Anda di halaman 1dari 101

BAB I

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN ISLAM

A. Pengertian Kapita Selekta Pendidikan Islam


Pendidikan islam adalah sekaligus pendidikan iman dan pendidikan amal
dan juga karena ajaran islam berisi tentang ajaran sikap dan tingkah laku pribadi
masyarakat menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama, maka
pendidikan islam adalah pendidikan individu dan pendidikan masyarakat.
Para ahli pendidikan islam telah mencoba memformutasi pengertian pendidikan
Islam, di antara batasan yang sangat variatif tersebut adalah :
Al-Syaibany mengemukakan bahwa pendidikan agama islam adalah
proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi,
masyarakat dan alam sekitarnya. Proses tersebut dilakukan dengan cara
pendidikan dan pengajaran sebagai sesuatu aktivitas asasi dan profesi di antara
sekian banyak profesi asasi dalam masyarakat.
Muhammad fadhil al-Jamaly mendefenisikan pendidikan Islam sebagai
upaya pengembangan, mendorong serta mengajak peserta didik hidup lebih
dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia.
Dengan proses tersebut, diharapkan akan terbentuk pribadi peserta didik yang
lebih sempurnah, baik yang berkaitan dengan potensi akal, perasaan maupun
perbuatanya.
Ahmad D. Marimba mengemukakan bahwa pendidikan islam adalah
bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan
jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama
(insan kamil)
Ahmad Tafsir mendefenisikan pendidikan islam sebagai bimbingan yang
diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan
ajaran Islam (Tafsir, 2005 : 45)
Dari batasan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan Islam
adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) agar dapat

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 1


mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologis atau gaya pandang umat
islam selama hidup di dunia.
Adapun pengertian lain pendidikan agama islam secara alamiah adalah
manusia tumbuh dan berkembang sejak dalam kandungan sampai meninggal,
mengalami proses tahap demi tahap. Demikian pula kejadian alam semesta ini
diciptakan Tuhan melalui proses setingkat demi setingkat, pola perkembangan
manusia dan kejadian alam semesta yang berproses demikian adalah berlangsung
di atas hukum alam yang ditetapkan oleh Allah sebagai “sunnatullah”
Pendidikan sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia
dari aspek-aspek rohaniah dan jasmani juga harus berlangsung secara bertahap
oleh karena suatu kematangan yang bertitik akhir pada optimalisasi perkembangan
dan pertumbuhan dapat tercapai bilamana berlangsung melalui proses demi proses
ke arah tujuan akhir perkembangan atau pertumbuhannya.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa
pendidikan agama Islam adalah usaha sadar atau kegiatan yang disengaja
dilakukan untuk membimbing sekaligus mengarahkan anak didik menuju
terbentuknya pribadi yang utama (insan kamil) berdasarkan nilai-nilai etika islam
dengan tetap memelihara hubungan baik terhadap Allah Swt (HablumminAllah)
sesama manusia (hablumminannas), dirinya sendiri dan alam sekitarnya.
Bila ditinjau dari segi etimologi, kapita selekta pendidikan sebenarnya
tersusun dari dua kata, yaitu : “Kapita Selekta” dan “Pendidikan”, yang dipadukan
sehingga menjadi satu istilah yang memiliki satu kesatuan makna. Dalam “Kamus
Besar Bahasa Indonesia” kata “Kapita Selekta”, diartikan dengan “garis besar
mengenai hal-hal penting dan terpilih”. Dan kata “Pendidikan” dalam kamus itu,
diartikan dengan “Proses yang pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau
kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran
dan latihan-latihan” Secara istilah/terminologi yaitu : suatu mata kuliah yang
membahas kumpulan masalah dari pendidikan yang penting dan terpilih untuk
dicari penyebabnya dan ditentukan jalan keluarnya. Dan pendidikan Islam sendiri
memiliki pengertian yang sangat luas, seorang ilmuan muslim, pakar pendidikan

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 2


islam DR. Muhammad S.A. Ibrahimy ( Bangladesh), mengungkapkan pendidikan
islam sebagai berikut :
Napas keislaman dalam pribadi seorang muslim merupakanelane vitale
yang menggerakkan perilaku yang diperkokoh dengan ilmu pengetahuan luas,
sehingga ia mampu memberikan jawaban yang tepat dan berguna terhadap
tantangan perkembangan ilmu dan teknologi. Karena itu pendidikan Islam
memiliki ruang lingkup yang berubah-ubah menurut waktu yang berbeda-beda. Ia
bersikap lentur pekembangan kebutuhan umat manusia dari waktu ke waktu.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Kapita Selekta Pendidikan Islam adalah
mata kuliah pendidikan Islam yang membicarakan tentang masalah-masalah
pokok/pilihan dalam pendidikan (khususnya pendidikan Islam) yang aktual, untuk
inovasi pendidikan Islam.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan merupakan titik
sumbu dalam kerangka pembangunan dan pemberdayaan sumber daya manusia.
Jika terjadi keterbelakangan sumber daya manusia pada sebuah negara, maka
kesalahan sering ditimpakan pada lembaga pendidikan. Sebaliknya jika sumber
daya manusia pada sebuah negara rata-rata berkualitas baik, maka keberhasilan
juga ditujukan kepada lembaga-lembaga pendidikan. Dengan demikian dapatlah
dipahami betapa peran penting pendidikan dalam menentukan maju mundurnya
sebuah bangsa, dalam kerangka yang lebih luas bahkan menentukan maju
mundurnya sebuah peradaban umat manusia di semesta alam. Pada beberapa
perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi yang membuka program studi
pendidikan, Kapita Selekta Pendidikan merupakan salah satu mata kuliah. Jika
ditelusuri dari segi etimologi, kata Kapita Selekta Pendidikan berasal dari dua
susunan kata yaitu kapita selekta dan pendidikan.Kapita selekta sering diartikan

B. Pokok Bahasan Kapita Selekta Pendidikan


Dari penjelasan tentang pengertian kapita selekta pendidikan, maka
pokok bahasan yang dibahas adalah sebagai berikut :
a. Obyek Pembahasannya adalah masalah dari pendidikan Islam Yang
dimaksud dengan masalah disini dapat disinonimkan dengan problematika.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 3


Dalam kaitannya dengan pendidikan, masalah itu dapat berupa adanya
kesenjangan antara teori dengan kenyataan. Maka dapat disimpulkan
bahwa masalah pendidikan adalah ketidaksesuaian antara yang seharusnya
dengan kenyataan yang timbul dalam penyelengaraan system pendidikan
nasional yang perlu dicari kejelasannya, terutama mengenai hal-hal yang
melatarbelakangi munculnya permasalahan itu, supaya dapat diketahui
dengan jelas masalahnya dan dapat ditentukan jalan keluarnya.
b. Permasalahannya yang dibahas bersifat penting dan terpilih Kapita selekta
pendidikan Islam secara selektif membahas permasalahan yang aktual,
yang hangat-hangatnya dibahas pemerintah, diperbincangkan oleh para
pakar dan pengelola pendidikan. Disadari bahwa semakin maju peradaban
suatu masyarakat akan bertambah banyak masalah yang harus dihadapi,
termasuk dalam bidang pendidikan. Oleh karenanya, permasalahn
pendidikan yang menjadi sasaran kajian “Kapita Selekta Pendidikan
Islam” tidaka akan pernah habis dan kadaluarsa, melaikan akan selalu
berkembang sesuai denagn tuntutan perkembangan zaman Jadi,
permasalahan yang menyangkut tentang pendidikan itu tidak akan berhenti
selama manusia sendiri masih bercita-cita untuk memajukan kesejahteraan
umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
c. Tujuan pembahasannya adalah untuk menemukan penyebab yang
menimbulkan permasalahan pendidikan kemudian menentukan jalan
keluarnya. Jika orang berfikir administratife, maka dalam setiap kegiatan
yang dilakukan selalu ditetapkan tujuan yang akan dicapai. Hal ini
membawa konsekwensi, bahwa dalam mengkaji permasalahan pendidikan
diharuskan menerapkan pendekatan sebab-akibat, bukan menerapakan
pendekatan gejala. Hasil penyelesaian permasalahan pendidikan yang
ditentukan melalui penerapan pendekatan pertama, akan menjurus pada
jalan keluar yang lebih memungkinkan membawa perbaikan secara
integral. Sedangkan hasil penyelesaian permasalahan dengan pendekatan
kedua biasanya akan menjerumus pada satu macam jalan keluar yang
dimungkinkan hanya membawa perbaikan secara parsial. Jadi, jelaslah

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 4


bahwa kapita selekta pendidikan Islam merupakan suatu mata kuliah yang
menuntut da mengarahkan mahsiswa agar berfikir analisis lagi kritis
terutama dengan menerapkan kaidah deduktif dan induktif, agar
mahasiswa berwawasan luas dalam menanggapi permasalahan pendidikan
Nasional.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 5


BAB II

PENGHAPUSAN MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

A. Pembelajaran PAI
1. Pengertian Pembelajaran PAI

Menurut Zayadi dikutip Heri Gunawan, kata pembelajaran merupakan


“terjemahan dari bahasa Inggris, instruction, yang bermakna “upaya untuk
membelajarkan seseorang atau kelompok orang melalui berbagai upaya (effort)
dan berbagai strategi, metode, dan pendekatan ke arah pencapaian tujuan yang
telah ditetapkan”.

Dari pengertian pembelajaran di atas dapat disimpulkan bahwa


pembelajaran adalah proses perubahan tingkah laku manusia melalui proses
belajar sebagai hasil interaksi antara siswa dengan guru dan sumber belajar serta
lingkungan belajar. Adapun pengertian Pendidikan Agama Islam yang tercantum
dalam Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia nomor 211 tahun 2011
tentang pedoman pengembangan agama Islam pada sekolah, bahwa:

Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang memberikan


pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan siswa dalam
mengamalkan ajaran agama Islam, yang di laksanakan sekurang-kurangnya
melalui mata pelajaran pada semua jenjang pendidikan.

Sedangkan pengertian Pendidikan Agama Islam menurut pendapat beberapa para


ahli:

Menurut Ramayulis Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan


terencana dalam menyiapkan siswa untuk mengenal, memahami, menghayati,
mengimani, bertakwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari
sumber utamanya kitab suci alQur‟an dan al-Hadist, melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran latihan, serta penggunaan pengalaman

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 6


Menurut Zakiyah Daradjat dikutip Abdul Majid Pendidikan Agama Islam
adalah “suatu usaha untuk membina dan mengasuh siswa agar senantiasa dapat
memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada
akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup”

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama


Islam adalah suatu usaha dalam mengubah tingkah laku siswa agar memahami,
menghayati dan mengamalkan ajaran Islam melalui suatu pembelajaran dan
bimbingan yang secara sistematis.

B. Tujuan Pembelajaran PAI

Menurut Nazarudin yang bersumber dari Departemen Agama bahwa tujuan


Pendidikan Agama Islam pada sekolah umum bertujuan “meningkatkan
keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengalaman siswa terhadap ajaran
agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang bertaqwa kepada Allah
SWT. serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa dan
bernegara”.

Selain itu dalam Depdiknas, tujuan Pendidikan Agama Islam di sekolah


umum, merumuskan sebagai berikut:

Menumbuh kembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan


pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta
pengalaman siswa tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang
terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

Mewujudkan manusia Indonesia yang taat berbagama dan berakhlak mulia yaitu
manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis,
berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga kehormatan secara personal dan
sosial serta mengembangkan budaya agama dan komunitas sekolah.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam
adalah membentuk kepribadian muslim yang beriman, bertakwa, berpengetahuan

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 7


dan berakhlak supaya dapat tercapai dari tujuan agama Islam sendiri yaitu
membentuk insan yang berakhlakul karimah

C. Fungsi Pendidikan

Agama Islam dalam keputusan menteri agama R.I. nomor 211 tahun 2011,
tentang pedoman pengembangan standar nasional Pendidikan Agama Islam pada
sekolah adalah sebagai berikut:

1. Penanaman nilai ajaran Islam sebagai pedoman mencapai kebahagiaan


hidup di dunia dan akhirat.
2. Peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta akhlak
mulia siswa seoptimal mungkin, yang telah ditanamkan lebih dahulu
dalam lingkungan keluarga.
3. Penyesuaian mental siswa terhadap lingkungan fisik dan sosial.
4. Perbaikan kesalahan, kelemahan siswa dalam keyakinan, pengamalan
ajaran Agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.
5. Pencegahan siswa dari dampak negatif budaya asing yang dihadapi sehari-
hari.
6. Pengajaran tentang ilmu keagamaan baik teori maupun praktik.
7. Penyaluran bakat-minat siswa dibidang Keislaman; dan
8. Penyelarasan antara potensi dasar (fithrah mukhallaqah) siswa dengan
agama (fithrah munazzalah) sebagai acuan hidup agar siswa tetap berjalan
diatas nilai-nilai Islam.

D. Manfaat yang Akan Didapat belajar ilmu Agama

Dalam kehidupan, terdapat berbagai macam ilmu yang bermanfaat untuk


dipelajari. Salah satunya ialah ilmu agama. Sejak kecil, kita sudah diajarkan
pendidikan agama oleh orang tua. Selain itu kita juga diajarkan pendidikan agama
di sekolah. Tapi sayangnya zaman ini masih banyak yang tidak suka mempelajari
ilmu agama.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 8


Padahal memperdalam ilmu agama merupakan hal yang sangat penting bagi
manusia. Sebab, dengan memperdalam ilmu agama maka kita akan mendapatkan
manfaat yang baik bagi kehidupan kita. Lalu, manfaat apa saja yang akan kita
dapatkan saat memperdalam ilmu agama? Berikut adalah manfaatnya.

1. Membuat manusia menjadi pribadi yang baik


Setiap agama pasti selalu mengajarkan kebaikan. Mempelajari ilmu agama
dapat membuat manusia menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan menjadi
pribadi yang baik, maka kita akan memberikan pengaruh positif bagi
orang lain. Selain itu jika kita berbuat baik kepada siapapun, maka kita
akan mendapatkan kebaikan juga dari orang lain.
2. Lebih bersyukur dalam kehidupan
Pada dasarnya, manusia memang memiliki sifat yang tidak mudah puas.
Dengan adanya pendidikan agama, kita selalu diajarkan untuk selalu
bersyukur dalam kehidupan. Bila kita mendapat banyak rezeki, hendaklah
kita bersyukur dan tidak sombong. Lalu bila kita sedang mendapat
musibah, kita juga harus bersyukur sebab Tuhan masih perhatian kepada
kita.
3. Sarana Pendidikan Terbaik
Dengan memberikan pendidikan agama sejak dini pada putra putri kita,
maka secara langsung ataupun tidak langsung kita akan dapat mengajarkan
pada anak, hal-hal apa baik apa saja yang dapat dilakukan, dan hal apa saja
yang memang tidak dapat dilakukan. Dengan pendidikan agama sejak dini
yang kita berikan kepada putra putri kita, maka pola kebiasaan untuk
selalu melakukan kebaikan akan dapat dijaga hingga mereka menghadapi
bentuk kehidupan nyata pada masa dewasa nanti.
4. Jalan Keselamatan bagi Umat Manusia
Dengan belajar agama, maka secara langsung diri kita dapat berhubungan
dengan Tuhan dan merasakan berbagai nikmat yang telah Dia berikan.
Hanya kepada Tuhan pulalah, nantinya kita akan dapat berkeluh kesah dan
menemukan jalan terbaik dari berbagai persoalan yang dihadapi.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 9


Pembelajaran agama yang tentunya didasarkan pada sebuah kitab suci,
tentunya akan memiliki sebuah tuntunan dari berbagai persoalan yang
dihadapi oleh manusia. Dengan menyelesaikan persoalan berdasarkan
ajaran dalam kitab suci inilah, nantinya keselamatan dan ketenangan hidup
dapat kita miliki.
5. Jalan untuk dapat Menemukan Perdamaian Dunia
Dengan ajaran agama yang selalu mengajarkan kebaikan dalam setiap lini
kehidupan, serta rasa saling menghormati antara manusia inilah, nantinya
kehidupan yang penuh toleransi dan rasa hormat akan tercipta. Kehidupan
dengan penuh hormat dan toleransi antar umat beragama inilah, yang
nantinya akan secara langsung membentuk sistem kerukunan antar
manusia dan bangsa, sehingga perdamaian didalam dunia pun dapat
tercipta dengan mudah.
E. Sebab akibat penghapus pelajaran agama islam

Masyarakat indonesia telah digoncangkan di media massa diramaikan oleh


berita tentang usulan agar Pelajaran Agama Islam di sekolah dihapuskan. Usulan
itu segera membangkitkan memori umat Islam tentang sejarah panjang perjuangan
memasukkan materi Pelajaran Agama Islam (PAI) di sekolah, sebagai materi ajar
wajib di semua jenjang pendidikan. Indonesia, negara bangsa yang dikenal sangat
religius, mustahil pelajaran agama dianggap tidak penting, dan akan dihilangkan.

Dengan adanya pelajaran agama islam sekolah negeri yang didalamnya


tidak hanya terdapat satu agama tapi lebih dari satu agama yang artinya
kepercayaan mereka berbeda beda tentunya oleh karena itu tak jarang dari
pendidik sebagian tidak mewajibkan mereka yang tidak beragama tersebut
mengikuti pelajaran agama, dan satu per satu mereka keluar kelas dengan suasana
yang tidak nyaman. tanpa kita sadari adalah salah satu bentuk diskriminasi
kebeberapa murid yang memeluk agama minoritas. Dalam sekolah negeri
pelajaran agama islam tidak begitu detail dan telah disediakan banyak buku serta
bisa dibaca secara individu itulah sebab mengapa pelajaran agama islam dihapus
dan agama itu adalah hal yang bersifat pribadi, terserah orang mau mendalami

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 10


atau tidak itu tanggung jawab pribadi, manusia berbuat baik juga tidak harus
karena agama, Karena mereka paham tentang moral, etika, dan kemanusiaan.

Dunia tanpa agama kemungkinan makin buruk .Pada dasarnya agama


diciptakan untuk menyempurnakan akhlak/budi pekerti manusia dan memperbaiki
perilaku dan kepribadian manusia. Jadi, tanpa agama, akhlak/budi pekerti manusia
akan rusak binasa, ini kemungkinan yang buruk.Akibat dari penghapusan mata
pelajaran agama islam di sekolah negeri, yaitu:

Siswa akan menjadi manusia agamis yang terkungkung karena seluruh


ajaran agama berlawanan dengan lingkungannya;Siswa akan menjalankan ajaran
agama tetapi secara bercampur baur, ya beragama ya menjalani corak kehidupan
yang berlawanan dengannya. Misalnya ia melakukan sholat tetapi juga mau
berzina dengan pacarnya, dan;Siswa akan mengabaikan ajaran agama yang
diterimanya sama sekali, karena ia kalah dengan lingkungannya. Yang terakhir
mengikuti pembelajaran pendidikan agama hanya sekedar memenuhi kewajiban
akademis belaka dan tidak untuk memperbaiki corak kehidupannya sama sekali.

Bila seorang peserta didik hanya dididik secara agamis, jangka panjangnya
mereka malah berpotensi menjadi manusia-manusia ignorant dan ujung ekstrem
nya bisa menjadi benih baru ormas-ormas seperti FPI. Oleh sebab itu, rasanya
tidak tepat dan kelewat buru-buru jika pendidikan agama malah dihapuskan.
Lebih baik perbaiki sistem-sistemnya dari segi kualitas, demikian pula untuk
pendidikan pelajaran lainnya.

F. Implikasi

Dengan adanya Pendidikan agama Islam di sekolah atau madrasah akan


menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan
pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang
agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal
keimanan, ketakwaannya, berbangsa, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 11


pendidikan yang lebih tinggi. sebagaimana tercermin dalam firman Allah dalam
surat Adzariat ayat 56

َ ‫لج َّن َو ْا ِال ْن‬


‫ن‬Gَ ْ‫س اِالَّلِيَ ْعبُ ُدو‬ ِ ‫ت ْا‬
ُ ‫َو َما َخلَ ْق‬

Artinya:

“Dan aku tidak menciptakan Jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku” (Q.S Adzariat, 56)

Pendidikan agama Islam memberikan kemampuan kepada peserta didik


tentang agama Islam untuk mengembangkan kehidupan beragama, sehingga
menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa
ta’ala. Serta berakhlak mulia sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara,
dan anggota umat manusia.

Melalui pendidikan dan pengajaran, berdampak pada akhlak yang baik.


