Anda di halaman 1dari 41

1

PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN


GULA AREN

PENDAHULUAN
Aren atau enau (Arrenga pinnata Merr) adalah salah satu keluarga
palma yang memiliki potensi nilai ekonomi yang tinggi dan dapat tumbuh
subur di wilayah tropis seperti Indonesia. Tanaman aren bisa tumbuh pada
segala macam kondisi tanah, baik tanah berlempung, berkapur maupun
berpasir. Namun pohon aren tidak tahan pada tanah yang kadar asamnya
terlalu tinggi. Di Indonesia, tanaman aren dapat tumbuh dan berproduksi
secara optimal pada tanah yang memiliki ketinggian di atas 1.200 meter di
atas permukaan laut dengan suhu udara rata-rata 25 ocelcius. Di luar itu,
pohon aren masih dapat tumbuh namun kurang optimal dalam
berproduksi.
Pohon aren memiliki potensi ekonomi yang tinggi karena hampir
semua bagiannya dapat memberikan keuntungan finansial. Buahnya
dapat dibuat kolang-kaling yang digemari oleh masyarakat Indonesia pada
umumnya. Daunnya dapat digunakan sebagai bahan kerajinan tangan
dan bisa juga sebagai atap, sedangkan akarnya dapat dijadikan bahan
obat-obatan. Dari batangnya dapat diperoleh ijuk dan lidi yang memiliki
nilai ekonomis. Selain itu, batang usia muda dapat diambil sagunya,
sedangkan pada usia tua dapat dipakai sebagai bahan furnitur. Namun
dari semua produk aren, nira aren yang berasal dari lengan bunga jantan
sebagai bahan untuk produksi gula aren adalah yang paling besar nilai
ekonomisnya. Dalam gambar pohon industri, berikut adalah beberapa
produk turunan dari aren yang berpotensi untuk dikembangkan.

Gambar 1.1. Pohon Industri Produk Turunan Aren


Gula aren sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai salah
satu pemanis makanan dan minuman yang bisa menjadi substitusi gula
pasir (gula tebu). Gula aren diperoleh dari proses penyadapan nira aren
yang kemudian dikurangi kadar airnya hingga menjadi padat. Produk gula
aren ini adalah berupa gula cetak dan gula semut. Gula cetak diperoleh
dengan memasak nira aren hingga menjadi kental seperti gulali kemudian
mencetaknya dalam cetakan berbentuk setengah lingkaran. Untuk gula
semut, proses memasaknya lebih panjang yaitu hingga gula aren
mengkristal, kemudian dikeringkan (dijemur atau dioven) hingga kadar
airnya di bawah 3%. Jenis yang terakhir ini memiliki keunggulan yaitu
berdaya tahan yang lebih lama, lebih higienis dan praktis dalam
penggunaannya.
Luas area pohon aren yang diusahakan di Indonesia adalah 62.120
ha dengan jumlah produksi 36.991 ton dalam bentuk gula merah. Berikut
ini adalah enam Propinsi penghasil aren terbesar di Indonesia.
Tabel 1. Enam Besar Propinsi Penghasil Aren di Indonesia Tahun 2006

Daerah

Luas Area (Ha)

Produksi (ton)

Jawa Barat*
13.878
7.866
Sulawesi Utara
5.928
5.846
Sumatera Utara
4.708
3.752
Sulawesi Selatan
4.520
2.503
Jawa Tengah
2.638
2.454
Bengkulu
3.388
2.058
Sumber : Statistik Perkebunan Tahun 2006, hal 8
* Jawa Barat termasuk Banten.
Gula aren selama ini menjadi sumber mata pencaharian penting bagi para
petani di sentra-sentra produksinya. Salah satu sentra produksi gula aren
di Indonesia adalah di Kabupaten Lebak, Propinsi Banten yaitu tepatnya di
desa Hariang, Kecamatan Sobang. Kabupaten Lebak dikenal sebagai
salah satu daerah penghasil gula aren terbesar di Indonesia. Industri gula
aren di kabupaten ini menyerap 5.406 tenaga kerja melalui 2.982 unit
usaha mikro dan kecil, belum termasuk tenaga kerja di saluran
distribusinya. Kapasitas produksi per tahun mencapai 2.249,4 ton yang
tersebar di 44 sentra produksi (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab.
Lebak, 2005).

PROFIL USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN


Pola Usaha
Usaha gula aren pada umumnya dilaksanakan oleh para pengrajin
sebagai usaha sampingan. Ini karena waktu penyadapan dapat dilakukan
pada pagi dan sore hari di luar waktu kerja utamanya. Usaha ini tergolong
jenis home industry karena pengerjaannya secara individual di rumah
masing-masing pengrajin. Penyadapan biasanya dilakukan oleh para pria,
kemudian proses pemasakan hingga menjadi gula cetak atau gula semut
setengah jadi dilakukan oleh para wanita di rumah.

Proses produksi gula aren di tingkat petani dilakukan dengan peralatan


yang sangat sederhana, yaitu menggunakan kuali, pengaduk dan tungku
kayu bakar. Gula aren cetak dari hasil produksi para pengrajin (petani)
biasanya langsung dijual ke pasar atau pengumpul yang datang pada
hari-hari tertentu. Selain daya tahan yang pendek, gula aren cetak
memiliki kelemahan, yaitu tingkat harga yang sangat fluktuatif. Pada saat
musim hujan, yaitu ketika pasokan gula aren melimpah, harga bisa jatuh
hingga kisaran antara Rp. 3000,- dan Rp. 4000,- per kg. Namun pada
saat musim kemarau pasokan gula aren sangat terbatas, sehingga harga
dapat naik dari Rp. 9.000,- hingga Rp. 10.000,- / kg.
Untuk memasok industri usaha gula aren semut, biasanya pengrajin
hanya memproduksi bahan setengah jadi, yaitu gula aren semut dengan
kadar air yang masih di atas 5%. Bahan tersebut kemudian dikumpulkan
ke sentra produksi oleh para pengumpul. Selanjutnya, gula aren setengah
jadi dihaluskan dan dikeringkan kembali hingga kadar airnya di bawah 3%.
Proses pengeringannya dilakukan dengan dua cara yaitu dengan panas
matahari dan menggunakan oven.
Usaha gula aren di lokasi penelitian terkonsentrasi pada suatu sentra
produksi. Adanya sentra ini membantu pelaku usaha untuk berkembang
dan

memudahkan

pihak-pihak

terkait

untuk

berkontribusi

dalam

pengembangannya, misalnya bantuan peralatan (penghancur, oven,


loyang penjemur) melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan setempat.
Batuan peralatan ini didistribusikan melalui kelompok pengrajin, sehingga
pemiliknya adalah kelompok yang bersangkutan/bukan individual. Hasil
produksinya kemudian dijual ke pasar dan pedagang besar di kota-kota
besar seperti Tangerang dan Jakarta. Sedangkan, keuntungan yang
diperoleh dibagikan di antara anggota (pengrajin dan pengumpul) dengan
proporsi yang sudah ditentukan.
Pola Pembiayaan

