spot-spot orgasmik sengaja dilakukan, karena apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang mudah dimengerti masyarakat awam, hal tersebut akan sangat panjang. Selain itu penggunaan frasa tersebut juga mengadung keindahan karena adanya unsur pengulangan dan juga menunjukkan sisi intelektualitas. ~Paragraf 16 Artikel itu kemudian terbit. Tanpa baris-baris kalimat. Hanya gambar besar semangkok acar bawang. Dan mereka yang membacanya menyangka bahwa itu resep afrodisiak.

Afrodisiak tidak banyak dikenal oleh orang awam, karena istilah ini memang jarang sekali digunakan. Afrodisiak adalah zat kimia yang digunakan untuk merangsang daya seksual. Kata afrodisiak digunakan oleh Dee, mengingat sulit sekali mendapatkan padanannya dalam bahasa Indonesia yang umum. Selain itu, kata afrodisiak mampu menimbulkan estetika sekaligus melahirkan keingintahuan pembaca. ~Paragraf 5 Jemariku bergetar, menahan garpu, pisau, piring, gelas, dan benda-benda dalam radiusku yang sangat mungkin kujadikan senjata pembelaan diri atas serangan pertanyaan-pertanyaan paling muskil dijawab tapi selalu ditanyakan itu. Muskil mungkin sudah sering digunakan, namun bagi masyarakat awam, kata tersebut jarang terdengar, mereka lebih familiar dengan kata tidak mungkin, sulit, dll. Pemilihan kata ini menimbulkan efek yang luar biasa pada kalimat. Seolah-olah pertanyaan-pertanyaan wartawan itu sangat-sangat tidak mungkin terjadi. ~Paragraf 15 Ditandai air mata 'cinta' yang menghiasi pipi kami berdua serta aroma Tuhan yang meruap segar dari kuku, wawancara siang itu usai. Kendati terasa familiar, sebenarnya banyak orang tak tahu arti kata meruap. Meruap dapat bermakna meluap, menguap, atau membuih. Pemilihan kata meruap, membuat pembaca membayangkan sesuatu yang tak kasat mata, namun keluar dalam jumlah yang cukup banyak. Hal ini menimbulkan estetika tersendiri. Dari data-data di atas maka kita dapat menyimpulkan, bahwa arah makna yang ditunjukkan oleh Dewi Lestari dalam cerpen Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta ini bersifat denotasi dan konotasi. a) Denotasi Paragraf 6 Tanpa terburu-buru, kuselesaikan kunyahan, lalu minum air seteguk. "Begini," aku mulai menjelaskan, "pertama-tama, dengan mengetahui apa itu cinta, kita akan mengetahui Tuhan. Dan ketika kita mengetahui Tuhan, kita juga jadi tahu apa itu cinta. Jadi, kita bisa mengungkap keduanya sekaligus." Paragraf 7

Mendengarnya, wartawan itu kian mencondongkan badannya ke depan, matanya berbinar antusias. Semakin yakinlah ia betapa cemerlangnya pertanyaan-pertanyaan itu, betapa bermutu dan menantangnya. "Tapi saya tidak ingin menjawab ini sendirian. Saya ingin mencarinya bersama-sama. Anda setuju?" tanyaku. Paragraf 8 Wartawan itu terkesiap. Tak siap. Namun rasa penasarannya terusik. Tampak keinginan kuatnya untuk mempertahankan reputasi sebagai sang penanya brilian. Akhirnya, ia mengangguk setuju. Paragraf 12 Demikianlah kami berdua, dengan mata mengerjap-ngerjap perih, mengupasi bawang dengan kuku yang akhirnya jadi lebih mirip mencacah. Serpih-serpih bawang yang berantakan mengotori meja. Dan akhirnya kami berhenti ketika serpih terakhir sudah terlampau kecil untuk bisa dikupas. Makna denotasi dalam paragraf-paragraf di atas memudahkan pembaca memahami cerita. Selain itu makna denotasi menunjang estetika kaitannya dalam menghadirkan kesan riil dan dekat. Hal ini menimbulkan keindahan sekaligus keseimbangan bagi kalimat-kalimat Dee yang lain, yang penuh dengan majas dan simbol-simbol, terlebih dalam cerpen ini pun Dee memainkan kata. Contoh permainan ini terlihat pada paragraf 6, di sana Dee bermain-main dengan kata mengetahui. Lalu pada paragraf 7 kita dapat melihat, Dee mencoba memainkan hubungan kausatif melalui kata berbinar dan cemerlang. Pada paragraf 8 pun, Dee mampu memberikan komposisi yang apik melalui persamaan bunyi pada kata terkesiap dan tak siap. Demikian pada paragraf 12, kita dapat melihat Dee mencoba bermain dengan pengulangan, misalnya pada kata mengerjap-ngerjap, mencacah, dan serpih-serpih. Semua itu memberikan keindahan pada cerpen Semankok Acar untuk Tuhan dan Cinta.

