Anda di halaman 1dari 21

SISTEM EFI PADA SEPEDA MOTOR

Disusun oleh :

Ahmad Sholihin (15509134016)

PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
TAHUN 2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana telah memberikan saya
kekuatan serta kelancaran dalam menyelesaikan tugas mata kuliah Teknik Sepeda Motor
berjudul Sistem Efi Pada Sepeda Motor dapat selesai seperti waktu yang telah saya
rencanakan. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang membalas budi baik yang
tulus dan ihklas kepada semua pihak yang penulis sebutkan di atas. Tak ada gading yang tak
retak, untuk itu sayapun menyadari bahwa makalah yang telah saya susun dan saya kemas
masih memiliki banyak kelemahan serta kekurangan-kekurangan baik dari segi teknis
maupun non-teknis. Untuk itu penulis membuka pintu yang selebar-lebarnya kepada semua
pihak agar dapat memberikan saran dan kritik yang membangun demi penyempurnaan
penulisan-penulisan mendatang. Dan apabila di dalam makalah ini terdapat hal-hal yang
dianggap tidak berkenan di hati pembaca mohon dimaafkan.

Yogyakarta 30 april 2016

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................... 1
1. Latar Belakang...................................................................................... 1
2. Rumusan Masalah................................................................................. 2
3. Manfaat................................................................................................. 3
4. Tujuan.................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN..................................................................... 4
1. Pengertian Electric Fuel Injection....................................................... 4
2. Kelebihan Electronic Fuel Injection.................................................... 5
3. Kekurangan Electric Fuel Injection..................................................... 8
4. Cara Merawat Electronic Fuel Injection yang Baik dan
Benar................................................................................................... 9
BAB III PENUTUP............................................................................ 10
1. Kesimpulan.......................................................................................... 10
2. Saran................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA......................................................................... 11

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Karburator adalah sebuah alat yang mencampur udara dan bahan bakar untuk sebuah
mesin pembakaran dalam. Karburator pertama kali ditemukan oleh Karl Benz pada tahun
1885 dan 1886. Pada tahun dipatenkan pada tahun 1893 insinyur kebangsaan Hungaria
bernama Jnos Csonka dan Dont Bnki juga mendesain alat yang serupa. Adalah Frederick
William Lanchester dari Birmingham, Inggris yang pertama kali bereksperimen
menggunakan karburator pada mobil. Pada tahun 1896 Frederick dan saudaranya
membangun mobil pertama yang menggunakan bahan bakar bensin di Inggris, bersilinder
tunggal bertenaga 5 hp (4 kW), dan merupakan mesin pembakaran dalam (internal
combution). Tidak puas dengan hasil akhir yang didapat, terutama karena kecilnya tenaga
yang dihasilkan, mereka membangun ulang mesin tersebut, kali ini mereka menggunakan dua
silinder horisontal dan juga mendisain ulang karburator mereka. Kali ini mobil mereka
mampu menyelesaikan tur sepanjang 1.000 mil (1600 km) pada tahun 1900. Hal ini
merupakan langkah maju penggunaan karburator dalam bidang otomotif.Karburator umum
digunakan untuk mobil berbahan bakar bensin sampai akhir 1980-an. Setelah banyak kontrol
elektronik digunakan pada mobil, penggunaan karburator mulai digantikan oleh sistem
injeksi bahan bakar karena lebih mudah terintegrasi dengan sistem yang lain untuk mencapai
efisiensi bahan bakar.Injeksi bahan bakar atau EFI (Electronic Fuel Injection )adalah sistem
injeksi bahan bakar yang dikontrol secara elektronik. Sistem ini merupakan salah satu jenis
sistem bahan bakar pada motor bensin.Penggunaan injeksi bahan bakar akan meningkatkan
tenaga mesin bila dibandingkan dengan penggunaan karburator. Dan injeksi bahan bakar juga
dapat mengontrol pencampuran bahan bakar dan udara yang lebih tepat, baik dalam proporsi
dan keseragaman. Injeksi bahan bakar dapat berupa mekanikal, elektronik atau campuran dari
keduanya. Sistem awal berupa mekanikal namun sekitar 1980 mulai banyak menggunakan
sistem elektronik.Sistem elektronik modern menggunakan banyak sensor untuk memonitor
kondisi mesin, dan sebuah unit kontrol elektronik (electronic control unit, ECU) untuk
menghitung jumlah bahan bakar yang diperlukan. Oleh karena itu injeksi bahan bakar dapat
meningkatkan efisiensi bahan bakar dan mengurangi polusi, dan juga memberikan tenaga
keluaran yang lebih.Dizaman sekarang banyak orang yang kurang mengerti tentang
perbedaan sistem karburator dan sistem EFI (Electronic Fuel Injection) dan kebanyakan
orang mengabaikan perbedaan itu mereka tidak tahu bahwa sisitem EFI lebih irit bahan bakar
dari pada sistem karburator.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin pesat dewasa ini
menimbulkan dampak pada dunia pendidikan dengan makin besarnya tantangan yang harus
dihadapi oleh dunia pendidikan.Dunia pendidikan Salah satu upaya peningakatan dan
penyempurnaan dalam penyelenggaraan pendidikan khususnya dibidang teknik mesin
khususnya sekarang ini makin dituntut untuk dapat menghasilkan sumber daya manusia yang
handal, yang mampu menjawab dan mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Dunia pendidikan harus dapat mewujudkan hal itu, maka perlu adanya
peningkatan dan penyempurnaan dalam penyelenggaraan pendidikan. otomotif Aplikasi
Sistem Pengaturan Elektronik pada kendaraan telah demikian pesatnya, seiring dengan
kemajuan teknologi dan tuntutan global yang mensyaratkan baik aspek pemenuhan pengguna
teknologi maupun aspek dampak lingkungannya, sehingga rancang bangun kendaraan
modern dengan Advance Technology memiliki kelebihan/keunggulan yang mampu
meningkatkan antara lain:
Unjuk kerja
Efisiensi penggunaan bahan bakar
Penanggulangan dampak lingkungan
Kenyamanan dan keamanan
Kendaraan dengan fasilitas control elektronik dibandingkan dengan kendaraan konvensional
memiliki perbedaan pada piranti elektroniknya yang pada dasarnya terdiri dari beberapa
komponen, yaitu Sensor, Electronik Control Unit (ECU), dan Unit Actuator.

