Anda di halaman 1dari 28

Kita menyadari bahwa SDM kita masih rendah, dan tentunya kita masih punya satu sikap

yakni optimis untuk dapat mengangkat SDM tersebut. Salah satu pilar yang tidak mungkin
terabaikan adalah melalui pendidikan non formal atau lebih dikenal dengan pendidikan luar
sekolah (PLS).

Seperti kita ketahui, bahwa rendahnya SDM kita tidak terlepas dari rendahnya tingkat
pendidikan masyarakat, terutama pada usia sekolah. Rendahnya kualitas SDM tersebut
disebabkan oleh banyak hal, misalnya ketidakmampuan anak usia sekolah untuk
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sebagai akibat dari kemiskinan yang
melilit kehidupan keluarga, atau bisa saja disebabkan oleh oleh angka putus sekolah, hal
yang sama disebabkan oleh factor ekonomi

Oleh sebab itu, perlu menjadi perhatian pemerintah melalui semangat otonomi daerah
adalah mengerakan program pendidikan non formal tersebut, karena UU Nomor 20 tentang
Sistem Pendidikan Nasional secara lugas dan tegas menyebutkan bahwa pendidikan non
formal akan terus ditumbuhkembangkan dalam kerangka mewujudkan pendidikan berbasis
masyarakat, dan pemerintah ikut bertanggungjawab kelangsungan pendidikan non formal
sebagai upaya untuk menuntaskan wajib belajar 9 tahun.

Dalam kerangka perluasan dan pemerataan PLS, secara bertahap dan bergukir akan terus
ditingkatkan jangkauan pelayanan serta peran serta masyarakat dan pemerintah daerah
untuk menggali dan memanfaatkan seluruh potensi masyarakat untuk mendukung
penyelenggaraan PLS, maka Rencana Strategis baik untuk tingkat propinsi maupun
kabupaten kota, adalah :

1. Perluasan pemerataan dan jangkauan pendidikan anak usia dini;


2. Peningkatan pemerataan, jangkauan dan kualitas pelayanan Kejar Paket A setara
SD dan B setara SLTP;
3. Penuntasan buta aksara melalui program Keaksaraan Fungsional;
4. Perluasan, pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan perempuan (PKUP),
Program Pendidikan Orang tua (Parenting);
5. Perluasan, pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan berkelanjutan melalui
program pembinaan kursus, kelompok belajar usaha, magang, beasiswa/kursus; dan
6. Memperkuat dan memandirikan PKBM yang telah melembaga saat ini di berbagai
daerah di Riau.

Dalam kaitan dengan upaya peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan, maka program
PLS lebih berorientasi pada kebutuhan pasar, tanpa mengesampingkan aspek akademis.
Oleh sebab itu Program PLS mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan,
profesionalitas, produktivitas, dan daya saing dalam merebut peluang pasar dan peluang
usaha, maka yang perlu disusun Rencana strategis adalah :

1. Meningkatkan mutu tenaga kependidikan PLS;


2. Meningkatkan mutu sarana dan prasarana dapat memperluas pelayanan PLS, dapat
meningkatkan kualitas proses dan hasil;
3. Meningkatkan pelaksanaan program kendali mutu melalui penetapan standard
kompetensi, standard kurikulum untuk kursus;
4. Meningkatkan kemitraan dengan pihak berkepentingan (stakholder) seperti Dudi,
asosiasi profesi, lembaga diklat; serta
5. Melaksanakan penelitian kesesuain program PLS dengan kebutuhan masyarakat
dan pasar. Demikian pula kaitan dengan peningkatan kualitas manajemen
pendidikan.
Strategi PLS dalam rangka era otonomi daerah, maka rencana strategi yang dilakukan
adalah :

1. Meningkatkan peranserta masyarakat dan pemerintah daerah;


2. Pembinaan kelembagaan PLS;
3. Pemanfaatan/pemberdayaan sumber-sumber potensi masyarakat;
4. Mengembangkan sistem komunikasi dan informasi di bidang PLS;
5. Meningkatkan fasilitas di bidang PLS

Semangat Otonomi Daerah PLS memusatkan perhatiannya pada usaha pembelajaran di


bidang keterampilan lokal, baik secara sendiri maupun terintegrasi. Diharapkan mereka
mampu mengoptimalkan apa yang sudah mereka miliki, sehingga dapat bekerja lebih
produktif dan efisien, selanjutnya tidak menutup kemungkinan mereka dapat membuka
peluang kerja.

Pendidikan Luar Sekolah menggunakan pembelajaran bermakna, artinya lebih berorientasi


dengan pasar, dan hasil pembelajaran dapat dirasakan langsung manfaatnya, baik oleh
masyarakat maupun peserta didik itu sendiri..

Di dalam pengembangan Pendidikan Luar Sekolah, yang perlu menjadi perhatian bahwa,
dalam usaha memberdayakan masyarakat kiranya dapat membaca dan merebut peluang
dari otonomi daerah, pendidikan luar sekolah pada era otonomi daerah sebenarnya diberi
kesempatan untuk berbuat, karena mustahil peningkatan dan pemberdayaan masyarakat
menjadi beban pendidikan formal saja, akan tetapi pendidikan formal juga memiliki
tanggungjawab yang sama. .

Oleh sebab itu sasaran Pendidikan Luar Sekolah lebih memusatkan pada pendidikan anak
usia dini, pendidikan dasar, pendidikan berkelanjutan, dan perempuan.

Selanjutnya Pendidikan Luar Sekolah harus mampu membentuk SDM berdaya saing tinggi,
dan sangat ditentukan oleh SDM muda (dini), dan tepatlah Pendidikan Luar sekolah sebagai
alternative di dalam peningkatan SDM ke depan.