b) Konotasi Paragraf 1 Dan tidak ada yang lebih memahitkan mulut, memualkan perut, menyesakkan jantung, ketika seseorang muncul dengan kertas dan pulpen, atau alat perekam, di

tengah jam makan siang, saat rahangmu sedang sibuk mengunyah, saat makanan di piring memohon perhatian penuhmu, dan orang itu bertanya: "Menurut Anda, apa itu cinta?" Makna: kalimat konotasi di atas memiliki makna, bahwa pertanyaan mengenai arti cinta adalah hal paling buruk bagi si tokoh, melebihi hal-hal buruk yang lain. Paragraf 4 Jemariku bergetar, menahan garpu, pisau, piring, gelas, dan benda-benda dalam radiusku yang sangat mungkin kujadikan senjata pembelaan diri atas serangan pertanyaan-pertanyaan paling muskil dijawab tapi selalu ditanyakan itu. Makna: kalimat konotasi di atas memiliki makna, bahwa si tokoh merasa emosional dengan pertanyaan yang diajukan. Paragraf 5 Dan aku teringat baris-baris panjang tentang cinta dan Tuhan yang pernah dimuntahkan mulutku seperti peluru dari senapan otomatis -yang begitu hebat dan jenius hingga menembusi hati orang-orang yang mendengarnya. Makna: baris-baris panjang pada kalimat diatas berarti kalimat atau kata-kata, atau buah pemikiran sedangkan dimuntahkan mulutku maksudnya adalah yang dikatakan, kemudian menembusi hati orang yang mendengar adalah membuat orang percaya dan kagum. Arti kalimat konotasi di atas adalah, si tokoh pernah mengeluarkan pemikirannya tentang cinta dan Tuhan, sehingga membuat orang terkagum-kagum. Paragraf 13 Berlinangan airmata, yang jatuh bukan karena duka atau suka, aku pun berkata: "Inilah cinta. Inilah Tuhan. Tangan kita bau menyengat, mata kita perih seperti disengat, dan tetap kita tidak menggenggam apa-apa." Sambil terisak, yang bukan karena haru bahagia atau haru nelangsa, lagi aku berkata: "Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban." Makna: paragraf di atas sebenarnya hanya membincang soal makna Tuhan dan cinta yang bisa dirasakan, namun tidak berwujud.

Paragraf 14 Ditandai air mata 'cinta' yang menghiasi pipi kami berdua serta aroma Tuhan yang meruap segar dari kuku, wawancara siang itu usai. Makna: di sini Dee ingin menegaskan penemuan akan makna cinta dan Tuhan menandai berakhirnya wawancara. Penggunaan kata konotasi membuat cerpen menjadi indah, karena pembaca dituntut berpikir untuk dapat menangkap makna yang sebenarnya. Selain itu makna konotasi juga memberikan adanya variasi, yang membuat cerita menjadi tidak monoton. Ada permainan-permainan isitlah yang membuat cerpen nyaman dinikmati, misalnya kata piring, garpu, dan sendok boleh jadi bukan barang yang sebenarnya, melainkan suatu alasan yang masuk akal, sehingga bisa mengelak dari pertanyaan-pertanyaan wartawan. Lalu kata pengalaman, berjodoh, bau menyengat, semua itu merupakan symbol yang dihadirkan oleh penulis, agar cerita terasa kuat. Begitu juga dengan kata konotasi aroma Tuhan, yang sebenarnya hanya membincang perkara keberadaan Tuhan. Namun, Dee berhasil menciptakan bahasabahasa yang menggelitik tersebut.

2. Jenis Kata No Jenis Kata 1 2 Kata Benda Kata Kerja Contoh Acar, mangkok, garpu Memahitkan, memualkan, menghiasi, bercinta 5 6 3 Kata tugas Kata Ganti Kata Sifat Yang, di Ini, itu, kau, aku, 36 24 14,12% 9,41% 7,05% Jumlah Kata 84 69 Presentase 32,94% 27,05%

Muskil, panas, perih, 18 kecil

7 4

Kata Keterangan Sangat, bersama-sama Kata bilangan Semangkok Jumlah

16 8 255

5,3% 3,13% 100%

Berdasarkan tabel di atas kita dapat menganalisis bahwa kata benda menduduki peringkat paling atas. Penggunaan kata benda ini bukan tanpa alasan, Dee menampilkan kata benda di sana sini dengan tujuan mengkonkritkan cerita. Benda adalah sesuatu yang dapat dirasakan oleh panca indera. Kata benda juga memiliki peranan penting sebagai subyek dan obyek. Terkait dengan cerpen ini, kata benda memberikan nilai estetis, khususnya sebagai penegas latar dan suasana. Penggunaan kata kerja yang juga banyak dalam cerpen ini, bertujuan untuk menghidupkan cerita sekaligus menggambarkan bahwa tokoh adalah orang yang hidup dan aktif. Penggunaan kata kerja dalam cerpen ini lebih banyak disisipkan Dee dalam majas-majas yang dia gunakan. Efek ini memberikan kesan menarik, terutama dalam menggambarkan perlakuan-perlakuan yang mungkin akan dilakukan oleh si tokoh aku, lebih-lebih Dee seringkali menggunakan kata kerja yang beruntun. Kata sifat pada cerpen Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta lebih sering menggambarkan emosi, sifat, dan juga hal-hal abstrak yang ada di sekitar tokoh. Penggunaan kata-kata sifat ini sangat berpengaruh terhadap kedalaman cerita. Lihat saja, bagaimana Dee mengungkapkan kata kecil, panas, dan perih untuk menggambarkan usahanya dalam mencari makna Tuhan dan cinta. Kalau kata-kata sifat tersebut tidak tercantum, mungkin cerita menjadi terasa dangkal dan kurang gereget. Kata tugas meskipun kadang dianggap sepele, namun sebenarnya memiliki kedudukan yang penting. Tanpa kata tugas, sebuah kalimat tidak akan menjadi kalimat yang baik atau cacat. Keberadaan kata tugas secara tidak langsung ikut mempengaruhi keindahan sebuah kalimat, yang mana juga mempengaruhi keindahan cerita. Jumlah kata ganti dalam cerpen ini mungkin tidak sebanyak jenis kata yang lain. Namun, kata ganti memiliki peranan yang cukup penting dalam cerita. Kalau kita melihat, latar tempat dari awal hingga ahir tidak berubah, hanya sebuah meja kafe. Maka kata ganti seperti ini dan itu terasa relevan untuk memberikan penegasan pada apa yang sedang dilakukan atau dibahas. Begitu juga dengan kata ganti orang, aku dank kau. Kedua kata ganti orang ini memiliki kedudukan yang penting, lantaran tokoh cerita hanya terdiri dari dua orang. Dengan demikian, kata ganti yang digunakan memiliki sinergitas dengan cerita yang ditulis. Hal ini memberikan efek keindahan tersendiri.