Apabila seseorang yang pada awalnya belum begitu mengetahui tentang ilmu
agama, kemudian ia mempunyai niat untuk memperdalam ilmu agamanya dengan
cara menuntut ilmu di sekolahan yang berbasis agama, maka dengan seiring
berjalannya waktu ia akan mengerti tentang ilmu agama. Selain itu moralnya juga
menjadi lebih baik lagi dari pada sebelumnya. Kemudian ketika di dalam
masyarakat ia sudah siap apabila di minta tolong untuk melakukan suatu hal yang
berhubungan dengan agama. Pendidikan juga sebagai sarana untuk mempelajari
aspek-aspek dalam kehidupan yang menjadikan para pemuda mempunyai dasar
pemikiran yang kokoh. Karena dengan dengan itu seseorang menjadi terbiasa
dalam berfikir secara kritis dan dengan dasar-dasar pendidikan agama Islam
seseorang dapat berfikir secara jernih dan tidak bingung apabila menghadapi
persoalan kehidupan. Dengan terwujutnya suatu karakter pada generasi muda
akan berdampak positif baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang-orang di
sekitarnya, dan menjadikan perubahan dalam masyarakat, yang dulunya sangat
pasif, tidak mengetahui agama secara keseluruhan, dan berakhlak yang kurang,
sekarang menjadi aktif dalam segala hal, berwawasan luas, berakhlak yang baik.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 12


BAB III

MASALAH PENDIDIKAN MORAL DAN BUDI PEKERTI

A. Pengertian Pendidikan Moral Dan Budi Pekerti


1. Pendidkan Moral

Moral adalah perbuatan atau tingkah laku dan ucapan seseorang dalam
berinteraksi dengan manusia. Apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan
nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta
menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai
moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Moral adalah produk dari budaya dan
agama. Moral juga dapat diartikan sebagai sikap, perilaku, tindakan, kelakuan
yang dilakukan seseorang pada saat mencoba melakukan sesuatu berdasarkan
pengalaman, tafsiran, suara hati, serta nasehat.

Menurut Haidar Putra Daulay, Pendidikan Moral adalah (budi pekerti)


diartikan sebagai proses pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan nilai,
sikap dan perilaku siswa yang memancarkan akhlak (moral) yang baik atau budi
pekerti luhur, lewat pendidikan moral ini kepada anak didik akan diterapkan nilai
dan perilaku yang positif.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral adalah usaha


sadar dan terencana yang dilakukan oleh seorang pendidik untuk membentuk
tabiat yang baik pada seorang anak didik, sehingga terbentuk manusia yang taat
kepada Allah SWT. pembentukan tabiat ini dilakukan oleh pendidik secara
kontinyu dengan tidak ada paksaan dari pihak manapun.

Agar lebih jelas tentang konsep moral, maka akan dibahas pula gambaran-
gambaran moral menurut para pakar-pakar moral diantaranya,

a. Imam Abu Hamid Al-Ghazali


Menurut Al-Ghazali (dikutip oleh Asmaran As)

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 13


“Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-
macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan
pemikiran dan pertimbangan.
b. Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa suatu perbuatan dapat dikatakan
sebagai moral jika perbuatan tersebut dilakukan dengan spontan atau tanpa
pertimbangan, karena sifat yang sudah melekat pada pribadi seseorang
menjadi watak. Batas perbuatan yang sudah menjadi watak inilah yang
kemudian banyak disepakati sebagai salah satu ciri dari moral.
c. Ibn Miskawaih (dikutib oleh Zahruddin AR dan Hasanuddin Sinaga)
“Moral adalah keadaan jiwa sesorang yang mendorongnya untuk
melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran (lebih
dahulu)”.
d. Menurut Abdul Hamid
“Moral adalah ilmu tentang keutamaan yang harus dilakukan dengan cara
mengikutinya sehingga jiwanya terisi dengan kebaikan, dan tentang
keburukan yang harus dihindarinya sehingga jiwanya kosong (bersih) dari
segala bentuk keburukan”.
e. Imam Abdul Mukmin dalam buku “meneladani akhlak nabi” berpendapat
bahwa akhlak atau moral mengandung beberapa arti yaitu: tabiat, adat dan
watak. Pengertian moral sering kali membaur dengan pengertian budi
pekerti, etika kepribadian.
Badan pertimbangan Pendidikan Nasional merumuskan pengertian
pendidikan budi pekerti sebagai sikap dan perilaku sehari-hari baik individu,
keluarga, maupun masyarakat dan bangsa, yang mengandung nilai-nilai
yang berlaku dan dianut dalam bentuk jati diri, nilai persatuan dan kesatuan,
integritas dan kesinambungan masa depan dalam suatu sistem moral, dan
yang menjadi pedoman perilaku manusia Indonesia untuk bermasyarakat
berbangsa dan bernegara dengan bersumber pada falsafah Pancasila dan
diilhami oleh ajaran agama serta budaya Indonesia.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 14


Dalam konteks Agama Islam, budi pekerti digunakan untuk menyatakan
akhlak , tabiat, perangai, tingkah laku seseorang. Secara umum gabungan dari
kedua pengertian di atas,seperti yang dirumuskan dalam Ensiklopedia Pendidikan,
budi pekerti diartikan sebagai kesusilaan yang mencakup segi-segi kejiwaan dan
perbuatan manusia, sedangkan manusia susila adalah manusia yang sikap
lahiriyah dan batiniyahnya sesuai dengan norma etik dan moral.

Dalam tataran oprasional menurut Pusat Pengembangan Kurikulum dan


sarana Pendidikan ( Pusbangkurandik ), pendidikan budi pekerti adalah upaya
untuk membentuk peserta didik yang tercermin dalam kata, perbuatan,
sikap,pikiran, perasaan, dan hasil karya berdasarkan nilai,norma, dan moral luhur
bangsa Indonesia melalui kegiatan bimbingan, pelatihan dan pengajaran.

B. Tujuan Pendidikan Moral Dan Budi Pekerti


1. Tujuan Pendidikan Moral

Pada hakikatnya pendidikan moral ini bertujuan untuk mengembangkan


nilai, sikap dan perilaku siswa yang memancarkan nilai moral yang baik
atau budi pekerti yang luhur, lewat pendidikan moral ini kepada anak didik
akan diterapkan nilai-nilai dan perilaku yang positif, sehingga tercapai
kehidupan yang lebih baik dan memperoleh kebahagiaan baik di dunia
maupun di akhirat. Sebenarnya tujuan itulah yang diinginkan setiap
manusia, dan itu pun tidak bisa dipungkiri.

2. Tujuan Budi Pekerti

Tujuan pendidikan budi pekerti adalah untuk mengembangkan nilai,


sikap dan perilaku siswa yang memancarkan akhlak mulia / budi pekerti
luhur. Dengan kata lain dalam pendidikan budi pekerti nilai-nilai yang ingin
dibentuk adalah nilai nilai akhlak yang mulia, yaitu tertanamnya nilai-nilai
akhlak yang mulia kedalam diri peserta didik yang kemudian terwujud
dalam tingkah lakunya. Adapun tujuan pendidikan budi pekerti sebagaimana
yang diungkapkan oleh KI Hajar Dewantoro adalah “ ngerti–

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 15


ngerasangelakoni (menyadari, menginsyafi dan melakukan). Hal tersebut
mengandung pengertian bahwa pendidikan budi pekerti adalah bentuk
pendidikan dan pengajaran yang menitikberatkan pada perilaku dan
tindakan siswa dalam mengapresiasikan dan mengimplementasikan nilai-
nilai budi pekerti ke dalam tingkah laku sehari-hari.

C. Sebab Akibat Dihapusnya Pendidikan Moral Dan Budi Pekerti

Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia sebagaimana tertuang dalam


Undang Undang No 2/89 Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas merumuskan
tujuannya pada Bab II, Pasal 4, yaitu: mengembangkan manusia Indonesia
seutuhnya. Maksud manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berbudi Pekerti luhur.

Di samping itu, juga memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat


jasmani dan rohani , kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung
jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Sebenarnya tujuan yang terdapat dalam
sistem pendidikan nasional kita sudah sangat lengkap untuk membentuk anak
didik menjadi pribadi utuh yang dilandasi akhlak dan budi pekerti luhur. Namun,
pada kenyataannya, tujuan yang mulia tersebut tidak diimbangi pada tataran
kebijakan pemerintah yang mendukung tujuan tersebut.

Sebab dihapusnya mata pelajaran budi pekerti tersebut karena dianggap


telah cukup tercakup dalam mata pelajaran agama, tentu hal itu tidak sedemikian
adanya. Walaupun budi pekerti merupakan bagian dari mata pelajaran agama yang
salah satu bahasannya adalah akhlak/budi pekerti, pembahasan mengenai hal
tersebut pasti memperoleh porsi yang amat sangat kecil.

Hal ini mengingat cukup banyak aspek yang dibahas dalam mata pelajaran
agama dengan alokasi waktu yang amat minim. Oleh karena itu, sentuhan aspek
moral/akhlak/budi pekerti menjadi amat tipis dan tandus. Padahal zaman terus
berjalan, budaya terus berkembang, teknologi berlari pesat. Arus informasi manca
negara bagai tak terbatas.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 16


Akibatnya budaya luar yang negatif mudah terserap tanpa ada filter yang
cukup kuat. Gaya hidup modern yang cepat ditiru tanpa disaring. Perilaku negatif
seperti tawuran menjadi budaya baru yang dianggap dapat mengangkat jati diri
mereka. Premanisme ada dimana-mana, emosi meluap-luap, cepat marah dan
tersinggung, ingin menang sendiri menjadi bagian hidup yang akrab dalam
pandangan sebagian dari diri masyarakat kita sendiri. Hal lain yang juga
menunjukkan adanya indikator budi pekerti/moral yang gersang adalah banyaknya
terjadi kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak sekolah di bawah umur.

Dalam hal ini, bisa saja terjadi pelaku dan korban pelecehan tersebut
adalah anak-anak. Tindak kejahatan mencuri, menodong bahkan membajak bus
umum semua pelakunya adalah pelajar sekolah.

Fenomena-fenomena seperti dipaparkan di atas tentu tidak boleh


dibiarkan. Anak menjadi generasi seperti apa kelak anak-anak jika dibiarkan
dalam kondisi tersebut. Jika tidak dapat dicarikan jalan keluarnya, akan terbentuk
generasi yang bermoral/berbudi pekerti rusak. Jika generasi kini rusak, bagaimana
dengan pemimpin bangsa di masa mendatang.

Beberapa hal yang bisa di lakukan dalam upaya menanggulangi isu


masalah tentang pendidikan moral dan budi pekerti seperti peran aktif orang tua
atau keluarga sangat dituntut dalam upaya menanggulangi kemerosotan moral dan
budi pekerti anak.

Bagi orang tua yang berkecukupan diharapkan tidak hanya mengejar


materi dan karier, tetapi diharapkan, lebih memberikan perhatian kepada anak-
anak mereka, yaitu dengan cara memberikan penanaman nilai-nilai agama sejak
dini.

Sementara itu, bagi orang tua yang kurang mampu diharapkan tidak terlalu
membebani anak dengan tuntutan bekerja, sementara mengabaikan hak mereka
untuk mendapatkan pendidikan, khususnya pendidikan moral dan budi pekerti.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 17


Pemerintah juga harus memaksimalkan dalam menangani dan
menanggulangi kemerosotan moral dan budi luhur pekerti anak. Pemerintah
diharapkan lebih serius menangani kemerosotan moral dan budi pekerti anak,
tidak hanya sebatas menetapkan kebijakan.

Hal ini dapat dilakukan dengan mengalokasikan anggaran pelatihan bagi


para guru dalam melakukan integrasi materi moral dan budi pekerti ke dalam
setiap mata pelajaran dan memasukan kembali materi moral dan budi pekerti
menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri. Dan terakhir peran masyarakat
ataupun organisasi keagamaan untuk turut menanggulangi kemerosotan moral dan
budi pekerti anak,

D. Manfaat Pendidikan Moral Dan Budi Pekerti

Ada beberapa manfaat yang bisa didapat dari pendidikan moral dan budi
pekerti salah satunya yaitu dapat membantu seseorang sehingga bisa
meningkatkan nilai diri lewat penanaman ketatasusilaan dan nilai-nilai moralitas
dan mulai belajar bagaimana seseorang bersikap yang lebih baik. Selain itu
pendidikan moral dan budi pekerti memiliki manfaat dalam membantu
meningkatkan kesadaran dan akhlak yang baik bagi seseorang untuk melakukan
sesuatu yang dapat berguna untuk berbagai kalangan dan juga sangat bermanfaat
untuk mencegah perilaku menyimpang yang dapat merusak fikiran seorang yang
tidak sesuai dengan ajaran agama, bangsa dan Negara.

E. Implikasi

Dalam menanamkan pendidikan moral dan budi pekerti yang baik kepada
peserta didik seorang guru harus mampu menciptakan suasana baik untuk
pertumbuhan sikap-sikap positif sehingga mampu memengaruhi masyarakat
disekolah. Unsur lingkungan sosialsangat berpengaruh untuk memberikan akhlak
yang baik. Jadi bila seorang guru mau menanamkan nilai-nilai dan sikap-sikap
hidup positif pada masyarakat sekolah, ia harus hadir sebagai perwujudan nilai-
nilai positif itu.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 18


Selain seorang guru pendidikan moral dan budi pekerti juga menjadi
tanggung jawab orang tua di rumah, karena waktu di rumah adalah yang paling
banyak, sehingga orang tua dalam pergaulannya dengan anaknya waktunya lebih
banyak. Dalam menanamkan pendidikan moral dan budi pekerti orang tua harus
memberikan suri tauladan pada anak-anaknya, karena dengan melihat perilaku
orang tua dalam kehidupan sehari-hari anak secara tidak langsung akan melihat
dan menirunya.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 19


BAB IV

Tenaga Pendidik Di Sekolah Yang Berpendidikan Dibawah S1

A. Definisi Tenaga Pendidik

Salah satu komponen dalam pendidikan adalah guru. Guru merupakan aset
terpenting dalam perubahan peradaban. Lahirnya para tokoh-tokoh terkemuka dan
terkenal diseluruh dunia tidak akan pernah lepas dari pengajaran seorang guru.
Mereka tidak terkenal begitu saja, mereka juga pernah menjalani jenjang
pendidikan dan diajar oleh seorang guru hingga mereka bisa sesukses sekarang
ini.

Dalam UUD 1945, jelas bahwa pemerintah negara indonesia yang dibentuk
antara lain dimaksudkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, maka tentu
unsur yang sangat penting dan trategis serta harus mendapatkan perhatian dan
perlindungan adalah unsur pendidik pada semua jenjang pendidikan.

Dan untuk mewujudkan kriteria “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” ini,


perlu adanya guru yang berkemampuan dan berkualitas. Derajat kualitas
pendidikan guru ditentukan oleh tingkat kualitas semua komponen yang masing-
masing memberikan kontribusi terhadap sistem pendidikan guru secara
keseluruhan. Komponen-komponen tersebut adalah siswa calon guru, pendidik,
pembimbing, kurikulum, strategi pembelajaran, media kontekstual dan lain
sebagainya.

Mengutip dari Undang-Undang Republik Indonesia No 14 Tahun 2005


tentang guru dan dosen “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.” Tugas guru dalam bidang
kemanusiaan di sekolah harus menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua.
Masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat di
lingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 20


memperoleh ilmu pengetahuan. Ini berarti bahwa guru berkewajiban
mencerdaskan bangsa menuju pembentukan manusia indonesia seutuhnya yang
berdasarkan Pancasila.

Guru Yang Berpendidikan Di Bawah S1

Ada istilah yang mengatakan bahwa “Guru adalah Pahlawan tanpa tanda
jasa”. Hal ini tidak berlebihan mengingat besarnya jasa guru dalam membangun
sebuah bangsa. Jasa besarnya guru terjadi dari perannya sebagai aktor utama bagi
terciptanya generasi penerus bangsa yang berkualitas, tidak hanya dari sisi
intelektulitas saja melainkan juga dari tata cara berperilaku dalam masyarakat.

Namun dibalik kebesarannya, masih ada kendala besar menanti dari segi
pendidikan seorang Guru. Dilansir dari data Kementerian Pendidikan Nasional
pada tahun 2015 ada 19 persen guru di jenjang dini, dasar dan menengah di
Indonesia belum berijazah sarjana (S1). Berarti jika dihitung 19 persen dari total
3.400.000-an guru yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, ada sekitar600
Ribu an guru belum menyandang gelar sarjana. Padahal jika kembali kita menilik
dari UU No 14 tahun 2005 bahwa pemerintah berkewajiban meningkatkan
kualifikasi guru yang belum sarjana dalam waktu sepuluh tahun.

Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru


belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya
sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan
pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,
melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan
melakukan pengabdian masyarakat.

Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak
mengajar. Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003
di berbagai satuan pendidikan sebagai berikut : untuk SD yang layak mengajar
hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12% (negeri) dan

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 21


60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta), serta untuk
SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta).

Kelayakan mengajar itu jelas berhubungan dengan tingkat pendidikan guru itu
sendiri. Data Balitbang Depdiknas (1998) menunjukkan dari sekitar 1,2 juta guru
SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-Kependidikan ke atas.
Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8% yang berpendidikan
diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah, dari 337.503
guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat pendidikan
tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas (3,48%
berpendidikan S3).

Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu


keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan
kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat
besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya. Kualitas guru
dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat
kesejahteraan guru.

Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat


rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi Guru
Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang guru
menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan rata-rata
guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu, dan guru
honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti
itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan. Ada yang
mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek,
pedagang mie rebus, pedagang buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya
(Republika, 13 Juli, 2005).

Dengan adanya UU Guru dan Dosen, barangkali kesejahteraan guru dan


dosen (PNS) agak lumayan. Pasal 10 UU itu sudah memberikan jaminan
kelayakan hidup. Di dalam pasal itu disebutkan guru dan dosen akan mendapat

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 22


penghasilan yang pantas dan memadai, antara lain meliputi gaji pokok, tunjangan
yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, dan/atau tunjangan khusus serta
penghasilan lain yang berkaitan dengan tugasnya. Mereka yang diangkat
pemkot/pemkab bagi daerah khusus juga berhak atas rumah dinas.

Tapi, kesenjangan kesejahteraan guru swasta dan negeri menjadi


masalah lain yang muncul. Di lingkungan pendidikan swasta, masalah
kesejahteraan masih sulit mencapai taraf ideal. Diberitakan Pikiran Rakyat 9
Januari 2006, sebanyak 70 persen dari 403 PTS di Jawa Barat dan Banten tidak
sanggup untuk menyesuaikan kesejahteraan dosen sesuai dengan amanat UU Guru
dan Dosen (Pikiran Rakyat 9 Januari 2006).

B. Solusi dari Permasalahan Tersebut

Menurut Prof. Dr. Made. Pidarta (2004), untuk mengatasi masalah-


masalah di atas, secara garis besar ada dua solusi yang dapat diberikan yaitu:

Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem


sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem
pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem
pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem ekonomi
kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan
peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan
pendidikan.

Maka, solusi untuk masalah-masalah yang ada, khususnya yang


menyangkut perihal pembiayaan seperti rendahnya sarana fisik, kesejahteraan
guru, dan mahalnya biaya pendidikan berarti menuntut juga perubahan sistem
ekonomi yang ada. Akan sangat kurang efektif kita menerapkan sistem pendidikan
Islam dalam atmosfer sistem ekonomi kapitalis yang kejam. Maka sistem
kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan diganti dengan sistem ekonomi Islam
yang menggariskan bahwa pemerintahlah yang akan menanggung segala
pembiayaan pendidikan negara.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 23


Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait
langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah
kualitas guru dan prestasi siswa.

Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-


upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas
guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi
solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih
tinggi, meningkatkan keprofesionalan guru, meningkatkan kompetensi-
kompetensi yang dimiliki guru dan memberikan berbagai pelatihan untuk
meningkatkan kualitas guru. Misalnya rendahnya prestasi siswa diberi solusi
dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-
alat peraga, sarana dan prasarana pendidikan, dan sebagainya.

C. Implikasi

Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut


perubahan pada sistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing
secara sehat dalam segala bidang. Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa
Indonesia agar tidak semakin ketinggalan dengan negara-negara lain adalah
dengan meningkatkan kualitas pendidikannya terlebih dahulu.

Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia


yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini
bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 24


BAB V

Menteri Kemendikbud Menekankan Keteladanan Guru

A. Pegertian Keteladanan Guru

Keteladanan dalam kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa


“keteladanan” berasal dari kata teladan yaitu suatu yang patut ditiru atau baik
untuk dicontohkan (tentang perbuatan, kelakuan, sifat dan sebagainya).

