Anda di halaman 1dari 24

TUGAS PBL

SKENARIO 1

KIAT BELAJAR SEBAGAI MAHASISWA


KEDOKTERAN

1. M. Amien Jakfar A.R


2. Yuni Ariani
3. Faisal Rais
4. Yenni P. S
5. Ferdita R.C
6. Susilowati
7. Titin Aliyatur R.H
8. Awalino A. S
9. M. Zainul A.
10. Ayu Diah Permata Sari

11700261
11700263
11700265
11700267
11700269
11700271
11700275
11700277
11700279
11700283

Pembimbing Tutor : Atik Sri Wulandari, SKM, M.Kes


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA
TAHUN AKADEMIK 2011/2012
KATA PENGANTAR

Rasa puji syukur kami sampaikan kehadirat Tuhan Yang


Maha Esa. Karena berkat limpahan karunia-Nya, kami dapat
menyelesaikan makalah ini sesuai dengan yang diharapkan.
Dalam makalah ini kami membahas hasil diskusi scenario I
dari SGD (Small Group Discussion) yang berjudul Kita
Belajar Sebagai Mahasiswa Kedokteran.
Dalam mengerjakan makalah ini, untuk itu kami ucapkan
rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya. Kami sampaikan
kepada :
1. Tutor SGD , Atik Sri Wulan dari SKM.M.Kes yang mau
memberikan bimbingan, arahan, koreksi, dan saran pada
kelompok kami.
2. Rekan-rekan mahasiswa yang telah banyak bekerja sama dan
berdiskusi dalam penulisan makalah ini.
Demikian makalah ini kami susun dan semoga dapat
bermanfaat bagi para pembaca. Dan kami mohon masukan
atau saran dan kritik membangun guna kesempurnaan
makalah ini. Terima Kasih.

Surabaya, 20 Oktober 2011

Penyusun
ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..............................................................i
KATA PENGANTAR ..........................................................ii
DAFTAR ISI .......................................................................iii
BAB I. PENDAHULUAN...................................................1-2
I.1 LATAR BELAKANG
I.2 RUMUSAN MASALAH
I.3 TUJUAN
BAB II. SKENARIO............................................................3
BAB III KATA KUNCI.......................................................4
BAB IV PROBLEM............................................................5-9
BAB V PEMBAHASAN....................................................10-18
BAB VI PENUTUP.............................................................19
VI.1 KESIMPULAN
VI.2 KRITIK DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Pembentukan karakter pada diri seseorang sebenarnya
sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Mengapa demikian?
Dikarenakan pada dasarnya kedua hal tersebut tidak dapat

dipisahkan satu sama lain. Baik secara sadar mapun secara tidak
sadar. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari
pembentukan karakter tersebut kemudian terbentuk juga
namanya Lifestyle (gaya hidup). Bila lingkungan baik, maka
karakter yang terbentuk juga baik. Selain itu, pengawasan orang
tua juga dibutuhkan untuk membentuk kepribadian yang baik.
Banyak para remaja hancur gara-gara kurangnya pengawasan
orang tua. Pada kasus scenario I, hanya kebutuhan materiil saja
yang terpenuhi, sedangkan pengawsan sangat minim sekali.
I.2

Rumusan Masalah
a. Proses adaptasi terhadap berbagai gejolak perubahan
yang terjadi pada mahasiswa.
b. Perlunya langkah-langkah aktif dari dalam diri
mahasiswa sendiri untuk mencari jati diri masingmasing untuk selanjutnya dapat menentukan kiat
belajar yang sesuai dengan dirinya sendiri sehingga
berdampak positif bagi prestasi belajarnya.

I.3

Tujuan
a. Para mahasiswa memahami bahwa kewajiban
utamanya adalah belajar terkait statusnya sebagai
mahasiswa.
1

b. Menemukan solusi terhadap berbagai perubahan yang


terjadi pada diri mahasiswa tersebut, meliputi
1. Perubahan lingkungan belajar
2. Perubahan lingkungan hidup dan pergaulan
3. Perubahan lingkungan cara belajar

c. Menerapkan solusi yang cocok agar tercapai proses


adaptasi yang cepat dan tepat sehingga tercipta suasana
belajar yang mendukung prestasi belajar.

