Anda di halaman 1dari 17

1

MAKALAH
MANAJEMEN TERNAK UNGGAS

MANAJEMEN PENETASAN

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah


Manajemen Ternak Unggas

Oleh: Kelompok 8

Kelas : C

EVA YULIANA PUTRI 200110150013


GUSTIANA MUHAMMAD I 200110150044
FAKHRI MAULANA 200110150085
DELIANA RAHARDJO P 200110150250
EKA SETIAWAN PS 200110150253

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2017
2

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Unggas adalah jenis hewan ternak kelompok burung yang dimanfaatkan


untuk daging dan/atau telurnya serta jenis burung yang tubuhnya ditutupi oleh
bulu. Umumnya unggas merupakan bagian dari ordo Gallifores (seperti ayam dan
kalkun), dan Anseriformes (seperti bebek). Unggas adalah tipe hewan yang
berkembangbiak dengan cara bertelur.

Telur adalah suatu bentuk tempat penimbunan zat gisi seperti air, protein,
karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan
embrio sampai menetas. Telur yang dapat ditetaskan adalah harus fertil atau yang
lazim disebut dengan telur tetas. Telur tetas merupakan telur yang sudah dibuahi
oleh sel jantan. Bila tidak dibuahi oleh sel jantan, telur tersebut disebut telur
infertil atau lazim disebut telur konsumsi, artinya telur tersebut tidak dapat
menetas jika ditetaskan, melainkan hanya untuk dikonsumsi saja. Adapun untuk
menetaskan telur perlu diperhatikan hal-hal yang menunjang keberhasilan dalam
menetaskan.

Untuk memperbanyak populasi hewan unggas seperti itik, ayam, dan burung
puyuh dibutuhkan cara penetasan telur yang tepat, yaitu pengeraman telur tetas
yang akan diperbanyak. Pengeraman ini dapat terjadi jika sifat mengerami telur
pada unggas itu telah muncul. Misalnya pada ayam buras, sifat mengerami telur
tampak jelas sekali. Pada saat sifat ini muncul, ayam buras tidak akan mau lagi
bertelur. Berbeda dengan ayam ras yang sifat mengeramnya dapat diatur atau
dihilangkan dari induknya.
3

Penetasan pada prinsipnya adalah menyediakan lingkungan yang sesuai


untuk perkembangan embrio unggas. Lama penetasan telur ditempat pengeraman
sangat tergantung dari jenis hewannya. Semakin kecil hewan, semakin kecil telur
yang dihasilkan. Dan, semakin tinggi suhu badan hewan, semakin pendek waktu
penetasan telurnya. Bila bentuk telur dan ukurannya seragam, waktu penetasan
akan selalu hampir bersamaan. Berbeda dengan ayam, jenis unggas lain seperti
itik dan puyuh tidak mempunyai sifat mengeram. Dahulu, untuk memperbanyak
populasinya hanya dengan seleksi alam, baik oleh induknya maupun oleh
lingkungan. Namun saat ini, dengan adanya alat penetas buatan akan
mempermudah perbanyakan populasi unggas ini.

Sudah sejak ribuan tahun sebelum masehi orang berusaha dan mencoba
penetasan tiruan tanpa melalui induk unggas. Usaha usaha tersebut antaralain
dilakukan oleh orang Mesir kuno yang pada saat itu memang sudah tinggi
kebudayaannya. Usaha usaha lain terdapat pula didaratan Cina, juga ribuan
tahun sebelum masehi. Di Mesir sebuah alat penetas tiruan dengan memanfaatkan
sinar matahari telah dicoba orang kala itu, jauh sebelum jaman Aristoteles, dan
menghasilkan anak ayam yang cukup banyak (persentase daya tetas yang tinggi).
Alatnya sederhana, berupa tungku tungku yang dapat memuat ribuan telur.
Mesin tetas modern pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat sekitar abad
17-an dan berkembang terus hingga kini.

