Anda di halaman 1dari 4

FORMULASI SEDIAAN KAPSUL OBAT HERBAL

A. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu menyusun formula yang rasional sediaan kapsul obat herbal
2. Mahasiswa mampu melakukan uji kualitas sediaan obat
B. DASAR TEORI
Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau
lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin; tetapi dapat juga
terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai. (Ditjen POM,1995) Kapsul keras
biasanya terbuat dari gelatin yang terdiri dari cangkang kapsul bagian badan dan
bagian tutup kapsul. Kedua bagian tutup kapsul ini akan saling menutupi bila
dipertemukan dan bagian tutupnya akan menyelubungi bagian badan kapsul. (Ansel,
2005). Gelatin mempunyai beberapa kekurangan, seperti mudah mengalami peruraian
oleh mikroba bila dalam keadaan lembab atau bila disimpan dalam larutan berair .
Sebagai contoh yang lain, cangkang kapsul gelatin menjadi rapuh jika disimpan pada
kondisi kelembaban relatif yang rendah (Chang, R.K. et al, 1998). Selanjutnya,
Kapsul gelatin tidak dapat menghindari efek samping obat yang mengiritasi lambung,
seperti Indometasin. Hal ini dikarenakan kapsul gelatin segera pecah setelah sampai di
lambung.
Macam-macam kapsul:
a. Hard capsule (cangkang kapsul keras) Kapsul cangkang keras terdiri atas wadah
dan tutup yang dibuat dari campuran gelatin, gula dan air, jernih tidak berwarna
dan pada dasarnya tidak mempunyai rasa. Biasanya cangkang ini diisi dengan
bahan padat atau serbuk, butiran atau granul. Ukuran kapsul mulai dari yang besar
b.

sampai yang kecil yaitu 000, 00, 1, 2, 3, 4, 5. Universitas Sumatera Utara


Soft capsule (cangkang kapsul lunak) Kapsul gelatin lunak dibuat dari gelatin
dimana gliserin atau alkohol polivalen dan sorbitol ditambahkan supaya gelatin
bersifat elastis seperti plastik. Kapsul-kapsul ini mungkin bentuknya membujur
seperti elips atau seperti bola dapat digunakan untuk diisi cairan, suspensi, bahan
berbentuk pasta atau serbuk kering (Ansel, 1989).
Pengujian Sediaan Kapsul yang diproduksi harus memenuhi persyaratan sebagai

berikut:
1. Keseragaman Bobot Uji keseragaman bobot dilakukan dengan penimbangan 20
kapsul sekaligus dan ditimbang lagi satu persatu isi tiap kapsul. Kemudian
timbang seluruh cangkang kosong dari 20 kapsul tersebut. Lalu dihitung bobot isi

kapsul dan bobot rata-rata tiap isi kapsul. Perbedaan bobot isi tiap kapsul terhadap
bobot rata-rata tiap isi kapsul, tidak boleh melebihi dari yang ditetapkan pada
kolom A dan untuk setiap 2 kapsul tidak lebih dari yang ditetapkan pada kolom B.
2. Waktu hancur Uji ini dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian batas waktu
hancur yang tertera dalam masing-masing monografi. Uji waktu hancur tidak
menyatakan bahwa sediaan atau bahan aktifnya terlarut sempurna. Waktu hancur
setiap tablet atau kapsul dicatat dan memenuhi persyaratan spesifikasi waktu
(dalam 15 menit) (Depkes RI, 1979).
3. Disolusi Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa banyak persentasi zat
aktif dalam obat yang terabsorpsi dan masuk ke dalam peredaran darah untuk
memberikan efek terapi. Persyaratan dalam waktu 30 menit harus larut tidak
kurang dari 85% (Q) dari jumlah yang tertera pada etiket.
4. Kadar Penetapan kadar dilakukan untuk memastikan bahwa kandungan zat
berkhasiat yang terdapat dalam kapsul telah memenuhi syarat dan sesuai dengan
yang tertera pada etiket. Metode penetapan kadar yang digunakan sesuai dengan
zat aktif yang terkandung dalam sediaan kapsul. Caranya ditimbang 10-20 kapsul,
isinya di gerus dan bahan aktif yang larut diekstraksi menggunakan pelarut yang
sesuai menurut Universitas Sumatera Utara prosedur yang sudah ditetapkan.
Secara umum rentang kadar bahan aktif yang ditentukan berada diantara 90-110%
dari pernyataan pada label (Agoes, 2008).
Keuntungan dan Kerugian Bentuk Sediaan Kapsul
Menurut Syamsuni (2006), kapsul mempunyai keuntungan dan kerugian sebagai
berikut:
a. Keuntungan pemberian bentuk sediaan kapsul:
1) Bentuknya menarik dan praktis.
2) Cangkang kapsul tidak berasa sehingga dapat menutupi obat yang berasa
dan berbau tidak enak.
3) Mudah ditelan dan cepat hancur atau larut dalam lambung sehingga obat
cepat diabsorpsi.
4) Dokter dapat mengkombinasikan beberapa macam obat dan dosis yang
berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan pasien.
5) Kapsul dapat diisi dengan cepat karena tidak memerlukan bahan zat
tambahan atau penolong seperti pada pembuatan pil maupun tablet.
b. Kerugian pemberian bentuk sediaan kapsul:
1) Tidak dapat untuk zat-zat yang mudah menguap karena pori-pori kapsul
tidak dapat menahan penguapan.
2) Tidak dapat untuk zat-zat yang higroskopis (menyerap lembab).
3) Tidak dapat untuk zat-zat yang dapat bereaksi dengan cangkang kapsul.

4) Tidak dapat diberikan untuk balita.


5) Tidak dapat dibagi-bagi
C. ALAT DAN BAHAN
ALAT

BAHAN

Papan kapsul
Timbangan analitik
Sumpit
Sudip
Perkamen

Serbuk simplisia herba meniran


Cangkang kapsul

D. FORMULASI
E. PERHITUNGAN
Berdasarkan literatur
Simplisia kering
= 2,7 kg = 2700 g
Ekstrak
= 315 g
Berdasarkan hasil praktek
Simplisia kering
= 0,95 kg
Dosis ke mencit = 100 mg/kg BB ekstrak = 0,1 g
2700 g 315 g
=
x
0,1 g
270 = 315x
X = 270/315
= 0,85 g
= 850 mg
Dosis 1 kali pakai = 850 mg
Kapsul yang digunakan nomor 0 (500 mg)
850 mg/2 = 425 mg/kapsul
425 mg X 60 kapsul = 25500 mg = 25,5 g
F. CARA KERJA
Serbuk simplisia herba
-

Disiapkan
meniran
Ditimbang bahan sebanyak 27.000 mg
Dimasukan ke dalam cangkang kapsul no 0
Dipadatkan kapsul dengan sumpit
Dibersihkan kapsul dari kotoran yang menempel

Dikemas dan dimasukan ke dalam kemasan

Kapsul obat herbal

G. DATA PENGAMATAN
H. PEMBAHASAN
Uji keseragaman bobot dilakukan untuk memastikan bahwa bobot yang
terdapat didalam kapsul pada suatu formula memiliki jumlah yang sama dan zat aktif
yang sama dengan anggapan serbuk formula terdistribusi homogen. Adapun faktor
yang mempengaruhi keseragaman bobot sediaan adalah sifat aliran massa serbuk.
Berdasarkan persyaratan farmakope Indonesia edisi 4 bahwa perbedaan dalam persen
bobot isi tiap kapsul terhadap bobot rata-rata tiap isi kapsul tidak boleh lebih dari
yang ditetapkan kolom A dan untuk setiap 2 kapsul tidak lebih dari yang ditetapkan
kolom B.
Hasil praktikum uji keseragaman bobot pada kolom A tidak ada satu pun bobot kapsul
yang menyimpang, begitu juga pada kolom B tidak lebih dari 2 kapsul yang
menyimpang, sehingga kapsul memenuhi syarat.
I. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa berdasarkan hasil praktikum dari formula kapsul herba
meniran pada uji evaluasi keseragaman bobot, kapsul herba meniran sesuai dengan
persyaratan.
J.

DAFTAR PUSTAKA