Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Teori
1. Body Shaming
a. Definisi body shaming
Body Shaming merupakan tindakan mengomentari penampilan fisik
yang dilakukan oleh diri sendiri, teman, maupun orang lain, disebabkan
oleh adanya ketidaksesuaian antara penampilan fisik dengan standar ideal
yang ditetapkan, sehingga menimbuulkan perasaan malu dan tidak percaya
diri. Perasaan malu ini dapat mempengaruhi segala hal yang melekat atau
dirasakan oleh individu itu sendiri. Sehingga menyebabkan individu
mampu melakukan penilaian terhadap dirinya sendiri. Rasa malu yang
diakibatkan oleh body shaming disebut body shame (Dolezal, 2015).
Body shaming yang dialami oleh individu menyebbaka timbulnya
rasa malu yang disebut body shame. Saat individu mengalami Body shame
maka akan ada jarak antara dirinya dengan tubhnya, artinya seseorang
tersebut akan menilai bahwa tuuhnya tiak memenuhi standar tubuh
proporsional yang dia buat, hal inilah yeng menyebabkan individiu
memandang rendah dirinya. Padahal tidak semua yang diinginkan harus
dimiliki. Misalnya individu tersebut merasa kulitnya tidak berwara kuning
langsat padahal wanita yang cantik pasti berkulit kuning langsat, ini
merupakan salah satu bentubody shaming terhadap individu itu sendiri
(Dolezal, 2015).
Selain menyebabkan timbulnya body shame, Body shaming juga
menyebabkan timuulny self-objectification yaitu menjadikan diri sendiri
sebagai suatu objek yang harus dinilai. Individu yang mengalami body
shaming kemuudian menilai dirinya sendiri apakah dirinya sudah sesuai
dengan standar cantik seperti yang ditetapkan orang lain atau tidak.
Penilaian tersebut dapat mencakup berbagai hal seperti bentuk
tubuh,penampilan fisik,postur tubuh dan lain sebagainya. Penampilan fisik
yang menurut seseorang sudah sempurna sebenarnya bukanlah hal yang
2

dapat menjadi patokan bahwa seseorang tersebut harus menjadi seperti


orang lain (Damanik, 2018).
Body shaming terbentuk akibat adanya citra tubuh mempengaruhi
penerimaan diri seseoang tehadap lingkungannya, sehingga semakin tinggi
cira tubuh, maka semakin tinggi pula penerimaan diri seseorang terhadap
dirinya. Namun, k etika standar dan penilaian sulit di capai maka akan
dapat menimbulkan perasaan tidak puas trhadap kondisi diri sendiri
(Hasmalawati, 2017). Pola pikir ini terus terbawa, sehingga menimbulkan
persepsi negatif terhadap citra tubuh yang cenderung terbentuk jika tidak
memiliki bentuk tubuh ideal yang diharakan (Sa’diyah, 2015).
b. Jenis Body Shaming
Body Shaming terdiri dari dua jenis yaitu Acute Body Shame dan
Cronic Body Shame, yang dikemukakan oleh (Dolezal, 2015) :
1) Acute Body Shame
Acute Body Shame lebih berhubungan dengan aspek perilaku
dari tubuh, seperti pergerakan atau tingkah laku. Istilah ini biasa
dikenal dengan embarrassment. Jenis body shaming ini terjadi pada
kasus seperti kejadian pada interaksi sosial pada seseorang atau dengan
kata lain hubungan dengan orang lain. Acute Body Shame ini
merupakan rasa malu yang wajar terjadi dalam interaksi dengan orang
lain bahkan hal ini memang harus dimiliki bila berinteraksi dengan
orang lain namun biila hal ini berlebihan tidak baik.
2) Chronic Body Shame
Chronic Body Shame ini disebabkan oleh adanya kecacatan atau
adanya gangguan pada fungsi tubuh seorang remaja yang menyebabkan
adanya rasa malu. Rasa malu ini ada pada diri remaja dan bersifat
permanen sehingga sulit untuk dihilangkan. Body Shaming jenis ini
dapat muncul ketika seorang remaja merasa canggung dan juga cemas
akan penampilannya. Chronic Body Shame jenis ini akan muncul
secara menahun dan berulang-ulang terjadi, sehingga menyebabkan
seorang remaja merasa harga dirinya rendah dan berakibat pada
interaksi sosial yang kurang pada sekitar.
c. Ciri-Ciri perilaku Body Shaming
3

