Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

PERSILANGAN PADA TANAMAN JAGUNG

Disusun oleh:
Listya Dwi Anggarsari
Aldila Kemas Agusta
Ainun Nasikah
Nia Umi Nuzullaila
Ajeng Sulistyowati
Deliya Minianur

(13304241002)
(13304241007)
(13304241008)
(13304241017)
(13304241021)
(13304241023)

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
MARET 2015

PERSILANGAN PADA TANAMAN JAGUNG


A. TUJUAN
Mempelajari penyimpangan ratio fenotip yang disebabkan oleh adanya interaksi diantara
gen
B. LATAR BELAKANG
Dalam genetika, chi-square (chi kuadrat) sering kali digunakan untuk menguji apakah
data yang diperoleh dari suatu percobaan itu sesuai dengan ratio yang kita harapkan atau
tidak. Di dalam suatu percobaan jarang sekali kita memperoleh data yang sesuai dengan
yang kita harapkan (secara teoritis). Hampir selalu terjadi penyimpangan. Penyimpangan
yang kecil relatif lebih dapat diterima daripada penyimpangan yang besar. Selain itu,
apabila penyimpangan tersebut semakin sering terjadinya dapat dikatakan semakin
normal dan cenderung lebih dapat diterima daripada penyimpangan yang jarang terjadi.
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah seberapa besar penyimpangan itu dapat
diterima dan seberapa sering terjadinya atau berapa besar peluang terjadinya, dan
jawabannya dapat dicari dengan uji X2. Rumus X2 adalah :
2
OE

O (Observed) adalah hasil pengamatan, sedangkan E (Expected) adalah data yang


diharapkan secara teoritis, dan jumlah dari nilai X2 untuk setiap kategori.
Semakin kecil nilai X2 menunjukan bahwa data yang diamati semakin tipis
perbedaannya dengan yang diharapkan. Sebaliknya semakin besar X 2 menunjuka semakin
besar pula penyimpangannya. Batas penyimpangan yang diterima atau besar peluang
terjadinya nilai penyimpangan yang dapat diterima hanya satu kali dalam 20 percobaan
(peluang 1/20 = 0,05) maka pada P = 0,05 adalah atau ditolaknya data percobaan.

C. TINJAUAN PUSTAKA
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu serealia yang strategis dan bernilai
ekonomis karena kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat dan protein setelah
beras. Hampir seluruh bagian tanaman jagung dapat dimanfaatkan untuk berbagai
macam keperluan yaitu pakan ternak, pupuk hijau atau kompos, kertas, bahan baku

farmasi, perekat, tekstil, minyak goreng, etanol (Purwanto, 2008). Jagung juga
merupakan tanaman penting dalam teknologi biopharming yaitu bercocok tanam
tanaman transgenik yang menghasilkan bahan-bahan yang memiliki fungsi kesehatan
(pharmaceutical products) seperti obat-obatan, antibodi dan protein (Elbehri, 2005).
Komposisi genetik populasi jagung hasil persilangan dapat diketahui dengan
memanfaatkan informasi genetik dari gen-gen pengendali warna bulir untuk
memprediksi komposisi harapan pada generasi hasil persilangannya. Pewarisan
informasi genetik dapat dipelajari lewat Hukum Mendel yang menyatakan bahwa alel
akan memisah (segregasi) satu dengan yang lainnya selama pembentukan gamet dan
diwariskan secara rambang ke dalam gamet-gamet dengan jumlah yang sama (Crowder,
2006).
Warna ungu, merah dan kuning pada bulir jagung dihasilkan dengan adanya sintesis
pigmen yaitu dari kelompok antosianin (pigmen ungu dan merah) atau karotenoid
(pigmen kuning). Warna putih pada bulir dihasilkan karena ketiadaaan pigmen dari
kelompok antosianin dan karotenoid (Ford, 2000).
Sintesis pigmen pada bulir jagung memerlukan peranan beberapa gen yaitu gen
struktural (structural gene) yang berfungsi untuk mengkode enzim yang berperan dalam
sintesis pigmen dan gen regulator (regulatory gene) yang berfungsi sebagai aktivator
transkripsi dan mengkode protein yang mengontrol transkripsi dari gen struktural (Ford,
2000). Gen regulator dapat menghasilkan sebuah produk yang mengontrol transkripsi
gen lainnya dan mengaktifkan sintesis pigmen antosianin oleh gen struktural (Klug et.
al., 1997).
Kempton (1919) mengasumsikan bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi produksi
warna pada aleuron bulir jagung. Faktor utama yaitu gen C penting dalam menghasilkan
warna bulir, faktor penentu warna merah yaitu gen R dimana adanya interaksi dengan
gen C akan menghasilkan bulir warna merah dan faktor penentu warna ungu yaitu gen
Pr. Warna ungu akan terlihat pada bulir jagung saat terdapat gen C dan R.
Menurut Sharma et. al. (2011), genotipe warna ungu dan merah yang seharusnya ada
pada bulir jagung adalah Pr/-, C1/-, R1/-, dan pr/pr, C1/-, R1/-. Bulir jagung tampak tak
berwarna dengan adanya alel c1/c1 atau r1/r1. Adanya gen yang berperan dalam
pembentukan warna bulir jagung juga telah dijelaskan oleh Ford (2000).
Gen-gen tersebut adalah gen Pr, C, R dan Y yang oleh ahli genetika jagung disebut
sebagai color gene. Untuk aleuron yang berwarna, alel C dan R harus hadir. Alel
homozigot resesif (c/c atau r/r) mengganggu produksi antosianin dan menghasilkan
aleuron yang tak berwarna. Alel CI (C1-I) menghambat produksi antosianin, sehingga
menghasilkan aleuron yang tak berwarna. Gen C dan R terletak pada kromosom yang

