Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Menurut Allan (dalam Wijana, 1996: 45) berbahasa sama halnya dengan aktivitas sosial. Kegiatan
berbahasa baru terwujud apabila manusia terlibat di dalamnya. Tindak tutur tindak ujar (speech act)
merupakan entitas yang bersifat sentral dalam pragmatik sehingga bersifat pokok di dalam pragmatik.
Tindak tutur merupakan dasar bagi nanalisis topik-topik pragmatik lain seperti praanggapan, perikutan,
implikatur percakapan, prinsip kerja sama, dan prinsip kesantunan. Kajian pragmatik yang tidak
mendasarkan analisisnya pada tindak tutur bukanlah kajian pragmatik dlm arti yang sebenarnya
(Rustono dalam Yanuar, 2012 ). Jenis tindak tutur antara lain tindak tutur representatif, direktif, ekspresif,
komisif, dan deklarasi.

Tindak tutur direktif merupakan salah satu dari jenis tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya
agar mitra tutur melakukan tindakan sesuai apa yang disebutkan di dalam tuturannya. Tindak tutur
direktif disebut juga dengan tindak tutur impositif.

Proses pembelajaran di kelas merupakan wujud tindak tutur seorang guru dalam mentransfer ilmu
pada siswanya. Dalam proses tuturan tersebut seringkali guru melakukan ujaran direktif. Pada Kelas VIII B
MTs. 1 Muhammadiyah Malang mata pelajaran Biologi, proses penyampaian ilmu disampaikan guru
secara lisan.

Adapun tujuan peneliti meneliti tindak tutur direktif guru Biologi tersebut adalah guna mengetahui
pembelajaran. Bagaimanapun guru adalah seseorang yang menjadi panutan sehingga guru harus mampu
beretorika dengan baik agar dapat dijadikan contoh para siswanya.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk membahas lebih lanjut mengenai masalah tindak
tutur direktif dengan judul “Analisis Tindak Tutur Direktif Guru pada Pembelajaran Biologi Kelas VIII B
MTs. 1 Muhammadiyah Malang”.
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti dapat merumuskan beberapa rumusan masalah di
antaranya sebagai berikut.

1) Bagaimanakah kategori tindak tutur direktif pada retorika guru dalam pembelajaran Biologi di
kelas VIII B MTs. 1 Muhammadiyah Malang?

2) Bagaimanakah konstruksi tindak tutur direktif pada retorika guru dalam pembelajaran Biologi di
kelas VIII B MTs. 1 Muhammadiyah Malang?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini antara lain sebagai berikut.

1) Untuk mengetahui kategori tindak tutur direktif pada retorika guru dalam pembelajaran Biologi di
kelas VIII B MTs. 1 Muhammadiyah Malang.
2) Untuk mengetahui konstruksi tindak tutur direktif pada retorika guru dalam pembelajaran Biologi
di kelas VIII B MTs. 1 Muhammadiyah Malang.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Tindak Tutur dan Jenis Tindak Tutur

Menurut Rohmadi (dalam Annida, 2006) teori tindak tutur pertama kali dikemukakan oleh Austin,
seorang guru besar di Universitas Harvard. Teori yang berwujud hasil kuliah itu kemudian dibukukan oleh
J.O.Urmson dengan judul How to do Things with words?. Akan tetapi teori itu baru berkembang secara
mantap setelah Searle menerbitkan buku yang berjudul Speech Acts : An Essay in the Philosophy of
language. Menurut Searle dalam semua komunikasi linguistik terdapat tindak tutur. Ia berpendapat
bahwa komunikasi bukan sekadar lambang, kata atau kalimat, tetapi akan lebih tepat apabila disebut
produk atau hasil dari lambang, kata atau kalimat yang berwujud perilaku tindak tutur.

Menurut Chaer dan Agustina (2004: 50) mengemukakan tindak tutur merupakan gejala individual,
bersifat psikologis, dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam
menghadapi situasi tertentu. Tindak tutur merupakan analisis pragmatik, yaitu cabang ilmu bahasa yang
mengkaji bahasa dari aspek pemakaian aktualnya. Leech menyatakan bahwa pragmatik mempelajari
maksud ujaran (yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan); menanyakan apa yang seseorang maksudkan
dengan suatu tindak tutur; dan mengaitkan makna dengan siapa berbicara kepada siapa, di mana,
bilamana, bagaimana. Tindak tutur dibagi menjadi tiga macam yakni sebagai berikut.

a. Tindak tutur lokusi, yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan
makna di dalam kamus dan menurut kaidah sintaksisnya.

b. Tindak tutur ilokusi, yaitu tindak tutur yang mengandung maksud; berkaitan dengan siapa bertutur
kepada siapa, kapan, dan di mana tindak tutur itu dilakukan, dan sebagainya.

c. Tindak tutur perlokusi, yaitu tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan untuk mempengaruhi
mitra tutur.
2.2 Pengertian Tindak Tutur Direktif

Menurut Yule (2006: 92), direktif ialah jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh
orang lain melakukan sesuatu. Jenis tindak tutur ini menyatakan apa yang menjadi keinginan penutur.
Tindak tutur ini meliputi: perintah, pemesanan, permohonan, permintaan, dan pemberian saran. Pada
waktu menggunakan direktif penutur berusaha menyesuaikan dunia dengan kata (lewat pendengar).

Tindak tutur direktif (TTD) adalah salah satu jenis tindak tutur menurut klasifikasi Searle.
Fungsinya adalah mempengaruhi petutur atau mitra tutur agar melakukan tindakan seperti yang
diungkapkan oleh si penutur. Fungsi umum atau makrofungsi direktif mencakup: menyuruh,
memerintah, memohon, mengimbau, menyarankan dan tindakan-tindakan lain yang diungkapkan oleh
kalimat bermodus imperatif menurut aliran formalisme.

