Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASETIKA RESEP III UNGUENTUM

OLEH

NAMA : ASTRID INDALIFIANY NIM : F1F110025

KELAS : A KELOMPOK :3

LABORATORIUM FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2011

Resep Nomor

: III

Bentuk Sediaan : Unguentum

A. Landasan Teori

Salep (unguents) adalah preparat setengah padat untuk pemakaian luar. Preparat farmasi setengah padat seperti salep, sering memerlukan penambahan pengawet kimia sebagai antimikroba, pada formulasi untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang terkontaminasi. Pengawetpengawet ini termasuk hidroksibenzoat, fenol-fenol, asam benzoat, asam sorbat, garam amonium kuartener, dan campuran-campuran lain. Preparat setengah padat menggunakan dasar salep yang mengandung atau menahan air, yang membantu pertumbuhan mikroba supaya lebih luas daripada yang mengandung sedikit uap air, dan oleh karena itu merupakan masalah yang lebih besar dari pengawetan (Chaerunnisa, 2009). Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispend homogen dalam dasar salep yang cocok. Pemerian Tidak boleh berbau tengik. Kadar kecuali dinyatakan lain dan untuk salap yang mengandung obat keras atau obat narkotik , kadar bahan obat adalah 10 %. Kecuali dinyatakan sebagai bahan dasar digunakan Vaselin putih . Tergantung dari sifat bahan obat dan tujuan pemakaian, dapat dipilih salah satu bahan dasar berikut: dasar salep senyawa hidrokarbon Vasellin putih, vaselin kuning atau campurannya dengan malam putih, dengan Malam kuning atau senyawa hidrokarbon lain yang cocok; dasar salep serap lemak bulu domba dengan campuran 8 bagian kolesterol 3 bagian stearik alcohol 8 bagian malam putih dan 8 bagian vaselin putih, campuran 30 bagian Malam kuning dan 70 bagian Minyak Wijen; dasar salap yang dapat dicuci dengan air. Emulsi minyak dan air; dasar salap yang dapat larut dalam air Polietilenglikola atau campurannya. Homogenitas jika dioleskan pada sekeping kaa atau bahan transparan lain yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen (Anif, 2000). Pada penyakit kulit, obat yang digunakan berupa salep, krim atau lotion (kocokan). Kulit yang utuh dan sehat sukar sekali ditembus obat, tetapi resorpsi berlangsung lebih mudah bila ada kerusakan. Efek sistemis yang menyusul kadang-kadang berbahaya, seperti dengan kortikosteroida (kortison, betameson, dan lain-lain), terutama bila digunakan dengan cara occlusi, artinya ditutup dengan plastik. Reseorpsi dapat diperbaiki pula dengan tambahan zat-zat keratolis dengan daya melarutkan lapisan tanduk kulit, misalnya asam salisilat, urea dan resorsin 3% (Ansel, 1989). Salep biasanya dikemas baik dalam botol atau dalam tube. Botol dapat dibuat dari gelas tidak berwarna, warna hijau, amber atau biru atau buram dan porselen putih. Botol plastik juga dapat digunakan. Wadah dari gelas buram dan berwarna berguna untuk salep yang mengandung obat yang peka terhadap cahaya. Tube dibuat dari kaleng atau plastik, beberapa diantaranya diberi tambahan

kemasan dengan alat bantu khusus bila salep akan digunakan untuk dipakai melalui rektum, mata, vagina, telinga atau hidung (Anif, 1993).

B. Resep 1. Resep pada Jurnal R/ Ungt. 2-4 s.u.e Pro:Hartati 20

2. Resep yang Lengkap

Dr. Budiyono SIP No. 455/K/88 Jl. Haeba Dalam No.19 No. Telp.(0401)3192708 Kendari 28-02-2011

R/ Ungt. 2-4 s.u.e

20

Pro:Hartati

Keterangan : No Singkatan Bahasa Latin 1. R/ Recipe Arti Ambillah

2. 3.

Ungt. s.u.e

Unguentum

Salep

Signa usus externum Tandai untuk pemakaian luar

Salep 2-4 Salep asam salisilat belerang Komposisi : Tiap 10 mg mengandung 200 mg

Acidum salicylum Sulfur 400 mg

Vaselin album hingga 10g

Uraian Bahan Resep

a. Acid salicylic Nama resmi Sinonim Rumus Bangun Rumus Molekul : : Acidum Salicylicum : Asam Salisilat : C7H6O3

Berat Molekul : 138,12 Pemerian : hablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna putih, hampir tidak berbau, rasa agak manis dan tajam Kelarutan : Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95%), mudah larut dalam kloroform dan dalam eter, larut dalam larutan amonium asetat, dinatrium hidrogenfosfat, kalium sitrat, dan natrium sitrat Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Khasiat : Keratolitikum, anti fungi

b. Sulfur Nama resmi : Sulfur Praecipitatum

Sinonim

: Belerang endap

Rumus Molekul : S Berat Molekul Pemerian : : 32,06 Tidak berbau, tidak berasa

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air; sangat mudah larut dalam karbondisulfida P; sukar larut dalam minyak zaitun P; sangat sukar larut dalam etanol (95%) P. Penyimpanan : Khasiat : Dalam wadah tertutup baik Antiskabies

c.

Vaselin album : Vaselinum album : Vaselin putih

Nama resmi Sinonim

Rumus Molekul : Berat Molekul : -

Pemerian : Massa lunak, lengket, bening, putih; sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P, larut dalam kloroform P, dalam eter P, dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang beropalesensi lemah Penyimpanan : Khasiat Dalam wadah tertutup baik

: Zat tambahan

Perhitungan dan Penimbangan PB: a. Acidum Salicylum b. Sulfur = 200 mg x 2 = 400 mg = 0,4 g = 400 mg x 2 = 800 mg = 0,8 g = 10 g x 2 = 20 g

c. Vaselin album

= 20 g (0,4 g + 0,8 g) = 20 g 1,2 g

= 18,8 g Cara Kerja Ditimbang asam salisilat, kemudian dimasukkan ke dalam mortar dan diferus halus Ditimbang sulfur, masukkan mortar sedikit demi sedikit sambil diaduk

Tambahkan vaselin album yang sudah ditimbang sedikit demi sedikit, kira-kira sama banyak (ana) dengan yang sebelumnya, digerus dan diaduk sampai homogeny Masukkan ke dalam pot salep dan beri etiket

Khasiat Obat Asam salisilat sebagai keratolotikum, anti fungi Sulfur sebagai antiskabies

C. Pembahasan

Salep merupakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispend homogen dalam dasar salep yang cocok. Pemerian Tidak boleh berbau tengik. Kadar kecuali dinyatakan lain dan untuk salap yang mengandung obat keras atau obat narkotik , kadar bahan obat adalah 10 %. Dasar salap, kecuali dinyatakan sebagai bahan dasar digunakan Vaselin putih . Tergantung dari sifat bahan obat dan tujuan pemakaian, dapat dipilih salah satu bahan dasar berikut: (a) dasar salep senyawa hidrokarbon Vasellin putih, vaselin kuning atau campurannya dengan malam putih, dengan Malam kuning atau senyawa hidrokarbon lain yang cocok; (b) dasar salep serap lemak bulu domba : campuran 8 bagian kolesterol 3 bagian stearik alcohol 8 bagian malam putih dan 8 bagian vaselin putih, campuran 30 bagian Malam kuning dan 70 bagian Minyak Wijen; (c) dasar salep yang dapat dicuci dengan air. Emulsi minyak dan air; (d) dasar salep yang dapat larut dalam air Polietilenglikola atau campurannya. Homogenitas jika dioleskan pada sekeping kaa atau bahan transparan lain yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen. Pada pembuatan salep kali ini, zat utamanya yaitu Asam Salisilat perlu dilarutkan terlebih dahulu dengan menggunakan etanol. Hal ini dilakukan karena Asam Salisilat memiliki bentuk hablur atau berbentuk seperti jarum-jarum, sehingga perlu dilarutkan terlebih dahulu untuk memperkecil partikelnya. Pada saat pembuatan salep, bahan-bahan yang telah dilebur di atas penangas air harus didinginkan dahulu sampai mencapai suhu kira-kira 50oC. Hal ini perlu agar suhu basis salep dengan zat aktif