Rumusan Masalah
1. Apa itu Electronic Fuel Injection?
2. Apa kelebihan Electronic Fuel Injection?
3. Apa kekurangan Electronic Fuel Injection?
4. Bagaimana cara merawat Electronic Fuel Injection yang baik dan benar?

Manfaat
Manfaat pembahasan masalah ini adalah untuk, meningkatkan pengetahuan tentang
sistem sensor efi bagi saya khususnya dan bagi para pembaca umumnya. Dan makalah ini
saya buat agar dapat menyelesaikan tugas yang diberikan kepada saya. Dengan pembahasan
yang akan kita bahas bisa kita jadikan wawasan bahwa dunia otomotif itu sangatlah
luas.Semoga dengan adanya pembahasan tentang system sensor efi, ini semua yang membaca
bisa faham dan mengerti cara kerjanya dan mampu mengaplikasiaknnya.

Tujuan
Tujuan dibentuknya makalah ini agar pembaca dan kususnya penulis bisa mengetahui
dan menambah pengetahuan tentang electronic fuel injection.
BAB 2
PEMBAHASAN

Definisi Sistem Karburator


Karburator adalah tempat mencampur bensin dan udara.Karburator salah satu bagian
terpenting dari sebuah kendaraan.
Elxotru (2010) menyatakan bahwa karburator merupakan salah satu bagian penting dari
sistem pembakaran internal alami mesin (normally aspirated engines) berbahan bakar bensin
dan sejenisnya yang pertama kali dirancang oleh Karl Friedrich Benz, seorang insinyur
berkebangsaan Jerman pada tahun 1885.
Karburator merupakan bagian yang penting pada sepeda motor. Hampir semua sepeda
motor menggunakan karburator karena umumnya sepeda motor menggunakan bensin sebagai
bahan bakarnya. Karena itu karburator yang baik harus mampu membuat gas yang sempurna
dan sesuai dengan kebutuhan mesin pada setiap tingkat penggunaan dan kecepatan putaran
mesin. Untuk mendapatkan pembakaran yang sempurna dibutuhkan perbanbingan bensin dan
udara dalam percampuran gas, menurut teoritis adalah 1:15. Artinya 1 gram bensin harus
dicampur dengan 15 gram udara.Apabila perbandingan campurannya lebih dari 1:15 maka
biasanya dikatakan campuran miskin contoh 1:18. Apabila perbandingan campuran kurang
dari 1:15 maka dikatakan campuran kaya contoh 1:12. Didalam praktek pada umumnya
digunakan campuran kaya, ini untuk mendapatkan daya mesin yang lebih besar (boros
mesin). Dan dengan sebaliknya apabila menghendaki bahan bakar yang ekonomis maka bisa
digunakan campuran miskin. Untuk campuran miskin ini biasa digunakan pada mesin 4 tak
karena gerakan motor ini tak secepat kerja motor 2 tak.

Fungsi Karburator
Elxotru (2010) menyatakan bahwa fungsi utama karburator ialah mencampur bahan bakar
dengan udara/oksigen agar supaya bisa terbakar dengan baik dalam ruang pembakaran.
sebagai alat pengontrol jumlah bahan bakar dan udara yang akan masuk ke dalam ruang
pembakaran.
Mbobs (2011) menerangkan bahwa karburator sendiri berfungsi sebagai tempat
bercampurnya udara dan bahan bakar,yang nantinya hasil pencampuran udara dan bahan
bakar akan di kabutkan/di semprotkan ke ruang bakar.
Yans (2010) berpendapat bahwa fungsi karburator ialah mengatur perbandingan campuran
udara dan bahan bakar,menjadikan campuran tersebut menjadi kabut,dan menambah atau
mengurangi jumlah campuran sesuai dengan kecepatan dan beban motor yang berubah-
ubah.

Komponen Komponen Karburator dan fungsinya


1. Mangkok karburator ( float chamber )berfungsi untuk menyimpan bensin pada waktu
belum digunakan.
2. Klep / Jarum Pelampung berfungsi untuk mengatur masuknya bensin kedalam
mangkok karburator.
3. Pelampung ( float ) berfungsi untuk mengatur agar tetapnya bahan bakar didalam
mangkok karburator.
4. Skep / Katup Gas berfungsi untuk mengatur banyaknya gas yang masuk kedalam
silinder.
5. Pemancar Jarum ( main jet / needle jet ) berfungsi untuk memancarkan bensin waktu
motor di gas besarnya diatur oleh terangkatnya jarum skep.
6. Jarum Skep / Jarum Gas ( jet needle ) berfungsi untuk mengatur besarnya semprotan
bensin dari main nozzle pada waktu motor di gas.
7. Pemancar besar / induk ( main jet ) berfungsi untuk memancarkan bensin waktu
motor di gas full ( tinggi ).
8. Pemancar kecil / stasioner ( slow jet ) berfungsi untuk memancarkan bensin waktu
langsam / stationer.
9. Sekrup Gas / Baut Gas ( throttle screw ) berfungsi untuk setelan posisi skep sebelum
di gas.
10. Skrup udara / baut udara ( air Screw ) berfungsi untuk mengatur banyaknya udara
yang akan dicampur dengan bahan bakar.
11. Katup Cuk ( choke valve ) berfungsi untuk menutup udara luar yang masuk ke
karburator sehingga gas menjadi kaya digunakan pada waktu start.
Cara Kerja Karburator
Pada waktu sepeda motor dihidupkan piston dalam silinder melakukan langkah hisap,
hisapan ini membuat udara dari luar masuk ke dalam karburator. Kecepatan udara mengalir
melewati spuyer kecil, sehingga mengakibatkan tekanan udara mejadi rendah, akibatnya
bensin dalam ruang pelampung ikut terhisap naik keluar melalui spuyer kecil.Bensin yang
naik keluar bercampur dengan udara menjadi kabut/gas yang merupakan campuran udara
dengan bensin. Gas ini akan masuk ke dalam ruang bakar di mesin untuk kemudian dibakar.
Prinsip kerja karburator sebenarnya hampir mirip dengan semprotan obat nyamuk.
Pada waktu mesin di hidupkan silinder mengadakan gerak isap maka isapan tersebut
mengisap udara luar masuk ke dalam motor melalui spoeyer/jet, maka tekanan udara di
permukaan jet rendah dan dari dalam spoeyer tadi memancarkan bensin. Sedangkan pancaran
tersebut berupa kabut bensin/atomisasi yang disebabkan oleh adanya udara yang mengalir
melalui saluran udara ke masing-masing spoeyer. Baik itu merupakan slow jet atau main jet.
Sehingga dengan mudah bercampur udara menjadi gas yang diperlukan oleh motor dan
pencampuran ini disebut venture. Dan inilah cara kerja karburator pada umumnya baik pada
putaran mesin rendah maupun tinggi.
Definisi EFI (Electronic Fuel Injection)

