Anda di halaman 1dari 17

Hari/Tanggal : Senin/ 14 Nopember 2011

Jam : 11.30 14.00 WIB






LAPORAN PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI

TOKSIKOLOGI LOGAM BERAT DAN METALOID




Oleh :
Kelompok 2

Oktipa sari (B04080010) (__________)
Melinda kusumadewi (B04080011) (__________)
Iin nuraeni (B04080012) (__________)
Wyanda Arnafia (B04080014) (__________)
Kadek Dwi Setiawan (B04080015) (__________)

















FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
PENDAHULUAN
Logam merupakan kelompok toksikan yang unik, ditemukan dan menetap di alam,
tetapi bentuk kimianya dapat berubah akibat pengaruh fisikokimia, biologis, atau aktivitas
manusia (Lu 2006). Manusia maupun hewan mempunyai peluang terpapar (exposed) logam
berat dari lingkungan. Dalam lingkungan yang kadar logam beratnya tinggi, kontaminasi
dalam air dan makanan dapat menyebabkan keracunan logam berat. Peralatan dan tempat
pakan yang mengandung logam berat juga dapat menyebabkan akumulasi logam berat dalam
tubuh hewan. Logam berat tidak mengalami metabolisme, tetapi tetap berada dalam tubuh
dan menyebabkan efek toksik dengan bergabung dengan suatu atau beberapa gugus ligan
yang esensial bagi fungsi fisiologis normal.
Disamping mengenali gejala-gejala keracunan logam-logam berat tersebut, perlu
dipelajari antidota kimianya, sebagai upaya untuk mengatasi keracunaannya. Identifikasi
jenis logam dalam keracunan logam diperlukan untuk penanggulanagn secara cepat.
Percobaan antidota kimia untuk beberapa jenis logam dan metaloid dilakukan secara in vivo
maupun in vitro, serta dilakukan dengan cara identifikasi sederhana untuk beberapa jenis
logam.
Antagonis logam berat, suatu kelator yang dirancang sebagai kompetitor bagi ligan
terhadap logam berat, dapat meningkatkan ekskresi dan efek toksik logam berat. Antagonis
tersebut membentuk kompleks dengan logam berat, mencegah atau menggeser ikatan logam
dengan ligan tubuh. Hasil reaksinya berupa cincin heterosiklik, dan yang berbentuk segi lima
atau segi enam merupakan cincin kelat yang paling stabil. Stabilitas kelat tergantung sifat
kimia golongan ligan. Timbal dan merkuri memiliki afinitas yang lebih besar terhadap ligan
yang mengandung sulfur dari pada ligan yang mengandung oksigen (Gunawan 2007).
Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas suatu kelator untuk pengobatan
keracunan logam berat yaitu afinitas relatif kelator terhadap logam berat dan logam esensial
dalam tubuh, distribusi kelator dan logam dalam tubuh, serta kemampuan kelator untuk
mengeluarkan logam dari dalam tubuh. Di samping itu, sifat-sifat kelator yang ideal
diantaranya (1) larut dalam air; (2) resisten terhadap biotransformasi; (3) mampu mencapai
tempat penyimpanan (depo) logam; (4) kelat yang terbentuk mudah diekskresi; (5) harus aktif
pada pH cairan tubuh (Gunawan 2007).
Logam berat yang sering terdapat dalam pencemaran air adalah Hg, Pb, Cd, Cr, Cu,
Ni, dan Zn dalam bentuk senyawa toksik. Faktor yang menyebabkan logam berat tersebut
dikelompokkan ke dalam zat pencemar ialah 1) logam berat tidak dapat terurai melalui
biodegradasi seperti pencemar organik, 2) logam berat dapat terakumulasi dalam lingkungan
terutama dalam sedimen sungai dan laut, karena dapat terikat dengan senyawa organic dan
anorganik, melalui proses adsorpsi dan pembentukan senyawa komplek. Karena logam berat
dapat terakumulasi dalam sedimen, maka kadar logam berat dalam sedimen lebih besar dari
air.




























