Anda di halaman 1dari 4

TAFSIR AL-MANAR

A. Biografi Penulis
Rasyid Ridha (1865-1935) adalah seorang intelektual muslim dari Suriah
yang mengembangkan gagasan modernisme Islam yang awalnya digagas oleh
Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Ridha mempelajari kelemahan-
kelemahan masyarakat muslim saat itu, dibandingkan masyarakat kolonialis
Barat, dan menyimpulkan bahwa kelemahan tersebut antara lain kecenderungan
umat untuk mengikuti tradisi secara buta (taqlid), minat yang berlebihan terhadap
dunia sufi dan kemandegan pemikiran ulama yang mengakibatkan timbulnya
kegagalan dalam mencapai kemajuan di bidang sains dan teknologi. Ia
berpendapat bahwa kelemahan ini dapat diatasi dengan kembali ke prinsip-prinsip
dasar Islam dan melakukan ijtihad dalam menghadapi realita modern.
Mulai tahun 1898 hingga wafat(1935), Ridha menerbitkan surat kabar
yang bernama Al-Manar.

B. Latar Belakang
Tafsir ini bersumber dari perkuliahan Muhammad Abduh tentang Tafsir
al-Qur’an yang disampaikan di Universitas al-Azhar, yang disusun setelah ia
wafat (tahun 1905) oleh Muhammad Rashid Ridha dengan judul Tafsir al-Qur’an
al-Hakim. Namun kemudian, kitab ini lebih populer dengan sebutan Tafsir al-
Manar yang pernah diterbitkan secara serial dan periodik.
Al-Manar terbit pertama kali pada 22 Syawal 1315 H atau 17 Maret 1898
M, dilatarbelakangi oleh keinginan Rasyid Ridha untuk menerbitkan sebuah surat
kabar yang mengolah masalah-masalah sosial-budaya dan agama, sebulan setelah
pertemuannya yang ketiga dengan Muhammad Abduh. Awalnya berupa
mingguan sebanyak delapan halaman dan ternyata mendapat sambutan hangat,
bukan hanya di Mesir atau Negara-negara Arab sekitarnya, juga sampai ke Eropa
dan Indonesia.

1
Kitab ini terdiri dari 12 juz pertama dari al-Qur’an, yaitu surat al-Fatihah
sampai dengan ayat 53 surat Yusuf. Penafsiran dari awal sampai ayat 126 surat
An-Nisa’ diambil dari pemikiran tafsir Muhammad Abduh, selebihnya dilakukan
oleh Rasyid Ridha dengan mengikuti metode yang digunakan Abduh. Dalam
penafsirannya Abduh cenderung mengkombinasikan antara riwayat yang shahih
dan nalar yang rasional, yang diharapkan bisa menjelaskan hikmah-hikmah
syari’at sunnatullah, serta eksistensi al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.
Selain itu, juga merujukkan penafsirannya pada Tafsir Jalalain. Sedangkan yang
khas dari penafsiran Rasyid Ridha – yang tidak terdapat pada Muhammad Abduh
-- yaitu: Pertama, tergantung pada riwayat dari Nabi Saw; dan Kedua, banyak
menukil pemikiran para mufassir lain. Hal ini dilakukan Ridha, karena ia menilai
bahwa Syekh Muhammad Abduh setiap kali dihadapkan dengan masalah selalu
mengikuti kata pikiran dan hatinya saja, serta sesuai dengan apa yang beliau baca
dan renungkan dalam al-Qur’an.
Tafsir ini menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an dengan gaya menakjubkan dan
mengesankan, yang mengungkap makna ayat dengan mudah dan lugas, juga
mengilustrasikan banyak problematika sosial dan menuntaskannya dengan
perspektif al-Qur’an.
Al-Manar adalah salah satu kitab tafsir yang banyak berbicara tentang
sastra-budaya dan kemasyarakatan. Suatu corak penafsiran yang menitikberatkan
penjelasan ayat Al-Qur'an pada segi-segi ketelitian redaksinya, kemudian
menyusun kandungan ayat-ayatnya dalam suatu redaksi yang indah dengan
penekanan pada tujuan utama turunnya Al-Qur'an, yakni memberikan petunjuk
bagi kehidupan manusia, dan merangkaikan pengertian ayat tersebut dengan
hukum-hukum alam yang berlaku dalam masyarakat dan kemajuan peradaban
manusia.
C. Kritikan Tentang Tafsir Al-Manar
M. Quraish Shihab mengkritisi tafsir al-Manar karangan Abduh dan
Rasyid Ridha, sebagai salah satu kitab tafsir populer di kalangan peminat studi al-

