Anda di halaman 1dari 9

RUANG LINGKUP FIQH SIYASAH

I. PENDAHULUAN
Islam sebagai agama telah menyediakan berbagai kerangka normatif dan implementatif untuk
dijadikan sebagai pedoman umat manusia dalam berperilaku di muka bumi. Islam tidak
memberikan kerangka itu dalam bentuknya yang paling detail, melainkan memberikan panduan
nilai-nilai dan kerangka aplikasi sesuai dengan problem yang dihadapi umat manusia. Dengan
demikian, Islam tampil sebagai agama yang mampu menjawab segala tantangan zaman.
Menurut teori yang dikemukakan J.J. Rousseau (1712-1778 M), bahwa secara natural law, setiap
individu-individu melalui perjanjian bersama antara mereka membentuk sebuah masyarakat
(social contract). Dengan terbentuknya sebuah masyarakat ini, maka secara otomatis pula,
terbentuklah sebuah pemerintahan yang dapat mengatur dan memimpin masyarakat tersebut.
Dikatakan pula, bahwa hukum Islam itu adalah sebuah hukum yang sangat menyeluruh, dalam
arti hukum Islam dapat mencakup segala aspek kehidupan manusia. Padahal, di satu sisi, hukum
Islam terlihat secara lahirnya hanya dikaitkan dengan hukum dogmanitas yang seolah-olah
bersifat vertikal, bukan horizontal. Ternyata pandangan ini salah. Karena terbukti hukum Islam
secara langsung mengatur urusan duniawi manusia, sama ada yang muslim maupun yang bukan
muslim.
Maka dari sinilah perlunya sebuah disiplin ilmu di dalam hukum Islam yang dapat mengatur
konsep pemerintahan. Karena pemerintahan sangat diperlukan di dalam mengatur kehidupan
manusia. Disiplin ilmu tersebut adalah fiqh siysah.
II. RUMUSAN MASALAH
A. Apa Pengertian Fiqh Siyasah?
B. Bagaimana Obyek dan Metode Pembahasan Fiqh Siyasah?
C. Apa Saja Bidang-bidang Fiqh Siyasah?
D. Bagaimana Pengembangan Fiqh Siyasah di Era Modern?
III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Fiqh Siyasah
Istilah fiqh siyasah merupakan tarkib idhafi atau kalimat majemuk yang terdiri dari dua kata,
yakni fiqh dan siyasah. Secara etimologis, fiqh merupakan bentuk mashdar dari tashrifan kata
faqiha-yafqahu-fiqhan yang berarti pemahaman yang mendalam dan akurat sehingga dapat
memahami tujuan ucapan dan atau tindakan (tertentu).
Sedangkan secara terminologis, fiqh lebih populer didefinisikan sebagai berikut: Ilmu tentang
hukum-hukum syara yang bersifat perbuatan yang dipahami dari dalil-dalilnya yang rinci.
Adapun Al siyasah berasal dari kata yang berarti mengatur, mengendalikan,
mengurus, atau membuat keputusan. Secara terminologis, sebagaimana dikemukakan Ahmad
Fathi Bahatsi, siyasah adalah pengurusan kemaslahatan umat manusia sesuai dengan syara.
Definisi lain ialah Ibn Qayyim dalam Ibn Aqil menyatakan:
"Siyasah adalah segala perbuatan yang membawa manusia lebih dekat kepada kemaslahatan dan
lebih jauh dari kemafsadatan, sekalipun Rasulullah tidak menetapkannya dan (bahkan) Allah

