Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan produk kimia yang cepat selama satu abad ini telah berhasil
meningkatkan mutu kehidupan. Namun di sisi lain keadaan tersebut menimbulkan
kerugian bagi masyarakat terutama mereka yang secara langsung berhubungan
dengan bahan kimia.
Semakin majunya teknologi yang ada di dunia ini, akan menciptakan
beragamnya bahan kimia yang dihasilkan. Bahan kimia yang terdapat di sekitar
kita biasanya dapat menimbulkan berbagai penyakit atau masalah bagi manusia.
Dampak yang dihasilkan oleh zat kimia ini dapat berdampak cepat/akut atau
berdampak lambat/kronis karena dapat berakumulasi didalam tubuh. Bahan kimia
yang berbahaya tersebut disebut juga toksin/racun. Sebagian besar toksin berasal
dari bahan kimia hasil aktivitas manusia misalnya aktivitas Industri, pertanian,
perternakan, kedokteran maupun rumah tangga. Dalam kehidupan sehari-haripun
keberadaan bahan kimia tidak dapat dihindarkan, karena dalam setiap kegiatan
kita pasti adanya kandungan unsur kimia. Banyak bahan kimia yang memiliki
efek toksik bagi kesehatan dan lingkungan. Resiko dapat berasal dari paparan,
produksi, penyimpanan, penangan, pemindahan, penggunaan, dan pembuangan
bahan kimia, juga dari kebocoran aksidental, dan dari pembuangan limbah kimia
ilegal.
Jika pembuangan bahan kimia ke lingkungan tidak tepat maka bahan kimia
tersebut akan menjadi polutan yang akan kita hirup, dalam air yang kita minum,
dalam makanan yang kita makan. Polutan itu dapat mempengaruhi sungai, danau,
dan hutan kita, dapat merusak kehidupan alam, dan dapat mengubah cuaca dan
ekosistem.
Selain bermanfaat bagi kehidupan, bahan kimia juga memiliki efek samping
yang dapat berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Peran manusia selain sebagai
pengguna atau konsumen dari bahan kimia, manusia juga dapat menjadi korban
dari efek bahan kimia tersebut. Paparan dari toksik terhadap manusia baik secara
spontan dalam dosis besar maupun secara berkala dalam dosis rendah dapat

menyebabkan bermacam-macam gangguan. Beberapa toksin memiliki klasifikasi


tertentu, misalnya klasifikasi menurut organ sasarannya antara lain toksin yang
menyerang hati, ginjal, paru-paru, mata, kulit, system reproduksi, maupun sistem
saraf.
1.2 Rumusan masalah
Apakah efek yang ditimbulkan apabila terjadi iritasi atau kerusakan pada
kulit, mata dan saraf akibat paparan toksik?
1.3 Tujuan
Tujuan Umum
Mengetahui efek yang di timbulkan apabila terjadi paparan toksik pada
kulit, mata, dan saraf.

Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui kategori dan simbol-simbol bahaya yang berdampak
negatif pada kulit dan mata.
2. Untuk mengetahui dampak dari paparan toksik terhadap mata, kulit dan
saraf
3. Untuk mengetahui pertolongan pertama pada seseorang yang terkena
paparan dari toksik
4. Untuk mengetahui dampak patologis dari neurotoksikan
5. Untuk mengetahui cara mencegah dan mengendalikan paparan dari toksik

BAB II

PEMBAHASAN
2. 1 Kulit
Definisi Korosi / Iritasi kulit adalah dampak negatif yang terjadi pada kulit
seperti kulit menjadi sensitif, alergi, luka bakar dan gatal pada kulit.
Tindakan Pertolongan Pertama
Dalam kasus kontak, segera siram kulit dengan banyak air sekurang-kurangnya
15 menit saat menghapus pakaian yang terkontaminasi dan sepatu. Tutup kulit
yang teriritasi dengan suatu emolien. Air dingin mungkin pakaian used.Cuci
sebelum digunakan kembali. Bersihkan sepatu sebelum digunakan kembali.
Dapatkan perhatian medis segera.
2.1.1 Unsur-Unsur Label Pada Kategori Korosi/Iritasi kulit

Kategori

Kata Sinyal

Pernyataan Bahaya

Kategori 1A

Bahaya

Menyebabkan luka bakar pada kulit


dan kerusakan mata yang parah

Kategori 1B

Bahaya

Menyebabkan luka bakar pada kulit


dan kerusakan mata yang parah

Kategori 1C

Bahaya

Menyebabkan luka bakar pada kulit


dan kerusakan mata yang parah

Kategori 2

Awas

Kategori 3

Awas

Menyebabkan iritasi kulit


Menyebabkan iritasi ringan pada
kulit

2.1.2 Simbol Bahaya Korosi / Iritasi kulit

Label Piktogram Kategori 1A, 1B, 1C, 2, dan 3 Korosi / Iritasi kulit
2.2 Mata
Definisi Kerusakan / Iritasi Serius pada Mata adalah kerusakan pada mata, atau
pengurangan daya lihat serius dikarenakan penggunaan bahan pada daerah mata
dimana efek tersebut tak dapat dikembalikan dalam waktu 21 hari juga bisa
menyebabkan kerusakan kornea atau kebutaan.
Tindakan Pertolongan Pertama
Periksa dan lepaskan jika ada lensa kontak. Dalam kasus kontak, segera basuh
mata dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit. Air dingin dapat
digunakan. Dapatkan perhatian medis segera.