yang akan dicampurkan tidak terlalu jauh. Perbedaan suhu yang terlalu besar (terlalu panas) dikhawatirkan dapat merusak zat aktif dari salep yang akan dibuat. Selain itu, proses pendinginan juga dapat membuat massa basis salep yang tadinya encer menjadi lebih kental, sehingga proses pencampuran semua bahan nantinya tidak memakan waktu terlalu lama. Pembuatan salep tidak memerlukan penambahan bahan pengawet. Hal ini dikarenakan bahanbahan yang ada di dalam salep tidak mengandung air. Tetapi untuk berjaga-jaga, dapat pula ditambahkan bahan pengawet yang cocok. Resep standar salep 2-4, yakni: (a) sulfur praecipetatum / belerang endap mempunyai sifat germisida, fungisida, parasitisida dan juga mempunyai efek keratolitika. Hal yang perlu diperhatikan: hindarkan kontak dengan mata, mulut dan mukosa; (b) asam salisilat. Mempunyai sifat keratolitik, yang dapat melunakkan kulit sehingga dapat melunakkan kulit sehingga dapat membantu penyerap obat lain dan fungsida yang lemah. Efek yang tidak diinginkan; iritasi kulit; (c) kelarutan As. Salisilat ; larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol; (d) kelarutan Sulfur Praecipetatum praktis tidak larut dalam air,sanat sukar larut dalam etanol. Agar tujuan pengobatan dapat tercapai pembuatan salep harus mengikuti peraturan seperti yang tercantum pada FI ed. II ada 4 peraturan dasar pembuatan salep, yaitu : (1) zat-zat yang dapat larut dalam lemak, dilarutkan dulu kedalamnya. Bila perlu dengan pemanasan; (2) zat- zat yang larut dalam air, jika tidak dinyatakan lain , dilarutkan dalam air asalkan jumlah air dapat diserap oleh dasar salep.jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis salep; (3) zat zat yang sukar larut atau sebagian larut dalam air atau lemak, bila tidak dinyatakan lain dilarutkan dengan etanol lalu diserbukkan, kemudian di ayak dengan pengayak no.44 / B. 40; (4) salep yang dibuat dengan jalan mencairkan, campurannya harus digerus sampai dingin. Pemeriannya : tidak boleh berbau tengik. Kadar : bila tidak dinyatakan lain salep yang mengandung obat keras atau narkotik, kadar bahan obat adalah 10%. Homogenitas : Jika di oleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok harus menunjukkan susunan yang homogen . Kemasan pada sediaan salep ada bermacam-macam bentuk. Salah satunya adalah pot salep, seperti yang dipakai pada praktikum ini. Etiket yang digunakan pada sediaan ini adalah etiket biru, sebab sediaan salep (unguents) ditujukan untuk pemakaian luar pada tubuh.

D. Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa salep merupakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Resep III berkhasiat sebagai keratolotikum dan antiskabies.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Keesehatan Republik Indonesia Anief, Moh. 2000. Ilmu Meracik Obat ; Teori dan Praktik. UGM Press. Yogyakarta

Anief, Moh. 1993. Farmasetika. UGM Press. Yogyakarta

Ansel, Howard. 1989. Pengantar bentuk Sediaan Farmasi. Edisi ke empat. Universitas Indonesia: Jakarta.

Chaerunnisa, Anis Yohana. 2009. Farmasetika Dasar. Widya Padjajaran: Bandung.

I.

Tujuan:

Membuat salep dengan berbagai jenis basis; mengamati pengaruh basis terhadap karakteristik fisik dan pelepasan bahan aktif.

II.

Teori Singkat:

Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar (FI III hal 33). Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topical pada kulit atau selaput lendir (FI IV hal 18). (Howard C Ansel, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Hal 502) Salep adalah preparat setengah padat untuk pemakaian luar, salep dapat mengandung obat atau tidak mengandung obat, salep yang tidak mengandung obat biasanya dikatakan sebagai dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dalam penyiapan salep yang mengandung obat.

(Howard C Ansel, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Hal 502) Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. Tergantung dari sifat bahan obat dan tujuan pemakaian, empat kelompok dasar salep yang digunakan sebagai pembawa, antara lain : 1. 2. 3. 4. Dasar salep senyawa hidrokarbon Dasar salep serap/absorbsi Dasar salep yang dapat dicuci dengan air Dasar salep larut dalam air.

Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep tersebut. Dasar salep hidrokarbon Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak (bebas air) antara lain vaselin putih. Hanya sejumlah kecil komponen berair dapat dicampur ke dalamnya. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. Dasar hidrokarbon dipakai terutama untuk efek emolien. Dasar hidrokarbon ini juga sukar dicuci, tidak mengering dan tidak tampak berubah dalam waktu lama. Contoh : petrolatum, paraffin, minyak mineral. Dasar salep absorpsi Dasar salep absorpsi Dibagi menjadi 2 tipe : a. Yang memungkinkan percampuran larutan berair, hasil dari pembentukan emulsi air dan minyak. Misalnya petrolatum hidrofilik dan lanolin anhidrat. b. Yang sudah menjadi emulsi air minyak (dasar emulsi), memungkinkan bercampur sedikit penambahan jumlah larutan berair. Misalnya lanolin dan cold cream. Dasar salep ini berguna sebagai emolien walaupun tidak menyediakan derajat penutupan seperti yang dihasilkan dasar salep berlemak. Seperti dasar salep berlemak dasar salep scrap tidak mudah dihilangkan dari kulit oleh pencucian air. Dasar-dasar salep ini berguna dalam farrnasi untuk pencampuran larutan berair kedalam larutan berlemak. Contoh : petrolatum hidrofilik, lanolin, dan lanolin anhidrida, cold cream. Dasar salep serap dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok pertama terdiri atas dasar salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak (parafin hidrofilik dan lanolin anhidrat) dan kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan (lanolin). Dasar salep serap juga bermanfaat sebagai emolien.

Dasar salep yang dapat dicuci dengan air Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air antara lain salep hidofilik yang lebih tepat disebut krim. Dasar salep ini dinyatakan juga sebagai dapat dicuci dengan air karena mudah

dicuci dari kulit atau dilap basah, sehingga lebih dapat diterima untuk dasar kosmetik. Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif menggunakan dasar salep ini daripada dasar salep hidrokarbon. Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan dermatologik. Bahan obat tertentu dapat diserap lebih baik oleh kulit jika dasar salep lainnya. Contoh : salep hidrofilik Dasar salep larut air Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air. Dasar salep jenis ini memberikan banyak keuntungan seperti dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan tak larut dalam air seperti parafin, lanolin anhidrat atau malam. Dasar salep ini lebih tepat disebut gel. Dasar salep ini mengandung komponen yang larut dalam air. Tetapi seperti dasar salep yang dapat dibersihkan dengan air, basis yang larut dalam air dapat dicuci dengan air. Basis yang larut dalam air biasanya disebut greaseless karena tidak mengandung bahan berlemak. Karena dasar salep ini sangat mudah melunak dengan penambahan air, larutan air tidak efektif dicampurkan dengan bahan tidak berair atau bahan padat. Contohnya salep polietilen glikol. Pemilihan dasar salep yang tepat untuk dipakai dalam formulasi tergantung pada pemikiran yang cermat atas beberapa faktor berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Laju pelepasan yang diinginkan bahan obat dari dasar salep Keinginan peningkatan oleh dasar salep absorbsi perkutan dari obat Kelayakan melindungi lembab dari kulit oleh dasar salep Jangka lama dan pendeknya obat stabil dalam dasar salep Pengaruh obat bila ada terhadap kekentalan atau hal lainnya dari dasar salep.

Semua faktor ini dan yang lainnya harus ditimbang satu terhadap yang lainnya untuk memperoleh dasar salep yang paling baik. Harus dimengerti bahwa tidak ada dasar salep yang ideal dan juga tidak ada yang memiliki semua sifat yang diinginkan. Sebagai contoh suatu obat yang cepat terhidrolisis, dasar salep hidrolisis akan menyediakan stabilitas yang tinggi. Walaupun dari segi terapeutik dasar salep yang lain dapat lebih disenangi. Pemilihannya adalah untuk mendapatkan dasar salep yang secara umum menyediakan segala sifat yang dianggap paling diharapkan. Cara pembuatan salep harus memenuhi peraturan umum : a. b. Zat yang dapat larut dalam salep dilarutkan bila perlu dengan pemanasan rendah Zat yang tidak cukup larut dalam dasar salep lebih dahulu diserbuk dan diayak dengan derajat ayakan no. 100 Zat yang mudah larut dalam air dan stabil, serta dasar salep mampu mendukung menyerap air tersebut, dilarutkan dulu dalam air yang disediakan, setelah itu ditambahkan dasar salep yang lainnya

c.

d.