BAB II
SKENARIO
Andi adalah lulusan SLTA yang baru lulus tahun ini, oleh
orang tuanya didaftarkan
masuk di Kampus Fakultas
Kedokteran Wijaya Kusuma Surabaya, dan lolos ujian seleksi
penerimaan mahasiswa baru. Andi memliki kakak kandung yang

berstatus sebagai mahasiswa semester 5 di Fakultas Kedokteran


Swasta di kota lain, dimana Y-Kakaknya memperoleh nilai
prestasi yang kurang sehingga banyak mata kuliah yang
ditinggal Karena tidak cukup SKS yang akan diambil mengacu
pada Indeks Prestasi semester yang lalu.Hal ini membuat gelisah
hati Andi : apakah yang terjadi terhadap Kakaknya, sehingga
tidak dapat sukses belajar mengejar prestasi yang maksimal?
Lokasi mereka berdua berbeda kota dan berjarak jauh dari
te,pat tinggal orang tua mereka, tetapi orang tua mereka
mendukung segala keperluan belajar di Fakultas Kedokteran
denga kiriman dana yang berleihan kepada Y-Kakaknya.
Lingkungan baru bagi Y tanpa pengawasan melekat dari
orang tua serta dukungan dana yang berlebih menyebabkan
perubahan gaya hidup Y, Ia telah lupa terhadap status
Mahasiswa-nya, Y lebih suka berfoya-foya dengan teman
pergaulannya, bergaya hidup mewah dan ikut pesta dunia
malam, mabuk-mabukan.
Bagaimana cara Andi mencegah hal ini terjadi padanya?

BAB III
KATA KUNCI

Indeks Prestasi

Indeks Prestasi adalah suatu nilai rata yang diperoleh


seorang Mahasiswa setelah menempuh sejumlah mata
kuliah. Biasaya Indeks Prestasi dibedakan menjadi 2, yaitu
IP Semster dan IP Komulatif.
Indeks Prestasi Semester/IP Semester adalah IP yang
dihitungnya berdasarkan mata kuliah yang ditempuh
selama 1 semester tertentu.
Indeks Prestasi Kumulatif /IP Kumulatif adalah IP yang
dihitung berdasarkan seluruh mata kuliah yang telah
ditempuh oleh mahasiswa tersebut.
Indeks Prestasi Akademik dan persepsi mahasiswa
merupakan beberapa faktor yang dipertimbangkan
mahasiswa dari berbagai pertimbangan dalam memilih
karir. Indeks Prestasi Mahasiswa di Perguruan Tinggi dan
persepsinya tentang beberapa faktor tertentu dapat
membantu menilai keberhasilan dan turut menentukan
kesempatan kerja yang lebih baik sekaligus menentukan
masa depannya.

BAB IV
PROBLEM

a) Apakah maksud dari kata mahasiswa? Dan apa bedanya


dengan siswa?
b) Bagaimana cara untuk cepat beradaptasi dengan langkah
segala perubahan yang terjadi?
c) Bagaimana kiat belajar seorang mahasiswa Fakultas
Kedokteran?

PEMBAHASAN
a)

Dalam memasuki jenjang dan tahap yang baru, perlu


banyak diketahui hal-hal yang berkaitan tentang masa transisi
dari siswa menjadi mahasiswa. Untuk menjadi seorang
mahasiswa, bukan hanya sekedar identitas belaka, melainkan
betul-betul ingin menjadi seorang mahasiswa yang intelektual
dan memiliki perubahan / melakukan perubahan dari status
siswa menjadi mahasiswa.
Secara umum, siswa itu adalah pelajar yang bisa dikatakan
masih terkait oleh aturan-aturan yang masih dibatasi
kebebasannya. Siswa adalah seorang atau sekelompok orang
yang menuntut ilmu di bangku sekolah. Atau dengan kata
lain, siswa adalah orang yang menuntut ilmu sedalam
mungkin, baik yang rela mengeluarkan ataupun tidak, segala
jerih payah dll dengan tujuan untuk menempuh masa depan
yang cerah dengan catatan tidak menyianyiakan kesempatan
yang diberikan.
5

