Anda di halaman 1dari 25

DAFTAR ISI

BIDANG KAJIAN :
DINAMIKA KEPENDUDUKAN

MODUL 21: FERTILITAS DAN MORTALITAS

PENDAHULUAN
Komponen dasar demografi adalah fertilitas, mortalitas, dan migrasi, yang
mempengaruhi perubahan penduduk.Dalam modul ini memuat pengertian
fertilitas, pengukuran fertilitas, faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi
rendahnya fertilitas, mortalitas, pengukuran mortalitas, serta faktor-faktor yang
mempengaruhi mortalitas.Dalam modul 1 juga memuat tugas untuk
menganalisis fertilitas dan mortalitas suatu daerah.Bagian akhir terdapat tes
formatif yang harus dikerjakan.Skor yang diperoleh dalam mengerjakan soal
formatif menggambarkan penguasaan materi pada Modul 1.Fertilitas dan
Mortalitas.

PETUNJUK BELAJAR
1. Bacalah modul ini sebaik-baiknya dengan cermat
2. Jika diperlukan saudara boleh mencari informasi tambahan sesuai
dengan materi dalam modul ini
3. Setelah membaca kerjakan latihan soal pada bagian akhir modul ini.
Saudara harus mendapatkan skor minimal 70. (minimal 7 soal harus
dijawab dengan benar)
4. Jika Saudara mendapatkan skor kurang dari 70 maka saudara dinyatakan
belum tuntas.
5. Jika belum tuntas dalam belajar modul ini, jangan beralih ke modul
berikutnya

CAPAIAN PEMBELAJARAN
Dalam substansi keilmuan, setiap guru Geografi wajib menguasai pengetahuan
Geografi yang setara dengan pengetahuan Geografi yang dikuasai oleh Sarjana
Geografi.

1
SUB CAPAIAN PEMBELAJARAN
Peserta mempunyai pengetahuan tentang pengertian fertilitas, pengukuran
fertilitas, faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya fertilitas,
mortalitas, pengukuran mortalitas, serta faktor-faktor yang mempengaruhi
mortalitas

URAIAN MATERI : FERTILITAS DAN MORTALITAS


A. Pengertian Fertilitas
Thompson (1953) state fertility the actual reproductive performance of a
woman or group a woman. Jadi fertilitas adalah jumlah kelahiran hidup (Live
birth) dari seorang wanita atau sekelompok wanita. Atau dengan kata lain
fertilitas adalah kemampuan seorang wanita atau sekelompok wanita untuk
memberikan keturunan yang diukur dengan bayi lahir hidup (hasil nyata).
Wanita fertil adalah wanita yang pernah melahirkan bayi lahir hidup, tetapi
wanita yang pernah hamil belum tentu fertil.
Fecundity denotes the ability to bear a children or physical capacity of
bearing children ( Thomson, 1953). Jadi fecunditas ( kesuburan) adalah lebih
diartikan kepada kemampuan biologis wanita untuk mempunyai anak. Atau
dengan kata lain kemampuan seorang wanita untuk mendapatkan konsepsi.
Ada juga pengertian dari fecundabilitas (fecundability) yaitu kemampuan
seorang wanita untuk bias haid atau ovulasi. Sedangkan konsep dari reproduksi
dalam demografi, lebih memberikan arti mengenai kemampuan penduduk
wanita untuk berlipat ganda atau menggantikan dirinya (replacement dalam hal
fungsi)
Pengertian lahir hidup (live birth) menurut PBB dan WHO adalah
peristiwa keluarnya hasil konsepsi dari rahim seorang ibu tanpa
memandang/melihat usia kehamilan, dan setelah perpisahan/keluar tadi bayi
menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti; bernafas, ada denyut jantung atau
denyut tali pusat atau gerakan-gerakan otot, tanpa memandang tali pusat sudah
dipotong/masih melekat pada placenta. Sedangkan pengertian lahir mati adalah
peristiwa menghilangnya tanda-tanda kehidupan dari hasil konsepsi tersebut
keluar dari rahim ibunya tanpa memandang usia kehamilannya. (di dalam
kandungan sudah mati)

2
B. Pengukuran Fertilitas
Pengukuran fertilitas tidak sesederhana dalam pengkuran mortalitas,
dengan alasan sebagai berikut:
1. Akurasi data, sulit memperoleh data lahir hidup karena banyak bayi-bayi
yang meninggal beberapa saat setelah kelahiran tidak dicatatkan sebagai
peristiwa kelahiran atau kematian dan sering juga dicatatkan sebagai lahir
mati (still bith)
2. Tidak semua wanita mempunyai resiko melahirkan, yang mempunyai resiko
adalah wanita menikah yang usianya usia reproduksi.
3. Kejadian melahirkan seorang wanita dapat berkali-kali dan melibatkan dua
orang suami dan istri, dan akan lebih kompleks jika seorang wanita tersebut
cerai, dan menikah lagi.
4. Budaya mempengaruhi kelahiran terutama yang mendukung kelahiran
misalnya banyak anak banyak rezeki.
Ada dua macam pengukuran fertilitas yaitu pengukuran fertilitas
tahunan dan dan pengukuran fertilitas kumulatif. Pengukuran fertilitas tahunan
adalah mengukur jumlah kelahiran pada tahun tertentu dan dihubungkan dengan
jumlah penduduk yang mempunyai resiko untuk melahirkan pada tahun tertentu.
Pengukuran kumulatif adalah mengukur jumlah rata-rata anak yang dilahirkan
oleh seorang wanita sampai mengakhiri batas usia subur.