Lebih lanjut Searle mengungkapkan bahwa direktif itu dapat langsung (yaitu dengan
menggunakan kalimat bermodus imperatif) dan dapat pula tidak langsung (yaitu dengan menggunakan
kalimat bermodus bukan imperatif). Menurut Searle pula, realisasi direktif tidak langsung itu ada enam
kategori seperti: Can you pass the salt? Are you going to pass the salt? I would like you to pass the salt
dan sebagainyaSedangkan Leech (dalam Faiz, 2011) menyatakan bahwa fungsi tindak tutur direktif
dapat ditunjukkan dengan verba yang melekat dan biasanya berkonstruksi: Subject – Verb (O) —- that X
or S Verb O to Y. Dengan S sebagai subyek dan O sebagai obyek dan ’that X’ merupakan klausa yang
nonindikatif, dan ’to Y’ adalah klausa infinitif: misalnya ask (meminta), beg (memohon), bid (memohon
dengan sangat), command (memerintah), demand (menuntut), forbid (melarang) recommend
(menganjurkan), request (memohon).
Bach dan Harnish (dalam Annida, 2006) menyatakan bahwa direktif mengekspresikan sikap
penutur terhadap tindakan yang akan dilakukan oleh mitra tutur sehingga tindakan ini dapat berbentuk
konstatif, namun direktif juga bisa mengekspresikan maksud penutur (keinginan, harapan) sehingga
ujaran aatau sikap yang diekspresikan dijadikan sebagai alasan untuk bertindak oleh mitra tutur.

2.3 Kategori Tindak Tutur Direktif

Bach dan Harnish (dalam Annida, 2006) mengkategorikan direktif ke dalam enam kategori utama yaitu:
1) Requestives (meminta, mengemis, memohon, menekan, mengundang, mendoa, mengajak,
mendorong), 2) Questions (bertanya, menyelidik, menginterogasi), 3) Requirements (memerintah,
menghendaki, mengkomando, menuntut, mendikte, mengarahkan, menginstrusikan, mengatur,
mensyaratkan), 4) Prohibitives (melarang, membatasi), 5) Permissives (menyetujui, membolehkan,
memberi wewenang, menganugerahi, mengabulkan, membiarkan, mengijinkan, melepaskan,
memaafkan, memperkenankan), dan 6) Advisories (menasehatkan, memperingatkan, mengkonseling,
mengusulkan, menyarankan, mendorong).

2.4 Konstuksi Ujaran Direktif

Rahardi dan Lapoliwa (dalam Annida, 2006) menuliskan kontruksi ujaran direktif baik langsung maupun
tidak langsung sebagai berikut:

a. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif perintah.

Misalnya:”Ringkas karangan ini!”

b. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif suruhan.


Misalnya:”Coba ringkas karangan ini.”

c. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif permintaan.

Misalnya: ”Tolong ringkas karangan ini.”

d. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif permohonan.

Misalnya: ”Aku mohon kamu bersedia meringkas karangan ini.”

e. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif desakan.

Misalnya; ”Ayo, ringkas karangan ini sekarang juga!”

f. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif bujukan.

Misalnya: ”Malam ini kamu meringkas karangan ini ya?”

g. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif himbauan.

Misalnya: ”Ringkaslah karangan ini dengan baik.”

h. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif persilaan.


Misalnya: ”Silakan karangannya diringkas.”

i. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif ajakan.

Misalnya:”Mari kita ringkas karangan ini bersama-sama.”

j. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif permintaan ijin.

Misalnya ”Bolehkah saya meringkas karangan ini.”

k. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif mengijinkan.

Misalnya ”Karangannnya boleh diringkas sekarang.”

l. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif larangan.

Misalnya ”Jangan meringkas karangan itu.”

m. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif harapan.

Misalnya ”Saya mengharapkan ringkasan karangan ini cepat selesai.”

n. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif umpatan.

Misalnya”Kena, kau!”
o. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif selamat.

Misalnya”Selamat ya atas prestasimu.”

p. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif anjuran.

Misalnya”Sebaiknya ringkasannya dikerjakan sekarang saja akan lebih baik.”

q. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif ”ngelulu”.

Misalnya: ” Tidak usah belajar, nonton TV saja terus sampai pagi.”

Selanjutnya, seorang mitra tutur memiliki beberapa cara untuk merespon sebuah TTD. Bisa saja mitra
tutur tersebut mengiyakan TTD tersebut tanpa membantah, mengiyakan dengan memunculkan ujaran
tertentu atau bahkan mitra tutur melakukan penolakan terhadap TTD yang diungkapkan oleh penutur.
Rubin (dalam Annida, 2006) menyatakan bahwa paling sedikit ada delapan cara penolakan antara lain:

a. Berdiam diri, tidak memberikan tanggapan.

b. Menawarkan suatu alternatif: Susi lebih bagus dari pada saya..

c. Penundaan: Bagaimana kalau lain kali saja.

d. Menyalahkan orang lain: Suami saya tidak mengijinkan.

e. Menghindari penolakan langsung: Sebenarnya menarik, tapi…


f. Memberi tanggapan yang tidak spesifik; Insya Allah.

g. Mengungkapkan alasan: Saya ada ujian hari ini.

h. Menyatakan bahwa suatu tawaran atau ajakan kurang baik: Rencana itu tidak terlalu bagus.

Takahashi, Beebe and Uliss-Weltz (dalam Annida, 2006) dari hasil penelitiannya menyatakan
bahwa ada beberapa cara untuk menolak suatu ajakan atau perintah yaitu:

a. Penolakan Langsung: yaitu penolakan langsung dengan menggunakan kata penolakan atau
pernyataan yang menunjukan ketidakmauan atau ketidakmampuan.

