Anda di halaman 1dari 22

Bagi sebagian orang, Public Relations Officer, Public Relations

Specialist--yang biasa dikenal dengan nama PR, cenderung


disamakan dengan profesi Hubungan Masyarakat (Humas). Well,
anggapan ini memang tidak sepenuhnya keliru, walaupun tidak juga
tepat sekali. Hal ini tergantung dari sudut pandang dan opini publik
yang sudah terlanjur menancap di masyarakat, bahwa humas pada
dasarnya "hanya" bertindak sebagai "tukang siar", yang jalinan
kerjanya biasanya erat berkaitan dengan media massa. PR, pada
kenyataannya, lingkup kerjanya tidak hanya terbatas pada menjalin
hubungan dengan media massa.
Berikut kami sajikan deskripsi kerja seorang PR, mudah-mudahan
dapat memperbaiki anggapan-anggapan kurang tepat mengenai
profesi yang sebenarnya sangat kompleks ini. Sengaja kami bagi
artikel ini dalam 2 edisi, karena sesungguhnya cukup banyak seluk-
beluk dunia kerja seorang PR yang cukup pantas untuk dicermati.

"Public Relations itu sangat luas artinya," ujar sumber CyberJob,
Siska Widyawati, yang pernah mengecap pengalaman 5 tahun
sebagai seorang PR di sebuah agensi periklanan besar di Jakarta
Pusat. Di sana (Amerika-Red), hampir di setiap perusahaan memiliki
seorang PR, karena mereka sudah mengerti betul seluk beluk tugas
seorang PR. Tapi di Indonesia, PR biasanya hanya dimaknai sebagai
tenaga marketing, atau sebagai jurusiar.



TUGAS INTI SEORANG PUBLIC RELATION

"Public relations bukan hanya seorang juru siar," ujar Siska. Berikut
Siska memaparkan beberapa job description PR yang disebutnya
sebagai "natureofwork".

1. Reputasi, keberuntungan, bahkan
eksistensi lanjutan dari sebuah perusahaan, dapat bergantung
dari keberhasilan PR menafsirkan target publik untuk
mendukung tujuan dan kebijakan dari perusahaan yang
bersangkutan. Seorang PR specialiast menyajikan hal
tersebut sebagaimana halnya seorang penasihat dalam bidang
bisnis, asosiasi non-profit, universitas, rumah sakit dan
organisasi lain. Selain itu, mereka juga membangun dan
memelihara hubungan positif dengan publik.

2. Seorang PR mengurus fungsi-fungsi organisasi, seperti
menghadapi media, komunitas dan konsumen. Dalam
hubungannya dengan pemerintah, mereka mengurus
kampanye politik, representasi para interest-group,
sebagai conflict-mediation, atau mengurus hubungan antara
perusahaan tempat mereka bekerja dengan para investor.
Seorang PR tidak hanya berfungsi untuk "mengatakan
sejarah organisasi", tapi mereka juga dituntut untuk mengerti
tingkah-laku dan memperhatikan konsumen, karyawan dan
kelompok lain yang juga merupakan bagian dari deskripsi
kerjanya. Untuk meningkatkan komunikasi, seorang PR juga
membangun dan memelihara hubungan yang koperatif
dengan wakil-wakil komunitas, konsumen, karyawan
dan public interest group, juga dengan perwalian dari media
cetak dan broadcast.

3. Seorang PR menyampaikan informasi pada
publik, interest group, pemegang saham, mengenai
kebijakan, aktivitas dan prestasi dari sebuah organisasi.
Tugas tersebut juga berhubungan dengan mengupayakan
pihak manajemen untuk supaya tetap sadar terhadap tingkah
laku publik dan menaruh perhatian terhadap grup-grup dan
organisasi, dengan siapa mereka biasa berhubungan.

4. Seorang PR menyiapkan pers rilis dan menghubungi
orang-orang di media, yang sekiranya dapat menerbitkan
atau menyiarkan material mereka. Banyak laporan khusus di
radio atau televisi, berita di koran dan artikel di majalah,
bermula dari meja seorang PR.

5. Seorang PR juga mengatur dan mengumpulkan program-
program untuk memelihara dan mempertahankan kontak
antara perwalian organisasi dan publik. Mereka
mengatur speaking engagement, pidato untuk kepentingan
sebuah perusahaan, membuat film, slide, atau presentasi
visual lain dalam meeting dan merencanakan konvensi.
Sebagai tambahan, mereka juga bertanggung jawab
menyiapkan annual reports dan menulis proposal untuk
proyek-proyek yang beragam.

6. Dalam pemerintahan, seorang PR--yang kemungkinan
akan disebut sebagai "sekretaris pers", "information officer",
"public affair specialist" atau "communications specialist",
bertugas menginformasikan pada publik mengenai aktivitas
yang dilakukan agen-agen pemerintah dan pegawai-pegawai
resminya.

7. PR yang berurusan dengan publisitas untuk individual,
atau mereka yang menangani public relations untuk
organisasi kecil, kemungkinan akan berurusan dengan semua
aspek pekerjaan. Mereka akan menghubungi orang-orang,
merencanakan dan melakukan penelitian dan menyiapkan
material untuk distribusi. Mereka juga mengurusi pekerjaan
advertising atau sales promotion untuk mendukung kegiatan
marketing.
PERSPEKTIF PUBLIC RELATIONS
Dilihat dari perkembangan sejarahnya, berkomunikasi untuk
mempengaruhi cara pandang dan perilaku seseorang sudah dimulai
sejak dahulu kala. Dari situs situs yang ditemukan oleh para
arkeologis di Irak pada abad 18, tampak bahwa usaha melakukan hal
ini sudah dilakukan. Pada masa Yunani dan di abad pertengahan
masa kejayaan Romawi, ide mengenai "opini publik sudah muncul.
Hal ini tampak pada slogan Vox Populi, Vox dei (the voice of the
people is the voice of God). Public Relations sudah mulai digunakan
berabad abad lalu di Inggris. Hal ini ditunjukkan dengan
munculnya konsep memerlukan pihak ketiga sebagai fasilitator
komunikasi dan penyelaras anantara pemerintah dan rakyatnya.
Pada perkembangannya konsep Public Relations di Amerika dimulai
sekitar tahun 1900 an yang dipelopori oleh Ivy Lee dengan " The
Declaration of Principles". Ivy Lee dianggap sebagai " the father of
Public Relations" karena deklarasi asasnya itu, meskipun demikian
sebetulnya konsep Public Relations di Amerika sudah ada sejak
tahun 1850.( Broom, 2000; 102).
Public Relations di Indonesia sendiri dimulai sejak tahun1950.
Perkembangan hubungan masyarakat di Indonesia bergerak
menyertai kondisi politik dan kenegaraan saat itu. Pada waktu itu
pemerintah Indonesia menyadari perlunya rakyata Indonesia untuk
mengetahui segala perkembangan yang terjadi sejak pengakuan
kedaulatan Indonesia oleh kerajaan Belanda. Berawal dari pemikiran
tersebut maka kegiatan kehumasan mulai dilembagakan dengan
menyandang nama hubungan masyarakat karena kegiatan yang
dilakukan lebih banyak untuk ke luar organisasi (Onong, 1991; 12)
Pentingnya memahami sejarah perkembangan Public Relations
adalah untuk mengawali pemahaman terhadap perkembangan PR di
Indonesia. Jika dilihat dari sejarahnya sebetulnya, PR di Indonesia
dimulai sangat jauh dari yang sudah dilakukan oleh pemikir-pemikir
di Eropa atau Amerika bahkan Australia. PR di Indonesia dimulai di
tahun 1950 an dengan konsep yang berbeda dengan konsep yang
dianut di negara lain. Berdasarkan pengamatan peneliti dan juga
seperti yang diungkapkan oleh Elizabeth Goenawan Anantao dalam
Public Relations In Asia an Anthology, Public Relations di
Indonesia belum terlalu pesat perkembangannya (Ananto, 2004;
265)
Public Relations digunakan oleh pihak swasta di Indonesia pertama
kali oleh PERTAMINA, sebuah perusahaan minyak. Public
Relations di Indonesia memang sudah banyak digunakan baik itu di
pihak pemerintah maupun swasta di berbagai sektor. Konsep Public
Relations dipahami dan digunakan oleh pihak pihak tersebut
dengan berbagai macam pemahaman dan berbagai macam bentuk
implementasinya.
Dari hari ke hari PR di Indonesia mulai berkembang seiring dengan
perkembangan PR di dunia atau Asia. Menurut Rhenald Kasali
dalam bukunya Manajemen PR disebutkan bahwa Public Relations
digunakan untuk kepentingan usaha dalam bentuk seperti Olimpiade
Korea Selatan, Glassnot Perestroika, Kasus Lemak Babi 1988,dll.
Olimpiade yang diselenggarakan oleh tuan rumah Korea Selatan di
tahun 1988 menggunakan salah satu jasa konsultan PR. Olimpiade
adalah suatu event international yang waktu ini masih sangat greget
dimana seluruh perhatian orang tertuju ke sana. Sebagai tuan rumah
Korea Selatan ingin bangkit menunjukkan eksitensi dirinya yang
memang salah satu keinginannya adalah membuka pasar di dunia
untuk memasarakan produk produknya.
Glasnost dan Perestroika merupakan kampanye PR dalam karya
politik sebuah negara. Untuk mengubah negaranya, Michael
Gorbachev melontarkan konsep ini untuk mengubah persepsi dunia
tentang Uni Soviet dan membuka bangsanya bagi dunia luar.
Kasus kasus tersebut adalah kasus kasus yang terjadi hampir 20
tahun yang lalu. Sementara ini masih hangat di tahun 2000 an pada
saat negara negara di Asia terjadi krisis SARS, Hongkong dan
Singapura menangani khusus pemulihan citra wisata negaranya
dengan menyewa seorang konsultan PR.
Dari kasus kasus yang ada sebetulnya tampak bahwa PR adalah
sebuah fungsi komunikasi yang terencana, tetapi memang
kenyataannya masih banyak salah pandang mengenai hal ini.

