Anda di halaman 1dari 10

ACARA I

TETAPAN KALORIMETER DAN KALOR PENETRALAN


A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan Praktikum
a. Menentukan kalor jenis / panas jenis kalorimeter.
b. Menentukan kalor penetralan pada reaksi asam asetat dan NaOH.
2. Waktu Praktikum
Rabu, 15 Oktober 2014
3. Tempat Praktikum
Lantai III, Laboratorium Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Mataram.
B. LANDASAN TEORI
Kalor, q dapat diartikan sebagai energi yang dipindahkan melalui batas-batas
sistem, sebagai akibat dari adanya perbedaan suhu antara sistem dan lingkungan.
Menurut perjanjian q dihitung positif jika kalor masuk sistem, dan negatife jika keluar
sistem. Jumlah kalor yang dipertukarkan antara sistem dan lingkungan bergantungn
pada proses. Oleh karena itu, q bukan merupakan fungsi

keadaan dan dq bukan

diferential total (disini ditunjukkan dengan q) (Achmad, 2001:126).


Ditinjau dari jenis reaksi, terdapat empat jenis kalor, yaitu kalor pembentukan,
kalor penguraian, kalor penetralan dan kalor reaksi. Kalor pembentukan ialah kalor
yang menyertai pembentukan satu mol senyawa langsung dari unsur-unsurnya. Kalor
penguraian yaitu kalor yang menyertai satu mol senyawa langsung menjadi unsur-unsur.
Selanjutnya, yaitu kalor penetralan, ialah kalor yang menyertai pembentukan satu mol
air dari reaksi penetralan (asam dan basa). Terakhir yakni kalor reaksi, yakni kalor yang
menyertai suatu reaksi dengan koefisien yang paling sederhana (Syukri, 1999 : 35).
Proses reaksi yang melibatkan netralisasi asam oleh basa dikenal sebagai panas
netralisasi. Panas netralisasi asam kuat dan basa kuat adalah konstan yaitu 55,90 kJ/mol.
Tetapi panas netralisai asam lemah dan basa lemah kurang dari 55,90 kJ/mol, karena
asam atau basa ini terlihat dalam disosiasi asam menjadi ionion H+ dan anion atau basa
menjadi ionion OH- dan kation sedangkan asam kuat danbasa kuat berdisosiasi
sempurna (Dogra,2008: 79)
Nilai kalor berdasarkan formula Dulong diperoleh selisih 1,16 % dari hasil
pengukuran dengan menggunakan bom kalorimeter yaitu sebesar 5943 kcal/kg atau
10697,4 Btu/lb. Perhitungan nilai kalor dengan formula Dulong adalah metode empirik
2

yang didasarkan pada kalor pembakaran masing-masing konstituen, yaitu carbon,


oksigen, hidrogen dan sulfur. Formula Dulong dipakai untuk mengecek hasil
pengukuran nilai kalor batubara. Pada perhitungan nilai kalor batubara antrasit dan
bituminous dengan formula ini diperoleh hasil dengan selisih 2-3%, karena tidak
memperhitungkan efek disosiasi (Patabang, 2009).
Nilai Cp yang didapat dari pengukuran lebih kecil dibandingkan dengan Cp
yang dihitung menggunakan persamaan Siebel (persamaan 2). Menurut Siebel, nilai Cp
bahan sangat dipengaruhi oleh kadar airnya. Berdasarkan Siebel nilai panas jenis
mahkota dewa adalah 4.167 kJ/kgoC. Hal ini menunjukkan adanya korelasi positif
antara panas jenis dan kadar air karena panas jenis air lebih tinggi dari padatannya.
Dengan demikian dapat dimengerti bahwa metode Siebel cukup baik digunakan untuk
bahan yang mengandung kadar air tinggi (Manalu, 2011).
Zat yang ditentukan kalor jenisnya dipanaskan sampai suhu tertentu. Kemudian
zat tersebut segera dimasukkan ke dalam kalorimeter yang berisi air, yang suhunya
ditentukan kalor jenisnya dipanaskan sampai suhu tertentu. Kalorimeter diaduk sampai
suhunya tidak berubah lagi. Proses dalam kalorimeter berlangsung secara adiabatik
(Wijanarko, 2013).

