Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN STUDI KASUS

PENATALAKSANAAN TERAPI DIIT PADA PASIEN MORBILI


DI RUANGAN CEMPAKA KAMAR 11
RUMAH SAKIT TENTARA TK. II Dr. SOEPRAON MALANG

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS


MANAJEMEN ASUHAN GIZI KLINIK

DISUSUN OLEH :

POLINA SURUPIA RENJAAN


(P00313013024)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI
JURUSAN GIZI
PRODI D IV
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Campak adalah suatu penyakit akut yang sangat menular yang disebabkan oleh virus.
Penyakit ini ditandai dengan gejala awal demam, batuk, pilek, dan konjungtivis yang
kemudian diikuti dengan bercak kemerahan pada kulit (rash). Campak biasanya
menyerang anak-anak dengan derajat ringan sampai sedang. penyakit ini dapat
meninggalkan gejala sisa kerusakan neurologis akibat peradangan otak (ensefalitis).
Penyakit campak pada waktu yang lampau dianggap penyakit anak biasa saja bahkan
dikatakan lebih baik anak mendapatkannya ketika masih anak-anak dari pada jika sudah
dewasa. Tetapi sekarang termasuk penyakit yang harus dicegah karena tidak jarang
menimbulkan kematian yang disebabkan komplikasinya. Morbili ialah penyakit virus
akut, menular, yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium katar, stadium erupsi dan
stadium konvalensi. Penyebab morbili adalah virus morbili yang terdapat dalam secret
nasofaring, darah dan urin selama masa prodromal sampai 24 jam setelah timbul bercak-
bercak. cara penularan dengan droplet dan kontak.
Biasanya penyakit ini timbul pada masa kanak-kanak dan kemudian menyebabkan
kekebalan seumur hidup. Ibu yang pernah menderita campak akan menurunkan
kekebalannya kepada janin yang dikandungnya kepada janin yang dikandungnya melalui
plasenta, dan kekebalan ini bisa bertahan sampai bayinya berusia 4-6 bulan. Pada usia (
bulan Bayi diharapkan membentuk antibodinya sendiri secara aktif setelah menerima
vaksinasi campak.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami dan melaksanakan Manajemen Asuhan Gizi
Klinik pada pasien Morbili di RST Dr. Soepraoen Malang yang meliputi pengkajian
gizi pasien, Diagnosa gizi, Intervensi gizi, Monitoring dan evaluasi gizi.
2. Tujuan Khusus
Peserta didik mampu :
a. Melaksanakan/mengetahui Manajemen Asuhan Gizi Klinik kepada pasien anak di
ruang rawat inap Rumah Sakit dengan penyakit tanpa komplikasi Morbili.
b. Mengetahui penkajian gizi kepada pasien anak di ruang rawat inap.
c. Mengetahui diagnosis gizi kepada pasien anak di ruang rawat inap.
d. Mengetahui intervensi gizi kepada pasien anak di ruan rawat inap.
e. Mengetahui monitoring dan evaluasi gizi kepada pasien anak di ruang rawat inap.

C. Manfaat
1. Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan perbaikan pelayanan gizi serta adanya pemantauan
intensif khususnya yang berhubungan dengan gizi pasien.
2. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh untuk
mendapatkan pengalaman kerja sebagai ahli gizi rumah sakit.

D. Kegiatan
1. Pengkajian data gizi
2. Diagnosis Gizi (Anamnese gizi)
3. Intervensi gizi
4. Monitoring dan evaluasi gizi

E. Waktu Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan praktek direncanakan akan berlangsung selama 3 hari pada
tanggal16 Mei 2017 s.d. 18 Mei 2017.

F. Lokasi
Lokasi praktek di Rumah Sakit Tentara Tk. II Dr. Soepraon Malang, Ruangan Cempaka.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Pengertian campak (Morbili) Morbili adalah penyakit virus akut, menular, yang
ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium katar, stadium erupsi, dan stadium konvalensi
(ngastiyah, 2005). Campak adalah suatu penyakit akut yang sangat menular disebabkan
oleh virus (Widoyono, 2008).
B. ETIOLOGI
Virus campak merupakan virus RNA family paramyxoviridae dengan genius Morbili
virus. sampai saat ini hanya diketahui 1 tipe antigenetik yang mirip dengan virus
parainfluenza dan Mumps. Virus bisa ditemukan pada sekret nasofaring, darah dan urin
paling tidak selama masa prodromal hingga beberapa saat setelah ruam muncul.
Virus campak adalah organisme yang tidak memiliki daya tahan tinggi apabila berada
di luar tubuh manusia. pada temperatur kamar selama 3-5 hari virus kehilangan 60 %
sifat infektifitasnya. Virus tetap aktif minimal 34 jam pada temperature kamar, 15
minggu di dalam pengawetan beku, minimal 4 minggu dalam temperatur 35C, beberapa
hari pada suhu 0C, dan tidak aktif pada pH rendah (Soengeng Soegijanto, 2002).
C. PATOFISIOLOGI
Lesi esensial campak terdapat dikulit, membrane mukosa nasofaring, bronkus, saluran
cerna dan pada konjungtiva. Eksudat serosa dan proliferasi sel polimorfonuklear dan
beberapa sel polimorfonuklear terjadi sekitar kapiler. Biasanya ada hyperplasia jaringan
limpoid, terutama pada apendiks, dimana sel raksasa multinukleus berdiameter sampai
100m (sel raksasa retikuloendotelial Warthin-Finkeldey) dapat ditemukan. Di kulit,
reaksi terutama menonjol sekitar kelenjar sebasea dan olikel rambut. Bercak koplik
terdiri dari eksudat serosa dan proliferasi sel endotel serupa dengan bercak pada lesi
kulit. Reaksi radang menyeluruh pada mukosa bukal dan faring meluas ke dalam
jaringan limfoid dan membrane mukosa trakeobronkial.
Pneumonitis interstisial akibat dari virus campak mengambil bentuk pneumonia sel
raksasa Hecht. Bronkopneumonia dapat disebabkan oleh infeksi bakteri sekunder. Pada
kasus ensfalomielitis yang mematikan, terjadi demielinasi perivaskuler pada daerah otak
dan medulla spinalis. Pada Panensefalitis sklerotikans subakut Dawson (subacute
sclerosing panencephlitis SSPE), dapat ada degenerasi korteks dan subtansi putih (alba)
dengan benda-benda inklusi intranuklear dan intrasitoplasmik (Behrman, Kliegman &
Arvin, 2000).
D. TANDA DAN GEJALA
Orang rentan yang terpapar virus campak, akan mengalami gejala campak setelah
tujuh sampai 14 hari kemudian. Tanda dan gejala yang menjadi ciri-ciri campak
meliputi:
a. Demam
b. Batuk Kering
c. Hidung Ingusan (pilek)
d. Sakit Tenggorokan
e. Mata merah meradang (Konjungtivitas)
f. Peka terhadap cahaya
g. Diare
h. Kopliks spot (Bintik-bintik kecil berwarna putih dengan warna putih kebiruan di
tengahnya, di temukan pada lapisan dalam pipi).
i. Ruam kulit berwarna merah kecil-kecil rapat dan merata, hampir seluruh tubuh.
E. KOMPLIKASI
Pada penyakit morbili terdapat resistensi umum yang menurun sehingga dapat terjadi
anergi (uji tuberculin yang semula positif berubah menjadi negative). keadaan ini
memudahkan terjadinya komplikasi sekunder seperti otitis media akut, ensefalitis,
bronkopneumonia.
Bronkopneumonia dapat disebabkan oleh virus morbili atau oleh pneumococcus,
streptococcus, staphylococcus. Bronkopneumonia ini dapat menyebabkan kematian bayi
yang masih muda, anak dengan malnutrisi energy protein (KKP), pasien yang
berpenyakit menahun (misalnya tuberculosis), leukemia dan lainnya. Oleh karena itu
pada keadaan tertentu perlu dilakukan pencegahan. Komplikasi neurologis pada morbili
dapat berupa hemiplegia, paraplegia, afasia, gangguan mental, neuritis optika dan
ensefalitis. Ensefalitis morbili dapat terjadi sebagai komplikasi pada anak yang sedang
menderita morbili atau dalam 1 bulan setelah mendapatkan imunisasi dengan vaksin
virus morbili hidup (ensefalitis morbili akut), pada pasien yang sedang mendapatkan
pengobatan imunosupresif (immunosupresive measles encephalopathy) dan sebagai
subacute sclerosing panencephalitis (SSPE).
SSPE adalah suatu penyakit degenerasi yang jarang dari susunan saraf pusat. Penyakit
ini progresif dan fatal serta ditemukan pada anak dan orang dewasa. Ditandai oleh gejala
yang terjadi secara tiba-tiba seperti kekacauan mental, disfungsi motorik, kejang dan
koma. Perjalanan klinis lambat sebagian berat pasien meninggal dunia dalam 6 bulan
sampai 3 tahun setelah terjadi gejala pertama.
Penyebab SSPE tidak jelas tetapi ada bukti-bukti bahwa virus morbili memegang
peranan dalam patogenesisnya. Biasanya anak menderita morbili sebelum umur 2 tahun
sedangkan SSPE dapat timbul sampai 7 tahun setelah morbili.
F. PENCEGAHAN
Imunisasi campak yang diberikan pada bayi berusia 9 bulan merupakan pencegahan
yang paling efektif. Vaksin campak berasal dari virus hidup yang dilemahkan. Pemberian
vaksin dengan cara intrakutan atau intramuskylar dengan dosis 0,5 cc. Vaksin tersebut
sensitive terhadap cahaya dan panas, juga harus disimpan pada suhu 4C, sehingga harus
digunakan secepatnya bila telah dikeluarkan dari lemari pendingin.
Pemberian imunisasi campak satu kali akan memberikan kekebalan selama 14 tahun,
sedangkan untuk mengendalikan penyakit diperlukan cakupan imunisasi paling sedikit
80 % per wilayah secara merata selama bertahun-tahun. Keberhasilan program imunisasi
dapat diukur dari menurunnya jumlah kasus campak dari waktu ke waktu. Kegagalan
imunisasi dapat disebabkan oleh :
1. Terdapatnya kekebalan yang dibawa sejak lahir yang berasal dari antibodi ibu.
Antibodi itu akan menetralisasi vaksin yang diberikan.
2. terjadi kerusakan vaksin akibat penyimpanan, pengangkutan, atau penggunaan diluar
pedoman.
Indikasi kontra pemberian imunisasi campak berlaku bagi mereka yang sedang
menderita demam tinggi, sedang mendapat terapi imunosupresi, hasil, memiliki riwayat
alergi, sedang memperoleh pengobatan imunologlobulin atau bahan-bahan berasal dari
darah (Soegeng Soegijanto, 2001).
G. PENATALAKASANAAN DIET
Penyakit morbili merupakan penyakit yang mudah sekali menular. Selain itu, sering
menyebabkan kematian jika mengenai anak yang keadaan gizinya buruk sehingga mudah
sekali mendapat komplikasi terutama bronkopneumonia. Pasien morbili dengan
bronkopneumonia perlu dirawat di rumah sakit karena memerlukan pengobatan yang
memadai (kadang perlu diinfus dan pemberian oksigen). Masalah yang perlu
diperhatikan ialah kebutuhan nutrisi, gangguan suhu tubuh, gangguan rasa aman dan
nyaman, resiko terjadi komplikasi, dan kurangnya pengetahuan orang tua mengenai
penyakit.
a. Kebutuhan Nutrisi
Penyakit morbili menyebabkan anak menderita malaise dan anoreksia. Anak sering
mengeluh mulutnya pahit sehingga tidak mau makan/ng tinggi menyebabkan
pengeluaran cairan yang lebih banyak. Keadaan ini jika tidak diperhatikan/tidak
diusahakan agar anak mau makan atau minum akan menambah kelemahan tubuhnya
dan memudahkan timbulnya komplikasi. Usahakan agar anak lebih banyak minum,
makan makanan lunak dan berikan susu lebih banyak.
b. Gangguan suhu tubuh
Morbili selalu didahului demam tinggi bahkan dapat terjadi hiperpireksia yang
walaupun telah diberi obat penurun panas/antibiotic tidak juga turun sebelum
campaknya keluar. Untuk menurunkan suhu tubuh biasanya diberikan antipiretikum
dan jika tingggi sekali juga diberikan sedative untuk mencegah terjadinya kejang.
BAB III
DATA- DATA PASIEN
A. Identitas pasien
Nama : An. R No RM : 289126
Umur : 5 tahun Ruang : Cempaka
Sex : Perempuan Tgl masuk : 16/05/2017
Pekerjaan :- Tgl kasus : 16/05/2017
Pendidikan : SD Alamat : Jl. Terong Kec.
Kedungkandang Kab. Kota Malang
Agama : Islam Diagnosa medis: Morbili

B. Data data subyektif


Keluhan utama Px Mengatakan Panas 5 hari, batuk, pilek, dan mual bila
terkait penyakit makan muntah.
dengan gizi
Riwayat penyakit -
dahulu terkait gizi
Kondisi penyakit Demam, batuk, pilek dan muntah.
sekarang terkait gizi
Riwayat penyakit -
keluarga
Riwayat gizi Makan utama 2-3x sehari.
sebelum masuk Nasi : 3x sehari @ 2 centong
rumah sakit (dahulu) Ikan Goreng : 1-2x sehari @ 1 ptg
Tahu dan tempe : 3x sehari @ 2 ptg
Telur : 1-2 sehari @ 1 butir
Sayuran : 3x sehari @ 1 mangkok
Snack:
Susu : 3x/minggu
Marie Susu : 1 bks/hari
Riwayat gizi Diet sebbelum intervensi
sekarang Alergi tidak ada
Riwayat Parenteral/infus Ns sebanyak 5 botol setiap 500 ml infuse Ns
penggunaan obat mengandung : Natrium 154 mEq/I, Klorida 154 mEq/I, dan
Osmolaritas 308 mOsm/I
Injeksi : Cefo, Ranitidine, Ondan
Kondisi sosial Penghasilan : Rp. 2.000.000
ekonomi Jumlah anggota keluarga : 6 orang
Suku : Jawa

C. Data data obyektif


1. Data riwayat makan hasil recall 24 jam + asupan Cairan
Energi Protein ( g) Lemak (g) KH (g)
(kcal)
Asupan per oral 880.5 34.7 25.7 134.5
Kebutuhan 1620 81 45 222
% asupan 54% 43% 57% 61%
Kesimpulan :
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada awal kasus, diketahui
bahwa asupan pasien dipenuhi dengan pemberian melalui oral. Seluruh asupan
makan pasien termsuk defisit.
2. Data antropometri
TB = 105 cm
BB = 15 kg
Umur = 5 tahun
BBI = 2.n + 8
=2.5+8
= 18 kg

Status Gizi = 100

15
= 18 100

= 83,5 (Gizi Kurang)


Kesimpulan :
Berdasarkan hasil pengukuran antropometri diperoleh data BB 15 kg dan TB
105 cm. Status gizi pasien berdasarkan indeks RDA termasuk dalam kategori
status gizi kurang.
3. Data pemeriksaan biokimia
Pemeriksaan Nilai normal/ Awal kasus Keterangan
satuan
Hemoglobin 12,0-15,3 g/dl 13,6 Normal
Leukosit 4-10 ribu/cmm 5.420 Normal
Trombosit 150-450 ribu 256.000 Normal
PCV 40-50 % 40.0 Normal
Sumber : buku rekam medik pasien.
4. Data pemeriksaan fisik dan klinis
1. Pemeriksaan fisik : Cukup baik, CM
2. Pemeriksaan klinis :
Pemeriksaan Kasus Nilai normal Keterangan
Tekanan darah - - -
Respirasi 24 30 40 x/mnt Rendah
Nadi 120 120 130 x/mnt Normal
Suhu 38,4 36 - 37 C Tinggi

Kesimpulan :
Berdasarkan hasil pemeriksaan Klinis pasien yaitu keadaan umum pasien
cukup. Pemeriksaan klinis menunjukkan respirasi 24 x/menit (rendah), nadi
120 x/menit (Normal), dan suhu 38,4C (Tinggi).
BAB IV
PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI ASUPAN GIZI
A. Rencana Asuhan Gizi
Identifikasi masalah :
- Diagnosa medis : Morbili
- Status gizi : Gizi Kurang
- Biokimia : Normal
- Fisik : Demam
- Klinis : Respirasi rendah
- Asupan makan : rendahnya asupan energi, protein, lemak dan karbohidrat.
Diagnosis Gizi :
P E S
NI.2.1 kekurangan intake Disebabkan oleh kurangnya Ditandai Hasil recall 24
makaan dan minuman asupan makan karena bila jam yaitu =54%, P=43%,
oral makan muntah L=57% dan KH=61%.
NI.5.1 peningkatan Disebabkan karena adanya Ditandai dengan muntah
kebutuhan zat gizi penyakit pasien (Morbili)
NC.3.1 Berat badan Disebabkan kurangnya Ditandai dengan status gizi
kurang asupan makan kurang 83,3.

B. Rencana intervensi
a. Rencana intervensi
- Intervensi diet
1) Terapi diet
Jenis diet : Diet Tinggi Energi dan Tinggi Protein (TKTP)
Prinsip Diet : TKTP, vitamin mineral cukup dan mudah dicerna.
Bentuk makanan : TIM
Cara pemberian : Oral
2) Tujuan diet
- Menambah berat badan hingga mencapai berat badan normal
- Memperbaiki kebutuhan energy dan protein yang meningkat untuk
mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh.
- Memperbaiki pola makan.
3) Syarat diet
a. Energi Tinggi yaitu 1620 Kkal/hari.
b. Protein Tinggi 20% dari kebutuhan energi total yaitu 81 gr/hari.
c. Lemak cukup 25% dari kebutuhan energi total yaitu 45 gr/hari.
d. Karbohidrat cukup 55% sisa dari kebutuhan energi total yaitu 222 gr/hari.
e. Vitamin dan mineral cukup sesuai kebutuhan normal.
f. Makanan diberikan dalam bentuk mudah dicerna.
g. Serat cukup.
4) Perhitungan kebutuhan gizi
BBI = 2.n + 8
= 2.5 + 8
= 18 kg

Status Gizi : 100

15
: 18 100

: 83.3 (gizi Kurang)


Kebutuhan Gizi Pada Anak
RDA = 90 x 18
= 1620 kkal/hari
20% x 1620 kal
Protein = = 81 gr/hari
4
25 % x 1620 kal
Lemak = = 45 gr/hari
9
55 % x 1620 kal
KH : = 222 gr/hari
4

- Intervensi konseling/edukasi gizi


Sasaran : Keluarga
Tempat : Ruang rawat inap pasien
Media : Leaflet TKTP
Waktu : Sebelum pasien pulang (akhir kasus)
Tujuan :
1) Memberikan informasi mengenai syarat dan prinsip diet TKTP sesuai
kebutuhan pasien.
2) Memberikan informasi mengenai bahan makanan yang di anjurkan dan yang
tidak di anjurkan untuk di konsumsi.
3) Mencapai perubahan perilaku sehat dalam pemilihan makanan sesuai diet yang
di anjurkan
Konseling Gizi :
1) Menginformasikan status gizi dan asupan zat gizi pasien (E,P,L,KH).
2) Menjelaskan tujuan dan dan prinsip diet TKTP
3) Menyampaikan informasi mengenai makanan yang di anjurkan dan yang tidak
di anjurkan untuk di konsumsi serta cara pengolahan yang tepat
4) Memotifasi keluarga pasien untuk meningkatkan asupan makanan.
b. Implementasi Asuhan Gizi
- Intervensi diet
1) Kajian terapi diet Rumah sakit
Jenis diet/ bentuk makanan/ cara pemberian : Diet TKTP/ TIM/ oral.
Energi (kcal) Protein (g) Lemak (g) KH (g)

Hari ke1 1503.0 73,7 49,6 236,2


Kebutuhan 1620 81 45 222
% Asupan 92 % 90 % 110 % 106 %
Hari ke 2 1519.0 79,2 46,3 240.2
Kebutuhan 1620 81 45 222
% Asuhan 93 % 97 % 102 % 108 %
Hari ke 3 1468.1 77.4 40.7 243.4
Kebutuhan 1620 81 45 222
% Asupan 90 % 95 % 90 % 109 %

Kategori pemenuhan asupan berdasarkan kategori kecukupan gizi (Depkes 1999) :


1. < 60 % = Defisit 4. 80-120% = Baik
2. 60-69% = Kurang 5. > 120% = Lebih.
3. 70-79% = Sedang
- Intervensi konseling/edukasi gizi
1) Menginformasikan perubahan status gizi pasien dan kecukupan asupan zat gizi
pasien (E,P,L,KH).
2) Informasi mengenai tujuan dan dan prinsip diet TKTP sudah dipahami
3) Informasi mengenai makanan yang di anjurkan dan yang tidak di anjurkan
untuk di konsumsi serta cara pengolahan yang tepat sudah dipahami
4) Motifasi kepada keluarga pasien untuk meningkatkan asupan makanan belum
terlaksana karena pasien masih kekurangan nafsu makan dan terasa mual.
BAB V
HASIL MONITORING DAN EVALUASI
A. ANTROPOMETRI
Tanggal BB Status Gizi
16/05/2017 15 Kurang
18/05/2017 15 Kurang

B. BIOKIMIA
Pemeriksaan Nilai normal/ 16/5/2017 17/5/2017 18/5/2017 Ket.
satuan
Hemoglobin 12,0-15,3 g/dl 13,6 13,6 13,6 Normal
Leukosit 4-10 ribu/cmm 5.420 5.420 5.420 Normal
Trombosit 150-450 ribu 256.000 256.000 256.000 Normal
PCV 40-50 % 40.0 40.0 40.0 Normal

C. FISIK KLINIS
Pemeriksaan 16/05/2017 17/05/2017 18/05/2017 19/05/2017
Pemeriksaan fisik Lemah, Demam, Baik Baik
Muntah Muntah
Klinik
1. Nadi 80x/menit 80x/menit 89x/menit 85x/menit
2. Suhu 37C 36C 36C 36C
3. RR 24x/menit 20x/menit 22x/menit 20x/menit
3. Tekanan darah - - - -

D. TINGKAT ASUPAN MAKAN


Tanggal Energi (kcal) Protein (g) Lemak (g) KH (g)
17-05-2017 1137.8 52.0 37.8 181.2
18-05-2017 1210.7 61.8 46.0 182.4
19-05-2017 722.7 38.4 22.3 110.8
Total asupan 3071.2 152.2 106.1 474.4
Rata-rata 1023,7 50.7 35.3 158.1
Kebutuhan 1620 81 45 222
% Asupan 3 hr 63 % 62 % 78 % 71 %
Kategori Deficit Deficit Deficit Deficit
1. Tingkat Konsumsi Energi

Asupan Energi
2000

Energi (kkal)
1000
0
16-May-17 17-May-17 18-May-17 19-May-17
16-May-17 17-May-17 18-May-17 19-May-17
Kebutuhan 1620 1620 1620 1620
Asupan 880.5 1137.8 1210.7 722.7

Gambar 1. Asupan Energi


2. Tingkat Konsumsi Protein

Asupan Protein
100
Protein (gram)

50
0
16-May-17 17-May-17 18-May-17 19-May-17
16-May-17 17-May-17 18-May-17 19-May-17
kebutuhan 81 81 81 81
Asupan 34.7 52 61.8 38.4

Gambar 2. Asupan Protein


3. Tingkat Konsumsi Lemak

Asupan Lemak
50
Lemak (gram)

0
16-May-17 17-May-17 18-May-17 19-May-17
16-May-17 17-May-17 18-May-17 19-May-17
Kebutuhan 45 45 45 45
Asupan 25.7 37.8 46 22.3

Gambar 3. Asupan Lemak


4. Tingkat Konsumsi Karbohidrat

Asupan Karbohidrat
400

KH (gram)
200
0
16-May-17 17-May-17 18-May-17 19-May-17
16-May-17 17-May-17 18-May-17 19-May-17
kebutuhan 222 222 222 222
Asupan 134.5 181.2 182.4 110.8

Gambar 4. Asupan Karbohidrat


E. EDUKASI
Edukasi dilakukan kepada pasien dan keluarga pasien dengan metode diskusi dan
tanya jawab. Media yang digunakan adalah leaflet. Sasaran dalam edukasi yaitu pasien
dan keluarga pasien. Edukasi dilakukan di ruang Cempaka RS TK II dr. Soepraoen
tentang tinggi kalori tinggi protein (TKTP) penambahan cairan karena demam, terkait
penyakit Morbili dan penatalaksanaan muntah. Motivasi dilakukan kepada pasien agar
pasien dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi dibantu dengan pantauan keluarga
pasien. Terdapat masalah asupan makan pasien untuk mengkonsumsi makanan dari RS.
Hal ini dikarenakan pasien kurang mengetahui tentang pentingnya gizi untuk mencukupi
kebutuhan pasien dan status gizi pasien. Monitoring dan evaluasi antropometri tidak
berubah dari awal pasien masuk rumah sakit.
BAB VI
PEMBAHASAN
A. Assesment
An. R adalah seorang anak perempuan yang tinggal di jalan Terong kelurahan
Bumiayu kecamatan Kuedungkandang bersama kedua orang tua dan saudaranya. An R
saat ini berumur 5 tahun, dan beragama islam. Pada tanggal 16 Mei 2017, An R masuk
rumah sakit dengan keluhan demam dan muntah bila makan kemudian setelah masuk
masih demam dan terasa muntah.
Riwayat pola makan An R lebih karena An R sering mengkonsumsi susu kotak dan
biscuit marie susu. Jumlah anggota keluarga pasien adalah 6 orang, suku Jawa dengan
jumlah jam tidur lebih dari 8 jam/hari.
B. Intervensi Gizi
Intervensi gizi dilakukan selama 3 hari mulai dari 17 Mei 2017 sampai 19 Mei 2017.
Jenis diit yang diberikan adalah diit TKTP, bentuk makanan lunak atau tim dengan cara
pemberian oral. AN. R mengkonsumsi makanan tersebut tetapi tidak habis karena
apabila makan An. R muntah.
Tujuan memberikan diit tersebut adalah Memenuhi kebutuhan energi dan protein
yang meningkat untuk mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh,
meningkatkan berat badan hingga mencapai berat badan normal.
Syarat dan prinsip diet adalah energi dengan kebutuhan sesuai perhitungan energi
(1620 Kkal), protein (81 gr), lemak (45 gr) dan karbohidrat sisa dari energi total
dikurangi dengan protein dan lemak (222 gr). Serta memberikan konseling gizi kepada
keluarga pasien tentang diit yang sedang dijalankan oleh pasien, dengan cara :
- Menginformasikan status gizi dan asupan zat gizi pasien (E, P, L, KH).
- Menjelaskan tujuan dan dan prinsip diet TKTP
- Menyampaikan informasi mengenai makanan yang di anjurkan dan yang tidak di
anjurkan untuk di konsumsi serta cara pengolahan yang tepat
- Memperbaiki kebiasaan pola makan pasien.
- Memotifasi keluarga pasien untuk meningkatkan asupan makanan.
C. Monitoring dan Evaluasi
1. Antropometri
Berdasarkan hasil pengukuran antropometri status gizi pasien pada saat awal
kasus berdasarkan BBA/BBI adalah gizi kurang, dan pada hari terakhir studi kasus
juga dilakukan pengukuran kembali dan hasilnya masih gizi kurang.
Monitoring dan evaluasi data antropometri bertujuan untuk menilai dan
memantau status gizi pasien. Berdasarkan hasil pengukuran antropometri status gizi
pasien pada saat awal kasus dan akhir kasus berat badan masih sama dan status gizi
masih sama kategori gizi kurang.
2. Biokimia
Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada tanggal 16 Mei 2017 menunjukkan
Normal. Karena adanya rasa muntah dan menurunnya nafsu makan kemudian
diberikan motivasi untuk meningkatkan asupan makan sehingga pasien mulai makan.
3. Fisik Klinis
Berdasarkan pemeriksaan fisik, keadaan pasien awal kasus lemah, demam dan
muntah. namun di akhir kasus keadaan pasien semakin membaik. Pemeriksaan klinis
pada awal kasus 16/05/2017 pemeriksaan respirasi naik, suhu dan nadi normal. Lalu
pada 17/05/2017 suhu, respirasi dan nadi normal. Kemudian pada 18/05/201 respirasi
naik, suhu dan nadi normal. Pada pemeriksaan 19/05/2017 respirasinya menurun dan
keadaan pasien membaik.
4. Asupan
a. Asupan satu hari sebelum kasus
Asupan makan 1 hari sebelum kasus berdasarkan recall 24 jam yaitu semua
asupan tergolong deficit karena adanya rasa mual dan muntah bila makan.
b. Asupan rata-rata di RS
Pemantauan makan terhadap konsumsi makanan pasien dilakukan dengan
tujuan untuk menilai asupan zat gizi yang dikonsumsi pasien dan seberapa besar
daya terima pasien terhadap diet yang di berikan. Pemantauan asupan makan
dilakukan selama 3 hari yang kemudian dilakukan evaluasi terhadap asupan
makannya. Evaluasi tersebut dilakukan untuk mengetahui persentase jumlah
asupan makan pasien yang kemudian dibandingkan dengan kebutuhan zat gizi
sesuai hasil perhitungan. Didapatkan hasil asupan rata-rata energi sebesar 63%,
protein 62%, lemak 78% dan karbohidrat 71%. Berdasarkan hasil pemantauan 3
hari terhadap konsumsi makan pasien, rata-rata asupan zat gizi pasien energi,
protein, lemak dan karbohidrat deficit.
c. Tingkat Konsumsi Makanan
Intake Energi
Pasien diberikan diet Tim TKTP pada saat pertama MRS sampai KRS,
hasil asupan energi pasien dari tanggal 17-19 Mei 2017 dapat dilihat pada
Gambar 1. menunjukkan bahwa asupan energi pasien mengalami perubahan
selama intervensi berlangsung. Sebelum dilakukan intervensi asupan energy
termasuk dalam kategori defisit dari kebutuhan, yaitu 54%. Pada hari pertama
intervensi asupan energi termasuk deficit 70%, pada hari ke dua intervensi
asupan energy termasuk deficit 74%, dan pada hari ke tiga intervensi asupan
energy termasuk deficit 44%. terjadi peningkatan kebutuhan energy tetapi
asupan makan pasien masuk kategori deficit disebabkan keadaan pasien
terasa demam dan muntah, sehingga diberikan makan sedikit demi sedikit
agar asupannya terpenuhi. Pada terakhir, keadaan pasien membaik dan asupan
makan pasien membaik.
Intake protein
Asupan protein pasien selama hasil recall 24 jam dan monitoring
dalam 4 hari disajikan pada Gambar 2. Dari hasil pengamatan asupan makan
pasien selama 4 hari, sebelum intervensi diketahui bahwa asupan protein
termasuk dalam kategori defisit tingkat ringan, yaitu 42%. Setelah intervensi,
pada hari ke kedua termasuk dalam kategori defisit yaitu 64%. Pada hari
ketiga asupan protein defisit menjadi 76%. Kemudian pada hari keempat
asupan protein menurun yaitu 47% dalam kategori defisit dan kondisi pasien
sudah membaik.
Intake Lemak
Asupan lemak pasien selama 4 hari dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3 menunjukkan bahwa asupan lemak pasien sebelum diintervensi
tergolong defisit, yaitu 57%. Setelah intervensi, pada hari kedua tergolong
deficit tingkat ringan, yaitu 84%. Pada hari ketiga asupan lemak cukup, yaitu
97% namun termasuk kategori baik. Pada hari keempat, asupan lemak
menurun menjadi 49% dalam kategori deficit.
Intake Karbohidrat
Asupan karbohidrat pasien selama 4 hari dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4 menunjukkan bahwa asupan karbohirat pasien sebelum di
intervensi pada hari pertama termasuk dalam kategori defisit, yaitu 60%.
Setelah diintervensi, pada hari kedua asupan karbohidrat termasuk kategori
deficit tingkat ringan sebesar 81%. Pada hari ketiga, asupan karbohidrat
kategori deficit tingkat ringan, yaitu 82%. Pada hari keempat asupan
karbohidrat menurun menjadi 49% termasuk kategori defisit.
5. Edukasi
Edukasi penting dilakukan dengan tujuan untuk merubah perilaku dengan
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan perawatan
mandiri setelah keluar dari rumah sakit (Gultom, 2012). Pada intervensi edukasi yang
telah diberikan mengenai diet TKTP, dapat menerima dengan baik materi yang
diberikan dibuktikan dengan intake makanan pasien yang mulai meningkat dan
adanya komitmen pada pasien untuk mengubah pola makan. Hasil monitoring dan
evaluasi yang singkat belum bisa mencerminkan perubahan lebih lanjut yang terjadi
pada pasien, sehingga perlu adanya monitoring dan evaluasi lanjutan untuk
mengetahui keberhasilan dalam melakukan diet maupun perubahan pola makan
pasien.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. An. R masuk rumah sakit dengan keluhan demam. Menurut rekam medik An. R di
diagnosa Morbili. Berdasarkan hasil pengukuran antropometri diperoleh data
pengukuran BB 15 kg. Status gizi berdasarkan RDA termasuk dalam kategori
status gizi kurang.
2. Diagnosa Gizi
NI. -2.1 Kekurangan intake makaan dan minuman oral
NI. -5.1 Peningkatan kebutuhan zat gizi
NC. -3.1 Berat badan kurang
3. Berdasarkan diagnosa yang telah ditentukan terapi diet yang anjurkan yaitu :
Jenis diet : TETP (Tinggi Energi Tinggi Protein)
Bentuk makanan : Lunak atau tim
Cara pemberian : Oral
4. Intervensi yang diberikan adalah membuat perencanaan makan pasien selama di
rumah sakit yaitu diet TKTP.
5. Dari hasil monitoring dan evaluasi :
Status gizi pasien pada saat awal kasus dan akhir kasus yaitu status gizi
kurang.
Perkembangan fisik/klinis dilihat dari kesadaran dan respirasi terjadi
perubahan naik turun. Suhu dan nadi baik.
Hasil pemeriksaan biokimia, Normal.
Dari hasil pemantauan 4 hari terhadap konsumsi makan pasien adalah asupan
energi, protein, lemak, KH deficit.
B. Saran
1. Pendekatan pasien dan keluarga pasien penting untuk mengkaji permasalahan dan
membantu pemecahan masalah yang dihadapi pasien terutama saat pasien kembali
ke rumah. Hal ini penting selain untuk mengoptimalkan terapi gizi saat pasien
berada di rumah.
2. Perlu dilakukannya konseling yang lebih mendalam mengenai diet yang dijalani
pasien serta diikuti perubahan gaya hidup, dan pola makan yang sehat untuk
menunjang penyembuhan dan pemeliharaan kondisi pasien pada saat di rumah.
3. Kolaborasi dengan tenaga medis lain seperti dokter, perawat dan ahli gizi ruangan
lebih diintensifkan dalam merencanakan asuhan gizi yang tujuan akhirnya mampu
menunjang pelayanan medis pada pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI (1996). Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, Depkes ;


Jakarta.
LAMPIRAN

1. Susunan Menu Hari 1 selama Intervensi (tanggal 15 Mei 2017)


Waktu Menu Bahan Energi Protein Lemak KH
Gr
makan makanan makanan (Kkal) (gr) (gr) (gr)
Nasi tim Beras putih 75 87.8 1.7 0.2 19.3
Ikan segar 60 86.3 14.0 2.9 0.0
Ikan goreng
Tepung terigu 10 36.4 1.0 0.1 7.6
tepung
Pagi Minyak kelapa 5 43.1 0.0 5.0 0.0
Kering
Tempe 50 23.8 9.5 3.8 8.5
tempe
Garangasem
Buncis 60 20.9 1.1 0.2 4.7
buncis
Kacang ijo 20 23.2 1.5 0.1 4.2
Kacang ijo
Gula pasir 15 58.0 0.0 0.0 15.0
Snack manis
Santan 10 7.1 7.1 0.7 0.3
Roti Manis Roti manis 60 88.2 2.0 0.8 19.2
Nasi tim Beras putih 100 117.1 2.2 0.2 25.7
Soun 10 38.1 0.0 0.0 9.1
Soto ayam Kentang 30 27.9 0.6 0.05 6.5
Siang Daging ayam 60 170.9 16.1 11.3 0.0
Perkedel Kentang 30 27.9 0.6 0.05 6.5
kentang Tepung terigu 10 36.4 1.0 0.1 7.6
Buah Semangka 75 24.0 0.5 0.3 5.4
Nasi tim Beras putih 100 117.1 2.2 0.2 25.7
Ikan segar 60 86.3 14.0 2.9 0.0
Koloke ikan
Minyak kelapa 5 43.1 0.0 5.0 0.0
Sore Bihun Bihun 35 133.3 0.1 0.0 32.0
Wortel 20 1.7 0.2 0.1 1.6
Cap cay Sawi putih 20 3.0 0.5 0.0 0.4
Buncis 20 7.0 0.4 0.1 1.6
Buah Pisang ambon 75 69.0 0.8 0.4 17.5
Jumlah 1519.1 79.2 46.3 240.2
Kebutuhan 1620 81 45 222
% kebutuhan 92 % 90 % 110 % 106 %
2. Susunan Menu Hari 2 selama Intervensi (tanggal 16 Mei 2017)
Waktu Menu Bahan Energi Protein Lemak KH
Gr
makan makanan makanan (Kkal) (gr) (gr) (gr)
Nasi tim Beras putih 100 117.1 2.2 0.2 25.7
Telor
Telur ayam 40 18.9 5.2 6.1 0.3
bumbu bali
Pagi
Galatine
Tahu 50 38.0 4.1 2.4 0.9
tahu
Wortel 30 2.6 0.3 0.2 2.4
Orak arik
Sawi putih 30 4.5 0.7 0.1 0.6
Kacang ijo 40 46.4 3.1 0.2 8.3
Kacang ijo
Gula pasir 10 38.7 0.0 0.0 10.0
Snack manis
Santan 10 7.1 0.1 0.7 0.3
Roti Manis Roti manis 75 300.1 3.9 16.3 34.7
Nasi tim Beras putih 150 175.7 3.3 0.3 38.6
Ikan BB
Ikan segar 100 98.0 18.1 2.4 0.0
mangut
Siang Tahu BB
Tahu 50 38.0 4.1 2.4 0.9
bacem
Kac. panjang 30 10.5 0.6 0.1 2.4
Sayur lodeh
Labu siam 30 6.0 0.3 0.1 1.3
Buah Melon 200 76.5 1.2 0.1 16.6
Nasi tim Beras putih 100 117.1 2.2 0.2 25.7
Fuyunghai Talur ayam 40 18.9 5.2 6.1 0.3
isi sosis + Sosis 5 5.4 0.7 2.1 0.1
buncis + Buncis 20 7.0 0.4 0.1 1.6
wortel wortel 20 1.7 0.2 0.1 1.6
Sore Perkedel
Tempe 80 159.3 15.2 6.1 13.6
tempe
Mentimun 30 3.9 0.2 0.0 0.8
Acar
Wortel 30 2.6 0.3 0.2 2.4
Buah Pisang ambon 125 115.0 1.3 0.6 29.3
Kue Kue 50 94.0 1.1 2.1 17.8
Jumlah 1519.0 79,2 46,3 240.2
Kebutuhan 1620 81 45 222
% kebutuhan 93 % 97 % 102 % 108 %
3. Susunan Menu Hari 3 Selama Intervensi (tanggal 17 Mei 2017)
Waktu Menu Bahan Energi Protein Lemak KH
Gr
makan makanan makanan (Kkal) (gr) (gr) (gr)
Nasi tim Beras putih 100 117.1 2.2 0.2 25.7
Bali daging Daging 85 242.2 22.9 16.1 0.0
Pagi Macaroni 20 70.6 2.4 0.4 14.2
Sop Wortel 30 2.6 0.3 0.2 2.4
Mie soun 10 38.1 0.0 0.0 9.1
Buah Pisang ambon 75 69.0 0.8 0.4 17.5
Kacang ijo 20 23.2 1.5 0.1
Kacang ijo
Gula pasir 20 77.4 0.0 0.0 4.
Snack manis
Santan 10 7.1 0.1 0.7
Kue Kue 30 56.4 0.7 1.3
Nasi tim Beras putih
Ikan BB
Ikan segar
mangut
Siang Tahu BB
Tahu
bacem
Kac. panjang
Sayur lodeh
Labu siam
Buah Melon
Nasi tim Beras putih
Fuyunghai Talur ayam
isi sosis + Sosis
buncis + Buncis
wortel wortel
Sore Perkedel
Tempe
tempe
Mentimun
Acar
Wortel
Buah Pisang ambon
Kue Kue
Jumlah 1468.1 77.4 40.7 243.4
Kebutuhan 1620 81 45 222
% kebutuhan 90 % 95 % 90 % 109 %