Adapun ciri-ciri perilaku body shaming, yang dikemukakan oleh


(Vargas, 2015; Chairani, 2018) diantaranya :
1) Mengkritik penampilan
Mengkritik penampilan sendiri, melalui penilaian atau
perbandingan dengan orang lain. Hal-hal tersebut secara tidak
langsung mampu mempengaruhi kepribadian seseorang yang mana
dapat menyebabkan seseorang tersebut memiliki kepercayaan diri
yang kecil. Selain itu,perilaku body shaming juga mempengaruhi
seseorang untuk menjadi seseorang yang sesuai dengan kriteria yang
dibuat oleh individu tersebut. Penilaian dalam Body Shaming tersebut
dapat berupa :
a) Bentuk tubuh, seperti bentuk tubuh yang lebih gemuk dibanding
remaja yang lain atau lebih kurus dibanding remaja yang lain.
b) Penampilan, seperti bentuk wajah yang bulat, kulit yang tidak
mulus, atau wajah yang terlalu tirus, kulilt yang mulus dan halus
serta rambut yang hitam panjang.
c) Cara berpakaian, yang terlalu terbuka atau malah tidak sesai
dengan trend yang ada di area sekarang.
2) Kepercayaan diri rendah
Body shaming dapat terjadi pada remaja dengan kepercayaan
diri yng rendah dan juga tidak mensyukuri apa yang ada pada dirinya.
Sehingga menimbulkan keinginan untuuk menyempurnakan
penampiilannya sesuai dengan kriteria ideal yang menjadi tolak ukur
orang lain terutama yang mengomentari penampilannya. Remaja yang
terlalu memfokuskan kriteria penampilannya pada media massa juga
secara tidak langsung telah melakukan body shaming pada dirinya
sendiri. Sehingga muncul rasa tidak puas pada dirinya sendiri
(Damanik, 2018).
3) Menarik diri
Menarik diri dapat menjadi salah satu ciri Body shaming hal ini
karena bila seseorang melakukan body shaming yang secara
berlebihan pada tubuhnya maka hal tersebut akan membuat orang
tersebut merasa kurang percaya diri sehingga menjadi menarik diri
4

karena merasa tidak secantik remaja lainnya. Hal ini jadi salah satu
ciri yang dapat dilihat secara langsung oleh orang lain ( Widiasti,
2016).
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi body shaming
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi body shaming menurut
(Prameswari, 2018) antara lain :
1) Rasa tidak percaya diri
Rasa tidak percaya diri pada diri seorang remaja disebabkan
oleh adanya komentar mengenai penampilannya yang menyebabkan
remaja tersebut merasa tidak sempurna. Hal ini menyebabkan
berkurangnya rasa percaya diri pada diri remaja yang disebabkan
oleh tindakan body shaming yang dilakukan oleh orang lain maupun
saudaranya sendiri.
2) Lingkungan sekitar
Remaja yang sering mendapat komentar negatif terutama dari
lingkungan tempatnya menyebabkan remaja mengalami penurunan
rasa kepercayaan diri yang mana hal tersebut mampu mempengaruhi
interaksinya dengan orang lain karena menganggap dirinya tidak
menarik seperti orang disekitarnya terutama dilingkungan sekolah.
Hal ini menjadi salah satu faktor yang sampai saat ini masih sulit
untuk di perbaiki.
3) Media massa
Semakin canggihnya media sosial belakangan ini memudahkan
pengguna media massa untuk mengakses informasi. Media sosial
menjadi salah satu media massa yang mampu menjadi saluran untuk
melakukan tindakan body shaming atau menjadi korban body
shaming terutama untuk para remaja. Para remaja terutama yang
sedang mengalami masa pubertas dan perubahan fisik akan merasa
tidak seideal idolanya yang ada dimedia sosial atau malah menjadi
objek pembanding oleh teman-temannya dengan idola yang ada
dimedia sosial.
4) Teman sebaya
5