PLS menjadi tanggungjawab masyarakat dan pemerintah sejalan dengan Pendidikan


Berbasis Masyarakat, penyelenggaraan PLS lebih memberdayakan masyarakat sebagai
perencana, pelaksanaan serta pengendali, PLS perlu mempertahankan falsafah lebih baik
mendengar dari pada didengar, Pemerintah daerah propinsi, kabupaten dan kota secara
terus menerus memberi perhatian terhadap PLS sebagai upaya peningkatan SDM, dan PLS
sebagai salah satu solusi terhadap permasalahan masyarakat, terutama anak usia sekolah
yang tidak mampu melanjutkan pendidikan, dan anak usia putus sekolah..Semoga.
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pendidikan luar sekolah sebenarnya bukanlah barang baru dalam


khasanah budaya dan peradaban manusia. Pendidikan luar sekolah telah hidup
dan menyatu di dalam kehidupan setiap masyarakat jauh sebelum muncul dan
memasyarakatnya sistem persekolahan. PLS mempunyai bentuk dan pelaksanaan
yang berbeda dengan sistem yang sudah ada di pendidikan persekolahan. PLS
timbul dari konsep pendidikan seumur hidup dimana kebutuhan akan pendidikan
tidak hanya pada pendidikan persekolahan/pendidikan formal saja. PLS
pelaksanaannya lebih ditekankan kepada pemberian keahlian dan keterampilan
dalam suatu bidang tertentu.

Berbagai kelemahan sistem persekolahan dimuntahkan, terutama pada


aspek-aspek prosedural yang dinilai mengeras, kaku, serba ketat dan formalistis.
Pada intinya, walaupun sistem persekolahan masih tetap dipandang penting,
pijakan pemikiran sudah mulai realistis yaitu tidak semata-mata mengandalkan
sistem persekolahan untuk melayani aneka ragam kebutuhan pendidikan yang
kian hari semakin mekar dan beragam. Pembinaan dan pengembangan PLS
dipandang relevan untuk bisa saling isi-mengisi atau topang menopang dengan
sistem persekolahan, agar setiap insan bisa menyesuaikan hidupnya sesuai
dengan perkembangan zaman.
Dalam hal ini penulis merasa tertarik untuk membuat makalah tentang pendidikan
luar sekolah yang kita kenal dengan pendidikan informal atau nonformal.

2. Batasan masalah
Agar penulisan makalah ini pembahasannya tidak terlalu luas dan lebih
terfokus pada masalah dan tujuan pembuatan makalah maka dengan ini penulis
membatasi masalah hanya pada ruang lingkup sebagai berikut:

1. Definisi pendidikan luar sekolah (PLS)


2. Dasar pendidikan luar sekolah (PLS)
3. Persamaan dan perbedaan PLS dengan pendidikan sekolah
4. Sasaran pendidikan luar sekolah (PLS)

3. Metode Pembahasan

Dalam hal ini penulis menggunakan:

1. Metode deskritif, sebagaimana ditunjukan oleh namanya, pembahasan

ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu masyarakat

atau kelompok orang tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau

hubungan antara dua gejala atau lebih (Atherton dan Klemmack:

1982).

2. Penelitian kepustakaan, yaitu Penelitian yang dilakukan melalui

kepustakaan, mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-

buku dan bahan lainnya yang ada hubungannya dengan masalah-

masalah yang diteliti.

BAB II
PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH (PLS)

1. Definisi pendidikan luar sekolah (PLS)


1. Komunikasi Pembaruan Nasional Pendidikan

Pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan dimana terdapat


komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah dan seseorang
memperoleh informasi, pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai
dengan usia dan kebutuhan kehidupan, dengan tujuan mengembangkan
tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya
menjadi peserta-peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga,
pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya.

2. PHILLIPS H. COMBS, mengungkapkan bahwa pendidikan luar


sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang
diselenggarakan di luar sistem formal, baik tersendiri maupun
merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan
untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka
mencapai tujuan-tujuan belajar.

2. Dasar pendidikan luar sekolah (PLS)


1. Sejarah terbentuknya pendidikan luar sekolah (PLS)

Alasan terselenggaranya PLS dari segi kesejarahan, tidak bisa lepas


dari lima aspek yaitu:

 Aspek pelestarian budaya


Pendidikan yang pertama dan utama adalah pendidikan yang terjadi dan
berlangsung di lingkungan keluarga dimana (melalui berbagai perintah,
tindakan dan perkataan) ayah dan ibunya bertindak sebagai pendidik.
Dengan demikian pendidikan luar sekolah pada permulaan kehadirannya
sangat dipengaruhi oleh pendidikan atau kegiatan yang berlangsung di
dalam keluarga. Di dalam keluarga terjadi interaksi antara orang tua
dengan anak, atau antar anak dengan anak. Pola-pola transmisi
pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai dan kebiasaan melalui asuhan,
suruhan, larangan dan pembimbingan. Pada dasarnya semua bentuk
kegiatan ini menjadi akar untuk tumbuhnya perbuatan mendidik. Semua
bentuk kegiatan yang berlangsung di lingkungan keluarga dilakukan untuk
melestarikan dan mewariskan kebudayaan secara turun temurun. Tujuan
kegiatan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan praktis di masyarakat dan
untuk meneruskan warisan budaya yang meliputi kemampuan, cara kerja
dan Teknologi yang dimiliki oleh masyarakat dari satu generasi kepada
generasi berikutnya. Jadi dalam keluarga pun sebenarnya telah terjadi
proses-proses pendidikan, walaupun sistem yang berlaku berbeda dengan
sistem pendidikan sekolah. Kegiatan belajar-membelajarkan yang asli
inilah yang termasuk ke dalam kategori pendidikan tradisional yang
kemudian menjadi pendidikan luar sekolah.

