Anda di halaman 1dari 36

PERDAGANGAN INTERNASIONAL Data GDP/GNP untuk Komoditas Teh di Indonesia

Kelompok 7 Disusun oleh : Wendi Irawan Dityo Gunarto Rivalnu Luqman R.Moudy A.P Fika Nutfahul Husna NPM : 150310080137 NPM : 150310080164 NPM : 150310080167 NPM : 150310080173 NPM : 150610090046

Dosen: M Arief Budiman, SE.,ME.

Kelas: Agribisnis D

Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kita berbagai macam nikmat, sehingga aktifitas hidup yang kita jalani ini akan selalu membawa keberkahan, baik kehidupan di alam dunia ini, lebih-lebih lagi pada kehidupan akhirat kelak, sehingga semua cita-cita serta harapan yang ingin kita capai menjadi lebih mudah dan penuh manfaat. Terima kasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada dosen mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Alam, Bapak M. Arief Budiman, SE.,ME. serta teman-teman sekalian yang telah membantu, baik bantuan berupa moriil maupun materil, sehingga makalah ini terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan. Kami menyadari sekali, didalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan serta banyak kekurangan-kekurangnya, baik dari segi tata bahasa maupun dalam hal pengkonsolidasian kepada dosen serta teman-teman sekalian, yang kadangkala hanya menuruti egoisme pribadi, untuk itu besar harapan kami jika ada kritik dan saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan makalah-makah kami di lain waktu.

Bandung, April 2011

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Teh Teh adalah minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidan dengan kadar lemak, karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang merupakan kenikmatan tersendiri dari teh.

1.2

Macam-Macam Teh Teh Putih Teh yang dibuat dari pucuk daun yang tidak mengalami proses oksidasi dan sewaktu belum dipetik dilindungi dari sinar matahari untuk menghalangi pembentukan klorofil. Teh putih diproduksi dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan teh jenis lain sehingga harga menjadi lebih mahal. Teh putih kurang terkenal di luar Tiongkok, walaupun secara perlahan-lahan teh putih dalam kemasan teh celup juga mulai populer.

- Teh Hijau
Termasuk jenis teh yang begitu disukai karena manfaatnya sangat besar untuk tubuh kita, catechins antioksidan dan kuta yang terkandung di dalamnya bisa membantu membunuh virus, memacu daya tahan tubuh, dan bisa memperlambat efek penuaan dini. Teh Hitam Ini jenis teh yang sering kita konsumsi, ternyata juga memiliki manfaat, karena teh ini mempunyai kandungan polyhenol ini bisa mencegah kanker dan penyakit jantung, kolesterol tinggi dan infeksi. 1.3 Pengolahan Teh Daun teh Camellia sinensis segera layu dan mengalami oksidasi kalau tidak segera dikeringkan setelah dipetik. Proses pengeringan membuat daun menjadi berwarna gelap, karena terjadi pemecahan klorofil dan terlepasnya unsure tanin. Proses selanjutnya berupa

pemanasan basah dengan uap panas agar kandungan air pada daun menguap dan proses oksidasi bisa dihentikan pada tahap yang sudah ditentukan. Pengolahan daun teh sering disebut sebagai "fermentasi" walaupun sebenarnya penggunaan istilah ini tidak tepat. Pemrosesan teh tidak menggunakan ragi dan tidak ada etanol yang dihasilkan seperti layaknya proses fermentasi yang sebenarnya. Pengolahan teh yang tidak benar memang bisa menyebabkan teh ditumbuhi jamur yang mengakibatkan terjadinya proses fermentasi. Teh yang sudah mengalami fermentasi dengan jamur harus dibuang, karena mengandung unsur racun dan unsur bersifat karsiogenik.