tidak menentukannya"
Berdasarkan pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, fiqh siyasah adalah ilmu tata
negara Islam yang secara spesifik membahas tentang seluk-beluk pengaturan kepentingan umat
manusia pada umumnya dan negara pada khususnya, berupa penetapan hukum, peraturan, dan
kebijakan oleh pemegang kekuasaan yang bernafaskan atau sejalan dengan ajaran Islam, guna
mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan menghindarkannya dari berbagai kemudaratan
yang mungkin timbul dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang
dijalaninya.
Prinsipnya definisi-definisi tersebut mengandung persamaan. Siyasah berkaitan dengan mengatur
dan mengurus manusia dalam hidup bermasyarakat dan bernegara dengan membimbing mereka
kepada kemaslahatan dan menjauhkanya dari kemudaratan.
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, terdapat dua unsur penting di dalam Fiqh Siyasah
yang saling berhubungan secara timbal balik, yaitu: 1. Pihak yang mengatur, 2. Pihak yang
diatur. Melihat kedua unsur tersebut, menurut Prof. H. A. Djazuli, Fiqh Siyasah itu mirip dengan
ilmu politik, yang mana dinukil dari Wirjono Prodjodikoro bahwa:
Dua unsur penting dalam bidang politik, yaitu negara yang perintahnya bersifat eksklusif dan
unsur masyarakat.
Akan tetapi, jika dilihat dari segi fungsinya, fiqh siyasah berbeda dengan politik. Menurut Ali
Syariati seperti yang dinukil Prof. H. A. Djazuli, bahwa fiqh siyasah (siyasah syariyyah) tidak
hanya menjalankan fungsi pelayanan (khidmah), tetapi juga pada saat yang sama menjalankan
fungsi pengarahan (`ishlah). Sebaliknya, politik dalam arti yang murni hanya menjalankan fungsi
pelayanan, bukan pengarahan. Definisi politik adalah: Segala urusan dan tindakan
(kebijaksanaan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan sesuatu negara atau terhadap
negara lain, tipu muslihat atau kelicikan, dan juga dipergunakan sebagai nama bagi sebuah
disiplin pengetahuan, yaitu ilmu politik.
Ternyata, memang di dalam definisi ilmu politik di sini, tidak disinggung sama sekali tentang
kemaslahatan untuk rakyat atau masyarakat secara umum.

B. Obyek dan Metode Pembahasan Fiqh Siyasah


Objek kajian fiqh siyasah meliputi aspek pengaturan hubungan antara warga negara dengan
warga negara, hubungan antar warga negara dengan lembaga negara, dan hubungan antara
lembaga negara dengan lembaga negara, baik hubungan yang bersifat intern suatu negara
maupun hubungan yang bersifat ekstern antar negara, dalam berbagai bidang kehidupan. Dari
pemahaman seperti itu, tampak bahwa kajian siyasah memusatkan perhatian pada aspek
pengaturan. Penekanan demikian terlihat dari penjelasan T.M. Hasbi Ash Shiddieqy:
Objek kajian siyasah adalah pekerjaan-pekerjaan mukallaf dan urusan-urusan mereka dari
jurusan penadbirannya, dengan mengingat persesuaian penadbiran itu dengan jiwa syariah, yang
kita tidak peroleh dalilnya yang khusus dan tidak berlawanan dengan sesuatu nash dari nash-nash
yang merupakan syariah amah yang tetap.
Hal yang sama ditemukan pula pada pernyataan Abul Wahhab Khallaf:

Objek pembahasan ilmu siyasah adalah pengaturan dan perundang-undangan yang dituntut oleh
hal ihwal kenegaraan dari segi persesuaiannya dengan pokok-pokok agama dan merupakan
realisasi kemaslahatan manusia serta memenuhi kebutuhannya.
Secara garis besar maka objeknya menjadi, pertama, peraturan dan perundang-undangan, kedua,
pengorganisasian dan pengaturan kemaslahatan, dan ketiga, hubungan antar penguasa dan rakyat
serta hak dan kewajiban masing-masing dalam mencapai tujuan negara.
Metode yang digunakan dalam membahas Fiqh Siyasah tidak berbeda dengan metode yang
digunakan dalam membahas Fiqh lain, dalam Fiqh Siyasah juga menggunakan Ilm Ushul Fiqh
dan Qowaid fiqh.

