Anda di halaman 1dari 8

TYPHOID DALAM KEHAMILAN, PERSALINAN DAN NIFAS

A. Pengertian Typhoid
Tipes adalah salah satu penyakit yang sering diderita orang Indonesia.
Berdasarkan penelitian terbitan Badan Litbangkes Kemenkes RI, tipes
dilaporkan menjangkiti hampir 100 ribu jiwa di sepanjang tahun 2008 saja.
Anak-anak dan dewasa sama-sama berisiko terserang tipes. Penyakit ini
disebabkan oleh bakteri yang menempel di makanan atau minuman, biasanya
akibat jajan sembarangan.
Dalam dunia medis, penyakit tipes lebih dikenal dengan istilah demam
tifoid. Tipes adalah penyakit akibat infeksi bakteri Salmonella typhi yang
menyerang saluran cerna. Bakteri tersebut menempel di makanan atau
minuman yang kurang higienis. Biasanya akibat jajan sembarangan di luar
rumah. Tipes pada umumnya menyebar lewat makanan dan air tidak bersih
yang Anda konsumsi. Tipes juga dapat menyebar lewat makanan dan
minuman yang tercemas feses orang yang terinfeksi. Pada kasus yang jarang
terjadi, penularan terjadi akibat terkena urine yang terinfeksi bakteri.

B. Gejala tipes saat hamil yang harus Anda waspadai


Gejala tipes muncul secara bertahap pada 1–3 minggu setelah tubuh
terinfeksi bakteri. Namun tidak menutup kemungkinan gejala penyakit ini juga
bisa terjadi secara mendadak. 
Wanita yang sedang hamil, sistem imunnya cenderung menurun akibat
pengaruh hormon kehamilan sehingga rentan terkena penyakit termasuk tipes.
Gejala tipes pada ibu hamilpada umumnya sama saja dengan pasien lainnya.
Namun ada beberapa kondisi yang membedakannya antara lain;
1. Demam tinggi 39-40°C selama berhari-hari, terutama sore dan malam hari
2. Mual dan seringnya disertai muntah
3. Hilangnya nafsu makan
4. Berat badan turun drastis
5. Sakit perut
6. Sakit kepala
7. Diare atau sembelit
8. Nyeri otot
9. Badan mudah lelah atau lesu
10. Batuk
Jika ibu hamil mengalami gejala penyakit tipes, sebaiknya segera
menghubungi dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat. Dokter akan
menyarankan pemeriksaan urine, tinja atau darah untuk memastikan diagnosis.
Penanganan yang terlambat pada penyakit tipes dapat mengakibatkan
penyebaran infeksi pada rahim, hingga keguguran.
Gejala penyakit ini umumnya muncul secara bertahap pada 1–3
minggu setelah tubuh terinfeksi bakteri. Tapi, dalam beberapa kasus, gejala
penyakit ini juga bisa terjadi secara mendadak. Beberapa gejala tipe yang
mungkin Anda alami, di antaranya demam tinggi (40°C), sakit kepala, sakit
perut, diare atau sembelit, nyeri dan sakit pada otot, muncul ruam atau bintik
merah di kulit, hingga nafsu makan menurun. Komplikasi tipes dapat berujung
pada kematian jika tidak cepat tertangani.
Dilansir di situs Baby Center, sakit tipes saat hamil bisa memengaruhi
gejala yang Anda alami, namun tidak memperparahnya. Sebuah penelitian
menemukan bahwa wanita hamil yang terjangkit tipes mungkin akan
mengalami batuk sebagai dari gejala penyakit ini.

