Anda di halaman 1dari 13

FORMULASI DAN TEKHNOLOGI SEDIAAN STERIL

INJEKSI MUSKULAR PELARUT NON AIR


Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam menempuh Mata Kuliah
Formulasi Tekhnologi Sediaan Steril

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan berkah dan
rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah FTS Steril yang berjudul Formulasi dan
Tekhnologi Sediaan Steril Injeksi pelarut non air dosis tunggal.
Dalam kesempatan ini, kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang
telah membantu dalam penulisan makalah ini. Kami telah berusaha untuk menyelesaikan
makalah ini dengan sebaik-baiknya. Namun, kami juga mohon maaf apabila terdapat
kesalahan dalam penulisan ini yang kurang berkenan di hati pembaca. Oleh karena itu, kami
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca agar makalah ini dapat diperbaiki dengan
lebih baik lagi.
Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita
semua.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Saat ini berbagai bentuk sediaan obat dapat dijumpai dipasaran. Diantaranya
adalah sediaan injeksi yang termasuk sediaan steril. Produk steril adalah sediaan
teraseptis dalam bentuk terbagi yang bebas dari mikroorganisme hidup. Sediaan
parenteral ini merupakan sediaan unik diantara bentuk sediaan obat terbagi, karena
sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke bagian dalam tubuh. Dan
kemudian langsung menuju reseptor.
Sediaan tersebut harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari komponen
toksik serta harus mempunyai tingkat kemurnian tinggi dan luar biasa. Dalam injeksi
intravena memberikan beberapa keuntungan antara lain efek terapi lebih cepat didapat.,
dapat memastikan obat sampai pada tempat yang diinginkan, cocok unyuk keadaan
darurat, untuk obat obat yang rusak oleh cairan lambung.
Sediaan injeksi merupakan sediaan yang sangat penting bagi dunia kesehatan.
Karena pada keadaan sakit yang dianggap kronis, pemberian obat minum sudah tidak
maksimal lagi , sehingga perlu dan sangat penting untuk di berikan sediaan injeksi,
karena akan sangat membantu untuk mempercepat mengurangi rasa sakit pada pasien,
sebab sediaan injeksi bekerja secara cepat, dimana obat langsung masuk ke dalam
pembuluh darah dan akan bekerja secara optimal pada bagian yang sakit. Sediaan injeksi
merupakan salah satu contoh sediaan steril , jadi keamanan dan kebersihan sediaan juga
telah di uji.

1.2. Definisi
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, injeksi adalah sediaan steril berupa
larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih
dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit
atau melalui kulit atau melalui selaput lendir.(FI.III.1979)
Sedangkan menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, injeksi adalah injeksi yang
dikemas dalam wadah 100 mL atau kurang. Umumnya hanya larutan obat dalam air yang bisa
diberikan secara intravena. Suspensi tidak bisa diberikan karena berbahaya yang dapat
menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kapiler.(FI.IV.1995).
Sediaan steril injeksi dapat berupa ampul, ataupun berupa vial. Injeksi vial
adalah salah satu bentuk sediaan steril yang umumnya digunakan pada dosis ganda dan
memiliki kapasitas atau volume 0,5 mL 100 mL. Injeksi vial pun dapat berupa takaran
tunggal atau ganda dimana digunakan untuk mewadahi serbuk bahan obat, larutan atau
suspensi dengan volume sebanyak 5 mL atau pun lebih. (Anonim.Penuntun Praktikum
Farmasetika I.2011)

Botol injeksi vial ditutup dengan sejenis logam yang dapat dirobek atau
ditembus oleh jarum injeksi untuk menghisap cairan injeksi. Injeksi intravena memberikan
beberapa keuntungan :
1.
Efek terapi lebih cepat .
2.
Dapat memastikan obat sampai pada tempat yang diinginkan.
3.
Cocok untuk keadaan darurat.
4.
Untuk obat-obat yang rusak oleh cairan lambung.
Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril.
Secara tradisional keaadan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat
penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup. Konsep ini menyatakan
bahwa steril adalah istilah yang mempunyai konotasi relative, dan kemungkinan menciptakan
kondisi mutlak bebas dari mikroorganisme hanya dapat diduga atas dapat proyeksi kinetis
angka kematian mikroba.(Lachman hal.1254).
Dari beberapa pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sediaan
injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau disusupensikan terlebih dahulu sebelum digunakan secara perenteral, suntikan
dengan cara menembus, atau merobek jaringan kedalam atau melalui kulit atau selaput lendir.

