Anda di halaman 1dari 10

Hubungan antara Etika, Moral dan Hukum

Untuk memenuhi tugas matakuliah

Etika Profesi

Disusun Oleh :

Nama : Yuli Catur Wulandari

NIM : 061640411587

Kelas : 8 EGA

Dosen Pengampuh : Yohandri Bow, S.T., M.S.

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV TEKNIK ENERGI

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA

PALEMBANG

2020
Resume Moral, Etika dan Hukum

A. Konsep Etika, Moral, dan Akhlak


1. Etika
a. Pengertian Etika
Etika adalah suatu ajaran yang berbicara tentang baik dan
buruknya yang menjadi ukuran baik buruknya atau dengan istilah
lain ajaran tenatang kebaikan dan keburukan, yang menyangkut
peri kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan,
sesama manusia, dan alam.
Dari segi etimologi, etika berasal dari bahasa Yunani,ethos yang
berarti watak kesusilaan atau adat. Dalam kamus umum bahasa
Indonesia, etika diartikan ilmu pengetahuan tentang azaz-azaz
akhlak (moral).Dari pengertian kebahasaan ini terlihat bahwa etika
berhubungan dengan upaya menentukan tingkah laku manusia.
Adapun arti etika dari segi istilah, telah dikemukakan para ahli
dengan ungkapan yang berbeda-beda sesuai dengan sudut
pandangnya. Menurut para ulama’ etika adalah ilmu yang
menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang
seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus
dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan
jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat.
Sebagai cabang pemikiran filsafat, etika bisa dibedakan manjadi
dua: obyektivisme dan subyektivisme.
1) Obyektivisme
Berpandangan bahwa nilai kebaikan suatu tindakan bersifat
obyektif, terletak pada substansi tindakan itu sendiri. Faham ini
melahirkan apa yang disebut faham rasionalisme dalam etika.
Suatu tindakan disebut baik, kata faham ini, bukan karena kita
senang melakukannya, atau karena sejalan dengan kehendak

1
masyarakat, melainkan semata keputusan rasionalisme
universal yang mendesak kita untuk berbuat begitu.
2) Subyektivisme
Berpandangan bahwa suatu tindakan disebut baik manakala
sejalan dengan kehendak atau pertimbangan subyek
tertentu.Subyek disini bisa saja berupa subyektifisme kolektif,
yaitu masyarakat, atau bisa saja subyek Tuhan.
b. Macam-Macam Etika
1) Etika deskriptif
Etika yang berbicara mengenai suatu fakta yaitu tentang nilai
dan pola perilaku manusia terkait dengan situasi dan realitas
yang membudaya dalam kehidupan masyarakat.
2) Etika Normatif
Etika yang memberikan penilaian serta himbauan kepada
manusia tentang bagaimana harus bertindak sesuai norma yang
berlaku. Mengenai norma norma yang menuntun tingkah laku
manusia dalam kehidupan sehari hari.
Etika dalam keseharian sering dipandang sama denga etiket,
padahal sebenarnya etika dan etiket merupakan dua hal yang
berbeda. Dimana etiket adalah suatu perbuatan yang harus
dilakukan.Sementa etika sendiri menegaskan bahwa suatu
perbuatan boleh atau tidak.Etiket juga terbatas pada pergaulan.
Di sisi yang lain etika tidak bergantung pada hadir tidaknya
orang lain. Etiket itu sendiri bernilairelative atau tidak sama
antara satu orang dengan orang lain. Sementa itu etika
bernilaiabsolute atau tidak tergantung dengan apapun.Etiket
memandang manusia dipandang dari segi lahiriah.Sementara
itu etika manusia secara utuh.
Dengan ciri-ciri yang demikian itu, maka etika lebih
merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya
menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk
dikatakan baik atau buruk. Dengan kata lain etika adalah

2
aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal
manusia.

2. Moral
a. Pengertian Moral
Adapun arti moral dari segi bahasa berasal dari bahasa latin, mores
yaitu jamak dari kata mos yang berarti adat kebiasaan. Di dalam
kamus umum bahasa Indonesia dikatan bahwa moral adalah
pennetuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan.
Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang
digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai,
kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat
dikatakan benar, salah, baik atau buruk.
Berdasarkan kutipan tersebut diatas, dapat dipahami bahwa moral
adalah istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap
aktifitas manusia dengan nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar
atau salah.
Jika pengertian etika dan moral tersebut dihubungkan satu dengan
lainnya, kita dapat mengetakan bahwa antara etika dan moral
memiki objek yang sama, yaitu sama-sama membahas tentang
perbuatan manusia selanjutnya ditentukan posisinya apakah baik
atau buruk. Namun demikian dalam beberapa hal antara etika dan
moral memiliki perbedaan.Pertama, kalau dalam pembicaraan
etika, untuk menentukan nilai perbuatan manusia baik atau buruk
menggunakan tolak ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan moral
tolak ukurnya yang digunakan adalah norma-norma yang tumbuh
dan berkembang dan berlangsung di masyarakat.Dengan demikian
etika lebih bersifat pemikiran filosofis dan berada dalam konsep-
konsep, sedangkan etika berada dalam dataran realitas dan muncul
dalam tingkah laku yang berkembang di masyarakat.