Hampir sama dengan kata sandang, kata keterangan pun memiliki fungsi untuk memperkuat penggambaran situasi. Saya ingin mencarinya dengan saya ingin mencarinya bersama-sama tentu memiliki pemaknaan yang berbeda. Kalimat pertama, bermakna bahwa yang mencari hanya saya, sedangkan pada kalimat kedua bermakna, bahwa saya mengajak orang lain untuk mencari dalam waktu yang bersamaan. Kata bilangan boleh jadi memiliki prosentase yang paling sedikit, dibandingkan dengan jenis kata yang lain. Akan tetapi, jenis kata ini turut membangun keindahan cerita. Kalau kita cermati, hanya ada satu kata bilangan, yaitu pada kata semangkok yang merujuk pada satu mangkok. Namun, Dee menggunakan kata ini berkali-kali, yang berarti Dee ingin memberikan penegasan, bahwa untuk memahami cinta serta Tuhan, yang diperlukan itu adalah semangkok, bukan sepiring, yang diperlukan itu semangkok, bukan beberapa mangkok. Dengan hal ini, ingatan pembaca akan kata semangkok menjadi lebih mendalam, terlebih kata semangkok juga terpampang dalam judul cerita. B. Unsur Gramatikal 1. Kompleksitas kalimat Dalam cerpen Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta terdapat 15 paragraf dan 54 kalimat yang terdiri dari 22 kalimat sederhana dan 32 kalimat kompleks yang dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Jenis Kalimat Kalimat sederhana Kalimat kompleks Jumlah

Jumlah Kalimat 22 32 54

Persentase 40,74% 59,26% 100%

Tabel di atas menunjukkan bahwa cerpen ini lebih didominasi oleh kalimat kompleks daripada kalimat sederhana. Dominasi kalimat kompleks tersebut menggambarkan bahwa cerita dalam cerpen ini tidak sesederhana yang kita kira. Cerpen ini sederhana namun juga sedikit sulit dipahami maknanya secara lugas. Contoh kalimat sederhana dan kalimat kompleks dapat kita lihat pada uraian berikut ini. Untuk jenis kalimat secra lebih lengkap, bisa dilihat di lampiran. a. Kalimat sederhana

Wartawan itu terkesiap. (Paragraf 8) S P

Artikel itu kemudian terbit. (Paragraf 15) S P

b. Kalimat kompleks Jemariku bergetar, menahan garpu, pisau, piring, gelas, dan benda-benda dalam radiusku yang sangat mungkin kujadikan senjata pembelaan diri atas serangan pertanyaan-pertanyaan paling muskil dijawab tapi selalu ditanyakan itu. (Paragraf 4) Kalimat itu terdiri dari 8 klausa 1. Jemariku bergetar menahan garpu S P O

2. Jemariku bergetar menahan pisau S P O

3. Jemariku bergetar menahan piring S P O

4. Jemariku bergetar menahan gelas S P O

5. Jemariku bergetar menahan benda-benda dalam radiusku S P O

yang sangat mungkin kujadikan senjata pembelaan diri K atas serangan pertanyaan-pertanyaan paling muskil dijawab tapi selalu

ditanyakan itu 6. benda-benda dalam radiusku yang sangat mungkin kujadikan S P

senjata pembelaan diri atas serangan pertanyaan-pertanyaan paling muskil O dijawab tapi selalu ditanyakan itu 7. senjata pembelaan diri atas serangan pertanyaan-pertanyaan paling muskil

dijawab tapi selalu ditanyakan itu 8. pertanyaan-pertanyaan S paling muskil dijawab tapi selalu ditanyakan itu P

Sebagaimana dijelaskan dalam pengantar, seorang pengarang akan sangat jeli dalam memilih kata atau kalimat. Dia akan mempertimbangkan, mana kalimat yang mampu membangun cerita dan mana yang tidak. Sebab, berbicara sastra maka kita juga akan disodorkan pada estetika. Dalam cerpen ini Dee pandai menggunakan kombinasi kalimat sederhana dan kalimat kompleks. Kalimatkalimat sederhana menimbulkan kesan santai bagi para pembaca. Pembaca akan merasa mudah memahami. Biasanya hal-hal yang disampaikan secara singkat, menunjukkan kesan lugas dan tidak terlalu esensial untuk diperbincangkan secara panjang lebar. Berbeda dengan kalimat sederhana, kalimat kompleks memegang peranan yang cukup penting dalam cerita. Dalam kalimat panjang tersebut, pengarang menuntut pembaca untuk bisa memainkan irama dan emosi, melalui penjedaan berdasarkan tanda titik atau koma. Panjangnya kalimat juga mendukung suasana cerita. Kalimat panjang yang hanya dibatasi dengan koma-koma menimbulkan kesan genting dan tegang. Inilah yang kemudian melahirkan irama cerita. Irama di sini bukan berarti suara, melainkan cara pembaca dalam membacakan cerita. Selain itu panjangnya kalimat juga berkaitan dengan urgensi permasalahan untuk diperbincangkan secara panjang lebar, sehingga menimbulkan kesan yang lebih kuat dan membekas. Klau kita mencermati, cerpen ini didominasi oleh kalimat kompleks. 1. Jenis Kalimat Identifikasi jenis kalimat dalam cerpen ini meliputi kalimat deklaratif (kalimat yang menyatakan sesuatu), kalimat imperatif (kalimat yang mengandung makna perintah atau larangan), dan interogatif (kalimat yang mengandung makna pertanyaan), serta kalimat minor dan kalimat mayor. Persentase pemunculan jenis-jenis kalimat tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2.2 Jenis-jenis Kalimat dan Frekuensinya Jenis Kalimat Kalimat Deklaratif Kalimat Imperatif Kalimat Interogatif Jumlah Jumlah Kalimat 46 3 8 57 Persentase 81% 5% 14% 100%

