Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

Penentuan Kadar Minimal Antibiotik

Disusun oleh

Kelas

: 3C1

Kelompok

: 5 ( Lima )

FAKULTAS FARMASI DAN SAINS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat
dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik dan
benar. Laporan ini diperoleh berdasarkan informasi dari berbagai sumber media.
Laporan ini, disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum
Mikrobiologi-virologi.
Dalam pelaksanaan dan penulisan laporan ini kami tidak terlepas dari
bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini pula kami ingin
menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat
Ibu Dwitiyanti selaku dosen mata kuliah Praktikum Mikrobiologi-Virologi.
Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh sebab itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami
penulisan laporan selanjutnya.

harapkan untuk

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang

mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam


organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri (Craig., 1998).
Antibiotika sudah banyak digunakan oleh masyarakat untuk pengobatan
berbagai penyakit terutama penyakit infeksi. Akan tetapi akibat pemakaian yang
tidak rasional dan pemakaian yang tidak tuntas dari antimikroba malah dapat
membahayakan bagi pasien. Bakteri penyebab penyakit ini dapat menjadi resistensi
terhadap pengobatan dengan antimikroba. Antibiotik digunakan untuk mengobati
berbagai jenis infeksi akibat kuman atau juga untuk prevensi infeksi, misalnya pada
pembedahan besar.
Uji potensi antibiotika secara mikrobiologik adalah suatu teknik untuk
menetapkan suatu potensi

antibiotika dengan mengukur efek senyawa tersebut

terhadap pertumbuhan mikroorganisme uji yang peka dan sesuai. Efek yang
ditimbulkan pada senyawa uji dapat berupa hambatan pertumbuhan.
Antibiotika adalah suatu substansi kimia yang dibentuk atau diperoleh dari
berbagai

spesies

mikroorganisme,

yang

dalam

konsentrasi

rendah

mampu

menghambat pertumbuhan mikroorganisme lainnya. Antibiotika tersebar di dalam


alam dan memegang peranan penting dalam mengatur populasi mikroba dalam tanah,
air, limbah, dan kompos. Antibiotika ini memiliki susunan kimia dan cara kerja yang
berbeda-beda sehingga masing-masing antibiotika memiliki kuman standar tertentu.
Dari sekian banyak antibiotika yang telah berhasil ditemukan, hanya beberapa saja
yang cukup tidak toksik untuk dapat dipakai dalam pengobatan.
Setelah kita mengetahui cara mengklasifikasi mikroba, selanjutnya kita
menguji kepekaan bakteri terhadap antibiotika. Bakteri yang satu akan berbeda
dengan yang lain terhadap suatu antibiotika tertentu, ada yang sangat sensitif

terhadap antibiotika tertentu, ada yang resisten terhadap antibiotika tersebut. Uji
ini sangat berguna dalam kepentingan terapeutik untuk melawan infeksi yang
terjadi, juga berguna untuk mengetahui efikasi suatu senyawa antimikroba yang
baru. Kemampuan antibiotika dalam menghambat pertumbuhan bakteri pun berbedabeda, ada yang dalam konsentrasi rendah dapat menghambat bakteri dalam jumlah
banyak, ada pula yang diperlukan konsentrasi tinggi untuk mampu menghambat
pertumbuhan suatu bakteri. Kita dapat mengetahui tingkat kemampuan suatu
antibiotika

dalam

menghamabt

pertumbuhan

bakteri

dengan

menentukan

konsentrasi hambat minimum (KHM) suatu antibiotika yang kemudian debandingkan


dengan tabel standard untuk mengetahui kepekaan bakteri tersebut terhadap
antibiotika yang di ujikan.

1.2

Tujuan percobaan
mengetahui zona hambat pertumbuhan mikroba oleh zat baku standar dan
zat baku uji.
mengetahui kadar minimal suatu antibiotika yang dapat menghambat
pertumbuhan mikroorganisme terhadap kuman Staphylococcus aureus.
potensi antibiotic ini adalah untuk mengukur luas hambatan pertumbuhan
mikroba uji yang disebabkan oleh zat baku standard an zat yang diuji.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Antibiotik

adalah

substansi

hasil

metabolik

yang

dihasilkan

oleh

mikroorganisme hidup, yang dalam konsentrasi kecil mampu merusak atau


menghambat mikroorganisme lain (Brander et al., 1991). Antibiotik adalah zat yang
dibentuk