B.1.Pengukuran Fertilitas Tahunan


a. Tingkat Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate / CBR)
Tingkat kelahiran kasar didefinisikan sebagai jumlah kelahiran hidup
pada suatu daerah pada tahun tertentu tiap 1.000 penduduk pada pertengahan
tahun.
CBR = Jumlah Kelahiran pada tahun tertentux 1.000
Jumlah penduduk pada pertengahan tahun
= B xk
Pm
(Sumber : Mantra, 2015)

3
b. Tingkat Fertilitas Umum (General Fertility Rate / GFR)
Pengukuran GFR sama dengan CBR, hanya penyebutnya tidak terdiri
dari seluruh jumlah penduduk tetapi jumlah penduduk wanita dalam usia subur
yaitu wanita yang berumur antara (15 – 44) tahun atau (15 – 49)tahun.
GFR merupakan suatu angka yang menunjukkan jumlah kelahiran per 1.000
perempuan dalam usia produktif ( 15 – 44 dan 15 – 49 tahun) dalam suatu
periode tertentu. Untuk menghitung angka kelahiran ini diperlukan tentang
jumlah penduduk wanita usia reproduktif. Angka fertilitas umum ini lebih
cermat dari pada angka kelahiran kasar (CBR).
GFR = Jumlah kelahiran pada tahun tertentu x 1.000
Jumlah wanita usia 15 – 49 th. pada pertengahan tahun
GFR = B xk
Pf (15 – 49)
(Sumber : Mantra, 2015)

GFR sebagai ukuran fertilitas kurang sempurna, karena kemampuan wanita


untuk melahirkan berbeda-beda sesuai dengan golongan umur mereka. Untuk
mengatasi kelemahan-kelemahan ini, maka dipergunakanlah ukuran yang lebih
sempurna yaitu tingkat kelahiran umur khusus ( Age Specific Fertility Rate).

c. Tingkat Fertilitas Menurut Umur (Age Specific Fertility Rate / ASFR)


Angka ini menunjukkan banyaknya kelahiran menurut umur dari wanita
yang berada dalam kelompok umur 15 – 19 tahun.Ukuran ini lebih baik daripada
kedua ukuran diatas, karena pengaruh daripada variasi kelompok umur umur
dapat dihilangkan. Oleh karena itu terlihat perbedaan yang nyata mengenai
fertilitas wanita dalam tiap kelompok umur interval lima tahun.
ASFRi = Jumlah kelahiran dari wanita umur i x 1.000
Jumlah wanita kelompok umur i pada pertengahan tahun i

ASFR = Bi xk
Pfi
(Sumber : Mantra, 2015)

Analisa kelompok umur yang berinterval lima tahun ini digunakan sebagai
waktu untuk menghitung angka khusus menurut umur. Yang khas bahwa angka

4
menurut umur itu rendah atau sedang dalam kelompok umur 15 - 19 tahun,
sedang yang tertinggi dalam kelompok umur 20-an, lalu menurun sedang bagi
wanita umur 30-an. Angka setelah umur 39 tahun biasanya relatif kecil.
Contoh:
Taksiran angka ASFR untuk Jawa Timur tahun 2006-2009 (perhitungan
didasarkan pada data Sensus Penduduk 2010)

Tabel 1. Angka Taksiran ASFR Jawa Timur tahun 2010


Gol. Umur Jumlah Wanita Jumlah kelahiran ASFR
3
‫ݔ‬1000
2
(1) (2) (3) (4 )
15 – 19 1.490.804 61.123 41
20 – 24 1.490.361 160.958 108
25 – 29 1.591.284 170.267 107
20 – 34 1.515.454 124.267 82
35 – 39 1.531.820 65.868 43
40 – 44 1.489.709 20.856 14
45 – 49 1.339.772 5.359 4
Jumlah ASFR 399
Sumber : Sensus Penduduk 2010 (diolah)
Ukuran-ukuran diatas adalah pengukuran fertilitas tahunan, selanjutnya akan
dibicarakan pengukuran fertilitas kumulatif.
B.2. Pengukuran Fertilitas Kumulatif
a. Tingkat Fertilitas Total (Total fertility Rate / TFR)

TFR adalah jumlah bayi yang akan dilahirkan oleh 1.000 wanita selama
masa suburnya. Dalam praktek biasanya kita mengerjakan hitungan TFR lewat
perhitungan ASFR dengan mengalikan 5 jumlah dari ASFR itu, yang biasanya
ditulis dengan rumus:

TFR = 5 x ∑ ‫ܴܨܵܣ‬i
(Sumber : Mantra, 2015)
Misalnya ASFR untuk Jawa Timur tahun 2010dihitung dari Sensus Penduduk
tahun 2010

5
Total Fertility Rate (TFR ) = 5 x 399 = 1995, TFR sebesar 1995 per 1.000
wanita dalam usia reproduksi atau 1,995 untuk seorang wanita,ini berarti dalam
masa reproduksinya seorang wanita itu mempunyai 1 atau 2 orang anak.
b. Gross Reproduction Rate (GFR / Tingkat Reproduksi Kotor)
GFR adalah jumlah kelahiran bayi perempuan oleh sebuah cohort yang
terdiri dari seribu bayi perempuan sepanjang hidupnya tidak ada yang meninggal
sebelum mengakiri masa reproduksinya, dapat dikatakan juga bahwa GRR sama
dengan TFR untuk bayi wanita, yang biasa ditulis dengan rumus :
GFR = 5 x ∑ ‫( ܴܨܵܣ‬Sumber : Mantra, 2015)
Dimana ASFR = ASFR wanita = ASFR fi
Tabel 2. Contoh Angka ASFR untuk menghitung nilai GFR
Umur Jumlah Wanita Jumlah kelahiran ASFR wanita
wanita
(1) (2) (3) (4 = 3/2.K)
15 – 19 3.755 199 52,99
20 – 24 3.675 365 99,32
25 – 29 4.430 366 82,62
20 – 34 3.779 267 70,65
35 – 39 3.303 163 49,35
40 – 44 2.644 61 23,07
45 – 49 1.944 14 7,20
Jumlah ASFRfi = 358,20
Sumber : Mantra 2015