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Komoditi Teh di Indonesia Teh merupakan salah satu komoditi yang mempunyai peran strategis dalam perekonomian Indonesia. Industri teh mampu memberikan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp 1,2 triliun (0,3% dari total PDB nonmigas). Komoditi ini juga menyumbang devisa sebesar 110 juta dollar AS setiap tahunnya (ATI, 2000). Selain untuk menjaga fungsi hidrolis dan pengembangan agroindustri, perkebunan teh juga menjadi sektor usaha unggulan yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar. Rasio perbandingan tenaga kerja dengan luas lahannya 0,75. Karena itu perkebunan teh digolongkan sebagai industri padat karya (www.pkps.org). Tahun 1999 industri ini mampu menyerap 300.000 pekerja dan menghidupi sekitar 1,2 juta jiwa (Suprihatini Rohayati, Daya Saing Ekspor Teh Indonesia di Pasar Teh Dunia). Jawa Barat merupakan Provinsi penghasil Teh terbesar di Indonesia, lebih dari 70 % produksi Teh Nasional di hasilkan dari Jawa Barat, oleh karenanya Teh dijadikan komoditas unggulan di Jawa Barat. Tanaman Teh merupakan tanaman tahunan yang dapat berproduksi secara berkesinambungan sehingga perkebunan Teh yang tersebar diwilayah pedesaan pegunungan Jawa Barat, merupakan sumber mata pencaharian bagi masyarakat sekitar sehingga dapat menekan laju urbanisasi. Lebih dari 2 juta jiwa masyarakat Jawa Barat kehidupannya tergantung dari agribisnis Teh. Tanaman Teh yang dibudidayakan dengan kepadatan yang cukup tinggi dan sistem pengelolaan yang cukup baik terbukti mampu menjaga kelestarian alam dan lingkungan, antara lain mencegah erosi, memelihara fungsi hutan dan hidrologis serta menekan laju emisi karbon. Potensi pengembangan komoditi teh Indonesia sangat besar. Produksi teh yang tinggi menempatkan Indonesia pada urutan kelima sebagai negara produsen teh curah, setelah India, Cina, Sri Lanka dan Kenya. Indonesia juga menduduki posisi kelima sebagai negara eksportir teh curah terbesar dari segi volume setelah Sri Lanka, Kenya, Cina dan India (Suprihatini Rohayati, Daya Saing Ekspor Teh Indonesia di Pasar Teh Dunia).

2.2

Profil Bisnis Komoditi Teh Di Indonesia. GDP (Gross Domestic Product)/PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia Menurut bank dunia GDP (Gross Domestic Product)/PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia bernilai 540 miliar dolar atau 0,87% dari ekonomi dunia. Dari tahun 1967 sampai 2009, rata-rata Produk Domestik Bruto Indonesia adalah 138,19 milyar dolar, mencapai tingkat tertinggi sebesar 540,28 milyar dolar pada bulan Desember tahun 2009 dan rekor terendah sebesar 5,98 milyar dolar pada bulan Desember 1967. Indonesia merupakan negara dengan perekonomian nasional terbesar di Asia Tenggara. Indonesia memiliki perkonomian negara berbasis pasar di mana pemerintah memainkan peran penting dengan memiliki lebih dari 164 perusahaan milik negara. Pemerintah mengelola harga barang pokok, termasuk bahan bakar, beras, dan listrik.

a. Perkembangan Luas Areal Teh bukan tanaman asli Indonesia. Tanaman teh diperkenalkan pertama kali di Indonesia pada tahun 1686 oleh Dr. Andreas Cleyer sebagai tanaman hias. Pada tahun 1728 pemerintah Hindia Belanda mendatangkan bibit teh dalam bentuk biji-bijian dalam jumlah yang besar karena tertarik untuk membudidayakannya di pulau Jawa. Sayangnya, usaha tersebut tidak berhasil.Usaha budidaya dilakukan kembali dengan bibit teh dari jepang yang dipromosikan oleh Dr Van Siebold setalah tahun 1824. Usaha perkebunan teh yang pertama dipelopori Jacobson pada tahun 1828 dan berkembang menjadi komoditi yang menguntungkan pemerintahan Hindia Belanda. Sejak saat itu

teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa (Culture Stetsel). Pada masa pemerintahan Hindia Belanda perkebunan teh berkembang dan menyebar di tanah Indonesia. Setelah kemerdekaan, usaha perkebunan dan perdagangan teh diambil alih oleh pemerintah RI. Kini, perkebunan dan perdagangan teh juga dilakukan oleh pihak swasta. Berbeda dengan komoditi Indonesia lainnya, teh tidak membutuhkan areal lahan yang luas seperti karet, kelapa sawit dan tebu. Meski demikian produktivitas teh tidak kalah apabila dibandingkan dengan komoditi lainnya. Bahkan produktivitas teh menempati urutan ketiga setelah kelapa sawit dan tebu. Pada umumnya tanaman teh di Indonesia adalah 50% jenis medium grown, 20% high grown tea. Sisanya 30% adalah jenis low grown yang merupakan hasil grade medium grown yang bermutu rendah (Kantor Pemasaran Bersama PTPN). Jenis teh ini didasarkan pada ketinggian lahan. Kualitas teh sangat ditentukan oleh ketinggian tempat penanaman. Teh membutuhkan lahan yang tinggi. Tidaklah mengherankan apabila Jawa Barat menjadi propinsi yang memiliki luas lahan perkebunan teh terbesar di Indonesia karena wilayah tersebut mempunyai banyak dataran tinggi yang cocok untuk tanaman ini. Lahan yang digunakan untuk perkebunan teh di Indonesia semakin berkurang dari tahun ke tahun. Jika dihitung secara keseluruhan pertumbuhan luas areal teh pada tahun 2004 mengalami penurunan 0,58%. Lahan-lahan ini sebagian dikonversi menjadi kebun kelapa sawit, sayuran dan tanaman lainnya yang dianggap lebih menguntungkan. Bahkan sebagian petani teh telah menjual tanah mereka karena dinilai tidak lagi mendatangkan keuntungan (Kompas,11 Maret 2004).

