Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

FILSAFAT ILMU ISLAMI

SUMBER ILMU PENGETAHUAN

Oleh

Ahmad suhir

PROGAM PASCASARJANA FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

(UMI)

2018
BAB I

PENDAHULUAN

Manusia merupakan makhluk Allah SWT yang sejak kehadirannya di muka

bumi telah diberikan potensi untuk dapat menghadapi kehidupan. Sebagaimana

telah diketahui bahwasannya Adam telah diberi pengetahuan tentang segala

sesuatu dari ala mini, dimana makhluk Allah SWT yang lain tidak mampu untuk

menyebutkan apalagi sampai kepada yang lebih tinggi dari itu ( menganalisis,

sintesis, evaluasi dan kreasi) Hal ini terjadi karena Allah SWT menjadikannya

Khalifah dan melengkapinya dengan akal pikiran yang dinamis, perangkat kehidupan

yaitu pendengaran, pengelihatan dan hati1.

Manusia dengan potensi yang dimilikinya mampu mengembangkan

pengetahuan dalam rangka mengatasi kebutuhan hidup dan bahkan lebih dari itu

manusia mampu mengembangkan kebudayaan, memberi makna pada kehidupan

dan dia memiliki tujuan dalam kehidupan2.Perkembangan pengetahuan manusia

dapat terjadi karena manusia memiliki bahasa yang dapat mengkomunikasikan

informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut.Selain itu

manusia memiliki kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu

yang disebut penalaran.3

Dalam makalah ini akan dibahas berkenaan dengan sumber pengetahuan

manusia yaitu rasio, pengalaman, intuisi, dan wahyu.


BAB II

PEMBAHASAN

Sebagaimana telah disebutkan bahwa sumber pengetahuan manusia terdiri

dari rasio, pengalaman, intuisi, dan wahyu. Dengan keempat inilah manusia mencari

apa yang disebut dengan kebenaran.

1. Rasio

Rasio biasa kita mengenalnya sebagai akal pikiran.Kata akal berasal dari kata

Arab, yaitu al-‘aql ( ) yang dalam bentuk kata benda tidak terdapat dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an hanya menyebutnya dalam bentuk kata kerja seperti ‘aqaluh, ta’qilun,

na’qil, ya’qiluha dan ya’qilun yang mengandung arti faham dan mengerti seperti

terdapat pada ayat 46 surat al Hajj yang artinya: Apakah mereka tidak melakukan

perjalanan dipermukaan bumi dan mereka mempunyai qalbu untuk memahami atau

telinga untuk mendengar; sesungguhnya bukanlah mata yang buta, tetapi qalbu

didalam dadalah yang buta. (QS. 22:46)

Manusia yang menjadikan rasio atau akal sebagai sumber pengetahuan

disebut dengan kaum rasionalis yang mengembangkan paham rasionalisme, yaitu

paham yang menyatakan bahwa idea tentang kebenaran itu sudah ada dan pikiran

manusia dapat mengetahui idea tersebut namun tidak menciptakannya dan tidak

juga mempelajarinya lewat pengalaman (paham idealisme),. Dengan perkataan lain,

idea tentang kebenaran, yang menjadi dasar pengetahuan, diperoleh lewat berpikir

rasional, terlepas dari pengalaman manusia. Sistem pengetahuan dibangun secara


koheren di atas landasan-landasan pernyataan yang sudah pasti4.Mereka

menggunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya.

Masalah utama yang timbul dari cara berpikir rasional adalah kriteria untuk

mengetahui akan kebenaran dari suatu ide dimana menurut seseorang adalah jelas

dan dapat dipercaya namun belum tentu bagi orang lain. Jadi masalah utama yang

dihadapi kaum rasionalis adalah evaluasi dari kebenaran premis-premis yang

dipakainya dalam penalaran deduktif, Karena premis-premisnya semuanya

bersumber pada penalaran rasional yang bersifat abstrak dan terbebas dari

pengalaman maka evaluasi semacam ini tak dapat dilakukan. Oleh sebab itu maka

lewat penalaran rasional akan didapatkan bermacam-macam pengetahuan

mengenai satu obyek tertentu tanpa adanya suatu consensus yang dapat diterima

oleh semua pihak. Dalam hal ini maka pemikiran rasional cenderung untuk bersifat

solipsistic dan subyektif.5

Para tokoh rasionalisme diantaranya adalah Plato dan Rene Descartes.Plato

menyatakan bahwa manusia tidak mempelajari apapun; dia hanya “teringat apa

yang telah dia ketahui”.Semua prinsip-prinsip dasar dan bersifat umum telah ada

dalam pikiran manusia.Pengalaman indera paling banyak hanya dapat merangsang

ingatan dan membawa kesadaran terhadap pengetahuan yang selama itu sudah

berada dalam pikiran.