Istilah teladan dalam Al-Qur’an diproyeksikan dengan kata ukhwah, seperti


yang terdapat dalam ayat yang artinya “Dalam diri Rasulullah itu kamu dapat
menemukan teladan (uswah) yang baik”. Contohnya tentang sifat Nabi
Muhammad beserta pengikutnya yang digambarkan dalam Al-Quran.

Keteladanan merupakan suatu upaya untuk memberikan contoh perilaku


yang baik sesuai dengan tujuan pembelajaran. Pemberian contoh atau teladan
harus dilakukan oleh seluruh pegawai yang terkait dengan pelaksanaan
pendidikan, yang meliputi guru, kepala sekolah, dan stakeholders lainnya,
pengawas, dan juga staf tata usaha. Dalam hal ini, guru merupakan orang yang
paling utama dan pertama yang berhubungan dengan siswa. Baik buruknya
perilaku guru, apalagi guru agama, akan dapat mempengaruhi secara kuat
terhadap siswanya. Oleh karena itu, keteladanan guru menjadi sesuatu yang
mutlak untuk dilakukan sebab guru yang baik akan menjadi contoh yang baik bagi
anak didiknya.

Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa teladan adalah suatu


perilaku, perbuatan, kelakuan yang baik yang dapat dijadikan contoh, sehingga
orang yang meniru atau mencontoh berusaha mengikuti persis serupa dengan
orang yang dijadikan contoh. Jadi, keteladanan itu diterapkan tidak hanya di satu
tempat, tetapi di semua tempat, dimanapun seseorang itu berada.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 25


Dengan demikian keteladanan adalah kunci keberhasilan, termasuk
keberhasilan seorang guru dalam mendidik anak didiknya. Contoh dan
keteladanan lebih bermakna daripada seribu perintah dan larangan Jika seorang
guru yang selalu datang terlambat dalam mengajar tidak mungkin dapat
memerintah anak didiknya agar selalu datang tepat pada waktunya. Mana
mungking suatu aturan sekolah ditaati oleh anak. Jika guru sendiri tidak mamatuhi
peraturan yang telah dibuatnya itu.

Di sinilah keteladanan dari guru diperlukan. Bagitu besarnya tanggung


jawab guru terhadap anak didiknya hujan dan panas bukanlah menjadi penghalang
bagi guru untuk selalu hadir di tengah-tengah anak didiknya. Guru tidak pernah
memasuhi anak didiknya meskipun suatu ketika ada anak didiknya yang berbuat
kurang sopan pada orang lain. Bahkan dengan sabar dan bijaksana guru
memberikan nasihat bagaimana cara bertingkah laku yang sopan pada orang lain.
bahwa keteladanan guru watak membentuk akhlakul karimah kepada anak
didiknya. Keteladanan sebagai fondasi bagi seorang guru untuk mencontoh yang
baik kepada peserta didik. Demikian sekalipun Rasulullah saw. itu buta huruf,
tetapi sadar pentingnya pengajaran untuk mengakat derajat masyarakat dan
pentingnya ahli-ahli ilmu menepati kedudukan yang besar, sebab mereka itu
menjadi teladan.

B. Sifat dan bentuk Keteladanan yang harus dimiliki Guru


1. Sifat Keteladanan yang harus dimiliki Guru

Keteladanan seorang guru harus memiliki sifat keteladanan terhadap


peserta didik, agar dapat meniru tingkah laku seorang guru. Para penulis Muslim
ternyata membicarakan panjang lebar sifat pendidikan dan guru. Biasanya mereka
membicarakannya bersama-sama atau bercampur dengan pembicaraan tentang
tugas dan syarat guru. Memang harus diakui, sulit membedakan dengan tegas
antara tugas, syarat, dan sifat guru. Dalam karangan ini “syarat” diartikan sebagai
sifat guru yang pokok, yang dapat dibuktikan secara empiris ketika menerima
tenaga guru. Jadi syarat guru dimaksud disini adalah syarat yang harus dipenuhi

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 26


untuk menjadi guru. Adapun “sifat” yang di maksud dalam karangan ini adalah
pelengkap syarat tersebut: dapat juga dikatakan syarat adalah sifat minimal yang
harus dipenuhi guru, sedangkan sifat adalah pelengkap syarat sehingga guru
tersebut dikatakan memenuhi syarat maksimal. menurut Mohamad Athiyah al-
Abrosi menyebutkan tujuh sifat yang harus dimiliki guru,yaitu Bersifat zuhud,
dalam arti tidak mengutamakan kepentinganmateri dalam pelaksanaan tugasnya,
namun lebih mementingkanperolehan keridhaan Allah. Ini tidak berarti mereka
harus miskin,tidak kaya atau tidak boleh menerima gaji, tetapi menekankan
niatdan motivasi mendidik didasarkan atas keikhlasan.Berjiwa bersih dan
terhindar dari sifat / akhlak buruk, dalam artibersih secara fisik / jasmani dan
bersih secara mental / rohani,sehingga dengan sendirinya terhindar dari sifat /
perilaku buruk.

Bersikap ikhlas dalam melaksanakan tugas mendidik. Ikhlas dalamkaitan


ini termasuk pula sikap terbuka, mau menerima kritik dansaran tidak terkecuali
dari peserta didik sehingga dalampembelajaran tercipta interaksi antara guru dan
murid.

Bersifat pemaaf, peserta didik sebagai manusia berpotensi tentupenuh


dinamika. Terjadinya interaksi antara guru dengan pesertadidik sebagai
konsekuensi dinamika dan kreativitas, tidak jarangdapat membuat rasa jengkel,
kurang puas, menyinggung perasaandan tidak menyenangkan guru.Bersifat
kebapaan, dalam arti ia harus memposisikan diri sebagaipelindung yang mencintai
muridnya serta selalu masa depanmereka.

Berkemampuan memahami bakat, tabiat dan watak peserta didik.Dalam


konteks ini, seorang guru harus memiliki pengetahuan danketerampilan psikologi,
agar mampu memahami tabiat, watak,pertumbuhan dan perkembangan peserta
didik sebagai landasandasar pengembangan potensi mereka.Menguasai bidang
studi / bidang pengetahuan yang akandikembangkan / diajarkan. Ini berarti guru
harus lebih dahulumembekali diri dengan pengetahuan dan ketrampilan
muatanmateri yang diajarkan kepada peserta didik. Salah satu karakteristik yang

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 27


perlu dimiliki oleh guru sehingga dapat diteladanioleh muridnya adalah
kerendahan hati

Guru akan memiliki kebribadian yang diidolakan jika berani mengakui


kesalahan (jika memang telah terjadi kesalahan)sebagai perwujudan kerendahan
hati. Sering terjadi, seorang guru dengan dalil menjaga kewibawaan sering tidak
berprilaku rendah hati di hadapan siswa padahal guru tidak menyadari bahwa
setiap langkah, tutur kata, cara pandang, dan berbagai respon yang ditampilkan
menjadi bahan penilaian dan pembicaraan bagi para siswa. Tentu saja keteladanan
buruk mengacaukan pemahaman mereka, yang berujung pada pencitraan konsep
diri menjadi kurang baik. Pada prinsipnya, terdapat korelasi positif antara
keteladanan guru dan kepribadian siswa, yang oleh Johnson digambarkansebagai
“ No matter how brilliant your plan, it won’t work if you don’t set an example ”
(bagaimana pun briliannya perencanaan anda, itu tidak akan berjalan jika tidak
dibarengi dengan keteladanan). Dengan demikian, guru dipandang sebagai sumber
keteladanan karena sikap dan perilaku guru mempunyai implikasi yang luar biasa
terhadap siswa.

2. Bentuk-bentuk keteladanan guru

Secara psikologis ternyata manusia memang memerlukan tokohteladan dalam


hidupnya. Peserta didik cenderung meneladani pendidik ataugurunya, peserta
didik meniru baik dalam perilaku yang baik maupunyang jelek sekalipun.
Pengaruh yang kuat dalam memberikan pendidikan terhadapanak adalah teladan
orang tua. Anak akan meniru apa saja yangdilakukan orang lain. Oleh karena itu
perlu disadari dan diperhatikanagar orang tua (guru) dapat memberikan teladan
yang baik dan benar,dengan cara :

a. Menunjukkan sikap baik

Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain :

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 28


1. Sikap menghadapi problema dengan baik

Dalam menghadapi berbagai masalah seharusnya guru dapat menjadi


contoh bagaimana mengatasi problema dengan carayang baik.

2. Sikap pengendalian diri

Sebagai seorang guru seharusnya dapat mengendalikan diridan emosi


karena seorang guru harus bisa bersikap sabardalam menghadapi peserta
didiknya yang mempunyai banyak karakter.

3. Sikap komunikasi dengan peserta didik

Mempererat dengan peserta didik merupakan faktor yangpaling penting


demi tercapainya interaksi belajar mengajardengan baik.

4. Mengurangi sikap yang tidak baik

Sebagai seorang guru seharusnya berbuat dan berperilaku yangbaik


sehingga dia harus seminimal mungkin melakukan sikap yangtidak baik.

5. Menunjukkan kasih sayang

Kasih sayang merupakan kelemahan hati dan kepekaan perasaansayang


terhadap orang lain, merasa sependeritaan dan mengasihimereka. Islam
tidak menyajikan keteladanan ini sekedar untuk dikagumiatau sekedar
untuk merenungkan dalam lautan hayat yang serbaabstrak.Islam
menyajikan riwayat keteladanan itu semata-mata untukditerapkan dalam
diri mereka sendiri,setiap orang diharapkanmeneladaninya sesuai dengan
kemampuannya untuk bersabar.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 29


Adapun bentuk-bentuk keteladanan ada 2 macam yaitu :

1. Keteladanan yang disengaja

Ialah keteladanan yang memang disertai penjelasan atau perintahagar


meneladani.Keteladanan ini dilakukan secara formal,sebagaimana
pendidik harus meneladani peserta didiknya denganteladan yang
baik.Misalnya seorang pendidik menyampaikanmodel bacaan yang
diikuti oleh peserta didik.Seorang imammembaguskan sahalatnya untuk
mengerjakan shalat yangsempurna. Dalam hal ini Rasulullah saw telah
memberikanteladan langsung kepada para sahabat sehingga mereka
telahbanyak mempelajari masalah keagamaan sesuai denganpermintaan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar mereka meneladani beliau.

2. Keteladanan yang tidak disengaja

Ialah keteladanan dalam keilmuan, kepemimpinan, sifat dan


keikhlasan.Dalam hal ini adalah guru, bagaimana sosok gurudapat hadir
dihadapkan peserta didiknya, walaupun keteladanan ini tidak formal tetapi
pendidik selalu saja menjadi perhatianpeserta didiknya. Pengaruh
keteladanan ini terjadi secara spontan dan tidak disengaja, ini berarti
bahwa setiap orang yang ingindijadikan panutan oleh orang lain harus
senantiasa mengontrol perilakunya dan menyadari bahwa dia akan
dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah atas segala tindak tanduk
yang diikuti oleh khalayak atau ditiru oleh orang-orang yang
mengaguminya.

Jadi semakin dia waspada dan tulus utuh berbuat baik semakin
bertambah pula kekaguman orang padadirinya. Bentuk-bentuk keteladanan
tidak dapat terwujud dengansendirinya, dalam sekolah gurulah yang harus
terwujud semua itu.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 30


C. Sebab akibat Keteladanan Guru dalam pendidikan

Saat ini kehadiran guru sebagai pendidik semakin nyata menggantikan


sebagian besar peran orang tua yang notabene adalah pengemban utama amanah
Allah Subhanahu wa ta’ala. atas anak yang dikaruniakan kepadanya. Guru telah
meringankan sebagian tugas orang tua dalam mendidik anak-anak mereka.

Guru yang hebat adalah guru yang memiliki karakter yang unggul dan
menjadi teladan bagi peserta didik sehingga anak dapat tumbuh dengan bekal
pengetahuan, keterampilan serta keimanan dan ketaqwaan kepada Allah.
Pembentukan karakter pada peserta didik dilakukan melalui keteladanan yang
dapat ditiru oleh siswa. Pembentukan karakter pada siswa peserta didik hanya
dapat dilakukan oleh guru-guru yang berkarakter pula. Pendidikan karakter
menanamkan kebiasaan tentang hal yang baik sehingga siswa menjadi paham
tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan nilai yang baik, dan biasa
melakukannya. Dengan demikian pendidikan karakter erat kaitannya dengan
kebiasaan yang dilakukan terus menerusDan apabila guru yang tidak profesional
yang lari dari tanggung jawabnya sebagai pendidik yang berkualitas dan
profisional misalnya guru yang datang terlambat, tutur kata yang buruk sebagai
guru yang malah pada kenyataannya hanya membuat peningkatan motivasi belajar
siswa-siswi itu berkurang akibatnya kemalasan,cuek dalam mengerjakan tugas
sehingga timbulnya rasa ketidak nyamanan didalam kelas maunya keluar karena
metode yang membuat dia bosan dan ada juga yang tibul dibenak siswa kata-kata
samaran yang ia berikan kepada guru tersebut yang terkesan menurut meraka lucu
sebagai gurauan tetapi sebenarnya itu masuk pada karakter yang tidak baik

D. Implikasi

Dengan seorang guru menyadari bahwa dirinya menjadi teladan bagi


peserta didiknya maka akan melahirkan generasi bangsa yang tidak hanya cerdas
tetapi berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, bertanggung jawab, dan demokratis
sesuai dengan ajaran islam. Para guru harus menjadi garda terdepan kemajuan
pendidikan sehingga di masa yang akan datang generasi penerus kita dapat

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 31


menjadi insan yang bermutu dan berintektualitas tinggi. Guru itu harus hati-hati,
tenggang rasa, damai, terkendali, dapat dipercaya dan emosinya seimbang. Ia juga
harus optimistis, aktif, bermasyarakat, berorientasi gembira, pemimpin yang
merdeka, fleksibel dan memahami perbedaan, dan senang berkomunikasi untuk
melahirkan generasi terbaik.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 32


BAB VI

PENDISTRIBUSIAN KARTU INDONESIA PINTAR (KIP)

A. Definisi Kartu Indonesia Pintar ( KIP)

KIP merupakan kartu yang ditujukan bagi keluarga miskin yang ingin
menyekolahkan anaknya yang berusia 7-18 tahun secara gratis. Mereka yang
mendapat KIP ini akan diberikan dana tunai dari pemerintah secara reguler yang
tersimpan dalam fungsi kartu KIP untuk bersekolah secara gratis tanpa biaya.
Program KIP sendiri akan ditujukan pada 15,5 juta keluarga kurang mampu di
seluruh indonesia yang memiliki anak usia sekolah 7 hingga 18 tahun baik yang
telah terdaftar maupun yang belum terdaftar di sekolah maupun madrasah.
Dengan program KIP ini diharapkan angka putus sekolah bisa turun dengan
drastis.

Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) ini juga merupakan pemberiaan


bantuan tunai pendidikan kepada anak usia sekolah yang berasal dari keluarga
kurang mampu, yang merupakan bagian dari penyempurnaan Program Bantuan
Siswa Miskin (BSM). Program bantuan pendidikan melalui Program Indonesia
Pintar ditandai dengan pemberian Kartu Indonesia Pintar (KIP) kepada siswa/anak
usia sekolah yang berasal dari keluarga kurang mampu. Kartu indonesia Pintar
(KIP)diberikan sebagai penanda/identitas untuk menjamin dan memastikan
seluruh anak usia sekolah dari keluarga kurang mampu terdaftar sebagai penerima
bantuan, melalui jalur pendidikan formal dan informal mulai SD/MI atau paket A
hingga lulusan SMA/MA atau paket C.

Kartu Indonesia Pintar (KIP) merupakan bentuk pelaksanaan Program


Indonesia Pintar (PIP) yang menjadi program unggulan Presiden Joko Widodo
(Jokowi). Kartu ini diresmikan bersamaan dengan Kartu Indonesia Sehat dan
Kartu Keluarga Sejahtera pada 3 November 2014. Kartu Indonesia Pintar
diperuntukkan bagi anak usia sekolah (6-21 tahun) untuk memberikan manfaat

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 33


pendidikan secara optimal. Semula kebijakan ini oleh partai oposisi dianggap
untuk meredam sementara kenaikan harga BBM. Jokowi dikritik karena
meluncurkan program yang tidak memiliki payung hukum dan melanggar tertib
anggaran, namun hal ini dibantah oleh Wakil Presiden Jusuf kalla, dengan
argumen bahwa program kartu tersebut sebenarnya kelanjutan dari program yang
sudah ada sehingga anggarannya pun mengikuti program tersebut. Pada tahun
2015, penerima manfaat KIP meningkat dari target 15 juta siswa menjadi 19 juta
siswa, dengan penyaluran dana yang telah mencapai 100% pada akhir tahun 2015.

Distribusi KIP telah dilakukan secara bertahap ke seluruh Indonesia mulai


tahun 2015. Pada 21 Desember 2015, sebanyak 19 juta KIP telah didistribusikan.
Pada tahun 2016, target penerima manfaat KIP terus diperluas dengan menyasar
anak usia sekolah (6-21 tahun) yang belum bersekolah. Supaya menyasar target
yang tepat, KIP 2016 menggunakan data terbaru dari Basis Data Terpadu (BDT)
yang diterima bertahap dari TNP2K mulai 10 Februari hingga 1 Maret 2016.
Setelah melalui proses filter dan sinkronisasi dengan Data Pokok Pendidkan
(Dapodik) milik kemdikbud, akhirnya Kartu Indonesia Pintar (KIP) bisa tercetak
lebih banyak. Pada tahun 2016, ditergetkan sebanyak 17.927.758 penerima
manfaat PIP. Dengan kapasitas cetak 500 ribu per hari, per 20 April 2016, KIP
sudah tercetak sebanyak 9.987.366 dan sudah dikirimkan ke daerah sebanyak
148.878 kartu.

B. Tujuan Dikeluarkannya Kartu Indonesia Pintar (KIP)

Tujuannya yaitu ditujukan untuk menghilangkan hambatan ekonomi siswa


untuk bersekolah, sehingga nantinya membuat anak-anak tidak lagi terpikir untuk
berhenti sekolah. Selain menghindari anak putus sekolah, program KIP ini juga
dibuat untuk bisa menarik kembali bersekolah. Bukan hanya tentang biaya
administrasi sekolah, program ini juga bertujuan untuk membantu siswa
memenuhi kebutuhan dalam kegiatan pembelajaran. Lebih luas lagi, program
dalam KIP ini juga sangat mendukung untuk mewujudkan program Wajib Belajar

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 34


Pendidikan Dasar 9 tahun dan Pendidikan Menengah Universal/Wajib Belajar 12
Tahun.

Kartu Indonesia Pintar (KIP) tujuannya juga adalah untuk menjamin dan
memastikan seluruh anak usia sekolah dari keluarga kurang mampu terdaftar
sebagai penerima bantuan tunai pendidikan sampai lulus SMA/SMK/MA.

C. Sebab Akibat Pendistribusian KIP


1. Sebab

Supaya masyarakat yang kurang mampu anaknya bisa memperoleh


akses pelayanan pendidkan yang lebih baik, mencegah murid putus sekolah,
serta mendorong anak yang putus sekolah kembali bersekolah. Sebab
dikeluarkannya KIP ini juga untuk ditujukan bagi keluarga miskin yang
ingin menyekolahkan anaknya yang berusia 7-18 tahun secara gratis.
Mereka yang mendapat KIP ini akan diberikan dana tunai dari pemerintah
secara reguler yang tersimpan dalam fungsi kartu KIP untuk bersekolah
secara gratis tanpa biaya. Program KIP sendiri akan ditujukan pada 15,5 juta
keluarga kurang mampu di seluruh indonesia yang memiliki anak usia
sekolah 7 hingga 18 tahun baik yang telah terdaftar maupun yang belum
terdaftar di sekolah maupun madrasah. Dengan program KIP ini diharapkan
angka putus sekolah bisa turun dengan drastis dan program Kartu Indonesia
Pintar (KIP) ini juga merupakan pemberiaan bantuan tunai pendidikan
kepada anak usia sekolah yang berasal dari keluarga kurang mampu, yang
merupakan bagian dari penyempurnaan Program Bantuan Siswa Miskin
(BSM). Program bantuan pendidikan melalui Program Indonesia Pintar
ditandai dengan pemberian Kartu Indonesia Pintar (KIP) kepada siswa/anak
usia sekolah yang berasal dari keluarga kurang mampu. Kartu indonesia
Pintar (KIP)diberikan sebagai penanda/identitas untuk menjamin dan
memastikan seluruh anak usia sekolah dari keluarga kurang mampu
terdaftar sebagai penerima bantuan, melalui jalur pendidikan formal dan
informal mulai SD/MI atau paket A hingga lulusan SMA/MA atau paket C.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 35


KIP juga dimaksudkan untuk mendukung penuntasan program Wajib
Belajar Sembilan Tahun dan Pendidikan Menengah Universal (Wajib
belajar 12 Tahun). Pada 2015 jumlah penerima KIP mencapai 20,37 juta,
terdiri atas murid di lingkungan kemendikbud 17,92 juta dan kemenag 2,45
juta, dengan total anggaran mencapai Rp12,81 triliun. Pada 2016 jumlah
penerima KIP mencapai 119,54 juta, terdiri atas anak di bawah
Kemendikbud 17,92 juta dan di bawah Kemenag 1,62 juta, dengan total
anggaran Rp11,56 triliun. Besaran dana yang dialokasikan untuk KIP ini
hampir samaa dengan dana BOS.

2. Akibat

Akibat pendistribusian Kartu Indonesia Pintar (KIP) ini banyak


siswa di beberapa daerah di tanah air masih belum menerima Kartu
Indonesia Pintar (KIP) karena masalah administrasi. Dari 17,9 juta penerima
KIP yang ditargetkan pada 2016, pemerintah telah mampu mendistribusikan
sebanyak 17,4 juta kartu. Namun, permasalahannya adalah dari jumlah 17,4
juta tersebut, sekitar 10 hingga 20 persen mempertanyakan kinerja dua
vendor yang bertanggung jawab dalam distribusi KIP, yaitu PT. Satria
Antaran Prima dan PT. Dexter Expressindo. Dalam perjanjian kontrak
antara Kemendikbud dan vendor penyedia layanan pengiriman tersebut
disebutkan bahwa KIP harus dikirimkan ke alamat penerima diseluruh
indonesia. Namun, semua kartu itu hanya dikirim ke kantor camat dan
kelurahan sehingga menambah pekerjaan pemerintah setempat untuk
menyalurkannya. Kalau dengan system penyaluran seperti ini sampai
kapanpun pendistribusian KIP menjadi Problema. Adapun prolematik Kartu
Indonesia Pintar (KIP) yaitu secara konseptual, Program Indonesi Pintar
melalui KIP ini sebetulnya cukup jelas, termasuk sasaran penerimanya.
Namun, pada tingkta implementasinya cukup problrmatik, baik menyangkut
validitas data yang dipakai dasar pemberian KIP maupun metode
penyalurannya.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 36


Pertama, masalah data yang dipakai berasal dari Tim Nasional
Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), yang surveinya
mungkin pada 2011 sehingga data tersaji kedaluwarsa profil murid maupun
orang tua banyak yang berubah. Tidak aneh bila ada murid SMK yang
sudah lulus justru mendapatkan KIP. Namun sekarang, Mendikbud
Muhadjir Effendy mencoba mengkombinasikan data (TNP2k) dengan
Dapodik guna menghindari salah prosedur dan menjamin akuransi data.
Dengan memadukan dua data berbeda itu, penyaluran KIP lebih lancar,
sudah di atas 90%. Persoalan kedua, soal penyaluran dana. Masalah
metodologi penyaluran dana KIP itu bukan hal sederhana, mengingat nilai
rupiah dalam KIP tidak boleh terpotong. Di sisi lain bank tidak di beri upah
menyalurkan, hanya diberi toleransi menahan dana KIP satu bulan. Tapi
penahanan uang dalam satu bulan tidak bermakna apa-apa jika
dibandingkan dengan alokasi SDM yang harus di sediakan perbankan guna
penyaluran KIP.

Inilah problematik Program Indonesia Pintar melalui KIP yang harus


dipecahkan Kemendikbud, Kementrian BUMN, dan Presiden. Persoalan
metode penyaluran dapat dipecahkan bila tidak ada ego sektoral, dan semua
tunduk pemerintah presiden. Jika semua sepaham bahwa Program Indonesia
Pintar melalui KIP adalah janji Presiden Jokowi kepada pemilihannya,
Menteri BRI dan BNI (yang mendapat tugas menyalurkan KIP) untuk
memperlancar penyaluran KIP agar tepat waktu.

D. Manfaat Adanya Pendistribusian KIP

Kartu Indonesia Pintar (KIP) sendiri memiliki beberapa manfaat yaitu:Kartu


Indonesia Pintar (KIP) diberikan sebagai penanda dan digunakan untuk menjamin
serta memastikan seluruh anak usia sekolah (6-21 tahun) dari keluarga pemegang
KKS untuk mendapatkan manfaat Program Indonesia Pintar bila terdaftar di
Sekolah, Madrasah, Pondok Pesantren, Kelompok Belajar (Kejar Paket A/B/C)
atau Lembaga Pelatihan maupun Kursus.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 37


Untuk tahap awal di 2014, KIP telah dicetak untuk sekitar 160 ribu siswa
di sekolah umum dan juga madrasah di 19 Kabupaten/Kota. Untuk 2015,
diharapkan KIP dapat diberikan kepada 20,3 juga anak usia sekolah baik dari
keluarga penerima Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) atau memenuhi kriteria yang
ditetapkan (seperti anak dari keluarga peserta PKH).

KIP juga mencakup anak usia sekolah yang tidak berada di sekolah seperti
Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti anak-anak Panti
Asuhan/Sosial, anak jalanan, dan pekerja anak dan difabel. KIP juga berlaku di
Pondok Pesantren, Pusat kegiatan belajar masyarakat dan lembaga kursus dan
Pelatihan yang ditentukan oleh pemerintah.

KIP mendorong pengikut-sertaan anak usia sekolah yang tidak lagi


terdaftar di satuan pendidikan untuk kembali bersekolah.

KIP menjamin keberlanjutan bantuan antar jenjang pendidikan sampai tingkat


SMA/SMK/MA.

E. Implikasi

Setelah mengadakan pembahasan terhadap permasalahan yang ada dan


mengadakan Analisis Masalah Pendistribusian Kartu Indonesia Pintar (KIP)
dalam pelaksanaan kebijakan Publik Program Indonesia Pintar (PIP) Di indonesia,
maka kesimpulan yang dapat dirumuskan adalah:

Implementasi Program Kartu Indonesia Pintar, dirasakan belum baik hal ini
tampak dari sosialisasi yang dilakukan masih dirasakan kurang, data penerima
program masih menggunakan data 2011 sehingga kurang tepat sasaran dan
pernyataan yang berbeda dari penyelenggaraan kebijakan yang membuat Pro-
Kontra di kalangan masyarakat serta menimbulkan kebingungan. Kenyataan
dilapangan, banyak kartu yang salah sasaran. Di antara penerima KIP ada yang
sudah lulus sekolah, jenjang pendidikan yang sudah berbeda, bahkan telah
menikah. Sehingga berpengaruh penundaan distribusi KIP yang mengakibatkan
penumpukan KIP di kelurahan atau kecamatan disebabkan penerimanya tidak

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 38


jelas.Pemerintah dalam pendistribusian KIP Program Indonesia Pintar ini
melibatkan pihak swasta seperti PT (Persereon Terbatas) jelas ini menimbulkan
permasalahan dalam pemanfaatan KIP karena pihak PT atau swasta tidak akan
paham secara keseluruhan siapa-siapa saja yang berhak atau tidak berhak
menerima, sehingga pada akhirnya kebanyakan penerima KIP kurang tepat
sasaran.

Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan


Program Simpanan Keluarga Sejahtera, Program Indonesia Pintar, dan Program
Indonesia Sehat.Peraturan Bersama Dirjend Pendidikan Dasar dan Menengah dan
Dirjend Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Nomor:
08/D/PP/2016, Nomor : 04/C/PM/2016.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 39


BAB VII

ISU TENTANG ATURAN BARU YANG DI BUAT NADIEM TENTANG


SISTEM ZONASI

A. Definisi Sistem Zonasi

Sistem zonasi adalah sebuah sistem pengaturan proses penerimaan siswa


baru sesuai dengan wilayah tempat tinggal. Sistem tersebut diatur dalam
Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 dan ditujukan agar tak ada sekolah-sekolah
yang dianggap sekolah favorit dan non-favorit. Sistem tersebut meraih kritikan
karena beberapa murid malah diterima di sekolah yang memiliki jarak yang lebih
jauh ketimbang sekolah terdekat.

Mengapa Kementerian Pendidikan memberlakukan sistem zonasi untuk


penerimaan siswa baru ? dalam hal ini, sistem zonasi bertujuan untuk pemerataan
sekolah tanpa adanya level antara sekolah biasa dengan sekolah favorit. Dalam
aturan baru PPDB 2019, yang tertuang dalam Peraturan Mendikbud No. 51 Tahun
2018 tentang PPDB. Dimana, sistem Zonasi yang sudah diterapkan sejak 2018
akan semakin ketat agar tidak terjadi masalah terhadap latarbelakang murid-murid
yang memiliki prestasi dan  ekonomi sosial yang rendah.

B. Tujuan Dari Aturan Baru Tentang Sistem Zonasi Yang Dibuat Oleh Nadiem

Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019 tentang Penerimaan Peserta Didik


Baru ( PPDB) yang ditandatangani Mendikbud Nadiem Makarim pada 10
Desember 2019 memastikan PPDB 2020 tetap menggunakan sistem zonasi.

Mendikbud menyampaikan penerapan PPDB 2020 akan lebih fleksibel untuk


mengakomodasi ketimpangan akses dan kualitas pendidikan di berbagai daerah.

“ Zonasi sangat penting dan kami mendukung penuh inisiatif zonasi. Oleh


karena itu, beberapa waktu lalu kami berdiskusi intensif dengan guru, kepala
sekolah, pengawas, dan seluruh stakeholder pendidikan, baik di dalam maupun

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 40


luar negeri, supaya sistem zonasi dapat kita rancang lebih baik lagi,” ujar
Mendikbud seperti dilansir dari laman resmi Kemendikbud.

Mendikbud Nadiem Makarim mempertahankan sistem zonasi dalam PPDB


2020, karna adanya beberapa tujuan? Berikut beberapa ulasannya:

1. Akomodasi siswa prestasi dan tidak mampu

Komposisi PPDB jalur zonasi dapat menerima siswa minimal 50 persen,


jalur afirmasi minimal 15 persen, dan jalur perpindahan maksimal 5 persen,
sedangkan untuk jalur prestasi atau sisa 0-30 persen lainnya disesuaikan
dengan kondisi daerah. 

“Kebijakan zonasi esensinya adalah adanya (jalur) afirmasi untuk siswa dan
keluarga pemegang KIP yang tingkat ekonominya masih rendah, serta bagi
yang menginginkan (adanya) peningkatan jalur prestasi sampai maksimal 30
persen diperbolehkan,” kata Mendikbud.

Terbitnya Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019, kata Mendikbud, salah


satunya mengakomodasi aspirasi orangtua yang ingin prestasi anaknya lebih
dihargai dalam menentukan pilihan sekolah terbaik.

“Banyak ibu yang komplain anaknya sudah belajar keras untuk mendapat
hasil yang diinginkan. Jadi (aturan) ini adalah kompromi di antara
kebutuhan pemerataan pendidikan bagi semua jenjang pendidikan sehingga
kita bisa mengakses sekolah yang baik dan kompromi bagi orangtua yang
sudah kerja keras untuk (anaknya) mencapai prestasi di kelas maupun
memenangkan lomba-lomba di luar sekolah, di mana mereka bisa
mendapatkan pilihan bersekolah di sekolah yang diinginkan,” ungkapnya
pada sesi jumpa pers.

2. Memberikan fleksibilitas pada daerah

Mendikbud mengatakan bahwa kebijakan ini tidak mungkin terealisasi


tanpa adanya dukungan dari seluruh jajaran unit pelaksana teknis (UPT)

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 41


Kemendikbud, dan pemerintah daerah, serta para pelaku pendidikan lainnya.
Oleh karena itu, ia berharap pemerintah daerah dan pusat dapat bergerak
bersama dalam memeratakan akses dan kualitas pendidikan.

“Kemendikbud tidak bisa melakukan ini tanpa bantuan dari berbagai pihak.
Daerah berwenang menentukan proporsi final dan menetapkan wilayah
zonasi,” katanya saat mengenalkan kebijakan “Merdeka Belajar”.

3. Pemerataan kuantitas dan kualitas guru

Zonasi tidak hanya mengatur pemerataan kualitas sekolah dan peserta


didik, tetapi juga menitikberatkan pada peran dan komposisi guru di suatu
daerah.

Mendikbud mengingatkan, kebijakan ini harus diselaraskan dengan


pemerataan kuantitas dan kualitas guru di seluruh daerah.

“Pemerataan tidak cukup hanya dengan zonasi. Dampak yang lebih besar
lagi adalah pemerataan kuantitas dan kualitas guru. Inilah yang banyak
manfaatnya terhadap pemerataan pendidikan,” kata Mendikbud.

Tercapainya pemerataan kualitas pendidikan adalah tugas bersama


pemerintah pusat, pemerintah daerah, termasuk segenap pemangku
kepentingan di dunia pendidikan.

“Pemerataan akses dan kualitas pendidikan perlu diiringi dengan inisiatif


lainnya oleh pemerintah daerah, seperti redistribusi guru ke sekolah yang
kekurangan guru. Kalau ada satu sekolah yang banyak guru berkumpul di
situ, lakukan distribusi yang lebih adil bagi siswa di dalam sekolah,”
katanya.

Di akhir arahannya, Mendikbud mengajak para peserta mulai bergerak


memetakan kuantitas guru di sekolah terlebih dahulu.

Begini kuota sistem zonasi sekolah ala Nadiem:

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 42


a. 50% untuk jalur zonasi
b. 30% untuk jalur prestasi
c. 15% untuk jalur afirmasi
d. 5% untuk jalur perpindahan domisili orang tua.

Kebijakan zonasi dilandasi oleh semangat pemerataan pendidikan. Namun,


menurut Nadiem, pemerataan tidak cukup dengan cara zonasi, tapi juga harus
diimbangi pemerataan kualitas guru-guru. Kebijakan zonasi juga dilandasi
semangat menghapus favoritisme sekolah. Namun kini, Nadiem ingin anak-anak
berprestasi bebas menentukan sekolah idamannya.

C. Sebab-Akibat Nadiem membuat aturan baru soal Sistem Zonasi

Sebab di buatnya perubahan terhadap sistem zonasi.Nadiem mengatakan ada


beberapa daerah dan orangtua murid yang mengalami kesulitan atas pemberlakuan
sistem zonasi. Atas dasar itulah dia mengubahnya.
Dia ingin mekanisme penerimaan siswa baru benar-benar bisa mengakomodasi
perbedaan situasi dan bisa diterima di setiap daerah akibat sistem zonasi
pendidikan tersebut.Sistem zonasi yang selama ini kerap menimbulkan
permasalahan, pada tahun 2021 akan diubah oleh Nadiem.

Perubahan itu terutama menyasar pada siswa berprestasi yang ingin


bersekolah di sekolah favorit dan siswa kurang mampu. Aturan yang akan
ditetapkan, jika awalnya jalur prestasi hanya diberi kuota 15 persen, maka akan
ditingkatkan menjadi 30 persen. Sementara, persentase sisanya, 70 persen,
digunakan untuk PPDB. Sebesar 50 persennya diperuntukkan bagi sistem
wilayah. Untuk jalur afirmasi (siswa kurang mampu) diberi kesempatan 15
persen, dan jalur pindahan sebanyak 5 persen. Untuk merealisasikan sistem zonasi
tersebut, Nadiem menyatakan akan menyerahkan kepada kebijakan peraturan di
daerah.

Mendikbud Nadiem Makarim berencana mengubah pola PPDB


berdasarkan zonasi yang telah berjalan selama kurang lebih dua tahun. Meski tak

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 43


menghapus secara keseluruhan, namun ada perubahan yang dilakukan Nadiem.
Sistem zonasi ini dibagi dalam tiga jalur penerimaan. Sebanyak 80 persen
siswa diterima di sebuah sekolah berdasarkan wilayah atau jarak dengan sekolah.
Kemudian, 15 persen lewat jalur prestasi, dan sisanya sebanyak 5 persen diterima
melalui sistem pindah sekolah.Nadiem mengubah sistem itu. Penerimaan siswa
lewat jalur prestasi menjadi 30 persen.

Berikut ini fakta-fakta tentang Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)
Zonasi :

1. Sistem Zonasi Dirancang Lebih Baik Lagi

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar


Makarim mengatakan, Penerapan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)
akan lebih fleksibel untuk mengakomodasi ketimpangan akses dan kualitas
pendidikan di berbagai daerah.

“Zonasi sangat penting dan kami mendukung penuh inisiatif zonasi. Oleh
karena itu, beberapa waktu lalu kami berdiskusi intensif dengan guru,
kepala sekolah, pengawas, dan seluruh stakeholder pendidikan baik di
dalam maupun luar negeri, supaya sistem zonasi dapat kita rancang lebih
baik lagi,” kata Nadiem.

2. Perubahan Komposisi PPDB Jalur Zonasi

Komposisi PPDB jalur zonasi dapat menerima siswa minimal 50%, jalur
afirmasi minimal 15% dan jalur perpindahan maksimal 5%. Sedangkan
untuk jalur prestasi atau sisa 0-30% lainnya disesuaikan dengan kondisi
daerah. Komposisi tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 44 Tahun 2019, memberikan
penambahan porsi untuk jalur prestasi dan afirmasi.

“Kebijakan zonasi esensinya adalah adanya (jalur) afirmasi untuk siswa


dan keluarga pemegang KIP yang tingkat ekonominya masih rendah, serta

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 44


bagi yang menginginkan (adanya) peningkatan jalur prestasi sampai
maksimal 30% diperbolehkan,” kata Mendikbud.

3. Aspirasi dari Orangtua

Terbitnya Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019, kata Menteri Nadiem


salah satunya mengakomodir aspirasi orangtua yang ingin prestasi
anaknya lebih dihargai dalam menentukan pilihan sekolah terbaik.
“Banyak ibu-ibu yang komplain anaknya sudah belajar keras untuk
mendapat hasil yang diinginkan. Jadi (aturan) ini adalah kompromi di
antara kebutuhan pemerataan pendidikan bagi semua jenjang pendidikan,
sehingga kita bisa mengakses sekolah yang baik dan juga kompromi bagi
orangtua yang sudah kerja keras untuk (anaknya) mencapai prestasi di
kelas maupun memenangkan lomba-lomba di luar sekolah, di mana
mereka bisa mendapatkan pilihan bersekolah di sekolah yang diinginkan,”
ungkapnya.

4. Kerjasama dengan Daerah

Nadiem berharap pemerintah daerah dan pusat dapat bergerak bersama


dalam memeratakan akses dan kualitas pendidikan. “Kemendikbud tidak
bisa melakukan ini tanpa bantuan dari berbagai pihak. Daerah berwenang
menentukan proporsi final dan menetapkan wilayah zonasi,” tekannya saat
mengenalkan kebijakan “Merdeka Belajar”.

Akibat adanya perubahan sistem zonasi

Akibat dari adanya aturan baru Nadiem soal sistem zonasi ini berdampak
pada jalur prestasi, karna dengan meningkatkan persen dari jalur prestasi
ini maka sekolah favorit dapat tercipta kembali, sedangkan kebijakan
sekolah zonasi ini dibuat untuk menghilangkan adanya kasta atau sekolah
favorit.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 45


Sebelumnya, Nadiem menyatakan sistem zonasi yang baru diterapkan
pada masa Mendikbud Muhadjir Effendy (sekarang Menko PMK) itu akan
direvisi. Ia mengatakan penerimaan siswa lewat jalur prestasi akan
menjadi 30 persen, di mana sebelumnya 15 persen.

Namun, menurut Ramli dengan penambahan kuota jalur prestasi menjadi


30 persen itu bakal menjadi langkah mundur dalam pendidikan Indonesia.
Ramli menjelaskan dengan kuota yang besar untuk jalur prestasi, sistem
sekolah unggulan jadi tercipta kembali. Sedangkan ihwal kebijakan zonasi
sekolah dibuat untuk menghilangkan adanya 'kasta' favorit atau unggulan
di antara sekolah-sekolah negeri.

"Kasta-kasta sekolah ini selama ini telah menimbulkan berbagai masalah


di masyarakat seperti misalnya upaya segelintir orang untuk
mengupayakan segala macam cara agar anaknya mampu terakomodir di
sekolah-sekolah unggulan," ujar Ramli dalam rilis yang diterima.