TINJAUAN PUSTAKA
Logam berat merupakan salah satu unsur yang memiliki sifat berbahaya di permukaan
bumi, sehingga kontaminasi dari unsur ini di lingkungan merupakan masalah yang sangat
besar. Persoalan yang ditimbulkan di lingkungan akibat hadirnya pencemaran unsur logam
berat ini adalah akumulasinya sampai pada rantai makanan dan keberadaannya di alam, serta
meningkatnya sejumlah kandungan logam berat yang menyebabkan keracunan terhadap
tanah, udara dan air. Adanya proses industri dan urbanisasi memegang peranan penting
terhadap peningkatan kontaminan ini. Meskipun memiliki konsentrasi yang cukup rendah,
efek dari ion logam berat dapat berpengaruh langsung terhadap rantai makanan. Seperti
sumber-sumber polusi lainnya, unsur logam berat dapat ditransfer dalam jangkauan yang
cukup jauh di lingkungan dan berpotensi menggangu kehidupan biota lingkungan yang pada
akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan manusia walaupun dalam waktu yang cukup lama
dan jauh dari sumber polusi. Jika suatu organisme terpapar dan mengkonsumsi logam berat
secara tidak sengaja, maka efek yang ditimbulkannya dapat bersifat kronis. Unsur logam
berat adalah unsur yang mempunyai densitas lebih dari 5 gr/cm
3
. Hg mempunyai densitas
13,55 gr/cm
3
. Diantara semua unsur logam berat, Hg menduduki urutan pertama dalam hal
sifat racunnya dibandingkan dengan logam berat lainnya, kemudian diikuti oleh logam berat
Cd, Ag, Ni, Pb, As, Cr, Sn, Zn.
Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) adalah setiap bahan yang karena sifat atau
konsenterasi, jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan
dan/atau merusakkan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta
mahluk hidup lain. B3 dapat berupa bahan biologis (hidup/mati) atau zat kimia. Zat kimia B3
dapat berupa senyawa logam (anorganik) atau senyawa organik, sehingga dapat
diklasifikasikan sebagai B3 biologis, B3 logam dan B3 organik. Menurut data dari
Environmental Protection Agency (EPA) tahun 1997, yang menyusun top-20 B3 antara
lain: Arsenic, Lead, Mercury, Vinyl chloride, Benzene, Polychlorinated B iphenyls (PCBs),
Kadnium, Benzo(a)pyrene, Benzo(b)fluoranthene, Polycyclic Aromatic Hydrocarbons,
Chloroform, Aroclor 1254, DDT, Aroclor 1260, Trichloroethylene, Chromium (hexa valent),
Dibenz[a,h]anthracene, Dieldrin, Hexachlorobutadiene, Chlordane. Dari 20 B3 tersebut,
diantaranya adalah logam berat, antara lain Arsenic (As), Lead (Pb), Mercury (Hg), Kadnium
(Cd), dan Chromium (Cr).Sumber bahan pencemar logam berat dapat berasal dari alam,
misalnya kadar Pb yang secara alami dapat ditemukan dalam bebatuan sekitar 13 mg/kg.
Khusus Pb yang tercampur dengan batu fosfat dan terdapat didalam batu pasir ( sand stone)
kadarnya lebih besar yaitu 100 mg/kg. Pb yang terdapat di tanah berkadar sekitar 5-25 mg/kg
dan di air bawah tanah (ground water) berkisar antara -60 g/liter. Secara alami Pb juga
ditemukan di air permukaan. Kadar Pb pada air telaga dan air sungai adalah sebesar 1-10
g/liter. Dalam air laut kadar Pb lebih rendah dari dalam air tawar. Laut Bermuda yang
dikatakan terbebas dari pencemaran mengandung Pb sekitar 0,07 g/liter. Kandungan Pb
dalam air danau dan sungai di USA berkisar antara 1-10 g/liter. Secara alami Pb juga
ditemukan di udara yang kadarnya berkisar antara 0,0001- 0,001 g/m
3
. Tumbuh-tumbuhan