2. Pengalaman / empiris

Kebalikan dari kaum rasionalis, maka kaum empiris berpendapat bahwa

pengetahuan manusia bersumber pada pengalaman yang kongkret.Gejala-gejala

alamiah merupakan sesuatu yang bersifat kongkret dan dapat dinyatakan lewat

4
JuJun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif sebuah kumpulan karangan tentang hakekat ilmu ( Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia, 1997) cet.ke-13 hlm. 10
5
Jujun S. Suriasumantri, op.cit hlm.51
tangkapan pancaindera manusia.Melalui gejala-gejala atau kejadian-kejadian yang

berulang-ulang dan menunjukkan pola yang teratur, memungkinkan manusia untuk

melakukan generalisasi.Dengan mempergunakan metode induktif maka dapat

disusun pengetahuan yang berlaku secara umum lewat pengamatan terhadap

gejala-gejala fisik yang bersifat individual.

Kaum empiris menganggap bahwa dunia fisik adalah nyata karena

merupakan gejala yang dapat tertangkap oleh pancaindera, sedangka panca indera

manusia sangat terbatas kemampuannya dan terlebih penting lagi bahwa

pancaindera manusia bias melakukan kesalahan. Misalnya bagaimana mata kita

melihat sebatang pensil yang dimasukkan ke dalam gelas bagian yang terendam air

terlihat bengkok.6

3. Intuisi

Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses

penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat pikirannya pada sesuatu

masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Tanpa

melalui proses berpikir yang berliku-liku tiba-tiba saja dia sudah sampai situ.

Jawaban permasalahan yang sedang dipikirkannya muncul dibenaknya bagaikan

kebenaran yang membukakan pintu.7

Bagimana hal tersebut dapat terjadi pada diri manusia? Para filosof muslim

mencoba menjawab pertanyaan tersebut diantaranya Al Kindi (796-873 M), Ibnu

miskawaih (941-1030 M), dan Ibnu Sina (980-1037 M)

Menurut Ibnu Sina, dalam kehidupan ini terdapat tiga jiwa, yaitu jiwa tumbuh-

tumbuhan, jiwa binatang, dan jiwa manusia. Masing-masing jiwa tersebut memiliki

daya-daya.Jiwa tumbuhan memiliki tiga daya, yaitu daya makan, daya tumbuh, dan

6
Ibid hlm 53
7
Ibid.
daya membiak.Sedangkan jiwa binatang memiliki daya penggerak dan daya

pencerap.Jiwa manusia hanya memiliki satu daya yaitu akal.

Akal manusia ini terbagi menjadi dua, yaitu

1. Akal Praktis yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indera

pengingat yang ada pada jiwa binatang.

2. Akal Teoritis yang menangkap arti-arti murni, arti-arti yang tidak ada pada

materi seperti Tuhan, roh, dan malaikat.

Akal praktis memusatkan pada alam materi, sedangkan akal teoritis

mencurahkan perhatiannya pada dunia immateri dan bersifat metafisis. Akal toeritis

ini pun terbagi lagi menjadi empat, yaitu

1. Akal materil

2. Akal bakat

3. Akal aktuil

4. Akal perolehan / akal mustafad

Akal dalam derajat yang terakhir inilah yang merupakan akal tertinggi dan terkuat

dayanya yang dimiliki para filosof atau orang-orang tertentu.Akal ini mampu

terhubung dan dapat menangkap cahaya yang dipancarkan Tuhan ke alam materi

melalui Akal yang sepuluh seperti tersebut dalam falsafat emanasi Al Farabi.8

Demikianlalah menurut pendapat para filosof tentang akal mustafad / akal

perolehan. Kaum sufi mengenalnya dengan istilah qalb, dzauq. Bergson

menyebutnya intuisi dan Kant menyebutnya dengan moral atau akal praktis.

Pengetahuan yang demikian menurut Ahmad Tafsir disebut sebagai pengetahuan

8
Harun Nasution, op.cit hlm 11
mistik ( mystical knowledge ) dengan paradigma mistik ( mystical paradigm),yang

didapat melalui metode latihan (riyadhah).dan metode yakin ( percaya ) 9

Keingintahuan manusia tentang sesuatu yang berada dibalik materi, tentang

siapakah yang berada dibalik keteraturan materi, yang menciptakan hukum-

hukumnya bukanlah objek empiris dan bukan pula dapat dijangkau akal rasional dan

objek ini dikenal dengan objek abstrak-supra-rasional atau meta—rasional yang

dapat dikenali melalui rasa, bukan pancaindera dan atau akal rasional.[10]10

4. Wahyu

Wahyu berasal dari kata Arab al-wahy ( ) dan al-wahy adalah kata asli Arab

dan bukan kata pinjaman dari bahasa asing. Kata itu berarti suara, api dan

kecepatan. Disamping itu ia juga mengandung arti bisikan, isyarat, tulisan dan kitab.