"Terjadinya ketimpangan antara sekolah unggulan dan bukan sekolah


unggulan kemudian masih banyak lagi masalah yang ditimbulkan oleh
keberadaan kasta-kasta sekolah ini dan akhirnya Nadiem Makarim
kembali membangun kasta-kasta sekolah tersebut dengan menaikkan porsi
jalur prestasi menjadi 30 persen" sambungnya.
Sistem zonasi pendidikan merupakan buah kebijakan Muhadjir saat
menjadi Mendikbud pada periode pertama kepresidenan Joko Widodo
(Jokowi) pada 2014-2019.

Perubahan yang dibuat oleh Nadiem itu tentu berdampak pada jalur
penerimaan lainnya. Jalur penerimaan melalui pemetaan wilayah atau
zonasi jadi hanya 50 persen, jalur perpindahan sebanyak 5 persen, 30
persen jalur prestasi, dan jalur afirmasi sebanyak 15 persen. Jalur afirmasi
sendiri merupakan jalur penerimaan bagi penerima Kartu Indonesia Pintar.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 46


D. Manfaat adanya perubahan pada Sistem Zonasi

Perubahan sistem zonasi itu terutama menyasar para siswa berprestasi yang
ingin bersekolah di sekolah favorit dan siswa kurang mampu.Aturan yang akan
ditetapkan, jika awalnya jalur prestasi hanya diberi kuota 15 persen, maka akan
ditingkatkan menjadi 30 persen.

Manfaatnya yaitu :

Meningkatkan semangat belajar

Para orangtua yang sangat bersemangat mem-push anaknya mendapatkan


nilai baik dan prestasi yang baik, maka inilah kesempatan bagi mereka buat
mendapatkan sekolah yang baik. Karna jalur prestasi menjadi 30 %.

Meningkatkan kualitas guru

Perubahan sistem zonasi ini, meningkatkan kualitas guru menjadi lebih baik.
Dikarenakan jalur prestasi yang bertambah membuat kualitas gurunya juga
bertambah baik.

E. Implikasi

sistem zonasi merupakan sistem yang mengharuskan peserta didik baru


memilih sekolah yang memiliki radius terdekat sesuai domisili masing-masing
peserta. Dalam sistem ini, para peserta hanya diperbolehkan memilih 3 sekolah
pilihan yang terdekat dengan rumah siswa. Dalam perhitungan zonasi ini, jarak
sekolah dengan tempat tinggal dihitung berdasarkan jarak tempuh dari kelurahan
menuju ke sekolah.

Sisi positif dari sistem zonasi

Meningkatkan kualitas sekolah karena adanya murid berprestasi yang masuk


disetiap sekolah.Tidak adanya sistem kasta dalam Pendidikan seperti nilai
ekonomi sosial, sekolah yang unggul dan keragaman budaya.Tidak ada lagi jual
bangku kosong dalam sekolah negeri untuk siswa pindahan.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 47


Perubahan sistem zonasi yang di buat oleh Nadiem :

Kuota untuk siswa yang berada dalam zonasi sekolah bakal dikecilkan. Bila
sebelumnya kebijakan zonasi mengalokasikan 80% untuk siswa sekitar zona
sekolah, kini Nadiem menurunkan jatah itu menjadi 50%. Kuota untuk jalur
afirmasi untuk pemegang Kartu Indonesia Pintar tidak diubah Nadiem alias tetap
15%. Kuota untuk jalur perpindahan domisili orang tua juga tetap 5%.Begini
kuota sistem zonasi sekolah ala Nadiem :

a. 50% untuk jalur zonasi


b. 30% untuk jalur prestasi
c. 15% untuk jalur afirmasi
d. 5% untuk jalur perpindahan domisili orang tua

Perubahan tersebut membuat jalur prestasi meningkat menjadi 30%. Dari


perubahan ini banyak yang permasalahan, termasuk menimbulkan kasta atau
sekolah favorit lagi, padahal kebijakan zonasi sekolah dibuat untuk
menghilangkan adanya 'kasta' favorit atau unggulan di antara sekolah-sekolah
negeri.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 48


BAB VIII

Penghapusan Ujian Nasional

A. Pengertian Njian Nasional

Ujian nasional biasa disingkat UN/ UNAS adalah system evaluasi standar
pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan bersamaan mutu tingkat
pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh pusat penilaian pendidikan,
depdiknas di Indonesia berdasarkan undang-undang republic Indonesia nomor 20
tahun 2003 menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan
secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara
pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Lebih lanjut dinyatakan
bahwa evaluasi dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh,
transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan
dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara
berkesinambungan.

Proses pemantauan evaluasi tersebut dilakukan secara terus menerus dan


berkesinambungan pada akhirnya akan dapat membenahi mutu pendidikan.
Pembenahan mutu pendidikan. Pembenahan mutu pendidikan dimulai dengan
penentuan standar.

Penentuan standar yang meningkat diharapkan akan mendorong


peningkatan mutu pendidikan, yang dimaksud dengan penentuan standar
pendidikan adalah penentuan nilai batas ( cut off hiscore ). Seseorang dikatakan
sudah lulus/kompeten bila telah melewati nilai batas antara peserta didik yang
sudah menguasai kompetensi tertentu dengan peserta didik yang belum menguasai
kompetensi tertentu. Bila itu terjadi pada ujian nasional ataub sekolah maka nilai
batas berfungsi untuk memisahkan antara peserta didik yang lulus dan tidak lulus
disebut batas kelulusan, kegiatan penentuan batas kelulusan disebut standart
setting.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 49


Adapun mata pelajaran yang diujikan sebagai berikut :

1. Tingkat sekolah Dasar ( SD )


2. Bahasa Indonesia
3. Matematika
4. Ilmu pengetahuan alam
5. Tingkat sekolah menengah pertama ( SMP )
6. Bahasa Indonesia
7. Bahasa inggris
8. Matematika
9. Ilmu pengetahuan alam
10. Tingkat sekolah menengah atas ( SMA/MA/SMAK/SMTK/Utama Widya
Pasraman )
11. Bahasa indonesia
12. Bahasa inggris
13. Matematika
14. Teori kejuruan

B. Tujuan dan Manfaat hasil Ujian Nasional

Tujuan Ujian Nasional :

Tujuan ujian nasional yang diadadakan untuk mengukur standar mutu


pendidikan di indonsia. Meskipun secara konsepsi dan logika sederhana UN dapat
dijadikan sebagai alat untuk mengukur mutu pendidikan, baik dengan cara
membandingkannya dengan masa lalu maupun Negara lain atau sekolah lain, UN
bukanlah satu-satunya ukuran. Secara berkala, organisasi untuk kerja sama
ekonomi dan pembangunan (OECD ) mengukur mutu pendidikan di suatu Negara
melalui programme for international students assessment (PISA) yang mengukur
tiga kemampuan pokok, yaitu membaca, matematika, dan sains.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 50


Tujuan ujian nasional adalah untuk mengukur pencapaian kompetensi lulusan
pada mata pelajaran tertentu secara nasional dengan mengacu pada standar
kompetensi lulusan (SKL).

Ujian nasional sebagai sub-sistem penilaian dalam standar nasional pendidikan


(SNP) menjadi salah satu tolak ukur pencapaian SNP dalam rangka penjaminan
dan peningkatan mutu pendidikan.

C. Manfaat hasil Ujian Nasional

Pemetaan mutu program pendidikan dan satuan pendidikan Pertimbangan


seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya.Dasar pembinaan dan pemberian
bantuan kepada satuan pendidikan untuk pemerataan dan peningkatan mutu
pendidikan.

D. Sebab- akibat di hapuskannya ujian nasional

Dalam rapat koordinasi antara menteri pendidikan dan kebudayaan


dengan kepala dinas pendidikan seluruh Indonesia pada rabu, 11 Desember 2019
yang lalu telah dibicarakan empat hal penting :

1. Ujian sekolah berstandar nasional (USBN)


2. Ujian nasional (UN)
3. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
4. Peraturan penerimaan peerta didik baru (PPDB) zonasi
5. Menteri pendidikan dan kebudayaan, Nadiem makarim menilai ada tiga
permasalahan terkait ujian nasional yaitu :
6. Materi UN terlalu padat sehingga peserta didik dan guru cenderung
menguji penguasaan konten, bukan kompetensi penalaran.

Ujian Nasional UN menjadi beban bagi peseta didik, guru, dan orang tua
karena menjadi indicator keberhasilan peserta didik sebagai individu. Padahal
ujian nasional UN seharusnya berfungsi sebagai pemetaan mutu system
pendidikan nasional, bukan penilaian peserta didik.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 51


Ujian nasional UN hanya menilai aspek kognitif (pengetahuan) dari hasil
belajar, belum menyentuh karakter peserta didik secara menyeluruh.

Berdasarkan tiga hal ini, maka pelaksaan ujia nasional (UN) tahun
2019/2020 yang rencananya berdasakan POS UN akan dilaksanakan pada 16-19
maret 2020 untuk SMK dan 30 maret-2 april 2020 bagi SMA/MA merupakan
pelaksaan ujian nasional yang terakhir kalinya. Dengan kata lain Ujian Nasional
(UN) di Hapus untuk tahun pelajaran 2020/2021. Sebagai gantinya berupa
penilaian kompetensi minimum (PKM) dan survei karakter.penilaian kompetensi
minimum yang dimaksud berupa penilaian literasi (kemampuan bernalar tentang
menganalisi suatu bacaan serta kemampuan memahami konsep dibalik tulisan)
dan penilaian numerasi (kemampuan menganalisi denga menggunakan angka-
angka). Sedangkan survey karakter mengacu pada kompetensi sikap sosial dan
nilai-nilai pancasila.

E. Implikasi ujian nasional

Sistem UN sebdiri bertujuan sebagai tolak ukur pemetaan pendidikan di


negeri ini. Ujian nasional merupakan penentu kelulusan siswa, sehingga banyak
siswa yang tidak siap menghadapinya. Dihapusya ujian nasional dapat menjadi
implementasi keadilan bagi siswa yang memiliki keterbatasan sarana dan
prasarana serta tenaga pendidik yang masih minim. Dari sisi negative
dihapuskannya uian nasional dapat menimbulkan semangat siswa untuk belajar
menjadi berkurang mengingat siswa tidak memiliki tantangan untuk kelulusan
siswa maupun untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikut.

Namun dengan semua itu dengan adanya kebijakan pemerintah


menghapuskan ujian nasional tentunya sudah memilikisolusi alternative sehingga
penghapusan ujian nasional di harapkan tidak berdampak buruk bagi dunia
pendidikan, justru di harapkan memiliki dampak kemajuan bagi dunia pendidikan
serta dapat memenuhi rasa keadilan dalam memperoleh pendidikan yanag layak
untuk semua kalangan.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 52


BAB IX

PENDIDIKAN LUAR BIASA

A. Definisi pendidikan

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan


kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi
berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering
terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara
otodidak.Etimologi kata pendidikan itu sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu
ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e, berarti
“keluar”. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. Setiap
pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau
tindakan dapat dianggap pendidikan. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap
seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah
atas, dan kemudian perguruan tinggi, universitas atau magang.

Sebuah hak atas pendidikan telah diakui oleh beberapa pemerintah. Pada
tingkat global, Pasal 13 Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan
Budaya mengakui hak setiap orang atas pendidikan. Meskipun pendidikan adalah
wajib di sebagian besar tempat sampai usia tertentu, bentuk pendidikan dengan
hadir di sekolah sering tidak dilakukan, dan sebagian kecil orang tua memilih
untuk pendidikan home-schooling, e-learning atau yang serupa untuk anak-anak
mereka.

Pendidikan khusus adalah penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik


yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang
diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa
satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.

Definisi pendidikan luar biasa menurut para ahli

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 53


Frieda Mangunsong dalam buku “Psikologi dan Pendidikan Anak
Berkebutuhan Khusus/Luar Biasa”, 2009:4 Anak Berkebutuhan Khusus atau
Anak Luar Biasa adalah anak yang menyimpang dari rata-rata anak normal dalam
hal; ciri-ciri mental, kemampuan-kemampuan sensorik, fisik dan neuromaskular,
perilaku sosial dan emosional, kemampuan berkomunikasi, maupun kombinasi
dua atau lebih dari hal-hal diatas; sejauh ia memerlukan modifikasi dari tugas-
tugas sekolah, metode belajar atau pelayanan terkait lainnya, yang ditujukan untuk
pengembangan potensi atau kapasitasnya secara maksimal.

Menurut Suron dan Rizzo anak berkebutuhan khusus / Luar Biasa


adalah:“anak yang memiliki perbedaan dalam keadaan dimensi penting dari
fungsi kemanusiaannya. Mereka adalah secara fisik, psikologis, kognitif, atau
sosialterhambat dalam mencapai tujuan/kebutuhan dan potensinya secara
maksimal,sehingga memerlukan penanganan yang terlatih dari tenaga
professional.

B. Tujuan Pendidikan Sekolah Luar Biasa

Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran dari tingkat Taman Kanak-


Kanak Luar Biasa (SDLB), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Luar Biasa
(SLTPLB), dan Sekolah Menengah Luar Biasa (SMLB) bagi anak-anak
Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita, dan Tunadaksa.

Pendidikan keterampilan bagi anak-anak yang tidak mampu melanjutkan


pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, agar mereka dapat hidup di masyarakat
secara mandiri.

Untuk Apa Pendidikan Luar Biasa?

Pendidikan khusus diperuntukan untuk anak berkebutuhan khusus. Menurut


pasal 15 UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, bahwa jenis pendidikan bagi
Anak berkebutuan khusus adalah Pendidikan Khusus / Pendidikan Luar
Biasa.Pasal 32 (1) UU No. 20 tahun 2003 memberikan batasan bahwa Pendidikan
khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 54


dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional,mental,
sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Teknis layanan
pendidikan jenis Pendidikan Khusus untuk peserta didik yang berkelainan atau
peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa dapat diselenggarakan secara
inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan
menengah.

Jadi Pendidikan Khusus hanya ada pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah. Untuk jenjang pendidikan tinggi secara khusus belum tersedia. PP No.
17 Tahun 2010 Pasal 129 ayat (3) menetapkan bahwa Peserta didik berkelainan
terdiri atas peserta didik yang tunanetra; tunarungu; tunawicara; tunagrahita;
tunadaksa; tunalaras; berkesulitan belajar; lamban belajar; autis; memiliki
gangguan motorik; menjadi korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang,
dan zat adiktif lain; dan memiliki kelainan lain

C. Sebab Permasalahan Pendidikan Luar Biasa

perkembangan pendidikan  khusus di setiap daerah, baik di kecamatan


maupun desa, pembangunan sekolah belum merata sehingga anak berkebutuhan
khusus tidak dapat terlayani secara optimal.Untuk menyikapi hal di atas, mungkin
setiap orang berbeda cara pandangnya. Ada yang mengatakan pendidikan khusus
kita sudah luas, kok. Mungkin sudah luas, tetapi apakah yakin sudah merata,
apalagi adil, terutama pendidikan khusus. Sebagian orang berlomba-lomba
meningkatkan mutu pendidikan umum daripada mutu pendidikan khusus di
Indonesia.

Terlebih lagi masalah yang dapat ditimbulkan adalah kurangnya tenaga guru
ahli di bidang PLB (Pendidikan Luar Biasa) di beberapa sekolah  luar biasa.
Mayoritas yang mengajarkan anak berkebutuhan khusus adalah guru yang bukan
berlatar belakang PLB. Pelaksanaan pembelajaran anak berkebutuhan khusus
sangatlah penting.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 55


Semestinya pemerintah membangun TKLB, SDLB, SMPLB, SMALB, dan
SMKLB di setiap desa minimal di tiap kecamatan sehingga mempermudah akses
masyarakat dalam mengantarkan anaknya ke sekolah.

Pemerintah harus menjamin ketersediaan infrastruktur yang mendukung


dan menyediakan alat media pembelajaran anak berkebutuhan khusus. Menurut
pendataan statistik 2015/2016, jumlah SLB 1.962, baik negeri maupun swasta.
Sementara itu menurut pendataan referensi Kemdikbud, jumlah SLB negeri di
Indonesia sebanyak 412, SDLB N 113 SWASTA 134,SMPLB N 20 SWASTA
103,SMALB N 22 SWASTA 87. Jadi, total keseluruhan nya 2.186.  Pemerintah
daerah dan aparat desa pun perlu melakukan sosialisasi langsung ke masyarakat
supaya mengatarkan anaknya ke sekolah.

Meskipun pemerintah sudah menyediakan anggaran yang cukup besar,


pada praktiknya anggaran tersebut masih kurang tepat sasaran pada penggunaan
dan pengelolaannya. Selain itu masih kurang pula pengawasan penggunaan
anggaran pendidikan tersebut baik dari pihak Kementerian Pendidikan &
Kebudayaan, Pemerintahan Daerah, Aparatur Desa, Sekolah dan LSM, misalnya
anggaran yang seharusnya lebih banyak dialokasikan untuk perawatan sarana &
prasarana penunjang sistem belajar mengajar, malah lebih banyak digunakan
untuk kegiatan penerimaan peserta didik baru dengan pendanaan terbesar adalah
konsumsi. Jika terdapat kerja sama antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah,
Aparatur Desa, Sekolah dan LSM dalam pengawasan anggaran pendidikan, tentu
penggunaan anggaran dapat teralokasi pada hal yang benar-benar dibutuhkan oleh
sekolah tersebut, karena pasti setiap sekolah memiliki prioritas pendanaan
berbeda-beda (terutama antara sekolah di Kota dengan di Desa).  

Pasal 133 ayat (4 ) menetapkan bahwa Penyelenggaraan satuan pendidikan


khusus dapat dilaksanakan secara terintegrasi antar jenjang pendidikan dan/atau
antar jenis kelainan. Selain dari peningkatan akses pendidikan melalui sarana dan
prasarana penunjang sistem belajar mengajar, dibutuhkan pula tingginya tingkat
kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan khusus.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 56


Untuk itu dibutuhkan pula peranan dari tokoh masyarakat dan LSM
setempat dalam menyosialisasikan betapa pentingnya pendidikan. Salah satu cara
untuk mewujudkannya adalah pendidikan yang berkeadilan, pendidikan yang
tidak lagi menjadi sesuatu yang momok yang menakutkan bagi warganya.
Pendidikan yang meluas, merata dan berkeadilan sesuai dengan amanat undang-
undang dasar Negara Republik Indonesia. “mencerdaskan kehidupan
bangsa”.Seharusnya Pemerintah dapat memberikan perlakuan yang sama kepada
Anak Indonesia tanpa diskriminasi, kalau bisa mendirikan SD Negeri, SMP
Negeri, SMA Negeri untuk anak bukan ABK, maka juga harus berani mendirikan
SDLB Negeri, SMPLB Negeri, dan SMALB Negeri bagi ABK. Hingga Juni tahun
2013 di Provinsi Jawa Tengah dan DIY baru Pemerintah Kabupaten Cilacap yang
berani mendirikan SDLB Negeri, SMPLB Negeri, dan SMALB Negeri masing-
masing berdiri sendiri sebagai satuan pendidikan formal.

Permasalahan Pendidikan Inklusif di Sekolah

Pendidikan Luar Biasa di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup


menggembirakan dan mendapat apresiasi serta antusiasme dari berbagai kalangan,
terutama para praktisi Pendidikan. Tetapi sejauh ini dalam pelaksanaannya di
lapangan terdapat berbagai isu dan permasalahan. Berdasarkan hasil penelitian
Sunardi (2009) terhadap 12 sekolah penyelenggara inklusi di Kabupaten dan
Kota, secara umum saat ini terdapat lima kelompok issue dan permasalahan
pendidikan luar biasa di tingkat sekolah yang perlu dicermati dan diantisipasi agar
tidak menghambat, implementasinya tidak bisa, atau bahkan menggagalkan
pendidikan inklusif itu sendiri, yaitu : pemahaman dan implementasinya,
kebijakan sekolah, proses pembelajaran, kondisi guru, dan support system. Salah
satu bagian penting dari suppor system adalah tentang penyiapan anak.
Selanjutnya, berdasar isu-isu tersebut, permasalahan yang dihadapi adalah sebagai
berikut:

Pemahaman inklusi dan implikasinya

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 57


Pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus belum dipahami
sebagai upaya peningkatan kualitas layanan pendidikan. Pemahamannya masih
sebagai upaya memasukkan disabled children ke sekolah regular dalam rangka
give education right dan kemudahan access education, serta againt discrimination.