Pada tingkat pengrajin, pembiayaan yang dibutuhkan adalah untuk


keperluaan konsumsi daripada usaha. Ini karena usaha gula aren hanya
membutuhkan peralatan yang sederhana, seperti: lodong atau bambu
sebagai penampung nira aren, kuali, pengaduk, tungku, kayu bakar dan
konjor atau cetakan gula aren yang terbuat dari kayu. Peralatan tersebut
relatif harganya murah dan atau dapat diusahakan sendiri oleh pengrajin.
Sedangkan pinjaman konsumsi dibutuhkan untuk kelangsungan hidup
keluarga, terutama pada masa paceklik. Sumber pinjaman biasanya
berasal dari pengumpul. Di awal bulan pengumpul memberikan pinjaman
kepada pengrajin berupa bahan makanan dan atau uang untuk keperluan
hidupnya. Kemudian pengrajin akan membayar pinjamannya dengan gula
aren yang dihasilkan.
Pengumpul tersebut terdiri dari dua jenis, yaitu pengumpul murni
yang membeli gula aren cetak untuk dijual ke pasar/agen, dan pengumpul
yang juga berperan sebagai pengusaha gula aren semut. Pengusaha gula
aren semut tersebut memproduksi gula aren semut sebagai produk utama
dan gula aren cetak sebagai produk sampingan.
Pada tingkat pengusaha/pengumpul ini, pinjaman yang diperlukan
untuk kebutuhan investasi yaitu pengadaan alat-alat produksi dan modal
kerja. Tetapi sejauh ini, pengusaha gula aren di Lebak belum memperoleh
fasilitas kredit dari bank, baik kredit investasi maupun kredit modal kerja.
ASPEK PEMASARAN
Permintaan
Usaha gula aren di Indonesia memiliki prospek yang menjanjikan
untuk dikembangkan. Ini dapat diketahui dari tingginya permintaan baik di
dalam negeri maupun di luar negeri, khususnya untuk jenis gula semut,
yang seringkali sulit dipenuhi. Berdasarkan survei, sebuah industri kecil

dalam sebulan dapat memperoleh pesanan sebesar 15 25 ton. Pesanan


tersebut sampai saat ini belum mampu dipenuhi akibat keterbatasan
pasokan dan kurangnya modal.
Terkait dengan permintaan dalam negeri, kebutuhan gula semut
terbesar datang dari industri makanan dan obat yang tersebar di sekitar
Tangerang. Sementara untuk pasar lokal, permintaan tertinggi terjadi pada
saat

dan

menjelang

bulan

puasa

Ramadhan.

Sedangkan

untuk

permintaan ekspor, banyak datang dari Jerman, Swiss dan Jepang.


Penawaran
Di Indonesia, usaha gula aren banyak dikembangkan di wilayah
pegunungan. Berdasarkan data pada Tabel 4 luas areal tanaman relatif
meningkat dari tahun ke tahun sehingga produksi gula aren juga
cenderung meningkat.
Tabel 4.

Perkembangan luas pertanaman, produksi dan produktivitas


gula aren di Indonesia

Tahun
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005

Luas Areal (Ha)


46.105
45.611
44.857
44.802
47.730
50.543
48.797
55.183
59.557
60.761

Produksi

Produktivitas

(ton)
25.392
19.067
38.069
20.874
27.682
33.498
28.189
34.051
32.880
35.899

(Kw/Ha)
10,05
7,38
14,31
7,65
9,96
11,38
10,15
10,42
10,12
10,13

Sumber: Ditjen Perkebunan (1996-2007)

Perluasan areal tanaman aren dapat diindikasikan sebagai jaminan


pasokan bahan baku. Ini juga berarti usaha gula aren dapat berkelanjutan
dan berpeluang untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Dengan
demikian, dari sisi penawaran berpotensi untuk menaikan produk gula
aren sebagai upaya untuk memenuhi permintaan yang cenderung makin
tinggi.
Persaingan dan Peluang Pasar
Persaingan antar usaha gula aren di lokasi penelitian relatif masih
rendah karena jumlah pengusaha gula aren tidak terlalu banyak. Dengan
demikian,

jumlah

penawaran

masih

lebih

rendah

dibanding

permintaannya, terutama pada saat permintaan tinggi yaitu pada bulan


Ramadhan dan Idul Fitri. Sebagaimana yang diuraikan pada sub bab
permintaan,

maka

pengusaha

seringkali

tidak mampu

memenuhi

permintaan pasar.
Harga
Harga gula aren ditentukan oleh musim, dimana musim hujan saat
produksi nira melimpah harga turun, sebaliknya saat musim kemarau saat
produksi nira sedang berkurang harga naik. Secara umum fluktuasi harga
per kg untuk gula aren cetak berkisar antara Rp3000,- - Rp9000,-,
sedangkan gula aren semut berkisar Rp7000,- - Rp.10.000,-.
Jalur Pemasaran
Gula aren, baik gula aren cetak maupun gula aren semut, dapat
dipasarkan melalui beberapa jalur pemasaran. Jalu-jalur tersebut antra
lain dapat dilihat pada diagram 4.1 dan 4.2.

Diagram 4.1. Rantai Pemasaran Gula Aren Cetak

Diagram 4. 2. Rantai Pemasaran Gula Aren Semut

Kendala Pemasaran
Kendala pemasaran yang masih dihadapi oleh pengusaha dalam
pemasaran produk gula aren, antara lain:
1. Kurangnya akses terhadap informasi pasar, terutama tentang
harga, sehingga pengrajin sangat tergantung pada harga yang
diberikan oleh pengumpul (posisi tawar pengrajin rendah).
2. Masyarakat masih kurang mengenal produk gula aren semut
sebagai subtitusi gula pasir tebu. Hal ini menyebabkan gula aren
semut lebih dikenal untuk keperluaan industri daripada untuk
konsumsi. Padahal, peluang pasar untuk memenuhi kebutuhan
pemanis pada pasar konsumsi relatif besar.

ASPEK PRODUKSI
Lokasi Usaha
Lokasi usaha produksi gula aren sebaiknya berada di dekat sumber
bahan baku yaitu nira aren. Hal ini disebabkan daya tahan nira aren
hanya tiga jam sebelum menjadi asam akibat proses fermentasi. Oleh
karena itu, bahan baku perlu penanganan yang cepat, nira hasil sadapan
harus segera diolah menjadi gula cetak.
Daerah yang memiliki banyak pohon aren, umumnya menjadi lokasi
sentra produksi gula aren baik gula aren cetak maupun gula aren semut.
Salah satu sentra produksi yang relatif berkembang ada di Kabupaten

10

Lebak, Propinsi Banten. Di wilayah tersebut terdapat 44 sentra produksi


yang mampu menghasilkan 2.249 ton per tahun gula aren.
Fasilitas Produksi
1. Fasilitas Produksi
a. Saung/bangunan

untuk

proses

produksi

Saung digunakan untuk aktivitas produksi yang ukurannya


disesuaikan dengan kapasitas/skala usaha. Kegiatan produksi di
saung/bangunan ini adalah proses pemasakan nira aren dan
pencetakan gula aren.
b. Lahan

penjemuran

Luas lahan penjemuran disesuaikan dengan skala usaha.