Rute-rute Injeksi
1. Parenteral Volume Kecil
a. Intradermal
Istilah intradermal (ID) berasal dari kata "intra" yang berarti lipis dan "dermis"
yang berarti sensitif, lapisan pembuluh darah dalam kulit. Ketika sisi anatominya
mempunyai derajat pembuluh darah tinggi, pembuluh darah betul-betul kecil. Makanya
penyerapan dari injeksi disini lambat dan dibatasi dengan efek sistemik yang dapat
dibandingkan karena absorpsinya terbatas, maka penggunaannya biasa untuk aksi lokal
dalam kulit untuk obat yang sensitif atau untuk menentukan sensitivitas terhadap
mikroorganisme.
b. Intramuskular
Istilah intramuskular (IM) digunakan untuk injeksi ke dalam obat. Rute
intramuskular menyiapkan kecepatan aksi onset sedikit lebih normal daripada rute
intravena, tetapi lebih besar daripada rute subkutan.
c. Intravena
Istilah intravena (IV) berarti injeksi ke dalam vena. Ketika tidak ada absorpsi,
puncak konsentrasi dalam darah terjadi dengan segera, dan efek yang diinginkan dari obat
diperoleh hampir sekejap.
d. Subkutan
Subkutan (SC) atau injeksi hipodermik diberikan di bawah kulit. Parenteral
diberikan dengan rute ini mempunyai perbandingan aksi onset lambat dengan absorpsi
sedikit daripada yang diberikan dengan IV atau IM.

e.

Rute intra-arterial
disuntikkan langsung ke dalam arteri, digunakan untuk rute intravena ketika aksi
segera diinginkan dalam daerah perifer tubuh.
f. Intrakardial
Disuntikkan langsung ke dalam jantung, digunakan ketika kehidupan terancam
dalam keadaan darurat seperti gagal jantung.
g. Intraserebral
Injeksi ke dalam serebrum, digunakan khusus untuk aksi lokal sebagaimana
penggunaan fenol dalam pengobatan trigeminal neuroligia.
h. Intraspinal
Injeksi ke dalam kanal spinal menghasilkan konsentrasi tinggi dari obat dalam
daerah lokal. Untuk pengobatan penyakit neoplastik seperti leukemia.
i. Intraperitoneal dan intrapleural
Merupakan rute yang digunakan untuk pemberian berupa vaksin rabies. Rute ini
juga digunakan untuk pemberian larutan dialisis ginjal.
j. Intra-artikular
Injeksi yang digunakan untuk memasukkan bahan-bahan seperti obat antiinflamasi
secara langsung ke dalam sendi yang rusak atau teriritasi.
k. Intrasisternal dan peridual
Injeksi ke dalam sisterna intracranial dan durameter pada urat spinal. Keduanya
merupakan cara yang sulit dilakukan, dengan keadaan kritis untuk injeksi.
l. Intrakutan (i.c)
Injeksi yang dimasukkan secara langsung ke dalam epidermis di bawah stratum
corneum. Rute ini digunakan untuk memberi volume kecil (0,1-0,5 ml) bahan-bahan
diagnostik atau vaksin.
m. Intratekal
Larutan yang digunakan untuk menginduksi spinal atau anestesi lumbar oleh
larutan injeksi ke dalam ruang subarachnoid. Cairan serebrospinal biasanya diam pada
mulanya untuk mencegah peningkatan volume cairan dan pengaruh tekanan dalam serabut
saraf spinal. Volume 1-2 ml biasa digunakan. Berat jenis dari larutan dapat diatur untuk
membuat anestesi untuk bergerak atau turun dalam kanal spinal, sesuai keadaan tubuh
pasien.
2. Parenteral Volume Besar
Untuk pemberian larutan volume besar, hanya rute intravena dan subkutan yang
secara normal digunakan.
a. Intravena
Keuntungan rute ini adalah
jenis-jenis cairan yang disuntikkan lebih banyak dan bahkan bahan tambahan
banyak digunakan IV daripada melalui SC
cairan volume besar dapat disuntikkan relatif lebih cepat
efek sistemik dapat segera dicapai

