Anda di halaman 1dari 12

Makalah Biokimia

Judul Makalah
Trimetilamina N-oksida (TMAO) dan Siklus Urea
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS BIOKIMIA
Kelompok 2
Penyusun :
Mujizat Alam
M Taufiq Hidayah
Taufik Candra
Khairul Umami
Luthfi Fauzan A
M Albar Ghiffar
Fahmi Ghiffari N
Lukman Bima P
Elsi Sri Mulyani
Joana Viviani
Nurul Fadliani
Justine Ardelia

230210130065
230210130056
230210130057
230210130055
230210130058
230210130060
230210130022
230210130075
230210130052
230210130054
230210130053
230210130077

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan


Universitas Padjadjaran
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk
maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan dalam profesi
keguruan.
Adapun makalah biokimia tentang Trimetilamina N-oksida (TMAO) dan
Siklus Urea ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan
bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.
Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan bayak terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.
Harapan semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga penyusun dapat memperbaiki bentuk
maupun isi makalah ini.

Jatinangor, 16 November 2014

Penyusun

BIOKIMIA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Trimetilamina N-oksida (TMAO) adalah senyawa organik dalam kelas amina

oksida dengan rumus (CH3) 3NO. TMAO berupa padatan tidak berwarna biasanya
ditemui sebagai dihidrat, merupakan

produk dari oksidasi trimetilamina dan

metabolit umum pada hewan. Osmolyte-nya ditemukan dalam ikan air asin, hiu,
pari, moluska, dan krustasea. Kandungan ini lebih tinggi terdapat pada ikan laut
dalam dan krustasea, di mana ia dapat menangkal protein-mendestabilisasi efek
tekanan. TMAO terurai menjadi trimetilamina (TMA) yang merupakan pemberi
utama bau khas pada ikan. TMAO berfungsi untuk mempertahankan tekanan
osmotik dalam tubuh yang berpengaruh pada sistem osmoregulasi.
Alat ekskresi ikan berupa ginjal opistonefros yaitu merupakan tipe ginjal
yang paling primitive. Pada ginjal ini, tulbulus-tubulus bagian anterior telah lenyap,
beberapa tubulus bagian tengah berhubungan dengan testis serta terdapat konsentrasi
dan pelipatgandaan tubulus di bagian posterior. Mekanisme eksresi ikan air tawar
berbeda dengan ikan air laut. Ikan air tawar mengeksreksi ammonia dan aktif
menyerap ion anorganik melalui insang serta mengeluarkan urine dalam jumlah
besar. Sebaliknya pada ikan air laut mengeksresksikan sampah nitrogen berupa
trimetilamin oksida (TMO), mengekresikan ion-ion lewat insang dan mengeluarkan
urine sedikit. (Buku Biologi unuk SMU, Hartini Etik Widayati, Intan Pariwara,
2009).
Sistem Osmoregulasi ialah sistem pengaturan keseimbangan tekanan osmotik
cairan tubuh (air dan darah) dengan tekanan osmotik habitat (perairan). Tekanan
osmotik adalah tekanan yang diberikan pada larutan yang dapat menghentikan
perpindahan molekul-molekul pelarut ke dalam larutan melalui membran semi
permeabel (proses osmosis).
Karena begitu besar manfaat dari TMAO, sehingga membuat kami mencoba
untuk mempelajari dan memahami mengenai TMAO beserta siklus urea pada ikan
ini secara lebih mendalam baik dari definisi TMAO itu sendiri, kemudian peranan
TMAO, dan terakhir siklus urea pada ikan.

BIOKIMIA

1.2.

Rumusan Masalah
1.2.1. Apa itu Trimetilamina N-oksida (TMAO)?
1.2.2. Bagaimana sifat dan reaksi dari Trimetilamina N-oksida (TMAO) ?
1.2.3. Bagaimana siklus urea pada ikan?

1.3.

Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui zat Trimetilamina N-oksida (TMAO).
1.3.2. Untuk mengetahui lebih mendalam mengenai sifat dan reaksi
Trimetilamina N-oksida.
1.3.3. Untuk mengetahui siklus urea pada osmoregulasi dan ekskresi ikan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Trimetilamina N-oksida

BIOKIMIA
Trimetilamina adalah senyawa organik dengan rumus N (CH3)3. Senyawa ini
tak berwarna, higroskopik, dan mudah terbakar dimana amina tersier memiliki bau
kuat amis rendah konsentrasi dan amonia seperti bau pada konsentrasi yang lebih
tinggi. Ini adalah gas pada suhu kamar, namun biasanya dijual di tabung gas
bertekanan atau sebagai 40% larutan dalam air. Trimetilamina merupakan produk
dari dekomposisi tumbuhan dan hewan. Ini adalah substansi terutama bertanggung
jawab untuk bau yang sering dikaitkan dengan fouling ikan, beberapa infeksi, dan
bau mulut. Hal ini juga terkait dengan mengambil dosis besar kolin dan karnitin.
Trimetilamina adalah dasar nitrogen dan dapat mudah terprotonasi untuk
memberikan kation trimethylammonium. Trimethylammonium Klorida adalah
senyawa higroskopis tak berwarna berwujud solid dibuat dari asam klorida.
Trimetilamina adalah barang nukleofil, dan reaksi ini adalah dasar dari sebagian
besar aplikasi tersebut. Berikut merupakan srtruktur dari trietilamin :
Trimetilamina disusun oleh reaksi amonia dan metanol menggunakan katalis:
3 CH3OH + NH 3 (CH3)3N + 3H2O
Reaksi ini coproduces yang methylamines lain, dimetilamin (CH3) 2NH dan
metilamina CH3NH 2. Trimetilamina juga telah disiapkan melalui reaksi amonium
klorida dan paraformaldehyde, menurut persamaan berikut:
9 (CH 2 =O) n + 2n NH 4 Cl 2n (CH 3 ) 3 NHCl + 3n H 2 O + 3n CO 2
Pada aplikasinya trimetilamina digunakan dalam sintesis kolin, hidroksida
tetramethylammonium, pengatur pertumbuhan tanaman, sangat dasar resin
pertukaran anion, dan pewarna agen meratakan. Gas sensor untuk menguji kesegaran
ikan mendeteksi trimetilamina.
2.2. Siklus Urea
Pada hewan, ureotelik, ammonia yang dihasilkan dari deaminasi asam amino
diubah menjadi urea di dalam hati oleh mekanisme siklik, yaitu siklus urea, yang
pertama kali ditemukan leh Hans Krebs dan Kurt Henseleit pada 1932. Krebs dan
Henseleit menemukan bahwa kecepatan pembentukan urea dari ammonia oleh irisan
tipis hati yang disuspensikan di dalam medium buffer aerobic dipercepat oleh
penambahan salah satu dari tiga senyawa spesifik, ornitin, sitrulin, atau arginine.
Pembentukan urea berasal dari ornitin, sitrulin, dan arginin yang disebut daur ornitin.
Langkah-langkah pembentukan urea:

BIOKIMIA

Sitrulin dibentuk dengan penambahan CO2 dan amonia pada ornitin. CO2
dan amonia berasal dari karbamilfosfat. Karbamilfosfat berasal dari CO2 dan
amonia, dan membutuhkan energi dari ATP.

Dari sitrulin akan terbentuk arginin dalam dua langkah intermediet. Langkah
pertama, sitrulin dan aspartat membentuk arginosuksinat yang memerlukan
ATP dan ion Mg. Pada tahap kedua terbentuk arginin dari arginosuksinat.

Arginin tentunya merupakan salah satu asam amino baku yang ditemukan pada
protein. Walaupun ornitin dan sitrulin juga merupakan asam -amino, golongan ini
tidak terdapat sebagai unit pembangun molekul protein. Ketiga senyawa ini
merangsang aktivitas sintesis urea jauh melampaui aktivitas senyawa bernitrogen
umum lainnya yang diuji. Struktur ketiga senyawa aktif ini memperlihatkan bahwa
ketiganya mungkin berhubungan satu sama lain dalam satu urutan, dengan ornitin
sebagai pemula sitrulin dan selanjutnya sitrulin menjadi pemula arginin.
Arginin telah lama diketahui dapat terhidrolisa menjadi ornitin dan urea oleh
kerja enzim arginase.
Arginin + H2O ornitin + urea

BIOKIMIA
Krebs menyimpulkan bahwa suatu proses siklik terjadi, dengan ornitin
memegang peranan serupa dengan oksalaasetat di dalam siklus asam sitrat. Molekul
ornitin bergabung dengan satu molekul NH3 dan satu CO2 membentuk sitrulin.
Molekul kedua ammonia ditambahkan ke sitrulin, membentuk arginin, yang lalu
terhidrolisis menghasilkan urea, dengan pembentukan kembali molekul ornitin.
Semua organisme yang mampu melakukan biosintesis arginin dapat mengkatalisis
reaksi-reaksi ini sampai ke titik arginin, tetapi hanya hewan ureotelik yang
dilengkapi sejumlah besar enzim arginase, yang mengkatalisis hidrolisis tidak dapat
kembali menjadi arginin, membentuk urea dan ornitrin. Ornitrin yang diregenerasi
ini lalu siap untuk memulai putaran selanjutnya siklus urea ini.
Urea, yang merupakan produk siklus ini, merupakan senyawa netral, tidak
beracun dan larut di dalam air. Molekul ini diangkut melalui darah menuju ginjal dan
dikeluarkan ke dalam urin.
2.3. Tahapan kompleks siklus urea
Gugus amino pertama yang memasuki siklus urea muncul dalam bentuk
ammonia bebas, oleh deasimenasi oksidatif glutamate di dalam mitokondria sel hati.
Reaksi ini dikatalisis oleh glutamate dehidrogenase, yang memerlukan NAD+.
Glutamat- + NAD+ + H2O -ketoglutarat2- + NH4+ + NADH + H+
1. Reaksi pada sintesis karbamil fosfat
Amonia bebas yang terbentuk segera dipergunakan, bersama-sama dengan
karbon dioksida yang dihasilkan di dalam mitokondria oleh respirasi, untuk
membentuk karbamoil fosfat di dalam matriks, pada suatu reaksi yang bergantung
kepada ATP, yang dikatalisis oleh enzim karbamoil fosfat sintetase I. Angka Romawi
ini menunjukkan bentuk mitokondria enzim ini, untuk membendakannya dari bentuk
sitosolnya (II).
Dalam reaksi pembentukan karbamil fosfat ini, satu mol ammonia bereaksi
dengan satu mol karbondioksida dengan bantuan enzim karbamoil fosfat sintetase.
Reaksi ini membutuhkan energy, karenanya reaksi ini melibatkan dua mol ATP yang
diubah menjadi ADP. Disamping itu sebagai kofaktor dibutuhkan Mg 2+ dan N-asetilglutamat.

BIOKIMIA
Karbamoil fosfat + CO2

(Go= -3,3 kkal/mol

Karbamoil fosfat sintetase I merupakan enzim pengatur, enzim ini memerlukan


N-asetilglutamat sebagai modulator positif atau perangsangnya. Karbamoil fosfat
merupakan senyawa berenergi tinggi, molekul ini dapat dipandang sebagai suatu
pemberi gugus karbamoil yang telah diaktifkan. Perhatikan bahwa gugus fosfat
ujung dari dua molekul ATP dipergunakan untuk membentuk satu molekul karbamoil
fosfat.
2. Reaksi pada pembentukan siturulin
Pada tahap selanjutnya dari siklus urea, karbamoil fosfat memberikan gugus
karbamoilnya kepada ornitin untuk membentuk sitrulin dan membebaskan fosfatnya,
dalam suatu reaksi yang dikatalisis oleh ornitin transkarbamoilase yang terdapat pada
bagian mitokondria sel hati, yakni enzim mitokondria yang memerlukan Mg2+.
Karbamoil fosfat + ornitin sitrulin + Pi- + H+
Sitrulin yang terbentuk sekarang meninggalkan mitokondria dan menuju ke
dalam sitosol sel hati.
Gugus amino yang kedua sekarang datang dalam bentuk L-aspartat, yang
sebaliknya diberikan dari L-glutamat oleh kerja aspartat transaminase.
Oksalasetat + L-glutamat L-aspartat + -ketoglutarat
L-Glutamat tentunya menerima gugus amino dari kebanyakan asam amino
umum lainnya oleh transaminasi menjadi -ketoglutarat. Pemindahan gugus amino
kedua ke sitrulin terjadi dengan reaksi pemadatan di antara gugus amino aspartat dan
karbon karbonil sitrulin dengan adanya ATP, untuk membentuk agininosuksinat.
Reaksi ini dikatalisa oleh arginosuksinat sintetase sitosol hati, suatu enzim yang
tergantung kepada Mg2+.
3. Reaksi pada asam argininosuksinat
Selanjutnya siturulin bereaksi dengan asam aspartat membentuk asam
argininosuksinat. Reaksi ini berlangsung dengan bantuan enzim argininosuksinat
sintese. Dalam reaksi tersebut ATP merupakan sumber energy dengan jalan
melepaskan gugus fosfat dan berubah menjadi AMP.
Sitrulin + aspartat + ATP argininosuksinat + AMP + PPi + H+
Pada tahap selanjutnya argininosuksinat segera terurai oleh argininosuksinat
liase untuk membentuk arginin dan fumarat bebas.
Argininosuksinat arginin + fumarat
Fumarat yang terbentuk, kembai menuju kumpulan senyawa antara siklus asam sitrat

BIOKIMIA
4. Reaksi pada penguraian asam argininosuksinat
Dalam reaksi ini asam asam argininosuksinat diuraikan menjadi arginin dan
asam fumarat. Reaksi ini berlangsung dengan bantuan enzim argininosuksinase,
suatu enzim yang terdapat dalam hati dan ginjal.
2.4. Daur Urea Berkaitan dengan Daur Asam Sitrat
Stokiometri sintesis urea adalah: CO2+NH4+
+3ATP+Aspartat+2H2OUrea+2ADP+2Pi+AMP+PPi+fumarat
Pirofosfat dihidrolisis dengan cepat dan dengan demikian 4 ikatan fosfat energy
tinggi (-P) digunakan dalam reaksi ini untuk membentuk 1 molekul urea. Sintesis
asam fumarat pada daur urea merupakan reaksi penting sebab reaksi ini mengkaitkan
daur urea dengan daur asam sitrat. Fumarat mengalami hidrasi menjadi malat, yang
pada gilirannya dioksidasi menjadi oksaloasetat. Oksaloasetat dapat mengalami:
1.
2.
3.
4.

Mengalami transaminasi menjadi aspartat


Berubah menjadi glukosa melalui jalur glukoneogenesis
Berkondensasi dengan Asetil Ko-A membentuk sitrat
Berubah menjadi pirufat
Pengkotak-kotakan daur urea dan reaksi-reaksi yang menyertainya juga penting.

Pembentukan NH4+ oleh glutamate dehidrogenase, penggabungannya ke dalam


karbomoil fosfat dan sintesis siturulin berikutnya terjadi di matriks mitokondria.
Sebaliknya tiga reaksi dalam daur urea berikutnya terjadi dalam sitosol.
2.5. Pengeluaran Kelebihan NH4+ pada Hewan
Dari penelitian biokimia komparatif pada berbagai spesies hewan, telah
ditemukan bahwa nitrogen amino dikeluarkan dalam salah satu dari tiga bentuk
utama, yaitu sebagai ammonia, urea, atau sebagai asam urat. Kebanyakan spesies
ekuatik, seperti golongan teleos atau ikan bertulang, mengeluarkan nitrogen amino
sebagai ammonia dan karenanya dinamakan hewan ammonotelik; kebanyakan
hewan terrestrial (daratan) mengeluarkan nitrogen amino dalam bentuk urea dan
karenanya merupakan hewan ureotelik; dan burung, kadal, serta ular mengeluarkan
nitrogen aminonya sebagai asam urat dan dinamakan hewan urikotelik.
Dasar perbedaan tersebut terletak pada anatomi dan fisiologi organisme yang
berbeda dalam hubungannya dengan kebiasaan organisme tersebut. Ikan bertulang
mengangkut

nitrogen

amino

di

dalam

darah

sebagai

glutamine,

tetapi

mengeluarkannya dalam bentuk ammonia melalui insangnya, yang mengandung

BIOKIMIA
glutaminase, dan karenanya menyebabkan hidrolisis glutamine menjadi glutamate
dan ammonia. Karena ammonia larut di dalam air, molekul ini segera terbawa pergi
dan terlarutkan oleh sejumlah besar air yang melalui insang tersebut. Ikan bertulang,
karenanya memerlukan sistem urin yang kompleks untuk mengeluarkan ammonia.
Namun demikian, selama berlangsung evolusi biologi dan beberapa spesies
akuatik belajar hidup pada daerah kering, pengeluaran nitrogen amino sebagai
ammonia melalui insang tidak dimungkinkan. hewan daratan lambat laun
mengembangkan metode yang berbeda untuk mengeluarkan nitrogen amino. Hewan
tersebut memerlukan ginjal dan kelenjar urin untuk mengeluarkan produk buangan
bernitrogen yang larut dalam air, tetapi karena NH3 bebas dapat segera dapat segera
menembus membrane secara langsung ke dalam urin dapat mengakibatkan
absorbsinya kembali ke dalam darah. Terdapat kerugian lain karena ammonia
terdapat di dalam darah terutama sebagai ion NH4+, pengeluarannya akan
memerlukan pengeluaran anoin dalam jumlah yang sama seperti anion klorida atau
fosfat. Untuk menghasilkan hal yang kompleks ini kebanyakan hewan darat
dilengkapi oleh kemampuan mengeluarkan nitrogen amino sebagai urea, yang
bersifat netral, larut di dalam air, dan tidak beracun. Akan tetapi, kapasitas untuk
membuat dan mengeluarkan urea memerlukan tenaga dalam bentu energi ATP.

BIOKIMIA
BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Trimetilamina adalah senyawa organik dengan rumus N (CH3)3. Senyawa ini

tak berwarna, higroskopik, dan mudah terbakar dimana amina tersier memiliki bau
kuat amis.
Sintesis asam fumarat pada daur urea merupakan reaksi penting sebab reaksi ini
mengkaitkan daur urea dengan daur asam sitrat. Nitrogen amino dapat dikeluarkan
dalam tiga bentuk utama, yaitu sebagai ammonia, urea, atau sebagai asam urat.
Kebanyakan spesies ekuatik, seperti golongan teleos atau ikan bertulang,
mengeluarkan nitrogen amino sebagai ammonia (hewan ammonotelik); kebanyakan
hewan terrestrial (daratan) mengeluarkan nitrogen amino dalam bentuk urea (hewan
ureotelik); dan burung, kadal, serta ular mengeluarkan nitrogen aminonya sebagai
asam urat (hewan urikotelik).
3.2

Saran
Akan lebih baik lagi jika kami diberi waktu didalam mempelajari ini lebih

mendalam, sehingga kedepannya dalam pengaplikasian kami sebagai sarjana


kelautan bias lebih maksimal karena pemahaman dasar kami yang cukup.

BIOKIMIA

DAFTAR PUSTAKA
Alasalvar, C. and T. Taylor. 2002. Seafood Quality, Technology and Association of
Official Analytical Chemist (AOAC). 1984. Official Methods of Analysis. 14th
Edition. Washington DC.
Lehninger, A. L. 1987. Dasar-Dasar Biokimia. Jilid II. Erlangga: Surabaya.
Strayer, L. 1995. Biochemistry. W.H freeman and Company: New York.
Martoharsono, S. 1976. Biokimia Jilid II. UGM Press: Yogyakarta.