Anda di halaman 1dari 25

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Swt. Yang Maha Pengasih Lagi Maha
Penyayang, penulis panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah perekonomian Indonesia tentang Kebijakan
Moneter dan Fiskal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia.
Namun tak lepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa ada
kekurangan dari makalah yang penulis buat. Oleh karena itu dengan lapang dada
dan tangan terbuka penulis membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin
memberikan saran dan kritik kepada penulis sehingga penulis dapat memperbaiki
makalah perekonomian Indonesia ini.
Penulis menyadari bahwa selama penyusunan makalah ini penulis banyak
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, ucapan terima kasih
dan penghargaan yang setinggi-tingginya penulis sampaikan kepada:
1. Bapak Kasman, Drs. MM., selaku dosen dosen mata kuliah Perekonomian
Indonesia yang telah membantu penulis selama penyusunan makalah ini;
2. rekan-rekan kelas karyawan A dan B angkatan 2019, yang senantiasa
berbagi ilmu dan memotivasi penulis untuk menyelesaikan makalah ini
tepat pada waktunya;
3. pihak-pihak lainnya yang tidak dapat penulis tuliskan satu per satu
namanya, terima kasih yang setulus-tulusnya.
Akhirnya penulis mengharapkan semoga dari makalah perekonomian
Indonesia tentang Kebijakan Moneter dan Fiskal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Indonesia ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan
inspirasi terhadap pembaca.

Ciamis, Juni 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Rumusan Masalah.........................................................................................2
C. Tujuan...........................................................................................................2
BAB II LANDASAN TEORI..................................................................................3
A. Pengertian Kebijakan Moeneter....................................................................3
B. Teori Moneter...............................................................................................3
C. Pengertian Kebijakan Fiskal.........................................................................6
BAB III PEMBAHASAN........................................................................................9
A. Gambaran Umum Kebijakan Moneter..........................................................9
B. Kebijakan Moneter dan Siklus Kegiatan Ekonomi.......................................9
C. Kebijakan Moneter dan Kebijakan Ekonomi Makro Lain..........................11
D. Dampak Kebijakan Moneter.......................................................................11
E. Instrument Kebijakan Moneter...................................................................12
F. Mengenal Kebijakan Fiskal........................................................................16
G. Tujuan Kebijakan Fiskal.............................................................................17
H. Instrumen Kebijakan Fiskal........................................................................18
I. Macam-Macam Kebijakan Fiskal...............................................................18
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN....................................................................20
A. Simpulan.....................................................................................................20
B. Saran............................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................22

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Siklus bisnis (Business cycle) merupakan fenomena ekonomi yang
kerap terjadi dalam perekonomian suatu negara. Untuk mengantisipasi
fluktuasi yang berlebihan pada siklus bisnis, dikenal ada dua kebijakan
pemerintah, yaitu kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Secara sederhana,
kebijakan fiskal adalah kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk
mengendalikan perekonomian dengan mengubah-ubah anggaran penerimaan
dan pengeluran pemerintah (Rahardja dan Manurung, 2001). Kebijakan
moneter adalah kebijakan pengendalian besaran moneter seperti jumlah uang
beredar, tingkat bunga, dan kredit yang dilakukan oleh bank sentral (Warjiyo
dan solikin, 2003). Dalam perkembangnya, Kydland dan Prescott menemukan
teori baru tentang kebijakan fiskal, kebijakan moneter dan siklus bisnis. Teori
ini menekankan pada adanya faktor ekspektasi masyarakat yang cenderung
diabaikan oleh pengambil kebijakan. Padahal, faktor ekspektasi masyarakat
seringkali menjadi penyebab terjadinya ketidak konsistenan waktu dan
kegagalan dalam kebijakan pemerintah (Kompas, 2004).
Aplikasi kebijakan fiskal dan kebijakan moneter dalam
perkembangannya melahirkan suatu bauran kebijakan (policy mix) yang
kemudian menyebabkan berkembangnya kajian-kajian tentang koordinasi
kebijakan fiskal dan moneter. Beberapa kajian tentang koordinasi kebijakan
tersebut menemukan bahwa, dalam jangka panjang kebijakan fiskal dan
moneter tidak bertentangan satu sama lain dalam mencapai pertumbuhan
ekonomi. Pada kondisi ini tidak diperlukan adanya koordinasi kebijakan
(Hagen dan Mundshenk,2003). Dalam jangka pendek, tidak adanya
koordinasi antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter akan menyebabkan
efektivitas kebijakan menjadi berkurang (Giavazzi,2003).
Di Indonesia, dalam aktivitasnya kadangkala dua kebijakan ini
(kebijakan moneter dan kebijakan fiskal) berjalan tanpa terkoordinasi dengan

1
baik dan menimbulkan ketidak seimbangan dalam perekonomian. Contohnya
antara lain adalah; hyperinflasi pada tahun 1965 yang disebabkan oleh
ekspansi fiskal dan ekspansi moneter yang tidak terkendali, kesenjangan
antara peran sektor pemerintah dan peran sektor swasta pada saat boom
minyak pada era 1970-an, dan terakhir adalah kesenjangan antara
pertumbuhan sektor riil dan sektor moneter pada kurun tahun 1980-an pasca
liberalisasi sektor keuangan hingga pasca krisis moneter tahun 1997.
Fenomena ini menjadi isu utama penelitian ini. Ditengah kontroversi
dua kebijakan tersebut, pertanyaan yang paling mendasar adalah apakah
kebijakan-kebijakan tersebut telah mampu mencapai tujuannya yaitu
pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dengan menggunakan metode kointegrasi
dan Vector Error Correction model (VECM), diharapkan penelitian ini dapat
menjawab permasalahan tentang bagaimanakah hubungan antara kebijakan
fiskal, kebijakan moneter, dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia baik dalam
jangka panjang maupun jangka pendek.
Dari latar belakang di atas, makalah ini akan menjelasakan mengenai
kebijakan moneter dan fiskal.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kebijakan moneter dan fiskal?
2. Bagaimana kebijakan moneter dan fiskal di Indonesia?
3. Bagaimana arah penerapan kebijakan moneter dan fiskal di Indonesia?