Perkembangan luas areal teh di Indonesia pada periode tahun 1970-2009 cenderung mengalami peningkatan dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 0,37%. Pertumbuhan positif luas areal teh terjadi pada periode 1970 - 1998 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 1,20%, sedangkan periode sesudahnya mengalami penurunan ratarata luas areal sebesar 1,72%. Penurunan luas areal teh yang cukup tinggi terjadi pada tahun 1971 dengan penurunan sebesar 12,07%. Sementara itu peningkatan luas areal teh terbesar terjadi pada tahun 1998 yakni sebesar 10,42%

b. Produksi Penurunan areal teh di Indonesia telah mempengaruhi jumlah produksi teh nasional. Penurunan pertumbuhan produksi teh pada tahun 2004 berkisar 2,95%. Meski demikian, di beberapa propinsi seperti Jawa Tengah, DIY dan Sumatera Barat, penurunan areal tidak berpengaruh pada produksi mereka, bahkan produksi teh mengalami peningkatan. Dalam hal produksi, Jawa Barat merupakan penghasil teh terbesar di Indonesia. Propinsi ini menghasilkan 70% dari total produksi teh nasional. Propinsi lain yang juga merupakan penghasil teh terbesar adalah Sumatera Utara dan Jawa Tengah.

Tetapi menurut grafik diatas jika dilihat dari Perkembangan produksi teh di Indonesia pada periode tahun 19702009 cenderung mengalami peningkatan rata-rata sebesar 2,67% per tahun. Seperti halnya produksi teh nasional, perkembangan produksi teh menurut pengusahaan dari tahun 1970 sampai dengan 2009 juga cenderung mengalami peningkatan. Pertumbuhan produksi teh yang berasal dari PR rata-rata setiap tahun meningkat sebesar 2,85%, PBN rata-rata tumbuh 2,72% dan rata-rata pertumbuhan tertinggi dicapai PBS yakni sebesar 4,04%

Harga Komoditas Teh Di Indonesia Perkembangan harga teh rata-rata di tingkat produsen di Indonesia padaperiode tahun 19832007 cenderung terus meningkat (Gambar 4.6). Harga teh daun kering di tingkat produsen rata-rata pada tahun 1983 sebesar Rp. 682,56,-/kg dan pada tahun 2007 sudah mencapai Rp. 4.780,56,-/kg atau sudah lebih dari tujuh kali lipat dibandingkan tahun 1983. Peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 1998 dimana peningkatannya mencapai 31,04% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu penurunan harga teh

selama periode 1983-2007 hanya terjadi pada tahun 2004 yakni sebesar 14,25% (Lampiran 4.7). Peningkatan harga teh di tingkat produsen pada tahun 1998 disebabkan karena menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Hal ini terjadi mengingat bahwa sebagian besar komoditas teh merupakan komoditas ekspor sehingga turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpengaruh pada meningkatnya harga teh di dalam negeri. Selain itu juga dipengaruhi oleh meningkatnya harga teh dunia

Sedangkan di tingkat konsumen yang dilihat dari harga teh per bungkus, perkembangan harga teh rata-rata di tingkat konsumen pada periode tahun 1983 - 2007 juga cenderung terus meningkat. Harga teh per bungkus di tingkat konsumen pada tahun 1983 sebesar Rp. 118,03,- dan pada tahun 2007 sudah mencapai Rp. 1.721,95,- atau sudah lebih dari 14 kali lipat dibandingkan tahun 1983. Hal ini berarti peningkatannya dua kali lipat dari peningkatan harga teh di tingkat produsen. Peningkatan harga teh di tingkat konsumen tertinggi terjadi pada tahun 1998 dimana peningkatannya mencapai 70,82% dibandingkan tahun sebelumnya karena meningkatnya harga teh dunia dan turunnya nilai tukar rupiah. Sementara itu penurunan harga teh selama periode 1983-2007 hanya juga terjadi pada tahun 2004 sama dengan harga teh di tingkat produsen yakni sebesar 6,87% .