c. Tempat penyimpanan gula aren semut yang sudah jadi.
2. Peralatan
Peralatan yang dibutuhkan dalam usaha gula aren relatif sederhana, yaitu:
lodong atau bambu sebagai penampung nira aren, kuali, pengaduk,
tungku, kayu bakar, saringan nira, golok sadap, pemukul (paninggur),
konjor atau cetakan gula aren yang terbuat dari kayu. Sedangkan untuk
usaha gula aren yang sudah berskala industri kecil menggunakan alat
tambahan berupa nampan aluminium untuk menjemur gula aren semut,
mesin penggiling, oven pemanas, mesin pengayak dan alat pengayak
manual.
Bahan Baku
Bahan baku utama yang dibutuhkan untuk usaha gula aren adalah
nira aren. Perbedaan jenis gula aren yaitu gula cetak dan gula semut
karena perbedaan pengolahannya.
Jenis gula aren cetak pengolahan nira dilakukan sesegera mungkin
untuk menghindari kemasaman. Pengolahan gula aren cetak selain bahan

11

baku, juga memerlukan bahan pelengkap yaitu sarang madu

yang

berfungsi sebagai katalisator untuk mengentalkan nira ketika dipanaskan.


Sedangkan untuk gula aren semut, bahan baku selain langsung
dari nira aren juga dapat dari gula aren semut setengah jadi. Pada skala
industri kecil, umumnya digunakan bahan baku berupa gula aren semut
setengah jadi yang diperoleh dari pengrajin dan atau pengumpul.
Tenaga Kerja
Tenaga kerja pada usaha gula aren umumnya berasal dari anggota
keluarga dan masyarakat di sekitar lokasi usaha. Tenaga kerja keluarga
biasanya dipraktekkan di tingkat pengrajin, yaitu penyadap oleh anggota
keluarga laki-laki dan dibantu anggota keluarga perempuan sebagai
pemasak nira aren.
Pada tingkat skala industri kecil, menggunakan tenaga kerja
sebanyak 6-12 tenaga kerja yang berasal baik dari keluarga maupun
masyarakat sekitar. Tenaga kerja tersebut dapat digolongkan sebagai
tenaga kerja tetap dan tenaga kerja tidak tetap yang memproses gula aren
semut. Tenaga kerja tetap merupakan tenaga kerja administratif yang
digaji per bulan, sedangkan tenaga kerja tidak tetap dibayar upah sebesar
antara Rp. 20.000,- hingga Rp. 30.000,- per hari.
Teknologi
Teknologi usaha gula aren dapat dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Teknologi

Tradisional

Teknologi tradisonal digunakan di tingkat pengrajin, yaitu dengan


menggunakan peralatan yang sangat sederhana. Penggunaan alat
sederhana berpengaruh pada kapasitas produksi dan mutu yang
relatif rendah.
2. Teknologi

Mekanisasi

Teknologi ini umumnya digunakan pada skala industri kecil.

12

Teknologi mekanisasi yang biasanya dipakai antara lain: mesin


penggiling, mesin pengayak dan oven pengering.
Proses Produksi
Proses produksi gula aren dapat dibedakan atas:
1. Proses produksi gula cetak
2. Proses produksi gula semut
1. Proses produksi gula cetak
Proses produksi gula cetak dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
langsung dari nira aren atau dari gula semut reject. Proses produksi gula
cetak yang menggunakan nira aren biasanya hanya dilakukan di tingkat
pengrajin. Sedangkan, di tingkat industri, gula cetak diproduksi dari gula
semut reject yaitu gula semut yang menggumpal dan tidak lolos ayakan.
Meskipun demikian, secara garis besar proses produksinya tidak
ada

perbedaan.

Proses

produksi

dimulai

dari

penyadapan

pemasakan nira, pengadukan dan pencetakan gula aren

Gambar 1. Lodong diberi kapur sebelum dipakai

nira,

13

Penyadapan nira aren biasanya dilakukan dua kali sehari yaitu


pada pagi dan sore hari.

Sebelum menyadap, lodong atau bambu

penampung diberi sedikit air kapur pada dasarnya yang bertujuan untuk
mengurangi resiko rusaknya nira aren akibat pembiakan organisme mikro.
Nira hasil sadapan pagi disaring menggunakan ijuk dari pohon aren
kemudian dituang di kuali dan dimasak hingga matang agar menjadi gula
cetak setengah jadi kemudian disimpan. Tujuan memasak nira sebelum
disimpan adalah untuk menjaga daya tahan, karena nira aren mentah
hanya tahan 3 jam.

Gambar 2. Nira aren dimasak sambil diaduk

14

Gambar 3. Gula aren setelah pekat didinginkan

Nira yang disadap sore, kemudian dicampur dengan nira pagi yang
sudah dimasak untuk kemudian dimasak bersama. Dalam pemasakan
nira ini, juga perlu ditambahkan minyak goreng atau minyak kelapa
sebanyak 10 gram untuk tiap 25 liter nira. Pada proses memasak,
sesekali dilakukan pengadukan. Setelah memasuki fase jenuh yang
ditandai dengan terbentuknya buih, pengadukan dilakukan lebih sering
hingga nira aren

menjadi pekat.

Pada fase ini juga dilakukan

pembersihan dari buih dan kotoran halus. Kemudian gula aren dicetak di
dalam cetakan dari kayu. Sebelum digunakan, cetakan tersebut terlebih
dahulu dibersihkan dengan menggunakan air kapur dan merendamnya
dengan air bersih untuk memudahkan pelepasan gula aren nantinya.
Lama pemasakan nira aren hingga dicetak adalah 3-4 jam.

15

Gambar 3.4. Gula Aren Cetak


2. Proses produksi gula semut
Proses produksi gula semut hampir sama dengan gula cetak,
perbedaannya adalah gula aren semut proses pemasakan lebih lama
dibandingkan pada gula aren cetak. Setelah nira aren yang dimasak
berubah menjadi pekat, api kemudian dikecilkan. Setelah 10 menit, kuali
diangkat dari tungku dan dilakukan pengadukan secara perlahan sampai
terjadi pengkristalan.
Setelah terjadi pengkristalan, pengadukan dipercepat hingga
terbentuk serbuk kasar. Serbuk yang masih kasar inilah yang disebut
dengan gula aren semut setengah jadi dengan kadar air masih di atas
5%. Gula semut setengah jadi, kemudian dikirim kepada produsen gula
semut skala industri kecil di masing-masing sentra produksi.
Industri kecil gula aren semut yang terdapat di beberapa sentra
industri gula aren di Lebak menerima gula semut setengah jadi dari
pengrajin. Gula semut setengah jadi dari pengrajin terlebih dahulu digiling
dengan mesin penggiling untuk menghaluskan gula yang masih
menggumpal.

