Anda di halaman 1dari 6

Perencanaan Konsultasi Gizi

Kegiatan Belajar 1
Perencanaan Konsultasi Gizi
I. Pengumpulan data
1. Data sosial budaya : suku, agama, pendidikan, keadaan ekonomi dan
pekerjaan.
2. Data riwayat : data keluarga dan data riwayat kesehatan, data riwayat gizi
(anamnesa gizi) menyangkut pola dan kebiasaan makan yaitu perkiraan jumlah
asupan zat gizi dalam periode waktu tertentu, jenis dan jumlah bahan makanan
yang sering dikonsumsi, makanan pantangan / mitos budaya, alergi, kebiasaan
mengolah atau membeli makanan . Pengambilan data riwayat gizi (anamnesa
gizi) dengan cara recall makanan 24 jam dilengkapi dgn data food frekwensi dan
food record
3. Pengetahuan tentang gizi, sikap terhadap makanan, aktivitas fisik,
penggunaan obat-obatan, penggunaan suplemen zat gizi
4. Data riwayat medik : kemungkinan pengaruh penyakit yang lalu, terapi,
pembedahan, radiasi, kemoterapi, atau tindakan lain terhadap kebutuhan,
asupan, pencernaan, absorpsi dan metabolisme zat gizi
5. Data antropometri : Tinggi badan,Berat badan, IMT, Lila, untuk anak-anak
: tb dan bb dibandingkan dengan umur berdasarkan standar bakuWHO-NCHS.
Untuk orang dewasa : IMT, Lila
6. Data klinis : Tanda-tanda adanya retensi cairan : oedema, ascites,
peningkatan tekanan darah, penambahan bb, meningkatnya jumlah urine,Tanda-
tanda adanya dehidrasi : mata dan pipi cekung, kulit keriput, kurus, menurunnya
jumlah urine, tekanan darah, detak jantung dan pernafasan berkurang. kondisi
lemah, cengeng, mudah rewel (bagi anak-anak), tangan dan kaki terasa dingin,
haus (mulut kering)
7. Data biokimia : Hb, gula darah, albumin, sgot, sgpt, urine, kolesterol
darah, hati, jantung, ginjal, dsb.
II. Pengkajian dan identifikasi data
Gambaran status gizi, sikap terhadap makanan dan lingkungannya, riwayat
sosial, medis, kebutuhan gizi, kebutuhan akan pendidikan gizi, kebutuhan akan motivasi

III. Kesimpulan hasil identifikasi masalah klien
Contoh : asupan makanan melebihi dari kebutuhan --> energi 1 akg, tinggi
lemak jenuh, dsb.
lingkungan klien kurang memadai yaitu pengetahuan gizi dan motivasi untuk melakukan
kebiasaan pola makan hidup sehat masih rendah

IV. Membuat perencanaan konseling
Perencanaan konseling dibuat berdasarkan :
1. Hasil dari pengkajian dan identifikasi data
2. Kesimpulan hasil identifikasi masalah klien
Hitung kebutuhan zat gizi klien : Hitung kebutuhan gizi dengan
mempertimbangkan bb, tb, imt, aktivitas, kemampuan organ tubuh akibat penyakit yang
diderita. dsb
Terjemahkan hasil penghitungan kedalam bentuk susunan jumlah bahan
makanan dan ditulis di dalam daftar diet. Daftar diet merupakan daftar bahan makanan
yang dapat dipedomani klien dalam melaksanakan dietnya sendiri yang di dalamnya
juga tercantum bahan makanan yang boleh, yang dibatasi, dan tidak dibolehkan
dikonsumsi klien selama menjalani diet.

Materi : Materi disesuaikan dengan permasalahan klien, diawali dengan penjelasan
tentang hal-hal yang mudah sampai ke yang rumit, materi dimuat dalam daftar diet
(leaflet) yang sudah jadi.
Metode : Metode yang digunakan dengan menggabungkan berbagai metode belajar spt
: wawancara, diskusi dan tanya jawab, demonstrasi dsb
Media : Sebaiknya menggunakan lebih dari satu media spt : daftar diet, daftar bahan
makanan penukar, food model, lembar balik, phantom, nutriclean, contoh-contoh menu
dsb.
Evaluasi : Lisan dan tulisan tentang pengetahuan, sikap dan tindakan