level darah dari obat yang terus-menerus disiapkan


kebangkitan secara langsung untuk membuka vena untuk pemberian obat rutin dan
menggunakan dalam situasi darurat disiapkan.
Kerugiannya adalah meliputi :
gangguan kardiovaskuler dan pulmonar dari peningkatan volume cairan dalam
sistem sirkulasi mengikuti pemberian cepat volume cairan dalam jumlah besar;
perkembangan potensial trombophlebitis;
kemungkinan infeksi lokal atau sistemik dari kontaminasi larutan atau teknik
injeksi septic
pembatasan cairan berair.
b. Subkutan
Penyuntikan subkutan (hipodermolisis) menyiapkan sebuah alternatif ketika
rute intravena tidak dapat digunakan. Cairan volume besar secara relatif dapat
digunakan tetapi injeksi harus diberikan secara lambat. Dibandingkan dengan rute
intravena, absorpsinya lebih lambat, lebih nyeri dan tidak menyenangkan, jenis cairan
yang digunakan lebih kecil (biasanya dibatasi untuk larutan isotonis) dan lebih
terbatas zat tambahannya.
Pelarut dan Pembawa Bukan Air
Minyak : Olea neutralisata ad injectionem
Minyak untuk injeksi adalah minyak lemak nabati atau ester asam lemak tinggi, alam atau
sintetik harus jernih pada suhu 10C.
Minyak untuk injeksi harus memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Harus jernih pada suhu 10C
2. Tidak berbau asing atau tengik
3. Bilangan asam 0,2-0,9
4. Bilangan iodium 79-128
5. Bilangan penyabunan 185-200
6. Harus bebas minyak mineral
Macamnya :
Oleum Arachidis (minyak kacang)
Oleum Olivarum (minyak zaitun)
Oleum Sesami (minyak wijen), dan sebagainya
Syarat-syarat untuk ini adalah
Tingkat kemurnian yang tinggi
Bilangan asam dan bilangan peroksida yang rendah.
Minyak harus netral secara fisiologis dan dapat diterima tubuh dengan baik.

Syarat-syarat obat suntik :

Aman, tidak boleh memyebabkan iritasi jaringan atau efek toksis


Harus jernih, tidak terdapat partikel padat kecuali berbentuk suspense
Tidak berwarna kecuali bila obatnya berwarna
Sedapat mungkin isohidri
Sedapat mungkin isotonis
Harus steril
Bebas pirogen
Wadah Injeksi
Wadah untuk injeksi termasuk penutup tidak boleh berinteraksi melalui berbagai cara
baik secara fisik maupun kimiawi dengan sediaan, yang dapat mengubah kekuatan, mutu atau
kemurnian di luar persyaratan resmi dalam kondisi biasa pada waktu penanganan,
pengangkutan, penyimpanan, penjualan, dan penggunaan. Wadah terbuat dari bahan yang
dapat mempermudah pengamatan terhadap isi. Tipe kaca yang dianjurkan untuk tiap sediaan
umumnya tertera dalam masing-masing monografi. (FI Ed. IV, hal 10).
Wadah dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan di dalamnya
baik secara kimia maupun secara fisika, yang dapat mengakibatkan perubahan khasiat, mutu
dan kemurniannya. (FI ed. III, hal XXXIV)
Bagaimanapun bentuk dan komposisi wadah, wadah pengemas merupakan sumber
dari masalah stabilitas sediaan, bahan partikulat, dan sumber pirogen. (Diktat Steril, hal 82)
Pengemasan dan Penyimpanan
Volume injeksi wadah dosis tunggal dapat memberikan jumlah tertentu untuk
pemakaian parenteral sekali pakai dan tidak ada yang memungkinkan pengambilan isi dan
pemberian 1 liter. (FI Ed. IV, Hal 11)
Untuk penyimpanan obat harus disimpan sehingga tercegah cemaran dan penguraian,
terhindar pengaruh udara, kelembaban, panas dan cahaya.
Kondisi penyimpanan tergantung pada sediaannya, misalnya kondisi harus disimpan
terlindung cahaya, disimpan pada suhu kamar, disimpan di tempat sejuk, disimpan di temapat
dingin (FI Ed. III, Hal XXXIV)