Contoh beberapa kalimat deklaratif: Aku membenci kedua pertanyaan itu sepenuh hati sampai kudedikasikan seluruh hidupku untuk mencari jawabnya, agar kedua pertanyaan itu berhenti menghantui. (paragraf 2) Tanpa terburu-buru, kuselesaikan kunyahan, lalu minum air seteguk (paragraf 7) Tangan kita bau menyengat, mata kita perih seperti disengat, dan tetap kita tidak menggenggam apa-apa (paragraf 14) Hanya gambar besar semangkok acar bawang. (paragraf 16) Kalau kita mencermati cerpen ini, maka kita akan mendapati beberapa informasi. Cerpen ini lebih banyak menggunakan gaya deskripsi entah dengan menggunakan majas ataupun tidak. Maka, wajar jika Dee lebih banyak menggunakan kalimat-kalimat deklaratif yang berfungsi untuk menjelaskan atau memaparkan.

Contoh kalimat imperatif: Ayo, kita kupas. Pakai kuku. (paragraf 9) Ayo. Terus, sampai habis. (paragraf 11) Cepen ini minim sekali kalimat imperatif. Minimnya kalimat inperatif dalam cerpen karya Dee bukanlah tanpa alasan. Hal ini sejalan dengan isi cerita, tentang bagaimana Dee mengajak si wartawan menemukan makna cinta dan Tuhan dengan cara yang sugestif. Secara psikologis, kalimat-kalimat imperatif khususnya kalimat suruhan, membuat pembaca merasa digurui. Hal ini menimbulkan kesenjangan kedudukan antara pembaca dengan pengarang. Cerpen ini mengajak pembaca untuk terlibat dalam sebuah diskusi imajiner, sehingga pembaca dituntut tidak hanya menikmati, namun juga berpikir kritis.

Contoh kalimat interogatif: apa itu cinta? Apa itu Tuhan? (paragraf 16) Menurut Anda, apa itu cinta? (paragraf 2) Satu lagi. Apa makna Tuhan bagi Anda? (paragraf 4) Sepintas kita tidak mendapatkan fungsi yang cukup berpengaruh terkait minimnya kalimat interogatif dalam cerpen ini. Namun, apabila kita mencermati, sesugguhnya minimnya kalimat interogatif ini mendukung bangunan cerita. Kalimat-kalimat tersebut muncul secara wajar, dalam sebuah wawancara. Dalam wawancara, pertanyaan yang diajukan oleh wartawan cenderung sedikit, karena titik sentral dalam wawancara adalah narasumber. Maka, narasumberlah yang lebih banyak berbicara serta menjelaskan. Ini mengandung estetika tersendiri. 1. Jenis Klausa dan Frase Identifikasi jenis klausa pada cerpen ini lebih difokuskan pada tipe klausa berdasarkan kategori unsur pengisi P yang meliputi klausa ajektival, preposisional, nominal, verbal, dan adverbial. Persentase pemunculan jenis klausa tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 2.3 Jenis-jenis Klausa dan Frekuensinya Cerpen karya Dewi Lestari ini memiliki tujuh jenis klausa, yaitu klausa nominal, verbal, ajektival, preposisional, adverbial, dan pronominal. Persentase pemunculan jenis klausa tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel Jenis-jenis Klausa dan Frekuensinya Jenis Klausa Klausa verbal Klausa nominal Klausa preposisional Klausa ajektival Klausa numeral Klausa pronominal Klausa adverbial Jumlah Klausa 45 klausa 8 klausa 7 klausa 7 klausa 6 klausa 2 klausa 1 klausa Persentase 59,21% 10,53% 9,21% 9,21% 7,89% 2,63% 1,32%

Jumlah

76

100%

Contoh: 1. Klausa nominal Inilah cinta (Paragraf 13) disebut klausa nominal (benda) karena fungsi predikat (kata cinta) dalam fungsi tersebut adalah kata benda. Inilah Tuhan (Paragraf 13) disebut klausa nominal (benda) karena fungsi predikat (kata Tuhan) dalam fungsi tersebut adalah kata benda. 2. Klausa verbal aku membenci kedua pertanyaan itu (Paragraf 1) disebut klausa verbal (kerja) karena fungsi predikat (kata membenci) dalam fungsi tersebut adalah kata kerja. memohon perhatian penuhmu (paragraf 1) disebut klausa verbal karena fungsi predikat (kata memohon) dalam fungsi tersebut adalah kata kerja, sedangkan fungsi subjeknya lesap. 3. Klausa ajektival jawaban lebih panjang (paragraf 3) disebut klausa ajektival (sifat) karena fungsi predikat (kata lebih panjang) dalam fungsi tersebut adalah kata sifat. serpih terakhir terlampau kecil (paragraf 12) disebut klausa ajektival (sifat) karena fungsi predikat (kata sudah terlampau kecil) dalam fungsi tersebut adalah kata sifat. 4. Klausa numeral Berikut ini dua pertanyaan (paragraf 1) disebut klausa numeral (jumlah) karena fungsi predikat (kata dua pertanyaan) dalam fungsi tersebut adalah kata numeral. semangkok acar bawang (paragraf 15) disebut klausa numeral (jumlah) karena fungsi predikat (kata semangkok acar bawang) dalam fungsi tersebut adalah kata numeral, sedangkan subjeknya lesap. 5. Klausa preposisional makanan di piring (paragraf 1) disebut klausa preposisional (kata depan) karena fungsi predikat (kata di piring) dalam fungsi tersebut adalah kata preposisional.