16

Gambar 3.5. Mesin Penggiling


Setelah penggilingan, gula aren semut diayak sesuai dengan
ukuran yang diinginkan. Ukuran yang umum dipakai adalah 10 mesh, 15
mesh dan paling halus 20 mesh dengan kadar air di bawah 3%.
Untuk memperoleh tiga tingkat kehalusan tersebut, gula yang
sudah digiling diayak dengan ayakan dari ukuran yang paling besar
terlebih dahulu, yaitu 10 mesh. Gula semut yang tidak lolos pada ayakan
ini, yang disebut dengan gula reject. Gula reject tersebutkemudian
dimasak kembali hingga meleleh dan mengental untuk dibentuk menjadi
gula cetak.
Gula semut hasil ayakan pertama, kemudian diayak kembali
dengan ayakan ukuran yang lebih kecil, demikian seterusnya hingga
ukuran ayakan yang terkecil. Jumlah produksi gula semut dengan tiga
jenis kehalusan ini disesuaikan dengan permintaan pasar.

17

Gambar 3.6. Gula Aren semut diayak berdasarkan ukuran kehalusan

Gambar 3.7. Gula Aren semut berdasarkan 3 jenis ukuran kehalusan

18

Selanjutnya, gula semut dengan tiga ukuran ayakan tersebut,


kemudian dijemur di bawah panas matahari hingga kadar airnya mencapai
di bawah 3%. Jika tidak ada sinar matahari, proses pengeringan dapat
dilakukan menggunakan alat pengering, misalnyanya oven pemanas.
Gula semut yang sudah kering kemudian dikemas dalam kemasan karung
untuk dikirim kepada industri makanan atau pedagang besar dengan
kemasan plastik untuk dipasarkan.
Secara garis besar alur proses produksi gula aren dapat dilihat
pada diagram di bawah ini:

Diagram 3.1. Diagram alur proses produksi gula aren cetak dan gula
semut oleh pengrajin

19

Diagram 3.2. Diagram alur proses produksi gula semut oleh sentra industri

Jumlah, Jenis, dan Mutu Produksi


Usaha gula aren menghasilkan dua jenis produk yaitu gula aren
cetak dan gula aren semut. Sedangkan untuk jumlah produksi, baik gula
aren cetak atau semut pada skala pengrajin adalah antara 2 10 kg per
hari. Sementara, pada skala industri kecil, produksi gula aren per hari
antara 200 2.000 kg. Jumlah produksi dipengaruhi oleh musim, dimana
saat musim hujan, jumlah nira aren yang dihasilkan lebih banyak
dibanding pada saat musim kemarau. Dengan demikian, hasil produksi
gula aren musim hujan lebih banyak dari musim kemarau. Tetapi dari sisi
kualitas, gula aren musim kemarau lebih baik daripada musim hujan. Hal
ini karena kadar air nira musim hujan lebih tinggi dari musim kemarau.

20

Mutu gula aren cetak ditentukan oleh tekstur, aroma dan warna.
Namun demikian, tidak ada perbedaan harga untuk perbedaan mutu
berdasarkan ketiga variabel tersebut baik di tingkat pengrajin maupun
industri kecil. Sedangkan, gula aren semut untuk memenuhi standar
industri merujuk pada standar tingkat kehalusan serbuk dan kadar air.
Kehalusan serbuk dibagi dalam 3 jenis ukuran, yaitu: 10 mesh, 15 mesh
dan paling halus 20 mesh dengan kadar air di bawah 3%. Tingkat
kehalusan serbuk gula semut inilah yang menentukan perbedaan harga.
Harga gula aren semut ukuran 20 mesh (terkecil) adalah yang paling
mahal.
Produksi Optimum
Hasil produksi gula aren di tingkat pengrajin ditentukan oleh musim
dan jumlah pohon aren yang dimiliki.

Rata-rata seorang pengrajin

memiliki 10 60 pohon, dimana hanya sepertiga atau sekitar 4 20


pohon diantaranya yang memproduksi nira. Sementara, sisanya pohon
masih muda atau belum berproduksi. Mengingat tidak adanya biaya
variabel di tingkat pengrajin gula aren (kayu bakar, minyak kelapa dan nira
aren diproduksi sendiri), maka semakin banyak produksi gula aren,
keuntungan yang didapat semakin besar.
Sedangkan hasil gula aren di tingkat industri kecil, produksi
optimum mencapai 2 ton per hari. Hal ini diperhitungkan dari besarnya
rata-rata permintaan pasar terhadap produk gula aren di Kabupaten
Lebak.
Produksi Optimum
Hasil produksi gula aren di tingkat pengrajin ditentukan oleh musim
dan jumlah pohon aren yang dimiliki.

Rata-rata seorang pengrajin

memiliki 10 60 pohon, dimana hanya sepertiga atau sekitar 4 20


pohon diantaranya yang memproduksi nira. Sementara, sisanya pohon

21

masih muda atau belum berproduksi. Mengingat tidak adanya biaya


variabel di tingkat pengrajin gula aren (kayu bakar, minyak kelapa dan nira
aren diproduksi sendiri), maka semakin banyak produksi gula aren,
keuntungan yang didapat semakin besar.
Sedangkan hasil gula aren di tingkat industri kecil, produksi
optimum mencapai 2 ton per hari. Hal ini diperhitungkan dari besarnya
rata-rata permintaan pasar terhadap produk gula aren di Kabupaten
Lebak.
Kendala Produksi
Kendala produksi yang dialami dalam usaha pembuatan gula aren
adalah fluktuasi jumlah nira aren yang dihasilkan dan harga. Fluktuasi ini
terjadi karena pengaruh musim. Pada saat musim hujan jumlah produksi
meningkat tetapi harga produk justru turun, sementara pada musim
kemarau terjadi sebaliknya.
Selain itu, pada tingkat industri kecil juga mengalami kendala
pengadaan peralatan produksi misalnya oven pengering. Oven ini sangat
dibutuhkan terutama pada musim pengujan, dimana produksi sedang
tinggi tetapi tidak ada panas matahari sebagai pengering.
Pemilihan Pola Usaha
Analisis keuangan ini diharapkan dapat memberikan gambaran
kepada pengusaha maupun pemerhati usaha gula aren terhadap nilai
tambah yang dihasilkan dalam kegiatan usaha ini. Pengusaha dipacu
untuk mampu mengembalikan kredit yang diberikan oleh bank dalam
jangka waktu yang wajar (3 tahun). Model kelayakan usaha ini
merupakan pengembangan usaha gula aren yang telah berjalan dan
untuk menumbuhkan kemandirian usaha serta upaya repliaksi usaha di
wilayah lain.