2.2.1 Klasifikasi Kerusakan / Iritasi Serius menurut GHS

Iritan pada mata ( efek tidak


terpulihkan pada mata ) adalah
uji terhadap bahan yang
menimbulkan :
Kategori 1

tidak kurang dari 1 binatang


yang berefek pada kornea, iris
atau konjungtiva yang tidak
dapat
diramalkan
untuk
merefer atau tidak pulih
sepenuhnya dalam waktu
observasi yang normal selama
21 hari

tidak kurang 2 dari 3 binatang,


memberikan respon positif
pada opasotas kornea > 3 dan
atau iritis > 1,5 dihitung
sebagai nilai rata-rata yang
mengikuti grading pada 24, 48
dan 72 jam setelah pemberian
bahan uji.

Iritan pada mata adalah uji


bahan yang menimbulkan :
Sensitisasi Kategori 2 A

Kategori 2 B

tidak kurang 2 dari 3 binatang


percobaan
memberikan
respons positif pada opasitas
kornea > 1, dan atau iritis > 1,
dan
atau
kemerahan
konjungtiva > 2, dan atau
odema konjungtiva ( demosis )
>2

dihitung sebagai nilai rata-rata


dengan grading pada 24, 48
dan 72 jam setelah pemberian
bahan uji.

dapat pulih penuh setelah Iritan pada mata berupa iritasi


observasi normal selama 21 ringan yang dapat pulih
hari
setelah 7 hari observasi

2.2.2 Unsur-Unsur Label pada Kategori Kerusakan/ Iritasi Serius pada


Mata

Kategori

Kata Sinyal

Kategori 1

Bahaya

Kategori 2A

Awas

Kategori 2B

Awas

Pernyataan Bahaya
Menyebabkan kerusakan serius
pada mata
Menyebabkan iritasi serius
pada mata
Menyebabkan iritasi pada mata

2.2.3 Simbol Bahaya Kerusakan / Iritasi Serius pada Mata

Label Piktogram Kategori 1, 2A, dan 2B Kerusakan/ iritasi serius pada mata
2.3 Sistem Saraf
Sebagai suatu bagian vital dalam tubuh, susunan saraf dilindungi dari
toksikan dalam darah oleh suatu mekanisme protektif yang unik, yaitu sawar
darah otak dan sawar darah saraf. Meskipun demikian, susunan saraf rentan
terhadap berbagai jenis toksikan. Contohsnya, metal merkuri terutama
mempengaruhi susunan saraf, meskipun kadarnya dalam otak sebanding dengan
kadar dalam berbagai jaringan lainnya; kadar metal merkuri dihati dan ginjal
bahkan jauh lebih rendah.

Kategori Efek Neurotoksik


Neurotoksisitas adalah suatu agen kimia, biologi, atau fisik yang dapat
menimbulkan efek merugikan bagi sistem saraf. Toksisikan dapat langsung

bekerja di sistem saraf, namun sistem saraf juga sangat rentan terhadap suatu
perubahan terutama yang terjadi di sistem sirkulasi darah.
Ada beberapa toksikan yang spesifik bagi neuron(neurotoksikan) atau ada
beberapa bagian neuron yang dapat mengakibatkan cedera atau kematian
neuron(neursis) dan hilangnya neuron tidak dapat digantikan lagi. Efek
neurotoksiskan dapat digolongkan berdasarkan tempat kerjanya, yakni badan sel
dan bagian lain neuron, terutama akson, sel glia, dan sistem pembuluh darah.
Tetapi suatu toksikan dapat mempengaruhi lebih dari satu tempat.
Fungsi dari saraf utama adalah men-transmisikan impuls lewat sel-sel
saraf. Sel saraf yang tersambung dengan yang lain atau tersambung dengan sel
organ seperti otot melalui suatu sinap/junction. Dengan demikian ada dua
mekanisme racun saraf, yakni (1) gangguan pada transmitter, dan (2) gangguan
pada aktivitas keluar masuknya ion Na dan K sepanjang akson saraf, sehingga
impuls elektrik terganggu.
Puncaknya, Neuron-neuron yang rusak akan mengakibatkan putusnya
komuikas sistem saraf dan seluruh bagian tubuh. Banyaknya fungsi yang hilang
akibat kerusakan sistem saraf bergantung pada jumlah neuron yang rusak dan
tingkat kerusakannya. Kerusakan yang permanen dapat mengakibatkan hilangnya
sensasi atau kelumpuhan, juga dapat menimbulkan efek disorientasi.
A. Neuropati
Suatu neuron sangat rentan terhadap keadaan anoksia dan hipoglikemia.
Badan sel neuron dapat dipengaruhi oleh toksikan secara langsung. Toksikantoksikan yang dapat merusak neuron diantaranya :
Karbon monoksida : dapat menginduksi efek yang menetap dalam otak
yang muncul akibat berkembangnya sklerosis difus disubstansia alba
(leukoensefalopati).
Sianida dan azid : mengkhambat sitokrom oksidase, sehingga
mengakibatkan anoksia sitotoksik.
Metil mercury : menyebabkan hilangnya ribosom setempat, kemudian
disintegrasi dan hilangnya zat-zat nissl, terutama dalam sel kecil. Proses
ini diikuti oleh perubaha inti dan sekitarnya dan akhirnya diikuti oleh
hilangnya seluruh neuron termasuk aksonnya. Metil mercury juga dapat
menembus sawar darah-otak sehingga dapat merusak neuron dalam
ganglia radiks dorsal.
Vinkristin : Dapat menyebabkan akumulasi neurofibril dalam perikarion
dan akson, mengacaukan neurotubulus dan neuronfilamen akson dan
mengambat transport aksoplasma ultrastruktur.