Lain halnya dengan pengertian mahasiswa. Menurut


bahasa, kata mahasiswa berasal dari dua kata, yakni maha
dan siswa. Maha berarti tinggi, sedangkan siswa berarti
pelajar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mahasiswa
adalah orang yang telah terdaftar di perguruan tinggi, baik

negeri maupun swasta. Jadi, secara istilah dapat dikatakan


bahwa mahasiswa adalah orang-orang yang memiliki
kecerdasan intelektual dan moral yang dapat digunakan atau
diterapkan dalam kehidupan sosial.
Mahasiswa memiliki peran atau tanggung jawab
khususnya di masyarakat. Ada 3 peran mahasiswa antara lain
sebagai agent of exchange, moral force, dan social control.
Agent of exchange bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia
adalah agen pertukaran atau agen perubahan. Dalam hal ini,
mahasiswa berperan untuk melakukan perubahan-perubahan
atau sebagai aspirasi atau penyaluran argumen yang bertujuan
ke arah yang positif. Moral force atau kekuatan moral,
dimana seorang mahasiswa harus memiliki intelektual dan
moral. Dalam hal ini, keduanya harus diseimbangkan dan
sangat penting dimiliki oleh seorang mahasiswa agar
berperan maksimal dalam melaksanakan tanggung jawabnya.
Kemudian, yang ketiga adalah social control. Mahasiswa
yang berperan dalam masyarakat, perlu dilakukan atau
diharapkan dapat melihat kondisi sosial masyarakat, karena
sesungguhnya mahasiswa dalam artian manusia adalah
makhluk sosial. Misalnya saja mahasiswa merupakan
perantara penyampaian aspirasi / wakil rakyat yang dapat
menyampaikan argumen-argumen atau masalah-masalah
kepada pemerintah, dalam hal ini mahasiswa berperan
melakukan kontrol terhadap pemerintah dan juga masyarakat.
6

Setelah membahas mengenai pengertian dan peran


mahasiwa, terdapat pula jenis-jenis mahasiswa yang
dikelompokkan atas mahasiswa akademis, mahasiswa
organisatoris, mahasiswa religius maupun mahasiswa
hedonis. Mahasiswa yang tergolong mahasiswa akademis
adalah mereka yang hanya fokus kepada pelajaran dan nilai.

Mereka hanya memikirkan bagaimana mereka mendapatkan


nilai atau IPK yang tinggi maupun untuk mencapai
kelulusan. Mereka tidak mengikuti kegiatan organisasi atau
berpartisipasi pada forum-forum mahasiswa. Secara logis,
hal itu wajar jika ingin fokus pada pelajaran atau akademik
namun juga terkesan kurang baik apabila memikirkan tujuan
hanya berarah kepada hal tersebut. Selanjutnya, adalah
mahasiswa organisatoris. Dalam hal ini, mereka cenderung
90 % fokus pada kegiatan organisasi namun mengabaikan
akademik. Mereka hanya datang ke kampus untuk mengurusi
hal-hal atau masalah-masalah terkait dengan organisasi yang
mereka jalankan. Kelompok mahasiswa religius adalah
dimana mereka fokus kepada kegiatan keagamaan mereka
atau kebanyakan melakukan ibadah sehingga mereka juga
meninggalkan kewajiban-kewajiban urusan dunianya. Dan
yang keempat adalah mahasiswa hedonis. Tujuan mereka
sepenuhnya bukan ingin mengikuti kegiatan perkuliahan
seperti belajar dan organisasi, melainkan mereka datang
untuk melakukan hal-hal yang tidak bermafaat, seperti gayagayaan, memamerkan barang-barang, hura-hura dan hal-hal
lain yang berkaitan dengan hal tersebut. Jenis atau kelompok
manusia seperti ini sebaiknya tidak menjadi identitas bagi
mahasiswa.
Kembali kepada topik awal, yang membahas masalah
siswa vs mahasiswa. Dalam hal ini akan dijelaskan lebih
detail perbedaan-perbedaan antara siswa dan mahasiswa.
Ketika menjadi siswa kita masih dibantu, diayomi dan
diarahkan dalam menghadapi persoalan. Menjadi mahasiswa
7

adalah sebuah kesempatan bagi kita untuk menetapkan jati


diri sehingga kita menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, dan
komunikatif dalam memecahkan persoalan kehidupan.
Dituntut untuk lebih kritis berpikir dengan matang, tidak
gegabah dalam mengambil keputusan.