Teman sebaya dapat mempengaruhi individu menjadi kurang


percaya diri karena menerima komentar negatif dari teman
sebayanya. Terutama diusia remaja dimana banyak remaja yang saling
membanding-bandingkan penampilan temannya dengan teman yang
lain, bahkan sering memberikan komentar negatif pada penampilan
temannya karena dinilai kurang menarik untuk dilihat. Komentar yang
disampaikan dapat secara langsung maupun melalui media sosial.
5) Peran orang tua
Orang tua yang bekerja diluar rumah dan kurang
memperhatikan anaknya menjadi salah satu faktor yang menyebabkan
timbulnya body shaming. Namun remaja tersebut akan lebih dulu
mengalami depresi akibat adanya tindakan body shaming pada remaja
tersebut. Sehingga membuat remajja merasa kurang diperhatikan oleh
orang tuanya meskipun tinggal dalam satu rumah.
6) Penampilan
Penampilan yang tidak sesuai dengan satandar ideal yang
ditetapkan oleh remaja menyebabkan timbulnya tindakan body
shaming. Sehingga bila penampilan seorang remaja, terutama
penampilan fisiknya tidak menarik atau kurang menarik menyebabkan
remaja tersebut akan mendapat komentar dari remaja lain karena
dianggap tidak menarik.
e. Dampak Body Shaming
Dampak dari adanya Body Shaming dikemukakan oleh (Sakina, 2018)
diantaranya :
1) Kepercayaan diri berkurng dan merasa tidak aman
Kehilangan kepercayaan diri dan merasa tidak aman adalah
duua hal yang tak terpisahkan sebagai dampak Body Shaming.
Komentar body shaming yang diteria mempengaruhi kepribadian dari
korban body shaming ini terutama remaja. Sehingga remaja menjadi
cenderung kurang percaya diri dan merasa berbeda dengan yang lain.
2) Berupaya untuk menjadi ideal
Berupaya melakukan apa saja untuk menjadikan tubuhnya ideal
adalah dampak lain body shaming. Hal ini kebanyakan terjadi pada
6

remaja terutama yang sedang pubertas dan mengalami perubahan


fisik. Upaya yang dilakukan untuk menjadi ideal dengan melakukan
tindakan yang berbahaya serta tidak benar pun bisa saja terjadi.
Seperti meminum obat untuk menurunkan berat badan yang
ditawarkan dimedia sosial.
3) Tidak bersyukur
Dampak lain dari body shaming adalah rasa tidak besyukur yang
muncul karen ammendapat komentar negatif. Hal ini muncul karena
merasa dirinya berbeda dengan yang lain dan sering mendapat
komentar negatif. Rasa tidak bersyukur dapat berdampak pada
timbulnya rasa tidak percaya akan ciptaan Tuhan. Banyak jenis dari
rasa tidak bersyukur sepeti contohonya sering mngeluh dengan
penampilan fisiknya karena merasa tidak ideal.
4) Psikologis
Salah satu dampak yang diaakibatkan oleh body shaming yitu
psikologi, dimana salahh satu bentuknya yaitu depresi. Depresi yang
dilakuka oleh teman, saudara, maupun orang lain. Dampk psikologis
ini nantinya dapat membuat remaja menjadi menarik diri. Kondisi
terparah dapat mengalami depresi baik ringan maupun berat.