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat-alat Praktikum
a. Gelas kimia 250 ml
b. Gelas kimia 100 ml
c. Hotplate
d. Kalorimeter
e. Pipet tetes
f. Stopwatch
g. Termometer 50C
h. Termometer 100C
2. Bahan-bahan Praktikum
a. Aquades (H2O(l))
b. Larutan Asam Asetat (CH3COOH) 2M
c. Larutan Natrium Hidroksida (NaOH) 2M
D. SKEMA KERJA
1. Penentuan Kalor Jenis Kalorimeter

40 mL air

Diukur suhu sampai 35 C

40 mL
air
Dimasukkan dalam
kalorimeter
Dicatat suhu awal

Dicampurkan dalam kalorimeter

Dikocok, diatur suhu selama 10


menit selang 1 menit sambil dikocok
Hasil
2. Penentuan Kalor Penetralan
40 mL NaOH 2 M

40 mL CH3COOH 2 M

Dimasukkan dalam
Diatur suhunya agar sama

kalorimeter
Dicatat suhunya

dengan NaOH

Dicampurkan dalam kalorimeter


Hasil
Dikocok
Dicatat suhunya selama 5 menit selang
1/2 menit sambil dikocok
Hasil
E. HASIL PENGAMATAN
1. Penentuan Kalor Jenis Kalorimeter
Suhu air dingin = 30C
= 303 K
Suhu air panas = 35C
= 308 K

Pengukuran

Suhu campuran (C)

Suhu campuran (K)

T1

34

307
4

T2

32

305

T3

33

306

T4

33

306

T5

33

306

T6

33

306

T7

32

305

T8

33

306

T9

33

306

T10

33

306

Pengukuran

Suhu Campuran (C)

Suhu Campuran (K)

T1

44

317

T2

43,5

316,5

T3

43,5

316,5

T4

43,5

316,5

T5

43

316

T6

43

316

T7

43

316

T8

42,5

315,5

T9

42

315

T10

42

315

2. Penentuan Kalor Penetralan


Suhu NaOH
= 33C
= 306 K
Suhu CH3COOH = 23C
= 306 K

F. ANALISIS DATA
5

1. Persamaan reaksi
H2O (l) + H2O (l)
2H2O(l)
CH3COOH(aq) + NaOH(aq)

CH3COONa(aq) + H2O(l)

2. Perhitungan
a. Penentuan kalor jenis kalorimeter
Diketahui :
V air dingin = 40 mL
V air panas = 40 mL
T air dingin = 30 OC
= 303 K
T air panas = 35 OC
= 308 K
air
= 1 gr/mL
C air
= 4,2 J/gr K
Ditanya
:
QL (kalor yang dilepas air panas)
QT ( kalor yang diterima air dingin)
Q Kalorimeter
C Kalorimeter
Jawab

T T T T T T T T T T
T campuran 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
10
307 305 306 306 306 306 305 306 306 306

10
3059

10
305,9K
QL M air C air T

air V C air T Tcampuran


1 40 4,2 308 305,9
40 4,2 2,1
352,8 Joule

QT M air C air T

air V C air Tcampuran Td


1 40 4,2 (305,9 303)
40 4,2 2,9
487,2 Joule

Q Kalorimeter = Mair Cair T


= (air V) Cair (T 2Tcampuran + Td)
= (1 gr 40 ml) 4,2 J/gr.K (308 2 (305,9) + 303) K
= 40 4,2 (308 611,8 + 303)
6

= 40 4,2 (-0,8)
= -134,4 Joule
Q kalorimeter

C kalorimeter = T T
camp Td
134,4 J

305,9 303 K
134,4

2,9
46,345 J
K
b. Penentuan Kalor Penetralan
Diketahui :
T CH3COOH = T NaOH =33OC
= 306 K
larutan
=1,098 gr/mL
V campuran
= 80 mL
Kalor jenis larutan
= 4,02 J/gr K
Ditanya
:
Q larutan
Q reaksi
H penetralan
Jawab :

T1 T2 T3 T4 T5 T6 T7 T8 T9 T10
10
317 316,5 316,5 316,5 316 316 316 315,5 315 315

10
3160

10
316K

T campuran

Q larutan

= M larutan C larutan T
= (larutan V) Clarutan (Tcampuran TL)
= (1,098 gr/ml 80 ml) 4,02 J/gr.K (316 306) K
= 87,84 4,02 10
= 3531,168 Joule