Di Indonesia, sebenarnya mesin tetas buatan telah ada sebelum zaman


kemerdekaan dengan prinsip dan cara pengoperasian mirip dengan mesin tetas
sekarang. Usaha itu mulai dikembangkan pada akhir tahun 1959-an dan
berkembang terus hingga kini. Walaupun masih dalam bentuk yang sederhana,
tetapi Indonesia sudah mampu membuatnya. Mulai dari kapasitas seratus hingga
ribuan, karena memang prinsipnya sederhana.
4

1.2 Tujuan

1. Mengetahui persiapan penetasan.

2. Mengetahui tatalaksana penetasan.

3. Mengetahui pemanenan DOC.

4. Mengetahui evaluasi hasil tetas.


5

II

PEMBAHASAN

2.1 Persiapan Penetasan


Mesin tetas adalah mesin penetasan yng memiliki prinsip kerja semisal
pada induk ayam pada era mengerami telur. Mesin tetas diusahakan memenuhi
aneka macam syarat yang sesuai bagi atau bisa juga dikatakan untuk
perkembangan struktural serta fisiologi dari embrio anak ayam. Dalam pembuatan
alat tetas butuh dipertimbangkan beberapa solusi dalam pengaturan parameter
biologi yng meliputi temperatur, kelembaban udara serta sirkulasi udara. Pada alat
penetasan seluruh faktor-faktor yang telah di sebutkan bisa diatur yang dengannya
baik sesuai yang dengannya kondisi yng dimau-kan serta sesuai yang dengannya
kondisi proses biologi penetasan (Nesheim dkk, 1979).
2.1.1 Fumigasi Mesin Tetas
Fumigasi mesin tetas merupakan suatu langkah awal yang penting pada
proses penetasan telur untuk mencegah timbulnya penyakit menular melalui
penetasan. Fumigasi juga salah satu faktor yang sangat mempengaruhi daya tetas
telur, oleh karena itu agar proses penetasan berjalan dengan baik perlu perlakuan
fumigasi yang tepat. Daya tetas telur yang mendapat perlakuan fumigasi lebih
tinggi dari pada yang tidak (Siregar, 1975). Namun jika jenis desinfektan atau
dosisnya terlalu tinggi akan menyebabkan kematian pada embrio, maka dari itu
perlu dilakukan pencampuran desinfektan yang sesuai kebutuhan. Bahan yang
tepat dipergunakan untuk fumigasi adalah formalin yang dicampur dengan
KMnO4, dengan dosis pemakaian 5 40ml formalin + 20gram KMnO4 digunakan
untuk ruangan bervolume 2,83 m3 (Kartasudjana dan Suprijatna, 2010).
2.1.2 Mengatur Suhu dan Kelembaban
Temperatur mesin merupakan salah satu faktor yang sangat penting pada
saat proses penetasan, temperatur yang tidak tepat akan berpengaruh pada
6

rendahnya daya tetas. Telur ayam akan menetas pada penetasan buatan bila
tersedia temperatur dalam mesin tetas yang baik pada hari ke 1 sampai ke 18
yaitu 101o F (38,33o C) (Paimin, 2003).Setelah hari ke 18 maka masuk ke
persiapan penetasan, maka perlu adanya penurunan temperatur pada mesin.
Temperatur yang baik pada saat persiapan penetasan yaitu sebaiknya diturunkan
suhunya hingga 98,8o F pada hari ke 19 hingga hari ke 21 (Rahayu dkk, 2011).
Kelembaban pada saat inkubasi merupakan salah satu faktor yang penting
juga selain dari temperatur yang dapat mempengaruhi lancarnya proses penetasan
dan sebagai penyebab tinggi rendahnya daya tetas. Kelembaban pada mesin
penetasan yang baik pada hari ke 1 hingga hari ke 18 yaitu 50 60 %
(Kartasudjana dan Suprijatna, 2010).
2.1.3 Seleksi Serta Fumigasi Mesin Tetas
Selama menjalankan manajeman penetasan diperlukan penyeleksian telur
tetas, karena jika telur tetas yang tidak sesuai dengan kriteria telur yang dapat
ditetaskan/ memiliki daya tetas yang tinggi tetap ditetaskan akan merugikan dan
lebih bahayanya akan berdampak ke telur lain yang sesuai kriteria. Telur tetas
yang sesuai kriteria dapat ditetaskan / memiliki daya tetas tinggi yaitu: Bentuknya
oval, tekstur halus, berukuran sedang, dan cangkang tebal. Bentuk dari telur juga
perlu diperhatikan karena juga dapat mempengaruhi bobot tetas, penyerapan suhu
pada telur dengan bentuk lancip lebih baik bila dibandingkan dengan telur
berbentuk tumpul maupun bulat, hal ini menyebabkan proses metabolisme embrio
4 didalamnya dapat berjalan dengan baik sehingga bobot tetasnya lebih tinggi
(North, 1990).
Bentuk dari telur juga akan mempengaruhi bobot tubuh DOC, ukuran
besar telur berpengaruh pada ukuran besar anak ayam yang baru menetas
(Gillespie, 1992). Telur tetas harus berasal dari induk (pembibit) yang sehat dan
produktifitasnya tinggi dengan sex ratio yang baik sesuai dengan rekomendasi
untuk strain atau jenis ayam, umur telur tidak boleh lebih dari satu minggu,
7