3
Dengan demikian tolak ukur yang digunakan dalam moral untuk
mengukur tingkah laku manusia adalah adat istiadat, kebiasaan dan
lainnya yang berlaku di masyarakat.
3. Perbedaan Antara Etika dan Moral
Etika dan moral sama artinya tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada
sedikit perbedaan. Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang
sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian system nilai
yang ada.
Kesadaran moral erta pula hubungannya dengan hati nurani yang
dalam bahasa asing disebut conscience, conscientia, gewissen,
geweten, dan bahasa arab disebut dengan qalb, fu'ad. Dalam kesadaran
moral mencakup tiga hal, yaitu:
a. Perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan yang
bermoral.
b. Kesadaran moral dapat juga berwujud rasional dan objektif, yaitu
suatu perbuatan yang secara umumk dapat diterima oleh
masyarakat, sebagai hal yang objektif dan dapat diberlakukan
secara universal, artinya dapat disetujui berlaku pada setiap waktu
dan tempat bagi setiap orang yang berada dalam situasi yang
sejenis.
c. Kesadaran moral dapat pula muncul dalam bentuk kebebasan.

Berdasarkan pada uraian diatas, dapat sampai pada suatu kesimpulan,


bahwa moral lebih mengacu kepada suatu nilai atau system hidup yang
dilaksanakan atau diberlakukan oleh masyarakat. Nilai atau sitem hidup
tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai yang akan memberikan harapan
munculnya kebahagiaan dan ketentraman. Nilai-nilai tersebut ada yang
berkaitan dengan perasaan wajib, rasional, berlaku umum dan kebebasan.
Jika nilai-nilai tersebut telah mendarah daging dalam diri seseorang, maka
akan membentuk kesadaran moralnya sendiri. Orang yang demikian akan
dengan mudah dapat melakukan suatu perbuatan tanpa harus ada dorongan
atau paksaan dari luar.

4
3. Hukum
a. Pengertian Hukum
Disamping adat istiadat tadi, ada kaidah yang mengatur
kehidupan manusia yaitu hukum, yang biasanya dibuat dengan
sengaja dan mempunyai sanksi yang jelas. Hukum dibuat dengan
tujuan untuk mengatur kehidupan masyarakat agar terjadi
keserasian diantara wrga masyarakat dan system social yang
dibangun oleh suatu masyarakat.Pada masyarakat modern hukum
dibuat oleh lembaga – lembaga yang diberikan wewenang oleh
rakyat.
Keseluruhan kaidah dalam masyarakat pada intinya adalah
mengatur masyarakat agar mengikuti pola perilaku yang disepakati
oleh system social dan budaya yang berlaku pada masyarakat
tersebut.
Pola-pola perilaku merupakan cara-cara masyarakat bertindak
atau berkelakuan yang sama dan harus diikuti oleh semua anggota
masyarakat tersebut.Setiap tindakan manusia dalam masyarakat
selalu mengikuti pola-pola perilaku masyarakat tadi.Pola perilaku
berbeda dengan kebiasaan. Kebiasaan merupakan cara bertindak
seseorang yang kemudian diakui dan mungkin diikuti oleh orang
lain. Pola perilaku dan norma-norma yang dilakukan dan
dilaksanakan pada khususnya apabila seseorang berhubungan
dengan orang lain, dinamakan social organization.

b. Tujuan Hukum
Pada umumnya hukum bertujuan menjamin adanya kepastian
hukum dalam masyarakat.Namun tiap perkara harus diputuskan
oleh hakim berdasarkan dengan ketentuan yang sedang berlaku.
Banyak teori atau pendapat mengenai tujuan hukum. Berikut
teori-teori dari para ahli :
1. Prof. Subekti, SH: Hukum itu mengabdi pada tujuan negara
yaitu mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya

5
dengan cara menyelenggarakan keadilan. Keadilan itu
menuntut bahwa dalam keadaan yang sama tiap orang
mendapat bagian yang sama pula.
2. Prof. Mr. Dr. LJ. van Apeldoorn: Tujuan hukum adalah
mengatur hubungan antara sesama manusia secara damai.
Hukum menghendaki perdamaian antara sesama. Dengan
menimbang kepentingan yang bertentangan secara teliti dan
seimbang.
3. Geny : Tujuan hukum semata-mata ialah untuk mencapai
keadilan. Dan ia kepentingan daya guna dan kemanfaatan
sebagai unsur dari keadilan.
4. Roscoe Pound berpendapat bahwa hukum berfungsi sebagai
alat merekayasa masyarakat (law is tool of social
engineering).
5. Muchtar Kusumaatmadja berpendapat bahwa tujuan pokok
dan utama dari hukum adalah ketertiban. Kebutuhan akan
ketertiban ini merupakan syarat pokok bagi adanya suatu
masyarakat manusia yang teratur.