Alumunium : menembus sawar darah otak dan menginduksi ensefalopati


dengan degenerasi neurofibril terhadap penyakit al-zheimer.
Glutamat, Alanosin, dan zat lain : dalam dosis sangat besar akan
mempengaruhi SSP yang tidak memiliki sawar darah otak sehingga
dianggap mempunyai efek neuroeksitatori dan neurotoksik.
Asam kainat : dihasilkan dari ganggang laut khusus dan telah digunakan
pada askariasis; asam kainat mirip dengan glutamate tetapi jauh lebih
kuat.
B. Aksonopati
Unsur-unsur dalam akson misalnya neufibril, tidak disintetis secara local
tetapi pada dalam badan sel dan diangkut sepanjang akson.
Aksonopati proksimal
-iminodiproprionitril (IDPN) digunakan untuk mempelajari penyakit neuron
sensorik misalnya sklerosis amiotrofik lateral. Efek IDPN adalah perusakan
transport akson lambat pada neurofilamen sedangkan sintetisnya terus
berlanjut dalam badan sel.
Aksonopati distal
Suatu jenis aksonopati distal yang penting disebabkan oleh senyawa
organophosphate tertentu misalnya TOCP (tri-o-kresil phosphat), EPN, dan
leptofos. Senyawa ini menghambat kolinestrase dan juga menyebabkan
neuropati lambat. Aksonopati distal diperkirakan merupakan akibat rusaknya
aktivitas enzim glikolisis dalam akson. Rusaknya enzim ini akan
mempengaruhi bagian distal akson.
C. Gangguan akibat anoksia sel saraf
Kekurangan oksigen akan mematikan sel saraf dalam beberapa menit
Karena sifat sel saraf yang meiliki proses metabolisme tinggi. Ada tiga tipe
kekurangan oksigen/anoksia yaitu;
Anoksia akibat asfiksia, disebabkan karena suplai oksigen berkurang atau
tidak ada, sekalipun peredaran berjalan normal. Hal itu terjadi karena
kelumpuhan otot respirasi oleh curare, barbiturate, narkotik, dll. Suplai
oksigen juga berkurang apabila terjadi pencemar udara dengan CO, H 2S,
atau hemoglobin tidak dapat mentransfer ksigen akibat adanya CO, nitrit,
dan metilenklorida.
Anoksia iskemik akibat kekurangan darah sedangkan konsentrasi oksigen
masih sama. Hal ini terjadi pada keadaan pendarahan, hipotensi, gagl
jantung, dan trombsis.