bentuk telur harus normal, sempurna lonjong dan simetris, seragam, berat 35 50
gram (Suprijatna, 2005).
Fumigasi pada telur tetas juga langkah yang penting agar telur terhindar
dari bakteri yang bisa mengganggu perkembangan embrio pada proses penetasan.
Fumigasi telur sangat penting karena kerabang telur mengandung banyak bakteri
maupun parasit karena pada proses penetasan, baik temperatur maupun
kelembaban sangat sesuai dengan kebutuhan bakteri dan kapang, sehingga bakteri
dan kapang yang hidup pada proses penetasan akan berkembang biak dengan
cepat (Mahfudz, L.D., 1998).
Fumigasi dilakukan pada saat telur akan diletakan di dalam mesin tetas
dengan teknik dan dosis fumigasi yang sesuai, fumigasi telur tetas yang tidak
tepat dapat merusak kutikula telur, sehingga penguapan telur dengan densifektan
(KMnO4 sebanyak 17,5 gram dan formalin 40% sebanyak 35 ml) merupakan
salah satu cara mengurangi kerusakan kutikula (Srigandono, 1997). Fumigasi
yang tidak sesuai juga dapat mempengaruhi pertumbuhan embrio, sehingga perlu
pelaksanaan fumigasi telur yang tepat. Diantara penyebab embrio mengalami mati
dini yaitu karena penyimpanan telur yang kurang baik, terlalu lama dan dosis
fumigasi yang terlalu tinggi (Nuryati, 2002).

2.2 Tatalaksana Penetasan


Penetasan merupakan upaya dalam mempertahankan populasi maupun
memperbanyak jumlah daya tetas telur agar dapat diatur segala prosesnya serta
dapat menghasilkan DOC yang berkualitas baik. Penetasan dapat dilakukan baik
secara alami maupun buatan. Tingkat keberhasilan antara penetasan alami dan
penetasan buatan dipengaruhi oleh beberapa faktor, jika faktor yang berpengaruh
pada daya tetastelur penetasan buatan kurang diperhatikan tidak memungkinkan
daya tetas pada penetasan buatan yang diharapkan dapat lebih baik maka bisa
justru lebih buruk dari penetasan alami. Keberhasilan penetasan buatan tergantung
8