 Aspek teoritis

Salah satu dasar pijakan teoritis keberadaan PLS adalah teori yang
diketengahkan Philip H. Cooms (1973:10), tidak satupun lembaga
pendidikan: formal, informal maupun nonformal yang mampu secara
sendiri-sendiri memenuhi semua kebutuhan belajar minimum yang
esensial. Atas dasar teori di atas dapat dikemukakan bahwa, keberadaan
pendidikan tidak hanya penting bagi segelintir masyarakat tapi mutlak
diperlukan keberadaannya bagi masyarakat lemah (yang tidak mampu
memasukan anak-anaknya ke lembaga pendidikan sekolah) dalam upaya
pemerataan kesempatan belajar, meningkatkan kualitas hasil belajar dan
mencapai tujuan pembelajaran yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Uraian di atas cukup untuk dijadikan gambaran bahwa PLS merupakan
lembaga pendidikan yang berorientasi kepada bagaimana menempatkan
kedudukan, harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang memiliki
kemauan, harapan, cita-cita dan akal pikiran.

 Dasar pijakan

Ada tiga dasar pijakan bagi PLS sehingga memperoleh legitimasi dan
berkembang di tengah-tengah masyarakat yaitu: UUD 1945, Undang-
Undang RI Nomor 2 tahun 1989 dan peraturan pemerintah RI No.73
tahun1991tentang pendidikan luar sekolah. Melalui ketiga dasar di atas
dapat dikemukakan bahwa, PLS adalah kumpulan individu yang
menghimpun dari dalam kelompok dan memiliki ikatan satu sama lain
untuk mengikuti program pendidikan yang diselenggarkan di luar sekolah
dalam rangka mencapai tujuan belajar. Adapun bentuk-bentuk satuan
PLS., sebagaimana diundangkan di dalam UUSPN tahun 1989 pasal 9:3
meliputi: pendidikan keluarga, kelompok belajar, kursus dan satuan
pendidikan sejenis. Satuan PLS sejenis dapat dibentuk kelompok bermain,
penitipan anak, padepokan persilatan dan pondok pesantren tradisional.

 Aspek kebutuhan terhadap pendidikan

Kesadaran masyarakat terhadap pendidikan tidak hanya pada masyarakat


daerah perkotaan, melainkan masyarakat daerah pedesaan juga semakin
meluas. Kesadaran ini timbul terutama karena perkembangan ekonomi,
kemajuan iptek dan perkembangan politik. Kesadaran juga tumbuh pada
seseorang yang merasa tertekan akibat kebodohan, keterbelakangan atau
kekalahan dari kompetisi pergaulan dunia yang menghendaki suatu
keterampilan dan keahlian tertentu. Atas dasar kesadaran dan kebutuhan
inilah sehingga terwujudlah bentuk-bentuk kegiatan kependidikan baik
yang bersifat persekolahan ataupun di luar persekolahan.

 Keterbatasan lembaga pendidikan sekolah

Lembaga pendidikan sekolah yang jumlahnya semakin banyak bersifat


formal atau resmi yang dibatasi oleh ruang dan waktu serta kurikulum
yang baku dan kaku serta berbagai keterbatasan lainnya. Sehingga tidak
semua lembaga pendidikan sekolah yang ada di daerah terpencilpun yang
mampu memenuhi semua harapan masyarakat setempat, apalagi
memenuhi semua harapan masyarakat daerah lain. Akibat dari kekurangan
atau keterbatasan itulah yang memungkinkan suatu kegiatan kependidikan
yang bersifat informal atau nonformal diselenggarakan, sehingga melalui
kedua bentuk pendidikan itu kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

2. Perkembangan pendidikan luar sekolah (PLS)

Dibagi dalam tiga periode:

1. Periode Pra kemerdekaan


2. Periode Revolusi
3. Periode Orde Baru

3. Sistem pendidikan luar sekolah (PLS)

PLS adalah sub sistem pendidikan nasional, yaitu suatu sistem yang memiliki
tujuan jangka pendek dan tujuan khusus yakni memenuhi kebutuhan belajar
tertentu yang fungsional bagi masa sekarang dan masa depan. Komponen atau
sub sistem yang ada pada sistem PLS adalah masukan saran (instrumen input),
masukan mentah (raw input), masukan lingkungan (environmental input),
proses (process), keluaran (out put) dan masukan lain (other input) dan
Pengaruh (impact).

4. Program pendidikan luar sekolah (PLS)

Jenis-jenis pendidikan yang ada pada PLS, menurut D. Sudjana (1996:44) di


antaranya adalah:

1. Pendidikan Massa (Mass education)

Pendidikan massa yaitu kesempatan pendidikan yang diberikan kepada


masyarakat luas dengan tujuan yaitu membantu masyarakat agar mereka
memiliki kecakapan dalam hal menulis, membaca dan berhitung serta
berpengetahuan umum yang diperlukan dalam upaya peningkatan taraf
hidup dan kehidupannya sebagai warga negara. Istilah Mass education
menunjukan pada aktifitas pendidikan di masyarakat yang sasarannya
kepada individu-individu yang mengalami keterlantaran pendidikan, yaitu
individu yang tidak berkesempatan memperoleh pendidikan melalui jalur
sekolah, tetapi putus di tengah jalan dan belum sempat terbebas dari
kebuta-hurufan. Mass education ini dapat dikatakan semacam program
pemberantasan buta huruf atau program keaksaraan, tentu saja tidak
bertujuan supaya orang-orang didiknya sekedar bisa baca-tulis, tetapi juga
supaya memperoleh pengetahuan umum yang relevan bagi keperluan
hidupnya sehari-hari. Individu yang menjadi sasarannya adalah pemuda-
pemuda dan orang dewasa. Pelaksanaannya melalui kursus-kursus.

2. Pendidikan Orang Dewasa (Adult Education)

Pendidikan orang dewasa yaitu pendidikan yang disajikan untuk


membelajarkan orang dewasa. Dalam salah satu bukunya tentang PLS,
Sudjana (1996:45) menerangkan bahwa pendidikan orang dewasa adalah
pendidikan yang diperuntukan bagi orang-orang dewasa dalam
lingkukangan masyarakatnya, agar mereka dapat mengembangkan
kemampuan, memperkaya pengetahuan, meningkatkan kualifikasi teknik
dan profesi yang telah dimilikinya, memperoleh cara-cara baru serta
merubah sikap dan perilakunya.

