Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH KOMUNIKASI KELOMPOK DALAM KEPERAWATAN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi Keperawatan

Dosen Pengampu:
Dhian Ririn Lestari., Ns., M.Kep

Oleh:
Kelompok 3

Anggota:

Asih (1710913420003) Muhibbah (1710913420017)


Eka Supriyatna (1710913420004) Muriati (1710913420018)
Helmina (1710913420003) Nursyifa Aliya Rosyada (1710913420025)
Mahmuddin (1710913410012) Rina Yuniarti (1710913420026)
M. Arsyad(1710913410015) Suci Martha Aprilia (1710913420030)
M. Erfansyah(1710913410016) Rizka Khoirunisa (I1B115615)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2017
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat, taufik serta hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
komunikasi kelompok dalam keperawatanuntuk memenuhi tugas pada mata
kuliah komunikasi keperawatan dengan dosen pengampuDhian Ririn Lestari.,
Ns.,M.Kep. Berkat dari kerjasama kelompok yang baik kami dapat dengan lancar
menyelesaikan makalah ini.Semoga makalah tentang komunikasi kelompok dalam
keperawatanini dapat dipergunakan dengan semestinya dan memberikan
pengetahuan bagi para pembaca. Kami sadar makalah ini masih jauh dari kata
sempurna dan masih banyak kekurangan, oleh sebab itu kritik dan saran yang
membangun akan kami terima untuk menjadi lebih baik kedepannya.

Banjarbaru, Oktober 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .............................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan ..........................................................................................2
1.4 Manfaat Penulisan ........................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Komunikasi dan Kelompok..........................................................................4


2.1.1. Pengertian Komunikasi ......................................................................4
2.1.2. Pengertian Kelompok .........................................................................5
2.1.3. Dinamika Kelompok ..........................................................................7
2.1.4. Tipe Kelompok Layanan Kesehatan ..................................................7
2.2 Komunikasi Kelompok ................................................................................9
2.3 Komunikasi Kelompok Dalam Keperawatan.............................................14

BAB III PENUTUP

3.1 Simpulan ....................................................................................................22


3.2 Saran ...........................................................................................................22

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................23

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan dunia kesehatan yang semakin pesat kian membuka
pengetahuan masyarakat mengenai dunia kesehatan dan keperawatan.Hal ini
ditandai dengan banyaknya masyarakat yang mulai menyoroti kinerja tenaga
kesehatan dan mengkritisi berbagai aspek yang terdapat dalam pelayanan
kesehatan. Pengetahuan masyarakat yang semakin meningkat, berpengaruh
terhadap meningkatnya tuntutan masyarakat akan mutu pelayanan kesehatan,
termasuk pelayanan keperawatan. Oleh karena itu citra seorang perawat kian
menjadi sorotan.Hal ini tentu saja merupakan tantangan bagi profesi
keperawatan dalam mengembangkan keprofesionalisme selama memberikan
pelayanan yang berkualitas agar citra perawat dimata masyarakat senantiasa
baik.
Sebagai perawat yang baik, kita tidak hanya memiliki pengetahuan yang
luas, empati terhadap klien maupun memiliki komunikasi yang bagus. Perawat
juga harus bisa membuat klien merasa nyaman saat menjalani perawatan di
rumah sakit. Buatlah klien merasa menjalani perawatan dirumah sendiri.
Perhatikan kebutuhan-kebutuhan klien, karena setiap klien mempuanyai
kebutuhan dan keluhan yang berbeda. Lakukan komunikasi dengan keluarga
klien, supaya keluarga klien lebih mengerti tentang penyakit yang dialami
oleh klien, bagaimana cara keluarga klien memperlakukan klien yang sedang
sakit sehingga klien merasa dekat dan mendapat perhatian yang sama dari
anggota keluarga saat ketika klien masih sehat. Selain itu, komunikasi yang
baik antara klien dengan keluarganya juga memberi semangat dan harapan
akan kesembuhan bagi klien serta dapat membantu mempercepat proses
kesembuhan.
Peran perawat sebagai komunikator juga sangat berpengaruh terhadap
citra perawat dimata masyarakat.masyarakat sangat mengharapkan perawat
dapat menjadi komunikator yang baik. Klien juga manusia yang
membutuhkan interaksipada saat menjalani asuhan keperawatan. Komunikasi