Pendidikan inklusif cenderung dipersepsi oleh masyarakat sama dengan


integrasi, sehingga masih ditemukan pendapat bahwa anak harus menyesuiakan
dengan sistem sekolah.

Dalam implementasinya guru cenderung belum mampu bersikap proactive


dan ramah terhadap semua anak, menimbulkan komplain orang tua, dan
menjadikan anak berkebutuhan khusus sebagai bahan cemoohan.

Kebijakan sekolah

Meskipun telah didukung dengan visi dan misi yang cukup jelas,
menerima semua jenis anak berkebutuhan khusus, sebagian sudah memiliki guru
khusus, mempunyai catatan hambatan belajar pada masing-masing ABK, dan
kebebasan guru kelas dan guru khusus untuk mengimplementasikan pembelajaran
yang lebih kreatif dan inovatif, namun cenderung belum didukung dengan
koordinasi dengan tenaga profesional, organisasi atau institusi terkait.

Kebijakan sekolah yang masih kurang tepat, yaitu guru kelas tidak
memiliki tangung jawab pada kemajuan belajar ABK, serta keharusan orang tua
ABK dalam penyediaan guru khusus.

Proses pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran belum dilakukan dalam bentuk team teaching,


tidak dilakukan secara terkoordinasi. Guru cenderung masih mengalami kesulitan
dalam merumusakan flexible curriculum, pembuatan IEP, dan dalam menentukan
tujuan, materi, dan metode pembelajaran.

Masih terjadi kesalahan praktek bahwa target kurikulum ABK sama


dengan siswa lainnya serta anggapan bahwa siswa berkebutuhan khusus tidak

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 58


memiliki kemampuan yang cukup untuk menguasai materi belajar. Karena
keterbatasan fasilitas sekolah, pelaksanaan pembelajaran belum menggunakan
media, resource, dan lingkungan yang beragam sesuai kebutuhan anak.

Kondisi guru

Belum didukung dengan kualitas guru yang memadai. Guru kelas masih
dipandang not sensitive and proactive yet to the special needs children.
Keberadaan guru khusus masih dinilai belum sensitif dan proaktif terhadap
permasalahan yang dihadapi ABK.

Sistem dukungan

Belum didukung dengan sistem dukungan yang memadai. Peran orang tua,
sekolah khusus, tenaga ahli, perguruan tinggi-LPTK PLB, dan pemerintah masih
dinilai minimal. Sementara itu fasilitas sekolah juga masih terbatas. Keterlibatan
orang tua sebagai salah satu kunci keberhasilan dalam pendidikan inklusif, belum
terbina dengan baik. Dampaknya, orang tua sering bersikap kurang peduli dan
realistik terhadap anaknya.

Kondisi di lapangan dalam penerapan pendidikan inklusif/luar biasa

Berdasarkan pemantauan penulis di beberapa sekolah yang menyelenggarakan


pendidikan inklusif yang telah secara alami mengembangkan pendidikan inklusif,
beberapa kecenderungan yang terjadi di lapangan, diantaranya:

1. Masih ada sekolah yang secara formal belum berpredikat sebagai sekolah
inklusif, bahkan sampai sekarang belum tersentuh proyek sosialisasi dan
pelatihan di bidang pendidikan inklusif. Para guru belum memahami dan
terampil melakukan proses pembelajaran di kelas inklusif yang terdapat
ABK
2. Para guru masih merasa sulit menyelaraskan antara standar layanan
persekolahan reguler yang selama ini berjalan dan variasi kebutuhan
belajar ABK.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 59


3. Para guru awalnya sempat khawatir akan menurunkan citra sekolah.
4. Para siswa normal belum sepenuhnya menerima ABK sebagai teman
belajar di kelasnya.
5. Adanya protes terhadap kenaikan ABK, sementara ada anak normal yang
tidak naik kelas. Tidak ada guru khusus, tetapi ini justru tantangan untuk
menemukan metode baru (kreatif) melalui kebersamaan, saling diskusi,
saling berbagai.
6. Perubahan dan proses adaptasi pembelajaran dilakukan terus menerus
melalui kerja sama, saling memotivasi, saling membantu, saling
mendukung, komunikasi, dan belajar dari pengalaman.
7. Mengembangkan kerjasama antar guru dan meningkatkan jalinan
komunikasi dengan orang tua. Sekalipun diakui menambah beban
tambahan, namun diterima sebagai tantangan. Sekolah belum mampu
menyediakan program yang tepat, bagi ABK dengan kondisi kecerdasan di
bawah rata-rata (tunagrahita).
8. Belum adanya sistem evaluasi hasil belajar (baik formatif dan sumatif)
yang tepat sesuai kebutuhan ABK karena kurangnya sarana dan sumber
belajar aksesabilitas untuk mengakomodasi kebutuhan mobilitas dan
belajar ABK.Belum seluruh warga sekolah memiliki kesepahaman tentang
pendidikan inklusif dan layanan ABK.
9. Masih adanya anggapan keberadaan ABK akan mempengaruhi ketuntasan
hasil belajar akhir tahun, akibatnya ABK dipindahkan di SLB menjelang
ujian. Layanan inklusif masih belum menyatu dalam sistem dan iklim
sekolah, sehingga ada dua label siswa ABK dan reguler.
10. Belum semua pengambil kebijakan termasuk bidang pendidikan
memahami tentang sistem inklusif. Secara pengelolaan pelaksanaan
pendidikan inklusif kurang dipersiapkan dengan komprehensif.
11. Belum optimalnya penyediaan bahan ajar sesuai kebutuhan ABK.

Banyaknya permasalahan implementasi pendidikan luar biasa tersebut


menunjukkan masih perlunya penataan lebih komprehensif. Uraian permasalahan

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 60


di atas memberikan fakta bahwa pelaksanaan pendidikan inklusif di Indonesia
masih dihadapkan kepada berbagai isu dan permasalahan yang cukup kompleks.
Permasalahan yang muncul bukan hanya di tingkat sekolah saja tetapi di tingkat
pusat pula. Di tingkat sekolah, tidak semua guru dan kepala sekolah memahami
dan mampu menerapkan pendidikan inklusif. Akibatnya kebijakan sekolah
menjadi tidak tepat, dan proses pembelajaran menjadi tidak efektif. Sementara itu
para pembuat kebijakan di tingkat pusat belum sepenuhnya memberikan
dukungan dalam penyelenggaraan pendidikan luar biasa, terbukti belum
optimalnya memberikan support dalam bentuk misalnya penyediaan sarana dan
prasarana atau guru khusus.

Pada dasarnya akar masalah pendidikan inklusif/luar biasa di Indonesia


ialah terkait dengan rendahnya komitmen dan kemampuan para praktisi dan
pengembil kebijakan pendidikan. Komitmen dalam menyelenggarakan pendidikan
inklusif harus diperbaiki. Perlu adanya kesadaran yang mendalam tentang
pentingnya penyelenggaraan pendidikan inklusif secara konsisten. Selain
komitmen, akar permasalahan pendidikan inklusif ialah rendahnya kemampuan
praktisi dan pemerintah. Praktisi kurang mampu menyelenggarakan pendidikan
inklusif dan pemerintah kurang mampu dalam memonitor pendidikan inklusif.

Penyelenggaraan PLB di Indonesia umumnya masih segregatif dan


didominasi oleh suasana yang kompetitif. Suasana pendidikan semacam itu pada
dasarnya menyimpang dari filosofi Pancasila dansemboyan Bhinneka Tunggal
Ika. Suasana pendidikan semacam itu tidak memberikan latihan yang memadai
untuk belajar hidup bersama yang menghargai pluralitas. Suasana pendidikan
semacam itu akan menyebabkan peserta didik tumbuh menjadi manusia yang
terbiasa hidup saling menjatuhkan dan hanya mementingkan diri sendiri. Suasana
pendidikan semacam itu juga akan membawa peserta didik yang lemah menjadi
rendah diri dan yang kuat akan mendominasi peserta didik lain. Sehubungan
dengan kondisi semacam itu maka suasana pendidikan harus diubah menjadi lebih
menyenangkan dan lebih koperatif. Suasana koperatif harus lebih dominan;
suasana kompetitif hanya untuk bersenang-senang dan hanya untuk materi

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 61


pembelajaran yangmembosankan tetapi sangat penting bagi kehidupan seperti
menghafal perkalian, dan menghafal abjad untuk dipelajari.

Sebagian besar penyelenggaraan PLB masih segregatif, meskipun hasil


penelitian menunjukkan bahwa cukup banyak peserta didik yang membutuhkan
layanan khusus yang berada di sekolah-sekolah reguler. Pada tahun 2001,
Direktorat PLB yang baru saja dibentuk dalam jajaran Depdiknas telah
memberanikan diri untuk memulai suatu era pendidikan inklusif. Secara moral
pendidikan inklusif mendapat dukungan luas dari masyarakat karena menjanjikan
terselenggaranya sistem pendidikan yang demokratis. Meskipun demikian, cukup
luas pula masyarakat yang meragukan pendidikan inklusif karena pengalaman
yang masih sangat terbatas.

D. Akibat Adanya Pendidikan Luar Biasa

Secara umum, Dalam sistem pendidikan nasional diadakan pengaturan


pendidikan khusus yang diselenggarakan untuk peserta didik yang menyandang
kelainan fisik dan/atau mental. Peserta didik yang menyandang kelainan demikian
juga berhak memperoleh pendidikan yang layak, sebagaimana diamanatkan dalam
Undang-Undang Dasar 1945 yang dalam hal ini menyatakan dengan singkat tapi
jelas bahwa "Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran", dan yang
ditegaskan dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan
Nasional yang menyatakan bahwa "Setiap warga negara", termasuk warga negara
berkelainan, "mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan".

Hak masing-masing warga negara untuk memperoleh pendidikan dapat


diartikan sebagai hak untuk "memperoleh pengetahuan, kemampuan dan
keterampilan yang sekurang-kurangnya setara dengan pengetahuan, kemampuan dan
keterampilan tamatan pendidikan dasar". Tentu saja kelainan yang disandang oleh
peserta didik yang bersangkutan menurut penyelenggaraan pendidikan sekolah yang
lain daripada penyelenggaraan pendidikan sekolah biasa. Oleh sebab itu, jenis

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 62


pendidikan yang diadakan bagi peserta didik yang berkelainan disebut pendidikan
luar biasa.

Pada umumnya masing-masing peserta didik yang menyandang kelainan


menuntut perhatian dan pelayanan pendidikan yang lebih khusus dan upaya
rehabilitasi daripada peserta didik biasa. Upaya rehabilitasi yang seharusnya
diadakan bagi peserta didik yang berkelainan disebut pendidikan luar biasa.

Peraturan Pemerintah ini pada dasarnya dirumuskan secara umum agar


terbuka keleluasaan bagi para tenaga kependidikan dan ahli rehabilitasi yang
bersangkutan untuk menyesuaikan pelayanan masing-masing dengan kebutuhan
khas peserta didik yang menyandang kelainan. Peraturan Pemerintah ini juga
diadakan agar keluarga, Pemerintah dan masyarakat mengetahui hak dan kewajiban
masing-masing dalam upaya pengadaan, penyelenggaraan dan pengembangan
pendidikan luar biasa di wilayah Republik Indonesia.

E. Pengaruh Pendidikan Luar Biasa Terhadap Peserta Didik

Pada umumnya kita ketahui pendidikan luar biasa juga berarti


pembelajaran yang dirancang khususnya untuk memenuhi kebutuhan yang unik
dari anak kelainan fisik. Pendidikan luar biasa akan sesuai apabila kebutuhan
siswa tidak dapat diakomodasikan dalam program pendidikan umum. Berbagai
masalah dan kesulitan yang telah dikemukakan di atas, terdapat juga anak usia
dini dengan tingkat intelegensi yang luar biasa, yaitu anak tunagrahita serta anak
gifted dan berbakat.

Jamaris (2006:94-95) menjelaskan bahwa anak tunagrahita atau anak


mentally retarded adalah kelompok anak yang memiliki tingkat intelegensi
dibawah normal. Ketunagrahitaan tampak dalam kesulitan ‘adaptive behavior’
atau penyesuaian perilaku, dimana mereka tidak dapat mencapai kemandirian
yang sesuai dengan ukuran (standar) kemandirian dan tanggungjawab sosial.
Anak tunagarahita juga mengalami masalah dalam keterampilan akademik dan
berpartisipasi dengan kelompok teman yang memiliki usia sebaya.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 63


Disisi lain, suatu ramhat bagi beberapa orangtua yang dikaruniai anak gifted
dan berbakat, anak gifted dan talented (berbakat) adalah anak yang memiliki
kemampuan yang luar biasa, baik intelegensinya maupun bakat khusus dan
kreativitasnya, sehingga anak mampu mencapai kinerja dengan kualitas yang luar
biasa. Untuk mewujudkan potensi yang tersembunyi tersebut, maka diperlukan
layanan pendidikan khusus disamping pendidikan yang diberikan pada anak
normal di sekolah biasa (Jamaris 2006:100-101).

F. Manfaat Isu Pendidikan Luar Biasa

Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus banyak membawa manfaat bagi


anak itu sendiri. Melalui pendidikan dapat mengetahui kemampuan yang dimiliki
anak berkebutuhan khusus seterusnya akan dikembangkan yang akan berguna
bagi kehidupannya karena banyak anak berkebutuhan khusus yang memiliki bakat
yang tidak dimiliki oleh anak normal pada umumnya. Dapat menjadikan anak
lebih disiplin dan mandiri sehingga tidak lagi bergantung pada orang lain dalam
menjalani kehidupannya. Anak dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan
masyarakat sekitar sehingga anak merasa menjadi bagian dari masyarakat
tersebut. Dapat mewujudkan seseorang yang memiliki kehidupan yang lebih baik
di masa yang akan datang.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 64


BAB X

PERMASALAHAN PENDIDIKAN DAN ASPEK KURIKULUM

A. Definisi pendidikan dan aspek kurikulum

Secara bahasa pendidikan berasal dari bahasa yunani, paedagogy, yang


mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar oleh
seorang pelayan. Pelayan yang mengantar dan menjemput dinamakan
paedagogos. Dalam bahasa romawi pendidikan diistilahkan sebagai educate yang
berarti memperbaiki moral dan melatih intelektual (muhajir, 2000:20). Banyak
pendapat yang berlainan tenytang pendidikan walaupun demikian, pendidikan
berjalan terus tanpa menunggu keseragaman arti.

Menurut crow, seperti yang dikutip oleh fuad ihsan dalam bukunya “Dasar-
dasar kependidikan”, mengatakan bahwa pendidikan adalah proses yang berisikan
berbagai macam kegiatan yang cocok bagi individu untu kehidupan sosialnya dan
membantu menerusakan adat dan budaya serta kelembagaan social dari generasi
ke generasi.

Pendidkan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasa belajar
dan proses pembelajaran agar peserta dididk sevcara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya
dan masyarakat.

Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk


memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan
kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan
alam dan masyarakat. Paulo freire ia mengatakan, pendidikan merupakan jalan
menuju pembebasan yang permanen dan terdiri dari dua tahap. Tahap pertama
melalui praksisi mengubah keadaan itu. Tahap kedua dibangun atas tahap yang
pertama, dan merupakan sebuah proses tindakan kultrul yang membebaskan.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 65


Pendidikan adalah pengalihan (transmisi) kebudayaan ilmu pengetahuan,
teknologi, ide-ide. Etika dan nilai-nilai spiritual serta estetika) dari generasi yang
lebih tua kepada generasi yang lebih muda dalam setiap masyarakat atau bangsa.

Jadi pendidikan adalah suatu hasil pembelajaran yang menghasilkan akal,


pikiran dan pengetahuan yang dapat bermakna dalam kehidupan dalam menjalani
segala aktivitas, dan mengenal segala adat dan kebudayaan dan dapat diamalkan
generasi ke generasi selanjutnya melalui ppendidikan yang memperoleh
pengatuhan dan pengalaman.

Istilah kurikulum di gunakan pertama kali pada olahraga pada zaman yunani
kuno yang berasal dari kata curir dan curer, yang artinya jarak yang harus
ditempuh oleh seorang atlit. Pada waktu itu,orang mengistilahkan dengan tempat
berpacu atau tempat berlari dari mulai start sampai finish. (wina sanjaya,200:10).

Menurut saylor J. Gallen & William N. Alexander dalam bukunya


“CurriculumPlanning” menyatakan kurikulum adalah “keseluruhan usaha sekolah
untuk mempengaruhi belajar baik berlangsung dikelas dihalaman maupun diluar
sekolah”.Selain itu , kurikulum dalam pandangan modern juga berarti pada
methodology. Misalnya Hilda Taba dalam bukunnya curriculum development
menuliskan currikulum is, after all, a way of preparing young people to participate
as productive members of our culturer”. Artinya, kurikulu m adalah cara
mempersiapkan manusia untuk berpartisipasi sebagai anggota yang produktif dan
suatu budaya.

Kurikulum suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar


mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga
pendidikan beserta staf pengajaranya. Kurikulum adalah peristiwa- peristiwa yang
terjadi di bawah pengawasan sekolah, jadi selain kegiatan kuliluler yang formal
juga kegiatan yang tak formal.

Kurikulum adalah rencana atau program belajar dan pengajaran adalah


pelaksanaan atau operasionalisasi dari rencana atau program. Kurikulum adalah

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 66


lat atau saran untuk mencapai tujuan pendidikan melalui proses pengajaran,
kurikulum adalah sesuatu yang diinginkan atau dicita-citakan untuk anak didik.
Artinya hasil belajar yang diinginkan yang diniati agar dimiliki anak.

UU RI No 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional pasal 1 ayat


19 kuriulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi,
tambahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentuKurikulum
adalah suatu formulasi pedagogis yang termasuk paling penting dalam konteks
PBM.Kurikulum dalam arti luas yaitu meliputi seluruh program dan kehidupan
dalam sekolah.Nengly end evaras (1976) kurikulum adalah semua pengalaman
yang direncanakan yang dilakukan oleh sekolah untuk menolong para siswa
dalam mencapai hasil belajar kepada kemampuan siswa yang paling baik. Inlow
(1966) kurikulum adalah susunan rangkaian dari hasil belajar yang disengaja.
Kurikulum menggambarkan atau paling tidak mengantisipasikan dari hasil
pengajaran Saylor kurikulum adalah keseluruhan usaha sekolah untuk
mempengaruhi proses belajar mengajar baik langsung di kelas tempat bermain,
atau di luar sekolah.

Jadi kurikulum adalah suatu alat dalam proses suatu pembelajaran dalam suatu
pendidikan agar dapat berjalan dengan teratur dan proses belajar mengajar dan
arah dalam suatu pembelajaran. Dan alat membantu siswa agar tercapai segala
yang diinginkan dalam proses belajar.

B. Tujuan pendidikan dan aspek kurikulum

Berbicara tentang tujuan pendidikan, tak dapat tidak mengajak kita bicara
tentang tujuan hidup manusia. Sebab pendidikan hanyalah suatu alat yang
digunakan oleh manusia untuk memelihara kelanjutan hidupnya baik secara
individu maupun sebagai masyarakat, jadi tujuan pendidikan adalah suatu yang
menyiaplan moral, mental sikap dan kepribadian anak dalam melangsungkan
kehidupan supaya dalam diwaktu dewasa kelak mereka cakap melakukan
pekerjaan dunia dan amalan akhirat sehingga tercipta kebahagiaan bersama.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 67


Dan ada dalam surat Al-baqoroh ayat 200, 201, 202 tentang tujuan pendidikan
dalam kebaikan didunia dan akhirat inilah tujuan pendidikan kenapa perlu adanya
pendidikan karena kita mau mendapat kebaikan dunia maupun akhirat.

Dan tujuan aspek kurikulum dalam suatu pendidikan yaitu suatu


penunjang dalam suatu pendidikan agar suatu permasalahan dalam pendidikan
dapat diatasi itupun adanya kurikulum masih banyak permasalahan-permasalahan
dalam suatu pendidikan, tujuan dari kurikulum adalah meningkatkan mutu
kehidupannya yang pelaksanaannya bukan saja sekolah, akan tetapi juga di luar
sekolah.

Kurikulum dalam proses pendidika merupakan alat untuk mencapai tujuan


pendidikan karena berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses pendidikan,
yang pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu lembaga
pendidikan. Sebagai alat yang penting untuk mencapai tujuan, kurikulum
hendaknya adaptif terhadap perubahan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan
serta bertanggung jawab.

