Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

HEMORAGIK ANTEPARTUM (HAP)

A. Pengertian
Hemoragik antepartum adalah perdarahan pada trisemester terakhir
dari kehamilan. (Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Obstetric
Patologi, 83: 2002).
Hemoragik antepartum adalah perdarahan yang terjadi setelah
kehamilan 28 minggu. (Prof Dr. Rustam Mochtar MPH, Sinopsis Obstetri,
269 : 2002).
Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah
kehamilan 28 minggu. Pendarahan antepartum merupakan pendarahan dari
traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke 28 dan awal partus.
Pada satu kehamilan perdarahan dari traktus genitalis lebih sering dan
serius jika terjadi pada tempat plasenta dibandingkan dari sumber lain.
Walaupun demikian plasenta menjadi organ defenitif jauh lebih dini dari
kehamilam 28 minggu dan perdarahan dapat terjadi lebih dini. Meskipun
perdarahan sesudah saat ini lebih sering terjadi. Walaupun perdarahan
vaginal setelah minggu ke–29 harus dianggap mempunyai potensi serius.
Walaupun perdarahan sering dikatakan terjadi pada trimester ketiga,
akan tetapi tidak jarang juga terjadi sebelum kehamilan 28 minggu karena
sejak itu segmen bawah uterus telah terbentuk dan melebar serta menipis.
Dengan bertambah tuanya kehamilan, segmen bawah uterus akan akan lebih
melebar lagi dan serviks mulai membuka. Apabila plasenta tumbuh pada
segmen bawah uterus, pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan
serviks tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat di situ tanpa
terlepasnya sebagian plasenta dari dinding uterus.pada saat itu mulailah
terjadi perdarahan (Winkjosastro, 1999).
Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya berasal pada
kelainan plasenta. Hal ini disebabkan perdarahan yang bersumber pada
kelainan plasentabiasanya lebih banyak, sehingga dapat menganggu sirkulasi
O2 dan CO2 serta nutrisi dari ibu kepada janin. Sedangkan perdarahan yang

1
tidak berumber pada kelainan plasenta seperti kelainan serviks biasanya
relatif tidak berbahaya.oleh karena itu, setiap perdarahan antepartum pertama-
tama harus selalu dipikirkan bahwa hal itu bersumber pada kelainan plasenta
(Tarigan,1994; Winkjosastro, 1999).

B. Klasifikasi
Perdarahan antepartum dapat berasal dari :
1. Kelainan plasenta
a. Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat
abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau
seluruh pembukaan jalan lahir (atrium uteri internal). Implantasi yang normal
ialah pada dinding depan, dinding belakang rahin atau fundus uteri.
Klasifikasi dari plasenta previa adalah :
1) Plasenta previa totalis yaitu seluruh ostium internum tertutup oleh plasenta
2) Plasenta previa lateralis yaitu sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta
3) Plasenta previa marginalis yaitu hanya terdapat pada pinggir terdapat
jaringan plasenta.
4) Plasenta letak rendah, apabila plasenta mengadakan implantasi pada segmen
bawah uterus, akan tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir.
Pinggir plasenta kira-kira berada 3 atau 4 cm di atas pinggir pembukaan
sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir.
Ciri-ciri plasenta previa :
1) Perdarahan tanpa nyeri
2) Perdarahan berulang
3) Warna perdarahan merah segar
4) Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah
5) Timbulnya perlahan-lahan
6) Waktu terjadinya saat hamil
7) His biasanya tidak ada
8) Rasa tidak tegang (biasa) saat palpasi
9) Denyut jantung janin ada
10) Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina

2
11) Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul
12) Presentasi mungkin abnormal.
b. Solusio plasenta adalah keadaan dimana plasenta yang letaknya normal
terlepas dari perlekatan sebelum janin lahir. Biasanya dihitung sejak kehamilan
28 minggu. Istilah lainnya adlah ablation placentae, abruption plasentae,
accidental hemorrahgi dan premature separation of the normally implanted
placenta.
Klasifikasi solusio plasenta menurut derajat lepasnya plasenta adalah :
a) Solusio plasenta parsialis yaitu bila hanya sebagian saja plasenta terlepas
dari tempat perlekatannya
b) Solusio plasenta totalis (komplit) yaitu bila seluruh plasenta sudah terlepas
dari tempat perlekatannya
c) Kadang-kadang plasenta ini turun kebawah dan dapat teraba pada
pemeriksaan dalam disebut prolaps plasenta
c. Perdarahan antepartum yang belum jelas sumbernya seperti insersio
velamentosa, rupture sinus marginalis, prasenta sirkum valata
2. Bukan dari kelainan plasenta
Biasanya tidak begitu berbahaya misalnya serviks vagian (erosion polip,
varisa yang pecah) dan trauma.

C. Etiologi
1. Etiologi plasenta previa disebabkan oleh faktor
a. Endometrium yang inferior
b. Endometrium yang persisten
c. Korpus luterum yang bereaksi lambat
Plasenta previa meningkat kejadiannya pada keadaan yang
endometriumnya kurang baik misalnya pada karena atrofi endometrium atau
kurang baiknya vaskularisasi desidua
2. Etiologi solusio plasenta yang dipengaruhi pada kejadiannya
a. Hipertensi esensial (preeklamsi)
b. Tali pusat yang pendek
c. Truma

3
d. Tekanan oleh rahim yang membesar pada vena kava inferior
e. Uterus yang sangat mengecil

D. Patofisiologi
1. Plasenta previa
Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Kadang-
kadang atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus, dimana hal
ini dapat diketahui sebagai plasenta previa karena segmen bawah agak menentang
selama kehamilan lanjut dan persalinan dalam mencapai dilatasi serviks dan
kelahiran anak, pemisahan plasenta dari dinding usus sampai tingkat tertentu tidak
dapat dihindari sehingga terjadi perdarahan
2. Solusio plasenta
Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang
membentuk hematom pada desidua sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas.
Apabila perdarahan sedikit, kematian yang kecil itu hanya akan mendesak
jaringan plasenta, peredaran darah antara uterus dan pasenta belum terganggu dan
tanda serta gejalanya pun tidak jelas.
Kejadiannya baru diketahui setelah plsenta lahir yang pada pemeriksaan
didapatkan cekungan pada permukaaan maternalnya dengan bekuan darah lama
yang warnanya kehitam-hitaman. Biasanya perdarahan akan berlangsung terus-
menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mampu
untuk lebih berkontraksi menghentikan perdarahannya. Akibatnya hematom
retoplasenter akan bertambah besar sehingga sebagian dan akhirnya seluruh
plasenta terlepas dari dinding uterus.

E. Tanda dan Gejala


1. Plasenta previa
a. Perdarahan tanpa nyeri hal ini disebabkan karena perdarahan sebelum bulan
ketujuh memberi gambaran yang tidak berbeda dari abortus dan perdarahan
pada plasenta previa disebabkan pergerakan antara plasenta dan dinding rahim
b. Bagian terendah anak sangat tinggi karena plasenta terletak pada kutub bawah
rahim sehingga bagian terrendah tidak dapat mendekati pintu atas panggul.

4
c. Pada plasenta previa ukuran panjang rahim berkurang maka pada plasenta
previa lebih sering disertai kelainan letak jika perdarahan disebabkan oleh
plasenta previa lateral dan marginal serta robekannya marginal sedangkan
plasenta letak rendah, robekannya beberapa sentimeter dari tepi plasenta.
2. Solusio plasenta
a. Perdarahan yang disertai nyeri
b. Anemi dan syok
c. Rahim keras seperti papan dan nyeri pinggang
d. Palpasi sukar karena rahim keras
e. Fundus uteri makin lama makin naik
f. Bunyi jantung biasanya tidak ada

