Anda di halaman 1dari 9

AJARAN TENTANG TRI TUNGGAL MULAI DARI

TRADISI GEREJA DAN MENURUT ALKITAB.


Banyak orang yang mempertanyakan ajaran tentang Trinitas, bahkan banyak orang yang bukan
Kristen mengatakan bahwa orang Kristen percaya akan tiga Tuhan. Tentu saja hal ini tidak
benar, sebab iman Kristiani mengajarkan Allah yang Esa. Namun bagaimana mungkin Allah
yang Esa ini mempunyai tiga Pribadi? Untuk memahami hal ini memang diperlukan keterbukaan
hati untuk memandang Allah dari sudut pandang yang mengatasi pola berpikir manusia. Jika kita
berkeras untuk membatasi kerangka berpikir kita, bahwa Allah harus dapat dijelaskan dengan
logika manusia semata-mata, maka kita membatasi pandangan kita sendiri, sehingga kehilangan
kesempatan untuk melihat gambaran yang lebih luas tentang Allah. Jika kita berpikir demikian,
kita bagaikan, maaf, memakai ‘kacamata kuda’: Kita mencukupkan diri kita dengan pandangan
Allah yang logis menurut pikiran kita dan tanpa kita sadari kita menolak tawaran Allah agar kita
lebih dapat mengenal DiriNya yang sesungguhnya.

Dari mana kita mengetahui bahwa Tuhan adalah Allah


Tritunggal ?
Walaupun kita mengetahui bahwa konsep Trinitas ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan akal,
bukan berarti bahwa Allah Tritunggal ini adalah konsep yang sama sekali tidak masuk akal.
Berikut ini adalah sedikit uraian bagaimana kita dapat mencoba memahami Trinitas, walaupun
pada akhirnya harus kita akui bahwa adanya tiga Pribadi dalam Allah yang Satu ini merupakan
misteri yang tidak cukup kita jelaskan dengan akal, sebab jika dapat dijelaskan dengan tuntas,
maka hal itu tidak lagi menjadi misteri. St. Agustinus bahkan mengatakan, “Kalau engkau
memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah”. ((St. Agustinus, sermon. 52, 6, 16, seperti dikutip
dalam KGK 230.)) Sebab Allah jauh melebihi manusia dalam segala hal, dan meskipun Ia telah
mewahyukan Diri, Ia tetap tinggal sebagai rahasia/ misteri yang tak terucapkan. Di sinilah peran
iman, karena dengan iman inilah kita menerima misteri Allah yang diwahyukan dalam Kitab
Suci, sehingga kita dapat menjadikannya sebagai dasar pengharapan, dan bukti dari apa yang
tidak kita lihat (lih. Ibr. 11:1-2). Agar dapat sedikit menangkap maknanya, kita perlu mempunyai
keterbukaan hati. Hanya dengan hati terbuka, kita dapat menerima rahmat Tuhan, untuk
menerima rahasia Allah yang terbesar ini; dan hati kita akan dipenuhi oleh ucapan syukur tanpa
henti.
Mungkin kita pernah mendengar orang yang menjelaskan konsep Allah Tritunggal dengan
membandingkan-Nya dengan matahari: yang terdiri dari matahari itu sendiri, sinar, dan panas.
Atau dengan sebuah segitiga, di mana Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus
menempati masing-masing sudut, namun tetap dalam satu segitiga. Bahkan ada yang mencoba
menjelaskan, bahwa Trinitas adalah seperti kopi, susu, dan gula, yang akhirnya menjadi susu
kopi yang manis. Penjelasan yang menggunakan analogi ini memang ada benarnya, namun
sebenarnya tidak cukup, sehingga sangat sulit diterima oleh orang-orang non-Kristen. Apalagi
dengan perkataan, ‘pokoknya percaya saja’, ini juga tidak dapat memuaskan orang yang
bertanya. Jadi jika ada orang yang bertanya, apa dasarnya kita percaya pada Allah Tritunggal,
sebaiknya kita katakan, “karena Allah melalui Yesus menyatakan Diri-Nya sendiri demikian”,
dan hal ini kita ketahui dari Kitab Suci.
Doktrin Trinitas atau Allah Tritunggal Maha Kudus adalah pengajaran bahwa Tuhan adalah
SATU, namun terdiri dari TIGA pribadi: 1) Allah Bapa (Pribadi pertama), 2) Allah Putera
(Pribadi kedua), dan Allah Roh Kudus (Pribadi ketiga). Karena ini adalah iman utama kita, maka
kita harus dapat menjelaskannya lebih daripada hanya sekedar menggunakan analogi matahari,
segitiga, maupun kopi susu.