Efi adalah sisitem injeksi yang menggunakan elektronis atau sisitem injeksi elektronis. Sistem ini
langkah maju dari sistem karburator yang menggunakan sistem injeksi mekanis.
eletronic Fuel Injection (EFI) adalah teknologi pengontrolan penginjeksian bahan bakar yang
berkembang saat ini pada mesin bensin menggantikan karburator.
Sistem bahan bakar tipe injeksi merupakan langkah inovasi yang sedang dikembangkan untuk
diterapkan pada sepeda motor. Tipe injeksi sebenarnya sudah mulai diterapkan pada sepeda
motor dalam jumlah terbatas pada tahun 1980-an, dimulai dari sistem injeksi mekanis kemudian
berkembang menjadi sistem injeksi elektronis. Sistem injeksi mekanis disebut juga sistem injeksi
kontinyu (K-Jetronic) karena injektor menyemprotkan secara terus menerus ke setiap saluran
masuk (intake manifold). Sedangkan sistem injeksi elektronis atau yang lebih dikenal dengan
Electronic Fuel Injection (EFI), volume dan waktu penyemprotannya dilakukan secara elektronik.
Sistem EFI kadang disebut juga dengan EGI (Electronic Gasoline Injection), EPI (Electronic
Petrol Injection), PGM-FI (Programmed Fuel Injenction) dan Engine Management. Penggunaan
sistem bahan bakar injeksi pada sepeda motor komersil di Indonesia sudah mulai
dikembangkan. Salah satu contohnya adalah pada salah satu tipe yang di produksi Astra Honda
Mesin, yaitu pada Supra X 125. Istilah sistem EFI pada Honda adalah PGM-FI (Programmed
Fuel Injection) atau sistem bahan bakar yang telah terprogram. Secara umum, penggantian
sistem bahan bakar konvensional ke sistem EFI dimaksudkan agar dapat meningkatkan unjuk
kerja dan tenaga mesin (power) yang lebih baik, akselarasi yang lebih stabil pada setiap putaran
mesin, pemakaian bahan bakar yang ekonomis (iriit), dan menghasilkan kandungan racun
(emisi) gas buang yang lebih sedikit sehingga bisa lebih ramah terhadap lingkungan. Selain itu,
kelebihan dari mesin dengan bahan bakar tipe injeksi ini adalah lebih mudah dihidupkan pada
saat lama tidak digunakan, serta tidak terpengaruh pada temperatur di lingkungannya.
Sistem Electronic Fuel Injection ( EFI) mulai dikembangkan oleh Toyota sejak tahun 1971, tahap-
tahap itu masih bertaraf percobaan. Baru pada tahun 1981 pertama kali diterapkan pada mesin
Toyota Crown. Sebelum itu beberapa mobil Eropa memang sudah menggunakan cara injeksi
bahan bakar. Namun cara yang digunakan berbeda dengan yang sekarang sangat populer
dengan istilah EFI. EFI yang dikendalikan oleh ECU (Electronic Control Unit) - sangat
membutuhkan campur tangan sistem elektronik. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa, di saat
kaki pengemudi menekan pedal gas maka sensor air flow meter, akan mengirimkan sinyal ke
EFI-ECU. Setelah data tersebut diolah, ECU memerintahkan agar injektor mengirimkan sejumlah
bahan bakar sesuai banyaknya udara yang dikirim lewat air flow meter. Air flow meter adalah
sebuah peralatan yang terletak pada tempat dimana dipasangkan "karburator" pada mobil yang
menggunakan karburator.

EFI multiport
Saat ini yang banyak digunakan adalah cara kerja multi port, karena penyemprotan yang
langsung ke intake port. Untuk mendapatkan pembakaran yang paling ideal maka dibutuhkan
pertama campuran bahan bakar dan udara yang homogen dan kedua saat pengapian yang
tepat. Pada mesin mobil yang dilengkapi dengan EFI, bahan bakar dan udara diatur sebaik-
baiknya oleh perangkat elektronik yang dinamakan Electronic Control Unit. Begitu kaki Anda
menekan pedal gas, air flow meter akan mengirimkan sinyal ke ECU. ECU akan mengelolah data
kemudian memerintahkan/mengatur berapa banyak bahan bakar yang perlu disemprotkan ke
depan intake port setiap silinder, dan sudah dalam bentuk kabut serta di langkah isapnya mesin.
Letak injektor yang tepat di depan saluran masuk ke ruang bakar mesin, membuat bahan bakar
dan udara yang sudah bercampur menjadi homogen langsung terisap kedalam ruang bakar.