3. Pendidikan Perluasan (Extension Education)

Kegiatan yang diselenggarakan PLS adalah meliputi seluruh kegiatan


pendidikan baik yang dilaksanakan di luar sistem pendidikan sekolah yang
dilembagakan ataupun yang tidak dilembagakan.

3. Ciri-ciri pendidikan luar sekolah (PLS)


1. Beberapa bentuk pendidikan luar sekolah yang berbeda ditandai untuk
mencapai bermacam-macam tujuan.
2. Keterbatasan adalah suatu perlombaan antara beberapa PLS yang
dipandang sebagai pendidikan formal dari PLS sebagai pelengkap
bentuk-bentuk pendidikan formal.
3. Tanggung jawab penyelenggaraan lembaga pendidikan luar sekolah
dibagi oleh pengawasan umum/masyarakat, pengawasan pribadi atau
kombinasi keduanya.
4. Beberapa lembaga pendidikan luar sekolah di disiplinkan secara ketat
terhadap waktu pengajaran, Teknologi modern, kelengkapan dan
buku-buku bacaan.
5. Metode pengajaran juga bermacam-macam dari tatap muka atau guru
dan kelompok-kelompok belajar sampai penggunaan audio televisi,
unit latihan keliling, demonstrasi, kursus-kursus korespondensi, alat-
alat bantu visual.
6. Penekanan pada penyebaran program teori dan praktek secara relative
dari pada PLS.
7. Tidak seperti pendidikan formal, tingkat sistem PLS terbatas yang
diberikan kredensial.
8. Guru-guru mungkin dilatih secara khusus untuk tugas tertentu atau
hanya mempunyai kualifikasi professional dimana tidak termasuk
identitas guru.
9. Pencatatan tentang pemasukan murid, guru dan kredensial pimpinan,
kesuksesan latihan, membawa akibat peningkatan produksi ekonomi,
peningkatan kesejahteraan dan pendapatan peserta.
10. Pemantapan bentuk PLS mempunyai dampak pada produksi ekonomi
dan perubahan sosial dalam waktu singkat dari pada kasus pendidikan
formal sekolah.
11. Sebagian besar program PLS dilaksanakan oleh remaja dan orang-
orang dewasa secara terbatas pada kehidupan dan pekerjaan.
12. Karena secara digunakan, PLS membuat lengkapnya pembangunan
nasional. Peranannya mencakup pengetahuan, keterampilan dan
pengaruh pada nilai-nilai program.
13. Diselengarakan dengan tidak berjenjang, tidak berkesinambungan dan
dilaksanakan dalam waktu singkat.
14. Karena sifatnya itu sehingga tujuan, metode pembelajaran dan materi
yang disampaikan selalu berbeda di masing-masing penyelenggara
PLS.

4. Persamaan dan perbedaan pendidikan luar sekolah (PLS)


1. Persamaan

Persamaan antara PLS dengan pendidikan persekolahan dapat diperhatikan


dari dua sudut pandang yaitu sudut pandangan masyarakat dan sudut
pandangan individu. Dari segi pandangan masyarakat, pendidikan berarti
pewaris atau pemindahan nilai-nilai intelek, seni, politik, ekonomi, agama dan
lain sebagainya; Sedangkan dari segi pandangan individual, pendidikan berarti
pengembangan potensi-potensi manusia (Hasan Langglung, 1980). Persamaan
lainnya yaitu fungsi pendidikan adalah untuk pengembangan ilmu
pengetahuan, Teknologi dan keterampilan bahwa menyiapkan suatu generasi
agar memiliki dan memainkan peranan tertentu dalam masyarakat.

Proses pendidikan selalu melibatkan masyarakat dan semua perangkat


kebudayaan sesuai dengan nilai dan falsafah yang dianutnya.

2. Perbedaan Antara Pendidikan Sekolah Dan Luar Sekolah

Secara prinsip, satu-satunya perbedaan antara pendidikan luar sekolah dengan


pendidikan sekolah adalah legitimasi atau formalisasi penyelenggaraan
pendidikan. Tentang perbedaan penyelenggaraan ini, secara institusional,
tercantum pada Undang-Undang RI nomor 2 tentang Sistem Pendidikan
Nasional pasal 10:2-3. selanjutnya, perbedaan secara operasional, Umberto
Sihombing melalui bukunya Pendidikan Luar Sekolah: Manajemen Strategi
(2000:40-46) menuliskan secara khusuS dan sistematis tentang perbedaan
antara Pendidikan Luar Sekolah dengan Pendidikan Sekolah.

Pendidikan luar sekolah (PLS) sangat berbeda dengan pendidikan sekolah,


khususnya jika dilihat dari sepuluh unsur di bawah (lihat tabel).

PERBEDAAN
NO INDIKATOR
PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH PEN

1. Warga belajar  Rentang usia warga belajar heterogen


(10-44 tahun)
 Latar Belakang pendidikan warga
belajar heterogen
 Motivasi belajar karena kebutuhan
mendesak
 Warga belajar dapat berfungsi sebagai
sumber belajar
 Warga belajar lebih Mandiri dalam
memilih program yang dibutuhkan
 Penerapan warga belajar berdasarkan
sasaran
 Ada yang sudah bekerja baru ikut
belajar

2. Tutor /  Biasanya disebut tutor


sumber  Pemilihan tutor lebih ditekankan pada
belajar segi keterampilan yang dimilikinya
 Bersifat terbuka (siapapun dapat
menjadi tutor)
 Bertindak sebagai fasilitator
 Tidak ada perjenjangan karir
 Tidak digaji pemerintah

3. Pamong  Lebih bersifat sukarela / nobenefit


belajar / (kecuali untuk program khusus)
penyelenggara  Perseorangan, LSM atau instansi
 Bertindak sebagai fasilitator

