Anda di halaman 1dari 16

METODE AKUISISI DATA

DALAM PEMBUATAN DIGITAL TERRAIN MODEL

TUGAS MATA KULIAH MODEL PERMUKAAN DIGITAL

DISUSUN OLEH :

NAUFAL ILYAS A. H. 21110114140098

PROGRAM STUDI TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
Jl. Prof. Sudarto SH, Tembalang Semarang
2017
PENDAHULUAN

1. Pengertian DTM
The DTM is simply a statistical representation of the continuous surface of
the ground by a large number of selected points with known X, Y, Z co-ordinates
in an arbitrary co-ordinante field (Miller & La Flamme, 1958; dalam Sheimy,
1999).
DTM adalah singkatan dari Digital Terrain Model atau bentuk digital dari
terrain (permukaan tanah, tidak termasuk objek diatasnya). DTM menampilkan
data yang lebih lengkap dari DEM. DTM digambarkan sebagai tiga representasi
dimensi permukaan medan yang terdiri dari X, Y, Z koordinat disimpan dalam
bentuk digital yang tidak hanya mencakup ketinggian dan elevasi unsur unsur
geografis lainnya dan fitur alami seperti sungai, danau, dll. DTM secara efektif
DEM yang telah ditambah dengan unsur-unsur seperti breaklines dan pengamatan
selain data asli untuk mengoreksi artefak yang dihasilkan dengan hanya
menggunakan data asli. Dengan meningkatnya penggunaan komputer dalam
rekayasa dan pengembangan cepat tiga dimensi grafis komputer DTM menjadi
alat yang ampuh untuk sejumlah besar aplikasi di bumi dan ilmu teknik.
DTM (Digital Terrain Model), terrain dapat diartikan sebagai a tract of
country considered with regards to its natural fetures atau an extent of ground,
region, territory, etc.
Pengertian DTM mencakup tidak hanya height dan elevasi, tetapi juga unsur
morfologi yang lain, seperti river ridge lines. DTM menyajikan relief dari terrain.
DTM menyajikan informasi ketinggian dari permukaan bumi/tanah yang tanpa
ada feature alam (misal: pohon) dan buatan manusia (misal: bangunan). Istilah
bahasa Inggris untuk kondisi ini adalah bald earth atau bare earth

2 | Page
Gambar 1 DSM dan DTM

.
Gambar 2 Perbedaan sederhana DSM dan DTM

2. DTM dan kaitannya dengan ilmu lain


Aplikasi DTM terhadap disiplin ilmu lain antara lain :
Teknik sipil.
Bidang teknik sipil banyak menggunakan DTM untuk analisis dan
perhitungan volume, galian dan timbunan. Aplikasi dari kegiatan tersebut
diantaranya adalah perencaaan jalan, pembangunan waduk/bendungan.
Ilmu kebumian
Aplikasi pada bidang ini biasanya terkait dengan pemodelan, analisis dan
interpretasi morfologi terrain.
DTM digunakan untuk ekstraksi pola pengairan (drainage pattern),
pemodelan hidrologi (flow direction & flow accumulation), simulasi dan
klasifikasi geomorfologis (bentang lahan, kelerengan).

3 | Page
Aplikasi yang paling banyak diterapkan adalah pembuatan peta slope
(kemiringan lereng) dan aspek (arah kemiringan), profil relief terrain, dan
peta bayangan lereng (shaded-relief map).
Pertambangan
Bidang pertambangan non-migas menggunakan DTM untuk melakukan
perhitungan volume bahan tambang, misal batubara. DTM harus
diperbarui dalam rentang waktu yang singkat, untuk proses perencanaan
pekerjaan. DTM juga berperan pada saat proses pengangkutan bahan
tambang.
Selain yang tersebiut diatas, DTM pun dapat diaplikasikan dalam berbagai
bidang lainnya seperti pengelolaan dan perencanaan tata ruang wilayah
perkotaan, surveying dan fotogrametri, serta militer dll.