1) Menggunakan kata penolakan seperti: tidak, jangan.

2) Menggunakan penyataan ketidakmauan atau ketidak mampuan seperti: tidak perlu,tidak ingin,
lupakan , tidak dapat, tidak mau.

b. Penolakan Tidak Langsung

1) Pernyataan penyesalan; saya menyesal, jadi malu.

2) Pernyataan maaf, alasan, keterangan: maaf masih ada yang harus saya kerjakan.

3) Pernyataan alternatif: Anda boleh datang besok saja.

4) Mengkondisikan penerimaan waktu sekarang atau waktu lampau. Kalau dia datang saya akan datang.
5) Memberikan janji untuk menerima lain waktu; mungkin lain kali saja

6) Pernyataan prinsip: Suami saya tidak mau menerima hadiah.

7) Pernyataan filosofis: Satu dibantu, semua dibantu.

8) Menerima pernyataan namun sebenarnya menolak: kami akan pertimbangkan lagi.

9) Berusaha mempengaruhi lawan bicara untuk tidak melakukan: Anda tahu konsekuensi dari perbuatan
Anda.

10) Penghindaran :

a) Verbal

(1) Mengalihkan pembicaraan

(2) Mengajak bercanda

(3) Mengulang sebagian dari pertanyaan atau pernyataan; Pinjam uang ya?

(4) Penundaan: Kalau lain kali saja bagaimana?

(5) Pagar: Saya tidak yakin tentang masalah ini.


b) Non verbal

(1) Diam

(2) Ragu-ragu

(3) Gerakan fisik

c. Adjunct: ungkapan tambahan, namun tidak dapat berdiri sendiri sebagai penolakan.

1) Pernyataan pendapat yang positif/persetujuan: Idenya bagus, tapi…

2) Pernyataan empati atau pengertian: Saya tahu Anda berada dalam situasi sulit.

3) Berhenti sejenak: ehmm..

4) Apresiasi: Terima kasih.

5) Sapaan: Eh..Pak.

6) Pernyataan kesopanan: Anda baik sekali


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Penelitian
deskriptif adalah penelitian yang bertujuan menggambarkan suatu kondisi atau fenomena tertentu, tidak
memilah-milah atau mencari faktor-faktor atau variabel tertentu. Desain penelitian deskriptif ini
umumnya dapat menggunakan metode studi kasus, tindak lanjut, analisis isi, kecenderungan atau
korelasional (Husein, 2002). Melalui metode kualitatif data yang diperoleh akan lebih lengkap,
mendalam dan mendetail sehingga tujuan penelitian dapat tercapai.

Tabel Desain Penelitian


Jenis Penelitian

Metode Penelitian

Unit Analisis

Deskriptif

Studi Pustaka,

Observasi

Individu

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di MTs. 1 Muhammadiyah Malang yang bertempat di daerah Tlogo Mas,
Malang. Penelitian dilakukan dengan durasi kurang lebih satu jam tiga puluh menit sejak pukul 10.00
WIB pada tanggal 17 Mei 2013.

3.3 Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data dalam penelitian ini ditriangulasikan dengan menggunakan dan
mengkombinasikan lebih dari satu teknik pengumpulan data yang berbeda demi keabsahan data yang
diperoleh.

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu sebagai berikut.

3.3.1 Studi Kepustakaan

Pengumpulan data pertama-tama dilakukan melalui pengkajian literatur untuk mengungkapkan


teori-teori yang relevan dengan topik penelitian. Teori serta hasil penelitian sebelumnya oleh ahli
ditelaah dan dipaparkan untuk memberikan gambaran besar akan topik penelitian yang dikaji. Penelitian
ini banyak mempergunakan referensi dari buku teks perilaku konsumen dan pemasaran yang ditulis oleh
Solomon, Philip Kotler, James Engel, serta Neal, Quester dan Hawkins.

3.3.2 Observasi

Teknik observasi adalah mengumpulkan data langsung dari lapangan dengan mengandalkan
pengamatan peneliti. melakukan pengamatan dengan merekam proses pembelajaran di kelas VIII B MTs.
1 Muhammadiyah Malang pada mata pelajaran Biologi.

Jenis observasi yang dilakukan oleh peneliti adalah observasi partisipatif. Tipe partisipasi yang
digunakan adalah partisipasi pasif (passive participation) dimana peneliti datang ke tempat dimana objek
melakukan kegiatan namun tidak ikut serta melakukan kegiatan tersebut.

3.4 Metode Analisis Data

Metode analisis data kualitatif yang digunakan oleh peneliti sesuai dengan konsep metode analisis
yang dipaparkan oleh Miles dan Huberman (dalam Husein, 2002). Metode tersebut mengemukakan
bahwa terdapat tiga aktivitas dalam analisis data, yaitu reduksi data (data reduction), penyajian data
(data display) dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusion drawing/verification).

Reduksi data memiliki penjelasan merujuk kepada proses menyeleksi, memfokuskan,


menyederhanakan, mengabstraksi dan mentransformasi data yang terdapat pada catatan lapangan
maupun transkrip. Penyajian data merupakan proses pengorganisasian data sehingga tersaji menjadi
informasi yang runut dan dapat berupa grafik, diagram, matriks dan jaringan. Aktivitas analisis yang
ketiga adalah penarikan kesimpulan. Pada saat memulai pengumpulan data, peneliti mulai
memperhatikan adanya keteraturan, pola maupun penjelasan. Pada akhirnya kesimpulan ditarik sesuai
dengan sifat data yang telah dikumpulkan.