banyak faktor antara lain telur tetas, mesin tetas dan tata laksana penetasan
(Suprijatna dkk, 2010).
Penetasan telur dapat dilakukan secara alamiah yaitu dengan dierami oleh
induknya dan dapat pula dilakukan dengan inkubator. Jika penetasan telur
dilakukan pada induknya, jumlah telur yang dapat ditetaskan terbatas, yaitu paling
banyak 15 7 butir. Tetapi, penetasan telur dengan inkubator dapat mencapai
ratusan bahkan hingga ribuan butir telur dalam sekali penetasan (Sudrajat, 2003)
2.2.1 Memasukan Telur Kedalam Mesin Tetas
Tatalaksana penetasan telur setelah menyiapkan mesin tetas sesuai dengan
yang di inginkan adalah memasukan mesin telur kedalam mesin tetas. Menurut
Imanah dan Maryam (1992) pada saat meletakan telur pada mesin tetas bagian
ujung yang tumpul selalu berada diatas. Pada mesin tetas bebek / itik sederhana
biasanya sebagian penetas ada yang menempatkan telur dengan posisi tergeletak
dan ada juga yang menempatkan telur dengan posisi berdiri miring 45 dengan
bagian tumpul diatas. Berbeda dengan mesin tetas otomatis yang digunakan untuk
produksi dalam jumlah banyak di mana telur diposisikan secara seragam. Yang
pasti adalah bagian tumpul telur berada di atas (Klinikternak.com)
2.2.2 Menjaga Suhu dan Kelembaban
Dalam proses penetasan telur, suhu dan kelembaban merupakan variabel
terpenting yang sangat menentukan keberhasilan proses penetasan. Suhu yang
diperlukan alat penetas harus memiliki kesamaan dengan kondisi suhu induk
unggas pada saat mengeram. Adapun keadaan suhu yang perlu diperhatikan pada
penetasan telur ayam dan bebek berkisar 380 C 40o C dan lamanya penetasan
21 hari untuk telur ayam dan 28 hari untuk telur bebek. (Sudrajat, 2003)
Kelembaban adalah perbandingan antara tekanan parsial uap air yang ada di
dalam udara dan tekanan jenuh uap air pada temperatur air yang sama. Ketika
proses penetasan, kelembaban dalam penetasan telur ayam berkisar 50% 60%
dan 55% - 65% untuk menetaskan telur bebek. Pemberian kelembaban ini
dilakukan dengan cara memberikan tempat air di dasar tempat peletakkan telur.
9

Kelembaban pada proses penetasan harus diperhatikan agar embrio dalam telur
terhindar dari dehidrasi akibat kelembaban yang rendah. Kelembaban juga perlu
dinaikan pada saat persiapan penetasan agar DOC tidak dehidrasi. Kelembaban
yang baik pada hari ke 19 sekitar 55 60% serta hari ke 20 21 kelembaban
sekitar 80% (Rahayu dkk, 2011).
2.2.3 Pemutaran Telur
Pemutaran telur bertujuan untuk meratakan temperatur dan kelembaban
pada seluruh permukaan yang diterima telur tetas. Pemutaran sebaiknya
dilaksanakan 1 kali setiap jam sehingga dalam sehari terdapat 24 putaran dengan
kemiringan 45o . Dengan pemutaran yang lebih sering maka telur akan lebih cepat
menetas (daya tetas) sehingga kandungan air didalamnya tidak akan banyak
hilang yang dapat membuat bobot badan DOC meningkat, dan sebaliknya
pemutaran yang tidak sering akan membuat telur tidak cepat menetas (daya tetas)
dengan baik, sehingga terjadi penguapan yang berlebihan dan kadar air didalam 8
telur akan berkurang yang dapat membuat bobot badan DOC akan berkurang
(North, 1990). Pemutaran telur tetas yang baik dapat menghindarkan dari
terjadinya penempelan embrio pada kerabang yang diakibatkan oleh temperatur
yang tidak merata, pemutaran dilakukan sampai umur 18 hari selama proses
pengeraman (Kartasudjana dan Suprijatna, 2010).
2.2.4 Candling Atau Evaluasi Fertilisasi Dan Perkembangan Embrio
Candling adalah proses peneropongan telur menggunakan cahaya untuk
melihat perkembangan embrio dalam telur. Telur infertilakan tampak terang saat
candling. Telur yang nampak terang saat proses candling sebenarnya tidak hanya
telur infertil saja tetapi juga telur yang embrionya mengalami mati dini, akan
tetapi pada proses candling semua telur tampak terang disebut sebagai telur
infertil karena penampakannya sama (Nuryati, 2002). Candling dilakukan setelah
telur melewati masa kritis pertama. Masa kritis merupakan waktu yang sangat
penting dalam proses pembentukan dan perkembangan embrio selama telur
10