C. Tujuan
Tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian kebijakan moneter dan kebijakan fiskal
2. Mengetahui kebijaka moneter dan fiskal di Indonesia
3. Mengetahui arah penerapan kebijakan moneter dan fiskal di Indonesia

2
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Kebijakan Moeneter


Menurut Jhingan, M.L kebijakan moneter mengacu pada kebijaksanaan
otoritas moneter suatu negara yang menyangkut masalah-masalah moneter.
Kebijaksanaan tersebut dapat didefinisikan sebagai kebijaksanaan yang
berkenaan dengan: pengendalian lembaga keuangan, penjuanalan dan
pembelian seara aktif kertas-kertas berharga oleh otoritas moneter sebagai
ikhtiar sengaja untuk mempengaruhi perubahan keadaan uang.
Kebijakan moneter adalah kebijakan pemerintah untuk memperbaiki
keadaan perekonomian melalui pengaturan jumlah uang beredar. Jumlah uang
beredar, dalam analisis ekonomi makro, memiliki pengaruh penting terhadap
tingkat output perekonomian, juga terhadap tingkat stabilitas harga-harga.71
Kebijakan moneter dalam perekonomian modern dilakukan melalui berbagai
instrumen, yaitu: operasi pasar terbuka (open market operation), penetuan
tingkat bunga, ataupun penentuan besarnya cadangan wajib dalam sektor
perbankan.
Dalam membuat kebijakan bank Indonesia selaku bank sentral pada
umumnya independen dalam menentukan kebijakan moneter tetapi terbatas
akibat pengaruh legislasi dewan perwakilan rakyat. Dewan perwakilan rakyat
melalui legislasi membuat bank sentral untuk lebih bertanggung jawab
terhadap tindakannya. Legislasi dewan perwakilan rakyat dapat memengaruhi
bank sentral untuk membentuk kebijakan moneter.

B. Teori Moneter
Definisi teori moneter dalam arti luas adalah teori tentang peranan uang
dalam perekonomian. Sedangkan definisi dalam arti sempit adalah teori
mengenai pasar uang. Artinya, teori moneter adalah teori tentang permintaan
uang (demand for money) dan penawaran uang (money supply). Atas dasar
itu, dapat dikatakan bahwa inti inti teori moneter adalah analisis mengenai

3
factor-faktor apa yang mempengaruhi permintaan akan uang dan factor-faktor
yang mepengaruhi penawaran uang (jumlah uang beredar).
Permintaan dan penawaran akan uang di pasar uang akan menentukan
tingkat harga. Dalam teori moneter, ada dua jenis konsep “harga uang” yang
menjadi focus perhatian dari teori-teori moneter sejak dulu sampai sekarang,
tingkat harga yang dimaksud adalah:
1. Tingkat suku bunga yang biasanya disimbolkan dengan
hurup r atau i
2. Tingkat harga umum yang biasanya disimbolkan dengan
hurup p.
Teori-teori moneter yang bersumber atau mengacu pada teori
keyneysians focus pada tingkat suku bunga sebagai “harga uang” yang
besarnya ditentukan oleh interaksi antara permintaan dan penawaran uang di
pasar uang. Sebaliknya, teori teori moneter yang mengacu pada aliran klasik,
khususnya teori kuantitas uang dan monetarist di pasar barang, bukan tingkat
suku bunga seperti yang dimaksudkan oleh aliran Keynesians. Perbedaan
asumsi dan konsepsi dasar yang melekat pada teori moneter yang
dikembangkan oleh aliran klasik dan Keynesian tersebut memiliki implikasi
yang sangat berbeda, baik pada tataran teoritis maupun pada tataran
implementasi kebijakan moneter.73
Teori Keynesian, teori ini lebih focus pada analisis jangka pendek
dengan cara mendorong perubahan pada sisi permintaan (deman side
economy) Keynesian berpendangan bahwa fungsi uang selain sebagai alat
tukar adalah uang digunakan sebagai alat tukar adalah juga menyimpan uang
(store of value. Fungsi inilah yang memungkinkan uang digunakan sebagai
alat untuk memperoleh keuntungan (prpfit). Keberadaan antara permintaan
dan penawaran uang. Harga uang dinyatakan sebagai “bunga”. Jika uang
semakin langka maka tingkat bunga semakin mahal. Pada saat tingkat bunga
semakin tinggi , maka permintaan investasi dan konsumsi akan berkurang.
Sebaliknya, tingkat bunga semakin rendah akan menyebabkan permintaan
kredit akan meningkat, akibatnya pertumbuhan ekonomi meningkat.

