Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KASUS

G3P2A0 Hamil 38 minggu dengan Hemoragik Antepartum Berulang et


causa Plasenta Previa Totalis
Janin Tunggal Hidup Intrauterin Presentasi Kepala

Pembimbing:
dr. I Gusti Ngurah Elbatiputera, Sp.OG

Disusun oleh:
Fitriani Rahmawati
030.14.072

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH
PERIODE 1 OKTOBER - 8 DESEMBER 2018
JAKARTA
LEMBAR PENGESAHAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI


JAKARTA
Judul:

“G3P2A0 Hamil 38 minggu dengan Hemoragik Antepartum Berulang


et causa Plasenta Previa Totalis
Janin Tunggal Hidup Intrauterin Presentasi Kepala”

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan


Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan
Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih
Periode 1 Oktober - 8 Desember 2018

Disusun oleh :
Fitriani Rahmawati
030.14.072

Jakarta, November 2018


Mengetahui,

dr. I Gusti Ngurah Elbatiputera, Sp.OG

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya
yang begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan
kasus yang berjudul G3P2A0 Hamil 38 minggu dengan Hemoragik
Antepartum Berulang et causa Plasenta Previa Totalis, Janin Tunggal Hidup
Intrauterin Presentasi Kepala tepat pada waktunya.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai


pihak yang telah membantu dalam penyusunan dan penyelesaian laporan kasus
ini, terutama kepada dr. I Gusti Ngurah Elbatiputera, Sp.OG selaku pembimbing
yang telah memberikan waktu dan bimbingannya sehingga laporan kasus ini dapat
terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan laporan kasus ini masih
banyak kekurangan, oleh karena itu, segala kritik dan saran dari semua pihak yang
membangun guna menyempurnakan laporan kasus ini sangat penulis harapkan.
Demikian yang penulis dapat sampaikan, semoga laporan kasus ini dapat
bermanfaat dalam bidang kedokteran, khususnya untuk bidang kebidanan dan
kandungan.

Jakarta, November 2018

Fitriani Rahmawati

iii
DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
BAB II LAPORAN KASUS ................................................................................... 2
BAB III TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 13
I.Anatomi Plasenta ............................................................................................ 13
II.Definisi Plasenta Previa ................................................................................. 15
III.Etiologi Plasenta Previa................................................................................ 15
IV.Faktor Risiko Plasenta Previa ...................................................................... 15
V.Klasifikasi Plasenta Previa ............................................................................ 16
VI.Patofisiologi Plasenta Previa ........................................................................ 17
VII.Diagnosa dan Gambaran Klinik .................................................................. 18
VIII.Komplikasi Plasenta Previa ....................................................................... 20
IX.Tatalaksana Plasenta Previa ......................................................................... 20
X.Diagnosa Banding Plasenta Previa ................................................................ 23
XI.Prognosis ...................................................................................................... 24
BAB IV ANALISA KASUS................................................................................. 25
BAB V KESIMPULAN ........................................................................................ 27
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 28

iv
BAB I

PENDAHULUAN

Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi setelah kehamilan


28 minggu. Biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada kehamilan
sebelum 28 minggu. Perdarahan sebelum, sewaktu, dan sesudah bersalin adalah
kelainan yang tetap berbahaya dan mengancam jiwa ibu.1 Perdarahan antepartum
yang berbahaya biasanya bersumber pada kelainan plasenta, sedangkan
perdarahan yang tidak bersumber pada plasenta seperti kelainan serviks biasanya
tidak terlalu berbahaya.

Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah


rahim sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari ostium uteri internum.2
Prevalensi kejadian plasenta previa di dunia diperkirakan sekitar 0.52%.
Prevalensi plasenta previa tertinggi terdapat wilayah Asia yaitu sekitar 1,22%
sedangkan untuk wilayah Eropa lebih rendah yaitu 0,36%. Amerika Utara 0,29%
dan Sub-Sahara Afrika 0,27%.3 Secara global prevalensi plasenta previa yaitu 5,2
per 1000 kehamilan dengan kejadian tertinggi didapatkan pada wanita Asia
dengan prevalensi yaitu 12,2 per 1000 kehamilan.3-5 Di Indonesia sendiri, angka
kejadian plasenta previa pada tahun 2005 berjumlah 4.726 dari 170.725 kehamilan
patologis di rumah sakit (2.77%).4

Penyebab terjadinya plasenta previa belum diketahui secara pasti.


Beberapa faktor resiko yang dihubungkan dengan kejadian plasenta previa antara
lain riwayat merokok, paritas tinggi, usia lanjut, cacat rahim misalnya bekas
bedah sesar, kerokan dan miomektomi.5 Diagnosis pasti plasenta previa dapat
ditegakkan melalui USG secara trans abdominal maupun trans vaginal.6
Penanganan plasenta previa dapat secara aktif berupa seksio sesarea
maupun konservatif tergantung pada luas dan keparahan perdarahan, umur
kehamilan dan kondisi janin, posisi plasenta dan janin, dan apakah perdarahan
telah berhenti.7

1
BAB II

LAPORAN KASUS

I. Identitas Pasien
Nama : Ny. Siti Muniroh
Tempat/tanggal lahir : Serang, 01 Januari 1982
Usia : 36 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Pondok Dayung RT/RW 03/01
Pisangan Baru, Matraman
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Status pernikahan : Menikah
No. RM : 01146748
Tanggal masuk RS : 17 Oktober 2018