Jadi GFR = 5 x 385,20 = 1.926,0


GFR dapat mengukur berapa jumlah wanita yang akan menggantikan
cohorthypothesis dari 1.000 wanita diatas dengan catatan tidak ada wanita yang
meninggal pada masa reproduksinya. Dengan mengabaikan kemungkinan
wanita meninggal pada masa reproduksinya, maka merupakan kelemahan dari
GFR. Karena alasan diatas maka digunakan perhitungan net reproduction rate.

c. Tingkat Repoduksi Bersih (Net Reproduction Rate / NRR)


NRR adalah jumlah kelahiran bayi wanita oleh sebuah cohort hypotetic
dari 1000 wanita dengan memperhitungkan banyak kemungkinan meninggal

6
dari wanita-wanita tersebut sebelum mengakiri masa reproduksinya. Atau dapat
dikatakan merupakan angka yang menunjukkan rata-rata jumlah anak-anak
perempuan yang dilahirkan oleh seorang wanita selama masa hayatnya, dengan
mengikuti pola fertilitas yang sama seperti ibunya.Cohort adalah sekelompok
penduduk yang dalam perjalanan hidupnya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang
sama. Misalnya sebuh cohort terdiri dari seribu bayi perempuan, berapa dari
1000 wanita itu yang meninggal sebelum mencapai umur reproduksinya.
Selanjutnya wanita-wanita yang mencapai umur reproduksinyapun berapa yang
meninggal, misalnya berapa wanita yang hanya berkesempatan mempunyai anak
sampai umur 30 tahun dan seterusnya sampai akhir umur reproduksi sesudah itu
meninggal.
Jadi berapakah besarnya jumlah bayi wanita yang akan menggantikan
cohort wanita diatas sampai akhir masa reproduksinya, dengan memperhatikan
kemungkinan meninggal beberapa anggota cohort tersebut.NRR ini biasa ditulis
dalam bentuk rumus sebagai berikut:
௡௅௑
NRR = ∑(‫ܴܨܵܣ‬௙)௜ ‫( ݔ‬ )(Sumber : Mantra, 2015)
௟బ

‫ܴܨܵܣ‬௙௜ = ‫ܴܨܵܣ‬௙per 1000 wanita pada kelompok umur tertentu


௡௅௑
= Survival ratio dari lahir hingga mencapai umur tertentu
௟బ

Tabel 3. Contoh perhitungan tingkat reproduksi bersih ( NRR )


Umur ASFR ݊‫ܺܮ‬ Kelahiran wanita tiap 1000
݈଴ wanita untuk periode 5 tahun
(2 x 3 )
(1) (2) (3) (4)
15 – 19 52,99 3,79868 201,29
20 – 24 99,32 3,70775 386,25
25 – 29 82,62 3,59285 296,84
20 – 34 70,65 3,46825 245,03
35 – 39 49,35 3,34528 165,09
40 – 44 23,07 3,21670 74,21
45 – 49 7,20 3,07288 22,12
Jumlah 1.390,83

7
NRR = 1268, ini berarti bahwa dalam satu generasi yang akan datang 1.000
wanita akan diganti oleh 1.390,83 bagi wanita.

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi Tinggi Rendahnya Kelahiran


Menurut Ida Bagoes Mantra (2015), faktor-faktor yang mempengaruhi
tinggi rendahnya fertilitas dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor demografi dan
faktor non demografi.
Faktor Demografi adalah struktur atau komposisi umur,
status perkawinan, umur kawin pertama, lama perkawinan, paritas, disrupsi
perkawinan, fekunditas, dan proporsi penduduk yang kawin.Faktor Non
Demografi antara lain, keadaan ekonomi penduduk, tingkat pendidikan,
perbaikan status perempuan, urbanisasi dan industrialisasi.
Menurut Davis dan Blake dalam Mantra (2015) faktor-faktor sosial,
ekonomi dan budaya yang mempengaruhi fertilitas akan melalui “variabel
antara”. Ada 11 variabel antara yang mempengaruhi fertilitas, yang masing-
masing dikelompokkan dalam tiga tahap proses reproduksi sebagai berikut:
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hubungan kelamin (intercouse
variables) adalah
1. Umur mulai hubungan kelamin
2. Selibat permanen: proporsi wanita yang tidak pernah melakukan hubungan
kelamin
3. Lamanya masa reproduksi yang hilang:
a) Bila kehidupan suami istri cerai atau pisah atau ditinggal pergi oleh suami
b) Bila kehidupan suami istri berakhir karena suami meninggal dunia

4. Abstinensi / berpantang sukarela


5. Abstinensi / Berpantang karena terpaksa (oleh impotensi, sakit, pisah
sementara)
6. Frekuensi hubungan seksual

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemungkinan konsepsi (conception


variables):
1. Kesuburan atau kemandulan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor yang
tidak disengaja
2. Menggunakan atau tidak menggunakan metode kontrasepsi:

8
a) Menggunakan cara-cara mekanik dan bahan-bahan kimia
b) Menggunakan cara-cara lain
3. Kesuburan atau kemandulan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor yang
disengaja (sterilisasi, obat-obatan dan sebagainya)

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan dan kelahiran (gestation


variables)
1. Mortalitas janin yang disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak disengaja
2. Mortalitas janin oleh faktor-faktor yang disengaja