peluru dari senapan otomatis (paragraf 5) disebut klausa preposisional (kata depan) karena fungsi predikat (kata dari senapan otomatis) dalam fungsi tersebut adalah kata preposisional. 6. Klausa adverbial di tengah jam makan siang (paragraf 1) disebut klausa adverbial (kata keterangan) karena fungsi predikat (kata di tengah jam makan siang) dalam fungsi tersebut adalah kata preposisional, sedangkan subjeknya lesap. 7. Klausa pronominal Semakin yakinlah ia (paragraf 7) disebut klausa pronominal (kata ganti) karena fungsi predikat (kata ia) dalam fungsi tersebut adalah kata pronominal, sedangkan subjeknya lesap. reputasi sebagai sang penanya brilian (paragraf 8) disebut klausa pronominal (kata ganti) karena fungsi predikat (kata sang penanya brilian) dalam fungsi tersebut adalah kata pronominal. Dari tabel di atas, jenis klausa yang paling dominan adalah klausa verbal. Penggunaan klausa verbal membuat cerita menjadi dinamis, bergerak, dan terkesan hidup. Pada urutan kedua terdapat klausa nominal. Klausa nominal jelas memiliki peranan yang cukup penting dalam cerita, karena bagaimanapoun juga hal-halyang bersifat kebendaan membuat cerita menjadi realistis. Begitupun jenis klausa yang lain, semua itu membuat cerita mnjadi lebih estetis.

Dalam cerpen ini, jenis frasa yang dianalisis adalah tipe frasa berdasarkan kategori katanya yang terdiri atas frasa adverbial, frasa ajektival, frasa nominal, frasa verbal, frasa preposisional, dan frasa numeral. Persentase pemunculan jenis frasa tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Jenis Frasa Frasa nominal Frasa pronominal Frasa adjektival Frasa verbal Frasa numeral Frasa preposisional Frasa adverbial Jumlah

Jumlah Frasa 14 nom 11 pro 9 aj 8 ver 7 num 2 pre 1 adv 52

Persentase 26,9% 21,15% 17,3% 15,38% 13,46% 3,8% 1,9% 100%

Tabel 2.4 Jenis-jenis Frasa dan Frekuensinya Dari tabel di atas, jenis frasa yang paling dominan adalah frasa nominal yaitu berjumlah 14 frasa atau sebesar 26,9%. Selanjutnya, frasa pronominal berada di urutan kedua setelah frasa nominal dengan persentase 21,15%, frasa adjektival sebesar

17,3%, frasa verbal sebesar 15,38%, frasa numeral sebesar 13,46%, frasa preposisional sebesar 3,8%, dan frasa adverbial sebesar 1,9%. Dari segi katagori gramatikalnya: a. Frasa Nominal Frasa nominal adalah frasa endosentris berinduk satu yang induknya merupakan nominal Contohnya: Kami mendengar pidato presiden Ani membeli buku bahasa Indonesia Ayah Amir adalah seorang guru sekolah dasar

Dalam cerpen Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta terdapat beberapa frasa nominal. Contoh frasa nominal yang terdapat dalam cerpen Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta antara lain: Perhatian penuhmu

Makan siang Peta terbaru Air mata Kudedikasikan seluruh hidupku Pertanyaan itu Orang itu Wartawan itu

b. Frasa Pronominal Frasa pronominal adalah frasa endosentris berinduk satu yang induknya pronominal. Contohnya: Saya sendiri akan pergi ke pasar Kami sekalian akan berkunjung ke Jogja Buku harian itu milik Hendra

Dalam cerpen Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta terdapat beberapa frasa pronominal. Contohnya antara lain: Kita akan mengetahui Tuhan Kita bisa mengungkap keduanya sekaligus. Menghiasi pipi kami berdua. Mereka lalu melahap semangkok acar bawang Dan mereka yang membacanya c. Frasa Verbal Frasa verbal adalah frasa endosentris berinduk satu yang induknya verba dan modifikatornya berupa partikel modal, partikel ingkar, frasa adverbial, atau adverbial. Contohnya: Andi datang bersama teman kelasnya Anto bekerja sebagai salesman di perusahaan itu

Ani sudah makan

Dalam cerpen Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta terdapat beberapa frasa verbal. Contohnya antara lain: Berikut ini dua pertanyaan yang paling kubenci Pertanyaan itu berhenti menghantui Tapi saya tidak ingin menjawab d. Frasa Adjectival Frasa Adjektival adalah frasa endosentris berinduk satu yang induknya adjektival dan modifikatornya adverbial. Contohnya: Buku itu terlalu banyak Gedung itu sangat megah Bunga itu warnanya merah jambu

Dalam cerpen Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta terdapat beberapa contoh frasa adjektival. Contohnya antaralain: jawaban lebih panjang terlampau kecil sedang sibuk

e. Frasa Adverbial Frasa adverbial adalah frasa endosentris berinduk satu yang induknya adverbial dan modifikatornta adverbial lain atau partikel. Contohnya: Ayahnya seorang guru Pohon kelapa itu sangat tinggi

Dari cerpen Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta terdapat beberapa contoh frasa adverbial. Contoh yang terdapat dalam Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta antara lain sebagai berikut: Di tengah jam makan siang

f. Frasa Numeral Frasa numeral adalah frasa endosentris direktif dan non direktif. Contohnya: Mereka memotong dua puluh ekor sapi Andi memiliki lima orang saudara