1
verbal maupun non verbal yang dilakukan dengan perawat sedikit banyak
akan berpengaruh terhadap peningkatan kesehatan klien. Keperawatan
mencakup komunikasi dengan klien dan keluarga klien, antar sesama perawat
dan profesi kesehatan lainnya, serta sumber informasi dan komunitas. Kualitas
komunikasi yang dimiliki oleh perawat merupakan faktor yang menentukan
dalam memenuhi kebutuhan individu, keluarga, dan komunitas. Sudah
seharusnya seorang perawat yang profesional memiliki kualitas komunikasi
yang baik saat berhadapan dengan klien, keluarga klien, maupun siapa saja
yang membutuhkan informasi mengenai masalah keperawatan yang terkait
dengan kesehatan klien.
Komunikasi merupakan proses yang sangat khusus dan berarti dalam
hubungan antar manusia. Pada profesi keperawatan komunikasi menjadi lebih
bermakna karena merupakan metoda utama dalam mengimplementasikan
proses keperawatan. Dalam dunia keperawatan komunikasi kelompok
digunakan sebagai metode untuk mengatasi masalah-masalah kejiwaan atau
psikologis yang dialami oleh klien.
Kelompok merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas
kita sehari-hari.Kelompok baik yang bersifat primer maupun sekunder,
merupakan wahana bagi setiap orang untuk dapat mewujudkan harapan dan
keinginannya berbagi informasi dalam hampir semua aspek kehidupan.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang tersebut, maka dapat diambil beberapa rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Apa pengertian Komunikasi kelompok ?
2. Bagaimana komunikasi kelompok dalam keperawatan?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui dan mengerti tentang Pengertian Komunikasi
kelompok dalam keperawatan .
2. Untuk mengetahui dan mengerti tentang Komunikasi kelompok dalam
keperawatan.

2
1.4 Manfaat Penulisan
1. Dengan kita membaca dan mempelajari isi dari makalah ini membuat
bertambahnya pengetahuan serta wawasan mengenai komunikasi
kelompok dalam keperawatan.
2. Memberikan literatur tambahan bagi para mahasiswa selanjutnya yang
memerlukan materi terkait komunikasi kelompok dalam keperawatan.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Komunikasi dan Kelompok


2.1.1 Pengertian Komunikasi
Komunikasi berasal dari kata to Commune yang berarti
menjadikan milik bersama.Berikut beberapa pengertian komunikasi.
Komunikasi adalah pertukaran informasi antara dua atau lebih
manusia, atau dengan kata lain pertukaran ide dan pikiran (Kozier &
Erb, 1995). Komunikasi proses pengoperan lambang yang memiliki
arti di antara individu. Komunikasi adalah proses ketika seorang
individu (komunikator) mengoper perangsang (biasanya lambang
bahasa) untuk mengubah tingkah laku individu yang lain(komunikan).
Komunikasi adalah proses interpersonal yang melibatkan
perubahan verbal dan nonverbal dari informasi dan ide. Sedangkan
komunikasi terapeutik adalah proses dimana perawat yang
menggunakan pendekatan terencana mempelajari klien. proses
memfokuskan pada klien namun direncanakan dan dipimpin oleh
seorang profesional. (Potter & Perry, 2009).Stuart,G.W., & Laraia,
2005 mengatakan bahwa dalam hubungan komunikasi terapeutik
perawat dan klien menjadi penting dalam mengeksplorasi kebutuhan
klien.
Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku
dan memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain
dan dunia sekitarnya. Menurut Potter dan Perry (1993), komunikasi
terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal dan
publik.
Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi
(1984), dan Tappen (1995) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal,
tertulisa dan non-verbal yang dimanifestasikan secara terapeutik.
Teori komunikasi sangat sesuai dalam praktek keperawatan (Stuart
dan Sundeen, 1987) karena :

4
1. Komunikasi merupakan cara untuk membina hubungan yang
terapeutik. Dalam proses komunikasi terjadi penyampaian
informasi dan pertukaran perasaan dan pikiran.
2. Maksud komunikasi adalah mempengaruhi perilaku orang lain.
Berarti, keberhasilan intervensi keperawatan bergantung pada
komunikasi karena proses keperawatan ditujukan untuk merubah
perilaku dalam mencapai tingkat kesehatan yang normal.
3. Komunikasi adalah berhubungan. Hubungan perawat dan klien
yang terapeutik tidak mungkin dicapai tanpa komunikasi.

2.1.2 Pengertian Kelompok


Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan
bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan
bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka
sebagai bagian dari kelompok tersebut (Deddy Mulyana, 2005).
Cartwright dan Zender (1968): kelompok itu sekumpulan individu
yang mempunyai hubungan antara anggota yang satu dengan yang
lain yang membuat mereka saling tergantung dalam tingkatan tertentu.
Baron & Byrne (1979): kelompok memiliki dua tanda psikologis,
yaitu pertama, adanya sense of belonging ; kedua, nasib anggota
kelompok tergantung satu sama lain sehingga hasil setiap anggota
terkait dengan anggota yang lain.
Forsyth (1983): kelompok adalah dua atau lebih individu yang
saling mempengaruhi melalui interaksi sosial.
Kozier.,et all (2010) menyampaikan bahwa kelompok adalah dua
atau lebih individu yang berbagi kebutuhan dan tujuan berama,
melibatkan satu sama lain ke dalam tindakan yang mereka lakukan,
dan akhirnya bersatu padu serta memisahkan diri dari pihak lain demi
kebaikan interaksi yang mereka lakukan. Kelompok hadir untuk
membantu manusia mencapai tujuan yang tidak dapat dicapai dengan
kemampuan individu.