4. Sarana belajar  Sarana belajar berbentuk variatif


(modul, leaflet, booklet, poster, dsb)
sesuai dengan kebutuhan belajar
 Materi bahan belajar dikembangkan
sesuai program yang dikembangkan
 Sarana belajar/learning kit sangat
variatif
 Bahan belajar dapat disusun oleh siapa
saja (termasuk warga belajar itu
sendiri)
 Memanfaatkan sarana belajar yang ada
 Pengalaman warga belajar
dimanfaatkan untuk bahan belajar

5. Tempat  Memanfaatkan bangunan prasarana


Belajar yang ada
 Mengoptimalkan sarana yang tersedia

6. Dana  Swadaya masyarakat/ warga belajar


 Bantuan pemerintah, LSM, badan
swasta lainnya
 Pengelolaan dana bersifat terbuka
7. Ragi belajar  Pemberian ragi belajar disesuaikan
dengan kebutuhan warga belajar

8. Kelompok  Jumlah kelompok 10-20 orang


belajar  Pembentukan kelompok berdasarkan
minat yang sama (melibatkan warga
belajar)
 Ikatan kelompok bersifat informal

9. Program  Kurikulum disusun berdasarkan


belajar kebutuhan pasar
 Kurikulum lebih menekankan
kemampuan praktis
 Memungkinkan perubahan kurikulum
lebih fleksibel sesuai dengan
perubahan keadaan tempat.
 Program belajar boleh tidak berjenjang
 Persyaratan keikutsertaan program
belajar relatif terbuka (usia latar
Belakang pendidikan, sosial, ekonomi,
dsb)
 Program dikembangkan untuk
mengatasi masalah riil yang dirasakan
mendesak/ jangka pendek
 Penyusunan program melibatkan
masyarakat secara partisipatif
 Proses pembelajaran secara kelompok
dan mandiri
 Pelaksanaan / waktu belajar fleksibel
sesuai kesepakatan
 Penyelesaian program relative singkat
 Memberdayakan potensi sumber
setempat
 Sistem evaluasi tidak baku (kecuali
program pake A pake B and Kursus)

10. Hasil belajar  Hasil belajar dapat dijadikan bekal


untuk bermatapencaharian
 Hasil belajar berdampak terhadap
peningkatan pendapatan masyarakat
 Dapat diterapkan sehari-hari
 Tak mengutamakan ijazah

5. Sasaran pendidikan luar sekolah


Dibagi 2 sasaran pokok:

1. Pendidikan luar sekolah untuk pemuda


1. Sebab-sebab timbulnya:

1. Banyak anak-anak usia sekolah tidak memperoleh pendidikan sekolah yang


cukup, lebih-lebih di negara yang berkembang
2. Mereka memperoleh pendidikan yang tradisional
3. Mereka memperoleh latihan kecakapan khusus melalui pola-pola pergaulan
4. Mereka dituntut mempelajari norma-norma dan tanggung jawab sebagai
sangsi dari masyarakatnya

1. Kelompok-kelompok kegiatan pendidikan Luar Sekolah antara lain:


1. Klub pemuda
2. Klub-Klub pemuda tani
3. Kelompok pergaulan
2. Pendidikan luar sekolah untuk orang dewasa
 Pendidikan ini timbul oleh karena:
1. Orang-orang dewasa tertarik terhadap
profesi kerja.
2. Orang dewasa tertarik terhadap keahlian.
 Dalam rangka memperoleh pendidikan di atas
dapat ditempuh melalui:

1. Kursus-kursus pendek.
2. In service-training.
3. Surat-menyurat.

Lebih lanjut, sesuai dengan Rancangan Peraturan Pemerintah maka


sasaran PLS dapat meliputi:

1. Ditinjau dari segi sasaran pelayanan, berupa:


1. Usia pra-sekolah (0-6 tahun)
2. Usia pendidikan dasar (7-12 tahun)
3. Usia pendidikan menengah (13-18 tahun)
4. Usia pendidikan tinggi (19-24 tahun)
2. Ditinjau dari jenis kelamin

Program ini secara tegas diarahkan pada kaum wanita oleh karena jumlah
mereka yang besar dan partisifasinya kurang dalam rangka produktifitas dan
efesiensi kerja.

3. Berdasarkan lingkungan sosial budaya

1. Masyarakat pedesaan.
2. Masyarakat perkotaan.
3. Masyarakat terpencil.

4. Berdasarkan kekhususan sasaran Pelajaran

1. Peserta didik yang dapat digolongkan terlantar, seperti anak yatim piatu.
2. Peserta didik yang mengalami pengembangan sosial dan emosional seperti
anak nakal, korban narkotika dan wanita tuna susila.
3. Peserta yang mengalami cacat mental dan cacat tubuh seperti tuna netra, tuna
rungu, tuna mental.
4. Peserta didik yang karena berbagai sebab sosial, tidak dapat mengikuti
program pendidikan persekolahan.

5. Berdasarkan pranata

1. Pendidikan keluarga.
2. Pendidikan perluasan wawasan.
3. Pendidikan keterampilan.
6. Berdasarkan sistem pengajaran

1. Kelompok, organisasi, dan lembaga.


2. Mekanisme sosial budaya seperti perlombaan dan pertandingan.
3. Kesenian tradisional, seperti wayang, ludruk, ataupun teknologi modern
seperti televisi, radio, film, dan sebagainya.
4. Prasarana dan sarana seperti balai desa, mesjid, gereja, sekolah dan alat-alat
perlengkapan kerja.

7. Berdasarkan segi pelembagaan program

1. Program antar sektoral dan swadaya masyarakat seperti PKK, PKN dan
P2WKSS.
2. Koordinasi perencanaan desa atau pelaksanaan program pembangunan.
3. Tenaga pengarahan di tingkat pusat, propinsi, kabupaten, kecamatan, dan
desa.

