Anda di halaman 1dari 8

Topik : Tuberkulosis Paru

Tanggal (kasus) : 15 Desember 2014 Presenter : dr. Acut Devy Hajrina

Pembimbing : dr. Rahmayanti Sp. P


Tanggal presentasi : 29 Januari 2015
Pendamping : dr. Erlinawati, Sp. S
dr. Suriadi Umar, Sp. A

Tempat presentasi : Komite Medik RSUD Sigli

Obyektif presentasi :

 Keilmuan  Keterampilan  Penyegaran  Tinjauan Pustaka

 Diagnostik  Manajemen  Masalah  Istimewa

 Neonatus  Bayi  Anak  Remaja  Dewasa  Lansia  Bumil

Deskripsi : Wanita, 19 tahun, Pasien datang dengan keluhan batuk darah ± 1 minggu sebelum masuk rumah sakit

Tujuan : Mampu menegakkan diagnosis Tb Paru, penatalaksanaan dan mengedukasi pasien

 Tinjauan
Bahan bahasan :  Riset  Kasus  Audit
Pustaka

Cara membahas :  Diskusi  Presentasi dan diskusi  Email  Pos


Data Pasien : Nama : Nn. C Nomor Registrasi : 116767

Nama Klinik : Telepon : - Terdaftar sejak : 15 Desember 2014

Data utama untuk bahan diskusi :

1. Diagnosis/ Gambaran Klinis :


Tuberkulosis Paru Kasus Baru BTA (-) + Hemoptisis
2. Riwayat Pengobatan :
Pasien hanya berobat ke mantri bila sakit. Obat-obatan paracetamol, ambroxol dan amoxicicilin
3. Riwayat Kesehatan/ Penyakit :
Pasien datang dengan keluhan batuk darah ± 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, sebelum batuk darah os sudah sering batuk
berdahak sejak 11 bulan yang lalu dan hanya minum obat yang diperoleh dari mantri setempat dan sembuh, kemudian hal tersebut
berulang kembali. Os juga mengeluh 2 bulan ini demam naik turun, sembuh dengan obat hanya sementara, selain itu disertai dengan
keringat malam. Menurut Os dan keluarga Os berat badan Os sejak 2 bulan ini makin lama makin menurun serta nafsu makan yang
menurun, riwayat nyeri dada (-), sesak nafas (-).
4. Riwayat Penyakit Dahulu :
Ispa (+), TB (-), Asma Brochial (-)
5. Riwayat Penyakit Keluarga:
Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita keluhan yang sama dengan pasien.
6. Riwayat Kebiasaan Psikososial
Os sehari-harinya beraktivitas sebagai mahasiswa, merantau dan tinggal bersama kakaknya di Banda Aceh. Os menyangkal
kebiasaan merokok.
7. Pemeriksaan Fisik
a. Status Generalis
Keadaan umum : Sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 80x/menit
Pernafasan : 20x/menit
Suhu : 37,8 0C
 Kepala : Normocephali, rambut hitam, tidak mudah dicabut.
 Mata : Pupil bulat isokor, konjungtiva anemis (-/-) Sklera ikterik (-/-)
 THT : Sekret tidak ada, mukosa tidak hiperemis
 Leher : Perabaan kelenjar tiroid tidak teraba membesar, perabaan
kelenjar getah bening tidak teraba membesar.
 Thoraks :Cor : S1-S2 normal reguler, murmur (-)
Pulmo
Inspeksi : Gerakan nafas simetris kiri dengan kanan, tidak ditemukan retraksi dinding dada
Palpasi : Stem fremitus (N/N)
Perkusi : Sonor/Sonor
Auskultasi : Suara pernapasan bronkovesikuler, rhonki (+/+), wheezing (-/-)

 Abdomen : soepel, distensi (-), nyeri tekan (-), peristaltik (+N)

 Ekstremitas : udema (-/-), pucat (-/-)


c. Pemeriksaan Penunjang
Hasil Pemeriksaan Hematologi Tanggal 16/12/2014
Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Nilai Rujukan
Hemoglobin 13,2 13-18 gr/dl
Leukosit 7,2 4,1-10,5.103/ul
LED 17 0-15 mm/jam
Thrombosit 230 150-400.103/ul
Hematokrit 30 40-55%
Gula darah sewaktu 102 60-110 mg/dl

FOTO RONGENT THORAX

Cor : Cor tampak normal


Pulmo : Tampak gambaran fibroinfiltrat pada paru kiri
Aorta : Elongasi (-), dilatasi (-)
Sinus Costophrenicus : Tajam
Daftar Pustaka :

Bahar, A., Zulkifli Amin. 2007. Pengobatan Tuberkulosis Mutakhir dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Edisi IV. Jakarta :
BPFKUI
Bayupurnama, Putut. 2007. Hepatoksisitas karena Obat dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I, Edisi IV. Jakarta: BPFKUI

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Edisi 2 Cetakan Pertama. Jakarta.