4
Teori moneter menurut pandangan Keynes yaitu Kebijakan
menurunkan suku bunga yang rendah hingga 0% elastisitas terhadap
permintaan uang menjadi tidak terhingga. Masyarakat pun tidak ingin
memegang surat berharga karena akan adanya spekulasi perkiraan
keuntungan dari surat berharga di masa datang karena masyarakat berpikir
bahwa tingkat suku bunga akan mengalami kenaikan karena kebijakan tingkat
suku bunga yang begitu rendah tidak akan mungkin turun lagi. Akibatnya tak
seorang pun yang ingin membeli surat berharga, setiap orang ingin
memegang uang dalam bentuk tunai sehingga hal ini menimbulkan
permintaan uang menjadi elastis sempurna. Inilah yang disebut Liquidity
Trap.75
Munculnya kebijakan moneter sebagai alat stabilisasi kegiatan ekonomi
yang dianggap lebih baik dari pada kebijakan fiskal dikarenakan beberapa
hal, yaitu:
1. Tidak menimbulkan masalah crowding out76
2. Decision lag77 -nya tidak terlalu lama sehingga timing pelaksanaan
kebijakannya dapat disesuaikan dengan masalah ekonomi yang sedang
dihadapi
3. Tidak menimbulkan beban kepada generasi yang akan datang dalam
bentuk keperluan untuk membayar bunga dan mencicil hutang
pemerintah.
Kebijakan moneter bertujuan untuk melakukan perubahan terhadap dua
variabel makroekonomi utama, yaitu suku bunga dan penawaran uang.
langkah bank sentral untuk menjalankan operasi terbuka dan mengubah rasio
cadangan bank umum (perdagangan) adalah untuk mempengaruhi penawaran
uang. Sedangkan mengubah suku bunga diskonto atau Bank Rate adalah
alat untuk mempengaruhi tingkat suku bunga. Namun kebijakan menetapkan
suku bunga dan jumlah uang beredar tidak dapat dilaksanakan serentak sebab,
perubahan yang satu dapat mempengaruhi perubahan yang lain. Sehingga
dalam menjalankan kebijakan moneternya, bank sentral perlu memutuskan

5
jenis variabel yang akan diawasi dan dikendalikan, apakah tingkat suku bunga
atau penawaran uang.
Menurut Sadono Sukirno, analisis kebijakan moneter dengan
mempertahankan suku bunga melalui perubahan-perubahan penawaran uang
ternyata akan menimbulkan fluktuasi yang besar dalam pendapatan nasional
dan kegiatan ekonomi. Namun apabila kebijakan moneter melalui
pengendalian jumlah penawaran uang maka efeknya terhadap kestabilan
ekonomi lebih besar.

C. Pengertian Kebijakan Fiskal

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, fiskal berkenaan dengan


urusan pajak atau pendapatan negara. Kata fiskal itu sendiri berasal dari
bahasa latin yaitu fiscus yang merupakan nama seseorang yang memiliki atau
memegang kekuasaan atas keuangan pada zaman Romawi kuno.
Sedangkan, dalam Bahasa Inggris fiskal disebut fisc yang berarti
pembendaharaan atau pengaturan keluar masuknya uang yang ada dalam
kerajaan.
Kebijakan fiskal terdiri atas dua instrumen utama, (1) kebijakan pajak dan
(2) pengeluaran pemerintah (Mankiw, 2003; Turnovsky, 1981), tapi,
kebijakan apapun itu dapat secara langsung mempengaruhi komponen-
komponen permintaan secara menyeluruh jatuh pada kebijakan ini. Menurut
Sudiyono (1985) variable instrumen kebijakan fiskal dapat berbentuk pajak,
transfer pemerintah, subsidi, dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan fiskal atau
penganggaran memiliki tiga fungsi:(1) fungsi alokasi, (2) fungsi distribusi,
dan (3) fungsi stabilisasi. Fungsi alokasi berhubungan dengan persediaan
barang-barang sosial dan proses pemanfaatan sumber daya secara menyeluruh
untuk produksi barang-barang swasta, barang-barang sosial, dan kombinasi dari
barang-barang sosial yang telah dipilih. Fungsi distribusi berhubungan dengan
persamaan kesejahteraan dan distribusi pendapatan dalam masyarakat. Selama
fungsi stabilisasi ditujukan untuk menstabilkan atau mempertahankan
rendahnya tingkat pengangguran, harga atau tingkat inflasi, dan

6
pertumbuhan ekonomi yang telah ditargetkan.
Teori tentang efektivitas kebijakan fiskal dan moneter diprakarsai oleh
teori klasik dan teori Keynes. Kedua teori ini memiliki pandangan berbeda
tentang efektivitas kebijakan-kebijakan tersebut didalam perekonomian.
Teori klasik yang dikemudian hari dikembangkan oleh kaum monetarist
(Neo-klasik) lebih menekankan pada penggunaan kebijakan moneter dalam
mengatasi permasalahan perekonomian. Pendapat ini berdasarkan pada
pemikiran bahwa efek kebijakan moneter terhadap permintaan agregat
bersifat langsung (Nopirin, 2000). Tambahan uang kas tidak serta-merta
akan dibelikan pada surat berharga, tetapi langsung dibelanjakan dalam
bentuk barang. Kebijakan fiskal dalam hal ini dinilai kurang efektif dalam
mempengaruhi perekonomian mengingat adanya efek crowding out dalam
kebijakan tersebut.
Teori Keynes memiliki pendapat yang berbeda dengan teori klasik.
Teori yang kemudian dikembangkan oleh aliran Keynesian modern ini
menekankan pada beberapa jalur (mekanisme transmisi) dalam kebijakan
moneter. Jalur-jalur tersebut cenderung menyebabkan efek dari kebijakan
moneter menjadi tidak pasti. Keynes lebih menekankan pada penggunaan
kebijakan fiskal dalam perekonomian. Menurut Keynes, dengan cara
pembiayaan apapun, efek dari kebijakan fiskal ekspansif tetap akan positif.
Dalam perkembangannya, teori klasik dan teori Keynes kemudian
digabungkan dalam teori baru yang disebut teori sintesis klasik-Keynesian
yang tercermin dalam model IS-LM. Teori ini merupakan perwujudan dari
konsep bauran kebijakan (policy mix) yang biasa dipakai dalam
perekonomian suatu negara.
Secara umum, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kebijakan
fiskal dan kebijakan moneter memiliki pengaruh yang kuat dalam
perekonomian. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Albatel (2003)
misalnya, penelitian ini mencoba mengkaji bagaimana hubungan antara
kebijakan pemerintah (kebijakan moneter dan kebijakan fiskal) dan output di
Arab Saudi kurun periode 1964- 1998. Metodologi yang digunakan dalam