5
Gibson : kumpulan yang terdiri dari dua individu atau lebih yang
berinteraksi dan saling bergantungan, yang saling berhubungan untuk
mencapai tujuan tertentu.
Jenis Kelompok :

1. Kelompok Primer: dalam kelompok ini terjadi interaksi sosial


yang intensif serta hubungan lebih erat diantara anggota serta
biasa disebut dengan kelompok tatap muka yang diartikan
dengan suatu kelompok sosial yang anggotanya sering bertatap
muka dan saling mengenal dekat, serta memiliki hubungan erat.
Sifat interaksi ini lebih bersifat kekeluargaan dan berdasarkan
simpati. Pada kelompok ini memiliki sense of belongingnes/rasa
memiliki yang tinggi diantara anggota.
2. Kelompok Sekunder: interaksi pada kelompok ini terjadi atas
saling hubungan yang tidak langsung, formal, berjauhan, dan
kurang bersifat kekeluargaan. Hubungan ini lebih bersifat
obyektif dan rasional, sifat interaksi atas dasar pertimbangan
untung rugi.
3. Kelompok bentukan, kelompok ini terjadi karena dibentuk oleh
kekuatan eksternal, artinya wadah kelompok disediakan oleh
pihak tertentu, dimana anggota dari kelompok bentukan ini
terdiri dari berbagai macam kelompok tertentu yang disatukan.
Ciri ciri yang mudah terlihat adalah kurangnya rasa seiya
sekata dalam langkah dan ikatan batin antar anggota kurang
kuat. Kelompok ini juga memiliki struktur organisasi dan
pembagian kerja demi kelangsungan kelompok. Kelompok ini
kurang kuat dan mudah digoyang oleh kekuatan eksternal lain.

6
2.1.3 Dinamika Kelompok
Komunikasi yang berlangsung antar anggota dikenal dengan
dinamika kelompok. Tata cara komunikasi ini akan ditentukan oleh
sejumlah variable dan faktor yang saling terkait. Setiap anggota
kelompok akan memberikan pengaruh pada dinamika kelompok,
didasarkan pada motivasi mereka dalam berpartisipasi, kesamaan
mereka dengan kelompok lain, kedewasaan anggota kelompok dalam
mengekspresikan perasaan mereka dalam tujuan kelompok tersebut.
2.1.4 Tipe Kelompok Layanan Kesehatan

Sebagian besar kehidupan perawat dihabiskan dibanyak ragam


kelompok, dari dua hingga organisasi profesional yang besar.Sebagai
partisipan kelompok, perawat mungkin diharuskan menjalani peran
yang berbeda baik menjadi anggota atau pemimpin, pemberi saran
atau penerima saran sesuai dengan kapasitasnya.Tipe kelompok
layanan kesehatan yang umum meliputi kelompok kerja, kelompok
penyuluhan, kelompok swabantu, kelompok terapi, dan kelompok
pendukung sosial terkait kerja. Kerja profesional dalam kelompok
bergantung pada gaya kepemimpinan, tanggung jawab anggota,
tanggung jawab kepemimpinan, dan identifikasi tugas dalam fase
grup berbeda.

7
TABEL 1.1 Perbandingan kelompok yang efektif dan tidak efektif.(Kozier,.et
all.,2010).

Faktor Kelompok efektif Kelompok tidak efektif


Suasana Nyaman dan rileks, suasana kerja Tegang, kurangnya privasi dan
tempat orang mendemonstrasikan komitmen sukarela terhadap
peran serta mereka kelompok.

Tujuan Tujuan, tugas, dan hasil lebih mudah Tujuan tidak jelas, disalah
dipahami, dimengerti, dan mengerti dan dipaksakan
dimodifikasi agar anggota kelompok
dapat berkomitmen terhadap tujuan
melalui kerjasama.

Kepemimpinan Kepemimpinan demokratis. Otoriter : pemimpin


dan partisipasi Pergantian kepemimpinan dilakukan mendominasi kelompok atau
anggota berdasarkan pengetahuan dan anggota terlalu tunduk.
pengalaman yang dimiliki. Partisipasi anggota tidak
seimbang, didominasi oleh
beberapa orang

Komunikasi Terbuka, ide-ide dan pemikiran Tertutup: hanya upaya untuk


pendapat dukungan menhasilkan ide yang
mendapatkan dukungan. Perasaan
diabaikan. Anggota dapat
memiliki tujuan yang
bertolakbelakang dengan tujuan
kelompok

Pengambilan Dilakukan oleh kelompok meskipun Dilakukan oleh otoritas tertinggi


keputusan berbagai prosedur berdasarkan dalam kelompok dengan
situasi yang ada. keterlibatan yang minimal dari
anggota kelompok yang lain.

Kohesi Difasilitasi melalui penghargaan Pemimpin mengklaim berjasa


terhadap anggota kelompok yang dalam pencapaian, komentar
lain, ekspresi perasaan yang terbuka, bersifat kritis da berfokus pada
percaya dan dukungan karakteristik personal.

Pemecahan Tinggi: kritik yang mebangun sering Rendah: kritik tidak membangun,
masalah dilontarkan. Jujur, relatif nyaman, muncul dalam bentuk serangn
dan diorientasikan untuk pemecahan pribadi yang terang terangan atau
masalah. tersembunyi.