2. Interaksi Sosial
a. Definisi interaksi sosial
Interaksi sosial merupakan salah satu prinsip integritas kurikulum
pembelajaran yang meliputi keterampilan berkomunikasi, yang bekerja
sama yang dapat untuk menumbuhkan komunikasi yang harmonis antara
individu dengan lingkungannya. Berdasarkan pendapat tersebut dapat
dipahami bahwa interkasi sosial sangat penting diberikan sebagai
pengetahuan kepada siswa sejak dibangku sekolah, karena berkenaan
dengan keterampilan berkomunikasi dan kerja sama yang dapat
menumbuhkan sikap siswa setelah terjun kemasyarakat kelak (Hernawan,
2010:314).
Tindakan interaksi sosial adalah tindakan seorang individu yang dapat
mempengaruhi individu-individu lainnya dalam lingkungan sosial. Dalam
7

bertindak atau berperilaku sosial,seorang individu hendaknya


memperhitungkan keberadaan individu lain yang ada dalam
lingkungannya. Hal tersebut penting diperhatikan karena tindakan interaksi
sosial merupakan perwujudan dari hubungan atau interaksi social (Max
Weber dalam Hernawan, 2010).
Interaksi sosial dapat dilihat pada kehidupan sehari-hari termasuk kita
sendiri, yang kita ketahui, bukan saja di pengaruhi oleh kemampuan dalam
intelektual individu. Karena manusia itu sendiri senantiasa melakukan
hubungan yang dapat mempengaruhi hubungan timbal balik antara
manusia yang satu dengan yang lain,dalam rangka memenuhi kebutuhan
dalam mempertahankan kehidupannya. Interaksi sosial dalam kehidupan
sehari-hari seperti halnya ketika melakukan kontak sosial dengan orang
lain sehingga terjadinya interaksi sosial. Komunikasi juga menjadi faktor
pendukung adanya interakso sosial (Hermawan, 2010)
Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa
interaksi sosial merupakan tingkat kemampuan yang dimiliki oleh siswa
dalam melakukan hubungan baik antara rekan-rekannya,antara siswa dan
guru maupun siswa dengan orang tuanya, baik dalam menerima, maupun
menolak dan menilai komunikasi yang diperoleh dalam bentuk proses
interaksi. Interaksi sosial seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan
dalam menjalin sebuah hubungan yang dinyatakan dalam bentuk prialaku
sosial yang baik,yang dapat diketahui setelah diadakan evaluasi.
b. Karakteristik
Interaksi sosial itu memiliki karakteristik yang dinamis dan tidak
statis. Hal ini berarti bahwa karakteritik interaksi sosial dapat ditinjau dari
berbagai segi sesuai dengan ciri interaksi yang dilakukan manusia. Artinya
bahwa karakteritik interkasi akan dapat dilihat secara detail pada model
interaksi yang dilakukan oleh manusia. Secara umum model karakteristik
interaksi sosial dapat diartikan sebagaimodel interaksi sosial yang secara
induvidu,secara kelompok serta kelompok dengan kelompok (Gerungan,
2010). Untuk kejelasan karakteristik tersebut maka peneliti akan
menguraikan karakteristik interaksi sosial sebagai berikut:
1) Interaksi antara individu dengan individu
8