C. Cara mengobati tipes pada ibu hamil


Secara umum, antibiotik digunakan untuk melawan bakteri tipes.
Namun, tidak semua jenis antibiotik aman dikonsumsi ibu hamil. Sebaiknya
konsultasikan lebih lanjut dengan dokter mengenai jenis dan dosis antibiotik
yang sesuai dengan kondisi kehamilan Bunda.
Selain mengonsumsi antibiotik, ibu hamil juga disarankan untuk
memperbanyak istirahat dari aktivitas sehari-hari, dan menjaga pola hidup
yang sehat. Bila terasa lemas atau mual, dianjurkan untuk makan dengan porsi

1
kecil, tetapi dengan frekuensi yang lebih sering. Hal ini bertujuan agar ibu
hamil bisa makan lebih nyaman, sehingga pemulihan dapat lebih cepat.
Dengan pengobatan yang tepat, gejala tipes pada ibu hamilhamil
biasanya akan membaik seiring berjalannya waktu. Tubuh biasanya akan
terasa lebih sehat dalam waktu 4-5 hari setelah perawatan.
Supaya sembuh dari tifus, berikut langkah yang sebaiknya Anda alami:
1. Istirahat total
2. Jangan dulu mengkonsumsi makanan yang sulit dicerna dan berpotensi
mengiritasi pencernaan, contohnya makanan pedas, gorengan, makanan
asam, berlemak, makanan instan, dan minuman berkafein
3. Perbanyak konsumsi dulu makanan yang teksturnya lunak, banyak juga
minum air putih
4. Selalu jaga kebersihan diri Anda, termasuk juga makanan yang Anda
konsumsi
5. Jangan dulu beraktifitas berlebihan
6. Tenangkan diri Anda, tidak perlu panik berlebihan, banyaklah berdoa pada
Tuhan, dan serahkan penanganan terbaik atas kondisi Anda pada dokter

D. Tips agar ibu hamil terhindar dari penyakit demam tifoid


Mengingat bakteri penyebab tipes menular melalui makanan, Bunda
bisa melakukan tindakan pencegahan. Tindakan ini tidak hanya bermanfaat
bagi ibu hamil, tapi juga anggota keluarga lainnya supaya sehat dan terhindar
dari penyakit tipes.
1. Selalu cuci tangan sebelum makan, mengolah atau menyajikan makanan
dan sehabis dari toilet. Salah satu cara paling sederhana yang dapat Bumil
lakukan untuk mencegah penyakit tifus adalah dengan rutin mencuci
tangan dengan sabun dan air hangat . Jangan lupa untuk mencuci tangan
sebelum makan dan setelah keluar dari toilet. Disarankan juga untuk selalu
mencuci tangan setelah menaiki kendaraan umum.
2. Masak makanan hingga benar-benar matang, terutama daging-dagingan.
Untuk mencegah tifus, penting untuk memastikan makanan sudah dimasak

2
hingga matang.  Hindari mengonsumsi makanan mentah. Usahakan juga
untuk tidak membeli makanan dan minuman sembarangan.
3. Minum air yang bersih dan terfiltrasi dengan baik. Disarankan memilih air
mineral dalam kemasan atau air yang sudah dimasak hingga mendidih.
Hindari es yang dibuat dari air yang sulit dipastikan kebersihannya.
Menjalankan pola hidup sehat sangat penting untuk mencegah tifus saat
hamil. Jika Bumil mengalami gejala-gejala tifus, sebaiknya segera lakukan
pemeriksaan ke dokter untuk penanganan yang tepat.
4. Mencuci sayur dan buah. Bumil juga perlu menjaga kebersihan makanan
dan minuman yang dikonsumsi, karena bakteri Salmonella typhi dapat
ditularkan melalui keduanya. Cuci bersih sayur dan buah dengan cermat
sebelum dikonsumsi. Sebaiknya, pilih buah yang memiliki kulit yang
dikelupas saat dikonsumsi.
5. Hindari minum es batu yang tidak jelas asalnya.
6. Hindari minum susu yang tidak dipasteurisasi atau konsumsi buah-buahan
dan sayuran yang tidak dicuci bersih.