BAB II
PRAFORMULASI DAN FORMULASI

1. PRAFORMULASI
Praformulasi sangat penting dilakukan dalam setiap pengembangan sediaan farmsi
karena meliputi penelitian farmasetik dan analitik bahan obat untuk menunjang proses
pengembangan formulasi.
Sifat suatu sediaan dapat mempengaruhi secara bermakna kecepatan onset efek terapi
dari suatu obat, lamanya efek tersebut, dan bentuk pola absorbsi yang dicapai. Oleh
karena itu pengembangan praformulasi dan formulasi untuk suatu produk steril harus
diintregasikan secara hati hati dengan pemberian yang dimaksud pada seorang pasien.
Sifat kimia dan fisika suatu obat harus ditentukan, interaksinya dengan tiap bahan
yang diinginkan harus dikaji, dan efek dari masing - masing tahap kestabilannya harus
diselidiki dan dimengerti.
Semua komponen harus memiliki kualitas yang sangat baik. Kontaminasi fisika dan
kimia tidak hanya menyebabkan iritasi kejaringan tubuh, tetapi jumlah kontaminasi yang
sangat kecil tersebut juga dapat menyebabkan degradasi produk sebagai hasil dari
perubahan kimia, khususnya selama waktu pemanasan bila digunakan sterilisasi panas.
Pengkajian Praformulasi
Bahan aktif
Nama bahan aktif
: Oestradioli Benzoas
Sinonim
: Estradiol Benzoat
Dosis Lazim
: Sehari 1 mg 5 mg
Organoleptis
Warna
: Tidak berwarna atau putih atau hamper putih
Bau
: Tidak berbau
Rasa
: Tidak berasa
Bentuk
: Serbuk hablur
Sifat dan Kelarutan
Dalam air
: Tidak larut
Dalam ethanol
: Sukar larut
Dalam minyak lemak : Sukar larut
Minyak nabati
: larut
Sifat kimia
Rumus molekul
: C25H28O3
Wadah dan penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
Bahan Tambahan

Oleum Arachidis (Medium pembawa)


Minyak kacang adalah minyak lemak yang telah dimurnikan, diperoleh pemerasan
biji Arachis hypogea L yang telah dimurnikan.
Pemerian
: Bentuk cairan; Warna kuning pucat; Bau bau khas lemah; Rasa tawar
Kelarutan
: Praktis tidak larut dalam etanol (95%) P mudah larut dalam kloroform
P, dalam eter P, dan dalam minyak tanah P.
Bobot per ml
: 0,911 g sampai 0,915 g
Indeks bias
: 1,468 sampai 1,472
Bilangan asam
: tidak lebih dari 0,5
Bilangan iodium : 85 sampai 105
Bilangan penyabunan : 188 sampai 196
Fungsi
: Zat pembawa, zat pelarut

Nipagin

Sinonim: Metil paraben


Pemerian: Serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak mempunyai rasa,
kemudian agak membakar diikuti rasa getir.
Kegunaan: Sebagai pengawet dengan konsntrasi 0,015% - 0,2 %
Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih, dalam 25 bagian
etanol (95 %) P, dan dalam 3 bagian aseton P ; mudah larut dalam eter P, dan dalam alkali
hidroksida.
Titik Lebur : 1250C sampai 1280C
Pka/pkb

: 8,4

Bobot Jenis

: 1,352 gr/cm3 atau 1,352 gr/ml

pH larutan

: 3-6

Stabilitas

: Lebih mudah terurai dengan adanya udara dari luar

Benzyl Alkohol

Sinonim
Rumus molekul
Bobot Molekul

: Phenilkarbinol , phenilmetanol , toluenol.