c. Perusahaan Teh Tanaman teh mempunyai berbagai macam manfaat. Dalam industri, bagian tanaman teh yang sering dimanfaatkan adalah batang dan daun. Batang teh dapat digunakan untuk industri kerajinan kayu. Sementara itu daunnya dapat dikonsumsi dalam beberapa bentuk. Perkebunan teh yang dikelola oleh pemerintah Hindia Belanda diambil alih oleh pemerintah RI sejak kemerdekaan dan dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Meski demikian dalam manajemen di tingkat perkebunan, proses pengolahan bahkan sampai teknologi, perusahaan milik negara ini masih menggunakan teknologi atau mesin buatan Belanda. Dalam perkembangannya potensi besar dalam komoditi teh ini tidak hanya dilirik oleh BUMN, namun juga perusahaan swasta. Perusahaan-perusahaan swasta melakukan pengelolaan industri teh dari hulu hingga hilir. Menurut data Statistik Indonesia tahun 2004, terdapat 143 perusahaan perkebunan di Indonesia pada tahun 2004 baik yang dikelola oleh swasta maupun BUMN. Peringkat sepuluh besar perusahaan teh Indonesia didominasi oleh BUMN. Hal ini terjadi karena trend penggabungan BUMN-BUMN dalam satu manajemen sehingga menjadi sebuah perusahaan teh yang besar. Daftar sepuluh besar perusahaan teh di Indonesia dapat dilihat dari table berikut.

d. Perkembangan Ekspor Penjualan komoditi teh Indonesia sangat bergantung pada ekspor. Enam puluh lima persen produksi teh Indonesia ditujukan pada pasar ekspor. Kondisi ini tidak lepas dari peran dan kebijakan pemerintah yang ingin menggalakan penerimaan devisa dengan mendorong produsen untuk berorientasi pada ekspor (Bisnis Indonesia, 3 Desember 2004). Ketergantungan ini menimbulkan implikasi yang buruk pada perkembangan teh di Indonesia. Harga teh di Indonesia sangat dipengaruhi oleh jumlah permintaan dan ketersediaan komoditi teh di tingkat dunia. Apabila pasokan dunia berlimpah maka, harga teh Indonesia akan merosot drastic. Akibatnya, banyak petani yang mengalami kerugian karena menjual teh dengan harga di bawah biaya perawatan akhirnya menjual tanah perkebunan tehnya atau mengkonversi menjadi perkebunan kelapa sawit, sayuran dan lain-lain. Perkembangan ekspor teh Indonesia berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat sampai dengan tahun 1993. Perkembangan ekspor teh selanjutnya dari tahun 1994 sampai 2000 cenderung lebih berfluktuatif. Setelah tahun 2000 ekspor teh Indonesia cenderung mengalami penurunan. Perkembangan ekspor teh mengalami penurunan selama sembilan tahun terakhir ini yaitu dari tahun 1993 dengan jumlah 123.900 ton menjadi 100.185 ton pada tahun 2002. Rata-rata perkembangan ekspor teh menurun 2,1% per tahun. Hal ini disebabkan oleh lemahnya daya saing teh Indonesia di pasar dunia. Lonjakan ekspor teh baru terjadi pada tahun 2003. Lonjakan ekspor teh pada tahun 2003 tidak diteruskan pada tahun 2004. Pada tahun 2004 Indonesia mengalami penurunan ekspor teh dan hanya mencapai volume sebesar 88.176 ton. Penurunan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor termasuk adanya penurunan konsumsi di Inggris dan negara-negara Eropa lainnya.

Pangsa pasar teh Indonesia terus mengalami penurunan. Bahkan beberapa pasar utama teh yang dikuasai Indonesia telah diambil alih oleh negara produsen teh lainnya. Pasar-pasar yang kurang dapat dipertahankan Indonesia adalah Pakistan, Inggris, Belanda, Jerman, Irlandia, Rusia, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, Siria, Taiwan, Mesir, Maroko, dan Australia (Suprihatini, 2000). Indonesia mengalami penurunan pangsa pasar dari 5,4% di tahun 1997 menjadi 3,9 pada tahun 2001. Dari data penguasaan pangsa nilai ekspor seluruh jenis teh, pada tahun 2001 Indonesia merupakan negara pengekspor teh terbesar pada urutan ketujuh di dunia setelah India (18,9%), Cina (17,1%), Sri Lanka (15,2%), Kenya (7,9%), Inggris (7.9%) dan Uni Emirat Arab (4%). Dengan jumlah pangsa pasar ekspor yang semakin kecil dan sebagian besar produk ekspor berupa produk hulu yaitu teh curah, nilai ekspor Indonesia semakin jauh tertinggal dibanding dengan negara-negara lain. Berbeda dengan negara-negara seperti Jepang, Inggris, Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab, Meskipun mereka mengimpor teh, tetapi mereka mampu memberikan nilai tambah pada teh dengan mengolahnya menjadi produk hilir dan mengekspornya dengan harga lebih tinggi. Ekspor tertinggi teh Indonesia adalah teh hitam curah. Ekspor komoditi jenis ini mencapai 85,5%. Sementara itu, sebagian besar pertumbuhan pasar teh hitam curah dunia justru mengalami penurunan. Hanya negara-negara tertentu saja yang mengalami