22

Pola pembiayaan yang dianalisis adalah usaha gula aren skala


industri kecil. Industri yang menjadi contoh adalah usaha gula aren yang
dimiliki oleh kelompok tani di desa Hariang, kecamatan Sobang,
kabupaten Lebak.
Produk utama yang dihasilkan adalah gula aren semut dengan
kadar air 3% dan produk sampingan adalah gula aren cetak yang berasal
dari gula aren semut yang tidak lolos pada saat pengayakan. Kapasitas
produksi per bulan adalah 12.500kg gula aren semut dan 1.250kg gula
aren cetak.
Asumsi
Asumsi dan parameter untuk analisis keuangan gula aren
menjelaskan gambaran umum variabel-variabel yang digunakan dalam
perhitungan analisis keuangan. Asumsi tersebut diambil berdasarkan
survei lapangan yang dilakukan terhadap industri terkait. Periode proyek
adalah lima tahun dimana tahun ke nol sebagai dasar perhitungan nilai
sekarang (present value) adalah tahun ketika biaya investasi awal
dikeluarkan. Dengan menggunakan mesin/peralatan dan jumlah tenaga
kerja seperti yang tercantum dalam tabel asumsi, seorang pengusaha
setiap bulan mampu memproduksi 12.500 kg gula aren semut dan 1.250
kg gula aren cetak dengan angka rendemen sebesar 92%. Harga gula
aren semut rata-rata di pasar lokal sebesar Rp 8.000,- per kg, dan gula
aren cetak Rp. 6000,- per kg. Hari kerja selama setahun sebanyak
diasumsikan 300 hari (25 hari per bulan).

23

Tabel 5.1. Asumsi dan Parameter Teknis untuk Analisa Keuangan

Komponen Biaya Investasi dan Biaya Operasional


1. Biaya Investasi

24

Biaya investasi adalah biaya tetap yang besarnya tidak dipengaruhi


oleh jumlah produk yang dihasilkan. Biaya investasi secara garis besar
terdiri dari 5 (lima) komponen, yaitu: biaya perizinan, sewa tanah dan
bangunan, peralatan produksi, peralatan lain, dan kendaraan carry.
Biaya perijinan meliputi SIUP, SITU, ijin usaha industri dan wajib
daftar perusahaan yang masa berlakunya 5 tahun, sementara untuk ijin
Depkes dan NPWP yang berlaku selamanya. Jumlah biaya perijinan total
mencapai Rp. 1.750.000,-. Sewa tanah dan bangunan dibayarkan
sekaligus selama masa proyek yaitu 5 tahun, karenanya setiap tahun
harus dikeluarkan biaya amortisasi untuk komponen sewa tanah ini. Pada
tahun-tahun tertentu dilakukan reinvestasi untuk pembelian mesin atau
peralatan produksi yang umur ekonomisnya kurang dari 5 tahun. Jumlah
biaya investasi keseluruhan pada tahun ke nol adalah Rp. 259.200.000,-.
Komponen biaya investasi berurutan dari yang terbesar adalah
sewa tanah dan bangunan yaitu 46,3% dari total biaya investasi pada
awal usaha, kemudian diikuti biaya kendaraan carry yaitu sebesar 27%,
peralatan produksi yaitu sebesar 25,7% dan sisanya 1% adalah untuk
investasi pembelian peralatan lain dan perijinan.

Kebutuhan biaya

investasi dapat dilihat pada tabel 5.2. Sedangkan, rincian biaya investasi
dapat dilihat pada lampiran 2.

25

Tabel 5.2. Kebutuhan Biaya Investasi

2. Biaya Operasional
Biaya operasional merupakan biaya variabel yang besar kecilnya
dipengaruhi oleh jumlah produksi. Komponen dari biaya operasional
adalah pengadaan bahan baku, bahan pendukung, biaya pemasaran,
biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik, serta biaya administrasi dan
umum. Biaya operasional selama satu tahun dihitung berdasarkan jumlah
hari untuk produksi gula aren. Jumlah hari kerja dalam setahun adalah
300 hari (asumsi yang digunakan adalah 25 hari kerja per bulan dan 12
bulan kerja dalam setahun).
Biaya operasional yang diperlukan selama satu tahun mencapai
Rp.1.107.017.500,-. Komponen biaya operasional berurutan dari yang
terbesar yaitu biaya bahan baku menyerap sebesar 81,3% dari total biaya
operasional per tahun, diikuti biaya overhead pabrik yaitu sebesar 13,2%
dan 5,5% sisanya adalah biaya bahan pendukung, pemasaran, tenaga
kerja serta administrasi dan umum.

26

Tenaga kerja yang digunakan adalah tenaga kerja tetap dan tidak tetap.
Tenaga kerja tetap terdiri dari seorang pimpinan dengan bayaran Rp.
2.000.000,- per bulan, 2 orang tenaga administrasi gaji masing-masing
Rp. 800.000,- per bulan. Sedangkan tenaga kerja tidak tetap adalah 3
orang yang masing-masing dibayar dengan upah sebesar Rp. 30.000,per hari. Jumlah biaya operasional untuk usaha gula aren disajikan pada
Tabel 5.3.
Tabel 5.3. Kebutuhan Biaya Operasional

Kebutuhan Dana Investasi dan Modal Kerja


Besarnya dana modal kerja ditentukan berdasarkan kebutuhan
dana awal untuk satu kali siklus produksi. Usaha produksi gula aren
mempunyai siklus produksi (dari pembuatan sampai memperoleh
penerimaan dari penjualan) kurang lebih selama 25 hari atau 1 bulan.
Sehingga kebutuhan dana modal kerja adalah:

27

Dengan demikian total kebutuhan biaya untuk modal awal usaha


gula aren sebesar Rp. 351.451.458,- yang terdiri dari biaya investasi
sebesar Rp. 259.200.000,- dan modal kerja awal untuk 1 siklus produksi
gula aren (1 bulan/25 hari) yaitu sebesar Rp. 92.251.458,-. Kebutuhan
dana investasi maupun modal kerja tidak harus dipenuhi sendiri. Salah
satu sumber dana yang dapat dimanfaatkan adalah dana kredit dari
perbankan.
Diproyeksikan sebesar Rp.210.000.000,- kebutuhan biaya tersebut
diperoleh dari kredit bank dan sisanya dari modal sendiri. Kredit bank
tersebut dialokasikan untuk biaya investasi sebesar Rp.150.000.000,- dan
biaya modal kerja yaitu: Rp 60.000.000,-. Jangka waktu kredit untuk
investasi adalah tiga tahun, sedangkan untuk modal kerja satu tahun.
Tingkat

suku

bunga

diberlakukan

sama

sesuai

dengan

bunga

pasar/komersial yaitu 18% per tahun tanpa masa tenggang. Sistem


perhitungan bunga secara efektif menurun. Kebutuhan dana usaha gula
aren selengkapnya dapat ditampilkan pada Tabel 5.4.

28

Tabel 5.4. Kebutuhan Dana Investasi dan Modal Kerja Usaha Gula Aren

Sumber: Hasil Simulasi BI.


