Anda di halaman 1dari 3

Bebas Kemelekatan, Bebas Penderitaan

Hampir setiap saat layar batin kita tidak pernah sepi. Batin kita pepat dengan arus pikiran, persepsi
terkondisi, perasaan, ingatan, fantasi, keinginan, dan bentukan-bentukan mental. Pikiran kita terusmenerus bergerak, tidak pernah diam. Dari manakah arus batin ini berasal dan apa yang
membuatnya terus-menerus eksis?
Terdapat empat hal yang saling berhubungan erat: layar batin, kesadaran terpendam, eksistensi, dan
kemelekatan. Apa saja yang muncul pada layar batin berasal dari kesadaran terpendam; apa saja
yang muncul dari kesadaran terpendam menciptakan eksistensi kita; dan proses eksistensi terus
berlangsung karena terdapat factor kemelekatan. Seperti bensin berfungsi menciptakan dan
mempertahankan nyala api, begitu pula kemelekatan menciptakan dan menopang seluruh eksistensi
kita. Tidak ada eksistensi tanpa kemelekatan. Itulah sebabnya eksistensi kita adalah penderitaan;
hidup adalah penderitaan. Begitulah temuan Buddha.
Kemelekatan adalah keadaan mental seseorang yang meyakini bahwa seolah-olah ia hanya bisa
bahagia apabila bergantung pada sesuatu atau seseorang sebagai aku atau milikku.
Kenyataannya, kemelekatan membuat orang justru tidak bahagia. Ketakutan, kecemasan, kegalauan,
kebencian, ketidakpuasan dan berbagai bentuk kesakitan mengiringi batin yang melekat.
Menurut Sutta Pitaka, sekurang-kurangnya terdapat empat jenis kemelekatan (updan) terkait
dengan objeknya. Pertama, kemelekatan pada objek-objek inderawi (kamupadana). Objek-objek
indera meliputi segala objek yang memiliki bentuk dan warna, suara, rasa pencecapan, bebauan,
sentuhan. Objek-objek tersebut bisa hadir dihadapan kita dahulu, sekarang atau di masa datang,
baik secara fisik maupun gambaran mental atau imaginasi.
Kedua, kemelekatan pada opini atau sudut pandang (ditthu-padana). Contoh kemelekatan pada
opini atau sudut pandang adalah pikiran, perasaan, cita-cita, harapan, kebiasaan, keyakinan,
kepercayaan.
Ketiga, kemelekatan pada ritual upacara (silabbatupadana) atau hal-hal yang dianggap spiritual.
Contoh objek kemelekatan ini adalah ritual agama, cara doa atau devosi, kitab suci, nilai-nilai dan
dogma agama, guru spiritual, tempat-tempat ibadah, benda-benda suci, dewa-dewi, tuhan-tuhan
sebagai konsep, dst.
Keempat, kemelekatan pada keakuan (attavadupadana). Manifestasi keakuan ini berupa identifikasi
dengan sesuatu atau seseorang sebagai aku dan rasa memiliki sesuatu atau seseorang sebagai
milikku. Dalam semua bentuk kemelekatan terdapat kemelekatan pada keakuan ini.
Meskipun kemelekatan memiliki objek yang beragam hingga pada tingkatan yang sangat halus, apa
yang membuat batin melekat pada suatu objek bukan berasal dari kualitas objeknya, melainkan dari
batin kita sendiri. Batin inilah yang menciptakan kemelekatan pada suatu objek, bukan sebaliknya.
Fakta inilah yang jarang dilihat oleh kebanyakan orang yang tidak berlatih.