Menurut Davis dan Blake, setiap variabel diatas terdapat pada semua
masyarakat.Masing-masing variabel memiliki pengaruh (nilai) positif dan
negatifnya sendiri-sendiri terhadap fertilitas.Contoh jika pengguguran tidak
dipraktekkan di masyarakat maka variabel tersebut bernilai positif terhadap
fertilitas. Arti lainnya fertilitas dapat meningkat karena tidak ada
pengguguran.Dengan demikian ketidak-adaan variabel tersebut juga suatu
masyarakat masing-masing variabel bernilai negatif atau positif maka angka
kelahiran yang sebenarnya tergantung kepada neraca netto dari nilai semua
variabel.
John Bongaarts (1978) mensederhanakan variabel Davis dan Blake, ada
empat variabel antara yang terpenting yang mempengaruhi tinggi rendahnya
fertilitas yaitu : perkawinan atau proporsi wanita yang kawin, pemakaian alat
kontrasepsi, laktasi, dan pengguguran yang disengaja.
Menurut Freedman (1975) mengemukakan bahwa fertilitas dipengaruhi
oleh variable antara dan variabel antara itu sendiri dipengaruhi oleh norma
besarnya keluarga (family norm) dan norma variabel antara itu
sendiri.Selanjutnya norma-norma tentang besarnya keluarga dipengaruhi oleh
tingkat kematian bayi dan anak. Kesemua variabel antara ini dipengaruhi oleh
struktur sosial ekonomi yang ada di masyarakat.
Menurut Leibenstein anak dilihat dari dua aspek yaitu aspek kegunaan
(utility) dan aspek biaya (cost). Kegunaannya adalah memberikan kepuasaan,
dapat memberikan balas jasa ekonomi atau membantu dalam kegiatan
berproduksi serta merupakan sumber yang dapat menghidupi orang tua di masa

9
depan atau sebagai tabungan hari tua. Sedangkan pengeluaran untuk
membesarkan anak adalah biaya dari mempunyai anak tersebut.

L Tingkat F
Mortalitas
I E
Norma tentang
N R
besarnya
G keluarga T

K Variabel I
Antara
U L
Norma tentang
N Variabel I
Antara
G T
Struktur
A Ekonomi A

N Program KB S

Skema 1. Faktor Yang Mempengaruhi Fertilitas oleh Ronald Freedman

Menurut Becker (1960), menyatakan anak dari sisi ekonomi pada


dasarnya dapat dianggap sebagai barang konsumsi tahan lama (a consumption
good, consumer’s durable) yang mempunyai manfaat (utility) untuk memenuhi
kebutuhan orang tuanya. Orang tua bertindak secara rasionil dalam menentukan
preferensinya terhadap jumlah anak dan barang-barang lainnya yang didasarkan
pada selera, harga dan pendapatannya.Secara ekonomi fertilitas dipengaruhi oleh
pendapatan keluarga, biaya memiliki anak dan selera.Meningkatnya pendapatan
(income) dapat meningkatkan permintaan terhadap anak.

D. Pengertian Mortalitas
Menurut PBB dan WHO, kematian adalah hilangnya semua tanda-tanda
kehidupan secara permanen yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran
hidup.Still birth dan keguguran tidak termasuk dalam pengertian kematian.
Perubahan jumlah kematian (naik turunnya) di tiap daerah tidaklah sama,
tergantung pada berbagai macam faktor keadaan. Besar kecilnya tingkat
kematian ini dapat merupakan petunjuk atau indikator bagi tingkat kesehatan
dan tingkat kehidupan penduduk di suatu wilayah.

Konsep-konsep lain yang terkait dengan pengertian mortalitas adalah:

10
1. Neo-natal death adalah kematian yang terjadi pada bayi yang belum
berumur satu bulan.
2. Lahir mati (still birth) atau yang sering disebut kematian janin (fetal death)
adalah kematian sebelum dikeluarkannya secara lengkap bayi dari ibunya
pada saat dilahurkan tanpa melihat lamanya dalam kandungan.
3. Post neo-natal adalah kematian anak yang berumur antara satu bulan
sampai dengan kurang dari satu tahun.
4. Infant death (kematian bayi) adalah kematian anak sebelum mencapai umur
satu tahun.

E. Pengukuran Mortalitas
a. Tingkat kematian kasar (Crute Death rate/CDR)
Tingkat kematian kasar didefinisikan sebagai banyaknya orang yang
meninggal pada suatu tahun dibagi jumlah penduduk pertengahan tahun
tersebut. Secara konvensional kita menyatakan tingkat itu untuk tiap 1.000
orang. Sehingga dapat juga dikatakan bahwa tingkat kematian kasar adalah
sebagai jumlah kematian pada suatu daerah pada tahun tertentu tiap 1.000
penduduk pada pertengahan tahun. CDR dapat dituliskan dengan rumus:

CDR = Jumlah Kematian pada tahun tertentu X 1.000


Jumlah penduduk pada pertengahan tahun.
Atau:
CDR = D xk (Sumber : Mantra, 2015)
Pm

b. Tingkat Kematian Umur Khusus (Age Specific Death Rate)


Tingkat kematian kasar pengukuran sangat kasar sekali, karena resiko
penduduk pergolongan umur tidak sama. Tingkat kematian pergolongan
penduduk dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: umur, jenis kelamin,
pekerjaan, dan lain-lain.