Bila dasar salep dibuat dengan peleburan maka campuran tersebut harus diaduk sampai dingin

Pembuatan salep (Howard C Ansel, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Hal 506) Pembuatan salep baik dalam ukuran besar maupun kecil, salep dibuat dengan dua metode umum: > Pencampuran Meliputi Pencampuran bahan padat dan cairan. > Peleburan Dengan metode peleburan, semua atau beberapa komponen dari salep dicampurkan dengan melebur bersama dan didinginkan dengan pengadukan yang konstan sampai mengental.

III. 1.

Data Preformulasi : Zat aktif Kloramfenikol (Farmakope Indonesia edisi IV halaman 189 ; FI III hal 144).

Rumus molekul = C11H12Cl2N2O5. Berat Molekul = 323,13.

Rumus Struktur =

Pemerian = Hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang, kelabu atau putih kekuningan. Kelarutan Titik Lebur pH

putih hingga putih

= Sukar larut dalam air, mudah larut dalam etenol, dalam propilena glikol. = Antara 1490 dan 1530 C.

= Antara 4,5 dan 7,5.

OTT = Endapan segera terbentuk bila kloramfenikol 500 mg dan eritromisin 250 mg atau tetrasiklin Hcl 500 mg dan dicampurkan dalam 1 liter larutan dekstrosa 5%.

Stabilitas = Salah satu antibiotik yang secara kimiawi diketahui paling stabil dalam segala pemakaian. Stabilitas baik pada suhu kamar dan kisaran pH 2-7, suhu 25oC dan pH mempunyai waktu paruh hampir 3 tahun. Sangat tidak stabil dalam suasana basa. Kloramfenikol dalam media air adalah pemecahan hidrofilik pada lingkungan amida. Stabil dalam basis minyak dalam air, basis adeps lanae. (Martindale edisi 30 hal 142). Dosis = Dalam salep 1 % (DI 2010 hal 223-227).

Khasiat = Antibiotik, antibakteri (gram positif, gram negatif, riketsia, klamidin), infeksi meningitis (Martindale edisi 30 hal 141). Indikasi = Efek Samping Infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri yang sensitif terhadap kloramfenikol. = Kemerahan kulit angioudem, urtikaria dan anafilaksis.

Penyimpanan = Wadah tertutup rapat. 2. Basis Polietilenglikol 400 (FI III hal 504, Pharmaceutical Excipient edisi 6 hal 517).

Rumus Molekul = H(O-CH2-CH2)nOH. Berat Molekul = 380-420. Pemerian = Cairan kental jernih; tidak berwarna atau praktis tidak berwarna; bau khas lemah; agak higroskopis. Kelarutan Titik Beku = Larut dalam air, dalam etanol 95% P, dalam glikol lain. = 40 C sampai 80 C.

Khasiat = Basis salep, pelarut. Konsentrasi OTT = Sampai 30% v/v.

= Tidak bercampur dengan beberapa zat pewarna. = Dapat disterilkan dengan autoklaf, filtrasi dan penyinaran sinar gamma.

Stabilitas

Penyimpanan = Wadah tertutup rapat.

Polietilenglikol 4000 (FI III hal 506, Pharmaceutical Excipient edisi 6 hal 517)

Rumus Molekul = H(O-CH2-CH2)nOH. Berat Molekul = 3000-3700. Pemerian tidak berasa. = Serbuk licin putih atau potongan putih kuning gading; praktis tidak berbau;

Kelarutan Titik Lebur OTT

= Mudah larut dalam air, dalam etanol (95%) P. = 500 sampai 580 C.

= Tidak bercampur dengan beberapa zat pewarna. = Dapat disterilkan dengan autoklaf, filtrasi dan penyinaran sinar gamma.

Stabilitas

Khasiat = Basis salep, pelarut. Penyimpanan = Wadah tertutup rapat.

IV.

Alat dan Bahan Alat

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Bahan 1. 2. 3.

Lumpang dan mortir Water bath Batang pengaduk Sudip Spatula Beaker glass Labu ukur Pipet volum Viscometer Brookfield Timbangan

11. Anak timbangan 12. Cawan penguap 13. Tube 14. Objek glass 15. Thermometer 16. Stop watch 17. Tabung reaksi dan raknya 18. Erlenmeyer 19. Kertas perkamen

Kloramfenikol PEG 400 PEG 4000

V.Formula Kloramfenikol PEG 400 39,6 % 1%

PEG 4000

59,4 %

m.f.unguentum 200

VI.

Perhitungan dan Penimbangan

Perhitungan Formula Dibuat 200 gram Kloramfenikol : 1% = = = 198 99 gram 2 % gram

(1/100) X 200 gram Basis salep : 100% - 1% (99/100) X 200 gram PEG 4000 PEG 400 Penimbangan Bahan Kloramfenikol PEG 4000 PEG 400

: (60/100) X 198 gram = 118,8 gram : (40/100) X 198 gram = 79,2 gram

Penimbangan 2 gram 118,8 gram 79,2 gram

VII.

Pembuatan Disiapkan alat dan bahan yang diperlukan Ditimbang bahan bahan yang diperlukan Dibuat basis salep dengan cara :

PEG 4000 dan PEG 400 dilebur di water bath ad melebur (suhu 500 sampai 580 C) sempurna. Digerus basis salep ad homogen. Digerus Kloramfenikol ad halus dalam lumpang.

Dicampurkan basis salep ke dalam lumpang yang berisi kloramfenikol sedikit demi sedikit, digerus ad homogen.

Dimasukkan dalam tube, dikemas. Dilakukan evaluasi (uji organoleptik, uji homogenitas dan uji viskositas)

VIII.

Evaluasi

1. Uji Homogenitas Cara : Dioleskan salep diatas kaca objek. Lalu diratakan tipis-tipis. Diamati homogenitas bahan aktif dalam basis salep.

2. Viskositas dan Sifat Alir 1. Sediaan gel dimasukkan dalam wadah. 2. Diletakkan wadah tersebut pada alat viskometer, diatur spindel yang cocok dengan cara mencelupkannya ke dalam sediaan. 3. Lalu diukur viskositas dan sifat alir sediaan tersebut. Alat : Viskometer Brookfield tipe RV

Konstanta alat : 7187,0 dyne/cm Viskositas Gaya ( F ) : Faktor x skala : skala x konstanta alat (RV)

IX.

Data Hasil Evaluasi

1. Organoleptik Warna = Putih Bentuk = Semi padat (cukup keras) Bau = Tidak berbau

2. Uji Homogenitas Formula salep (Kloramfenikol) = homogen

3. Uji Viskositas dan Sifat Alir

No. spindel 6 6 6 6 6

rpm 0,5 1 2 1 0,5

Skala 57,2 57,25 58 57,25 57,5

Faktor 20000 10000 5000 10000 20000

(cPs) 1144000 572500 290000 572500 1150000

Gaya (dyne/cm2) 411096,4 411455,8 416846 411455,8 413252,5

1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 4. 5.

Perhitungan Viskositas ( ) Skala x Faktor = 57,2 Skala x Faktor = 57,25 Skala x Faktor = 58 Skala x Faktor = 57,25 Skala x Faktor = 57,5 Perhitungan Gaya (F) Kv x Skala = 7187 x 57,2 = 411096,4 dyne/cm2 x 20000 = 1144000 x 10000 = 572500 x 5000 cPs cPs cPs

= 290000 cPs cPs

x 10000 = 572500 x 20000 = 115000

Kv x Skala = 7187 x 57,25 = 411455,8 Kv x Skala = 7187 x 58

dyne/cm2 dyne/cm2

= 416846

Kv x Skala = 7187 x 57,25 = 411455,8 Kv x Skala = 7187 x 57,5

dyne/cm2 dyne/cm2

= 413252,5

Sifat Alir Formula Formula salep (Kloramfenikol) Sifat Alir Pseudoplastis

X.