BAB IV

HASIL
Di dalam penelitian ini, digunakan satu sumber data yakni vidio observasi pembelajaran Biologi di kelas
VIII B MTs. 1 Muhammadiyah Malang. Penggunaan sumber data adalah untuk menambah hasil analisis
data yang dilakukan. Berdasarkan rumusan masalah yang ada pada penelitian tentang tindak tutur guru
dalam pembelajaran di kelas ini diperoleh hasil analisis data antara lain sebagai berikut.

4.1 Kategori Tindak Tutur Direktif Guru dalam Pembelajaran Biologi Kelas VIII B MTs. 1 Muhammadiyah
Malang

Kategori tindak tutur direktif guru dibedakan atas 1) Requestives (meminta, mengemis,
memohon, menekan, mengundang, mendoa, mengajak, mendorong), 2) Questions (bertanya,
menyelidik, menginterogasi), 3) Requirements (memerintah, menghendaki, mengkomando, menuntut,
mendikte, mengarahkan, menginstruksikan, mengatur, mensyaratkan), 4) Prohibitives (melarang,
membatasi), 5) Permissives (menyetujui, membolehkan, memberi wewenang, menganugerahi,
mengabulkan, membiarkan, mengijinkan, melepaskan, memaafkan, memperkenankan), dan 6)
Advisories (menasehatkan, memperingatkan, mengkonseling, mengusulkan, menyarankan, mendorong).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, ditemukan enam kategori tindak tutur direktif guru dalam
pembelajaran Biologi di kelas VIII B. Enam kategori tersebut di antaranya requestives, questions,
requirements, prohibitives, permissives, dan advisories.

Guru: “ Coba ini kita jilat”. (mencoba menjilat gambar yang ada di layar LCD)

Pada data di atas merupakan kategori tindak tutur direktif requestives meminta. Guru meminta murid
untuk mencoba menjilat bersama-sama layar LCD yang bergambar bakso. Hal serupa ditemukan pada
data berikut.
Guru: “Coba silakan keluarkan snack dan minumannya yang suruh saya bawa, coba keluarkan semuanya
dulu”

Pada data di atas, guru mencoba meminta kepada murid untuk mengeluarkan makanan maupun
minuman yang telah diperintahkan oleh guru pada pertemuan sebelumnya. Kalimat permintaan ini
dilakukan oleh guru agar terkesan lebih sopan kepada murid-muridnya sehingga murid merasa dihargai
usahanya untuk memenuhi perintah membawa makanan atau minuman yang sesuai dengan keinginan
guru sebagai penunjang penyampaian materi pelajaran.

Guru: “Tambah tinggi, tambah berat, tambah sehat, selanjutnya yang ketiga adalah sisa makanan
menggantikan sel yang rusak, ada yang bisa memberikan satu contoh kepada bapak, sel di dalam organ
manusia ada yang mati?”.

Pada data di atas juga merupakan kategori tindak tutur direktif requestives yang merupakan permintaan
pemberian contoh, meskipun secara struktur kalimat tersebut berupa kalimat tanya. Guru mencoba
untuk menyampaikan maksud permintaannya dengan jalan menyusun tuturannya berupa kalimat tanya.

Guru : “Oky duduk. Sebelumnya saya presensi dulu ya.” (Duduk dan mengambil pulpen)

Pada data bergaris bawah di atas termasuk dalam kategori tindak tutur direktif requirements.
Tindak tutur yang dilakukan guru tersebut dimaksudkan untuk menginstruksikan kepada murid untuk
segera duduk. Dalam konteks kalimatnya, data di atas mengandung makna guru selaku penutur bahwa
guru secara eksplisit mendesak murid untuk segera duduk sebagai wujud pengkondisian kelas karena
proses pembelajaran mulai berlangsung. Hal tersebut juga dapat ditemui pada data berikut.

Guru : “Yang sudah sarapan tadi siapa? Angkat tangannya yang sarapan. Yang…”

Data di atas juga termasuk dalam tindak tutur direktif guru yang berkategori requirements. Dalam hal ini
guru bermaksud untuk menyuruh murid mengangkat tangan mereka jika mereka telah memenuhi syarat
yang disebutkan dalam ujaran direktif guru. Syarat tersebut adalah kata “sarapan”.

Guru : Makannya pada kesempatan ini saya menyuruh kalian membawa beberapa makanan dan
minuman yang berkaitan dengan materi dan menu kita hari ini, …” (jari tangan menunjuk ke murid)

Pada data di atas juga termasuk dalam tindak tutur direktif requirements. Guru bermaksud untuk
menyuruh murid melakukan sesuatu berupa membawa beberapa makanan dan minuman.

Guru : “perhatikan ya Yud? Yuda.. (menegur salah satu murid dengan nada rendah) Nah kalau yang di
belakang biarkan, dari tadi memang kayaknya sudah nggak, nggak memperhatikan.”
Pada data di atas juga termasuk dalam kategori tindak tutur direktif requirements memerintah. Perintah
guru kepada murid berbentuk eksplisit yag diindikatori dengan kata perintah perhatikan. Pada konteks di
atas, guru melakukan tindak tutur sedemikian rupa karena pada saat guru menerangkan materi
pelajaran, ada murid yang tidak memperhatikannya, sehingga tuturan direktif guru tersebut digunakan
untuk mengkondisikan kelas. Dalam konteks tututrannya tersebut, guru menuturkannya dengan nada
rendah sehingga tidak memperlihatkan bahwa guru marah kepada murid, namun yang terlihat justru
guru bersikap sabar menghadapi murid yang bersikap sedemikian rupa.