ASDR = Jumlah kematian penduduk umur i-X 1000


Jumlah penduduk pertengahan tahun kelompokumur i-

11
ASDR = Di X k (Sumber : Mantra, 2015)
Pi

c. Tingkat Kematian Bayi ( Infant Mortality Rate/ IMR )


Bayi umur 0 – 1 tahun, mempunyai pola kematian tertentu.Angka
kematian bayi tidaklah tersebar merata pada masa tahun pertama dari
kehidupannya.Angka kematian yang tinggi terlihat pada bulan-bulan pertama
dari kehidupan.Misalnya angka kematian dibawah umur 28 hari lebih tinggi dari
angka kematian pada umur 5 bulan, begitu juga untuk bulan-bulan selanjutnya.
Infant mortality rate adalah angka yang menunjukkan banyaknya
kematian bayi yang berumur kurang dari 1 tahun per 1000 kelahiran pada suatu
waktu tertentu, yang biasa ditulis dengan rumus:

IMR = Jumlah kematian bayi (umur kurang 1 tahun) X 1000


Jumlah kelahiran hidup pada tahun tertentu

∑ ஽బషభ
IMR = ∑஻
‫(݇ ݔ‬Sumber : Mantra, 2015)

Infant Mortality Rate mempuyai hubungan yang erat dengan tingkat


kesehatan masyarakat di suatu daerah.Pada umumnya ada korelasi yang negatif
antara IMR dengan tingkat kesehatan masyarakat suatu daerah.Jadi makin tinggi
tingkat kesehatan masyarakat suatu daerah, maka akan makin rendah angka
IMR-nya. Atau dengan kata lain jika angka kematian bayi (IMR) tinggi di suatu
daerah, maka rendahlah tingkat kesehatan masyarakat di suatu daerah tersebut.
Sering dikatakan bahwa tinggi rendahnya angka IMR disuatu daerah dapat
dipakai sebagai barometer tingkat kesehatan daerah itu.

d. Angka Kematian Balita


Banyaknya kematian anak berumur 0-5 tahun selama satu tahun tertentu per
1.000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun.

D0 – 4 tahun
AKBa (0- 5 th) = _________ x k(Sumber : BPS.go.id)
P0 - 4 tahun

12
D0-4thn = jumlah kematian anak berusia 0-4 tahunpada satu tahun tertentu

P = jumlah penduduk berusia 0-4 tahun pada pertengahan tahun

k = konstanta (1000)

e. Angka Kematian Anak

Banyaknya kematian anak berumur 1-4 tahun selama satu tahun tertentu per
1.000 anak umur yang sama pada pertengahan tahun.

D1 – 4 tahun
AKA (1- 4 th) = __________ x k(Sumber : BPS.go.id)
P 1-4 tahun

D1- 4 thn = jumlah kematian anak berusia 1-4 tahun pada satu tahun tertentu

P = jumlah penduduk berusia 1-4 tahun pada pertengahan tahun tertentu

k = konstanta (1000)

e. Angka Kematian Ibu/AKI (Maternal Mortality)

Kematian ibu menurut WHO adalah kematian yang berkaitan dengan


kehamilan dan persalinan oleh sebab apapun, tetapi bukan kecelakaan atau
kelalaian, dan terjadi selama kehamilan sampai dengan 42 hari setelah
persalinan (masa nifas) serta tidak tergantung umur atau letak kehamilan.
Ada 2 ukuran:

1) Maternal mortality rate

2) Maternal mortality ratio

1) Maternal Mortality Rate

MMR = Jumlah kematian ibupada tahun tertentu x 100.000(Sumber : WHO)


Jumlah perempuan umur 15-49 tahun tertentu

Jumlah perempuan umur 15-49 tahun disebut juga “person years lived exposed
to risk” yaitu jumlah orang yang mempunyai risiko mengalami kematian karena
kehamilan/persalinan (sesuai definisi kematian ibu)

13
2 )Maternal Mortality Ratio

Jumlah kematian ibu pada tahun t x 100.000(Sumber : WHO)


Jumlah kelahiran hidup pada tahun t

F. Faktor yang mempengaruhi Mortalitas


Faktor yang mempengaruhi kematian ada dua faktor, yaitu faktor dari dalam
individu atau faktor dari luar individu.International Classification of
Diseases (ICD) versi 10 tahun 2016 mengklasifikasi penyakit penyebab
kematian penduduk.Daftar sebab kematian dalam Klasifikasi Penyakit
Internasional (ICD) sangat terperinci dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
menggolongkan sebab-sebab ini ke dalam 22 kelompok.Adapun klasifikasi
penyakit penyebab kematian tersebut adalah :
1. Penyakit infeksi dan parasit tertentu
2. Neoplasma
3. Penyakit darah dan organ pembentuk darah dan gangguan tertentu yang
melibatkan mekanisme kekebalan tubuh
4. Endokrin, nutrisi dan penyakit metabolik
5. Gangguan mental dan perilaku
6. Penyakit pada sistem saraf
7. Penyakit mata dan adneksa
8. Penyakit pada telinga dan proses mastoid
9. Penyakit pada sistem peredaran darah
10. Penyakit pada sistem pernapasan
11. Penyakit pada sistem pencernaan
12. Penyakit pada kulit dan jaringan subkutan
13. Penyakit pada sistem muskuloskeletal dan jaringan ikat
14. Penyakit sistem genitourinari
15. Kehamilan, persalinan dan masa nifas
16. Kondisi tertentu yang berasal dari periode perinatal
17. Malformasi kongenital, deformasi dan kelainan kromosom
18. Gejala, tanda dan temuan klinis dan laboratorium yang abnormal, tidak
diklasifikasikan di tempat lain

14
19. Cedera, keracunan dan beberapa konsekuensi lain dari penyebab
eksternal
20. Penyebab eksternal morbiditas dan mortalitas
21. Faktor yang mempengaruhi status kesehatan dan kontak dengan layanan
kesehatan
22. Kode untuk tujuan khusus misal penyakit baru atau ketahanan terhadap
obat
Penyakit jantung merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia, disusul
oleh penyakit stroke. Adapun sepuluh penyebab kematian di dunia terlihat pada

Gambar 1. Sepuluh Penyebab Kematian di Dunia (Sumber : WHO)

gambar 1, yaitu penyakit jantung, stroke, infeksi pernafasan, paru kronis, kanker
paru, diabet mellitus, alzheimer dan penyakit dimensia, penyakit diare, TBC
serta penyebab kematian yang disebabkan oleh kecelakaan.