Kreativitas Mendapatkan dukungan Tidak memperoleh dukungan

8
2.2 Komunikasi Kelompok
2.2.1 Pengertian
Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara
beberapa orang dalam suatu kelompok kecil seperti dalam rapat,
pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael
Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi
kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau
lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi,
menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya
dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain
secara tepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai
kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki
susunan rencana kerja tertentu umtuk mencapai tujuan kelompok.

2.2.2 Tujuan
Komunikasi kelompok dapat digunakan untuk bermacam-macam
tugas atau untuk memecahkan masalah. Tetapi, dari semua tujuan itu
dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu :
a. Tujuan Personal
Tujuan personal adalah
1. Hubungan Sosial
Komunikasi ini dilakukan agar kita dapat bergaul dengan
orang lain. Tujuannya adalah memperkuat hubungan
interpersonal dan menaikkan kesejahteraan Kita.
2. Penyaluran
Tujuan ini biasa dilakukan dalam suasana yang mendukung
adanya pertukaran pikiran atau atau dalam diskusi keluarga,
dimana keterbukaan diri sangat dibutuhkan. Tujuan ini juga
cenderung memfokuskan komunikasi kepada masalah
personal daripada hubungan interpersonal

9
3. Kelompok Terapi
Komunikasi kelompok ini juga dapat bertujuan untuk
terapi.Biasanya digunakan untuk memabantu orang
menghilangkan sikap-sikap buruk mereka, atau tingkah
laku dalam beberapa aspek kehidupan mereka.Misalnya,
suatukelompok terapi mencakup orang-orang yang suka
minum-minum keras, obat-obatan atau masalah
lainnya.Biasanya kelompok terapi ini dibimbing oleh
tenaga profesional yang terlatih untuk melakukan
psikoterapi kelompok atau bimbingan dengan baik. Dalam
keperawatan hal ini dilakukan untuk mengupayakan
kepulihan klien yang dirawat di RSJ oleh perawat yang
sudah terlatih
4. Belajar
Tujuan belajar ini digunakan oleh seseorang untuk belajar
dari orang lain. Belajar terjadi dalam bermacam-macam
setting dan paling biasa dalam kelas.Asumsi yang
mendasari daribelajar kelompok, adalah ide dari dua kepala
atau lebih
b. Tujuan yang Berhubungan Dengan Pekerjaan
1. Pembuatan Keputusan
Orang-orang berkumpul bersama dalam kelompok untuk
membuat keputusan mengenai sesuatu.Bila orang
berpartisipasi dalam pembuatan keputusan, mereka lebih
suka menerima hasil kerjanya dan melakukannya dengan
baik.
2. Pemecahan masalah
Kelompok adalah cara yang terbaik dalam memecahkan
masalah. Sehingga dapat pula menyempurnakan hubungan
yang kurang baik.

10
Sedangkan tujuan komunikasi menurut Effendy (2006) antara lain:
a. Perubahan sikap (attitude change)
b. Perubahan pendapat (opinion change)
c. Perubahan perilaku (behavior change)Perubahan sosial
(social change)

2.2.3 Unsur unsur Komunikasi kelompok

Komunikasi telah didefinisikan sebagai usaha penyampaian pesan


antar manusia, sehingga untuk terjadinya proses komunikasi minimal terdiri
dari 3 unsur yaitu: pengirim pesan (komunikator), penerima pesan
(komunikan) dan pesan itu sendiri. Awal tahun 1960-an, David K. Berlo
membuat formula komunikasi yang lebih sederhana yang dikenal dengan
SMCR, yaitu: Source (pengirim), Message (pesan), Channel (saluran-
media) dan Receiver (penerima).

a. Komunikator

Pengirim pesan (komunikator) adalah manusia berakal budi yang


berinisiatif menyampaikan pesan untuk mewujudkan motif
komunikasinya. Komunikator dapat dilihat dari jumlahnya terdiri
dari (a) satu orang; (b) banyak orang dalam pengertian lebih dari
satu orang; (c) massa.

b. Komunikan

Komunikan (penerima pesan) adalah manusia yang berakal budi,


kepada siapa pesan komunikator ditujukan. Peran antara
komunikator dan komunikan bersifat dinamis, saling bergantian.

c. Pesan

Pesan bersifat abstrak. Pesan dapat bersifat konkret maka dapat


berupa suara, mimik, gerak-gerik, bahasa lisan, dan bahasa tulisan.
Pesan bersifat verbal (verbal communication): (1) oral (komunikasi

11
yang dijalin secara lisan); (2) written (komunikasi yang dijalin
secara tulisan).Pesan bersifat non verbal (non verbal
communication): (1) gestural communication (menggunakan sandi-
sandi bidang kerahasiaan)

d. Saluran komunikasi dan media komunikasi

Saluran komunikasi merupakan alat yang digunakan untuk


memindahkan pesan dari sumber kepada penerima.Terdapat dua
cara: (1) non mediated communication (face to face), secara
langsung; (2) dengan media.