Interaksi ini terjadi karena hubungan masing-masing personil atau


individu. Perwujudan dari interaksi ini terlihat dalam bentuk
komunikasi lisan atau gerak tubuh, seperti berjabat tangan, saling
menegur, bercakap-cakap, atau saling bertengkar.
2) Interaksi Antara Individu dengan Kelompok
Bentuk interaksi ini terjadi antara individu dengan kelompok.
Individu memiliki kepentingan untuk berinteraksi dengan kelompok
tersebut. Misalnya seorang guru memiliki hubungan dengan
individuatau siswa di sekolah. Bentuk interaksi semacam ini juga
menunjukkan bahwa kepentingan seseorang individu berhadapan
dengan kepentingan kelompok.
3) Interaksi Antara Kelompok dengan Kelompok
Jenis interaksi ini saling berhadapan dalam bentuk
berkomunikasi,namun bisa juga ada kepentingan individu di dalamnya
atau kepentingan individu dalam kelompok tersebut.Ini merupakan satu
kesatuan yang berhubungan dengan kepentingan individu dalam
kelompok yang lain.
c. Bentuk interaksi sosial
Bentuk interaksi sosial yang sesuai dengaan pelaksanaanya terdapat
beberapa jenis guna dalam menjelaskan bentuk interaksi sosial tersebut
akan diuraikan oleh (Gerungan, 2010) sebagai berikut :
1) Interaksi antar status
Interaksi antar status adalah hubungan antar dua pihak dalam
individu yang berbeda dalam saatu ligkuungan yang bersifat formal
sehingga masing-masing pihak dapat melakukan interaksinya
didasarkan pada status masing-masing. Misalnya hubuungan antara
guru dan siswa atau suswa dengan orang tua atau dengan keluarganya
yang berbeda status.
2) Interaksi antar kepentingan
Interaksi antar kpentingan merupakan hubungan antara pihak
individu yang berorientasi terhadap kepentingan dari msing-masing
pihak. Dalam hubungan ini, masing-masing pihak saling memberikan
9

soliddaritansya untuk mendukuung terjadinya suatuu sikap yang


harmonis sehingga komunikasi tersebut dapat tercapai dengan baik.
3) Interaksi antar keluarga
Interaksi antar keluuarga merupakan suatu hubungan yang terjadi
antara pihak yang mempunyai hubungan darah. Pada hubungan ini,
solidaritas antara anggota keluarga relatif lebih tinggi dan bentuk
hubungannya lebih bersifat infornal.
4) Interaksi antar persahabatan
Interaksi ini merupakan hubungan antara dua atau lebih dimana
masing-masing individuu sangat mendambakan adanya kmunikasi yang
saling menguntungkan untuk menjalin suatu hubungan yang
sedemikian dekat atau kekerabatan.
5) Kerjasama
Kejasama merupakan satu bentuk interaksi sosial dimana
terjadinya hubungan dan kontak sosial dikaarenakan adanya tujuan dan
maksud yang sama.
d. Faktor yang mempengaruhi interaksi sosial
Bebrapa faktor yang dapat mempengaruhi interaksi sosial diantaranya ialah
:
1) Faktor imitasi
Faktor ini sebelumnya sudah diuraikan oleh Gabriel Trde yang
berpendapat bahwa seluruh kehidupan sosial itu sebenarnya
berdasarkan pada faktor imitasi saja. Namun pada kenyatannya banyak
yang mengatakan bahwa pendapat ini tidak seimbang atau berat
sebelah. Meskipun demikian tetapi peranan imitasi tidaklah kecl.
Terbukti, seakan-akan mereka mengimitasi dirinya sendiri, melatih
fungsi lidah dan muluut untuk berbicara, kemudian mengimitasi orang
lain (Mahmudah, 2010).
2) Fungsi sugesti
Yang dimaksud sugesti disini adalah pengaruh psikis, baik yang datang
dari dirinya sendiri maupun orang lain yngpada umumnyaa diterima
tanpa adanya kritik. Gerungan mendikripsikan sugesti sebagai proses
dimana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau
10