Fauci AS, Kasper DL, Longo DL, et al. 2008. Harrisson's Principle of internal medicine 17th ed. New York: MGraw Hill companies

Fishman AP, Elias JA, Fishman JA, et al. 2008. Fishman's pulmonary disease and disorders 4th ed. New York: MGraw Hill

Palomino JC, Leao SC, Ritacco C. 2007. Tuberkulosis 2007: from basic science to patient care. Brazil: Bourcillier Camp

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2011. TUBERKULOSIS. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia

Price, Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Volume 1. Alih Bahasa:
Brahm U. Pendit, Huriawati Hartanto, Pita Wulansari, Dewi Asih Mahanani. Jakarta: EGC
World Health Organization. 2014. Global Tuberculosis Control: A Short Update to the 2014 Report. Geneva: World Health
Organization

Hasil Pembelajaran:
1. Definisi Tuberkulosis Paru

2. Cara Penularan Tuberkulosis Paru

3. Resiko Penularan Tuberkulosis Paru

4. Patogenesis Tuberkulosis Paru

5. Diagnosis Tuberkulosis Paru

6. Komplikasi Tuberkulosis Paru

7. Pengobatan Tuberkulosis Paru

1. Subjective : Pasien datang dengan keluhan batuk darah ± 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, sebelum batuk darah os
sudah sering batuk berdahak sejak 11 bulan yang lalu. Os juga mengeluh 2 bulan ini demam naik turun, sembuh dengan obat
hanya sementara, selain itu disertai dengan keringat malam. Menurut Os dan keluarga Os berat badan Os sejak 2 bulan ini
makin lama makin menurun serta nafsu makan yang menurun.
2. Objective : Hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan sputum, dan pemeriksaan rongent thoraks sangat mendukung diagnosis tb
paru. Pada kasus ini diagnosis ditegakkan berdasarkan :
 Gejala klinis (tampak kurus, suara nafas bronchovesikuler dan rhonki (+/+)
 Faktor-faktor resiko yang dimiliki pasien
 Hasil pemeriksaan thoraks tampak gambaran fibroinfiltrat pada paru
3. Assessment
Keluhan pasien berupa batuk darah, berdasarkan gejala yang muncul bersifat spesifik yang termasuk ke dalam manifestasi
tb paru, gejala tb paru biasanya ditandai dengan demam baik subfebris hingga febris dan keringat malam, berat badan yang
menurun, anoreksia, dan merasa lemas. Pada 80 % kasus ditemukan demam dan tidak adanya demam bukan berati tuberculosis
dapat dihilangkan. Dalam sebagian besar kasus, batuk non produktif biasanya muncul minimal selama 2 minggu dan selanjutnya
diikuti oleh batuk produktif dengan sputum yang purulen bahkan diikuti bercak darah. Hemoptisis yang masif biasanya muncul
sebagai destruksi pembuluh darah pada kavitas terutama pembuluh darah yang berdilatasi pada dinding kavitas (Rasmussen's
aneurysm).
Temuan pemeriksaan fisis pasien ditemukan rhonki, berdasarkan teori cukup terbatas pada TB paru. Terkadang
abnormalitas tidak ditemukan pada pemeriksaan thorax. Bunyhi ronkhi biasa ditemukan terutama karena peningkatan produksi
sputum. Bunyi wheezing juga terkadang ditemukan akibat obstruksi parsial bronkus dan bunyi amphoric klasik pada kavitas.
Terkadang bunyi pernafasan terdengar redup yang berarti menunjukkan ada proses abnormalitas yang cukup parah sebagai
komplikasi dari infeksi tuberculosis. Pada keadaan tertentu pasien juga dapat menunjukkan wajah yang pucat.
Pemeriksaan foto thoraks PA ditemukan fibroinfiltrat pada paru kiri, dalam beberapa teori dipaparkan pemeriksaan
rongent thoraks merupakan pemeriksaan yang rutin dilakukan untuk evaluasi tuberculosis paru. Gambaran yang biasanya muncul
adalah bercak infiltrat terutama kavitas yang biasanya dapat ditemukan pada 19% hingga 50%. Pada pasien ini pemeriksaan
sputum diperoleh hasil BTA SPS (-)/(-)/(-). Pemeriksaan apusan sputum dilakukan dengan menggunakan metode tahan asam
Ziehl-Neelsen atau Kinyoun dimana bakteri akan tampak bewarna kemerahan dengan latar belakang biru dan putih, dengan
pewarnaan ini maka Mycobacterium tuberculosis yang terwarna akan dapat berpendar pada sinaran Ultra Violet. Mycobacterium
tuberculosis akan tampak berwarna kuning muda. Akan tetapi hasil apusan sputum bergantung pada jumlah bakteri yang
ditemukan pada sampel sehingga dianggap kurang sensitif
1. Plan
Diagnosis: : Dari semua assessment diatas sangat jelas bahwa pasien menderita Tuberkulosis Paru BTA (-) + Hemoptisis
Pengobatan: Program nasional pemberantasan TB di Indonesia sudah dilaksanakan sejak tahun 1950-an. Ada 6 macam obat
esensial yang telah dipakai yaitu Isoniazid (H), Para Amino Salisilik Asid (PAS), Streptomisin (S), Etambutol (E), Rifampisin (R)
dan Pirazinamid (Z). Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya penderita menular menjadi tidak
menular dalam waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita tuberkulosis BTA positif menjadi BTA negatif pada akhir pengobatan
intensif. Pengawasan ketat dalam tahap ini sangat penting untuk mencegah terjadinya kekebalan obat. Pada tahap lanjutan
penderita mendapat jenis obat lebih sedikit tetapi dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap ini bertujuan untuk membunuh
kuman persisten (dormant) sehingga dapat mencegah terjadinya kekambuhan.

Pendidikan : Mencegah penularan Tuberkulosis Paru dimana pasien dianjurkan untuk minum obat teratur untuk mencegah
penularan kuman TB, tutup mulut ketika batuk serta bersin, buanglah sputum pada tempatnya dan rumah dengan ventilasi udara
yang baik serta mengajarkan pasien cara hidup sehat tanpa TB dengan makan makana bergizi untuk meningkatkan daya tahan
tubuh, menjemur alas tidur agar tidak lembab, membuka jendela agar rumah mendapatkan cukup sinar matahari dan udara segar,
olahraga teratur.

Konsultasi : Dijelaskan secara rasional perlunya berkonsultasi dengan dokter spesialis paru. Konsultasi serta pemantauan dari
dokter diupayakan agar pengobatan dan prognosa menjadi lebih baik.