Selain itu, terdapat perbedaan metode pembelajaran dalam


hal ini belajar di sekolah menengah dan di perguruan tinggi.
Karena prebedaannya itu, banyak mahasiswa yang merasa
kesulitan untuk menyesuaikan cara belajarnya di PT. Bahkan,
ada yang terpaksa berhenti kuliah (drop-out) di tahun
pertama karena kesulitan menyesuaikan diri.
1) Di sekolah menengah, siswa biasanya bersifat lebih pasif,
sementara guru lebih aktif. Siswa lebih banyak berperan aktif
sebagai penerima ilpeng sementara guru sebagai pemberi
ilpeng. Di PT, dosen mengharapkan mahasiswa bukan hanya
sekedar sebagai penerima ilmu namun jg pencari ilmu.Tugas
akademik di PT lebih sulit dibandingkan di sekolah
menengah.
2) Di sekolah menengah, diwajibkan untuk menghadiri setiap
pembelajaran namun di PT sering tidak berlaku.
3) Di sekolah menengah, guru seringkali memeriksa tugas
seperti membaca dsb, namun di PT diharapkan dapat menjadi
pembelajar yang mandiri.
4) Ujian di sekolah menengah cukup sering diberikan dan
meliputi sejumlah kecil informasi / materi pembelajaran.
Namun, ujian di PT lebih jarang diberikan dan mencakup
informasi yang lebih banyak.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa baik siswa ataupun
mahasiswa seharusnya tetap menjadi pembelajar kehidupan
sejati yang tidak hanya berkutat di depan buku atau
mikrofon. Buka mata lebar, jangan terjerat dengan status,

bisa jadi masih ada sosok lain yang lebih terpelajar dari
siswa maupun mahasiswa. Selain itu, perguruan tinggi
bukanlah sekedar kelanjutan sekolah menengah. Perguruan
tinggi adalah pengalaman baru yang menuntut kita
melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

a)

b)

Adaptasi adalah kemampuan atau kecenderungan makhluk


hidup dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru
untuk dapat tetap hidup dengan baik. Adaptasi merupakan
hal yang perlu, bahkan penting untuk dilakukanoleh seorang
makhluk sosial, sesuai dengan definisi dari kata adaptasi
sebelumnya. Manusia sebagai makhluk sosial sangat
dibutuhkan. Manusia sebagai makhlu sosial sangat
dibutuhkan hal itu agar kita tidak mudah terpengaruh dalam
hal yang tidak diinginkan. Tetapi, hal itu juga dibutuhkan
agar tidak mudah masuk ke suatu lilngkungan jika
lingkungan itu baik. Agar kita tidak mudah terpengaruh halhal yang tidak baik, maka kita perlu cepat tanggap terhadap
segala perubahan
Belajar sejatinya adalah suatu proses interaksi yang
dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal
ini biasa agar kita mendapatkan banyak informasi lebih dan
pelakunya pun tidak ada batasan umur dan waktu. Kapan pun
dan dimanapun belajar daoat dilakukan agar dapat
memperoleh prestasi yang sesuai dengan yang diinginkan.
Belajar memerlukan niat dan prinsip teguh agar tidak mudah
goyah. Belajar tak harus berpedoman hanya pada satu
sumber tetapi banyak sumber yang dapat kita jadikan
referensi. Jadi, kita akan dapat memperoleh banyak
informasi.