Pembayaran angsuran baik untuk kredit investasi maupun kredit modal
kerja dilakukan setiap tahun.
Perhitungan Angsuran Kredit
Pembayaran Angsuran Kredit Investasi
Nilai Kredit Investasi (Rp) 150,000,000
Jangka waktu kredit (bulan) 36
Bunga per tahun (%) 18
Jumlah angsuran per bulan menurun
Angsuran Angsuran Total Saldo Saldo
Bulan
Pokok Bunga Angsuran Awal Akhir
Thn 1
1 4,166,667 2,250,000 6,416,667 150,000,000 145,833,333
2 4,166,667 2,187,500 6,354,167 145,833,333 141,666,667
3 4,166,667 2,125,000 6,291,667 141,666,667 137,500,000
4 4,166,667 2,062,500 6,229,167 137,500,000 133,333,333
5 4,166,667 2,000,000 6,166,667 133,333,333 129,166,667

29

6 4,166,667 1,937,500 6,104,167 129,166,667 125,000,000


7 4,166,667 1,875,000 6,041,667 125,000,000 120,833,333
8 4,166,667 1,812,500 5,979,167 120,833,333 116,666,667
9 4,166,667 1,750,000 5,916,667 116,666,667 112,500,000
10 4,166,667 1,687,500 5,854,167 112,500,000 108,333,333
11 4,166,667 1,625,000 5,791,667 108,333,333 104,166,667
12 4,166,667 1,562,500 5,729,167 104,166,667 100,000,000
50,000,000 22,875,000 72,875,000
1 4,166,667 1,500,000 5,666,667 100,000,000 95,833,333
2 4,166,667 1,437,500 5,604,167 95,833,333 91,666,667
3 4,166,667 1,375,000 5,541,667 91,666,667 87,500,000
4 4,166,667 1,312,500 5,479,167 87,500,000 83,333,333
5 4,166,667 1,250,000 5,416,667 83,333,333 79,166,667
6 4,166,667 1,187,500 5,354,167 79,166,667 75,000,000
7 4,166,667 1,125,000 5,291,667 75,000,000 70,833,333
8 4,166,667 1,062,500 5,229,167 70,833,333 66,666,667
9 4,166,667 1,000,000 5,166,667 66,666,667 62,500,000
10 4,166,667 937,500 5,104,167 62,500,000 58,333,333
11 4,166,667 875,000 5,041,667 58,333,333 54,166,667
12 4,166,667 812,500 4,979,167 54,166,667 50,000,000
50,000,000 13,875,000 63,875,000
1 4,166,667 750,000 4,916,667 50,000,000 45,833,333
2 4,166,667 687,500 4,854,167 45,833,333 41,666,667
3 4,166,667 625,000 4,791,667 41,666,667 37,500,000
4 4,166,667 562,500 4,729,167 37,500,000 33,333,333
5 4,166,667 500,000 4,666,667 33,333,333 29,166,667

30

Kebutuhan Dana Untuk Investasi dan Modal Kerja


No Rincian Biaya Proyek Total Biaya
1 Dana investasi yang bersumber dari
a. Kredit 150,000,000
b. Dana sendiri 109,200,000
Jumlah dana investasi 259,200,000
2 Dana modal kerja yang bersumber dari
a. Kredit 60,000,000
b. Dana sendiri 32,251,458
Jumlah dana modal kerja 92,251,458
3 Total dana proyek yang bersumber dari
a. Kredit 210,000,000
b. Dana sendiri 141,451,458
Jumlah dana proyek 351,451,458

Proyeksi Produksi dan Pendapatan


Berdasarkan asumsi-asumsi di atas, maka kapasitas produksi
usaha gula aren selama satu tahun adalah 150.000kg gula aren semut
dan 15.000/kg untuk gula aren cetak. Harga jual gula aren semut ratarata sebesar Rp. 8.000,-/kg, sedangkan untuk gula aren cetak Rp.
6.000,-/kg. Dengan demikian, pendapatan yang dihasilkan dari produksi
gula aren semut adalah Rp. 1.200.000.000,-. dan gula aren cetak sebesar
Rp. 90.000.000,- atau totalnya (kotor) mencapai Rp 1.290.000.000 per
tahun. Perhitungan produksi dan pendapatan dapat dilihat pada Tabel 5.5.
Tabel 5.5. Proyeksi Produksi dan Penjualan Gula Aren

No Uraian
1

Jenis Produk

Satuan

Produksi

Produksi

Harga

Nilai

kg/bulan

kg/tahun

Rp/kg

Rp/thn

31

Gula Cetak

Kg

1,250

15,000

6,000

90,000,000

Gula Semut

Kg

12,500

150,000

8,000

1,200,000,000

Total Pendapatan Kotor Per Tahun

1,290,000,000

Sumber: Hasil Simulasi BI.

Proyeksi Rugi Laba dan BEP


Tingkat keuntungan atau profitabilitas dari usaha yang dilakukan
merupakan bagian penting dalam analisis keuangan dari rencana kegiatan
investasi.

Keuntungan dihitung dari selisih antara penerimaan dan

pengeluaran tiap tahunnya. Tabel pada 5.6. (lampiran di bawah ini


menunjukkan keuntungan (surplus) selama periode proyek.
Tabel 5.6. Proyeksi Laba Rugi

Sumber: Hasil Simulasi BI.

Perhitungan proyeksi laba rugi menunjukkan bahwa pada tahun


pertama usaha saja, telah menghasilkan keuntungan sebesar Rp
93.812.250,-. Laba ini meningkat pada tahun berikutnya karena makin
berkurangnya beban angsuran bunga dan mencapai puncaknya ketika
kredit lunas setalah tahun ke tiga. Laba rata-rata selama periode proyek

32

mencapai Rp 107.273.250,- per tahun dengan profit margin rata-rata per


tahun sebesar 8,32%.
Dengan mempertimbangkan biaya tetap, biaya variabel dan hasil
penjualan gula aren, maka diperoleh BEP rata-rata selama 5 tahun untuk
usaha ini adalah sebesar Rp. 840.680.710,-. Nilai ini sama dengan jumlah
BEP rata-rata produksi sebesar 97.754 kg gula aren semut dan 9.775 kg
gula aren cetak tiap tahunnya.
Proyeksi Arus Kas dan Kelayakan Proyek
Untuk aliran kas (cash flow) dalam perhitungan ini dibagi dalam dua
aliran, yaitu arus masuk (cash inflow) dan arus keluar (cash outflow). Arus
masuk diperoleh dari penjualan produk gula aren semut dan gula aren
cetak selama satu tahun, dimana asumsi kapasitas usaha berpengaruh
pada besarnya volume produksi yang akan menentukan nilai total
penjualan, sehingga arus masuk menjadi optimal. Untuk arus keluar
meliputi biaya investasi, biaya modal kerja, biaya operasional termasuk
angsuran pokok, angsuran bunga.dan pajak penghasilan.
Untuk

penghitungan

kelayakan

rencana

investasi

dapat

menggunakan beberapa metode, diantaranya adalah penilaian B/C ratio,


Net B/C ratio, Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan
Pay Back Period (PBP). Sebuah usaha berdasarkan kriteria investasi di
atas dikatakan layak jika B/C ratio atau Net B/C ratio > 1, NPV > 0 dan
IRR > discount rate.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa usaha gula aren ini
menguntungkan karena pada discount factor 18% per tahun net B/C ratio
sebesar 1,49 (> 1) dan NPV sebesar Rp. 171.023.442,- (> 0). Dengan
nilai IRR 37,75% (> discount rate) artinya proyek ini masih layak dilakukan
sampai pada tingkat suku bunga sebesar 37,75% per tahun. Perhitungan
kelayakan ditampilkan pada Table 5.7.