e. Efek komunikasi

Efek komunikasi diartikan sebagai pengaruh yang ditimbulkan


pesan komunikator dalam diri komunikannya. Terdapat tiga
pengaruh dalam diri komunikan : (1) kognitif (seseorang menjadi
tahu sesuatu); (2) afektif (sikap seseorang terbentuk) dan (3)
konatif (tingkah laku, hal yang membuat seseorang bertindak
melakukan sesuatu).

f. Umpan balik
Umpan balik dapat dimaknai sebagai jawaban komunikan atas
pesan komunikator yang disampaikan kepadanya. Pada komunikasi
yang dinamis, komunikator dan komunikan terus-menerus saling
bertukar peran
2.2.4 Penggunaan komunikasi kelompok
komunikasi digunakan sebagai awal dalam membina rasa percaya
antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, yaitu perawat
dengan perawat, perawat dengan klien, klien dengan klien yang lainnya.
Dengan begitu seorang yang kita ajak berbicara bisa dengan tenang dan
tidak ragu dalam mengeksplor perasaannya, mengungkapkan segala
masalah yang dihadapinya sehingga tiap-tiap klien mau saling berbagi

12
kepada anggota kelompoknya dengan demikian klien akan merasa lebih lega
dan merasa beban masalah yang dihadapi lebih ringan.
Dengan berkolompok seseorang akan lebih mudah menyelesaikan
tugas yang diberikan karna segala sesuatu yang dikerjakan secara bersama-
sama akan lebi ringan daripada dikerjakan sendiri-sendiri.
Selain itu hidup berkelompok juga bisa Untuk kelangsungan hidup,
memupuk hubungan, dan memperoleh kebahagiaan.Sejak lahir, kita tidak
dapat hidup sendiri untuk mempertahankan hidup. Kita perlu dan harus
berkomunikasi dengan orang lain, untuk memenuhi kebutuhan biologis kita
seperti makan dan minum, dan memnuhi kebutuhan psikologis kita seperti
sukses dan kebahagiaan. Para psikolog berpendapat, kebutuhan utama kita
sebagai manusia, dan untuk menjadi manusia yang sehat secara rohaniah,
adalah kebutuhan akan hubungan sosial yang ramah, yang hanya bisa
terpenuhi dengan membina hubungan yang baik dengan orang lain.
Abraham Moslow menyebutkan bahwa manusia punya lima kebutuhan
dasar: kebutuhan fisiologis, keamanan, kebutuhan sosial, penghargaan diri,
dan aktualisasi diri.
2.2.5 Manfaat komunikasi kelompok dalam keperawatan
Komunikasi antar kelompok dalam keperawatan sangatlah
penting. Komunikasi kelompok ini terjadi pada saat penyerahan tugas
dari dinas pagi ke dinas siang, dari dinas siang ke dinas malam dan
sebagainya untuk kepentingan pelayanan klien. Adapun manfaat dari
komunikasi kelompok dalam keperawatan, antaralain adalah:
a. Untuk pemberian asuhan keperawatan selanjutnya

b. Memberikan pelayanan kepada klien sebaik mungkin

c. Meningkatkan kesehatan dan memberi pelayanan kesehatan


kepada klien

d. Adanya bentuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan


dalam pelayanan keperawatan pada klien

e. Mempercepat proses penyembuhan klien

13
f. Menghindari terjadinya kesalahpahaman atau diskomunikasi
antara klien maupun keluarga pada saat menyampaikan informasi
mengenai kesehatan klien

g. Terjalinnya kerjasama yang baik antara klien dengan perawat


sehingga klien merasa betah saat menjalani proses perawatan

h. Memberikan informasi atau penyuluhan mengenai penyakit klien


dan cara penanggulangannya sehingga ketika klien sembuh, klien
dapat mengantisipasi kemungkinan penyakitnya kambuh lagi

2.3 Komunikasi Kelompok Dalam Keperawatan

Perawat menjalankan peran yang membutuhkan interaksi dengan berbagai


anggota tim pelayanan kesehatan. Unsur yang membentuk hubungan perawat
klien juga dapat diterapkan dalam hubungan sejawat, yang berfokus pada
pembentukan lingkungan kerja yang sehat dan mencapai tujuan tatanan klinis.
Komunikasi ini berfokus pada pembentukan tim, fasilitasi proses kelompok,
kolaborasi, konsultasi, delegasi, supervisi, kepemimpinan, dan manajemen.
Dibutuhkan banyak keterampilan komunikasi, termasuk berbicara dalam
presentasi, persuasi, pemecahan masalah kelompok, pemberian tinjauan performa,
dan penulisan laporan. Didalam lingkungan kerja, perawat dan tim kesehatan
membutuhkan interaksi sosial dan terapeutik untuk membangun kepercayaan dan
meperkuat hubungan. Semua orang memilki kebutuhan interpribadi akan
penerimaan, keterlibatan, identitas, privasi, kekuatan dan kontrol, serta perhatian.
Perawat membutuhkan persahabatan, dukungan, bimbingan, dan dorongan dari
pihak lain untuk mengatasi tekanan akibat stress pekerjaan dan harus dapat
menerapkan komunikasi yang baik dengan klien, sejawat dan rekan kerja. (Potter
& Perry, 2009).
Komitmen untuk kolaborasi dalam hubungan kerja dengan para
profesional lain membantu mempertahankan kualitas tinggi dari perawatan klien.
Keberhasilan kelompok bergantung pada hubungan baik diantara tim, terutama
pemimpin tim dengan anggota tim yang lain. Untuk mendorong terjadinya
komunikasi, pemimpin tim harus selalu mengamati prinsip komunikasi menurut
WHO, 1999 :