Secara umum, metode yang digunakan adalah:


1. Al-Ijma
Al-Ijma merupakan kesepakatan (konsensus) para fuqaha (ahli fiqh) dalam satu kasus. Misalnya
pada masa khalifah Umar ra. Dalam mengatur pemerintahannya Umar ra melakukan
musyawarah maupun koordinasi dengan para tokoh pada saat itu. Hal-hal baru seperti membuat
peradilan pidana-perdata, menggaji tentara, administrasi negara dll, disepakati oleh sahabatsahabat besar saat itu. Bahkan Umar ra mengintruksikan untuk shalat tarawih jamaah 20 rakaat
di masjid, merupakan keberaniannya yang tidak diprotes oleh sahabat lain. Hal ini dapat disebut
ijma sukuti.
2. Al-Qiyas
Dalam fiqh siyasah, qiyas digunakan untuk mencari umum al-ma'na atau Ilat hukum. Dengan
qiyas, masalah dapat diterapkan dalam masalah lain pada masa dan tempat berbeda jika masalahmasalah yang disebutkan terakhir mempunyai ilat hukum yang sama.
Dalam hal qiyas berlaku kaidah :

"hukum berputar bersama ilatnya, ada dan tidaknya hukum bergantung atas ada dan tidaknya ilat
hukum tersebut"
3. Al-Mashlahah al-Mursalah
Al-mashlahah artinya mencari kepentingan hidup manusia
dan mursalah adalah sesuatu yang tidak ada ketentuan nash Al-Qur'an dan As-Sunah yang
menguatkan atau membatalkan. Al-mashlahah al-mursalah adalah pertimbangan penetapan
menuju maslahah yang
harus didasarkan dan tidak bisa tidak dengan ( hasil
penelitian yang cermat dan akurat).
4. Sadd al-Dzariah dan Fath al-Dzariah.
Sadd al-Dzari'ah adalah upaya pengendalian masyarakat menghindari kemafsadatan dan Fath alDzariah adalah upaya perekayasaan masyarakat mencapai kemaslahatan.
Sadd al-Dzariah dan Fath al-Dzariah adalah "alat" dan bukan "tujuan", contohnya ialah
pelaksanaan jam malam, larangan membawa senjata dan peraturan kependidikan. Pengendalian
dan perekayasaan berdasar sadd al-dzariah dan fath al-dzariah dapat diubah atau dikuatkan

sesuai situasi.
Dalam hal Sadd al-Dzariah dan Fath al-Dzariah berlaku kaidah :

"Hukum 'alat sama dengan hukum tujuannya".
5. Al-Adah
Kata Al-Adah disebut juga Urf. Al-Adah terdiri dua macam, yaitu : al-adah ash sholihah yaitu
adat yang tidak menyalahi syara
dan al-adah al-fasidah yaitu adat yang bertentangan syara.
Dalam hal Al-adah berlaku kaidah :

"Adat bisa menjadi hukum"
6. Al-Istihsan
Al-Istihsan secara sederhana dapat diartikan sebagai berpaling dari ketetapan dalil khusus kepada
ketetapan dalam umum. Dengan kata lain berpindah menuju dalil yang lebih kuat atau
membandingkan dalil dengan dalil lain dalam menetapkan hukum.
Contoh : menurut sunnah tanah wakaf tidak boleh dialihkan kepemilikannya dengan dijual atau
diwariskan, tapi jika tanah ini tidak difungsikan sesuai tujuan wakaf, ini berarti mubazir. AlQur'an melarang perbuatan mubazir, untuk kasus ini maka diterapkan istihsan untuk
mengefektifkan tanah tersebut sesuai tujuan wakaf.
7. Kaidah-kaidah kulliyah fiqhiyah
Kaidah-kaidah kulliyah fiqhiyah adalah sebagai teori ulama yang banyak digunakan untuk
melihat ketetapan pelaksanaan fiqh siyasah. Kaidah-kaidah itu bersifat umum. Oleh karena itu,
dalam penggunaannya, perlu memerhatikan kekecualian-kekecualian dan syarat-syarat tertentu.
Kaidah-kaidah yang sering digunakan dalam fiqh siyasah, antara lain:

hukum berputar bersama ilatnya, ada dan tidaknya hukum bergantung atas ada dan tidaknya ilat
hukum tersebut.