peningkatan pertumbuhan pasar, misalnya negara Uni Emirat Arab, Federasi Rusia, Jepang dan Polandia. Pasar teh hitam curah di Ingris, Jerman dan Amerika Serikat diduga telah menglami kejenuhan yang tercermin dari pertumbuhan pasarnya yang negatif (Rohayati Suprihartini, Daya Saing Ekspor Teh Indonesia di Pasar Teh Dunia). Pertumbuhan pasar teh hijau curah dunia justru menunjukkan kecenderungan meningkat. Namun jumlah ekspor Indonesia untuk komoditi teh hijau curah masih kecil, hanya 8,4%. Secara umum kondisi daya saing teh hijau curah Indonesia di pasar teh dunia relatif lebih baik dibanding dengan komoditas teh hitam curah. Indonesia masih mempunyai peluang untuk meningkatkan ekspor teh hijau curah karena potensi pasar dunia untuk komoditi ini masih cukup besar. Beberapa negara di dunia mengalami kecenderungan penurunan pertumbuhan pasar teh hitam kemasan. Meski demikian, ada beberapa negara yang mempunyai pertumbuhan pasar teh hitam tinggi antara lain Saudi Arabia, Amerika Serikat, Kanada dan Perancis. Pertumbuhan pasar teh hitam kemasan tertinggi adalah Saudi Arabia. Sayangnya, pada tahun 1997 dan 2001 belum terdapat ekspor teh hitam kemasan Indonesia ke pasar Saudi Arabia. Pasar utama produk teh hijau kemasan yang memiliki pertumbuhan pasar tinggi adalah Jepang, Maroko, Perancis, Amerika Serikat, Saudi Arabia dan Kanada. Diantara negara-negara tersebut, hanya Saudi Arabia yang menjadi negara tujuan utama ekspor teh hijau kemasan Indonesia. Padahal di dalam pasar ini, Indonesia hanya menguasai pangsa pasar sebesar 2,5% dan kalah bersaing dengan teh hijau kemasan asal Sri Langka (Rohayati Suprihartini, Daya Saing Ekspor The Indonesia di Pasar Teh Dunia).

e. Impor Teh di Indonesia Saat ini, impor teh Indonesia menunjukkan kecenderungan yang naik. Pada tahun 2001 impor teh Indonesia tercatat 2.632 ton dengan nilai US$ 3juta dan mengalami kenaikan hingga 3.526 ton pada tahun 2002. Meningkatnya volume impor teh didorong oleh munculnya restoran-restoran yang menyajikan masakan China, Vietnam dan Thailand. Impor teh Indonesia sebagian besar berasal dari Vietnam dengan volume 2.995 ton atau 45,21% dari total volume impor Indonesia. Dari total volume impor tersebut Indonesia kehilangan devisa sebesar US$ 2,87 juta. Kenya menduduki peringkat kedua sebagai negara yang melakukan ekspor teh ke Indonesia dengan volume sebesar 1.668 ton atau memberikan kontribusi 25,18% dari total ekspor teh Indonesia pada tahun 2008 dengan nilai yang lebih besar dibandingkan Vietnam yakni sebesar US$ 4,08 juta. Selanjutnya kontribusi volume impor teh dari negara lainnya berturut-turut adalah China (10,02%), India (5,59%), Srilanka (4,57%), Singapura (2,10%), Amerika Serikat (1,43%), dan Jepang (0,85%) serta sisanya sebesar 4,69% dari negara-negara lainnya

f. Konsumsi & Harga Teh Tabel Tingkat Konsumsi Teh Dunia Per Kapita/Tahun menunjukkan besarnya permintaan teh dunia. Ini merupakan peluang pasar bagi negara-negara produsen untuk memperoleh pendapatan. Negara-negara dengan tingkat konsumsi teh terbesar dapat menjadi pilihan target ekspor negara-negara produsen teh. Sayangnya, tingkat konsumsi teh negara Indonesia justru paling kecil dibanding negara-negara lain di dunia. Meskipun mengalami kenaikan tiap tahunnya, jumlah konsumsi teh Indonesia belum memberikan kontribusi yang signifikan bagi penjualan domestik komoditi teh. Salah satu sebab rendahnya konsumsi teh dalam negeri adalah kurangnya informasi manfaat teh sebagai minuman kesehatan. Harga komoditi Indonesia sangat ditentukan oleh supply dan demand teh internasional. Harga teh Indonesia mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2002, harga teh Indonesia lebih tinggi dibanding dengan harga pada tahun 2003. Harga teh kembali naik pada tahun 2004. Table Harga Teh Indonesia di Pasar Ekspor Tahun Harga/Kg (Sen dollar AS) Sumber: Suara Merdeka 6 Januari 2005 2001 96,36 2002 101,33 2003 95,53