Proses munculnya kemelekatan adalah sebagai berikut. Kita semua memiliki kesan atau ingatan
yang tertanam pada kesadaran terpendam. Kesan atau ingatan terpendam ini disebut dengan istilah
lain seperti cetakan karma masa lampau (past karmic imprint) atau sanskara (sanskars). Seperti
halnya gen atau DNA mampu menyimpan informasi biologis, cetakan karma masa lalu adalah
seperti gen/DNA psikologis yang menyimpan segala informasi dalam kesadaran terpendam.
Gen/DNA psikologis ini mempengaruhi sikap, pikiran, kata-kata dan tindakan kita setiap kali kita
berkontak dengan suatu objek. Melihat langsung bagaimana factor ini berperan dalam menciptakan
fenomena kemelekatan akan menolong dalam berlatih.
Ketika terjadi kontak dengan suatu objek, misalnya tubuh fisik orang lain, cepat sekali timbul
impresi atau gambaran mental pada layar batin. Gambaran mental tersebut sesungguhnya muncul
dari dua periode waktu yang berbeda, yaitu masa lampau dan masa sekarang. Gambaran mental
masa lampau itulah yang disebut cetakan karma masa lampau. Kemudian cetakan karma masa
lampau ini diproyeksikan pada suatu objek yang menghasilkan gambaran mental saat sekarang
sebagai sesuatu yang menarik.
Anda barangkali pernah suatu saat melihat seseorang yang kemudian menjadi pasangan Anda dan
mengatakan, Ia memiliki paras cantik. Anda tidak mungkin bisa mengenali kecantikan wajahnya,
apabila Anda tidak memiliki cetakan karma, sanskara, atau gambaran mental cantik yang sudah
tertanam pada kesadaran terpendam sebelum kontak terjadi. Konsepsi Anda sekarang hanyalah
proyeksi mental dari kesan atau cetakan karma yang sudah ada pada diri Anda.
Kemudian barulah batin menginterpretasikan objek yang hadir menurut cetakan karma masa
lampau. Pikiran berkata, Wajahnya cantik; ia pantas untuk dilekati. Dengan melekat, aku akan
bahagia. Wajah cantik yang dimaksud sesungguhnya bukalah objek real, tetapi gambaran mental.
Ketika terjadi kontak antara laki-laki dan perempuan, misalnya, pihak laki-laki memiliki gambaran
mental yang diproyeksikan pada tubuh perempuan; dan pihak perempuan memiliki gambaran
mental yang diproyeksikan pada tubuh laki-laki. Perjumpaan laki-laki dan perempuan tersebut
menghasilkan impresi yang kemudian diinterpretasikan menurut cetakan karma masa lampau. Lalu
muncullah interpretasi, Tubuh perempuan/laki-laki itu indah. Laki-laki melihat keindahan tubuh
perempuan dan perempuan melihat keindahan tubuh laki-laki. Setelah proyeksi dan interpretasi,
maka timbullah kemelekatan pada tubuh. Anda tidak akan menemukan fenomena kemelekatan
apabila tidak ada proses proyeksi dan interpretasi.
Dengan melihat proses batin seperti ini, sesungguhnya tidak ada sesuatu yang layak untuk dilekati
dari sisi objek, karena apa yang dilekati bukan objeknya itu sendiri, tetapi gambaran mental yang
diproyeksikan pada objek. Jadi sesungguhnya orang hanya melekati gambarannya sendiri tentang
sesuatu atau seseorang, bukan sesuatu atau seseorang pada dirinya sendiri. Kemelekatan bukan
datang dari objek tetapi hasil buatan Anda sendirihasil konsepsi, interpretasi, dan proyeksi batin
Anda sendiri.
Anda barangkali pernah berelasi dengan seseorang bertahun-tahun lamanya tanpa kemelekatan
sama sekali. Kemudian tiba-tiba suatu hari pandangan Anda tentang orang tersebut berubah. Anda
melihat wajahnya menjadi lebih cantik dan kepribadiannya mempesona, kemudian timbulah

kemelekatan ketika Anda sudah mulai menemukan kenikmatan dalam berelasi dengannya. Ketika
kemelekatan sudah timbul, muncul pula rasa ketagihan untuk setiap kali ada bersamanya.
Pandangan Anda tentang wajah cantik yang Anda lekati datang dari konsep yang Anda ciptakan
sekarang, yang dipengaruhi oleh cetakan karma masa lampau. Itu seperti sebuah gambar gerak di
layar dari sebuah film pada mesin proyektor dan apa yang diproyeksikan menjadi objek
kemelekatan. Wajah cantik dari seseorang yang Anda lihat dan lekati adalah perpaduan antara
konsepsi sekarang dan proyeksi dari cetakan karma masa lalu.
Apa yang terlihat, terdengar, tercium, tercecap, dan tersentuh adalah apa yang dilabeli oleh batin.
Anda tidak melihat sesuatu yang tidak datang atau tidak bergantung pada batin. Tidak ada sesuatu
yang bisa eksis di luar label pikiran. Batin yang terdelusi tidak bisa melihat fakta ini dan
beranggapan apa yang dilihatnya sungguh nyata, eksis dari dirinya sendiri dan bukan semata-mata
label pikiran.
Dengan memahami proses-proses batin yang terdelusikontak, konsepsi, proyeksi, interpretasi
membuat kita mengerti bahwa adalah tidak masuk akal mengumbar kemelekatan. Latihan-latihan
kita musti sampai pada pemahaman bahwa tidak ada yang pantas untuk dilekati dan tidak ada yang
pantas melekati.
Saat kemelekatan timbul, pertama, kita bisa berlatih untuk melihat konsepsi batin kita, Ini
hanyalah pandangan saya sendiri, konsepsi saya sendiri. Apa yang tampak hanyalah dampak dari
apa yang dilabeli oleh pikiran.
Kedua, lihatlah proses proyeksi dari batin. Suatu gambaran mental yang sudah tertanam di benak
kita diproyeksikan pada objek yang kita lekati, Tidak ada sesuatu dari sisi objekini hanyalah
penampakan dari cetakan karma masa lampau saya. Objek yang saya lekati atau saya benci adalah
sebuah tampilan yang diciptakan oleh batin saya sendiri. Anda melihat sekarang bahwa apa yang
tampaknya semata-mata berasal dari luar, dari sisi objek, tidaklah nyata sama sekali. Itu adalah
delusi.
Dengan melihat secara langsung konsepsi dan proyeksi dibalik fenomena kemelekatan, maka kita
sedang berlatih membersihkan batin dari cetakan karma masa lampau, dari akar-akar kotoran batin,
dari delusi.*