Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM IV

EKOLOGI TUMBUHAN
(ABKC 2601)

SAMPLING KOMUNITAS MENURUT METODE RELEVE

Dosen Pengasuh :
Drs. Dharmono, M.Si
Drs. H.Hardiansyah, M.Si
Mahrudin, S.Pd, M.Pd
Maulana Khalid Riefani, S.Si, M.Sc

Asisten Dosen :

Hery Fajeriadi, S.Pd


M. Arsyad, S. Pd
Noor Syahdi, S.Pd
Riza Arisandi, S.Pd

Disusun Oleh :
Angkatan 2013

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
APRIL
2016
PRAKTIKUM IV

Topik : Sampling Komunitas Menurut Metode Releve


Tujuan : 1. Untuk menentukan ukuran plot minimal suatu komunitas
dengan metode releve
2. Menguji apakah area minimal yang didapatkan sudah bisa
digunakan untuk sampling komunitas
Hari/Tanggal : Selasa / 16 Februari 2016
Tempat : Padang rumput Desa Gedambaan, Kecamatan Pulau Laut
Timur, Kabupaten Kotabaru

I. ALAT DAN BAHAN


1. Meteran
2. Kertas label
3. Kantong plastik
4. Patok
5. Parameter Lingkungan

II. CARA KERJA


1. Melakukan segmentasi pada vegetasi herba, yaitu terdedah.
2. Menentukan stand secara subjektif pada masing-masing area.
3. Menentukan area minimal dengan teknik nested plot yang dimulai dari
ukuran plot 0,5 x 0,5 m2, kemudian diperbesar 2 kali, 4 kali, 8 kali dan
seterusnya sampai tidak ada penambahan spesies lagi.
4. Mencatat semua spesies yang ada dalam plot secara kumulatif.
5. Membuat tabel untuk menentukan area minimal berdasarkan jumlah
total spesies kumulatif dari plot-plot tersebut.
6. Melakukan pengambilan data parameter lingkungan dan mencatat hasil
pengamatan.
7. Mengidentifikasi tumbuhan yang didapatkan dan menentukan nama
ilmiahnya.

62
8. Menggambar grafik berdasarkan hasil pengamatan.
9. Menentukan garis singgung X, Y dan plot minimal berdasarkan jumlah
total spesies kumulatif dari semua plot.

III. TEORI DASAR


Langkah pertama yang harus dilakukan untuk mengkaji vegetasi
dengan metode releve adalah melakukan segmentasi vegetasi, sehingga
dapat ditentukan batas-batas komunitas dari suatu vegetasi. Kemudian pada
setiap komunitas ditentukan sampel stand secara subyektif.
Syarat-syarat dari sampel stand adalah :
1. Cukup luas untuk memuat semua jenis dari komunitas.
2. Habitatnya uniform
3. Penutupan tumbuhan tampak homogen
Area sampel minimal
Area sampel minimal adalah persyaratan luas area suatu releve
(plot), dan area minimal suatu vegetasi memberi petunjuk releve atau
kuadrat yang harus dipakai untuk sampling.
Area minimal sangat tergantung pada macam komunitas untuk
vegetasi daerah temperate berdasarkan nilai empiris adalah :
a. Hutan stratum pohon (temperate) yaitu 200 – 500 m2.
b. Hutan stratum tumbuhan bawah yaitu 50 – 200 m2.
c. Padang rumput kering yaitu 50 – 200 m2.
d. Perdu kerdil kering yaitu 10 – 25 m2.
e. Padang jerami yaitu 10 – 20 m2.
f. Padang gembala yang dipupuk yaitu 5 – 10 m2.
g. Komunitas gulma pertanian yaitu 25 – 100 m2.
h. Komunitas lumut yaitu 1 – 4 m2.
i. Komunitas Lichenes 0,1 – 1 m2.
Cara menentukan area minimal adalah pertama-tama diletakkan
kuadrat berukuran 0,5 m X 0,5 m atau 0,25 m X 0,25 m untuk vegetasi
herba, dan semua jenis tumbuhan yang ada dicatat. Kemudian luas plot