7
penelitian ini adalah metode kointegrasi dan Error Correction Model. Hasil
penelitian memperlihatkan terdapat hubungan yang erat antara kebijakan
pemerintah (kebijakan fiskal dan moneter), liberalisasi perdagangan, dan
pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang dan jangka pendek.
Turnovsky (2000), memfokuskan kajian tentang hubungan antara
kebijakan fiskal dan output di Amerika Serikat. Penelitian tersebut
menemukan bahwa kebijakan fiskal tidak memiliki dampak terhadap
keseimbangan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Tingkat
pertumbuhan yang lambat memberikan kenyataan bahwa kebijakan fiskal
hanya berpengaruh pada jangka pendek pada masa transisi. Lebih jauh,
kajian The Ricardian equivalent melihat bahwa kebijakan fiskal dengan
menambah defisit anggaran dengan utang/obligasi tidak akan berpengaruh
terhadap perokonomian (Manurung, 2002). Analisis ini berdasarkan pada
pola konsumsi dan kemampuan masyarakat dalam melihat efek defisit
anggaran ditahun yang akan datang.

8
BAB III
PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Kebijakan Moneter


Kebijakan moneter merupakan kebijakan otoritas moneter atau bank
sentral dalam bentuk pengendalian besaran moneter untuk mencapai
perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan. Dalam praktek,
perkembangan kegiatan perekonomian yang diinginkan tersebut adalah
stabilitas ekonomi makro yang antara lain dicerminkan oleh stabiltas harga
(rendahnya laju inflasi), membaiknya perkembangan output rill (pertumbuhan
ekonomi), serta cukup luasnya lapangan/kesempatan kerja yang tersedia.
Kebijakan moneter yang disebutkan di atas merupakan bagian integral
dari kebijakan makro, yang pada umumnya dilakukan dengan
mempertimbangkan siklus kegiatan ekonomi, sifat perekonomian suatu
negara tertutup atau terbuka, serta faktor-faktor fundamental ekonomi
lainnya. Dalam pelaksanaannya, strategi kebijakan moneter dilakukan
berbeda-beda dari suatu negara dengan negara lain, sesuai tujuan yang ingin
dicapai dan mekanisme transmisi yang diyakini berlaku pada perekonomian
yang bersangkutan. Berdasarkan strategi dan transmisi yang dipilih, maka
dirumuskan kerangka operasional kebijakan moneter.

B. Kebijakan Moneter dan Siklus Kegiatan Ekonomi


Perkembangan ekonomi suatu negara tentu mengalami pasang surut
(siklus) yang pada periode tertentu perekonomian tumbuh pesat dan pada
periode lain tumbuh melambat. Untuk mengelola dan memengaruhi
perkembangan perekonomian agar dapat berlangsung dengan baik dan stabil,
pemerintah atau otoritas moneter biasanya melakukan langkah-langkah yang
dikenal dengan kebijakan ekonomi makro. Inti dari kebijakan tersebut pada
dasarnya adalah pengelolaan sisi permintaan dan sisi penawaran suatu
perekonomian agar mengarah pada kondisi keseimbangan dengan tingkat
pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

9
Kebijakan moneter sebagai salah satu dari kebijakan ekonomi makro
pada umumnya diterapkan sejalan dengan business cycle siklus kegiatan
ekonomi. Dalam hal ini, kebijakan moneter yang diterapkan pada kondisi
dimana perekonomian sedang mengalami boom perkembangan yang sangat
pesat tentu berbeda dengan kebijakan moneter yang diterapkan pada kondisi
dimana perekonomian sedang mengalami depression atau slump
‘perkembangan yang melambat’. Dalam kajian literatur dikenal dua jenis
kebijakan moneter, yaitu kebijakan moneter ekspansif dan kebijakan moneter
kontraktif. Kebijakan moneter ekspansif adalah kebijakan ekonomi yang
ditujukan untuk mendorong kegiatan ekonomi, yang antara lain dilakukan
melalui peningkatan jumlah uang beredar. Sebaliknya, kebijakan moneter
kontraktif adalah kebijakan moneter yang ditujukan untuk memperlambat
kegiatan ekonomi, yang antara lain dilakukan melalui penurunan jumlah uang
beredar.
Dalam pelaksanaannya, efektivitas kebijakan moneter tersebut
tergantung pada hubungan antara uang beredar dengan variabel ekonomi
utama seperti output dan inflasi. Dari sejumlah literatur, temuan utama yang
menarik mengenai hubungan antara uang beredar, inflasi dan output adalah
bahwa dalam jangka panjang, hubungan antara pertumbuhan uang beredar
dan inflasi adalah sempurna, sementara hubungan antara pertumbuhan uang
atau inflasi dengan pertumbuhan output riil mungkin mendekati nol. Temuan
ini menunjukan adanya suatu konsensus bahwa dalam jangak panjang,
kebijakan moneter hanya akan berdampak pada inflasi, dan tidak banyak
pengaruhnya terhadap ekonomi riil.
Terlepas dari perbedaan sudut pandang di atas, umumnya kalangan
praktisi maupun akademisi meyakini bahwa dalam jangka pendek kebijakan
moneter ekspansif dapat mendorong kegiatan ekonomi yang sedang
mengalami resesi yang berkepanjangan. Sebaliknya, kebijakan moneter
kontraktif dapat memperlambat laju inflasi yang umumnya terjadi pada saat
kegiatan perekonomian yang sedang mengalami boom.