Dasar dari Kitab Suci dan pengajaran Gereja


Yesus menunjukkan persatuan yang tak terpisahkan dengan Allah Bapa, “Aku dan Bapa adalah
satu” (Yoh 10:30); “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” (Yoh 14:9). Di
dalam doa-Nya yang terakhir untuk murid-murid-Nya sebelum sengsara-Nya, Dia berdoa kepada
Bapa, agar semua murid-Nya menjadi satu, sama seperti Bapa di dalam Dia dan Dia di dalam
Bapa (lih. Yoh 17: 21). Dengan demikian Yesus menyatakan Diri-Nya sama dengan Allah: Ia
adalah Allah. Hal ini mengingatkan kita akan pernyataan Allah Bapa sendiri, tentang ke-
Allahan Yesus sebab Allah Bapa menyebut Yesus sebagai Anak-Nya yang terkasih, yaitu pada
waktu pembaptisan Yesus (lih. Luk 3: 22) dan pada waktu Yesus dimuliakan di atas gunung
Tabor (lih. Mat 17:5).
Yesus juga menyatakan keberadaan Diri-Nya yang telah ada bersama-sama dengan Allah Bapa
sebelum penciptaan dunia (lih. Yoh 17:5). Kristus adalah sang Sabda/ Firman, yang ada
bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah, dan oleh-Nya segala sesuatu
dijadikan (Yoh 1:1-3). Tidak mungkin Yesus menjadikan segala sesuatu, jika Ia bukan
Allah sendiri.
Selain menyatakan kesatuan-Nya dengan Allah Bapa, Yesus juga menyatakan kesatuan-Nya
dengan Roh Kudus, yaitu Roh yang dijanjikan-Nya kepada para murid-Nya dan disebutNya
sebagai Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, (lih. Yoh 15:26). Roh ini juga adalah Roh Yesus
sendiri, sebab Ia adalah Kebenaran (lih. Yoh 14:6). Kesatuan ini ditegaskan kembali oleh Yesus
dalam pesan terakhir-Nya sebelum naik ke surga, “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-
Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus…”(Mat 28:18-20).
Selanjutnya, kita melihat pengajaran dari para Rasul yang menyatakan kembali pengajaran Yesus
ini, contohnya, Rasul Yohanes yang mengajarkan bahwa Bapa, Firman (yang adalah Yesus
Kristus), dan Roh Kudus adalah satu (lih 1 Yoh 5:7); demikian juga pengajaran Petrus (lih. 1
Pet:1-2; 2 Pet 1:2); dan Paulus (lih. 1Kor 1:2-10; 1Kor 8:6; Ef 1:3-14). Rasul Paulus