F. Komplikasi
1. Plasenta previa
a. Prolaps tali pusat
b. Prolaps plasenta
c. Plasenta melekat sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu
dibersihkan dengan kerokan
d. Robekan-robekan jalan lahir
e. Perdarahan post partum
f. Infeksi karena perdarahan yang banyak
g. Bayi prematuritas atau kelahiran mati
2. Solusio plasenta
a. Langsung
1) Perdarahan
2) Infeksi
3) Emboli dan obstetrik syok
b. Komplikasi tidak langsung
1) Couvelair uterus kontraksi tak baik, menyebabkan pendarahan post partum
2) Adanya hipo fibrinogenemia dengan perdarahan post jartum
3) Nekrosis korteks renalis, menyebabkan anuria dan uremia

5
G. Penatalaksanaan
1. Plasenta previa
a. Tiap-tiap perdarahan triwulan ketiga yang lebih dari show (perdarahan inisial
harus dikirim ke rumah sakit tanpa melakukan suatu manipulasi apapun baik
rectal apalagi vaginal).
b. Apabila ada penilaian yang baik, perdarahan sedikt janin masih hidup, belum
inpartus. Kehamilan belum cukup 37 minggu atau berat badan janin di
bawah 2500 gr. Kehamilan dapat ditunda dengan istirahat. Berikan obat-
obatan spasmolitika, progestin atau progesterone observasi teliti.
c. Sambil mengawasi periksa golongan darah, dan siapkan donor transfusi
darah. Kehamilan dipertahankan setua mungkin supaya janin terhindar dari
premature.
d. Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil yang disangka dengan plasenta
previa, kirim segera ke rumah sakit dimana fasilitas operasi dan tranfuse
darah
e. Bila ada anemi berikan tranfuse darah dan obat-obatan.
2. Solusio plasenta
a. Terapi konservatif
Prinsip : tunggu sampai paerdarahan berhenti dan partus berlangsung spontan.
Perdarahan akan berhenti sendiri jika tekanan intra uterin bertambah lama,
bertambah tinggi sehingga menekan pembuluh darah arteri yang robek.
Sambil menunggu atau mengawasi berikan :
1. Morphin suntikan subkutan
2. Stimulasi dengan kardiotonika seperti coramine, cardizol, dan pentazol.
3. Tranfuse darah.
b. Terapi aktif
Prinsip : melakukan tindakan dengan maksud anak segera diahirkan dan
perdarahan segera berhenti.
Urutan-urutan tindakan pada solusio plasenta :

6
1) Amniotomi ( pemecahan ketuban ) dan pemberian oksitosin dan dan diawasi
serta dipimpin sampai partus spontan.
2) Accouchement force : pelebaran dan peregangan serviks diikuti dengan
pemasangan cunam villet gauss atau versi Braxtonhicks.
3) Bila pembukaan lengkap atau hampir lengkap, kepala sudah turun sampai
hodge III-IV :
a. Janin hidup : lakukan ekstraksi vakum atau forceps.
b. Janin meninggal : lakukan embriotomi
4) Seksio cesarea biasanya dilakukan pada keadaan :
a. Solusio plasenta dengan anak hidup, pembukaan kecil
b. Solusio plasenta dengan toksemia berat, perdarahan agak banyak,
pembukaan masih kecil.
c. Solusio plasenta dengan panggul sempit.
d. Solusio plasenta dengan letak lintang.
5) Histerektomi dapat dikerjakan pada keadaan :
a. Bila terjadi afibrinogenemia atau hipofibrino-genemia kalau persediaan
darah atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup.
b. Couvelair uterus dengan kontraksi uterus yang tidak baik.
6) Ligasi arteri hipogastrika bila perdarahan tidak terkontrol tetapi fungsi
reproduksi ingin dipertahankan.
7) Pada hipofibrinogenemia berikan :
a. Darah segar beberapa botol
b. Plasma darah
c. Fibrinogen