II. Anamnesis
a. Keluhan utama:
Pasien G3P2A0 hamil 38 minggu datang ke Poli Kebidanan RSUD
Budhi Asih dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir sejak tanggal 15
Oktober 2018

b. Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien datang dari Poli Kebidanan rujukan dari Puskesmas Kecamatan
Matraman atas indikasi plasenta previa. Pasien datang dengan keluhan
keluar darah dari jalan lahir. Perdarahan terjadi sejak tanggal 15 Oktober
2018 dan darah yang keluar berwarna merah segar sebanyak ± 150 cc
disertai dengan keluhan mules-mules. Pasien tidak ada nyeri abdomen.
Sebelumnya pasien pernah mengalami keluhan yang sama yaitu keluar
darah dari jalan lahir namun darah yang keluar hanya sedikit, air
ketuban belum merembes dan pasien masih merasakan gerakan janin.

2
Riwayat trauma sebelumnya disangkal pasien. Pada saat perdarahan
pertama, pasien memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Kecamatan
Matraman dan dilakukan pemeriksaan USG didapatkan hasil yaitu
plasenta berada di bagian terbawah jalan lahir.

c. Riwayat penyakit dahulu:


Hipertensi (-), DM (-), asma (-), alergi obat (-), penyakit paru (-),
penyakit jantung (-)

d. Riwayat penyakit keluarga:


Hipertensi (-), DM (-), asma (-), alergi obat (-), penyakit paru (-),
penyakit jantung (-)

e. Riwayat menstruasi:
Menarche : 13 tahun
Siklus : 28 hari
HPHT : 24 Januari 2018
TP : 31 Oktober 2018

f. Riwayat pernikahan:
Menikah satu kali, dan status saat ini masih menikah

g. Riwayat persalinan:
Anak pertama : persalinan normal / tahun 2002 / perempuan / bb
lupa / bidan / sehat
Anak kedua : persalinan normal / tahun 2008 / laki-laki / 4000 gr
/ bidan / sehat
Anak ketiga : hamil ini

3
h. Riwayat keluarga berencana:
Pasien pernah mengikuti program keluarga berencana dengan
menggunakan metode pil. Pasien berhenti minum pil sejak 7 bulan yang
lalu.

i. Riwayat ginekologi:
Pasien mengaku tidak pernah mengalami masalah kesehatan mengenai
alat reproduksinya

j. Riwayat operasi:
Pasien tidak pernah melakukan operasi sectio caesarea ataupun operasi
penyakit lain

k. Riwayat antenatal care:


Pasien mengaku melakukan pemeriksaan selama kehamilan ini sebanyak
lima kali. Dua kali di Puskesmas Kecamatan Matraman dan tiga kali di
Poli Kebidanan RSUD Budhi Asih

l. Riwayat kebiasaan:
Pasien mengaku tidak pernah merokok, alkohol, dan NAPZA. Tidak ada
mengkonsumsi obat-obatann rutin untuk penyakit lain. Pasien mengaku
jarang olahraga dan mengaku setiap pagi sering minum jamu.

III. Pemeriksaan Fisik


Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital : TD : 122/74 mmHg
Nadi : 80 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36,7 ºC

4
Kepala : Normocephali, rambut hitam, tidak mudah rontok
Mata : Conjungtiva anemis -/- , sklera tidak ikterik, edema palpebra -/-
THT : Sekret telinga -/-, sekret hidung -/-, tonsil tidak hiperemis, T1 –
T1
Leher : KGB tidak membesar, tiroid tidak teraba membesar
Thorax :
Mammae : Simetris
Pulmo : Suara nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Cor : S1-S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : Supel
Ekstremitas : Akral hangat (+/+), edema tungkai (-/-)

Status Obstetri
Inspeksi :
Dada : mamae tegang, areola dan papilla mammae
hiperpigmentasi
Abdomen : perut tampak membesar kedepan, stria gravidarum
(+), bekas sectio caesarea (-)
Genitalia : tampak darah segar keluar dari jalan lahir
Palpasi :
Leopold I : teraba bagian besar, bulat dan lunak
Leopold II : kanan teraba bagian keras dan memanjang, kiri
teraba bagian kecil-kecil dari janin
Leopold III : teraba bagian bulat, keras. Bagian terbawah belum
masuk pintu atas panggul
Leopold IV : 5/5 konvergen
TFU : 32 cm
Auskultasi : menggunakan doppler : 133x/menit
VT : tidak dilakukan

5
IV. Pemeriksaan penunjang
Laboratorium tanggal 17 Oktober 2018
Jenis pemeriksaan Hasil Nilai normal

1. Hemoglobin : 10,6 g/dL 11,7 – 15,5 g/dL


2. Eritrosit : 4,1 juta/μL 3,8 – 5,2 juta/μL
3. Leukosit : 9,500/μL 4.000-11.000/μL
4. Hematokrit : 32% 35 – 47%
5. Trombosit : 258,000/μL 150.000 – 440.000/μL

Faal Hemostasis

6. Waktu Perdarahan : 2.30 menit 1-6


7. Waktu Pembekuan : 10.00 menit 5-15

Laboratorium tanggal 19 Oktober 2018


Jenis pemeriksaan Hasil Nilai normal
1. Hemoglobin : 9,8 g/dL 11,7 – 15,5 g/dL
2. Eritrosit : 3,8 juta/μL 3,8 – 5,2 juta/μL
3. Leukosit : 9,800/μL 4.000-11.000/μL
4. Hematokrit : 30% 35 – 47%
5. Trombosit : 231,000/μL 150.000 – 440.000/μL