B. Hubungan antara Etika, Moral dan Hukum

Bentuk hubungan antara etika,moral dan hukum di dalam masyarakat dapat di


ketahui sebagai contoh : Perilaku atasan Atasan yang terbiasa melakukan tindakan
tidak etis, dapat mempengaruhi orang-orang yang berada dalam lingkup pekerjaannya
untuk melakukan hal serupa. Hal itu terjadi karena dalam kehidupan sosial seringkali
berlaku pedoman tidak tertulis bahwa apa yang dilakukan atasan akan menjadi contoh
bagi anak buahnya.

1. Etika Moral Hukum. Etika juga tidak terlepas dari hukum urutan
kebutuhan (needs theory). Menurut Maslow, yang paling pokok adalah
pemenuhan kebutuhan jasmaniah terlebih dahulu agar dapat merasakan
urgensi kebutuhan ekstrim dan aktualisasi diri sebagai professional.

6
Pendapat kontroversial responden Kohlberg menunjukan bahwa menipu,
mencuri, berbohong adalah tindakan etis apabila digunakan dalam
kerangka untuk melanjutkan hidup.

Kendala yang mempengaruhi adalah, di satu pihak kode etik tak


mempersoalkan urutan kebutuhan dalam penerapannya, namun di lain
pihak kebutuhan jasmani tak pernah dapat terpuaskan, dan dapat
dikonversikan menjadi bentuk ekstrim lain yang mungkin akan
berpengaruh terhadap tindakan-tindakan yang melanggar etika. Tindakan
pelanggaran terhadap etika seperti beberapa contoh diatas akan
menimbulkan beberapa jenis sanksi. Pertama adalah sanksi sosial. Oleh
karena etika merupakan norma-norma sosial yang berkembang dalam
kehidupan sosial masyarakat maka jika terjadi pelanggaran, sanksi
terhadap pelanggaran tersebut adalah sanksi sosial. Sanksi sosial ini bisa
saja berupa teguran dari pemuka sosial hingga pengucilan dari kehidupan
bermasyarakat.

Kedua adalah sanksi hukum. Secara umum, hukum mengukur


kegiatan-kegiatan etika yang kebetulan selaras dengan aturan hukum. Jika
pelanggaran etika sudah mengarah kepada pelanggaran hukum , seperti
misalnya korupsi, kolusi, dan nepotisme, maka hukumlah yang akan
berbicara. Dalam hal ini, hukum pidana menduduki tempat utama karena
masalah integritas, obyektivitas dan manfaat bagi masyarakat luas,
pemerintah dan dunia usaha, sedangkan hukum perdata menempati
prioritas selanjutnya. Dalam hukum juga dikenal adanya hukum disiplin
(tuchtrecht) yang merupakan bagian hukum pidana, yang mengatur dan
berlaku bagi suatu golongan atau profesi yang bergerak dalam aktivitas
sosial-kemasyarakatan yang keputusannya dipatuhi anggota. Hukum
disiplin terbagi dua golongan, yaitu : 1.

2. Golongan Hierarkis (militer, pegawai negeri, dan lain-lain)

7
3. Golongan non-hierarkis (hukum profesi, atau hukum organisasi profesi)
seperti misalnya accountant disciplinary law. Hukum disiplin ini pada
pokoknya memiliki ciri sanksi yang diberikan tidak terlalu keras,
penegakan moral dan edukatif. Pengadilan umum disiplin dapat dilakukan
secara terbuka ( anggota lain hadir ) atau pintu tertutup, lalu hasilnya
diumumkan.
Etika = Moral = Hukum

4. Etika , moral dan hukum saling berhubungan yaitu bahwa pelanggaran


etika dan moral bisa saja menyentuh wilayah hukum dan akan
mendapatkan sanksi hukum. Namun pada kondisi lain, bisa saja
pelanggaran etika hanya mendapat sanksi sosial dari masyarakat karena
pelanggaran tersebut tidak menyentuh wilayah hukum positif yang berlaku

8
DAFTAR PUSTAKA

Surya, M. 2015. Etika Profesi . Diakses pada tanggal 29 Maret 2020 melalui
https://muhammadsurya15.wordpress.com/2015/03/09/etika-profesi/

Fitria, NH, dkk. 2018. Makalah Manusia , Nilai , Moral dan Hukum. Diakses
pada tanggal 29 Maret 2020 melalui
http://catatananakdakwah.blogspot.com/2018/08/makalah-manusia-nilai-
moral-dan-hukum.html

Anton. 2009. Hubungan antara Etika, Norma, dan Hukum. Diakses pada tanggal
29 Maret 2020 melalui
https://anton44n.wordpress.com/2009/02/01/hubungan-antara-etika-
norma-dan-hukum/