Dari cerpen Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta terdapat beberapa contoh frasa numeral. Contoh yang terdapat dalam Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta antara lain sebagai berikut: Air seteguk Dua bawang merah Semangkok Dua pertanyaan Kedua pertanyaan Seseorang muncul Satu butir

g. Klausa preposisional makanan di piring (paragraf 1) disebut klausa preposisional (kata depan) karena fungsi predikat (kata di piring) dalam fungsi tersebut adalah kata preposisional. peluru dari senapan otomatis (paragraf 5) disebut klausa preposisional (kata depan) karena fungsi predikat (kata dari senapan otomatis) dalam fungsi tersebut adalah kata preposisional. B. Unsur Retoris 1. Pemajasan No. 1. 2. Jenis Pemajasan Personifikasi Hiperbola Jumlah 1 buah 5 buah Persentase 10% 50%

3. 4. 5.

Simile Metafora Sinisme Jumlah Keseluruhan

2 buah 1 buah 1 buah 10

20% 10% 10% 100%

a. Hiperbola Dan tidak ada yang lebih memahitkan mulut, memualkan perut, menyesakkan jantung, ketika seseorang muncul dengan kertas dan pulpen, atau alat perekam, di tengah jam makan siang, saat rahangmu sedang sibuk mengunyah, saat makanan di piring memohon perhatian penuhmu, dan orang itu bertanya: "Menurut Anda, apa itu cinta?" (Paragraf 1) Aku membenci kedua pertanyaan itu sepenuh hati sampai kudedikasikan seluruh hidupku untuk mencari jawabnya (Paragraf 1) Majas hiperbola sebagaimana pengertiannya, adalah majas yang membuat sesuatu terkesan berlebihan. Maka tak heran majas ini membuat cerita menjadi berlebihan. Namun, selain itu, hiperbola juga berfungsi sebagai pembanding. Contohnya pada paragraf 1, kalau Dee tidak menggambarkan bagaimana mulut pahit, perut mual, jantung sesak, atau piring yang memohon perhatian, maka pembaca tidak akan tahu atau paham, betapa pertanyaan di kala jam makan siang itu adalah hal yang sangat buruk. Hiperbola juga sangat efektif dalam menggambarkan perasaan tokoh. b. Personifikasi rasa penasarannya terusik (Paragraf 8) Saat makanan di piring memohon perhatianmu (paragraf 1) Personifikasi adalah majas yang memungkinkan benda mati dibuat seolaholah hidup. Majas personifikasi dalam cerpen ini membuat cerpen menjadi hidup. Tampaknya hal ini menjadi strategi Dee untuk mensiasati jumlah tokoh yang hanya dua, sehingga untuk melawan situasi sepi ini, dia menghidupkan benda-benda di sekitarnya. c. Metafora

Ditandai air mata 'cinta' yang menghiasi pipi kami berdua serta aroma Tuhan yang meruap segar dari kuku, wawancara siang itu usai (Paragraf 14) Metafora berperan cukup penting untuk memunculkan variasi bahasa, sehingga pembaca tidak bosan dengan kata-kata klise. Selain itu metafora juga memberikan kesempatan kepada pembaca untuk berpikir tentang makna yang sebenarnya diungkapkan oleh pengarang. Kejelian inilah yang dimanfaatkan Dee untuk memperindah ceritanya. d. Simile Dan aku teringat baris-baris panjang tentang cinta dan Tuhan yang pernah dimuntahkan mulutku seperti peluru dari senapan otomatis (Paragraf 5) Simile adalah majas pertautan yang membandingkan dua hal yang secara hakiki berbeda, tetapi dianggap mengandung segi yang serupa, dinyatakan secara eksplisit dengan kata seperti, bagai, dan laksana. Dalam cerpen ini, simile berfungsi untuk memberikan kesan gamblang, misalnya baris panjang tentang cinta yang diibaratkan dari senapan otomatis. Dari majas tersebut pembaca dapat

membayangkan betapa cepat dan bertubi-tubinya cinta dan Tuhan dibahas. Hal ini sangat mendukung cerita, yang dari awal memang sudah disetting dengan pendekatan filsafati. e. Sinisme Demi sopan santun, aku tahankan garpu agar tak mencelat ke bola matanya, dan kugenggam erat-erat piringku agar tak pecah jadi dua di atas batok kepala wartawan itu (Paragraf 2) Sinisme adalah gaya bahasa yang mengandung sindiran sangat tajam dan tidak mengenal perikemanusiaan. Sebagaimana dicontohkan Dee, tentang garpu yang mencelat ke bola mata, atau piring yang akan dipecahkan ke batok kepala. Seua itu memberikan dampak psikologis yang kuat kepada pembaca. Dengan kata-kata yang dipilih, Dee mampu memberikan gambaran perasaan yang sangat geram. Hal ini sekaligus memperkuat ruh cerita. 2. Penyiasatan struktur a. Repetisi