Faal Hemostasis

6. Waktu Perdarahan : 3,00 menit 1-6


7. Waktu Pembekuan : 12,30 menit 5-15

Metabolisme Karbohidrat

8. Glukosa Darah Sewaktu : 69 mg/dL <110

6
Imunoserologi

9. Anti HIV
Screening/Rapid test : Non reaktif Non reaktif

Hepatitis

10. HBsAg Kualitatif : Non reaktif Non reaktif


Ginjal
11. Ureum : 13 mg/dL 13-43
12. Kreatinin : 0,60 mg/dL <1,1

Pemeriksaan USG tanggal 25 September 2018

Janin : tunggal
Presentasi : kepala

7
Aktifitas janin : normal
Denyut jantung : positif
Punggung : kiri
Taksiran berat janin : 2741 gram
Plasenta : corpus belakang, plasenta menutupi ostium uteri
internum
Cairan amnion : cukup
Jenis kelamin : perempuan
Kesimpulan : janin tunggal hidup intra uterin presentasi kepala,
hamil 34-35 minggu dengan plasenta menutupi ostium uteri internum

Pemeriksaan CTG tanggal 17 Oktober 2018

CTG: baseline FHR 1:140 bpm, normal variability, his 1’10”, kekuatan his
80%

V. Diagnosa
G3P2A0 hamil 38 minggu dengan hemoragik antepartum berulang et causa
plasenta previa totalis, janin tunggal hidup intra uterin presentasi kepala

8
VI. Penatalaksanaan
1. Observasi keluhan utama dan tanda vital
2. Observasi denyut jantung janin dan his
3. Obsevasi perdarahan pervaginam
4. Bedrest

Konsultasi dokter spesialis:

1. Infus asering 20 tpm


2. Profenid supp 100 mg
3. Rencana operasi sectio caesarea
4. Persiapkan pemasangan dower cateter
5. Cefriaxone 2gr dalam NaCl 100ml 28tpm

VII. Prognosis
Ad Vitam : dubia ad bonam
Ad Functionam : dubia ad bonam
Ad Sanationam : dubia ad bonam

VIII. Follow-up
Tanggal 17 Oktober 2018
Jam 12.00: Lakukan anamnesis dan pemeriksaan obstetri
Jam 12.15: Instruksi dr. IGN Elbatiputera, sp.OG di poli R/SC
Jam 13.15: dr. Agriana Puspitasari visit VK dan diinstruksikan observasi djj
dan perdarahan pervaginam. Berikan profenid sup 2
Jam 14.00: Keadaan umum: baik, kesadaran: cm, TD: 120/80mmHg, HR:
80x/mnt, suhu: 36,5°c. DJJ: 147-151x/mnt. VT tidak dilakukan.
Perdarahan pervaginam sedikit.
Jam 14.00-18.50: Observasi KU dan TTV, observasi DJJ dan his, observasi
perdarahan pervaginam
Jam 21.35: Persiapan operasi:
Pengisian surat persetujuan pembedahan

9
Pemasangan DC urine

Tanggal 18 Oktober 2018

Jam 05.00: Profilaksis antibiotik ceftriaxone 2 gr IV


Jam 07.44: Dilakukan tindakan sectio caesarea
Jam 08.10: Instruksi post operasi
Observasi keadaan umum dan tanda vital
Observasi perdarahan pervaginam
Infus asering 20 tpm
Co amoxciclav 3x625mg
Asam mefenamat 3x500mg
Ferrofort tab 1x1
Jam 10.00: Subject: pasien mengeluh kaki masih terasa baal
Objective: TD: 125/81mmHg, HR: 81x/mnt, RR: 20x/mnt, suhu:
36,5°c. kontraksi uterus baik, perdarahan pervaginam biasa.
Assesment: P3A0 post sc cito dengan hemoragik antepartum
berulang et causa plasenta previa totalis
Plan: observasi keluhan dan tanda vital, observasi kontraksi
uterus, observasi perdarah pervaginam, terapi medika mentosa
sesuai instruksi post operasi

Tanggal 19 Oktober 2018


Jam 05.00: Subject: pasien mengeluh nyeri luka operasi
Objective: TD: 107/97mmHg, HR: 70x/mnt, RR: 20x/mnt, suhu:
36,5°c. kontraksi uterus baik, perdarahan pervaginam biasa. ASI
+, BAB -, BAK +
Assesment: P3A0 post sc cito dengan hemoragik antepartum
berulang et causa plasenta previa totalis, NH1
Plan: observasi keluhan dan tanda vital, observasi kontraksi
uterus, observasi perdarah pervaginam, terapi medika mentosa
sesuai instruksi post operasi

10
Tanggal 20 Oktober 2018
Jam 05.00: Subject: pasien mengeluh nyeri luka operasi
Objective: TD: 110/80mmHg, HR: 82x/mnt, RR: 20x/mnt, suhu:
36,2°c. kontraksi uterus baik, perdarahan pervaginam biasa. ASI
+, BAB -, BAK +
Assesment: P3A0 post sc cito dengan hemoragik antepartum
berulang et causa plasenta previa totalis, NH2
Plan: observasi keluhan dan tanda vital, observasi kontraksi
uterus, observasi perdarah pervaginam, terapi medika mentosa
sesuai instruksi post operasi