2
Quran. Baginya, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya, dan setiap
hasil renungan dan pemikiran dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti tingkat
intelegensi, kecendrungan pribadi, latar belakang pendidikan, bahkan
perkembangan ilmu pengetahuan dan kondisi sosial masyarakatnya.
Dengan mengetengahkan dua tokoh tersebut di bidang tafsir al-Quran,
metoda dan penafsirannya serta keistimewaan dan kelemahannya masing-masing,
penulis buku ini berharap hasil-hasil pemikiran mereka dapat lebih dipahami dan
dimanfaatkan (hal. 2).
Syaik Muhammad Abduh dibahas secara sistematis. Ini meliputi masalah
pendidikan, lingkungan, fokus pemikiran, karya-karyanya dalam tafsir,
pandangannya tentang kitab tafsir dan penafsiran ulama, corak penafsiran, ciri-ciri
penafsiran, dan ditutup dengan beberapa catatan penting tentang pemikiran
Muhammad Abduh.
Pendekatan tafsir tanpa banyak mempergunakan referensi ulama-ulama
sebelumnya, menurut Abduh, merupakan jalan strategis untuk menjadikan Al-
Quran sebagai petunjuk (hudan) bagi manusia. Sebagian karya tafsir sebelumnya,
bagi Abduh, tekesan menjaga jarak dengan realitas sosial masyarakat dan
berteduh di balik paparan perbedaan ulama ketika menafsirkan ayat Al-Quran.
”Sebagian dari kitab tafsir sedemikian gersang dan kaku, karena penafsirannya
hanya mengarahkan perhatian kepada pengertian kata-kata.....” (hal .20-21). Ini
tak lebih dari latihan praktis dalam bidang bahasa.
Oleh karena itu, M. Quraish menilik sikap kritis Abduh dalam hal
menentang dan memberantas taqlid, tidak memerinci pesoalan-persoalan yang
disinggung secara mubham (tidak jelas), penerimaan hadits-hadits, pendapat
sahabat dan israiliyyat, serta berusaha mengaitkan al-Quran dengan kehidupan
(hal. 51-67).
Lain lagi dengan Muhammad Rasyid Ridha. Kecuali membahasnya dari
segi autobiograpi, juga pertemuannya dengan Abduh yang menyebabkan lahirnya
majalah al-Manar yang direproduksi menjadi kitab tafsir itu.

3
Tipikal Ridha dalam menafsirkan Al-Quran meliputi keluasan
pembahasan menyangkut ayat-ayat yang ditafsirkannya dengan hadits-hadits nabi,
Penyisipan pembahasan yang luas menyangkut permasalahan yang dibutuhkan
masyarakat (hukum, perbandingan agama, sunnatullah, dan ilmu pengetahuan),
penafsiran ayat dengan ayat, dan keluasan pembahasan kosakata dan ketelitian
susunan redaksi (hal. 117-137).
Sementara itu, M. Quraish juga menunjukkan sikap kritisnya atas
kekeliruan Ridha dalam menanggapi pemikiran Abduh, Thabari, ar-Razi,
Zamahsyari, al-Baidhawi, al-Alusi, dan as-Sayuthi, dan penafsir-penafsir lainnya
(hal. 143-174).
Pada bagian akhir buku ini ditegaskan, Tafsir Al-Manar berusaha
menghindari kelemahan kitab-kitab tafsir sebelumnya. Ini terlihat dari anjuran
untuk menghindari prakonsepsi dalam menafsirkan ayat, memfungsikan tujuan
utama Al-Quran sebagai petunjuk atas problem-problem mendesak, dan
menampilkan al-Quran yang ramah dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Dan sikap kritis atas karya tafsir itu, sedianya diikuti oleh setiap peminat studi al-
Quran, terhadap Tafsir Al-Manar sekalipun.