Dasar dari Pengajaran Bapa Gereja


Para Rasul mengajarkan apa yang mereka terima dari Yesus, bahwa Ia adalah Sang Putera Allah,
yang hidup dalam kesatuan dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Iman akan Allah Trinitas
ini sangat nyata pada Tradisi umat Kristen pada abad-abad awal.
1. St. Paus Clement dari Roma (menjadi Paus tahun 88-99):
“Bukankah kita mempunyai satu Tuhan, dan satu Kristus, dan satu Roh Kudus yang
melimpahkan rahmat-Nya kepada kita?” ((St. Clement of Rome, Letter to the
Corinthians, chap. 46, seperti dikutip oleh John Willis SJ, The Teachings of the Church
Fathers, (San Francisco, Ignatius Press, 2002, reprint 1966), p. 145))
2. St. Ignatius dari Antiokhia (50-117) membandingkan jemaat dengan batu yang disusun
untuk membangun bait Allah Bapa; yang diangkat ke atas oleh ‘katrol’ Yesus Kristus
yaitu Salib-Nya dan oleh ‘tali’ Roh Kudus. ((St. Ignatius of Antiokh, Letter to the
Ephesians, Chap 9, Ibid., p. 146))
“Ignatius, juga disebut Theoforus, kepada Gereja di Efesus di Asia… yang ditentukan
sejak kekekalan untuk kemuliaan yang tak berakhir dan tak berubah, yang disatukan dan
dipilih melalui penderitaan sejati oleh Allah Bapa di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.”
((St. Ignatius, Letter to the Ephesians, 110))
“Sebab Tuhan kita, Yesus Kristus, telah dikandung oleh Maria seturut rencana Tuhan:
dari keturunan Daud, adalah benar, tetapi juga dari Roh Kudus.” ((ibid., 18:2)).
“Kepada Gereja yang terkasih dan diterangi kasih Yesus Kristus, Tuhan kita, dengan
kehendak Dia yang telah menghendaki segalanya yang ada.” ((St. Ignatius, Letter to the
Romans, 110))
3. St. Polycarpus (69-155), dalam doanya sebelum ia dibunuh sebagai martir, “… Aku
memuji Engkau (Allah Bapa), …aku memuliakan Engkau, melalui Imam Agung yang
ilahi dan surgawi, Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih, melalui Dia dan bersama
Dia, dan Roh Kudus, kemuliaan bagi-Mu sekarang dan sepanjang segala abad. Amin.”
((St. Polycarp, Ibid., 146))
4. 4. St. Athenagoras (133-190):
“Sebab, … kita mengakui satu Tuhan, dan PuteraNya yang adalah Sabda-Nya, dan
Roh Kudus yang bersatu dalam satu kesatuan, –Allah Bapa, Putera dan Roh
Kudus.” ((St. Athenagoras, A Plea for Christians, Chap. 24, ibid., 148))
5. 5. Aristides sang filsuf [90-150 AD] dalam The Apology
“Orang- orang Kristen, adalah mereka yang, di atas segala bangsa di dunia, telah
menemukan kebenaran, sebab mereka mengenali Allah, Sang Pencipta segala
sesuatu, di dalam Putera-Nya yang Tunggal dan di dalam Roh Kudus.
((Aristides, Apology 16 [A.D. 140]))
6. 6. St. Irenaeus (115-202):
“Sebab bersama Dia (Allah Bapa) selalu hadir Sabda dan kebijaksanaan-Nya, yaitu
Putera-Nya dan Roh Kudus-Nya, yang dengan-Nya dan di dalam-Nya, …Ia
menciptakan segala sesuatu, yang kepadaNya Ia bersabda, “Marilah menciptakan
manusia sesuai dengan gambaran Kita.” (( St. Irenaeus, Against Heresy, Bk. 4, Chap.20,
Ibid., 148))
“Sebab Gereja, meskipun tersebar di seluruh dunia bahkan sampai ke ujung bumi, telah
menerima dari para rasul dan dari murid- murid mereka iman di dalam satu Tuhan,
Allah Bapa yang Mahabesar, Pencipta langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya;
dan di dalam satu Yesus Kristus, Sang Putera Allah, yang menjadi daging bagi
keselamatan kita, dan di dalam Roh Kudus, yang [telah] mewartakan melalui para nabi,
ketentuan ilahi dan kedatangan, dan kelahiran dari seorang perempuan, dan penderitaan
dan kebangkitan dari mati dan kenaikan tubuh-Nya ke surga dari Kristus Yesus Tuhan
kita, dan kedatangan-Nya dari surga di dalam kemuliaan Allah Bapa untuk mendirikan
kembali segala sesuatu, dan membangkitkan kembali tubuh semua umat manusia, supaya
kepada Yesus Kristus Tuhan dan Allah kita, Penyelamat dan Raja kita, sesuai dengan
kehendak Allah Bapa yang tidak kelihatan, setiap lutut bertelut dari semua yang di surga
dan di bumi dan di bawah bumi ….” ((St. Irenaeus, Against Heresies, I:10:1 [A.D. 189])).
“Namun demikian, apa yang tidak dapat dikatakan oleh seorangpun yang hidup,
bahwa Ia [Kristus] sendiri adalah sungguh Tuhan dan Allah … dapat dilihat oleh
mereka yang telah memperoleh bahkan sedikit bagian kebenaran” ((St. Irenaeus, ibid.,
3:19:1)).
7. St. Clement dari Alexandria [150-215 AD] dalam Exhortation to the Heathen (Chapter
1)
“Sang Sabda, Kristus, adalah penyebab, dari asal mula kita -karena Ia ada di dalam
Allah- dan penyebab dari kesejahteraan kita. Dan sekarang, Sang Sabda yang sama ini