Al-Wahy selanjutnya mengandung pengertian pemberitahuan secara tersembunyi

dan dengan cepat.

Yang dimaksud dengan wahyu sebagai sumber pengetahuan adalah wahyu

yang diturunkan kepada orang pilihan-Nya agar diteruskan kepada umat manusia

agar dijadikan pegangan hidup berisi ajaran, petunjuk dan pedoman yang diperlukan

bagi umat manusia di dunia dan akhirat.Dalam Islam wahyu yang disampaikan

kepada Nabi Muhammad SAW terkumpul dalam Al-Qur’an.11

Seperti tergambar dalam konsep wahyu tersebut di atas, pewahyuan

mengandung pengertian adanya komunikasi antara Tuhan yang bersifat immateri

dengan manusia yang bersifat materi.Menurut Ibnu Sina manusia yang telah

memiliki akal musstafad dapat melakukan hubungan dengan Akal Kesepuluh yang

dijelaskannya sebagai Jibril.Filosof memiliki akal perolehan yang lebih rendah dari

9
Ahmad Tafsir,Filsafat Ilmu mengurai ontology, Epistemologi dan aksiologi pengetahuan (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2010) cet. ke-15, hlm10
10
ibid
11
Harun Nasution
para nabi sehingga filosof tidak bisa menjadi nabi. Menurut kaum sufi, komunikasi

dengan Tuhan dapat dilakukan melalui daya rasa manusia yang berpusat dihati

sanubari. Kalau filosof mendapatkan akal perolehan dengan mempertajam daya pikir

atau akalnya, sedangkan kaum sufi dengan memusatkan perhatian pada hal-hal

yang bersifat murni abstrak, mereka mempertajam daya rasa atau kalbunya dengan

menjauhi hidup kematerian dan memusatkan perhatian pada usaha pensucian

jiwa.12

Dimanakah letak perbedaan antara penerimaan wahyu oleh Nabi Muhammad

SAW dengan penerimaan ilham oleh sufi dan filosof. Pada sufi dan filosof terdapat

terlebih dahulu dalam diri mereka ide dan barulah kemudian ide itu

diungkapkandalam kata-kata. Sebaliknya pada Nabi tidak ada ide sebelumnya.Nabi

mendengar suara yang jelas tanpa ad aide yang mendahului ataupun bersamaan

datangnya dengan kata yang diucapkan.Kita ketahui bahwasannya Nabi Muhammad

SAW sendiri terperanjat pada awalnya ketika menerima atau menangkap kata-kata

yang didengarnya dan beliau merasa dirinya dipaksa untuk mengucapkan kata-kata

yang diwahyukan itu.

Wahyu yang datang dari Tuhan, Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui

kepada para utusan / nabi, memiliki nilai kebenaran yang absolut.Semua ayat yang

terdapat dalam Al Qur’an memang absolut benar dating dari Allah SWT.Yang

diistilahkan dengan qath’i al wurud.Namun demikian tidak semua ayat mengandung

arti yang jelas (qath’i al dalalah) dan banyak diantaranya mengandung arti tidak jelas

(zanniy al dalalah).yang menimbulkan interpretasi berbeda dikalangan umat.

12
Harun Nasution ibid hlm 18
Wahyu dalam hal ini adalah Al Qur’an merupakan sumber pengetahuan bagi

manusia, yang memberikan petunjuk tentang sesuatu yang berguna bagi kehidupan

manusia.
1. Sumber Pengetahuan Menurut paradigma filsafat barat

Semua orang mengakui memiliki pengetauan. Persoalannya dari mana

pengetahuan itu diperoleh atau lewat apa pengetahuan didapat? Dari situ timbul

pertanyan bagaimana caranya kita memperoleh pengetahuan atau darimana sumber

pengetahuan kita? Pengetahuan yang ada pada kita diperoleh dengan

menggunakan berbagai alat yang menggunakan sumber pengetahuan tersebut.