33

Pada Tabel 5.7 juga dapat diketahui bahwa jangka waktu


pengembalian seluruh biaya investasi/PBP (usaha) adalah 2 tahun 11
bulan. Dengan demikian usaha ini layak dilaksanakan karena jangka
waktu pengembalian investasi lebih kecil dari periode proyek yaitu 5
tahun. Berdasarkan perhitungan di atas maka dapat disimpulkan bahwa
usaha gula aren Layak dan Menguntungkan.
Tabel 5.7. Analisa Kelayakan Usaha

Sumber: Hasil Simulasi BI.

Analisis Sensitivitas
Dalam suatu analisis kelayakan suatu proyek, biaya produksi dan
pendapatan biasanya akan dijadikan patokan dalam mengukur kelayakan
usaha karena kedua hal tersebut merupakan komponen inti dalam suatu
kegiatan usaha, terlebih lagi bahwa komponen biaya produksi dan

34

pendapatan juga didasarkan pada asumsi dan proyeksi sehingga memiliki


tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi. Untuk mengurangi resiko ini
maka diperlukan analisis sensitivitas yang digunakan untuk menguji
tingkat sensitivitas proyek/usaha terhadap perubahan harga input maupun
output. Dalam pola pembiayaan ini digunakan tiga skenario sensitivitas,
yaitu:
1. Skenario

Pendapatan proyek mengalami penurunan sedangkan biaya


investasi dan biaya operasional dianggap tetap. Penurunan
pendapatan bisa diakibatkan oleh penurunan harga gula aren,
jumlah permintaan yang menurun ataupun jumlah produksi yang
menurun.
2. Skenario

II

Biaya operasional mengalami kenaikan sedangkan biaya investasi


dan

penerimaan

proyek

investasi

tetap.

Kenaikan

biaya

operasional bisa terjadi karena kenaikan harga input untuk


operasional seperti bahan baku, peralatan operasional, dll.
3. Skenario

III

Skenario ini merupakan gabungan dari skenario I dan skenario II


yaitu diasumsikan penerimaan proyek mengalami penurunan dan
biaya operasional mengalami kenaikan, sedangkan biaya investasi
tetap.
Pada skenario I, dengan penurunan pendapatan usaha sebesar
6%, usaha gula aren ini masih layak dilaksanakan. Hal ini berdasarkan
hasil perhitungan sejumlah kriteria kelayakan investasi (pada discount rate
18%) sebagai berikut: net B/C sebesar 1,12 (> 1), NPV sebesar Rp.
35.062.924,- (> 0), nilai IRR 23,01% (> discount rate), PBP (usaha) adalah
4 tahun 5 (< periode proyek).

35

Saat pendapatan usaha turun sebesar 7%, usaha gula aren ini
sudah tidak layak dilaksanakan. Hal ini berdasarkan hasil perhitungan
sejumlah kriteria kelayakan investasi (pada discount rate 18%) sebagai
berikut: NPV Rp1.194.644,-, nilai IRR 18,17% (> discount rate), PBP
(usaha) adalah 4 tahun 11 bulan (< periode proyek), tetapi net B/C
sebesar 1,00 (= 1) sehingga tidak layak untuk diusahakan.
Tabel 5.8. Analisa kelayakan usaha saat pendapatan turun 6%

IRR (%)
PBP (usaha)-tahun
PBP (kredit)
DF
PV Benefit
PV Cost
B/C Ratio
NPV
NetB/C Ratio
Cash Flow (+)
Cash Flow (-)
Net B/C ratio

23.01
4.41
2.75
18%
3,807,677,945
3,772,615,021
1.01
35,062,924
326,514,382
(291,451,458)
1.12

Sumber: Hasil Simulasi BI.

Tabel 5.9. Analisa kelayakan usaha saat pendapatan turun 7%

IRR (%)
PBP (usaha)-tahun
PBP (kredit)
DF
PV Benefit
PV Cost
B/C Ratio
NPV

18.17
4.98
3.11
18%
3,767,337,439
3,766,142,795
1.00
1,194,644

36

NetB/C Ratio
Cash Flow (+)
Cash Flow (-)
Net B/C ratio

292,646,103
(291,451,458)
1.00

Sumber: Hasil Simulasi BI.


Pada skenario II, dengan kenaikan biaya operasional sebesar 7%,
usaha gula aren ini masih layak dilaksanakan. Hal ini berdasarkan hasil
perhitungan sejumlah kriteria kelayakan investasi (pada discount rate
18%) sebagai berikut: net B/C sebesar 1,12 (> 1), NPV sebesar Rp.
36.374.413,- (> 0), nilai IRR 23,21% (> discount rate), PBP (usaha) adalah
4 tahun 5 bulan (< periode proyek).
Ketika kenaikan biaya operasional mencapai 9% maka usaha ini
sudah tidak layak dilaksanakan. Hal ini berdasarkan hasil perhitungan
sejumlah kriteria kelayakan investasi (pada discount rate 18%) sebagai
berikut: net B/C sebesar 0,92 (< 1), NPV negatif, dan nilai IRR 14,42% (<
discount rate). Selain itu PBP (usaha) lebih besar dari periode proyek
yaitu 5 tahun.

Tabel 5.10. Analisa kelayakan usaha saat biaya operasional naik 7%

IRR (%)
PBP (usaha) tahun
PBP (kredit)
DF
PV Benefit
PV Cost
B/C Ratio
NPV

23.21
4.38
2.73
18%
4,049,720,982
4,013,346,570
1.01
36,374,413

37

NetB/C Ratio
Cash Flow (+)
Cash Flow (-)
Net B/C ratio
Sumber: Hasil Simulasi BI.

327,825,871
(291,451,458)
1.12

Tabel 5.11. Analisa kelayakan usaha saat biaya operasional naik 9%


IRR (%)
PBP (usaha) - tahun
PBP (kredit)
DF
PV Benefit
PV Cost
B/C Ratio
NPV
NetB/C Ratio
Cash Flow (+)
Cash Flow (-)
Net B/C ratio
Sumber: Hasil Simulasi BI.

14.42
> dari 5 tahun
3.46
18%
4,049,720,982
4,074,061,050
0.99
-24,340,067
267,111,391
(291,451,458)
0.92

Pada skenario III, pada saat terjadi penurunan pendapatan


sekaligus kenaikan biaya operasional masing-masing sebesar 3%, usaha
gula aren ini masih layak dilaksanakan.

