Anda di halaman 1dari 46

MAKALAH HIV/AIDS

Tinjauan Agama Tentang HIV/AIDS dan Long Term Care”

Dosen Pembimbing: Jaka Pradika, M.Kep., Ners

Term Care” Dosen Pembimbing: Jaka Pradika, M.Kep., Ners Disusun Oleh : Kelompok 5 Dony Azie P.

Disusun Oleh :

Kelompok 5

Dony Azie P.

I1031141010

Luthfi Ummami

I1031141033

Ersa Karolin

I1031141015

Ficcy Yulianti Sari

I1031141036

Irma Agustina

I1031141022

Rangga Hariyanto

I1031141045

Ayu Mayangsari

I1031141026

Lidya Yuniarsih

I1031141059

Atrasina Azzyati

I1031141027

Febby Hardianti

I1031141065

Sultana Zakaria

I1031141029

PROGRAM STUDI NERS

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK

2017

Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Tinjauan Agama Tentang HIV/AIDS dan Long Term Care.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu, memberikan bimbingan, serta memberikan motivasi kepada kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik, maka pada kesempatan ini penulis dengan rasa hormat menyampaikan terimakasih kepada:

1. Jaka Pradika, M. Kep., Ners Selaku dosen pembimbing Mata Kuliah Keperawatan HIV/AIDS yang memberikan masukan-masukan dan membimbing kami, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.

2. Teman-teman mahasiswa/mahasiswi Fakultas Kedokteran UNTAN Program Studi Ilmu Keperawatan yang ikut membantu serta mendukung, sehingga makalah ini terselaikan dengan baik.

Penulis sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun agar makalah ini lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat menjadi sarana belajar dan bermanfaat bagi masyarakat pada khususnya bagi pembaca.

Pontianak, Oktober 2017

ii

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

 

ii

DAFTAR ISI

iii

BAB

1 PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Rumusan Masalah

3

1.3 Tujuan Penulisan

4

1.4 Manfaat Penulisan

4

BAB

2 TINJAUAN PUSTAKA

5

2.1 Definisi

 

5

2.2 Epidemologi

6

2.3 Etiologi

6

2.4 Klasifikasi

8

2.5 Manifestasi

9

2.6 Patofisiologi

10

2.7 Pathway

13

2.8 Penatalaksanaan

14

BAB

3 TINJAUAN AGAMA TERHADAP HIV/AIDS

15

3.1

Aspek Agama Pada ODHA

15

3.1.1

Peran

Agama

17

3.1.2

Sikap

Masyarakat

17

3.1.3

HIV/AIDS Dalam Perspektif Agama

18

3.1.4

Pencegahan

25

3.1.5

Penanggulangan

26

3.2

Long Term Care

27

3.2.1

Definisi

27

3.2.2

Tujuan Long Term Care

29

3.2.3

Peran Perawat

29

3.2.4

Jenis dan Sumber Long Term Care

32

3.2.5

Kondisi Pasient Memeprlukan Long Term Care

33

3.2.6

Long Term Care Pada Pasien HIV/AIDS

34

iii

3.2.7

Tantangan Pelaksanaan Long Term Care

37

BAB 4 PENUTUP

39

4.1 Kesimpulan

39

4.2 Saran

39

DAFTAR PUSTAKA

40

iv

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Salah satu penyakit yang belum ada obatnya adalah HIV/AIDS. Virus Human Immunodefeciency (Virus HIV) adalah retrovirus yang mempunyai kemampuan menggunakan RNA-nya dan DNA penjamu untuk membentuk virus DNA dan menginfeksi tubuh dalam periode inkubasi yang panjang. HIV dapat menyebabkan kerusakan pada sistem imun, hal ini terjadi karena virus HIV menggunakan DNA dari CD4 + dan limfosit untuk mereplikasi diri. Dalam proses tersebut, virus menghancurkan CD4 + dan limfosit sehingga terjadi penurunan sistem kekebalan tubuh pada penderita HIV/AIDS (Nursalam & Kurniawati, 2007). Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), yaitu kumpulan gejala penyakit yang disebabkan retrovirus yang menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga menurunkan kekebalan (lmunitas) tubuh seseorang. Penyakit AIDS ini disebabkan Human Immunodeficiency Virus (HIV) (Wirawan, 2016). Ketika individu sudah tidak lagi memiliki sistem kekebalan tubuh maka semua penyakit dapat dengan mudah masuk kedalam tubuh, karena sistem kekebalan tubuhnya menjadi sangat lemah, penyakit yang tadinya tidak berbahaya akan menjadi sangat berbahaya bahkan dapát menimbulkan kematian. Dampak AIDS tidak hanya terkait dengan masalah medis, tetapi juga psikologis, sosial dan ekonomi (Wirawan, 2016). Prevalensi HIV/AIDS di seluruh dunia terus mengalami peningkatan. Berdasarkan United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) Global Statistics (2015), bahwa prevalensi HIV/AIDS di dunia mencapai 36,9 juta penderita. Pada akhir tahun 2014 tercatat penderita baru sebanyak 2 juta penderita. Dan di akhir tahun 2014 sebanyak 1,2 orang meninggal karena AIDS. Pada tahun 2014 terdapat 35 juta penderita. Penderita terbanyak berada di wilayah Afrika sebanyak 24,7 juta penderita. Sedangkan di Asia tercatat 4,8 juta penderita HIV/AIDS.

1

Indonesia merupakan salah satu dari negara di Asia yang memiliki kerentanan HIV akibat dampak perubahan ekonomi dan kehidupan sosial. Penularan HIV umumnya terjadi akibat perilaku manusia, sehingga menempatkan individu dalam situasi yang rentan terhadap infeksi (Kemenkes RI, 2013). Dalam waktu tiap 25 menit di Indonesia, terdapat satu orang baru terinfeksi HIV. Satu dari setiap lima orang yang terinfeksi di bawah usia 25 tahun. Proyeksi Kementerian Kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa tanpa percepatan program penanggulangan HIV, lebih dari setengah juta orang di Indonesia akan positif HIV (Unicef Indonesia, 2012). Berdasarkan data Profil Kesehatan RI, jumlah kasus HIV positif pada tahun 2012 sebanyak 21.511 kasus, meningkat 34,9% pada tahun 2013 (29.037 kasus), serta pada tahun 2014 meningkat lagi 12,36% (32.711 kasus), dan tahun 2015 sebanyak 30.935 kasus dengan penurunan 5,42%. Presentase kumulatif infeksi HIV tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 20-24 tahun 4.871 kasus (17%), umur 25- 49 tahun 21.810 (69%) dan kelompok umur diatas 50 tahun 2.002 kasus (7%). Laporan kasus AIDS yang didapatkan sampai tahun 2015, terjadi peningkatan 7.8% pada tahun 2013, dan terjadi penurunan pada tahun berikutnya. Kasus AIDS pada tahun 2012 (10.659 kasus), meningkat 7,8% pada tahun 2013 (11.493 kasus), menurun 31,4% pada tahun 2014 (7.875 kasus) dan pada tahun 2015 terjadi penurunan lagi 22,7% (6.081 kasus). Dengan kelompok umur 20-29 tahun 27,9% kasus, 30- 39 tahun 37,3% kasus, 40-49 tahun 18,8% kasus dan diatas 60 tahun 2% kasus (Kemenkes RI, dalam Wirawan, 2016). Berdasarkan data Ditjen PP & PL Kemenkes RI tahun 2014 dalam Armiyati (2015), kasus HIV dan AIDS di Kalbar sangat mengkhawatirkan yaitu dengan jumlah kasus 4.135 orang untuk HIV dan 1.699 orang untuk AIDS. Dengan angka tersebut, prevalensi kasus AIDS per 100.000 penduduk Kalbar menempati urutan ke- 4 Nasional di bawah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta yaitu 77,82. Hal tersebut didukung pula data dari Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat tahun 2012 yang menyatakan bahwa kota dengan kasus HIV/AIDS tertinggi di Kalimantan Barat adalah Kota

2

Pontianak dengan jumlah 251 kasus. Data menunjukkan bahwa kasus HIV pada laki-laki sebanyak 122 kasus dan perempuan 76 kasus, sedangkan kasus AIDS pada laki-laki sebanyak 35 kasus dan perempuan 18 kasus. Penyakit HIV/AIDS antara 80-90% penyebabnya adalah berzina dalam pengertiannya yang luas yang menurut pandangan agama merupakan perbuatan keji yang diharamkan dan dikutuk oleh Tuhan Yang Maha Esa. Tidak hanya pelakunya yang dikenai sanksi hukuman yang berat, tetapi seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan perzinahan yang dapat menularkan dan menyebabkan penyakit HIV/AIDS (Bahruddin, 2010). Menyadari betapa bahayanya virus HIV/AIDS tersebut, maka ada kewajiban kolektif (kewajiban) bagi semua pihak untuk mengusahakan pencegahan tertularnya virus HIV/AIDS ini melalui berbagai cara untuk memungkinkan penularan tersebut, dengan melibatkan peran tokoh agama. Sehingga tinjauan atau pandangan agama terhadap ODHA sangat penting untuk menghindari penyebab yang dapat menimbulkan orang-orang dari penyakit HIV/AIDS ini. Perawatan pada pasien HIV/AIDS yang diberikan dengan pendekatan secara komprehensif, mencakup pengobatan sakit, pengobatan gejala, konsultasi dan pengobatan untuk mengatasi masalah kejiwaan dan psikologis, dukungan dalam mengatasi stigma dan diskriminasi atau penolakan dari keluarga, rujukan pada layanan sosial, layanan kesehatan primer, perawatan rohani dan konsultasi, perawatan akhir-kehidupan, dan dukungan dukacita bagi keluarga. Di samping pengobatan penyakit HIV dan infeksi oportunistik/opportunistic Infections (OI), perawatan juga termasuk dalam pelayanan pencegahan dan promosi. Pelayanan ini dapat diberikan sebagai bagian dari perawatan berkelanjutan oleh sistem layanan kesehatan atau melalui layanan dari organisasi sosial di masyarakat (Nursalam, 2007). Berdasarkan uraian diatas penulis bermaksud untuk melakukan penyusunan makalah mengenai Tinjauan Agama tentang HIV/AIDS dan Long Term Care pada pasien HIV/AIDS.