10
C. Kebijakan Moneter dan Kebijakan Ekonomi Makro Lain
Penerapan kebijakan moneter tidak dapat dilakukan secara terpisah
dengan penerapan kebijakan ekonomi makro lainnya, seperti kebijakan fiskal,
kebijakan sektor riil, dan lain-lain. Hal ini terutama mengingat keterkaitan
antara kebijakan moneter dan bagian kebijakan ekonomi makro lain yang
sangat erat. Selain itu, pengaruh kebijakan-kebijakan yang diterapkan secara
bersama-sama mungkin mempunyai arah yang bertentangan sehingga saling
memperlemah. Misalnya, dalam perekonomian yang mengalami tekanan
inflasi, bank sentral melakukan ekspansi di sektor fiskal dalam rangka
mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketidakharmonisan kedua kebijakan
tersebut dapat mengakibatkan tujuan menekan inflasi tidak tercapai.
Sementara itu, kombinasi kebijakan moneter dan fiskal yang terlalu ekspansif
akibat tidak adanya koordinasi dapat mendorong pemanasan kegiatan
perekonomian. Dengan demikian, untuk mencapai tujuan kebijakan ekonomi
makro secara optimal, biasanya diterapkan policy mix ‘bauran kebijakan’
yang terkoordinasi antara satu kebijakan dengan kebijakan lain.

D. Dampak Kebijakan Moneter


Makroekonomi menggambarkan adanya perbedaan antara dampak kebijakan
moneter dalam jangka pendek dan jangka panjang. Perbedaan ini sangat
diperlukan untuk mengetahui pemahaman yang benar tentang apa yang dapat
dilakukan oleh kebijakan moneter. Pada kondisi jangka pendek, pergerakan
tingkat harga dan output terlihat sangat kompleks dibandingkan pada kondisi
jangka menengah/panjang.
1. Jangka menengah/panjang.
Teori moneter memberikan penjelasan mengenai hubungan antara inflasi,
pertumbuhan output dan pertumbuhan uang. Ekspansi mooneter akan
meningkatkan pertumbuhan output dan kemudian meningkatkan tingkat
harga umum. Secara rata-rata, tingkat inflasi akan sama dengan kelebihan
ekspansi moneter atas biaya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan potensial
dalam perekonomian. Pada jangka menengah tidak terdapat trade off

11
bahwa otoritas dapat mengeksploitasi untuk meningkatkan output pada
tingkat inflasi yang tinggi. Pernyataan tersebut berdasarkan alasan yaitu:
a. Pada jangka pendek para pelaku belajar dari kesalahan yang telah
dibuat di masa lalu dan mengakhirinya dengan prediksi yang baik
tentang bagaimana perekonomian bekerja.
b. Harga dan upah menjadi fleksibel dan diikuti oleh pasar barang dan
pasar tenaga kerja yang sempurna. Hal tersebut berimplikasikan
bahwa pada jangka menengah inflasi dianggap sebagai fenomena
moneter, otoritas meneter tidak dapat tidak bisa menggerakkan
perekonomian melalui inflasi yang tinggi sehingga inflasi yang tinggi
pada akhirnya akan memperburuk pperekonomian.
2. Jangka pendek
Dampak kebijakan moneter dalam jangka pendek muncul adanya
kekompleksitasan. Secara umum, jika harga dan upah sangat fleksibel,
maka pasar barang dan pasar tega kerja akan sempurna, setiap agen
ekonomi akan memiliki informasi penuh tentang kondisi perekonomian
dan kebijakan yang akan diterapkan oleh otoritas moneter.69

E. Instrument Kebijakan Moneter


1. Kebijakan Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)
Operasi pasar terbuka adalah salah satu kebijakan yang diambil oleh bank
sentral untuk mengurangi atau menambahkan jumlah uang yang sedang
beredar di masyarakat. Hal ini dilakukan dengan cara menjual serifikat
Bank Indonesia (SBI) atau bisa juga dengan membeli surat berharga yang
ada dalam pasar modal. Contoh dari kebijakan ini adalah ketika Bank
Indonesia melelang sertifikatnya atau bisa juga membeli atau menarik
surat-surat berharga yang beredar di pasar modal.
Lelang sertfikat diberlakukan ketika uang yang beredar di masyarakat
berlebih maka dengan itu jumlahnya bisa diminimalisir. Sedangkan
pembelian surat-surat berharga diberlakukan ketika uang yang beredar di
masyarakat sedikit atau rendah maka dengan cara tersebut uang yang

12
beredar di masyarakat akan kembali menjadi normal. Konsekuensi dari
kebijakan ini sangat besar karena bertempat di pasar terbuka, dimana
semua pihak bebas untuk masuk dan melakukan bisnisnya. Namun di sisi
lain dengan ikut di pasar terbuka kita akan mudah untuk mencapai tujuan
utama, misalkan untuk menjual sertifikat berharga kita mudah untuk
menemukan pihak yang akan membeli surat atau sertifikat.
Kita juga lebih mudah untuk membangung sebuah jaringan dimana ketika
terjadi suatu kesulitan atau masalah bisa terselesaikan dengan baik dan
efektif. Pelaksanaan kebijakan ini dilakukan dalam jangka waktu yang
cukup panjang karena setiap hasil penjualan surat atau sertifikat berharga
digunakan untuk mengatasi permasalahan yang ada dan mempertahankan
kestabilan jumlah uang yang beredar di masyarakat.
2. Kebijakan Diskonto (Discount Policy)
Diskonto adalah suatu kebijakan dimana terjadi pengurangan dan
penambahan jumlah uang yang beredar di masyarakat dengan cara
mengubah diskonto yang dimiliki oleh bank umum. apabila pada suatu
kondisi dimana bank sentral telah memperhitungkan bahwasannya jumlah
uang yang beredar telah mencapai atau melebihi kebutuhan (termasuk
gejala inflasi), maka bank sentral secara otomatis akan mengeluarkan
keputusan untuk menaikkan suku bunga dengan hal ini maka jumlah uang
yang beredar di masayarakat sedikit demi sedikit akan berkurang,
biasanya banyak orang yang berkeinginan untuk menabungkan uangnya
di Bank.
Contohnya ketika Bank sentral memberlakukan kenaikan dan penurunan
suku bunga, hal ini dilakukan untuk menstabilkan jumlah uang yang
beredar di masyarakat, ketika terjadi gejala inflasi dimana uang
masyarakat yang beredar banyak maka diterapkanlah sistem diskonto
kenaikan suku bunga agar masyarakat mau dan tertarik untuk menabung.
Di sisi lain ketika jumlah uang yang beredar di masyarakat rendah maka
suku bunga Bank akan diturunkan agar masyarakat tidak menabung dan