oleh

mikroorganisme

yang

dapat

menghambat

atau

membunuh

pertumbuhan mikroorganisme lain. Zat yang bersifat antibiotik juga dapat dibentuk
dari beberapa hewan dan tanaman tingkat tinggi. Antibiotik alam dapat dibuat
antibotik baru secara sintesis parsial, antibiotik tersebut sebagian mempunyai sifat
yang lebih baik (Mutschler, 1991).
Intensitas kerja suatu antibiotik dinyatakan dengan kadar yang dibutuhkan
untuk tercapainya efek kemoterapeutik dan umumnya dinyatakan dalam kadar
hambat minimal. Kadar hambat minimal adalah kadar batas yang secara in vitro
bekerja terhadap mikroorganisme tertentu. Besarnya kadar hambat minimal
bervariasi, tergantung dari jenis mikroorganisme, besar inokulum dan media uji yang
digunakan (Wattimena et al., 1991). Berdasarkan sifat toksisitas selektif,
antimikroba mempunyai aktivitas bakterisid karena bersifat membunuh bakteri dan
bersifat

bakteriostatik

karena

dapat

menghambat

pertumbuhan

bakteri.

Antimikroba tertentu akivitasnya dapat miningkat dari bakteriostatik menjadi


bakterisid bila kadar antimikrobanya ditingkatkan melebihi kadar hambat minimal
efek bakteriostatik dapat dihasilkan oleh antibiotik yang mengambat metabolisme
sel bakteri (Gan, 1983)
Kadar Hambat Minimal (KHM) atau Minimum Concentration (MIC) adalah
kadar minimal yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri sedangkan
konsentrasi terendah dari antibiotik yang membunuh 99,9% inokulum bakteri
disebut Kadar Bunuh Minimal (KBM) atau Minimum Killing Concentration (MCK) (4).
Mekanisme kerja sebagian besar antibiotik dapat dibagi menjadi 5 cara :

1. Menghambat pembentukan dinding sel, contoh: penisilin, ampisilin, metsilin,


sefalosforin.
2. Mengganggu pembentukan membran sel, contoh : polimiksin B.
3. Menghambat

sintesis

protein,

contoh:

streptomisin,

gentamisin,

kloramfenikol.
4. Menghambat sintesis asam nukleat, contoh : siprofloksazin, nifampin.
5. Antagonis metabolit, contoh : isoniazid.
Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas antimikroba yaitu pH lingkungan,
komponen-komponen perbenihan, stabilitas obat, besarnya inokulum bakteri, masa
pengeraman, dan aktivitas metabolik mikroorganisme.
Metode dilusi digunakan untuk menentukan kadar hambat minimum (KHM) dan
kadar bunuh minimal (KBM) dari obat anti mikroba. Prinsip dari metode dilusi ini
adalah menggunakan satu seri tabung reaksi yang diisi media cair dan sejumlah
tertentu sel mikroba yang diuji. Setelah itu masing-masing diuji dengan obat yang
telah diencerkan secara serial. Seri tabung diinkubasi pada suhu 361 0C selama 1824 jam dan diamati terjadinya kekeruhan pada tabung. Konsentrasi terendah obat
pada tabung yang ditunjukan dengan hasil biakan yang mulai tampak jernih (tidak
ada pertumbuhan mikroba) adalah KHM dari obat. Konsentrasi terendah obat pada
biakan padat yang ditunjukan dengan tidak adanya pertumbuhan koloni mikroba
adalah KBM dan obat terhadap bakteri uji.
Berdasarkan sasaran kerja dikelompokkan kepada:
a)

Antibiotika yang bekerja terhadap bakteri basil Gram positif, yaitu:


Penisilin semi sintetik yang resisten terhadap penisilinase, bekerja dengan

menghambat sintesis peptidoglikan.

Makrolida basitrasin, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari

bakteri.
b)

Antibiotika yang efektif terhadap basil aerob Gram negatif, yaitu:

Aminoglikosida, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri.

Polymiksin

c)

Antibiotika yang relatif memiliki spektrum kerja yang luas (terhadap basil

Gram negatif dan positif), yaitu:

Ampisilin
Sefalosporin, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan serta

mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel bakteri .