Dalam hal ini ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain:

a. Idealisme

Pertama, idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat fisik

hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Istilah idealisme

diambil dari kata idea yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Idealisme atau

nasionalisme menitik beratkan pada pentingnya peranan ide, kategori atau bentuk-

bentuk yang terdapat pada akal sebagai sumber ilmu pengetahuan. Plato ( 427-347

SM), seorang bidan bagi lahirnya janin idealisme ini, menegaskan bahwa hasil

pengamatan inderawi tidak dapat memberikan pengetahuan yang kokoh karena

sifatnya yang selalu berubah-ubah (Amin Abdullah;1996). Sesuatu yang berubah-

ubah tidak dapat dipercayai kebenarannya. Karena itu suatu ilmu pengetahuan agar

dapat memberikan kebenaran yang kokoh, maka ia mesti bersumber dari hasil

pengamatan yang tepat dan tidak berubah-ubah. Hasil pengamatan yang seperti ini

hanya bisa datang dari suatu alam yang tetap dan kekal. Alam inilah yang disebut

oleh guru Aristoteles itu sebagai "alam ide", suatu alam dimana manusia sebelum ia

lahir telah mendapatkan ide bawaannya (S.E Frost;1966). Dengan ide bawaan ini

manusia dapat mengenal dan memahami segala sesuatu sehingga lahirlah ilmu

pengetahuan. Orang tinggal mengingat kembali saja ide-ide bawaan itu jika ia ingin

memahami segala sesuatu. Karena itu, bagi Plato alam ide inilah alam realitas,
sedangkan yang tampak dalam wujud nyata alam inderawi bukanlah alam yang

sesungguhnya.

b. Empirisme

Paham selanjutnya adalah empirisme atau realisme, yang lebih

memperhatikan arti penting pengamatan inderawi sebagai sumber sekaligus alat

pencapaian pengetahuan (Harold H. Titus dkk.;1984). Aristoteles (384-322 SM) yang

boleh dikata sebagai bapak empirisme ini, dengan tegas tidak mengakui ide-ide

bawaan yang dibawakan oleh gurunya, Plato. Bagi Aristoteles, hukum-hukum dan

pemahaman itu dicapai melalui proses panjang pengalaman empirik manusia. (Amin

Abdullah;1996).

Dalam paradigma empirisme ini, sungguhpun indra merupakan satu-satunya

instrumen yang paling absah untuk menghubungkan manusia dengan dunianya,

bukan berarti bahwa rasio tidak memiliki arti penting. Hanya saja, nilai rasio itu tetap

diletakkan dalam kerangka empirisme (Harun Hadiwiyoto;1995). Artinya keberadaan

akal di sini hanyalah mengikuti eksperimentasi karena ia tidak memiliki apapun untuk

memperoleh kebenaran kecuali dengan perantaraan indra, kenyataan tidak dapat

dipersepsi (Ali Abdul Adzim;1989). Berawal dari sinilah, John Locke berpendapat

bahwa manusia pada saat dilahirkan, akalnya masih merupakan tabula (kertas

putih). Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan,

lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, kemudian ia memiliki

pengetahuan. Di dalam kertas putih inilah kemudian dicatat hasil pengamatan

Indrawinya (Louis O. Katsof;1995). Empirisme adalah sebuah paham yang

menganggap bahwa pengetahuan manusia hanya didapatkan melalui pengamatan

konkret, bukan penalaran rasional yang abstrak, apalagi pengalaman kewahyuan

dan institusi yang sulit memperoleh pembenaran factual.


David Hume, salah satu tokoh empirisme mengatakanbahwa manusia tidak

membawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya. Sumber pengetahuan adalah

pengamatan. Pengamatan memberikan dua hal, yaitu kesan-kesan (empressions)

dan pengertian-pengertian atau ide-ide (ideas). Yang dimaksud kean-kesan adalah

pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman, seperti merasakan tangan

terbakar. Yang dimaksud dengan ide adalah gambaran tentang pengamatan yang

samara-samar yang dihasilka dengan merenungkan kembali atau terefleksikan

dalam kesan-kesan yang diterima dari pengalaman.(Amsal Baktiar; 2002)

Berdasarkan teori ini, akal hanya mengelola konsep indrawi, hal itu

dilakukannya dengan menyusun konsep tersebut atau membagi-

baginya.(Muhammad baqir as-Shadar;1995). Jadi dalam empirisme, sumber

utamauntuk memperoleh pengetahuan adalah data empiris yang diperoleh dari

panca indra. Akal tidak berfungsi banyak, kalaupun ada, itu pun sebatas ide yang

kabur.

Namun aliran ini mempunyai banyak kelemahan, antara lain:

1. Indra terbatas, benda yang jauh kelihatan kecil, apakah ia benar-benar

keci? Ternyata tidak. Keterbatasan indralah yang menggambarkan seperti itu.

Dari sini akan terbentuk pengetahua yang salah.

2. Indra menipu, pada yang sakit malaria gula rasanya pahit, udara akan tersa

dingin. Ini akan menimbulkan pengetahuan empiris yang salah juga.