BAB V
PEMBAHASAN

FAKTOR PENGHAMBAT DAN KIAT-KIAT BELAJAR

Motivasi Belajar Untuk Mahasiswa, Motivasi belajar


setiap orang, khususnya mahasiswa tentunya satu dengan
yang lainnya, bisa jadi berbeda. Biasanya, hal itu
bergantung dari apa yang di inginkan orang yang
bersangkutan. Misalnya, seorang anak mau belajar dan
mengejar ranking pertama karena diiming-imingi sepeda
atau hadiah yang lainnya. Mungkin Kalau dikalangan
mahasiswa biasanya niatnyapun masih beragam ada yang
karena, terpaksa disuruh kuliah oleh orang tuanya, dan lain
lain yang bisa menjadi faktor penghambat belajar, hanya
karena kesalahan didalam niatan awal belajar atau kuliah.
Contoh lainnya, seorang mahasiswa mempunyai motivasi
belajar yang tinggi agar lulus dengan predikat cum laude.
Setelah itu, dia bertujuan untuk mendapatkan pekerjaan
yang hebat dengan tujuan membahagiakan orangtuanya.
Berikut dijabarkan berbagai sebab/faktor yang dapat
menurunkan motivasi belajar peserta didik orang dewasa;
KEHILANGAN HARGA DIRI

Pengaruh dari hilangnya harga diri bagi orang dewasa


sangat besar. Tanpa harga diri, peserta didik orang dewasa
akan berlaku sangat emosional dan pasti menurunkan
motivasi belajarnya. Penting bagi tutor/guru untuk
menyadari hal ini. Berhati-hati dengan latar belakang dan
tidak menyinggung perasaan orang lain merupakan hal

10

yang harus diperhatikan tutor/guru untuk peserta didik


orang dewasa. Contohnya; jika seorang peserta didik orang
dewasa dihukum dengan cara maju kedepan dan menjewer
kupingnya sendiri dan kakinya diangkat satu, niscaya ia
tidak akan respek lagi terhadap guru/tutornya dan mungkin

materi serta keseluruhan proses belajarnya. Bahkan ia


dapat seketika keluar kelas tanpa kembali lagi selamanya.
KETIDAKNYAMANAN FISIK
Fisik merupakan aspek fisiologis/penampakan yang
penting untuk meningkatkan motivasi belajar. Seorang
peserta didik dewasa biasanya selalu memperhatikan
penampilan fisiknya. Jika fisiknya tidak membuat ia
nyaman, motivasi belajarnya pun akan menurun. Contoh;
seorang yang mempunyai badan yang besar akan
mengalami penurunan motivasi jika ia diminta untuk
belajar lari sprint dilapangan.
FRUSTASI
Kendala dan masalah hidup yang dihadapi oleh
orang dewasa merupakan hal yang harus dijalani.
Terkadang dapat diatasi, terkadang tidak. Mereka yang
mengalami masalah yang tidak tertanggulangi biasanya
akan cepat frustasi. Peserta didik seperti ini tentu fokus
utamanya menghadapi problem hidupnya yang sedang
carut-marut itu. Motivasi untuk terus belajar akan menurun
sejalan dengan rasa frustasinya. Tutor/guru seharusnya
dapat memahami apa yang dihadapi peserta didiknya.
Tutor/guru harus dapat menyampingkan rasa frustasi
peserta didiknya dengan menjadikan proses pembelajaran
sebagai sesuatu yang menyenangkan dan refreshing.

11
TEGURAN YANG TIDAK DIMENGERTI

Orang dewasa tidak hanya manusia yang


mempunyai pemikiran dan pengalaman luas ttapi juga

prasangka yang besar pula. Jika tutor/guru menegur


dengan tanpa ia mengerti, peserta didik orang dewasa itu
pun akan merasa bingung dan berprasangka macammacam yang pada akhirnya menjadi faktor penurun
motivasi belajarnya. Contohnya, tutor/guru yang kesal
dengan peserta didiknya yang terlambat menacungacungkan jari dengan cepat kepada peserta didik tersebut.
Peserta didik orang dewasa tersebut tentu bingung dan
berfikir apa yang salah dengannya, dan ia berinisiatif
untuk tidak menghadiri kelas tersebut, mungkin untuk
selamanya.
MENGUJI YANG BELUM DIBICARAKAN/DIAJARKAN