Konsentrasi minimun penghambatan atau lebih dikenal dengan MIC (Minimum
Inhibitory Concentration) atau disebut dengan KHM adalah konsentrasi terendah
dari antibiotika atau antimikrobial yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba
tertentu. Nilai KHM adalah spesifik untuk tiap-tiap kombinasi dari antibiotika dan
mikroba. KHM dari sebuah antibiotika terhadap mikroba digunakan untuk
mengetahui sensitivitas dari mikroba terhadap antibiotika. Nilai KHM berlawanan
dengan sensitivitas mikroba yang diuji. Semakin rendah nilai KHM dari sebuah
antibiotika, sensitivitas dari bakteri akan semakin besar. KHM dari sebuah
antibiotika terhadap spesies mikroba adalah rata-rata KHM terhadap seluruh strain
dari spesies tersebut. Strain dari beberapa spesies mikroba adalah sangat berbeda
dalam hal sensitivitasnya. Metode uji antimikrobial yang sering digunakan adalah
metode Difusi Lempeng Agar. Uji ini dilakukan pada permukaan medium padat.
Mikroba ditumbuhkan pada permukaan medium dan kertas saring yang berbentuk
cakram yang

telah mengandung mikroba. Setelah inkubasi

diameter

zona

penghambatan diukur. Diameter zona pengambatan merupakan pengukuran KHM


secara tidak langsung dari antibiotika terhadap mikroba. Sensitivitas klinik dari
mikroba kemudian ditentukan dari tabel klasifikasi (Jawetz et al.,1996).
Pertumbuhan mikroorganisme dapat dikendalikan melalui proses fisik dan
kimia.

Pengendalian

dapat

berupa

pembasmian

dan

penghambatan

populasi

mikroorganisme. Zat antimikrobial adalah zat yang dapat mengganggu pertumbuhan


dan metabolisme melalui mekanisme penghambatan pertumbuhan mikroorganisme.
Zat antimikrobial terdiri dari antijamur dan antibakterial. Zat antibakterial adalah

zat yang mengganggu pertumbuhan dan metabolisme melalui penghambatan


pertumbuhan bakteri.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih zat antimikrobial kimiawi
adalah :
1. Jenis zat dan mikroorganisme
Zat

antimikrobial

yang

akan

digunakan

harus

sesuai

dengan

jenis

mikroorganismenya karena memiliki kerentanan yang berbeda-beda.


2. Konsentrasi dan intensitas zat antimikrobial
Semakin tinggi konsentrasi zat antimikrobial yang digunakan, maka semakin
tinggi pula daya kemampuannya dalam mengendalikan mikroorganisme.
3. Jumlah organisme
Semakin banyak mikroorganisme yang dihambat atau dibunuh, maka semakin
lama waktu yang diperlukan untuk mengendalikannya.
4. Suhu
Suhu yang optimal dapat menaikkan efektivitas zat antimikrobial
5. Bahan organik
Bahan organik asing dapat menurunkan efektivitas zat antimikrobial dengan
cara menginaktifkan bahan tersebut atau melindungi mikroorganisme. Hal
tersebut karena penggabungan zat dan bahan organik asing membentuk zat
antimikrobial yang berupa endapan sehingga zat antimikrobial tidak lagi
mengikat mikroorganisme.
Akumulasi bahan organik terjadi pada permukaan sel mikroorganisme sehingga
menjadi pelindung yang mengganggu kontak antara zat antimikrobial dengan
mikroorganisme (Boyd, 1980).
Faktor lain yang mempengaruhi adalah dosis antibiotika yang diberikan.
Beberapa masalah adalah konsentrasi dari zat kemoterapi dalam jaringan, dimana
menghasilkan konsentrasi obat lain lebih besar atau lebih rendah daripada yang
digunakan dalam laboratarium. Hal itu penting, sehingga level obat itu dapat dicapai
dalam bermacam bagian tubuh dapat diketahui seperti halnya sensitivitas relative

dari bakteri pathogen. Sensitifitas relatif disebut dengan Minimum Inhibitory


Concentration atau MIC (Pelczar,1988).
Kadar merupakan jumlah per satuan berat/volume. Potensi merupakan ukuran
kekuatan / daya hambat atau daya bunuh zat aktif terhadap mikroorganisme
tertentu. Berdasarkan farmakope indonesia edisi IV (1995), estimasi dari potensi
antibiotik melalui perbandingan langsung antara sampel (antibiotik uji) dengan
antibiotik standar yang telah disahkan penggunaannya, terkalibrasi dengan baik, dan
umum digunakan sebagai rujukan. Tujuan diadakannya uji potensi antibiotik ini
sebagai standar untuk mengatasi keraguan tentang kemungkinan hilangnya kativitas
(potensi)

antibiotik

terhadap

efek

daya

hambatnya

pada

mikroba.