Prinsip Kerja Sistem EFI


Istilah sistem injeksi bahan bakar (EFI) dapat digambarkan sebagai suatu sistem yang
menyalurkan bahan bakarnya dengan menggunakan pompa pada tekanan tertentu untuk
mencampurnya dengan udara yang masuk ke ruang bakar. Pada sistem EFI dengan mesin
berbahan bakar bensin, pada umumnya proses penginjeksian bahan bakar terjadi di bagian
ujung intake manifold/manifold masuk sebelum inlet valve (katup/klep masuk). Pada saat inlet
valve terbuka, yaitu pada langkah hisap, udara yang masuk ke ruang bakar sudah bercampur
dengan bahan bakar. Secara ideal, sistem EFI harus dapat mensuplai sejumlah bahan bakar
yang disemprotkan agar dapat bercampur dengan udara dalam perbandingan campuran yang
tepat sesuai kondisi putaran dan beban mesin, kondisi suhu kerja mesin dan suhu atmosfir saat
itu. Sistem harus dapat mensuplai jumlah bahan bakar yang bervariasi, agar perubahan kondisi
operasi kerja mesin tersebut dapat dicapai dengan unjuk kerja mesin yang tetap optimal.

Konstruksi Dasar Sistem EFI

Secara umum, konstruksi sistem EFI dapat dibagi menjadi tiga bagian/sistem utama, yaitu;
a) sistem bahan bakar (fuel system)
Sistem bahan bakar digunakan untuk menyalurkan bahan bakar dari tangki bahan bakar
sampai ke ruang bakar. Sistem ini terdiri daritangki bahan bakar (fuel pump), pompa bahan
bakar (fuel pump), saringan bahan bakar (fuel filter), pipa/slang penyalur (pembagi), pengatur
tekanan bahan bakar (fuel pressure regulator), dan injektor/penyemprot bahan bakar. Sistem
bahan bakar ini berfungsi untuk menyimpan, membersihkan, menyalurkan dan
menyemprotkan /menginjeksikan bahan bakar.
Adapun fungsi masing-masing komponen pada sistem bahan bakar tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Fuel suction filter berfungsi untuk menyaring kotoran agar tidak terisap pompa bahan
bakar.
2. Fuel pump moduleberfungsi untuk memompa dan mengalirkan bahan bakar dari
tangki bahan bakar ke injektor. Penyaluran bahan bakarnya harus lebih banyak dibandingkan
dengan kebutuhan mesin supaya tekanan dalam sistem bahan bakar bisa dipertahankan setiap
waktu walaupun kondisi mesin berubahubah.
3. Fuel pressure regulator berfungsi untuk mengatur tekanan bahan bakar di dalam
sistem aliran bahan bakar agar tetap/konstan.
4. Fuel feed hose berfungsi untuk slang untuk mengalirkan bahan bakar dari tangki
menuju injektor. Slang dirancang harus tahan tekanan bahan bakar akibat dipompa dengan
tekanan minimal sebesar tekanan yang dihasilkan oleh pompa.
5. Fuel Injector berfungsi untuk menyemprotkan bahan bakar ke saluran masuk (intake
manifold) sebelum, biasanya sebelum katup masuk, namun ada juga yang ke throttle body.
Volume penyemprotan disesuaikan oleh waktu pembukaan nozel/injektor. Lama dan
banyaknya penyemprotan diatur oleh ECM (Electronic/Engine Control Module) atau ECU
(Electronic Control Unit).
Terjadinya penyemprotan pada injektor adalah pada saat ECU memberikan tegangan listrik
ke solenoid coil injektor. Dengan pemberian tegangan listrik tersebut solenoid coil akan
menjadi magnet sehingga mampu menarik plunger dan mengangkat needle valve (katup
jarum) dari dudukannya, sehingga saluran bahan bakar yang sudah bertekanan akan
memancar keluar dari injektor.
b) sistem kontrol elektronik (electronic control system)
Komponen sistem kontrol elektronik terdiri dari beberapa sensor (pengindera), seperti MAP
(Manifold Absolute Pressure) sensor, TP (Throttle Position) sensor, IAT (Intake Air
Temperature) sensor, bank angle sensor, EOT (Engine Oil Temperature) sensor, dan sensor-
sensor lainnya. Pada sistem ini juga terdapat ECU (Electronic Control Unit) atau ECM dan
komponenkomponen tambahan seperti alternator (magnet) dan regulator/rectifier yang
mensuplai dan mengatur tegangan listrik ke ECU, baterai dan komponen lain. Pada sistem ini
juga terdapat DLC (Data Link Connector) yaitu semacam soket dihubungkan dengan engine
analyzer untuk mecari sumber kerusakan komponen