3. Objek yang menipu, contohnya fammorgana dan ilusi. Jadi obyek itu

sebenarnya tidak sebagaimana ia ditangkap oleh indra, ia membohongi indra.

4. Berasal dari indra dan objek sekaligus. Dalam hal ini indra mata tidak

mampu melihat seekor kerbau secara keseluruhan, dan kernau itu juga tidak
dapt memperlihatkan badanya secara keseluruhan. Kesimpulannya ialah

empirisme lemah karena keterbatasan indra manusia.

c. Rasionalisme

Paradigma selanjutnya adalah Rasionalisme, sebuah aliran yang

menganggap bahwa kebenaran dapat diperoleh melalui pertimbangan akal. Dalam

beberapa hal, akal bahkan dianggap dapat menemukan dan memaklumkan

kebenaran sekalipun belum didukung oleh fakta empiris. Faham rasionalisme

dipandu oleh tokoh seperti Rene Deskrates (1596-1650), Baruch Spinoza (1632-

1677) dan Gottfried Leibniz (1646-1716). Menurut kelompok ini, dalam setiap benda

sebenarnya terdapat ide – ide terpendam dan proposisi - proposisi umum yang

disebut proposi keniscayaan yang dapat dibuktikan sebagai kebenaran yang dapat

dibuktikan sebagai kebenaran dalam kesempurnaan atau keberadaan verifikasi

empiris.

Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan.

Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia memperoleh

pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek. Menurut aliran ini kekeliruan pada

aliran empirisme yang disebabkan kelemahan alat indra dapt dikoreksi, seandainya

akal digunakan. Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indra dalammemperoleh

pengetahuan. Pengalaman indra diperlukan untuk merangsang akal dan

memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja, etapi sampainya

mausia kepada kebenaran adalah semata-mata akal. Laporan indra menurut

rasionalisme merupakan bahan yang belu jelas, bahkan ini memungkinkan

dipertimbangkan oleh akal dalam pengalaman berfikir. Akal mengatur bahan

tersebut sehingga dapatlah terbentuk pengetahua yang benar. Jadi fungsi panca
indra hanyalah untuk memperoleh data-data dari alam nyata dan akalnya

menghubungkan data-data itu satu dengan yang lain.

Dalam penyusunan ini akal menggunakan konsep-konsep rasional atau ide-

ide universal. Konsep tersebut mempunyai wujud dalam alam nyata dan bersifat

universal. Yang dimaksud prinsip-prinsip universal adalah abstraksi dari benda-

benda konkret, seperti hukum kuasalitas atau gambaran umum tentang kursi.

Sebaliknya bagi empirisme hukum tersebut tidak diakui.(Harun nasution;1995)

Akal, selain bekerja karena ada bahan indra, juga akal dapat menghasilkan

pegetahuan yang tidak berdasarkan bahan indrawi sama sekali, jadi akal juga dapat

menghasilkan pengetahan tentang objek yang betul-betul abstrak.

Tetapi rasionalisme juga mempunyai kelemahan, seperti mengenai criteria untuk

mengetahui akan kebenaran dari suatu ide yang menurut seseorag dalah jelas dan

dapat dipercaya tetapi menurut orang lain tidak. Jadi masalah yang utama yang

dihadpi kaum rasionalisme adalah evaluasi dari kebenaran premis-premis

inisemuanya bersumber pada penalaran induktif, karena premis-premis ini

semuanya bersumber pada penalaran rasional yang bersifat abstrak. Terbebas dari

pengalaman maka evalusi yang semacam ini tidak dapat dilakukan.(Jujun S.

Suriasumantri;1998).

d. Positivisme

Adanya problem pada empirisme dan rasionalisme yang menghasilkan

metode ilmiah melahirkan aliran positivisme oleh August Comte dan Immanuel Kant.

August Comte berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh ilmu

pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan

eksperimen.
Positivisme adalah aliran filsafat yang berpangkal dari fakta yang positif

sesuatu yang diluar fakta atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan

filsafat dan ilmu pengetahuan.(Drs. Drs. H. Ahmad Syadali, M.A; 2004 :133).

Kekeliruan indera dapat dikoreksi lewat eksperimen dan eksperimen itu sendiri

memerlukan ukuran-ukuran yang jelas seperti panas diukur dengan drajat panas,

jauh diukur dengan meteran, dan lain sebagainya. Kita tidak cukup mengatakan api

panas atau metahari panas, kita juga tidak cukup mengatakan panas sekali, panas,

dan tidak panas. kita memerlukan ukuran yang teliti. Dari sinilah kemajuan sains

benar-benar dimulai. Kebenaran diperoleh dengan akal dengan didukung bukti-bukti

empiris yang terukur.