63
diperluas 2X, 4X, 8X, dan seterusnya, sampai tidak ada penambahan spesies
lagi. Hasilnya masukan ke dalam tabel.
Dengan menggunakan tabel tersebut dibuat kurva spesies area yaitu
dengan memplotkan jumlah jenis tumbuhan pada sumbu Y dan luas area
pada sumbu X. Area minimal ditentukan oleh titik pada kurva di mana kurva
telah mulai mendatar sehingga diperoleh luas area minimal.
Perkiraan jumlah individu
Pada metode releve tidak perlu menghitung jumlah individu secara
akurat, cukup diperkirakan saja, yang dipentingkan adalah jumlah semua
spesies yang hadir. Braun Blanquet telah menciptakan sistem praktis untuk
menganalisis, sehingga cara memperkirakan jumlah tersebut banyak
digunakan peneliti.
Skala penutupan Braun – Blanquet adalah :
5 = sembarang jumlah dengan penutupan > 75 %
4 = sembarang jumlah dengan penutupan > 50 – 75 %
3 = sembarang jumlah dengan penutupan > 25 – 50 %
2 = sembarang jumlah dengan penutupan > 5 – 25 %
1 = banyak, tetapi penutupan < 5 %
+ = beberapa dengan penutupan kecil
r = soliter, dengan penutupan kecil
1 2

3
4
6
5
8
7 9

Gambar 1. Sistem nested plot untuk menentukan area minimal

64
IV. HASIL PENGAMATAN
1. Tabel pengamatan
No. Ukuran Plot Luas Plot ∑ Spesies Jenis yang didapat
1 0,5 m × 0,5 m 0,25 m2 4 sp A + sp B + sp C + sp D
2 1 m × 0,5 m 0,5 m2 6 sp E + sp F
3 1m×1m 1 m2 7 sp G
4 2m×1m 2 m2 8 sp H
5 2m×2m 4 m2 9 sp I
6 4m×2m 8 m2 9 sp I
7 4m×4m 16 m2 9 sp I

Keterangan :
sp A : Cyperus sp
sp B : Commelina sp
sp C : Cyperus sp
sp D : Afbizia lopantha
sp E : Axonopus compressus
sp F : Ipomea poliantum
sp G : Averhoa sp
sp H : Eleusine sp
sp I : Polygala paniculata

65
2. Grafik ( terlampir)

66
3. Data Perhitungan
a) Garis singgung awal
X = Luas plot terbesar × 10 %
10
= 16 × 100

= 1,6
Y = Jumlah spesies terbanyak × 10 %
10
= 9 × 100

= 0,9
b) Garis singgung kedua
X=2
Maka, Luas plot minimal = 2 m2
c) Garis singgung plot minimal
√2 = 1,414
Plot minimal = 1,414 m × 1,414 m
Keterangan :
X = Luas area
Y = jumlah spesies

4. Tabel Parameter Lingkungan


Pengulangan
No. Parameter Nama Alat Satuan Kisaran
I II III
1 Suhu udara Termometer o
C 31 32 33 31 – 33 oC
Keasaman
2 Soil tester - 7 7 6,8 6,8 - 7
tanah
Kelembapan
3 Soil tester % 4 4 10 4 – 10 %
tanah
Kelembapan
4 Hygrometer % 62 61 61 61 – 62 %
udara
Ketinggian
5 Altimeter mdpl 23 22 22 22 – 23 mdpl
tempat
Kecepatan 4 in 1 Min : 0,1 Min : 0,1 Min : 0,0
6 m/s 0,0–1,7 m/s
angin (Anemometer) Max : 1,7 Max : 1,6 Max : 1,2
Intensitas 4 in 1 Min : 2390 Min : 180,3 Min : 84,8
7 luxbath 84,8 - 12620 lux
cahaya (Lux Meter) Max : 12620 Max : 1325 Max : 172,4
Kelembapan 4 in 1 Min : 65,1 Min : 65,2 Min : 62,1
8 % 62,1 – 66,1 %
udara (Hygrometer) Max : 66,1 Max : 66 Max : 66