3

1.2. Rumusan Masalah Bagaimana tinjauan agama tentang HIV/AIDS dan Long Term Care ?

1.3. Tujuan Masalah

1.3.1. Tujuan Masalah Umum Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan HIV/AIDS dan mengetahui lebih detail lagi mengenai tinjauan agama tentang HIV/AIDS dan long term care. 1.3.2. Tujuan Masalah Khusus a) Untuk mengetahui bagaimana penyakit HIV/AIDS b) Untuk mengetahui tinjuan agama mengenai penyakit HIV/AIDS

1.4. Manfaat Penulisan

1.4.1 Mahasiswa

a) Sebagai sarana pembelajaran untuk mengetahui tinjauan agama tentang HIV/AIDS dan long term care.

b) Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang tinjauan agama tentang HIV/AIDS dan long term care.

1.4.2 Masyarakat

a) Sebagai pengetahuan masyarakat mengenai tinjauan agama tentang

HIV/AIDS dan long term care.

1.4.3 Instansi

a) Dapat menambah referensi atau bahan pembelajaran mengenai tinjauan agama tentang HIV/AIDS dan long term care.

4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Human Immunodeficiency virus ( HIV ) adalah sejenis virus yang menyerang/menginfeksi sel darah putih yang menyebabkan turunya kekebalan tubuh manusia (Kemenkes RI 2015). HIV merupakan retrovirus bersifat limfotropik khas yang menginfeksi sel-sel dari sistem kekebalan tubuh, menghancurkan atau merusak sel darah putih spesifik yang disebut limfosit T-helper atau limfosit pembawa faktor T4 (CD4). Virus ini diklasifikasikan dalam famili Retroviridae, subfamili Lentiviridae, genus Lentivirus. Selama infeksi berlangsung, sistem kekebalan tubuh menjadi lemah dan orang menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS (Rosella, 2013). Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunya kekebalan tubuh yang disebabkan HIV. Akibat menurunya kekebalan tubuh maka orang tersebut sangat mudah terkena penyakit infeksi ( infeksi oportunistik) yang sering berakibat fatal. Virus ini merupakan kelompok retrovirus yang memiliki enzim reverse transcriptase untuk mengkodekan RNA yang dimilikinya menjadi DNA rantai ganda sehingga terintegrasi pada sel genom host ( Dapkes RI dalam Yusri

2012).

AIDS adalah infeksi oportunistik yang menyebabkan penurunan sistem imun yang di sebabkan oleh virus HIV. HIV bersifat limfotropik khas yang menginfeksi sel-sel dari sistem kekebalan tubuh, menghancurkan atau merusak sel darah putih spesifik yang disebut limfosit T-helper atau limfosit pembawa faktor T4 (Handoko, 2012).

5

2.2. Epidemologi Diseluruh dunia pada tahun 2013 ada 35 juta orang hidup dengan HIV yang meliputi 16 juta perempuan dan 3,2 juta anak berusia <15 tahun. Jumlah infeksi baru HIV pada tahun 2013 sebesar 2,1 juta yang terdiri dari 1,9 juta dewasa dan 240.000 anak berusia < 15 tahun. Jumlah kematian akibat AIDS sebanyak 1,5 juta yang terdiri dari 1,3 juta dewasa dan 190.000 anak berusia <15 tahun. Di Indonesia, HIV/AIDS pertama kali di temukan di provinsi bali pada tahun 1987. Hingga saat ini HIV/AIDS sudah menyebar di 386 kabupaten/kota di seluruh provinsi Indonesia. Berbagai upaya penanggulangan sudah dilakukan oleh pemerintah bekerja sama dengan berbagai lembaga di dalam negeri dan luar negeri (Kemenkes Ri 2015).

2.3. Etiologi AIDS disebabkan oleh HIV. HIV adalah virus sitopatik yang diklasifikasikan dalam famili Retroviridae, subfamili Lentivirinae, genus Lentivirus. HIV termasuk virus Ribonucleic Acid (RNA) dengan berat molekul 9,7 kb (kilobases). Strukturnya terdiri dari lapisan luar atau envelop yang terdiri atas glikoprotein gp120 yang melekat pada glikoprotein gp4. Dibagian dalamnya terdapat lapisan kedua yang terdiri dari protein p17. Setelah itu terdapat inti HIV yang dibentuk oleh protein p24. Didalam inti terdapat komponen penting berupa dua buah rantai RNA dan enzim reverse transcriptase. Bagian envelope yang terdiri atas glikoprotein, ternyata mempunyai peran yang penting pada terjadinya infeksi oleh karena mempunyai afinitas yang tinggi terhadap reseptor spesifik CD4 dari sel Host. Molekul RNA dikelilingi oleh kapsid berlapis dua dan suatu membran selubung yang mengandung protein (Harisson, 2009). Jenis virus RNA dalam proses replikasinya harus membuat sebuah salinan Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) dari RNA yang ada di dalam virus. Gen DNA tersebut yang memungkinkan virus untuk bereplikasi. Seperti halnya virus yang lain, HIV hanya dapat bereplikasi di dalam sel induk. Di dalam inti virus juga terdapat enzim-enzim yang digunakan untuk membuat salinan RNA, yang diperlukan untuk replikasi HIV yakni antara lain: reverse

6

transcriptase, integrase, dan protease. RNA diliputi oleh kapsul berbentuk kerucut terdiri atas sekitar 2000 kopi p24 protein virus. Dikenal dua tipe HIV yaitu HIV -1 yang ditemukan pada tahun 1983 dan HIV-2 yang ditemukan pada tahun 1986 pada pasien AIDS di Afrika Barat. Epidemi HIV secara global terutama disebabkan oleh HIV-1, sedangkan HIV-2 tidak terlalu luas penyebarannya, hanya terdapat di Afrika Barat dan beberapa negara Eropa yang mempunyai hubungan erat dengan Afrika Barat (JW, 1997). HIV-1 dan HIV-2 mempunyai struktur yang hampir sama tetapi mempunyai perbedaan struktur genom. HIV-1 punya gen vpu tapi tidak punya vpx, sedangkan HIV-2 sebaliknya (Wainberg MA et al, 2011). Perbedaan struktur genom ini walaupun sedikit, diperkirakan mempunyai peranan dalam menentukan patogenitas dan perbedaan perjalanan penyakit diantara kedua tipe HIV. Karena HIV-1 yang lebih sering ditemukan, maka penelitian-penelitian klinis dan laboratoris lebih sering sering dilakukan terhadap HIV-1 (Sterling et al, 2001). Jumlah limfosit T penting untuk menentukan progresifitas penyakit infeksi HIV ke AIDS. Sel T yang terinfeksi tidak akan berfungsi lagi dan akhirnya mati. Infeksi HIV ditandai dengan adanya penurunan drastis sel T dari darah tepi (Wainberg MA et al, 2011). Penularan virus ditularkan melalui :

a. Hubungan seksual (anal, oral , vaginal) yang tidak terlindungi (tanpa kondom) dengan orang yang telah terinfeksi HIV.

b. Jarum suntik/tindik/tato yang tidak steril dan dipakai bergantian.

c. Mendapatkan transfusi darah yang mengandung virus HIV.

d. Ibu penderita HIV positif kepada bayinya ketika dalam kandungan , saat melahirkan atau melalui air susu ibu/ASI.

2.4. Klasifikasi Klasifikasi HIV/AIDS pada orang dewasa menurut Centers for Disease Control (CDC) dibagi atas empat tahap, yaitu:

7

2.4.1. Infeksi HIV akut Tahap ini disebut juga sebagai infeksi primer HIV. Keluhan muncul setelah 2-4 minggu terinfeksi. Keluhan yang muncul berupa demam, ruam merah pada kulit, nyeri telan, badan lesu, dan limfadenopati. Pada tahap ini, diagnosis jarang dapat ditegakkan karena keluhan menyerupai banyak penyakit lainnya dan hasil tes serologi standar masih negatif. 2.4.2. Infeksi Seropositif HIV Asimtomatis Pada tahap ini, tes serologi sudah menunjukkan hasil positif tetapi gejala asimtomatis. Pada orang dewasa, fase ini berlangsung lama dan penderita bisa tidak mengalami keluhan apapun selama sepuluh tahun atau lebih. 2.4.3. Persisten Generalized Lymphadenopathy (PGL) Pada fase ini ditemukan pembesaran kelenjar limfe sedikitnya di dua tempat selain limfonodi inguinal. Pembesaran ini terjadi karena jaringan limfe berfungsi sebagai tempat penampungan utama HIV. PGL terjadi pada sepertiga orang yang terinfeksi HIV asimtomatis. 2.4.4. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) Hampir semua orang yang terinfeksi HIV, yang tidak mendapat pengobatan, akan berkembang menjadi AIDS. Progresivitas infeksi HIV bergantung pada karakteristik virus dan hospes. Usia kurang dari lima tahun atau lebih dari 40 tahun, infeksi yang menyertai, dan faktor genetik merupakan faktor penyebab peningkatan progresivitas. Bersamaan dengan progresifitas dan penurunan sistem imun, penderita HIV lebih rentan terhadap infeksi. Beberapa penderita mengalami gejala konstitusional, seperti demam dan penurunan berat badan, yang tidak jelas penyebabnya. Beberapa penderita lain mengalami diare kronis dengan penurunan berat badan. Penderita yang mengalami infeksi oportunistik dan tidak mendapat pengobatan anti retrovirus biasanya akan meninggal kurang dari dua tahun kemudian.

8

2.5. Manifestasi Manifestasi klinis Menurut Rosella (2013), pada stadium AIDS dibagi antara lain :

a) Gejala utama/mayor

- Demam berkepanjangan lebih dari 3 bulan

- Diare kronis lebih dari satu bulan berulang maupun terus menerus

- Penurunan berat badan lebih dari 10% dalam 3 bulan

b) Gejala minor

- Batuk kronis selama lebih dari 1 bulan

- Infeksi pada mulut dan tenggorokan disebabkan jamur candida albican

- Pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap diseluruh tubuh.