13
uangnya tetap berputar sehingga jumlah uang yang beredar semakin lama
akan stabil.
Untuk kebijakan diskonto ini sering mengalami hambatan apalagi ketika
adanya kenaikan dan penurunan suku bunga maka akan menimbulkan
ketergantungan. dimana mereka hanya mau menabung saat suku bunga
naik dan ketika suku bunga turun maka pemborosan uang akan terjadi di
dalamnya. Namun di sisi lain penerapan diskonto memiliki fleksibilitas
yang lebih tinggi karena perubahan strategi di dalamnya mudah
dilaksanakan, misal ketika saat itu suku bunga tinggi dan ketika terjadi
kekurangan jumlah uang yang beredar atau mengalami krisis suku bank
bisa diturunkan saat itu juga. Hal ini mudah karena yang digunakannya
adalah sebuah sistem atau program yang sudah di desain sedemikian rupa
sehingga tidak membutuhkan waktu dan dana yang besar. Cukup
melakukan pemberitahuan kepada para nasabah bahwasannya suku bunga
akan diturunkan karena krisis.
3. Kebijakan Cadangan Khas
Kebijakan ini berhubungan dengan cash ratio, dimana Bank sentral
memiliki wewenang untuk membuat peraturan yakni dalam menaikkan
ataupun menurunkan cadangan khas atau yang sering kita sebut dengan
cash ratio. Bank umum dalam keadaan ini akan menerima uang dari para
nasabah dalam bentuk giro, tabungan, deposito, dan jenis tabungan
lainnya. Namun dalam hal ini ada sebuah pengecualian yakni adanya
presentase tertentu dari uang yang disetor oleh nasabah yang tidak
diperbolehkan untuk dipinjamkan.
Bank sentral menahan atau melarang sebagian dari tabungan serta uang
yang beredar di masyarakat baik deposito, giro, sertifikat dan lain lain
untuk dipinjamkan kepada pihak lain, hal ini dimaksudkan untuk
membuat kondisi peredaran uang menjadi stabil kembali, yakni dengan
berupaya menurunkan jumlah uang berlebih yang beredar di masyrakat.
Begitu pula sebaliknya ketika uang yang beredar di masyarakat sedikit
maka Bank sentral akan melakukan kebijakan yakni mengeluarkan

14
cadangan khasnya yang telah diperoleh sebelumnya untuk dipinjamkanm
kepada masyarakat. Tujuan utama diberlakukannya kebijakan cadangan
khas adalah untuk mensiasati ketidakstabilan kondisi uang yang beredar
di masyarakat. Dengan adanya kebijakan ini maka pemerintah atau Bank
sentral tidak bingung ketika ada ketidakstabilan dalam hal jumlah uang
yang beredar di masyarakat, karena ketika kondisi normal dan ada
kelebihan maka pemerintah akan mencadangkan kelebihan itu dengan
tujuan untuk digunakan ketika ada sebuah masalah yang berkaitan dengan
jumlah uang yang beredar di masyarakat. Hal ini bisa diterapkan
dimanapun berada karena dengan persiapan awal kita tidak akan
kesulitan dalam menghadapi sebuah masalah meskipun datangnya secara
tiba-tiba.
4. Kebijakan Kredit Ketat
Sesuai dengan namanya yang mengandung unsur ketat maka kebijakan
yang satu berhubungan dengan pengawasan. Pengawasan terhadap
jumlah uang yang beredar di masyarakat. Dengan adanya kebijakan
diharapkan perekonomian mampu membaca situasi dengan baik dan
mencari sebuah pemecahan masalah ketika kita hidup bersama. Kredit ini
diberikan bank umum dengan beberapa syarat yakni karakter, kapasitas,
jaminan, kapital, dan kondisi perekonomian. Langkah ini sangat tepat
diambil ketika terjadi inflasi di daerah tersebut. Contohnya ketika
peredaran uang di masyarakat tidak merata dan sering terjadi fluktuatif
maka bank sentral akan menerapkan sistem pajak kredit ketat agar
tidak ada satupun pihak yang menyelewengkan uang yang ada. Hal ini
sangat efektif ketika terjadi sebuah kekacauan di suatu negara, karena
apapun alasannya semua pihak harus mentaatinya dan jika ada sebuah
pelanggaran atau penyelewengan akan mendapatkan sebuah sanksi dan
hukuman sesuai dengan aturan yang ada. Kefefktifan kebijakan ini tidak
perlu diragukan lagi karena sistem ini akan mempersempit peluang
pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dalam membuat atau
menciptakan suatu permasalahan.