ditetaskan. Masa kritis pertama yang terjadi pada hari ke 1 hingga ke 3 setelah
telur dimasukkan ke dalam mesin tetas (Sudjarwo, 2012).
Fertilitas merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan dalam
usaha penetasan karena hanya telur yang fertile yang dapat menghasilkan DOC.
Fertilitas adalah persentase dari telur-telur yang memperlihatkan adanya
perkembangan embrio dari sejumlah telur yang ditetaskan. Untuk mengetahui
fertile atau tidaknya telur, dilakukan peneropongan (Setiadi, 1995). Brata (1989)
menyatakan bahwa yang dimaksud dengan fertilitas adalah persentase telur-telur
yang memperlihatkan adanya perkembangan embrio, tanpa memperhatikan
apakah telur-telur tersebut menetas atau tidak dari sejumlah telur yang dieramkan.
Selanjutnya dinyatakan bahwa dengan mengetahui fertilitas maka dapat dibedakan
telur-telur yang bertunas atau tidak. Kedaan ini menguntungkan pembibit, tetapi
fertilitas justru tidak dapat ditentukan dulu sebelum telur-telur ditetaskan.
Ditambahkan juga bahwa fertilitas yang tinggi diperlikan untuk menghasilkan dan
meningkatkan daya tetas.
Fertilitas dipengaruhi jumlah jantan dan betina dalam satu kandang.
Perbandingan jantan dan betina yang makin kecil akan menurunkan fertilitas.
Fertilitas yang tinggi akan dicapai jika dalam satu kandang terdapat jantan dan
betina dengan perbandingan 1:3 (Rasyaf, 1994). Listiyowati dan Roospitasari
(1995) menambahkan bila terlalu banyak pejantan dalam satu kandang, maka
pejantan tersebut dikhawatirkan bisa merusak betina karena terlalu sering
dikawini. Selain itu, pejantan-pejantan ini akan menghabiskan banyak
pakan.sdangkan bila jumlah betina terlalu banyak, banyak telur yang tidak
terbuahi atau infertil sehingga tidak bisa digunakan sebagai telur tetas.
Menurut Manyun dan Nugroho (1981), kematian embrio banyak terjadi
dalam keadaan kritis selama waktu penetasan. Ada dua fase kritis embrio dalam
penetasan, yaitu pada tiga hari pertama masa penetasan dan tiga hari sebelum
menetas. Mortalitas embrio dapat ditentukan pada hir penetasan denan pemecahan
11

telur yang tidak menetas. Hal ini dapat diketahui dari tidak menetasnya telur pada
ahir penetasan.

2.3 Pemanenan DOC dan evaluasi hasil tetas

2.3.1 Evaluasi Hasil Tetas

Evaluasi hasil tetas dilakukan setelah telur menetas, pelaku usaha

penetasan harus segera melakukan evaluasi dan pencatatan (recording) terhadap

hasil penetasan yang diperoleh. Pencatatan dapat digunakan sebagai bahan


pertimbangan pelaku usaha penetasan untuk meningkatkan kualitas hasil

tetas. Evaluasi dan pencatatan meliputi daya tetas, kondisi kesehatan setelah

penetasan, tingkat kematian, fertilitas dan telur yang tidak menetas akibat dead in

shell (Hartono dan Isman, 2010). Dalam suatu penetasan tidak seluruh telur

menetas secara bersamaan. Pada perusahaan penetasan komersial, lama penetasan

ditetapkan 500 jam, setelah diketahui jumlah telur yang menetas dan tidak maka

keberhasilan penetasan dapat dihitung dengan cara menghitung daya

tetas (hatchability) (Suprijatna dkk, 2008).

2.3.2 Pull Chick

Pull chick atau tarik ayam yaitu proses pengeluaran DOC dari mesin

hatcher. Pull chick dilakukan setelah 21 hari pemeraman atau sekitar 504 jam.

Penambahan lama waktu pemeraman dapat menyebabkan DOC dehidrasi.

Keragaman lama waktu pemeraman disebabkan karena perbedaan ukuran telur.

Semakin besar telur maka telur tersebut membutuhkan panas yang lebih banyak

untuk menetas, sehingga memerlukan waktu inkubasi yang lebih lama. Faktor

yang berpengaruh terhadap besar kecilnya ukuran telur yaitu usia induk. Semakin

tua usia induk maka telur yang dihasilkan semakin besar sehingga membutuhkan
12

panas yang lebih banyak. Telur pertama yang dihasilkan oleh induk lebih kecil

daripada yang dihasilkan berikutnya. Ukuran telur secara bertahap meningkat

sejalan dengan mulai teraturnya induk bertelur. Timing pada saat pull chick harus

tepat yaitu pada saat bulunya sudah kering dan dapat berdiri tegak. Hal ini

bertujuan untuk mencegah terjadinya cacat pada anak ayam.. Anak ayam yang

telah menetas sebaiknya segera dikeluarkan dari mesin tetas, kira-kira setelah 95%

bulunya sudah kering kemudian dipindahkan dari bagian penetasan ke ruang pull

chick dengan suhu 75o F (23,9o C), tujuannya untuk mengurangi cekaman panas

pada DOC (Suprijatna dkk, 2005).