Hal ini berdasarkan hasil

perhitungan sejumlah kriteria kelayakan investasi (pada discount rate


18%) sebagai berikut: net B/C sebesar 1,18 (> 1), NPV sebesar Rp.
51.991.231,- (> 0), nilai IRR 25,41% (> discount rate), PBP (usaha) adalah
4 tahun 2 bulan (< periode proyek).
Tabel 5.12. Analisa kelayakan usaha saat pendapatan turun 3% dan
biaya operasional naik 3%
IRR (%)

25.41

38

PBP (usaha) tahun


PBP (kredit)
DF
PV Benefit
PV Cost
B/C Ratio
NPV
NetB/C Ratio
Cash Flow (+)
Cash Flow (-)
Net B/C ratio
Sumber: Hasil Simulasi BI.

4.15
2.58
18%
3,928,699,464
3,876,708,233
1.01
51,991,231
343,442,689
(291,451,458)
1.18

Hasil analisis sensitivitas di atas menunjukkan bahwa proyek ini


lebih sensitif terhadap penurunan pendapatan dibandingkan kenaikan
biaya

operasional.

Dengan

memperhatikan

kriteria

jangka

waktu

pengembalian investasi (pay back period usaha), proyek ini sensitif pada
penurunan pendapatan sebesar 6%, artinya jika penurunan pendapatan
lebih besar dari 6% tiap tahunnya proyek ini menjadi tidak layak/merugi.
Sedangkan jika dilihat dari perubahan biaya operasional, proyek ini
sensitif pada kenaikan biaya operasional sebesar 7% dengan asumsi
biaya investasi dan pendapatan tetap.

Artinya jika kenaikan biaya

operasional lebih besar dari 7% tiap tahun, proyek ini menjadi tidak
layak/merugi. Analisis sensitivitas gabungan menunjukkan bahwa proyek
ini sensitif pada kondisi terjadi penurunan pendapatan sekaligus kenaikan
biaya operasional masing-masing sebesar 3%.
ASPEK SOSIAL EKONOMI
Dampak ekonomi dan sosial dari kegiatan produksi gula aren
antara lain sebagai berikut:
1. Menyediakan lapangan kerja bagi penduduk di sekitar sentra
produksi gula aren.

39

2. Meningkatkan nilai tambah yang dihasilkan dan diperoleh pengrajin


dan pengusaha gula aren.
3. Meningkatkan optimalisasi pemanfaatan potensi daerah penghasil
gula aren.
4. Meningkatkan devisa negara melalui ekspor produk gula aren ke
luar negeri.
Mendorong adanya penelitian dan pengembangan teknologi produksi gula
aren secara berkesinambungan

ASPEK DAMPAK LINGKUNGAN


Usaha produksi gula aren tidak menimbulkan dampak negatif bagi
lingkungan, bahkan menciptakan manfaat bagi lingkungan karena:
1. Tidak ada limbah berbahaya yang dihasilkan oleh industri gula
aren.
2. Perakaran pohon aren sangatlah dalam, sehingga membantu
mengangkat unsur hara dari tanah yang dalam ke permukaan yang
berakibat pada semakin suburnya tanah disekitarnya. Itulah
sebabnya di sekitar pohon aren, para pengrajin dapat melakukan
kegiatan bercocok tanam secara tumpang sari untuk menambah
penghasilan.

Rangkuman
1. Industri kecil gula aren dilakukan secara kelompok oleh masyarakat
pengrajin di desa Hariang, kecamatan Sobang, kabupaten Lebak
merupakan sumber pendapatan keluarga bagi masyarakat.

40

2. Permintaan

dan

penawaran

gula

aren

di

pasar

sangat

fluktuatif.Permintaan sangat tinggi pada saat menjelang bulan


Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Sedangkan penawaran
bergantung pada curah hujan. Saat musim kemarau, air nira yang
dihasilkan sangat sedikit sehingga gula aren yang diproduksi
jumlahnya kecil, dan sebaliknya di saat musim penghujan.
3. Daerah yang memiliki banyak pohon aren umumnya menjadi lokasi
sentra produksi gula aren baik gula aren cetak maupun gula aren
semut. Hal ini karena setelah diambil, nira hasil sadapan harus
segera diolah. Mengingat daya tahan nira aren setelah disadap
hanya 3 jam sebelum menjadi asam akibat proses fermentasi.
4. Terkait dengan replikasi usaha di wilayah lain, sepanjang tersedia
bahan baku pohon aren maka usaha gula aren dapat dilakukan. Ini
mengingat, usaha gula aren relatif tidak membutuhkan tenaga kerja
yang memiliki keterampilan khusus, peralatan yang digunakan
sederhana dan hanya membutuhkan modal kecil atau tidak sama
sekali jika masyarakat mempunyai bahan bakunya sendiri.
5. Berdasarkan analisis kelayakan finansial terhadap usaha produksi
gula aren pada tingkat discount rate 15%, diperoleh NPV sebesar
Rp. 184.993.036,- (> 0), net B/C ratio sebesar 1,53 (> 1) dan nilai
IRR 35,25% (> discount rate). Hasil perhitungan kelayakan usaha
tersebut menunjukkan bahwa usaha pengolahan gula aren ini layak
dilaksanakan.
6. Analisis sensitivitas terhadap perubahan penerimaan menunjukkan
bahwa proyek ini sensitif terhadap penurunan pendapatan di atas
7% dan kenaikan biaya operasional di atas 8%. Analisis sensitivitas
terhadap

perubahan

pendapatan

sekaligus

kenaikan

biaya

operasional menunjukkan bahwa proyek ini sensitif terhadap


penurunan pendapatan sekaligus kenaikan biaya operasional
masing-masing sebesar 3%.

41

Saran pengembangan
1. Investasi peralatan dibutuhkan baik untuk peningkatan kapasitas
produksi maupun untuk perbaikan kualitas produk gula aren. Hal ini
mengingat peluang pasar domestik maupun ekspor masih sangat
terbuka dan sejauh ini belum optimal mampu dimanfaatkan oleh
pelaku usaha gula aren.
2. Pembiayaan

dari lembaga

keuangan

formal

(bank) sangat

dibutuhkan untuk pengadaan alat-alat baik untuk perbaikan mesin


maupun pembeliaan mesin baru. Guna memotivasi pelaku usaha
untuk mengakses kredit dari perbankan maka perlu ada skim
pembiayaan yang dapat mengakomodir siklus produksi dan nature
of business gula aren.
3. Untuk

meningkatkan

dihasilkan,

maka

dan

memperbaiki

pengusaha

perlu

mutu
lebih

produk

yang

memperdalam

pengetahuan mengenai teknik produksi, teknologi, dan informasi


mengenai produksi gula aren yang efektif dan higienis.
4. Untuk meningkatkan produksi, perlu diadakan pembudidayaan bibit
gula aren secara intensif untuk menggantikan pohon aren yang
sudah tidak produktif lagi. Selain itu perlu adanya transfer teknologi
pengolahan gula aren cetak dan semut melalui pelatihan dan
penyuluhan secara berkala dan pengenalan teknologi tepat guna
sehingga lebih efisien.
5. Untuk

memperbaiki

pola

pemasaran,

pengusaha

sebaiknya

mendapat pelatihan mengenai strategi pemasaran yang baik untuk


meningkatkan penjualan produknya dan mendapatkan harga yang
baik.