67
V. ANALISIS DATA
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan ukuran plot minimal suatu
komunitas dengan metode releve dan menguji apakah area minimal yang
didapatkan sudah bisa digunakan untuk sampling komunitas. Vegetasi yang
akan dikaji dengan menggunakan metode:
1. Segmentasi, dari diadakan segmentasi dapat ditentukan batas tiap
komunitas.
2. Sampling, dari tiap komunitas diadakan sampling untuk mendapatkan data
berupa informasi komunitas tersebut
3. Menentukan sampel stand dan releve.
Area minimal merupakan persyaratan ukuran luas releve (plot) pada
metode releve. Metode ini biasanya digunakan untuk memudahkan dalam
pengklasifikasian. Klasifikasi bertujuan untuk mengelompokkan stand individu
ke dalam kategori-kategori sedemikan rupa sehingga stand yang sama
dimasukkan dalam satu kelas. Ordinasi bertujuan melukiskan tiap individu
stand ke dalam bentuk model geometrik. Metode ini bersifat kualitatif di mana
jenis spesies yang hadir dan tidak hadir dianggap lebih penting daripada variasi
komunitas (Hardiansyah, 2010).
Metode ini bertujuan membuat deskripsi melalui klasifikasi dan sampling
grup tumbuhan yang muncul kembali yang secara visual dapat mudah
dibedakan. Biasanya intensitas sampling tinggi karena sampling untuk
pemunculan kembali (recurring) melibatkan replikasi sampling tinggi. Jenis
spesies hadir dan tak hadir dianggap lebih penting daripada variasi komunitas,
karenanya metode ini bersifat kualitatif (Hardiansyah, 2010).
Penentuan ini harus mencukupi syarat-syarat, antara lain yang berkaitan
dengan homogenitas : 1) cukup luas untuk memuat semua jenis milik
komunitas, 2) habitat uniform, 3) penutupan tumbuhan tampak homogen,
artinya separoh sample area tidak didominir satu macam spesies dan separoh
sisanya didominir spesies kedua (Hardiansyah, 2010).
Berdasarkan hasil pengamatan di atas, maka dapat diketahui bahwa
pengamatan pada plot pertama dengan ukuran 0,5 x 0,5 m dan luas plot 0,25

68
m2 ditemukan Cyperus sp (sp A), Commelina sp (sp B), Cyperus sp (sp C) dan
Afbizia lopantha (sp D) dengan jumlah spesies yang ditemukan sebanyak 4.
Sedangkan pada pengamatan plot kedua yang berukuran 1 m × 0,5 m dan luas
plot 0,5 m2 ditemukan Axonopus compressus (sp E) dan Ipomea poliantum (sp
F) dengan penambahan jumlah spesies sebanyak 2. Pada pengamatan plot
ketiga yang berukuran 1 m × 1 m dan luas plot 1 m2 ditemukan Averhoa sp (sp
G) dengan penambahan jumlah spesies sebanyak 1. Pada pengamatan plot
keempat yang berukuran 2 m × 1 m dan luas plot 2 m2 ditemukan Eleusine sp
(sp H) dengan penambahan jumlah spesies sebanyak 1. Pada pengamatan plot
kelima yang berukuran 2 m × 2 m dan luas plot 4 m2 ditemukan Polygala
paniculata (sp I) dengan penambahan jumlah spesies sebanyak 1. Pada
pengamatan plot keenam yang berukuran 4 m × 2 m dan luas plot 8 m2 tidak
ditemukan adanya penambahan spesies baru. Begitu pula pada pengamatan plot
ketujuh yang berukuran 4 m × 4 m dan luas plot 16 m2 tidak ditemukan adanya
penambahan spesies baru.
Berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan, apabila setelah
penambahan 3 plot jumlah jenis spesies tidak bertambah dari plot sebelumnya,
maka praktikum dihentikan. Karena pada luas tersebut tidak terjadi
penambahan spesies baru atau jumlah spesies dari plot sebelumnya tetap
artinya luas tersebut sudah mewakili karakteristik komunitas yang ada disana
karena sejumlah sampel dikatakan representatif bila didalamnya terdapat
semua atau sebagian jenis tanaman yang membentuk komunitas atau vegetasi
sehingga daerah minimal tersebut dapat mencerminkan kekayaan atau vegetasi.
Setelah itu dibuatlah grafik untuk menentukan luas area minimal
komunitas herba. Ditariklah garis x dan y dimana x menunjukkan luas area dan
y menunjukkan jumlah kumulatif. Dibuatlah titik-titik pada grafik yang
disesuaikan antara jumlah kumulatif spesies yang didapatkan dengan luas area.
Untuk mendapatkan garis persinggungan maka diperoleh dari rumus
: X = Luas plot terbesar x 10% dan Y : Jumlah spesies terbanyak x 10%.
Setelah garis singgung awal terbentuk, maka ditariklah garis singgung sejajar
untuk mendapatkan titik singgungnya. Dari titik garis singgung ini lah nanti