Hukum berubah sejalan dengan perubahan zaman, tempat, keadaan, kebiasaan dan niat.

Menolak kemafsadatan dan meraih kemaslahatan.
C. Bidang-bidang Fiqh Siyasah
Berkenaan dengan luasnya objek kajian fiqih siyasah, maka dalam tahap perkembangan fiqh
siyasah ini, dikenal beberapa pembidangan fiqh siyasah. Tidak jarang pembidangan yang
diajukan ahli yang satu berbeda dengan pembidangan yang diajukan oleh ahli lain. Hasbi Ash
Siddieqy, sebagai contoh, membaginya ke dalam delapan bidang, yaitu;
1. Siyasah Dusturriyah Syariyyah
2. Siyasah Tasyriiyyah Syariyyah
3. Siyasah Qadhaiyyah Syariyyah
4. Siyasah Maliyah Syariyyah

5. Siyasah Idariyah Syariyyah


6. Siyasah Kharijiyah Syariyyah/Siyasah Dawliyah
7. Siyasah Tanfiziyyah Syariyyah
8. Siyasah Harbiyyah Syariyyah
Contoh lain dari pembidangan fiqh siyasah terlihat dari kurikulum fakultas syariah, yang
membagi fiqh siyasah ke dalam empat bidang, yaitu:
1. Fiqh Dustury
2. Fiqh Maliy
3. Fiqh Dawly
4. Fiqh Harbiy
Pembidangan-pembidangan di atas tidak selayaknya dipandang sebagai pembidangan yang
telah selesai. Pembidangan fiqh siyasah telah, sedang dan akan berubah sesuai dengan pola
hubungan antarmanusia serta bidang kehidupan manusia yang membutuhkan pengaturan siyasah.
Dalam fiqh tersebut, berkenaan dengan pola hubungan antarmanusia yang menuntut pengaturan
siyasah, dibedakan:
1. Fiqh siyasah dusturiyyah, yang mengatur hubungan antara warga negara dengan lembaga
negara yang satu dengan warga negara dan lembaga negara yang lain dalam batas-batas
administratif suatu negara. Jadi, permasalahan di dalam fiqh siyasah dusturiyyah adalah
hubungan antara pemimpin di satu pihak dan rakyatnya di pihak lain serta kelembagaankelembagaan yang ada di dalam masyarakat. Maka ruang lingkup pembahsannya sangat luas.
Oleh karena itu, di dalam fiqh siyasah dusturiyyah biasanya dibatasi hanya membahas
pengaturan dan perundang-undangan yang dituntut oleh hal ihwal kenegaraan dari segi
persesuaian dengan prinsip-prinsip agama dan merupakan realisasi kemaslahatan manusia serta
memenuhi kebutuhannya. Contoh Negara yang menganut siyasah dusturiyyah yaitu Negara
Indonesia, Ira dan lain-lain. Misalnya: Membayar pajak tepat waktu, pembuatan identitas
kewarga negaraan seperti pembuatan KTP, SIM, dan AKTA Kelahiran.
2. Fiqh siyasah dawliyyah, Dauliyah bermakna tentang daulat, kerajaan, kekuasaan,
wewenang. Sedangkan Siyasah Dauliyah bermakna sebagai kekuasaan Kepala Negara untuk
mengatur negara dalam hal hubungan Internasional, masalah territorial, nasionalitas ekstradisi
tahanan, pengasingan tawanan politik, pengusiran warga negara asing. Selain itu juga mengurusi
masalah kaum Dzimi, perbedaan agama, akad timbal balik dan sepihak dengan kaum Dzimi,
hudud, dan qishash. Fiqh yang mengatur antara warga negara dengan lembaga negara dari negara
yang satu dengan warga negara dan lembaga negara dari negara lain. Contoh Negara yang
menganut siyasah dauliyah yaitu Negara Iran, Malaysia, dan Pakistan. Meskipun tidak
sepenuhnya penduduknya beragama Islam. misalnya. Misalnya: NATO PBB.
3. Fiqh siyasah maliyyah, fiqh yang mengatur tentang pemasukan, pengelolaan, dan
pengeluaran uang milik negara. Maka, dalam fiqh siyasah ada hubungan di antara tiga faktor,
yaitu: rakyat, harta, dan pemerintah atau kekuasaan. Dalm suatu kalangan rakyat, ada dua
kelompok besar dalam suatu negara yang harus bekerja sama dan saling membantu antar orangorang kaya dan miskin. Fiqh siyasah ini, membicarakan bagaimana cara-cara kebijakan yang