Anoksia sitotoksik, disebabkan akibat interferensi metabolism seluler,


sekalipun aliran darah suplai oksigen normal, tapi akibat enggunaan
oksigenlah yang tidak normal. Zat itu adalah H2S,azida, dinitrofenol,
malonitril, metionin sulfoksm, dan kelebihan insulin.
D. Neurotoksin penyebab kerusakan otak permanen.
DDT, Hg, Mn, asetilpiridin, dengan memberikan gejala menyerupai penyakit
Parkinson.
`2.4 Logam Berat / Bahan Kimia yang Dapat Menimbulkan Efek Toksik
Selain bermanfaat bagi manusia untuk bidang industri, pertanian, atau
kedokteran, logam juga mengakibatkan bahaya bagi manusia apabila terpapar
dalam jumlah banyak, dan dosis tinggi.
Logam bekerja dengan cara mengambat kerja enzim, dan sintetisnya.
Kerentanan enzim terhadap logam berbeda-beda. Proses masuknya enzim ke
dalam tubuh harus melalui membrane, logam yang mudah menembus membrane
ialah logam yang bersifat lipofilik, logam ini kemungkinan akan berikatan
dengan protein, dan akhirnya masuk ke dalam sel yang selanjutnya akan
mempengaruhi berbagai organel.
Faktor yang mempengaruhi toksisitas diantaranya tingkat dan lamanya
pajanan, makin tinggi kadar dan lama pajanannya maka efek toksiknya akan
semakin besar. Factor penjamu, anak-anak kecil dan manula lebih rentan
terhadap keracunan logam. Suatu toksin yag ada didalam tubuh dapat di indikasi
melalui darah, urine, rambut, kuku, saliva. Karena rentannya susunan saraf, maka
organ tersebut sangat mudah menjadi sasaran logam toksik.
Berilium (Be) Lewat Kontak Kulit dan Paparan Lainnya
Kontak Be dari asap maupun debu bisa mempengaruhi tempat/lokasi
paparan, yaitu kulit atau mata. Paparan Be lewat kontak kulit bisa
mangakibatkan kulit kemerahan dan ulkus pada kulit. Paparan Be akut bisa
terjadi lewat kulit atau mata. Paparan Be lewat kulit bisa mengakibatkan
peradangan kulit, gatal-gatal, kemerahan pada kulit, pembengkakan kulit, kulit
bernanah, luka, lesi, kutil, dan selanjutnya Be mampu menetrasi melalui luka.
Gejala tersebut muncul di daerah permukaan tubuh yang terpapar, khususnya
wajah, leher, lengan, dan tangan. Gejala muncul biasanya setelah beberapa
minggu tepapar Be.

10

Paparan Be bisa mengakibatkan dermatitis yang dapat segera


berkurang bila paparan lewat kulit dihentikan. Sisa Be pada kulit dapat
mengakibatkan ulserasi. Be bersifat alergen, yaitu bisa mengakibatkan
perkembangan alergi, setelah seseorang menghirup debu atau asap Be, yang
dapat pula mengakibatkan perubahan kulit bila partikel Be masuk/berpenetrasi
ke luka kulit.
Paparan Be larut air melalui kulit bisa mengakibatkan reaksi alergi
pada kulit atau lesi papulovesikular pada kulit. Sedangkan paparan Be tidak
larut air akan mengakibatkan lesi granuloma kronis, nekrosis, atau ulkus.
Tumpukan/simpanan senyawa Be di bawah kulit sulit untuk disembuhkan dan
akan bertambah parah. Membran kelopak mata bisa mengalami peradangan
bila kulit wajah mengalami dermatitis karena paparan Be. Jika mata terpecik
larutan Be, mata bisa terbakar atau menunjukan tanda kemerahan di sekitar
mata.
Pencegahan dan Penanggulangan Toksisitas Berilium (Be)
Untuk mengurangi paparan Be, hindari wilayah yang diduga tercemar
Be dan cegah anak-anak bermain tanah di dekat wilayah pembuangan limbah
atau yang disuga tercemar Be. Untuk mencegah berkembangnya penyakit
akibat paparan Be, maka perlu dilakukan pengukuran kadar Be dalam darah,
urin, paru-paru serta kulit. Pengobatan untuk mengurangi toksisitas Be adalah
dengan mengurangi tekanan sistem imunitas menggunakan corticosteroid.
Penderita yang tidak memberikan respon terhadap pemberian corticosteroid
atau penderita yang mengalami efek samping akibat pemberian corticosteroid
bisa diberikan methotrexat. Pada penderita stadium lanjut akibat paparan Be
dianjurkan untuk menjalani pencakokan paru-paru.
Penderita beriliosis kronis bisa diketahui dengan pengukuran darah
atau the blood beryllium lymphocyte proliferation test (BeLPT), dan
pengobatannya dengan golongan corticosteroid seperti prednison. Sedangkan
penderita beriliosi akut perlu penanganan, antara lain dengan secepatnya
memindahkan penderita dari lokasi yang tercemar Be ke lokasi yang bebas
Be, istirahat penuh di tempat tidur, pemberian bantuan pernafasan oksigen,
dan pemberian corticosteroid untuk mencegah peradangan paru-paru
(Widowati, 2008).
Mercury