KESALAH PENGERTIAN TENTANG PR
1.PR adalah Personal Relation
Untuk menjadi PR harus memiliki kemampuan membina hubungan
secara pribadi. Hal ini tidak seluruhnya salah tetapi bukan itu saja
tugas dari seorang PR
2.PR adalah propaganda
Memang awal mula akar dari PR dari perang (lihat sejarah di atas).
Pada masa perang memang PR digunakan untuk mengirim pesan
yang salah untuk mematahkan semangat lawan. Propaganda
dilakukan sepihak dan untuk kepentingan kemenangan satu pihak.
3. PR adalah Publisitas
Hal ini tampak pada lembaga pemerintah. Lembaga pemerintah
lebih banyak menggunakan PR nya untuk hal ini. PR tidak lebih
digunakan sebagai "press relations" yang tugasnya hanyalah
mempublikasikan kebijakan pemerintah, menyusun jadwal temu
wartawan serta membawa wartawan turut kunjungan ke daerah
daerah.
4. PR adalah iklan gratis
Berita yang dimuat di media dianggap sebagai iklan gratis sehingga
banyak praktisi pemasaran berupaya memanfaatkan publikasi pers
untuk mendapatkan keuntungan beriklan secara gratis. Padahal
seperti diketahui bukan itu tujuan PR dan bukan itu pula tujuan
berita.
5. PR adalah menjual senyum
Untuk menjadi PR harus cantik, pandai ha ha hi hi. Jika hanya ini
yang dilakukan oleh PR maka sebuah perusahaan pasti akan
kehilangan pamornya, apalagi di masa krisis. Pandangan seperti ini
bahkan PR seperti yang no 1 masih banyak terjagi bahkan seperti
baru baru ini (sekitar 1 tahun yang lalu), media massa pernah
mengangkat isue bahwa PR disamakan dengan hostess, dan
frekuensi munculnya isu itu cukup sering. Memang media yang
menayangkan hal itu bukan media terkemuka tetapi paling tidak
masih ada tertancap di benak pembuat berita bahwa PR hanyalah
sebatas senyum dan obral kemampuan personal.
PR sebagai Fungsi Manajemen
Lebih lanjut lagi supaya tidak terjebak dengan kesalahpengertian
perlu digali definis definisi tentang PR. Adapun definisi yang ada
adalah sebagai berikut:
1. Cutlip and Center mendefinisikan Public Relations sebagai
fungsi manajemen yaitu mengidentifikasi, memantapkan
serta membina hubungan yang saling menguntungkan antara
organisasi dengan publiknya baik dalam keadaan sukses
maupun gagal.
2. Grunig mengembangkan definisi tersebut menjadi
manajemen komunikasi antara organisasi dan publiknya.
3. Lawrence W.Long dan Vincent Hazelton mengembangkan
sebuah definisi baru yang lebih modern dan memadai bahwa
Public Relations adalah fungsi komunikasi melalui adaptasi
organisasi, mengubah atau membina hubungan dengan
lingkungan dengan tujuan bersama-sama mencapai tujuan
dari organisasi. Pendekatan ini menggambarkan bahwa
Public Relations adalah lebih dari sekedar mempersuasi
melainkan juga membantu mengembangkan kondisi
komunikasi terbuka, saling pengertian/saling memahami
dengan didasari ide bahwa organisasi juga mau berubah
(dalam proses berperilaku dan bersikap) tidak hanya sebagi
sasaran khalayak saja. Dapat dikatakan bahwa perusahaan
dimungkinkan mengubah kebijakan sebagai hasil tindak
lanjut dari dialog dengan lingkungannya.

Definisi tersebut hanyalah sebagian kecil dari definisi yang ada
tentang PR. Mengacu pada definisi definisi di atas, memaknai
terminologi "fungsi manajemen" yang ada pada Public Relations,
memiliki arti yang lebih dalam. Arti tersebut memuat jawaban atas
pernyataan, untuk apa fungsi manajemen atau manajemen
komunikasi yang dilakukan oleh Public Relations. Jawaban ini jelas
bahwa Public relations berperan sebagai Pengelola Reputasi
Organisasi. bukan Pemasar/Penjual dan bukan hanya melulu
memliki aktifitas berhubungan dengan media atau seperti yang
disebut di atas.

Dari definisi di atas tampak bahwa PR adalah fungsi manajemen
bukan adminsitratif. Secara lebih dalam lagi pada sessi atau mata
kuliah yang lain akan dibahas mengenai posisi PR sebagai koalisi
dominan yang duduk di leher struktur yang bertindak sebagai fungsi
manajemen sehingga kurang tepat jika PR hanya didudukkan
sebagai bagian dari marketing, SDM, atau jika kita lihat di
pemerintah tidak kurang PR atau Humas hanyal bagian dari seksi.
Dalam hal penempatan PR ada beberapa klasifikasi penempatan dan
pemanfaatan PR pada sebuah organisasi:
1. Beberapa organisasi menempatkan Public Relations pada
hirarkhi tinggi di perusahaan, memiliki garis pelaporan
langsung kepada pimpinan atau kepala administrator.
Beberapa menempatkan fungsi Public Relations pada posisi
yang lebih rendah, memiliki hubungan pelaporan dengan
bagian pemasaran, personalia, legal atau pengambil
keputusan lain di tingkat yang lebih tinggi.
2. Beberapa organisasi menempatkan Public Relations pada
unit tersendiri sementara itu ada beberapa organisasi yang
menempatkan Public Relations pada beberapa unit dalam
departemen di organisasi.
3. Beberapa organisasi menggunakan konsultan dari luar
organisasi/perusahaan, beberapa menggunakan Public
Relations dari internal perusahaan bahkan ada yang
menggabungkan keduanya (Grunig,1992;396)

Melihat definisi PR seperti di atas maka tampak bahwa kata kunci
dari PR adalah
1. Kesengajaan: Aktifitas PR adalah aktifitas yang disengaja.
Dibentuk untuk mempengaruhi, meraih pemahaman
bersama, menyediakan informasi, dan mendapatkan umpan
balik
2. Terencana: Aktifitas Public Relation adalah terogranisir,
pada kurun waktu tertentu, sistematis, menggunakan riset
dan analisa.
3. Mengutamakan performance: Public Relations yang
efektif didasarkan pada kebijakan aktual dan kinerja.
4. Mengutamakan kehendak masyarakat (public interest):
Aktifitas atau kegiatan Public Relations hendaknya
didasarkan pada tujuan yang saling menguntungkan antara
organisasi dan publiknya.
5. Komunikasi dua arah: Selain menginformasikan sesuatu,
Public Relations membutuhkan umpan balik dari
khalayaknya sehingga model komunikasi yang digunakannya
adalah dua arah.
6. Fungsi Manajemen: Public Relations menjadi efektif
apabila menjadi bagian dari keseluruhan manajemen dan
didukung oleh top manajemen. Public Relations berfungsi
sebagai konseling dan pemecah masalah di tingkat top
manajemen bukan sekedar hanya mendesiminasikan
informasi setelah keputusan dibuat (Wilcox, 1998:4-8)
Secara umum PR sebagai fungsi manajemen dan sedikit tentang
keberadaan PR dalam sebuah perusahaan sudah di bahas. Berikut ini
secara khusus akan dibahas apa peran, fungsi, model komunikasi,
aktifitas serta kompetensi yang dibutuhkan bagi seorang PR

Peran PR dalam Organisasi
Sebetulnya memformulasikan apa peran PR dalam organisai
bukanlah hal yang mudah. Beberapa penulis mencoba memetakan
bahwa pada dasarnya peran PR dalam sebuah organisasi adalah
sebagai berikut:
1. Communication Tehnician
Beberapa praktisi memasuki dunia PR ini sebagai teknis. Pada tahap
ini kemampuan jurnalistik dan komunikasi sangat diperlukan. PR
diarahkan untuk berperan menulis, menulis news letter, menulis in
house journal, menulis news release, menulis feature, dll. Biasanya
praktisi dalam peran ini tidak hadir pada saat manajemen menemui
kesulitan. Mereka tidak dilibatkan dalam manajemen sebagai
pengambil keputusan. Peran mereka lebih ke arah penulisan tools
dan mengimplementasikan program. Mereka sebagai "the last to
know"

2.Expert Prescriber
Praktisi PR sebagai pendefinisi problem, pengembang program dan
memeiliki tanggungjawab penuh untuk mengimplementasikannya.
Mereka sebagai pihak yang pasif. Manajer yang lainnya
menyerahkan tugas komunikasi sepenuhnya ke tangan si
"komunikasi" ini sehingga mereka dapat mengerjakan pekerjaan
mereka yang lainnya.Tampaknya bangga karena PR semacam ini
dianugerahi kepercayaan tinggi tetapi karena tidak adanya
keterlibatan top manajemen dalam peran PR maka PR seolah
terisolir dari perusahaan. Ia sibuk sendiri dengan pekerjaannya. Di
pihak manajemen mereka juga menjadi sangat tergantung kepada PR
nya. Mereka menjadi minim komitmen kepada tugas tugas PR,
padahala seperti diketahui seharusnya tugas PR harusnya dilakukan
oleh semua orang yang ada dalam sebuah perusahaan,
Dalam hal diffusi peran dan fungsi PR sehingga mereka paham
spirit perlunya PR bagi perusahaan menjadi rendah dan tidak akan
tersosialisasi bahkan terburuk akan hilang kepercayaan top
manajemen akan fungsi PR bagi sebuah organisasi. Hal ini akan
terjadi apabila top manajemen banyak merasa dikecewakan oleh PR
yang dianggap mereka sebagai pakar.
3.Communication Facilitator
PR sebagai pendengar setia dan broker informasi. Mereka sebagai
penghubung, interpreter dan mediator antara organisasi dan
publiknya. Mereka mengelola two way communicationnya dengan
cara membuka rintangan komunikasi yang ada/yang terjadi.
Tujuannya dalam hal ini adalah untuk menyediakan kebutuhan dua
belah pihak akan informasi, membuat kesepakatan yang melibatkan
minat keduabelah pihak. Para pelaku dengan peran ini menempatkan
dirinya sebagai sumber informasi dan sebagai kontak antara
organisasi dan publiknya. Sebagai wasit dari interaksi,
memantapkan agenda yang akan didiskusikan antara dua belah
pihak, menyimpulkan pandangan, bereaksi terhadap kasus,
membantu partisipan mendiagnosa masalah, membantu
menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan komunikasi.
Mereka menjadi boundary spanner antara perusahaan dan publiknya.
Mereka bekerja di bawah asumsi bahwa two way communication
mampu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan organisasi
dan publik dalam hal prosedur, kebijakan, serta tindakan lain yang
berhubungan dengan minat kedua belah pihak.
4.Problem Solving Facilitator
Mereka berkolaborasi dengan manajer lain untuk mendefinisikan
dan memecahkan masalah. Mereka menjadi bagian dalam
manajemen stratejik perusahaan. Bergabung dengan konsultan mulai
dari awal direncanakan program hingga evaluasinya. Membantu
manajemen menerapkan PR sebagai tahapan fungsi manajemen
yang sama dengan kegiatan manajemen yang lain.
PR berfungsi sebagai bagian penting penganalisis situasi, memiliki
peran yang intens dalam pengembangan prosedur, kebijakan, produk
dan aksi perusahaan. Mereka juga memiliki power mengubah
sesuatu yang seharusnya diubah. Mereka harus terlibat dalam segala
bentuk perubahan organisasi.