METODE AKUISISI DATA DTM


Terdapat beberapa metode atau cara dalam pengadaan data DTM, antara lain :

1. Kartografi
Kartografi merupakan suatu disiplin ilmu yang berhubungan dengan
visualisasi informasi geospasial, atau dalam pengertian populer dapat dikatakan
sebagai sebuah disiplin yang melibatkan ilmu, teknik, serta seni di dalam
pembuatan disain peta dan produksi peta. Berikut skema akuisi data kartografi :

4 | Page
Diagram Alir Kartografi

Digitasi peta dilakukan melalui beberapa proses:

1. data raster (gambar peta dasar) yaitu menambah data gambar ke dalam
Arcview, File > Add Data di toolbar menu, kemudian memilih gambar
yang akan di digitasi.
2. Meregistrasi data raster yaitu dilakukan setelah peta tampil, tujuannya
untuk memberikan skala yang benar pada citra dengan jalan memberikan
koordinat bumi kepada citra.
3. Membuat shapefile (file .shp) yaitu dengan mengidentifikasi terlebih
dahulu objek-objek yang akan didigitasi. Setelah objek teridentifikasi,
buatlah shapefile untuk masing-masing kategori objek.
4. Melakukan proses digitasi yaitu dilakukan setelah shapefile dibuat,
selanjutnya tambahkan shapefile-shapefile yang akan didigitasi,
mengunakan tombol add data.
5. Memasukkan data atribut. Data atribut memberikan gambaran atau
menjelaskan informasi berkaitan dengan fitur peta atau coverage SIG.

5 | Page
Data atribut dapat disimpan dalam format angka maupun karakter. Pada
Sistem Informasi Geografis di ArcView, data atribut dihubungkan dengan
data spasial melalui identifier atau sering disingkat ID yang terkait di
fitur.
6. Menghasilkan data vektor yang akan digunakan untuk overlay. Data vektor
merupakan bentuk bumi yang direpresentasikan ke dalam kumpulan garis,
area (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik
yang sama), titik dan nodes merupakan titik perpotongan antara dua buah
garis.

2. Field Survey
Ada 2 macam jenis field survey yaitu pengukuran terestris dengan
menggunakan TS dan GPS.

a. Survey terestris (dengan TS)


Survei terestris adalah kegiatan pengukuran yang bertujuan untuk
mendapatkan peta topografi dengan skala besar, semisal 1:1000. Pada
survei dengan metode terestris penentuan posisi titik-titik atau target
dilakukan dengan melakukan pengamatan (surveying) terhadap obyek
yang berada di permukaan bumi. Yang termasuk penggunaan survei
terestris adalah pengukuran menggunakan Total Station, Theodolite, EDM,
Waterpass, dsb. Tahap-tahap dalam proses pengumpulan data yaitu :

6 | Page
Diagram alir Akuisi data terestris

Ketelitian akurasi data dalam metode ini sangat baik karena dapat
menyentuh ketelitian dalam mm. Namun begitu metode ini jarang sekali
digunakan dalam pembuatan DTM dikarenakan beberapa hal seperti :
Wilayah cakupan yang relatif kecil yakni dibawah 20 km2
Efektifitas dalam waktu sangat kurang, dalam pengukuran terestris
membutuhkan waktu yang relatif lama untuk cakupan wilayah yang
tidak terlalu luas.
Beban biaya cukup besar, dalam praktiknya pengukuran terestris ini
akan memakan banyak biaya dari mulai sewa alat maupun biaya upah
pekerja.

7 | Page
Gambar 3 Alat Total Station

b. Pengukuran GPS
Pengukuran langsung di lapangan menggunakan GPS akan menghasilkan
data titik-titik ketinggian dengan koordinat lokasinya. Selanjutknya, data
tersebut diimport ke dalam software GIS dan dilakukan interpolasi data
untuk menentukan ketinggian titik-titik lain yang tidak terukur oada
wilayah yang dimaksud. Banyak metode interpolasi telah digunakan untuk
proses pembuatan DEM. Umumnya proses pembuatan DEM
membutuhkan : layer, kontur, datum dan jaringan sungai. Informasi lain
dapat ditambahkan untuk menghasilkan DEM yang lebih baik dan hal ini
tergantung pada software atau cara yang dipakai dalam proses pembuatan
DEM. Banyak paket software GIS atau ekstension yang telah
dikembangkan dan dapat dimanfaatkan untuk mmebuat dan mengolah
DEM. Beberapa modul yang terintegrasi dengan software GIS.