Pembahasan

1) Pada uji organoleptik, sediaan berbentuk setengah padat (salep) cukup keras, berwarna putih dan tidak berbau. Uji ini untuk melihat terjadinya perubahan fase. 2) Pada percobaan, digunakan basis PEG 4000 dan PEG 400 dengan perbandingan 60 : 40. Dengan formula basis PEG 4000 : PEG 400 = 60 : 40, jumlah PEG 4000 yang digunakan terlalu banyak, karena PEG 4000 berbentuk padatan sehingga basis yang terbentuk cukup keras viskositasnya mirip lilin. 3) Uji homogenitas dimaksudkan untuk mengetahui kehomogenan zat aktif dalam basis, sehingga setiap kali salep tersebut digunakan dosisnya sama. 4) Selain itu, uji homogenitas ini melihat apakah masih ada partikel obat yang terlalu kasar yang dapat menimbulkan iritasi pada kulit. Homogenitas juga dapat dipengaruhi oleh faktor penggerusan yang dilakukan pada saat pembuatan. 5) Pada uji homogenitas ini, formula salep (Kloramfenikol) menunjukkan hasil yang homogen di atas kaca objek, tidak terlihat adanya partikel-partikel kecil yang membuat salep terasa kasar. Ini menunjukkan bahwa penggerusan yang dilakukan tepat walaupun hasil sediaan cukup keras. 6) Uji viskositas dan sifat alir adalah untuk mengetahui seberapa besar tahanan yang diberikan oleh sediaan dan bagaimana sifat alirnya bila diperlakukan pada berbagai tingkatan gaya. 7) Sifat alir yang diharapkan pada sediaan semi solid adalah sifat alir thiksotropi yang mana pada keadaan diam menyerupai suatu gel, ketika digunakan mengalami transformasi dari gel ke sol dan pada saat tekanan ditiadakan struktur tersebut mulai terbentuk kembali secara perlahan. Dari hasil uji evaluasi tentang viskositas dan rheologi, sifat alir yang diperoleh adalah pseudoplastis. 8) Sifat alir dari salep yang terbentuk adalah Pseudoplastis karena pada rpm 1, nilai viskositas yang naik ataupun turun adalah sama. Pada nilai rpm 0,5 , nilai viskositas seharusnya juga sama untuk kurva yang naik ataupun turun namun hasil praktikum menunjukkan berbeda, yang disebabkan karena kesalahan pada saat praktikum seperti kesalahan membaca skala, atau setelah menggunakan rpm 1 untuk kurva turun, salep tidak didiamkan cukup lama sehingga viskositasnya belum kembali ke keadaan normal.

XI. Kesimpulan 1. Uji Homogenitas :

Formula salep (Kloramfenikol) = homogen 2. Uji Viskositas dan Sifat Alir Formula Formula salep (Kloramfenikol) Sifat Alir Pseudoplastis

XII. Saran Dianjurkan untuk basis salep perbandingan PEG 4000 lebih sedikit dari PEG 400 agar mendapatkan bentuk sediaan salep yang viskositasnya lebih baik. Sebab sediaan salep jika padatannya (PEG 4000) lebih banyak dapat membuat sediaan mengeras atau viskositasnya lebih tinggi dari yang seharusnya.

Untuk menghindari kesalahan hasil uji viskositas (kurva naik dengan kurva turun tidak sama) yang dapat dilakukan antara lain teliti membaca skala atau setelah menggunakan rpm dari yang satu ke rpm selanjutnya didiamkan beberapa menit terlebih dahulu sehingga viskositasnya kembali ke keadaan normal.

XIII. Daftar Pustaka 1. 2. 3. Departemen kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta : Depkes RI Departemen kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta : Depkes RI Ansel C. Howard. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi IV UI Press, Jakarta.

4. Sweetman, Sean C, dkk. 2002. Martindale The Complete Drug Reference Thirty-third Edition. London : Pharmaceutical Press 5. Rowe, Raymond C, dkk. 2009. Handbook Of Pharmaceutical Excipients Sixth Edition. London : Pharmaceutical Press

BAB 1 PENDAHULUAN 1. Maksud Praktikum Adapun maksud dari praktikum farmasetika dasar ini yaitu : a. Agar dapat mengetahui proses pembuatan sediaan salep (unguenta) b. Agar dapat terampil mengerjakan resep-resep sediaan salep (ungenta) 2. Tujuan praktikum Adapun tujuan praktikum ini yaitu : 1. Dapat membuat sediaan salep dengan baik dan benar sesuai dengan prinsip kerja. 2. Dapat mengetahui fungsi dari masing-masing salep, efek samping salep, serta memberikan informasi kepada pasien (edukasi)

BAB II TINJAUAN PUSAKA Menurut Farmakope Indonesia ed. III, salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obatnya harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok untuk mencapai hasil yang dimaksud harus memperhatikan peraturan-peraturan pembuatan salep. Seperti yang tertera pada FI ed. III. Peraturan-peraturan pembuatan salep: 1. Peraturan salep pertama Zat-zat yang dapat larut dalam campuran-campuran lemak, dilarutkan ke dalamnya, jika perlu dengan pemanasan 2. Peraturan salep kedua Bahan-bahan yang dapat larut dalam air. Jika tidak ada peraturan-peraturan lain, dilarutkan lebih dahulu dalam air, asalkan jumlah air yang dipergunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep : jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis 3. Peraturan salep ketiga Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian yang dapat larut dalam lemak dan air harus diserbuk lebih dahulu, kemudian diayak dengan no. B40 4. Peraturan salep keempat Salep-salep yang dibuat dengan cara mencairkan, campurannya harus digerus sampai dingin Penggolongan Salep Menurut konsistensinya salep dibagi : 1) Unguenta : Salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega tidak mencair pada suhu biasa, tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga 2) Cream : Suatu salep yang banyak mengandung air, mudah diserap kulit, suatu tipe yang dapat dicuci dengan air 3) Pasta : Suatu salep yang banyak megandung lebih dari 50 % zat padat (serbuk). Suatu salep tebal karena merupakan penutup/pelindung bagian kulit yang diberi 4) Cerata : Suatu salep berlemak yang mengandung persentase tinggi lilin (waxes), hingga konsentrasi lebih keras 5) Gelones Spumae (Gel) : suatu salep yang lebih halus umumnya cair dan sedikit mengandung atau tanpa mukosa, sebagai pelicin atau basis, biasanya terdiri dari campuran sederhana dari minyak dan lemak dari titik lebur yang rendah. Washable jelly mengandung mucilagines, misalnya : gom, tragakan, amylum.contoh : starch jellies (10 %) amylum dengan air mendidih Menurut efek terapinya salep dibagi : 1) Salep Epidermic Melindungi kulit dan menghasilkan efek local. Tidak diabsorpsi; kadang-kadang ditambahkan antiseptica, astringen, meredakan rangsangan. Dasar salep yang terbaik adalah senyawa hidrokarbon (vaselin) 2) Salep Endodermic Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam, tetapi tidak melalui kulit, terabsorpsi sebagian. Untuk melunakkan kulit atau selaput lendir diberi local iritan Dasar salep yang baik adalah minyak lemak. 3) Salep Diadermic Salep-salep supaya bahan-bahan obatnya menembus ke dalam melalui kulit dan mencapai efek yang diinginkan. Misalnya pada salep yang mengandung senyawa mercuri, yodida, belladonnae.

Dasar salep yang baik adalah adeps lanae dan oleum cacao. Menurut dasar salepnya salep dibagi : 1) Salep hydropobic adalah salep-salep dengan bahan dasar berlemak. Misalnya : campuran dari lemak-lemak, minyk lemak, malam tak tercuci dengan air. 2) Salep hydrophilic adalah salep yang kuat menarik air biasanya dasar salep tipe O/W atau seperti dasar salep tipe hydropobic tetapi konsistensinya lebih lembek kemungkinan juga dengan tipe W/O antara lain, campur sterol-sterol dan petrolatum.

Kualitas dasar salep yang baik ialah : Stabil, selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas, tidak terpengaruhi oleh suhu dan kelembaban kamar. Mudah dipakai Dasar salep yang cocok Dapat terdistribusi merata ( Ilmu Resep;49-54) Uraian bahan yang sering dipakai sebagai dasar salep 1. Vaselin, terdiri dari vaselin kuning dan vaselin putih. Nama lain yang sering ditulis di dalambuku-buku Amerika dan Inggris ialah Petrolatum atau soft Paraffin. White petrolatum= white soft paraffin= vaselin putih Yellow petroletum= yellow soft paraffin= vaselin kuning Vaselin putih adalah bentuk yang dimurnikan/dipucatkan warnanya. Dalam pemucatan digunakan asam sulfat, maka supaya hati-hati menggunakan vaselin putih untuk mata, akan terjadi iritasi mata oleh kelebihan asam yang dikandung kalau tidak dinetralkan dulu dengan KOH atau base lain. Vaselin hanya dapat menyerap air sebanyak 5 %. Dengan penambahan surfaktan seperti Natriumlaurylsulfat, tween, maka akan mampu menyerap air lebih banyak, juga penambahan cholesterol span kemampuan mendukung air dapat dinaikkan. 2. Jelene, Terdiri dari minyak hidrokarbon dan malam yang tersusun sedemikian hingga fase cair mudah bergerak dengan demikian terbentuk gerakan dalam, hingga difusi obat ke sekelilingnya dapat terjadi lebih baik. Keuntungan pengguanaan jelene, dalam penyimpanan tetap dan cukup lunak. Jelene 50 W dikenal sebagai plastibase (Squibb) Tidak tercampurkan dengan Pix liquida, kamfer, mentol, gandapura, karena akan membuat jelene encer. 3. Lanolin adalah adeps lanae yang mengandung air 25 %. Digunakan sebagai pelumas dan penutup kulit dan lebih muda dipakai (Anief, 2004) Dasar salep menurut FI IV 1. Dasar salep hidrokarbon Juga disebut dasar salep berlemak Hanya dapat bercampur dengan sejumlah kecil komponen berair Dimasukkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup Digunakan sebagai emolien, sukar dicuci, tidak mengering, dan tidak tampak berubah dalam waktu lama. Contoh : vaselin, paraffin cair, minyak nabati.

2. Dasar salep serap Dibagi dalam 2 kelompok : Dasar salep yang bercampur dengan air membentuk emulsi w/o. Contoh : lanolin anhidrat Emulsi w/o yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan. Juga berfungsi sebagai emolien. Contoh : lanolin 3. Dasar salep yang dapat dicuci dengan air Dapat dicuci dengan air, cocok untuk dasar kosmetik Beberapa bahan obat lebih efektif dengan dasar salep ini daripada salep hidrokarbon Dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan pada kelainan dermatologis Contoh : dasar salep emulsi o/w, emulsifying ointment BP 4. Dasar salep larut air Disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air Keuntungan dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan yang tak larut air. Lebih tepat disebut gel Contoh : gom arab, PEG, tragakan

BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM RESEP 12 I. Resep Asli/ Standar A. Resep Standar R/ Unguentum 2-4 (sulfur salicylatum) (Anonim, 1966) Asam salisilat 2 Belerang endap 4 Vaselin 94 Unguentum peruvianum (Anonim, 1966) Balsam peru 3 Vaselin kuning 27 B. Kelengkapan Resep - Paraf dokter tidak tertera C. Penggolongan Obat O : G : W : B : Asam alisilat, belerang endap, balsam peru (Haryanto, 2007) D. Komposisi Bahan Asam salisilat 0,2 Belerang endap 0,4 Vaselin 9,4

Balsam peru 1 Vaselin kuning 9 II. Uraian Bahan 1. Asam Salisilat a. Sinonim : Acidum salicylicum (Anonim, 1979) b. Khasiat : Keratolitikum, anti fungi c. Pemerian : Hablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna putih; hampir tidak berbau; rasa agak manis dan tajam d. Kelarutan : Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95%) P; mudah larut dalam kloroform P dan dalam eter P; larut dalam ammonium asetat P, dinatrium hidrogenfospat P, kalium sitrat P dan natriumsitrat P 2. Belerang Endap a. Sinonim : Sulfur praecipitatum (Anonim, 1979) b. Khasiat : Antiskabies c. Pemerian : Tidak berbau; tidak berasa d. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air; sangat mudah larut dalam karbondisulfida P; sukar larut dalam minyak zaitun P, sangat sukar larut dalam etanol (95%) P 3. Vaselin Putih a. Sinonim : Vaselinum album (Anonim, 1979) b. Khasiat : Zat tambahan; dasar salep c. Pemerian : Massa lunak, lengket, bening, putih; sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berfluoresensi lemah, juga jika dicairkan; tidak berbau; hampir tidak berasa. d. Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam kloroform P; dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang beropalesensi lemah. 4. Balsam Peru a. Sinonim : Balsamum peruvianum (Anonim, 1979) b. Khasiat : Antiseptikum ekstern c. Pemerian : Cairan kental, lengket tidak bersekat; coklat tua, dalam lapisan tipis berwarna coklat, transparan kemerahan; bau aromatic khas menyerupai vanillin d. Kelarutan : Larut dalam kloroform P; sukar larut dalam eter P, dalam eter minyaktanah P dan dalam asam asetatglasial P. Dalam etanol (90%) P Campur 1 bagian volume dengan 1 volume bagian etanol (90%) P; terjaddengi larutan jernih yang dengan penambahan 2 bagian volume etanol (90%) P, larutan menjadi keruh. 5. Vaselin Kuning a. Sinonim : Vaselinum flavum (Anonim, 1979) b. Khasiat : Zat tambahan; dasar salep c. Pemerian : Massa lunak, lengket, bening, kuning muda sampai kuning; sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berfluoresensi lemah, juga jika dicairkan; tidak berbau; hampir tidak berasa. d. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam kloroform P; dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang beropalesensi lemah. III. Penimbangan 1. Asam Salisilat : 10/100 x 2 = 0,2 g 2. Belerang Endap : 10/100 x 4 = 0,4 g

3. Vaselin Putih : 10/100 x 94 = 9,4 g 4. Balsam Peru : 10/30 x 3 = 1 g 5. Vaselin Kuning :10/30 x 27 = 9 g IV. Cara Kerja 1. Disiapkan alat dan bahan 2. Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai penimbangan 3. Asam salisilat ditetesi etanol 95 %, lalu ditambahkan belerang digerus hingga halus dan homogen, disisihkan 4. Digerus sebagian vaselin kuning, kemudian ditambahkan campuran (3) sedikit-sedikit, dan ditambahkan sisa vaselin kuning, digerus hingga halus dan homogen. 5. Ditambahkan balsam peru yang sudah ditetesi etanol 95 % , digerus hingga halus dan homogen 6. Salep dikemas ke dalam pot yang telah ditimbang sebelumnya dan ditimbang berat pot yang telah diisi salep untuk mengetahui bobot bersihnya 7. Diberi etiket biru VI. Penandaan Etiket biru VII. Edukasi 1. Obat ini berkhasiat sebagai obat anti jamur pada kulit 2. Obat ini digunakan pada bagian yang sakit 3. Simpan di tempat yang kering dan terlindung cahaya

RESEP 13 I. Resep Asli/ Standar A. Resep Standar R/ Kampora Spirinsa (kampora solution spiritu) Kamper 10 Etanol (70 %) 100 Ungt. Acidi Boric (CMN,178) Acid boric 5 Vaselin flavum 45 B. Kelengkapan Resep - Paraf dokter tidak tertera C. Penggolongan Obat O : G : W : B : Kamper, acid boric (Haryanto, 2007) D. Komposisi Bahan Kamfer 1g Etanol 11,4 ml Acid boric 1g

(Anonim, 1966)

Vaselin flavum 9 g II. Uraian Bahan 1. Kamper a. Sinonim : Camphora (Anonim, 1979) b. Khasiat : Antiiritan c. Pemerian : Hablur putih atau massa hablur; tidak berwarna atau putih; bau khas; tajam; rasa pedas dan aromatic d. Kelarutan : Larut dalam 700 bagian air, dalam 1 bagian etanol (95%) P, dalam 0,25 bagian kloroform P; sangat mudah larut dalm eter P; mudah larut dalam minyak lemak. 2. Etanol a. Sinonim : Aethanolum, alcohol (Anonim, 1979) b. Khasiat : Zat tambahan c. Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak; bau khas; rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru tidak berasap d. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P. 3. Acid Boric a. Sinonim : Asam borat, acidum boricum (Anonim, 1979) b. Khasiat : Antiseptikum ekstern c. Pemerian : Hablur, serbuk hablur putih atau sisik mengkilat tidak berwarna; kasar; tidak berbau; rasa agak asam dan pahit kemudian manis d. Kelarutan : Larut dalam 20 bagian air, dalam 3 bagian air mendidih, dalam 16 bagian etanol (95%) P dan dalam 5 bagian gliserol P. 4. Vaselin kuning a. Sinonim : Vaselinum flavum (Anonim, 1979) b. Khasiat : Zat tambahan; dasar salep c. Pemerian : Massa lunak, lengket, bening, kuning muda sampai kuning; sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berfluoresensi lemah, juga jika dicairkan; tidak berbau; hampir tidak berasa. e. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam kloroform P; dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang beropalesensi lemah. III. Penimbangan 1. Kamfer : 10/100 x 10 = 1 g 2. Etanol : 100 10 = 90 g 90/100 x 10 = 9 g V = m / p = 9 g/ 0,7904 = 11,386 = 11,4 ml 3. Acid boric : 10/50 x 5 = 1 g 4. Vaselin kuning : 10/50 x 45 = 9 g IV. Cara Kerja 1. Disiapkan alat dan bahan 2. Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai perhitungan 3. Kamfer ditetesi sedikit etanol, digerus, ditambahkan acid boric, gerus hingga halus dan homogen 4. Ditambahkan vaselin kuning pada campuran (3) digerus hingga halus dan homogen 5. Salep dikemas ke dalam pot yang telah ditimbang sebelumnya dan timbanglah berat pot yang telah diisi salep untuk mengetahui bobot bersihnya

6. Diberi etiket biru VI. Penandaan Etiket biru VII. Edukasi 1. Obat ini berfungsi untuk membasmi mikroorganisme yang berada dipermukaan kulit 2. Obat ini digunakan pada bagian yang sakit 3. Simpan di tempat yang kering dan terlindung cahaya

RESEP 14 I. Resep Asli/ Standar A. Resep Asli R/ iodoform Aqua aa 0,5 Vaselin flavum ad 10 B. Kelengkapan Resep - Paraf dokter tidak tertera C. Penggolongan Obat O : G : W : Iodoform (Haryanto, 2007) B : D. Komposisi Bahan Iodoform 0,5 Aqua 0,5 Vaselin Flavum 9 g II. Uraian Bahan 1. Iodoform a. Sinonim : Formene tri-iode, tri-iodo methane (Anonim, 1929) b. Khasiat : Antiseptik c. Pemerian : Seperti Kristal atau serbuk kuning, kasar, keras, tidak berasa d. Kelarutan : Tidak dapat larut dalam air, larut dalam 1 bagian dalam 60 bagian alcohol, 1 dalam 3 bagian karbondisulfida, 1 dalam 1 bagian kloroform, 1 dalam 8 bagian eter, 1 dalam 100 bagian gliserol, larut dalam kolodion. 2. Aqua Destillata a. Sinonim : Air suling (Anonim, 1979) b. Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai rasa 3. Vaselin kuning a. Sinonim : Vaselinum flavum (FI III,633) b. Khasiat : Zat tambahan; dasar salep c. Pemerian : Massa lunak, lengket, bening, kuning muda sampai kuning; sifat ini tetap setelah

zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berfluoresensi lemah, juga jika dicairkan; tidak berbau; hampir tidak berasa d. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam kloroform P; dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang beropalesensi lemah. III. Penimbangan 1. Iodoform : 0,5 g 2. Aqua destillata : 0,5 g 3. Vaselin kuning : [ 10 (0,5 + 0,5)] = 9 g IV. Cara Kerja 1. Disiapkan alat dan bahan 2. Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai perhitungan 3. Iodoform digerus, lalu ditetesi dengan aqua, digerus hingga halus dan homogen 4. Ditambahkan vaselin kuning pada campuran (3) digerus hingga halus dan homogen 5. Salep dikemas ke dalam pot yang telah ditimbang sebelumnya dan ditimbang berat pot yang telah diisi salep untuk mengetahui bobot bersihnya 6. Diberi etiket biru VI. Penandaan Etiket biru VII. Edukasi 1. Obat ini berkhasiat sebagai obat koreng 2. Obat ini digunakan pada bagian yang sakit 3. Simpan di tempat yang kering dan terlindung cahaya

BAB IV PEMBAHASAN RESEP 12 Pada resep ini obat mempunyai khasiat sebagai membasmi mikroorganisme pada kulit yang kebetulan berada di permukaan kulit dan digunakan untuk pemakaian luar. Resep ini mengandung dua bahan obat yaitu zat aktif dan zat tambahan. I. Zat aktif yang terkandung a. Asam Salisilat Mempunyai khasiat sebagai keratolitikum yaitu dapat melarutkan lapisan tanduk kulit pada konsentrasi 5-10 %, dan berkhasiat sebagai anti fungi yaitu fungsid terhadap banyak fungi pada konsentrasi 3-6 % dalam salep. b. Balsam Peru Mempunyai khasiat sebagai antiseptikum ekstern yaitu mikrobisida yang luas terhadap kuman, jamur, dan spuranya, ragi, virus, serta protozoa. c. Belerang Endap Elemen ini memiliki khasiat bakterisid dan fungisid lemah berdasarkan dioksidasinya menjadi asam

penta thionat oleh kuman tertentu dikulit. 2. Zat tambahan yang terkandung a. Vaselin kuning Mempunyai khasiat sebagai zat tambahan yaitu sebagai dasar salep Dalam pelaksanaan resep keduabelas ini yang pertama-tama dilakukan adalah menyiapkan alat yang diperlukan yaitu mortir, stemper, serbet, sendok tanduk, sudip, kertas perkamen, timbangan beserta anak timbangan, kaca arloji, pot plastic, cawan porselen, pipet tetes, biji gotri, dan etiket. Kemudian diambil bahan-bahan yang diperlukan, setelah itu ditimbang asam salisilat sebanyak 200 mg, belerang 400 mg, vaselin kuning 9 gr, dan balsam peru 1 g sebelum ditimbang setarakan dulu timbangan dengan biji gotri karena balsam peru ini bersifat cairan kental sehingga ditaruh dalam kaca arloji. Lalu dimasukkan asam salisilat ke dalam mortir, ditetesi etanol secukupnya, lalu digerus, sebelum menguap ditambahkan belerang, digerus hingga halus dan homogen, disisihkan. Kemudian dimasukkan sebagian vaselin kuning, digerus dan ditambahkan hasil gerusan asam salisilat dan belerang, dan dimasukkan lagi sisa vaselin kuning, digerus hingga halus. Lalu yang terakhir ditambahkan balsam peru yang sudah ditetesi etanol, dimasukkan sedikit-sedikit, digerus hingga halus dan homogen. Balsam peru ditambahkan terakhir karena jika digerus terlalu lama akan keluar damarnya. Salep dikemas ke dalam pot yang telah ditimbang sebelumnya dan ditimbang berat pot yang telah diisi salep untuk mengetahui bobot bersihnya. Dikemas dan diberi etiket biru karena merupakan penggunaan secara parenteral.

RESEP 13 Pada resep ini obat mempunyai khasiat sebagai membasmi mikroorganisme pada kulit yang kebetulan berada di permukaan kulit dan digunakan pada bagian yang sakit. Resep ini mengandung dua bahan obat yaitu zat aktif dan zat tambahan. 1. Zat aktif yang terkandung a. Kamfer Mempunyai khasiat sebagai anti iritan b. Acid boric Mempunyai khasiat sebagai antiseptikum ekstern yaitu membasmi mikroorganisme yang kebetulan berada di permukaan kulit 2. Zat tambahan yang terkandung a. Vaselin kuning Mempunyai khasiat sebagai zat tambahan yaitu sebagai dasar salep b. Etanol Mempunyai khasiat sebagai zat tambahan yaitu sebagai pelarut Dalam pelaksanaan resep ketigabelas ini yang pertama-tama dilakukan adalah disiapkan alat yang diperlukan yaitu mortir, stemper, serbet, sendok tanduk, sudip, kertas perkamen, timbangan beserta anak timbangan, kaca arloji, pot plastic, cawan porselen, pipet tetes, biji gotri, dan etiket. Kemudian diambil bahan-bahan dan dilakukan penimbangan sesuai perhitungan. Dimasukkan kamfer ke dalam mortir, lalu digerus hingga halus, ditambahkan acid boric, digerus hingga halus dan homogen, disisihkan. Kemudian dimasukkan sebagian vaselin kuning, digerus dan ditambahkan hasil gerusan kamfer dan acid boric, dan dimasukkan lagi sisa vaselin kuning, digerus hingga halus dan homogen. Salep dikemas ke dalam pot yang telah ditimbang sebelumnya dan ditimbang berat pot yang telah

diisi salep untuk mengetahui bobot bersihnya. Dan diberi etiket biru karena merupakan penggunaan secara parenteral..