Dapat juga timbul gejala letih dan lesu yang muncul setelah melakukan aktifitas tertentu dan memburuk setelah beberapa waktu. Kelelahan fisik yang luar biasa sering diakibatkan adanya penurunan fungsi system tubuh, seperti gangguan fungsi paru, jantung,saraf ataupun otot. Rosella (2013) menambahkan manifestasi klinis utama dari penderita AIDS umumnya meliputi 3 hal yaitu :

a) Manifestasi tumor

- Sarcoma Kaposi Kanker pada semua bagian kulit dan organ tubuh. Penyakit ini sangat jarang menjadi sebab kematian primer

- Limfoma ganas Timbul setelah terjadi sarcoma Kaposi dan menyerang saraf serta dapat bertahan kurang lebih 1 tahun

b) Manifestasi oportunistik

- Manifestasi pada paru

Pneumoni pneumocystis ( PCP)

9

Pada umumnya 85% infeksi oportunistik pada AIDS merupakan infeksi paru PCP dengan gejala sesak nafas, batuk kering, sakit bernafas dalam dan demam

- Cytomegalovirus (CMV)

Pada manusia 50% virus ini hidup sebagai komensal pada paru-paru tetapi dapat meneyebabkan pneumocystis. CMV merupakan 30% peneybab kematian pada AIDS

- Mycobacterium avilum

Menimbulkan pneumoni difus, timbul pada stadium akhir dan sulit disembuhkan

- Mycobacterium tuberculosis

Biasanya timbul lebih dini, penyakit cepat menjadi milier dan cepat menyebar ke organ lain diluar paru

c) Manifestasi gastrointestinal Tidak ada nafsu makan, diare kronis, penurunan berat badan >10% kasus AIDS menunjukkan manifestasi neurologis yang biasanya timbul pada fase akhir penyakit. Kelainan saraf yang umum adalah enefalitis, meningitis, demensia, mielopati, dan neurpati perifer.

2.6. Patofisiologi Berbeda dengan virus lain yang menyerang sel target dalam waktu singkat, virus HIV menyerang sel target dalam jangka waktu lama. Supaya terjadi infeksi, virus harus masuk ke dalam sel, dalam hal ini sel darah putih yang disebut limfosit. Materi genetik virus dimasukkan ke dalam DNA sel yang terinfeksi. Di dalam sel, virus berkembangbiak dan pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan partikel virus yang baru. Partikel virus yang baru kemudian menginfeksi limfosit lainnya dan menghancurkannya. Virus menempel pada limfosit yang memiliki suatu reseptor protein yang disebut CD4, yang terdapat di selaput bagian luar. CD 4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit.Sel-sel yang memiliki reseptor CD4 biasanya disebut

10

sel CD4+ atau limfosit T penolong. Limfosit T penolong berfungsi mengaktifkan dan mengatur sel-sel lainnya pada sistem kekebalan (misalnya limfosit B, makrofag dan limfosit T sitotoksik), yang kesemuanya membantu menghancurkan sel-sel ganas dan organisme asing. Infeksi HIV menyebabkan hancurnya limfosit T penolong, sehingga terjadi kelemahan sistem tubuh dalam melindungi dirinya terhadap infeksi dan kanker. Seseorang yang terinfeksi oleh HIV akan kehilangan limfosit T penolong melalui 3 tahap selama beberapa bulan atau tahun. Seseorang yang sehat memiliki limfosit CD4 sebanyak 800-1300 sel/mL darah. Pada beberapa bulan pertama setelah terinfeksi HIV, jumlahnya menurun sebanyak 40-50%. Selama bulan-bulan ini penderita bisa menularkan HIV kepada orang lain karena banyak partikel virus yang terdapat di dalam darah. Meskipun tubuh berusaha melawan virus, tetapi tubuh tidak mampu meredakan infeksi. Setelah sekitar 6 bulan, jumlah partikel virus di dalam darah mencapai kadar yang stabil, yang berlainan pada setiap penderita. Perusakan sel CD4+ dan penularan penyakit kepada orang lain terus berlanjut. Kadar partikel virus yang tinggi dan kadar limfosit CD4+ yang rendah membantu dokter dalam menentukan orang-orang yang beresiko tinggi menderita AIDS. 1-2 tahun sebelum terjadinya AIDS, jumlah limfosit CD4+ biasanya menurun drastis. Jika kadarnya mencapai 200 sel/mL darah, maka penderita menjadi rentan terhadap infeksi. Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit B (limfosit yang menghasilkan antibodi) dan seringkali menyebabkan produksi antibodi yang berlebihan. Antibodi ini terutama ditujukan untuk melawan HIV dan infeksi yang dialami penderita, tetapi antibodi ini tidak banyak membantu dalam melawan berbagai infeksi oportunistik pada AIDS. Pada saat yang bersamaan, penghancuran limfosit CD4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam mengenali organisme dan sasaran baru yang harus diserang. Setelah virus HIVmasuk ke dalam tubuh dibutuhkan waktu selama 3-6 bulan sebelum titer antibodi terhadap HIVpositif. Fase ini disebut “periode

11

jendela” (window period). Setelah itu penyakit seakan berhenti berkembang selama lebih kurang 1-20 bulan, namun apabila diperiksa titer antibodinya terhadap HIVtetap positif (fase ini disebut fase laten) Beberapa tahun kemudian baru timbul gambaran klinik AIDS yang lengkap (merupakan sindrom/kumpulan gejala). Perjalanan penyakit infeksi HIVsampai menjadi AIDS membutuhkan waktu sedikitnya 26 bulan, bahkan ada yang lebih dari 10 tahun setelah diketahui HIV positif. Dalam tubuh ODHA, partikel virus bergabung dengan DNA sel pasien, sehingga satu kali seseorang terinfeksi HIV, seumur hidup ia akan tetap terinfeksi. Dari semua orang yang terinfeksi HIV, sebagian berkembang masuk tahap AIDS pada 3 tahun pertama, 50% berkembang menjadi AIDS sesudah 10 tahun, dan sesudah 13 tahun hampir semua orang yang terinfeksi HIV menunjukkan gejala AIDS, dan kemudian meninggal. Gejala yang terjadi adalah demam, nyeri menelan, pembengkakan kelenjar getah bening, ruam, diare, atau batuk. Setelah infeksi akut, dimulailah infeksi HIV asimptomatik (tanpa gejala). Masa tanpa gejala ini umumnya berlangsung selama 8-10 tahun.

12

2.7. Pathway

2.7. Pathway 13

13

2.8. Penatalaksanaan Penatalaksanaan utama dari HIV/AIDS adalah terapi ARV. Panduan ART WHO tahun 2013 merekomendasikan inisiasi ART dilakukan pada setiap individu dengan HIV dan dengan jumlah CD4+ kurang dari sama dengan 500 sel/mm 3 , pada stadium klinis apapun, dan memprioritaskan pasien HIV yang sudah parah atau yang sudah terkomplikasi (stadium klinis 3 atau 4) atau pasien dengan jumlah CD4+ kurang dari sama dengan 350 sel/mm 3 (WHO, 2015) Pada ibu hamil dan neonatus, pencegahan transmisi dari ibu ke anak (PMTCT) merupakan pencegahan penularan HIV dari seorang wanita HIV positif kepada anaknya selama kehailan, persalinan, atau sedang menyusui. Standar internasional PMTCT menyatakan terdapat empat elemen PMTCT - yang merupakan pencegahan primer HIV (Darmadi dan Ruslie, 2012) 2.8.1. Antepartum Antenatal care bertujuan untuk memperbaiki kualitas kesehatan ibu dan mencegah mortalitas, identifikasi perempuan dengan HIV positif, meyakinkan perempuan dengan HIV positif untuk mengikuti program PMTCT, mencegah transmisi dari ibu ke anaknya, menyediakan AZT (Zidovudine) sejak usia kehamilan 14 minggu atau ART seumur hidup sesegera mungkin. Tes HIV harus dilakukan sebagai langkah pertama pada pelayanan antenatal. Jika hasil tes negatif dan wanita yang diperiksa asimtomatik, dianggap sebagai HIV negatif. Wanita dengan HIV negatif perlu disarankan untuk tes ulang pada usia kehamilan 32 minggu untuk mendeteksi serokonversi atau infeksi yang baru terjadi. Jika tes skrining positif dengan ELISA (sensitivitas >99,5%), perlu dikonfirmasi lagi dengan Western blot atau immunofluorescence assay (IFA), dimana keduanya memiliki spesifisitas yang tinggi.

14

2.8.2. Antiretroviral (ARV) Terapi ARV direkomendasikan kepada semua wanita hamil dengan risiko transmisi perinatal tanpa memerhatikan jumlah CD4+ atau HIV RNA. Jika ibu belum mendapatkan regimen pengobatan, maka dilakukan Highly Active Antiretroviral Therapy (HAART). Ketaatan dalam meminum obat sanagat penting karena jika tidak, resistensi obat akan menurun. Wanita hamil sebaiknya dibagi berdasarkan stadium klinis dan jumlah CD4+. Kriteria pemberian pada wanita hamil: Wanita dengan CD4 lebih dari 350 sel/mm3 dan tergolong dalam stadium 1 dan 2 sebaiknya mendapatkan profilaksis antiretrovirus dengan AZT untuk mengurangi transmisi ke bayinya. Wanita dengan CD4 350 sel/mm3 atau kurang dari 350 sel/mm3 dan tergolong stadium 3 dan 4 sebaiknya mendapat terapi antiretrovirus seumur hidup.

15

BAB 3 TIJAUAN AGAMA DAN LONG TERM CARE TERHADAP HIV/AIDS 3.1. Aspek Agama Pada ODHA Spiritualitas dan agama berperan penting pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Hasil penelitian mengenai pengaruh spiritualitas/agama terhadap ODHA cenderung bervariasi. Terdapat studi yang menyatakan bahwa spiritualitas atau agama berpengaruh dalam menurunnya perkembangan penyakit (menurunnya jumlah CD4 atau viral load) Tingginya tingkat spiritualitas/agama dapat dihubungkan dengan menurunnya distres psikologis, nyeri, dan meningkatnya keinginan untuk hidup, aspek kognitif dan fungsi sosial yang lebih baik semenjak terdiagnosa HIV (Szaflarski,

2013).

Namun, spiritualitas/agama dapat memperburuk hasil karena potensial kepercayaan pada Tuhan dan penolakan terapi ARV serta pandangan bahwa HIV merupakan hukuman dari Tuhan atas kebiasaan dan gaya hidup yang penuh dosa. Hal ini sering dihubungkan dengan tingginya tingkat depresi, kesendirian, dan memburuknya kepatuhan terhadap tindakan medis pada ODHA (Szaflarski, 2013). Mekanisme bagaimana spiritualitas/agama memengaruhi ODHA yakni peran ganda spiritualitas/agama sebagai mekanisme koping dan stresor. Kremer, et al dalam Szaflarski, (2013), menunjukkan bahwa spiritualitas memengaruhi HIV dari sisi positif atau negatif dalam hidup ODHA. ODHA dapat merasakan peningkatan spiritualitas dan menganggap bahwa ia sebagai orang ‘terpilih’ untuk memiliki penyakit HIV dan mempersepsikan penyakit tersebut sebagai titik positif dalam hidupnya. Sebaliknya, ODHA yang merasakan penurunanan tingkat spiritualitas menganggap HIV sebagai sesuatu yang negatif. Beberapa studi menunjukkan dalam aspek kesehatan mental yang mempertimbangkan tingginya tingkat depresi atau permasalahan kebiasaan pada ODHA. Hidayat (2017), meneliti hubungan antara stigma kepercayaan HIV, koping, dan spiritual. Koping yang berhubungan dengan stigma

16

sangatlah penting karena ODHA sering merendah diri dan memerlukan cara untuk menangani distres dan ansietas yang disebabkan oleh faktor sosial

seperti prasangka dan diskriminasi. Kedamaian spiritual dianggap sebagai koping umum yang dapat melindungi dampak negatif dari stres psikologis (Szaflarski, 2013).

3.1.1. Peran Agama

Dalam perspektif religius, masalah HIV/ AIDS adalah suatu peringatan pada setiap orang, bahwa ada krisis dalam penyelenggaraan kehidupan bersama. Dalam situasi ini tidak pada tempatnya lembaga-lembaga agama bersikukuh dengan kaca mata hitam-putihnya menuntut apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan oleh umat atau masyarakat. Dengan menghakimi situasi masyarakat termasuk mengadili para ODHA, agama-

agama tidak bisa memberi peran apa pun ditengah ketidakadilan yang sangat menyulitkan ini. Banyak problem kemanusiaan yang terlambat ditanggapi agama-agama, salah satunya adalah permasalahan HIV/ AIDS. Tidak ada cara lain bagi institusi-institusi keagamaan selain memperbaharui wacana yang dikembangkan agar lebih bisa menjadi berkat, rahmat dan memberi damai dalam kehidupan. Agama sudah seharusnya menjadi ‘obat’ bagi masalah kehidupan (termasuk masalah HIV/ AIDS), bukannya menjadi ‘racun’ yang memperburuk masalah ( Aminah, 2010 )

3.1.2. Sikap Masyarakat

Sikap masyarakat berdampak pada segala aspek kehidupan ODHA termasuk makna ajaran agama. Terdapat studi yang menemukan bahwa keyakinan masyarakat ditempat tersebut memiliki pengaruh negatif yang signifikan pada sikap dan perilaku orang-orang terhadap ODHA. Hal ini dikarenakan ODHA dikaitkan dengan perilaku dan preferensi seksual tertentu, atau penggunaan zat obat yang dilarang oleh gereja (Hidayat, Agung

dan Riri 2017).

17

ODHA mengukapkan bahwa dalam ajaran agama mereka (Islam dan Kristen) terdapat larangan keras dan berakibat dosa terhadap larangan yang keras dan berakibat dosa terhadap beberapa perilaku seperti berhubungan seks secara bebas dan mengkibatkan mereka tertular HIV, namun masyarakat lebih memaknai ajaran agama sebagai suatu pendorong yang kuat untuk bersikap baik dan saling mengasihi termasuk kepada ODHA (Hidayat, Agung dan Riri 2017). Semua agama mendorong orang untuk berbelas kasih terhadap orang lain tanpa membedakan ras, jenis kelamin, status sosial, penyakit dan perbedaan yang ada. Meskipun beberapa dari pengikut agama mungkin memiliki perasaan negative dan diskriminatif terhadap orang orang yang berbeda dari keyakinan mereka (Hidayat, Agung dan Riri 2017). 3.1.3. HIV/AIDS Dalam Perspektif Agama

A. Agama Islam

a) Sejarah yang ditutupi dari penyakit HIV/AIDS Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT) adalah perilau yang menyimpang tapi menurut ilmu psikologi disepakati bukan sebagai penyakit melainkan stuktur otak yang berbeda dari manusia umumnya. Tentunya bertentangan dengan ahli saraf dari poliandia ini menurut Jamski knofski tahun 1948 memperkenalkan sebuah teori bahwa otak manusia itu sifatnya fleksible. Berdasarkan apa yang diterima informasi yang masuk kedalam otak manusia itulah otak akan bersikap dan teori ini membantah teori sebelumnya yang mengatakan bahwa otak itu cenderung baku (Hidayat, 2017). Contohnya pada saat kita melihat sesuatu yang baik,mendengar perkataan yang baik, dan diperlakukan dengan baik maka ribuan saraf akan berespon baik itu yang dirasakannya. Semakin sering dilihat maka respon kita itu akan disalurkan oleh ribuan saraf ke tangan ke kaki dan ke imajinasi maka itu yang akan mempengaruhi seluruh tubuhnya dalam kebaikan. Apa yang dilihatnya disambungkan ke dalam hati maka semua perilakunya baik.namun

18

sebaliknya apabila sering melihat yang jelek, mendengar perkataan yang kurang baik dan melakukan sesuatu yang tidak baik maka saraf-sarafnya akam menyesuaikan seketika dan apabila terus- menerus dilakukannya maka menjadi kepribadaian yang kurang baik (Hidayat, Adi., 2017). Jadi kita ketahui perilaku-perilaku penympangan LGBT itu bukan normal. Itu disebabkan dari seseorang manusia tidak bisa mengontrol fungsi-fungsi informasinya, menerima informasi yang buruk itulah yang akan melahirkan suatu perilaku menyimpang yaitu LGBT. Sedangkan penyakit HIV diawali dengan 2 orang melakukan homoksexual, sperma yang tertampug di pusat kotoran itu melahirkan suatu penyakit yaitu HIV (Hidayat, Adi., 2017).

b) Menurut bahaya HID/AIDS berita Islami masa kini Dan janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk(Surah Al: Isra ayat 32). Apabila seseorang menjauhi zina dan menjauhi sex maka akan menjadi prisai dari HIV/AIDS. HIV dapat tertular melalui jarum suntik yang bergantian yang biasa digunakan untuk narkoba sedangkan penyalahgunaan narkoba merupakan perbuatan yang dilarang oleh agama menurut para ulama yang didasarkan pada Al-Quran dan Hadis. Dan janganlah kamu menjatuhkan diri sendiri dalam kebinasaan(surah Al: Bakarah ayat 195). Pencegahan dengan melakukan penyuluhan tentang bahaya penyakit HIV/AIDS. Penyuluhan tersebut dapat dilakukan melalui ceramah agama, khutbah, ataupun pengajian. “Serulah manusia kejalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantulah pula dengan cara yang baik(surah An: Nahl ayat 25)

19

Meskipun penyakit HIV/AIDS berbahaya namun tidak lantas kita menjauhi dan memusuhi orang dengan HIV/AIDS atau ODHA dalam berbagai kasus ODHA kerap sekali mengalami diskriminasi, ODHA selalu dianggap menular dan berbahaya padahal mereka seharusnya diberi dukungan semangat terutama bagi orang yang tekena HIV bukan karena keinginannya, terutama bayi yang terlahir dengan ibu yang menderita HIV atau jarum suntik yang terkena HIV apalagi sesama islam kita harus menyayangi sesama manusia dan berbuat baik terhadap sesama

B. Agama Kristen

a) Teologi Penciptaan. Kitab Kejadian dalam Perjanjian Lama melukiskan bahwa semua yang disebut sebagai makhluk hidup selalu berada dalam suatu relasi : Relasi antara Tuhan dan manusia serta makhluk lain, baik manusia dan non-manusia, relasi antara sesama makhluk hidup, baik manusia dan non- manusia. "Relasi" tersebut merupakan simpul yang menentukan kualitas kehidupan secara utuh (tubuh, jiwa, roh, dan sosial) (Sahertian dalam Aminah 2010)

b) Teologi Penderitaan dan Kematian, Pengharapan dan Kebangkitan Bagi pemahaman Kristiani, Allah adalah Allah pemelihara dan penuh kasih setia. Oleh karena itu Ia tetap memelihara relasi dengan makhluk-Nya. Hal itu dimanifestasikan melalui tindakan keselamatan kepada manusia. Ia membuka jalan keselamatan bagi manusia dan kemudian mendidik umatnya untuk kembali ke jalan yang benar (bertobat). Berbagai upaya dilakukan yakni memanggil dan mengutus utusan-utusan-Nya, para imam, para nabi dan para hakim untuk mengoreksi, menegur dan mengasuh ciptaan-Nya. Inilah kerangka dasar sikap Kristiani dalam menghadapi HIV/ AIDS yakni mengambil pola pelayanan Kristus. Bagaimana menjadi "the caring/ healing community" bagi sesama yang sedang terpuruk dalam belukar.

20

c) Gereja dalam kapasitas sebagai komunitas peduli dalam rangka merespon epidemik HIV dan AIDS :

Meminta perhatian gereja-gereja untuk mengembangkan suatu iklim dan tempat yang penuh cinta kasih, penerimaan, dan dukungan bagi mereka yang rentan atau yang telah terkena HIV/ AIDS tanpa memandang latar belakang agama,suku, status sosial maupun keberadaan personal seseorang.

Meminta perhatian gereja untuk bersama-sama berefleksi pada basis pemahaman teologinya dalam rangka merespons tantangan HIV/ AIDS.

Meminta perhatian gereja untuk bersama-sama berefleksi masalah-masalah etik yang timbul karena pandemik ini, bagaimana menginterpretasikannya ke dalam konteks lokal dan menawarkan panduan bagi mereka yang menghadapi kesulitan dalam menentukan pilihan.

Meminta perhatian gereja supaya terlibat aktif dalam berbagai diskusi di masyarakat mengenai isu-isu etik yang muncul karena HIV/ AIDS, dan mendukung warga jemaatnya, khususnya yang melayani dibidang kesehatan, yang menghadapi kesulitan menentukan keputusan etis dalam hal pencegahan dan perawatan.

d) Kesaksian gereja dalam hubungannya dengan masalah langsung HIV/ AIDS:

Meminta perhatian gereja-gereja untuk melayani sebaik mungkin mereka yang hidup dengan HIV/ AIDS.