Metode umum dalam uji antibakteri antara lain :


1. Metode difusi
Pada metode ini zat antibakteri berdifusi pada lempeng agar yang telah diinokulasi
dengan bakteri. Dasar pengamatannya adalah terbentuk zona hambat di sekeliling
cakram atau silinder yang berisi antibakteri. Metode ini dipengaruhi faktor fisik
dan faktor kimia. Selain antara obat dan organisme
a. Cara parit ( ditch )
Pada medium agar yang telah diinokulasi dengan bakteri dibuat parit
kemudian diisi dengan zat antibakteri dan diinkubasi pada suhu dan jangka
waktu sesuai dengan jenis bakteri uji. Pengamatan dilakukan atas ada atau
tidaknya hambatan disekeliling parit.
b. Cara silinder
Pada medium agar yang telah diinokulasi dengan bakteri dibuat lubang,
diletakkan silinder kemudian diisi dengan zat antibakteri, setelah itu
diinkubasi pada suhu dan jangka waktu yang sesuai dengan jenis bakteri uji.
Pengamatan dilakukan atas dasar aada atau tidaknya hambatan di sekeliling
silinder.

c. Cara cakram

Kertas cakram yang mengandung zat antibakteri diletakkan diatas lempeng,


setelah diinkubasi pada suhu dan jangka waktu yang sesuai dengan bakteri uji,
pengamatan dilakukan atas ada atau tidaknya hambatan disekeliling cakram.
2. Metode Dilusi
Metode ini menggunakan antibakteri yang turun secara bertahap, baik dengan
media cair atau padat, kemudian media diinokulasi bakteri uji dan dieramkan.
Dasar pengamatannya adalah dengan melihat tumbuh atau tidaknya bakteri.
a. Cara Pengenceran Tabung ( Metode Kirby-Bauer )
Pada metode ini zat yang akan diuji kepekaan antibakterinya diencerkan
secara serial dengan pengenceran kelipatan dua dalam medium cair,
kemudian diinokulasikan dengan bakteri uji, inkubasi pada suhu

37

selama 18-21 jam ( untuk bakteri ) dan pada suhu kamar 1-2 minggu (untuk
jamur). Aktivitas antibkateri ditentukan sebagai konsentrasi terendah
yang masih dapat menghambat pertumbuhan bakteri.
Faktor yang mempengaruhi metode Kirby-Bauer :

Konsentrasi mikroba uji

Konsentrasi antibiotik yang terdapat dalam cakram

Jenis antibiotik

pH medium

b. Cara Penapisan Lempeng


Pada mtode ini zat yang akan diuji antibakterinya diencerkan secara serial
0
dengan pengenceran kelipatan dua dalam medium agar pada suhu 40- 50

C. Kemudian dituang dalam cawan petri. Setelah lempeng agar membeku


ditanam inoculum bakteri dan diinkubasi pada suhu dan jangka waktu yang
sesuai dengan pertumbuhan bakteri uji. Kadar hambat minimum zat
antibakteri yang diuji, ditentukan sebagai konsentrasi terendah yang
masih dapat menghambat pertumbuhan bakteri.

3. Turbidimetri
Pada metode ini pengamatan aktivitas didasarkan atas kekeruhan yang
terjadi

pada

medium

pembenihan.

Pertumbuhan

bakteri

juga

dapat

ditentukan dari perubahan yang terjadi sebelum dan sesudah inkubasi, yang
dilakukan dengan mengukur serapannya secara spektrofotometer. Adanya
pertumbuhan bakteri ditandai dengan peningkatan jumlah sel bakteri, yang
mengakibatkan meningkatnya kekeruhan. Kekeruhan yang terjadi umumnya
berbanding lurus dengan serapan.
Bakteri yang digunakan pada kali ini untuk menentukan kerentanan suatu
bakteri terhadap berbagai antibiotika melalui metode cakram kertas adalah bakteri