RESEP 14 Pada resep ini obat mempunyai khasiat sebagai obat koreng. Resep ini mengandung dua bahan obat yaitu zat aktif dan zat tambahan. I. Zat aktif yang terkandung a. Iodoform Mempunyai khasiat sebagai antiseptic yaitu membasmi mikroorganisme yang kebetulan berada di permukaan kulit, dan untuk membersihkan luka di tempat infeksi. 2. Zat tambahan yang terkandung a. Vaselin kuning Mempunyai khasiat sebagai zat tambahan yaitu sebagai dasar salep b. Aqua destillata Mempunyai khasiat sebagai pelarut Dalam pelaksanaan resep keempatbelas ini yang pertama-tama dilakukan adalah disiapkan alat yang diperlukan yaitu mortir, stemper, serbet, sendok tanduk, sudip, kertas perkamen, timbangan beserta anak timbangan, kaca arloji, pot plastic, cawan porselen, pipet tetes, biji gotri, dan etiket. Kemudian diambil bahan-bahan dan dilakukan penimbangan sesuai perhitungan. Dalam pengambilan bahan iodoform harus lebih cermat karena iodoform bersifat oksidator sehingga harus ditutup agar tidak terkena cahaya matahari. Lalu dimasukkan iodoform ke dalam mortir, digerus dan ditetesi dengan aqua destillata, gerus hingga halus dan homogen. Aqua destillata disini berfungsi sebagai pelarut karena iodoform bersifat oksidator sehingga bila digunakan etanol sebagai pelarutnya iodoform dapat terbakar. Kemudian dimasukkan vaselin kuning, digerus hingga halus dan homogen. Salep dikemas ke dalam pot yang telah ditimbang sebelumnya dan ditimbang berat pot yang telah diisi salep untuk mengetahui bobot bersihnya. Dikemas dan diberi etiket biru karena merupakan penggunaan secara parenteral. .

BAB V PENUTUP 1. Kesimpulan a. Pada resep ke-12 mempunyai khasiat membasmi mikroorganisme pada kulit yang kebetulan berada di permukaan kulit. Dan hasilnya berupa sediaan salep berwarna coklat kehitaman yang komposisi bahannya terdapat dua dasar salep yaitu vaselin kuning dan vaselin putih, sehingga dalam pembuatan salepnya hanya digunakan salah satu dari dasar salep tersebut. b. Pada resep ke-13 salep mempunyai khasiat membasmi mikroorganisme pada kulit yang kebetulan berada di permukaan kulit. Hasilnya berupa sediaan salep berwarna kuning keputihan yang pembuatannya tidak menggunakan etanol karena jumlahnya yang terlalu besar sehingga dapat memecahkan kamper. c. Pada resep ke-14 salep mempunyai khasiat sebagai obat koreng. Hasilnya berupa sediaan salep

berwarna ungu. Dalam resep ini zat aktifnya bersifat oksidator sehingga memiliki perlakuan khusus. Dan harus digerus hingga benar-benar homogen. 2. Saran Agar praktikan dapat membersihkan alat-alat yang digunakan dengan baik sehingga tidak ada sisasisa bahan yang dapat mempengaruhi hasil sediaan selanjutnya. DAFTAR PUSTAKA Ansel,H.C. 1989. Pengantar bentuk sediaan farmasi ed.IV. Universitas Indonesia Press : Jakarta Tjay, H. T. dan Rahardja, Kirana. 2003. Obat-Obat Penting ed. IV. Elex Media Komputindo : Jakarta. Anief,Muhamad. 1987. Ilmu Meracik Obat. Gajah Mada University Press : Yogyakarta. Anonim. 1979. Farmakope Indonesia ed.III. Depkes RI : Jakarta. Anonim. 1995. Farmakope Indonesia ed.IV. Depkes RI : Jakarta. Anonim. 1979. Farmakope Indonesia ed.V. Depkes RI : Jakarta. Anonim. 1966. Formularium Indonesia. Depkes RI : Jakarta

PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir (FI ed IV). Bahan obatnya larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok (FI ed III). Salep tidak boleh berbau tengik. Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep yang mengandung obat keras atau narkotik adalah 10 %. Sedian setengan padat ini tidak menggunakan tenaga. Akan tetapi salep harus memiliki kualitas yang baik yaitu stabil, tidak terpengaruh oleh suhu dan kelembaban kamar, dan semua zat yang dalam salep harus halus.( oleh karena itu pada saat pembuatan salep terkadang mangalami banyak masalah saleb yang harus digerus dengan homogen, agar semua zat aktifnya dapat masuk ke pori-pori kulit dan diserab oleh kulit. Pembuatan sediaan setengah padat atau salep sangat penting diketahui untuk dapat diterapkan pada pelayanan kefarmasian khususnya di apotik, puskesmas maupun rumah sakit. B. TUJUAN PRAKTIKUM Tujuan praktikum ini adalah untuk member pemahaman dan lebih mendalam, dlam pembuatan salep, khususnya proses pembuatan dan sedian dan dasar salep yang digunakan. Selain itu juga agar praktikan lebih mengenal bahan-bahan yang digunakan untuk membuat sedian salep. BAB II LANDASAN TEORI A. DEFINISI SALEP 1. menurut FI edisi III Salep adalah sedian setengan padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat Luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen kedalam dasar salep yang cocok.

2. Menurut FI edisi IV Salep adalah sedian setengan padat yang ditujukan untuk pemakaian topical kulit atau selaput lendir . salep tidak booleh berbau tengik kecuali dinyatakan lain, kadar bahan obat dalam salep mengandung obat keras narkotika adalah 10 %.

Tujuan pembuatan salep antara lain sebagai pengobatan pada kulit, melindungi kulit ( pada luka luar agar tidak terinfeksi ) serta melembabkan kulit.

B.

kualitas dasar salep

1. Stabil, selama masih dipakai mengobati. Maka salep harus bebas dari inkompatibilitas, stabil pada suhu kamar dan kelembaban yang ada dalam kamar. 2. Lunak, yaitu semua zat dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi lunak dan homogen. Sebab salep digunakan untuk kulit yang teriritasi,inflamasi dan ekskloriasi. 3. Mudah dipakai, umumnya salep tipe emulsi adalah yang paling mudah dipakai dan dihilangkan dari kulit. 4. Dasar salep yang cocok yaitu dasar salep harus kompatibel secara fisika dan kimia dengan obat yang dikandungnya. Dasar salep tidak boleh merusak atau menghambat aksi terapi dari obat yang mampu melepas obatnya pada daerah yang diobati. 5. Terdistribusi merata, obat harus terdistribusi merata melalui dasar salep padat atau cair pada pengobatan. C. KOMPOSISI DASAR SALEP berdasarkan komposisi dasar salep dapat digolongkan sebagai berikut : 1. Dasar salep hidrokarbon, yaitu : a. Vaselin putih atau vaselin kuning b. Campuran vaselin yaitu malam putih atau malam kuning c. Farafin cair dan farafin padat d. Minyak tumbuh-tumbuhan e. Jelene 2. Dasar salep serap, yaitu dapat menyerap air yang terdiri : a. Adeps lanae b.Unguenta simpleks c. Hidrofilic fetrolerlum 3. Dasar salep yang dapat diolesi dengan air, yaitu terdiri atas : a.Dasar salep emulsi MIA seperti vanishing cream b.Emulsifying quitment B.P c.Hydrophilic Qitment dibuat dari minyak mineral, stearyalcohol mayri 52 ( emulgator tipe M/A) 4. Dasar salep yang dapat larut dalam air antara lain PGA atau campuran PEG.

a.Polyethaleneggropl Qintment USP b.Ciagacant c.PGA. D. 1. 2. FUNGSI SALEP fungsi salep antara lain : Sebagai bahan aktif pembawa sustansi obat untuk pengobatan kulit Sebagai bahan pelumas pada kulit

3. Sebagai bahan pelindung kulit yaitu mencegah kontak permukaan kulit yang dengan larutan berair dan perangsang kulit E. PENGGOLONGAN SALEP 1. Unguenta adalah salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega, tidak mencair pada suhu biasa, tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga 2. cream adalah salep yang banyak mengandung air , mudah diserap kulit suatu tipe yang mudah dicuci dengan air. 3. pasta adalah salep yang menagandung lebih dari 50 % zat padat ( serbu) suatu salep yang tebal karna merupakan penutup atau pelindung bagian luar kulit yang diolesi. 4. jelly/ gelanoes adalah salep yang lebih halus, umumnya cair dan sedikit mengandung atau tanpa mokusa sebagai pelican atau basis, biasanya terdiri atau campuran sederhana dari minyak lemak dan titik lebur. 5. cerata adalah salep lemak yang mengandung persentase lilin yang tinggi sehingga konsentrasinya lebih keras. F. PERSYARATAN SALEP MENURUT FI EDISI III 1. pemerian : tidak boleh bau tengik 2. kadar : kecuali dinyatakan lain, sebagai bahan dasar salep( basis salep ) yang digunaakan vaselin Putih ( vaselin album ), tergantung dari sifat bahan obat dan tujuan pemakaian salep, dapat Dipilih beberapa bahan dasar salep sebagai berikut : a. Dasar salep hidrokarbon : vaselin putih, vaselin kunig, malam putih atau malam kunig atau campurannya. b. Dasar salep serap : lemak, bulu domba campuran 3 bagian kolestrol dan 3 bagian stearil alcohol, campuran 8 bagian malam putih dan 8 bagian vaselin putih. c.Dasar salep yang dapat larut dalam air d. Dasar salep yangdapat dicuci dengan air 3. Homogenitas : jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok hsrus menunjukan susunan yang homogeny. 4.Penandaan : etiket harus tertera obat luar G. CARA PEMBUATAN SALEP Aturan umum :

1.