terpisah dan bersegregasi secara bebas. Alel Pr berinteraksi dengan alel C dan R untuk
menghasilkan aleuron ungu. Kondisi homozigot resesif (pr/pr) berinteraksi dengan alel
C dan R menghasilkan aleuron merah. Semua kombinasi faktor di luar interaksi dengan
C dan R menyebabkan aleuron tidak berwarna sehingga warna bulir yang tampak berasal
dari adanya gen Y atau y yaitu berwarna kuning atau putih (East, 1912).
Perbedaan warna yang terlihat pada bulir jagung disebabkan karena adanya interaksi
antara gen struktural (Pr/pr dan Y/y) dengan gen regulator (C/c dan R/r). Pada saat gen
regulator aktif (C- dan R-), gen Pr mengkode enzim flavonoid 3-hydroxylase yaitu
enzim yang berperan dalam produksi sianidin glikosida (cyanidin-glicoside) atau pigmen
ungu pada jalur sintesis antosianin (Donner et. al., 1991). Gen pr/pr menyebabkan tidak
adanya enzim flavonoid 3-hydroxylase sehingga warna bulir menjadi merah karena
diproduksinya pigmen merah atau pelargonidin glikosida (pelargonidin glycoside). Pada
saat gen regulator tidak aktif, gen struktural lainnya yaitu gen Y mengkode enzim
phytoene synthetase yaitu sebuah enzim yang diperlukan pada jalur sintesis karotenoid
sehingga menghasilkan warna kuning pada bulir jagung.
Dalam hukum Mendel I yang dikenal dengan The Law of Segretation of Allelic Genes
atau Hukum Pemisahan Gen yang Sealel dinyatakan bahwa dalam pembentukan gamet,
pasangan alel akan memisah secara bebas. Peristiwa pemisahan ini terlihat ketika
pembetukan gamet individu yang memiliki genotip heterozigot, sehingga tiap gamet
mengandung salah satu alel tersebut. Hal ini disebut juga hukum segregasi yang
berdasarkan percobaan persilangan dua individu yang mempunyai satu karakter yang
berbeda. Berdasarkan hal ini, persilangan dengan satu sifat beda akan menghasilkan
perbandingan fenotip keturunan F2 3 : 1. Namun kadang-kadang individu hasil
perkawinan tidak didominasi oleh salah satu induknya. Dengan kata lain, sifat dominasi
tidak muncul secara penuh. Peristiwa ini menunjukkan adanya sifat intermediet. Hukum
Mendel I dikaji dari persilangan monohybrid (satu sifat beda) (Syamsuri, 2004).
Dalam hukum Mendel II atau dikenal dengan The Law of Independent assortmen of
genes atau Hukum Pengelompokan Gen Secara Bebas dinyatakan bahwa selama
pembentukan gamet, gen-gen sealel akan memisah secara bebas dan mengelompok
dengan gen lain yang bukan alelnya. Pembuktian hukum ini dipakai pada dihibrid atau
polihibrid, yaitu persilangan dari 2 individu yang memiliki satu ataulebih karakter yang
berbeda. Persilangan dihibrid akan menghasilkan keturunan F2 dengan perbandingan
9:3:3:1 (Campbell, 2010).
Perbandingan fenotip yang ditemukan dalam persilangan monohybrid maupun
dihibrid tidak sepenuhnya merupakan perbandingan yang pasti. Dalam kejadian nyata