Staphylococcus aureus. Staphylococcus merupakan bakteri Gram positif berbentuk


bulat biasanya tersusun dalam bentuk menggerombol yang tidak teratur seperti
anggur. Staphylococcus bertambah dengan cepat pada beberapa tipe media dengan
aktif melakukan metabolisme, melakukan fermentasi karbohidrat dan menghasilkan
bermacam-macam pigmen dari warna putih hingga kuning gelap. Staphylococcus
cepat menjadi resisten terhadap beberapa antimikroba (Jawetz, et al., 2001)
Klasifikasi Staphylococcus aureus adalah seperti berikut:
Kingdom

: Protozoa

Divisio

: Schyzomycetes

Class

: Schyzomycetes

Ordo

: Eubacterialos

Family

: Micrococcaceae

Genus

: Staphylococcus

Species

: Staphylococcus aureus

Staphylococcus tumbuh dengan baik pada berbagai media bakteriologi di


bawah suasana aerobik atau mikroaerofilik. Tumbuh dengan cepat pada temperatur

20 - 35C. Koloni pada media padat berbentuk bulat, lambat dan mengkilat (Jawetz,
et al., 2001).

BAB III
METODELOGI

A.

Alat dan Bahan


Alat:
1.

Tabung reaksi

2.

Jarum Ose

3.

Cawan petri

4.

Labu erlenmeyer

5.

Gelas ukur

6.

Ketas cakram

7.

Kertas silinder

8.

Pipet ukur

9.

Pinset

10.

Pembakar bunsen

Bahan:

B.

1.

Antibiotik uji

2.

Akuadest steril

3.

Medium NB

4.

Medium NA

Prosedur kerja
Pembuatan larutan stok Antibiotika

1.

Timbang 100mg antibiotik,untuk baku induk 1000 mcg/ml

2.

Buat larutan 500 mcg, pipet 5ml adkan 10ml ( aquadest 5ml )

3.

Buat larutan 250 mcg, pipet 2,5ml adkan 10ml ( aquadest 7,5ml )

4.

Buat larutan 125 mcg, pipet 1,25ml adkan 10ml ( aquadest 8.75ml )

Pembuatan suspensi bakteri


1.

Ambil 1 ose biakan bakteri 1x24jam

2.

Larutan dalam medium NB 100ml,inkubasi 1x24jam

3.

Ukur serapan dengan spektofotometer transmitan,apabila lebih dari 25%

maka di inkubasi kembali dan apabila kurang dari 25% ditambahkan medium NB
kemudian lakukan pengenceran.

Uji hayati
1.

Masukkan 10% dari bakteri jumlah medium yang digunakan suspensi

bakteri ke dalam medium NA (40-50oc) sebanyak 100ml,homogenkan


2.
3.

Tuang dalam cawan petri steri 10ml,biarkan hingga setengah memadat


Lakuan dua perlakuan dengan menggunakan kertas cakram dan kaca

silinder.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Kertas cakram

A
B

Pengenceran

Pengenceran

Pengenceran

Pengenceran

1000 g/ml
1,375 cm
0,59 cm

500 g/ml
1,225 cm
0,59 cm

250 g/ml
Tidak Terbentuk
Tidak Terbentuk

125 g/ml
Tidak Terbentuk
Tidak Terbentuk

Pengenceran

Pengenceran

Pengenceran

500 g/ml
1,15 cm
0,43 cm

250 g/ml
Tidak Terbentuk
Tidak Terbentuk

125 g/ml
Tidak Terbentuk
Tidak Terbentuk

Kaca Silinder
Pengenceran
1000 g/ml
A
1,275 cm
B
0,43 cm

Perhitungan :
RUMUS = vertical + horizontal
2
KHM = A - B

1. Kertas Cakram
A = Kertas Cakram
B = Kertas cakram

: ( Zona Bening )

B = 0,61 cm + 0,57 cm = 0,59 cm


2

1000 l

A = 1,82cm + 1,93cm = 1,375 cm


2
KHM = 1,375 cm 0,59 cm = 0, 785 cm

500 l =

A = 1,18cm + 1,27cm = 1,225 cm


2
KHM = 1,225 cm 0,59 cm = 0,635 cm

2. Kaca Silinder
A = Kaca Silinder
B = Kaca Silinder

: ( Zona Bening )

B = 0,44 cm + 0,42 cm = 0,43 cm


2

1000 l

500 l =

A = 1,25 cm + 1,30 cm = 1,275 cm


2
KHM = 1,275 cm 0,43 cm = 0,845 cm
A = 1,09 cm + 1,21 cm
2

= 1,15 cm

KHM = 1,15 cm 0,43 cm = 0,72 cm


B. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan untuk menentukan kadar hambat minimum
mikroba. Kadar hambat minimum itu sendiri merupakan seberapa kuat antibiotik
yang digunakan dapat mencegah terjadinya pertumbuhan bakteri.