termasuk sayur-mayur dan padi-padian dapat mengandung Pb, penelitian yang dilakukan di
USA kadarnya berkisar antara 0,1-1,0 g/kg berat kering. Logam berat Pb yang berasal dari
tambang dapat berubah menjadi PbS (golena), PbCO
3
(cerusite) dan PbSO
4
(anglesite) dan
ternyata golena merupakan sumber utama Pb yang berasal dari tambang. Logam berat Pb
yang berasal dari tambang tersebut bercampur dengan Zn (seng) dengan kontribusi 70%,
kandungan Pb murni sekitar 20% dan sisanya 10% terdiri dari campuran seng dan tembaga.
Secara alami Hg dapat berasal dari gas gunung berapi dan penguapan dari air laut. Pernah
dilaporkan kandungan kadnium (Cd) dalam air laut di dunia di bawah 20 ng/l. Variasi lain
kandungan kadnium dari air hujan, freshwater dan air permukaan di perkotaan dan daerah
Sudarmaji, J.Mukono, Corie I.P., Toksikologi Logam Berat B3 131industri, kadnium pada
level 104000 ng/l tergantung pada spesifikasi lokasi atau saat pengukuran larutan kadnium.
Kadnium masuk ke dalam freshwater dari sumber yang berasal dari industri. Air sungai dan
irigasi untuk pertanian yang mengandung kadnium akan terjadi penumpukan pada sedimen
dan lumpur. Sungai dapat mentrasport kadnium pada jarak sampai dengan 50 km dari
sumbernya. Kadnium dalam tanah bersumber dari alam dan sumber antropogenik. Yang
berasal dari alam berasal dari batuan atau material lain seperti glacial dan alluvium. Kadnium
dari tanah berasal dari antropogenik dari endapan penggunaan pupuk dan limbah. Sebagian
besar kadnium dalam tanah berpengaruh pada pH, larutan material organik, logam yang
mengandung oksida, tanah liat dan zat organik maupun anorganik. Rata-rata kadar kadnium
alamiah dikerak bumi sebesar 0,1 -0,5 ppm.
Sumber pencemar logam Pb adalah semua industri yang memakai Pb sebagai bahan
baku maupun bahan penolong, misalnya: Industri pengecoran maupun pemurnian. Industri ini
menghasilkan timbal konsentrat (primary lead), maupun secondary lead yang berasal dari
potongan logam (scrap). Industri batery,industri ini banyak menggunakan logam Pb terutama
lead antimony alloy dan lead oxides sebagai bahan dasarnya. Industri bahan bakar yang
menggunakan Pb berupa tetra ethyl lead dan tetra methyl lead sebagai anti knock pada bahan
bakar, sehingga baik industri maupun bahan bakar yang dihasilkan merupakan sumber
pencemaran Pb. Industri pengecoran logam dan semua industri yang menggunakan Hg
sebagai bahan baku maupun bahan penolong, limbahnya merupakan sumber pencemaran Hg.
Sebagai contoh antara lain adalah industri klor alkali, peralat an listrik, cat, termometer,
tensimeter, industri pertanian, dan pabrik detonator. Kegiatan lain yang merupakan sumber
pencemaran Hg adalah praktek dokter gigi yang menggunakan amalgam sebagai bahan
penambal gigi . Selain itu bahan bakar fosil juga merupakan sumber Hg pula. Sumber dari
transportasi merupakan hasil pembakaran dari bahan tambahan (aditive) Pb pada bahan bakar
kendaraan bermotor menghasilkan emisi Pb in organik. Logam berat Pb yang bercampur
dengan bahan bakar tersebut akan bercampur dengan oli melalui proses di dalam mesin dan
logam berat Pb akan keluar dari knalpot bersama dengan gas buang lainnya. Keseluruhan
sumber pencemaran logam berat tersebut merupakan faktor-faktor yang sangat potensial
menyebabkan keracunan logam berat pada makhluk hidup dan organisme sekitarnya.






