: C3H8O
: 108,14

Organoleptis
Bentuk
Warna
Bau
Rasa

: Cairan
: Jernih
: Khas aromatik
: Panas terbakar

FUNGSI
Oral dan parenteral
Kosmetik
Solubilitas
Desinfektan
Antimikroba

up to 2 %
up to 3 %
5%
10%

Antiseptikum
Pelarut
Kelarutan
Terlarut dalam kloroform , etanol , eter , campuran minyak yang mudah menguap , air 25
bagian.
Sifat Kimia & Fisika
Penyimpanan : Disimpan dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, sejuk , dan
kering
OTT
Agen pengoksida dan asam kuat , aktifitas antimikroba berkurang dengan penambahan
surfaktan anionik.
2. FORMULASI
Formulasi suatu produk sediaan injeksi meliputi kombinasi dari satu atau lebih bahan
dengan zat obat untuk menambahkan kenikmatan, kemampuan terima, atau kefektifan
produk tersebut. Zat terapetis suatu senyawa kimia yang mudah mengalami karakteristik
reaksi kimia dan fisika dari golongan senyawa dimana zat tersebut termasuk didalamnya.
Oleh karena itu harus dibuat penilaian hati-hati untuk setiap kombinasi dua bahan atau
lebih untuk memastikan apakah terjadi interaksi merugikan atau tidak dan jika terjadi,
cara untuk memodifikasi formulasi sehingga reaksi dapat dihilangkan atau dikurangi.
Jumlah keterangan yang tersedia untuk pembuat formulasi sehubungan dengan sifat
fisika dan kimia dari suatu zat terapetis, keterangan sehubungan dengan sifat dasar harus
diperoleh, termasuk bobot molekul, kelarutan, kemurnian, sifat koligatif dan reaktifitas
kimia.
Jadi dalam formulasi sediaan injeksi dapat dirinci sebagi berikut:
a.
b.
c.
d.

Zat Aktif (active ingredients)


Zat Pembawa/Pelarut Zat pembawa berair atau zat pembawa tidak berair
Zat Tambahan (nonactive ingredients/ excipients)
Macam-macam zat pembantu atau excipients dalam pembuatan sediaan injeksi
meliputi Zat antibakteri, antioksidan, dapar, dan pembantu isotonis.

Formulasi Standar dari Fornas hal 216 :


Tiap ml mengandung :

R/

Oestradioli Benzoas
Benzylalcoholum
Oleum pro injection ad

1 mg
50 g
1ml

Penyimpanan

: Dalam wadah dosis tunggal, atau wadah dosis ganda, terlindung dari
cahaya.
Dosis
: i.m, sehari 1 mg 5 mg
Catatan
:
- Disterilkan dengan Cara Sterilisasi D
- Pada etiket harus juga tertera Hanya untuk intramuskulus.
- Jika pada penyimpanan terbentuk endapan, hangatkan hingga larut.
- Sediaan berkekuatan lain : 5 mg
Formula Akhir
R/ Oestradioli Benzoas
Benzyl Alcohol
Nipagin
Oleum pro injection ad

Penimbangan bahan
Oestradioli benzoas
Benzyl alcohol
Nipagin
Oleum Arachidis ad

5 mg
250 g
0,1%
5ml

5 mg
250 g
0,1/100 x 5 = 0,005 gr/ 5 mg
5 ml

Alat dan Cara Sterilisasinya


Nama Alat
Kaca arloji
Erlenmeyer
Beacker glass
Krustang
Batang pengaduk
Vial
Pipet
Gelas ukur
Cawan penguap

