Anda di halaman 1dari 49

Fraktur Femur

Saturday, January 19, 2013 | Posted by saputra kun | DOWNLOAD Versi lengkap (136 kb)

A. PENGERTIAN Adalah fraktur pada tulang yang biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian. Patah pada bagian ini dapat mengakibatkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam syok. (Reksoprodjo, 1998).

B. KLASIFIKASI Menurut Schrok (1997: 458) ada 3 klasifikasi fraktur femur antaralain: a. Fraktur femur 1/3 proximal

b. Fraktur femur 1/3 medial c. Fraktur femur 1/3 distal

C. MEKANISME CEDERA Daerah tulang-tulang ini sering mengalami patah. Umumnya fraktur femur terjadi pada batang 1/3 tengah. Biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas dikotakota besar atau jatuh dari ketinggian. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam syok. Fraktur femur amat sering ditemukan pada anak-anak yang lebih tua dan biasanya akibat benturan langsung (misalnya; kecelakaan lalu lintas) atau jatuh dari tempat tinggi. Tetapi pada anak-anak yang berumur di bawah 2 tahun. Penyebabnya yang paling lazim adalah penyiksaan pada anak (Anderson,1982) kalau terdapat beberapa fraktur dalam stadium penyembuhan yang berbeda.

D. MANIFESTASI KLINIS Bagian paha yang patah lebih pendek dan lebih besar dibanding dengan normal serta fragmen distal dalam posisi eksorotasi dan aduksi karena empat penyebab:

1. Tanpa stabilitas longitudinal femur,otot yang melekat pada fragmen atas dan bawah berkontraksi dan paha memendek, yang menyebabkan bagian paha yang patah membengkak. 2. Aduktor melekat pada fragmen distal dan abduktor pada fragmen atas. Fraktur memisahkan dua kelompok otot tersebut, yang selanjutnya bekerja tanpa ada aksi antagonis. 3. Beban beratkaki memutarkan fragmen distal ke rotasi eksterna 4. Femur dikelilingi oleh otot yang mengalami laserasi oleh ujung tulang fraktur yang tajam dan paha terisi dengan darah sehingga terjadi pembengkakan.

E. KOMPLIKASI 1. Peradarahan, dapat menimbulkan kolaps kardiovaskuler. 2. Infeksi, terutama jika luka terkontaminasi dandebridement tidak memadai 3. Non-union, lazim terjadi pada fraktur pertengahan batang femur, trauma kecepatan tinggi dan fraktur dengan interposisi jaringan lunak diantara fragmen. Fraktur yang tidak menyatu memerlukan bone grafting dan fiksasi interna. 4. Malunion, disebabkan oleh abduktor dan aduktor yang bekerja tanpa aksi antagonis pada fragmen atas untuk abduktor dan fragmen distal untuk aduktor. Deformitas harus diakibatkan oleh kombinasi gaya ini. 5. Trauma arteri dan saraf jarang tetapi mungkin terjadi

F. PENATALAKSANAAN 1. Penatalaksanaan Fraktur femur Penatalaksanaan fraktur femur ini mengalami banyak perubahan dalam waktu sepuluh tahun terakhir ini. Traksi dan spicacasting atau cast bracing mempunyai banyak kerugian dalam hal memerlukan masa berbaring dan rehabilitasi yang lama, meskipun merupakan penatalaksanaan non-invasif pilihan untuk anak-anak. Oleh karena itu tindakan ini tidak banyak dilakukan pada orang dewasa. Bila penderita stabil dan luka telah diatasi, fraktur dapat diimobilisasi dengan salah satu dari cara-cara berikut: a. Traksi

Comminuted fracture dan fraktur yang baik tidak sesuai untuk intramedullary nailing paling baik diatasi dengan manipulasi di bawah anestesi dan balanced sliding skeletal traction yang dipasang melaluitibial pin. Traksi longitudinal yang memadai diperlukan selama 24 jam untuk mengatasi spame otot dan mencegah pemendekan dan fragmen harus ditopang di posterior untuk mencegah pelengkungan. b. Fiksasi Interna Intramedullary nail ideal untuk fraktur transversal, tetapi untuk fraktur lainnya kurang cocok. Fraktur dapat dipertahankan lurus dan terhadap panjangnya dengan nail, tetapi fiksasi mungkin tidak cukup kuat untuk mengontrol rotasi. Nailing diindikasikan jika hasil pemeriksaan radiologis memberi kesan bahwa jaringan lunak mengalami interposisi diantara ujung tulang karena hal ini hampir selalu menyebabkan non-union. Keuntungan intramedullary nailing adalah dapat memberikan stabilitas longitudinal serta kesejajaran (alignment) serta membuat penderitadapat diimobilisasikan cukup cepat untuk meninggalkan rumah sakit dalam waktu 2 minggu setelah fraktur. Kerugian meliputi anestesi, trauma bedah tambahan danrisiko infeksi. Closed nailing memungkinkan mobilisasi yang tercepat dengantrauma yang minimal, tetapi paling sesuai untul fraktur transversal tanpa pemendekan. Comminuted fracture paling baik dirawat dengan locking nail yang dapat mempertahankanpanjang dan rotasi. c. Fiksasi Eksterna Bila fraktur yang dirawat dengantraksi stabildan massa kalus terlihat pada pemeriksaan radiologis, yang biasanya pada minggu ke enam, cast brace dapat dipasang. Fraktur dengan intramedullary nail yang tidak memberi fiksasi yang rigid juga cocok untuktindakan ini. 2. Perawatan Klien Fraktur a. Perawatan klien dengan fraktur tertutup Klien dengan fraktur tertutup harus diusahakan untuk kembali ke aktivitas biasa sesegera mungkin. Penyembuhan fraktur dan pengembalian kekuatan penuh dan mobilitas mungkin memerlukan waktu sampai berbulan-bulan. Klien diajari bagaimana mengontrol. Pembengkakan dan nyeri sehubungan dengan fraktur dan trauma jaringan lunak. Mereka didorong untuk aktif dalam batas imobilisasi fraktur. Tirah baring diusahakan seminimal mungkin. Latihan segera dimulai untuk mempertahankan kesehatan otot yang sehat, dan untuk meningkatkan kekuatan otot yang dibutuhkan untuk pemindahan, menggunakan alat bantu (misalnya: tongkat, walker).

Klien diajari mengenai bagaimana menggunakan alat tersebut dengan aman. Perencanaan dilakukan untuk membantu klien menyesuaikan lingkungan rumahnya sesuai kebutuhan dan bantuan keamanan pribadi, bila perlu. Pengajaran klien meliputi perawatan diri, informasi obatobatan. b. Perawatan klien fraktur terbuka Pada fraktur terbuka (yang berhubungan dengan luka terbuka memanjang sampai permukaan kulit dan ke daerah cedera tulang) terdapat resiko infeksi seperti: osteomielitis, gas gangren, dan tetanus. Tujuan penanganan adalah meminimalkan kemungkinan infeksi luka, jaringan lunak dan tulang untuk mempercepat penyembuhan jaringan lunak dan tulang. Luka dibersihkan, didebridemen (benda asing dan jaringan mati diangkat), dan diirigasi. Dilakukan usapan luka untuk biakan dan kepekaan. Mungkin perlu dilakukan grapt tulang untuk menjembatani defek, namun harus yakin bahwa jaringan resipien masih sehat dan mampu memfasilitasi penyatuan.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG Menurut Doegoes,dkk (1999) pemeriksaan penunjang pada kasus fraktur 1. Scan tulang, tomogram, magnetic resonance imaging (MRI) memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak. 2. Arteriogram, dilakukan bila dicurigai adanya kerusakan vaskuler 3. Profil koagulasi 4. Perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, tranafusi multiple atau cairan hati.

DAFTAR PUSTAKA
Apley, A.C & Solomon, L. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan fraktur Sistem Apley, ed 7. Jakarta: Widya Medika. Capernito, Linda Juall. 1993. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis, ed 6. Jakarta: EGC. Doengoes, M.E, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, ed 3. Jakarta: EGC. Engram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, vol 2. Jakarta: EGC.

Harnowo, S. 2001. Keperawatan Medikal Bedah untuk Akademi Keperawatan. Jakarta: Widya Medika. Hidayat, Aziz.A. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika. Long, B.C. 1988. Perawatan Medikal Bedah Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Bandung: Yayasan IAPK Padjajaran. Price, S A & Wilson, L M. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, jilid 2. Jakarta: EGC Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, ed 3, jilid 2. Jakarta: Aesculapius. Labels:Muskuloskeletal Asuhan keperawatan Fraktur Femur atau patah tulang berikut kami hadirkan secara lengkap sebagai referensi Anda dalam menyusun Askep Fraktur Femur. Askep Fraktur berikut kami dapatkan dari Ners Raiz seorang perawat profesional. Untuk lebih jelasnya silahkan untuk simak kelanjutan dari informasi berikut dibawah ini :
Asuhan Keperawatan (ASKEP) Fraktur Femur

A. Konsep dasar i. Definisi Fraktur adalah diskonmtunuitas struktur pada tulang (sylvia anderson, 1995 : 261). Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang (marilynn e. Doenges, 2000 : 761). Faraktur femur 1/3 distal adalah suatu keadaan terputusnya kontinuitas tulang femur pada bagian ujung.