Sebelum

melakukan percobaan ini, semua peralatan percobaan harus disterilisasikan untuk


memastikan peralatan benar-benar bersih dan hasil percobaan tidak dipengaruhi
oleh mikroba yang mungkin terdapat di atas permukaan peralatan. Media yang
digunakan adalah Nutrient Broth yang bertujuan untuk memberi tambahan nutrisi

pada bakteri yang digunakan yaitu

Staphylococcus aureus. Antibiotik yang

digunakan dalam percobaan ini adalah erythromycin yang termasuk antibiotic


sprektum sempit. Praktikum kali ini pengujian dengan menggunakan metode difusi
dengan cara kertas cakram dan kaca silinder. Jika menggunakan kaca silinder
biarkan medium menjadi setengah padat kemudian letakkan kaca silinder diantara
medium (jangan menyentuh dasar cawan petri) dengan maksud agar larutan
antibiotika dapat terdifusi dengan baik.

Sedangkan jika menggunakan kertas

cakram, kertas sebelumnya dibasahi dengan larutan antibiotik yang telah dibuat dan
langsung dimasukkan dalam medium yang telah dibuat.
Antibiotic ini dilakukan beberapa perlakuan yang menghasilkan bebrapa
konsentrasi yaitu 125 l, 250 l, 500 l, dan 1000 l. Dimana pada konsentrasi 125
l, 250 l tidak terbentuk zona bening disekitar kaca silinder dan kertas cakram.
Kemungkinan kesalahan dari praktikan yaitu
Antibiotic tidak larut sempurna pada saat pencampuran.
Medium NA Sudah membeku pada saat memasukkan kaca silinder
praktikan meletakkan kaca silinder yang mengenai dasar cawan petri
sehingga antibiotic tidak berdifusi dengan baik ke luar kaca silinder.
Konsentrasinya lebih rendah dari yang lainnya sehingga tidak mencapai daya
hambat pada bakteri tersebut.
Sementara pada konsentrasi 500 ldan 1000 l terbentuk zona bening dengan hasil
KHM pada yang berkonsentrasi tinggi yaitu 1000 l lebih tinggi dari 500 l. Hal ini
membuktikan bahwa daya hambat suatu antibiotic dipengaruhi oleh konsentrasi
suatu antibiotic.

BAB V
PENUTUP

KESIMPULAN
Pada hasil praktikum kali ini dalam penentuan kadar hambat minimal antibiotika
dapat disimpulkan:

1.

Pada erythromycin dengan konsentrasi 125 l dan 250 l baik disekitar kertas

cakram maupun kaca silinder tidak tebentuk Zona bening.


2.

Daya hambat suatu antibiotic dipengaruhi oleh konsentrasi suatu antibiotic.

3.

Pada konsentrasi 1000 l nilai KHMnya lebih tinggi dari 500 l.

4. Kemungkinan kesalahan yang dilakukan praktikan yaitu


pada saat pencampuran sehingga antibiotic tidak terlarut sempurna dalam
air.
kaca silinder yang diletakan dalam cawan petri mengenai dasar cawan,.
medium NA yang digunakan sebelum diletakkan kaca silinder sudah terjadi
gumpalan-gumpalan.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/105722040/Penentuan-Kadar-Hambat-Minimum
( Diakses pada tanggal 29 November 2013 pukul 13.00 )

Katzung, B.G. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.
https://www.google.com/#q=jurnal+penelitian+penentuan+kadar+hambat+minimal+an
tibiotik
( Diakses pada tanggal 29 November 2013 pukul 13.15 )

http://id.scribd.com/doc/77000873/LAPORAN-KHM
( Diakses pada tanggal 29 November 2013 pukul 13.30 )

http://id.scribd.com/doc/37083951/LAPORAN-HASIL-PENELITIAN
( Diakses pada tanggal 29 November 2013 pukul 14.00 )

LAMPIRAN