14
o Seluruh anggota tim harus bebas mengemukakan dan menjelaskan
pandangan mereka dan harus didorong untuk bertindak seperti itu.
o Sebuah pesan atau komunikasi, baik lisan maupun tertulis harus
dinyatakan dengan jelas dan dalam bahasa atau ungkapan yang dapat
dimengerti
o Komunikasi mempunyai 2 unsur yaitu mengirim dan menerima, bila
pesan yang dikirim tidak diterima komunikasi tidak berjalan. Dengan
demikian pemimpin tim harus selalu meggunakan suatu cara untuk
memeriksa apakah efek yang diharapkan terjadi.
o Perselisihan atau pertentangan adalah normal dalam hubungan antar
manusia, hal ini sudah diatur sedemikian sehingga dapat mencapai
hasil yang konstruktif.
Pengaturan ruangan untuk membantu komunikasi cobalah dengan
mengatur ruangan, kantor kelas dan ruangan kelompok, pendidikan lainnya
sehingga komunikasi dapat berjalan dengan efektif. Diagram dibawah
menunjukkan pengaturan komunikasi dengan 1 pemimpin dan 4 anggota. (WHO,
1999. )

15
Ada 3 sarana komunikasi kelompok dalam keperawatan yang sering
dilakukan oleh para perawat :
a. Pendelegasian

Adalah Pendelegasian adalah kegiatan mengalihkan sebagian tugas kepada


orang lain. Pendelegasian bukan berarti mendistribusikan seluruh pelayanan
keperawatan kepada staf perawat, tetapi lebih dari itu.Pendelegasiannya
adalah menggabungkan aspek pekerjaan yang diperlukan untuk mencapai
tujuan keperawatan dengan personal yang memiliki kemampuan pfofesional
yang adekuat untuk melaksanakan tugas yang diberikan dengan tetap
mempertahankan standar pelayanan keperawatan.

Pendelegasian juga dapat dikatakan pengalihan tugas sebagai bentuk


tanggung jawab seseorang yang memiliki kekuasaan dengan mengalihkan
sebagian kekuasaannyuntuk melakukan sesuatu.Pendelegasian bergantung
pada keseimbangan antara aspek responsibility (tanggung jawab),
Accountability (tanggung gugat), dan Authority (kekuasaan). Ketika seorang
perawat mendelegasikan tugas, dapat dipahami bahwa ini berarti ia telah
memperluas kewenangannya, tidak hanya memberi asuhan keperawatan,
tetapi juga memberi tugas kepada rekan sejawatnya untuk bersamanya
melakukan asuhan keperawatan sekaligus menciptakan tanggung gugat baru
yaitu tanggung gugat yang harus dijalankan perawat yang menerima
pendelegasian.

Empat langkah pendelegasian, Yaitu;

1. Pemberian Tugas
2. Menjelaskan Rasional Tugas
3. Menjelaskan Tujuan: Spesifik, dapat diukur, dapat dicapai,dan waktu
4. Memberi delegasi penuh

Untuk melakukan pendelegasian yang efektif ada lima konsep yang perlu
diperhatikan, yaitu:

16
1. Delegasi bukanlah sistem penurunan tanggung jawab. Delegasi merupakan
cara untuk membuat tanggung jawab lebih bermakna
2. Tanggung jawab dan kewenangan harus didelegasikan secara setara
3. Delegasi harus diikuti pemantauan untuk melihat apakah proses
pendelegasian berjalan efektif dan seberapa jauh pencapaian tujuan yang
diharapkan
4. Konsep pemberdayaan diterapkan pada segenap kompenen tim perawatan
5. Perawat pemberi pelayanan harus mengambil peran aktif dalam memberi
pendelegasian perawatan klien

b. Rapat Tim Kesehatan


adalah media komunikasi antara tim kesehatan (rapat multidisiplin) untuk
membahas manajerial ruang untuk membicarakan hal-hal yang terkait dengan
manajerial.Tujuan rapat tim keehatan yaitu menyamakan persepsi terhadap
informasi yang didapat dari masalah yang ditemukan (khususnya masalah
manajerial), meningkatkan kesinambungan pemberian pelayanan kesehatan,
mengurangi kesalahan informasi, dan meningkatkan koordinasi antara anggota
tim kesehatan.
c. Case Conference
Konferensi kasus meliputi pertemuan-pertemuan yang dijadwalkan secara
rutin (Regularly Scheduled Series or Conferences).Pertemuan tersebut
dilaksanakan harian, mingguan, atau bulanan untuk diskusi tentang masalah-
masalah manajemen pasien spesifik untuk meningkatkan perawatan pasien
dalam sebuah institusi. Case conference adalah diskusi kelompok tim
kesehatan tentang kasus asuhan keperawatan klien atau keluarga. Setiap tim
kesehatan memiliki jadwal case conference masing-masing dan biasanya
diadakan dua kali tiap bulannya. Peserta case conference melibatkan tim
kesehatan yang terkait seperti perawat, dokter, atau anggota profesi lainnya
jika diperlukan. Waktu pertemuan dua kali dalam sebulan atau disesuaikan
dengan kondisi atau tingkat urgensi kasus.
Tujuan diadakannya case conference yaitu mengenal kasus dan
permasalahannya, mendiskusikan kasus untuk mencari alternatif penyelesaian
masalah asuhan keperawatan, meningkatkan koordinasi dalam rencana