Dan aku teringat baris-baris panjang tentang cinta dan Tuhan yang pernah dimuntahkan mulutku seperti peluru dari senapan otomatis -yang begitu hebat dan jenius hingga menembusi hati orang-orang yang mendengarnya. Aku teringat buih dan busa di sudut mulutku saat berdiskusi tentang cinta dan Tuhan- yang jika dikumpulkan barangkali bisa merendam tubuhku sendiri. Aku teringat jerih payah, keringat, air mata, pegal-pegal, kurang tidur, tak makan, tak minum, yang telah kutempuh demi mencari apa itu cinta dan Tuhan. (Paragraf 6) haru bahagia atau haru nelangsa (paragraf 14) Kalau dalam lagu orang mengenal irama dan nada, maka dalam cerpen orang mampu mendapatkan keindahan melalui diksi. Repetisi sebagai salah satu sarana untuk membangun irama cerita, bagaimana Dee menggunakan kata baris-baris, orang-orang, pegal-pegal, begitu juga dengan seringnya klausa tentang cinta dan Tuhan dimunculkan. Cerita akan terasa hambar, kalau saja Dee tidak menggunakan pengulangan-pengulangan tersebut. b. Pararelisme Dan tidak ada yang lebih memahitkan mulut, memualkan perut, menyesakkan jantung (paragraf 2) menyambar mangkok berisi acar, mencomot dua bawang merah utuh, dan memberikan satu butir (paragraf 10) Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. (paragraf 14) Nurgiantoro (2010: 302) menyatakan pararelisme, di pihak lain, menyaran pada penggunaan bagian-bagian kalimat yang mempunyai kesamaan struktur gramatikal (dan menduduki fungsi yang sama pula) secara berurutan. Dengan demikian, pararelisme, sebagaimana halnya repetisi, pada hakikatnya juga merupakan suatu bentuk pegulangan, yaitu pengulangan struktur gramatikal, pengulangan struktur bentuk. Kalau kita membaca tulisan-tulisan di atas, maka kita data merasakan dengan jelas, keindahan penggunaan pararelisme. Ada permainan bunyi yang menjadikan kata-kata tersebut berima. Penggunaan awalan yang sama secara beruntun membuat kalimat menjadi lebih indah c. Alitrasi

Aku teringat buih dan busa (paragraf 6) Wartawan itu terkesiap. Tak siap. (paragraf 9) Berlinangan airmata, yang jatuh bukan karena duka atau suka (paragraf 14) Tangan kita bau menyengat, mata kita perih seperti disengat (paragraf 14) Hampir sama dengan pararelisme, alitrasi dapat terjadi karena persamaan suku kata. Pengulangan atau persamaan ini menjadikan cerita terdengar lebih puitis. Hal inilah yang memperindah cerpen. Penggunaan kata terkesiap dan tak siap tentu lebih estetis dibandigkan penggunaan kata terkesiap dan ragu. d. Polisindenton Jemariku bergetar, menahan garpu, pisau, piring, gelas, dan benda-benda dalam radiusku (paragraf 5) Aku teringat jerih payah, keringat, air mata, pegal-pegal, kurang tidur, tak makan, tak minum (paragraf 6) Mereka lalu melahap semangkok acar bawang, bercinta, sambil terus bertanya-tanya (paragraf 16) Tak hanya pengulangan, tanda koma pun memberikan makna pada sebuah cerita. Koma pada cerpen berfungsi sebagai penjeda seseorang dalam membaca, selain itu koma juga menjadi semacam pengatur situasi. Koma juga memberikan kesan klimaks pada sesuau yang disusun berdasarkan tingkatan. Polisindenton terkadang membuat kalimat menjadi ringkas dan efisien, sebab seringkali subyek dalam kalimat tersebut dilesapkan guna menghindari pengulangan-pengulangan yang mubadzir. e. Asindenton ketika seseorang muncul dengan kertas dan pulpen, atau alat perekam, di tengah jam makan siang, saat rahangmu sedang sibuk mengunyah, saat makanan di piring memohon perhatian penuhmu, dan orang itu bertanya (paragraf 2) berbeda dengan polisindenton, asindenton lebih longgar tata kalimatnya. Gaya bahasa ini sekalipun juga menggunakan tanda koma, namun masih ada sisipansisipan sebagai kata penghubung. Baik polisindenton maupun asindenton mampu menambah keindahan cerita. 3. Pencitraan Jenis-jenis Pencitraan (imaji)

Citraan adalah gambaran gambaran pikiran dan bahasa yang menggambarkan angan itu. Pemilihan terhadap kata tertentu akan menimbulkan daya saran yang menyebabkan daya bayang pembaca. 1. Citraan penglihatan, yaitu citraan yang timbul karena daya saran penglihatan. 2. Citraan pendengaran, yaitu berhubungan dengan usaha memancing bayangan pendengaran guna membangkitkan suasana tertentu. 3. Citraan penciuman, yaitu melukiskan ide abstrak menjadi konkrit melalui suatu rengsangan yang seolah olah dapat ditangkap oleh indera penciuman. 4. Citraan rasaan, yaitu memilih kata untuk membangkitkan emosi pada sajak guna menggiring daya bayang pembaca yang seolah olah dapat dirasakan oleh indera pencecapan pembaca. 5. Citraan rabaan, yaitu berupa lukisan yang mampu menciptakan suatu daya saran bahwa seolah-olah pembaca dapat tersentuh, bersentuhan, atau apapun yang melibatkan efektivitas indera kulitnya. 6. Citraan gerak, yaitu bertujuan lebih menghidupkan gambaran dengan melukiskan sesuatu yang diam itu seolaholah bergerak. Pencitraan dalam Cerpen Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta antara lain sebagai berikut: Citraan penglihatan ketika seseorang muncul dengan kertas dan pulpen aku teringat baris-baris panjang matanya berbinar antusias Citraan pendengaran Sambil terisak, kugenggam erat-erat piringku agar tak pecah, seperti peluru dari senapan otomatis Citraan penciuman bau menyengat, serta aroma Tuhan yang meruap segar dari kuku, Citraan pencecapan Dan tidak ada yang lebih memahitkan mulut,

Citraan taktil (oleh indra peraba) edisi khusus yang membahas 10+1 cara bercinta paling panas dan peta terbaru menuju spot-spot orgasmik, mengupasi bawang dengan kuku,

Citraan gerak saat rahangmu sedang sibuk mengunyah, jemariku bergetar, ia mengangguk setuju. Citraan-citraan di atas, sebenarnya memiliki fungsi yang hampir sama,

memperkuat cerita melalui imaji-imaji yang diverbalkan. Sehingga, pembaca dapat seolah-olah melihat, mendengar, meraba, merasakan, mencium, dll. Dalam cerpen ini, Dee sudah secara pas menempatkan citraan-citraan, sehingga citraan tersebut secara tidak lagsung dapat mendukung unsur yang lain.