11

Ion merkuri menyebabkan pengaruh toksik karena terjadinya proses


presipitasi protein yang menghambat aktivitas enzim dan bertindak sebagai
bahan yang korosif. Merkuri juga terikat oleh gugus sulfhidril, fosforil,
karboksil, amida, dan amino, dimana dalam gugus tersebut merkuri
menghambat reaksi enzim. Pengaruh toksisitas merkuri pada manusia
tergantung dari bentuk komposisi merkuri, dosis, rute masuknya ke dalam
tubuh, usia manusia yang terpapar (sebagai contoh janin dan anak kecil lebih
rentan).
Merkuri secara kimia terbagi menjadi tiga jenis yaitu merkuri
elemental, merkuri inorganik, dan merkuri organik. Merkuri elemental
berbentuk cair dan menghasilkan uap merkuri pada suhu kamar. Uap merkuri
ini dapat masuk ke dalam paru-paru jika terhirup dan masuk ke dalam sistem
peredaran darah. Merkuri elemental ini juga dapat menembus kulit dan akan
masuk ke aliran darah. Namun jika tertelan merkuri ini tidak akan terserap
oleh lambung dan akan keluar tubuh tanpa mengakibatkan bahaya. Merkuri
inorganic dapat masuk dan terserap oleh paru-paru serta dapat menembus
kulit dan juga dapat terserap oleh lambung apabila tertelan. Banyak penyakit
yang disebabkan oleh merkuri inorganik ini bagi manusia diantaranya
mengiritasi kulit, dan juga mata dan membrane mucus. Merkuri organik dapat
masuk ketubuh melalui paru-paru, kulit dan juga lambung. Merkuri apapun
jenisnya sangatlah berbahaya pada manusia karena merkuri akan terakumulasi
pada tubuh dan bersifat neurotoxin.

Merkuri yang digunakan pada produk-produk kosmetik dapat


menyebabkan perubahan warna kulit yang akhirnya dapat menyebabkan
bintikbintik hitam pada kulit, iritasi kulit, hingga alergi, serta pemakaian
dalam dosis tinggi bias menyebabkan kerusakan otak secara permanen, ginjal,
dan gangguan perkembangan janin, bahkan pemakaian dalam jangka pendek
dalam kadar tinggi bisa menimbulkan muntah-muntah, diare, kerusakan paruparu, dan merupakan zat karsinogenik yang menyebabkan kanker.

12

Toksisitas merkuri dapat terjadi dalam tiga bentuk yaitu :


1. Merkuri metal
Rute utama dari pajanan merkuri metal adalah melalui inhalasi; sebanyak
80 % merkuri metal disabsorpsi. Merkuri metal dapat di metabolismekan
menjadi ion inorganik dan dieksresikan dalam bentuk merkuri inorganik.
Organ yang paling sensitif adalah system syaraf (peripheral dan pusat).
Gejala neurotoksik spesifik adalah tremor, perubahan emosi (gugup,
penurunan percaya diri, mudah bersedih), insomania, penurunan daya
ingat, sakit kepala,penurunan hasil pada tes kognitif dan fungsi motorik.
Gejala dapat bersifat irreversibel jika terjadi peningkatan durasi dan atau
dosis merkurii.
2. Merkuri Anorganik
Merkuri memiliki afinitas yang tinggi pada terhadap fosfat, sistin, dan
histidil rantai samping dari protein, purin, pteridin dan porfirin, sehingga
Hg bisa terlibat dalam proses seluler. Toksisitas merkuri umumnya terjadi
karena interaksi merkuri dengan kelompok thiol dari protein. Beberapa
peneliti menyebutkan bahwa konsentrasi rendah ion Hg+ mampu
menghambat kerja 50 jenis enzim sehingga metabolism tubuh bisa
terganggau dengan dosis rendah merkuri. Garam merkuri anorganik bisa
mengakibatkan presipitasi protein, merusak mukosa, alat pencernaan,
termasuk mukosa usus besar, dan merusak membran ginjal ataupun
membran filter glomerulus, menjadi lebih permeabel terhadap protein
plasma yang sebagian besar akan masuk ke dalam urin. Toksisitas akut dari
uap merkuri meliputi gejala muntah, kehilangan kesadaran, mulut terasa
tebal, sakit abdominal, diare disertai darah dalam feses, oliguria,
albuminuria, anuria, uraemia, ulserasi, dan stomatis. Toksisitas garam
merkuri yang larut bisa menyebabkna kerusakan membran alat pencernaan,
eksanterma pada kulit, dekomposisi eritrosit, serta menurunkan tekanan
darah.

13

Toksisitas kronis dari merkuri anorganik meliputi gejala gangguan system


syaraf, antara lain berupa tremor, terasa pahit di mulut, gigi tidak kuat dan
rontok, anemia, albuminuria, dan gejala lain berupa kerusakan ginjal, serta
kerusakan mukosa usus.
3. Merkuri Organik
Alkil merkuri ataupun metil merkuri lebih toksik dibandingkan merkuri
anorganik karena alkil merkuri bisa membentuk senyawa lipolhilus yang
mampu melintasi membran sel dan lebih mudah diabsorbsi serta
berpenetrasi menuju sistem syaraf, toksisitas merkuri organic sangat luas,
yaitu mengakibatkan disfungsi blood brain barrier, merusak permeabilitas
membran, menghambat beberapa enzim, menghambat sistesis protein, dan
menghambat penggunaan substrat protein. Namun demikian, alkil merkuri
ataupun metil merkuri tidak mengakibatkan kerusakan mukosa sehingga
gejala toksisitas merkuri organic lebih lambat dibandingkan merkuri
anorganik. Gejala toksisitas merkuri organik meliputi kerusakan sistem
syaraf pusat berupa anoreksia, ataksia, dismetria, gangguan pandangan
mata yang bisa mengakibatkan kebutaan, gangguan pendengaran, konvulsi,
paresis, koma, dan kematian.