terdapat penyimpangan atau deviasi. Perbandingan hasil persilangan di dalam kenyataan


berbeda atau memiliki selisih dengan perhitungan. Maka dari itu perlu diadakan evaluasi.
Cara evaluasi tersebut adalah dengan mengadakan chi-square test ( 2) (Suryo, 1990).
Suatu uji yang dapat mengubah deviasi-deviasi dan nilai-nilai yang diharapkan
menjadi probabilitas dari perbedaan yang terjadi oleh peluang diperlukan adanya
evaluasi hipotesis genetik. Uji ini harus memperhatikan besarnya sampel dan jumlah
peuba (derajat bebas). Uji ini dikenal dengan dengan uji X2 (Chi-Square Test) Metode
Khi-Kuadrat (Chi-Square Test) adalah suatu uji nyata yang menentukan apakah hasil
observasi menyimpang dari nisbah yang diharapkan, secara kebetulan atau tidak. Uji ini
dilakukan karena seringkali

percobaan persilangan yang dilakukan menghasilkan

keturunan yang tidak sesuai dengan hukum Menedel. Uji Khi-Kuadrat (dilambangkan
dengan "2" dari huruf Yunani "Chi" dilafalkan "Kai") digunakan untuk menguji dua
kelompok data baik variabel independen maupun dependennya berbentuk kategorik atau
dapat juga dikatakan sebagai uji proporsi untuk dua peristiwa atau lebih, sehingga
datanya bersifat diskrit. Misalnya ingin mengetahui hubungan antara status gizi ibu (baik
atau kurang) dengan kejadian BBLR (ya atau tidak) (Sabri,2008).
Tujuan dari Chi square (x2) adalah untuk mengetahui apakah data yang didapat dari
hasil pengamatan sesuai dengan nilai atau nilai ekspektasinya yang juga dapat diartikan
bahwa hasil observassinya sesuai dengan model atau teori. Ukuran seberapa besar
deviasi tersebut dituliskan dalam formula atau rumus berikut :
i
OiE

2
X =

Oi

= Jumlah individu yang diamati pada fenotipe ke-i

Ei

= Jumlah individu yang diharapkan atau secara teoritis pada fenotipe ke-i

= Total dari semua kemungkinan nilai (Oi-Ei)2/Ei untuk keseluruhan fenotipe

D. METODE PERCOBAAN
1. Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 24 Maret 2015 pukul 13.0014.30 WIB. Percobaan ini bertempat di Laboratorium Zoologi Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta.
2. Alat dan Bahan
a. Jagung warna-warni
b. Alat tulis
3. Cara kerja
Kelompok mendapatkan lembaran tentang perhitungan persilangan pada
tanaman jagung
Menghitung dan mencoba latihan soal pada lembaran tentang perhitungan
persilangan pada tanaman jagung
Menguji hasil percobaan dan perhitungan dengan test X2 untuk mengetahui
apakah hasil pengamatan yang diperoleh sesuai dengan ratio fenotip yang
diharapkan

E. HASIL DAN PEMBAHASAN


Perbandingan fenotip yang ditemukan dalam persilangan monohybrid maupun
dihibrid tidak sepenuhnya merupakan perbandingan yang pasti. Dalam kejadian nyata
terdapat penyimpangan atau deviasi. Perbandingan hasil persilangan di dalam kenyataan

berbeda atau memiliki selisih dengan perhitungan. Maka dari itu perlu diadakan evaluasi.
Cara evaluasi tersebut adalah dengan mengadakan chi-square test ( 2) (Suryo, 1990).
1. Buah pada tongkol jagung monohibrid 439 ungu (A_) , 169 putih (aa)
Hipotesis:
Ratio Monohibrid= 3:1
Fenotip
Ungu (3)

