Anda di halaman 1dari 1

WOC POST OP HIRSCHSPRUNG

(MEGACOLON/HIRSCHSPRUNG)

Kurang informasi pengobatan dan Intervensi pembedahan


perawatan

Colostomy
ANSIETAS

Terputusnya kontinuitas jaringan Merangsang area sensorik


NOC:
Tingkat kecemasan
NIC:
1. Gunakan pendekatan yang tenang dan Terpajan lingkungan luar (mikroorganisme) Pelepasan mediator kimia (bradikinin,
meyakinkan. histamin, serotonin, prostaglandin)
2. Berikan informasi faktual terkait
diagnosis, perawatan, dan prognosis.
RISIKO INFEKSI
3. Dukung penggunaan mekanisme Merangsang saraf perifer
koping yang sesuai.
4. Dorong keluarga untuk mendampingi
klien dengan cara yang tepat. NOC: Impuls diteruskan ke korteks serebri
Keparahan infeksi
NIC:
1. Monitor adanya tanda dan gejala infeksi
sistemik dan lokal. Nyeri dipersepsikan
2. Monitor kerentanan terhdap infeksi.
3. Periksa kulit dan selaput lendir untuk
adanya kemerahan, kehangatan ekstrim,
NYERI AKUT
atau drainase.
4. Periksa kondisi setiap sayatan bedah
atau luka.
5. Tingkatkan asupan nutrisi yang cukup.
NOC:
6. Anjurkan istirahat.
Kontrol nyeri
NIC:
1. Lakukan pengkajian nyeri
komprehensif yang meliputi lokasi,
karakteristik, onset/durasi, frekuensi,
kualitas, intensitas atau beratnya nyeri
PENATALAKSANAAN dan faktor pencetus.
Terapi Pembedahan 2. Observasi adanya petunjuk nonverbal
1. Tindakan bedah sementara mengenai ketidaknyamanan terutama
Berupa kolostomi pada usus yang memiliki ganglion normal paling distal. Tindakan ini dimaksudkan pada mereka yang tidak dapat
untuk menghilangkan obstruksi usus dan mecegah enterokolitis. berkomunikasi secara efektif.
2. Tindakan bedah definitif 3. Gunakan strategi komunikasi terapeutik
a. Prosedur swenson untuk mengetahui pengalaman nyeri
Operasi yang dilakukan adalah rektosigmoidektomi dengan preservasi spinkter ani. Dengan dan sampaikan penerimaan pasien
meninggalkan 2-3 cm rektum distal dari linea dentata, sebenarnya meninggalkan daerah terhadap nyeri.
aganglionik sehingga dalam pengamatan paska operasi masih sering dijumpai spasme rektum yang 4. Ajarkan penggunaan teknik non
ditinggalkan. farmakologi.
b. Prosedur duhamel 5. Kendalikan faktor lingkungan yang
Menarik kolon proksimal yang ganglionik kearah anal melalui bagian posterior rektum yang dapat mempengaruhi respon pasien
aganglionik, menyatukan dinding posterior rektum yang aganglionik dengan dinding anterior kolon terhadap ketidaknyamanan.
proksimal yang ganglionik sehingga membentuk rongga baru dengan anastomise end to side.
c. Prosedur soave
Membuang mukosa rektum yang aganglionik, kemudian menarik trobos kolon proksimal yang
ganglionik masuk kedalam lumen rektum yang telah dikupas tersebut.
d. Prosedur rehbein
Dilakukan anastomose end to end antara usus aganglionik dengan rektum pada level otot levator
ani (2-3 cm diatas anal verge), menggunakan jahitan 1 lapis yang dikerjakan intraabdominal
ekstraperitoneal.
(Nurarif, 2016)

Daftar Pustaka:
1. Bulechek, Gloria M (et al). 2016. Nursing Interventions Classification (NIC) Edisi 6. Terjemahan Intansari Nurjanah, Roxsana Devi Tumanggor. Singapore:
Eslevier.
2. Herdman, T. Heather. 2016. Nanda International Inc. Diagnosis Keperawatan: Definisi & Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10. Terjemahan Budi Anna Keliat (et al).
Jakarta : EGC.
3. Mendri, Ni Ketut. Prayogi, Agus. 2017. Asuhan Keperawatan Pada Anak Sakit dan Bayi Resiko Tinggi. Yogyakarta: Paper Plane.
4. Moorhead, Sue (et al). 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC) Edisi 5. Terjemahan Intansari Nurjanah, Roxsana Devi Tumanggor. Singapore: Eslevier.
5. Nurarif, Amin H. 2016. Asuhan Keperawatan Praktis Berdasarkan Penerapan Diagnosa Nanda, NIC, NOC dalam Berbagai Kasus Jilid 2. Jogjakarta:
Mediaction Publishing.
6. Saifudin Bari Abdul, Adriansz, dkk. 2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal Edisi 1. Jakarta: YBP-SP.