Tutor/guru yang tidak memahami peserta didiknya


dan mempunyai jam terbang rendah, nampaknya kesulitan
dan dapat saja ia lupa atau sengaja untuk menampilkan
soal-soal ujian yang sulit atau belum diajarkanya karena
berbagai sebab. Peserta didik orang dewasa yang
mengikuti pembelajarannya akan tidak dapat menjawab
atau menjawab dengan kurang tepat sehingga mereka
merasa kesal atau merasa dipermainkan tutornya. Hal ini
menjadi kontra produktif terhadap proses pembelajaran
tersebut.

12
MATERI TERLALU SULIT/MUDAH

Materi pembelajaran dapat diukur dengan


menerapkan pratest dan pengidentifikasian sasaran peserta
didik. Terkadang hal ini tidak diperhatikan tutor/guru

sehingga materi yang diajarkan terlalu sulit/mudah. Bagi


peserta didik orang dewasa, mereka tentu sangat bosan
dengan materi yang terlampau mudah dan sangat frustasi
dengan materi yang terlampau sulit. Keduanya
mempengaruhi motivasi belajar peserta didik ketingkat
terendah.
PERSAINGAN YANG TIDAK SEHAT

Setiap peserta didik orang dewasa mempunyai


perbedaan satu sama lainya. Kadang-kadang dalam ujian
ada saja yang berbuat curang. Peserta didik yang berbuat
jujur merasa tidak adil kepada mereka yang mencontek
dan mendapat nilai bagus sementara dirinya bersungguhsungguh dalam belajar tetapi nilainya standar saja. Hal ini
menyebabkan motivasi belajarnya menurun bahkan
menjadikan proses belajar tidak lagi kondusif.

PRESENTASI YANG MEMBOSANKAN

Pembelajaran tidak terlepas dari proses penyajian


materi. Tutor harus dapat menyajikan materi yang baik.
Menarik, jelas dan melingkupi seluruh materi menjadikan
suatu presentasi diterima dengan baik. Jika hal itu bertolak
belakang, peserta didik orang dewasa akan cepat bosan

13

dan menurunkan motivasinya untuk belajar. Contohnya,


presentasi disajikan dengan huruf yang terlampau kecil
sehinga sulit untuk dibaca, warna yang ditampilkan tidak
menunjukan gradasi yang jelas, atau penyaji hanya
menggunakan metode ceramah saja, dll.

PELATIH/FASILITATOR TIDAK MENARUH MINAT

Tutor dalam perannya sebagai fasilitator di kelas


sangat penting untuk memperlihatkan minatnya pada
materi yang diajarkan. Jika tidak, peserta didik orang
dewasa akan berfikir bahwa materi tersebut tidak penting
dan membosankan. Hal itu akan sangat berdampak pada
penurunan motivsi belajar mereka.
TIDAK

MENDAPATKAN

UMPAN

BALIK

Pembelajaran yang efektif harus menyertakan umpan


balik pada komponen komunikasi antar individu. Peserta
didik orang dewasa dan tutor/guru selayaknya
mendapatkan umpan balik satu dan lainnya. Jika hal ini
tidak terjadi, peserta dan tutor/guru akan mengarah pada
komunikasi searah saja. Hal ini berkebalikan dengan
proses pembelajaran yang seharusnya. Peserta tidak
mendapatkan apa yang ia butuhkan dan begitu juga
guru/tutor tidak mendapatkan respon dari peserta.
Penurunan motivasi belajar tentu terjadi karena hal
tersebut. Contohnya, tutor yang mengajar dengan hanya
metode ceramah tanpa melakukan diskusi dan melontarkan
pertanyaan, juga tidak memperhatikan peserta didiknya
(mengacuhkan) akan tidak mendapat umpan balik yang
diperlukan untuk melihat sejauh mana peserta didik

13

menguasai materi. Begitu juga peserta didik yang melihat


tidak adanya kesempatan bertanya dan berpendapat dan
mengkritisi materi, akan merasa bosan dan menganggap
umpan balik dari guru/tutor tidak ada. Mereka dapat segera
keluar dari kelas tanpa dipedulikan tutor/gurunya.