Keracunan merkuri (juga dikenal


sebagai
hydrargyria
atau
mercurialism) adalah penyakit
yang disebabkan oleh paparan
merkuri atau senyawanya. Efek
toksik akibat merkuti antara lain
dapat menimbulkan kerusakan pada
otak, ginjal, dan paru-paru.
Keracunan
merkuri
dapat
mengakibatkan beberapa penyakit,
termasuk acrodynia (penyakit
pink), Hunter-Russel syndrome,
dan penyakit Minamata.
Faktor yang menentukan
seberapa parah efek kesehatan dari
paparan
merkuri
diantaranya
adalah ;
bentuk kimia dari merkuri;

Ket. Gambar: dari kiri ke kanan a. penyakit


minamata; b.penyakit acrodynia; c.penyakit
hunter-russel syndrome.
Diambil dari :
www.google.com/keracunanmercury diakses
pada 21 November 2015

14

dosis;
usia orang yang terkena (janin adalah yang paling rentan);
durasi eksposur;
rute paparan - inhalasi, ingesti, kontak kulit, dll, dan
kesehatan orang tersebut terpapar.
Cara menghindari risiko paparan merkuri :
Hati-hati membuang benda yang mengandung merkuri seperti termometer
dan lampu neon.
Bila merkuri jatuh dilantai, jangan memakai penghisap debu (vacuumcleaner), oleh karena merkuri tersebut akan menguap dan bahaya untuk
terhirup.
Ajarkan anak-anak untuk tidak bermain dengan cairan yang mengkilat dan
berwarna perak.
Hati-hati membuang obat yang mengandung merkuri. Jauhkan dari anakanak obat-obat tersebut.
Hindari tambalan gigi yang memakai merkuri (amalgam).
Hindari makan ikan laut terlalu banyak.
GAS SULFUR DIOKSIDA (SO2)
Secara garis besar efek terhadap kesehatan, akan mengganggu alat
pernafasan dan mata.Terhadap alat pernafasan, terjadi iritasi selaput lendir
saluran pernafasan dan pada kadar 8-12 ppm dapat menyebabkan batuk dan
kesukaran bernafas. Pada paparan kronis terhadap saluran pernafasan dapat
menyebabkan terjadinya bronchitis, chronic obstructive pulmonary disease
(COPD) dan edema paru. Sedangkan efek terhadap mata adalah iritasi mata
yang bisa menyebabkan keluarnya air mata dan mata menjadi memerah dan
terasa pedas.
2.5 Dampak Pathologi dari Neurotoksikan
a. Polineuropati
Polineuropati adalah kelainan fungsi yang berkesinambungan

15

pada beberapa saraf perifer di seluruh tubuh.


Penyebabnya: Bisa karena racun beberapa
bakteri, bila racun melukai saraf perifer akan
menyebabkan
polineuropati
atau
mononeuropati.
b. Distonia
Kelainan gerakan dimana kontraksi otot yang terus
menerus menyebabkan gerakan berputar dan berulang atau
menyebabkan sikap tubuh yang abnormal. Gerakan
tersebut tidak disadari dan kadang menimbulkan nyeri,
bisa mengenai satu otot, sekelompok otot (misalnya otot
lengan, tungkai atau leher) atau seluruh tubuh.
Penyebab : akibat adanya reaksi terhadap obat tertentu,
logam berat atau keracunan karbon monoksida. terjadi
karena adanya kelainan di beberapa daerah di otak
(ganglia basalis, talamus, korteks serebri), dimana
beberapa pesan untuk memerintahkan kontraksi otot
diolah.
c. Parkinsonism sebagai gangguan ekstrapiramidal
Parkinsonism (juga dikenal sebagai sindrom Parkinson,
atipikal Parkinson, atau sekunder Parkinson) adalah
neurologis sindrom yang ditandai oleh tremor , hypokinesia
,kekakuan, dan instabilitas postural. Penyebabnya yang paling
umum adalah Racun-racun, seperti mangan, karbon monoksida,
dan methanol dan juga sebagai efek samping obat, terutama
antipsikotik terutama neuroleptik fenotiazin (seperti
perphenazine dan klorpromazin), thioxanthenes (seperti
flupenthixol dan zuclopenthixol) dan butyrophenones (seperti
haloperidol (Haldol)) , piperazines (seperti ziprasidone), dan,
jarang, antidepresan. Hal ini juga terjadi karena adanya
penurunan / kehilangan syaraf yang mengandung dopamin. sel
syarafnya adalah sel syaraf dopaminergik (DA) yg terdapat di
bangsal ganglia akibatnya neuron asetilkolin tidak terkontrol.
d. Tardive diskinesia
merupakan gangguan gerak sebagai kelanjutan akhir
dari penyakit Parkinson. Tardive diskinesia sering
muncul akibat penggunaan obat-obatan neuroleptik

16

yang mengganggu kadar dopamine pada jalur


nigrostriatal, salah satu jalur yang bertanggung jawab
terhadap fungsi ekstrapiramidal.