telah menjelma menjadi manusia. Ia sendiri adalah Tuhan dan manusia, dan sumber
dari semua yang baik yang ada pada kita” ((St. Clement, Exhortation to the Greeks 1:7:1
[A.D. 190])).
“Dihina karena rupa-Nya namun sesungguhnya Ia dikagumi, [Yesus adalah], Sang
Penebus, Penyelamat, Pemberi Damai, Sang Sabda, Ia yang jelas adalah Tuhan yang
benar, Ia yang setingkat dengan Allah seluruh alam semesta sebab Ia adalah Putera-
Nya.” ((ibid., 10:110:1)).
8. 8. St. Hippolytus [170-236 AD] dalam Refutation of All Heresies (Book IX)
“Hanya Sabda Allah [yang] adalah dari diri-Nya sendiri dan karena itu adalah juga
Allah, menjadi substansi Allah. ((St. Hippolytus, Refutation of All Heresies 10:33 [A.D.
228]))
“Sebab Kristus adalah Allah di atas segala sesuatu, yang telah merencanakan
penebusan dosa dari umat manusia …. ((ibid., 10:34)).
9. Tertullian [160-240 AD] dalam Against Praxeas
“Bahwa ada dua allah dan dua Tuhan adalah pernyataan yang tidak akan keluar dari
mulut kami; bukan seolah Bapa dan Putera bukan Tuhan, ataupun Roh Kudus bukan
Tuhan…; tetapi keduanya disebut sebagai Allah dan Tuhan, supaya ketika Kristus
datang, Ia dapat dikenali sebagai Allah dan disebut Tuhan, sebab Ia adalah Putera dari
Dia yang adalah Allah dan Tuhan.” ((Tertullian, Against Praxeas 13:6 [A.D. 216])).
10. Origen [185-254 AD] dalam De Principiis (Book IV)
“Meskipun Ia [Kristus] adalah Allah, Ia menjelma menjadi daging, dan dengan menjadi
manusia, Ia tetap adalah Allah.” ((Origen, The Fundamental Doctrines 1:0:4 [A.D.
225])).
11. Novatian [220-270 AD] dalam Treatise Concerning the Trinity
“Jika Kristus hanya manusia saja, mengapa Ia memberikan satu ketentuan kepada kita
untuk mempercayai apa yang dikatakan-Nya, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa
mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus
yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3). Bukankah Ia menghendaki agar diterima sebagai
Allah juga? Sebab jika Ia tidak menghendaki agar dipahami sebagai Allah, Ia sudah akan
menambahkan, “Dan manusia Yesus Kristus yang telah diutus-Nya,” tetapi
kenyataannya, Ia tidak menambahkan ini, juga Kristus tidak menyerahkan nyawa-Nya
kepada kita sebagai manusia saja, tetapi satu diri-Nya dengan Allah, sebagaimana Ia
kehendaki agar dipahami oleh persatuan ini sebagai Tuhan juga, seperti adanya Dia.
Karena itu kita harus percaya, seusai dengan ketentuan tertulis, kepada Tuhan, satu Allah
yang benar, dan juga kepada Ia yang telah diutus-Nya, Yesus Kristus, yang, …tidak
akan menghubungkan Diri-Nya sendiri kepada Bapa, jika Ia tidak menghendaki untuk
dipahami sebagai Allah juga. Sebab [jika tidak] Ia akan memisahkan diri-Nya dari Dia
[Bapa], jika Ia tidak menghendaki untuk dipahami sebagai Allah.” ((Novatian, Treatise
Concerning the Trinity 16 [A.D. 235])).
12. St. Cyprian of Carthage [200-270 AD] dalam Treatise 3
“Seseorang yang menyangkal bahwa Kristus adalah Tuhan tidak dapat menjadi bait Roh
Kudus-Nya …” ((St. Cyprian, Letters 73:12 [A.D. 253])).
13. Lactantius [290-350 AD] dalam The Epitome of the Divine Institutes
“Ia telah menjadi baik Putera Allah di dalam Roh dan Putera manusia di dalam daging,
yaitu baik Allah maupun manusia. ((Lactantius, Divine Institutes 4:13:5 [A.D. 307]))
“Seseorang mungkin bertanya, bagaimana mungkin, ketika kita berkata bahwa kita
menyembah hanya satu Tuhan, namun kita menyatakan bahwa ada dua, Allah Bapa dan
Allah Putera, di mana penyebutan ini telah menyebabkan banyak orang jatuh ke dalam
kesalahan yang terbesar … [yang berpikir] bahwa kita mengakui adanya Tuhan yang lain,
dan bahwa Tuhan yang lain itu adalah yang dapat mati …. [Tetapi] ketika kita bicara
tentang Allah Bapa dan Allah Putera, kita tidak bicara tentang Mereka sebagai satu yang
lain dari yang lainnya, ataupun kita memisahkan satu dari lainnya, sebab Bapa tidak
dapat eksis tanpa Putera dan Putera tidak dapat dipisahkan dari Bapa.”
((Lactantius, (ibid., 4:28–29))
14. St. Athanasius (296-373), “Sebab Putera ada di dalam Bapa… dan Bapa ada di
dalam Putera…. Mereka itu satu, bukan seperti sesuatu yang dibagi menjadi dua bagian
namun dianggap tetap satu, atau seperti satu kesatuan dengan dua nama yang berbeda…
Mereka adalah dua,(dalam arti) Bapa adalah Bapa dan bukan Putera, demikian halnya
dengan Putera… tetapi kodreat/ hakekat mereka adalah satu (sebab anak selalu
mempunyai hakekat yang sama dengan bapanya), dan apa yang menjadi milik BapaNya
adalah milik Anak-Nya.” ((St. Athanasius, Four Discourses Against the Arians, n. 3:3, in