MATERIAL DAN METODE
Percobaan 1 : Antidota Timah Hitam (Pb)
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah tabung-tabung reaksi, sedangkan
bahan yang digunakan adalah seduhan teh kental, larutan Pb asetat 10 %, alkohol, HCl encer
dan larutan Natrium thiosulfat 2 %.
Prosedur
Seduhan teh ditambahkan ke dalam larutan Pb asetat 10 %. Kemudian campuran ini
diambil sebagian untuk ditambah alkohol, sedangkan sebagian lagi ditambahkan larutan HCL
encer. Ke dalam larutan Pb asetat 10% tadi ditambahkan Natrium thiosulfat 2 %, kemudian
percobaan antidota timah hitam tersebut diamati.

Percobaan 2 : Antidota perak (Ag)
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah tabung-tabung reaksi, corong
gelas dan kertas saring. Bahan yang digunakan dalam praktikum, yaitu : larutan Argentum
nitrat 1 %, larutan Natrium Klorida 0.9%, dan larutan natrium thiosulfat 2 %.
Prosedur
Larutan NaCl 0.9% sebanyak 0.5 cc ditambahkan kedalam 0.5 cc larutan Ag NO
3
1%.
Ditambahkan 0.5 cc larutan Na thiosulfat ke dalam o,5 cc larutan AgNO
3
1 %. Kedua
campuran itu masing-masing disaring dan filtratnya diambil sedikit untuk ditambah larutan
NaCl 0.9 %. Kemudian diamati.

Percobaan 3 : Antidota Barium
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah tabung-tabung reaksi. Bahan
yang digunakan dalam praktikum, yaitu : larutan Natrium Sulfat 2%, larutan Barium Klorida
10%, dan larutan HCl 0.1 N.
Prosedur
Larutan natrium sulfat 2 % ditambahkan ke dalam larutan barium klorida 10 %.
Kemudian ke dalam larutan tersebut ditambahkan HCl 0.1 N dan diamati yang apa yang
terjadi.

Percobaan 4 : Antidota Air Raksa (Hg)
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah tabung-tabung reaksi. Bahan
yang digunakan dalam praktikum, yaitu : larutan HgCl
2
1 %, alkohol, HCl encer, larutan
segar albumin, Natrium thiosulfat dan kalium iodida.
Prosedur
A. Seduhan teh ditambahkan ke dalam 5 cc larutan HgCl
2
1 %. Kemudian kedua
campuran dibagi menjadi dua, bagian pertama ditambahkan alkohol dan lainnya
ditambah HCl encer, kemudian diamati.
B. Larutan segar albumin ditambahkan dengan 0.5 cc larutan HgCl
2
1%, perubahan yang
terjadi diamati. kemudian larutan segar albumin telur berlebih ditambahkan ke dalam
campuran tadi dan diamti perubahan yang terjadi.
C. 6 tabug reaksi masing-masing diisi dengan larutan HgCl
2
1 %, kemudian ditambahkan
pada tabung pertama beberapa tetes natrium thiosulfat. Pada tabung kedua
ditambahkan 2 cc larutan natrium thiosulfat. Pada tabung reaksi ketiga ditambahkan
beberapa tetes kalium iodida. Pada tabung keempat ditambahkan secara cepat larutan
natrium thiosulfat sebanyak 2 cc dan diikuti kalium iodida beberapa tetes. Pada
tabung kelima kedalam larutan ditambahkan 2 cc larutan albumin segar diikuti dengan
satu tetes natrium tiosulfat dan kalium iodida beberapa tetes. Perlakuan pada tabung
keenam sama dengan tabung kelima, hanya saja pada tabung keenam natrium
thiosulfatnya ditambahkan beberapa tetes.

Percobaan 5 : Identifikasi Racun Logam Berat
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan, yaitu : tabung-tabung reaksi, penangas air, alat pemanas atau
pembakar bunsen, sedangkan bahan yang digunakan adalah keping-keping tembaga, larutan
garam yang akan dianalisa (Hg, Ag, Bi dan As), HNO
3
pekat dan HCl encer.
Prosedur
Empat tabung reaksi masing-masing disi dengan salah satu larutan logam yang akan
diperiksa (Hg, Ag, Bi dan As). Pada tiap tabung ditambahkan HCl encer (10%). Keping-
keping tembaga dibersihkan dengan merendamnya dalam HNO
3
pekat sampai permukaannya
bersih dan mengkilat. Kemudian keping tembaga tersebut dimasukkan kedalam tabung reaksi
yang sudah berisi larutan logam. Kemudian tabung reaksi tersebut dimasukkan ke dalam
penangas air dan ditunggu hingga 15 menit. Bila dalam larutan terdapat logam, maka terlihat
adanya lapisan dipermukaan tembaga dengan warna kelabu mengkilat untuk Hg, kelabu
kehitaman untuk As, keungu-unguan untuk Bi dan putih mengkilat untuk Ag.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Percobaan I
Tabel 1. Perubahan yang terjadi pada percobaan antidota timah hitam (Pb)
No Percobaan Perubahan
1 Pb(CH
3
COOH)+
Seduhan
teh+HCL+Na
2
S
2
O
3

Terbentuk endapan putih kekuningan
2 Pb(CH
3
COOH)+
Seduhan
teh+alkohol+Na
2
S
2
O
3

Terbentuk endapan putih


Gambar 1. Perubahan yang terjadi pada percobaan antidota timah hitam, pada
kondisi asam (kiri) dan alkalis (kanan)

Percobaan 2
Tabel 2. Perubahan yang terjadi dalam reaksi antidota Perak (Ag)
Tabung asal Perubahan yang terjadi setelah filtrat ditambah
NaCl 0.9%
0.5 cc NaCl 0.9% dalam
AgNO
3
1%
Berubah dari warna putih susu menjadi putih
bening
0.5 cc Na thiosulfat 2%
dalam AgNO
3
1%
Berubah dari bening kecoklatan dengan butir-
butir hitam menjadi bening


Gambar 2. Perubahan yang terjadi pada penambahan NaCl 0.9% pada filtrat
(kiri) NaCl 0.9 dalam AgNO
3
1%, dan (kanan) Na thiosulfat 2%
dalam AgNO
3
1%

Percobaan 3
Tabel 3. Perubahan yang terjadi dalam reaksi antidota Barium (Ba)
Reaksi Perubahan yang terjadi
Natrium sulfat 2% +
barium klorida 10%
Terbentuk endapan garam putih
Setelah ditambah HCl 0.1 N
kembali ke kondisi awal


Gambar 3. Perubahan yang terjadi pada percobaan antidota Barium, kiri: sebelum
ditambah HCl 0.1 N, kanan: setelah larutan ditambah HCl 0.1 N


Percobaan 4
No Tabung berisi - Perubahan warna larutan
1
HgCl2 1%+ beberapa tetes Na-
thiosulfat
Coklat tua
2
HgCl2 1%+ 2 cc Na-hiosulfat Coklat muda
3
HgCl2 1% + beberapa tetes
kalium iodida
Orange pekat
4
HgCl2 1 % + Na-tiosulfat 2cc +
kalium iodida
Jernih
5
HgCl2 1 % + 2 cc albumin + 1
tetes kalium iodida
Terbentuk endapan orange muda
6 HgCl2 1%+ 2 cc albumin +
beberapa tetes kalium iodida
Terbentuk endapan kuning


Gambar 4. Perubahan larutan HgCl
2
dari kiri ke kanan: HgCl2 1%+ beberapa tetes Na-
thiosulfat; HgCl2 1%+ 2 cc Na-hiosulfat; HgCl2 1% + beberapa tetes kalium
iodide; HgCl2 1 % + Na-tiosulfat 2cc + kalium iodida ;HgCl2 1 % + 2 cc albumin
+ 1 tetes kalium iodide; HgCl2 1%+ 2 cc albumin + beberapa tetes kalium iodida

Percobaan 5
No Tabung berisi - Perubahan pada logam Cu
1
Hg
+
+ HCl 10% Terbentuk lapisan kelabu mengkilat pada
plat tembaga
2
Ag
+
+ HCl 10% Terbentuk lapisan kelabu mengkilat pada
plat tembaga
3
Bi
+
+ HCl 10% Terbentuk lapisan kelabu mengkilat pada
plat tembaga
4
As
+
+ HCl 10% Terbentuk lapisan kelabu mengkilat pada
plat tembaga



Gambar 5. Identifikasi racun logam berat dengan prinsip reaksi coating atau
terbentuknya lapisan logam pada logam (platan) tembaga; (A)
terbentuk lapisan hidrargium/merkuri, (B) Argentum/perak, (C)
Bismuth, dan (D) Arsen.

Pembahasan
Percobaan dalam praktikum ini dilakukan untuk mengetahui antidota logam berat
secara in vitro yaitu dengan prinsip reaksi kimia. Percobaan yang pertama adalah antidota
timah hitam (Pb). Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan campuran seduhan teh dan
larutan Pb asetat 10%. Alkohol ditambahkan pada sebagian campuran dan sebagian campuran
yang lain ditambahkan larutan HCl encer. Alkohol yang dimasukkan ke dalam larutan tannin-
Pb asetat bertujuan untuk meningkatkan kelarutan tannin. Tannin diberikan untuk melapisi
dinding usus agar Pb tidak diabsorpsi oleh vili-vili usus dan masuk ke dalam pembuluh
B A
D C
darah. Pb tanat yang ditambah dengan HCl akan menghasilkan reaksi PbCl
2
dan asam tanat,
selain itu akan terbentuk larutan berwarna putih. Percobaan lainnya untuk mengetahui
antidota dari Pb adalah dengan penambahan Natrium thiosulfat pada larutan Pb asetat 10%.
Tujuan pemberian natrium thiosulfat adalah bertindak sebagai donor sulfur sehingga akan
menyebabkan pengendapan. Campuran natrium thiosulfat dengan larutan Pb tanat dan HCl
akan menimbulkan endapan berwarna kuning, sedangkan natrium thiosulfat yang dicampur
dengan larutan Pb tanat dan alkohol akan menghasilkan endapan berwarna coklat. Natrium
thiosulfat merupakan antidota dari timah hitam (Pb). Persamaan untuk reaksi percobaan
pertama adalah sebagai berikut:
Tanin + Pb(CH
3
COO)
2
+ C
2
H
5
OH alkohol meningkatkan kelarutan
tanin (reaksi ini terjadi dalam
kondisi alkalis)
Pb-tanat + HCl PbCl
2
(s) + asam tanat (terbentuk endapan putih
yaitu PbCl
2
)
Pb(CH
3
COO)
2
+ Na
2
S
2
O
3
PbS
2
O
3
+ 2Na(CH
3
COO)
Reaksi pertama pada kondisi alkalis, alkohol berfungsi sebagai senyawa yang
meningkatkan kelarutan tanin sehingga kerjanya sebagai antidota timah hitam lebih baik,
sedangkan pada reaksi penambahan HCl akan menghasilkan endapan PbCl
2
, sehingga Pb
tidak lagi beredar dalam sirkulasi darah. Na thiosulfat pada percobaan antidota Pb yang kedua
berfungsi sebagai donor S dan menyebabkan terbentuknya endapan, sehingga Pb dapat
dikeluarkan dari tubuh melalui proses ekskresi.
Percobaan kedua adalah percobaan antidota perak (Ag). Na thiosulfat merupakan
antidota bagi Ag. AgNO
3
1% ditambahkan dengan NaCl 0,9%, selain itu AgNO
3
1%
ditambahkan dengan Na thiosulfat 2% pada tabung reaksi yang lain. Masing-masing
campuran diambil filtratnya dan ditambahkan dengan NaCl 0,9%. Perubahan yang terjadi
pada penambahan NaCl 0.9% pada filtrat NaCl 0.9% dalam AgNO
3
1% menjadikan larutan
berwarna lebih keruh sedangkan pada filtrate Na thiosulfat 2% dalam AgNO
3
1% memiliki
warna yang lebih jernih. Hal tersebut terjadi karena adanya daya ikat Na thiosulfat terhadap
Ag sehinggga dalam larutan sudah tidak terdapat lagi Ag.
Ag adalah senyawa sejenis logam kimia yang bersifat konduktor, Ag merupakan
bahan konduktor listrik yang baik. Ag merupakan derivate dari Cu, Au, Pb, dan Zn. Ag sering
digunakan sebagai salah satu bahan pembentuk film radiografi. Ag mempunyai efek samping
yang kurang baik bagi tubuh karena sifatnya yang mudah mengkonduksikan listrik ke sel
tubuh akibat pemanfaatan radiografi dalam bidang kesehatan. Natrium thiosulfat merupakan
donor sulphur yang mengakibatkan pengendapan Ag yang masuk kedalam tubuh sehingga
Ag akan mudah terekskresikan lewat feses.
Percobaan selanjutnya adalah antidota barium. Endapan kristal putih terbentuk setelah
penambahan natrium sulfat 2% ke dalam barium klorida 10%. Terbentuknya kristal putih ini
merupakan reaksi kimia yang dijelaskan dengan persamaan reaksi sebagai berikut:
BaCl
2
(aq) + Na
2
SO
4
(aq) 2NaCl (s) + BaSO
4
(aq), kemudian ditambah HCl
0.1 N
2NaCl (s) + BaSO
4
(aq) + HCl (aq) BaCl
2
+ Na
2
SO
4
+ H
+
(dengan HCl)
Antidota Barium (Ba) dapat diketahui dengan menggunakan larutan Barium Klorida
(BaCl
2
) 10 %, larutan Natrium sulfat (Na
2
SO
4
) 2%, dan larutan asam klorida (HCl) 0,1 N.
Barium klorida (anhidrat) memiliki struktur kimia BaCl
2
dan berat molekul 208,27. Larutan
tersebut dapat mengganggu saluran pernafasan jika terhirup, menyebabkan gastroenteritis
berat jika tertelan, dan jika kontak dengan kulit dan mata menyebabkan iritasi, kemerahan,
dan nyeri. Gejala klinis dari keracunan senyawa ini adalah tremor, pingsan, kelumpuhan
lengan dan kaki, dan detak jantung lambat atau tidak teratur. Kasus yang parah menyebabkan
kematian karena kegagalan pernapasan (Anonim 2010). Natrium sulfat mempunyai rumus
kimia Na
2
SO
4
, sering disebut dengan salt cake, merupakan padatan berbentuk kristal putih,
yang larut dalam air dan gliserol.
Hal tersebut yang menyebabkan perubahan larutan Barium sulfat yang sebelumnya
tidak berwarna menjadi berwarna putih atau keruh dan terbentuknya endapan garam ketika
ditambahkan Natrium sulfat. Penambahan HCl menyebabkan pada larutan terbentuk dua
lapisan yang berasal dari Barium sulfat (atas) dan Natrium sulfat (bawah). HCl pada reaksi
ini membuat reaksi kembali kesemula. Tujuan utama mereaksikan Barium klorida dengan
Natrium Sulfat adalah untuk mengikat Ba dengan SO
4
yang ada pada Natrium Sulfat,
sehingga menghasilkan senyawa BaSO
4
yang nantinya akan dikeluarkan melalui feses.
Percobaan keempat adalah percobaan mengenai antidota air raksa (merkuri=Hg).
Dalam percobaan digunakan larutan HgCl
2
yang ditambahkan beberapa senyawa lain seperti
natrium thiosulfat, kalium iodide, dan albumin. Tabung pertama berisi HgCl
2
yang beberapa
tetes natrium thiosulfat sehingga larutan berubah warna menjadi coklat tua. Tabung kedua
berisi campuran yang sama hanya saja penambahan Na thiosulfat dilakukan secara cepat
sehingga larutan yang dihasilkan berwarna coklat muda. Tabung ketiga berisi campuran
HgCl
2
dan kalium iodide, campuran tersebut menghasilkan warna orange pekat. Tabung
keempat berisi campuran HgCl
2
, Na thiosulfat yang ditambahkan secara cepat dan diikuti
penambahan kalium iodida. Campuran tersebut menghasilkan warna yang jernih. Tabung
kelima berisi larutan HgCl2 yang ditambah 2 cc albumin, diikuti Na thiosulfat satu tetes
sehingga terbentuk endapan berwarna orange. Tabung yang terakhir sama seperti sebelumnya
namun Na thiosulfat yang ditambahkan lebih dari satu tetes sehingga terbentuk endapan
berwarna kuning.
Percobaan kelima, yaitu identifikasi racun logam berat dengan melakukan identifikasi
kimia sederhana. Percobaan ini dilakukan dengan Reinschs test yang merupakan analisa
kualitatif untuk logam-logam seperti Hg, Ag, As, dan Bi. Prnsip utama dari uji ini adalah
adanya logam berat dalam bentuk ion akan terikat pada platan tembaga (Cu), sehingga platan
tembaga terlapisi logam yang ada dalam suatu larutan. Uji identifikasi logam ini hampir mirip
dengan prinsip dasar electroplating. Pada keempat tabung reaksi (berisi larutan logam Hg,
Ag, Bi, dan As secara berururtan) dalam percobaan ini, plat tembaga yang ada di dalamnya
mengalami perubahan yang sangat jelas terlihat setelah dipanaskan. Perubahan yang terjadi
pada plat tembaga berbeda-beda pada tiap-tiap tabung, yaitu pada plat tembaga dalam tabung
1 (Hg) terbentuk lapisan kelabu mengkilat, tabung 2 (Ag) terbentuk lapisan putih mengkilat
samar-samar, tabung 3 (Bi) terbentuk lapisan keunguan, tabung 4 (As) terbentuk lapisan
kelabu hitam (Gambar 5).
Perubahan yang terjadi pada keempat plat tembaga menunjukkan adanya logam berat
yang bereaksi dengan tembaga sebagai endapan (deposit layer) yang melapisi plat tersebut.
Pada tabung 2, terbentuknya lapisan putih mengkilat hanya terlihat samar-samar. Hal ini
kemungkinan disebabkan karena konsentrasi larutan Ag
2+
rendah sehingga lapisan yang
terbentuk pada plat juga sangat tipis.









SIMPULAN
Logam berat memiliki toksisitas tinggi apabila struktur kimianya berubah oleh
pengaruh fisikokimia, baik pada hewan maupun manusia. Intoksikasi logam berat dapat
diatasi dengan memberikan antidota logam tersebut, misalnya tannin sebagai antidota timah
hitam. Selain itu, natrium thiosulfat juga menjadi antidota beberapa logam dengan
membentuk endapan logam sehingga mudah diekskresikan melalui feses. Keberadaan logam
berat dalam suatu larutan dapat diidentifikasi dengan reaksi kimia sederhana.























DAFTAR PUSTAKA
Anderson, K dan Scoot, R. 1982. Fundamental of Industrial Toxicology. Michigan: Ann
Arbor Science Publisher.
[Anonim]. 2010. Bahaya Barium Klorida dan Larutan Natrium Sulfat. [terhubung berkala]
http://dwiapriani80.blogspot.com [14 November 2010].
Bernard S, Enayati A, Binstock T, Roger H, Redwood L, McGinnis W. 2000. Autism: A
Unique of Mercury Poisoning. ARC Research Cranford, NJ 07016.
Casarett & Doulls. 2001. Toxicology the Basic Science of Poissons. New York: McGraww-
Hill Medical Publishing Division.
Gayer, RA. 1986. Toxic Effects of Metal. In C.D.Klaasen, M.O.Amdur, and J.Doul.
(Eds). Toxicology the Basic Science of Poisons.3
rd
ed. New York: Mac Millan
Publishing Co.
Gunawan, Sulistia G. 2007. Farmakologi dan Terapi, Edisi Kelima. Jakarta: Bagian
Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Lu Frank C. 2006. Toksikologi Dasar: Asas, Organ Sasaran, dan Penilaian Risiko. Edi
Nugroho, penerjemah. Terjemahan dari Basic Toxicology: Fundamentals, Target
Organs, and Risk Assesment. Jakarta: UI Press
Mukono, H.J. 2000. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Surabaya: Airlangga University
Press.
Mukono, H.J. 2002. Epidemiologi Lingkungan. Surabaya: Airlangga University Press.