15
5. Kebijakan Dorongan Moral (Moral Suasion)
Kebijakan atau tindakan yang satu ini berbeda dengan yang lainnya
karena dalam upayanya menstabilkan jumlah uang yang beredar baik
untuk menurunkan dan menaikkan jumlah uang tersebut. Cara atau
tindakan yang ditempuh oleh kebijakan ini adalah dengan pengumuman,
pidato dan edaran yang ditunjukkan pada bank umum dan pelaku
ekonomi lainnya.
Pengumuman, pidato dan edaran ini berisi tentang ajakan atau larangan
dengan tujuan menahan pinjaman tabungan dan melepaskan pinjaman
yang ada. Untuk kebijakan yang satu ini layaknya seperti perintah dari
atasan dan secara langsung akan ditindak lanjuti. Untuk kebijakan ini
memiliki kekurangan yakni tidak semua responden yang diperintahkan
untuk melakukan perintah tersebut. Hal ini terjadi karena tidak ada aksi
yang signifikan dan control yang minimal.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, dalam upaya pengendalian
moneter seperti investasi, suku bunga dan jumlah uang beredar, Bank
Indonesia selaku Bank Sentral mempunyai kebijakan yang digunakan
dalam pengendalian besaran moneter. Kebijakan moneter sendiri
memiliki beberapa instrumen dalam proses pengendaliannya, yang
masing-masing instrumen memiliki fungsi tersendiri. Setiap terjadi
gejolak moneter maka ada instrumen yang dipilih pemerintah agar
mampu menangani permasalahan tersebut.

F. Mengenal Kebijakan Fiskal


Bicara tentang fiskal, mungkin mengingatkan Anda dengan kabar bahwa
pada November 2017 lalu, bank dunia memberikan pinjaman senilai US$300
juta atau setara Rp4,05 triliun.
Pinjaman ini digelontorkan untuk membantu meningkatkan belanja
daerah, termasuk dalam hal administrasi pendapatan dan kebijakan perpajakan.
Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo A. Chaves juga
mengungkapkan, pinjaman ini diberikan dalam rangka melanjutkan kemajuan

16
signifikan yang telah Indonesia capai sampai saat ini. Menurutnya, reformasi
fiskal perlu diteruskan agar Indonesia bisa memenuhi aspirasinya.

17
G. Tujuan Kebijakan Fiskal
Secara garis besar, tujuan kebijakan fiskal adalah untuk memengaruhi
jalannya perekonomian dengan berbagai sasaran berikut ini:
1. Meningkatkan PDB dan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan fiskal bertujuan
untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara maksimal karena
berpengaruh besar dengan pemasukan atau pendapatan negara, meliputi:
bea dan cukai, pajak bumi dan bangunan, pajak penghasilan, devisa
negara, impor, pariwisata, dan lainnya.
Selain itu, contoh pengeluaran negara yang dimaksud di antaranya:
1) Pembangunan sarana dan prasarana umum.
2) Belanja persenjataan.
3) Proyek pemerintah.
4) Pesawat dan program lain untuk kesejahteraan masyarakat.
2. Memperluas lapangan kerja dan mengurangi pengangguran. Seperti yang
kita ketahui, pengangguran merupakan salah satu masalah yang menjadi
momok di suatu negara. Di Indonesia, tingkat pengangguran sudah
berkurang 140.000 jiwa.
Menurut persentase tingkat pengangguran terbuka, jika pada Februari 2017
angkanya mencapai 5,33%, pada Februari tahun ini angkanya berada di
level 5,13%.
Hal tersebut juga tidak terlepas dari pelaksanaan kebijakan fiskal.
Kebijakan fiskal memang diaplikasikan serta menjadi prioritas dalam
upaya pencegahan timbulnya pengangguran.
3. Menstabilkan harga-harga barang/mengatasi inflasi. Turunnya harga suatu
barang membuat hilangnya harapan untuk mendapatkan keuntungan bagi
sektor swasta. Akan tetapi, harga yang terus meningkat juga bisa
mengakibatkan inflasi.
Di sisi lain, inflasi bisa memberikan keuntungan seperti menciptakan
kesempatan kerja penuh. Akan tetapi, inflasi juga bisa berdampak negatif
pada kelompok atau orang yang berpenghasilan rendah karena daya beli
jadi menurun.

18
Masalah inflasi yang tak kunjung stabil berpotensi besar membuat
kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah berkurang. Melalui
kebijakan fiskal, tingkat pendapatan nasional, kesempatan kerja, tinggi
rendahnya investasi nasional, dan distribusi penghasilan nasional pun
diharapkan akan berjalan dengan baik.

H. Instrumen Kebijakan Fiskal


Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran
pemerintah yang berhubungan erat dengan pajak. Asumsinya, jika tarif pajak
diturunkan maka kemampuan daya beli di masyarakat akan meningkat dan
industri pun bisa meningkatkan jumlah penjualan. Begitu juga sebaliknya.

I. Macam-Macam Kebijakan Fiskal


Pada dasarnya, kebijakan fiskal terbagi menjadi dua macam, yaitu
menurut teori dan menurut jumlah penerimaan dan pengeluaran. Nah, berikut
ini penjelasannya: 
1. Kebijakan fiskal dari segi teori
Kebijakan fiskal fungsional: merupakan kebijakan dalam
pertimbangan pengeluaran dan penerimaan anggaran pemerintah
ditentukan dengan melihat akibat-akibat  tidak langsung terhadap
pendapatan nasional terutama guna meningkatkan kesempatan kerja.
Kebijakan fiskal yang disengaja: merupakan kebijakan dalam
mengatasi masalah ekonomi yang sedang dihadapi dengan cara
memanipulasi anggaran belanja secara sengaja, baik melalui perubahan
perpajakan maupun perubahan pengeluaran pemerintah. Terdapat
tiga bentuk kebijakan fiskal yang disengaja. Pertama, membuat perubahan
pada pengeluaran pemerintah. Kedua, membuat perubahan pada sistem
pemungutan pajak. Tiga, membuat perubahan secara serentak baik pada
pengelolaan pemerintah atau sistem pemungutan pajaknya.
Kebijakan fiskal yang tidak disengaja: merupakan kebijakan dalam
mengendalikan kecepatan siklus bisnis supaya tidak terlalu fluktuatif. Jenis

19
kebijakan fiskal tak disengaja adalah proposal, pajak progresif, kebijakan
harga minimum, dan asuransi pengangguran.
2. Kebijakan fiskal dari jumlah penerimaan dan pengeluaran
Kebijakan fiskal seimbang: merupakan kebijakan yang membuat
penerimaan dan pengeluaran menjadi sama jumlahnya. Ada dampak
positif dan negatif dari kebijakan fiskal yang satu ini. Positifnya, negara
jadi tidak perlu meminjam sejumlah dana, baik dari dalam negeri maupun
luar negeri. Negatifnya, kondisi perekonomian akan terpuruk bila ekonomi
negara dalam kondisi yang tidak menguntungkan.
Kebijakan fiskal surplus: pada kebijakan ini jumlah pendapatan
harus lebih tinggi dibandingkan pengeluaran. Kebijakan ini merupakan
cara untuk menghindari inflasi.
Kebijakan fiskal defisit: merupakan kebijakan yang berlawanan
dengan kebijakan surplus. Salah satu kelebihan kebijakan ini adalah
mengatasi kelesuan dan depresi pertumbuhan perekonomian. Sedangkan
kekurangannya, negara selalu dalam keadaan defisit.
Kebijakan fiskal dinamis: kegunaan kebijakan ini adalah
menyediakan pendapatan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan
pemerintah yang bertambah seiring berjalannya waktu.

20
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang
bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang
tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal
(keseimbangan neraca pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro
Bank sentral di Indonesia dalam operasi kebijakan moneternya bisa
menggunakan pendekatan kuantitas atau pendekatan suku bunga/harga.
Kerjasama dan koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia melalui
kebijakan makro ekonomi yang terintegrasi sangatlah diperlukan.
Pemerintah menjalankan kebijakan fiskal dengan maksud untuk
mempengaruhi jalannya perekonomian ke arah yang lebih baik sehing
pemerintah bisa mengawasi dan mengendalikan keadaan perekonomian di
Indonesia

B. Saran

1. Kepada pemerintah indonesia diharapkan dapat meningkatkan investasi


serta mengatur kembali jumlah uang beredar dan suku bunga agar lebih
terkendali. Pengendalian jumlah uang beredar dan suku bunga akan
berpengaruh terhadap pendapatan nasional negara yang akan menunjang
pertumbuhan ekonomi di indonesia.
2. Bagi akademisi, dengan adanya makalah ini diharapkan bisa dijadikan
sebuah bahan referensi untuk kegiatan mengajarnya. Dikarenakan makalah
ini memiliki kekurangan seperti keterbatasan dalam memperoleh data dan
periode dan periode waktu yang digunakan hanya 10 tahun. Sehingga
makalah selanjutnya diharapkan mampu meneliti dengan menambahkan
variabel bebas lainnya yang termasuk kedalam instrumen kebijakan
moneter serta pertumbuhan ekonomi. Seperti inflasi, investasi luar negeri

21
dan sebagainya serta menambah tahun penelitian sehingga mampu
memberikan hasil penelitian yang lebih baik.
3. Bagi masyarakat umum, dengan hasil makalah ini diharapkan agar
masyarakat lebih peka terhadap kebijakan yang di terapkan pemerintah.
Ketika suku bunga naik maka tujuan dari pemerintah adalah agar
masyarakat melakukan investasi karena ketika masyarakat melakukan
investasi maka jumlah uang yang beredar di masyarkat akan berkurang.

22
DAFTAR PUSTAKA

Adiwarman A. Karim. Ekonomi Makro Islami.(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,


2010), hlm. 225-226
Jhingan, M.L, Ekonomi Pembangunan Dan Perencanaan, (PT. Raja grafindo
persada, Jakarta, 2016) hlm. 370.
John Maynard Keynes. The General Theory of Employment, interest, and money.
(Florida: Harcourt Brace Jivanovich, 1953), hlm. 194 – 209.
Jonni Manurung, Adler Haymans Manurung, Ekonomi Keuangan Dan Kebijakan
Moneter, h. 186.
M. Natsir Ekonomi Moneter dan Kebanksentralan (Jakarta: Mitra Wacana Media,
2014), h.1
Maipita, I., Dan Jantan, M., & Razak, N. A. (2010). DAMPAK KEBIJAKAN
FISKAL TERHADAP KINERJA EKONOMI DAN ANGKA
KEMISKINAN DI INDONESIA. Buletin Ekonomi Moneter Dan
Perbankan, 12(4), 421 -. https://doi.org/10.21098/bemp.v12i4.248
Mudrajat Kuncoro, Ekonomi Pembangunan Teori, Masalah Dan Kebijakan,
(Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2006) Hlm. 89.
Nawati, Nuris. 2019. ANALISIS KEBIJAKAN MONETER TERHADAP
PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA TAHUN 2008-2017
DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM. FAKULTAS EKONOMI
DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN
LAMPUNG
Seftarita, Chenny. (2005). Kebijakan Fiskal, Kebijakan Moneter Dan
Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia.
Shobirin, “kebijakan moneter islami”, jurnal ekonomi mikro makro syariah,
(2010).
Warjiyo, Perry. 2003. Kebijakan Moneter di Indonesia. Pusat Pendidikan dan
Studi Kebanksentralan : Jakarta

23