17
pemberian asuhan keperawatan, dan meningkatkan pengetahuan dan wawasan
dalam mengangani kasus.Case conference juga digunakan untuk
mengembalikan konflik dalam kolaborasi (Arnold & Boggs, 2007), yaitu
dengan cara mengutarakan inisiatif untuk mendiskusikan masalah,
menggunakan keterampilan mendengar aktif, menyediakan dokumentasi data
yang relevan terhadap isu, mengajukan resolusi, menciptakan iklim dimana
para pertisipan memandang negosiasi sebagai sebuah usaha kolaborasi,
membuat ringkasan yang jelas terhadap hasil feedback, merekam semua
keputusan dalam sebuah catatan. Kegiatan case conference ini harus melalui
tahap persiapan sebelumnya.
Case conference sebagai salah satu kegiatan penting dalam proses
kolaborasi antara tim kesehatan. Kolaborasi merupakan proses kompleks yang
membutuhkan sharing pengetahuan yang direncanakan dan menjadi tanggung
jawab bersama untuk merawat pasien. Kolaborasi dalam case conference ini
meliputi suatu pertukaran pandangan atau ide yang memberikan perspektif
kepada seluruh kolaborator tentang suatu permasalahan dalam asuhan
keperawatan.Efektifitas hubungan kolaborasi profesional membutuhkan
mutual respek baik setuju atau ketidaksetujuan yang dicapai dalam interaksi
tersebut.Partnership kolaborasi merupakan usaha yang baik sebab dapat
menghasilkan outcome yang lebih baik bagi pasien.

Macam-macam Komunikasi Perawat dengan tenaga kesehatan lain :


1. Komunikasi antara Perawat-Dokter
Hubungan perawat-dokter adalah satu bentuk hubungan interaksi
yang telah cukup lama dikenal ketika memberikan bantuan kepada pasien.
Perawat bekerja sama dangan dokter dalam berbagai bentuk. Perawat
mungkin bekerja di lingkungan di mana kebanyakan asuhan keperawatan
bergantung pada instruksi medis.Perawat diruang perawatan intensif dapat
mengikuti standar prosedur yang telah ditetapkan yang mengizinkan
perawat bertindak lebih mandiri.
Perawat dapat bekerja dalam bentuk kolaborasi dengan
dokter.Contoh : Ketika perawat menyiapkan pasien yang baru saja

18
didiagnosa diabetes pulang kerumah, perawat dan dokter bersama-sama
mengajarkan klien dan keluarga begaimana perawatan diabetes di
rumah.Selain itu komunikasi antara perawat dengan dokter dapat terbentuk
saat visit dokter terhadap pasien, disitu peran perawat adalah memberikan
data pasien meliputi TTV, anamnesa, serta keluhan-keluhan dari
pasien,dan data penunjang seperti hasil laboraturium sehingga dokter
dapat mendiagnosa secara pasti mengenai penyakit pasien.Pada saat
perawat berkomunikasi dengan dokter pastilah menggunakan istilah-istilah
medis, disinilah perawat dituntut untuk belajar istilah-istilah medis
sehingga tidak terjadi kebingungan saat berkomunikasi dan komunikasi
dapat berjalan dengan baik serta mencapai tujuan yang diinginkan.
2. Komunikasi Antara Perawat Dengan Perawat
Dalam memberikan pelayanan keperawatan pada klien komunikasi
antar tenaga kesehatan terutama sesama perawat sangatlah penting.
Kesinambungan informasi tentang klien dan rencana tindakan yang telah,
sedang dan akan dilakukan perawat dapat tersampaikan apabila hubungan
atau komunikasi antar perawat berjalan dengan baik.Hubungan perawat
dengan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan dapat
diklasifikasikan menjadi hubungan profesional, hubungan struktural dan
hubungan intrapersonal.
Hubungan profesional antara perawat dengan perawat merupakan
hubungan yang terjadi karena adanya hubungan kerja dan tanggung jawab
yang sama dalam memberikan pelayanan keperawatan.Hubungan
sturktural merupakan hubungan yang terjadi berdasarkan jabatan atau
struktur masing- masing perawat dalam menjalankan tugas berdasarkan
wewenang dan tanggungjawabnya dalam memberikan pelayanan
keperawatan.
Laporan perawat pelaksana tentang kondisi klien kepada perawat
primer, laporan perawat primer atau ketua tim kepada kepala ruang tentang
perkembangan kondisi klien, dan supervisi yang dilakukan kepala ruang
kepada perawat pelaksana merupakan contoh hubungan
struktural.Hubungan interpersonal perawat dengan perawat merupakan