2.6 Pencegahan Keracunan/Terpaparnya Zat Toksik


A. Usaha-usaha mencegah keracunan di rumah tangga
- Simpanlah produk kimia rumah tangga, obat obatan , kosmetika dan
produk lain yang memiliki potensi bahaya pada tempat tertutup dan
terkunci serta jauh darijangkauan anak anak.
- Gunakan produk yang wadahnya memiliki tutup yang tidak mudah dibuka
oleh anak anak.
- Jangan menaruh bahan kimia / berbahaya di sembarang tempat
- Jangan sekali kali menyimpan bahan kimia pada wadah makanan maupun
minuman atau sebaliknya
- Jangan membuang atau merusak label pada wadah asli sebuah produk, baca
label dengan teliti sebelum memakainya
- Bila akan menggunakan bahan kimia ( baik pestisida atau pembersih
lantai ) selalu gunakan alat pelindung diri, minimal masker atau sarung
tangan.
- Cuci tangan dengan sabun setiap habis menggunakan bahan kimia
- Periksa kotak obat anda secara berkala, buanglah obat yang sudah rusak
atau kadaluarsa ketempat aman, jangan buang obat ke tempat yang orang
lain masih bias mengambilnya kembali.
- Simpanlah obat obatan dalam wadah aslinya lengkap dengan labelnya
sehingga kita dapat mengenali obat tersebut beserta bahan aktifnya
- Sebelum meminum obat atau memberikan obat pada anak kecil malam
hari,nyalakanlah lampu terlebih dahulu, lalu baca teliti dosis dan aturan
pakai.
- Anak anak cenderung meniru tindakan yang dilakukan orang dewasa.
- Hindarilah meminum obat di hadapan anak kecil, dan jangan pernah
menyebut obat sebagai permen kepada anak anak
- Pestisida dan penyegar ruangan akan terakumulasi pada karpet, kalau ingin
menyemprot hindari dari karpet misalnya dengan menggulung terlebih
dahulu atau jangan gunakan karpet pada ruangan ini.

17

Jika ingin menyemprot pestisida hindari anak anak dan binatang


kesayangan.
Lakukan penyemprotan 1 jam sebelum ruangan dipakai
Jangan pernah meletakkan anti ngengat / kamper disembarang tempat.
Letakkan kamper di tempat yang terkunci dan jauh dari jangkauan anak
anak
Kenali lingkungan anda, apakah ada tanaman beracun atau binatang berbisa
di sekitar lingkungan anda.
Jauhkan tanaman beracun dari jangkauan anak anak. Jangan pernah
mengkonsumsi tanaman atau jenis ikan yang belum anda ketahui dengan
pasti keamanannya jika dikonsumsi
Simpanlah selalu nomor nomor telepon penting, seperti Sentra Informasi
Keracunan, Rumah sakit, Ambulans, Polisi dll.

B. Usaha-usaha mencegah keracacunan ditempat kerja


- Manajemen program pengendalian sumber bahaya yang berupa
perencanaan, organisasi, kontrol, peralatan, dll
- Penggunaan alat pelindung diri seperti masker, kaca mata pengaman,
pakaian khusus, krim kulit, sepatu kerja, dan sebagainya
- Ventilasi yang baik
- Maintenance, yaitu pemeliharaan yang baik dalam proses produksi,
kontrol, dll
- Membuat label dan tanda peringatan terhadap sumber bahaya
- Kontrol administrasi, berupa administrasi kerja yang sehat, pengurangan
jam pamaparan pada pekerja industri.
- Pendidikan, yaitu pendidikan kesehatan atau job training masalah
penanganan bahan kimia beracun
- Monitoring lingkungan kerja.
- Pemeriksaan kesehatan awal, periodik, khusus dan screening serta
monitoring biologis ( darah, tinja, urine dan lainnya )
- Sanitasi dan higiene dalam hal higiene perorangan, kamar mandi, pakaian,
fasilitas kesehatan, desinfektan dan sebagainya
- Eleminasi, pemindahan sumber bahaya
- Ruang isolasi, yaitu proses kerja yang berbahaya harus terpisah dari
ruangan lainnya
C. Tindakan umum pada Keracunan
Penanganan pada korban keracunan harus cepat dan tepat. Pertolongan
pertama yang salah justru dapat memperparah keadaan sang korban. Oleh