Genotip
A_

Obsevasi (o)
439

E
3/4x608=

d = o-E
17

Putih (1)

aa

169

456
1/4x608=

d2 / E
289/456=
0,63

-17

608

152
608

289/152=
1,9

Jumlah

2,53

X2 = d2 /E = 2,53
df = 1
p= 0,3 - 0,1
P> 0,05, h0= diterima
Pada tongkol jagung terdapat 439 buah berwarna ungu dan 169 buah berwarna
putih, dengan rasio fenotip ungu : putih (3:1), karena sesuai dengan hipotesis rasio
monohybridnya. Setelah dianalisis menggunakan uji chi square diperoleh harga x 2
sebesar 2,53 . Derajad bebasnya (df) 1 ,diperoleh dari df = n-1 , dimana n adalah
jumlah fenotip yang diamati. Pada table chi square dengan df =1 dan x2=2,53
diperolel p sekitar 0,3 0,1 . P > 0,05 ,sehingga h 0 = diterima . Jadi persilangan
tongkol jagung ini sesuai dengan hukum Mendel (persilangan monohybrid).
Warna ungu, merah dan kuning pada bulir jagung dihasilkan dengan adanya
sintesis pigmen yaitu dari kelompok antosianin (pigmen ungu dan merah) atau
karotenoid (pigmen kuning). Warna putih pada bulir dihasilkan karena ketiadaaan
pigmen dari kelompok antosianin dan karotenoid (Ford, 2000).
2. Buah pada tongkol jagung monohibrid 283 ungu (A_) , 261 kuning (aa)
Hipotesis:
Ratio Monohibrid= 3:1
Fenotip
Ungu (3)

Genotip
A_

Obsevasi (o)
283

E
3/4x544=

d = o-E
-125

d2 / E
15625/408

125

=
38,3
15625/136

408
Kuning (1)

aa

261

1/4x544=
136

Jumlah
X2 = d2 /E = 153,2
df = 1

544

544

=
114,9
153,2

P< 0,05, h0= ditolak


Pada tongkol jagung terdapat 283 buah berwarna ungu dan 261 buah berwarna
kuning, dengan rasio fenotip ungu : kuning (3:1), karena sesuai dengan hipotesis
rasio monohybridnya. Setelah dianalisis menggunakan uji chi square diperoleh harga
x2 sebesar 153,2 . Derajad bebasnya (df) 1 ,diperoleh dari df = n-1 , dimana n adalah
jumlah fenotip yang diamati. P < 0,05 ,sehingga h0 = ditolak . Jadi persilangan
tongkol jagung ini tidak sesuai dengan hukum Mendel (persilangan monohybrid).
Warna ungu, merah dan kuning pada bulir jagung dihasilkan dengan adanya
sintesis pigmen yaitu dari kelompok antosianin (pigmen ungu dan merah) atau
karotenoid (pigmen kuning). Warna putih pada bulir dihasilkan karena ketiadaaan
pigmen dari kelompok antosianin dan karotenoid (Ford, 2000).
3. Buah pada tongkol jagung dihibrid,epistasi 499 ungu (A_C_) , 403 kuning (aaC_,
A_cc,aacc)
Epistasi adalah gejala gen yang tertutupi oleh gen dominan sehingga apabila muncul
resesif maka akan tertutupi sehingga,
Hipotesis:
Ratio Monohibrid= 9:7
Fenotip
Ungu (1)

Genotip
A_C

Obsevasi (o)
499

E
9/16x902=

d = o-E
-8,4

d2 / E
70,56/507,4

8,4

=
0,13
70,56/394,6

507,4
Kuning (1)

A_cc, aaC_,

403

aacc
Jumlah

7/16x902=
394,6

902

902

=
0,17
0,3

X2 = d2 /E = 0,3
df = 1
p= 0,7-0,5
P> 0,05, h0= diterima
Pada tongkol jagung terdapat 499 buah berwarna ungu dan 403 buah berwarna
kuning, dengan rasio fenotip ungu : putih (9:7), karena sesuai dengan hipotesis rasio
dihibrid ,dimana ekspresi gennya ditutupi oleh ekspresi gen dominan yang disebut
epistasis. Apabila perbandingan fenotipnya 9 : 7 maka epistasis ini disebut epistasis
gen resesif rangkap. Setelah dianalisis menggunakan uji chi square diperoleh harga x 2
sebesar 0,3 . Derajad bebasnya (df) 1 ,diperoleh dari df = n-1 , dimana n adalah
jumlah fenotip yang diamati. Pada table chi square dengan df =1 dan x2=0,3 diperoleh

p sekitar 0,7 0,5 . P > 0,05 ,sehingga h0 = diterima . Jadi persilangan tongkol jagung
ini sesuai dengan hukum Mendel (persilangan dihibrid epistasis).
Warna ungu, merah dan kuning pada bulir jagung dihasilkan dengan adanya
sintesis pigmen yaitu dari kelompok antosianin (pigmen ungu dan merah) atau
karotenoid (pigmen kuning). Warna putih pada bulir dihasilkan karena ketiadaaan
pigmen dari kelompok antosianin dan karotenoid (Ford, 2000).
4. Buah pada tongkol jagung dihibrid 340 merah bulat (A_Su_) , 119 merah keriput
(A_susu), 90 kuning bulat (aaSu_), 37 kuning keriput (aasusu).
Hipotesis:
Ratio Dihibrid = 9:3:3:1
Fenotip