Melalui peran ini mereka menjadi paham spirit setiap program baik
motivasi maupun tujuan mengapa program harus dilaksanakan,
mereka mensupport perubahan strategis organisasi, keputusan yang
sifatnya taktis dan memiliki komitmen pada perubahan dan mampu
menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam rangka
pencapaian tujuan program.
Mereka dimasukkan sebagai tim manajemen karena mereka mampu
menunjukkan kemampuan dan nilai dalam membantu manajemen
menangani serta menyelesaikan permasalahan
Fungsi dan Model PR
Secara turun temurun, fungsi PR dapat digambarkan sebagai
pengontrol publik, mengarahkan apa yang dipikirkan atau dilakukan
oleh orang lain dalam rangka memuaskan kebutuhan organisasi,
merespon publik, mereaksi pengembangan, masalah, mencapai
hubungan yang saling menguntungkan antara publiknya melalui
hubungan yang harmonis. Fungsi ini dekat dengan model PR yang
dipaparkan oleh Grunig dan Hunt (1994) yaitu the press
agentry/publicity model; the public information model; the two way
asymmetric model; the two way symmetric model. Secara detail
mengenai model tersebut adalah sebagai berikut:
Pada sejarah perkembangan konsep model Public Relations tampak
bahwa pada mulanya menurut Erc Goldman dalam Grunig
menyebutkan bahwa Public Relations diawali dengan the public be
fooled era atau press agentry dan public be informed atau public
information era.
Pada awalnya Grunig mengadopsi ide ini tetapi mengelaborasinya
dengan menambahkan mengenai tujuan dan arah komunikasi .
Grunig mengadopsi ide Thayer mengenai synchronic dan diachronic
communicationuntuk menggambarkan dua pendekatan dalam public
relations. Tujuan dari komunikasi sinkronis (synchronic
communication) adalah mensikronisasi perilaku publik terhadap
organisasi sehingga organisasi dapat melakukan apa yang diinginkan
tanpa campur tangan dari publiknya. Tujuan dari komunikasi
diakronik adalah untuk menegosiasikan kebutuhan antara organisasi
dengan publiknya.Pada akhirnya Grunig mengganti istilah
synchronic dan diakronik dengan assymetrical dan symetrical
communication.
Grunig and Hunt mengidentifikasi perkembangan sejarah Public
Relations. Pada awalnya Press agentry digunakan oleh praktisi PR
di pertengahan abad 19. Pada awal abad 20 mulai digunakan
model the public information. Keduanya merupakan representasi
dari one way approaches dimana dengan model ini diseminasi
informasi lebih banyak dengan menggunakan media.
Di era berikutnya, dengan dipengaruhi oleh pandangan Perilaku dan
ilmu ilmu sosial dikembangkanlah model two way
asymetrical yang menekankan pada propaganda dan manipulasi
publik (meskipun dalam arti yang positif). Memanipulasi di sini
berarti mengelola serta mengarahkan publik kepada tujuan kita
melalui cara memahami motivasi mereka. Selanjutnya
dikembangkanlah Two way symetrical model yang mengarah
kepada "telling the truth to public" . Model komunikasi ini
diterapkan kepada publik dengan menggunakan penelitian untuk
memfasilitasi apa yang diharapkan oleh publik daripada untuk
mengidentifikasi pesan apa yang dapat digunakan untuk
mempersuasi publik.
Grunig memaparkan Model two way symetric adalah pendekatan
yang dapat dikatakan baik dalam public relations. Sejalan dengan
konsep yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa sebuah
departemen dapat dikatakan baik dengan segala karakteristikanya
dapat membuat organisasi menjadi lebih efektif.
Grunig mengidentifikasi suatu teori normatif mengenai Public
Relations yang menganut Two Way Symetric adalah memiliki
karakter
1.Adanya saling tergantung dan pembinaan hubungan;
2.Ketergantungan dan pembinaan hubungan tersebut memunculkan
kurangnya konflik, perjuangan, dan saling berbagi misi;
3.Adanya keterbukaan,saling percaya dan saling memahami;
4.Konsep kunci mengenai negosiasi,colaborasi dan mediasi;
5.Perlunya dikembangkan suatu aturan bagi proses dan strategi.
Pemahaman tersebut dapat disarikan bahwa komunikasi yang
harmonis antara Public Relations dengan publiknya akan berjalan
baik jika didukung dengan komunikasi yang jujur untuk
memperoleh kredibilitas, keterbukaan dan konsisten terhadap
langkah-langkah yang diambil untuk memperoleh keyakinan orang
lain,adanya langkah-langkah fair untuk mendapatkan hubungan
timbal balik dan goodwill, komunikasi dua arah yang terus menerus
untuk mencegah keterasingan dan untuk membangun hubungan
serta selalu melakukan evaluasi dan riset terhadap lingkungan untuk
menentukan langkah atau penyesuaian yang dibutuhkan bagi sosial
yang harmonis. Pemilihan model yang tepat sangat tergantung dari
struktur sebuah organisasi dan bagaimana kondisi lingkungan
dimana perusahaan tersebut bertindak.
Aktifitas PR
Pekerjaan PR dapat dikerjakan sendiri atau oleh konsultan,
pemilihan ini sangat tergantung dari polcy perusahaan. Kelebihan
dan kekurangan dalam penggunaan konsultan dapat dilihat lebih
lanjut dalam tulisan Ida Anggraeni Ananda, Jurnal Visi Komunikasi.
Pada dasarnya aktifitas PR meliputi:
1. Komunikasi: perukaran ide, pendapat atau peasn melalui
visual, lisan atau tulisan
2. Publisitas: diseminasi pesan yang terencana melalui media
tertentu, tanpa bayaran, untuk meningkatkan minat terhadap
perusahaan/organisasi
3. Promosi: aktifitas mengkreasi atau menstimulasi perhatian
terhadap produk, orang, organisasi atau kasus.
4. Press agentry: melalui soft news stories
5. Integrated marketing: fungsi PR pendukung pemasran,
tujuan beriklan sebuah organisasi
6. Manajemen Isue: identifikasi, memonitor aksi publik atau
reaksi publik terhadap organisasi
7. Manajemen krisis: menghadapi krisis, bencana atau kegiatan
negatif yang tidak terencana dan memaksimal ekses positif
yang dapat diraih
8. Public Information offcer: sebagai penghubung antara
lembaga pemerintah, dan media
9. Public Affairs/lobbyist: bekerja mewakili perusahaan untuk
menghadapi politisi, perangkat pemerintah yang berperan
menetukan kebijakan dan undang-undang untuk
mempertahankan statusquo atau mengubahnya.
10. Financial Relations: menghadapi dan mengkomunikasikan
informasi kepada pemegang saham atau masyarakat pemodal
11. Community Relations: memantapkan dan meningkatkan
hubungan antara organisasi dan masyarakat
12. Internal Relations: memantapkan dan meningkatkan
hubungan dengan orang orang yang berada dan memilki
hubungan di dalam organisasi
13. Industry Relations: memantapkan dan meningkatkan
hubungan dengan atau atas nama perusahaan dengan industri
14. Minority Relations: memantapkan dan meningkatkan
hubungan dengan group minoritas dan individual
15. Media Relations: memantapkan dan meningkatkan hubungan
dengan media
16. Public Diplomacy: memantapkan dan meningkatkan
hubungan untuk membuka jalur perdagangan, pariwisata dan
kerjasama antar negara
17. Event management: menyiapkan, merencanakan, melakukan
kegiatan yang bermanfaat dalam suatu waktu
18. Sponsorship: menawarkan atau menerima bantuan dana
dengan imbalan public exposure
19. Cause/Relationship marketing: memantapkan dan
meningkatkan hubungan dengan konsumen
20. Fund Raising: memantapkan dan meningkatkan hubungan
atas nama sektor non profit untuk mendorong terkumpulnya
dana serta bantuan
Kompetensi PR
Setelah melihat secara sepintas apa itu PR, peran, model, fungsi
serta aktifitasnya maka dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi PR
bukanlah orang yang sembarangan. Banyak kriteria kompetensi
yang harus dimiliki. Diantaranya adalah:
Lulusan PR hendaknya mampu:
1. Teori PR dan komunikasi untuk mendukung praktek PR
2. Kemampuan menganalisis dan merencanakan
3. Kemampuan teknis dan komunikasi
4. Pemahaman sosial, politik, etis dan hubungannya dengan
program
5. Pemahaman tentang proses dan aplikasi dunia industry
Secara khusus kemampuan yang harus dimiliki:
1. Kemampuan vocational seperti riset, menulis,
mendengarkan, presentasi,dll
2. Memiliki kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain:
interpersonal skills, networking, mendengar
3. Kemampuan profesional: paham mengenai perencanaan dan
taat deadline
4. Memiliki perspektif etika
5. Mengerti teknologi yang dapat digunakan sebagai tools
6. Harus memiliki kemauan belajar tinggi (life long learning)
7. Being thinkers: kemampuan analisis, kritis, strategis,
evaluatif, kreatif dan lateral















Chapter 1 : Unsur Dasar Humas
1.1 Definisi dan Pengertian Public Relations
Sebagai sebuah ilmu, public relations (humas) mempunyai
banyak definisi, baik dari definisi yang diberikan oleh ahli, definisi
yang dihasilkan dari pertemuan para ahli, maupun definisi/
pengertian dari lembaga resmi yang khusus berkonsentrasi pada
ilmu kehumasan. Pengertian dan definisi PR dijelaskan dalam
berbagai penjelasan yang berbeda, tetapi pada dasarnya mengandung
kesamaan.
Beberapa definisi tentang humas :
a. IPR (institute of public relations):
Humas adalah keseluruhan upaya yang dilangsungkan secara
terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan
memelihara niat baik dan saling pengertiananatara suatu organisasi
dengan segenap khalayaknya.
b. Frank Jeffkins:
Humas merupakan segala bentuk komunikasi berencana keluar dan
kedalam antara sebuah organisasi dengan masyarakat untuk tujuan
memperoleh sasaran sasaran tertentu yang berhubungan dengan
saling pengertian(mutual understanding).
c. World Assembly of PR ( Meksiko, 19878):
Humas merupakan seni dan ilmu sosial yang menganalisis
kecenderungan kecenderungan sosial dan meramalkan akibat
akibatnya dan memberikan pandangan dan pendapat pada para
pimpinanorganisasi serta melaksanakan program program kegiatan
yang telah direncanakan dan sekaligus melayani dua kepentingan
yaitu kepentingan organisasi dan masyarakat.