2.3.3 Seleksi DOC

Setelah selesai proses pull chick, kemudian DOC diseleksi. Hal yang

perlu diperhatikan dalam seleksi yaitu kesehatan dan cacat fisik anak ayam. Ciri-

ciri DOC yang baik antara lain pusar tertutup sempurna dan berwarna sama

dengan bulunya, tidak kuning, hitam dan juga tidak terdapat tali seperti antena,

paruh normal, jumlah bagian tubuh normal, kotoran tidak menempel pada dubur.
Ciri-ciri DOC yang baik yaitu berat badan tidak kurang dari 32 gram, berperilaku

gesit, lincah dan aktif mencari makan, kotoran tidak menempel pada dubur, posisi

di dalam kelompok selalu tersebar, rongga perut elastis, pusar kering tertutup

bulu kapas yang halus, lembut dan mengkilap, mata bulat dan cerah (Sudarmono,

2003). Ciri-ciri DOC yang baik menurut SNI (2005) yaitu bobot per ekor

minimal 37 gram; kondisi fisik sehat, kaki normal dan dapat berdiri tegak, paruh

normal, tampak segar dan aktif, tidak dehidrasi, tidak ada kelainan bentuk dan

tidak cacat fisik, sekitar pusar dan dubur kering dan pusar tertutup, warna bulu
13

seragam sesuai dengan warna galur (strain) dan kondisi bulu kering dan

berkembang, jaminan kematian kuri maksimal 2%.

Sedangkan DOC yang jelek mempunyai ciri ciri bulu kering karena dehidrasi,

pusar tidak tertutup sempurna, kuning telur tidak terserap sempurna (omphalitis),

kaki bengkok dan tidak dapat berdiri tegak, jari kaki kurang atau lebih, paruh

bengkok, kerdil, terdapat kotoran pada anus. DOC yang tidak layak jual kemudian

diculling dan dimusnahkan kedalam karung untuk selanjutnya digunakan untuk

pakan lele. Hal ini sesuai dengan pendapat Suprijatna bahwa seleksi anak ayam

yang baru menetas merupakan pemisahan antara anak ayam yang baik dengan

yang tidak baik. Anak ayam yang baik dapat dikelola lebih lanjut, sedangkan

yang buruk harus diafkir. Telur yang tidak menetas karena mati dalam cangkang

(dead in shell) disebabkan oleh beberapa faktor antara lain temperatur penetasan

pada 3 hari terakhir terlalu tinggi ataupun terlalu rendah (Suprijatna.,2005).


14

III

KESIMPULAN

1. Pada persiapan penetasan, mesin tetas yang digunakan diusahakan


memenuhi aneka macam syarat yang sesuai untuk perkembangan
struktural serta fisiologi dari embrio anak ayam serta alat tetas butuh
dipertimbangkan beberapa solusi dalam pengaturan parameter biologi.
2. Tatalaksana Penetasan dapat dilakukan baik secara alami maupun buatan.
Tingkat keberhasilan antara penetasan alami dan penetasan buatan
dipengaruhi oleh beberapa faktor.
3. pemanenan DOC diawali dari pull chick atau pengeluaran anak ayam dari
mesin hatcher. Kemudian dilakukan seleksi anak ayam dengan
memperhatikan kesehatan dan cacat fisik anak ayam.
4. Evaluasi hasil tetas dilakukan setelah telur menetas, pelaku usaha
penetasan harus segera melakukan evaluasi dan pencatatan (recording)
terhadap hasil penetasan yang diperoleh.
15

DAFTAR PUSTAKA

Brata, B. 1989. Pengaruh frekwensi selama penyimpanan telur tetas puyuh


(Coturnix-coturnix Japonica) terhadap daya tetas. Laporan penelitian.
Universita Bengkulu.

Gillespie, R. J., 1992. Modern Livestock and Poultry Production. Fourth Edition.
Jond Willey & Sons. Inc. New York.

Kartasudjana dan Suprijatna. 2010. Manajemen Ternak Unggas. Penebar


Swadaya, Jakarta.

Imanah dan maryam. 1992. Mesin Tetas dan System Pemeliharaan Ayam. C.V.
Bahagia Pekalongan

Listiowati, E. dan Roospitasari, K. 1995. Puyuh, tata laksana budidaya secara


komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.

Mahfudz, L.D. 1998. Manajemen Penetasan Telur Unggas. Fakultas Peternakan


Universitas Diponegoro

Nesheim. 1979. Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Penerbit Kanisius.


Yogyakarta.

North, dalam Kartasudjana, Ruhyat dan Suprijatna, E. 2010. Manejemen Ternak


Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Nugroho dan I. Mayun. 1981. Beternak burung puyuh. Eka Offset. Semarang.

Nuryati , T, Sutarto, M. Khamim, dan P.S. Hardjosworo. 2002. Sukses


Menetaskan Telur. Cetakan keempat. Penebar Swadaya, Jakarta.

Paimin, F.B. 2003. Membuat dan Mengelola Mesin Tetas. Cetakan keenam belas.
Penebar Swadaya. Jakarta.

Rahayu, B.W.I., J.H.P. Sidadolog, dan A. Maria. 2001. Kematian Ayam Legund
(Naked Neck Fowl) Berdasarkan Genotip pada Fase Embrional.
Mediagama III (2).

Rasyaf, M. 1994. Beternak Ayam Petelur. Edisi ke VII. Penebar Swadaya: Jakarta.
16

Setiadi, P. 1995. Perbandingan berbagai metode penetasan telur ayam kedu


hitam daerah pengembangan Kalimantan Selatan. Seminar Nasional Sains
dan Teknologi Peternakan. Balai Penelitian Ternak Ciawi-Bogor.

Siregar, A.P ., M.H. Togatorop dan Sumarni . 1975 . Pengaruh beberapa tingkat
konsentrasi
SNI01-4868.1-2005. Bibit niaga (final stock) ayam ras tipe pedaging umur sehari

(kuri/doc). Dewan Standarisasi Nasional.

Srigandono, B. 1997. Produksi Unggas Air. Cetakan Ke-3. Gajah Mada


Universitas Press, YogyakartT.
Sudarmono, A.S. 2003. Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Kanisius,

Yogyakarta.

Sudradjad. 2003. Beternak Ayam Cemani. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sudjarwo, Edhy. (2012). Tulisan Yang Kami Sajikan Di Blog Ini: Merupakan
Beberapa Hasil Penelitian Penulis, Pengalaman Penulis Saat Membimbing
Praktikum Mahasiswa, Hasil Membimbing Penelitian Mahasiswa, Jurnal
Dan Hasil Telaah Dari Seminar Yang Telah Penulis Hadiri Baik Dari
Dalam Maupun Dari Luar Negeri. Pengaruh bobot telur dan umur induk
terhadap performans pada burung puyuh (Coturnix coturnix japonica),
(1987). http://edhysudjarwounggas.lecture.ub.a c.id/[diaksesb pada tanggal
16 Agustus 2017)

Suprijatna, E. 2005. Ayam Buras Krosing Petelur, Penebar Swadaya, Jakarta.


Suprijatna, E., Umiyati Atmomarsono, Ruhyat Kartasudjana. 2008. Ilmu Dasar

Ternak Unggas. Penebar Swadaya: Jakarta

http://klinikternak.com/ternak-bebek-itik-6-proses-penetasan-telur-bebek-itik-
dengan-mesin-tetas/ (diakses pada tanggal 16 Agustus 2017)
17

LAMPIRAN

Distribusi Penugasan Anggota Kelompok


Pembahasan persiapan penetasan dan tatalaksana
Eva Yuliana P
penetasan

Gustiana M Editing, Cover, Kata Pengantar, Daftar isi

Fakhri M Power Point

Delliana RP Pendahuluan.

Eka SPS Pemanenan DOC dan evaluasi hasil tetas, Kesimpulan.