Sinistra adalah bagian badan tubuh sebelah kiri sedangkan dextra adalah bagian tubuh sebelah kanan. Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenao stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (brunner & suddart, 2000), dari beberapa pengertian diatas, disimpulkan bahwa pengertian fraktur femur 1/3 distal sinistra adalah terputusnya kontinuitas struktur tulnag femur kiri pada 1/3 bagian ujung. ii. Etiologi Etiologi patah tulang menurut barbara c. Long adalah
Fraktur akibat peristiwa trauma -jika kekuatan langsung mengenai tulang maka dapat terjadi patah pada tempat yang terkena, hal ini juga mengakibatkan kerusakan pada jaringan lunak disekitarnya. Jika kekuatan tidak langsung mengenai tulang maka dapat terjadi fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang terkena dan kerusakan jaringan lunak ditempat fraktur mungkin tidak ada. Fraktur akibat kecelakaan atau tekanan - tulang jika bisa mengalami otot-otot yang berada disekitar tulang tersebut tidak mampu mengabsobsi energi atau kekuatan yang menimapnya. Fraktur patologis - adalah suatu fraktur yang secara primer terjadi karena adanya proses pelemahan tulang akibat suatu proses penyakit atau kanker yang bermetastase atau ostepororsis.

iii. Patofisiologi Barbara c. Long menguraikan bahwa ketika tulang patah, periosteum dan pembuluh darah di bagian korteks, sumsum tulang dan jaringan lunak didekatnya (otot) cidera pembuluh darah ini merupakan keadaan derajat yang memerlukan pembedahan segera sebab dapat menimbulkan syok hipovolemik. Pendarahan yang terakumulasi menimbulkan pembengkakan jaringan sekitar daerah cidera yang apabila ditekan atau digerakkan dapat timbul rasa nyeri yang hebat yang mengakibatkan syok neurogenik. Sedangkan kerusakan pada system persarafan, akan menimbulkan kehilangan sensasi yang dapat berakibat paralysis yang menetap pada fraktur juga terjadi keterbatasan gerak oleh karena fungsi pada daerah yang cidera. Kerusakan pada kulit dan jaringan lainnya dapat timbul oleh karena trauma atau mecuatnya fragmen tulang yang patah. Apabila kulit robek an luka memiliki hubungan dengan tulang yang patah maka dapat mengakibatkan kontaminasi sehingga resiko infeksi akan sangat besar. Sewaktu tulang patah pendarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah dan ke dalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami kerusakan. Reaksi pendarahan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Sel-sel darah putih dan sel anast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke tempat tersebut. Fagositosis dan pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai. Di tempat patah terbentuk fibrin (hematoma fraktur) dan berfungsi sebagai jalajala untuk melekatkan sel-sel baru. Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru umatur yang disebut callus. Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel tulang baru mengalami remodelling untuk membentuk tulang sejati. (corwin, 2000 : 299).

iv. Penatalaksanaan
Reposisi, mengembalikan allgment dapat dicapai dengan manipulasi tertutup atau operasi terbuka. Immobilisasi, mempertahankan posisi Fiksasi eksterna (gips dan traksi) Fiksasi interna (orif), dengan lempeng logam (plate) dan nail yang melintang pada cavum medularis tulang. Rehabilitasi mengembalikan fungsi normal bagian yang cidera.

v. Komplikasi
Deformitas ekstremitas Perbedaan panjang ekstremitas Keganjilan pada sendi Keterbatasan gerak Cedera saraf yang menyebabkan mati rasa Perburukan sirkulasi Ganggren Kontraksi iskemik volkmann Sindrom kompartemen

vi. Tanda dan gejala 1. Deformitas - daya terik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti :
Rotasi pemendekan tulang Penekanan tulang

2. Bengkak : edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur 3. Echumosis dari perdarahan subculaneous 4. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur 5. Tenderness/keempukan 6. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan. 7. Kehilangan sensasi (mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya saraf/perdarahan) 8. Pergerakan abnormal 9. Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah 10. Krepitasi (black, 1993 : 199). Vii. Pemeriksaan penunjang
Foto rontgen untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara - mengetahui tempat dan type fraktur biasanya diambil sebelumlangsung dan sesudah dilakukan operasi dan selama proses penyembuhan secara periodik. Skor tulang tomography, skor c1, mr1 : dapat digunakan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak. Artelogram dicurigai bila ada kerusakan vaskuler

Hitung darah lengkap ht mungkin meningkat ( hemokonsentrasi ) atau menrurun ( perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple) peningkatan jumlah sdp adalah respon stres normal setelah trauma Profil koagulasi perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah transfusi multiple atau cedera hati (doenges, 1999 : 76 ).

B. Asuhan keperawatan fraktur i. Pengkajian pengkajian keperawatan adalah proses pengumpulan, verifikasi / pembuktian dan komunikasi data tentang pasien (patricia a. Potter). Pengkajian ini meliputi data-data tentang :
Informasi biografikal / biodata adalah data factual demografik pasien, meliputi nama, tanggal lahir, jenis kelamin, nama dan alamt anggota keluarga, status perkawinan, agama dan ketaatan pelaksanaannya, pekerjaan, sumber perawatan kesehatan dan tipe asuransi yang dimiliki. Alasan membutuhkan perawatan kesehatan / keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit yang lalu, riwayat keluarga, riwayat lingkungan dan riwayat psikososial.

C. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan rontgen = menentukan lokasi / luasnya fraktur / trauma. Scan tulang = tomogram, scan ct / mri, memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak. Arteriogram = dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai. Hitung darah lengkap = hitung mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (pendarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh trauma multiple), peningkatan jmlah leukosit adalah respon stress normal setelah trauma. Kreatinin = trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal. Profil koagulasi = perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, tranfusi mutiple atau cedera hati.

D. Pola-pola kesehatan fungsional Pengkajian komponen ini dnegan menggunakan konsep model gordon (1991-1992) dikutip oleh long 1996 meliputi :
Persepsi kesehatan pemeliharanaan kesehatan : persepsi kesehatan pasien tentang kesehatan umum dan bagaimana mengatur kesehatan (menurut klien) Pola nutrisi - pola masukan makanan dan cairan, pada pasien paska pembedahan ada kemungkinan dijumpai penurunan masukan karena mual, muntah akibat efek anestesi dan penambahan masukan melalui jalur parenteral. Pola eliminasi - pola dan fungsi eksresi (usu, kandung kemih dan kulit), pada bagian paska pembedahan dapat dijumpai penggunaan kateter dan penurunan frekuensi bab akibat penurunan motilitas usus sebagai efek anestesi. Pola kognitif dan persepsi - keadekuatan alat sensori dan kemampuan fungsional kognitif, penurunan fungsi mungkin dijumpai karena efek anestesi dan kurangnya pemahaman dn pemberian informasi atau sumber-sumber informasi. Pola kognitif dan persepsi - pola latihan, aktivitas, memanfaatkan waktu luang dan rekreasi. Pada pasien paska pembedahan orif femur 1/3 distal sinistra didapatkan data penurunan fungsi ini akibat nyeri luka operasi dan pembatasan aktivitas sebagai terapi imonilisasi. Istirahat dan tidur - pola tidur dan periode, relaksasi selama 24 jam dan juga kualitas dan kuantitas serta bantuan tidur.

Pola peran dan hubungan - persepsi pasien tentang peran yang utama dan tanggung jawab dalam situasi kehidupan sekarang. Pola konsep diri persepsi diri - sikap individu mengenai dirinya, persepsi diri mengenai citra tubuh. Pola koping-penanganan masalah - pola koping umum dan efektif pada toleransi terhada[ stress sistem pendukung dan kemampuan yang dirasakan untuk mengendalikan dan mengubah situasi. Pola seksualitas reproduksi - kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan pasien dalam hal seksualitas. Pola nilai dan keyakinan

ii. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawaan yang ditegakkan pada pasien fraktur (marilyn e. Doenges)
Nyeri berhubungan dnegan spasme otot, pergerakan fragmen tulang, edema, cidera pada jaringan lunak, alat traksi / immobilisasi, stress dan anestessi. Resiko tinggi disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dnegan penurunan / interupsi thrombus. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan degan tak adekuatnya pertahanan primer (kerusakan kulit, trauma jaringa, terpapar pada lingkungan) prosedur invasive, traksi tulang. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromoskuler (nyeri/ketidaknyamanan). Resiko tinggi terhadap trauma tambahan berhubungan dengan kehialngan integritas tulang. Aktual / resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan cidera tusuk (fraktur terbuka, bedah perbaikan, pemasangan traksi pen/kawat / sekrup) eprubahan sensasi, perubahan sirkulasi, akumulasi ekskresi / sekret, immobilitas fisik.

iii. Intervensi keperawatan A. Nyeri berhubungan dengan spasme otot, pergerakan fragmen tulang, edema, cidera pada jaringan lunak, alat traksi / immobilisasi, stress dan anestesi. Tujuan : menyatakan nyeri tulang Kriteria hasil : menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam aktivitas dnegan tepat dan emnunjukkan penggunaan ketrampilan. Relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual. Intervensi :
Pertahankan immobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, pembebat, traksi. Dukung an tinggikan ekstremitas yang terkena. Evaluasi keluhan nyeri Dorong menggunakan teknik menejemen stress contoh : relaksasi progresif, latihan nafas dalam. Berikan obat sebelum perawatan aktivits.

B. Resiko tinggi disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan penurunan / interupsi aliran drah, cidera vaskuler langsung, edema berlebihan, pembentukan thrombus. Tujuan : memeprtahankan perfusi jaringan

kriteria hasil : perfusi jaringan dapat dieprtahankan, dibuktikan oleh terabanya nadi, kulit kering / hangat, sensasi normal, sensori biasa, tanda vital stabil dan keluaran urine adekuat untuk situasi. Intervensi :
Lakukan pengajian neuromuskuler Pertahankan peninggian ekstremitas yang cedera kecuali indikasi. Kaji keseluruhan panjang eekstremitas yang cedera untuk pembengkakan / pembentukan edema. Selidiki tanda eskemia ekstremitas tiba-tiba. Dorong pasien untuk latihan jari /sendi distal cedera secara rutin.

C. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tak adekuatnya pertahanan primer (keruskan kulit, trauma, jaringa, terpapar pada lingkungan / prosedur invasif, traksi tulang. Tujuan : mencapai penyembuhan luka sesuai waktu. Kriteria hasil : bebas drainase parulen atau eritem dan demam. Intervensi :
Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan kontinuitas. Instruksikan pasien untuk tidak menyentuh isis insersi. Kaji tonus otot, refleks endon dalam dan kemampuan berbicara. Selidiki nyeri tiba-tiba / keterbatasan gerakan dengan edema lokal / eritema keekstremitas cedera. Awasi pemeriksaan laboratorium : hitung darah lengkap, led, kultur dan sensivitas luka /seram / tulang.

D. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengahn kerusakan neuromuskler ( nyeri / ketidaknyamanan, terapi restriktif / immonilsasi tungkai). Tujuan : meningkatkan / mempertahankan mobilitas pada tingkat yang paling tinggi yang mungkin. Kriteria hasil : memprtahankan posisi fungsional, meningkatnya kekuatan / fungsi yang sakit dan menunjukkan teknis yang memampukan melakukan aktivitas. Intervensi :
Kaji derajat immobilitas yang dihasilkan cedera / pengobatan. Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik / rekreasi. Tinggikan eketremitas yang sakit. Jelaskan pantangan dan keterbatasan dalam aktivitas. Bantu / dorong perawatan diri / kebersihan.

E. Resiko tinggi terhadap trauma tambahan berhubungan dengan kehilangan integritas tulang. Tujuan : memeprtahankan stabilitas dan posisi fraktur.

Kriteria hasil : menunjukkan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilisasi pada sisi fraktur dan menunjukkan pembentukan kalus / mulai penyatuan fraktur dengan tepat. Intervensi :
Pertahankan tirah baring . Ekstremitas sesuai indikasi. Letakkan papan dibawah tempat tidur. Sokong fraktur dengan bantal. Evaluasi pembebat ekstremitas terhadap resolusi edema. Kaji ulang foto rontgen.