69
dapat didapatkan luas area minimal, yaitu 2 m2. Setelah ditentukan luas area
minimal, akarkan titik singgung tersebut sehingga didapatkanlah ukuran plot
minimal suatu komunitas herba yang bisa dibuat yaitu 1,414 m × 1,414 m.
Dilihat dari parameter lingkungan yaitu pada pengamatan suhu udara
menggunakan termometer, menunjukkan bahwa suhu udara disekitar area
tersebut berkisar antara 31 – 33 oC. Salah satu faktor yang mempengaruhi
tinggi rendahnya suhu udara suatu daerah adalah lama penyinaran matahari,
sebab lamanya penyinaran matahari membuat tinggi temperatur. Dengan
begitu, dapat diketahui bahwa area tersebut mendapatkan penyinaran yang
cukup dan merupakan daerah terdedah sehingga suhu disana cukup tinggi.
Pada pengamatan terhadap keasaman tanah menggunakan soil tester,
menunjukkan bahwa tingkat keasaman tanah disekitar area tersebut berkisar
antara 6,8 – 7. Hal ini menujukkan bahwa pH nya normal karena mendekati pH
7. Ini menunjukkan bahwa tanaman yang tumbuh di area tersebut adalah
tanaman yang menyukai hidup pada habitat dengan pH yang normal. Nilai pH
menunjukkan banyaknya konsentrasi ion Hidrogen (H+) di dalam tanah. Makin
tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam
tanah selain H+ dan ion-ion lain ditemukan pula ion OH-, yang jumlahnya
sebanding dengan banyaknya H+. Pada tanah-tanah masam jumlah ion H+
lebih tinggi daripada OH-. Sedangkan pada tanah alkalis kandungan OH- lebih
banyak daripada H+.
Pada pengamatan terhadap kelembapan tanah menggunakan soil tester,
menunjukkan bahwa kelembapan tanah disekitar area tersebut berkisar antara 4
– 10 %. Sehingga dapat dikategorikan bahwa kelembapan tanah disana sedang.
Kelembaban tanah adalah banyaknya kandungan air yang terdapat dan
terkandung dalam suatu tanah di alam. Kelembaban tanah ditunjukkan sebagai
potensial air tanah yang sangat penting untuk mempengaruhi pertumbuhan
tanaman. Apabila suplai air kurang memadai maka akan mengakibatkan
metabolisme terganggu dan tumbuhan akan layu (Hardiansyah, 2010).
Pada pengamatan terhadap kelembapan udara menggunakan hygrometer,
menunjukkan bahwa kelembapan udara disekitar area tersebut berkisar antara