G. Kelangsungan Hidup Anak Mosley dan Chen


Mosley dan Chen (1984) membagi variabel-variabel yang berpengaruh terhadap
kelangsungan hidup anak menjadi dua, yaitu; (1) Variabel yang dianggap
eksogenous atau sosial ekonomi (seperti budaya, sosial, ekonomi, masyarakat,

15
dan faktor regional) dan; (2) Variabel endogenous atau faktor biomedical
(seperti pola pemberian ASI, kebersihan, sanitasi dan nutrisi).

Determinan Sosial-
Ekonomi

Faktor Pencemaran Kekurangan Kecelakaan


ibu Lingkungan Gizi

Sehat Sakit

Pengendalain Gangguan Kematian


Penyakit Pertumbuhan
Individual ibu

Gambar 2. Kelangsungan Hidup Anak oleh Mosley dan Chen

Penelitian sosial maupun penelitian medis, memberikan kontribusi yang


besar bagi pemahaman mengenai penyebab kematian anak di negara sedang
berkembang.Kunci dari model kelangsungan hidup anak terletak pada
identifikasi sekumpulan variabel yang menyebabkan peningkatan resiko
kematian pada anak.

Semua determinan sosial dan ekonomi harus melalui variabel antara


untuk dapat mempengaruhi kelangsungan hidup anak. Variabel antara ini
dikelompokkan ke dalam lima kategori :
1. Faktor ibu
1) Umur,
2) Paritas dan
3) Jarak kelahiran.
2. Pencemaran Lingkungan
1) Udara yang merupakan jalur penyebarluasan penyakit pernafasan dan
banyak penyakit
2) Makanan, air, dan jari yang merupakan jalur utama penyebarluasan diare
dan penyakit usus lainnya ;

16
3) Kulit, tanah dan benda mati yang merupakan jalur infeksi kulit
4) Serangga pembawa penyakit
3. Kekurangan gizi
1) Kalori,
2) Protein, dan
3) Gizi mikro (vitamin dan mineral)
4. Luka kecelakaan
1) Kecelakaan
2) Luka yang disengaja
5. Pengendalian Penyakit Perorangan
1) Tindakan preventif perorangan
2) Perawatan dokter

H. Determinan Kematian Ibu


Ada dua Klasifikasi Kematian Ibuyaitu :
1. Penyebab langsungyaitu kematian ibu yang disebabkan oleh komplikasi
obstetri pada masa hamil, bersalin dan nifas, atau yang disebabkan oleh
suatu tindakan yang dilakukan pada masa hamil, bersalin dan nifas, atau
berbagai hal akibat tindakan tersebut 

2. Penyebab tidak langsung yaitu kematian ibu yang disebabkan oleh
penyakit yang bukan komplikasi obstetri, yang berkembang atau
bertambah berat akibat kehamilan atau persalinan 

Mc.Carthy dan Maine (1992) dalam kerangka konsepnya mengemukakan
peran determinan kematian ibu sebagai keadaan atau hal yang melatarbelakangi
dan menjadi penyebab langsung serta tidak langsung dari kematian ibu.
Determinan kematian ibu itu dikelompokkan dalam : Determinan Proksi atau
dekat (proximate determinant), determinan antara (intermediate determinants)
dan determinan kontekstual (contekstual determinants).
1. Determinan Kontekstual/jauh (determinan sosial, ekonomi dan budaya), yaitu

a. Status perempuan dalam keluarga dan masyarakat


Faktor-faktor yang menentukan status perempuan antara lain tingkat
pendidikan (Kecenderungan perempuan yang berpendidikan lebih
tinggi lebih memperhatikan kesehatan diri dan keluarganya), pekerjaan

17
(ibu yang bekerja di sektor formal memiliki akses yang lebih baik
terhadap berbagai informasi kesehatan), keberdayaan perempuan
(woman empowerment) yang memungkinkan perempuan lebih aktif
dalam menentukan sikap dan lebih mandiri dalam memutuskan hal
terbaik bagi dirinya, termasuk kesehatannya atau kehamilannya.

b. Status keluarga dalam masyarakat


Jika variabel yang tersebut di atas lebih menekankan pada diri
perempuan sebagai individu, maka variabel berikut ini merupakan
variabel dari keluarga perempuan tersebut. Variabel tersebut antara lain
penghasilan keluarga, kekayaan keluarga, tingkat pendidikan dan status
pekerjaan anggota keluarga, juga dapat berpengaruh terhadap risiko
mengalami kematian ibu.
c. Status Masyarakat
Variabel ini meliputi antara lain tingkat kesejahteraan, ketersediaan sumber daya
(misalnya jumlah tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan
yang tersedia), serta ketersediaan dan kemudahan transportasi. Status
masyarakat umumnya terkait pula pada tingkat kemakmuran suatu
negara serta besarnya perhatian pemerintah terhadap masalah
kesehatan.
2. Determinan Antara, meliputi
a. Status Kesehatan
Faktor-faktor status kesehatan ibu antara lain status gizi, penyakit
infeksi atau parasit, penyakit menahun seperti TBC, penyakit jantung,
ginjal dan riwayat komplikasi obstretri.
b. Status Reproduksi
Faktor-faktor status reproduksi antara lain usia ibu hamil ( usia dibawah
20 tahun dan di atas 35 tahun merupakan usia berisiko untuk hamil dan
melahirkan), jumlah kelahiran (semakin banyak jumlah kelahiran yang
dialami oleh seorang ibu semakin tinggi risikonya untuk mengalami
komplikasi), jarak antara kehamilan, status perkawinan (perempuan
dengan status tidak menikah cenderung kurang memperhatikan
kesehatan diri dan janinnya selama kehamilan dengan tidak melakukan