D. Unsur Kohesi Tabel Unsur Kohesi No. 1. 2. 3. 4. Jenis Kohesi Konjungsi Klitika Preposisi Referen Jumlah Keseluruhan Jumlah 62 buah 32 buah 8 buah 7 buah 109 buah Frekuensi 56,88% 29,36% 7,34% 6,42% 100%

1. Konjungsi Contoh dari konjungsi yang ada dalam cerpen ini yaitu, a. Aku membenci kedua pertanyaan itu sepenuh hati sampai kudedikasikan seluruh hidupku untuk mencari jawabnya, agar kedua pertanyaan itu berhenti menghantui.(Paragraf 1)

b. Tanpa terburu-buru, kuselesaikan kunyahan, lalu minum air seteguk.(Paragraf 6) Konjungsi adalah kata atau penghubung antar kata, frasa, klausa, kalimat, atau bahkan paragraf. Dalam cerpen Semangkok Acar untuk Tuhan dan Cinta klausa yang ditemukan mayoritas berfungsi untuk menunjukkan hubungan kausalitas. Artinya, De bermain-main dengan logika, yang mana sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Peristiwa satu adalah rangkaian dari peristiwa yang lain. Penggunaan konjungsi sukses membuat cerpen ini menjadi sebuah cerpen yang utuh. 2. Preposisi Contoh dari preposisi yang terdapat dalam cerpen ini yaitu, a. atau alat perekam, di tengah jam makan siang, (Paragraf 1) b. Demi sopan santun, aku tahankan garpu agar tak mencelat ke bola matanya (Paragraf 2) 3. Klitika Contoh dari klitika yang terdapat dalam cerpen ini yaitu, a. di tengah jam makan siang, saat rahangmu sedang sibuk mengunyah, (Paragraf 1) b. Jemariku bergetar, menahan garpu, pisau, piring, gelas,(Paragraf 4) Klitika dalam cerpen ini mayoritas berfungsi untuk menunjukkan identitas kepemilikan. Selain itu juga menunjukkan penegasan, mana yang menjadi bagian tokoh aku dan mana yang menjadi bagian tokoh wartawan. Dengan penggunaan klitika kita juga dapat melihat posisi tokoh. Dengan mu dan ku, kita dapat

menyimpulkan bahwa mereka hanya berdua, tokoh aku memiliki kekuasaan untuk tidak menghormati mitra tuturnya secara berlebihan. Sebab, jika kedudukan mitra tutur lebih tinggi, tentu Dee akan menggunakan pilihan kata Anda. 4. Referen Contoh dari referen yang terdapat dalam cerpen ini yaitu, a. dan orang itu, (Paragraf 1) referen eksofora b. Dan aku teringat baris-baris panjang tentang cinta dan Tuhan yang pernah dimuntahkan mulutku seperti peluru dari senapan otomatis (simile) -yang begitu hebat dan jenius hingga menembusi hati orang-orang yang mendengarnya (Paragraf 5) referen endofora

Referen adalah bagian dari semantik wacana yang cukup ampuh dalam menyiasati kemonotonan dalam penyebutan tokoh. Dewi Lestari dalam cerpen ini berhasil mempergunakan referen secara tepat.

BAB IV PENUTUP DAN KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan yang sudah dilakukan pada cerpen Semangkuk Acar untuk Tuhan dan Cinta karya Dewi Lestari, maka dapat disimpulkan, bahwa unsur leksikal, gramatikal, retorika, maupun kohesi mendukung estitika dalam cerita. Selain itu pilihan kata, pilihan kalimat, penyiasatan struktur, penggunaan majas, tidak hanya sekedar pemenuhan unsur kebahasaan saja, melainkan juga memili fungsi masing-masing, yang apa bila ditelisik lebih jauh, bahasa yang digunakan mampu membuat cerita menjadi lebih menarik. Terkait dengan gaya, Dewi Lestari cukup pandai memadukan penggunaan kata-kata konotatif dan denotatif, dia juga pandai dalam memadukan antara kalimat sederhana dan kompleks, kalimat lugas dan kalimat bermajas, sehingga secara keseluruhan unsur-unsur kebahasaan tersebut mampu mendukung alur, karakter, situasi, dan iklim yang hendak dibangun dalam cerita.

DAFTAR PUSTAKA Khusnin, Mukhamad. 2012. Gaya Bahasa Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy dan
Implementasinya Terhadap Pengajaran Sastra di SMA. Seloka. Volume 1, No.1, Juni. Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Gajah Mada University Press: Yogyakarta. Pradopo, Rachmat Djoko. 1999. Penelitian Stilistika Genetik: Kasus Gaya Bahasa W. S. Rendra dalam Balada Orang-Orang Tercinta dan Blues Untuk Bonnie. Humaniora. No. 12, SeptemberDesember. Rinaldi, Rio, dkk. 2012. Gaya Bahasa Lirik Lagu Band Betrayer Album The Best Of. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. 1, No. 1, September.

Sugiarti. 2010. Kajian Stilistika Novel Nayla Karya Djenar Mahesa Ayu dan Petir Karya Dewi Lestari. Jurnal Artikulasi. Vol. 9, No.1, Februari.
Wulandari, Rini Susanti. 2009. Gaya Bahasa dalam Cerpen Warga Kota Kacang Goreng Karya Adek Alwi. Lingua. Vol. 2, Juli.