18

karenanya kita perlu mengetahui hal apa saja yang harus dilakukan ketika ada
seseorang yang keracunan, diantaranya adalah:
- Jika racun masuk melalui oral, usahakan menghindarkan absorbsi racun
- Jika racun masuk melalui oral dan parental, usahakan untuk mempercepat
eliminasi
- Usahakan menanggulangi kerja racun dengan suatu antidote
- Usahakan untuk menormalkan gangguan fungsi tubuh terutama pernafasan
dan sirkulasi dengan tindakan somatic
- Memperlambat atau mengurangi pemasukan racun
Jika keracunan timbul karena menghirup racun, maka pasien harus
dibawa kelingkungan dengan udara bersih. Pada absorbsi melalui kulit
maka baju yang terkena (terkontaminasi racun) harus diganti. Kemudia
daerah tersebut harus dibilas dengan air hangat atau pasien harus disuruh
mandi. Jika kulit rusak berat harus digunakan pula sabun dengan air yang
tidak terlalu hangat. Pada kedua hal tersebut perlu diingat adanya resiko
penolongnya. Kalau perlu, penolong menggunakan pakaian pelindung
khusus.
Jika zat yang merangsang masuk ke mata, tidak bergantung pagaimana
sifat zat tersebut, maka mata harus dicuci bersih dengan air. Sebaiknya
kelopak mata juga dibalik. Jika ada benda padat yang akan dikeluarkan
perlu digunakan anastetika local. Gas air mata karena iritasinya yang
inntensif pada konjungtiva mata menyebabkan sakit menusuk nusuk dan
banyak nya air mata yang terbentuk. Pada konsenterasi gas air mata tinggi
terdapat kerusakan selaput lendir paru-paru dan memung kinkan timbulnya
endema paru-paru.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Toksikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang kerja
senyawa kimia yang meruigan makhluk hidup, dan juga mempelajari
mekanisme efek toksik terhadap makhluk hidup. Paparan dari toksik terhadap
manusia baik secara spontan dalam dosis besar maupun secara berkala dalam
dosis rendah dapat menyebabkan bermacam-macam gangguan. Beberapa

19

toksin memiliki klasifikasi tertentu, misalnya klasifikasi menurut organ


sasarannya antara lain toksin yang menyerang mata, kulit dan saraf.
Apabila mata terkena paparan toksin maka akan menimbulkaniritasi
dan kebutaan, sedangkan kulit yang terpapar oleh zat toksin akan
mengakibatkan iritasi atau gatal-gatal pada kulit. Berbeda dengan efek toksik
yang terdapat di sistem saraf, karena sistem saraf manusia merupakan suatu
organ yang sangat kompleks yang memiliki tugas mengatur, mengkoordinir,
dan mengendalikan seluruh aktivitas disalam tubuh manusia.
Oleh karena itu, organ saraf sangat rentan terhadap racun-racun.
Sedikit saja mengalami perubahan pada sistem saraf pusat maka akan
menimbulkan bahaya atau dampak yang sangat besar. Banyak zat toksik yang
dapat berperan sebagai neurotoksikan (zat-zat racun yang mengenai organ
saraf), diantaranya logam-logam berat, bahan kimia, insektisida, dll. Apabila
bahan kimia ini masuk ke dalam tubuh dan menyerang saraf maka akan
menimbulkan kelainan pada saraf.
3.2 Saran
Banyak sekali simbol-simbol yang menunjukan bahwa zat tersebut berbahaya
untuk mata, kulit dan organ lainnya. Oleh karena itu kita harus jeli dalam
membeli atau menggunakan bahan kimia agar dapat terhindar dari paparan zat
toksik yang dapat merugikan diri kita. Dan kita juga perlu mengetahui
tindakan awal apa yang harus dilakukan jika terdapat orang yang keracunan
agar efek dari racun itu bias diminimalisir.

20

DAFTAR PUSTAKA

http://www.globaltalitakum.com/2010_10_01_archive.html
https://www.scribd.com/doc/108808461/Paper-Toksikologi-Organ-Saraf
http://mbingboo29.blogspot.com/2012/10/msds-cuso4.html
http://dianaph.blogspot.com/2013/01/tugasku-makalah-paparan-merkuri-hg.html
http://www.kesmas-unsoed.info/2011/01/mekanisme-toksik-logam-beratberilium.html
http://catatankimia.com/catatan/toksisitas-merkuri.html
www.jamsostek.co.id/content_file/mata.pdf
sumber foto :
http://mercurypolicy.org/wpcontent/uploads/2010/06/skincreamhgfactsheet_may31_final.pdf
http://www.bahayamerkuri.com/2012/10/alur-kerja-merkuri-hg-di-kulit-wajah.html

21

http://jujubandung.com/2012/06/09/pelabelan-b3-untuk-kategori-bahaya-kesehatanberdasarkan-ghs-3/
http://dokumen.tips/documents/efek-toksik-561c3065088e2.html