pedoman-pedoman tingkah laku orang lain tanoa kritik terlebih dahulu


(Mahmudah, 2010)
3) Simpati
Simpati adalah perasaan tertariknya orang yang ssatu dengan orang
yang lain. Simpati muncul pada diri seorang aindividu tidak atas dasar
rasional, melainkan berdasarkan perasaan. Seorang individu tiba-tiba
merasa tertarik pada orang lain dan tertariknya bukan karena salah satu
ciri khas seseorang tetapi pada seluruh tingkah laku orang lain tersebut
menarik baginya (Mahmudah, 2010).
4) Malu
Rasa malu yang diakibatkan oleh adanya tindakan pemberian komentar
negatif dari orang lain yang menyebabkan remaja merasa malu dan
juga tidak percaya diri ketika berinteraksi dengan orang lain (Damanik,
2018).
e. Syarat terjadinya interaksi sosial
Syarat terjadinya interaksi sosial ada dua yaitu kontak sosial dan juga
komunikasi (Soekanto, 2012).
1) Kontak sosial
Kontak sosial berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu antar orang-
perorangan,antara orang-perorangan dengan suatu kelompok dan suatu
kelompok dengan kelompok. Antar perorangan yakni salah satu bentuk
kontak sosial yang terjadi antara individu satu dengan individu yang
lainnya. Antar-perorangan dengan kelompok yakni kontak sosial yang
terjadi antara individu dengan kelompok yang ada individu tersebut
didalamnya. Kelompok dengan kelompok yakni kontak sosial yang
terjadi pada kelompok-kelompok yang saling berhubungan agar
terjalinnya suatu interaksi. Kontak sosial dengan orang lain yang
kurang dapat menyebabkan tidak terpenuhinya syarat interaksi sosial
sehingga akibat body shaming ini remaja menjadi kurang dalam
melakukan kontak sosial dengan orang lain.
2) Komunikasi
Komunikasi menjadi salah satu bentuk syarat terjadinya
interaksi sosial. Sebab, dengan adanya interaksi maka individu dengan
11

individu laiinya dapat saling bertukar informasi dan melakukan kontak


sosial. Komunikasi yang buruk atau kurang yang disebabkan oleh rasa
tidak percaya diri dari seorang remaja dapat menyebabkan interaksi
dengan orang lain terganggu, sebab syarat terjadinya interaksi sosial
adalah adanya komunikasi.

3. Remaja
a. Definisi Remaja
Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya
perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa remaja yakni antara 10-19 tahun
adalah suatu periode masa pematangan organ manusia dan sering disebut
masa pubertas. Masa remaja adalah periode masa peralihan dan masa
menuju dewasa. Masa remaja menjadi masa dimana terjadinya proses
kematangan dalam proses berfikir seorang remaja. Pada masa ini biasanya
remaja perempuan mengalami masa pubertas yang mana ditandai dengan
menstruasi pertama kali (menarche) (Widyastuti, 2009). Pada fase ini
remaja masuk kedalam tahap kehidupan dimana orang mencapai proses
kematangan emosional, psikososial, dan seksual (Yusuf, 2012).
Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak ke masa dewasa
dimana remaja sedang mengalami perubahan baik fisik maupun psikologi.
Masa remaja adalah masa dimana remaja mengalami masa pubertas dan
pematangn seksual dengan cepat karena perubahan hormonal yang
mempercepat pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun sekunder.
Jumlah remaja di Indonesia terus mengalami peningkatan. Pada negara
Indonesia menurut Biro Pusat Statistik tahun 2009, kelompok umur 10-19
tahun adalah sekitar 22% dari jumlah penduduk, yang terdiri dari 50,9%
remaja laki-laki dan 49,1% remaja perempuan. Perkembaangan seksual
masa remaja ditandai dengan menstruasi pada wanita (Eswi, 2012; Sharma,
2013).
World Health Organization (WHO) remaja adalah penduduk dalam
rentang usia 10-19 tahun. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
25 tahun 2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun
12

dan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN)


rentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan belum menikah. Jumlah
kelompok usia 10-19 tahun di Indonesia menurut Sensus Penduduk 2010
sebanyak 43,5 juta atau sekitar 18% dari jumlah penduduk. Di dunia
diperkirakan kelompok remaja berjumlah 1,2 milyar atau 18% dari jumlah
penduduk dunia (WHO,2014).
b. Tahap-tahap remaja
Perkembangan dalam segi rohani atau kejiiwaan juga melewati
tahapan-tahapan yang dalam hal ini dimungkinkan dengan adanya kontak
terhadap lingkungan atau sekitarnya (Setiyaningrum, 2015). Masa remaja
dibedakan menjadi :
1) Masa remaja awal (10-13 tahun) tanda-tandanya : Tampak dan memang
merasa lebih dekat dengan teman sebaya, Tampak dan merasa ingin
bebas, Tampak dan memang lebih banyak memperhatikan keadaan
tubuhnya dan mulai berfikir khayal.
2) Masa remaja tengah (14-16 tahun) tandanya : Tampak dan merasa
ingin mencari identitas diri, Ada keinginan untuk berkencan atau
tertarik pada lawan jenis, Timbul perasaan cinta yang mendalam,
Kemampuan berfikir abstrak (berkhayal) makin berkembang,
Berkhayal mengenai hal-hal yang berkaitan, dengan seksual.
3) Masa remaja akhir (17-19 tahun), menampakkan pengungkapan
kebebasan diri, dalam mencari teman sebaya lebih selektif, memiliki
citra (gambaran, keadaan, peranan ) terhadap dirinya, dapat
mewujudkan perasaan cinta, memiliki kemampuan berfikir khayal atau
abstak.
c. Perubahan hormoonal pada remaja.
Perubahan hormonal pada remaja ada dua yakni perubahan hormon
esterogen dan hormon progesteron. Pada perubahan hormon esterogen,
hormon ini memiliki peran terhadap perubahan fisik saat wanita memasuki
masa pubertas. Seperti pertumbuhan ukuran payudaara, munculnya rambut
kemaluan, dan menstruasi pertama pada remaja. Perubahan hormon
progesteron memiliki peran untuk mengatur siklus menstruasi dengan
mengendalikan perubahan jaringan dinding rahim (Batubara, 2010)
13

d. Perkembangan fisik remaja usia 15-17 tahun


Masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak-
anak menuju masa dewasa. Pada masa ini individu mengalami berbagai
perubahan, baik fisik maupun psikis. Perubahan yang tampak jelas adalah
perubahan fisik, dimana tubuh berkembang pesat sehingga mencapai
bentuk tubuh orang dewasa yang disertai pula orang dewasa. Pada periode
ini pula remaja berubah dengan menunjukkan gejala primer dan sekunder
dalam pertumbuhan remaja. Pada fase ini tanda-tanda primer yang
dimaksud adalah berhubungan langsung dengan organ seks (Kumalasari,
2012).
Pada remaja perempuan tanda primer yang dapat tejadi yaitu
menstruasi. Menstruasi pertama disebut dengan menarche yang biasanya
terjadi pada usia 11-13 tahun. Menstruasi adalah peluruhan lapisan dalam
endometrium yang banyak mengandung pembuluh darah dari uterus melalu
vagina. Biasanya siklus haid ini terjadi selama 5-7 hari serta menstruasi
akan berlangsung terus sampai menuju ke masa menopause yaitu pada usia
40-50 tahun (Kumalasari, 2012).
Selain adanya tanda-tanda primer ada pula tanda-tanda sekunder
transisi yang terjadi pada remaja. Tanda-tanda sekunder ini merupakan
tanda-tanda yang bersifat badaniah sehingga dapat dibedakan secara fisik
antara laki-laki dengan perempuan. Ciri-ciri seks sekunder pada laki-laki
diantaranya: bahu melebar, pundak serta dada bertambah besar dan
membidang, tumbuh rambut disekitar kemaluan, tumbuh rambut-rambut
halus di wajah, suara membesar, tumbuhnya jakun. Sedangkan pada wanita
tanda-tanda sekunder diantaranya yaitu : payudara membesar, pinggul
melebar,tulang-tulang badan memanjang dan tubuh bertamba tinggi,
adanya menstruasi, rambut pubis muncul dan rambut yang lurus serta
berwarna kegelapan (Kusmiran, 2012).
Kusmiran (2012) memberikan pendapat dan beberapa penjelasan
masa transisi remaja pada usia remaja terdapat masa transisi yang akan
dialami. Masa transisi tersebut diantaranya sebagai berikut: Transisi fisik
berkaitan dengan perubahan bentuk tubuh, transisi dalam kehidupan
emosi, transisi dalam kehidupan sosial, transisi dalam pemahaman.
14

e. Perkembangan remaja secara psikologis


Perubahan yang terjadi pada remaja secara psikologis yakni terjadinya
perubahan emosi dan perkembangan inteligensi. Perubahan-perubahan
emosi yang terjadi diakibarkan karena munculnya sensitivitas remaja
terhadap suatu hal seperti konflik antar keluarga dengan lingkungan dan
perubahan fisik yang tidak sesuai keinginan terutama pada remaja putri.
Adanya kecenderungan tidak patuh terhadap orang tua dan lebih sering
pergi bersama teman-temannya daripaa berdiam diri dirumah.
f. Tugas-tugas perkembangan remaja
Tugas dan perkembangan remaja dimaksudkan sebagai upaya
meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan serta berusaha untuk
mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku secara dewasa. Tugas-
tugaas ini menjadi langkah awal seeorang remaja untuk membentuk
karakter sifat dewasa yang dimiliki oleh seorang remaja (Kusmiran, 2014).
Remaja memiliki tugas dan kewajiban yang harus dimiliki dan ditaati
oleh remaja, antara lain :
1) Mampu menerima keadaan fisiknya,
2) Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa,
3) Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang
berlainan jenis,
4) Mencapai kemandirian ekonomi, mencapai kemandirian emosional,
5) Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat
diperlukan untuk melakukan peran anggota masyarakat.
(Kusmiran,2014)
g. Tujuan Perkembangan remaja
Perkembangan remaja memiliki beberapa tujuan diantaranya untuk
tujuan perkembangan pribadi dan perkembangan sosial ( Kusmiran, 2014).
Berikut pengertian masing-masing tujuan.
1) Perkembangan pribadi.
Perkembangan yang ada pada diri remaja tersebut,di dapatkan
karena adanya kemampuan kognitif pada remaja tersebut.
Perkembangan pribadi terdiri dari : keterampilan kogitif dan
nonkognitif yag dibutuhkan agar dapat mandiri secara ekonomi maupun
15

mandiri dalam bidang-bidang pekerjaan tertentu. Kecakapan dalam


mengelila dan mengatasi masalah-masalah pribadi secara efektif.
Kecakapan-kecakapan sebagai seorang pengguna kekayaan cultural dan
peradaban bangsa. Kecakapan untuk dapat terikat dalam suatu
keterlibatan yang intensif pada suatu kegiata.
2) Perkembangan sosial.
Perkembangan sosial merupakan terbentuknnya sikap
bersosialisasi seorang remaja yang didapatkan dari interaksi sosialya
dengan dunia luar. Perkembangan sosial remaja terdiri dari:
Pengalaman bersama pribadi-pribadi yang berbeda dengan dirinya, baik
dalam kelas sosial,subkultural, maupun usia. Pengalaman dimana
tindakannya dapat berpengaruh pada orang lain.

KERANGKA TEORI

Remaja

Perubahan hormonal:

a. Esterogen
b. Progesteron

Perubahan fisik remaja :

a. Badan
b. Payudara
c. Tinggi badan 1. Baik
a. Berinteraksi
Faktor yang mempengaruhi :
Penampilan dengan baik
Dampak b. Memiliki
a. Rasa tidak percaya teman
Syarat Interaksi1.Sosial:
Kepercayaan diri
diri. 2. Buruk
Ketidaksesuaian fisik dengan berkuruang.
b. Linkungaan sekitar a. Kontak sosial a. Malu
standar
c. Media massa Body Shaming b. Interaksi 2. Malu
Komunikasi b. Beinteraksi
d. Teman sebaya Sosial 3. Tidak besyukur
16

Gambar 2.1 Kerangka Teori

Sumber Kusmiran(2014), Sakinah (2018), Khairani (2013), Damanik (2018)

A. Hipotesis
Berdasarkan landasan teori yang telah disusun, maka dapat dirumuskan hipotesis
penelitian sebagai berikut :
Ha : Ada Hubungan antara Body Shaming dengan interaksi sosial pada Remaja
Perempuan di SMK Muhammdiyah 2 Klaten Utara .