Secara garis besar fungsi dari masing-masing komponen sistem kontrol elektronik antara lain
sebagai berikut;
1. ECU/ECM; menerima dan menghitung seluruh informasi/data yang diterima dari
masing-masing sinyal sensor yang ada dalam mesin. Informasi yang diperoleh dari sensor
antara lain berupa informasi tentang suhu udara, suhu oli mesin, suhu air pendingin, tekanan
atau jumlah udara masuk, posisi katup throttle/katup gas, putaran mesin, posisi poros engkol,
dan informasi yang lainnya. Pada umumnya sensor bekerja pada tegangan antara 0 volt
sampai 5 volt. Selanjutnya ECU/ECM menggunakan informasi-informasi yang telah diolah
tadi untuk menghitung dan menentukan saat (timing) dan lamanya injektor
bekerja/menyemprotkan bahan bakar dengan mengirimkan tegangan listrik ke solenoid
injektor. Pada beberapa mesin yang sudah lebih sempurna, disamping mengontrol injektor,
ECU/ECM juga bisa mengontrol sistem pengapian.
2. MAP (Manifold absolute pressure) sensor; memberikan sinyal ke ECU berupa
informasi (deteksi) tekanan udara yang masuk ke intake manifold. Selain tipe MAP sensor,
pendeteksian udara yang masuk ke intake manifold bisa dalam bentuk jumlah maupun berat
udara. Jika jumlah udara yang dideteksi, sensornya dinamakan air flow meter, sedangkan jika
berat udara yang dideteksi, sensornya dinamakan air mass sensor.
3. IAT (Engine air temperature) sensor; memberikan sinyal ke ECU berupa informasi
(deteksi) tentang suhu udara yang masuk ke intake manifold. Tegangan referensi/suplai 5 Volt
dari ECU selanjutnya akan berubah menjadi tegangan sinyal yang nilainya dipengaruhi oleh
suhu udara masuk.
4. TP (Throttle Position) sensor; memberikan sinyal ke ECU berupa informasi (deteksi)
tentang posisi katup throttle/katup gas. Generasi yang lebih baru dari sensor ini tidak hanya
terdiri dari kontak-kontak yang mendeteksi posisi idel/langsam dan posisi beban penuh, akan
tetapi sudah merupakan potensiometer (variable resistor) dan dapat memberikan sinyal ke
ECU pada setiap keadaan beban mesin. Konstruksi generasi terakhir dari sensor posisi katup
gas sudah full elektronis, karena yang menggerakkan katup gas adalah elektromesin yang
dikendalikan oleh ECU tanpa kabel gas yang terhubung dengan pedal gas. Generasi terbaru
ini memungkinkan pengontrolan emisi/gas buang lebih bersih karena pedal gas yang
digerakkan hanyalah memberikan sinyal tegangan ke ECU dan pembukaan serta penutupan
katup gas juga dilakukan oleh ECU secara elektronis.
5. Engine oil temperature sensor; memberikan sinyal ke ECU berupa informasi (deteksi)
tentang suhu oli mesin.
6. Bank angle sensor; merupakan sensor sudut kemiringan. Pada sepeda motor yang
menggunakan sistem EFI biasanya dilengkapi dengan bank angle sensor yang bertujuan
untuk pengaman saat kendaraan terjatuh dengan sudut kemiringan 550
7. Sinyal atau informasi yang dikirim bank angle sensor ke ECU saat sepeda motor
terjatuh dengan sudut kemiringan yang telah ditentukan akan membuat ECU memberikan
perintah untuk mematikan (meng-OFF-kan) injektor, koil pengapian, dan pompa bahan bakar.
Dengan demikian peluang terbakarnya sepeda motor jika ada bahan bakar yang tercecer atau
tumpah akan kecil karena sistem pengapian dan sistem bahan bakar langsung dihentikan
walaupun kunci kontak masih dalam posisi ON.
Bank angle sensor akan mendeteksi setiap sudut kemiringan sepeda motor. Jika sudut
kemiringan masih di bawah limit yang ditentukan, maka informasi yang dikirim ke ECU
tidak sampai membuat ECU meng-OFF-kan ketiga komponen di atas. Bagaimana dengan
sudut kemiringan sepeda motor yang sedang menikung/berbelok? Jika sepeda motor sedang
dijalankan pada posisi menikung (walau kemiringannya melebihi 550), ECU tidak meng-
OFFkan ketiga komponen tersebut. Pada saat menikung terdapat gaya centripugal yang
membuat sudut kemiringan pendulum dalam bank angle sensor tidak sama dengan
kemiringan sepeda motor.
Dengan demikian, walaupun sudut kemiringan sepeda motor sudah mencapai 550, tapi dalam
kenyataannya sinyal yang dikirim ke ECU masih mengindikasikan bahwa sudut
kemiringannya masih di bawah 550 sehingga ECU tidak meng-OFF-kan ketiga komponen
tersebut. Selain sensor-sensor di atas masih terdapat sensor lainnya digunakan pada sistem
EFI, seperti sensor posisi camshaft/poros nok, (camshaft position sensor) untuk mendeteksi
posisi poros nok agar saat pengapiannya bisa diketahui, sensor posisi poros engkol
(crankshaft position sensor) untuk mendeteksi putaran poros engkol, sensor air pendingin
(water temperature sensor) untuk mendeteksi air pendingin di mesin dan sensor lainnya.
Namun demikian, pada sistem EFI sepeda motor yang masih sederhana, tidak semua sensor
dipasang.
c) sistem induksi/pemasukan udara (air induction system)
Sistem induksi udara menyalurkan sejumlah udara yang diperlukan untuk pembakaran. Sistem
ini terdiri atas: air cleaner, air flow meter, throttle body, dan air valve. Udara bersih dari saringan
udara (air cleaner)masuk ke airflow meter dengan membuka measuring plate,besarnya
pembukaan ini tergantung pada kecepatan aliran udara yang masuk ke intake chamber.besarnya
udara yang masuk kintake chamber ditentukan oleh lebarnya katup throttle terbuka.Aliran udara
masuk ke intake manifold kemudian keruang bakar(combustion chamber)bila mesin dalam
keadaan dingin,air valve megalirkan udara langsung keintake camber dengan membypass
throttle.Air valve mengirimkan udara secukupnya keintake chamber untuk menambah putaran
sampai fast idle,tanpa memperhatikan apakah throttle dalam keadaan membuka atau
tertutup.Jumlah udara yang masuk dideteksi oleh airflow meter (L-EFI) atau dengan manifold
preassure sensor(D-EFI)
Jumlah komponen-komponen yang terdapat pada sistem EFI bisa berbeda pada setiap jenis
sepeda mesin. Semakin lengkap komponen sistem EFI yang digunakan, tentu kerja sistem EFI
akan lebih baik sehingga bisa menghasilkan unjuk kerja mesin yang lebih optimal pula. Dengan
semakin lengkapnya komponen-komponen sistem EFI (misalnya sensor-sensor), maka
pengaturan koreksi yang diperlukan untuk mengatur perbandingan bahan bakar dan udara yang
sesuai dengan kondisi kerja mesin akan semakin sempurna.