Meski mengalami kenaikan harga pada tahun 2004, harga teh Indonesia masih jauh dibandingkan dengan pusat lelang teh lainnya di dunia, misalnya di Colombo Tea Auction (Sri Langka) 164,47 sen dollar AS/Kg dan Kenya 163,00 sen dollar AS/Kg. Selain supply dan demand teh dunia, harga teh juga ditentukan oleh kualitas produksi. Pada tahun 2006, harga teh Indonesia berpotensi mengalami kenaikan. Kenaikan ini disebabkan oleh faktor penurunan produksi teh dari negara Kenya. Produksi Kenya mengalami penurunan sebesar 40% karena kemarau. Hal ini memberikan dampak positif pada harga teh Indonesia yang kini menikmati rata-rata US$1.6 per Kg.

Kenaikan ini merupakan harga tertinggi sejak 8 tahun terakhir. Bahkan harga teh kualitas baik mampu mencapai US$2.6 per Kg atau mampu naik 100% dari sebelumnya

Konsumsi Teh Di Indonesia Konsumsi teh (teh dalam bentuk produk konsumsi) per kapita per minggu berdasarkan data Susenas BPS sejak tahun 1984 sampai dengan 2008 cenderung mengalami peningkatan walaupun berfluktuatif. Pada tahun 1984, konsumsi the per kapita per minggu sebesar 10,20 gram, kemudian mengalami penurunan sampai tahun 1990 menjadi 9,50 gram/minggu. Setelah itu konsumsi the mengalami peningkatan menjadi 13,30 gram per minggu pada tahun 1996. Pada tahun 1999 terjadi penurunan konsumsi teh per kapita per minggu yang cukup signifikan, konsumsi per kapita pada tahun tersebut sebesar 11,20 gram/minggu. Pada tahun-tahun berikutnya konsumsi teh per kapita per minggu mengalami peningkatan sampai tahun 2002 menjadi 14,80 gram/minggu. Setelah itu konsumsi teh per kapita per minggu mengalami sedikit penurunan sampai dengan tahun 2004 menjadi sebesar 12,90 gram. Tahun berikutnya konsumsi teh meningkat walaupun pada tahun 2008 sedikit mengalami penurunan menjadi 14,20 gram/minggu per kapita. Perkembangan konsumsi teh selama periode tahun 1984 2008

g. Upaya untuk mengatasi rendahnya konsumsi Teh Nasional Diperlukan langkah langkah guna meningkatkan konsomsi perkapita, yang salah satunya dapat dilakukan dengan promosi dan sosialisasi manfaat teh bagi kesehatan manusia secara lebih intensif. Festival Teh merupakan satu bentuk kegiatan promosi yang sangat efektif, yang akan diikuti oleh seluruh stakeholder dan instansi tang erat keterkaitannya dengan pengembangan teh di Indonesia. Menyadari pentingnya kegiatan Festival Teh tersebut Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Perkebunan memfasilitasi para pelaku bisnis dan pemerhati teh menyelenggarakan Festival Teh Tahun 2008.

Perkembangan Teh Di Dunia


PERKEMBANGAN LUAS AREAL, PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS TEH DUNIA Perkembangan luas areal, produksi dan produktivitas teh dunia selama periode tahun 1961-2007 disajikan pada Gambar 4.12, Gambar 4.13, dan Gambar 4.14. Secara umum perkembangan luas areal teh di dunia terus meningkat dari tahun 1961 sampai dengan tahun 2007, hanya saja pada tahun 1984 - 1985 terjadi penurunan luas areal yang signifikan. Namun setelah tahun-tahun tersebut luas areal teh dunia mengalami peningkatan secara perlahan-lahan hingga tahun terakhir (Gambar 4.12). Gambar 4.12. Perkembangan luas areal teh dunia, 1961-2007

Perkembangan produksi teh dari tahun 1961 sampai dengan tahun 2007 juga cenderung meningkat, walaupun pada tahun-tahun tertentu terjadi penurunan produksi. Namun demikian, penurunan produksi tersebut tidak signifikan, bahkan pada tahun 19841985 walaupun luas areal teh mengalami penurunan tetapi dari segi produksi justru mengalami peningkatan (Gambar 4.13). Hal tersebut dapat dimungkinkan karena konversi luas areal teh yang terjadi pada tahun 1984-1985 berasal dari tanaman tua ataupun tanaman rusak sehingga tidak berpengaruh terhadap produksi teh dunia. Gambar 4.13. Perkembangan produksi teh di dunia, 1961-2007