Tanggal 21 Oktober 2018


Jam 05.00: Subject: pasien mengeluh nyeri luka operasi
Objective: TD: 120/70mmHg, HR: 80x/mnt, RR: 20x/mnt, suhu:
36,0°c. kontraksi uterus baik, perdarahan pervaginam biasa. ASI
+, BAB -, BAK +
Assesment: P3A0 post sc cito dengan hemoragik antepartum
berulang et causa plasenta previa totalis, NH3
Plan: observasi keluhan dan tanda vital, observasi kontraksi
uterus, observasi perdarah pervaginam, terapi medika mentosa
sesuai instruksi post operasi

IX. Resume

Pasien datang dari Poli Kebidanan rujukan dari Puskesmas Kecamatan


Matraman atas indikasi plasenta previa. Pasien datang dengan keluhan keluar
darah dari jalan lahir. Perdarahan terjadi sejak tanggal 15 Oktober 2018 dan darah
yang keluar berwarna merah segar sebanyak ± 150 cc disertai dengan keluhan
mules-mules. Pasien tidak ada nyeri abdomen. Sebelumnya pasien pernah
mengalami keluhan yang sama yaitu keluar darah dari jalan lahir namun darah
yang keluar hanya sedikit, air ketuban belum merembes dan pasien masih

11
merasakan gerakan janin. Riwayat trauma sebelumnya disangkal pasien. Pada saat
perdarahan pertama, pasien memeriksakan kehamilannya di Puskesmas
Kecamatan Matraman dan dilakukan pemeriksaan USG didapatkan hasil yaitu
plasenta berada di bagian terbawah jalan lahir. Pasien masuk dengan diagnosa
G3P2A0 hamil 38 minggu dengan hemoragik antepartum berulang et causa
plasenta previa totalis.

Keadaan umum baik dengan tekanan darah 122/74 mmHg, nadi 80 x/menit,
pernapasan 20 x/menit, suhu 36,7 ºC. Denyut jantung janin 133x/menit, tinggi
fundus uteri 32cm, dan vaginal toucher tidak dilakukan. Pada pemeriksaan
penunjang didapatkan hemoglobin: 10,6 g/dL, eritrosit: 4,1 juta/μL, leukosit:
9,500/μL, hematokrit: 32%, trombosit: 258,000/μL. USG janin tunggal hidup intra
uterin presentasi kepala, hamil 34-35 minggu dengan plasenta menutupi ostium
uteri internum. Pasien disarankan dilakukan tindakan sectio caesarea.

Pada tanggal 18 Oktober 2018 dilakukan tindakan operasi sectio caesarea


dengan dilahirkannya bayi berjenis kelamin perempuan, ketuban jernih, tidak ada
komplikasi, perdarahan ±300cc. kemudian pasien diberikan terapi medika
mentosa dan non mediika mentosa post operasi. Pada tanggal 21 Oktober 2018
pasien dipulangkan setelah hasil observasi dalam keadaan baik dan diberikan
terapi pulang yaitu co amoxciclav 3x625mg, asam mefenamat 3x500mg, dan
ferrofort 1x1.

12
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

I. Anatomi Plasenta
Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm
dan tebal 2-3 cm. Beratnya 500-600 gram. Umumnya plasenta terbentuk lengkap
pada kehamilan 16 minggu dengan ruang amnion membesar sehingga amnion
tertekan kearah korion. Letak plasenta biasanya umumnya di depan atau di
belakang dinding uterus, sedikit ke atas ke arah fundus uteri.8 Hal ini adalah
fisiologis karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas, sehingga lebih
banyak tempat untuk berimplantasi. Plasenta terdiri atas tiga bagian, antara lain:
1. Bagian janin (fetal portion). Terdiri dari korion frondosum dan vili.
Vili dari plasenta yang lengkap terdiri atas:
- Vili korialis
- Ruang-ruang interviler. Darah ibu yang berada dalam ruang
interviler berasal dari arteri spiralis yang berada di desidua
basalis. Pada sistol, darah dipompa dengan tekanan 70-
80mmHg ke dalam ruang interviler, sampai pada lempeng
korionik (chorionic plate) pangkal dari kotiledon-kotiledon.
Darah tersebut membanjiri vili koriales dan kembali perlahan-
lahan ke pembuluh balik (vena) di desidua dengan tekanan
8mmHg.
- Pada bagian permukaan janin, plasenta diliputi oleh amnion
yang kelihatan licin. Di bawah lapisan, amnion ini berjalan
cabang-cabang pembuluh darah tali pusat. Tali pusat akan
berinsersi pada plasenta bagian permukaan janin.
2. Bagian maternal (maternal portion). Terdiri atas desidua kompakta
yang terbentuk dari beberapa lobus dan kotiledon (15-20 buah).
Desidua basalis pada plasenta matang disebut lempeng korionik
(basal), dimana sirkulasi utero-plasental berjalan ke ruang-ruang
intervili melalui tali pusat. Jadi, sebenarnya peredaran darah ibu dan