Macam Macam Sistem Efi

Sistem EFI dirancang untuk mengukur jumlah udara yang dihisap dan untuk megontrol
penginjeksian bahan bakar yang sesuai. Besarnya udara yang dihisap diukur langsung dengan
tekanan udara dalam intake manifold (D-EFI sistem) atau dengan airflow meter pada sistem
L-EFI
1) Sistem D-EFI (Manifold Pressure Control Type)
Sistem D-EFI Mengukur Tekanan udara dalam intake manifold dan kemudian melakukan
perhitungan umlah udara yang masuk.Tetapi karena tekanan udara dan jumlah dalam intake
manifold tidak dalam konvensi yang tepat,sistem D-EFI tidak begitu akurat dibandingkan
dengan sistem L-EFI. Sistem ini sering pula disebut D Jetronic yaitu merk dagang dari
Bosch. Huruf D singkatan dari Druck (bahasa Jerman) yang berarti tekanan, sedang Jetronic
berarti penginjeksian (injection).
2) Sistem L-EFI
Dalam Sistem L-EFI, airflow meter langsung mengukur jumlah udara yang mengalir melalui
intake manifold. Airflow meter mengukur jumlah udara dengan sangat akurat, aiatem L-EFI
dapat mengontrol penginjeksian bahan bakar lebih tepat dibandingkan sistem D-EFI.Istilah L
diambil dari bahasa Jerman yaitu Luft yang berarti udara.
1. Pada dasarnya, sistem EFI dibuat tangguh untuk segala kondisi jalan, suhu dan cara
mengemudi. Kerusakan atau masalah pada sistem EFI terutama disebabkan oleh:
Kualitas BBM yang buruk (nilai oktan yang rendah, bensin oplosan, kandungan sulfur yang
amat tinggi pada semua jenis BBM di Indonesia dan ketiadaan aditif pada BBM Pertamina)
2. Kelembapan udara tropis yang sangat tinggi sehingga kandungan sulfur pada BBM
bereaksi dengan uap air menjadi asam sulfat di sistem bahan bakar kendaraan dan
menimbulkan sumbatan-sumbatan pada injektor dan saluran bahan bakar
3. Modifikasi sistem kelistrikan kendaraan yang tidak benar, termasuk penggantian
kabel busi non-OEM (Original Equipment Manufacturer) maupun pemasangan alarm
4. Upaya membersihkan injector dengan sistem Ultrasound
5. ECU (electronic Control Unit) yang kemasukan air
6. Melepas aki dengan cara yang tidak benar
7. melakukan jump start dengan cara yang tidak benar serta melepas ECU dengan
sembarangan

Ketika menghidupkan mesin perhatikan bilamana indikator tulisan/gambar Check Engine


pada panel instrumen (tergantung merek mobil) tetap menyala setelah mesin hidup selama
beberapa detik, segeralah hubungi mekanik anda;
1. Ketika sedang berkendara dan bilamana indikator Check Engine menyala, segeralah
hubungi mekanik anda;
2. Bersihkan dan gantilah saringan udara secara berkala atau tepat pada waktunya;
3. Gantilah saringan bensin (fuel filter) secara berkala, sebaiknya setiap 15.000km atau
lebih sering mengingat kondisi BBM di Indonesia yang memiliki kandungan sulfur teramat
tinggi;
4. Bersihkanlah throttle body dan idle regulator/ stepper motor secara berkala;
5. Bersihkanlah connector sensor-sensor, connector pengapian dan connector ECU
secara berkala;
6. Ganti busi secara berkala dan periksa keregangan celah busi ` setiap 5.000km atau
lebih sering. Gunakan busi tipe R,yaitu yang menggunakan resistor;
7. Hindari ECU (Electronic Control Unit) dari air;
8. Usahakan aki dan sistem pengisian kelistrikan (altenator dan voltage regulatornya)
selalu dalam kondisi prima
9. Jangan sekalipun berpikir untuk memodifikasi voltage regulator dengan sistem cut-
out, Anda akan merusak ECU maupun modul pengapian (igniter/ CDI);
10. Jangan berusaha menghidupkan mesin ketika soket injektor dalam posisi terlepas;
11. Jangan sekalipun berusaha menghubungkan injektor dengan arus aki langsung (12
volts) karena injektor beroperasi dengan tegangan 9 volts;
12. Bersihkanlah injektor dan sistem bahan bakar secara berkala dengan sistem pembersih
yang aman, misalnya Interject Service;
13. Jangan sekalipun menggunakan sistem pembersih injektor Ultrasound;
14. Jika handak memasang alarm, yakinkan alarm itu dibuat oleh pabrikan besar dan
memiliki reputasi internasional, misalkan merek Clifford, Alpine, Kenwood, Avital, dll.
Lakukan pemasangan alarm hanya di authorized dealer. Alarm buatan pabrikan yang tidak
memiliki reputasi internasional dapat menimbulkan RFI/ MRI yang akan mengganggu fungsi
ECU;
15. Jika hendak mengganti kabel busi dgn tipe high performance/ racing, yakinkan bahwa
kabel terbuat dari bahan yang tidak menimbulkan RFI/MRI yang dapat mengganggu fungsi
ECU.
Kelebihan Sistem EFI
Beberapa tahun terakhir ini, telah banyak pabrikan kendaraan mengaplikasikan teknologi
injeksi bahan bakar di setiap produknya. Beberapa produsen otomotif memberi namanya
macam-macam dan memberi kesan canggih, namun tetap bersistem kerja injection. Lantas,
apa kelebihan sistem ini jika dibandingkan dengan karburator ?.Teknologi EFI (Electronic
Fuel Injection) sebenarnya tidak dapat dikatakan sebagai teknologi yang terbaru, karena
teknologi ini sudah diterapkan beberapa tahun lalu. Dan EFI sebenarnya baru diterapkan pada
kendaraan keluaran dasawarsa 1990-an.Sebagaimana dijelaskan Achmad Rizal R, seorang
yang mengerti tentang product planning, penggunaan EFI saat itu masih terbatas pada jenis
sedan (passenger car). Baru di akhir 1990-an dan awal 2000, kendaraan tipe minivan seperti
Kijang atau SUV ikut mengadopsi. Pada era sekarang istilah EFI mulai memperoleh saingan:
PGM-FI, EPFI, ECFI, T-DIS, VVT-i, i-VTEC, MIVEC, VANOS, Valvetronic, dan
sebagainya.Istilah-istilah itu kemudian diangkat oleh para pabrikan mobil sebagai salah satu
nilai jual produk mereka.
Teknologi EFI sebetulnya erat kaitannya dengan sistem manajemen engine (SME). Engine di
sini bukan dalam arti mesin, terjemahan dari kata machinery, melainkan motor bakar. Di
sinilah bahan bakar minyak (BBM) dicampur dengan udara untuk menghasilkan gaya gerak
yang membuat mobil bisa melaju.SME muncul seiring dengan menipisnya persediaan bahan
bakar minyak sehingga menuntut engineyang semakin efisien tanpa kehilangan kinerja yang
dihasilkannya.Selain itu juga adanya tuntutan untuk memperbaiki kualitas lingkungan hidup,
terutama akibat polusi udara.Oleh karena tuntutan itu, para ahli engine di setiap perusahaan
otomotif dan perusahaan konsultan rekayasa setiap hari berusaha menemukan cara
meningkatkan efisiensi engine yang ada.Untuk mencapai tujuan itu, para pabrikan berlomba-
lomba mencari dan menerapkan banyak teknologi baru. Mulai dari peralatan dan
perlengkapan yang digunakan untuk mendesain engine, pencarian dan penggunaan material
baru, terobosan dalam proses produksi, dan yang terpenting, campur tangan kontrol
elektronik dan komputer untuk mengatur kinerja engine dan peralatan
pendukungnya.Engine yang ideal membakar jumlah bahan bakar sesuai dengan kebutuhan
serta menyalakan busi pada saat yang tepat sesuai dengan kondisi operasi. Dari sini
didapatkan efisiensi pemakaian bahan bakar yang optimal pada setiap kondisi operasi
dari engine. Kondisi ini akan menghasilkan emisi gas buang lebih baik.Sebelum muncul
sistem EFI, untuk mencampur bahan bakar dengan udara digunakan karburator. Dalam
karburator ini bahan bakar dikabutkan sebagai akibat dari isapan vakum dari venturi. Proses
ini mirip semprotan obat nyamuk bertipe pompa. Namun, sebagai alat yang murni mekanikal,
karburator punya keterbatasan sehingga hanya efektif pada daerah operasi tertentu. Sehingga
karburator dirancang efektif untuk engine putaran tinggi alias mobil sport. Jadi, tidak cocok
untuk dipasang pada mobil minivan yang lebih mementingkan torsi dan tenaga di putaran
bawah dan menengah.Begitupun dengan sistem pengapian, arus listrik dari ignition
coil disalurkan ke masing-masing busi melalui distributor. Di sini terdapat mekanisme untuk
memajukan atau memundurkan waktu pengapian agar sesuai dengan kondisi engine, yang
merupakan gabungan dari vacuum advancer dan centrifugal advancer. Namun, sebagaimana
karburator, sistem distributor konvensional ini juga punya keterbatasan, karena hanya
optimum pada daerah operasi yang terbatas sesuai dengan karakteristik engine. Mengingat
keterbatasan sistem mekanis itu, para perekayasa berusaha menggabungkan sistem mekanis
dengan kontrol elektronik. Gunanya agar diperoleh fleksibilitas yang lebih dalam daerah
operasinya sehingga menghasilkan engine dengan kinerja optimum dalam daerah operasi
yang lebih luas. Lahirlah apa yang disebut SME tadi.SME kemudian menjadi perlengkapan
wajib bagi mobil-mobil modern. Karena merupakan komponen penting, para pabrikan
membungkusnya dalam nama yang berbeda dari pabrikan lain. Toyota dan Daihatsu memberi
nama Electronic Fuel Injection alias EFI, sedangkan nama Bosch Motro-nic dipakai oleh
BMW dan Peugeot.
Engine Control Temperature (ECT)/Sensor Temperatur Mesin dan Intake Air Temperature

(IAT)/Temperatur udara masuk


ECT berfungsi untuk mendeteksi suhu air pendingin pada mesin

IAT berfungsi untuk mendeteksi suhu udara yang masuk


Cara Kerjanya:
Sensor yang dihubungkan seri dengan tahanan dan diberi tegangan 5 V. Bila tegangan pada
sensor berubah (karena temperature), maka tegangan yang ke ECU juga berubah. Tegangan
kerja adalah 4,5 s/d 0,2 Volt, dari dingin ke panas

Throttle Position Sensor (TPS)

TPS berfungsi untuk mengetahui derajat pembukaan katup gas dan mengontrol jumlah udara
yang masuk. Sensor ini terbuat dari bahan Karbon arang. Range kerjanya adalah dalam %
pembukaan katup gas (0 % = 0,5 Volt ----- 100 % = 4,7 Volt). Cara kerjanya: Tegangan 5 Volt dari
ECU sebagai sumber, bila katup gas dibuka akan membuat perbandingan tegangan yang
berasal dari perbandingan tahanan, sehingga mengeluarkan sinyal tegangan 0,5 s/d 4,7 Volt.

Air Flow Meter (Sensor Udara Masuk)

Air flow meter berfungsi untuk mendeteksi jumlah udara yang masuk, dan ini dipakai pada
system injeksi jenis L-EFI.
Jenis-jenis Air Flow Meter
Sensor Flap (impact pressure) Air Flow Sensor LMM
Jenis ini terbuat dari tahanan geser (karbon arang). Cara kerjanya: pedal ditekan untuk
membuka katup gas. Udara diisap oleh pengukur jumlah udara. Pengukur aliran udara
memberikan informasi utama secara elektris ke unit pengontrol elektronika.
Sensor Massa Udara (Kawat dan Film Panas)
Jenis ini terbuat dari bahan kawat panas (platinum), Thermister, Metallic Film. Prinsip kerjanya:
kawat panas dijaga pada temperature tetap dirangkai dengan termistor . Suatu aliran udara akan
menyebabkan kawat panas menjadi dingin, rangkaian elektronik akan mempertahankan
temperature pada kawat panas tetap. Pada waktu yang bersamaan, rangkaian elektronik
mengukur arus yang mengalir ke kawat panas dan mengeluarkan sinyal tegangan sebanding
dengan aliran arus.

Karman Vortex

Jenis Karman Vortex terbuat dari bahan Photo Coupler (LED dan Photo Transistor). Cara
kerjanya: Udara yang masuk dibuat pusaran oleh pembentuk pusaran udara dan distabilkan oleh
plat penstabil pusaran udara, kemudian diukur melalui pemancar dan penerima gelombang
frekuensi tinggi. Dengan sebuah pengolah sinyal, gelombang frekuensi tinggi pada bagian
penerima diubah bentuknya menjadi impul tegangnan yang diterima oleh computer.

Manifold Absolute Pressure (MAP)

Fungsi MAP sensor adalah untuk mengetahui tekanan udara yang masuk. Sensor ini terletak
pada saluran udara masuk setelah katup gas dan digunakan pada mesin injeksi jenis D-EFI.
Cara kerja MAP: Piezo Resistive adalah bahan yang nilai tahanannya tergantung dari perubahan
bentuk. Piezo resistive dibuat diafragma (Silicon chip) berfungsi sebagai membrane antara
ruangan vacuum (0,2 bar) sebagai referensi dan ruangan yang berhubungan dengan intake
manifold.
Perbedaan tekanan antara ruang vacuum dengan intake manifold berakibat perubahan
lengkungan pada membrane silicon chip. Pengolah sinyal merubah menjadi tegangan sinyal.
MAP sensor mengeluarkan tegangan paling tinggi ketika tekanan intake manipold adalah paling
tinggi (kunci kontak ON mesin MATI, atau katup gas diinjak tiba-tiba/Accelerasi). Begitu pula
sebaliknya mengeluarkan tegangan paling rendah jika terjadi decelerasi (perlambatan).

Sensor Gas Buang

Sensor ini berfungsi untuk mengetahui kerusakan pada Katalik konventer dan sebagai system
closed loop A/F Rasio. Prinsip Kerjanya: Bila ada perbedaan jumlah O2 udara luar, akan terjadi
beda potensial antara kedua elektroda. Tegangan maksimal 1 volt. Temperatur kerja min. 400C.

Sensor Putaran

Sensor Induktif pada Distibutor

Sensor CKP dan CMP pada distributor


Untuk system yang pengajuannya dengan mikrokontrol, maka sinyal putaran (CKP) harus
dilengkapi dengan sensor posisi pada silinder (CMP). Sinyal ada yang di distributor dan di poros
engkol
B. Sensor Induktif pada poros engkol

Sensor ini terdiri dari dua, yaitu:


satu sensor induktif dan dua sensor induktif (CKP dan CMP)

Sensor Hall pada distributor

Sensor Photodioda

Berfungsi sebagai sensor putaran dan TOP

Sensor Knoking

Sensor ini berfungsi untuk mengetahui knoking, system closed loop pengapian dan mendeteksi
octane bahan bakar.Prinsip kerja: Bila terjadi knoking (pinking) akan terjadi getaran pada sensor
knoking berupa nois. ECU akan memundurkan saat pengapian 2 kali sampai tidak terjadi
detonasi lagi. Untuk 4 silinder perlu 1 sensor, 5 atau 6 silinder perlu 2 sensor, 8 lebih bisa 2 atau
lebih sensor.

Crankshaft Sensor

Memberi masukan ke ECU posisi dan kecepatan putaran mesin, putaran tinggi membutuhkan
buka INJECTOR yang lebih cepat.

Speed Sensor
Memberi masukan ke ECU kondisi kecepatan sepedamotor, memainkan gas di lampu merah
dibanding kecepatan 90km/jam, buka INJECTOR berbeda.
Vehicle-down Sensor

Memberi masukan ke ECU kondisi sepedamotor, jika motor terjatuh dengan kondisi mesin hidup
maka ECU akan menghentikan kerja FUEL PUMP, IGNITION, INJECTOR, untuk keamanan dan
keselamatan. Electronic Fuel Injection memang lebih unggul dibanding karburator, karena dapat
menyesuaikan takaran BBM sesuai kebutuhan mesin standar. ECU diprogram untuk kondisi
mesin standar sesuai model sepedamotor, di dalam ECU terdapat tabel BBM yang akan dikirim
melalui Injector sesuai kondisi mesin standar. Jika ada perubahan dari kondisi standar misalnya
filter udara diganti atau dilepas, walaupun ada pengukur tekanan udara (inlet air pressure
sensor) pasokkan BBM hanya berubah sedikit, akhirnya sepedamotor akan berjalan tidak normal
karena O2 terlalu banyak (lean mixture).Tabel ECU standar biasanya tidak dapat dirubah, karena
tujuan utama EFI adalah pengurangan kadar emisi gas buang beracun. Untuk mesin modifikasi
memerlukan modifikasi tabel dalam ECU, hal ini dapat dilakukan dengan:
1. Software yang dapat masuk ke dalam memory ECU hanya dimiliki oleh ATPM atau
dealer.
2. Piggyback alat tambahan diluar ECU bekerja dengan cara memanipulasi sinyal yang
dikirim ke Injector untuk membuka lebih lama.
3. Tukar ECU aftermarket yang dapat diprogram tabel memory-nya, sesuai modifikasi,
sesuai kondisi sirkuit.

Camshaft Sensor

Memberi masukan ke ECU posisi langkah mesin, hanya langkah hisap yang membutuhkan buka
INJECTOR.

ECU Electrical Control Unit


Pusat pengolah data kondisi penggunaan mesin, mendapat masukkan/input dari sensor-sensor
mengolahnya kemudian memberi keluaran/output untuk saat dan jumlah injeksi, saat pengapian.