19
hubungan yang lazim dan terjadi secara alamiah. Umumnya, isi
komunikasi dalam hubungan ini adalah hal- hal yang tidak terkait dengan
pekerjaan dan tidak membawa pengaruh dalam pelaksanaan tugas dan
wewenangnya.
3. Komunikasi antara perawat dengan Ahli terapi respiratorik
Ahli terapi respiratorik ditugaskan untuk memberikan pengobatan yang
dirancang untuk peningkatan fungsi ventilasi atau oksigenasi klien.
Perawat bekerja dengan pemberi terapi respiratorik dalam bentuk
kolaborasi. Asuhan dimulai oleh ahli terapi (fisioterapis) lalu dilanjutrkan
dengan dievaluasi oleh perawat. Perawat dan fisioterapis menilai
kemajuan klien secara bersama-sama dan mengembangkan tujuan dan
rencana pulang yang melibatkan klien dan keluarga. Selain itu, perawat
merujuk klien ke fisioterapis untuk perawatan lebih jauh.
Contoh. Perawat merawat seseorang yang mengalamai penyakit paru berat
dan merujuk klien tersebut pada ahli terapis respiratorik untuk belajar
latihan untuk menguatkaan otot-otot lengan atas, untuk belajar bagaimana
menghemat energi dalam melakukan aktivitas sehari-hari, dan belajar
teknik untuk mempertahankan bersihan jalan nafas.
4. Komunikasi antara Perawat dengan Ahli Farmasi
Seorang ahli farmasi adalah seorang profesional yang mendapat izin
untuk merumuskan dan mendistribusikan obat-obatan.Ahli farmasi dapat
bekerja hanya di ruang farmasi atau mungkin juga terlibat dalam
konferensi perawatan klien atau dalam pengembangan sistem pemberian
obat.Perawat memiliki peran yang utama dalam meningkatkan dan
mempertahankan dengan mendorong klien untuk proaktif jika
membutuhkan pengobatan.Dengan demikian, perawat membantu klien
membangun pengertian yang benar dan jelas tentang pengobatan,
mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan, dan turut bertanggung
jawab dalam pengambilan keputusan tentang pengobatan bersama tenaga
kesehatan lainnya.Perawat harus selalu mengetahui kerja, efek yang dituju,
dosis yang tepat dan efek smaping dari semua obat-obatan yang
diberikan.Bila informasi ini tidak tersedia dalam buku referensi standar

20
seperti buku-teks atau formula rumah sakit, maka perawat harus
berkonsultasi pada ahli farmasi.
Saat komunikasi terjadi maka ahli farmasi memberikan informasi
tentang obat-obatan mana yang sesuai dan dapat dicampur atau yang dapat
diberikan secara bersamaan.Kesalahan pemberian dosis obat dapat
dihindari bila baik perawat dan apoteker sama-sama mengetahui dosis
yang diberikan. Perawat dapat melakukan pengecekkan ulang dengan tim
medis bila terdapat keraguan dengan kesesuaian dosis obat. Selain itu, ahli
farmasi dapat menyampaikan pada perawat tentang obat yang dijual bebas
yang bila dicampur dengan obat-obatan yang diresepkan dapat berinteraksi
merugikan, sehingga informas ini dapat dimasukkan dalam rencana
persiapan pulang.Seorang ahli farmasi adalah seorang profesional yang
mendapat izin untuk merumuskan dan mendistribusikan obat-obatan.Ahli
farmasi dapat bekerja hanya di ruang farmasi atau mungkin juga terlibat
dalam konferensi perawatan klien atau dalam pengembangan sistem
pemberian obat.
5. Komunikasi Antara Perawat Dengan Ahli Gizi
Kesehatan dan gizi merupakan faktor penting karena secara langsung
berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM).Pelayanan
gizi di RS merupakan hak setiap orang dan memerlukan pedoman agar
tercapai pelayanan yang bermutu.

Agar pemenuhan gizi pasien dapat sesuai dengan yang diharapkan


maka perawat harus mengkonsultasikan kepada ahli gizi tentang obatan
yang digunakan pasien, jika perawat tidak mengkomunikasikannya maka
dapat terjadi pemilihan makanan oleh ahli gizi yang bisa saja menghambat
absorbsi dari obat tersebut.Jadi diperlukanlah komunikasi dua arah yang
baik antara kedua belah pihak.

21
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga
orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi
informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya
dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat.

3.2 Saran
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, karenanya bagi pembaca dan
penulis disarankan untuk mencari referensi lain yang lebih lengkap.
Diharapkan penulis lebih fokus dan detail dalam menjelaskan tentang
makalah. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca maupun
penulis.

22
DAFTAR PUSTAKA

Cangara, Hafied. 2007. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT Raja Grafindo


Persada

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/3596

http://www.lusa.web.id/unsur-unsur-komunikasi/

Poeter, Patricia A, dkk. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC

23