NPNF, 4:395.))
15. St. Agustinus (354-430), “… Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus adalah kesatuan
ilahi yang erat, yang adalah satu dan sama esensinya, di dalam kesamaan yang tidak
dapat diceraikan, sehingga mereka bukan tiga Tuhan, melainkan satu Tuhan: meskipun
Allah Bapa telah melahirkan (has begotten) Putera, dan Putera lahir dari Allah Bapa, Ia
yang adalah Putera, bukanlah Bapa, dan Roh Kudus bukanlah Bapa ataupun Putera,
namun Roh Bapa dan Roh Putera; dan Ia sama (co-equal) dengan Bapa dan Putera,
membentuk kesatuan Tritunggal. ” ((St. Augustine, On The Trinity, seperti dikutip oleh
John Willis SJ, Ibid., 152.))
Dalam bukunya, On the Trinity (Book XV, ch. 3), St. Agustinus menjabarkan ringkasan tentang
konsep Trinitas. Secara khusus ia memberi contoh beberapa trilogi untuk menggambarkan
Trinitas, yaitu:
1. seorang pribadi yang mengasihi, pribadi yang dikasihi dan kasih itu sendiri.
2. trilogi pikiran manusia, yang terdiri dari pikiran (mind), pengetahuan (knowledge) yang
olehnya pikiran mengetahui dirinya sendiri, dan kasih (love) yang olehnya pikiran dapat
mengasihi dirinya dan pengetahuan akan dirinya.
3. ingatan (memory), pengertian (understanding) dan keinginan (will). Seperti pada saat kita
mengamati sesuatu, maka terdapat tiga hal yang mempunyai satu esensi, yaitu gambaran
benda itu dalam ingatan/ memori kita, bentuk yang ada di pikiran pada saat kita melihat
benda itu dan keinginan kita untuk menghubungkan keduanya.
Khusus untuk point yang ketiga ini kita dapat melihat contoh lain sebagai berikut: jika kita
mengingat sesuatu, misalnya menyanyikan lagu kesenangan, maka terdapat 3 hal yang terlibat,
yaitu, kita mengingat lagu itu dan liriknya dalam memori/ ingatan kita, kita mengetahui atau
memikirkan dahulu tentang lagu itu dan kita menginginkan untuk melakukan hal itu (mengingat,
memikirkan-nya) karena kita menyukainya. Nah, ketiga hal ini berbeda satu sama lain,
namun saling tergantung satu dengan yang lainnya, dan ada dalam kesatuan yang tak
terpisahkan. Kita tidak bisa menyanyikan lagu itu, kalau kita tidak mengingatnya dalam
memori; atau kalau kita tidak mengetahui lagu itu sama sekali, atau kalau kita tidak ingin
mengingatnya, atau tidak ingin mengetahui dan menyanyikannya.
Pengajaran Gereja: Dogma tentang Tritunggal Maha
Kudus
Syahadat ‘Aku Percaya’ menyatakan bahwa rahasia sentral iman Kristen adalah Misteri Allah
Tritunggal. Maka Trinitas adalah dasar iman Kristen yang utama ((Gereja Katolik , Katekismus
Gereja Katolik, Edisi Indonesia., 234, 261.)) yang disingkapkan dalam diri Yesus. Seperti kita
ketahui di atas, iman kepada Allah Tritunggal telah ada sejak zaman Gereja abad awal, karena
didasari oleh perkataan Yesus sendiri yang disampaikan kembali oleh para murid-Nya. Jadi,
tidak benar jika doktrin ini baru ditemukan dan ditetapkan pada Konsili Konstantinopel I pada
tahun 359! Yang benar ialah: Konsili Konstantinopel I mencantumkan pengajaran tentang Allah
Tritunggal secara tertulis, sebagai kelanjutan dari Konsili Nicea (325) ((Konsili Nicea (325):
Credo Nicea: “…Kristus itu sehakekat dengan Allah Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang,
Allah benar dari Allah benar …”)), dan untuk menentang heresies (ajaran sesat) yang
berkembang pada abad ke-3 dan ke-4, seperti Arianisme (oleh Arius 250-336, yang menentang
kesetaraan Yesus dengan Allah Bapa) dan Sabellianisme (oleh Sabellius 215 yang membagi
Allah dalam tiga modus, sehingga seolah ada tiga Pribadi yang terpisah).
Dari sejarah Gereja kita melihat bahwa konsili-konsili diadakan untuk menegaskan kembali
ajaran Gereja (yang sudah berakar sebelumnya) dan menjaganya terhadap serangan ajaran-
ajaran sesat/ menyimpang. Jadi yang ditetapkan dalam konsili merupakan peneguhan ataupun
penjabaran ajaran yang sudah ada, dan bukannya menciptakan ajaran baru. Jika kita mempelajari
sejarah Gereja, kita akan semakin menyadari bahwa Tuhan Yesus sendiri menjaga Gereja-Nya:
sebab setiap kali Gereja ‘diserang’ oleh ajaran yang sesat, Allah mengangkat Santo/Santa yang
dipakai-Nya untuk meneguhkan ajaran yang benar dan Yesus memberkati para penerus rasul
dalam konsili-konsili untuk menegaskan kembali kesetiaan ajaran Gereja terhadap pengajaran
Yesus kepada para Rasul. Lebih lanjut mengenai hal ini akan dibahas di dalam artikel terpisah,
dalam topik Sejarah Gereja.
Berikut ini adalah Dogma tentang Tritunggal Maha Kudus menurut Katekismus Gereja Katolik,
yang telah berakar dari jaman jemaat awal:

1. Tritunggal adalah Allah yang satu. ((Lihat KGK 253)) Pribadi ini tidak membagi-bagi ke-
Allahan seolah masing-masing menjadi sepertiga, namun mereka adalah ‘sepenuhnya dan
seluruhnya’. Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa; dan Bapa
dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah dengan kodrat yang sama.
Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada di dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh
Kudus; Putera seluruhnya ada di dalam Bapa, dan seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh
Kudus ada seluruhnya di dalam Bapa, dan seluruhnya di dalam Putera.
2. Ketiga Pribadi ini berbeda secara real satu sama lain, yaitu di dalam hal hubungan asalnya:
yaitu Allah Bapa yang ‘melahirkan’, Allah Putera yang dilahirkan, Roh Kudus yang
dihembuskan. ((Lihat KGK 254))
3. Ketiga Pribadi ini berhubungan satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam hal asal
tersebut tidak membagi kesatuan ilahi, namun malah menunjukkan hubungan timbal balik
antar Pribadi Allah tersebut. Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dengan Bapa, dan Roh
Kudus dihubungkan dengan keduanya. Hakekat mereka adalah satu, yaitu Allah. ((Lihat KGK
255))

Jadi bagaimana kita menjelaskan Trinitas?


Kita akan mencoba memahaminya dengan bantuan filosofi. Dengan pendekatan filosofi, maka
diharapkan kita akan dapat masuk ke dalam misteri iman, sejauh apa yang dapat kita jelaskan
dengan filosofi. Dengan demikian, filosofi melayani teologi. Untuk menjelaskan Trinitas,
pertama-tama kita harus mengetahui terlebih dahulu beberapa istilah kunci, yaitu apa yang
disebut sebagai substansi/ hakekat/ kodrat dan apa yang disebut sebagai pribadi/ hypostatis.
Pengertian kedua istilah ini diajarkan oleh St. Gregorius dari Nasiansa. Kedua, bagaimana
menjelaskan prinsip Trinitas dengan argumentasi kenapa hal ini sudah sepantasnya terjadi atau
“argument of fittingness.” Ketiga, kita dapat menjelaskan konsep Trinitas dengan argumen
definisi kasih. Berikut ini mari kita lihat satu persatu.
Arti ‘substansi/ hakekat’ dan ‘pribadi’
Mari kita lihat pada diri kita sendiri. ‘Substansi’ (kadang diterjemahkan sebagai hakekat/ kodrat)
dari diri kita adalah ‘manusia’. Kodrat sebagai manusia ini adalah sama untuk semua orang.
Tetapi jika kita menyebut ‘pribadi’ maka kita tidak dapat menyamakan orang yang satu dengan
yang lain, karena setiap pribadi itu adalah unik. Dalam bahasa sehari-hari, pribadi kita masing-
masing diwakili oleh kata ‘aku’ (atau ‘I’ dalam bahasa Inggris), di mana ‘aku’ yang satu berbeda
dengan ‘aku’ yang lain. Sedangkan, substansi/ hakekat kita diwakili dengan kata ‘manusia’
(atau ‘human’). Analogi yang paling mirip (walaupun tentu tak sepenuhnya menjelaskan misteri
Allah ini) adalah kesatuan antara jiwa dan tubuh dalam diri kita. Tanpa jiwa, kita bukan manusia,
tanpa tubuh, kita juga bukan manusia. Kesatuan antara jiwa dan tubuh kita membentuk hakekat
kita sebagai manusia, dan dengan sifat-sifat tertentu membentuk kita sebagai pribadi.
Dengan prinsip yang sama, maka di dalam Trinitas, substansi/hakekat yang ada adalah satu, yaitu
Tuhan, sedangkan di dalam kesatuan tersebut terdapat tiga Pribadi: ada tiga ‘Aku’, yaitu Bapa.
Putera dan Roh Kudus. Tiga pribadi manusia tidak dapat menyamai makna Trinitas, karena di
dalam tiga orang manusia, terdapat tiga “kejadian”/ ‘instances‘ kodrat manusia; sedangkan di
dalam tiga Pribadi ilahi, terdapat hanya satu kodrat Allah, yang identik dengan ketiga Pribadi
tersebut. Dengan demikian, ketiga Pribadi Allah mempunyai kesamaan hakekat Allah yang
sempurna, sehingga ketiganya membentuk kesatuan yang sempurna. Yang membedakan Pribadi
yang satu dengan yang lainnya hanyalah terletak dalam hal hubungan timbal balik antara
ketiganya. ((Lihat KGK 252.))

Argument of fittingness untuk menjelaskan Trinitas


Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang mempunyai akal budi. ((Dalam
bukunya “Isagoge“, pengenalan akan kategori menurut Aristoteles, Filsuf Yunani Porphyry,
mengemukakan bahwa Aristoteles membagi substansi atau “substance” berdasarkan “genus”