13
janin adalah terpisah. Pertukaran terjadi melalui sinsitial membran
yang berlangsung secara osmosis dan alterasi fisiko-kimia.
3. Tali pusat, merentang dari pusat janin ke plasenta bagian permukaan
janin. Panjangnya rata-rata 50-55cm, sebesar jari (diameter 1-2,5cm).
Pernah dijumpai tali pusat terpendek ½ cm dan terpanjang 200 cm.
Struktur terdiri atas 2 aa.umbilikalis dan 1 v.umbilikalis serta jelly
Wharton.
Darah ibu yang mengalir di seluruh plasenta diperkirakan naik dari 300 ml
tiap menit pada kehamilan 20 minggu sampai 600 ml tiap menit pada kehamilan
40 minggu. Perubahan-perubahan terjadi pula pada jonjot-jonjot selama
kehamilan berlangsung. Pada kehamilan 24 minggu lapisan sinsitium dari vili
tidak berubah akan tetapi dari lapisan sitotropoblast sel-sel berkurang dan hanya
ditemukan sebagai kelompok-kelompok sel-sel; stroma jonjot menjadi lebih
padat, mengandung fagosit-fagosit, dan pembuluh-pembuluh darahnya lebih besar
dan lebih mendekati lapisan tropoblast.9

Gambar 1. Plasenta

14
II. Definisi Plasenta Previa
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat
abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau
seluruh jalan lahir (ostium uteri internum). Sejalan dengan bertambah
membesarnya rahim dan meluasnya segmen bawah rahim ke arah proksimal
memungkinkan plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim ikut
berpindah mengikuti perluasan segmen bawah rahim seolah plasenta tersebut
bermigrasi.2

III. Etiologi Plasenta Previa


Disamping masih banyak penyebab plasenta previa yang belum diketahui
atau belum jelas, bermacam-macam teori dan faktor-faktor dikemukakan sebagai
etiologinya:
1. Endometrium yang inferior
2. Chorion leave yang persisten
3. Corpus luteum yang bereaksi lambat
Stassmann mengatakan bahwa faktor terpenting adalah vaskularisasi yang kurang
pada desidua yang menyebabkan atrofi dan peradangan, sedangkan Browne
menekankan bahwa faktor terpenting ialah vili khorialis persisten pada desidua
kapsularis.1

IV. Faktor Risiko Plasenta Previa


Beberapa faktor predisposisi terjadinya plasenta previa adalah sebagai
berikut: 10
1. Umur dan paritas: pada primigravida umur diatas 35 tahun lebih sering
daripada dibawah 25 tahun, lebih sering pada paritas tinggi
2. Hipoplasia endometrium: bila menikah dan hamil pada usia muda
3. Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang, bekas operasi sectio
caesarea, kuretase, dan manual plasenta
4. Corpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap
menerima hasil konsepsi

15
5. Tumor seperti mioma uteri, polip endometrium

V. Klasifikasi Plasenta Previa


Klasifikasi plasenta previa tidak didasarkan pada keadaan anatomik
melainkan fisiologik. Seiring dengan perkembangan kehamilan, pendataran serta
pembukaan servix, klasifikasi plasenta previa dapat berubah. Secara umum
plasenta previa diklasifikasikan menjadi:
a) Plasenta previa totalis atau komplit, yaitu bila plasenta menutupi
seluruh ostium uteri internum.
b) Plasenta previa parsialis, bila plasenta menutupi sebagian ostium
uteri internum.
c) Plasenta previa marginalis, bila tepi plasenta berada pada pinggir
ostium uteri internum.
d) Plasenta letak rendah, bila tepi bawah plasenta berada pada jarak
lebih kurang 2 cm dari ostium uteri internum.

Gambar 2. Klasifikasi plasenta previa


Menurut de Snoo, klasifikasi plasenta previa berdasarkan pembukaan 4 -5
cm adalah: 11
a) Plasenta previa sentralis (totalis), bila pada pembukaan 4-5 cm
teraba plasenta menutupi seluruh ostium.

16
b) Plasenta previa lateralis; bila mana pembukaan 4-5 cm sebagian
pembukaan ditutupi oleh plasenta, dibagi 3 :
- Plasenta previa lateralis posterior; bila sebagian plasenta
menutupi ostium bagian belakang.
- Plasenta previa lateralis anterior; bila sebagian plasenta
menutupi ostium bagian depan.
- Plasenta previa marginalis; bila sebagian kecil atau hanya
pinggir ostium yang ditutupi plasenta.

VI. Patofisiologi Plasenta Previa


Sebagaimana diketahui tapak plasenta terbentuk dari jaringan maternal yaitu
desidua basalis yang bertumbuh menjadi bagian dari uri. Dengan melebarnya
isthmus uteri menjadi segmen bawah rahim, maka plasenta yang berimplantasi
disitu sedikit banyak akan mengalami laserasi akibat pelepasan pada desidua
sebagai tapak plasenta. Demikian pula pada waktu serviks mendatar dan
membuka ada bagian tapak plasenta yang terlepas.
Pada tempat laserasi akan terjadi perdarahan yang berasal dari sirkulasi
maternal yaitu dari ruangan intervillus dari plasenta. Oleh karena fenomena
pembentukan segmen bawah rahim itu perdarahan pada plasenta previa betapun
pasti akan terjadi (unavoidable bleeding).
Perdarahan pertama sudah terjadi pada kehamilan dibawah 30 minggu tetapi
lebih separuh kejadiannya pada umur kehamilan 34 minggu keatas. Berhubung
tempat perdarahan terletak dekat dengan ostium uteri internum, maka perdarahan
lebih mudah mengalir keluar rahim dan tidak membentuk hematoma retroplasenta
yang mampu merusak jaringan lebih luas dan melepaskan tromboplastin ke dalam
sirkulasi maternal. Dengan demikian, sangat jarang terjadi koagulopati pada
plasenta previa. 12

17
Gambar 3. Patofisiologi Plasenta Previa

VII. Diagnosa dan Gambaran Klinik


Diagnosa ditegakkan dengan adanya gejala-gejala klinik dan beberapa
pemeriksaan:
Anamnesis
a) Gejala pertama yaitu perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu atau
pada kehamilan lanjut (trisemester III)

18
b) Sifat perdarahannya tanpa sebab (causeless), tanpa nyeri (painless) dan
berulang (recurrent)
c) Perdarahan pertama berlangsung tidak banyak dan berhenti sendiri
d) Pada perdarahan berulang darah akan jauh lebih banyak, bahkan seperti
mengalir
Pemeriksaan Fisik
a) Inspeksi: dapat dilihat perdarahan yang keluar dari vagina, kalau
perdarahan banyak maka pasien akan terlihat pucat atau anemis
b) Palpasi abdmomen: janin sering belum cukup bulan, jadi fundus uteri
masih rendah. Sering dijumpai kesalahan letak janin. Bagian bawah janin
belum turun, apabila letak kepala, biasanya kepala masih goyang (floating)
atau diatas pintu atas panggul.
c) Pemeriksaan inspekulo: dengan memakai spekulum secara hati-hati dilihat
dimana asal perdarahan, apakah dari dalam uterus, atau dari kelainan
serviks, vagina, varises pecah dan lain-lain.
d) Pemeriksaan dalam: harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena dapat
menyebabkan perdarahan yang hebat, terjadi infeksi, menimbulkan his.
Indikasi pemeriksaan dalam yaitu perdarahan banyak lebih dari 500cc,
perdarahan yang sudah berulang, his telah mulai dan janin sudah dapat
hidup diluar rahim.
Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan ultrasonografi: penentuan lokasi plasenta secara
ultrasonografi sangat tepat dan tidak menimbulkan bahaya radiasi terhadap
janin. Pemeriksaan dapat berupa transabdominal ultrasonografi atau
transvaginal ultrasonografi.
b) Pemeriksaan radio-isotop: plasentografi jaringan lunak, sitografi,
plasentografi indirect, arteriografi, dan amniografi.
c) Pemeriksaan laboratorium : HB, HT, Leukosit, Trombosit 13

19
VIII. Komplikasi Plasenta Previa
Ada beberapa komplikasi utama yang bisa terjadi pada ibu hamil yang
menderita plasenta previa, diantaranya ada yang bisa menimbulkan perdarahan
yang cukup banyak dan fatal. Dan komplikasi juga dapat terjadi pada janin yang
bersifat fatal.
1. Prolaps tali pusat
2. Prolaps plasenta
3. Perdarahan dan syok
4. Plasenta melekat sehingga harus dikeluarkan manual
5. Robekan jalan lahir karena suatu tindakan
6. Perdarahan post partum
7. Infeksi karena perdarahan yang banyak
8. Bayi premature atau lahir mati

IX. Tatalaksana Plasenta Previa


Terapi Ekpektatif
1. Syarat-syarat terapi ekspektatif :
a) Umur kehamilan <37 minggu dengan perdarahan sedikit yang
kemudian berhenti
b) Belum ada tanda-tanda inpartu
c) Keadaan umum ibu cukup baik, kadar Hb 8 gram% atau lebih
d) Janin masih hidup
2. Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotik profilaksis.
3. Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi plasenta
4. Berikan tokolitik bila ada kontraksi :
a) MgSO4 i.v dosis awal tunggal dilanjutkan 4 gram setiap 6 jam
b) Nifedipin 3 x 20 mg perhari
c) Dexamethason 24 mg i.v dosis tunggal untuk pematangan paru janin.
5. Pada terapi ekspektatif kita rawat pasien di Rumah Sakit sampai berat anak
± 2500 gram atau kehamilan sudah sampai 37 minggu. Kalau kehamilan
37 minggu telah tercapai kehamilan diakhiri.8,15

20
Terapi Aktif (Tindakan segera)
Wanita hamil diatas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif
dan banyak, harus segera ditatalaksanakan secara aktif tanpa memandang
maturitas janin.
Lakukan Pemeriksaan dalam di meja operasi (PDMO) jika:
- Infus I transfusi telah terpasang
- Kehamilan > 37 minggu (berat badan > 2500 gram) dan inpartu
- Janin telah meninggal atau terdapat anomali kongenital mayor, seperti
anesefali.
- Perdarahan dengan bagian terbawah janin telah jauh melewati pintu atas
panggul (2/5 atau 3/5 pada palpasi luar).
Cara menyelesaikan persalinan dengan plasenta previa:
Prinsip utama adalah menyelamatkan ibu, walaupun janin meninggal atau tidak
punya harapan untuk hidup, tindakan ini tetap dilakukan. Cara persalinan yang
terbaik adalah tergantung dari derajat plasenta previa, paritas dan banyaknya
perdarahan.
1) Indikasi Seksio Sesarea :
a. Plasenta previa totalis
b. Plasenta previa pada primigravida
c. Plasenta previa janin letak lintang atau letak sungsang
d. Anak berharga dan fetal distres
e. Plasenta previa lateralis jika :
• Pembukaan masih kecil dan perdarahan banyak
• Sebagian besar OUI ditutupi plasenta
• Plasenta terletak di sebelah belakang (posterior)
f. Profuse bleeding, perdarahan sangat banyak dan mengalir dengan
cepat.
2) Partus per vaginam
Dilakukan pada plasenta previa marginalis atau lateralis pada multipara
dan anak sudah meninggal atau prematur.

21
a. Jika pembukaan serviks sudah agak besar (4-5 cm), ketuban dipecah
(amniotomi) jika his lemah, diberikan oksitosin drip.
b. Bila perdarahan masih terus berlangsung, dilakukan SC.
c. Tindakan versi Braxton-Hicks dengan pemberat untuk
menghentikan perdarahan (kompresi atau tamponade bokong dan
kepala janin terhadap plasenta) hanya dilakukan pada keadaan darurat,
anak masih kecil atau sudah mati, dan tidak ada fasilitas untuk
melakukan operasi.
3) Pertolongan persalinan seksio sesaria merupakan bentuk pertolongan yang
paling banyak dilakukan. Bentuk operasi lainnya seperti:
a. Cunam Willet Gausz
 Menjepit kulit kepala bayi pada plasenta previa yang ketubannya
telah dipecahkan
 Memberikan pemberat sehingga pembukaan dipercepat
 Diharapkan persalinan spontan
 Sebagian besar dilakukan pada janin telah meninggal.
b. Versi Braxton Hicks
 Dilakukan versi ke letak sungsang
 Satu kaki dikeluarkan sebagai tampon dan diberikan pemberat
untuk mempercepat pembukaan dan menghentikan perdarahan.
 Diharapkan persalinan spontan
 Janin sebagian besar akan meninggal
c. Pemasangan kantong karet metreurynter
 Kantong karet dipasang untuk menghentikan perdarahan dan
mempercepat pembukaan sehingga persalinan dapat segera
berlangsung. Dengan kemajuan dalam operasi kebidanan, pemberiam
transfusi, dan cairan maka tatalaksana pertolongan perdarahan
plasenta previa hanya dalam bentuk:
o memecahkan ketuban
o melakukan seksio sesaria

22
o untuk bidan segera melakukan rujukan sehingga mendapat
pertolongan yang cepat dan tepat.
Pada kasus yang terbengkalai, dengan anemia berat karena perdarahan
atau infeksi intra uterin, baik seksio sesaria maupun persalinan pervaginam sama
– sama tidak mengamankan ibu dan janinnya. Akan tetapi dengan bantuan
transfusi darah dan antibiotika secukupnya, seksio cesaria masih lebih aman
daripada persalinan pervaginam untuk semua kasus plasenta previa totalis dan
kebanyakan plasenta previa parsialis.2,8,16
a) Tujuan seksio caesarea : persalinan dengan segera sehingga uterus
segera berkontraksi dan menghentikan perdarahan, menghindarkan
kemungkinan terjadi robekan pada serviks jika janin dilahirkan
pervaginam.
b) Siapkan darah pengganti untuk stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu.

X. Diagnosa Banding Plasenta Previa


Klinis Solusio plasenta Plasenta previa Ruptura uteri

Onset Sewaktu hamil dan Sewaktu hamil Inpartu


kejadian inpartu
Cara Tiba-tiba Perlahan Tiba-tiba
mulainya
Tipe Non rekuren Rekuren Bergantung
perdarahan pada pembuluh
darah yang
pecah
Warna darah Darah beku dan segar Darah segar Darah segar
Anemia Tak sebanding dengan Sesuai dengan Perdarahan
darah yang keluar darah yang keluar keluar dan di
dalam
Toxemia Bisa ada - -
gravidarum
Nyeri perut Ada Tidak ada (+) di segmen
bawah rahim
Palpasi Uterus in-bois bagian Biasa dan floating Defans
anak sulit ditentukan muskular,
meteoritis

23
His Kuat Biasa Hilang
Bunyi jantung - + -
anak
Periksa dalam Ketuban tegang, Jaringan plasenta Robekan
menonjol
Plasenta Tipis, cekung Selaput robek pada Biasa
pinggiran

XI. Prognosis
Prognosis ibu dan anak pada plasenta previa dewasa ini lebih baik jika
dibandingkan masa lalu. Hal ini berkat diagnosis yang lebih dini dan tidak invasif
dengan USG disamping ketersediaan transfusi darah dan infus cairan telah ada
hampir di semua rumah sakit. Sekarang penanganan relatif bersifat operatif dini,
maka angka mortalitas dan mordibitas ibu dan perinatal menurun.

24
BAB IV

ANALISA KASUS

Pada kasus ini, Ny. S, 36 tahun dengan diagnosa G3P2A0 hamil 38


minggu. Pasien datang ke Poli Kebidanan RSUD Budhi Asih dengan keluhan
keluar darah dari jalan lahir sejak tanggal 15 Oktober 2018, darah yang keluar
berwarna merah segar sebanyak ± 150 cc disertai dengan keluhan mules-mules.
Pasien tidak ada nyeri abdomen. Sebelumnya pasien pernah mengalami keluhan
yang sama yaitu keluar darah dari jalan lahir namun darah yang keluar hanya
sedikit, air ketuban belum merembes dan pasien masih merasakan gerakan janin.

Dari anamnesis yang didapatkan perdarahan yang terjadi merupakan


perdarahan antepartum. Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi
setelah kehamilan 28 minggu. Perdarahan antepartum dapat berasal dari kelainan
plasenta atau bukan dari kelainan plasenta. Gejala pada pasien ini dicurigai terjadi
atas kelainan plasenta, yaitu plasenta previa. Plasenta previa adalah plasenta yang
berimplantasi pada segmen bawah rahim sehingga menutupi seluruh atau sebagian
dari ostium uteri internum.

Perdarahan ditempat itu relatif dipermudah dan diperbanyak oleh karena


segmen bawah rahim dan serviks tidak mampu berkontraksi dengan kuat karena
elemen otot yang dimilikinya sangat minimal, dengan akibat pembuluh darah
pada tempat itu tidak akan tertutup sempurna. Perdarahan akan berhenti karena
pembekuan kecuali jika ada laserasi mengenai sinus yang lebih besar dari plasenta
pada mana perdarahan akan berlangsung lebih banyak dan lebih lama. Oleh karen
pembentukan segmen bawah rahim itu berlangsung progresif dan bertahap, maka
laserasi baru akan mengulang kejadian perdarahan. Demikianlah perdarahan akan
berulang tanpa sebab (causeless). Darah yang keluar berwarna merah segar tanpa
rasa nyeri (painless).

Pada pemeriksaan fisik dan penunjang meyakinkan bahwa pasien ini


mengalami perdarahan antepartum berulang et cause plasenta previa totalis

25
dengan didapatkan hasil dari pemeriksaan fisik obstetri yaitu adanya darah yang
mengalir keluar dari jalan lahir kemudian pada ultrasonografi janin tunggal hidup
intra uterin presentasi kepala, plasenta menutupi ostium uteri internum.
Pasien ini memiliki faktor risiko yaitu usia diatas 35 tahun dan paritas
tinggi, sesuai dengan teori dapat meningkatkan risiko terjadinya plasenta previa.
Penatalaksanaan pasien ini adalah dilakukannya tindakan sectio caesarea. Sesuai
indikasi sectio caesaria dan karena usia kehamilan sudah mencapai 38 minggu.

26
BAB V

KESIMPULAN

Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi setelah kehamilan


28 minggu. Biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada kehamilan
sebelum 28 minggu. Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada
segmen bawah rahim sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari ostium uteri
internum. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gejala-gejala seperti
perdarahan antepartum dan tidak dapat turunnya bagian terbawah janin ke dalam
panggul ibu.
Penanganan plasenta previa perlu mendapat perhatian yang khusus, karena
insidensinya terjadi kira-kira 1 dari 200 persalinan. Penanganan yang bisa
dilakukan adalah pengawasan antenatal dan pertolongan pertama, ini perlu
diajarkan pada tenaga medis agar dapat dideteksi secara cepat dan diagnosis yang
tepat untuk kasus-kasus plasenta previa, sehingga angka morbiditas dan mortalitas
ibu dan bayi dapat diturunkan. Diagnosis pasti plasenta previa dapat ditegakkan
melalui USG secara trans abdominal maupun trans vaginal.
Penanganan plasenta previa dapat secara aktif berupa seksio sesarea
maupun konservatif tergantung pada luas dan keparahan perdarahan, umur
kehamilan dan kondisi janin, posisi plasenta dan janin, dan apakah perdarahan
telah berhenti.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Sofian A. Rustam Mochtar Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC. Ed 3. 2011.


2. Wiknjosastro H, Saifuddin B, Rachimhadhi T. Ilmu Kebidanan Sarwono
Prawirohardjo. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Edisi 4.
2016.
3. Cresswell JA, Ronsmans C, Calvert C, Filippi V. Prevalence of placenta
praevia by world region: a systematic review and meta-analysis. Trop Med
Int Health 2013;18(6):712-24.
4. Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia 2005. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia. Jakarta. 2007.
5. Saifuddin AB, Rachimhadi T,Wiknjosastro GH, editor. Ilmu Kebidanan. Ed.
4. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo. Jakarta, 2010: 495-503.
6. Shiel WC. Pregnancy: Placenta Previa. 2014. Akses:
http://www.medicinenet.com/pregnancy_placenta_previa/
page3.htm November 1, 2018.
7. Genovese F, et al. Management and Time of Delivery in Asymptomatic
Complete Placenta Previa: A Case Report and Review of Literature.
Gynecol Obstet 2012;2(4):1-4.
8. Ralph CB, Martin LP. 2009. Buku Obstetri dan Ginekologi. Edisi 9. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
9. Falcone T. plasenta polypeptides. In: Tulchinsky D, Little AB, ed. Maternal
fetal endocrinology. Phiadelphia:WB saunders.1994
10. Manuaba, Chandranita M, Fajar M. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
11. Gabbe SG, Jennifer RN, Joe LS. 2007. Obstetrics Normal and Problem
Pregnancies. Philadelphia: Elsevier.
12. Cunningham FG, Leveno KJ, dkk. Williams Obstetrics. 22nd ed. McGraw
Hill. 2005
13. Kay HH. Plasenta previa and abruption. Danforth DN. Obstetrics and
gynecology 9th ed. Lippincott wiliiams & wilkins publisher August 2003

28
14. WHO. Buku saku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan
rujukan. Edisi pertama. 2013.
15. Gabbe SG, Jennifer RN, Joe LS. Obstetrics Normal and Problem
Pregnancies. Philadelphia: Elsevier. 2007.
16. DeCherney, Alan. Current Diagnosis & Treatment Obstetrics &
Gynecology. Edisi 10. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc. 2007.

29