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Pendidikan luar sekolah mempunyai bentuk dan pelaksanaan yang


berbeda dengan sistem yang sudah ada di pendidikan sekolah. Pendidikan luar
sekolah timbul dari konsep pendidikan seumur hidup dimana kebutuhan akan
pendidikan tidak hanya pada pendidikan persekolahan/pendidikan formal saja.
Pendidikan luar sekolah pelaksanaannya lebih ditekankan kepada pemberian
keahlian dan keterampilan dalam suatu bidang tertentu. Pembinaan dan
pengembangan PLS dipandang relevan untuk bisa saling mengisi atau topang
menopang dengan sistem persekolahan. Agar setiap lulusan bisa hidup mengikuti
perkembangan zaman dan selalu dibutuhkan oleh masyarakat seiring dengan
perkembangan IPTEK yang semakin maju.

2. Saran

Di samping kita mengikuti jenjang pendidikan formal alangkah baiknya


dilengkapi dengan mengikuti pendidikan luar sekolah seperti kursus-kursus, dll.
Agar kekurangan/kelemahan yang ada pada pendidikan formal bisa tertutupi
dengan pendidikan luar sekolah sehingga diharapkan setiap lulusan bisa hidup
mengikuti perkembangan zaman dan selalu dibutuhkan oleh masyarakat seiring
dengan perkembangan/kemajuan IPTEK.

DAFTAR PUSTAKA

Joesoef Soelaiman, 2004, Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta: PT. Bumi
Aksara.

Kurdie Syuaeb, 2002, Pendidikan Luar Sekolah. Cirebon: CV. Alawiyah.

Faisal Sanapiah, 1981, Pendidikan Luar Sekolah . Surabaya: CV. Usaha Nasional.

PENDIDIKAN IDEALISME DAN REALISME DALAM PLS

Pendidikan Luar Sekolah (PLS) adalah kegiatan terorganisasi dan sistematis diluar
sistem persekolahan yang mapan, dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian
penting kegiatan yang lebih luas, yang sengaja dilakukan untuk melayani peserta
didik tertentu dalam mencapai tujuan belajarnya. Untuk mengefektifkan pencapaian
tujuan PLS tersebut maka aliran filsafat pendidikan idealisme dan realisme dapat
digunakan sebagai landasar teoretis maupun praktis. Berikut ini akan dikemukakan
implikasi filsafat pendidikan idealisme dan realisme dalam penyelenggaraan PLS
dalam menetapkan tujuan, kurikulum, metode, serta peran peserta didi dan pendidik.
1. Pendidikan Idealisme dalam PLS

Dengan memperhatikan implikasi filsafat pendidikan realisme maka penyelenggaraan


pendidikan luar sekolah dapat dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai
berikut:

Pertama: tujuan program PLS pertama-tama harus difokuskan pada pembentukan


karakter atau kepribadian peserta didik. Pada tahap selanjutnya program pendidikan
tertuju kepada pengembangan bakat dan kebaikan sosial. Peserta didik digali
potensinya untuk tampil sebagai individu berbakat/berkemampuan yang akan
memiliki nilai guna bagi kepentingan masyarakat.

Kedua, kurikulum pendidikan PLS dikembangkan dengan memadukan pendidikan


umum dan pendidikan praktis. Kurikulum diarahkan pada upaya pengembangan
kemampuan berpikir melalui pendidikan umum. Di samping itu kurikulum juga
dikembangkan untuk mempersiapkan keterampilan bekerja untuk keperluan
memperoleh mata pencaharian melalui pendidikan praktis.

Ketiga, metode pendidikan dalam program PLS disusun menggunakan metode


pendidikan dialektis. Meskipun demikian setiap metode yang dianggap efektif
mendorong belajar dapat pula digunakan. Pelaksanaan pendidikan cenderung
mengabaikan dasar-dasar fisiologis dalam belajar.

Keempat, peserta didik bebas mengembangkan bakat dan kepribadiannya. Pendidikan


bekerjasama dengan alam dengan proses pengembangan kemampuan ilmiah. Oleh
karena itu tugas utama tenaga pendidik adalah menciptakan lingkungan yang
memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan efisien dan efektif.

2. Pendidikan Realisme dalam PLS

Dengan memperhatikan implikasi filsafat pendidikan idealisme maka


penyelenggaraan pendidikan luar sekolah dapat dikembangkan dengan
memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

Pertama, tujuan program pendidikan PLS terfokus agar peserta didik dapat
menyesuaikan diri secara tepat dalam hidup. Disamping itu, peserta didik diharapkan
dapat melaksanakan tanggung jawab sosial dalam hidup bermasyarakat.

Kedua, kurikulum komprehensif yang berisi semua pengetahuan yang berguna dalam
penyesuaian diri dalam hidup dan tanggung jawab sosial. Kurikulum berisi unsur-
unsur pendidikan umum untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan pendidikan
praktis untuk kepentingan bekerja.

Ketiga, semua kegiatan belajar berdasarkan pengalaman baik langsung maupun tidak
langsung. Metode mengajar hendaknya bersifat logis, bertahap dan berurutan.
Pembiasaan (pengkondisian) merupakan sebuah metode pokok yang dapat
dipergunakan dengan baik untuk mencapai tujuan pendidikan.

Keempat, Dalam hubungannnya dengan pengajaran, peranan peserta didik adalah


penguasaan pengetahuan yang handal sehingga mampu mengikuti perkembangan
Iptek. Dalam hubungannya dengan disiplin, tatacara yang baik sangat penting dalam
belajar. Artinya belajar dilakukan secara terpola berdasarkan pada suatu pedoman.
Peserta didik perlu mempunyai disiplin mental dan moral untuk setiap tingkat
kebaikkan. Peranan pendidik adalah menguasai pengetahuan, keterampilan teknik-
teknik pendidikan dengan kewenangan untuk mencapai hasil pendidikan yang
dibebankan kepadanya.

D. KESIMPULAN

1. Kesimpulan

Berdasarkan kajian yang telah dikemukakan dalam pembahasan sebelumnya


diperoleh temuan sebagai sebagai berikut:

Pertama, aliran filsafat idealisme dalam pendidikan menekankan pada upaya


pengembangan bakat dan kemampuan peserta didik sebagai aktualisasi potensi yang
dimilikinya. Untuk mencapainya diperlukan pendidikan yang berorientasi pada
penggalian potensi dengan memadukan kurikulum pendidikan umum dan pendidikan
praktis. Kegiatan belajar terpusat pada peserta didik yang dikondisikan oleh tenaga
pendidik.