Q reaksi

= (Q kalorimeter + Q larutan)
= (134,4 + 3531,168) J
= (3396,768)
= 3396,768 Joule

Mol CH3COOH

=MV
= 2 40 ml
= 80 mmol
7

=MV
= 2 40 ml
= 80 mmol

Mol NaOH

CH3COOH(aq) + NaOH(aq)

CH3COONa(aq) + H2O(l)

Mula-mula

80 mmol

80 mmol

Bereaksi

80 mmol

80 mmol

80 mmol

80 mmol

80 mmol

80 mmol

Setimbang
H

Q
mol H 2 O setimbang

3396,768 J
0,08 mol

42459,6 J / mol

H Penetralan

1 mol H 2 O
Qlaru tan
mol H 2 O setimbang
1

3531,168
0,08
44139,6 J
mol

G. PEMBAHASAN
Kalorimetri adalah proses pengukuran jumlah kalor reaksi yang diserap atau
dilepaskan pada suatu reaksi kimia dalam suatu eksperimen. Kalorimetri yang
sederhana adalah ialah proses mengukur perubahan suhu dari sejumlah air atau larutan
sebagai akibat dari suatu reaksi kimia dalam suatu wadah terisolasi. Kalorimeter adalah
alat untuk menentukan kalor jenis suatu zat. Kalorimeter terdiri dari sebuah bejana
tembaga tipis yang dimasukkan dalam bejana tembaga yang lebih besar. Antara bejana
kecil (dinding dalam) dengan bejana besar (dinding luar) dibatasi oleh bahan yang tidak
dapat dialiri kalor (adiabatik). Kemudian diberi tutup yang mempunyai dua lubang
untuk memasukkan termometer dan pengaduk. Fungsi bejana bagian luar sebagai
pelindung agar pertukaran kalor dengan sistem sekitar kalorimeter dapat dikurangi.
Fungsi pengaduk adalah untuk mengaduk larutan dalam kalorimeter dan untuk
mengetahui perubahan suhu digunakan termometer.
Prinsip kerja kalorimeter adalah memanfaatkan perubahan fase dari sifat fisik
suatu zat untuk membandingkan kapasitas penerimaan kalor dari zat-zat yang berbeda.
Pengukuran kalor jenis dengan kalorimeter didasarkan pada asas black, yaitu apabila
8

dua benda yang suhunya berbeda dan dicampur, maka benda yang lebih panas melepas
kalor kepada benda yang lebih dingin sampai suhu keduanya sama. Banyaknya kalor
yang dilepas benda yang lebih panas sama dengan banyaknya kalor yang diterima benda
yang lebih dingin. Sebuah benda untuk menurunkan T akan melepaskan kalor yang
sama besarnya dengan banyaknya kalor yang dibutuhkan benda tersebut untuk
menaikkan suhunya sebesar T juga. Teorinya adalah
Q lepas = Q terima
m1 . c1 . (T1-Ta) = m2 . c2 . (Ta-T2)
Sifat-sifat kalorimeter adalh menjaga suhu suatu zat dan tidak terpengaruh oleh
lingkungan, sifatnya dalam proses adalah secara adiabatik yaitu tidak ada energi yang
lepas atau masuk dari luar ke dalam kalorimeter. Berdasarkan asas Black yaitu kalor
yang diterima oleh kalorimeter sama dengan kalor yang diberikan oleh zat yang dicari
kalor jenisnya.
Kesetimbangan termal merupakan suatu titik dimana suhu sudah mencapai suatu
kesetaraan antara sistem dan lingkungan. Ketika dua benda ditempatkan bersama-sama,
objek dengan energi panas lebih akan kehilangan energi ke objek dengan energi panas
yang lebih sedikit. Akhirnya, suhu mereka sama dan mereka akan berhenti melakukan
pertukaran energi panas sebagai objek tidak lebih hangat atau lebih dingin dari yang
lain. Pada titik ini, mereka berada dalam keadaan kesetimbangan termal.
Praktikum kali ini bertujuan untuk menentukan kalor jenis atau panas jenis
kalorimeter dan juga menentukan kalor penetralan pada reaksi asam asetat dan NaOH.
Percobaan pertama, yaitu penentuan kalor jenis kalorimeter. Kalor jenis kalorimeter
adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu satu derajat. Untuk
menentukan kalor jenis kalorimeter ini dilakukan dengan mencampur air panas dengan
air dingin dalam kalorimeter. Pemanasan air ini berfungsi untuk membandingkan suhu
air panas dan air dingin, dilakukan pengadukan secara terus-menerus (dikocok) agar
penyebaran kalor dapat merata pada kalorimeter. Suhu awal air dingin 30C dan air
panas 35C, kemudian suhu yang didapatkan selama pencampuran T1 hingga T10
tidaklah konstan. Hal ini bisa diakibatkan pengadukan yang dilakukan juga tidak
konstan. Berdasarkan analisis data, kalor yang diterima sebesar 487,2 joule dan kalor
yang dilepas sebesar 352,8 joule. Hal ini tidak sesuai dengan asas Black, dimana Q
lepas = Q terima disebabkan sistem dari kalorimeter tidak terisolasi dengan baik
sehingga perubahan kalor yang terjadi tidak hanya dipengaruhi suhu dalam kalorimeter
namun suhu dari lingkungan juga ikut berpengaruh. Kalor kalorimeter yang didapat
-134,4 joule, artinya sistem melepaskan kalor. Hal ini ditandai dengan panas pada
9