Guru: “Tidak usah ragu-ragu katakan saja, cilok tidak ada gizinya,…”

Pada di atas juga termasuk dalam kategori tindak tutur direktif requirements menginstruksikan. Guru
menginstruksikan kepada murid yang terkesan ragu-ragu dalam menjawab pertanyaan guru. Pertanyaan
yang diajukan guru tersebut berkaitan dengan jawaban makanan cilok, sehingga muncul tuturan direktif
sedemikian rupa akibat suasana ragu yang dimunculkan para murid.

Guru: “…sehingga dengan makan kita dapat berakti…?”

Murid: “vitas..”

Pada di atas termasuk dalam tindak tutur direktif questions bertanya. Guru berusaha untuk memancing
murid untuk meneruskan penggalan kata yang ia lakukan. Hal demikian disebut juga dengan pertanyaan
penunjuk. Hal tersebut bertujuan untuk menghidupkan suasana dalam kelas, sehingga tidak hanya guru
yang aktif tetapu murid juga aktif ketika proses pembelajaran berlangsung. Hal serupa juga ditemukan
pada data berikut.

Guru
:

“Ya ini sedikit (sambil menunjuk warna), ini coba kita lihat dari warnanya kan lebih menarik,
dibandingkan dengan warna kunyit, ditambah air, tambah air, tambah air, tambah hil?”

Murid

“Hilang”.

Pada data di atasa juga termasuk dalam pertanyaan penunjuk. Guru berusaha untuk
menghidupkan suasana kelas dengan cara merumpangkan suku kata pada suatu kata sebagai pancingan
agar murid melanjutkan suku kata pelengkap.

Guru: “Pertanyaan saya, kira-kira ini enak tidak?” (menunjuk gambar bakso di layar LCD)

Guru: “Ya, sekarang kita akan membahas tentang bakso, apa saja sih yang terdapat di dalam bakso?”
(sambil menunjukkan gambar yang ingin muridnya menjawab)

Pada data di atas juga termasuk dalam kategori tindak tutur direktif questions. Guru mencoba
memberikan pertanyaan sebagai umpan balik kepada siswa. Secara tidak langsung hal ini sebagai trik
guru untuk menarik perhatian murid sehingga murid akan berusaha untuk memperhatikan apa yang
dijelaskan guru. Media LCD sebagai pendukung proses pembelajaran sangat besar pengaruhnya untuk
menarik perhatian murid kepada materi yang disampaikan, sebab dengan adanya LCD presentasi guru
akan semakin menarik dengan cariasi gambar maupun powerpoint yang disajikan.
Murid

“Boleh dimakan pak?”

Guru

“Iya silakan saya beri kesempatan untuk dimakan dan jangan lupa tetangganya diberikan yaa..silakan ada
yang mau ditanyakan dulu sambil makan?”

Pada data di atas termasuk dalam kategori tindak tutur direktif permissives membolehkan. Guru
membolehkan muridnya untuk menyantap makanan yang dibawanya ke dalam kelas ketika pembelajaran
berlangsung. Hal ini diperbolehkan guru sebab dalam kontek ini sesuai dengan pengamatan peneliti
tuturan direktif ini dilakukan guru menjelang jam berakhir, sehingga bukan suatu masalah jika murid
menyantap makanan yang mereka bawa ke dalam kelas, tidak ada kekhawatiran guru dalam kendala
penerimaan materi yang disampaikan kepada siswa karena jam pembelajaran hampir berakhir. Hal
tersebut juga terdapat pada data berikut.

Guru: “Silakan ada yang mau bertanya dulu sebelum kita melanjutkan ke materi berikutnya? Tidak ada
yang mau bertanya kita lanjutkan lagi,…”
Pada data di atas juga termasuk dalam kategori tindak tutur direktif permissives memperkenankan.
Guru memberi kesempatan kepada murid untuk bertanya apabila terdapat hal yang belum dipahami
sebelum berlanjut ke materi berikutnya. Pada struktur kalimat di atas, guru menggunakan kalimat tanya
yang sebenarnya merupakan kalimat tanya dalam konteks memperkenankan kepada murid untuk
bertanya. Hal tersebut dilakukan guru sebagai cermin sosok fasilitator di dalam proses pembelajaran,
sehinga guru mencoba bersikap seramah dan sehangat mungkin pada murid-muridnya.

Murid: “Boleh dimakan Pak…?”

Guru: “Sip. Bagus. Jangan dikeluarin dulu. Jangan di apa-apakan dulu (Berdiri) baik. Jangan dulu. Duduk
aja dulu..”

Pada data di atas tindak tutur direktif guru dalam karegori prohibitives larangan. Guru berusaha untuk
melarang murid agar tidak memakan terlebih dahulu makanan yang dibawa sebagai tugas dari guru
tersebut pada pertemuan sebelumnya. Hal tersebut juga dapat ditemukan pada data berikut.

Murid

“Boleh dimakan Pak?” (menanyakan makanan yang dibawa)


Guru

“Oh jangan dulu, ini masih awal pelajaran zat aditif”.

Pada data di atas jua merupakan kategori tindak tutur direktif prohibitives larangan. Guru mencoba
untuk melarang murid agar tidak menyantap makanan yang dibawa oleh murid di dalam kelas. Pada data
sebelumnya terdapat kesamaan konteks pembicaraan. Kedua data yang menunjukkan tindak tutur
direktif melaran yang dilakukan guru, di dalam vidio yang diteliti, guru menuturkannya dengan nada dan
ekspresi datar sehingga terkesan guru melarang dengan sikap yang wajar, tanpa ada rasa marah dan
kesal dengan apa yang akan dilakukan murid.

Guru: “Naa ..hati-hati sekali lagi inilah kita kalau kondisinya hidup di Negara yang sangat bebas ini ya…”

Pada data di atas termasuk dalam kategori tindak tutur direktif advisories nasihat. Guru berusaha untuk
menasihati muridnya agar berhati-hati dalam konteks pembicaraan mengenai materi zat aditif yang
terdapat pada makanan dan minuman yang banyak dijual di lingkungan sendiri yakni negara Indonesia.
Nasihat tersebut baik untuk diterapkan kepada murid agar materi yang diajarkan bermanfaat dan
sebagai aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.

4.2 Konstruksi Tindak Tutur Direktif Guru dalam Pembelajaran Biologi Kelas VIII B MTs. 1 Muhammadiyah
Malang

Konstruksi tindak tutur direktif dapat dibedakan antara lain sebagai berikut.
a. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif perintah.

b. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif suruhan.

c. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif permintaan.

d. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif permohonan.

e. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif desakan.

f. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif bujukan.

g. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif himbauan.

h. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif persilaan.

i. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif ajakan.

j. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif permintaan ijin.

k. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif mengijinkan.

l. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif larangan.


m. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif harapan.

n. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif umpatan.

o. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif selamat.

p. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif anjuran.

q. Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif ”ngelulu”.

Pada penelitian ini, ditemukan konstruksi tindak tutur direktif guru antara lain dalam bentuk
imperatif perintah, larangan, permintaan, suruhan, desakan, persilaan, anjuran, dan mengijinkan.
Penjabaran lebih rinci mengenai temuan konstruksi tindak tutur guru dalam proses pembelajaran yakni
sebagai berikut.

Guru: “Oky duduk. Sebelumnya saya presensi dulu ya.” (Duduk dan mengambil pulpen)

Pada data di atas termasuk dalam makna pragmatik imperatif perintah. Guru memerintahkan murid
dengan tujuan agar ia segera duduk dan mengkondisikan diri karena pelajaran yang telah dimulai. Dalam
hal ini makna perintah digambarkan secara eksplisit. Pada vidio yang diamati peneliti, guru memberikan
perintah tersebut dengan nada datar sehingga tidak ada kesan marah sama sekali terhadap murid yang
masuk kelas terlambat. Hal tersebut juga ditemukan pada beberapa data berikut.

Guru: “Yang sudah sarapan tadi siapa? Angkat tangannya yang sarapan. Yang…”
Guru: “perhatikan ya Yud? Yuda.. (menegur salah satu murid dengan nada rendah) Nah kalau yang di
belakang biarkan, dari tadi memang kayaknya sudah nggak, nggak memperhatikan.”

Pada dua data di atas, makna imperatif perintah digambarkan guru secara eksplisit. Secara jelas guru
memerintah murid untuk mengangkat tangan dan memperhatikannya ketika menerangkan materi di
depan kelas. Hal tersebut sebagai wujud pancingan guru agar murid aktif dan juga merupakan bentuk
ketegasan guru tanpa harus menggunakan nada atau intonasi tinggi ketika menuturkannya.

Guru: “Ya, sekarang kita akan membahas tentang bakso, apa saja sih yang terdapat di dalam bakso?”
(sambil menunjukkan gambar yang ingin muridnya menjawab)

Pada data di atas termasuk dalam konstruksi makna pragmatik imperatif perintah, namun pada data di
atas perintah yang diutarakan guru digambarkan secara tersirat atau implisit. Guru bermaksud untuk
memerintahkan murid untuk menyebutkan apa saja yang terdapat pada gambar bakso di layar LCD,
namun kalimat yang disusun guru berupa kalimat tanya. Hal ini merupakan trik guru dalam membentuk
suasana yang hangat dengan murid, menjaid guru tanpa harus bersikap menggurui.

Murid: “Boleh dimakan Pak..?”

Guru: “Sip. Bagus. Jangan dikeluarin dulu. Jangan di apa-apakan dulu (Berdiri) baik. Jangan dulu. Duduk
aja dulu..”
Pada data di atas termasuk dalam konstruksi makna pragmatik imperatif larangan. Indikator
larangan dapat dilihat dari pemakaian kata jangan oleh guru. Guru menggunakan kata jangan sebagai
larangan yang tegas agar murid mematuhi apa yang dilarangnya meskipun ketegasan itu tidak
digambarkan dengan nada dan intonasi tinggi, namun cukup dengan kata jangan sudah menggambarkan
suatu ketegasan dan larangan keras.

Guru: “…sehingga dengan makan kita dapat berakti…?”

Murid: “vitas..”

Pada data di atas termasuk dalam makna pragmatik imperatif permintaan. Guru secara tidak langsung
meminta murid untuk meneruskan kosa kata yang sengaja ia rumpangkan. Hal tersebut bertujuan untuk
memancing murid agar aktif di dalam kelas selama proses pembelajaran berlangsung. Sebagian besar
dalam penelitian ini makna pragmatik imperatif permintaan yang ditemukan bermaksud merupakan trik
guru untuk meminta murid-muridnya untuk menjawab pertanyaan secara tidak langsung.

Guru: “ Coba ini kita jilat”. (mencoba menjilat gambar yang ada di layar LCD)
Pada data di atas termasuk dalam makna pragmatik imperatif suruhan. Guru berusaha untuk menyuruh
murid menjilat apa yang ada pada gambar LCD sebagai bentuk humor yang dilakukan. Pemakaian kata
coba menggambarkan bahwa kostruksi kalimat tersebut merupakan makna imperatif suruhan.

Guru: “Makannya pada kesempatan ini saya menyuruh kalian membawa beberapa makanan dan
minuman yang berkaitan dengan materi dan menu kita hari ini, …” (jari tangan menunjuk ke murid)

Pada data di atas, makna imperatif suruhan tidak digambarkan dengan pilihan kata coba, namun guru
secara eksplisit mengungkapkan suruhannya berupa pilihan kata menyuruh yang digunakan dalam
konstruksi kalimat di atas. Makna imperatif suruhan yang ada menjadi lebih jelas dan dapat ditangkap
secara jelas pula bahwa hal tersebut merupakan sebuah suruhan.

Guru: “Tidak usah ragu-ragu katakan saja, cilok tidak ada gizinya,…”

Data di atas termasuk dalam makna pragmatik imperatif desakan. Guru mencoba mendesak murid
secara halus agar murid mengatakan cilok dengan mantap tanpa ragu-ragu.

Guru: “Silakan ada yang mau bertanya dulu sebelum kita melanjutkan ke materi berikutnya? Tidak ada
yang mau bertanya kita lanjutkan lagi,…”
Pada data di atas merupakan makna pragmatik imperatif persilaan. Guru mencoba mempersilakan murid
untuk mengajukan pertanyaaan terkait dengan materi yang telah diajarkan sebelum meneruskan pada
materi selanjutnya. Konstruksi persilaan guru merupakan konstruksi langsung karena penggunaan kata
silakan. Penggunaan kata silakan ini tanpak lebih sopan sehingga murid terkesan lebih dihargai oleh
guru.

Guru: “Naa ..hati-hati sekali lagi inilah kita kalau kondisinya hidup di Negara yang sangat bebas ini ya…”

Data di atas menunjukkan makna pragmatik imperatif anjuran. Indikator kata yang digunakan guru untuk
menunjukkan bahwa kalimat tuturan tersebut merupakan anjuran adalah kata hati-hati. Hal ini dilakukan
oleh guru untuk memberikan petuah pada murid agar murid lebih waspada dalam bertindak terutama
dalam konteks percakapan tersebut adalah berhati-hati dalam memakan makanan yang mengandung zat
aditif.

Murid

“Boleh dimakan pak?”

Guru

:
“Iya silakan saya beri kesempatan untuk dimakan dan jangan lupa tetangganya diberikan yaa..silakan ada
yang mau ditanyakan dulu sambil makan?”

Pada data di atas termasuk dalam makna pragmatik imperatif mengijinkan, meskipun guru
menyampaikannya dengan menggunakan pilihan kata mempersilakan, namun kalimat pada data di atas
lebih menekankan pada imperatif mengijinkan. Jika dilihat dari segi konteks percakapannya, murid
meminta ijin untuk makan makanan yang telah ia bawa, dan tuturan persilaan guru masuk dalam
kategori mengijinkan murid untuk memakannya sebagai jawaban yang dinantikan murid.
BAB V

KESIMPULAN

Berdasarkan rumusan masalah dan hasil analisis data yang dilakukan dari penelitian yang berjudul
“Analisis Tindak Tutur Direktif Guru pada Pembelajaran Biologi Kelas VIII B MTs. 1 Muhammadiyah
Malang”, dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut.

5.1 Kategori Tindak Tutur Direktif Guru dalam Pembelajaran Biologi Kelas VIII B MTs. 1 Muhammadiyah
Malang

Kategori tindak tutur direktif guru yang ditemukan dalam penelitian ini adalah enam kategori.
Enam kategori tersebut di antaranya requestives, questions, requirements, prohibitives, permissives, dan
advisories.

Requestives

Kategori tindak tutur direktif requestives mengacu pada hal mengemis, memohon, menekan,
mengundang, mendoa, mengajak, dan mendorong. Pada penelitian mengenai tindak tutur direktif guru
Biologi ditemukan beberapa data yang termasuk dalam tindak tutur direktif requestives baik berupa
permintaan secara ekplisit maupun implisit. Hal tersebut dilakukan guru agar murid terkesan dihargai
dan guru bersikap sopan.

Questions

Kategori tindak tutur direktif questions mengacu pada hal bertanya, menyelidik, dan menginterogasi.
Pada penelitian mengenai tindak tutur direktif guru Biologi ditemukan beberapa data yang termasuk
dalam tindak tutur direktif questions. Hal tersebut dilakukan guru sebagai trik untuk menghidupkan
suasana kelas, sehingga tidak hanya guru yang aktif namun murid juga ikut aktif.

Requirements

Kategori tindak tutur direktif requirements mengacu pada hal memerintah, menghendaki,
mengkomando, menuntut, mendikte, mengarahkan, menginstrusikan, mengatur, dan mensyaratkan.
Pada penelitian mengenai tindak tutur direktif guru Biologi ditemukan banyak data yang termasuk dalam
tindak tutur direktif requirements memerintah. Hal tersebut dilakukan guru untuk memerintahkan murid
agar mematuhi apa yang diinstruksikan dalam hal positif.

Prohibitives

Kategori tindak tutur direktif prohibitives mengacu pada hal melarang dan membatasi. Pada penelitian
mengenai tindak tutur direktif guru Biologi ditemukan sedikit data yang termasuk dalam tindak tutur
direktif prohibitives. Guru menggunakan kategori ini untuk memberikan larangan dalam hal yang positif
agar bermanfaat bagi keberlangsungan hidup murid-muridnya.

Permissives

Kategori tindak tutur direktif permissives mengacu pada hal menyetujui, membolehkan, memberi
wewenang, menganugerahi, mengabulkan, membiarkan, mengijinkan, melepaskan, memaafkan, dan
memperkenankan. Pada penelitian mengenai tindak tutur direktif guru Biologi ditemukan beberapa data
yang termasuk dalam tindak tutur direktif permissives. Hal tersebut jarang dilakukan oleh guru sebab
tergantung pada murid yang meminta ijin. Jika murid yang meminta ijin sedikit maka akan jarang guru
menggunakan tuturan direktif permissives ini.
Advesories

Kategori tindak tutur direktif advesories mengacu pada hal menasehatkan, memperingatkan,
mengkonseling, mengusulkan, menyarankan, dan mendorong. Pada penelitian mengenai tindak tutur
direktif guru Biologi ditemukan sedikit data yang termasuk dalam tindak tutur direktif advesories Hal
tersebut jarang dilakukan oleh guru sebab biasanya advesories hanya dilakukan guru menjelang
penutupan materi atau kesimpulan.

5.2 Konstruksi Tindak Tutur Direktif Guru dalam Pembelajaran Biologi Kelas VIII B MTs. 1 Muhammadiyah
Malang

Konstruksi tindak tutur direktif yang ditemukan dalam penelitian ini di antaranya bentuk imperatif
perintah, larangan, permintaan, suruhan, desakan, persilaan, anjuran, dan mengijinkan.

Makna Pragmatik Imperatif Perintah

Konstruksi makna pragmatik imperatif perintah digunakan untuk memerintahkan lawan tutur agar
melakukan apa yang penutur perintahkan. Pada penelitian mengenai tindak tutur direktif guru Biologi
ditemukan banyak data mengenai makna pragmatik imperatif perintah. Hal ini dimaksudkan guru agar
murid melakukan apa yang diperintahkannya.

Makna Pragmatik Imperatif Larangan

Konstruksi makna pragmatik imperatif larangan digunakan untuk melarang lawan tutur agar tidak
melanggar dari apa yang penutur larangkan. Pada penelitian mengenai tindak tutur direktif guru Biologi
hanya beberapa data yang ditemukan mengenai makna pragmatik imperatif larangan. Hal ini
dimaksudkan guru agar murid tidak melakukan apa yang dianggap guru tidak baik untuk dilakukan.

Makna Pragmatik Imperatif Permintaan

Konstruksi makna pragmatik imperatif permintaan digunakan untuk meminta kepada lawan tutur agar
melakukan apa yang penutur minta. Pada penelitian mengenai tindak tutur direktif guru Biologi
ditemukan beberapa data mengenai makna pragmatik imperatif permintaan. Hal ini banyak berupa
kalimat tanya yang diujarkan guru yang secara tidak langsung merupakan permintaan guru agar murid
menjawab pertanyaan yang ia berikan.

Makna Pragmatik Imperatif Suruhan

Konstruksi makna pragmatik imperatif suruhan digunakan untuk memerintahkan lawan tutur agar
melakukan apa yang penutur suruh. Pada penelitian mengenai tindak tutur direktif guru Biologi
ditemukan beberapa data mengenai makna pragmatik imperatif suruhan. Hal ini dimaksudkan guru agar
murid melakukan apa yang diperintahkannya yang sifatnya spontan, biasanya menggunakan kata coba
sebagai indikator.

Makna Pragmatik Imperatif Desakan

Konstruksi makna pragmatik imperatif desakan digunakan untuk mendesak lawan tutur agar melakukan
apa yang penutur ujarkan. Pada penelitian mengenai tindak tutur direktif guru Biologi ditemukan hanya
sedikit data mengenai makna pragmatik imperatif desakan. Hal ini dimaksudkan guru agar murid
melakukan apa yang diperintahkannya yang sifatnya spontan.

Makna Pragmatik Imperatif Persilaan

Konstruksi makna pragmatik imperatif persilaan digunakan untuk mempersilakan lawan tutur untuk
melakukan sesuatu. Pada penelitian mengenai tindak tutur direktif guru Biologi ditemukan beberapa
data mengenai makna pragmatik imperatif persilaan. Hal ini dimaksudkan guru untuk memberikan
kewenangan kepada murid.

Makna Pragmatik Imperatif Anjuran

Konstruksi makna pragmatik imperatif anjuran digunakan untuk memberi saran lawan tutur. Pada
penelitian mengenai tindak tutur direktif guru Biologi ditemukan sedikit data mengenai makna
pragmatik imperatif anjuran. Hal ini dimaksudkan guru agar murid lebih waspada dalam bertindak.

Makna Pragmatik Imperatif Mengijinkan

Konstruksi makna pragmatik imperatif mengijinkan digunakan untuk memberi ijin kepada lawan tutur
atas apa yang menjadi kehendaknya. Pada penelitian mengenai tindak tutur direktif guru Biologi
ditemukan beberapa data mengenai makna pragmatik imperatif mengijinkan. Hal ini tergantung pada
banyak tidaknya murid yang meminta ijin kepada guru.
DAFTAR PUSTAKA
Annida. 2006. “Tindak Tutur Direktif Memohon”. (Online)
http://www.scribd.com/doc/30669349/36/Tindak-Tutur-Direktif-Memohon. Diakses tanggal 3 Juni 2013

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Faiz, Mambruri. 2011. “Analisis Tindak Tutur Direktif Ustad Samsul Arifin Nababan, Lc dan Pendeta
Yoshua Winadi, S.Kp. S.T”. (Online) http://mengqolbikanbahasa.blogspot.com/2011/12/normal-0-false-
false-false-en-us-x-none.html Diakses tanggal 03 Juni 2013

Husein. 2002. “Metodologi Penelitian”. (Online) http://thesis.binus.ac.id/ doc/Bab3Doc/2002-2-01682-


HM%20Bab3001.doc. Diakses tanggal 25 Mei 2013

Wijana, Dewa Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi.


Yanuar, Axly. 2012. (Online) http://citraindonesiaku.blogspot.com/2012/ 04/tindak-tutur-menurut-
austin-dan-searle.html. Diakses tanggal 03 Juni 2013

Yule, George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.