Gambar 4.14. Perkembangan produktivitas teh di dunia, 1961-2007

Perkembangan produktivitas teh dunia selama periode tahun 1961-2007 mempunyai pola meningkat. Hanya saja pada tahun 1984-1985 terjadi peningkatan produktivitas yang tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan produktivitas tersebut terjadi karena menurunnya jumlah luas areal teh yang berasal dari tanaman teh yang kurang produktif/tua. Namun pada tahun-tahun berikutnya pertumbuhan produktivitas teh dunia juga kembali pada kisaran pertumbuhan produktivitas sebelumnya (Gambar 4.14). Berdasarkan menurut negara-negara produsen teh, lebih dari separuh produksi teh dunia selama periode 2003-2007 hanya disumbang oleh dua negara penghasil teh terbesar yakni Cina (27,19%) dan India (25,26%). Menempati posisi ketiga sampai kelima sebagai penghasil teh dunia adalah Kenya (9,16%), Srilanka (8,70%) dan Turki (5,52%). Sementara Indonesia hanya menempati posisi keenam

dengan kontribusi sebesar 4,59% dari produksi dunia diikuti oleh Vietnam dengan kontribusi sebesar 3,78% (Gambar 4.15). Gambar 4.15. Kontribusi negara terhadap produksi teh dunia, 2003-2007

4.6. PERKEMBANGAN EKSPOR-IMPOR TEH DUNIA


Selama kurun waktu 2003-2007, Indonesia merupakan negara eksportir terbesar keenam dunia dengan kontribusi terhadap ekspor dunia sebesar 5,70%. Negara pengekspor teh terbesar di dunia adalah Kenya dengan persentase sebesar 19,84%. Padahal negara tersebut dari sisi produksi berada diurutan ketiga setelah China dan India. Hal tersebut dapat disebabkan karena jumlah penduduknya yang lebih sedikit dibandingkan China dan India maka produksi teh di dalam negeri masih banyak yang dapat diekspor ke pasar dunia. Sementara itu China sebagai negara produsen dunia hanya berada di posisi kedua dengan kontribusi sebesar 17,23% disusul Srilanka (15,80%). India yang berdasarkan produksi berada di posisi kedua, dari segi ekspor berada di posisi keempat dengan kontribusi sebesar 10,75%. Indonesia berada pada posisi keenam sebagai negara terbesar pengekspor teh dunia dengan persentase 5,70% sama seperti posisi produksi dunia, sedangkan Vietnam yang pada posisi produksi dunia berada dibawah Indonesia, untuk posisi ekspor justru diatas Indonesia dengan kontribusi sebesar 5,72% (Gambar 4.16). Gambar 4.16. Kontribusi negara terhadap volume ekspor teh dunia, 2003-2007

Pada sisi impor atau konsumen, selama kurun waktu 2003-2007 negara pengimpor teh terbesar di dunia adalah Rusia dengan persentase sebesar 14,22%. Disusul Pakistan, Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab dengan volume impor masing-masing sebesar 9,72%, 8,30% dan 4,09% dari impor dunia. Sementara itu Maroko, Jerman dan Belanda masing-masing ada diposisi ke-5, ke-6 dan ke-7 dengan kontribusi masing-masing sebesar 4,00%, 3,67% dan 2,51%. Sementara itu Indonesia berada pada posisi ke-44 sebagai negara pengimpor teh dunia dengan kontribusi sebesar 0,45% (Gambar 4.17). Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa pasar teh di Rusia merupakan pasar teh yang cukup besar di dunia. Hal ini dikarenakan masyarakat di negara tersebut sangat fanatik terhadap minum teh. Konsumsi teh di negara tersebut cukup tinggi yakni pada tahun 2002 mencapai 750 gram/kapita, bahkan pada tahun 1989-1991 tercatat tingkat konsumsi per kapita masyarakat Rusia mencapai 1.150 gram/kapita (Suprihatini, 2003). Gambar 4.17. Kontribusi negara terhadap volume impor teh dunia, 2003-2007

Kondisi Perdagangan Komoditas Teh Di Beberapa Negara Di Dunia Negara Maju (China)

Cina, negeri tirai bambu ini diketahui sebagai asal berkembangnya tanaman teh. Hal ini bisa dilihat dari kisah tentang Kaisar Shen Nung, yang berkuasa hingga 2737 sebelum masehi. Kaisar Shen Nung yang bersahaja itu, juga dikenal luas sebagai bapak tanaman obat-obatan tradisional khas Cina dimasa berkuasanya. Kisah ditemukannya tanaman teh oleh Shen Nung, diawali dari kebiasannya bekerja di kebun milik kaisar. Saat dia lelah bekerja, dan beristirahat di bawah sebuah pohon rindang. Pada kesempatan itu, dia pun merebus air disebuah kuali, dan tanpa disadarinya beberapa helai daun pohon rindang yang tertipu angin jatuh ke kuali yang berisi air rebusan. Beberapa saat kemudian, sang kaisar pun meminum air rebusan itu. Apa yang terjadi? Sang Kaisar Shen Nung merasa kaget, karena air yang diminum lebih segar dan sedap dari air putih biasa. Dan, kaisar pun merasa badannya lebih bugar setelah capek bekerja. Kisah selanjutnya, pengalaman sang kaisar itu pun tersebar ke masyarakat dan masyarakat membuktikan khasiat daun pohon rindang itu yang kini dikenal dengan teh.