Permasalahan kurikulum pendidikan, perkembangan ilmu pengetahuan dan


teknologi yang sangat cepat membawa dampak terhadap berbagai aspek
kehidupan, termasuk terjadinya pergeseran fungsi sekolah sebagai institusi
pendidikan. Seiring dengan tumbuhnya berbagai macam kebutuhan kehidupan,
beban sekolah semakin berat dan kompleks. Sekolah tidak saja dituntut untuk
dapat membekali berbagai macam ilmu prngrtahuan yang sangat cepat
berkembang, akan tetapi juga dituntut untuk dapat mengembangkan minat dan
bakat, membentuk moral dan kepribadian, bahkan dituntut agar anak didik dapat
menguasai berbagai macam keterampilan yang dibutuhksn untuk memenuhi dunia
pekerjaan perubahan ini memberikan beban kepada pengembang kurikulum,
karena harus memilih dan memutuskan “apa” yang harus diajarkan “siapa”

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 68


C. Sebab akibat permasalahan pendidikan dalam aspek kurikulum

Sebab permasalahan pendididkan dalam aspek kurikulum dalam dunia


pendidikan di Indonesia akan memberi dampak yang cukup besar terhadap
perkembangan pendidikan di bangsa ini, pengimplementasian setiap kurikulum
baru tentunya diasaskan pada kebaikan dan kebenaran yang pantas dan layak bagi
bangsa ini. Berdasarkan latar belakang didapatkan beberapa masalah yang muncul
dalam perkembangan kurikulum di Indonesia, diatarannya sebagai berikut:

Kurikulum mencerminkan falsafah hidup bangsa, kea rah mana dan


bagaimana bentuk kehidupan itu kelak akan ditentukan oleh kurikulum yang
digunakan oleh bangsa tersebut permasalahannya adalah apakah setiap kurikulum
di Indonesia merupakan cerminan dan falsafa hidup bangsa dan tujuan yang
diharapkan oleh Negara.

Setiap kurkulum yang telah berlaku di Indonesia dari periode sebelum tahun
1945 himgga kurikulum tahun 2006, memiliki beberapa perbedaan system
permasalahannya apakah setiap perbedaan system tersebut dilengkapi oleh
kurikulum yang diterapkan berikutnya atau merupakan perombakan ulang.

Kurikulum merupakan alat (kurikulum yang diimplementasikan ) untuk


mencapai juan pendidikan, sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan
pendidikan. Permasalahannya apakah alat yang digunakan untuk mencapai tujuan
dan pedoman ini sesuai dengan kebuutuhan saat ini.

Disadari bahwa pada saat ini, bangsa ini memerlukan langkah perbaikan
pendidikan dasar dan menengah yang tidak boleh keliru guna menghadapi
peluang, permasalahannya adalah apakah setiap kurikulum yang pernah di
implementasikan telah disiapkan untuk menghadapi peluang tersebut.

Dalam perjalanan sejarah tahun 1945, kurikulun pendidikan nasional telah


mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994,
1999, 2004 dan 2006/ permasalahannya adalah setiap perubahan kurikulum

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 69


tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan yang perlu dikaji sehingga
ditemukan ada kurikulum yang tepat dan tidak perlu dilakukan perubahan.

Akibat dari permasalah pendidikan dalam aspek kurikulum, yaitu karena


dalam pendidikann sering terjadi perubahan kurikulum dalam suatu pendidikan
dalam beberapa tahun belakangan ini, kita menggunakan system pendidikan
kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum berbasis kompetensi yang pengubah
proses pengajaran menjadi proses prndidikan aktif, hingga kurikulum baru
lainnya. Ketika mengganti kurikulum, kita juga mengganti cara pendidikan
pengajar, dan pengajar harus diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga menambah
cost biaya pendidikan sehingga amat disayangkan jika terlalu sering mengganti
kurikulum yang dianggap kurang efektif lalu langsung menggantinya dengan
kurikulum yang dinilai lebih efektif.

D. Manfaat pendidikan dalam aspek kurikulum

Manfaat pendidikan Sesuai dengan pengertian, fungsi, dan tujuannya,


pendidikan sangatlah bermanfaat bagi kehidupan masyarakat agar menjadi
manusia yang seutuhnya, karena sejatinya pendidikan sebagai alat untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa dan Negara, maju mundurnya pendidikan itu
sendiri.

Manfaat pendidikan dalam aspek kurikulum yaitu saling berkaitan da


bermanfaat dalam suatu proses belajar mengajar yang efektif dan dapat dimengerti
oleh anak dan seseorang dalam belajar dalam menopang kehidupan nanti dan
mendapatkan pengertahuan dalam pendidikan dengan adanya alat dan atura setiap
sekolah yaitu kurikulum.

E. Implikasi

Salah satu variable yang mempengaruhi system pendidikan nasional adalah


kurikulum. Oleh karena itu, kurikulum harus dapat mengikuti dinamika yang ada
dalam masyarakat. Kurikulum harus dapat mengikuti dinamika yang ada dalam
masyarakat. Kurikulum harus bia menjawab kebutuhan masyarakat luas dalam

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 70


menghadapi peroalan kehidupan yang dihadapi. Kurikulum jangan sampai
membebani peserta didik, seperti beban belajar yang terlalu berat. Jadi pendidikan
adalah suatu pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan dari
sekelompok orang yang diturunkam generasi ke generasi berikutnya.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 71


BAB XI

MENINGKATNYA ANGKA PUTUS SEKOLAH DI DESA TERPENCIL

A. Pengertian Pendidikan

UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS yakin : “Pendidikan adalah


usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.”

Menurut Crow and crow, seperti yang dikutip oleh Fuad Ihsan dalam
bukunya “Dasar-dasar Kependidikan”, mengatakan bahwa pendidikan adalah
proses yang berisikan berbagai macam kegiatan yang cocok bagi individu untuk
kehidupan sosialnya dan membantu meneruskan adat dan budaya serta
kelembagaan sosial dari generasi ke generasi.

Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk


memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan
kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan
alam dan masyarakatnya. Paulo Freire ia mengatakan, pendidikan merupakan
jalan menuju pembebasan yang permanen dan terdiri dari dua tahap. Tahap
pertama adalah masa dimana manusia menjadi sadar akan pembebasan mereka,
dimana melalui praksis mengubah keadaan itu. Tahap kedua dibangun atas tahap
yang pertama, dan merupakan sebuah proses tindakan kultural yang
membebaskan.

Jadi, pendidikan adalah tahap dalam mengembangkan potensi diri,


pengetahuan, spiritual, akhlak dan keterampilan yang berguna untuk dirinya,
masyarakat dan negara agar dapat menjadi makhluk sosial yang beradab.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 72


B. Tujuan pendidikan

Tujuan pendidikan itu juga ditanamkan sejak manusia masih dalam


kandungan, lahir, hingga dewasa yang sesuai dengan perkembangan dirinya.
Ketika masih kecil pun pendidikan sudah dituang dalam UU 20 Sisdiknas 2003,
yaitu disebutkan bahwa pada pendidikan anak usia dini bertujuan untuk
mengembangkan kepribadian dan potensi diri sesuai dengan tahap perkembangan
peserta didik.

Ki Hadjar memaknai pendidikan sebagai proses pemberian tuntunan untuk


menumbuh-kembangkan potensi anak. Dalam istilah tuntunan tergambar bahwa
tujuan pendidikan tujuan pendidikan mengarah pada pendampingan anak dalam
proses penyempurnaan ketertiban tingkah lakunya. Dalam artikel berjudul “Sifat
dan maksud pendidikan” yang dipublikasikan pada tahun 1942, beliau
mengemukakan bahwa tujuan pendidikan ialah kesempurnaan hidup manusia
sehingga dapat memenuhi segala keperluan lahir dan batin yang diperoleh dari
kodrat alam.

Jadi, tujuan pendidikan adalah proses menumbuh kembangkan potensi


anak sejak dari bayi hingga dewasa guna untuk menyempurnakan ketertiban
tingkah lakunya.

C. Sebab Akibat Banyaknya Anak Yang Putus Sekolah Di Desa Terpencil

Pendidikan sangat penting untuk memajukan suatu bangsa. Pendidikan ini


juga harusnya bisa ada dan dirasakan di semua daerah-daerah baik di kota besar
maupun di daerah terpencil. Namun, nyatanya tidak seperti itu. Sampai sekarang
banyak anak-anak yang putus sekolah di karenakan di daerah tersebut kekurangan
guru/pendidikan, sarana dan prasarana dan animo masyarakat untuk bersekolah
masih sangat rendah, seperti di Desa Funanayaba, Kec Werinama, Kab Seram
Bagian Timur (SBT).

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 73


D. Cara Menanggulangi Masalah Isu-isu Anak yang Putus Sekolah
Di indonesia sendiri, pemerintah program wajib belajar 9 tahun. Program
ini didasari konsep “pendidikan dasar untuk semua” (universal basic education),
yang pada hakekatnya berarti penyediaan akses yang sama untuk semua anak. Hal
ini sesuai dengan kaedah-kaedah yang tercantum dalam piagam PBB tentang hak
Asasi Manusia, tentang Hak Anak, dan tentang Hak dan Kewajiban Pendidikan
Anak.
Hak anak akan pendidikan merupakan hak yang sangat fundamental bagi
anak. Hak wajib dipenuhi dengan kerjasama paling tidak dari orangtua siswa,
lembaga pendidikan dan pemerintah. Pendidikan akan mampu terealisasi jika
semua komponen yaitu orang tua, lembaga masyarakat, pendidikan dan
pemerintah bersedia menunjang jalannya pendidikan.
Jadi untuk menanggulangi bertambahnya anak yang putus sekolah di desa
terpencil yaitu perhatian pemerintah dalam pengadaan sarana dan prasarana serta
tenaga pendididik di daerah tersebut, juga kesadaran para orang tua tentang
pendidikan anak yang wajib serta peran masyarakat dalam mendukung pendidikan
itu sendiri.
E. Implikasi
Dengan meratanya pendidikan di seluruh indonesia baik di kota besar
maupun di daerah-daerah terpencil ini dapat memajukan suatu bangsa itu sendiri.
Berkurangnya anak yang putus sekolah, berkurang pula kemungkinan adanya
pengangguran diluar sana.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 74


BAB XII

OTONOMI DAN REFORMASI PENDIDIKAN

A. Defenisi otonomi dan reformasi pendidikan


1. Pengertian otonomi

Otonomi berasal dari bahasa yunani autos yang berarti “sendiri’’ dan
nomos yang berarti “hukum’’ atau “aturan’’ sedangkan menurut ateng syafruddin
mengatakan bahwa istilah otonomi mempunyai makna kebebasan dan
kemandirian,tetapi bukan kemerdekaan.

Sedangkan otonomi pendidikan menurut undang-undang system


pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003 adalah terungkap pada Bab IV tentang
hak dan kewajiban warga Negara, orang tua, masyarakat dan pemerintah. Pada
bagian ketiga hak dan kewajiban masyarakat pasal 8 disebutkan bahwa
“masyarakat berhakberperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan,
dan evaluasi, program pendidikan’’ , pasal 9 : “masyarakat berkewajiban
memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggara pendidikan’’. Begitu
juga pada bagian keempat hak dan kewajiban pemerintah dan pemerintahan
daerah, pasal 11 ayat (2): “pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin
tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga Negara
yang berusia tujuh sampai lima belas tahun”.

2. Otonomi menurut para ahli


a. Syarif saleh

Otonomi sebagai hak mengatur dan memerintah daerah sndiri , hak


mana diperoleh dari pemerintah pusat.

b. Wayong

Mengemukakan bahwa otonomi daerah adalah kebebasan untuk


memelihara dan memajukan kepentingan khusus daerah, dengan keuangan
sendiri, menentukan hokum sendiri, dan pemerintahan sendiri.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 75


c. Sugeng istanto

menyatakan bahwa otonomi diartikan sebagai hak dan wewenang


untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah.

d. Ateng syafruddin

Mengemukakan bahwa istilah otonomi mempunyai makna kebebasan


dan kemandirian, tetapi bukan kemerdekaan. Kebebasan yang terbatas atau
kemandirian itu dalah wujud pemberian kesempatan yang harus
dipertanggung jawabkan.

3. Pengertian reformasi pendidikan

Reformasi berarti perubahan radikal untuk perbaikan dalambidang


social, politik atau agama dalam suatu masyarakat atau Negara.
Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan pada peraturan
Negara tersebut, misalkan di Negara Indonesia berarti pendidikan nasional
Indonesia adalah pendidikan yang berdasarkan pada pancasila dan undang-
undang dasar republic Indonesia tahun 1945.

Jadi reformasi pendidikan nasional adalah perubahan radikal yang


ada dalam suatu instansi pendidikan yang berada dalam naungan suatu
Negara kebangsaan.

B. Tujuan otonomi reformasi pendidikan

Otonomi pendidikan dapat meningkatkan efesiensi manajemen dan


kepuasan kerja tenaga pendidikan serta menciptakan suatu system pendidikan
dengan kebikan-kebijakan yang konkret, sumber daya pendidikan dapat di daya
gunakan secara optimal; dapat menggali potensi local secara lebih efektif, dapat
mengelola system pendidikan yang sejalan dengan kebudayaan setempat, serta
partisipasi masyarakat dalam pendidikan meningkat; akuntabilitas pendidikan juga
meningkat; dan pada gilirannya mutu pendidikan dapat terjamin.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 76


Dengan otonomi pendidikan dan reformasi, maka efek positif yang muncul
adalah terjadinya perbaikan pendidikan di tingkat local, efesiensi administrasi,
efesiensi keuangan, dan terwujudnya pelayanan pendidikan sebagai modal dasar
terselenggaranya pendidikan berkualitas serta sebagai instrument vital dalam
menghadapi tantangan dunia pendidikan.

Tujuan reformasi pendidikan

Pada dasarnya mempunyai tujuan agar pendidikan dapat berjalan lebih efektif
dan efisien dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Pemerintah dan
masyarakat harus mau bekerjasama demi tercapainya kualitas pemberdayaan
manusia yang diinginkan. Agar sesuai dengan perkembangan zaman, system
pendidikan harus sesuai pula dengan tuntutan yang terkini.

C. Sebab akibat terjadinya otonomi dan reformasi pendidikan

Pelaksananan disentralisasi pendidikan atau di sebut otonomi pendidikan


masih kekurangsiaan pranata social, politik dan ekonomi. Otonomi pendidikan
akan memberikan efek terhadap kurikulum, efesiensi administrasi, pendapatan
dan biaya pendidikan serta pemerataannya. Ada 6 faktor yang menyebabkan
pelaksannaan otonomi pendidikan belum jalan, yaitu:

1. Belum jelas aturan permainan tentang peran dan tata kerja ditingkat
kabupaten dan kota
2. Pengelolaan sector public termasuk pengelolaan pendidikan yang belum
siap untuk dilaksanakan secara otonom karena SDM Yang terbatas serta
fasilitas yang tidak memadai
3. Dana pendidikan dan APBD Belum memadai
4. Kurangnya perhatian pemerintah maupun pemerintah daerah untuk lebih
melibatkan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan
5. Otoritas pimpinan dalam hal ini Bupati, Walikota, Sebagai penguasa
tunggal di daerah kurang memperhatikan dengan sungguh-sungguh

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 77


kondisi pendidikan di daerahnya sehingga anggaran pendidikan belum
menjadi prioritas utama
6. Kondisi dan setiap daerah tidak memiliki kekuatan yang sama dalam
penyelengaraan pendidikan disebabkan perbedaan sarana, prasarana dan
dana yang dimilki.

Hal ini mengakibatkan akan terjadinya kesenjangan antar daerah, sehingga


pemerintah perlu membuat aturan dalam penentuan standar mutu pendidikan
nasional dengan memperhatikan kondisi perkembangan, kemandirian, masing-
masing daerah.

D. Manfaat

Pendidikan memeang diyakini sebagai modal dasar untuk terselenggaranya


pendidikan berkualitas. Otonomi pendidikan juga di yakini dapat menghadapi
tantangan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Melalui otonomi pendidikan akan
terbangun sisitem pendidikan yang kokoh di daerah; demokratis pendidikan
berjalan dengan partisipasi nyata dan luas dari masyarakat, memupuk
kemandirian, dapat mempercepatpelayanan, dan potensi sumber daya local di
daerah dapat dayagunakan secara optimal untuk suatu kemajuan pendidikan .

Dengan otonomi pendidikan, maka efek positif yang muncul adalah


terjadinya perbaikan pendidikan di tingkat local, efesiensi administrasi, efesiensi
keuangan,dan terwujudnya pelayanan pendidikan sebagai modal dasar
terselenggaranya pendidikan berkualitas serta sebagai instrument vital dalam
menghadapi tantangan dunia pendidikan.

E. Implikasi

Konsep otonomi pendidikan mengandung pengertian yang luas, mencakup


filosofi, tujuan, format dan isi pendidikan serta manajemen pendidikan itu sendiri.
Implikasinya adalah setiap daerah otonomi harus memiliki visi dan misi
pendidikan yang jelas dan jauh kedepan dengan melakukan pengkajian yang
mendalam dan meluas tentang trend perkembangan penduduk dan masyarakat

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 78


untuk memperoleh konstruk masyarakat di masa depan dan tindak lanjut,
merancang system pendidikan yang sesuai dengan karakteristik budaya bangsa
Indonesia yang bhineka tunggal ika dalam prespektif tahun 2020. Kemandirian
daerah itu harus diawali dengan evaluasi diri, melakukan analisi factor internal
dan eksternal daerah guna mendapat suatu gambaran nyata tentang kondisi daerah
sehingga dapat disusun suatu strategi yang matang dan mantap dalam upaya
mengangkat harkat dan martabat masyarakat daerah yang berbudaya dan berdaya
saing tinggi melalui otonomi pendidikan yang bermutu dan produktif.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 79


BAB XIII

LINGKUNGAN SEKOLAH BELUM RAMAH ANAK

A. Definisi Lingkungan Sekolah Dan Sekolah Ramah Anak


1. Pengertian Lingkungan Sekolah

Lingkungan sekolah menurut Imam Supardi menyatakan sebagai berikut:


“Lingkungan sekolah adalah jumlah semua benda hidup dan mati serta seluruh
kondisi yang ada di dalam ruang yang kita tempati”. Menurut pengertian lain
adalah mencakup segala material dan stimulus didalam dan diluar individu baik
yang bersifat fisiologis, psikologis, maupun sosio kultural.

Menurut pendapat yang lain bahwa lingkungan sekolah adalah kesatuan ruang
dalam lingkup pendidikan formal yang memberi pengaruh pembentukan sikap dan
pengembangan potensi siswa.

Dari beberapa pengertian di atas tentang lingkungan sekolah meliputi benda


hidup dalam bentuk manusia terdekat yang melingkupinya yaitu keluarga.
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang utama dan pertama, karena
manusia mendapatkan pendidikan yang pertama kalinya dari lingkungan keluarga
sebelum mengenal lingkungan lainnya.

2. Pengertian Sekolah Ramah Anak

Sekolah Ramah Anak (SRA) adalah satuan pendidikan formal, nonformal dan
informal yang aman, bersih dan sehat, peduli dan berbudaya lingkungan hidup,
mampu menjamin, memenuhi, menghargai hak hak anak dan perlindungan anak
dari kekerasan, diskriminasi dan perlakuan salah lainya serta mendukung
partisipasi anak tertuma dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran,
pengawaasan dan mekanisme pengaduan terkait pemenuhan hak dan perlindungan
anak di pendidikan.

Sekolah Ramah Anak juga adalah sekolah secara sadar berupaya menjamin
dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 80


bertanggung jawab. Prinsip utama adalah non diskriminasi kepentingan, hak
hidup serta penghargaan terhadap anak. Sekolah Ramah Anak merupakan upaya
mewujudkan pemenuhan hak dan perlindungan anak selama 8 jam anak berada di
sekolah.

B. Tujuan Dalam Mengembangkan Sekolah Yang Belum Ramah Anak

Adanya tujuan dalam mengembangkan sekolah yang belum ramah anak


supaya dapat:

1. Mencegah kekerasan terhadap anak dan warga sekolah lainnya.


2. Mencegah anak mendapatkan kesakitan karena keracunan makanan dan
lingkungan yang tidak sehat.
3. Mencegah kecelakaan di sekolah yang disebabkan prasarana maupun
bencana alam.
4. Menciptaptakan hubungan antar warga sekolah yang lebih baik, akrab dan
berkaulitas.
5. Memudahkan pemantauan kondisi anak selama anak berada di sekolah.
6. Mencapai tujuan pendidikan.
7. Menciptakan lingkungan yang hijau dan tertata.
8. Ciri khusus anak menjadi lebih betah di sekolah.
9. Anak terbiasa dengan pembiasaan yang positif.