Jumlah
1
1
1
1
1
1
1
2
2

Cara Sterilisasi
Oven 170C
Oven 170C
Oven 170C
Oven 170C
Oven 170C
Oven 170C
Autoklaf (115 - 116C)
Autoklaf (115 - 116C)
Autoklaf (115 - 116C)

Waktu
30 menit
30 menit
30 menit
30 menit
30 menit
30 menit
30 menit
30 menit
30 menit

Prosedur Pembuatan
1. Alat dan bahan disiapkan.
2. Semua alat- alat yang digunakan disterilkan dengan oven dan autoklaf sesuai
petunjuk sterilisasi alat diatas. Vial yang akan digunakan sebelumnya dikalibrasi
menggunkan minyak 20 ml.

3. Oleum arachidis disterilisasi sebelumnya. (Minyak setelah disterilkan disebut Olea


Netralisata ad Injectionem).
4. Oestradioli benzoas ditimbang, lalu dilarutkan dengan sebagian oleum arachidis. (Lar
A).
5. Bahan-bahan yang telah disterilkan seperti Nipagin dilarutkan dalam sebagian oleum
pro injection (Lar B), Benzyl alkohol dilarutkan dalam sebagian oleum pro injection
(Lar C).
6. Kemudian ketiga larutan (Lar A), (Lar B), (Lar C), dicampur aduk ad homogen.
7. Setelah homogen, masukkan dalam vial yang telah dikalibrasi sebelumnya.
8. Vial ditutup rapat dengan alat penutup vial.
9. Diberi etiket.

BAB III
EVALUASI
1.

Potensi/kadar
Penentuan kadar dilakukan dengan SP UV, HPLC, SP IR dll

2. Ph
Adanya perubahan pH mengindikasikan telah terjadi penguraian obat atau terjadi
interaksi obat dengan wadah
3. Warna
Perubahan warna umumnya terjadi pada sediaan parenteral yang disimpan pada suhu
tinggi (> 40 C). Suhu tinggi menyebabkan penguraian
4. Kekeruhan
Alat yang dipakai adalah Tyndall, karena larutan dapat menyerap dan memantulkan
sinar. Idealnya larutan parenteral dapat melewatkan 92-97% pada waktu dibuat dan tidak
turun menjadi 70% setelah 3-5 tahun. Terjadinya kekeruhan dapat disebabkan oleh :
benda asing, terjadinya pengendapan atau pertumbuhan mikroorganisme.
5. Bau
Pemeriksaan bau dilakukan secara periodik terutama untuk sediaan yang mengandung
sulfur atau anti oksidan
6. Toksisitas
Lakukan uji LD 50 atau LD 0 pada sediaan parenteral selama penyimpanan
7. Evaluasi wadah

BAB IV
KESIMPULAN

1. Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril. Secara
tradisional keaadan sterill adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat
penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup.Biasanya sterilisasi
dapat dimasukkan kedalam ampul yang hanya dapat digunakan hanya satu kali
injeksi.
2. Injeksi adalah sediaan steril yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam
kulit atau melalui kulit atau melalui selaput lender. Umumnya hanya larutan obat
dalam air yang bisa diberikan secara intravena. Suspensi tidak bisa diberikan karena
bahaya hambatan pembuluh kapiler. Suspensi air, minyak dan larutan minyak
biasanya tidak dapat diberikan secara subkutan, karena akan timbul rasa sakit dan
iritasi
3. Pemakaiannya secara intravena tidak tidak dimungkinkan karena tidak
tercampurkannya dengan serum darah dan dapat menyebabkan terjadinya emboli
paru-paru. Oleh karena itu, penggunaannya hanya ditujukan untuk preparat injeksi
intramuskular dan subkutan.

DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh. Ilmu Meracik Obat. 2004. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Ansel, Howard C. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat. 1989. Jakarta : UIPress.
Departemen Kesehatan RI, 1979. Farmakope Indonesia, edisi III. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia, edisi IV. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. 1978. Formularium Nasional, Ed II. Jakarta.