7
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN
SISTEM REPRODUKSI : HEMORAGIK ANTEPARTUM

A. Pengkajian
1. Sirkulasi
a. Hipertensi atau hipotensi mungkin ada
b. Pucat
c. Pusing
2. Integritas ego
a. Cemas, ketakuan, gelisah
3. Makanan atau cairan
a. Mual atau muntah
4. Keamaman
a. Penyakit inflamasi pelvis
b. Kejadian goneroe berulang
5. Seksualitas
a. Multipara dan usia ibu telah lanjut
b. Seksio sesaria sebelumnya
c. Aborsi berulang pada trisemester kedua dan ketiga
d. Jaringan parut servikal karena laserasi, konisasi servikal, aborsi elektif, atau
dilatasi dan kuretase
e. Kondisi khusus dengan tanda dan gejala yang tepat telah disebutkan sesuai
dengan urutan pada masa pranatal dimana hal ini dapat muncul
f. Kehamilan ektopik
g. Ektoruptur tergantung pada lokasi janian misalnya ismus pada tuba fallopi
dapat ruptur setelah 4-5 minggu, implantasi interstisial tidak ruptur sampai
mulainya trisemester kedua
B. Diagnosa Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan vaskuler
berlebihan

8
2. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia
3. Nyeri berhubungan dengan kontraksi otot atau dilatasi serviks
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi
C. Intervensi Keperawatan
Dx I
Tujuan : Klien tidak mengalami kekurangan volume cairan
Kriteria hasil :
1. TTV dalam batas normal
2. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
Intervensi :
1. Evaluasi, laporkan dan catat jumlah serta sifat hilangnya darah
2. Posisikan klien dengan tepat terlentang dan panggul di tinggikan
3. Pantau aktifitas uterus, status janin dan adanya nyeri tekan abdomen
4. Hindari pemeriksaan rektal
5. Tinjau ulang pemeriksaan darah

Dx II
Tujuan : keadaan kulit baik
Kriteria hasil : tidak ada push pada luka
Intervensi :
1. Perhatikan status fisiologis ibu dan status sirkulasi
2. Catat kehilangan darah ibu dan adanya kontraksi uterus
3. Anjurkan tirah baring pada posisi miring kiri
4. Berikan suplai oksigen pada klien
5. Siapkan klien untuk intervensi bedah dengan tepat

Dx III
Tujuan : Klien tidak nyeri lagi
Kriteria hasil :
1. Skala nyeri berkurang
2. Klien mampu istirahat

9
Intervensi :
1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (termasuk lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi)
2. Ajarkan tentang teknik non farmakologi
3. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk untuk menentukan intervensi
4. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
5. Berikan pengobatan analgesik untuk mengurangi rasa nyeri

Dx IV
Tujuan : Klien mengerti dan memahami tentang kondisi penyakitnya
Kriteria hasil :
1. Klien tidak sering bertanya
2. Klien mampu mengulangi penjelasan perawat
3. Pengetahuan klien bertambah
Intervensi
1. Kaji tingkat pengetahuan yang berhubungan dengan proses penyakit
2. Jelaskan patofisiologi penyakit dan hubungkan dengan anatomi fisiologi
bersama tim kesehatan
3. Jelaskan tanda dan gejala, proses serta penyebab penyakit
4. Sediakan informasi tentang kondisi klien
5. Berikan informasi tentang tindakan diagnostik
6. Motivasi keluarga klien untuk mengikuti informasi yang diberikan oleh tenaga
kesehatan lain

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. 2002. Obstetric


Patologi.Jakarta: EGC
2. Johnson.M.Maas.M.Moorhead.S.2000.Nursing Outcome Classification
(NOC). Mosby.Philadelphia.
3. MC.Closky.T dan Bulaceck G.2000. Nursing Intervention Classification
(NIC). Mosby.Philadelphia.
4. Marilyin, Doengoes.2001.Rencana Perawatan Maternal atau Bayi.Jakarta :
EGC
5. Nanda (2000).Nursing Diagnosis : Prinsip dan Classification.2001-2002.
Philadelphia USA.
6. Prof Dr. Rustam Mochtar MPH.1998. Sinopsis Obstetri.Jakarta : EGC

11