Dari penjabaran tujuan tersebut jelaslah bahwa Sekolah Ramah anak adalah
sebuah Program yang betul-betul sangat berguna dan dibutuhkan oleh anak-anak
di zaman sekarang ini. Agar tujuan dari sekolah yang belum ramah anak ini dapat
terealisasi maka perlu diperhatikan aspek penyelenggaraannya.

Pertama, program sekolah yang sesuai yang mendukung tercapainnya tujuan


dari sekolah yang belum ramah anak. Program yang memihak kepada anak yang
sesuai dengan batas umur pertumbuhan dan perkembangan sesuai jenjang sekolah.

Kedua, lingkungan sekolah yang mendukung. Lingkungan sekolah harus


kondusif untuk mendukung tumbuh kembang anak dan mengembangjan potensi

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 81


kecerdasan yang mereka miliki. Sekolah menjadi tempat anak meluapkan ekspresi
dan kegembiraan.

Ketiga, adalah sarana dan prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana
sekolah aman tidak menimbulkan bahaya baik perorangan maupun kelompok,
bebas dari asap rokok, kantin sehat dan lain sebagainya. Ketiga aspek ini sangat
mendukung terwujudnya tujuan dari sekolah yang belum ramah anak.

Dengan terwujudnya sekolah yang belum ramah anak, maka semakin banyak
sekolah yang mengembangkan program Sekolah Ramah Anak. Sehingga
diharapkan dengan berkembangnya dan semakin luasnya program sekolah ramah
anak ini hingga keseluruh penjuru Indonesia terutama didaerah, maka
pengembangan anak-anak semakin baik. Tumbuh kembangnya berjalan dengan
baik dan normal dan terhindar dari kerusakan moral serta memberi dampak positif
pada proses tumbuh kembang anak-anak.

C. Sebab akibat lingkungan sekolah yang belum ramah anak

Lingkungan sekolah di Indonesia yang dianggap masih belum ramah anak.


Hal ini disebabkan masih maraknya kekerasan di sekolah, baik fisik maupun non
fisik. Kasus tentang bullyang, kekerasan fisik, dan juga kekerasan seksual masih
sering menghiasi pemberitaan media. Setidaknya ada enam tipe kekerasan utama
yang terus terulang di lingkungan sekolah:

1. Penganiayaan siswa kepada guru.


2. Penganiayaan siswa kepada siswa.
3. Pelecehan seksual.
4. Tawuran antarsekolah.

Problem lainnya adalah akses pendidikan bagi kelompok marginal. Kelompok


marginal yang masuk kategori ini adalah perempuan, anak keluarga miskin, dan
juga para pengungsi. Diantara kelompok marginal ini, yang paling rentan adalah
pengungsi. Untuk itu pemerintah harus lebih serius dalam mengembangkan
kapasitas guru. Jika tidak, maka kualitas guru akan terus masih menjadi dilema

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 82


dan berkepanjangan dan akibatnya juga lingkungan sekolah yang belum ramah
anak ini pendidikannya bisa menjadi terbangkalai.

Dan untuk menciptakan rasa aman dan ramah anak di sekolah, pemerintah dan
juga pihak sekolah harus memberikan sangsi tegas kepada pihak-pihak manapun
apabila melakukan kekerasan di lingkungan sekolah. Selain itu, partisipasi orang
tua juga sangat penting untuk digenjot.

Untuk itu, pemerintah harus memberikan kebijakan afirmasi kepada


kelompok-kelompok rentan. Karena masih banyak anak yang tidak bisa sekolah,
disebabkan identitas yang tidak sesuai dengan domisili. Ini sering menimpa anak-
anak pengungsi, baik karena konflik atau akibat kemiskinan yang mendera.

D. Manfaat dari lingkungan sekolah yang ramah anak

Dengan adanya lingkungan sekolah yang ramah anak maka:

1. Proses pendidikan dapat memiliki budaya ramah dalam menjalankan


fungsinya untuk mencapai tujuan pendidikan.
2. Dapat memberikan perlindungan pada diri peserta didik sebagai anak di
sekolah dengan mengutamakan hak-hak anak yang meliputi hak hidup,
hak tumbuh berkembang,hak perlindungan, dan hak mendapat pendidikan.
3. Sekolah ramah anak dapat mewujudkan pemenuhan hak dan perlindungan
anak selama 8 jam anak berada di sekolah, melalui upaya sekolah.
4. Sarana dan prasarana yang ramah anak tidak membahayakan anak, dan
mencegah anak agar tidak celaka.

E. Implikasi

Jadi,lingkungan sekolah yang belum ramah anak ini sebaiknya melakukan


program yang melalui pelatihan-pelatihan dalam program tersebut guna
memberdayakan pendidik dan perangkat pendidik serta masyarakat guna
meningkatkan standar kinerja yang telah diterapkan dengan cukup baik di
lingkungan sekolah. Sarana prasarana yang dibutuhkan Sekolah Ramah Anak

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 83


hampir terpenuhi, lingkungan sekolah sudah kondusif dan tenaga pendidik sudah
cukup memiliki standar yang baik.

Proses belajar yang ramah anak meliputi:

1. Penerapan disiplin dan ketegasan tanpa merendahkan anak dan kekerasan


2. adanya komunikasi dua arah, menggunakan bahasa positif dalam
berkomunikasi
3. tidak merendahkan anak
4. memberikan motivasi belajar
5. membangun keakraban dengan anak
6. melihat masing-masing anak sebagai karakter yang unik.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 84


BAB XIV

Urgensi Pendidikan Anak Usia Dini

A. Pengertian Anak Usia Dini

Anak di usia dini merupakan usia keemasan atau sering disebut Golden
Age. Dalam usia ini otak anak mengalami perkembangan paling tercepat
sepanjang masa kehidupannya. Hal ini berlangsung ketika anak dalam kandungan
hingga usia dini, yaitu usia nol sampai enam tahun. Ketika bayi dalam kandungan
hingga lahir, hingga usia empat tahun adalah masa-masa yang paling menentukan.
Pada masa ini, otak anak sedang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat.
Banyak sekali alasan mengapa pendidikan anak pada usia dini menjadi begitu
terkenal di Indonesia ini, salah satunya karena pendidikan sejak dini memiliki
pengaruh yang besar serta sangat perlu pada perkembangan SDM (Sumber Daya
Manusia) serta membentuk manusia yang seutuhnya.

Pendidikan Anak Usia Dini adalah salah satu bentuk penyelenggaraan


pendidikan yang menitik beratkan kepada peletakan dasar ke arah pertumbuhan
serta perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya
pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap
serta perilaku serta beragama), bahasa serta komunikasi, sesuai dengan keunikan
dan juga tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Berlandaskan UU N0 20 tahun 2003 mengenai sistem pendidikan nasional


berkaitan dengan pendidikan anak usia dini ditetapkan pada pasal 28 ayat 1 yang
berbunyi Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir hingga
usia enam tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan
dasar. 

Selanjutnya pada Bab I pasal 1 ayat 14 ditegaskan bahwa Pendidikan


Anak Usia Dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak
sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 85


rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan serta perkembangan
jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan saat memasuki pendidikan lebih
lanjut.

B. Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini

Tujuan PAUD dari beberapa ahli antara lain adalah bertujuan dalam:

1. Kesiapan anak memasuki pendidikan lebih lanjut

2. Mengurangi angka mengulang kelas

3. Mengurangi angka putus Sekolah (DO)

4. Mempercepat pencapaian Wajib belajar Pendidikan Dasar 9 tahun

5. Meningkatkan Mutu Pendidikan

6. Mengurangi angka buta huruf muda

7. Memperbaiki derajat kesehatan & gizi anak usia dini

8. Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

 Demi tercapainya tujuan PAUD, guru merupakan tokoh yang paling


berpengaruh atau faktor yang paling utama karena guru merupakan harapan serta
kepercayaan bagi orang tua murid dan masyarakat untuk mengoptimalkan
kemampuan anak--anaknya. Maka dari itu keberhasilan dan juga kegagalan
pendidikan di sekolah sering ditujukan kepada guru, karena gurulah yang paling
berperan aktif sedangkan elemen yang lainnya berperan pasif. 

Satu asumsi bahwa sesempurnanya perencanaan sebuah pendidikan baik


dari mulai kurikulum, sarana dan prasarana, fasilitas dsb, apabila kemampuan
professional guru rendah maka akan sulit untuk mencapai hasil pendidikan yang
bermutu tinggi. Pembelajaran untuk anak usia dini menggunakan prinsip belajar,
bermain, dan bernyanyi. Pembelajaran anak usia dini diciptakan dengan

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 86


sedemikian rupa agar dapat membuat anak menjadi aktif, senang dan bebas
memilih pilihannya. 

Dalam ajaran Islam sendiri juga memiliki konsep yang sangat mulia dan
komprehensif sejak anak dalam usia dini sebagai dasar dalam mempersiapkan
serta membentuk generasi yang potensial dimasa yang akan datang. Diantaranya
Islam menganjurkan dalam Pendidikan Islam Anak Usia Dini sebagai berikut:

1. Mendidik anak untuk bersyukur


2. Mendidik anak untuk memiliki kemanan yang benar
3. Mendidik anak agar sehat dan juga cerdas
4. Mendidik anak untuk memiliki fisik yang prima
5. Mendidik anak untuk memiliki jasmani yang kuat dan berjiwa sosial tinggi

Dalam Pendidikan Islam Anak Usia Dini menunjukkan bahwa tingkat


pendidikan Guru pengasuh orang tua memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
kualitas anak sehingga penyelenggaraan PAUD ini harus dalam pengawasan
pemerintah, hal tersebut agar esensi dan nilai dari penyelenggaraan PAUD sebagai
upaya kerjasama pemerintah, penyelenggara dari masyarakat menjadi lebih berarti
dan tepat sasaran.

C. Sebab Akibat Pendidikan Anak Usia Dini

Setiap anak memiliki karakteristik perkembangan yang berbeda-beda.


Untuk memahami bagaimana perkembangan anak , juga perlu dipahami
permasalahan-permasalahan apa yang dialami anak selama perkembangannya.
Hal ini perlu di lakukan agar kita benar-benar dapat mengetahui setiap perubahan
yang terjadi pada diri anak. Apakah anda pernah memperhatikan perilaku anak ?
Mungkin anda menemukan ada anak yang sulit berbicara, sulit menggerakkan
anggota badan, ketakutan bertemu orang asing, atau sering menganis bila
ditinggal ibunya pergi. Nah, itu adalah beberapa masalah yang dihadapi anak.

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 87


Permasalahan yang dihadapi anak dapat dilihat melalui tingkah laku yang
ditunjukkan anak maupun keluhan-keluhan yang dismapaikan oleh orang-orang
sekitar anak. Sekarang, marilah kita bicarakan masalah permasalahan
perkembangan yang dihadapi anak sesuai dengan masing-masing aspek
pekembangan.

1. Permaslahan dalam perkembangan Fisik-Motorik

Pola perubahan yang cenderung berbeda pada setiap anak


menyebabkan pertumbuhan fisik anak-anak tampak berbeda satu sama
lain. Pertumbuhan fisik yang dialami anak akan mempengaruhi proses
perkembangan  motoriknya. Perkembangan motoric berarti perkembangan
pengendalian jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan
otot-otot yang terkoordinasi. Sebagian waktu anak dihabiskan dengan
bergerak  dan kegiatan bergerak ini akan sangat menggunakan otot-otot
yang ada pada tubuhnya.

Menurut Rusda Koto dan Sri Maryati (1994) dalam


perkembangannya, mungkin ditemukan beberapa hambatan antara lain
sebagai berikut :

a. Gangguan fungsi panca indra


b. Cacat Tubuh
c. Kegemukan (oesitas)
d. Ganggguan gerak peniruan (stereotipik)

2. Permasalahan dalam perkembangan kognitif

Kemampuan kogtnif anak harus dikembangkan secara optimal


karena menyangkut kemampuan memcahkan masalah dalam kehidupan
sehari-hari anak

3. Permasalahan dalam perkembangan Bahasa

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 88


Kemampuan perkembangan bahas merupakan aspek penting yang
perlu dikuasai anak, tetapi tidak semua anak mampu menguasai
kemampuan ini. Selain itu masalah perkembangan Bahasa terkait dengan
terbatasanya pembendaharaan kata anak atau adanya gangguan artikulasi
seperti sulit mengucap huruf r, sy, l, f z, atau c.

4. Permasalahan dalam perkembangansial

Beberapa masalah social yangs sering dialami anak adalah ingin


menag sendiri, dan tidak bisa menyesuakaikan diri dengan lingkungan
baru.

5. Permasalahan dalam perkembangan emosi

Ekspresi emosi pada anak mudah berubah dengan cepat . rangsangan yang
sering membangkitkan emosi anak adalah keinnan yang tidak terpenuhi
dengan cara mengungkapkan ekspresi yang tidak terkendali.

D. Implikasi Urgensi Pendidkan Anak Usia Dini

menurut Jamal Ma'mur Asmani dalam bukunya yang berjudul Manajemen


Stategis PAUD, tujuan Paud secara umum yaitu mengembangkan berbagai
potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup agar dapat menyesuaikan
diri dengan lingkungan. tujuan kerangka dasar kurikulum pendidikan anak usia
dini adalah kerangka dasar yang dijadikan sebagai acuan bagi lembaga pendidikan
anak usia dini dalam mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan.
sedangkan sasarannya adalah lembaga-lembaga penyelenggara PAUD jalur
pendidikan formal dan nonformal, seperti Taman Kanak-kanak, Raudhatul Athfal,
Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak dan Satuan PAUD yang sejenis.
secara spesifik, ada 2 tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini, tujuan
utama dan tujuan penyerta. pertama, tujuan utama adalah untuk membentuk anak

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 89


indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai
dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di
dalam memasuki pendidikan dasar dan dalam mengarungi kehidupan di masa
dewasa. kedua, tujuan penyerta yaitu untuk membantu menyiapkan anak
mencapai kesiapan belajar akademik di sekolah. rentangan anak usia dini menurut
Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. sementara menurut
kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggara PAUD di beberapa negara,
PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun. - infrant (0-1 tahun) - toddler (2-3
tahun) - preschool/ Kindergarden children (3-6 tahun) - early primary school (6-8
tahun) paud dibentuk dengan pemikiran yang matang. landasan yang digunakan
untuk penyelenggaraan PAUD meliputi : 1. landasan yuridis 2. Landasan Filosofis
3. Landasan Kurikulum.

Profil Penulis

Nama : Muh Ikram Yarmi


Jenis Kelamin : Laki-Laki
Tempat/ Tgl Lahir : Tompopadalle 30-07-1999
Tinggi : 163 cm

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 90


Alamat : Maccinibaji
No. Telp : 085298042506
Agama : Islam

Riwayat Pendidikan
SD : Inpres Pa'rappunganta 2
SMP : MTS Assalam
SMA : SMK Negeri 6Takalar
KULIAH STAI Yapis Takalar

Profil Penulis

Nama : HAERANI
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/ Tgl Lahir : U. Pandang, 17 September 1998
Tinggi : 160 cm

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 91


Alamat : Perm Grya Barombong
No. Telp : +6282194964497
Agama : Islam
EMail : anihaerani17@gmail.com

Riwayat Pendidikan
SD : SDN Bontociniayo
SMP : SMPN 2 Bontonompo Selatan
SMA : MA Abnaul Amir
KULIAH STAI Yapis Takalar

Profil Penulis

Nama : Nurisra Insani Saharuddin


Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/ Tgl Lahir : Biringbalang, 10 desember 1997
Tinggi : 159 cm
Alamat : Biringbalang Kel. Bajeng

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 92


Kec.Pattallassang, Kab Takala
No. Telp : -
Agama : Islam

Riwayat Pendidikan
SD : SDN No 45 Biringbalang
SMP : Mts Manongkoki
SMA : MA Manongkoki

Profil Penulis

Nama : Rosmiati
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/ Tgl Lahir : Takalar, 17 Februari 1997
Tinggi : 159 cm
Alamat : Mangadu, Kec. Mangarabombang
Kab.Takalar

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 93


No. Telp : 085298186328
Agama : Islam
Email : Khadijahhafidzah48@gmail.com

Riwayat Pendidikan
2004-2011 : SDN INP. Lengkese II
2011- 2013 : SMPN 1 Mangarabombang
2013 -2016 : SMAN 2 Takalar
Kuliah : STAI Yapis Takalar

Profil Penulis

Nama : Asrianti
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/ Tgl Lahir : Barembeng, 16 Juli 1999
Tinggi : 159 cm
Alamat : Desa Barembeng. Kel. Taipajawaya.
Kec. Bontonompo, Kab. Gowa
No. Telp : 082346972428

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 94


Agama : Islam

Riwayat Pendidikan
2006-2012 : SD Negeri Barembeng II
2012-2014 : SMP PGRI Barembeng
2014-2017 : SMA Negeri 1 Bontonompo

Profil Penulis

Nama : lisnawati
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/ Tgl Lahir : Tanasambayang, 20 Agustus 1998
Tinggi : 55 cm
Alamat : Tanasambayang desa Timbuseng
No. Telp : 82259133967
Agama : Islam

Riwayat Pendidikan
(2006-2012) : SDN Inpres Tanasambayang
(2012-2014) : Mts Assalam Timbuseng

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 95


2014-2017) : MA Assalam Timbuseng
KULIAH STAI Yapis Takalar

Profil Penulis

Nama : Alfia Angraeni


Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/ Tgl Lahir : Masalleng, 20 juli 1999
Tinggi : 159 cm
Alamat : Jl. Oropa Dg. Nojeng.
Kel. Pattallassang
Kec. Pattallassang, Kab. Takalar
No. Telp : 082393355128
Agama : Islam

Riwayat Pendidikan
2006-2012 : SDN Inpres 205 Masalleng
2012-2014 : SMPN 1 Takalar
2014-2017 : SMKN 2 Takalar
Kuliah STAI Yapis Takalar

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 96


Profil Penulis

Nama : Shinta
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/ Tgl Lahir : Takalar, 20 November 1999
Tinggi : 156 cm
Alamat : Cikoang, Kec. Mangarabombang
Kab.Takalar
No. Telp : 082347640459
Agama : Islam

Riwayat Pendidikan
SD : SDN NO.64 Jonggoa
SMP : SMPN 3 Mangarabombang
SMA : SMAN 7 Takalar
Kuliah Kampus Stai Yapis Takalar

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 97


Profil Penulis

Nama : Sitti syahniar


Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/ Tgl Lahir : Galesong Baru 24 maret 1999

Tinggi : 158 cm
Alamat : Dusun Minasa Te’ne, Desa Galesong
Baru, Kec. Galesong, Kab. Takalar
No. Telp : 085145414070
Agama : Islam

Riwayat Pendidikan
2005 – 2006 : TK AMRAH
2006 – 2012 : SDN Inpres 115 Galesong
2014 – 2017 : SMPN 2 GALESONG SELATAN
2014 – 2017 : SMAN 1 GALESONG SELATAN

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 98


Profil Penulis

Nama : NADILA
Jenis Kelamin : PEREMPUAN
Tempat/ Tgl Lahir : TAKALAR, 09 JULI 1999
Tinggi : 156 cm
Alamat : Cikoang,Kec.Mangarabombang
No. Telp : 085397649996
Agama : Islam

Riwayat Pendidikan
SD : SDN NO. 64 JONGGOA
SMP : SMPN 3 Mangarabombang
SMA : SMAN 7 TAKALAR
KULIAH STAI Yapis Takalar

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 99


Profil Penulis

Nama : WARSUKNI
Jenis Kelamin : PEREMPUAN
Tempat/ Tgl Lahir : TAKALAR, 13 OKTEBER 1999
Tinggi : 157 cm
Alamat : Dusun Malelaya Desa Punaga Kec.
Mangarabombang Kab. Takalar
No. Telp : 085242141846
Agama : Islam

Riwayat Pendidikan
SD : SDN NO. 185 INPRES SALAMBU
SMP : SMPN 3 MANGARABOMBANG
SMA : SMAN 7 TAKALAR
KULIAH STAI Yapis Takalar

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 100


Profil Penulis

Nama : Nur Insani


Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/ Tgl Lahir : palompong, 28 juli 1997
Tinggi : 158 cm
Alamat : palompong
No. Telp : 082349098462
Agama : Islam
Email : Email insani 28071997@gmail.com

Riwayat Pendidikan
SD : SDI Palompong
SMP : SMPN 2 BAJENG
SMA : SMK NEGERI 1 LIMBUNG
KULIAH STAI Yapis Takalar

KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN 101