F. Aktual / resiko tinggi terhadap kerusakan integrutas kulit / jaringan berhubungan dengan cedera tusuk (fraktur terbuka, bedah perbaikan, permasalahan, pemasangan traksi pen / kawat / sekrup) perubahan sensasi, perubahan sirkulasi, akumulasi ekskresi, immobilisasi fisik. Tujuan : ketidaknyamanan hilang kriteria hasil : menyatakan ketidaknyamanan hilang menunjukkan perilaku / teknik untuk mencegah keruakan kulit / memudahkan penyembuhan luka dan mencapai penyembuhan luka sesuai waktu / penyembuhan lesi terjadi. Intervensi :
Masae kulit dan penonjolan tulang. Pertahankan tempat tidur kering dan b

PEMERIKSAAN ORTHOPEDI PENDAHULUAN Tugas seorang dokter adalah seperti detektif yaitu untuk menemukan penyakit seseorang. Untuk dapat membuat diagnosis, maka seorang harus dapat melaksanakan pemeriksaan dengan baik. Dalam pembuatan status (catatan medik) parlu dicatat dengan baik hasil pemeriksaan dan kemudian menyimpulkan hasil pemeriksaan tersebut untuk menegakan diagnosis. Pemeriksaan terdiri atas : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Anamnesa Pemeriksaan fisik Pemeriksaan penunjang Diagnosis Diagnosis banding Rencana terapi Prognosis

Hal ini penting agar catatan medik memiliki nilai, apabila diperlukan evaluasi dari hasil terapi serta melihat sejauh mana persoalan yang dihadapi dapat dilaksanakan penyelesaiannya.

1. A. ANAMNESIS Anamnesis terdiri dari Autoanamnesa dan Alloanamnesa. 1. Autoanamnesa Merupakan anamnesa yang diambil langsung dari pasien yang memiliki keluhan. Dicatat tanggal pengambilan anamnesa dari dan oleh siapa. Ditanyakan persoalan mengapa datang, untuk apa dan kapan dikeluhkan. Biarkan penderita bercerita tentang keluhan sejak awal dan apa yang dirasakan sebagai ketidakberesan, bagian apa dari anggota tubuhnya / lokalisasi perlu dipertegas sebab ada pengertian berbeda, misalnya sakit di kaki, yang dimaksud kaki oleh orang awam adalah anggota gearak bawah dan karenanya tanyakan bagian mana yang dimaksud, mungkin saja lututnya. Kemudian tanyakan gejala suatu penyakit atau beberapa penyakit yang serupa sebagai pembanding. Untuk dapat melakukan anamnesis yan demikian diperlukan pengetahuan yang luas tentang penyakit. Ada beberapa hal yang menyebabkan penderita datang untuk meminta pertolongan, 1. Sakit / nyeri 2. Kekakuan / kelemahan. 3. Kelainan bentuk / pembengkokan. 1. Sakit / nyeri Sifat dari sakit / nyeri

Lokasi setempat / meluas / menjalar. Apa ada penyebabnya. Misalnya Trauma. Sejak kapan dan apakah sudah pernah mendapat pertolongan. Bagaimana sifatnya ; pegel / seperti ditusuk tusuk / rasa panas / ditarik tarik. Intensitasnya ; terus menerus / hanya waktu bergerak / waktu istirahat, dst. Apakah keluhan ini untuk pertama kali atau sering hilang timbul

1. Kekakuan / kelemahan. Kekakuan ; Pada umumnya mengenai persendian. Apakah hanya kaku atau disertai nyeri sehingga pergerakan terganggu. Kelemahan ; Apakah yang dimaksud dengan Instability atau kekuatan otot menurun / melemah / kelumpuhan. 1. Kelainan bentuk / pembengkokan

Angulasi / rotasi / discrepancy (pemendekan / selisih panjang).

Benjolan atau karena ada pembengkakan.

Dari hasil anamnesa yang baik secara aktif oleh penderita maupun aktif (ditanya oleh pemeriksa) dipikirkan kemungkinan yang diderita oleh pasien, sehingga apa yang didapat dari anamnesis dapat dicocokan pada pemeriksaan fisik kemudian. 1. Alloanamnesa Pada dasarnya sama dengan autoanamnesa, tetapi alloanamnesa didapat dari orang lain selain penderita. Hal ini penting bila berhubungan dengan anak kecil / bayi, orang tua yang sudah mulai demensia (pikun) atau penderita yang tidak sadar / sakit jiwa. 1. B. PEMERIKSAAN FISIK Dibagi menjadi dua, yaitu ; 1. Pemeriksaan umum (Status Generalisata). 2. Pemeriksaan setempat (Status Lokalis). 1. Pemeriksaan Umum (Status Generalisata) Perlu menyebutkan ; 1. Keadaan umum (KU) ; baik / buruk Yang dicatat adalah tanda tanda vital, yaitu :

Kesadaran penderita ; compos mentis / delirium / soporus / coma. Kesakitan Tanda vital ; tensi, nadi, pernafasan dan suhu.

1. Periksa dari mulai kepala, leher, dada (thorax), perut (abdomen ; hati, lien), kelenjar getah bening serta kelamin. 2. Ekstremitas atas dan bawah serta punggung (tulang belakang). 1. Pemeriksaan Setempat (Status Lokalis) Harus dipertimbangkan keadaan proksimal serta bagian distal dari anggota tubuh terutama mengenai status neurovaskuler. Pada pemeriksaan orthopedi / musculoskeletal yang penting adalah (appley) : 1. Look (Inspeksi) 2. Feel (Palpasi) 3. Move ( pergerakan, terutama mengenai lingkup gerak)

Disamping gerak perlu dilakukan pengukuran bagian yang penting untuk membuat kesimpulan kelainan, apakah suatu pembengkakan atau atrofi, serta melihat adanya selisih panjang (discrepancy). 1. Look (Inspeksi) Perhatikan apa yang dapat dilihat, antara lain :

Sikatrik (jaringan parut, baik yang alamiah maupun yang buatan (bekas pembedahan)) Caf au lait spot (birth mark) Fistulae Warna (kemerahan / kebiruan (livide) / hiperpigmentasi) Benjolan / pembengkakan / cekukan dengan hal hal yang tidak biasa, misalnya adanya rambut diatasnya, dst. Posisi serta bentuk dari ekstremitas (deformitas). Jalan pasien (gait, waktu masuk kamar periksa)

1. Feel ( Palpasi) Pada waktu ingin palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki agar dimulai dari posisi netral / posisi anatomi. Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik bagi pemeriksa maupun bagi penderita. Karena itu perlu selalu diperhatikan wajah penderita atau menanyakan perasaan penderita. Yang dicatat adalah :

Perubahan suhu terhadap sekitarnya serta kelembaban kulit. Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau hanya oedema, terutama daerah persendian. Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainannya (1/3 proksimal / medial / distal) Otot, tonus pada waktu relaksasi atau kontraksi. Benjolan yang terdapat dipermukaan tulang atau melekat pada tulang. Sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya, konsistensinya dan pergerakan terhadap permukaan atau dasar, nyeri atau tidak dan ukurannya.

1. Move / Gerak Setelah memeriksa feel, pemeriksaan diteruskan dengan menggerakan anggota gerak dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pada pemeriksaan Move, periksalah bagian tubuh yang normal terlebih dahulu, selain untuk mendapatkan kooperasi dari penderita, juga untuk mengetahui gerakan normal penderita.

Apabila ada fraktur, tentunya akan terdapat gerakan yang abnormal didaerah fraktur (kecuali fraktur incomplete).

Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat gerakan dari tiap arah pergerakan, mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dengan ukuran metric. Pencatatan ini penting untuk mengetahui apakah ada gangguan gerak. Kekakuan sendi disebut ankylosis dan hal ini dapat disebabkan oleh factor intraarticuler atau ekstraarticuler. Pergerakan yang perlu dilihat adalah gerakan aktif (apabila penderita sendiri yang menggerakan karena disuruh oleh pemeriksa) dan gerak pasif (bila pemeriksa yang menggerakan).

Selain pencatatan pemeriksaan penting untuk mengetahui gangguan gerak, hal ini juga penting untuk melihat kemajuan / kemunduran pengobatan. Dibedakan istilah Contraction dan Contracture. Contraction adalah apabila perubahan fisiologis dan contracture adalah apabila sudah ada perubahan anatomis. Pada pemeriksaan selain penderita duduk atau berbaring, juga perlu dilihat waktu berdiri dan berjalan. Pada pemeriksaan jalan, perlu dinilai untuk mengetahui apakah adanya pincang atau tidak. Pincang dapat disebabkan oleh karena instability, nyeri, discrepancy atau fixed deformity. v Anggota Gerak Atas 1. Sendi Bahu Merupakan sendi yang bergerak seperti bumi (Global Joint). Ada beberapa sendi yang mempengaruhi gerak sendi bahu, yaitu :

Gerak tulang belakang Gerak sendi stenoclavicula Gerak sendi acromioclavicula Gerak sendi gleno humeral Gerak sendi scapulo thoracal (floating joint)

Karena gerakan tersebut sukar untuk di isolasi satu persatu, maka sebaiknya gerakan diperiksa bersamaan kanan dan kiri. Pemeriksa berdiri dibelakang pasien, kecuali untuk eksorotasi atau bila penderita berbaring, maka pemeriksa ada disamping pasien. 1. Sendi Siku

Gerak flexi ekstensi adalah gerakan ulna humeral (olecranon terhadap humerus). Gerak pronasi dan supinasi adalah gerakan dari antebrachii dengan sumbu ulna. Hal ini diperiksa pada posisi siku 90 untuk menghindari gerak rotasi dari sendi bahu.

1. Sendi Pergelangan Tangan

Untuk memeriksa pergerakan ini, perlu dilakukan fixasi dan gerakan bagian lain kaki dengan memegang tumit dan dilakukan flexi (plantar flexi) dan extensi (dorso flexi).

Abduksi dan adduksi merupakan sebagian gerakan subtalar (Talo calcaneal).