Meminta perhatian gereja untuk memberikan perhatian khusus bagi bayi dan anak-anak yang hidup dengan HIV/ AIDS dan mencari jalan keluar dalam membangun lingkup yang mendukung.

Meminta perhatian gereja untuk membantu melindungi hak- hak mereka yang hidup dengan HIV/ AIDS, mempelajari,

21

mengembangkan dan mempromosikan HAM dari ODHA. Meminta perhatian gereja untuk memberikan informasi yang akurat tentang HIV/ AIDS, mempromosikan kondisi yang memungkinkan diskusi terbuka dalam rangka menanggulangi penyebaran informasi yang salah yang bisa mengakibatkan reaksi takut.

Meminta perhatian gereja untuk meningkatkan advokasi dan dukungan bagi upaya yang telah dilakukan pemerintah dan fasilitas kesehatan untuk menemukan jalan keluar dari masalah yang ada baik masalah sosial maupun medis.

Gereja tidak boleh lagi tabu dalam memberikan informasi dan edukasi tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi pada kelompok umur dengan pendekatan dan metodologi yang bertanggung jawab, sebab penyelamatan Allah secara holistik menyangkut tubuh dan berbagai dimensinya, mental, rohani dan sosial, bukan hanya rohani saja. e) Kesaksian Gereja sehubungan dengan masalah yang berkepanjangan dan faktor-faktor yang dapat memberikan pengharapan.

Meminta perhatian gereja-gereja untuk menyadari, mengakui bahwa ada hubungan antara AIDS dan kemiskinan, dan mengadvokasi upaya promosi keadilan dan pembangunan yang berkelanjutan.

Meminta perhatian gereja untuk memberi perhatian khusus pada situasi yang dapat memperluas kerentanan terhadap AIDS seperti isu pekerja migran, pengungsian darurat dalam jumlah besar serta isu aktifitas seks komersial.

Lebih khusus lagi, gereja-gereja perlu bekerja sama dengan kelompok perempuan di mana selama ini mereka berjuang untuk hak dan martabat mereka serta mengaktualisasikan keterampilan mereka secara maksimal.

22

Meminta perhatian gereja-gereja untuk membina dan melibatkan kaum muda dan para pria dalam rangka pencegahan penyebaran HIV/ AIDS

C. Agama Katolik

a) Upaya-Upaya Gereja Katolik Gereja berpihak kepada para korban penyalahgunaan penderita AIDS. Keberpihakan itu diwujudkan dalam berbagai bidang usaha untuk menggapai permasalahan HIV/ AIDS dan narkoba secara serius. Bidang yang diusahakan untuk menangani kasus-kasus HIV/ AIDS dan narkoba meliputi pencegahan, perawatan, pendampingan psikologis sosial dan spiritual.

Strategi yang bisa dipikirkan adalah menyiapkan paroki atau komunitas-komunitas umat beriman sebagai 'keluarga kedua' dimana setiap orang dengan bebas datang dan memperoleh kesegaran hidup manusiawi. Komunitas yang demikian dapat mengubah orang menjadi lebih santun dan manusiawi ( Prapdi dalam Aminah 2010 )

D. Agama Budha Darma

a) Buddha Dharma & HIV/AIDS Sila (Moralitas) Ada atau tidak ada HIV/ AIDS di muka bumi ini, moralitas (sila) adalah masalah manusia yang abadi. Dalam Buddha Dharma, moralitas tidak dipandang sebagai tanggung jawab manusia terhadap “Tuhan Pencipta”, melainkan sebagai tanggung jawab terhadap diri sendiri. Apabila diakui bahwa penularan HIV/ AIDS untuk sebagian besar terjadi melalui perilaku yang tidak sesuai dengan sila hubungan seksual tak terlindung dengan pasangan yang berganti- ganti, dan penggunaan obat suntik dengan alat suntik yang tidak

steril maka dapat dipahami bahwa pengembangan dan peningkatan sila di dalam diri individu berdasarkan kesadaran pribadi

23

merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi penularan HIV/ AIDS (Hupudio dalam Aminah 2010) b) Pandangan Dan Langkah-Langkah Hindu Dalam Penanggulangan Hiv/Aids Dan Narkoba (Dukuh Samiaga)

a.

b.

Upaya Hindu dalam Pencegahan HIV / AIDS Agama Hindu yang sering disebut DHARMA (kewajiban mulia) selalu menekankan umatnya untuk hidup dalam jalan Dharma (jalan mulia) yang tidak keluar dari perintah Hyang Widhi dan selalu mentaati larangan-larangan yang ada. Di dalam Dharma Sastra (Hukum Hindu) ditentukan larangan- larangan keras terhadap perilaku moral yang menyimpang, tidak sesuai dengan jalan mulia Hyang Widhi. Hindu menganggap seks itu adalah sesuatu yang murni dan luhur sehingga tidak dibenarkan melakukannya di sembarang tempat atau dengan sembarang orang yang bukan pasangannya.

Perlakuan Umat terhadap Penderita Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa HIV/ AIDS bukanlah penyakit kutukan tetapi semata-mata penyakit lahiriah yang disebabkan terjadinya kontak langsung para penderita melalui empat jalan tadi (seks, jarum suntik, transfusi darah, lewat ibu melahirkan) sehingga masyarakat Hindu selalu menerima penderita HIV/ AIDS sebagai masyarakat biasa yang tidak merupakan momok yang menakutkan, yang diterima apa adanya baik kekurangan maupun kelebihannya. Jadi untuk penderita AIDS khususnya di masyarakat Hindu (Bali) tidak terjadi diskriminatif, tetapi diterima sebagai hamba Tuhan yang perlu dirawat dan dibesarkan semangatnya, sehingga penderita bisa menapak kehidupannya dengan lebih baik. Dan bagi penderita yang meninggal dunia, juga mendapat perlakuan yang sama seperti layaknya bukan penderita.

24

3.1.4. Pencegahan Islam sebagai agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW diperuntukkan bagi seluruh umat manusia dan semesta alam (rahmatan lil `alamin), salah satunya adalah mengenai etika dan moral (akhlak) yang mengajarkan bagaimana bersikap dan berperilaku terhadap sesama makhluk Tuhan, termasuk di dalamnya adalah bagaimana memperlakukan orang yang hidup dengan HIV/ AIDS (ODHA). Mereka tidak boleh didiskriminasi dalam hal apapun karena sama-sama memiliki derajat sebagai manusia yang dimuliakan Tuhan. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al Isra/ I7:70: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan". Namun ironisnya, hingga saat ini masih banyak kalangan agamawan (dari Islam) yang meyakini bahwa fenomena HIV/ AIDS adalah penyakit kutukan Tuhan atau identik dengan kaum Luth yang menyukai homoseksual, sebagaimana yang dikisahkan Tuhan dalam Al-Qur'an surat 7/Al-A'raf : 80-84, surat 27/ An Naml: 56. Begitu juga norma masyarakat masih banyak yang menganggap bahwa HIV/ AIDS adalah penyakit menular seksual. Padahal bila dilihat dari cara penularannya HIV/ AIDS sesungguhnya bukan merupakan penyakit seksual, karena orang yang tidak melakukan hubungan seks dengan penderita HIV pun bisa tertular seperti penularan melalui transfusi darah, jarum suntik, pisau cukur, dan sebagainya. Pandangan tokoh agama dan masyarakat tersebut harus diluruskan dengan informasi yang benar mengenai HIV/ AIDS supaya tidak dianggap sebagai norma masyarakat. Jika tidak, maka akan berbahaya karena terjebak pada lingkaran normatif yang tidak menguntungkan ODHA.

25

Begitu juga pandangan mengenai kondom sebagai salah satu cara pencegahan HIV/ AIDS hingga saat ini masih kontroversial karena dikhawatirkan disalahgunakan oleh pasangan di luar nikah, dianggap melegalisisir perzinahan dan sebagainya. Pandangan tersebut hendaknya diubah dengan pendekatan solutif menggunakan kaidah fiqhiyyah yaitu "memilih bahaya yang lebih ringan di antara dua bahaya untuk mencegah yang lebih membahayakan". Dalam hal ini mensosialisasikan pemakaian kondom sebagai salah satu cara pencegahan HIV/AIDS jauh lebih ringan bahayanya dibandingkan dengan melarang kondom disosialisasikan ( Anshor dalam Aminah 2010 ). 3.1.5. Penanggulangan HIV/AIDS telah mewabah tidak hanya di kalangan komunitas yang dianggap resiko tinggi dan bukan orang-orang yang taat agama tetapi tanpa pandang bulu menyerang siapapun. Persepsi masyarakat tidak lagi dikaitkan dengan mitos dan hukuman/kutukan Tuhan. Sikap umat Islam terhadap masalah ini melahirkan perdebatan yang disebabkan berbeda dalam mendifinisikan HIV/AIDS maupun memahami korban. Perbedaan sikap tersebut disebabkan antara lain oleh: (1) Memandang HIV/AIDS semata-mata menjadi masalah medis. (2) HIV/AIDS sebagai masalah penyimpangan seksual. (3) HIV/AIDS sebagai masalah penyimpangan sosial. (4) HIV/AIDS sebagai masalah agama. (5) HIV/AIDS merupakan masalah kapitalisme global. Menurut pandangan yang representatif dari konservatif sebagaimana dikemukakan ahli psikiater dan guru besar FKUI, Prof. Dr. dr. II.Dadang Hawari5 bahwa upaya-upaya penanggulangan penyakit HIV/AIDS selama ini, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun LSM lebih menekankan kepada pendekatan sekuler dan medis semata, baik dalam upaya pencegahan ataupun terapinya, termasuk tidak menyentuh akar permasalahan penyebab utamanya. Akar masalah menurut pandangan ini adalah penyakit mental dan perilaku. Karcnanya, integrasi medis dan moral (agama) adalah pendekatan yang seharusnya diterapkan. Pendekatan model

26

ini, analisisnya tampak kurang tajam dan menyentuh empati semua pihak, terkesan diskriminatif terhadap ODHA. Narnun demikian pendapat ini sekurang-kurangnya menjadi motivasi masyarakat khususnya muslim dalam mencegah perilaku beresiko terkena HIV/AIDS. Berbeda halnya dengan pandangan progresif bahwa penanggulangan HIV/AIDS melalui pendekatan multidimensional, HIV/AIDS terkait juga dengan masalah sosial, budaya, politik, ekonomi dan hak-hak asasi manusia. Oleh karena itu, kajian Islam tentang masalah ini harus melalui pendekatan studi Islam kontcmporer, terpadu dengan pendekatan sosial budaya. Mengingat sejumlah kasus penularan HIV tidak hanya melalui seks bebas atau penggunaan jarum suntuk narkoba, tetapi juga suami istri yang salah satunya adalah beresiko, bayi terinfeksi dari ibunya, dan cara-cara lain yang tampak tidak terkait dengan masalah moral. Dengan demikian nilai-nilai Islam menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan HIV/AIDS di masyarakat, misalnya dilandasi dengan prinsip- prinsip keadilan, kesetaraan, empaty, demokrasi, khusunya dalam melakukan advokasi terhadap ODHA.