yang mengindikasikan esensi dari sesuatu dan “a specific differences” yang merupakan kategory
yang lebih detail dari genus tertentu.)) Akal budi yang berada dalam jiwa manusia inilah yang
menjadikan manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan ciptaan
yang lain. Akal budi, yang terdiri dari intelek (intellect) dan keinginan (will) adalah anugerah
Tuhan kepada umat manusia, yang menjadikannya sebagai ‘gambaran’ Allah sendiri.
Nah, intelek dan keinginan tersebut memampukan manusia melakukan dua perbuatan prinsip
yang menjadi ciri khas manusia, yaitu: mengetahui dan mengasihi. Kemampuan mengetahui
sesuatu tidaklah menunjukkan kesempurnaan manusia, karena kita menyadari bahwa komputer-
pun dapat ‘mengetahui’ lebih banyak daripada kita, kalau dimasukkan program tertentu, seperti
kamus atau ensiklopedia. Namun, yang membuat manusia istimewa adalah kerjasama antara
intelek dan keinginan, jadi tidak sekedar mengetahui, tetapi dapat juga mengasihi. Jadi hal
‘mengasihi’ inilah yang menjadikannya sebagai mahluk yang tertinggi jika dibandingkan dengan
hewan dan tumbuhan, apalagi dengan benda-benda mati.
Kita mengenal peribahasa “kalau tak kenal, maka tak sayang“. Peribahasa ini sederhana, namun
berdasarkan suatu argumen filosofi, yaitu “mengetahui lebih dahulu, kemudian menginginkan
atau mengasihi.” Orang tidak akan dapat mengasihi tanpa mengetahui terlebih dahulu.
Bagaimana kita dapat mengasihi atau menginginkan sesuatu yang tidak kita ketahui? Sebagai
contoh, kalau kita ditanya apakah kita menginginkan komputer baru secara cuma-cuma? Kalau
orang tahu bahwa dengan komputer kita dapat melakukan banyak hal, atau kalaupun kita tidak
memakainya, kita dapat menjualnya, maka kita akan dengan cepat menjawab “Ya, saya mau.”
Namun kalau kita bertanya kepada orang pedalaman yang tidak pernah mendengar atau tahu
tentang barang yang bernama komputer, maka mereka tidak akan langsung menjawab “ya”.
Mereka mungkin akan bertanya dahulu, “komputer itu, gunanya apa?” Di sini kita melihat
bahwa tanpa pengetahuan tentang barang yang disebut sebagai komputer, orang tidak dapat
menginginkan komputer.
Nah, berdasarkan dari prinsip “seseorang tidak dapat memberi jika tidak lebih dahulu
mempunyai” ((Prinsip ini sering disebut sebagai salah satu Prinsip yang tidak perlu dibuktikan
(‘self-evident principles’), karena memang demikian halnya.)) maka Tuhan yang memberikan
kemampuan pada manusia untuk mengetahui dan mengasihi, pastilah memiliki kemampuan
tersebut secara sempurna. Jika kita mengetahui sesuatu, kita mempunyai konsep tentang sesuatu
tersebut di dalam pikiran kita, yang kemudian dapat kita nyatakan dalam kata-kata. Maka, di
dalam Tuhan, ‘pengetahuan’ akan Diri-Nya sendiri dan segala sesuatu terwujud di dalam
perkataan-Nya, yang kita kenal sebagai “Sabda/ Firman”; dan Sabda ini adalah Yesus, Sang
Allah Putera.
Jadi, di dalam Pribadi Tuhan terdapat kegiatan intelek dan keinginan yang terjadi secara
sekaligus dan ilahi, ((Lihat KGK 259)) yang mengatasi segala waktu, yang sudah terjadi sejak
awal mula dunia. Kegiatan intelek ini adalah Allah Putera, Sang Sabda (“The Word“). Rasul
Yohanes mengatakan pada permulaan Injilnya, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu
bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh 1:1).
Selanjutnya, kesempurnaan manusia sebagai mahluk personal dinyatakan, tidak hanya melalui
kemampuannya untuk mengetahui, namun juga mengasihi, yaitu memberikan dirinya kepada
orang lain dalam persekutuannya dengan sesama. Maka ‘mengasihi’ di sini melibatkan pribadi
yang lain, yang menerima kasih tersebut. Kalau hal ini benar untuk manusia pada tingkat natural,
maka di tingkat supernatural ada kebenaran yang sama dalam tingkatan yang paling sempurna.
Jadi Tuhan tidak mungkin Tuhan yang ‘terisolasi’ sendirian, namun “keluarga Tuhan”, dimana
keberadaan-Nya, kasih-Nya, dan kemampuan-Nya untuk bersekutu dapat terwujud, dan dapat
menjadi contoh sempurna bagi kita dalam hal mengasihi. Dalam hal ini, hubungan kasih timbal
balik antara Allah Bapa dengan Putera-Nya (Sang Sabda) ‘menghembuskan’ Roh Kudus; dan
Roh Kudus kita kenal sebagai Pribadi Allah yang ketiga.