8 | Page
Gambar 4 Metode pengukuran gps

3. Fotogrametri
Fotogrametri adalah suatu metode pemetaan objek-objek dipermukaan
bumi yang menggunakan foto udara sebagi media, dimana dilakukan penafsiran
objek dan pengukuran geometri untuk selanjutnya dihasilkan peta garis, peta
digital maupun peta foto. Secara umum fotogrametri merupakan teknologi geo-
informasi dengan memanfaatkan data geo-spasial yang diperoleh melalui
pemotretan udara. Skema dalam pengumpulan data fotogametris yaitu :

Diagram alir perolehan data fotogrametri

9 | Page
Pada fotogrammetri, pengumpulan data dilakukan dengan pengambilan
foto dari udara (aerial photography). Proses ini dulu dilakukan secara manual
menggunakan kamera berfilm negative. Namun saat ini sudah mulai dilakukan
secara digital menggunakan kamera digital. Sebagai bahan dasar dalam
pembuatan geo-informasi secara fotogrametris yaitu foto udara yang saling
bertampalan (overlaped foto). Umumnya foto tersebut diperoleh melalui
pemotretan udara pada ketinggian tertentu menggunakan pesawat udara.
Namun prinsip dasar dari fotogrametri adalah penggunaan sepasang citra
bertampalan yang dapat menghasilkan model stereo (stereo pair). Model yang
dihasilkan adalah rekonstruksi dari unsur 3D dari permukaan tanah. Pada model
tersebut dilakukan pengukuran tinggi yang dapat digunakan untuk menghasilkan
DTM. Citra/foto stereo didefinisikan sebagai citra dengan rekaman dari sudut
pemotretan dan memiliki pertampalan (60% overlap, 30% sidelap).

Gambar 3 Hasil foto udara

DTM dari hasil fotogrametri mengandalkan serangkaian foto-foto yang


diambil di area target atau objek. Hal ini membutuhkan area yang akan diamati
dari dua sudut pandang yang berbeda sehingga pengukuran dapat dihitung.

Langkah-langkah dalam pengukuran fotogrametri :

Penentuan GCP
Pengukuran GPS untuk GCP yang telah dipilih

10 | P a g e
Pengambilan foto udara menggunakan wahana pesawat, drone
ataupun yang lainnya

Gambar 4 Proses pengukuran fotogrametri

4. SAR dan INSAR


SAR adalah singkatan dari Synthetic Aperture Radar, sebuah jenis radar
yang memiliki antenna buatan. InSAR adalah singkatan dari Interferometric
Synthetic Aperture Radar, sebuah teknik pencitraan radar apertur sintetik
menggunakan pesawat terbang atau satelit dimana tujuan akhir pengolahannya
adalah untuk mengekstraksi tinggi permukaan atau pergerseran dara dari citra
kompeks.

Gambar 5 Pengukuran SAR

Metode pemrosesan InSAR adalah sebagai berikut :

11 | P a g e
1. Set data SAR mentah yang berupa master dan slave
2. Pemrosesan SAR kemudian dihasilkan citra SLC master dan slave
3. Koregistrasi Citra
4. Pembentukan Interferogram
5. Penapisan Adaptif dan Pembentukan Koherensi
6. Refinement dan Reflattening
7. Phase Unwrapping
8. Konversi fasa tinggi serta Geocoding
Adapun diagram alir pengolahan data SAR hingga menjadi DEM adalah
sebagai berikut:

Diagram pembuatan data SAR menjadi DEM

Hasil data pengamatan InSAR :

Gambar 6 Hasil pengamatan INSAR

5. LIDAR
LIDAR (Light Detection and Ranging) adalah sebuah teknologi sensor
jarak jauh menggunakan properti cahaya yang tersebar untuk menemukan jarak

12 | P a g e
dan informasi suatu obyek dari target yang dituju. Metode untuk menentukan
jarak suatu obyek adalah dengan menggunakan pulsa laser. Seperti teknologi
radar, yang menggunakan gelombang radio, jarak menuju obyek ditentukan
dengan mengukur selang waktu antara transmisi pulsa dan deteksi sinyal yang
dipancarkan.
Sensor LIDAR berfungsi untuk memancarkan sinar laser ke objek dan
merekam kembali gelombang pantulannya setelah mengenai objek. Pada
umumnya gelombang yang dipancarkan oleh sensor terdiri atas dua bagian, yaitu
gelombang hijau dan gelombang infra merah. Gelombang hijau berfungsi sebagai
gelombang penetrasi jika suatu sinar laser mengenai daerah perairan. Sinar hijau
berfungsi untuk mengukur data kedalaman, sedangkan sinar infra merah berfungsi
untuk mengukur data topografi daratan atau permukaan bumi. Kekuatan sensor
LIDAR sangat erat kaitannya dengan:
Kekuatan sinar laser yang dihasilkan
Cakupan dari pancaran sinar gelombang laser
Jumlah sinar laser yang dihasilkan tiap detik

Gambar 9 Akuisi data LIDAR


Prinsip kerja LIDAR secara umum adalah sensor memancarkan sinar laser
pada target kemudian sinar tersebut dipantulkan kembali ke sensor. Berkas sinar
yang ditangkap kemudian dianalisis oleh peralatan detector. Perubahan komposisi
cahaya yang diterima dari sebuah target ditetapkan sebagai sebuah karakter objek.
Waktu perjalanan sinar saat dipancarkan dan diterima kembali diperlukan sebagai
variabel penentu perhitungan jarak dari benda ke sensor.

13 | P a g e
Gambar 10 Prinsip kerja LIDAR

Adapun diagram alir pembentukan data DTM dari LIDAR adalah sebagai
berikut.

Diagram alir LIDAR

6. Laser Ranging

14 | P a g e
Laser ranging adalah sebuah perangkat yang menggunakan sinar laser
untuk menentukan jarak ke objek. Bentuk yang paling umum dari pengintai laser
beroperasi pada waktu prinsip penerbangan dengan mengirimkan pulsa laser sinar
sempit menuju objek dan mengukur waktu yang dibutuhkan oleh pulsa yang akan
terpantul target dan dikembalikan ke pengirim.
Laser ranging terdiri dari dua macam yaitu satellite laser ranging dan lunar laser
ranging
Satellite laser ranging
Sistem ini berbasiskan pada pengukuran jarak dengan laser ke
satelit yang dilengkapi dengan retro-reflektor laser. Waktu yang diperlukan
gelombang pulsa laser diukur, sehingga dapat diukur jaraknya

Gambar 11 Cara kerja laser ranging

Lunar laser ranging


Lunar laser ranging merupakan teknik laser ranging yang
memungkinkan untuk menentukan jarak antara bumi dan bulan secara
teliti.
Pada prinsipnya, Lunar lasear ranging sama dengan Satellite laser ranging,
perbedaannya adalah obyek yang diamat, Lunar laser ranging yang diamat
adalah reflektor yang ditempatkan di bulan.
KOMENTAR

Ada banyak sekali metode akuisi data yang dapat digunakan untuk
memperoleh data DEM seperti metode terestris, kartografi, fotogametri, SAR dan

15 | P a g e
INSAR, LIDAR, dan Laser Ranging. Dalam setiap metode memiliki kelebihan
dan kekurangan masing-masing sehingga sarjana geodesi diharapkan dapat
memilih data yang sesuai dengan kebutuhan.

Pemilihan akuisi data tersebut harus disesuaikan dengan hasil yang


diinginkan dan spesifikasi yang diminta oleh klien beserta anggaran biayanya.
Misalkan untuk pengukuran DEM dengan cakupan wilayah 5 km dengan akurasi
data yang baik, maka dianjurkan dengan menggunakan metode terestris bisa
dengan total station maupun GPS.

16 | P a g e