3.2. Long Term Care 3.2.1. Definisi Perawatan jangka panjang mengacu pada rangkaian layanan medis dan sosial yang dirancang untuk mendukung kebutuhan orang yang hidup dengan masalah kesehatan kronis yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Layanan perawatan jangka panjang termasuk layanan medis tradisional, layanan sosial, dan perumahan. Tujuan perawatan jangka panjang jauh lebih rumit dan jauh lebih banyak sulit diukur dari pada tujuan perawatan medis akut. Sedangkan yang utama Tujuan perawatan akut adalah mengembalikan individu ke tingkat fungsi sebelumnya, Perawatan jangka panjang bertujuan untuk mencegah kemerosotan dan meningkatkan penyesuaian sosial ke tahap penurunan (Harris,K., Sengupta, M., Park, Lee, E., Valverde, R., 2013).

27

Kebutuhan akan perawatan jangka panjang dipengaruhi oleh perubahan kapasitas fungsional fisik, mental, dan / atau kognitif yang pada gilirannya, selama kehidupan individu, dipengaruhi oleh lingkungan. Banyak orang mendapatkan kembali kapasitas fungsional yang hilang, sementara yang lain mengalami penurunan. Jenis perawatan yang dibutuhkan dan durasi perawatan semacam itu seringkali sulit diprediksi ( WHO, 2000). Perawatan jangka panjang atau kronis mencakup rentang layanan yang jauh lebih luas daripada perawatan akut, menekankan layanan sosial dan medis. Sementara perawatan akut biasanya terbatas pada penyedia khusus, penyedia perawatan jangka panjang lebih luas. Mereka termasuk penyedia obat tradisional seperti itu seperti dokter dan rumah sakit, pengasuh masyarakat formal seperti rumahagen perawatan kesehatan, penyedia fasilitas seperti panti jompo dan kehidupan yang dibantu fasilitas, dan perawat informal seperti teman atau anggota keluarga. Perawatan jangka panjang merupakan komponen dari pendekatan komprehensif, bersifat holistik tercermin disetiap aspek perawatan secara menyeluruh dari klinis, psikososial, dan sosial ekonomi (Harris,K., Sengupta, M., Park, Lee, E., Valverde, R., 2013). Pelayanan LTC terdiri dari berbagai tipe pelayanan berdasarkan kebutuhan individu, yaitu (Singh, 2016):

a. Perlayanan medis, keperawatan dan rehabilitasi

b. Pelayanan kesehatan mental dan pelayanan demensia

c. Social support

d. Supportive housing

e. Pelayanan hospice

Sistem pelayanan LTC yang ideal akan memuat 10 dimensi berikut (Singh, 2016):

a. Pelayanan yang bervariasi

b. Pelayanan khusus individual

c. Pelayanan total yang terkoordinasi

28

d. Peningkatan fungsi independen pasien

e. Perawatan jangka panjang

f. Menggunakan teknologi baru

g. Menggunakan praktik evidence-based

h. Pendekatan holistik

i. Meningkatkan kualitas perawatan

j. Meningkatkan kualitas hidup pasien

3.2.2. Tujuan Long Term Care

Tujuan dari perawatan jangka panjang atau long term care (LTC) adalah untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga yang hidup dengan HIV dan penyakit lainnya yang membutuhkan perawatan, secara rinci tujuan utamanya adalah :

a) meningkatkan kapasitas keluarga untuk memberikan perawatan

b) mendukung peningkatan akses untuk mendapatkan perawatan secara terus menerus

c) mengintegrasikan perawatan, dukungan, dan layanan pengobatan yang ada

d) menganjurkan untuk perawatan yang berkelanjutan dan holistik

e) meningkatkan akses terhadap obat-obatan dan komoditas penting dalam perawatan

f) meningkatkan kualitas pelayanan perawatan (Pratt JR., 2010).

3.2.3. Peran Perawat A. Pelaksana perawatan Sebagai pelaksana perawatan, perawat dapat bertindak sebagai pemberi asuhan keperawatan pada pasien HIV/AIDS, memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarganya, memberikan advokasi serta melakukan peran kolaborasi dengan profesi lain yang terlibat dalam perawatan pasien HIV/AIDS. Perawat juga dapat

melakukan fasilitasi terhadap semua kebutuhan pasien serta melakukan modifikasi lingkungan untuk memberikan kenyamanan kepada pasien HIV/AIDS.

29

Asuhan keperawatan pada aspek spiritual ditekankan pada penerimaan pasien terhadap sakit yang dideritanya (Ronaldson dalam Nursalam, 2007). Sehingga PHIV akan dapat menerima dengan ikhlas terhadap sakit yang dialami dan mampu mengambil hikmah. Asuhan keperawatan yang dapat diberikan menurut Nursalam (2007) adalah:

a) Menguatkan harapan yang realistis kepada pasien terhadap kesembuhan Harapan merupakan salah satu unsur yang penting dalam dukungan sosial. Orang bijak mengatakan “hidup tanpa harapan, akan membuat orang putus asa dan bunuh diri”. Perawat harus meyakinkan kepada pasien bahwa sekecil apapun kesembuhan, misalnya akan memberikan ketenangan dan keyakinan pasien untuk berobat.

b) Pandai mengambil hikmah Peran perawat dalam hal ini adalah mengingatkan dan mengajarkan kepada pasien untuk selalu berfikiran positif terhadap semua cobaan yang dialaminya. Dibalik semua cobaan yang dialami pasien, pasti ada maksud dari Sang Pencipta. Pasien harus difasilitasi untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan jalan melakukan ibadah secara terus menerus. Sehingga pasien diharapkan memperoleh suatu ketenangan selama sakit.

c) Ketabahan hati Karakteristik seseorang didasarkan pada keteguhan dan ketabahan hati dalam menghadapi cobaan. Individu yang mempunyai kepribadian yang kuat, akan tabah dalam menghadapi setiap cobaan. Individu tersebut biasanya mempunyai keteguhan hati dalam menentukan kehidupannya. Ketabahan hati sangat dianjurkan kepada PHIV. Perawat dapat menguatkan diri pasien dengan memberikan contoh nyata dan atau mengutip kitab suci atau

30

pendapat orang bijak; bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada umatNYA, melebihi kemampuannya (QS :

Al. Baqarah 286) B. Pengelolah Sebagai pengelola perawatan, perawat dapat berperan sebagai manajer kasus, maupun konsultan pasien HIV/AIDS dan keluarganya (Nursalam, 2007).

Menurut Pratt JR (2010) berbagai intervensi dapat diberikan untuk

pasien

perawatan secara umum, perawatan fisik, perawatan emosional, sosial dan rohani pada pasien dan keluarga.

termasuk didalamnya

HIV

pada

perawatan

jangka

panjang,

a) Perawatan secara umum Intervensi yang dapat dilakukan:

Penilaian holistik terhadap kebutuhan fisik, emosi,sosial, dan spiritual dan keluarganya.

Sistem rujukan untuk menghubungkan klien yang dapat membantu mengatasi masalah yang telah teridentfikasi

b) Perawatan Fisik Intervensi yang dapat dilakukan :

Penilaian, pencegahan, dan pengobatan rasa sakit

Penilaian,pencegahan dan pengobatan gejala lain

Pengajaran kemampuan perawatan diri untuk mengelola gejala efek samping di rumah dan mengetahui tanda-tanda bahaya

Pemperhatikan kebutuhan fisik dalam masa akhir kehidupan

Perawatan oleh pengasuh kelompok dukungan konsultasi

c) Perawatan Sosial Intervensi yang dapat dilakukan :

Bantuan dalam pengelolaan stigma dan diskriminasi

31

Dukungan dengan isu-isu hukum seperti mempersiapkan surat wasiat

Bantuan terhadap kebutuhan keuangan, kebutahan gizi perumahan dan pendidikan

d) Perawatan Rohani Intervensi yang dapat dilakukan:

Konsultasi spiitual

Konsultasi harian untuk aktifitas ruhani

3.2.4. Jenis dan Sumber Long Term Care Perawatan jangka panjang mungkin bersifat institusional atau berbasis rumah, formal atau informal. Perawatan jangka panjang institusional atau residensial didefinisikan sebagai penyediaan perawatan semacam itu kepada tiga atau lebih orang yang tidak terkait di tempat yang sama. Perawatan berbasis rumah dapat diberikan secara eksklusif di rumah atau dikombinasikan dengan perawatan di masyarakat (seperti di pusat hari, atau di bawah pengaturan yang dibuat untuk perawatan peristirahatan). Istilahnya mencakup asuhan asuh. Perawatan berbasis rumah juga dapat dipertimbangkan untuk mencakup perawatan yang diberikan kepada orang- orang yang "rumah" berada di luar definisi konvensional (misalnya keluarga keliling, orang-orang yang tinggal di tempat pembuangan sampah atau di daerah kumuh). Perawatan formal dapat didanai dan diatur secara publik, namun layanan tersebut dapat disediakan oleh organisasi pemerintah, oleh LSM (lokal, nasional, atau internasional), atau oleh sektor swasta. Biasanya disediakan oleh profesional (dokter, perawat, pekerja sosial) dan organisasi pelengkap, seperti pekerja perawatan pribadi (yang membantu mandi, berpakaian, dll.). Penyembuh tradisional mungkin merupakan sumber perawatan tambahan yang penting. Perawatan informal termasuk yang diberikan oleh anggota keluarga inti dan keluarga besar, tetangga, teman, dan relawan individual, serta bantuan yang diselenggarakan melalui organisasi sukarela seperti badan keagamaan ( WHO, 2000).

32

3.2.5. Kondisi Pasient Memeprlukan Long Term Care LTC dapat diberikan ke seseorang bila dalam keadaan berikut (Singh,

2016):

a) Memerlukan bantuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari (ADL) Terdapat skala untuk mengukur ketergantungan (dependency) seseorang. Skala ADL digunakan untuk menentukan apakah seseorang memerlukan bantuan dalam melakukan enam aktivitas dasar, seperti makan, mandi, berpakaian, menggunakan toilet, mempertahankan kontinensia, dan mobilitas. Skala pengukuran kedua yakni instrumental activities of daily living (IADL) yang terdiri dari aktivitas yang diperlukan untuk kehidupan independen seperti melakukan pekerjaan rumah, memasak, mencuci pakaian, berbelanja, meminum obat, menggunakan telepon, mengatur uang, dan bergerak di sekitar luar rumah (Lawton & Broody dalam Singh, 2016)

b) Memerlukan perawatan berkelanjutan setelah hospitalisasi Seringkali disebut subacute care, yaitu pelayanan untuk pasien yang sedang menjalani perawatan setelah hospitalisasi akibat penyakit berat, luka, atau bedah. Pasien seperti ini masih menjalani masa pemulihan, namun berisiko mengalami komplikasi dalam masa pemulihannya. Pasien juga mungkin membutuhkan perawatan kompleks seperti pemberian makan melalui selang atau terapi IV.

c) Memerlukan perawatan lingkungan khusus Biasanya terjadi pada anak dan remaja yang memiliki disabilitas fisik dan/atau mental. Banyak anak yang menderita kelainan sejak lahir, seprti spina bifida dan epilepsi. Pasien dengan demensia berat juga memerlukan lingkungan khusus.

33

Hal yang paling utama dalam memberikan fasilitas Long Term Care (LTC) bagi pemberi perawatan adalah dalam menentukan bagaimana perawat yang professional memberikan konsultasi secara rutin dan efektif. LTC dalam memberikan perawatan berfokus pada manajemen penyakit kronis dan promosi kesehatan. Strategi yang digunakan selama beberapa dekade terakhir adalah dengan menggunaan kombinasi terapi antiretroviral umumnya menghasilkan kontrol viremia HIV yang cepat dan berkelanjutan dan peningkatan CD4+ T-cell yang terus meningkat. Dengan keefektifan ART dalam perbaikan CD4+ T-cell, pengobatan tersebut memberikan penekanan viral load HIV di bawah batas deteksi tes rutin (<50 Copies/mL) pada semua pasien. Pada sebagian besar pasien, penekanan viral load akan dikaitkan dengan peningkatan CD4+ T-cell perifer yang terus berlanjut ke kisaran normal. Kemajuan ini telah sangat mengubah prognosis pasien terinfeksi HIV, yang menyebabkan infeksi oportunistik menurun. LTC juga memungkinkan ODHA berjuang melawan stigma, trauma, dan penolakan yang ada pada dirinya dengan memebrikan dukungan dan stabilitas, sehingga mereka dapat terlibat dan tetap dalam perawatan (Jelliman 2017). 3.2.6. Long Term Care Pada Pasien HIV/AIDS Dengan maraknya penggunaan highly active antiretroviral therapy (HAART), kondisi pasien AIDS berubah dari end-stage terminal illness menjadi kondisi kronis. Dengan menurunnya angka mortalitas, prevalensi HIV meningkat pada populasi manusia. Perawatan pada pasien HIV/AIDS mirip dengan karakteristik pasien LTC (Singh, 2016) Pasien HIV/AIDS rentan mengalami berbagai komorbiditas dan gangguan kognitif. Penyakit hati dan kardiovaskuler seringkali dikaitkan dengan penggunaan HAART jangka panjang. Pasien HIV/AODS juga berisiko tinggi mengalami bermacam-macam jenis kanker, depresi, demensia, dan penyakit Alzheimer (Cahill & Valadez, dalam Singh, 2016) dan memiliki berisiko mengalami penurunan berat badan dan inkontinensia urin (Shin, et al., dalam Singh, 2016) Banyak laporan bahwa lansia dengan HIV/AIDS memiliki kemampuan fisik yang rendah dan tidak independen.

34

Faktor-faktor inilah yang mengindikasikan bahwa diperlukannya LTC bagi pasien HIV/AIDS. Pasien HIV/AIDS memerlukan perawatan medis dan dukungan sosial setiap waktunya (Singh, 2016). HIV selain menyebabkan gangguan fisik, juga dapat menyebabkan gangguan sosial yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan pasien. Stigma negatif dan diskriminatif dapat menghambat proses penanganan penyakit HIV dan penyebaran epidemik HIV/AIDS. Stigma tersebut secara tidak langsung dapat menurunkan kualitas hidup seorang pasien dengan HIV. Rendahnya kualitas hidup pasien HIV akan mempengaruhi kesehatan dari pasien itu sendiri. Peningkatan kualitas hidup tidak hanya dapat dilakukan melalui proses penyembuhan secara fisik, hal yang paling utama adalah meningkatkan pemahaman pasien tentang penyakitnya dan merubah orientasi pemikiran pasien dari kesembuhan menjadi kearah penyerahan diri kepada Tuhan dan hubungan dengan orang lain (hubungan sosial). Salah satu pendekatan yang sering digunakan dalam pendampingan pasien yang telah lama mengidap HIV/AIDS adalah melalui terapi spiritual. Terapi spiritual yang dilakukan secara tidak langsung dapat meningkatkan makna spiritualitas pasien tentang penyakitnya. Spiritualitas merupakan bagian dari kualitas hidup berada dalam domain kapasitas diri atau being yang terdiri dari nilai-nilai personal, standar personal dan kepercayaan. Terdapat empat hal yang diakui sebagai kebutuhan spiritual yaitu proses mencari makna baru dalam kehidupan, pengampunan, kebutuhan untuk dicintai, dan pengharapan. Penemuan makna baru dalam kehidupan ini akan memfasilitasi pasien HIV/AIDS untuk pengampunan terhadap dirinya sendiri (Hidayanti, dkk., 2015). Penyakit HIV/AIDS dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya seperti meningkatkan ketergantungan pada orang lain, mental disorder seperti depresi, cemas, putus asa, dan khawatir, serta berpengaruh pada rusaknya kehidupan sosial seperti mengisolasikan diri dan mendapat stigmatisasi. HIV/AIDS adalah ”medical illness” dan juga ”terminal

35

illness”. Lebih lanjut dijelaskan bahwa individu dengan HIV/AIDS membutuhkan terapi dengan pendekatan bio-psiko-sosio-spiritual, artinya melihat pasien tidak semata-mata dari segi organobiologik, psikologik, psiko-sosial tetapi juga aspek spritual/kerohanian. Dengan demikian jelaslah bahwa penderita HIV/AIDS memiliki masalah yang kompleks (biopsiko-sosio-religius). Penderita HIV/AIDS dengan berbagai masalahnya membutuhkan perawatan holistik. Perawatan holistik bagi pasien penyakit terminal dalam dunia kedokteran dikenal dengan perawatan paliatif. perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan memperbaiki kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa, melalui pencegahan dan peniadaan melalui identifikasi dini dan penilaian yang tertib serta penanganan nyeri dan masalah-masalah lain, fisik, psikososial dan spiritual. dan juga untuk memenuhi kebutuhan pasien dengan memadukan perawatan medis, dukungan social emosional, konseling, dan perawatan spiritual. Dengan demikian artinya implementasi perawatan paliatif membutuhkan keterlibatan berbagai profesi. Tim perawatan kesehatan seharusnya meliputi dokter, perawat dan ahli terapis serta kelompok profesional lainnya seperti pekerja sosial dan rohaniawan. Mereka yang memiliki peningkatan spiritual memberikan efek positif seperti berkurangnya rasa sakit, munculnya energi positif, hilangnya psychological distress, hilangnya depresi, kesehatan mental yang lebih baik, meningkatnya fungsi kognitif dan sosial, serta berkurangnya perkembangan gejala HIV. Sementara mereka yang mengembangkan respons spiritual yang negatif seperti marah kepada Tuhan, menganggap penyakit sebagai hukuman, dan mengalami keputusasaan justru mempercepat progresivitas penyakit HIV/AIDS. Efektivitas pendekatan holistik dengan menyentuh aspek spiritual dalam merawat orang dengan HIV/AIDS (Odha) mampu mengantarkan mereka menemukan kembali harapan dan makna hidup, serta memperbaiki martabat yang mendapat stigma dan dihantui perasaan bersalah terhadap diri sendiri atau keluarga,

36

dan meningkatkan ketrampilan untuk bertahan hidup. Dengan demikian diketahui bahwa kebutuhan spiritualitas memberikan kontribusi yang maha penting dalam perjalanan hidup orang dengan HIV/AIDS. Pemenuhan kebutuhan rohani pasien HIV/AIDS dilakukan dalam bentuk konseling Islam yang terintegrasi dalam pelayanan kesehatan melalui klinik VCT HIV/AIDS (Hidayanti, dkk., 2015). 3.2.7. Tantangan Pelaksanaan Long Term Care Tantangan dalam pelaksanaan long term care (perawatan jangka panjang) adalah adanya perubahan budaya, serta pengembangan lahan praktik dan pendidikan yang belum memadai. Dalam perawatan, keterlibatan orang-orang di sekitar klien diperlukan dalam pengambilan keputusan bagi tindakan perawatan klien. Dampak positif dari long term care meliputi peningkatan kualitas pelayanan dan kepuasan klien, penurunan biaya karena meningkatkan kesehatan, serta meningkatkan kompetensi perawat (1) . Pada long term care, praktisi perawat mampu memberikan kualitas pelayanan yang tinggi, seperti mengelola penyakit kronis, manajemen nyeri, serta mengurangi kunjungan ke rumah sakit. Praktisi perawat mampu menilai kondisi akut, memberikan pelayanan teratur, dan mengelola kondisi klien (manajemen kasus). Donald, et al (2013) melaporkan adanya peningkatan status kesehatan dan kualitas hidup dewasa lanjut, serta kepuasan keluarga pada long term care. Stollee, et al (2006) dalam McAiney, et al (2008) dan Kaaslalainen, et al (2010), menunjukkan bahwa praktisi perawat asuhan keperawatan pada jangka panjang memiliki pengaruh positif, meningkatkan keterampilan dalam mengindentifikasi masalah potensial, mengelola kondisi medis, dan masalah psikososial. Fasilitas long term care berpotensi untuk meningkatkan keuangan melalui pengurangan pembiayaan rumah sakit dalam merujuk ke instalansi darurat (Kane, et al, 2003; Klassen, Lamont, dan Krishan, 2009). Fasilitas untuk mengimplementasikan praktisi perawat pada long term care termasuk mendapatkan dukungan dan komitmen untuk kepemimpinan keperawatan, menghasilan pengetahuan dan komunikasi,

37

menyediakan

interaksi interdisipliner.

pelayanan

yang

efektif

38

dan

efesien,

serta

membangun

BAB 4

PENUTUP

4.1. Kesimpulan Human Immunodeficiency virus ( HIV ) adalah sejenis virus yang menyerang/menginfeksi sel darah putih yang menyebabkan turunya kekebalan tubuh manusia. Diseluruh dunia pada tahun 2013 ada 35 juta orang hidup dengan HIV yang meliputi 16 juta perempuan dan 3,2 juta anak berusia <15 tahun. HIV/AID ini disebabkan hubungan seksual, pertukaran cairan dan penggunaan jarum suntik yang secara bergantian. spiritualitas/agama dapat memperburuk hasil karena potensial kepercayaan pada Tuhan dan penolakan terapi ARV serta pandangan bahwa HIV merupakan hukuman dari Tuhan atas kebiasaan dan gaya hidup yang penuh dosa akan tetapi menurut Hasil penelitian mengenai pengaruh spiritualitas/agama terhadap ODHA cenderung

bervariasi dan Tingginya tingkat spiritualitas/agama dapat dihubungkan dengan menurunnya distres psikologis, nyeri, dan meningkatnya keinginan untuk hidup, aspek kognitif dan fungsi sosial yang lebih baik semenjak terdiagnosa HIV. Terapi yang dapat digunakan pada pasien HIV adalah terapi ARV dan juga menggunkan Long Term Care yang bertujuan satu diantaranya adalah sebagai mendukung peningkatan akses untuk mendapatkan perawatan secara terus menerus

4.2. Saran

4.2.1. Dalam mempelajari Tinjauan Agama Tentang HIV/AIDS dan Long Term Care, seorang calon perawat atau tenaga kesehatan lainnya diharapkan mengetahui mengenai HIV, aspek keyakinan agama pasien HIV, mengetahui dan mampu melaksanakan Long Term Care sesuai dengan prosedur keperawatan. 4.2.2. Kepada pembaca, jika menggunakan bahan ini sebagai acuan dalam pembuatan makalah atau karya tulis yang berkaitan dengan judul makalah ini, diharapkan kekurangan yang ada pada makalah ini dapat diperbaharui

dengan lebih baik

39

Daftar Pustaka

Alhumair, Inshan Kamila. (2017) . Pengetahuan Dasar Tentang HIV/AIDS. (

2017

Diakses

tanggal

04

oktober

Aminah, Siti Mardiatul. (2010). Memperbarui Sikap Agama-agama Terhadap Masalah HIV/AIDS. Diakses tanggal 20 oktober 2017

Aristiana, N., Baidi Bukhori., Hasyim Hasanah. (2015). Pelayanan Bimbingan Dan Konseling Islam Dalam Meningkatkan Kesehatan Mental Pasien Hiv/Aids Di Klinik Vct Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Jurnal Ilmu Dakwah. 35(2) ISSN 1693-8054. Diakses pada tanggal 4

2017.

okteber

Armiyati, Y., Desy ,Ariana Rahayu., Siti Aisah. (2015). Manajemen Masalah Psikososiospiritual Pasien HIV/AIDS Di Kota Semarang. The 2nd University Research Coloquium. ISSN 2407-9189.

Baharuddin, M. (2010). Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penderita HIV/AIDS dan Upaya Pencegahannya. ASAS vol. 2(2).

Berita Islami Masa kini. (2015). Bahaya HIV/AIDS. Https://youtu.be/0- pzw0BKgac diakses pada tanggal 21 oktober 2017.

Canadian Nurses Association. Nurse Practitioners in Long-Term Care. Canada:

Canadian Nurses Association; 2013. hal. 15.

CH, Mufidah. (2012). Penanggulan HIV/AIDS Melalui Jejaring Antar Lembaga Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Malang Jawa Timur Nomor 14 Tahun 2008. Tarbiyah Jurnal Pendidikan Islam.

Darmadi, Darmadi, dan Riska Habriel Ruslie (2012) Diagnosis dan Tatalaksana Infeksi HIV pada Neonatus. Majalah Kedokteran Andalas vol. 36(1).

Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat. (2012). Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat. Diakses pada 11-09-2017.

Handoko, A. V., & Sofro, M. A. (2012). Hubungan Antara Hitung Sel CD4 Dengan Kejadian Retinitis Pada Pasien HIV Di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Doctoral Dissertation, Fakultas Kedokteran.

Harisson, KM. (2009). Life Expectancy Still Shorter For People With HIV.

Hidayanti,Ema dkk .(2016).Kontribusi Konseling Islam Dalam Mewujudkan Palliative Care Bagi Pasien Hiv/Aids Di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.RELIGIA, Vol. 19, No. 1, April 2016.Hal: 113-132

40

Hidayat,

Adi.

(2017).

Sejarah

yang

ditutupi

dari

penyakit

HIV/AIDS.

2017.

Diakses pada tanggal 21 oktober

Hidayat, Uti Rusdian., Agung Waluyo dan Riri Maria. (2017). Sikap Masyarakat Pada Odha Di Desa Serangkat Kabupaten Bengkayang Propinsi Kalimantan Barat. Jurnal Vokasi Kesahatan vol 3(1). Hal 22-27. ISSN

2442-5478.

Infodatin. (2015). Situasi dan Analisis HIV AIDS. Pusat Data Dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. Diakses tanggal 04 oktober 2017 http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/Infodatin %20AIDS.pdf .

Jelliman P. & Lorna P. (2017). HIV Is Now A Manageable Long-Term Condition. A Qualitative Study Exploring Views About Disitinguishing Features From Multi-Proffesional HIV Specialists In North West England. Journal Of Association Of Nurses In AIDS Care, Vol. 28, No. 1. Liverpool:

Elsevier Inc.

JW Mellors., A Munoz., JV Giorgi., JB Margolick., CJ Tassoni., P Gupta et al. (19970. Plasma Viral Load And CD4+ Lymphocytes As Prognostic Markers Of HIV-1 Infection. Ann Intern Med 126(12) :945-54.

Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehat Lingkungan. (2013). Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral pada Orang Dewasa. Jakarta:

Depkes RI.

Kementerian

Kesehatan

RI

Direktorat

Jendral

Pengendalian

Penyakit

dan

Penyehat

Lingkungan.

(2013).

Pedoman

Nasional

Tatalaksana

Klinis

Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral pada Depkes RI.

Orang

Dewasa.

Jakarta:

Nursalam. (2007). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Terinfeksi HIV. Jakarta:

Salemba Medika.

Pratt, J.R. (2010). Long Term Care: Managing Across The Continuum Third Edition. Canada: Jones And Bartlett Publishers.

Rosella,M. (2013). Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Harapan Hidup 5 Tahun Pasien Human Immunodeficiency Virus (HIV) / Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) Di Rsup Dr. Kariadi Semarang.

Rossella, M & Sofro, M. A. U. (2013). Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Harapan Hidup 5 Tahun Pasien Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immune Deficiency Syndrome (Aids) Di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Doctoral Dissertation, Faculty Of Medicine Diponegoro University.

41

Silvestre JH, Bowers BJ, Gaard S. Improving the Quality of Long-Term Care. Journal of Nursing Regulation [Internet]. Elsevier Masson SAS; 2015;6(2):526. Diambil dari: http://dx.doi.org/10.1016/S2155-

Singh, Douglas A. (2016). Effective Management of Long-Term Care Facilities third edition. Burlington: Jones & Barlett Learning.

Sterling ,TR., Vlahov D., Astemborski J., Hoover DR., Margolick JB., Quinn TC. (2001). Initial Plasma HIV-1 RNA Level And Progression To AIDS In Women And Men. N Engl J Med. 344(10):720-5.

Syarif, A. (2012). Tarbiyatuna. Jurnal Pendidikan Islam.

Szaflarski, M. (2013). Spirituality and Religion Among HIV-Infected Individuals. Curr HIV/AIDS Rep. 2013 10(4): 324 332. doi:10.1007/s11904-013-

0175-7.

UNAIDS. (2015). Epidemiology Global Statistics Fact Sheet HIV/AIDS 2015.

UNAIDS. (2015). Epidemiology Global Statistics Fact Sheet HIV/AIDS 2015.

Unicef Indonesia. (2012). Ringkasan Kajian Respon Terhadap HIV & AIDS. Diakses dari: https://www.unicef.org/indonesia/id/A4_- _B_Ringkasan_Kajian_HIV.pdf

Unicef Indonesia. (2012). Ringkasan Kajian Respon Terhadap HIV & AIDS. Diakses dari: https://www.unicef.org/indonesia/id/A4_- _B_Ringkasan_Kajian_HIV.pdf

Wainberg,

MA.,

Zaharatos

GJ.,

Brenner

BG.

(2011).

Development

Of

Antiretroviral Drug Resistance. N Engl J Med 365:637-46.

WHO (2015) Guideline on When to Start Aniretroviral Therapy and on Pre- exposure Prophylaxis for HIV. Switzerland: World Health Organization

Wirawan, W. (2016). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Berisiko Penyakit HIV/AIDS Pada Remaja di SMAN 6 Kecamatan Padang Selatan Kota Padang Tahun 2016. Padang: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas Padang.

World Health Organization . (2000). HOME-BASED LONG-TERM CARE.

Group.

WHO

Study

diakses tanggal 27 oktober 2017.

Yusri A, Sori M, Rasmaliah. 2012. Karakteristik Penderita AIDS dan Infeksi Oportunistik Di Rumah Sakit umum Pusat (RSUP) H. Adam Malik Medan tahun 2012. ( Diakses tanggal 04 oktober 2017 http://download.portalgaruda.org/article.php?article=131358&val=4108 )

42