E. Resiko tipes Pada Persalinan


Beberapa penelitian melaporkan bahwa infeksi ini dapat menyelinap ke
dalam plasenta sehingga memengaruhi kesehatan bayi. Menurut sebuah
penelitian terbitan jurnal Obstetric Medicine, tipes saat hamil bisa
meningkatkan risiko keguguran atau melahirkan bayi yang juga mengalami
demam tifoid. Tipes saat hamil juga diperkirakan dapat meningkatkan risiko
melahirkan prematur dan bayi dengan berat badan rendah.
Namun, belum ada cukup bukti ilmiah yang dapat memastikan
pengaruh sakit tipes saat hamil yang dialami oleh ibu pada bayi dalam
kandungannya. Jadi sangat sulit untuk menyimpulkan apakah tipes saat hamil
benar bisa membahayakan kehamilan Anda atau tidak.
Meski begitu, berbagai kemungkinan risiko ini dapat dicegah dan bisa
ditangani dengan baik dengan pemberian obat antibiotik yang tepat waktu

3
begitu Anda mengalami gejalanya. Bayi yang mengalami tipes saat lahir dapat
diberikan antibiotik ceftriaxone dan bisa kembali pulih sepenuhnya.
Jika saat hamil Anda mengalami gejala seperti yang telah disebutkan di
atas, ada baiknya segera konsultasikan hal ini dengan dokter untuk menjaga
kehamilan Anda tetap sehat sampai tiba waktunya melahirkan.
Tidak semua obat tipes aman untuk ibu hamil. Namun, dokter akan
meresepkan obat antibiotik yang aman dikkonsumsi dan tidak membahayakan
kehamilan atau janin Anda. Jika perut Anda belum kelihatan membesar karena
masih ada di trimester pertama dan dokter yang Anda keluhkan tidak tahu
Anda hamil, katakan pada dokter bahwa Anda sedang mengandung.
Menurut sejumlah penelitian, bakteri penyebab tipes, Salmonella typhi,
mampu menyelinap ke dalam plasenta. Penelitian dalam jurnal Obstetric
Medicine tahun 2009 mengungkapkan hal ini diduga dapat memicu infeksi
pada bayi sehingga berisiko keguguran atau melahirkan bayi yang juga
mengalami demam tifoid (tifoid neonatal).
Sementara penelitian lainnya melaporkan bahwa ibu hamil yang
terkena tipes dapat meningkatkan risiko melahirkan prematur dan bayi dengan
berat badan lahir rendah (BBLR).
Sayangnya, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk
membuktikan bahaya penyakit tipes pada ibu hamilbagi janin dalam
kandungan.
Oleh sebab itu, penting bagi ibu hamil untuk konsultasi ke dokter
kandungan secara rutin. Sehingga ketika mengalami keluhan-keluhan atau
gejala penyakit dapat terdeteksi dengan cepat dan segera ditangani. Dengan
begitu, kesehatan ibu dan calon buah hati selalu terjaga.
1. Meningkatkan risiko keguguran
Sakit tipes saat hamil dapat berdampak terhadap kesehatan Ibu dan
janin dalam kandungan. Ibu harus tahu, berdasarkan sebuah penelitian
yang diterbitkan oleh Obstetric Medicine terungkap bahwa tipes saat hamil
bisa meningkatkan risiko keguguran. Bahkan Ibu dapat melahrikan bayi
dengan kondisi mengalami demam tifoid .

4
2. Bayi lahir dengan berat rendah
Tipes saat hamil juga bisa meningkatkan risiko Ibu melahirkan
bayi dengan berat rendah. Selain disebabkan karena tipes, bayi lahir
dengan berat rendah juga dapat disebabkan karena kondisi kesehatan
lainnya seperti anemia, komplikasi selama kehamilan, efek dari merokok
saat hamil, dan infeksi tertentu seperti listeria dan toxoplasmosis. Ibu
harus rutin melakukan pemeriksaan ke dokter agar kesehatan Ibu tetap
terpantau dengan baik.
3. Meningkatkan risiko bayi lahir prematur
Meski perlu diteliti lebih lanjut, namun kabarnya sakit tipes saat
hamil bisa menyebakan bayi lahir prematur Ma. Karena itulah, Ibu
disarankan untuk menjaga kebersihan dengan baik agar risiko untuk
terkena tipus saat hamil dapat diminimalisir.