HARUS BELAJAR DENGAN KECEPATAN YANG SAMA

Pembelajaran merupakan suatu proses dimana pesrta


didiknya memiliki perbedaan baik dalam hal kecepatan
daya serap atau pengalaman dan kemampuan lainnya. Jika
tutor memberikan pola pengajaran yang kecepatannya
sama tiap-tiap peserta didik, dikhawatirkan akan terjadi
kebosanan pada pesrta didik orang dewsa yang lebih cepat
penyerapannya dan terjadi rasa frusrtasi yang sangat bagi
peserta didik yang proses penyerapannya lambat. Kedua
hal ni dapat menurunkan motivsi belajar pesrta didik orang
dewasa.
BERKELOMPOK DENGAN PESERTA YANG SAMA-SAMA
KURANG

Metode pembelajaran kelompok merupakan suatu


metode stratgis untuk tutor/guru agar peserta didik dapat
saling mengisi dan menanggulangi masalah yang
disampaikan tutor/guru. Jika dalam satu kelompok
anggotanya berkemampuan rendah semua, kegiatan
kelompok tidak akan berjalamn baik. Proses yang
diharapkan guru/tutor agar saling mengisi dan bertukar
pendapat akan tidak berjalan dikarenakan seluruh

14

anggorannya berkemampuan rendah. Peserta didik pun


akan merasa tidak mencapai progres yang baik dan tidak
mencapai target. Keadaan tersebut akan menurunkan
motivasi belajarnya.
HARUS BERTINGKAH YANG TIDAK SESUAI DENGAN
PEMBIMBINGNYA

Tingkah laku orang dewasa dipengaruhi oleh


pemahamannya. Peserta didik orang dewasa mempunyai
karakter yang khas satu sama lainnya. Pembimbing/tutor
tidak dapt memaksakan kehenaknya kepada peserta
didiknya agar sesuai dengannya. Jika hal ini terjadi,
peserta didik orang dewasa akan bertindak tidak sesuai
denga pribadinya dan hal ini menimbulkan gejolak
didalam hatinya dan mungkin mereka akan keluar kelas
untuk selamanya. Contohnya, seorang peserta didik orang
dewasa yang cerdas dan biasa mengutarakan pendapatnya
dengan gamblang dan selalu kritis, dalam suatu
pembelajaran kelas, tutor mengharapakan tidak ada
satupun peserta yang bicara, berpendapat atau bertanya
dan mengkritisinya dikelas. Peserta didik orang dewasa ini
berfikir dan berprasangka bahwa tutor orang yang otoriter
dan kemampuan argumentatifnya rendah juga kemampuan
pemahaman materinya rendah pula. Peserta didik ini pun
dengan sukarela akan dapat meninggalkan kelas
secepatnya dan tidak kembali lagi.
faktor-faktor yang membedakan motivasi belajar
seseorang dengan yang lainnya?
Beberapa faktor di bawah ini sedikit banyak memberikan
penjelasan mengapa terjadi perbedaaan motivasi belajar
pada

15

diri masing-masing orang, di antaranya:

Perbedaan fisiologis (physiological needs), seperti


rasa lapar, haus, dan hasrat seksual
Perbedaan rasa aman (safety needs), baik secara
mental, fisik, dan intelektual

Perbedaan kasih sayang atau afeksi (love needs)


yang diterimanya

Perbedaan harga diri (self esteem needs).


Contohnya prestise memiliki mobil atau rumah mewah,
jabatan, dan lain-lain.

Perbedaan aktualisasi diri (self actualization),


tersedianya
kesempatan
bagi
seseorang
untuk
mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya
sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.

Stimulus motivasi belajar


Terdapat 2 faktor yang membuat seseorang dapat
termotivasi
untuk belajar, yaitu:

Pertama, motivasi belajar berasal dari faktor internal.