Genotip

Obsevasi

d = o-E

d2 / E

Merah

A_Su_

(o)
340

9/16x586=

10,4

108,16/329,6

Bulat (9)

329,4

Merah

A_susu

119

3/16x586=

19,1

=
0,3
82,81/109,9=

Keriput (3)
Kuning

aaSu_

90

109,9
3/16x586=

-19,9

0,75
396,01/109,9

bulat (3)
Kuning

aasusu

37

109,9
1/16x586=

0,4

= 3,6
0,16/36,6=

586

36,6
586

keriput (1)
Jumlah

0,004
4,654

X2 = d2 /E = 4,564
df = 3
p= 0,3 0,1
P> 0,05, h0= diterima
Pada tongkol jagung terdapat 340 buah merah bulat, 119 buah merah keriput,
90 buah kuning bulat dan 37 buah kuning keriput, dengan rasio fenotip merah bulat :
merah keriput : kuning bulat : kuning keriput (9:3:3:1), karena sesuai dengan
hipotesis rasio dihibridnya. Setelah dianalisis menggunakan uji chi square diperoleh
harga x2 sebesar 4,564. Derajad bebasnya (df) 3 ,diperoleh dari df = n-1 , dimana n
adalah jumlah fenotip yang diamati. Pada table chi square dengan df =3 dan x2=4,564
diperolel p sekitar 0,3 0,1 . P > 0,05 ,sehingga h 0 = diterima . Jadi persilangan
tongkol jagung ini sesuai dengan hukum Mendel (persilangan dihibrid).
Warna ungu, merah dan kuning pada bulir jagung dihasilkan dengan adanya
sintesis pigmen yaitu dari kelompok antosianin (pigmen ungu dan merah) atau

karotenoid (pigmen kuning). Warna putih pada bulir dihasilkan karena ketiadaaan
pigmen dari kelompok antosianin dan karotenoid (Ford, 2000).
F. KESIMPULAN
1. Persilangan monohibrid menghasilkan perbandingan fenotip 3 : 1
2. Persilangan dihibrid menghasilkan perbandingan fenotip 9 : 3 : 3 : 1
3. Pada pengembangan Genetika Mendel I , interaksi antara dua gen yang berbeda tidak
menghasilkan perbandingan 9 : 3 : 3 : 1 , tetapi modifikasi F2 nya menyebabkan
perbandingan fenotip 9 : 3 : 3 : 1
4. Persilangan dihibrid epistasis menghasilkan perbandingan fenotip 9 : 7

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Reece. 2010. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Crowder, L.V. 2006. Genetika Tumbuhan. Terjemahan. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta.
East, E.M. 1912. Inheritance Color in The Aleurone Cells of Maize. The American Naturalist.
(46):363-365.
Elbehri, A. 2005. Biopharming and the Food System: Examining the Potential Benefits and
Risks. AgBioForum. (8):18-25.
Ford, R.H. 2000. Inheritance of Kernel Color in Corn: Explanation and Investigation. The
American Biology Teacher. University of California Press. (62):181-188.
Kempton, J.H. 1919. Inheritance of Spotted Aleuron Color in Hybrid of Chinese Maize. U.S
Bureau of Plant Industry. Washington D.C.
Klug, W.S, and M.R. Cummings. 1997. Concepts of Genetics 5th Edition. Prentice-Hall, Inc.
New Jersey.
Purwanto, S.T. 2008. Perkembangan Produksi dan Kebijakan dalam Peningkatan Produksi
Jagung. Direktorat Budidaya Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.
Sabri, L., Hastono, SP. 2008. Statistik Kesehatan.Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers.
Sharma, M., M. Cortes-Cruz., K. R. Ahern, M. McMullen, T. P. Brutnell, and S. Chopra.
2011. Identification of the Pr1 Gene Product Completes the Anthocyanin Biosynthesis
Pathway of Maize. GeneticsSociety of America. 69-79.
Suryo. 1990. Genetika Strata I.Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Syamsuri, Istamar, dkk. 2004. Biologi.Jakarta: Erlangga