Kedua, pendidikan menurut aliran filsafat realisme menekankan pada pembentukan


peserta didik agar mampu melaksanakan tanggung jawab sosial dalam menjalani
kehidupan bermasyarakat. Untuk mencapainya diperlukan pendidikan yang ketat dan
sistematis dengan dukungan kurikulum yang komprehensif dan kegiatan belajar yang
teratur di bawah arahan oleh tenaga pendidik.

Berdasarkan temuan tersebut dapat dikemukakan bahwa aliran filsafat idealisme dan
realisme pendidikan tidak perlu dipertentangkan, tetapi dapat dipilih atau dipadukan
untuk menemukan aliran yang sesuai dalam melandasi teori dan praktek pendidikan
untuk mencapai tujuannya. Dengan kata lain idealisme ataupun realisme pendidikan
dapat diterapkan tergantung konteks dan kontennya.
2. Saran-saran

Dalam pengembangan teori yang mendasari praktek PLS, aliran filsafat idealisme dan
realisme akan memberikan warna tersendiri. Terakait dengan hal tersebut dapat
dikemukakan beberapa saran untuk pengembangan teori dan praktek PLS yaitu: (1)
Aliran filsafat idealisme dan realisme telah memberi perspektif filosofis tersendiri
dalam memandang pendidikan. Pada tahap selanjutnya diperlukan upaya untuk
memilih mana yang sesuai atau memadukan konsep, prinsip serta pendekatan aliran-
aliran tersebut pada kerangka konseptual pendidikan; (2) Praktisi pendidikan
diharapkan dapat menuangkan landasan filosofis dari setiap aliran filsafat dalam
semua keputusan serta proses pendidikan. Sesuai tuntutan profesionalisme, praktisi
pendidikan harus memahami landasan filosofis pendidikan yang berpadu dengan ilmu
pendidikan untuk mengembangkan teori dan praktek pendiikan; (3) Disamping
idealisme dan realisme masih terdapat banyak aliran filsafat lainnya yang melandasi
teori pendidikan. Tahap selanjutnya, perlu dikaji aliran-aliran mana yang sesuai
dengan konteks PLS.

DAFTAR PUSTAKA

Dewey. J (1964). Democracy in Education. Newyork: The Mc Millan Company.

Henderson, Stella van Petten, 1959. Introduction to Philosophy of Education.


Chicago: The University of Chicago Press.

Mudyahardjo, R., (2001). Filsafat Ilmu Pendidikan: Suatu Pengantar. Bandung:


Remaja Rosdakarya.

Power, E. J. (1982). Philosophy of Education. NewJersey: Prentice Hall Inc.

Sadulloh, U. (2004). Pengantar Pilsafat Pendidikan. Bandung: Alpabeta.


ADVERTISE MENT

KONSEP DASAR PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH


BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Pendidikan luar sekolah sebenarnya bukanlah barang baru dalam khasanah
budaya dan peradaban manusia. Pendidikan luar sekolah telah hidup dan menyatu di
dalam kehidupan setiap masyarakat jauh sebelum muncul dan memasyarakatnya
sistem persekolahan. PLS mempunyai bentuk dan pelaksanaan yang berbeda dengan
sistem yang sudah ada di pendidikan persekolahan. PLS timbul dari konsep
pendidikan seumur hidup dimana kebutuhan akan pendidikan tidak hanya pada
pendidikan persekolahan/pendidikan formal saja. PLS pelaksanaannya lebih
ditekankan kepada pemberian keahlian dan keterampilan dalam suatu bidang tertentu.
sistem persekolahan masih tetap dipandang penting, pijakan pemikiran sudah
mulai realistis yaitu tidak semata-mata mengandalkan sistem persekolahan untuk
melayani aneka ragam kebutuhan pendidikan yang kian hari semakin mekar dan
beragam. Pembinaan dan pengembangan PLS dipandang relevan untuk bisa saling
isi-mengisi atau topang menopang dengan sistem persekolahan, agar setiap insan bisa
menyesuaikan hidupnya sesuai dengan perkembangan zaman.
Pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan dimana terdapat
komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh
informasi, pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan
kehidupan, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai
yang memungkinkan baginya menjadi peserta-peserta yang efisien dan efektif dalam
lingkungan keluarga, pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya.

2. Rumusan Masalah
Ada pun rumusan masalah dari penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut:

a. Definisi pendidikan luar sekolah (PLS)


b. Sistem Pendidikan Luar Sekolah (PLS)
c. Program Pendidikan Luar Sekolah (PLS)
d. Sasaran pendidikan luar sekolah (PLS)
3. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a. a. Untuk mengetahui lebih luas ruang lingkup Pendidikan Luar Sekolah
b. b. Menambah wawasan/pengetahuan tentang Pendidikan Luar Sekolah
c. c. Supaya pembaca/masyarakat bisa membedakan pendidikan luar sekolah dengan
pendidikan sekolah/pendidikan formal.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi pendidikan luar sekolah (PLS)


Menurut Komunikasi Pembaruan Nasional Pendidikan, Pendidikan luar
sekolah adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan
terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan
maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan kehidupan, dengan tujuan
mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan
baginya menjadi peserta-peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga,
pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya.
Menurut PHILLIPS H. COMBS, pendidikan luar sekolah adalah setiap
kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan di luar sistem formal,
baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang
dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka
mencapai tujuan-tujuan belajar.

2. Sistem pendidikan luar sekolah (PLS)


PLS adalah sub sistem pendidikan nasional, yaitu suatu sistem yang memiliki
tujuan jangka pendek dan tujuan khusus yakni memenuhi kebutuhan belajar tertentu
yang fungsional bagi masa sekarang dan masa depan. Komponen atau sub sistem
yang ada pada sistem PLS adalah masukan saran (instrumen input), masukan mentah
(raw input), masukan lingkungan (environmental input), proses (process), keluaran
(out put) dan masukan lain (other input) dan Pengaruh (impact).