Motivasi ini terbentuk karena kesadaran diri atas
pemahaman
betapa
pentingnya
belajar
untuk
mengembangkan dirinya dan bekal untuk menjalani
kehidupan.

Kedua, motivasi belajar dari faktor eksternal, yaitu


dapat berupa rangsangan dari orang lain, atau lingkungan
sekitarnya yang dapat memengaruhi psikologis orang yang
bersangkutan.

16

Tips-tips meningkatkan motivasi belajar


Motivasi belajar tidak akan terbentuk apabila orang tersebut
tidak mempunyai keinginan, cita-cita, atau menyadari manfaa
belajar bagi dirinya. Oleh karena itu, dibutuhkan pengkondisian
tertentu, agar diri kita atau siapa pun juga yang menginginkan
semangat untuk belajar dapat termotivasi.
Berikut tips-tipsnya:

Bergaullah dengan orang-orang yang senang belajar


Bergaul dengan orang-orang yang senang belajar dan
berprestasi, akan membuat kita pun gemar belajar. Selain
itu, coba cari orang atau komunitas yang mempunyai
kebiasaan baik dalam belajar.
Bertanyalah tentang pengalaman di berbagai tempat
kepada orang-orang yang pernah atau sedang melanjutkan
pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, orang-orang
yang mendapat beasiwa belajar di luar negeri, atau orangorang yang mendapat penghargaan atas sebuah presrasi.
Kebiasaan dan semangat mereka akan menular kepada
kita. Seperti halnya analogi orang yang berteman dengan
tukang pandai besi atau penjual minyak wangi. Jika kita
bergaul dengan tukang pandai besi, maka kita pun turut
terciprat bau bakaran besi, dan jika bergaul dengan penjual
minyak wangi, kita pun akan terciprat harumnya minyak
wangi.

Belajar apapun
Pengertian belajar di sini dipahami secara luas, baik formal
maupun nonformal. Kita bisa belajar tentang berbagai
keterampilan seperti merakit komputer, belajar menulis,

17

membuat film, berlajar berwirausaha, dan lain lainlainnya.

Belajar dari internet


Kita bisa memanfaatkan internet untuk bergabung dengan
kumpulan orang-orang yang senang belajar. Salah satu

milis dapat menjadi ajang kita bertukar pendapat, pikiran,


dan memotivasi diri. Sebagai contoh, jika ingin termotivasi
untuk belajar bahasa Inggris, kita bisa masuk ke milis
Free-English-Course@yahoogroups.com.

Bergaulah dengan orang-orang yang optimis dan selalu


berpikiran positif
Di dunia ini, ada orang yang selalu terlihat optimis meski
masalah merudung. Kita akan tertular semangat, gairah,
dan rasa optimis jika sering bersosialisasi dengan orangorang atau berada dalam komunitas seperti itu, dan
sebaliknya.

Cari motivator
Kadangkala, seseorang butuh orang lain sebagai pemacu
atau mentor dalam menjalani hidup. Misalnya: teman,
pacar, ataupun pasangan hidup. Anda pun bisa melakukan
hal serupa dengan mencari seseorang/komunitas yang
dapat membantu mengarahkan atau memotivasi Anda
belajar dan meraih prestasi.

18

BAB VI
PENUTUP
VI.1 Kesimpulan

Dari scenario I ini kami menarik kesimpulan bahwa


Y kurang adanya pengawasan dari orang tua sehngga Ia
terpengaruh oleh teman-teman pergaulan di sekililingnya.
Dan menyebabkan perubahan gaya hidup (Lifestyle) yang
merupakan terhadap status mahasiswanya.
VI.2 Saran
6.2.1 Sebaiknya orang tua memberikan pengawasan dan
jangan memberikan uang yang berlebihan kepada
anaknya agar tidak terpengaruh oleh teman
pergaulannya.
6.2.2 Sebaiknya sebagai mahasiswa, apalagi mahasiswa
kedokteran harus bisa membagi waktu untuk belajar,
jangan suka berfoya-foya dan ikut pesta dunia
malam.

19

DAFTAR PUSTAKA

20