komoditi teh mulai diperkenalkan bangsa Cina ke dunia luar pada masa pemerintahan Dinasti Han Tang Soon dan Yuan. Komoditi teh diperkenalkan melalui pertukaran kebudayaan yang menyeberangi Asia Tengah menyelusuri Jalur Sutera. Tahun 1644, East India Company yaitu perusahaan perdagangan Inggris dibawah pemerintahan Ratu Elizabeth I, membuka kantor perdagangan di Xiamen. Pada masa itulah, daun teh dikenal bangsa Eropa sebagai minuman yang diseduh dengan air panas. Kemudian, pada tahun 1669, East India Company mendapatkan lisensi mendatangkan komoditas teh dari Cina ke Inggris dengan menggunakan kapal Elizabeth I. Perusahaan perdagangan kerajaan Inggris itu diketahui memonopoli perdagangan teh hingga tahun 1833.

GDP (Gross Domestic Product)/PDB (Produk Domestik Bruto) CHINA Menurut bank dunia, Produk Domestik Bruto (PDB) China sebesar 4909 milyar dolar atau 7,92% dari ekonomi dunia. Dari tahun 1960 sampai 2009, rata-rata PDB China adalah 729,21 milyar dolar. Mencapai nilai tertinggi pada bulan Desember 2009 sebesar 4909.28 milyar dolar, dan nilai terendah pada bulan desember 1962 sebesar 46.46 dolar. Perekonomian China merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia estela Amerika Serikat.

Perkembangan Produksi teh di China

Tahun 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

Produksi (ton) 568973 557006 562369 562961 579991 620515 612953 609392 616517 636871 687675 696990 70367 721536 765719 788815 1047345 953660 1047345 1183002 1183002

Tingkat Ekspor Komoditas Teh di China

Tahun 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

Eksport (ton) 205859 211516 201212 190188 180834 206659 184071 169788 173145 205381 219325 202681 230697 252204 254875 262663 282643 288814 288625 292199 299789

Tingkat Import Komoditas Teh di China Tahun 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Import (ton) 16573 5256 8151 10008 10358 14315 12950 10361 8981 8605 9893 12766 14685 16990 18985 21400 21908 23566

2006 2007 2008

27561 28304 9453

Negara Miskin (Kenya) GDP (Gross Domestic Product)/PDB (Produk Domestik Bruto) Kenya Menurut bank dunia GDP (Gross Domestic Product)/PDB (Produk Domestik Bruto) di Kenya adalah senilai 29,4 miliar dolar. Kenya adalah negara industri yang paling maju di Afrika Timur. Namun, sektor industri hanya sebesar 14% dari PDB. Cepatnya pembangunan beberapa tahun terakhir ini dapat dikaitkan dengan ekspansi di bidang pariwisata, telekomunikasi, transportasi, konstruksi dan pemulihan di bidang pertanian. Pertanian (kopi dan teh) adalah sumber utama pendapatan dari 70% penduduk Kenya.

Tingkat Produksi Komoditas Teh di Kenya Tahun 2008 2007 2006 2005 2004 2003 2002 2001 2000 1999 Produksi (ton) 345800 369600 310580 328500 324600 293670 287045 294620 236286 248700

1998 1997 1996 1995 1994 1993 1992 1991 1990 1989 1988

294165 220722 257160 244530 209420 211160 188070 203588 197000 180602 164030

Export Komoditas Teh di Kenya

Tahun 2008 2007 2006 2005 2004 2003 2002 2001 2000 1999 1998 1997 1996 1995 1994 1993 1992 1991 1990 1989 1988

Export (ton) 396641 374329 325066 347971 284309 293751 288300 207244 217282 245716 263685 199224 261813 258564 176962 199379 172053 175625 166405 165137 155334

Import Komoditas Teh di Kenya Tahun 1988 1989 1990 Import (ton)
15649 1216 74

1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

434 87 15 655 1401 55 345 6 215 196 2488 7624 10260 8422 11174 12084 8655 3929 15649

DAFTAR PUSTAKA http://www.disbud.jabarprov.go.id/ csrreview-online.com