3. Program pendidikan luar sekolah (PLS)


Jenis-jenis pendidikan yang ada pada PLS, di antaranya adalah:
A. Pendidikan Orang Dewasa (Adult Education)
Pendidikan orang dewasa yaitu pendidikan yang disajikan untuk
membelajarkan orang dewasa. Dalam salah satu bukunya tentang PLS, Sudjana
(1996:45) menerangkan bahwa pendidikan orang dewasa adalah pendidikan yang
diperuntukan bagi orang-orang dewasa dalam lingkukangan masyarakatnya, agar
mereka dapat mengembangkan kemampuan, memperkaya pengetahuan,
meningkatkan kualifikasi teknik dan profesi yang telah dimilikinya, memperoleh
cara-cara baru serta merubah sikap dan perilakunya.

B. Pendidikan Anak Usia Dini


Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang
pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak
sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian
rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani
dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut,
yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

C. Pendidikan Life Skill


Pendidikan life skill adalah pendidikan yang memberikan bekal dasar dan
latihan yang dilakukan secara benar kepada peserta didik tentang nilai-nilai
kehidupan yang dibutuhkan dan berguna bagi perkembangan kehidupan peserta didik.
Dengan demikian pendidikan life skill harus dapat merefleksikan kehidupan nyata
dalam proses pengajaran agar peserta didik memperoleh kecakapan hidup tersebut,
sehingga peserta didik siap untuk hidup di tengah-tengah masyarakat.

D. Pendidikan Kesetaraan
Pendidikan Kesetaraan, merupakan salah satu dari pendidikan non formal
(PNF) yang mencakup program Paket A setara SD, Paket B setara SMp dan Paket C
setara SMA. Program ini penekannnya pada penguasaan pengetahuan, keterampilan
fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional peserta didik.
H. Pendidikan Seumur Hidup
Pendidikan Seumur Hidup (life long education) yaitu pendidikan yang dilakukan
sepanjang masa, dari mulai kita didalam kandungan hingga meninggal dunia.
Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam keluarga (rumah
tangga), sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab
bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah (Bab IV GBHN Bagian
Pendidikan).
I. Pendidikan Keaksaraan
Pendidikan keaksaraan adalah upaya pembelajaran untuk menumbuhkan dan
mengembangkan kemampuan, membaca, menulis, berhitung dan berbahasa
Indonesian dengan kandungan nilai fungsional bagi upaya peningkatan kualitas
hidup dan penghidupan kaum buta aksara.
4. Sasaran Pendidikan Luar Sekolah
Sesuai dengan Rancangan Peraturan Pemerintah maka sasaran PLS dapat
meliputi:
 Ditinjau dari segi sasaran pelayanan, berupa:
a. Usia pra-sekolah (0-6 tahun)
b. Usia pendidikan dasar (7-12 tahun)
c. Usia pendidikan menengah (13-18 tahun)
d. Usia pendidikan tinggi (19-24 tahun)

 Ditinjau dari jenis kelamin


Program ini secara tegas diarahkan pada kaum wanita oleh karena jumlah
mereka yang besar dan partisifasinya kurang dalam rangka produktifitas dan efesiensi
kerja.

 Berdasarkan lingkungan sosial budaya


a. Masyarakat pedesaan.
b. Masyarakat perkotaan.
c. Masyarakat terpencil.

 Berdasarkan kekhususan sasaran Pelajaran


a. Peserta didik yang dapat digolongkan terlantar, seperti anak yatim piatu.
b. Peserta didik yang mengalami pengembangan sosial dan emosional seperti anak
nakal, korban narkotika dan wanita tuna susila.
c. Peserta yang mengalami cacat mental dan cacat tubuh seperti tuna netra, tuna
rungu, tuna mental.
d. Peserta didik yang karena berbagai sebab sosial, tidak dapat mengikuti program
pendidikan persekolahan.

 Berdasarkan pranata
1. Pendidikan keluarga.
2. Pendidikan perluasan wawasan.
3. Pendidikan keterampilan.
4. Berdasarkan sistem pengajaran
5. Kelompok, organisasi, dan lembaga.

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Pendidikan luar sekolah mempunyai bentuk dan pelaksanaan yang berbeda
dengan sistem yang sudah ada di pendidikan sekolah. Pendidikan luar sekolah timbul
dari konsep pendidikan seumur hidup dimana kebutuhan akan pendidikan tidak hanya
pada pendidikan persekolahan/pendidikan formal saja. Pendidikan luar sekolah
pelaksanaannya lebih ditekankan kepada pemberian keahlian dan keterampilan dalam
suatu bidang tertentu. Pembinaan dan pengembangan PLS dipandang relevan untuk
bisa saling mengisi atau topang menopang dengan sistem persekolahan. Agar setiap
lulusan bisa hidup mengikuti perkembangan zaman dan selalu dibutuhkan oleh
masyarakat seiring dengan perkembangan IPTEK yang semakin maju.
2. Saran
Di samping kita mengikuti jenjang pendidikan formal alangkah baiknya
dilengkapi dengan mengikuti pendidikan luar sekolah seperti kursus-kursus, dll. Agar
kekurangan/kelemahan yang ada pada pendidikan formal bisa tertutupi dengan
pendidikan luar sekolah sehingga diharapkan setiap lulusan bisa hidup mengikuti
perkembangan zaman dan selalu dibutuhkan oleh masyarakat seiring dengan
perkembangan/kemajuan IPTEK.

DAFTAR PUSTAKA
Joesoef Soelaiman, 2004, Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta: PT. Bumi
Aksara.
Kurdie Syuaeb, 2002, Pendidikan Luar Sekolah. Cirebon: CV. Alawiyah.
Faisal Sanapiah, 1981, Pendidikan Luar Sekolah . Surabaya: CV. Usaha Nasional.

Anda mungkin juga menyukai