kalorimeter ketika proses pengadukan. Dan kalor jenis kalorimeter yang didapatkan
sebesar -46,345 J/K.
Percobaan kedua, yaitu penentuan kalor penetralan pada reaksi asam asetat dan
NaOH. Kalor penetralan adalah kalor yang menyertai pembentukan satu mol air dari
reaksi penetralan (asam-basa). Dimana reaksi penetralan merupakan reaksi pada
pencampuran antara larutan asam dengan larutan basa yang akan menghasilkan garam
dan air yang bersifat netral. H atau perubahan entalpi pada percobaan ini adalah
perubahan kalor atau entalpi yang terjadi selama proses penerimaan atau pelepasan
kalor. Pada awal percobaan ini suhu awal CH3COOH disamakan dengan suhu awal
NaOH. Apabila suhu berbeda maka perubahan kalor yang terjadi bukan hanya dari kalor
reaksi melainkan dari kalor reaksi pada kedua larutan yang berbeda suhu. Suhu awal
NaOH dan CH3COOH adalah 33C, setelah dicampur T1 hingga T10 yang didapatkan
mengalami penurunan. Hal ini disebabkanm karena kalor yang diserap oleh larutan
tidak sama dengan jumlah kalor yang diterima oleh kalor lainnya. Berdasarkan analisis
data H reaksi yang didapat sebesar -42459,6 J/mol. Nilai negatif ini menandakan
bahwa reaksi terjadi dalam proses eksoterm yaitu reaksi yang melepas kalor ke
lingkungan. Hal ini ditandai dengan timbul panas pada kalorimeter. H penetralan yang
didapat pada percobaan ini sebesar 44139,6 J/mol.
H. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1.
Kalor jenis kalorimeter (tetapan kalorimeter) dapat ditentukan dengan
mencampurkan volume tertentu air dingin (massa m 1 dan suhu T1) dengan
volume tertentu air panas (massa m2 dan T2). Kalor jenis atau tetepan kalorimeter
2.

yang didapat sebesar -46,345 J/K.


Kalor penetralan yang didapat pada reaksi asam asetat dan NaOH ialah 44139,6
J/mol.

DAFTAR PUSTAKA

10

Atkins, Peter. 2006. Physical Chemistry Edisi ke-8. New York : W.H. Freeman and
Company.
Bujung, Cyrke A, dkk. 2011. Estimasi Distribusi Temperatur, Entalpi dan Tekanan
dalam Reservoir Panas Bumi. Manado : Universitas Negri Manado.
Moran, Michael J. 2004. Termodinamika Teknik Jilid 1 dan 2. Jakarta : Erlangga.
Oxtoby, David W. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern Edisi Keempat Jilid 1. Jakarta :
Erlangga.
Petrucci, Ralph. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Jakarta : Erlangga.
Widayat, dkk. 2012. Kinetika Reaksi pada Proses Produksi Dietil Eter dari Etanol
dengan Katalis H-Zeolit. Semarang : Universitas Diponegoro.
Yanlinastuti, dkk. 2009. Analisis Sifat Termal Logam Uranium, Paduan Umo dan
UmoSi menggunakan Differential Thermal Analyzer. Serpong : BATAN.

11