70
61 – 62 %. Sehingga dapat dikategorikan bahwa kelembapan udara disana
sedang.
Pada pengamatan terhadap kecepatan angin menggunakan 4 in 1
(anemometer), menunjukkan bahwa kecepatan angin disekitar area tersebut
berkisar antara min : 0,0–0,1 m/s dan max ; 0,2–1,7 m/s. Jadi, diketahui bahwa
tempat tersebut memiliki kecepatan angin yang rendah.
Pada pengamatan terhadap intensitas cahaya menggunakan 4 in 1 (lux
meter), menunjukkan bahwa intensitas cahaya disekitar area tersebut berkisar
antara min : 84,8 - 12620 lux. Jadi, diketahui bahwa tempat tersebut memiliki
intensitas cahaya yang sangat tinggi. Menurut Hardiansyah (2010), panjang
gelombang maupun intensitas cahaya sangat berperan dalam fotosintesis, sebab
kualitas cahaya merupakan faktor pembatas dalam proses fotosintesis pada
tumbuhan. Adapun intensitas cahaya dapat menetukan jumlah energi yang
sampai pada permukaan daun dan menetukan jumlah energi yang dapat
digunakan dalam proses fotosintesis.
Menurut Sagar (2008), suatu tumbuhan memiliki kebutuhan akan
intensitas cahaya yang berbeda, sehingga pertumbuhan suatu spesies berbeda
pula. Untuk wilayah yang terbuka biasanya memiliki intensitas cahaya yang
tinggi sehingga jumlah variasi tumbuhan yang tinggi pula.
Pada pengamatan terhadap kelembapan udara menggunakan 4 in 1
(hygrometer), menunjukkan bahwa kelembapan udara disekitar area tersebut
berkisar antara min : 62,1 – 65,2 % dan Max : 66 - 66,1 %. Jadi, diketahui
bahwa tempat tersebut memiliki kelembapan udara yang sedang. Pada
pengamatan menggunakan hygrometer, kisaran angkanya tidak sebesar pada 4
in 1, hal ini disebabkan karena 4 in 1 memiliki ketelitian yang lebih tinggi
dibandingkan dengan hygrometer biasa.
Kecepatan dan efesiensi fotosintesis tergantung pada berbagai faktor,
baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal meliputi : struktur
dan komposisi komunitas, jenis dan umur tumbuhan, dan peneduhan.
Sedangkan faktor eksternal meliputi : cahaya, karbondioksida, nutrisi dan suhu
(Hardiansyah, 2010).

71
Organisme di alam dikontrol tidak hanya oleh suplai materi yang
minimum diperlukannya, tetapi juga oleh faktor-faktor lainnya yang
keadaannya kritis. Faktor apapun yang kurang atau melebihi batas toleransinya
akan menjadi faktor pembatas dalam penyebaran jenis. Pada umumnya, faktor
lingkungan dapat membatasi pertumbuhan dan penyebaran suatu jenis
tumbuhan. Faktor-faktor tersebut meliputi : cahaya matahari, suhu, air, faktor
edafik dan fisika tanah, dan gas-gas atmosfer (Hardiansyah, 2010).

VI. KESIMPULAN
1. Metode releve adalah adalah suatu plot yang berdasarkan atas area
minimal, metode ini biasanya digunakan untuk memudahkan dalam
pengklasifikasian.
2. Ukuran plot minimal suatu komunitas herba yang bisa dibuat dengan
metode releve adalah 1,414 m × 1,414 m.
3. Berdasarkan pengamatan, diketahui bahwa area minimal yang
didapatkan sudah bisa digunakan untuk sampling komunitas, dengan
luas area minimal yang diperoleh adalah 2 m2.
4. Berdasarkan pengamatan pada area yang diamati, ditemukan 9 spesies
tumbuhan berbeda, yaitu : Cyperus sp, Commelina sp, Cyperus sp,
Afbizia lopanth, Axonopus compressus, Ipomea poliantum, Averhoa sp,
Eleusine sp dan Polygala paniculata.
5. Faktor lingkungan dapat membatasi pertumbuhan dan penyebaran suatu
jenis tumbuhan. Faktor-faktor tersebut meliputi : cahaya matahari, suhu,
air, faktor edafik dan fisika tanah, dan gas-gas atmosfer.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Dharmono, Hardiansyah, dan Mahrudin. 2016. Penuntun Praktikum Ekologi
Tumbuhan. PMIPA FKIP UNLAM. Banjarmasin
Hardiansyah. 2010. Pengantar Ekologi Tumbuhan. PMIPA FKIP UNLAM.
Banjarmasin

72
Hardjosuwarno. S. 1994. Metode Ekologi Tumbuhan. UGM. Fakultas
Biologi. Yogyakarta.
Sagar, R., Singh A., Singh J.S. 2008. Differential effect of woody plant
canopies on species composition and diversity of ground
vegetation: a case study. Tropical Ecology 49(2): 189-197

73