Argumen dari definisi kasih.


Seperti telah disebutkan di atas, kasih tidak mungkin berdiri sendiri, namun melibatkan dua
belah pihak. Sebagai contoh, kasih suami istri, melibatkan kedua belah pihak, maka disebut
sebagai “saling” mengasihi. Kalau Tuhan adalah kasih yang paling sempurna, maka tidak
mungkin Tuhan tidak melibatkan pihak lain yang dapat menjadi saluran kasih-Nya dan juga
dapat membalas kasih-Nya dengan derajat yang sama. Jadi Tuhan itu harus satu, namun bukan
Tuhan betul- betul sendirian. Jika tidak demikian, maka Tuhan tidak mungkin dapat
menyalurkan dan menerima kasih yang sejati.
Orang mungkin berargumentasi bahwa Tuhan bisa saja satu dan sendirian dan Dia dapat
menyalurkan kasih-Nya dan menerima balasan kasih dari manusia. Namun, secara logis, hal ini
tidaklah mungkin, karena Tuhan Sang Kasih Ilahi tidak mungkin tergantung pada manusia yang
kasihnya tidak sempurna, dan kasih manusia tidak berarti jika dibandingkan dengan kasih Tuhan.
Dengan demikian, sangatlah masuk di akal, jika Tuhan mempunyai “kehidupan batin,” di mana
Dia dapat memberikan kasih sempurna dan juga menerima kembali kasih yang sempurna. Jadi,
dalam kehidupan batin Allah inilah Yesus Kristus berada sebagai Allah Putera, yang dapat
memberikan derajat kasih yang sama dengan Allah Bapa. Hubungan antara Allah Bapa dan
Allah Putera adalah hubungan kasih yang kekal, sempurna, dan tak terbatas. Kasih ini
membuahkan Roh Kudus. ((Roh Kudus adalah buah dari operasi kasih antara Allah Bapa dan
Allah Putera. Ini sebabnya bahwa setelah Pentakosta terjadi setelah Yesus wafat di kayu salib.
Bapa mengasihi Putera-Nya, dan Putera-Nya menunjukkan kasih-Nya dengan sempurna di kayu
salib. Buah dari pertukaran dan kasih yang mengorbankan diri inilah yang menghasilkan Roh
Kudus. Sehingga dalam ibadat iman yang panjang (Nicene Creed), kita melihat pernyataan
“….Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan
Putera….“)) Dengan hubungan kasih yang sempurna tesebut kita mengenal Allah yang pada
hakekatnya adalah KASIH. Kesempurnaan kasih Allah ini ditunjukkan dengan kerelaan Yesus
untuk menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya kepada Allah Bapa dan kepada kita. Yesus
memberikan Diri-Nya sendiri demi keselamatan kita, ((John Paul II, Encyclical Letter on The
Redeemer Of Man: Redemptor Hominis (Pauline Books & Media, 1979), no. 10 – Paus Yohanes
Paulus II menekankan bahwa kasih yang sempurna adalah kasih yang dapat memberikan diri
sendiri kepada orang lain. Dengan demikian, adalah “sesuai atau fitting” bahwa Tuhan, melalui
Putera-Nya menjadi contoh yang snempurna bagaimana menerapkan kasih. Dengan demikian ini
juga membuktikan bahwa Tuhan bukanlah Allah yang sendirian.)) agar kita dapat mengambil
bagian dalam kehidupan-Nya oleh kuasa Roh-Nya yaitu Roh Kudus.
Trinitas adalah suatu misteri, dan Tuhan menginginkan
kita berpartisipasi di dalam-Nya agar dapat semakin
memahami misteri tersebut
Memang pada akhirnya, Trinitas hanya dapat dipahami dalam kacamata iman, karena ini adalah
suatu misteri ((KGK 237.)), meskipun ada banyak hal juga yang dapat kita ketahui dalam misteri
tersebut. Manusia dengan pemikiran sendiri memang tidak akan dapat mencapai pemahaman
sempurna tentang misteri Trinitas, walaupun misteri itu sudah diwahyukan Allah kepada
manusia. Namun demikian, kita dapat mulai memahaminya dengan mempelajari dan
merenungkan Sabda Allah dalam Kitab Suci, pengajaran para Bapa Gereja dan Tradisi Suci yang
ditetapkan oleh Magisterium (seperti hasil Konsili), juga dengan bantuan filosofi dan analogi
seperti diuraikan di atas. Selanjutnya, pemahaman kita akan kehidupan Trinitas akan bertambah
jika kita mengambil bagian di dalam kasih Trinitas itu, seperti yang dikehendaki oleh Tuhan.
Di sinilah pentingnya peran Sakramen dan doa: Sakramen Pembaptisan merupakan rahmat
awal, ‘gerbang’ yang memungkinkan kita mengambil bagian dalam kehidupan ilahi (lihat
artikel: Sudahkah kita diselamatkan?). Kemudian, Sakramen Ekaristi mengambil peranan utama,
karena di dalamnya kita menyambut Kristus sendiri, dan dengan demikian kita mengambil
bagian di dalam kehidupan Allah Tritunggal melalui Yesus (baca artikel: Ekaristi: Sumber dan
Puncak Spiritualitas Kristiani). Di sinilah juga pentingnya peran penghayatan akan Sakramen
Perkawinan, sebab di dalam Perkawinan, kita melihat bagaimana hubungan kasih antara suami
dan istri yang direncanakan oleh Allah untuk menjadi gambaran akan kasih Allah Tritunggal
(silakan baca: Indah dan Dalamnya Makna Sakramen Perkawinan Katolik). Demikian pula, kasih
Allah Tritunggal pula yang mengilhami Sakramen Tahbisan Suci, karena melalui Tahbisan Suci,
para imam dipanggil untuk meniru teladan hidup Yesus, terutama dalam hal mengasihi, yaitu
dengan memberikan diri kepada Allah dan sesama secara total. Memang, pada dasarnya
sakramen-sakramen adalah ‘sarana’ yang diberikan oleh Allah kepada kita, agar kita dapat
mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi-Nya (mohon dibaca: Sakramen: apa pentingnya
dalam kehidupan kita?, terutama pada sub judul: Akibat utama penerimaan Sakramen).
Akhirnya, kitapun perlu memeriksa kehidupan doa kita, apakah kita setia dalam menyediakan
waktu untuk Tuhan dan menghayati kesatuan denganNya di dalam kehidupan rohani kita?
Bagaimana sikap kita terhadap sakramen- sakramen yang dikaruniakan Allah? Adakah kita
cukup menghargai dan merindukannya? Pertanyaan ini memang kembali kepada diri kita
masing-masing.

Kesimpulan
Melihat begitu dalamnya kehidupan batin Allah, hati kita melimpah dengan ucapan syukur.
Sebab kehidupan batin tersebut tidak hanya ‘tertutup’ bagi Allah sendiri, namun Ia ‘membuka’
kehidupan-Nya agar kita dapat mengambil bagian di dalamnya. Ya, Allah sesungguhnya tidak
‘membutuhkan’ kita, sebab kasihNya telah sempurna di dalam kehidupan Tritunggal Maha
Kudus. Namun justru karena kasih yang sempurna itu, Ia merangkul kita semua, jika kita mau
menanggapi panggilan-Nya. Mari bersama kita berjuang, agar lebih menghargai rahmat
Allah yang terutama dinyatakan di dalam sakramen-sakramen, terutama sakramen
Ekaristi, sehingga kita dapat semakin menghayati persatuan kita dengan Kristus, yang
membawa kita kepada persatuan dengan Allah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh
Kudus. Dengan persatuan dengan Allah ini, kita mencapai puncak kehidupan spiritualitas, di
mana kita dimampukan oleh Allah untuk mengasihi Dia dan sesama.
REFERENSI

http://www.katolisitas.org/trinitas-satu-tuhan-dalam-tiga-pribadi/