Dalam hal ini Kant juga menekankan pentingnya meneliti lebih lanjut terhadap

apa yang telah dihasilkan oleh indera dengan datanya dan dilanjutkan oleh akal

denga melakukan penelitian yang lebih mendalam. Ia mencontohkan bagaimana kita

dapat menyimpulkan kalau kuman tipus menyebabkan demam tipus tanpa penelitian

yang mendalam dan eksperimen. Dari penelitian tersebut seseorang dapat

mengambil kesimpulan bahwa ada hubungan sebab akibat antara kuman tipus dan

demam tipus.

Pada dasarnya aliran ini (yang diuraikan oleh August Comte dan Immanuel

Kant) bukanlah suatu aliran khas yang berdiri sendiri, tetapi ia hanya

menyempurnakan emperisme dan rasionalisme yang bekerjasama dengan

memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran.

2. Sumber Pengetahuan Menurut Saintis Islam

Berbicara tentang sumber pengetahuan, maka terdapat berbagai istilah yang

diberikan oleh pakar pendidikan. Akan tetapi, sudah menjadi kesepakatan umum
bahwa Islam memandang sumber utama ilmu adalah Allah. Selanjutnya Allah

memberikan kekuatan-kekuatan-Nya kepada manusia (Wan Daud, 2003:

109). Ziauddin Sardar memberikan penjelasan sebagaimana Gambar 1.

Gambar 1. Skema Pengetahuan dalam Islam

Sumber: Muhaimin dan Abd. Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofik dan

Kerangka. Dasar Operasionalnya (Bandung: Trigenda, 1993)

Dengan uraian bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui (al-‘Alim)

(QS. Saba’:1-2, QS. Al- Taghabun: 4, QS. Al-A’raf: 88-89, QS. Al-Mujadilah: 7)

sehingga ilmunya tak terhingga banyaknya (QS. Al- Kahfi:109). Diantara kesekian

banyak ilmu-Nya, ada yang diberikan kepada manusia, akan tetapi hanya sebagian

kecil saja yang dibeberkan melalui ayat-ayat Qur’aniyah (QS. Al-Isra’:85) dan ayat-

ayat kauniyah (QS. Al-An’am: 38) (Muhaimin & Mujib, 1993: 83). Kedua ayat

tersebut memberikan motivasi pengarahan yang dapat diinterpretasikan oleh

manusia dengan kemampuan yang dimilikinya dalam bentuk ilmu pengetahuan.

Sementara Najati (dalam Wan Daud, 2003: 107) mengkategorikan perolehan

pengetahuan itu berasal dari dua sumber, yaitu: sumber Ilahi dan sumber insani.

Kedua jenis sumber ini merupakan jenis pengetahuan yang saling berintegrasi dan

secara asasi kembali kepada Allah sebagai Dzat yang menciptakan manusia.
Sumber Ilahi adalah sejenis ilmu pengetahuan yang didatangkan kepada manusia

secara langsung dari Allah melalui ilham, wahyu atau mimpi-mimpi yang benar. Dan

ilmu yang bersumber dari sumber insani adalah ilmu pengetahuan yang didapatkan

dari pengalaman-pengalaman pribadi manusia dan dari kemampuannya dalam

melakukan riset, observasi, serta usahanya untuk memecahkan persoalan-

persoalan dalam kehidupannya (Najati, 2002: 169-170).

Sedangkan menurut al-Syaibani (dalam Qomar, 2005: 110), sumber atau

saluran ilmu dalam Islam itu amat banyak dan bisa dikembalikan kepada lima

sumber pokok, yaitu indera, akal, intuisi, ilham dan wahyu Ilahi. Di dalamnya meliputi

pengalaman langsung; perhatian dan pengamatan indera; percobaan percobaan

ilmiah; dan aktivitas-aktivitas ilmiah lainnya. Hal ini senada dengan pendapat al-

Attas yang membagi sumber pengetahuan (istilah yang digunakan adalah saluran

pengetahuan) menjadi empat bagian, yaitu: panca indera (al-hawwas al-khamsah),

akal pikiran yang sehat (al-’aql al-salim), berita yang benar (alkhabar al-shadiq), dan

intuisi (ilham) (Wan Daud, 2003: 158; 2005: 71; Arif, 2005: 28). Sebagaimana yang

disinyalir di dalam al-Qur’an al-Nahl: 78 yang artinya:”Dan Allah mengeluarkan kamu

dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan Dia memberi

kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.”

Dari berbagai pendapat di atas, secara garis besar, peneliti membagi sumber

pengetahuan dalam Islam menjadi dua, yaitu (1) sumber Ilahi, berupa wahyu atau

berita yang benar (al-khabar al-shadiq), yang terdiri dari al-Qur’an dan al-Sunah

serta intuisi (ilham); (2) sumber insani yang terdiri dari akal pikiran yang sehat (al-

’aql al-salim); dan panca indera (al-hawwas al-khamsah). Skemanya adalah

sebagaimana Gambar 2.