1. Pengertian konseling
Pengertian konseling adalah suatu hubungan antara seorang dengan orang
lain, seorang berusaha keras untuk membantu orang lain agar memahami masalah dan
dapat memecahkan masalahnya dalam rangka penyesuaian dirinya (1958, English).
Menurut Glen, 1955, konseling adalah suatu proses dimana konselor membantu konseli
agar ia dapat memahami dan menafsirkan fakta-fakta yang berhubungan dengan
pemilihan, perencanaan dan penyesuaian diri sesuai dengan kebutuhan individu.
Menurut Milton, 1955, Konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam
hubungan seorang dengan seorang yaitu individu yang mengalami masalah yang tak
dapat diatasinya, dengan seorang petugas professional yang telah memperoleh latihan
dan pengalaman untuk membantu agar klien mampu memecahkan kesulitannya.
Hill.N.C, 1981, mengemukakan bahwa konseling sebagai bantuan kepada individu
dalam proses penyelesaian masalah. Sunarya, 2000, mengemukakan bahwa konseling
merupakan proses pembelajaran yang terarah kepada pengembangan perilaku-perilaku
efektif jangka panjang dalam mengelola, mengendalikan, dan merespon lingkungan,
perilaku tsb mencakup perilaku vocasional, kognitif, belajar dan perubahan perilaku,
komunikasi dan hubungan antar pribadi, keserasian optimal antara individu dan
lingkungan.
Moh.Surya, 2002, mengemukakan konseling merupakan hubungan membantu
klien untuk menemukan sumber diri sendiri maupun sumber di luar dirinya baik di
lembaga pendidikan maupun di masyarakat dalam upaya mencapai perkembangan dan
penyesuaian optimal, sesuai dengan kemampuannya.
Selanjutnya menurut Pepsynsky & Pepsynsky dalam shertzer & Stone, 1980,
dikatakan bahwa konseling merupakan proses interaksi untuk memudahkan perubahan
tingkah laku klien,
Konseling adalah suatu proses yang terjadi dalam hubungan tatap muka antara
seorang individu yang terganggu oleh masalah-masalah yang tidak dapat diatasinya
sendiri dengan pekerja yang profesional yaitu orang yang terlatih dan berpengalaman
membantu orang lain mencapai pemecahan terhadap berbagai jenis kesulitan pribadi
(maclean dlm shertzer, stone)
Konseling sebagai tehnik dan metoda yang dapat digunakan dalam membantu
klien memahami dirinya secara lebih baik dan lebih efektif (munro). Konseling sebagai
suatu bentuk wawancara untuk membantu klien memahami dirinya sendiri dengan lebih
sempurna, shg ia dapat memperbaiki kesulitan lingkungan dan penyesuaian (walberg).
Konseling gizi adalah suatu proses komunikasi interpersonal / dua arah antara
konselor dan klien untuk membantu klien mengenali, mengatasi dan membuat
keputusan yang benar dalam mengatasi masalah gizi yang dihadapinya. Konseling gizi
dilakukan oleh ahli gizi yaitu lulusan program d iii gizi / d iv gizi yang disebut nutritionist
atau dietetion
Konselor gizi adalah ahli gizi yang bekerja untuk membantu orang lain (klien)
mengenali, mengatasi masalah gizi yang dihadapi dan mendorong klien untuk mencari
dan memilih cara pemecahan masalah gizi secara mudah shg dapat dilaksanakan oleh
klien secara efektif dan efisien. Klien adalah sasaran konseling yang terdiri dari pasien /
orang sakit dan keluarganya, mereka yang sedang menjalani rawat jalan di puskesmas
dan rs atau mereka yang datang karena membutuhkan informasi tentang masalah
kesehatan dan gizi yang sedang dihadapi.

Karakteristik konseling :
1. Konseling melibatkan dua orang yang saling berinteraksi dengan jalan
mengadakan komunikasi langsung
2. Model interaksi terbatas pada dimensi verbal yaitu konselor dan klien
saling berbicara
3. Interaksi antara konselor dan klien berlangsung dalam waktu yang relatif
lama dan terarah kepada pencapaian tujuan
2. Fungsi dan Tujuan konseling :
Konseling memiliki beberapa fungsi dan tujuanyang terdapat dalam uraian berikut :
Fungsi konseling :
1. Fungsi pencegahan (preventif) : Layanan konseling berfungsi sebagai
pencegahan artinya konseling merupakan suatu usaha pencegahan terhadap
timbulnya masalah. Layanan yang diberikan dalam fungsi pencegahan ini berupa
pelayanan bantuan dari berbagai masalah yang mungkin timbul agar masalah
tersebut tidak menghambat program atau kegiatan dan perkembangannya.
Kegiatan yang berfungsi pencegahan tersebut dapat berupa program informasi,
orientasi, inventarisasi data atau pengkajian data dan analisa data dan
sebagainya.
2. Fungsi pemahaman : Konseling yang mempunyai fungsi pemahaman ini
dimaksudkan untuk menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh individu atau
klien sesuai dengan kepentingan individu dan atau kelompok yang mendapat
pelayanan tersebut. Pemahaman mencakup hal-hal berikut : pemahaman tentang
diri klien terutama oleh klien dan keluarga klien, pemahaman tentang lingkungan
klien dan keluarga klien serta pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas
apabila klien di rawat di rumah sakit.
3. Fungsi perbaikan dan pengentasan : Pada fungsi ini dimaksudkan pada
program konseling yang sudah dilaksanakan mungkin saja masih ada dan masih
terjadi masalah-masalah lain sehingga dengan adanya fungsi ini menghasilkan
kondisi bagi terentasnya berbagai masalah gizi yang berkaitan dengan kesehatan
yang dialami klien.
4. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan : Fungsi ini memberikan
manfaat bagi klien dalam memelihara dan mengembangkan keseluruhan
pribadinya dengan percaya diri, terarah dan berkelanjutan sehingga klien dapat
mempertahankan hal-hal yang dipandang positif
5. Fungsi advokasi : Fungsi konseling menghasilkan pembelaan terhadap
terhadap pengingkaran atas hak-hak atau kepentingan pendidikan atau informasi
perkembangan atau perawatan biologis dan psikologis-sosial-spiritual (bio-psiko-
sosio-spiritual) yang dialami klien pengguna pelayanan konseling.
Tujuan konseling :
1. Mengikuti kemauan / saran konselor
2. Mengadakan perubahan perilaku secara positif
3. Melakukan pemecahan masalah
4. Melakukan pengambilan keputusan, pengembangan kesadaran dan
pengembangan pribadi
5. Mengembangkan penerimaan diri
6. Memberikan pengukuhan
3. Asas-asas konseling
Pelayanan konseling adalah pekerjaan profesional. Pekerjaan profesional itu harus
dilaksanakan dengan mengikuti kaidah-kaidah yang menjamin efisien dan efektiftas
proses layanan konseling. Kaidah-kaidah tersebut dikenal dengan asas-asas konseling,
yaitu ketentuan-ketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraan pelayanan
konseling. Apabila asas-asas itu diikuti dan terselenggara dengan baik, sangat dapat
diharapkan proses pelayanan mengarah pada pencapaian tujuan yang diharapkan,
sebaliknya apabila asas-asas itu diabaikan atau dilanggar sangat dikhawatirkan
kegiatan yang dilaksanakan itu justru berlawanan dengan tujuan konseling bahkan
akan dapat merugikan orang-orang yang terlibat di dalam pelayanan dan profesi
konseling itu sendiri.
1. Azas kerahasiaan : segala sesuatu yang dibicarakan klien kepada
konselor tidak boleh disampaikan kepada orang lain --> menyangkut
kepercayaan klien.
2. Azas kesukarelaan : klien secara suka rela, tanpa ragu-ragu, tanpa
terpaksa menyampaikan masalah yang dihadapinya serta mengungkapkan fakta,
data, seluk beluk berkenaan dengan masalah tsb.
3. Azas keterbukaan : klien diharapkan berbicara jujur, berterus terang
tentang dirinya guna penelaahan serta pengkajian berbagai kekuatan dan
kelemahan klien, konselor terbuka dan bersedia menjawab pertanyaan-
pertanyaan klien .
4. Azas kekinian : masalah yang ditanggulangi adalah masalah sekarang
yang sedang dirasakan bukan masalah sudah lampau ataupun masalah yang
mungkin akan dialami dimasa yang akan datang. Masa lampau dibahas sebagai
latar belakang atau latar depan dari masalah yang dihadapi dalam upaya
pencegahan.
5. Azas kemandirian : klien dapat mandiri dengan ciri-ciri sbb : mengenal diri
sendiri dan lingkungannya, menerima diri sendiri dan lingkungannya secara positif
dan dinamis, mengambil keputusan untuk dan oleh diri sendiri, mengarahkan diri
sesuai dengan keputusan, mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan
potensi, minat dan kemampuan yang dimiliki.
6. Azas kegiatan : klien harus aktif menjalani proses konseling dan aktif
melaksanakan /menerapkan hasil-hasil konseling
7. Azas kedinamisan : perubahan perilaku klien kearah yang lebih baik ,
menuju kesuatu pembaruan, sesuatu yang lebih maju dan dinamis sesuai
dengan arah perkembangan klien yang dikehendaki
8. Azas keterpaduan : keterpaduan diri klien yaitu aspek kepribadian, serasi
dan seimbang, azas keterpaduan isi dan proses konseling
9. Azas kenormatifan : konseling tidak bertentangan dengan norma-norma
yang berlaku --> norma agama, norma adat norma hukum /negara, norma ilmu,
dan kebiasaan sehari-hari
10. Azas kenormatifan diterapkan pada : isi dan proses pelayan konseling
(prosedur, tehnik, peralatan)
11. Azas dan keahlian : keahlian konselor secara teratur dan sistematik
dengan menggunakan prosedur, tehnik dan alat (instrumen konseling) -->
konselor menguasai teori dan praktek
12. Azas alih tangan : alih tangan dilakukan apabila konselor belum mampu
membantu klien setelah mengerahkan segenap kemampuannya untuk membantu
maka klien dapat dikirim atau dialihkan kepada petugas yang lebih ahli
13. Azas tutwuri handayani : konseling dirasakan manfaatnya oleh klien baik
ketika dalam proses konseling maupun setelah konseling dilakukan
4. Langkah-langkah konseling gizi
1. Persiapan konseling gizi
Tahap ini, menjelaskan tentang pentingnya melakukan manajemen diet. Konselor
dalam tahap ini menanyakan tentang kebiasaan makan pasien dan penjelasan
akan adanya upaya perbaikan jika ada kekurangan dalam menjalankan diet
sebelumnya. Sebelum memasuki tahap ini konselor sebaiknya melihat riwayat
penyakit pasien, melihat status gizi pasien, melihat hasil pemeriksaan
laboratorium, dll.
2. Perencanaan konseling gizi
3. Pelaksanaan konseling gizi
4. Evaluasi konseling gizi
BAB II
KONSELING GIZI BAGI JAMAAH CALON HAJI