1.2 Unsur unsur dasar dalam definisi humas
Melakukan program terencana dan berkesinambungan
sebagai bagian dari manajemen organisasi.
Memonitor kesadaran, opini, sikap, dan perilaku didalam
dan diluar organisasi.
Menganalisis dampak dari kebijakan prosedur dan
tindakan yang bertentangan dengan kepentingan public
serta kelangsungan hidup organisasi.
Memberi saran kepada manajemen dalam membuat
kebijakan baru, prosedur dan tindakan baru yang sama
sama bermanfaat bagi orang dan publik.
Membangun dan mempertahankan komunikasi dua arah
antara organisasi dan publik.
Menciptakan perubahan yang terukur dalam kesadaran,
opini, sikap dan perilaku baik di dalam dan diluar
organisasi.
Menghasilkan hubungan yang baru dan tetap antara
organisasi da publiknya.
Chapter 2: Opini Publik
2.1 Pengertian opini publik
Opini Publik adalah sekumpulan pandangan individu terhadap isu
yang sama yang berhubungan dengan arah opini, pengukuran
intensitas, stabilitas, dukungan informasional dan dukungan sosial
Menurut Emory Bogardus, opini public adalah hasil pengintegrasian
pendapat berdasarkan diskusi yang dilakukan didalam masyarakat
demokratis. Opini public bukan merupakan seluruh jumlah pendapat
individu-individu yang dikumpulkan.
Dalam praktik kehumasan dalam menciptakan opini public ada 3
cara,yaitu sebagai berikut :
a . Tekanan (pressure)
Lebih banyak menggunakan pengaruh,baik secara individu yang
mempunyai kewibawaan/karisma pribadi maupun berdasarkan
kekuasaan jabatan atau kekuasaan tertentu.
b. Membeli (buying)
Sama dengan membeli suara alias menyogok dengan sejumlah
uang (money politic) agar bisa memperoleh dukungan. Cara ini
sering dipergunakan dalam kehidupan masyarakat dalam pemilihan
kepala desa dan sebagainya, termasuk kegiatan dalam pemilu untuk
mencari dukungan suara lebih banyak.Kegiatan membeli suara opini
publik ini juga diperlukan dalam rapat pemegamg saham di
perusahaan, termasuk pihak pejabat humas (PRO) dalam berupaya
menjaga publisitas di media pers atau citra lembaga/institusi di mata
masyarakat dan pers dengan cara membelikan amplop kepada
oknum wartawan yang selama ini telah dibina dalam aktivitas di
lingkungan instansinya masing-masing
c . Bujukan/ persuasi (persuasive)
Yang paling tepat atau wajar dalam aktivitas peranan PR dalam
membentuk atau merekayasa opini public,yaitu dengan cara
membujuk
2.2 Proses Pembentukan Opini Publik
Proses terbentuknya opini publik melalui beberapa tahapan yang
menurut Cutlip dan Center ada empat tahap, yaitu :
1. Ada masalah yang perlu dipecahkan sehingga orang mencari
alternatif pemecahan.
2. Munculnya beberapa alternatif memungkinkan terjadinya diskusi
untuk memilih alternatif
3. Dalam diskusi diambil keputusan yang melahirkan kesadaran
kelompok.
4. Untuk melaksanakan keputusan, disusunlah program yang
memerlukan dukungan yang lebih luas.
Opini publik sudah terbentuk jika pendapat yang semula
dipertentangkan sudah tidak lagi dipersoalkan. Dalam hal ini tidak
berarti bahwa opini publik merupakan hasil kesepakatan mutlak atau
suara mayoritas setuju, karena kepada para anggota diskusi memang
sama sekali tidak dimintakan pernyataan setuju. Opini publik
terbentuk jika dalam diskusi tidak ada lagi yang menentang
pendapat akhir karena sudah berhasil diyakinkan atau mungkin
karena argumentasi untuk menolak sudah habis.
Berdasarkan terbentuknya opini publik, kita mengenal opini publik
yang murni. Opini publik murni adalah opini publik yang lahir dari
reaksi masyarakat atas suatu masalah (isu). Sedangkan opini publik
yang tidak murni dapat berupa :
Manipulated Public Opinion, yaitu opini publik yang
dimanipulasikan atau dipermainkan dengan cerdik
Planned Public Opinion, yaitu opini yang direncanakan
Intended Public Opinion, yaitu opini yang dikehendaki
Programmed Public Opinion, yaitu opini yang diprogramkan
Desired Public Opinion, yaitu opini yang diinginkan

Chapter 3: Employee Relations
3.1 Teori dasar
Tentu saja, aspek yang amat penting bagi kesuksesan
organisasi adalah karyawan. Sebelum ada hubungan dengan
konsumen, pelanggan, lingkungan, investor dan pihak lain di luar
organisasi, manajemen harus terlebih dahulu memerhatikan orang
orang yang bekerja pada mereka - yakni para karyawan. karena itu,
CEO di dalam organisasi sering memandang karyawan mereka
sebagai publik nomor satu atau aset organisasi paling penting,
dan mereka berusaha menciptakan kultur organisasi yang bisa
menarik danmempertahankan karyawan atau pekerja yang produktif.
Bagian dari praktik PR ini dinamakan hubungan internal.
3.2 Mengapa seorang manajer harus menghormati
karyawanya?
Menurut Alvie Smith, mantan direktur korporat di Generals Motor,
ada dua faktor yang menjelaskan mengapa manajemen menghormati
salah satu aspek dari fungsi PR ini
1. Arti penting pemahaman, teamwork, dan komitmen
karyawan dalam mencapai hasil standar. Aspek positif dari
perilaku karyawan ini sangat dipengaruhi oleh komunikasi
dua arah yang interaktif di seluruh organisasi.
2. Kebutuhan untuk membangun jaringan komunikasi -
manajer, jaringan yang membuat setiap supervisor di setiap
level bisa melakukan komunikasi secara efektif dengan
karyawan.
3.3 Tugas dan strategi bekerja komunikasi karyawan
Ahli hubungan internal bekerja di bagian komunikasi karyawan,
hubungan karyawan, atau hubungan internal. mereka ini
merancang dan mengimplementasikan program komunikasi internal
dengan tujuan agar karyawan tetap mendapat informasi baru dan
tetap termotivasi, serta menciptakan kultur organisasi. Menurut Jon
Iwata, wakil presiden komunikasi di IBM, Ketika kami berbicara
tentang komunikasi karyawan, kami benar-benar memikirkannya
dalam term kultur korporat - bagaimana pekerjaan diselesaikan
dalam perusahaan kami, bagaimana kami memandang sesuatu yang
ada di sini. dia menunjukan bahwa CEO selalu memainkan peran
penting.CEO harus membuat bisnisnya berjalan dan dilaksanakan,
dan untuk itu dibutuhkan karyawan. Agar hasil tercapai, maka
karyawan harus bersama anda.
Agar tugas ini mampu berjalan dengan baik, maka bagian
komunikasi karyawam harus mempunyai strategi dalam
menjalankan tugasnya. Strategi yang dapat diterapkan misalnya
adalah seperti berikut ini, staff hubungan internal bekerja sama
dengan depertemen SDM untuk mengkomunikasikan berbagai
berita, pelatihan, dan topik penting lainnya kepada karyawan.
Mereka bekerja sama dengan department legal dalam
mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan ketenagakerjaan
selama negosiasi kontrak kerja dann pemutusan hubungan kerja.
Dan staff hubungan internal juga bekerja sama dengan staf
hubungan eksternal uuntuk mengkoordinasikan pesan-pesan
sehingga perusahaan mengoordinasikan pesan - pesan sehingga
perusahaan mengemukakan pernyataannya dalam satu suara.

Chapter 4: Hubungan Dengan Pemegang Saham
4.1 Teori dan Fungsi Humas Pemegang Saham
Fungsi humas berkisar pada kegiatan menciptakan dan
mewujudkan hubungan yang harmonis dengan pemegang saham. Ini
dilakukan dengan membinas hubungan yang sudah baik dan upaya
mencegah terjadinya hubungan yang retak dan ini dilaksanakan
dengan komunikasi. Komunikasi dapat dilakukan oleh kahumas
secara lisan maupun media yang berlangsung secara timbal balik.
Dengan keterampilan berkomunikasi, humas dapat menjadi mediator
untuk menyalurkan perasaan kepada pemegang saham..
Pembinaan merupakan kegitan komunikasi yang menjadi tugas
humas (Stocjholder relation) antara lain sbb :
Menyatakan selamat pada pemegang saham baru
Mengirimkan berkala organisasi
Menyampaikan laporan tahunan
4.2 Penerapan Humas Dalam Hubungan Pemegang Saham
Hubungan humas dengan pemegang saham ini, erat kaitannya
dengan perusahaan franchise atau apa yang lebih kita kenal sebagai
waralaba. Waralaba atau Franchising (dari bahasa Prancis untuk
kejujuran atau kebebasan) adalah hak-hak untuk menjual suatu
produk atau jasa maupun layanan. Sedangkan menurut versi
pemerintah Indonesia, yang dimaksud dengan waralaba adalah
perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan
atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual(HAKI) atau
pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu
imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain
tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan
jasa.
Sedangkan menurut Asosiasi Franchise Indonesia, yang dimaksud
dengan Waralaba ialah:
Suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan
akhir, dimana pemilik merek (franchisor) memberikan hak kepada
individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek,
nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan
sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.
Tingkat pengembalian yang layak dari sebuah waralaba adalah
minimum 15 persen dari nilai.
Chapter 5: Hubungan dengan Distributor
5.1 Dasar Teori
Dalam membina hubungan kerja sama jangka panjang antara
Principal dan Distributor perlu dibangun dan dikembangkan, yang
untuk itu peran Account Manager/Account Executive (yang
mewakili Principal) dalam meningkatkan hubungan kerja sama
jangka panjang dan profesional perlu ditingkatkan, Peran Account
Manager / Account Executive yang bertanggung jawab terhadap
pengembangan kinerja Distributor masih perlu ditingkatkan, yang
untuk itu diperlukan program pengembangan pengetahuan &
keterampilan yang menyangkut pengembangan System Distribusi ,
khususnya System Pengelolaan Distributor sebagai ujung tombak
yang berhubungan langsung dengan pasar.
Peran distributor yaitu sebagai perantara untuk menyalurkan barang
dari produsen ke konsumen. Distributor memerlukan retailer untuk
menyalurkan barang kepada pelanggannya, karena itu diperlukan
loyalitas retailer terhadap merek dan dilakukan promosi penjualan
kepada retailer yang diharapkan dapat menciptakan intensitas
pembelian sesuai target yang telah ditentukan produsen. Hal ini
disebabkan oleh dua alas an, yaitu: 1. Ada hubungan yang kuat
antara loyalitas merek dengan intensitas pembelian. 2. Ada
hubungan yang kuat antara promosi penjualan dengan intensitas
pembelian.
5.2 Strategi Dalam Investor Relation
Jangan Langsung mengkambing hitamkan Distributor. Introspeksi
diri dulu !
Sebelum menjatuhkan Vonis Pemutusan Hubungan Kerja dengan
Distributor dijadikan kambing, Principal perlu mengintrospeksi diri
dahulu dalam hal - hal dibawah ini :
Apakah Principal sudah memberikan Kualitas Produk yang baik dan
konsisten ?
Apakah Principal sudah melakukan Brand Building setingkat
dengan pesaing terdekat ?
Apakah Principal sudah memberikan Distributor allowance
memadai untuk Medium Term Market Developing Initiatives ?
Apakah Principal sudah memberikan Distributor allowance
memadai untuk Short Term Sales Generating Promotions ?
Apakah Principal secara disengaja atau tidak disengaja menciptakan
price dan margin diparity antar distributor / sub distributor / agen
sehingga terjadi harga rusak dipasar atau black market ?
Apakah sudah terjalin jalur komunikasi, koordinasi dan hot line
problem solving yang memadai paling tidak 1x / bulan selain
laporan rutin bulanan ?
Chapter 6: Hubungan dengan masyarakat sekitar
6.1 Teori dan Tugas yang Berhubungan Dengan Masyarakat
Sekitar
Bagian humas yang berkonsentrasi dalam hubungan dengan
masyarakat sekitar berfungsi untuk membangun dan menjaga kesan
yang baik di masyarakat. Pada umumnya kesan yang jelek datang
dari ketidak-pedulian, prasangka buruk, sikap melawan, dan apatis.
Seorang petugas humas harus mampu untuk mengubah hal-hal ini
menjadi pengetahuan dan pengertian, penerimaan dan ketertarikan.
Sebagai sebuah profesi seorang Humas bertanggung jawab untuk
memberikan informasi, mendidik, meyakinkan, meraih simpati, dan
membangkitkan ketertarikan masyarakat akan sesuatu atau membuat
masyarakat mengerti dan menerima sebuah situasi.
Seorang humas selanjutnya diharapkan untuk membuat program-
program dalam mengambil tindakan secara sengaja dan terencana
dalam upaya-upayanya mempertahankan, menciptakan, dan
memelihara pengertian bersama antara organisasi dan
masyarakatnya. Kesan (image)
Kesan disini berarti gambaran yang diperoleh seseorang tentang
suatu fakta sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pengertian
mereka (terhadap suatu produk, orang, atau situasi).
pengetahuan dan pengertian
Humas memiliki peran penting dalam membantu menginformasikan
pada publik internal (dalam organisasi) dan publik eksternal (luar
organisasi) dengan menyediakan informasi akurat dalam format
yang mudah dimengerti sehingga ketidak-pedulian akan suatu
organisasi, produk, atau tempat dapat diatasi melalui pengetahuan
dan pengertian.
Chapter 7: Hubungan dengan pemerintah
7.1 Pengertian dan Tujuan
Maksudnya adalah mengakrabkan diri dengan pimpinan instansi
pemerintah setempat,setidak-tidaknya dengan humas instansi yang
bersangkutan.Tujuan Pembinaan itu adalah,di satu pihak untuk
melancarkan hubungan kerja bilamana suatu ketika
diperlukan,memperlicin permohonan kalau suatu waktu
diajukan,mempermudah pemecahan masalah jika suatu asat terjadi
salah pengertian.
7.2 Hubungan Pemereintah dengan Wartawan
HUBUNGAN antara pejabat (praktisi) hubungan masyarakat
(humas) dengan wartawan (biasa pula disebut pers), bagaikan
hubungan dua orang teman atau mitra yang saling memerlukan.
Hubungan kedua orang yang bermitra tersebut bersifat simbiosis
mutualisme (saling membutuhkan). Hubungan mereka saling
bergantung (interdependen) dan saling membutuhkan. Posisi kedua
mitra tersebut setara (sama tinggi, sama rendah), namun peran atau
fungsi, motif dan tujuan kegiatan masing-masing saling berbeda.
Humas di lingkungan lembaga pemerintahan daerah, baik lembaga
eksekutif maupun legislatif (DPRD), bekerja atas nama dan untuk
rakyat atau masyarakat daerah setempat. Mereka bekerja
berdasarkan mandat masyarakat. Oleh karena itu, mereka yang
bekerja di pemda dan DPRD wajib melaksanakan amanat
masyarakat yang diembankan ke atas pundak mereka. Mereka wajib
melayani dan memenuhi kebutuhan masyarakat atau membantu
masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan mereka yang tentu saja
bermacam - macam.
Demikian pula halnya dengan wartawan. Mereka bekerja
berdasarkan amanat masyarakat pula. Ada dua hal pokok isi mandat
masyarakat yang diembankan kepada lembaga pers, yang
diaktualisasikan wartawan, yakni hak tahu dan hak memberitahukan.
Wartawan wajib mewujudkan isi kedua hak masyarakat tersebut.
Nah, salah satu sumber atau narasumber yang sangat penting yang
menjadi mitra kerja wartawan pastilah humas pemda dan humas
DPRD. Untuk mewujudkan hak tahu masyarakat, wartawan harus
tekun dan gigih mencari fakta-fakta (informasi) penting yang
dibutuhkan masyarakat di daerah yang bersangkutan. Agar ini dapat
diwujudkan wartawan, humas sebagai mitranya harus selalu siap
menjawab pertanyaan dan memenuhi permintaan wartawan akan
fakta-fakta penting yang berhubungan dengan kepentingan
masyarakat daerah, yang pasti sangat beraneka.

Chapter 8: Customer Relation
8.1 Landasan Teori
Pekerjaaan humas tidak hanya berkutat pada kegiatan publikasi yang
mementingkan tujuan untuk mendapat citra yang baik di
masyarakat, tetapi juga kegitan penyelidikan yang tidak jauh
berbeda dengan spionase. Maksudnya adalah humas memantau
langsung bagaimana respons masyarakat terhadap barang maupun
jasa yang mereka tawarkan. Pantauan ini dapat dilakukan humas
dengan berbagai cara, baik bertanya langsung kepada masyarakat,
menyelenggarakan seminar produk, mengadakan questioner,
ataupun cara cara lain sesuai dengan strategi dan kebutuhan
mereka.
8.2 Strategi Customer Relations
Dengan semakin banyaknya bermunculan produk barang maupun
jasa yang sejenis, bagian humas harus semakin jeli dalam
melaksanakan pemantauan terhadap customer agar mereka tetap
memilih produk tersebut dan tidak berpaling ke produk lain. Salah
satu yang banyak digunakan dalam strategi customer relation adalah
dengan terlibatnya kepala humas (kahumas) di antara peusahaan
perusahaan saingannya. Dengan terlibatnya kahumas dalam perang
propaganda antara perusahaan-perusahaan saingannya,ia harus
cekatan dan terampil dalam berkomunikasi dan dalam memantau
kegiatan lawan.Ia bersama staff harus membiasakan diri setiap hari
membaca surat kabar dan penerbitan lain,mendengarkan radio
terutama radio swasta niaga yang biasa mwenyiarkan iklan dan
menonton televise untuk mengetahui kalau ada propaganda dari
perusahaan lawan yang cenderung merebut public yang telah
dibinanya.

Chapter 9: Investor relations
9.1 Pengertian dan Tugas Investor Relations.
Investor relations (humas investor) adalah salah satu bidang humas
yang bekerja dalam suatu perusahaan dan bertugas untuk menarik
minat investor untuk menanamkan sahamnya di perusahaan tersebut
dengan tujuan untuk mengembangkan perusahaan dan keuntungan
bagi investor itu sendiri. Hubungan in serupa dengan hubungan
pemerintah dan wartawan dimana didalamnya terdapat simbiosis
mutualisme.
9.2 Tanggung Jawab Investor Relations.
Tanggung Jawab Hubungan Investor adalah untuk meyakinkan para
investor untuk berinvestasi jangka panjang & menguntungkan
didalam keegiatan perusahan yang dikelola dengan baik dengan
tujuan pengembangan dan pertumbuhan perusahaan berkelanjutan.
Humas dalam Hubungan Investor Tanggung Jawab Strategis
Manajemen yang mengintegrasikan keuangan, komunikasi,
marketing, ketaatan pada hukum-hukum perdagangan saham, yang
dapat membuka jalan untuk komunikasi dua arah yang paling efektif
antara perusahaan, komunitas finansial, dan kelompok-kelompok
lain, yang pada akhirnya akan menyumbangkan masukan yang
berharga bagi saham perusahaan tersebut dalam mencapai nilai yang
terbaik -National Investor Relations Institute (NIRI), Maret 2003
.Selain itu, humas investor juga memiliki tanggung jawab lain
seperti dibawah ini. Tanggung jawab humas investor, diantaranya:
1. Planning (perencanaan)
2. Organizing (pengkoordinasian)
3. Actuating (pelaksanaan)
4. Controlling (pengendalian)

Chapter 10: Pers Relations
10.1 Pengertian Pers Relations
Pers Relations adalah kode etik kehumasan yang mengatur tata cara
seorang humas untuk bersikap dalam komunikasi kepada wartawan
(pers) dalam segala bentuk. Hubungan ini tentu saja bertujuan untuk
melayani dan memenuhi kebutuhan masyarakat dengan sebaik-
baiknya, yang tidak lain tujuan akhirnya adalah untuk mendapatkan
pencitraan yang baik dari masyarakat.
10.2 Strategi dalam penerapan Pers Relation
Dalam menjalankan setiap fungsi dari pekerjaan mereka, setiap
bagian bagian dalam humas tentu saja memiliki stratego masing
masing yang berbeda dengan dengan strategi kehumasan di bidang
lain. Begitu pula dalam humas bagian pers relations, mereka
mempunyai strategi sendiri dalam bertugas. Strategi strategi
tersebut adalh sebagai berikut:
Pertama, hubungan humas dengan wartawan bersifat profesional.
Selain melayani masyarakat, humas wajib melayani wartawan secara
profesional. Humas jangan berhubungan terlalu mesra dengan
wartawan. Kedua belah pihak, terutama masyarakat yang mereka
layani, pasti rugi bila tak ada jarak yang pas antara humas dengan
wartawan. Di mata wartawan humas harus berwibawa, wibawa yang
alamiah, bukan wibawa yang dibuat-buat agar disegani wartawan.
Humas yang professional pastilah sanggup menganalisis dengan
tajam tiap berita di media massa yang menyangkut daerah, instansi,
dan para pejabat pemda/DPRD yang bersangkutan. Dengan
demikian, humas mampu memberikan masukan yang baik terhadap
para pengambil keputusan di instansi di mana ia bekerja. Humas
yang benar-benar mampu bekerja secara profesional, termasuk
menjaga jarak yang pas dengan mitranya, pastilah dhormati,
disegani, dan dipercayai wartawan.
Kedua, humas harus tahu dan mengerti seluk-beluk dunia wartawan
atau jurnalisme, termasuk irama kerja wartawan di tiap jenis media
massa serta fungsi media massa. Termasuk pula, humas mesti tahu
nilai-nilai berita, tenggat waktu laporan wartawan, peta media massa
baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional, Kode Etik
Jurnalistik, Kode Etik (Pedoman Perilaku) Penyiaran, kekuasaan
atau kekuatan media massa, visi dan missi media massa yang
beredar/beroperasi di wilayahnya, dan sebagainya.
Ketiga, humas juga harus/perlu memiliki kemampuan praktik
jurnalisme, yakni meliput, wawancara, memotret, menulis berita
langsung, berita khas (feature news), dan artikel opini.
Keempat, humas harus mampu mengenal wartawan dan redaktur
secara personal. Ini sangat penting, agar humas mampu
berkomunikasi dengan efektif dengan mitranya. Humas harus tahu
tingkat/jenis komunikasi digunakan wartawan yang sedang berbicara
dengannya.
Chapter 11: Manajemen Krisis
11.1 Bagaimana Krisis Terjadi?
Penyebab terjadinya krisis adalah karena keterbatasan manusia
mengatasi berbagai tuntutan lingkungan atau kegagalan teknologi
tinggi. Seperti diketahui, kemajuan teknologi media, akan dengan
mudah dan cepat menyampaikan informasi krisis ke seluruh penjuru.
Berita mengenai krisis, isu miring, atau pun berita negatif akan
dengan cepat menyebar ke mana-mana. Teknologi internet yang kini
menjadi bagian dari kehidupan kita menyebabkan mudahnya
memperoleh informasi.
11.2 Tugas - Tugas Manajemen Krisis
Tugas utama yang harus dilakukan oleh tim krisis adalah melakukan
identifikasi krisis dan menentukan langkah-langkah apa yang harus
dilakukan. Semua tim harus bisa menjelaskan pesan-pesan
komunikasi yang sudah disepakati. Tim manajemen krisis harus
menghindari pernyataan off the record, karena dia benar-benar
menguasai masalahnya. Baik sekali kalau diterbitkan buku petunjuk
penanggulangan krisis.
11.3 Peranan Humas dalam Mengatasi Krisis
Ada hal penting yang diingat oleh praktisi PR, soal pers, dalam
situasi krisis, yaitu :
Pers beranggapan bahwa berita buruk adalah berita yang baik bagi
pers.
Pers seperti burung pemakan bangkai, akan mencecar korban
dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa memojokkan
Dalam konteks tersebut, penting untuk diketahui bagaimana
strategi berhubungan dengan media yang baik. Karena hal demikian
akan menjadi salah satu kunci penting, bagaimana PR dapat
mengambil peranannya dengan baik.
Selain pers, stakeholder lainnya juga penting untuk dihadapi secara
khusus. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan krisis
pasti akan diajukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Tim juga
harus bisa menjelaskan hal yang sama kepada stakeholder.
Disinilah peranan lobbying yang seharusnya selalu dilakukan oleh
PR menjadi sangat berarti. Hubungan baik dengan pihak tokoh
masyarakat, para pengamat, LSM, karyawan berpengaruh, untuk
memuluskan program PR, baik sebagai nara sumber pers, atau pun
menjelaskan kepada publik mengenai masalah yang terjadi.
Dengan demikian, PR dapat berperan sebagai penarik dan penilai
kesimpulan atas opini, sikap serta aspirasi dari berbagai kelompok
masyarakat (internal dan eksternal) yang terkena dampak kegiatan
PR. Selain itu, PR dapat juga mengajukan usul atau saran kebijakan
atau etika perilaku tertentu yang akan menyelaraskan kepentingan
klien dengan kelompok masyarakat tertentu. Juga, PR dapat
merencanakan dan melaksanakan rencana janga pendek, menengah,
dan panjang untuk menciptakan dan meningkatkan pengertian dan
pemahanan terhadap objek, kegiatan, metode dan masalah yang
dihadapi.
Pentingnya peranan PR dalam menghadapi isu atau krisis jelas tidak
bisa diragukan lagi. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya bila
organisasi mengalami krisis dan diisukan negatif, tapi tidak ada sfat
PR yang menanganinya. Pasti isu akan semakin berkembang dan
krisis akan semakin membesar.
Chapter 12: Media Humas
12.1 Landasan Teori
Media humas, adalah segala bentuk media masyarakat yang
digunakan humas dalam pekerjaannya dengan tujuan publikasi yang
luas agar produk atau jasa yang humas pasarkan lebih dikenal oleh
masyarakat. Media humas bersifat lebih kepada publikasi dan
komunikasi. Media komunikasi yang penting digunakan humas
adalah dalam kemitraannya dengan media pers (cetak atau
elektronik). Dengan demikian struktur dan ciri-ciri pers harus
dikuasai oleh para praktisi humas, termasuk waktu penerbitan, cara
kerjasamanya dengan redaksi, dll. Oleh karena itu penting dipahami
pula sejumlah pedoman siaran pers
12.2 Contoh Contoh Media Pers
a. News Release
Terdapat pada media cetak maupun elektronik. kelayakan berita,
artikel, foto, yang kesemuanya harus sesuai dengan persyaratan
redaksional dan beritanya sampai siap cetaknya. Oleh karena itu
pula baik praktisi humas maupun wartawan perlu menghayati dan
saling menghormati kode etik pers dan etika profesi masing-masing
bahkan peraturan hukum pers.
b. Acara temu pers
Biasanya diselenggarakan sebagai kelengkapan informasi untuk
siaran berita humas. Kadang-kadang dilengkapi pula dengan
pelayanan buku petunjuk mengenai features, daftar majalah
mingguan daerah, daftar perusahaan. Temu pers biasanya
mengambil lokasi di kantor tempat humas itu bekerja, di kantor
tempat wartawan, atau bahkan mungkin di sebuah pusat
perbelanjaan.
c. Sponsor media elektronik
Biasanya digunakan jika melibatkan isu mengenai
pemerintahan, ataupun yang berhubungan denan iklan layanan
masyarakat (isu olahraga, pendidikan, pendukung iklan/pemasaran).
Di samping itu ciri umumnya melalui berkala intern. Media film
dokumenter merupakan bentuk dan ciri media humas yang penting.
Tidak kurang pentingnya juga ciri media komunikasi tatap muka
langsung dengan publik, kadang-kadang dengan alat bantunya
berupa pertunjukkan kesenian rakyat, ceramah, dan beraneka ragam
pameran.
Chapter 13: Humas dan Tanggung Jawab social
13.1 Penyajian Materi
Humas dan tangging jawab sosial, erat kaitannya dengan
pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan Masyarakat (bahasa
Inggris:Community Development) secara umum merupakan
kegiatan pengembangan masyarakat yang diarahkan untuk
memperbesar akses masyarakat untuk mencapai kondisi sosial-
ekonomi-budaya yang lebih baik apabila dibandingkan dengan
sebelum adanya kegiatan pembangunan.
13.2 Tujuan Pemberdayaan Masyarakat
Sehingga masyarakat di tempat tersebut diharapkan menjadi lebih
mandiri dengan kualitas kehidupan dan kesejahteraan yang lebih
baik. Program Community Development memiliki tiga karakter
utama yaitu berbasis masyarakat (community based), berbasis
sumber daya setempat (local resource based) dan berkelanjutan
(sustainable). Dua sasaran yang ingin dicapai yaitu: sasaran
kapasitas masyarakat dan sasaran kesejahteraan. Sasaran pertama
yaitu kapasitas masyarakat dapat dicapai melalui upaya
pemberdayaan (empowerment) agar anggota masyarakat dapat ikut
dalam proses produksi atau institusi penunjang dalam proses
produksi, kesetaraan (equity) dengan tidak membedakan status dan
keahlian, keamanan (security), keberlanjutan (sustainability) dan
kerjasama (cooperation), kesemuanya berjalan secara simultan.
13.3 Strategi Bekerja Humas Dalam Bidang Tanggung Jawab
Sosial
Salah satu usaha yang dapat dijalankan humas dalm tanggung
jawabnya pada sosial adalah melalui iklan layanan masyarakat.Iklan
layanan masyarakat (bahasa Inggris: Public Service Ad atau
disingkat PSA) adalah iklan yang menyajikan pesan-pesan sosial
yang bertujuan untuk membangkitkan kepedulian masyarakat
terhadap sejumlah masalah yang harus mereka hadapi, yakni kondisi
yang bisa mengancam keselarasan dan kehidupan umum.
Iklan layanan masyarakat (ILM) dapat dikampanyekan oleh
organisasi profit atau non profit dengan tujuan sosial ekonomis yaitu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Selain Iklan layanan masyarakat, langkah lainnya yang dapat
dilakukan humas dalam tanggung jawab sosial adalah konsulta
humas. Konsultan humas adalah praktek pemberian jasa pelayanan
kreatif dan teknik-teknik khusus yang dilakukan oleh individual atau
lembaga yang berhak melakukannya berdasarkan pengalaman,
kemampuan, keahlian, kepemilikan, identitas, atau berbadan hukum
untuk tujuan usaha jasa konsultan Humas . Secara umum, macam
macam jasa yang disediakan oleh konsultan humas adalah;
Pemberian jasa konsultatif seperti pemberian nasihat (counseling),
layanan jasa terintegrasi yang luas dalam bentuk eksekusi dalam
bantuannya terhitung dari perencanaan konsep hingga penyelesaian
program kerja, Gabungan dari jasa konsultatif dan eksekusi, hingga
evaluasi program kerja humas.