Gambar 2. Skema tentang sumber pengetahuan dalam Islam


Penjelasan skema di atas adalah sebagai berikut:

Wahyu

Wahyu sebagai sumber asli seluruh pengetahuan memberi kekuatan yang sangat

besar terhadap bangunan pengetahuan bila mampu mentransformasikan berbagai

bentuk ajaran normatif-doktriner menjadi teori-teori yang bisa diandalkan. Di

samping itu, wahyu memberikan bantuan intelektual yang tidak terjangkau oleh

kekuatan rasional dan empiris. Wahyu bisa juga dijadikan sebagai sumber

pengetahuan, baik pada saat seseorang menemui jalan buntu ketika melakukan

perenungan secara radikal maupun dalam kondisi biasa. Artinya wahyu bisa

dijadikan sebagai rujukan pencarian pengetahuan kapan saja dibutuhkan, baik yang

bersifat inspiratif maupun terkadang ada juga yang bersifat eksplisit (Wan Daud,

2003: 105).

Wahyu ini secara hierarki terbagi menjadi tiga bagian; yaitu al-Qur’an, al-Sunah dan

intuisi. Maka sumber yang orisinil dari wahyu adalah al-Qur’an sebagai sumber

pengetahuan utama dalam Islam dan al- Sunah sebagai sumber pengetahuan yang

kedua. Al-Qur’an Sumber Pengetahuan Utama dan Pertama Allah memberikan

perhatian yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini bisa dibuktikan

dengan turunnya surat yang pertama kali yang menyeru kepada manusia untuk
membaca, mengajarkan ilmu pengetahuan yang belum diketahuinya serta

menunjukkan kedudukan qalam (pena), yaitu alat yang digunakan oleh Allah

mengajar manusia untuk menulis (Najati, 2002: 14).

Di samping al-Qur’an memotivasi umatnya untuk mencari pengetahuan , al–

Qur’an juga merupakan sumber pengetahuan bagi umat Islam, karena ia

memberikan pesan-pesan intelektual, baik yang berkaitan dengan keimanan, ritual,

hubungan sosial dan disiplin ilmu pengetahuan lainnya. Di dalamnya terkandung

benih-benih ilmu pendidikan, ilmu hukum, sosiologi, sejarah, ekonomi, teologi, sains,

dan sebagainya.

Al-Qur’an memang bukan buku ilmiah, melainkan guidance book (buku

petunjuk) bagi manusia dalam beragama, bermasyarakat dan berbangsa. Oleh

karena itu, al-Qur’an sengaja tidak memberikan rumus-rumus ilmu pengetahuan

secara mendetail dan matang dengan tujuan agar umat Islam berupaya secara

maksimal menggunakan akalnya untuk menemukan pengetahuan yang selama ini

belum terungkap. Ia memberikan inspirasi ilmiah atau dorongan kepada pemikir

muslim yang mencakup berbagai disiplin ilmu.

Al-Sunah Sebagai Sumber Pengetahuan Kedua

Secara etimologi (harfiah), sunah berarti jalan, metode dan program.

Sedangkan secara terminologi, sunah adalah sejumlah perkara yang dijelaskan

melalui sanad yang shahih, baik berupa perkataan, perbuatan, peninggalan, sifat,

pengakuan, larangan, hal yang disukai dan dibenci, peperangan, tindak-tanduk dan

semua kehidupan nabi Muhammad saw (An-Nahlawi, 1995:31).

Al-Sunah sebagaimana al-Qur’an juga bersumber dari Ilahi. Keberadaan al-

Sunah sebagai sumber hukum atau sumber pengetahuan yang kedua mempunyai
tiga fungsi, yaitu: pertama sebagai tasyri, yang menunjukkan hukum atau

pengetahuan baru contohnya hadits yang membicarakan tentang cara mengatasi

ketika nyamuk masuk ke dalam makanan. Kedua sebagai tabyin, yaitu menjelaskan

hukum atau pengetahuan yang dijelaskan dalam al-Qur’an yang masih bersifat

global seperti proses penciptaan manusia. Ketiga berfungsi sebagai taqrir, yaitu

mengulang sesuatu yang sudah dijelaskan dalam al-Qur’an, seperti proses

penciptaan manusia. Al-Sunah tidak hanya mengkaji tentang hal-hal yang ada di

masa sekarang, akan tetapi juga mengkaji tentang hal-hal yang bersifat

transendental, seperti alam ghaib, yaitu alam yang tidak dapat ditangkap oleh indera

kita. Pengetahuan pokok yang didapatkan dari al-Sunah bukanlah pengetahuan

yang bersifat praktis dan berkaitan dengan kemajuan yang terus berkembang hingga

saat ini. Tentang teknis urusan duniawi, al-Sunah memberikan hak prerogatif

sepenuhnya kepada manusia (Wan Daud, 2003: 150- 151).

Intuisi (Ilham)

Intuisi merupakan kemampuan manusia yang berada di atas kemampuan akal.

Dengan intuisi, manusia dapat mengenal hakikat setiap sesuatu. Untuk memperoleh

intuisi, individu harus terlebih dahulu memiliki kegiatan batiniah yang tidak disadari

dan harus bebas dari berbagai keinginan pribadi yang mementingkan diri sendiri.

Sedangkan salah satu sifat dari intuisi adalah deduksi yang dapat secepat kilat

sebagai akibat dari penginderaan sekejap. Ini sangat identik dengan ilmu laduni

yang proses penerimaan pelajaran sangat cepat, sehingga seolah-olah tidak

mengalami belajar seperti dialami manusia umumnya (Harist, 2004: 133-135).

Sedangkan Al-Attas (1989:38) berpendapat bahwa intuisi adalah salah satu

saluran yang absah dan penting untuk mendapatkan pengetahuan kreatif dengan

alasan: Karena intuisilah yang mampu mensintesis hal-hal yang dilihat secara
terpisah oleh nalar dan pengalaman tanpa mampu digabungkan ke dalam

keseluruhan yang koheren....intuisi ini datang kepada orang, yang dengan

pencapaian intelektualnya, telah memahami hakikat keesaan Tuhan dan arti

keesaan ini dalam satu sistem metafisika terpadu.

Akal pikiran (Rasio) yang sehat (al-aql al-salim)

Akal pikiran sehat merupakan salah satu saluran penting bagi manusia untuk

mendapatkan pengetahuan yang jelas; yaitu sesuatu yang dapat dipahami dan

dikuasai oleh akal, dan sesuatu yang dapat diserap oleh indera. Akal pikiran

manusia akan mengatur dan menemukan hubungan yang sesuai dalam setiap ruang

ilmu pengetahuan dan hubungan antara pengetahuan yang satu dengan lainnya.

Akal pikiran bukan hanya rasio, ia adalah “fakultas mental“ yang

mensistematisasikan dan menafsirkan fakta-fakta empiris menurut kerangka logika

yang memungkinkan pengalaman inderawi menjadi sesuatu yang dapat dipahami.

Panca Indera (al-hawwas al-khamsah)

Iqbal (dalam Al-Attas, 1989:38) berpendapat bahwa, Islam tidak pernah mengecilkan

peranan indera yang pada dasarnya merupakan saluran yang sangat penting dalam

pencapaian ilmu pengetahuan tentang realitas empiris. Bahkan indera berfungsi

sebagai instrumen pokok bagi jiwa dalam mengetahui aspek-aspek tertentu dari sifat

dan nama Allah melalui alam ciptaan-Nya (QS. An-Nahl: 78).

Arifin (1994:74) menegaskan bahwa panca indera adalah pintu gerbang bagi

pengetahuan untuk berkembang. Oleh karena itu, Tuhan mewajibkan panca indera

manusia untuk digunakan menggali pengetahuan (QS. Al- Isra’: 36).


BAB III

KESIMPULAN

Sumber pengetahuan dalam Islam secara garis besar terbagi menjadi dua, yaitu

sumber ilahi dan sumber insani. Sumber ilahi merupakan sumber pokok yang

datangnya dari Allah yang berupa wahyu. Wahyu ini pun terbagi menjadi tiga; yaitu

al-Qur’an sebagai sumber utama dan pertama dalam Islam, al-Sunah sebagai

sumber yang kedua, dan intuisi. Sedangkan sumber yang kedua, datangnya dari

kemampuan yang dimiliki oleh manusia yang disebut sebagai sumber insani, yang

terdiri dari akal yang sehat dan panca indera. Sumber-sumber pengetahuan ini

nantinya akan berimplikasi pada kebenaran masing-masing pengetahuan.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Attas, S. M. N.. 1989. Islam dan Filsafat Sains. Bandung: Mizan. Gema Insani

Press.

Anshari, E. S. 2002. Ilmu, Filsafat dan Agama. Surabaya: PT. Bina Ilmu Offset.

Cet.9.

Anshari, E. S.. 1987. Ilmu, Filsafat dan Agama. Surabaya: Bina Ilmu Offset. cet. Vii.

Bakhtiar, Amsal. 1997. Filsafat Agama I. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu.