Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dari zaman dahulu, para ilmuwan terus mengembangkan teori teori


belajar sebagai temuan mereka untuk mengembangkan pemikiran belajar mereka.
Era globalisasi telah membawa berbagai perubahan yang memunculkan adanya
teori teori belajar yang baru guna menyempurnakan teori teori yang telah ada
sebelumnya.Dengan perkembangan psikologi dalam pendidikan, maka
bermunculan pula berbagai teori tentang belajar, justru dapat dikatakan bahwa
dengan tumbuhnya pengetahuan tentang belajar. dalam hal ini, penulis akan
mengkaji salah satu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dengan disusunnya makalah ini adalah sebagai
berikut :
a. Bagaimana sejarah teori belajar Thorndike ?
b. Apa definisi belajar menurut Thorndike ?
c. Apa saja ciri ciri teori belajar Thorndike ?
d. Apa eksperimen yang dilakukan thorndike hingga muncul teori ?
e. Apa hukum hukum teori belajar Thorndike ?
f. Apa eksperimen yang dilakukan thorndike hingga muncul teori
g. Apa saja prinsip dari teori belajar Thorndike ?
h. Apa saja keunggulan dan kelemahan dari teori belajar Thorndike ?
1.3 Tujuan
a. Mengetahui sejarah teori belajar Thorndike
b. Dapat memahami definisi belajar menurut Thorndike
c. Mengetahui ciri ciri teori belajar Thorndike
d. Mengetahui eksperimen yang dilakukan thorndike hingga muncul teori
e. Mengetahui hukum hukum teori belajar Thorndike
f. Dapat memahami prinsip dari teori belajar Thorndike
g. Mengetahui keunggulan dan kelemahan dari teori belajar Thorndike

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Teori Thorndike
Edward Lee Thorndike ialah seorang fungsionalis. Meski demikian, ia telah
membentuk tahapan behaviorisme Rusia dalam versi Amerika. Thorndike (1874-
1949) mendapat gelar sarjananya dari Wesleyan University di Connecticut pada
tahun 1895, dan master dari Hardvard pada tahun 1897. Ketika di sana, Thorndike
mengikuti kelasnya Williyams James dan mereka pun menjadi akrab. Thorndike
menerima beasiswa di Colombia, dan dapat menyelesaikan gelar PhD-nya tahun
1898.
Kemudian dia tinggal dan mengajar di Colombiaa sampai pensiun tahun 1940.
Thorndike berhasil menerbitkan suatu buku yang berjudul Animal intelligence,
An experimental study of associationprocess in Animal. Buku tersebut
merupakan hasil penelitian Thorndike terhadap tingkah beberapa jenis hewan
seperti kucing, anjing, dan burung yang mencerminkan prinsip dasar dari proses
belajar yang dianut oleh Thorndike yaitu bahwa dasar dari belajar (learning) tidak
lain sebenarnya adalah asosiasi.
Teori yang dikemukakan Thorndike dikenal dengan teori S-R. Dalam teori
S-R dikatakan bahwa dalam proses belajar, pertama kali organisme (Hewan,
Orang) belajar dengan cara coba salah (Trial end error). Apabila suatu organisme
berada dalam suatu situasi yang mengandung masalah, maka organisme itu akan
mengeluarkan tingkah laku yang serentak dari kumpulan tingkah laku yang ada
padanya untuk memecahkan masalah itu. Berdasarkan pengalaman itulah, maka
pada saat menghadapi masalah yang serupa, organisme sudah tahu tingkah laku
mana yang harus dikeluarkannya untuk memecahkan masalah.
Ia mengasosiasikan suatu masalah tertentu dengan suatu tingkah laku
tertentu. Sebagai contoh seekor kucing yang dimasukkan dalam kandang yang
terkunci akan bergerak, berjalan, meloncat, mencakar, dan sebagainya sampai
suatu ketika secara kebetulan ia menginjak suatu pedal dalam kandang itu
sehingga kandang itu terbuka dan kucing pun bisa keluar. Sejak saat itulah, kucing
akan langsung menginjak pedal kalau ia dimasukkan dalam kandang yang sama.

2
2.2 Defenisi Belajar Menurut Teori Throndike
Menurut Thorndike , belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-
asosiasi antara peristiwa- peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R).
Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda
untuk mengaktifkan suatu organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon
dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya suatu
rangsangan. Thorndike mempoklamirkan teorinya dalam belajar ia
mengungkapkan bahwasannya setiap makhluk hidup itu dalam tingkah lakunya
itu merupakan hubungan antara stimulus dan respon, adapun teori Thorndike ini
disebut teori konesionisme.
Belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respon sebanyak-
banyaknya. Dengan artian dengan adanya stimulus itu maka diharapkan timbulah
respon yang maksimal . Teori ini sering juga disebut dengan teori trial dan
error dalam teori ini orang yang bisa menguasai hubungan stimulus dan respon
sebanyak- banyaknya maka dapat dikatakan orang ini merupakan orang yang
berhasil dalam belajar. Adapun cara untuk membentuk hubungan stimulus dan
respon ini dilakukan dengan ulangan-ulangan.
Dalam membuktikan teorinya Thorndike melakukan percobaan terhadap
seekor kucing yang lapar dan kucing itu ditaruh di kandang, yang mana kandang
tersebut terdapat celah- celah yang kecil sehingga seekor kucing itu bisa melihat
makanan yang berada di luar kandang dan kandang itu bisa terbuka dengan sendiri
apabila seekor kucing tadi menyentuh salah satu jeruji yang terdapat dalam
kandang tersebut.
Mula mula kucing tersebut mengitari kandang beberapa kali sampai ia
menemukan jeruji yang bisa membuka pintu kandang, kucing ini melakukan
respon atau tindakan dengan cara coba coba, ia tidak mengetahui jalan keluar
dari kandang tersebut, kucing tadi melakukan respon yang sebanyak- banyaknya
sehingga menemukan tindakan yang cocok dalam situasi baru atau stimulus yang
ada. Thorndike melakukan percobaan ini berkali kali pada kucing yang sama
dan situasi yang sama pula. Memang pertama kali kucing tersebut, dalam
menemukan jalan keluar memerlukan waktu yang lama dan pastinya mengitari
kandang dengan jumlah yang banyak pula.

3
2.3 Ciri-Ciri Teori Belajar Throndike
Adapun beberapa ciri ciri belajat menurut Thorndike, antara lain :
Ada motif pendorong aktivitas.
Ada berbagai respon terhadap sesuatu.
Ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah.
Ada kemajuan reksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu.
Implikasi dari aliran ini dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari bahwa :
a. Dalam menjelaskan suatu konsep tertentu, guru sebaiknya mengambil
contoh yang sekiranya sudah sering dijumpai dalam kehidupan sehari-
hari. Alat peraga dari alam sekitar akan lebih dihayati.
b. Metode pemberian tugas, metode latihan akan lebih cocok untuk
penguatan dan hafalan. Dengan penerapan metode tersebut siswa akan
lebih banyak mendapatkan stimulus sehingga respon yang diberikan akan
lebih banyak.
c. Dalam kurikulum, materi disusun dari materi yang mudah, sedang dan
sukar sesuai dengan tingkat kelas dan tingkat sekolah. Penguasaan materi
yang lebih mudah sebagai akibat untuk dapat menguasai materi yang
lebih sukar. Dengan kata lain topik prasyarat harus dikuasai dulu agar
dapat memahami topik berikutnya.
2.4 Eksperimen Yang Dilakukan Thorndike Hingga Muncul Teori
Thorndike melakukan percobaan ini berkali kali pada kucing yang sama
dan situasi yang sama pula. Memang pertama kali kucing tersebut, dalam
menemukan jalan keluar memerlukan waktu yang lama dan pastinya mengitari
kandang dengan jumlah yang banyak pula, akan tetapi karena sifat dari setiap
organisme itu selalu memegang tindakan yang cocok dalam menghadapi situasi
atau stimulus yang ada, maka kucing tadi dalam menemukan jeruji yang
menyebabkan kucing tadi bisa keluar dari kandang, ia pegang tindakan ini
sehingga kucing tadi dalam keluar untuk mendapatkan makanan tidak lagi perlu
mengitari kandang karena tindakan ini dirasa tidak cocok..
2.5 Hukum-Hukum Teori Belajar Throndike
1. Hukum Kesiapan ( law of readiness )
Hukum ini menerangkan bagaimana kesiapan seseorang siswa dalam

4
melakukan suatu kegiatan Seorang siswa yang mempunyai
kecenderungan untuk bertindak atau melakukan kegiatan tertentu dan kemudian
dia benar melakukan kegiatan tersebut, maka tindakannya akan melahirkan
kepuasan bagi dirinya. Seorang siswa yang mempunyai kecenderungan untuk
bertindak dan kemudian bertindak, sedangkan tindakannya itu mengakibatkan
ketidakpuasan bagi dirinya, akan selalu menghindarkan dirinya dari tindakan yang
melahirkan ketidakpuasan tersebut. Dari ciri-ciri di atas dapat disimpulkan bahwa
seorang siswa akan lebih berhasil belajarnya, jika ia telah siap untuk melakukan
kegiatan belajar.
2. Hukum Latihan. ( law of ecexcise )
Menyatakan bahwa jika hubungan stimulus respon sering terjadi
akibatnya hubungan akan semakin kuat. Sedangkan makin jarang hubungan
stimulus respon dipergunakan, maka makin lemahlah hubungan yang terjadi.
Hukum latihan pada dasarnya mengungkapkan bahwa stimulus dan respon
memiliki hubungan satu sama lain secara kuat, jika proses pengulangan sering
terjadi, dan makin banyak kegiatan ini dilakukan maka hubungan yang terjadi
akan bersirfat otomatis.
Seorang siswa dihadapkan pada suatu persoalan yang sering ditemuinya
akan segera melakukan tanggapan secara cepat sesuai dengan pengalamannya
pada waktu sebelumnya. Kenyataan menunjukkan bahwa pengulangan yang akan
memberikan dampak positif adalah pengulangan yang frekuensinya teratur,
bentuk pengulangannya tidak membosankan dan kegiatannya disajikan dengan
cara yang menarik.
Untuk itu guru menanyakan apakah semua relasi yang diperlihatkannya itu
termasuk pemetaan atau tidak. Jika tidak, siswa diminta untuk menjelaskan alasan
atau sebab-sebab kriteria pemetaan tidak dipenuhi. Penguatan konsep lewat cara
ini dilakukan dengan pengulangan..
3. Hukum Akibat.( law of effect )
Thorndike mengemukakan bahwa suatu tindakan akan menimbulkan
pengaruh bagi tindakan yang serupa. Ini memberikan gambaran bahwa jika suatu
tindakan yang dilakukan seorang siswa menimbulkan hal-hal yang mengakibatkan
bagi dirinya, tindakan tersebut cenderung akan diulanginya.

5
Sebaliknya tiap-tiap tindakan yang mengakibatkan kekecewaan atau hal-
hal yang tidak menyenangkan, cenderung akan dihindarinya. Dilihat dari ciri ini
hukum akibat lebih mendekati ganjaran dan hukuman. Dari hukum akibat ini
dapat disimpulkan bahwa kepuasan yang terlahir dari adanya ganjaran dari guru
akan memberikan kepuasan dari siswa, dan cenderung untuk berusaha melakukan
atau meningkatkan.
Guru memberi senyuman wajar terhadap jawaban siswa, akan semakin
menguatkan konsep yang tertanam pada diri siswa. Katakan Bagus, Hebat,
Kau sangat teliti, dan semacamnya akan merupakan hadiah bagi siswa yang
kelak akan meningkatkan dirinya dalam menguasai pelajaran. Stimulus ini
termasuk reinforcement Sebaliknya guru juga harus tanggap terhadap respon
siswa yang salah. Jika kekeliruan siswa dibiarkan tanpa penjelasan yang benar
dari guru, ada kemungkinan siswa akan menganggap benar dan kemudian
mengulanginya.
Dari hukum akibat ini dapat disimpulkan bahwa jika terdapat asosiasi yang
kuat antara pertanyaan dan jawaban, maka bahan yang disajikan akan tertanam
lebih lama dalam ingatan siswa. selain itu banyaknya pengulangan akan sangat
menentukan lamanya konsep diingat siswa.
2.6 Prinsip Teori Belajar Throndike
Pada saat berhadapan dengan situasi yang baru, berbagai respon yang ia
lakukan. Adapun respon-respon tiap-tiap individu berbeda-beda tidak sama
walaupun menghadapi situasi yang sama hingga akhirnya tiap individu
mendapatlan respon tau tindakan yang cocok dan memuaskan. Seperti
contoh seseorang yang sedang dihadapkan dengan problema keluarga maka
seseorang pasti akan menghadapi dengan respon yang berbeda- beda
walaupun jenis situasinya sama, misalnya orang tua dihadapkan dengan
perilaku anak yang kurang wajar.
Dalam diri setiap orang sebenarnya sudah tertanam potensi untuk
mengadakan seleksi terhadap unsur- unsur yang penting dan kurang penting,
hingga akihnya menemukan respon yang tepat. Seperti orang yang dalam
masa perkembangan dan menyongsong masa depan maka sebenarnya dalam
diri orang tersebut sudah mengetahui unsur yang penting

6
yang harus dilakukan demi mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang
diinginkan.
Orang cenderung memberi respon yang sama terhadap situasi yang sama.
Seperti apabila seseorang dalam keadaan stress karena diputus oleh
pacarnya dan ia mengalami ini bukan hanya kali ini melainkan ia pernah
mengalami kejadian yang sama karena hal yang sama maka tentu ia akan
merespon situasi tersebut seperti yang ia lakuan seperti dahulu ia lakukan.
2.7 Kelebihan Dan Kelemahan Teori Belajar Throndike
A. Kelebihan
Teori ini sering juga disebut dengan teori trial dan error dalam teori ini
orang yang bisa menguasai hubungan stimulus dan respon sebanyak-
banyaknya sehingga orang akan terbiasa berpikir dan terbiasa
mengembangkan pikirannya.
B. Kekurangan
Terlalu memandang manusia sebagai mekanismus dan otomatisme belaka
disamakan dengan hewan. Meskipun banyak tingkah laku manusia yang
otomatis, tetapi tidak selalu bahwa tingkah laku manusia itu dapat
dipengaruhi secara trial and error. Trial and error tidak berlaku mutlak
bagi manusia.
Memandang belajar hanya merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan
respon. Sehingga yang dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat
asosiasi tersebut dengan latihan latihan, atau ulangan ulangan yang
terus menerus.
Karena belajar berlangsung secara mekanistis, maka pengertian tidak
dipandangnya sebagai suatu yang pokok dalam belajar. Mereka
mengabaukan pengertian sebagai unsur yang pokok dalam belajar.
Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang
memberikan ruang gerak yang bebas bagi pelajar untuk berkreasi,
bereksperimentasi dan mengembangkan kemempuannya sendiri. Karena sistem
pembelajaran tersebut bersifat otomatis mekanis dalam menghubungkan
stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot.

7
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Menurut Thorndike , belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-
asosiasi antara peristiwa- peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon
(R). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi
tanda untuk mengaktifkan suatu organisme untuk beraksi atau berbuat
sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan
karena adanya suatu rangsangan.
2. Ciri Ciri Teori Belajar Thorndike
. Ada motif pendorong aktivitas, Ada berbagai respon terhadap sesuatu,
Ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah, Ada kemajuan reksi-reaksi
mencapai tujuan dari penelitiannya itu.
3. keunggulan dan kelemahan
Keunggulan Keunggulan Teori Belajar Thorndike
Teori ini sering juga disebut dengan teori trial dan error dalam
teori ini orang yang bisa menguasai hubungan stimulus dan respon
sebanyak- banyaknya sehingga orang akan terbiasa berpikir dan terbiasa
mengembangkan pikirannya.
Kelemahan-Kelemahan Teori Belajar Thorndike
Terlalu memandang manusia sebagai mekanismus dan otomatisme
belaka disamakan dengan hewan. Meskipun banyak tingkah laku manusia
yang otomatis, tetapi tidak selalu bahwa tingkah laku manusia itu dapat
dipengaruhi secara trial and error. Trial and error tidak berlaku mutlak bagi
manusia.

8
DAFTAR PUSTAKA
Boeree, George. (2005). Sejarah Psikologi. Jakatra: Prima Shopie
Suherman, Erman dkk. (2000). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.
Jakarta : UPI
Soemanto, Wasty. (1998). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta