Anda di halaman 1dari 4

RANGKUMAN MATA KULIAH

FRAUD DETERRENCE
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Akuntansi Forensik

Disusun oleh :
Annisa Sabrina Djunaedy

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI
NOPEMBER 2014

FRAUD DETERRENCE
(PENCEGAHAN FRAUD)
Prosedur pencegahan fraud memberikan sebuah peta komprehensif dari susunan
pengendalian internal dari sebuah organisasi, termasuk penafsiran tentang efektivitas operasi.
Tujuan utama dilakukannya penafsiran pencegahan fraud adalah untuk mempelajari sistem
pengendalian internal organisasi secara keseluruhan untuk mengidentifikasi kesempatan
dilakukannya perbaikan.
Pencegahan fraud didasarkan pada alasan bahwa fraud bukan merupakan kejadian yang
secara tiba-tiba. Fraud terjadi ketika kondisi memungkinkan untuk terjadinya hal tersebut.
pencegahan fraud bukan awal dari pendeteksian fraud. Pendeteksian fraud meliputi sebuah
peninjauan terhadap sejarah transaksi guna mengidentifikasi indikator transaksi yang tidak
sesuai. Sedangkan pencegahan meliputi sebuaha analisis dari suatu kondisi dan prosedur yang
memungkinkan fraud terjadi.
Fraud Deterrence Cycle atau siklus pencegahan fraud seperti gambar dibawah ini:

1. Corporate Governance
Corporate governance ini berisi dilakukan budaya perusahaan, kebijakan-kebijakan, dan
pendelegasian wewenang. Hal ini dilakukan oleh manajemen yang dirancang dalam
rangka mengeliminasi atau setidaknya menekan kemungkinan terjadinya fraud.

2. Transaction Level Control Process yang dilakukan oleh auditor internal, pada dasarnya
adalah proses yang lebih bersifat preventif dan pengendalian yang bertujuan untuk
memastikan bahwa hanya transaksi yang sah, mendapat otorisasi yang memadai yang
dicatat dan melindungi perusahaan dari kerugian.
3. Retrospective Examination yang dilakukan oleh Auditor Eksternal diarahkan untuk
mendeteksi fraud sebelum menjadi besar dan membahayakan perusahaan.
4. Investigation and Remediation yang dilakukan forensik auditor. Peran auditor forensik
adalah menentukan tindakan yang harus diambil terkait dengan ukuran dan tingkat
kefatalan fraud, tanpa memandang apakah fraud itu hanya berupa pelanggaran kecil
terhdaap kebijakan perusahaan ataukah pelanggaran besar yang berbentuk kecurangna
dalam laporan keuangan atau penyalahgunaan aset.
Untuk melakukan pencegahan atau deterrence, setidaknya ada tiga upaya yang dapat
dilakukan, yaitu:
1. Membenagun individu yang didalamnya terdapat trust dan opennes, mencegah benturan
kepentingan, confidential disclosure agreement dan corporate security contract
2. Membangun sistem pendukung kerja yang meliputi sistem terintegrasi, standarisasi kerja,
aktifitas kontrol dan sistem reward dan recognition.
3. Membangun sistem monitoring yang di dalamnya terkandung control self assessment,
internal auditor dan eksternal auditor.
PENTINGNYA INTERNAL CONTROL DALAM MENCEGAH FRAUD
Menurut COSO Internal control adalah sebuah proses yang dijalankan oleh dewan
direksi, menejemen, dan staff, untuk membuat reasonable assurance mengenai efektifitas dan
efisiensi operasional, realibilitas laporan keuangan, kepatuhan atas huku dan peraturan yang
berlaku. Pengendalian internal yang telah tertata dan terlaksana dengan baik di dalam sebuah
perusahaan akan meminimalkan kemungkinan terjadinya fraud. Hal ini tentunya berkaitan
secara langsung maupun tidak langsung dengan faktir pendorong terjadinya fraud. Dengan
adanya pengendalian internal yang baik dalam sebuah perusahaan, maka peluang karyawan
untuk melakukan fraud dapat terminimalisir.
Selain adanya pengendalian internal yang baik, di dalam sebuah perusahaan hendaknya
menumbuhkan rasa tanggung jawab dan budaya risiko. Dengan membuat setiap jajaran sadar
akan risiko yang dapat mendiskreditkan perusahaan, yang berakibat pada risiko finansial,

maka setiap orang pada perusahaan tersebut akan melakukan tugas dan tanggung jawabnya
dengan penuh kesadaran. Budaya perusahaan yang sehat, akan membuat orang yang beritikad
tidak baik, atau berperilaku diluar kebiasaan secara tak langsung akan mendapat sorotan,
sehingga membuat perasaan tak nyaman. Budaya kerja, kebijakan serta sistem pengamanan
risiko yang terintegrasi diharapkan dapat mencegah timbulnya keinginan untuk melakukan
hal-hal di luar aturan perusahaan termasuk melakukan tindakan fraud.