Inversi dan eversi merupakan gerakan seperti supinasi dan pronasi dan merupakan gerakan dari kaki / tarsalia, sedangkan jari jari kaki seperti juga gerakan jari tangan (MTP, PIP, DIP)

1. Tulang Belakang Bagian yang cukup mobile adalah daerah leher dan pinggang. Pencatatan rotasi mungkin masih mudah dicatat dengan derajat, tetapi flexi extensi biasanya selain dengan derajat, dicatat dengan metric jarak dari dua titik tertentu. Pertambahan panjang ukuran metric pada waktu bergerak flexi atau extensi dari dua titik yang prominen, atau garis yang menghubungkan kanan dan kiri yang memotong garis tegak pada ketinggian tertentu. Ukuran panjang dengan lingkaran (diameter) ekstremitas perlu diukur. 1. PEMERIKSAAN PENUNJANG Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pencitraan menggunakan sinar roentgen (X-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang sulit, oleh karena itu minimal diperlukan 2 proyeksi tambahan (khusus) atas indikasi khusus untuk memperlihatkan patologi yang dicari, karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan X-ray harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan penunjang tersebut dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan, misalnya : 1.
o

Untuk fraktur baru, indikasi X-ray adalah untuk melihat jenis dan kedudukan fraktur dan karenanya perlu tampak seluruh bagian tulang (kedua ujung persendian) karena kemungkinan terjadinya fraktur dan dislokasi pada jenis fraktur tertentu, seperti :

Monteggeia Galeazzi

Fraktur segmental femur dengan atau tanpa dislokasi sendi panggul yan sering meleset diagnosisnya karena discrepancy yang terjadi bukan saja oleh frakturnya melainkan juga karena adanya dislokasi. Kelainan tulang belakang, karena adanya super imposed dari iga dan sendi bahu seperti darah cervico-thoracal atau pada fraktur acetabulum diperlukan proyeksi oblique. Hal yang perlu dibaca pada X-ray adalah : 1.
o

Bayangan jaringan lunak

o o o

Tipis tebalnya cortex sebagai akibat reaksi periost atau karena akibat biomekanik (Wolffs Law) atau rotasi. Trabukulasi ada tidaknya rare fraction. Sela sendi serta bentuk arsitektur sendi.

Selain foto polos X-ray (plane X-ray) mungkin perlu teknik khusus :

Tomografi

Tomografi telah berkembang lebih maju dengan adanya CT (Computerised Tomografy) yang dapat membuat selain potongan longitudinal juga potongan tranversal / axial.

Atau dengan contrast, seperti : o Myelografy o Arthrografy o Fistulografy o Scintigrafy menggunakan radioisotope untuk mengetahui penyebaran (metastasis). o MRI / NMR (Magnectic Resonance Imaging atau Nuclear Magnectic Resonance)

Pemeriksaan penunjang lainnya adalah untuk mengetahui tempat berapa jauh dari patologi musculo skeletal diakibatkan / mengakibatkan gangguan saraf, yaitu pemeriksaan :

EEG EMG MMT

Untuk membedakan kekuatan otot (0 5) dan sensoris / sensible deficit dengan pemeriksaan neurologist yang baik. Biofeedback terhadap response stimulasi walaupun klinis secara kasar dapat dibedakan antara kelainan :

UMN LMN

Pemeriksaan laboratorium penunjang lainnya adalah :


Pemeriksaan darah rutin untuk mengetahui keadaan umum, infeksi akut / menahun. Atas indikasi tertentu, diperlukan pemeriksaan : Kimia darah Reaksi imunologi Fungsi hati / ginjal

Bahkan kalau perlu dilakukan pemeriksaan Bone Marrow


Pemeriksaan urin rutin (+Esbach, Bence jones) Pemeriksaan micro organism kultur dan sensitivity test.

Introduksi a. Definisi

Fraktur yang terjadi pada tulang femur. Mekanisme trauma yang berkaitan dengan terjadinya fraktur pada femur antara lain:

(I) pada jenis Femoral Neck fraktur karena kecelakaan lalu lintas, jatuh pada tempat yang tidak tinggi, terpeleset di kamar mandi dimana panggul dalam keadaan fleksi dan rotasi. Sering terjadi pada usia 60 tahun ke atas, biasanya tulang bersifat osteoporotik, pada pasien awal menopause, alkoholism, merokok, berat badan rendah, terapi steroid, phenytoin, dan jarang berolahraga, merupakan trauma high energy; (2) Femoral Trochanteric fraktur karena trauma langsung atau trauma yang bersifat memuntir; (3) Femoral Shaft fraktur terjadi apabila pasien jatuh dalam posisi kaki melekat pada dasar disertai putaran yang diteruskan ke femur. Fraktur bisa bersifat transversal atau oblik karena trauma langsung atau angulasi. Fraktur patologis biasanya terjadi akibat metastasis tumor ganas. Bisa disertai perdarahan masif sehingga berakibat syok b. Ruang lingkup Fraktur tulang femur terdiri atas: Femoral Head fracture, Femoral Neck fracture, Intertrochanteric fracture, Subtrochanteric fracture, Femoral Shaft fracture, Supracondylar/Intercondylar Femoral fracture (Distal Femoral fracture) Femoral Head fraktur Berdasarkan klasifikasi Pipkin: (1) Tipe 1: fraktur dibawah fovea; (2) Tipe 2: fraktur diatas fovea; (3) Tipe 3: tipe 1 atau tipe 2 ditambah fraktur femoral neck; (4) Tipe 4: tipe 1 atau tipe 2 ditambah fraktur acetabulum Femoral Neck fraktur Berdasarkan klasifikasi Pauwel: (1) Tipe 1: sudut inklinasi garis fraktur <30; (2) Tipe 2: sudut inklinasi garis fraktur 30-50; (3) Tipe 3 : sudut inklinasi garis fraktur > 70 Berdasarkan klasifikasi Garden: (1) Garden 1: Fraktur inkomplet atau tipe abduksi/valgus atau impaksi; (2) Garden 2: fraktur lengkap, tidak ada pergeseran; (3) Garden 3: fraktur lengkap, disertai pergeseran tapi masih ada perlekatan atau inkomplet disertai pergeseran tipe varus; (4) Garden 4: Fraktur lengkap disertai pergeseran penuh

Trochanteric fraktur Diklasifikasikan menjadi 4 tipe (1) Tipe 1: fraktur melewati trokanter mayor dan minor tanpa pergeseran; (2) Tipe 2: fraktur melewati trokanter mayor disertai pergeseran trokanter minor; (3) Tipe 3: fraktur disertai fraktur komunitif; (4) Tipe 4: fraktur disertai fraktur spiral Femoral Shaft fraktur Klasifikasi OTA: (1) Tipe A: Simple fraktur, antara lain fraktur spiral, oblik, transversal; (2) Tipe B: wedge/butterfly comminution fraktur; (3) Tipe C: Segmental communition Klasifikasi Winquist-Hansen: (1) Type 0: no communition; (2) Tipe 1: 25% butterfly; (3) Tipe 2: 25-50% butterfly; (4) Tipe 3: >50% communition; (5) tipe segmental ; (6) Tipe 5 : segmental dengan bone loss Supracondylar/Intercondylar Femoral fraktur (Distal Femoral fraktur) Klasifikasi Neer, Grantham, Shelton (1) Tipe 1: fraktur suprakondiler dan kondiler bentuk 1; (2) Tipe II A : fraktur suprakondiler dan kondiler dengan sebagian metafise (bentuk Y); Tipe II B : bagian metafise lebih kecil; (3) fraktur suprakondiler komunitif dengan fraktur kondiler tidak total Untuk penegakkan diagnosis diperlukan diperlukan pemeriksaan fisik. Pada fraktur tipe femoral neck dan trochanteric, ditemukan pemendekkan dan rotasi eksternal. Selain itu ditemukan nyeri dan bengkak. Juga dinilai gangguan sensoris daerah jari I dan II, juga pulsasi arteri distal. Untuk pemeriksaan penunjang berupa foto roentgen posisi anteroposterior dan lateral. Sedangkan pemeriksaan laboratorium antara lain hemoglobin, leukosit, trombosit, CT, BT. c. Indikasi Operasi Pada fraktur femur anak, dilakukan terapi berdasarkan tingkatan usia. Pada anak usia baru lahir hingga 2 tahun dilakukan pemasangan bryant traksi. Sedangkan usia 2-5 tahun dilakukan pemasangan thomas splint. Anak diperbolehkan pulang dengan hemispica. Pada anak usia 5-10 tahun ditatalaksana dengan skin traksi dan pulang dengan hemispica gips. Sedangkan usia 10 tahun ke atas ditatalaksana dengan pemasangan intamedullary nails atau plate dan screw. Untuk fraktur femur dewasa, tipe Femoral Head, prinsipnya adalah reduksi dulu dislokasi panggul. Pipkin I, II post reduksi diterapi dengan touch down weight-bearing 4-6 minggu. Pipkin I, II dengan peranjakan >1mm diterapi dengan ORIF. Pipkin III pada dewasa muda dengan ORIF, sedangkan pada dewasa tua dengan endoprothesis. Pipkin IV diterapi dengan cara yang sama pada fraktur acetabulum. Tipe Femoral Neck, indikasi konservatif sangat terbatas. Konservatif berupa pemasangan skin traksi selama 12-16 minggu. Sedangkan operatif dilakukan pemasangan pin, plate dan screw atau

arthroplasti (pada pasien usia >55 tahun), berupa eksisi arthroplasti, hemiarthroplasti dan arthtroplasti total. Fraktur Trochanteric yang tidak bergeser dilakukan terapi konservatif dan yang bergeser dilakukan ORIF. Penanganan konservatif dilakukan pada supracondylar dan intercondylar, femur atau proksimal tibia. Beban traksi 9 kg dan posisi lutut turns selama 12 minggu. Sedangkan untuk intercondylar, untuk terapi konservatif, beban traksi 6 kg, selama 12-14 minggu. Fraktur Shaft femur bisa dilakukan ORIF dan terapi konservatif. Terapi konsevatif hanya bersifat untuk mengurangi spasme, reposisi dan immobilisasi. Indikasi pada anak dan remaja, level fraktur terlalu distal atau proksimal dan fraktur sangat kominutif. Pada anak, Cast bracing dilakukan bila terjadi clinical union. d. Kontraindikasi Operasi Pada pasien dengan fraktur terbuka, diperlukan debridement hingga cukup bersih untuk dilakukan pemasangan ORIF. Kontraindikasi untuk traksi, adanya thromboplebitis dan pneumonia. Atau pada pasien yang kondisi kesehatan tidak memungkinkan untuk operasi. f. Pemeriksaan Penunjang Foto roentgen, CT Scan dan MRI. Jika perlu dilakukan foto perbandingan. Teknik Terapi Konservatif Operasi Pemasangan skeletal traksi

Pasien berbaring posisi supine, Mikulicz line, dengan fleksi pada art genu. Prosedur aseptik/antiseptik Approach, pada distal femur 1 inchi inferior tubercle adduktor. Pada proximal tibia 1 inchi inferior dan 5 inchi inferior tubercle tibia. Anestesi lokal dengan lidokain 1%. Anestesi disuntikkan hingga ke periosteum. Insisi dengan pisau no.11. Approach bagian medial untuk distal femur dan lateral untuk proksimal tibia Wire diinsersikan dengan menggunakan hand drill, untuk menghindari nekrosis tulang sekitar insersi pin (bila menggunakan alat otomatis). Jenis wire yang bisa digunakan disini adalah Kirschner wire no.5 Pemasangan K-Nail (Kuntscher-Nail) secara terbuka pada fraktur femur 1/3 tengah > Adapun teknik pemasangan K-nail adalah sebagai berikut:

- Pasien tidur miring ke sisi sehat dengan fleksi sendi panggul dan lutut - Approach posterolateral dari trochanter mayor ke condylus lateral sepanjang 15cm di atas daerah fraktur - Fascia lata dibelah dan m. vastus lateralis dibebaskan secara tajam dan septum intermuskularis disisihkan ke anterior

Ligasi a/v perforantes

- Bebaskan periosteum untuk mencapai kedua fragmen fraktur. - Bebaskan kedua fragmen fraktur dari darah dan otot - Ukur panjang K-nail. Pasang guide ke arah fragmen proksimal dan Ietakkan di tengah, dengan posisi fleksi dan adduksi sendi panggul. Bagian kulit yang tertembus dibuat sayatan. - K-nail dipasang dengan guide menghadap posteromedial - Ujung proksimal K-nail dibenamkan 1-2 cm di atas tulang, jika terdapat rotational instability, beri anti rotation bar, atau pakai cerelage wiring atau ganti K-nail - Pemasangan K-nail sebaiknya setelah 7-14 hari pasca trauma. - Cara lain pemasangan K-nail dengan bantuan fluoroscopy. Plating pada fraktur fmur 1/3 tengah

Pasien tidur miring ke sisi sehat dengan fleksi sendi panggul dan lutut Approach posterolateral dari trochanter mayor ke condylus lateral sepanjang 15cm di atas daerah fraktur Fascia lata dibelah dan m. vastus lateralis dibebaskan secara tajam dan septum intermuskularis disisihkan ke anterior Ligasi a/v perforantes Bebaskan periosteum untuk mencapai kedua fragmen fraktur. Bebaskan kedua fragmen fraktur dari darah dan otot Reduksi fragmen fraktur Pemasangan plate (Broad Plate) pada permukaan anterior atau lateral dengan memakai 8 screw pada masing-masing fragmen fraktur.

g. Komplikasi Operasi Komplikasi pada fraktur femur, termasuk yang diterapi secara konservatif antara lain, bersifat segera: syok, fat embolism, neurovascular injury seperti injury nervus pudendus, nervus peroneus, thromboembolism, volkmann ischemic dan infeksi. Komplikasi lambat: delayed union, non union, decubitus ulcer, ISK dan joint stiffness. Pada pemasangan K-nail adventitious bursa, jika fiksasi terlalu panjang dan fiksasi tidak rigid jika terlalu pendek. h. Mortalitas Mortalitas berkaitan dengan adanya syok dan embolisme. i. Perawatan Pasca Bedah

Pasien dengan pemasangan traksi, rawat di ruangan dengan fasilitas ortopedi. Sedangkan pada pasien dengan pemasangan ORIF, rawat di ruangan pemulihan, cek hemoglobin pasca operasi. j. Follow up Untuk Follow up pasien dengan skeletal traksi, lakukan isometric exercise sesegera mungkin dan jika edema hilang, lakukan latihan isotonik. Pada fraktur femur 1/3 proksimal traksi abduksi >30 dan exorotasi. Pada 1/3 tengah posisi abduksi 30 dan tungkai mid posisi, sedangkan pada 1/3 distal, tungkai adduksi < 30 dan kaki mid posisi. Pada fraktur distal perhatikan ganjal lutut, berikan fleksi ringan, 15. Setiap harinya, perhatikan arah, kedudukan traksi, posterior dan anterior bowing. Periksa dengan roentgen tiap 2 hari sampai accepted, kemudian tiap 2 minggu. Jika tercapai clinical union, maka dilakukan weight bearing, half weight bearing dan non weight bearing dengan jarak tiap 4 minggu. Sedangkan untuk follow up pasca operatif, minggu ke-1 > hari pertama kaki fleksi dan ektensi, kemudian minggu selanjutnya miring-miring. Minggu ke-2 jalan dengan tongkat dan isotonik quadricep. Fungsi lutut harus pulih dalam 6 minggu. Pada pasien anak, follow up dengan roentgen, jika sudah terjadi clinical union, pasang hemispica dan pasien boleh kontrol poliklinik.

About these ads

Laporan Pendahuluan Fraktur (Patofisiologi, Definisi, Etiologi, Klasifikasi, Manifestasi Klinik)


Posted March 8, 2011 by jfikriamrullah in Uncategorized. 1 Comment

12 Votes

DEFINISI Fracture is abreak in the continuity of bone and is defined according to its type and extent. (Brunner &Suddarth, 2008) Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang terjadi karena adanya tekanan pada tulang yang melebihi absorpsi tulang (Black, 1997) ETIOLOGI 1. Trauma langsung: benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur pada tempat itu

2. Trauma tidak langsung: bilamana titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan 3. Proses penyakit: kanker dan riketsia

4. Compresion force: klien yang melompat dari tempat ketinggian dapat mengakibatkan fraktur kompresi tulang belakan 5. Muscle (otot): akibat injuri/sakit terjadi regangan otot yang kuat sehingga dapat menyebabkan fraktur (misal; elektrik shock dan tetani) KLASIFIKASI 1. Berdasarkan garis fraktur a. Fraktur komplit Garis patanya melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang b. Fraktur inkomplit Garis patahnya tidak melalui seluruh penampang tulang

Greenstick fracture: bila menegenai satu korteks dimana korteks tulangnya sebagian masih utuh juga periosteum akan segera sembuh dan segera mengalami remodeling kebentuk normal 2. Fraktur menurut jumlah dan garis patah/bentuk/konfigurasi a. Fraktur comminute: banyak fraktur/fragmen kecil tulang yang terlepas

b. Fraktur segmental: bila garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan satu ujung yang tidak memiliki pembuluh darah menjadi sulit untuk sembuh dan keadaan ini perlu terapi bedah c. Fraktur multipel: garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya. Seperti fraktur femur, cruris dan vertebra. 3. Fraktur menurut posisi fragmen a. Fraktur undisplaced (tidak bergeser): garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser, periosteumnya masih utuh. b. Fraktur displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang disebut juga dislokasi fragmen. 4. Menurut hubungan antara fragmen dengan dunia luar a. Fraktur terbuka (open fracture/compoun frakture) Fraktur terbuka karena integritas kulit robek/terbuka dan ujung tulang menonjol sampai menembus kulit. Fraktur terbuka ini dibagi menjadi tiga berdasarkan tingkat keperahan: Derajat I: robekan kulit kurang dari 1 cm dengan kerusakan kulit/jaringan minimal.

Derajat II: luka lebih dari 1 cm, kerusakan jaringan sedang, potensial infeksi lebih besar, fraktur merobek kulit dan otot. Derajat III: kerusakan/robekan lebih dari 6-8 cm dengan kerusakan jaringan otot, saraf dan tendon, kontaminasi sangat besar dan harus segera diatasi b. Fraktur tertutup (closed fracture/simple fracture) Frakture tidak kompkleks, integritas kulit masih utuh, tidak ada gambaran tulang yang keluar dari kulit. 5. Fraktur bentuk fragmen dan hubungan dengan mekanisme trauma

a.

Fraktur transversal (melintang), trauma langsung

Garis fraktur tegak lurud, segmen tulang yang patah direposisi/direduksi kembali ketempat semula, segmen akan stabil dan biasanya mudah dikontrol dengan bidai gips. b. Fraktur oblique; trauma angulasi

Fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang. Fraktur ini tidak stabil dan sulit diperbaiki. c. Fraktur spiral; trauma rotasi

Fraktur ini timbul akibat torsi pada ekstrimitas, menimbulkan sedikit kerusakan jaringan lunak dan cenderung cepat sembuh dengan imobilisasi luar. d. Fraktur kompresi; trauma axial flexi pada tulang spongiosa

Fraktur terjadi karena ketika dua tulang menumpuk tulang ketiga yang berada diantaranya seperti satu vertebra dengan dua vertebra lainnya. e. Fraktur avulsi; taruma akibat tarikan (fraktur patela)

Fraktur memisahkan suatu fragmen tulang tempat insersi tendon atau ligamen. 6. Fraktur patologi Terjadi pada daerah yang menjadi lemah oleh karena tumor atau prose patologik lainnya. PATOFISIOLOGI daya tulang fraktur

jaringan lunak tulang perdarahan

pembluh darah

saraf &sumsum tlg

periosteum

korteks

putus

reseptor nyeri

deformitas

krepitasi pemendekan luka hematom hipovelemi hilang sensasi nyeri

port de entri

vasodilatasi

hipotensi

anestesi

eksudasi plasma & migrasi leukost infeksi non infeksi union inflamasi edema depresi saraf suplai darah keotak menurun keasadaran shock hipovelemik

delayed union mal union nyeri

MANIFESTASI KLINIK Edema/pembengkakan

Nyeri: spasme otot akibat reflek involunter pada otot, trauma langsung pada jaringan, peningkatan tekanan pada saraf sensori, pergerakan pada daerah fraktur. Spasme otot: respon perlindungan terhadap injuri dan fraktur Deformitas Echimosis: ekstravasasi darah didalam jaringan subkutan Kehilangan fungsi Crepitasi: pada palpasi adanya udara pada jaringan akibat trauma terbuka

TAHAP PENYEMBUHAN TULANG 1. Tahap pembentukan hematom

dalam 24 jam pertama mulai terbentuk bekuan darah dan fibrin yang masuk kearea fraktur. Suplai darah meningkat, terbentuklah hematom yang berkembang menjadi jaringan granulasi sampai hari kelima.

2.

Tahap proliferasi

dalam waktu sekitar 5 hari , hematom akan mengalami organisasi. Terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi dan invasi fibroblast dan osteoblast yang akan menhasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrus dan tulang rawan. 3. Tahap pembentukan kalus

Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan dan tulang serat imatur. Perlu waktu 3-4 minggu agar frakmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrus 4. Osifikasi

Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu patah tulang melalaui proses penulangan endokondrial. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar bersatu. Proses ini memerlukan waktu 3-4 bulan. 5. Konsolidasi (6-8 bulan) dan Remodeling (6-12 bulan)

Tahap akhir dari perbaikan patah tulang. Dengan aktifitas osteoblas dan osteoclas, kalus mengalami pembentukan tulang sesuai aslinya. PRINSIP-PRINSIP PENATALAKSANAAN Ada empat konsep dasar yang harus diperhatikan/pertimbangkan pada waktu menangani fraktur: 1. Rekognisi: menyangkut diagnosa fraktur pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian di rumah sakit. Riwayat kecelakaan Parah tidaknya luka Diskripsi kejadian oleh pasien Menentukan kemungkinan tulang yang patah krepitus

2. Reduksi: reposisi fragmen fraktur sedekat mungkin dengan letak normalnya. Reduksi terbagi menjadi dua yaitu: Reduksi tertutup: untuk mensejajarkan tulang secara manual dengan traksi atau gips

Reduksi terbuka: dengan metode insisi dibuat dan diluruskan melalui pembedahan, biasanya melalui internal fiksasi dengan alat misalnya; pin, plat yang langsung kedalam medula tulang. 3. Immobilisasi:Setelah fraktur di reduksi, fragmen tulang harus dimobilisasi untuk membantu tulang pada posisi yang benar hingga menyambung kembali. 4. Retensi: menyatakan metode-metode yang dilaksanakan untuk mempertahankan fragmenfragmen tersebut selama penyembuhan (gips/traksi) 5. Rehabilitasi: langsung dimulai segera dan sudah dilaksanakan bersamaan dengan pengobatan fraktur karena sering kali pengaruh cidera dan program pengobatan hasilnya kurang sempurna (latihan gerak dengan kruck). TINDAKAN PEMBEDAHAN 1. ORIF (OPEN REDUCTION AND INTERNAL FIXATION)

Insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cidera dan diteruskan sepanjang bidang anatomik menuju tempat yang mengalami fraktur Fraktur diperiksa dan diteliti Fragmen yang telah mati dilakukan irigasi dari luka Fraktur di reposisi agar mendapatkan posisi yang normal kembali

Saesudah reduksi fragmen-fragmen tulang dipertahankan dengan alat ortopedik berupa; pin, sekrup, plate, dan paku Keuntungan: Reduksi akurat Stabilitas reduksi tinggi Pemeriksaan struktu neurovaskuler Berkurangnya kebutuhan alat imobilisasi eksternal Penyatuan sendi yang berdekatan dengan tulang yang patah menjadi lebih cepat Rawat inap lebih singkat Dapat lebih cepat kembali ke pola kehidupan normal

Kerugian 2. Kemungkinan terjadi infeksi Osteomielitis EKSTERNAL FIKSASI

Metode alternatif manajemen fraktur dengan fiksasi eksternal, biasanya pada ekstrimitas dan tidak untuk fraktur lama Post eksternal fiksasi, dianjurkan penggunaan gips. Setelah reduksi, dilakukan insisi perkutan untuk implantasi pen ke tulang Lubang kecil dibuat dari pen metal melewati tulang dan dikuatkan pennya. Perawatan 1-2 kali sehari secara khusus, antara lain:

Obsevasi letak pen dan area Observasi kemerahan, basah dan rembes Observasi status neurovaskuler distal fraktur TEST DIAGNOSTIK X Ray: menentukan lokasi/luasnya fraktur/trauma Scan tulang: menidentifikasi kerusakan jaringan lunak Hitung darah lengkap:

Ht: mungkin meningkayt (hemokonsentrasi), menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh dari trauma multiple) Peningkatan SDP: respon stres normal setelah trauma Kreatinin: trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah atau cedera hati

KOMPLIKASI 1. Komplikasi awal

Shock Hipovolemik/traumatik

Fraktur (ekstrimitas, vertebra, pelvis, femur) perdarahan & kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak shock hipovolemi. Emboli lemak

Trombo emboli vena

Berhubungan dengan penurunan aktivitas/kontraksi otot/bedrest Infeksi

Fraktur terbuka: kontaminasi infeksi sehingga perlu monitor tanda infeksi dan terapi antibiotik 2. Komplikasi lambat Delayed union

Proses penyembuhan fraktur sangat lambat dari yang diharapkan biasanya lebih dari 4 bulan. Proses ini berhubungan dengan proses infeksi. Distraksi/tarikan bagian fragmen tulang Non union

Proses penyembuhan gagal meskipun sudah diberi pengobatan. Hal ini disebabkan oleh fobrous union atau pseudoarthrosis Mal union

Proses penyembuhan terjadi tetapi tidak memuaskan (ada perubahan bentuk) Nekrosis avaskuler di tulang

Karena suplai darah menurun sehingga menurunkan fungsi tulang . PENGKAJIAN Aktivitas Tanda :

1 Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena(mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau terjadi secara sekunder dari pembengkakan jaringan, nyeri)

Sirkulasi Tanda :

1 Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri, ansietas) 1 Hipotensi (kehilangan darah) 1 Takikardia (respon stres, hipovolemia) 1 Penurunan/tidak ada nadi pada bagian distal yang cedera 1 Pengisian kapiler lambat 1 Pucat pada bagian yang terkena 1 Pembengkakan jaringan atau masa hematoma pada sisi cedera Neurosensori Gejala :

1 Hilangnya gerakan/sensasi 1 Spasme otot 1 Kebas/kesemutan (parestesis) Tanda :

1 Deformitas lokal 1 Angulasi abnormal 1 Pemendekan 1 Rotasi 1 Krepitasi 1 Spame otot 1 Terlihat kelemahan/hilang fungsi 1 Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri/ ansietas/trauma)

Nyeri/kenyamanan Gejala :

1 Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan/kerusakan tulang; dapat berkurang dengan imobilisasi) 1 Tidak ada nyeri karena kerusakan syaraf 1 Spasme/kram otot (setelah imobilisasi) Keamanan Tanda :

1 Laserasi kulit 1 Avulsi jaringan 1 Perdarahan 1 Perubahan warna 1 Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba) Daftar pustaka Black (1997). Medical surgical nursing. Philadelpia: WB Saunders Company Doenges, M. E. (1999). Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien. Ed. 3. Jakarta: EGC Lewis (2000). Medical surgical nursing. St Louis: Mosby Price, S. A. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. Ed. 4. Jakarta: EGC Smeltzer, S. C. (2008). Medical Surgical Nursing. Brunner & Suddart. Ed. 8. Jakarta: EGC
FRAKTUR TERBUKA FEMUR SUPRAKONDILER DAN INTERKONDILER (INTRAARTIKULER)

FRAKTUR TERBUKA FEMUR SUPRAKONDILER DAN INTERKONDILER (INTRAARTIKULER)

PENDAHULUAN Saat ini, penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah yang banyak dijumpai di pusat-pusat pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Bahkan WHO telah menetapkan dekade ini (2000-2010) menjadi Dekade Tulang dan Persendian .1 Dengan makin pesatnya kemajuan lalu lintas baik dari segi jumlah pemakai jalan, jumlah kendaraan, jumlah pemakai jasa angkutan dan bertambahnya jaringan jalan dan kecepatan kendaraan maka mayoritas kemungkinan terjadinya fraktur adalah akibat kecelakaan lalu lintas. Sementara trauma trauma lain yang dapat mengakibatkan fraktur adalah jatuh dari ketinggian, kecelakaan kerja, dan cedera olah raga. Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba tiba dan berlebihan, yang dapat berupa benturan, pemukulan, penghancuran, penekukan atau terjatuh dengan posisi miring, pemuntiran, atau penarikan. Akibat trauma pada tulang bergantung pada jenis trauma, kekuatan, dan arahnya. Kita harus dapat membayangkan rekonstruksi terjadinya kecelakaan agar dapat menduga fraktur yang dapat terjadi. Setiap trauma yang dapat mengakibatkan fraktur juga dapat sekaligus merusak jaringan lunak di sekitar fraktur mulai dari otot, fascia, kulit, tulang, sampai struktur neurovaskuler atau organ organ penting lainnya. Fraktur bukan hanya persoalan terputusnya kontinuitas tulang dan bagaimana mengatasinya, akan tetapi harus ditinjau secara keseluruhan dan harus diatasi secara simultan. Harus dilihat apa yang terjadi secara menyeluruh, bagaimana, jenis penyebabnya, apakah ada kerusakan kulit, pembuluh darah, syaraf, dan harus diperhatikan lokasi kejadian, waktu terjadinya agar dalam mengambil tindakan dapat dihasilkan sesuatu yang optimal. A. FRAKTUR A.1. DEFINISI FRAKTUR DAN MEKANISME TRAUMA Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan

ulna, dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah 2. Akibat trauma pada tulang tergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya. Trauma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang patah dengan luka terbuka sampai ke tulang yang disebut patah tulang terbuka. Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi. 2 A.2. GEJALA DAN TANDA Manifestasi klinis fraktur adalah didapatkan adanya riwayat trauma, hilangnya fungsi, tanda-tanda inflamasi yang berupa nyeri akut dan berat, pembengkakan lokal, merah/perubahan warna, dan panas pada daerah tulang yang patah. Selain itu ditandai juga dengan deformitas, dapat berupa angulasi, rotasi, atau pemendekan, serta krepitasi. Apabila fraktur terjadi pada ekstremitas atau persendian, maka akan ditemui keterbatasan LGS (lingkup gerak sendi). Pseudoartrosis dan gerakan abnormal. 3, 4 Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis adalah pemeriksaan Xfoto, yang harus dilakukan dengan 2 proyeksi yaitu anterior-posterior dan lateral. Dengan pemeriksaan X-foto ini dapat dilihat ada tidaknya patah tulang, luas, dan keadaan fragmen tulang. Pemeriksaan ini juga berguna untuk mengikuti proses penyembuhan tulang. 3, 5 Diagnosis fraktur bergantung pada gejala, tanda fisik dan pemeriksaan sinar-x pasien. Biasanya pasien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah tersebut. Bila berdasarkan pengamatan klinis diduga ada fraktur, maka perlakukanlah sebagai fraktur sampai terbukti lain. 4 A.3. PEMBAGIAN FRAKTUR Fraktur berdasarkan derajat atau luas garis fraktur terbagi atas 3 : complete, dimana tulang patah terbagi menjadi dua bagian (fragmen) atau lebih, serta incomplete (parsial). Fraktur parsial terbagi lagi menjadi: 1. Fissure/Crack/Hairline tulang terputus seluruhnya tetapi masih tetap di tempat, biasa terjadi pada tulang pipih 2. Greenstick Fracture biasa terjadi pada anak-anak dan pada os radius, ulna, clavicula, dan costae

3. Buckle Fracture fraktur di mana korteksnya melipat ke dalam Berdasarkan garis patah/konfigurasi tulang dibagi menjadi 3 : 1. Transversal garis patah tulang melintang sumbu tulang (80-100o dari sumbu tulang) 2. Oblik garis patah tulang melintang sumbu tulang (<80o atau >100o dari sumbu tulang) 3. Longitudinal garis patah mengikuti sumbu tulang 4. Spiral garis patah tulang berada di dua bidang atau lebih 5. Comminuted terdapat 2 atau lebih garis fraktur Berdasarkan hubungan antar fragmen fraktur: a. Undisplace fragmen tulang fraktur masih terdapat pada tempat anatomisnya b. Displace fragmen tulang fraktur tidak pada tempat anatomisnya, terbagi atas: - Shifted Sideways menggeser ke samping tapi dekat - Angulated membentuk sudut tertentu - Rotated memutar - Distracted saling menjauh karena ada interposisi - Overriding garis fraktur tumpang tindih - Impacted satu fragmen masuk ke fragmen yang lain Gambar 1. Tipe Fraktur menurut garis frakturnya

Secara umum, berdasarkan ada tidaknya hubungan antara tulang yang fraktur dengan dunia luar, fraktur juga dapat dibagi menjadi 2, yaitu fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Disebut fraktur tertutup apabila kulit di atas tulang yang fraktur masih utuh. Sedangkan apabila kulit di atasnya tertembus dan terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan dunia luar maka disebut fraktur terbuka, yang memungkinkan kuman dari luar dapat masuk ke dalam luka sampai ke tulang yang patah sehingga cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi. 2, 6 B. PENATALAKSANAAN FRAKTUR 4, 6, 7 1. Penatalaksanaan secara Umum Fraktur biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat penting untuk melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas (airway), proses pernafasan (breathing) dan sirkulasi (circulation), apakah terjadi syok atau tidak. Bila sudah dinyatakan tidak ada masalah lagi, baru lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara terperinci. Waktu tejadinya kecelakaan penting ditanyakan untuk mengetahui berapa lama sampai di RS, mengingat golden period 1-6 jam. Bila lebih dari 6 jam, komplikasi infeksi semakin besar. Lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis secara cepat, singkat dan lengkap. Kemudian lakukan foto radiologis. Pemasangan bidai dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih berat pada jaringan lunak selain memudahkan proses pembuatan foto. 2. Penatalaksanaan Kedaruratan Segera setelah cedera, pasien berada dalam keadaan bingung, tidak menyadari adanya fraktur dan berusaha berjalan dengan tungkai yang patah, maka bila dicurigai adanya fraktur, penting untuk mengimobilisasi bagian tubuh segara sebelum pasien dipindahkan.

Bila pasien yang mengalami cedera harus dipindahkan dari kendaraan sebelum dapat dilakukan pembidaian, ekstremitas harus disangga diatas dan dibawah tempat patah untuk mencegah gerakan rotasi maupun angulasi. Gerakan fragmen patahan tulang dapat menyebabkan nyeri, kerusakan jaringan lunak dan perdarahan lebih lanjut. Nyeri sehubungan dengan fraktur sangat berat dan dapat dikurangi dengan menghindari gerakan fragmen tulang dan sendi sekitar fraktur. Pembidaian yang memadai sangat penting untuk mencegah kerusakan jaringan lunak oleh fragmen tulang. Daerah yang cedera diimobilisasi dengan memasang bidai sementara dengan bantalan yang memadai, yang kemudian dibebat dengan kencang. Imobilisasi tulang panjang ekstremitas bawah dapat juga dilakukan dengan membebat kedua tungkai bersama, dengan ektremitas yang sehat bertindak sebagai bidai bagi ekstremitas yang cedera. Pada cedera ektremitas atas, lengan dapat dibebatkan ke dada, atau lengan bawah yang cedera digantung pada sling. Peredaran di distal cedera harus dikaji untuk menentukan kecukupan perfusi jaringan perifer. Pada fraktur terbuka, luka ditutup dengan pembalut bersih (steril) untuk mencegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam. Jangan sekali-kali melakukan reduksi fraktur, bahkan bila ada fragmen tulang yang keluar melalui luka. Pasanglah bidai sesuai yang diterangkan di atas. Pada bagian gawat darurat, pasien dievaluasi dengan lengkap. Pakaian dilepaskan dengan lembut, pertama pada bagian tubuh sehat dan kemudian dari sisi cedera. Pakaian pasien mungkin harus dipotong pada sisi cedera. Ektremitas sebisa mungkin jangan sampai digerakkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. 3. Prinsip Penanganan Fraktur Prinsip-prinsip tindakan/penanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan pengembalian fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi 4, 6: a. Reduksi, yaitu : restorasi fragmen fraktur sehingga didapati posisi yang dapat diterima.6

Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan posisi anatomis normal.

Sasarannya adalah untuk memperbaiki fragmen-fragmen fraktur pada posisi anatomik normalnya.

Metode untuk reduksi adalah dengan reduksi tertutup, traksi, dan reduksi terbuka.4 Metode tertentu yang dipilih bergantung sifat fraktur, namun prinsip yang mendasarinya tetap sama. Biasanya dokter melakukan reduksi fraktur sesegera mungkin untuk mencegah jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan. Pada kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi semakin sulit bila cedera sudah mengalami penyembuhan.

Metode reduksi : 1. Reduksi tertutup, pada kebanyakan kasus reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan Manipulasi dan Traksi manual. Sebelum reduksi dan imobilisasi, pasien harus dimintakan persetujuan tindakan, analgetik sesuai ketentuan dan bila diperlukan diberi anestesia. Ektremitas dipertahankan dalam posisi yang diinginkan sementara gips, bidai atau alat lain dipasang oleh dokter. Alat imobilisasi akan menjaga reduksi dan menstabilkan ektremitas untuk penyembuhan tulang. Sinar-x harus dilakukan untuk mengetahui apakah fragmen tulang telah dalam kesejajaran yang benar. 2. Traksi, dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi. 3. Reduksi terbuka, pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, palt, paku atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahan kan fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi. b. Imobilisasi

Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan.

Sasarannya adalah mempertahankan reduksi di tempatnya sampai terjadi penyembuhan. Metode untuk mempertahankan imobilisasi adalah dengan alat-alat eksternal (bebat, brace, case, pen dalam plester, fiksator eksterna, traksi, balutan) dan alat-alat internal (nail, lempeng, sekrup, kawat, batang, dll). Tabel 1. Perkiraan Waktu Imobilisasi yang Dibutuhkan untuk Penyatuan Tulang Fraktur

c. Rehabilitasi

Sasarannya meningkatkan kembali fungsi dan kekuatan normal pada bagian yang sakit. Untuk mempertahankan dan memperbaiki fungsi dengan mempertahankan reduksi dan imobilisasi adalah peninggian untuk meminimalkan bengkak, memantau status neurovaskuler, mengontrol ansietas dan nyeri, latihan isometrik dan pengaturan otot, partisipasi dalam aktifitas hidup sehari-hari, dan melakukan aktifitas kembali secara bertahap dapat memperbaiki kemandirian fungsi. Pengembalian bertahap pada aktivitas semula diusahakan sesuai batasan terapeutik. Tabel 2. Ringkasan Tindakan terhadap Fraktur

C. KOMPLIKASI FRAKTUR 1, 6, 7 a. Komplikasi segera 1. Komplikasi lokal dapat berupa kerusakan kulit, pembuluh darah (hematom, spasme arteri, dan kontusio), kerusakan saraf, kerusakan otot, dan kerusakan organ dalam. 2. Komplikasi sistemik syok hemoragik b. Komplikasi awal 1. Komplikasi lokal sekuele dari komplikasi segera, berupa nekrosis kulit, gangren, trombosis vena, komplikasi pada persendian (artritis), dan pada tulang (infeksi/osteomielitis). 2. Komplikasi sistemik emboli lemak, emboli paru, pneumonia, tetanus, delerium tremens. c. Komplikasi lanjut 1. Komplikasi pada persendian dapat terjadi kontraktur dan kekakuan sendi persisten, penyakit sendi degeneratif pasca trauma. 2. Komplikasi tulang yakni penyembuhan tulang abnormal (malunion, delayed union dan non union). Mal union adalah keadaan dimana tulang menyambung dalam posisi tidak anatomis, bisa sembuh dengan pemendekan, sembuh dengan angulasi, atau sembuh dengan rotasi.

Delayed union adalah proses penyembuhan patah tulang yang melebihi waktu yang diharapkan, hal ini berarti bahwa proses terjadi lebih lama dari batas waktu yaitu umumnya 3-5 bulan.6 Non union adalah keadaan dimana suatu proses penyembuhan patah tulang berhenti sama sekali dan penyembuhan patah tulang tidak akan terjadi tanpa koreksi pembedahan. 3. Komplikasi pada otot miositis pasca trauma, ruptur tendo lanjut 4. Komplikasi saraf Tardy nerve palsy D. PROSES PENYEMBUHAN FRAKTUR Secara ringkas tahap penyembuhan fraktur dibagi menjadi 5 tahap sebagai berikut 4, 6 : 1. Stadium Pembentukan Hematom : - Hematom terbentuk dari darah yang mengalir yang berasal dari pembuluh darah yang robek - Hematom dibungkus jaringan lunak sekitar (periosteum & otot) - Terjadi sekitar 1-2 x 24 jam 2. Stadium Proliferasi Sel / Inflamasi : - Sel-sel berproliferasi dari lapisan dalam periosteum, sekitar lokasi fraktur - Sel-sel ini menjadi precursor osteoblast - Sel-sel ini aktif tumbuh ke arah fragmen tulang - Proliferasi juga terjadi di jaringan sumsum tulang - Terjadi setelah hari ke-2 kecelakaan terjadi 3. Stadium Pembentukan Kallus : - Osteoblast membentuk tulang lunak (kallus) - Kallus memberikan rigiditas pada fraktur - Jika terlihat massa kallus pada X-ray berarti fraktur telah menyatu

- Terjadi setelah 6-10 hari setelah kecelakaan terjadi 4. Stadium Konsolidasi : - Kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi. Fraktur teraba telah menyatu - Secara bertahap menjadi tulang mature - Terjadi pada minggu ke 3-10 setelah kecelakaan 5. Stadium Remodeling : - Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya pada lokasi eks fraktur - Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklast - Pada anak-anak remodeling dapat sempurna, pada dewasa masih ada tanda penebalan tulang. Proses penyembuhan tulang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mencakup: usia, lokasi dan jenis fraktur, kerusakan jaringan sekitar fraktur, banyaknya gerakan pada fragmen fraktur, pengobatan, adanya infeksi atau penyakit lain yang menyertai (seperti diabetes mellitus), derajat trauma, gap antara ujung fragmen dan pendarahan pada lokasi fraktur. 6, 8 E. FRAKTUR TERBUKA E.1. KLASIFIKASI Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat yang ditentukan oleh berat ringannya luka dan berat ringannya fraktur 2, sebagaimana yang terlihat pada Tabel 1. Tabel 3. Derajat Patah Tulang Terbuka Menurut Gustillo dan Anderson (1976)

Kemudian Gustillo et al. (1984) membagi tipe III dari klasifikasi Gustillo dan Anderson (1976) menjadi tiga subtipe, yaitu tipe IIIA, IIIB dan IIIC (Tabel 2). 8

IIIA terjadi apabila fragmen fraktur masih dibungkus oleh jaringan lunak, walaupun adanya kerusakan jaringan lunak yang luas dan berat.

IIIB fragmen fraktur tidak dibungkus oleh jaringan lunak sehingga tulang terlihat jelas atau bone expose, terdapat pelepasan periosteum, fraktur kominutif. Biasanya disertai kontaminasi masif dan merupakan trauma high energy tanpa memandang luas luka.

III C terdapat trauma pada arteri yang membutuhkan repair agar kehidupan bagian distal dapat dipertahankan tanpa memandang derajat kerusakan jaringan lunak.

Tabel 4. Klasifikasi lanjut fraktur terbuka tipe III (Gustillo dan Anderson, 1976) oleh Gustillo, Mendoza dan Williams (1984)

E.2. PENATALAKSANAAN KHUSUS PADA FRAKTUR TERBUKA Fraktur terbuka merupakan suaru keadaan darurat yang memerlukan penanganan yang terstandar untuk mengurangi risiko infeksi. Selain mencegah infeksi juga diharapkan terjadi penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak. Beberapa prinsip dasar pengelolaan fraktur terbuka adalah 6: 1. Obati fraktur terbuka sebagai suatu kegawatan. 2. Adakan evaluasi awal dan diagnosis akan adanya kelainan yang dapat menyebabkan kematian. 3. Berikan antibiotik dalam ruang gawat darurat, di kamar operasi dan setelah operasi. 4. Segera dilakukan debridemen dan dan irigasi yang baik. 5. Ulangi debridemen 24-72 jam berikutnya. 6. Stabilisasi fraktur. 7. Biarkan luka terbuka antara 5-7 hari. 8. Rehabilitasi anggota gerak yang terkena. Sedangkan tahap-tahap pengobatan fraktur terbuka adalah sebagai berikut 6:

1. Pembersihan luka. Dilakukan dengan cara irigasi dengan cairan NaCl fisiologis secara mekanis untuk mengeluarkan benda asing yang melekat. 1. Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debridemen). Semua jaringan yang kehilangan vaskularisasinya merupakan daerah tempat pembenihan bakteri sehingga diperlukan eksisi secara operasi pada kulit, jaringan subkutaneus, lemak, fasia, otot, dan fragmen-fragmen yang lepas. 1. Penutupan kulit. 2. Pemberian antibakteri. Pemberian antibiotik bertujuan untuk mencegah infeksi. Antibiotik diberikan dalam dosis yang besar sebelum, pada saat, dan sesudah tindakan operasi. 1. Pencegahan tetanus. Semua penderita dengan fraktur terbuka perlu diberikan pencegahan tetanus. Pada penderita yang telah mendapat imunisasi aktif cukup dengan pemberian toksoid. Tapi bagi yang belum, dapat diberikan 250 unit tetanus imunoglobulin. 1. Pengobatan fraktur itu sendiri. F. FRAKTUR FEMUR F.1. ANATOMI FEMUR 10 Gambar 2. Anatomi Femur

Femur pada ujung bagian atasnya memiliki caput, collum, trochanter major dan trochanter minor. Bagian caput merupakan lebih kurang dua pertiga bola dan berartikulasi dengan acetabulum dari os coxae membentuk articulatio coxae. Pada pusat caput terdapat lekukan kecil yang disebut fovea capitis, yaitu tempat perlekatan ligamentum dari caput. Sebagian suplai darah untuk caput femoris dihantarkan sepanjang ligamen ini dan memasuki tulang pada fovea. Bagian collum, yang menghubungkan kepala pada batang femur, berjalan ke bawah, belakang, lateral dan membentuk sudut lebih kurang 125 derajat (pada wanita sedikit lebih kecil) dengan sumbu panjang batang femur. Besarnya sudut ini perlu diingat karena dapat dirubah oleh penyakit. Trochanter major dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher dan batang. Yang menghubungkan dua trochanter ini adalah linea intertrochanterica di depan dan crista intertrochanterica yang mencolok di bagian belakang, dan padanya terdapat tuberculum quadratum. Bagian batang femur umumnya menampakkan kecembungan ke depan. Ia licin dan bulat pada permukaan anteriornya, namun pada bagian posteriornya terdapat rabung, linea aspera. Tepian linea aspera melebar ke atas dan ke bawah.Tepian medial berlanjut ke bawah sebagai crista supracondylaris medialis menuju tuberculum adductorum pada condylus medialis.Tepian lateral menyatu ke bawah dengan crista supracondylaris lateralis. Pada permukaan posterior batang femur, di bawah trochanter major terdapat tuberositas glutealis, yang ke bawah berhubungan dengan linea aspera. Bagian batang melebar ke arah ujung distal dan membentuk daerah segitiga datar pada permukaan posteriornya, disebut fascia poplitea.

Ujung bawah femur memiliki condylus medialis dan lateralis, yang di bagian posterior dipisahkan oleh incisura intercondylaris. Permukaan anterior condylus dihubungkan oleh permukaan sendi untuk patella. Kedua condylus ikut membentuk articulatio genu. Di atas condylus terdapat epicondylus lateralis dan medialis. Tuberculum adductorium berhubungan langsung dengan epicondylus medialis. F.2. KLASIFIKASI FRAKTUR FEMUR Klasifikasi fraktur femur dapat dibagi dalam 5 : a. FRAKTUR COLLUM FEMUR: Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung yaitu misalnya penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak langsung yaitu karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah, dibagi dalam :

Fraktur intrakapsuler (Fraktur collum femur) Fraktur extrakapsuler (Fraktur intertrochanter femur)

b. FRAKTUR SUBTROCHANTER FEMUR Ialah fraktur dimana garis patahnya berada 5 cm distal dari trochanter minor, dibagi dalam beberapa klasifikasi tetapi yang lebih sederhana dan mudah dipahami adalah klasifikasi Fielding & Magliato, yaitu : tipe 1 : garis fraktur satu level dengan trochanter minor tipe 2 : garis patah berada 1 -2 inch di bawah dari batas atas trochanter minor tipe 3 : garis patah berada 2 -3 inch di distal dari batas atas trochanterminor c. FRAKTUR BATANG FEMUR (dewasa) Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas dikota kota besar atau jatuh dari ketinggian, patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam shock, salah satu klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan daerah yang patah. Dibagi menjadi : - tertutup

- terbuka, ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah dengan dunia luar dibagi dalam tiga derajat, yaitu ; Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil, biasanya diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar. Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dari luar. Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II, lebih kotor, jaringan lunak banyak yang ikut rusak (otot, saraf, pembuluh darah) d. FRAKTUR BATANG FEMUR (anak anak) e. FRAKTUR SUPRACONDYLER FEMUR Fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior, hal ini biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot otot gastrocnemius, biasanya fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus atau varus dan disertai gaya rotasi. f. FRAKTUR INTERCONDYLAIR Biasanya fraktur intercondular diikuti oleh fraktur supracondular, sehingga umumnya terjadi bentuk T fraktur atau Y fraktur. g. FRAKTUR CONDYLER FEMUR Mekanisme traumanya biasa kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi disertai dengan tekanan pada sumbu femur keatas. F.3. FRAKTUR SUPRAKONDILER FEMUR DAN FRAKTUR INTERKONDILER 6 Daerah suprakondiler adalah daerah antara batas proksimal kondilus femur dan batas metafisis dengan diafisis femur. Fraktur suprakondiler femur sering bersama-sama dengan fraktur interkondiler yang memberikan masalah pengelolaan yang lebih kompleks.

Klasifikasi menurut Neer, Grantham, Shelton (1967) :


Tipe I ; fraktur suprakondiler dan kondiler bentuk T. Tipe IIA ; fraktur suprakondiler dan kondiler dengan sebagian metafisis (bentuk Y). Tipe IIB ; sama seperti IIA tetapi bagian metafisis lebih kecil. Tipe III ; fraktur suprakondiler komunitif dengan fraktur kondiler yang tidak total.

F.3.1. Gambaran Klinis Berdasarkan anamnesis ditemukan riwayat trauma yang disertai pembengkakan dan deformitas pada daerah suprakondiler. Pada pemeriksaan mungkin ditemukan adanya krepitasi. Dapat ditemukan adanya hemartrosis yang lebih hebat karena adanya fraktur intra-artikuler. F.3.2. Pengobatan 1. Terapi konservatif.
o o o

Traksi berimbang dengan mempergunakan bidai Thomas dan penahan lutut Pearson. Cast-bracing. Spika panggul.

2. Terapi operatif. Karena fraktur ini bersifat intra-artikuler, maka sebaiknya dilakukan terapi operatif dengan fiksasi interna yang rigid untuk memperoleh posisi anatomis sendi dan segera dilakukan mobilisasi.
Sumber :

1. 2. 3. 4.

Fraktur. Diunduh dari http://bedahugm.net/Bedah-Orthopedi/Fracture.html . Update terakhir: 3 Agustus 2008. Sjamsuhidajat R, Wim De Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, ed revisi, EGC. Jakarta: 1998. pp. 1138-96 Mangunsudirejo RS. Fraktur, penyembuhan, penanganan, dan komplikasi, buku 1. Edisi 1. Semarang: 1989 Fraktur. Diunduh dari http://www.klinikindonesia.com/bedah/fraktur.php. Update terakhir: 7 Januari 2009

5. 6. 7. 8. 9.

Fraktur Femur. Diunduh dari: http://medisdankomputer.co.cc/?p=380. Update terakhir: 15 Maret 2009 Rasjad, C. Buku pengantar Ilmu Bedah Ortopedi ed. III. Yarsif Watampone. Makassar: 2007. pp. 352-489 Buckley R, Panaro CDA. General principles of fracture care. Diunduh dari http://www.emedicine.com/orthoped/byname/General-Principlesof-Fracture-Care.htm. Update terakhir: 19 Juli 2007 Fraktur Terbuka. Diunduh dari http://bedahugm.net/Bedah-Orthopedi/Fraktur-Terbuka.html. Update terakhir: 8 Januari 2009 Anatomi Femur. Diunduh dari ht