A. PENGERTIAN

1. Konseling Gizi adalah suatu proses komunikasi 2 (dua) arah antara konselor dan
klien untuk membantu klien mengenali dan mengatasi masalah gizi.
2. Konselor adalah tenaga kesehatan yang mempunyai latar belakang pendidikan gizi
atau pendidikan kesehatan lainnya yang bekerja di Puskesmas / Dinas Kesehatan /
Rumah Sakit.
3. Klien adalah sasaran konseling yang dalam hal ini adalah jamaah calon haji yang
datang karena membutuhkan informasi tentang masalah kesehatan dan gizi agar
mampu melaksanakan ibadah haji dengan balk.

B. HAL-HAL YANG PERLU DIMILIKI OLEH KONSELOR

1. Mempunyai pengetahuan tentang:
- Ilmu gizi dasar dan dietetik.
- Masalah gizi di Indonesia.
2. Memiliki sikap yang sopan, sabar dan sederhana.
3. Mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti klien.
4. Menunjukkan sikap ingin membantu klien.
5. Menciptakan suasana Iingkungan konseling yang nyaman.
6. Mampu menjadi pendengar yang balk dalam menerima keterangan dan klien

C. TEMPAT KONSELING

1. Ruang terpisah dengan ruangan lain agar klien merasa nyaman.
2. Besar ruangan tergantung jumlah klien yang dilayani.
3. Dalam ruangan tersedia fasilitas peralatan yang cukup memadai antara lain alat
timbang berat badan dan pengukur tinggi badan, poster, leaflet, food model dIl.

D. LANGKAH - LANGKAH KONSELING GIZI

1. Pengumpulan data (data berat badan, tinggi badan, anamnesa gizi, data klinis dan
hasil pemeriksaan laboratorium serta data lain yang menunjang).
2. Identifikasi data dan Pengkajian.
Data yang terkumpul dikaji, diidentifikasi secara terperinci.
3. Mengambil kesimpulan atas masalah gizi yang dihadapi klien berdasarkan pengkajian
data.
4. Perencanaan konseling yang perlu diberikan.
5. Memonitor dan Evaluasi hasil konseling.

E. KONSELING GIZI DIANGGAP BERHASIL APABILA:

Klien mengerti, memahami serta mau menjalankan anjuran yang disampaikan oleh
konselor.

F. HAMBATAN YANG SERING DIJUMPAI OLEH KONSELOR

1. Klien tidak mau bicara secara terbuka.
2. Klien tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mendengarkan anjuran konselor.
3. Klien berbicara terus yang sering tidak sesuai topik pembicaraan.
4. Ruang dan suasana konsultasi tidak mendukung jalannya proses konsultasi.