harus diambil untuk mengharmonisasikan dua kelompok tersebut, agar kesenjangan antara orang
kaya dan miskin tidak semakin lebar. Adapun Negara yang menganut fiqih maliyyah adalah
Semua Negara. Contohnya: RAPBN (Rancangan Anggaran Pendapatan Negara).
D. Pengembangan Fiqh Siyasah di Era Modern
Dunia Islam setelah tiga kerajaan besar Islam mundur; kerajaan Usmani di Turki, Mughal di
India dan Safawi di Persia (1700-1800 M), tidak mampu menandingi keunggulan Barat dalam
bidang tehnologi, ilmu pengetahuan, ekonomi dan organisasi.
Menghadapi penestrasi (perembesan) budaya dan tradisi Barat, sebagian pemikir Islam: a). ada
yang apriori dan anti Barat b). ada yang ingin belajar dan secara selektif mengadopsi gagasannya
dan c). ada juga yang sekaligus setuju utuk mencontoh gaya mereka. Sikap pertama menganggap
bahwa ajaran Islam lengkap, untuk mengatur kehidupan manusia termasuk politik dan
kenegaraan. Merujuk pada sistem dari nabi Muhammad saw dan Khulafa al-Rasyidin. Sikap
kedua melahirkan kelompok yang beranggapan bahwa Islam hanya menyajikan seperangkat tata
nilai dalam kehidupan politik kenegaraan umat Islam. Kajian-kajian politik kenegaraan harus
digali sendiri melalui proses reasoning (ijtihad). Sikap yang ketiga melahirkan kelompok orang
yang sekuler. Berkeinginan untuk memisahkan kehidupan politik dari agama. Model-model
inilah yang kemudian berkembang sampai dengan sekarang.
Pada periode modern, para pemikir islam bangkit dari kemunduran yang melanda di negerinegeri muslim, hampir seluruh dunia islam berada di bawah penjajahan Barat. Maka sebagian
para pemikiran islam modern atau kontemporer mempunyai suatu kecenderungan untuk
mencoba meniru barat, ada juga yang menolak barat dan menghendaki kembali kepada
kemurnian islam, hal-hal seperti itu dalam periode ini ada tiga kecenderungan pemikiran politik
Islam, yaitu integralisme, interseksion, dan sekularisme.
Kelompok pertama memiliki bahwa agama dan politik adalah menyatu, tak terpisahkan. Dalam
pandangan kelompok ini negara tidak bisa dipisahkan dari agama, karena tugas negara adalah
menegakkan agama sehingga negara islam atau khilafah islamiyah menjadi cita-cita bersama.
Karena itulah syariat islam menjadi hukum negara yang dipraktikan untuk seluruh umat islam.
Kelompok pertama ini diwakili oleh: Muhammad Rasyid Ridha (1869-1935 M), Hasan bin
Ahmad bin Abdurrohman Al-Banna atau dikenal Hasan Al-Banna (1906-1949 M), Abu al-Ala
al-Maududi (1903-1979 M), Sayyid Quthb (1906-1966 M), dan Imam Khomeini (1900-1989 M).
Dari sejumlah pemikir yang memiliki pandangan integralistik ini menunjukkan bahwa islam
tidak bisa dipisahkan dengan negara yang ditunjukkan oleh mereka dalam aktivitas politiknya
dalam bentuk partai politik islam yang bertujuan untuk merebut negara dari penguasa sekuler.
Budaya-budaya fiqih siyasah pada era modern adanya perkembangan mengenai gagasan-gagasan
politik dan kebudayaan yang tidak terlepas dari pengaruh sekularisme ke tengah-tengah umat
manusia. contohnya bidang tekhnologi, ilmu pengatahuan, ekonomi dan organisasi. Timbulnya
budaya-budaya tersebut, semakin lemahnya dunia Islam di bawah penjajahan bengsa Barat.
Hampir seluruh Negara Muslim berada di bawah imperialisme dan colonialisme.
Kelompk kedua memiliki pandangan bahwa agama dengan politik melakukan simbolis atau
hubungan timbal balik yang saling bergantung. Agama membutuhkan negara untuk menegakkan

aturan-aturan syariat. Sementara negara membutuhkan negara untuk mendapatkan legitimasi.


Para pemikir tersebut menunjukkan garis pemikiran politik yang moderat dengan tidak
mengabaikan pentingnya negara terhadap agama. Dan kelompok ini diwakili oleh; Muhammad
Abduh (1849-1905 M), Muhammad Iqbal (1873-1938 M), Muhammad Husan Haikal (18881945 M), Fazlur Rahman (1919-1988 M).
Kelompok ketiga, para pemikir memiliki pandangan bahwa agama harus dipisahkan dengan
negara dengan argumen Nabi Muhammad SAW tidak pernah memerintahkan untuk mendirikan
negara. Terbentuknya negara dalam masa awal Islam hanya faktor alamiah dan historis dalam
kehidupan masyarakat, sehingga tidak perlu umat Islam mendirikan negara Islam atau Khilafah
Islamiah. Dan kelompok ini diwakili oleh: Ali Abd al-Raziq (1888-1966 M), Thaha Husein
(1889-1973 M), Mustafa Kemal Atturk (1881-1938 M).

IV. ANALISIS
Fiqh siyasah adalah sebuah disiplin ilmu yang isinya adalah membahas hukum-hukum
pemerintahan dan konsep menjalankan pemerintahan yang berlandaskan syariat Islam dengan
tujuan memberi kemaslahatan bagi rakyatnya.
Adapun ruang lingkup fiqh siyasah secara keseluruhan dan secara umum, dapat dikelompokan
kepada tiga (3) kelompok: 1. Siyasah dusturiyyah, 2. Siyasah dauliyyah, 3. Siyasah maliyyah.
Pertama, Siyasah Dusturiyah (peraturan perundang-undangan) meliputi pengkajian hukum
(tasyrifiyah) oleh lembaga legislatif, peradilan (qadhaiyah) oleh lembaga yudikatif dan
administrasi pemerintah (idariyah) oleh lembaga eksekutif. Adapun Contohnya yaitu: membayar
pajak tepat waktu, pembuatan identitas kewarga negaraan seperti pembuatan KTP, SIM, dan
AKTA Kelahiran.
Kedua, Siyasah dauliyyah (kedaulatan, kerajaan, kekuasaan, wewenang). Meliputi kekuasaan
Kepala Negara untuk mengatur negara dalam hal hubungan Internasional, masalah teritorial,
nasionalitas ekstradisi tahanan, pengasingan tawanan politik, pengusiran warga negara asing
dengan tujuan untuk mengatur antara warga negara dengan lembaga negara dari negara yang satu
dengan warga negara dan lembaga negara dari negara lain. Adapun Negara yang menganut
siyasah dauliyyah ini yaitu Negara Iran, Malaysia, dan Pakistan. Contohnya: NATO PBB.
Ketiga, Siyasah Maliyah (ekonomi/moneter) ternasuk dalma siyasah maliyah ialah sumbersumber keuangan negara, pos-pos pengeluaran dan belanja negara, perdagangan internasional,
kepentingan/hak publik, pajak dan perbankan. Adapun Negara yang menganut fiqih maliyyah
adalah Semua Negara, contohnya: RAPBN (Rancangan Anggaran Pendapatan Negara).
Melihat definisi serta luasnya pembahasan ruang lingkup fiqh siyasah, sebaiknya kajian fiqh
siyasah ini benar-benar didalami secara mendalam di dalam kelas fiqh siyasah ini karena sangat

penting bagi kemajuan pemikiran mahasiswa.


Pembelajaran fiqh siyasah tidak hanya mengacu pada teks-teks fiqh siyasah, akan tetapi juga
dapat dirujuk pada kitab-kitab furu lainnya. Hendaknya, organisasi gerakan mahasiswa, study
group, dan dosen-dosen mulai mewarnai sistem pemikiran politiknya berlandaskan fiqh siyasah,
karena selama ini, ideologi yang dipakai hanya bersifat nasionalisme semata, tanpa ada semangat
Islami.
V. KESIMPULAN
Secara terminologis, fiqh adalah Ilmu tentang hukum-hukum syara yang bersifat perbuatan yang
dipahami dari dalil-dalilnya yang rinci. Sedangkan siyasah (menurut Ibn al-Qayyim dalam Ibn
aqil) adalah segala perbuatan yang membawa manusia lebih dekat kepada kemaslahatan dan
lebih jauh dari kemafsadatan, sekalipun Rasulullah tidak menetapkannya dan (bahkan) Allah
tidak menentukannya.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, fiqh siyasah adalah ilmu tata
negara Islam yang secara spesifik membahas tentang seluk-beluk pengaturan kepentingan umat
manusia pada umumnya dan negara pada khususnya, berupa penetapan hukum, peraturan, dan
kebijakan oleh pemegang kekuasaan yang bernafaskan atau sejalan dengan ajaran Islam, guna
mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan menghindarkannya dari berbagai kemudaratan
yang mungkin timbul dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang
dijalaninya.
Objek kajian fiqh siyasah meliputi aspek pengaturan hubungan antara warga negara dengan
warga negara, hubungan antar warga negara dengan lembaga negara, dan hubungan antara
lembaga negara dengan lembaga negara, baik hubungan yang bersifat intern suatu negara
maupun hubungan yang bersifat ekstern antar negara, dalam berbagai bidang kehidupan.
Metode-metode fiqh siyasah, yaitu: ijma, al-Qiyas, al-mashlahah al-mursalah, sadd al-dzariah
dan fath al-dzariah, al-adah, al-istihsan, serta kaidah-kaidah fiqhiyyah.
Adapun bidang-bidang fiqh siyasah, antara lain: Fiqh siyasah dusturiyyah, fiqh siyasah
dawliyyah dan fiqh siyasah maliyyah.
Pada periode modern, para pemikir islam bangkit dari kemunduran yang melanda di negerinegeri muslim, hampir seluruh dunia islam berada di bawah penjajahan Barat. Maka sebagian
para pemikiran islam modern atau kontemporer mempunyai suatu kecenderungan untuk
mencoba meniru barat, ada juga yang menolak barat dan menghendaki kembali kepada
kemurnian islam, hal-hal seperti itu dalam periode ini ada tiga kecenderungan pemikiran politik
Islam, yaitu integralisme, interseksion, dan sekularisme.
VI. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita menyadari dalam
pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan
saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan
berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA
Djazuli, A., Fiqh Siyasah: Implementasi Kemaslahatan Umat dalam Rambu-rambu Syariah,
Jakarta: Kencana, 2009, Cet. 4
Salim, Abdul Muin, Fiqh Siyasah: Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Quran, Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada, 1994, Cet. 1
Syarif, Mujar Ibnu, dan Khamami Zada, Fiqh Siyasah: Doktrin dan Pemikiran Politik Islam,
Jakarta: Erlangga, 2008
http//blogfiqh.blogspot.com/2010/kuliah-fiqh-siyasah-politik-islam.html
<div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on">
<br /></div>