Zat yang dapat larut dalam dasar salep, dilarutkan bila perlu dengan pemanasan rendah

2. Zat yang tidak cukup larutdalam dasar salep, lebih dulu disebut dan diayak dengan ayakan no 100. 3. Zat yang mudah larut dalam air danstabil serta dasarr salep mampu mendukung/ menyerap air tersebut,dilarutkan didalam air yagn tersedia, selain itu ditambahkan bagian dasar salep. 4. Bila dasar salep dibuat dengan peleburan, maka campuran tersebuut harus diaduk sampai dingin. I. RESEP R/Salep 24 20 s.u.e pro : Hartati Kelengkapan Resep Dr. Ariani SIP. 921/101/2010 Jalan. Timah. No 70 No. 030 tgl 13/12/2011 R/ Salep 24 20g m.f. unguentum s.u,.e pro : Rina umur : Dewasa alamat : Jalan. Tanah abang Ket : III. M.f.unguenta S.u.e Tanda obat untuk luar Pro No R Uraian Bahan 1. Nama resmi Sinonim Komposisi Dosis Salep 24 (FN. Hal 13) : ACIDI SALICYCILICI. SULFURIS UNGUANTUM : salep asam salisilat. Belerang. Salep 24. : tiap log mengandumg : untuk : nomeru (nomor) : recipe (ambilah) : misce fac unguenta =buat salep : signa usus eksternus

II.

Acidum salicylicum 200 mg Sulfur 400 mg Vaseline alba hingga 10 mg : 3 sampai 4 kali sehari. Dioleskan

Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik

2.

ACIDUM SALICYLICUM (FI. Edisi III. Hal 56) : ACIDUM SALICYLICUM : asam salisilat hampir

Nama resmi Sinonim

Rumus molekul: C7H6O3 Pemerian : hablur ringan tidak berwarna atau serbuk warna putih tidak berbau, rasa agak manis dan tajam.

Kelarutan : larut dalam 550 bagian air, dan dalam 4 bagian etanol (95%)p, mudah larut dalam klorofom p, dan dalam eter p, larut dalam larutan ammonium asetat p, dinatrium hydrogen fosfat p, kalium sitrat dan natrium sitrat. Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik. K/p : keratolikum yaitu obat yang digunakan pada kulit atau keratin atau epitel tanduk, menimbulkan dehidrasi atau pelunakan. Mengembang dan dekswamasi dari lapisan tanduk dan epidermis. Antijamur, yaitu obat yang digunakan untuk membunuh atau menghilangkan jamur. 3. SULFUR (FI. Edisi III. Hal. 591) : SULFUR PRAEPITATUM : belerang endap : serbuk lembek, bebas butiran, kuning pucat, atau kuniong kehijauan pucat. Nama resmi Sinonim Pemerian

Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, sangat mudah larut karbon disulfide p, sukar larut dalam minyak zaitun p, sangat sukar larut dalam etanol (95%) p. Penyimpanan k/p 4. Nama resmi Sinonim : dalam wadah tertutup baik. : antiskabies yaitu digunakan untuk mengobati penyakit scabies. VASELINUM ALBA (FI. Edisi III. Hal. 633) :VASELINUM ALBUM : vaselin putih setelah zat

Pemerian : masa lunak, lengket, bening, putih, sifat ini tetap dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk.

Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol 95% P. larut dalam klorofom P. dalam eter P. dalam eter minyak tanah p. larutan kadang-kadang berpotensi lemak. Penyimpanan Penggunaan I. Perhitungan Bahan Asam salisilat : 200 mg x 20 : 400 mg : 0,4 g 10 Sulfur 10 : 400 mg x 20 : 800 mg : 0,8 g : dalam wadah tertutup baik : zat tambahan (penambah volume sediaan)

Vaseline album = 18,8 g

: 20 (0,4 + 0,8 )

II.

Cara Kerja 1. Siapkan alat dan bahan 2. Setarakan timbangan 3. Timbanglah : Sulfur 0,8 g Vaseline album dikertas perkamen yang telah diolesi paraffin cair. - asam salisilat 0,4 g

4. Masukkan asam salisilat kedalam lumping. Gerus 5. Tambahkan sulfur sedikit demi sedikit. Gerus 6. Tambahkan Vaseline album sedikit demi sedikit gerus sampai homogeny 7. Keluarkan dari lumpang . masukkan kedalam pot salep 8. Beri etiket biru IV. ETIKET BIRU

APOTEK BINA HUSADA Jln. Asrama haji No.17 kendari Tlp. 0401-390193 Apoteker : TANTRI SIK : 05/IX/APT/2011 No : 030 tgl : 13-12-2011 Pasien : Rina Aturan pakai : 2x sehari Dioleskan tipis-tpis OBAT LUAR BAB IV PEMBAHASAN Pada percobaan 26, bahan yang digunakan adalah Acid Benzoid, Acid Salicylic, Lanolin, dan Vaselin Album. Acid Benzoic dan Acid Salicylic ditimbang di kertas perlamen yang telah di olesi paraffin liq. Acid Benzoic dan Acid Salicyl di masukkan ke dalam lumpang , Gerus ad homogen. Kemudian masukkan sedikit vaselin album lumpang lain untuk melapisi lumpang, kemudian campuran Acid benzoic dan acid salicylic di masukkan ke dalam lumpang yang di olesi vaselin. Kemudian masukkan lanolin dan vaselin album sedikit demi sedikit. Gerus hingga homogeny. Masukkan ke pot salep, beri etikat biru. Pada percobaan 28, bahan yang digunakan yaitu Champora, Ichtyol, Zno, Cera flava, Oleum sesami, chanpora di timbang di kaca arloji, Zno di kertas perkamen,cera flava di kertas perkamen yang telah di olesi paraffin cair, dan oleum sesame di timbang di cawan crush. Cera flava di masukkan ke dalam cawan porselin, di panaskan sampai larut kemudian

masukkan ke dalam lumpang . tambahan Zno ke dalam lumpang sampai homogeny, tambahkan camphora ka dalam cawan tambahkan sedikit atau setengah oleum sesame, sampai larut. Masukkan ke dalam lumpang yang sudah berisi cera flava dan Zno Gerus sampai homogen, kemudian tambahkan sisa oleum sesame. Masukkan ichtyol sedikit demi sedikit , Gerus ad homogeny masukkan dalam pot salep, beri etiret biru. Pada percobaan32, bahan yang digunakan , yaitu Asam salisilat, Sulfur dan Vaselin album . Asam salsilat dan sulfur di tembang di kertas perkamen. Sedangkan vaselin album di kertas perkamen yang telah di olesi paraffin cair. Masukkan asam salsilat lalu gerus, tambahkan sedikit demi sedikit. Dan masukkan vaselin album gerus dan tambahkan sisa sulfur gerus sampai homogeny. Keluarkan dari lumpang, masukkan dalam pot salep beri etikat biru. Pada percobaan 38, bahan yang digunakan adlah Asam salsilit, zno, amilum tetricy, Vaselin flava. Masukkan asam salsilat ke dalam lumpang , tambahkan sedikit etanol, lalu keringkan dengan Amilum secukupnya tambahkan Zno sedikit demi sedikit gerus sampai homogen. Masukkan sisa amelum, gerus, kemudian tambahkan vaselin flavum sedikit demi sedikit . gerus sampai homogeny, keluarkan dari lumpang masukkan ke pot salep, beri etiket biru. BAB V PENUTUP 1. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut : a. Salep adalah bentuk sedian setengan padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. b. Salep harus terdispersi danbebas dari inkompatibilitas, stabil, pada suhu kamar dan kelembaban yang ada dalam kamar. 2. hati. SARAN Dalam melakkukan praktikum, praktikan harus mengerjakan dengan teliti dan hati-