18
pemeriksaan kehamilan, yang akan menyebabkan tidak terdeteksinya
kelainan yang dapat menyebabkan komplikasi)
c. Akses Terhadap Pelayanan Reproduksi
Akses pelayanan, ada dua aspek utama, yaitu ketersediaan dan
keterjangkauan.Ketersediaan adalah tersedianya fasilitas pelayanan
kesehatan dengan jumlah dan kualitas yang memadai.Keterjangkauan
pelayanan kesehatan meliputi jarak, waktu, dan biaya.
d. Perilaku sehat
Berkaitan dengan perilaku penggunaan alat-alat kontrasepsi ( ibu ber
KB akan lebih jarang melahirkan dibandingkan dengan ibu yang tidak
berKB), pemeriksaan kehamilan (ibu yang melakukan pemeriksaan
kehamilan secara teratur akan terdeteksi masalah kesehatan dan
komplikasinya), penolong persalinan (ibu yang ditolong oleh dukun
berisiko lebih besar untuk mengalami kematian dibandingkan dengan
ibu yang melahirkan oleh tenaga kesehatan), perilaku menggugurkan
kandungan (ibu yang berusaha menggugurkan kandungannya berisiko
lebih besar untuk mengalami komplikasi)
e. Faktor-faktor lain yang tidak diketahui atau tidak terduga
Ada keadaan yang mungkin terjadi secara tiba-tiba dan tak terduga
yang dapat menyebabkan terjadinya komplikasi selam hamil atau
melahirkan.Beberapa keadaan tersebut terjadi pada saat melahirkan,
misalnya kontraksi uterus yang tidak adekuat, ketuban pecah dini dan
persalinan yang terlambat melebihi 9 bulan.

3. Determinan Proksi, yaitu


a. Kejadian Kehamilan
Perempuan yang hamil mempunyai risiko untuk mengalami
komplikasi, sedangkan perempuan yang tidak hamil tidak mempunyai
risiko tersebut.Program keluarga berencana dapat secara tidak langsung
mengurangi risiko kematian ibu. Efek KB terhadap penurunan AKI
berkaitan dengan TFR. Bila TFR tinggi maka penurunan kematian ibu
akan sangat dipengaruhi oleh keikutsertaan KB. Sebaliknya jika TFR
cukup rendah, maka pelayanan KB tidak lagi berpengaruh terhadap
penurunan AKI. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa angka

19
total kesuburan (Total Fertility Rate/TFR) ternyata tidak selalu
memberikan dampak yang berarti pada penurunan AKI karena
kematian ibu berkaitan pula dengan faktor-faktor lain, misal kualitas
pelayanan kesehatan
b. Komplikasi Kehamilan dan Persalinan
Komplikasi obstetri ini merupakan penyebab langsung kematian ibu,
yaitu perdarahan, infeksi, eklampsia, partus lama, abortus dan rupture
uteri. Intervensi yang ditujukan untuk mengatasi komplikasi obstetri
tersebut merupakan intervensi jangka pendek; yang hasilnya akan dapat
gera terlihat dalam bentuk penurunan AKI.

Determinan Konstektual Determinan Antara Determinan Proksi


(Konstextual Determinant) (Intermediate Determinant) (Proximate Determinant)

Status Perempuan dalam Status Kesehatan


keluarga dan masyarakat Gizi, Infeksi, Penyakit Kronik,
Pendidikan, Pekerjaan, Riwayat Komplikasi
Penghasilan,
Pemberdayaan Wanita Kehamilan
Status Reproduksi
Status Keluarga dalam
Umur, Paritas, Status
Masyarakat
Perkawinan
Penghasilan,
Kepemilikan, Komplikasi
Pendidikan, dan Perdarahan,
Akses ke Pelyanan Kesehatan
Pekerjaan Anggota Rumah Infeksi,
Lokasi Pelayanan Kesehatan
Tangga Eklamsia,
(KB, Pelayanan Antenatal,
Partus Macet,
Pelayanan Obstetri), Jangkauan
Ruptura
Pelayanan, Kualitas Pelayanan,
Status Masyarakat Akses Informasi tentang
Kesejahteraan, Pelayanan Kesehatan.
Sumber Daya (nakes, yankes,
transportasi,
Tingkat Kemakmuran Kematian/
Perilaku Sehat
Kecacatan
Penggunaan KB, Pemeriksaan
Antenatal, Penolong Persalinan

Faktor Tak Terduga

Gambar 3. Determinan Kematian Ibu (McCarthy and Maine, 1992)

Maine dan kawan-kawan mengidentifikasi “rantai penyebab” kematian


ibu dan menghubungkannya dengan strategi intervensi yang dikelompokkan
dalam 3 kategori yaitu :

20
a. Mencegah/memperkecil kemungkinan perempuan untuk menjadi hamil.
Pada saat perempuan tidak berada dalam kehamilan, ia tidak mempunyai
risiko kematian ibu. Penurunan angka kesuburan perempuan merupakan
cara yang efektif untuk mencegah kemungkinan menjadi hamil sehingga
menghilangkan risiko kematian akibat kehamilan/persalinan.Keikutsertaan
dalam ber-KB mencegah kematian ibu.
b. Mencegah/Memperkecil kemungkinan perempuan hamil mengalami
komplikasi dalam kehamilan/persalinan.
Banyak analisis menunjukkan bahwa kejadian komplikasi obstetri tidak
dapat di cegah atau diperkirakan sebelumnya, kecuali misalnya induksi
abortus yang tidak aman.Dan telah diketahui bahwa kelompok perempuan
tertentu mempunyai risiko yang lebih besar terhadap kematian dari pada
kelompok perempuan lainnya.Analisis juga menunjukkan risiko kematian
ibu terbesar pada kelompok umur di bawah 20 tahun dan di atas 30 tahun.
c. Mencegah/memperkecil kematian perempuan yang mengalami
komplikasi dalam kehamilan/persalinan.
Walaupun kebanyakan komplikasi obstetri tidak dapat dicegah dan
diperkirakan sebelumnya, tidak berarti bahwa komplikasi tersebut tidak
dapat ditangani.Setiap ibu hamil mempunyai risiko untuk mengalami
komplikasi obstetri, maka ibu hamil perlu mempunyai akses terhadap
pelayanan kegawat-daruratan obstetri.Dengan penanganan yang baik,
hampir semua kematian ibu dapat dicegah.

RANGKUMAN

Fertilitas adalah kemampuan seorang wanita atau sekelompok wanita


untuk memberikan keturunan yang diukur dengan bayi lahir hidup (hasil nyata).
Ada dua macam pengukuran fertilitas yaitu pengukuran fertilitas tahunan dan
dan pengukuran fertilitas kumulatif. Menurut Mantra (2015) faktor-faktor yang
mempengaruhi tinggi rendahnya fertilitas dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor
demografi dan faktor non demografi. Menurut Davis dan Blake dalam Mantra
(2015) faktor-faktor sosial, ekonomi dan budaya yang mempengaruhi fertilitas
akan melalui “variabel antara”. John Bongaarts (1978) mensederhanakan

21
variabel Davis dan Blake, ada empat variabel antara yang terpenting yang
mempengaruhi tinggi rendahnya fertilitas. Menurut Freedman (1975)
mengemukakan bahwa fertilitas dipengaruhi oleh variable antara dan variabel
antara itu sendiri dipengaruhi oleh norma besarnya keluarga (family norm) dan
norma variabel antara itu sendiri. Menurut Freedman mengemukakan bahwa
fertilitas dipengaruhi oleh variable antara dan variabel antara itu sendiri
dipengaruhi oleh norma besarnya keluarga (family norm) dan norma variabel
antara itu sendiri. Menurut Becker (1960), menyatakan anak dari sisi ekonomi
pada dasarnya dapat dianggap sebagai barang konsumsi tahan lama (a
consumption good, consumer’s durable) yang mempunyai manfaat (utility)
untuk memenuhi kebutuhan orang tuanya.
Menurut PBB dan WHO, kematian adalah hilangnya semua tanda-tanda
kehidupan secara permanen yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup.
Pengukuran mortalitas antara lain pengukuran Tingkat Kematian Kasar (CDR),
Tingkat Kematian Umur Khusus (ASDR), Tingkat Kematian Bayi (IMR),
Angka Kematian Anak, Angka Kematian Balita, dan Angka Kematian Ibu.
Faktor yang mempengaruhi kematian ada dua faktor, yaitu faktor dari dalam
individu atau faktor dari luar individu, dan WHO mengklasifikasi penyebab
kematian ke dalam daftar Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD) dengan
sangat terperinci.Mosley dan Chen (1984) membagi variabel-variabel yang
berpengaruh terhadap kelangsungan hidup anak menjadi dua, yaitu; (1) Variabel
yang dianggap eksogenous atau sosial ekonomi (seperti budaya, sosial, ekonomi,
masyarakat, dan faktor regional) dan; (2) Variabel endogenous atau faktor
biomedical (seperti pola pemberian ASI, kebersihan, sanitasi dan nutrisi).
Mc.Carthy dan Maine (1992) dalam kerangka konsepnya mengemukakan peran
determinan kematian ibu sebagai keadaan atau hal yang melatarbelakangi dan
menjadi penyebab langsung serta tidak langsung dari kematian ibu. Determinan
kematian ibu itu dikelompokkan dalam : Determinan Proksi atau dekat
(proximate determinant), determinan antara (intermediate determinants) dan
determinan kontekstual (contekstual determinants)

22
DAFTAR PUSTAKA
Barclay, George W, 1958, Tecnique of Population Analysis. New York, John
Wiley Sons.
Bongaarts, John, 1978, “A Framework for analysing the proximate determinants
of fertility” Population and Development Review, Vol.4.no. 1 (March), pp.
27 – 45
Carthy Mc, James, Deborah Maine, 1992, “A Framework for Analyzing the
Determinants of Maternal Mortality” Studies in Family Planning Vol. 23,
No. 1 (Jan. – Feb.), pp. 23-33
Donald.J Bogue, 1969: Principles of Demography. John Wiley and Sons. Inc,
New York
Freedman, Ronald, 1975, The Sociology of Human Ferlity, New York, Irvington
Lembaga Demografi, 1980, Buku Pegangan Bidang Kependudukan, Jakarta,
Lembaga Demografi FE-UI.
Lucas, David, Peter McDonald, Elspeth Young, and Christable Young, 1982,
Pengantar Kependudukan. Penerjemah Nin Bakde Sumanto, Riningsih
Saladi. Yogyakarta, Gadjah Mada Press, dan PPSK-UGM
Mantra, Ida Bagus, 2015, Demografi Umum, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Mosley, W. Henry, and Lincoln c. Chen, 1983, An Analytical Framework for
the Study of ChildSurvival in Developing Countries, dalam W. Henry and
Chen, Lincoln, eds. Child Survival Strategiesfor Researc. London.
Cambridge University Press
Pollard AH, Yusuf Farhat, Pollard GN, 1981, Teknik Demografi.Terjemahan
Rozy Munir, dkk,Bina Aksara, Bandung
Shyrock, Hs and Js Siegel, 1976. The Methods and Materials of Demography.
London. Academic Press, Inc
Thomson Waren,S, and David. Lewis, 1958: Population Problem. New York.
Mc.Graw-Hill Book Company.

23