F. Tipes pada ibu Nifas


Bagi Busui, sebenarnya Anda tidak perlu khawatir dan menghentikan
pemberian ASI pada buah hati. Pasalnya, hingga saat ini belum ditemukan
bukti ilmiah yang menyatakan tipes bisa ditularkan melalui ASI. Dengan kata
lain, tidak masalah menyusui saat sedang sakit tipes.
Perlu diketahui ASI adalah makanan terbaik bagi bayi. Di samping itu,
ASI mengandung antibodi sang ibu yang membuat si kecil kebal dari berbagai
infeksi yang mengintai. Bayi yang baru lahir juga belum memiliki sistem
kekebalan tubuh sehingga rentan terkena penyakit.
Kendati tidak menular, ibu kemungkinan kondisi ibu akan melemah
sehingga lebih sulit memberikan ASI. Apalagi jika ibu mengalami diare,
produksi ASI dapat menurun karena saat itu sangat mungkin Anda mengalami
kekurangan cairan dan akhirnya membuat ASI menurun.
Untuk itu, saat kena tipes, perbanyak konsumsi cairan dan periksakan
diri ke dokter untuk penanganan lebih lanjut. Pasien juga dianjurkan makan
teratur, mengonsumsi buah-buahan dan sayuran, serta menghabiskan

5
antiobiotik yang diresepkan dokter. Konsultasikan diri ke dokter jika demam
tak kunjung reda.
Sama halnya dengan kebanyakan orang, ibu menyusui membutuhkan
antibiotik jika terkena infeksi. Namun, mayoritas Busui akan menolak minum
antibiotik karena takut memengaruhi ASI dan kesehatan bayi.
Jangan khawatir, antibiotik sejatinya aman untuk ibu menyusui. Jika
tidak yakin, Bunda bisa berkonsultasi pada dokter maupun dokter anak perihal
rekomendasi antibiotik yang aman. Penggunaan antibiotik bermanfaat dan
dapat menyelamatkan nyawa seseorang utamanya jika terkena infeksi. Selain
itu, penting bagi Bunda memerhatikan beberapa aspek jika mengonsumsi
antibiotik kala menyusui.
1. Perubahan feses bayi
Dr. Judith, MD, ginekologi di Cedars-Sinai Medical Center,
melansir situs Today menyebutkan bahwa satu-satunya efek samping yang
potensial terjadi ketika ibu menyusui minum antibiotik seperti penisilin,
sefalosporin, makrolida, dan aminoglikosida adalah perubahan flora usus
bayi (bakteri yang biasanya ada di dalam usus).
Umumnya jika Bunda minum antibiotik, feses bayi cenderung
bertekstur lebih encer dibanding biasanya dan berwarna lebih kehijauan.
Jangan cemas karena kondisi ini akan kembali normal setelah konsumsi
antibiotik selesai
2. Mood si kecil berubah
Jangan heran jika bayi menjadi lebih gelisah dan tidak tenang
menyerupai gejala kolik. Hal ini juga akan kembali seperti semula saat
Bunda tak lagi mengonsumsi obat-obatan
3. ASI bermanfaat untuk usus bayi
Ada kemungkinan antibiotik yang diminum akan memengaruhi
bakteri baik dalam usus bayi. Namun, hal ini bukanlah sesuatu yang perlu
dikhawatirkan karena ASI sangat menyembuhkan dan menumbuhkan
kembali bakteri baik.

6
Selain itu, konsumsilah probiotik setelah usai pengobatan antibiotik
yang dapat membantu menyeimbangkan pasokan bakteri baik dalam usus.
Probiotik ini bisa didapat dari yogurt, kefir, kombucha, keju cottage,
kimchi, dan sebagainya.
4. Kemungkinan bayi terserang sariawan
Bun, perlu diketahui bahwa mengonsumsi antibiotik dalam dosis
besar dapat mendorong pertumbuhan sariawan sebagai akibat matinya
bakteri baik yang ada dalam usus. Sariawan ini tak hanya terjadi di dalam
mulut, namun juga di vagina dan puting Bunda.